Anda di halaman 1dari 55

PRESENTASI MINI PROJECT

Dokter Internship Indonesia

PENILAIAN STATUS RUMAH SEHAT DAN PERILAKU HIDUP BERSIH


DAN SEHAT (PHBS) PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS KANIGARAN KOTA PROBOLINGGO
PERIODE OKTOBER – NOVEMBER 2018

Oleh : dr. Neni Setiyowati

Pembimbing :
dr. Ike Yuliana
dr. Dara Kharisma
Latar Belakang

Jawa Timur sebagai penyumbang


Indonesia menempati kasus TB Paru kedua. Di Indoonesia.
Kasus TB Paru di Jawa timur
mengalami peningkatan dari tahun ke
posisi ke-2 beban TBC tahun.
Kota Probolinggo tahun 2015 terdapat
tertinggi di dunia 159 kasus baru BTA (+) dari sejumlah
329 kasus TB yang ada, jumlah
penderita TB-Paru BTA (+) yang
(WHO, 2016) diobati berjumlah 116 penderita
• Faktor Lingkungan
Faktor risiko • Tingkat kepadatan hunian kamar tidur
TB • Ventilasi (penghawaan)
• Jenis lantai
• Tingkat kelembaban udara
Sosio
host, ex : • Tingkat pencahayaan
lingkungan ekonomi
imunitas
rendah • Jenis dinding
.

Dengan banyaknya faktor lingkungan, maka kesehatan


lingkungan seperti rumah dan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) harus selalu diperhatikan untuk mengurangi resiko
terjadinya penularan kuman Mycobacterium tuberculosis
Rumusan Masalah Tujuan Penelitian

• Bagaimanakah penilaian • untuk mengetahui bagaimana


status rumah sehat dan PHBS status rumah sehat dan PHBS
pada kasus tuberkulosis paru pada kasus tuberkulosis paru
di wilayah kerja Puskesmas di wilayah Puskesmas
Kanigaran Kota Probolinggo Kanigaran Kota Probolinggo
periode Oktober-November periode Oktober-November
2018? 2018.
Manfaat penelitian

Bagi Ilmu Pengetahuan Bagi Puskesmas

pengetahuan tentang seberapa besar acuan dalam mengurangi angka


pengaruh status rumah sehat dan PHBS kejadian dan penularan TB paru di
terhadap peningkatan TB paru. wilayah Puskesmas Kanigaran.

Bagi Masyarakat Bagi Peneliti

memperkaya wawasan terhadap


memberikan informasi cara mencegah
peningkatan faktor resiko penularan dan
penularan TB paru dengan memperhatikan
kejadian TB paru terutama faktor
kebersihan lingkungan seperti rumah sehat
kebersihan lingkungan serta PHBS
dan PHBS
Tinjauan Pustaka
Definisi dan Etiologi Tuberkulosis

• Tuberkulosis : penyakit menular disebabkan kuman Mycobacterium


tuberculosis
• Kuman ini ditemukan pertama kali oleh Robert Koch tahun 1882.
• Konsep dari pada imunitas yang didapat diperlihatkan dengan
pengembangan vaksin TB, yaitu vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG),
dibuat dari Mikobacterium Bovis
• Mycobacterium tuberculosis adalah :
 bentuk batang, panjang 1-4 mikron tebal 0,3-0,6 mikron.
 Sebagian besar dinding kuman terdiri atas lipid sehingga membuat
kuman menjadi tahan asam (BTA) dalam pewarnaan Ziehl Neelsen
 Bersifat aerob
Penularan Tuberkulosis

 melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei


 sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan
dahak

Epidemiologi Tuberkulosis

 Sesuai data WHO Global Tuberculosis Report 2016, Indonesia


menempati posisi kedua setelah India dengan beban TBC tertinggi di
dunia
 Tahun 2017, angka kejadian TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus
pada tahun dengan jumlah laki-laki >perempuan.
 Jumlah penderita TB dilaporkan lebih tinggi di perkotaan padat
penduduk daripada di pedesaan.
 Jawa Barat menempati posisi pertama dengan jumlah 0,7%
sedangkan Jawa Timur berkisar 0,2% (Kemenkes RI, 2018).
Patogenesis
TB

