Anda di halaman 1dari 40

KONSEP DASAR DAN ASKEP MAS

PERKOTAAN PD AGREGAT REMAJA


OUTLINE

Asuhan
Upaya keperawatan
pencegahan dan komunitas
peran perawat pada agregat
Faktor resiko remaja
dan dalam masalah
permasalahan yang terjadi
Perbandingan pada remaja pada agregat
agregat remaja
remaja rural
dan urban
Konsep
remaja
KONSEP REMAJA
Tumbang Remaja
• Bentuk kompleks perpindahan yang mencakup
perubahan dalam proses biologis, kognitif, dan
Tumbang sosioemosional (Santrock, 2007 dalam Potter & Perry,
2009).

• Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-


anak menuju dewasa.
Remaja
• Proses penyesuaian berbeda
Remaja • Kondisi perkotaan baik fisik/psikososial & akses
informasi menimbulkan masalah kesehatan. Contoh :
perkotaan penyalahguanaan zat, seks pra nikah/bebas
Klasifikasi Remaja
(Potter Perry, 2009; Allender, 2010)

• Remaja awal (11 -14 tahun)


1.

2. • Remaja pertengahan (15 -17 tahun)

• Remaja akhir (18-20 tahun)


3.
Perubahan pada Remaja
FISIK KOGNITIF PSIKOSOSIAL

• Tulang rangka, • Intelektual • Identitas


otot, organ tertinggi seksual
dalam, • Keterampilan • Identitas
distribusi otot berbahasa & kelompok
& lemak komunikasi • Identitas
• Sistem keluarga
reproduksi & • Identitas moral
seks sekunder
• Identitas
kesehatan
LANJUTAN...
 Periode individu matur fisik, maupun psikologis
Identitas diri
 Tahapan perkembangan (Hockenberry M.J., Wilson D.,
2008 dalam Potter P.A., Perry A.G., 2009) :
 Pertumbuhan : mencapai puncak & matang fisik
 Kognisi : kemampuan berpikir abstrak
 Psikososial : Idealistik, penegakkan citra diri & peran
 Hub. Dgn ortu : Kemandirian, titik terendah hub. Ortu-anak
 Hub. Dgn kelompok : persahabatan, mulai berpikir ttg hub, dgn
lawan jenis
 Seksualitas : Ekslorasi & evaluasi diri, komitmen hub. dgn lawan
jenis
 Psikologis : mood fluktuatif, s/d emosi yg lebih konstan
Karakteristik Perkembangan Remaja
• Fase pubertas ditandai terjadi kematangan
FISIK seksual yang mengaktivasi dorongan seksual
terhadap lawan jenis (McMurry, 2003)

• Perilaku; suka mencoba/eksperimen, suka


mengeksplorasi sesuatu, keingintahuan yang besar,
menyukai petualangan, tantangan dan cenderung
PSIKOLOGIS berani menanggung resiko atas perbuatannya tanpa
didahului pertimbangan yang matang (Stanhope &
Lancaster, 2004)

• Remaja dalam pencarian identitas, mudah


terpengaruh oleh teman sebayanya
SOSIAL mengakibatkan remaja kehilangan identitas (
Friedman, Bowden & Jones, 2003)
Perspektif Remaja dalam teori
perkembangan

FREUD ERIKSON PIAGET KOHLBERG

• PSIKOSEKSUAL • PSIKOSOSIAL • KOGNITIF • PERTIMBANGAN


• GENITAL • Identitas VS mencari • OPERASIONAL MORAL
jati diri , kematangan FORMAL, • PASCA
seksual BERPIKIR KONVENSIONAL,
ABSTRAK ORIENTASI
KONTRAK SOSIAL
 Freud : individu mengalami ketertarikan seksual dengan individu di
luar lingkungan keluarga.
 Erikson : kebutuhan akan identitas yang sangat penting dalam membuat
keputusan seperti memilih pekerjaan atau pasangan hidup. Keberhasilan
pada tahap ini akan menghasilkan kepatuhan dan kesetiaan terhadap
orang lain dan terhadap cita-citanya sendiri.
 Piaget : pada tahap ini pola pikir individu bersifat abstrak dan teoritis.
Remaja dapat menyusun ide-ide yang terdapat dalam pikirannya.
 Kohlberg : individu menemukan keseimbangan antara hak dan
kewajiban.

