Anda di halaman 1dari 52

ASPEK HUKUM DAN PERATURAN FLEBOTOMI

In-House Trainning RSUD Konawe


25 Februari 2019

Rafiuddin, Amd. Anakes, SKM


Ketua DPW Patelki Sultra
PENDAHULUAN

Setiap orang berhak Negara berkewajiban


memperoleh pelayanan menyediakan fasilitas
kesehatan pelayanan kesehatan

UUD 1945

SUMBER DAYA pelayanan kesehatan yang aman, UPAYA


KESEHATAN bermutu, dan terjangkau KESEHATAN

TENAGA KESEHATAN
Setiap aspek pelayanan RS mengutamakan
keselamatan pasien

Keselamatan pasien di laboratorium ???

70% penatalaksanaan terhadap


pasien tergantung pada hasil Kesalahan
laboratorium Laboratorium
(Ogden:2005)

Akibat buruk bagi pasien


KEMATIAN
PENGERTIAN

 Phlebotomy berasal dari Bahasa Yunani :


Phleb : vena,Tomia : mengiris/memotong
 Flebotomi cara kuno
 Cupping (mangkuk khusus
dengan alat hisap)
 dry cupping

 wet cupping

 Penorehan vena (venesection)


dan ditampung pada mangkuk
 Gigitan lintah (leeches biting)
FLEBOTOMI MASA KINI
 Tusukan vena • Tusukan kulit
(veni puncture) (skin puncture)

5
FLEBOTOMI
 Suatu tindakan (intervensi tubuh, efek samping,
alat medis)
 Tujuan :
• Pemeriksaan Laboratorium -> skrining,
diagnosis dan evaluasi terapi
• Pengobatan/terapi :
 Flebotomi terapeutik
 Obat intravena
• Transfusi/Donor darah
FLEBOTOMI UNTUK PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
 Tujuan adalah memperoleh sampel darah dalam
volume yang cukup untuk pemeriksaan
laboratorium.
 Hal yang harus diperhatikan :
 Pencegahan interferensi preanalisis
 Prosedur standar (SOP)
 Memperhatikan keselamatan (safety)
 Sesedikit mungkin menimbulkan
ketidaknyamanan pada pasien.
 Meminimalkan kesalahan hasil pemeriksaan
laboratorium
ERROR RATE IN THE TOTAL TESTING PROCESS

 (15.1%) Pasien tidak


Preanalitik puas dengan prosedur
Post
Analitik
84.32% pengambilan darah
(Wiwanitkit, 2001);
11.13%
(Wiwanitkit, 2001);
45.5%
(Westgard , 2006);
 (15,0%) Tidak
47.2% (Westgard 77.1% tercatat di rekam medis
, 2006). 15% (Goswami et al,
2010);
(Goswami et al,
2010)
(Howanitz, 2005).
Analitik  (76.60%) hasil Px
4.35% (Wiwanitkit,
2001); 7.3% laboratorium tidak
(Westgard, 2006). 13-
32% ; 7.9% (Goswami
dikomunikasikan
et al, 2010)
(Bonini et al, 2002)
TOTAL TESTING PROCESS
IMPLICATIONS OF ERRORS

• Errors made in the • may influence  and


period prior to the the quality of the compromise the
analysis of the final measured diagnosis and
sample ... results ...
treatment of the
patient

No result is better than bad result


FLEBOTOMI

 Informasi tindakan (70%)  hak pasien


 Mempengaruhi persepsi pasien
(internal dan eksternal)  dampak
secara personal dan laboratorium
 Prosedur standar  close system
 Aspek legal (peraturan
per UU an)  aspek pidana
PERSEPSI PASIEN
 Laboratorium bersih dan rapih bila terlihat baju lab yang
dipakai petugas bersih dan rapih
 Laboratorium akan memproses specimen darah dengan
hati2 dan penuh tanggung jawab bila petugas memakai
sarung tangan selama proses flebotomi
 Staf laboratorium cakap, dan sangat perhatian bila
petugas menyapa dan menerangkan dengan jelas
 Staf laboratorium bersahabat dan peduli bila petugas
ramah dan senyum
 Staf bekerja dengan serius dan hasil tidak akan tertukar
bila setelah flebotomi, petugas memberi label identitas
pada sampel darahnya
KEDUDUKAN FLEBOTOMIS DALAM
PELAYANAN KESEHATAN