sembuh Sakit TB
Diagnosis Tuberkulosis

1. Gejala klinis 3. Pemeriksaan radiologis


Gejala respiratorik  bercak seperti awan, batas tidak tegas.
 Batuk /batuk darah ≥ 2 minggu  Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka
 Sesak napas bayangan terlihat berupa bulatan dengan
 Nyeri dada batas tegas (tuberkuloma).
Gejala sistemik  kavitas
Demam  Fibrosis (bayangan yang bergaris-garis)
Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam,  Kalsifikasi
anoreksia, berat badan menurun.  tuberculosis milier : bercak-bercak halus
2. Pemeriksaan fisik merata pada seluruh lapangan paru.
suara napas bronkial, amforik, suara napas
melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru,
diafragma & mediastinum.
4. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah
b. Pemeriksaan Dahak
- Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
- Pemeriksaan Biakan
- Pemeriksaan uji kepekaan obat
tes cepat yaitu GeneXpert
c. Tes Tuberkulin
 dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin P.P.D
(Purified Protein Derivative).
 Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah
seseorang individu sedang atau pernah
mengalami infeksi M. tuberculosae,
5. Alur diagnosis TB
(Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, 2014)
Klasifikasi dan Tipe Pasien Tuberkulosis

Lokasi anatomi dari penyakit


- Tuberkulosis paru
- Tuberkulosis ekstra paru
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya :
- Pasien baru TB : belum pernah mendapatkan pengobatan TB sebelumnya /pernah menelan < 1 bulan
- Pasien yang pernah diobati TB : pasien yang sebelumnya pernah menelan OAT selama ≥ 1 bulan. selanjutnya
diklasifikasikan berdasarkan hasil pengobatan TB terakhir, yaitu:
• Pasien kambuh: pernah dinyatakan sembuh tapi saat ini didiagnosis TB
• Pasien yang diobati kembali setelah gagal: adalah pasien TB yang pernah diobati dan dinyatakan gagal
pada pengobatan terakhir.
• Putus berobat (lost to follow up)
- Pasien yang riwayat pengobatan sebelumnya tidak diketahui.
Klasifikasi berdasarkan hasil uji kepekaan obat
• Mono resistan (TB MR): resistan salah satu OAT lini pertama
• Poli resistan (TB PR): resistan >1 OAT lini pertama selain H dan R
• Multi drug resistan (TB MDR): resistan terhadap H dan R bersamaan
• Extensive drug resistan (TB XDR): TB MDR yg resistan terhadap salah satu OAT golongan
fluorokuinolon dan salah satu OAT lini kedua jenis suntikan (Kanamisin, Kapreomisin dan
Amikasin).
• Resistan Rifampisin (TB RR): resistan terhadap Rifampisin dengan atau tanpa resistensi
terhadap OAT lain

Komplikasi Tuberkulosis

 Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empyema, laryngitis, usus, Poncet’s arthropathy
 Komplikasi lanjut : obstruksi jalan napas, fibrosis paru, kor pulmonal, amyloidosis, karsinoma paru,
sindrom gagal napas (ARDS).
Pengobatan Tuberkulosis

