Anda di halaman 1dari 13

Asuhan Keperawatan Appendisitis

Perforasi
Nama kelompok:
1. Ade Sugarina
2. Anindhya Indah C
3. Ayunda Lungayu P
4. Defitri Sariningtyas
5. Fitria Puji R
6. Martha Carolins
7. Nadia Novianita
8. Rifa Fauziah
9. Ulya Madita
Appendisitis Perforasi
• Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai
semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering
menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer,
Arief,dkk,2017).
• Apendisitis Perforasi terjadi ketika sekresi mukus terus berlanjut, dan
tekanan dalam ruang apendiks terus meningkat dan menyebabkan obstruksi
vena, edema bertambah, bakteri menembus dinding apendiks, lalu arteri
terganggu dan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene
dan pecahnya dinding apendiks yang telah rapuh (Yucel et al, 2012).
Etiologi

• Faktor Obstruksi

• Faktor Bakteri

• Kecenderungan Familiar

• Faktor Ras dan Diet


PATHWAY
Manifestasi Klinis
1.Nyeri kuadran bawah biasanya disertai dengan demam, mual, dan sering kali
muntah.

2. Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus dan spina


anterior dari ilium) nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari
bagian bawah otot rectum kanan.

3. Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah nyeri
tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare

4. Tanda rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi kuadran kiri bawah, yang
menyebabkan nyeri pada kuadran kanan bawah)

5. Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar,
terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.
Komplikasi
1. Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi
peritonitis atau abses apendiks.
2. Infeksi luka post operatif terutama pada operasi open apendektomi yang
memungkinkan terjadinya kontaminasi dinding abdomen terhadap bagian
apendiks yang mengalami inflamasi selama prosedur (Yagmurlu,et al, 2006).
3. Intraabdominal abses
4. Obstruksi intestinal
5. Septicemia
6. Peritonitis
7. Pylephlebitis, a septic thrombophlebitis of the portal vein
8. Enterocutaneous fistulae
9. Panas lebih dari 38,50C
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Fisik
2. Pemeriksaan Laboratorium
3. Pemeriksaan Radiologi
Penatalaksanaan
 Perawatan prabedah perhatikan tanda – tanda khas dari nyeri:
Kuadran kanan bawah abdomen dengan rebound tenderness (nyeri tekan
lepas), peninggian laju endap darah, tanda psoas yang positif, nyeri tekan rectal
pada sisi kanan. Pasien disuruh istirahat di tempat tidur, tidak diberikan apapun
juga per orang. Cairan intravena mulai diberikan, obat – obatan seperti laksatif
dan antibiotik harus dihindari jika mungkin.

 Terapi bedah :
Appendicitis tanpa komplikasi, appendiktomi segera dilakukan setelah
keseimbangan cairan dan gangguan sistemik penting. Bisa dengan open
appendectomy, laparaskopi, atau midline laparatomy.

 Terapi antibiotik:
Terapi antibiotic ini diberikan tetapi anti intravena harus diberikan selama
5 – 7 hari jika appendicitis telah mengalami perforasi.
PENCEGAHAN KOMPLIKASI
• Levin et al (2007) meneliti bahwa Nonoperative
management pada perforasi apendisitis dapat
mengurangi komplikasi akibat efek postoperative.
Nonoperative management dilakukan dengan
memberikan terapi triple antibiotic
(ampicillin/vancomycin, gentamicin and
clindamycin) on admission. Nyeri dikontrol dengan
morphine.
Format Pengkajian
A. Pengkajian Keperawatan
 Aktivitas / istirahat
Gejala : Malaise
 Sirkulasi
Tanda : Takikardi
 Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awal awitan, Diare, penurunan bising usus atau bahkan peristaltik dapat hilang
karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan.
 Makanan / cairan
Gejala : Anoreksia , mual, muntah
 Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada
titik McBurney (setengah jarak antara umbilicus dan tulang ileum kanan), meningkat karena berjalan,
bersin, batuk, atau napas dalam (nyeri berhenti tiba-tiba diduga perforasi atau infark pada apendiks
Tanda : Perilaku berhati-hati, berbaring kesamping atau telentang dengan lutut ditekuk, meningkatnya
nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan / posisi duduk tegak.
 Keamanan : Demam > 38,0 0 C
 Pernapasan : Takipnea, pernapasan dangkal.
Asuhan Keperawatan