Anda di halaman 1dari 25

KERACUNAN ARSEN

ANNISA NURFIATUL AINI


1411012074
 Arsenik merupakan logam berat dengan nomor atom 33, berat atom
74.91,warna abu-abu dengan penampakan seperti logam (steel-gray).
Selain abu-abu dapat juga berwarna kuning, coklat, dan hitam.

 Pada saat arsenik dipanaskan, maka arsenik akan menyublim menjadi


gas (arsin)secara langsung

 Bentuknya seperti bubuk guling dan tidak larut air.

 Arsenik termasuk elemen transisional (intermediet) antara logam dan


non logam, namun secara klasik digolongkan sebagai logam berat.
Karakteristik Arsen

 Arsen secara kimiawi memiliki karakteristik yang serupa


dengan fosfor

 dapat digunakan sebagai pengganti dalam berbagai reaksi


biokimia dan juga beracun

 Ketika dipanaskan, arsen akan cepat teroksidasi menjadi


oksida arsen, yang berbau seperti bau bawang putih.
Bentuk-bentuk Arsen

 Arsen inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan
dapat terpapar pada manusia , arsen inorganik dapat
menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kronis, terutama
kanker.

 Senyawa dengan Carbon dan Hydrogen dikenal sebagai Arsen


Organik. Arsen bentuk organik yang terakumulasi pada ikan
dan kerang-kerangan, yaitu arsenobetaine dan arsenokolin.
Sumber-Sumber Arsen

 Alam

Arsen dalam tanah diserap oleh akar tumbuhan dan masuk ke dalam
bagian-bagian tumbuhan sehingga tumbuhan mengandung arsen.
Adanya arsen dalam tanah akan menyebabkan sebagian arsen larut di
dalam air. Arsen ini kemudian akan menjadi makanan plankton yang
kemudian akan dimakan ikan. Jadi secara tidak langsung manusia yang
mengkonsumsi ikan akan mengkonsumsi arsen. Senyawa arsen yang
paling sering dijumpai pada makanan adalah arsenobetaine dan
arsenocholine, yang merupakan varian arsen organic yang relatif non
toksik.
 Bahan-bahan industri

Pada bahan pestisida, herbisida, insektisida, bahan cat, keramik,


bahan untuk preservasi kayu, penjernih kaca pada industri elektronik.
Dalam masyarakat, arsen masih digunakan sebagai anti hama,
terutama tikus. Tikus yang memakan arsen akan mengalami gejala
muntaber, kekurangan cairan (dehidrasi) dan mati dalam keadaan
“kering”
 Bahan obat-obatan dan herbal

Arsenik inorganik telah digunakan untuk pengobatan lebih dari 2500


tahun lalu. Bentuk yang paling sering digunakan adalah Fowler
solution yang mengandung 1% potasium arsenit, digunakan untuk
terapi psoriasis.

Selain itu Arsphenamine selama beberapa tahun merupakan terapi


standar untuk penyakit sifilis. Namun penelitian retrospektif
menyatakan adanya peningkatan insiden angiosarkoma hepatik
pada orang yang sering diterapi dengan Fowler solution.

Hingga saat ini arsen juga banyak terdapat pada obat-obat


Mekanisme masuknya arsen dalam tubuh

 Pemejanan arsen ke dalam tubuh manusia umumnya melalui


oral, inhalasi, dan kontak fisik.

 Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan


usus halus kemudian masuk ke peredaran darah.

 Keracunan arsen dapat terjadi dua cara : Cara akut dan cara
kronik.
 Cara Akut :

Arsenik diberikan dalam satu dosis tunggal yang sangat besar dan
langsung mematikan. Dosis kira-kira 120-200 mg pada orang dewasa
atau 2 mg/kgBB pada orang dengan berat badan kurang dari 60 kg.
Biasanya arsen dicampurkan dengan makanan.

Gejala keracunan akut terdiri atas mual muntah hebat yang disertai
sakit perut. Napas penderita berbau seperti bawang putih. Kadang ia
langsung kejang-kejang dan koma. Tekanan darah korban langsung
turun dan ia tampak seperti orang dehidrasi berat.
 Cara Kronik

Dengan cara dilakukan oleh seseorang secara sengaja dengan


memasukkan arsen ke dalam makanan atau minuman.