Tabel OAT Lini Pertama Tabel Kisaran dosis OAT lini pertama bagi pasien dewasa
Tabel OAT yang digunakan dalam pengobatan TB MDR
Kategori 2: 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3)
Paduan OAT KDT Lini Pertama dan Peruntukannya. untuk pasien BTA positif yang pernah diobati sebelumnya
Kategori 1 : 2(HRZE) / 4(HR)3 (pengobatan ulang):
diberikan untuk pasien baru: • Pasien kambuh
• Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis. • Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT
• Pasien TB paru terdiagnosis klinis kategori 1 sebelumnya
• Pasien TB ekstra paru • Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to
follow-up)
Dosis Paduan OAT KDT Kategori 1:
Dosis Paduan OAT KDT Kategori 2
b) Hepatitis Kronis
Pengobatan TB pada keadaan khusus
bila hasil pemeriksaan fungsi hati >3 x normal ,
1) Kehamilan
obat hepatotoksik perlu dihindari (R<H<Z). OAT yg
semua OAT aman, kecuali streptomisin /kanamisin
dipertimbangkan:
karena menimbulkan ototoksik bayi
• 2 obat hepatotoksik
2) Ibu menyusui dan bayinya
2 HRSE / 6 HR
Semua jenis OAT aman. Bayi dapat terus diberikan ASI.
9 HRE
Pencegahan dengan INH diberikan pada bayi sesuai BB.
• 1 obat hepatotoksik
3) Pasien TB pengguna kontrasepsi
2 HES / 10 HE
Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal
• Tanpa obat yang hepatotoksik
sehingga menurunkan efektifitas kontrasepsi
18-24 SE + 1 golongan fluorokuinolon
4) Pasien TB dengan kelainan hati
(ciprofloxasin tidak direkomendasikan karena
a) Pasien TB dengan Hepatitis akut
potensimya sangat lemah).
ditunda sampai hepatitis akutnya sembuh
5) Pasien TB dengan gangguan fungsi ginjal
 Paduan OAT : 2 HRZE/4 HR. H dan R diekskresi melalui empedu sehingga tidak perlu dilakukan perubahan
dosis. Dosis Z dan E harus disesuaikan karena diekskresi melalui ginjal.
 Perlu diberi Piridoksin (vit. B6) untuk mencegah neuropati perifer. Hindari penggunaan Streptomisin dan
bila harus diberikan, dosis yang digunakan: 15 mg/kgBB, 2 atau 3 x /minggu, maksimum 1 gr/kali
pemberian .
6) Pasien TB dengan Diabetes Melitus (DM)
Rifampisin mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes sulfonylurea, seperti glibenklamid.
7) Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid
a) Meningitis TB
b) TB milier
c) Efusi pleura
d) Laringitis dengan obstruksi saluran nafas , limfadenopati dengan penekanan pada bronkus atau pembuluh
darah.
e) Hipersensitivitas berat terhadap OAT.
f) IRIS ( Immune Response Inflammatory Syndrome )
Efek samping berat OAT Efek samping berat OAT
Penatalaksanaan pasien dengan ”drugs induced hepatitis”
 OAT lini pertama yang memberikan gangguan fungsi hati : H, R dan Z. Bila klinis (+),
OAT hepatotoksik harus dihentikan.
 Bila klinis (-) tetapi SGOT/SGPT > 5x, OAT hepatotoksik harus dihentikan. Diberikan
streptomisin dan etambutol. Setelah klinis normal dan hasil laboratorium mendekati
normal, pengobatan dimulai dari obat yang paling tidak hepatotoksik, yakni rifampisin
lalu 3-7 hari kemudian diberikan INH.
 Obat yang harus dihindari adalah pirazinamid karena paling hepatotoksik. Modifikasi
regimen pada pasien dengan drugs induced hepatitis :
Jika R penyebabnya, regimen menjadi 2HES/10HE
Jika INH penyebabnya, regimen akhir 6-9RZE
 Gangguan fungsi hati berat dan tidak dapat menerima salah satu dari R atau H,
regimen akhir menjadi 18-24 SE + satu obat fluorokuinolon selain ciprofloxacin.
Rumah Sehat
Rumah sehat : rumah yang memenuhi kriteria sehat yaitu :

komponen rumah langit-langit Perilaku penghuni • membuka jendela kamar


sehat rumah
dinding tidur
lantai • jendela ruang keluarga
Jendela kamar tidur • membersihkan rumah
jendela ruang keluarga • membuang tinja bayi
ventilasi dan balita ke jamban
sarana pembuangan asap • membuang sampah
dapur pada tempatnya
pencahayaan