 Keterbatasan tenaga kesehatan  kerja lintas sektor dan fungsi


 efisiensi pelayanan kesehatan
 Dibentuk tim kerja misal di ICCU, Pemeriksaan Gas Darah,
POCT, Lab sentral, dll
 Pengaturan kerja (RS)  Pasien rawat inap (Perawat) dan
pasien rawat jalan (Ahli Teknologi Lab Medik)  SOP
 Pelatihan lintas sektor dan fungsi  Tim yang handal

(misalnya : Rumah Sakit


Isu Medikolegal :

1. Siapa pelaksana phlebotomi (kompetensi dan kewenangan) ?


2. Bagaimana prosedur standarnya ?
3. Perlukah supervisi ?
4. Siapa yang bertanggungjawab atas resiko yang terjadi ?
HUBUNGAN HUKUM Pelayanan KESEHATAN

Pemberi Pelayanan Proses Penerima Pelayanan


(Health Providers : dokter,
nakes lainnya) (Health Receivers : Pasien)

Saling
Produsen Jasa Berkomunika Konsumen Jasa
(Subjek Hukum) si (Subjek Hukum)

Objek
Hak dan (Upaya Hak dan
Kewajiban Kesehatan) Kewajiban

Harus cermat
dan Hati2 Ikatan kontrak terapeutik
Perdata Hubungan dengan pasien

Tanggung Pidana Perilaku amoral


Pidana administratif
jawab: Ijazah / sertifikat
-Inform Administrasi STR
SIK
concent SOP/Penugasan
Siapa Pelaksana
Phlebotomi ?

Tenaga Kesehatan Profesional


(PROFESI KESEHATAN) – TENAGA KESEHATAN
PROFESI KESEHATAN

Pekerjaan yang memenuhi kriteria :


 Memiliki pengetahuan, sikap dan
keterampilan (kompetensi) melalui
pendidikan bidang kesehatan
 Memiliki kewenangan kewenangan
untuk melaksanakan pelayanan
kepada klien maupun tenaga
kesehatan lain
 Mematuhi kode etik dan standar
pelayanan
TENAGA KESEHATAN (UU NO. 36 TAHUN
2009)
- Setiap Orang Yang Mengabdikan Diri Dalam Bidang Kesehatan
- Serta Memiliki Pengetahuan Dan Atau Keterampilan (Dlm Bidang Kes) Melalui Pendidikan Di
Bidang Kesehatan
- Yang Untuk Jenis Tertentu Memerlukan Kewenangan Untuk Melakukan Upaya Kesehatan
Pasal 1 Butir 6

Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum (Pasal 22 : 1)

Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan (Pasal 23 : 1)


Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki (Pasal 23 : 2)

Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik,
standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan
standar prosedur operasional (Pasal 24 : 1)
Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
oleh ORGANISASI PROFESI. (Pasal 24 : 2)
DASAR HUKUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009
TENTANG KESEHATAN
Pasal 23
(1)Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
(2)Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.
(3)Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan wajib
memiliki izin dari pemerintah.
(4)Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai materi.
(5)Ketentuan mengenai perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
dalam Peraturan Menteri.

Penjelasan Pasal 23 Ayat (1)


Kewenangan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kewenangan yang diberikan
berdasarkan pendidikannya setelah melalui proses registrasi dan pemberian izin
dari pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Ayat (2) Kewenangan dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki
DASAR HUKUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009
TENTANG KESEHATAN

Penyelenggara fasilitas kesehatan dilarang mempekerjakan tenaga


kesehatan yang tidak memiliki kualifikasi dan izin melakukan pekerjaan
profesi (Pasal 34 : 2)
TENAGA KESEHATAN
(UU NO. 36 TAHUN 2014)

Mengabdikan diri  Tenaga Kesehatan


dalam bidang
kesehatan
kualifikasi pendidikan
minimum D3
Memiliki pengetahuan
 Asisten Tenaga Kesehatan :
dan/atau keterampilan Kualifikasi minimum
melalui pendidikan
bidang kesehatan pendidikan menengah
bidang kesehatan
Memerlukan  Asisten tenaga kesehatan
kewenangan untuk
melakukan upaya dapat bekerja dibawah
kesehatan supervisi tenaga kesehatan
DASAR HUKUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014
TENTANG TENAGA KESEHATAN

