Anda di halaman 1dari 26

EMISI FUGITIVE

Disusun Oleh:
• Sry Lumbantobing
• Muhammad Rizaldi 21080116140055
• Candrika D. Salsabila 21080116130064
• Ditta K. Murti 21080116140072
• David julian S. 21080116130082

• Raden Al Iman 21080117140074


Fugitive emission merupakan
semua bentuk emisi yang tidak
dilepas melalui system pembuangan
emisi khusus seperti cerobong,
ventilasi, atau sistem yang setara
lainnya.
“ Sumber emisi fugitive adalah emisi yang secara teknis tidak
dapat melewati cerobong, ventilasi atau sistem pembuangan
emisi yang setara. “

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2009


Tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha Dan/Atau
Kegiatan Minyak Dan Gas Bumi
Emisi Fugitive
pada Kegiatan
Emisi fugitive terjadi di kegiatan produksi dan penyaluran migas
dan batubara diantaranya di lapangan migas, kilang minyak, Migas
tambang batubara, dan lain-lain.
dan
Pada sistem migas emisi fugitive terjadi pada operasi flaring dan
venting, serta kebocoran-kebocoran pada pipa-pipa dan Batubara
peralatan- peralatan pengolahan dan penanganan migas. Di
sistem batubara emisi fugitive terjadi dari lepasnya seam gas
(gas yang semula terperangkap dalam lapisan batubara) pada
saat penambangan dan pengangkutan.
Emisi Fugitive dalam kegiatan eksplorasi
dan produksi minyak dan gas bumi,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2a

Kegiata Permen LH No. 13 2009:

n meliputi emisi akibat kebocoran katup, flense

Minyak (flange),
tekanan,
pompa, kompresor,
drain/blowdown,
alat
kebocoran
pelepas
dari
dan peralatan proses produksi dan komponen-

Gas komponennya, emisi dari tangki timbun dan


instalasi pengolahan air limbah, serta uji kepala

Bumi selubung (casing head test).


Pada sistem produksi migas, emisi GRK yang
dikategorikan sebagai fugitive adalah semua
emisi GRK yang terlepas pada sistem produksi
Emisi
migas, di luar emisi yang berasal dari
pembakaran bahan bakar pada kegiatan Fugitive
tersebut.
:
Rangkaian kegiatan penyediaan migas mulai Minyak
titik produksi (sumur di lapangan migas),
pengolahan (kilang) hingga dan pengangkutan
migas ke konsumen akhir. Sumber-sumber
dan
utama emisi fugitive dari kegiatan migas adalah
venting, suar bakar (flaring), kebocoran
Gas
peralatan, dan penguapan yang terjadi pada
tangki penyimpanan. Bumi
Emisi Fugitive: Kegiatan Batubara

Di dalam formasi batubara terdapat gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang terperangkap di dalam
lapisan batubara (seam gas). Pada saat batubara ditambang, gas-gas tersebut terlepas dan keluar dari lapisan
batubara menuju atmosfir.

Gas-gas yang terlepas pada kegiatan pada penambangan batubara dikategorikan sebagai emisi fugitive. Selain
emisi fugitive dari terlepasnya seam gas, penambangan batubara juga melepaskan GRK fugitive dari lepasnya
gas-gas dari bongkahan batubara pada kegiatan pengangkutan dan oksidasi batubara pada saat penanganan
batubara yang telah ditambang.
Emisi Fugitive: Kegiatan Batubara
Kategori Emisi Fugitive: Batubara
꙱ Emisi saat penambangan (Mining emissions) yaitu emisi yang berasal dari stored gas yang
terbebas saat proses penambangan batubara.
꙱ Emisi setelah penambangan (Post-mining emissions) yaitu emisi yang berasal pada saat
penanganan, pemrosesan, dan transportasi batubara.
꙱ Emisi oksidasi temperatur rendah (Low temperature oxidation) yaitu emisi yang timbul akibat
teroksidasinya batubara dengan oksigen dalam udara, membentuk CO2. Namun laju
pembentukan CO2 pada proses ini sangat kecil.
꙱ Emisi dari kebakaran tak terkendali (Uncontrolled combustion) terjadi akibat proses low
temperature oxidation yang terjebak, sehingga menghasilkan panas dan meningkatkan
temperatur sehingga terjadi kebakaran batubara.
Sumber Emisi Fugitive Kegiatan
Energi
NO. Kategori Sumber Emisi dan Kegiatan
  Bahan Bakar Padat a. Penambangan dan Penanganan batubara
 Penambangan bawah tanah
 Tambang terbuka
a. Pembakaran yang tak terkendali, dan timbunan
batubara yang terbakar
b. Transformasi (konversi) bahan bakar padat
  Minyak Bumi dan a. Minyak Bumi
Gas Alam  Pelepasan (Venting)
 Suar Bakar (Flaring)
 Lainnya
a. Gas Bumi
 Pelepasan (Venting)
 Suar Bakar (Flaring)
 Lainnya
Nilai Kalor (Heating Value)
• Merupakan kuantitas energi yang dilepaskan ketika bahan bakar benar benar
terbakar sempurna. Satuan nilai kalor per unit volume bahan bakar dihitung
sebagai volume atau berat rata rata kalor yang dihasilkan pada pembakaran
komponen individu dalam gas. Nilai kalor dirumuskan sebagai:

Dimana :
n = jumlah mol air dalam produk
h = entalpi penguapan air pada 25°C
HHV = higher heating value, atau nilai kalori kotor
LHV = lower heating value atau nilai kalori bersih
Konversi Bahan Bakar
Campuran
Properti bahan bakar campuran sangat
bervariasi khususnya untuk bahan bakar non
komersial.

Bagian ini sedikit mengulas tentang estimasi


bahan bakar campuran dari data masing-
masing komponen dan bagaimana
mengkonversi komposisi bahan bakar dari
berat ke molar dsb.
• Prosentase komposisi berat dalam campuran dikonversikan ke
prosentase komposisi mol dengan mengalikan prosentase berat
individu dengan rasio BM campuran dan BM molekul individu yang
dirumuskan sebagai :
dimana
Mole 0/0i = mol atau persentase volume
penyusun i;
Wt 0/0i = berat atau persentase massa
penyusun i ;
MWMixture=berat molekul campuran; dan
MWi = berat molekul penyusun i.
• Bila jenis komponen individu diketahui dalam campuran, maka MW
Mixture dapat dihitung sebagai bobot rata-rata BM individu sebagai
berikut :

• Atau dalam istilah %Wt

• Jika identifikasi individu dalam campuran tidak tersedia, MW mixture


seringkali dapat diperoleh dengan table property kimia yang
mendata fraksi minyak dan gas secara umum (contoh bensin,
distilate, dst.)
Perhitungan Bebas Emisi dari
Sumber Emisi
Secara garis besar, terdapat beberapa pilihan untuk menghitung beban emisi yang dipilih
berdasarkan ketersediaan data input sebagai berikut:
• Faktor emisi yang dipublikasikan (published);

• Faktor emisi peralatan dari manufacture;

• Perhitungan teknis;

• Simulasi proses atau pemodelan komputer;

• Pemantauan terhadap berbagai kondisi dan faktor emisi yang

• mempengaruhinya;

• Pemantauan emisi atau parameter yang diperlukan untuk menghitung

• emisi secara periodik atau terus menerus.


Dalam perhitungan beban emisi, tingkat akurasi
hasil perhitungan ditentukan oleh keakurasian data
input. untuk memudahkan perkiraan tingkat akurasi
hasil perhitungan beban emisi, digunakan konsep
Tier.

Semakin tinggi tingkat Tier akan semakin tinggi


akurasinya. Sebagai contoh, Tier 1 akan lebih
rendah tingkat akurasinya dibanding Tier 2 dan juga
Tier 3.
Parameter beban emisi yang dihitung dari
sumber fugitive adalah parameter gas rumah
kaca dan parameter lainnya sebagaimana
ditampilkan pada tabel
Gas Rumah Kaca Lain-lain
CH4 nmVOC
Pembagian Tier dan Metodologi
(CH4)
• Tier 1
Menggunakan faktor emisi pada tingkat fasilitas (facility level). Metode
ini merupakan metode yang paling sederhana untuk menghitung
emisi dari sumber fugitive yang didasarkan pada tipe fasilitas dan laju
produksi.

Data yang dibutuhkan untuk menghitung beban emisi adalah:


• Tipe fasilitas (misalnya fasilitas pengolah gas, fasilitas pengolah minyak);
• Laju produksi.
Faktor Emisi CH4 untuk Sumber Fugitive –
Level Fasilitas (API Compendium 2009)
• Tier 2
Perhitungan beban emisi berdasarkan pemakaian bahan bakar dari
neraca massa dan/atau metering (pengukuran) pada level fasilitas dan
menggunakan faktor emisi baku fuel-based yang dipublikasikan dari
berbagai referensi.

• Tier 3
Perhitungan beban emisi berdasarkan pemakaian bahan bakar dari
neraca massa dan/atau metering (pengukuran) pada level tipe peralatan
dan menggunakan faktor emisi baku fuel-based yang dipublikasikan
dari berbagai referensi.
• Tier 4

Perhitungan beban emisi berdasarkan pemakaian bahan bakar dari


neraca massa dan/atau metering (pengukuran) pada level peralatan
dan menggunakan faktor emisi baku equipment-based yang
dipublikasikan dari berbagai referensi.
TERIMA
KASIH