sanitasi air bersih


Jamban
SPAL
pembuangan
sampah
Faktor Kondisi Lingkungan Rumah terhadap Tuberkulosis
 Dinding Rumah
Menurut KepMenKes RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999, dinding
rumah yang memenuhi kesehatan adalah bahan dinding kedap air dan
mudah dibersihkan, misalnya tembok
 Jenis Lantai Rumah
tidak berdebu & tidak basah pada musim hujan
-Khadijah, dkk (2013), penghuni rumah dengan lantai berupa
papan/tanah berisiko 1,71 kali lebih besar terkena TB paru
Penelitian Wantia, dkk pada 35 penderita TB BTA (+) di Timor Tengah
menunjukkan orang yang tinggal di rumah yang lantainya tidak
memenuhi syarat (tidak kedap air dan berdebu) memiliki risiko terkena
tuberkulosis 16,9 kali lebih tinggi
 Ventilasi
 Standart menurut Kepmenkes RI No. 829 tahun 1999, adalah minimal 10% luas lantai (ventilasi tetap
minimum 5% & ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) minimum 5%
 Penelitian Wantia, dkk 2014 menunjukkan ventilasi rumah dikaitkan dengan kejadian TB, dengan OR 16,3,
yang berarti rumah yang ventilasinya <10% dari luas lantai
memiliki risiko menjadi TB 16,3 kali lebih tinggi
 Pencahayaan
 Kuman TB hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung (Depkes RI, 2002), minimal 60 lux
 Studi observasional oleh Wantia, dkk tahun 2014 menunjukkan hubungan antara pencahayaan alami dengan
kejadian TB terbukti rumah dengan penerangan tidak memenuhi syarat yaitu <60lux memiliki risiko TB 4,5
kali lebih tinggi daripada orang-orang dengan pencahayaan rumah yang memenuhi persyaratan.
 Serupa dengan penelitian sebelumnya oleh Rosiana tahun 2013 bahwa orang dengan pencahayaan rumah
yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko terkena TB 3,89 dari orang-orang dengan pencahayaan rumah
yang memenuhi syarat.
 Kepadatan Hunian Tempat Tidur
Menurut Kepmenkes RI No. 829 tahun 1999, luas ruang tidur
minimal 8 m2 dan tidak > 2 orang tidur dalam satu ruang tidur,
kecuali anak di bawah 5 tahun.
Penelitian oleh Gustafson dkk menunjukkan bahwa hidup dalam
keluarga padat penghuni merupakan faktor risiko terjadinya
kekambuhan TB
Dalam Jamil Ahmed Soomro dan Hammad Ali Qazi juga
menunjukkan semua (100%) pasien TB kambuh yang diteliti hidup
dalam rumah dengan keluarga yang penuh sesak.
PHBS

 merupakan salah satu indikator untuk menilai


kinerja pemerintah daerah kabupaten/kota di bidang
adalah semua perilaku kesehatan yang kesehatan, yaitu pencapaian 70% rumah tangga
dilakukan atas kesadaran sehingga anggota sehat.
keluarga/ keluarga dapat menolong dirinya  Menurut Laporan Akuntanbilitas Kinerja Kementrian
sendiri di bidang kesehatan dan dapat Kesehatan RI tahun 2014 : target rumah tangga ber-

berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di PBHS adalah 70%.


 Jawa Timur capaiannya masih di bawah standar yaitu
masyarakat (Depkes RI, 2007).
48,3%. Sedangkan capaian PHBS Kota Probolinggo
sebesar 61,06%.
 Manfaat PHBS bagi rumah tangga
1. Setiap anggota keluarga
menjadi sehat dan tidak mudah sakit
2. Anak tumbuh sehat dan cerdas
3. Anggota keluarga giat bekerja
4.Pengeluaran biaya rumah tangga dapat
ditujukan untuk memenuhi gizi
keluarga, pendidikan dan modal usaha
untuk menambah pendapatan
keluarga.
 Penelitian metaanalisis Narasimhan, dkk tahun 2013 : kekurangan gizi (defisiensi
mikro dan makro) meningkatkan risiko penyakit TB karena gangguan respon imun .
 Bates dkk dalam studi metaanalisis, didapatkan dari 24 studi tentang efek merokok
pada TB, menunjukkan risiko relatif penyakit TB (RR = 2.3-2.7) lebih tinggi di
kalangan perokok dibandingkan dengan bukan perokok
 hubungan merokok dengan peningkatan risiko kejadian tuberkulosis :
merokok mengurangi kemampuan fagositik makrofag alveolar serta penurunan
respon imun dan /atau CD4 + karena nikotin menjadi alasan peningkatan kerentanan
terhadap TB paru
 Shang dkk dalam penelitian dengan hewan uji menunjukkan : paparan tikus terhadap
asap rokok menghasilkan peningkatan signifikan jumlah M. tuberculosis yang diisolasi
dari paru-paru dan limpa + penurunan imunitas adaptif tikus yang terkena.
Metode Penelitian
Desain Penelitian Populasi dan Sampel
 deskriptif kuantitatif
 Populasi :
 merupakan penelitian survey dengan pendekatan
seluruh penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas
 cross sectional.
Kanigaran.
Tempat & Waktu Penelitian
 Sampel :
 di masing-masing rumah responden.  teknik random sampling
 Pada tanggal 25 Oktober 2018 -20 November 2018.  Sampel dalam penelitian ini sebanyak 16 orang yang

Etika Penelitian menderita TB Paru.


 Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah penderita
informed concent dan subjek penelitian diminta
TB Paru BTA (+) yang telah didata di Puskesmas
menandatangani lembar persetujuan sebagai responden
Kanigaran.
sebelum dilakukan penilaian status rumah sehat dan
 Besar sampel minimal dihitung berdasarkan PKP
PHBS.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Kriteria Pemilihan Subjek Penelitian Variabel

Kriteria Inklusi variabel tunggal (menggambarkan kondisi rumah dan PHBS


 Semua pasien TB paru responden klien TB Paru Puskesmas Kanigaran berdasarkan
 Pasien TB paru yang tercatat dalam kriteria rumah sehat dan indikator PHBS.
buku register TB paru Bulan Januari
November 2018 & (BTA) positif.
Definisi Operasional
Kriteria eksklusi
 Variabel : Penilaian kriteria rumah sehat dan PHBS
 Responden yang akan diteliti pindah
 Parameter :
tempat tinggal
- Rumah Sehat :
 Tidak tinggal di wilayah kerja
Nilai skoring 1.068 -1.200
Puskesmas Kanigaran
- Rumah Tidak Sehat :
 Bukan pasien TB periode 2018
Nilai skoring < 1.068
 Responden tidak bersedia dijadikan
- Ber-PHBS : memenuhi 10 indikator PHBS
sampel pada penelitian.
Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer
Peneliti menggunakan penilaian kriteria rumah sehat berdasarkan Keputusan Kementerian Kesehatan RI
Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan serta menggunakan penilaian
PHBS berdasarkan WHO
2. Data Sekunder
Peneliti memperoleh data sekunder dari Puskesmas Kanigaran berupa jumlah responden yang terkena TB Paru
mulai Bulan Januari - November 2018

Instrumen Penelitian

1. Penilaian Kriteria Rumah Sehat

Checklist berdasarkan Keputusan Kemenkes RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan


kesehatan perumahan. mengandung 17 poin penilaian bagian – bagian rumah.
2. PHBS
Berdasarkan 10 poin kriteria PHBS (WHO).
 Data yang diperoleh dianalisis melalui tahapan editing, scoring, entry data
dan analyzing.
 Jenis analisis yang dilakukan adalah :
- Analisis Univariat
mendeskripsikan semua variabel sebagai bahan informasi dengan
Analisis menggunakan tabel distribusi frekuensi (Saryono, 2002).
data - Analisis data yang digunakan yaitu dengan cara :
Menghitung jumlah lembar penilaian kembali yang terkumpul dan
kelengkapannya. Memberikan skor 0, 1, 2 .
0 untuk jawaban tidak ada, skor 1 untuk jawaban ada tetapi bermasalah, dan
skor 2 untuk jawaban ada dan tidak bermasalah sesuai dengan bagian-bagian
rumah yang diamati dan ditanyakan.
- Menentukan proses dari jawaban dengan kategori menurut Keputusan
Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan
kesehatan perumahan dengan kriteria :
Kategori menurut Kemenkes RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang
persyaratan kesehatan perumahan dengan kriteria :

HASIL = NILAI X BOBOT

Untuk menentukan penilaian kriteria rumah sehat, digunakan 17 butir


penilaian yang menghasilkan :
• Rumah sehat = 1.068 – 1.200
• Rumah tidak sehat = < 1.068
Untuk menentukan penilaian PHBS digunakan 10 poin penilaian yang
menghasilkan :
• 10 Poin = Ber-PHBS
• < 10 Poin = Tidak ber-PHBS
Alur Penelitian

wawancara dengan pasien TB paru meliputi data diri pasien

Menjelaskan tujuan, prosedur penelitian, informed concent


kepada pasien

penilaian kondisi rumah dengan ceklist penilaian kriteria rumah sehat dan
PHBS

Menghitung skor rumah sehat +PHBS dan mengelompokkannya

Intepretasi hasil penilaian kualitas rumah

I
Intepretasi hasil penilaian PHBS
Hasil Penelitian

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

 Puskesmas Kanigaran merupakan 1 dari 6 puskesmas di Kota Probolinggo.