Gejala keracunan seperti keracunan akut, tapi lama-kelamaan


datang gejala tambahannya.
Toksikokinetika Arsen

Absorbsi

Absorbsi melalui saluran pencernaan. Zat-zat


beracun di dalam saluran pencernaan tidak akan
mengakibatkan keracunan, hanya racun-racun yang
bersifat kanotik atau korosif yang dapat merusak
selaput lendir usus, yang selanjutnya bisa terjadi
perforasi, peritonitis, yang akhirnya dapat
menyebabkan kematian.
 Distribusi

Setelah zat beracun memasuki plasma darah, baik dengan


perantaraan absorbsi maupun langsung melalui intravena, maka
zat tersebut dapat terdistribusi ke seluruh bagian tubuh.
Kecepatan distribusi ditentukan oleh banyaknya vaskularisasi.
Mudahnya zat itu memasuki pembuluh kapiler dan menembus
membran sel jaringan, serta adanya afinitas jaringan terhadap
zat tersebut.
 Metabolisme

Pertama adalah reaksi oksidasi/reduksi yaitu arsenat menjadi


arsenit dan arsenit menjadi arsenat. Glutation diketahui membentuk
kompleks dengan arsen dan memperantarai reduksi arsenat menjadi
arsenit. Kompleks glutation ini dapat dieliminasi dalam empedu.

Cara kedua, metilasi, yang terjadi terutama dalam hati,


memerlukan s-adenosymetionin (SAMe) dan mungkin donor metil
lainnya (kolin, sistein, glutation, dan asam lipoat tereduksi) untuk
menghasilkan asam monometilarsinik (MMA) dan asam
dimetilarsinik (DMA).
Baik MMA dan DMA terdapat dalam urin manusia sebagai produk
akhir dari metabolisme arsen. Metilasi hanyalah satu cara untuk
mentransformasi arsen dan bukannya mendetoksikasinya, Jaringan
kulit dan paru-paru tidak mampu mengubah MMA menjadi DMA
secara efisien seperti halnya jaringan lainnya dan tempat-tempat
inilah adalah sisi spesifik kanker yang diinduksi oleh arsen.

Ekskresi

Sebagian dari suatu dosis senyawa arsen trivalent yang diabsorbsi


akan diekskresikan secara lambat melalui urin setelah pemberian
secara parenteral yang dimulai dalam waku 2-8 jam.
Mekanisme Efek Kerja Toksik Arsen
 Secara garis besar arsen dapat menimbulkan keracunan. dengan 3 mekanisme

1. Mekanisme pertama adalah berikatan dengan gugus sulfhidril,


sehingga fungsi enzim pada jaringan tubuh akan terganggu kerjanya.

2. Mekanisme yang kedua adalah berikatan dengan enzim pada siklus Kreb,
sehingga proses oksidasi fosporilasi tidak terjadi.

3. Mekanisme yang ketiga adalah dengan efek langsung pada jaringan


yang terkena yang menyebabkan kematian(nekrosis) pada lambung,
saluran pencernaan, kerusakan pembuluh darah, perubahan degenerasi pada
hati dan ginjal
Gejala Toksisitas Arsen

 Toksisitas Akut

Toksisitas akut arsen biasanya memperlihatkan gejala:


 Sakit perut = krn adanya vasodilatasi,mengakibatkan rasa mual,
muntah, diare (kadang bercampur darah).

 Diare profus => banyak cairan tubuh keluar =>gejala hipontesi.

 Alopesia(kebotakan)

 Tidak berfungsinya saraf tepi = ditandai dengan kelumpuhan anggota


gerak bagian bawah,kaki lemas,persendian tangan lumpuh, dan daya
reflex menurun
 Toksisitas kronis

Disebabkan pencemarn lingkungan oleh arsen dari limbah


industri pestisida, pabrik kertas, bubur pulp dll.

Gejala = kelainan pada kulit dan kuku, adanya hyperkeratosis,


hiperpigmentasi, dermatitis dengan terkelupasnya kulit dan adanya
warna putih pada persambungan kulit dan kuku.

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan gejala kerusakan hati


ditandai dengan kolestasis, hiperbilirubinemia dan peningkatan
aktivitas enzim alkaline fosfatase yang disertai dengan tingginya
konsentrasi arsenik dalam urine.
NEFROTOKSISITAS ARSEN

Nekrosis Tubular Akut (Acut tubular necrosis - ATN) adalah


penyebab gagal ginjal akut yang paling umum pada pasien
yang sakit kritis

ATN mencederai segmen tubular nefron, sehingga


menyebabkan gagal ginjal dan sindrom uremik. Mortalitasnya
bisa sebesar 70% tergantung pada komplikasi akibat penyakit
mendasar
Sifat Efek Toksik Arsen

 Sifat efek toksik dari zat arsen adalah irreversible, karena


mempunyai ciri yang memenuhi kriteria sifat irreversible
racun yaitu,
1. Kerusakan yg sifatnya menetap

2. Pemejanan berikutnya dengan racun akan menimbulkan kerusakan


yang sifatnya sama sehingga memungkinkan terjadinya penumpukan
efek toksik

3. Pemejanan dengan takaran yang sangat kecil dalam jangka panjang


akan menimbulkan efek toksik yang seefektif dengan yang
Pemeriksaan Toksisitas Arsen

 Pemeriksaan urin.