Pasal 46
(1) Setiap Tenaga kesehatan yang menjalankan praktik di bidang pelayanan kesehatan
wajib memiliki izin
(2) Izin sebagaimaan dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk SIP.
(3) SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat kesehatan yang berwenang di
kabupaten/kota tempat Tenaga Kesehatan menjalankan praktiknya
(4) Untuk mendapatkan SIP bagaimana dimaksud pada ayat (2), Tenaga Kesehatan harus
memiliki :
a.STR yang masih berlaku
b.Rekomendasi dari Organisasi Profesi; dan
c.Tempat praktik
(5) SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masing-masing berlaku hanya untuk 1(satu)
tempat
(6) SIP masih berlaku sepanjang:
a.STR masih berlaku; dan
b.Tempat praktik masih sesuai dengan yang tercantum dalam SIP
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
DASAR HUKUM
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013
TENTANG REGISTRASI TENAGA KESEHATAN

Pasal 2 ayat (1)


Setiap tenaga kesehatan yang akan menjalankan praktik dan/atau
pekerjaan keprofesiannya wajib memiliki izin dari pemerintah

Pasal 2 ayat (2)


Untuk memperoleh izin dari pemerintah diperlukan STR
SERTIFIKASI SERKOM Registrasi

Uji Permenkes No. UU No. 36 Tahun 201


kompetensi
46 Tahun 2013 Fortofolio STR Pepres No. 72/201

UU No. 36 Tahun 2014


UU No. 36 Tahun 2009
Permenkes No. 46 Tahun 2013 Lisensi
Permenkes No, 42 Tahun 2015
(SIP)
PHLEBOTOMI
(KOMPETENSI & KEWENANGAN)

Pendidikan/
Kompetensi
pelatihan
Phlebotomi
Pemerintah
Kewenangan
(regulasi)
Ahli Teknologi
Laboratorium Medik

Perawat
KOMPETENSI
Bidan

KEWENANGAN ?
TTD
Pengertian

Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang Tenaga Kesehatan


berdasarkan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap profesional untuk dapat
menjalankan praktik

Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, ketrampilan dan perilaku


peserta didik pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi
bidang Kesehatan

Standar Kompetensi adalah ukuran atau patokan yang disepakati, sebagai ukuran
kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan,
keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas dengan
standar kinerja (performance) yang ditetapkan.
Kompetensi Profesional
 Informed consent  Persiapan Pasien
 Prilaku profesional  Prosedur Standar
(Kode Etik)  Quality Assurance
 Hak pasien Etika  Patient Safety
Teknik
Profesi Profesional
onal

Manajemen
Profesional

 Building Positive Attitude


 Developing Communication
Skill
 Handling Moment of Truth
 Handling Customer Complain
Kewenangan Phlebotomi ?

 Tindakan Medik (intervensi tubuh, efek samping, alat medis)


 Kewenangan dokter (UU Praktek Kedokteran)
 Pendelegasian wewenang :
- Standar Profesi (regulasi)

- Standar Operating Prosedur/SOP (Hospital by law atau


laboratory by law)
- Permintaan pemeriksaan laboratorium
PRAKTIK
Tenaga Kesehatan

Pasal 65 UU
No.36/2014 ttg Nakes :
MANDAT
Tenaga Kesehatan
dalam melakukan
pelayanan kesehatan,
dapat menerima
pelimpahan tindakan DELEGATIF
medis dari tenaga
medis
Standar Pelayanan Terkait Phlebotomi
DASAR HUKUM Ketentuan
Kepmenkes RI No : Memiliki keterampilan untuk melaksanakan
370/Menkes/SK/III/2007 tentang proses teknis operasional pelayanan
Standar Profesi Analis Kesehatan laboratorium, yaitu Keterampilan pengambilan
spesimen, termasuk penyiapan pasien, labeling,
penanganan, pengawetan, fiksasi, pemrosesan,
penyimpanan dan pengiriman spesimen