Masalah kesehatan pada agregat ini terjadi apabila tidak berhasil


menyelesaikan tugas perkembangannya, yang akan berpengaruh pula pada
masa selanjutnya
PERBANDINGAN AGREGAT REMAJA
RURAL DAN URBAN

BKKBN 2010 : Jumlah penduduk


Indonesia 237,6 juta, 63,4%
diantaranya remaja 10-24 tahun
Remaja pedesaan & perkotaan
 Remaja pedesaan menghadapi masalah dalam tukemnya terkait dgn
faskes, privasi yg terbatas, transportasi kurang, kecelakaan di bid.
Pertanian remaja perkotaan dengan fasilitas kesehatan teknologi yang
memadai mendukung tukem remaja namun berdampak pada adanya
masalahPotter P.A., Perry A.G., 2009)
 Hastuti S., & Sudarwati L., 2007 : Sukar membedakan remaja kota &
desa sbg dampak urbanisasi. Dikarenakan banyknyamasyarakat desa yang
melakukan urbanisasi membawa ciri pedesaaan kekota dan sebalikny.
 Dicaraka B.A., Candrawati S., & Wicaksono M.A., tahun 2014 : tidak
terdapat perbedaan aktivitas fisik remaja desa & kota
 Vaida, Naheed tahun 2013 , tingkat konsumsi makanan cepat saji remaja
kota > desa.
 Pubertas dini : sebagai mas tukem remaja perkotan yg dikarenakan
kondisi sosial, gizi, genetik dll. (Kania, Dewi 2016)
Faktor Resiko dan
masalah pada
agregat remaja
1. Masalah 2. Resiko

- Penggunaan Zat - Masalah emosional


- Seks Bebas dan bunuh diri
- Kenakalan Remaja - Jerawat
- Pubertas dini - Gizi rendah dan
gangguan pola makan
85% remaja telah mencoba
Penyalahgunaan Zat alkohol, 65% merokok dan
49% telah mencoba ganja
dengan berbagai alasan
(Hockenberry & Wilson,
2007;dalam Potter & Perry,
2009).

700 kasus/Thn

2015
15 kasus/Mgg

(Warta Kota, 2016).


Kenakalan Remaja
Hasil survey menunjukan
sekitar 15-40% remaja usia 17
tahun pernah terlibat dalam
kekerasan seperti perkelahian
Perubahan pada aspek fisik yang disertai (Surgeon General of The
penyimpangan maka remaja tersebut akan United States, 2002 dalam
memiliki kesulitan membentuk identitas Allender, Rector & Warner,
seksualnya, penyimpangan tersebut seperti 2010).
seks bebas (Potter & Perry, 2009).

Remaja 12-17 tahun dikota depok rata-rata


10 kasus/Bulan (News, 2012). Di kota depok remaja SMK melakukan
tindak pencurian dengan kekerasan atau
pembegalan yang merupakan bentuk
kenakalan remaja dilakukan sampai 5 kali
ditempat yang berbeda. (Metrotempo,
2015).
Masalah emosi karena ingin
- Menunjukkan jati dirinya
- Merasa sudah dewasa
- Mampu bertanggung jawab
- Pengaruh teman
- Tp, belum ada pertimbangan yang
matang (Allender, 2010).

Secara umum ketika remaja akan


melakukan percobaan bunuh diri akan
terlihat satu bulan sebelumnya dengan
tanda-tanda penurunan prestasi di
sekolah, menarik diri, kehilangan
semangat, merasa kesepian dan
menangis serta gangguan selera
makan dan tidur (Potter & Perry,
2009).
LGBT Resti (Shaffer et al., Masalah emosi dan bunuh
2007:Allender, 2010)
diri
Gizi rendah dan gangguan pola makan

Makanan yang siap saji tanpa  Pada 176 siswa sekolah


memikirkan kandungan menengah atas terdapat
gizinya dengan aktivitas yang 23,82% gizi lebih (Sari,
kurang dapat menimbulkan 2005)
masalah obesitas seperti yang  Pada 104 siswa di sekolah
terjadi di Amerika menengah atas Cakra
Buana Depok terdapat
(Brinkleys, Eates, &
31,7% yang mengalami
Jekanowski, 2000; Allender, gizi lebih (Karnaeni, 2005)
Rector & Warner, 2010).
jerawat

 Makanan berminyak dan cokelat


 Jerawat dimulai pada (bukan penyebab)
saat pubertas (10  Faktor memperparah ( stres ,iritasi
sampai 12 tahun) lingkungan , dan kosmetik
tertentu ).
dengan peningkatan  Pengobatan umum dan obat-
sirkulasi hormon yang obatan untuk mengurangi aktivitas
kelenjar sebaceous
merangsang kelenjar  Gadis sering diresepkan
sebaceous di kulit kontrasepsi oral ,yang telah
terbukti efektif dalam mengobati
(allender, 2010). jerawat.
( Rosen,Breitkopf, & Nagamani,
2003; Allender, 2010)
Pencegahan
terhadap faktor
resiko pada agregat
remaja
DETEKSI DINI FAKTOR RESIKO
DILAKUKAN PADA:

ANAK

REMAJA

KELUARGA
Pencegahan terhadap faktor resiko
dapat dilakukan (DEPKES, 2001) :
A. LINGKUNGAN KELUARGA
1. pola asuh : hindari sikap orangtua yang otoriter, permisif,
membanding-bandingkan anak, sikap ambisi dan terlalu
menuntut anak, jadilah orangtua yang demokrasi
2. kondisi keluarga : ciptakan hubungan yg harmonis,
ciptakan komunikasi yang baik dalam keluarga
3. pendidikan moral dalam keluarga : tanamkan nilai-nilai dan
akhlak atau budi pekerti pada anak yg mengandung nilai
keagamaan, kesusilaan, kepribadian (pengembangan diri)
Lanjutan...
B. LINGKUNGAN SEKOLAH
1. suasana sekolah : ciptakan lingkungan yg kondusif, disiplin,
tertib, tingkatkan sarana pendidikan
2. bimbingan guru : guru sebagai konselor, mendengarkan,
memperhatikan, memiliki kepekaan trhdp kondisi siswa,
menanamkan nilai-nilai budi pekerti dll.
Lanjutan...
C. LINGKUNGAN SEBAYA
merupakan pengaruh terbesar pada fase remaja. Pilihlah
lingkungan sebaya yang cenderung berperilaku positif, yang
tidak melanggar nilai dan norma yang ada di masyarakat.
D. LINGKUNGAN MASYARAKAT
1. sosial budaya : mempertahankan nilai, budaya dan spiritual
menjadi pegangan remaja
2. media massa : mlli promosi larangan merokok, perilaku
seks bebas, laranagn penggunaan NARKOBA
Peran perawat dalam upaya
pencegahan (Allender, 2010)
1. Care provider: memberikan layanan kesehatan, menerima rujukan
2. Pendidik: promotif & preventif (penyuluhan, kunjungan rumah, membagikan
pamflet/brosur,buklet)
3. Kolaborasi : kolaborasi dengan berbagai pihak terkait seperti kepolisian,
sekolah, psikolog,dokter dll.
4. Manajemen: mengkaji, perencanaan, mengorganisir dalam permasalahan
yang ada pada agregat remaja
5. Advokat: Setiap klien memiliki hak untuk menerima keadilan, dan pelayanan
secara manusiawi
6. Peneliti : melakukan penelitian terkait permasalah pada agregat remaja
seperti masalah narkoba, perilaku seks bebas, tawuran dll dgn mengumpulkan
data dan mencari pemecahan masalahnya.
7. Koordinator : memprakarsai perubahan-perubahan perilaku yang positif
untuk meningkatkan kesehatan masyarakat
Kesimpulan
 Pencegahan dilakukan secara holistik dan dilakukan oleh
keluarga, lingkungan, dan pemerintah berfokus pada
pencegahan dan pembangunan remaja .
 Penekanan peran perawat komunitas pada preventif dan
promotif
 Preventif : melakukan penyuluhan terkait maslah2 yg
berhubungan dengan remaja dan faktor resiko yg ada
pada remaja melalui kunjungan rumah, sekolah.
 Promotif : mempromosikan kesehatan yang
berhubungan dengan kesehatan dan perkembanga jiwa
remaja dengan membagikan brosur, pamflet etang
masalah-masalahyang ada pada remaja
Kasus
Jumlah remaja di rw 006, kota depok: RT 1 berjumlah 14
orang, di RT 2 berjumlah 19 orang, di RT 3 berjumlah 12
orang, di RT 4 berjumlah 22 orang, dan di RT 5 berjumlah 34
orang. Lokasi tempat tinggal berada RW 006. Berdasarkan hasil
kusioner didapat masalah kesehatan: 40% remaja
mengkonsumsi/menyalahgunakan narkoba/Napza, 35% remaja
mengkonsumsi alkohol, 70% remaja memiliki kebiasaan
merokok, 55% seks bebas dikalangan remaja, 30% menderita
PMS, 15-40% remaja pernah terlibat dalam kekerasan seperti
perkelahian dan tawuran.
PENGKAJIAN BERDASARKAN
KOMPONEN WINDSHIELD SURVEY:
Lanjutan pengkajian
Lanjutan pengkajian
Lanjutan pengkajian
Analisa masalah
DIAGNOSA
No DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF KEPERAWATAN
KOMUNITAS