Arsen diekskresi melalui urin dalam bentuk methylated


arsenic yang biasanya dapat dideteksi paling lambat 1 – 3 hari,
maka pengambilan sampel harus dilakukan secepat mungkin.
Penggunaan urin 24 jam lebih akurat. Peningkatan kadar arsenik
dalam urin mungkin saja terjadi setelah mengkonsumsi seafood
 Pemeriksaan serologis

Pemeriksaan kadar arsenik dalam darah jarang digunakan karena waktu


paruhnya yang sangat singkat (kira-kira 2 jam). Kadar arsenik dalam serum
hanya dapat dideteksi dalam beberapa jam pertama setelah pajanan.
Kadarnya dalam darah sangat tergantung pada diet sehari-hari dan
lingkungan sekitar. Pada komunitas dengan kadar arsen normal pada air
minumnya, konsentrasi arsen dalam serum antara 3 – 5 µg/L. Sedangkan
pada komunitas dengan kadar arsen 393 µg/L dalam air minumnya,
didapati konsentrasi arsen dalam darahnya rata-rata 13 µg/L. Pada
pemeriksaan darah lengkap bisa didapatkan gambaran anemia hemolitik.
Pemeriksaan rambut dan kuku

Arsen disimpan secara selektif di jaringan ektodermal,


terutama di jaringan keratin kuku dan rambut. Kadar
arsen kurang dari 0,1 mg/100 gram rambut umumnya
tidak punya makna. Kadar sebesar itu dapat terjadi akibat
akumulasi arsen pada paparan subklinik pada orang
normal, misalnya dar air, debu atau bahan kosmetik. Arsen
dapat dideteksi pada rambut dan kuku dalam jumlah
signifikan hanya 30 jam setelah paparan.
Penatalaksanaan Keracunan Arsen

 Dekontaminasi usus: Pemberian arang aktif (norit), lavase


dan/atau laksan dapat dilakukan untuk dekontaminasi usus.

 Percepatan eliminasi: Tindakan hemodialisis dapat


dipertimbangkan jika arsen ditelan dalam jumlah banyak dan
ditemukan adanya gejala sistemik berupa hipotensi, kekacauan
mental, koma, oliguria dan / atau asidosis laktat. Dimercaprol
atau BAL dapat diberikan bersama hemodialisis untuk
mencegah kemungkina redistribusi arsen
 Terapi suportif: Balans cairan dan elektrolit perlu mendapat
perhatian karena arsen menyebabkan vasodilatasi. Obati
hipotensi yang terjadi dengan pemberian cairan sebelum
menggunakan obat vasopresor. Lakukan EKG dan monitor irama
jantung. Lakukan pemantauan fungsi liver dan ginjal secara ketat.
Foto thoraks juga perlu dilakukan karena pada intoksikasi arsen
dapat terjadi komplikasi edema pulmonal, meskipun jarang, dan
dapat pula terjadi gagal napas akibat kelemahan otot
yang mungkin terjadi beberapa minggu setelah keracunan berat.
 Antoidotum: British Anti Lewisite (BAL) dalam minyak (dimercaprol)
merupakan antidotum untuk semua kondisi keracunan arsen akut
yang serius, kecuali untuk intoksikasi arsine. Dosis pemberian BAL
bervariasi tergantung dari berat ringannya paparan arsen.
Penicillamine merupakan terapi tambahan pada kelainan pencernaan
yang serius dan efek sampingnya lebih ringan dibandingkan BAL. Obat
lainnya yaitu Dimercaptosuccinic acid (DMSA) merupakan obat oral
dan diduga bermanfaat untuk pengobatan jangka panjang atau
pengobatan lanjut keracunan arsen Dimercapto propane sulfonate
(DMPS) akan memproduksi kompleks yang larut air dengan arsen,
sehingga lebih baik dari BAL karena dapat menembus ssp.