Kep Dirjen Yanmed Depkes RI Uraian tugas tenaga analis kesehatan/medis


No. HK.00.06.3.3.10381 tanggal 3 adalah mengambilan dan penanganan bahan
Desember 1998 tentang pemeriksaan laboratorium
Pengelolaan Laboratorium Klinik
Rumah Sakit
Per Menpan No. Bab V Pasal 8 tentang rincian kegiatan dan unsur
Per/08/M.PAN/3/2006 tentang yang dinilai sesuai jenjang jabatan yaitu
Jabatan Fungsional Pranata mengambil spesimen/sampel laboratorium
Labkes dan Angka Kreditnya dan Mempersiapkan Pasien, mempersiapkan peralatan
Kepmenkes tentang Juknis dan bahan penunjang untuk pengambilan
Pelaksanaan Penilaian Jabatan spesimen/sampel, mengambil spesimen/sampel
Fungsional Pranata Labkes dengan tindakan sederhana (darah vena)
PELAKSANA PHLEBOTOMI
 Didalam praktek, phlebotomi di rumah sakit atau di laboratorium dilakukan oleh
perawat atau analis laboratorium atau orang yang dilatih khusus untuk itu, yang
disebut teknisi phlebotomi.
 Kemampuan atau competency diperoleh seseorang dari pendidikan atau pelatihannya.
Sedangkan kewenangan atau authority diperoleh dari penguasa atau pemegang
otoritas dibidang tersebut melalui pemberian ijin.
 Sebagai dokter, perawat dan bidan, kompetensi dan kewenangan melakukan tindakan
phlebotomi telah dimilikinya, tanpa disebutkan secara eksplisit didalam sertifikasi
kompetensinya dan atau surat ijin praktek profesinya.
Brainstorming

Pada profesi kesehatan, kewenangan yang bersifat umum diatur oleh


departemen kesehatan RI seperti UU praktik kedokteran sebagai profesi
dibidang kesehatan dan kediokteran, sedang kewenangan yang bersifat khusus,
dalam arti tindakan kedokteran atau kesehatan tertentu diserahkan
pengaturannya pd profesi atau kolegium masing2 induk profesi kesehatan.
Profesi dokter, bidan, dan perawat telah memiliki kopetensi dan kewenangan
dalam mengakses pembuluh dara, khususnya pembuluh darah vena seperti pd
pemasangan infus, tetapi tidak secara otomatis memiliki kopetensi dan
kewenangan sebagai seorang flebotomist untuk tujuan diagnostik.
Kewenagan
bersifat mandatif
dan delegattif diberikan kepada mereka yang memiliki
kemampaun, namun yang mampu tidak
berarti dengan sendirinya memiliki
kewenangan

Kenapa harus
pelimpahan
kewenangan?

Flebotomi adalah tindakan medic yg


secara hukum didalamnya terdapat
aspek medicolegal
Setiap orang berhak menuntut
ganti rugi terhadap seseorang,
tenaga kesehatan atau
penyelenggara kesehatan yang
menimbulkan kerugian akibat
kesalahan atau kelalaian dalam
peayanan kesehatan yang
diterimanya
Peraturan
dan UU
Terkait

 UU RI No. 29 Thn 2004 ttg Praktik Kedokteran


UU RI No 36 thn 2009 ttg Kesehatan
UU RI No 44 thn 2009 ttg Rumah Sakit
 permenkes No 411 thn 2010 ttg Laboratorium Klinik
 UU RI No 36 thn 2014 ttg Tenaga Kesehatan
 permenkes nomor 42 thn 2015 ttg izin
penyelenggaraan praktek ATLM (SIP)
Pelaksanaan disiplin ilmu atau profesi

Unsur Pelayanan Kesehatan Etika Profesi

Legal (aspek administratif, aspek


pidana, dan aspek perdata)
Legal dari aspek administratif

Ijazah, STR, SIP, dan penugasan (SK) kewenangan


klinis (kredentialing atau bukti kewenangan
klinis).
 SURYA Online, MAGETAN - RSUD dr Sayidiman dilaporkan ke Polsek Magetan oleh Sapari
(45) warga Perumahan Taman Asri, Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten
Magetan karena dianggap telah lalai menugaskan karyawan yang bukan tenaga medis

KASUS FLEBOTOMI?
mengambil sample darah yang menyebahkan pecahnya pembuluh darah hingga
menyebabkan seluruh tangan kirinya bengkak menghitam.