1 Dari hasil wawancara: Defisiensi kesehatan


komunitas remaja di RW
- Remaja menderita PMS - 55% seks bebas 006, Depok (00215)
dikalangan remaja
- Dalam 1 bulan 10 kejadian
- 30% menderita PMS
seks bebas terjadi lu
- 15-40% remaja pernah
Data tambahan yang perlu terlibat dalam
dikaji: kekerasan seperti

Keadaan lingkungan sekitar, perkelahian dan

ada atau tidaknya fasilitas tawuran


pelayanan kesehatan dll.
Analisa masalah
DIAGNOSA
No DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF KEPERAWATAN
KOMUNITAS
2 Dari hasil wawancara: Dari hasil kuisioner: Perilaku kesehatan beresiko
- 3 dari 10 remaja mengaku - 70% remaja memiliki pada remaja di RW 006,
pernah kebiasaan merokok Depok. (00188)
mengkonsumsi/menyalahgua - 40% remaja (Wilkinson & Ahern, 2011)
kan narkoba/Napza mengkonsumsi/menyala
- 3 orang remaja tersebut hgunakan narkoba.
mengungkapkaan bahwa di - 35% remaja
kelurahan W terdapat sekitar mengkonsumsi alkohol.
40% orang remaja yang
menyalahgunakan Narkoba
- Beberapa remaja lain
mengatakan sering menemukan
sekumpulan remaja yang
memang sedang mabuk karena
alkohol
Data yang perlu ditambahkan:
Peran dari keluarga dalam
mengawasi pertumbuhan dan
perkembangan remaja.
Prioritas Diagnosis Keperawatan
Diagnosa Kriteria
No Jumlah
Keperawatan A B C D E F G H I J K L
1 Defisiensi 3 4 4 5 2 4 3 4 3 4 4 3 43
kesehatan
komunitas
remaja di RW
006, Depok
(00215).
2. Perilaku 4 3 2 2 2 2 3 4 4 3 2 2 33
kesehatan
beresiko pada
remaja di RW
006, Depok.
(Wilkinson &
Ahern, 2011)
Keterangan:
 A = Sesuai dengan peran perawat Pengisian Skor :
 1 = Sangat rendah
komunitas
 2 = Rendah
 B = Sesuai dengan program pemerintah
 3 = Cukup
 C = Sesuai dengan intervensi
pendidikan kesehatan  4 = Tinggi
 D = Risiko terjadi  5 = Sangat tinggi
 E = Risiko parah
 F = Minat masyarakat
 G = Kemudahan untuk diatasi
 H = Tempat
 I = Dana
 J = Waktu
 K = Fasilitas
 L = Petugas
Rencana Keperawatan
Implementasi Keperawatan berfokus pada
tingkat pencegahan
 Pencegahan primer
Melakukan promosi kesehatan pada agregat remaja yang
bertujuan untuk meningkatkan perilaku hidup sehat.
 Pencegahan sekunder
memodifikasi perlilaku hidup sehat pada agregat remaja
 Pencegahan tersier
Membantu keluarga yang mempunyai anak remaja
dengan masalah perilaku kesehatan berisiko dalam mengawasi
proses tumbuh kembang remaja
Referensi
 BKKBN. (2011). Kajian Profil Penduduk Remaja (10-24 THN): Ada Apa
Dengan Remaja?. Policy Brief Pusat penelitian dan Pengembangan
Kependudukan. Seri 1 No. 6/Pusdu-BKKBN/Desember 2011.
 Dicaraka B.A., Candrawati S., & Wicaksono M.A (2014). Perbedaan
Tingkat Aktivitas Fisik Antara Remaja Desa dan Kota di Kabupaten
Banyumas. Mandala of Health. Vol.7 No.1, Januari 2014. Di dapat dari
id.portalgaruda.org
 Hastuti S., Sudarwati L. (2007). Gaya Hidup Remaja Pedesaan. Jurnal
Harmoni Sosial., Januari 2007. Vol. 1 No. 2. Didapat dari
http://repository.usu.ac.id .
 Vaida, Naheed.(2013). Prevalence of Fast Food Intake Among Urban
Adolescent Students. The International Journal of Engineering and Science
(IJES). Vol.2/1/353-359. Didapat dari www.theijes.com
 Kania, Dewi (2016). Jurnl Kesehatan :sebab Remaja Modern Cepat
mengalami Pubertas. Di unduh dari www.okezone.com
TERIMAKASIH