Kasus kelalai itu berawal ketika Sapari peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
itu melakukan check up kesehatan di poliklinik nomor 5 spesialis penyakit dalam, Senin
(24/11/2014) saat itu dia diambil darahnya lewat tangan kirinya.

"Pengambilan sample darah itu setelah saya periksa di poli penyakit dalam. Namun,
sepulang saya dari check up di RSUD dr Sayidiman itu tangan saya panas, menghitam dan
rasanya sakit sekali, malam baru terlihat membengkak,"kata Sapari kepada Surya, seusai
melapor ke Polsek Magetan, Selasa (25/11).

Setelah bengkak disertai rasa sakit yang luar biasa itu, korban oleh keluarganya dibawa ke
Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Sayidiman. Setelah diperiksa di IGD, korban
diarahkan ke dokter spesialis penyakit dalam di Poliklinik setempat.

"Di Poliklinik penyakit dalam itu saya diperiksa dokter Mahatma spesialis penyakit dalam,
dan hanya diberi resep untuk menebus obat,"jelas Sapari.

Dirumah sakit itu Sapari dapat kabar kalau bagian laboratorium yang mengabil sample
darah itu bukan tenaga medis, tapi karyawan bagian administrasi.

"Karena sudah saya anggap melakukan kelalaian, RSUD dr Sayidiman saya laporkan ke
Polisi. Masak, bukan tenaga medis dimnta check Up dan mengambil darah,"kata Sapari,
sambil mengatakan sesuai keterangan medis di IGD, pembengkakan ditangan kiri itu akibat
pembuluh darah pecah.

"Tenaga Laboratorium yang melakukan pengambilan sample darah bernama Jumirah,


sesuai keterangan karyawan RSUD dr Sayidiman. Tapi biar polisi yang mengusut siapa yang
menugaskan dia yang bukan tenaga medis melakukan tugas medis,"kata Sapari sambil
mengeluh sakit ditangannya sampai ke gigi gerahamnya.

Dirut RSUD dr Sayidiman, dr Mahatma Sp Internis yang dikonfirmasi siap bertanggungjawab


Safari (45) warga Panekan Kab. kalau itu dianggap kesalahan RSUD.

Magetan melaporkan pihak RSUD "Ini bukan membela diri, tapi memang ada beberapa orang yang memiliki pembuluh darah
yang mudah pecah. Soalnya kalau jarum yang digunakan sama ukurannya,"kata Dirut

Dr Sayyidiman Magetan karena Mahatma kepada Surya, Selasa (24/11/2014).

Terkait adanya kesalahan petugas yang melakukan pengambilan sample darah karena
dianggap lalai menangani tindakan bukan tenaga medis, Mahatma membantah.

medis (sumber : SURYA Online) "Tidak mungkin kalau petugas saya sembrono. Itu karena tadi saya sebutkan adanya
beberapa orang yang pembuluh darahnya mudah pecah dan kami siap mengobati bengkak
itu,"tandas Mahatma
TANGGUNG JAWAB HUKUM

RS Owner

Perdata Analis

Kelalaian
Klinik/Lab Pj lab
/kesalahan

Pidana Diri sendiri Owner


PERLINDUNGAN
HUKUM

salah satu
Kement fungsinya adalah
Pemerin erian merumuskan,
menetapkan dan PERLINDUNGA
tah Kesehat melaksanakan
kebijakan di N HUKUM
an bidang
kesehatan
PERLINDUNGAN
HUKUM (1)

PS 28 D
UUD 45

setiap orang berhak atas


pengakuan, jaminan,
perlindungan dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan
yang sama di hadapan hukum.

Perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi


tenaga kesehatan penyelenggara pelayanan
kesehatan adalah peluang dan sekaligus dorongan
untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik
bagi masyarakat di setiap wilayah Republik
Indonesia
PERLINDUNGAN HUKUM
NAKES (BERLAKU JUGA KPD ATLM)

PERAN STANDAR
1. Pasal 27 UU 36/2009 tentang
KESEHATAN
Tenaga kesehatan berhak  Harus dipatuhi dan
mendapatkan imbalan dan pelindungan dilaksanakan
hukum dalam melaksanakan tugas  Menjamin Upaya terbaik
sesuai dengan profesinya.
 Tidak menjamin
2. Pasal 57 UU No. 36/2014 tentang keberhasilan upaya atau
NAKES kesembuhan pasien
Tenaga Kesehatan dalam menjalankan  Modifikasi hanya dilakukan
praktik berhak memperoleh
pelindungan hukum sepanjang atas dasar keadaan yang
melaksanakan tugas sesuai dengan memaksa untuk
Standar Profesi, Standar Pelayanan kepentingan pasien
Profesi, dan Standar Prosedur
Operasional;  Mematuhi = dilindungi
secara hukum
MAKNA
PERLINDUNGAN HUKUM

Perlindungan hukum bukanlah ketentuan yang menghilangkan


adanya kemungkinan penuntutan hukum oleh orang lain, tetapi
memberikan perlindungan untuk:
 Memberikan Yankes sesuai ketentuan perundang-
undangan
 Bekerja bebas sesuai profesi, tanpa paksaan dan
ATLM

ancaman oleh pihak lain


 Memperoleh kewenangan yang sesuai dengan
kompetensi keprofesiannya
 Memperoleh kesempatan untuk membela diri dan
diproses secara adil apabila diduga melakukan
pelanggaran profesi, baik di sidang profesi, institusi
RS, maupun di peradilan umum.
Pasal 58 ayat (1) UU No 36 / 2009
Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap
seseorang tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara
kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat
kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan
kesehatan yang diterimanya
NAKES BEBAS DARI
GUGATAN PERDATA...?
(BERLAKU JUGA KPD ATLM)

1. Pasal 77 UU No. 36/2014 Tentang NAKES


Setiap Penerima Pelayanan Kesehatan yang dirugikan akibat kesalahan
atau kelalaian Tenaga Kesehatan dapat meminta ganti rugi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Pasal 78 UU No. 36/2014 Tentang NAKES


Dalam hal Tenaga Kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam
menjalankan profesinya yang menyebabkan kerugian kepada Penerima
Pelayanan Kesehatan, perselisihan yang timbul akibat kelalaian tersebut
harus diselesaikan terlebih dahulu melalui penyelesaian sengketa di luar
pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 UU KES dan UU NAKES tidak berkehendak
menghilangkan tuntutan pidana dan perdata
M bagi NAKES yg diduga melakukan pelanggaran
A disiplin
K  UU KES dan UU NAKES tidak menerapkan
Peradilan Profesi
N
 KTKI hanya melayani persidangan dugaan
A pelanggaran disiplin (kuasi peradilan), dan
memberikan sanksi disiplin, sedangkan
masalah hukum diselesaikan di pengadilan
Pasal 58 ayat (2) UU No 36 / 2009
Tuntutan ganti rugi tidak berlaku bagi
tenaga kesehatan yang melakukan
tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang
dalam keadaan darurat.
Perlindungan HUKUM
Upaya/ Keterangan
Berusaha Secara Izin Sarana Kesehatan meliputi : Persyaratan sarana kesehatan,
SAH Standar pelayanan kesehatan, Akreditasi
Izin Praktek Profesi meliputi : Kompetensi dan kewenangan,
Etika dan standar profesi
Otonomi Profesi Sertifikat kompetensi, Registrasi (STR) dan Izin (SIK)
Bekerja sesuai kompetensi dan kewenangan
Bekerja sesuai etik profesi
Bekerja sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional
Kewajiban Beri Yanmed sesuai standar profesi, SOP dan kebutuhan medis
Pemberi Layanan Merujuk pasien bila tak mampu
Memegang rahasia pasien
Pertolongan darurat
Menambah dan mengikuti perkembangan IPTEKDOK
Memberi ganti rugi bila “salah/lalai”
Bagaimana bila Berhak bebas dari kekerasan dalam bentuk apapun
melakukan Berhak praduga tak bersalah
kesalahan Berhak memperoleh proses penyelesaian yang adil
Berhak membela diri
PRINSIP PERLINDUNGAN HUKUM

Kompetensi
dan Etik dan
Kewenangan budaya kerja

Tetapi jangan dilihat dari “human factor” saja, melainkan dilihat


sebagai suatu sistem, berbagai komponen yang saling
mempengaruhi: organisasi, manajemen, peraturan, SDM,
peralatan, lingkungan, dll