 Wilayah kerja Puskesmas Kanigaran terdiri 6 kelurahan, yaitu Kanigaran,
Curah Grinting, Tisnonegaran, Kebonsari Kulon, Kebonsari Wetan, dan
Sukoharjo.
 Jumlah penduduk di Kec. Kanigaran berdasarkan laporan Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil pada tahun 2017 tercatat 53.977 jiwa
dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 17.524.
 Kepadatan penduduk tahun 2017 : 5.067 jiwa / km2 (sangat padat).
Karakteristik Responden
Penilaian Status Rumah Sehat

31%
Rumah Sehat
69%
Rumah Tidak
Sehat
No Variabel Kategori Jumla %
h
I Komponen Rumah
1. Langit-langit a. Tidak ada 0 0
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan rawan 2 12.5
kecelakaan
c. Ada, bersih dan tidak rawan kecelakaan 14 87.5
Distribusi Frekuensi 2. Dinding a. Bukan tembok (terbuat dari anyaman
Komponen Rumah Sehat
bambu/ilalang) 0 0
b. Semi permanen/setengah tembok/pasangan bata
atau batu yang tidak diplester/papan yang tidak 0 0
kedap air
c. Permanen (Tembok/pasangan batu bata yang
diplester) papan kedap air. 16 100
3. lantai a. Tanah 2 12.5
b. Papan/anyaman bambu dekat dengan 0 0
tanah/plesteran yang retak dan berdebu
c. Diplester/ubin/keramik/papan (rumah 14 87.5
panggung)
4. Jendela kamar a. Tidak ada 10 62.5
tidur b. Ada 6 37.5
5. Jendela ruang a. Tidak ada 1 6.25
keluarga b. Ada 15 93.7
6. Ventilasi a. Tidak ada 0 0
b. Ada, lubang ventilasi < 10% dari luas lantai 9 56.2
c. Ada, lubang ventilasi > 10% dari luas lantai 7 43.75
7. Lubang asap a. Tidak ada 8 50
dapur b. Ada, lubang ventilasi dapur < 10% dari luas 5 31.25
lantai dapur
c. Ada, lubang ventilasi dapur > 10% dari luas 3 18.75
lantai dapur (asap keluar dengan sempurna)
atau ada exhaust fan atau ada peralatan lain
yang sejenis.
8. Pencahayaan a. Tidak terang, tidak dapat dipergunakan untuk 0 0
membaca
b. Kurang terang, sehingga kurang jelas untuk 10 62.5
membaca dengan normal
c. Terang dan tidak silau sehingga dapat 6 37.5
dipergunakan untuk membaca dengan normal
II Sarana Sanitasi
1. Sarana air a. Tidak ada 0 0
bersih b. Ada, bukan milik sendiri dan tidak 0 0
(SGL/SPT/ memenuhi syarat kesehatan
PP/KU/PA c. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi 0 0
H). syarat kesehatan
d. Ada, bukan milik sendiri dan 0 0
memenuhi syarat kesehatan
e. Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat 16 100
kesehatan

2. Jamban a. Tidak ada 2 12.5


(sarana b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada 0 0
pembuangan tutup, disalurkan ke sungai/kolam
kotoran) c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, 0 0
disalurkan ke sungai/kolam
d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, 0 0
septic tank
e. Ada, leher angsa, septic tank 14 87.5
3. Sarana a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak 0 0
Pembuangan Air teratur di halaman
Limbah (SPAL) b. Ada, diresapkan tetapi mencemari sumber 0 0
air (jarak sumber air (jarak dengan
sumber air < 10m).
c. Ada, dialirkan ke selokan terbuka 7 43.7
d. Ada, diresapkan dan tidak mencemari 0 0
sumber air (jarak dengan sumber air >
10m).
e. Ada, dialirkan ke selokan tertutup (saluran 9 56.2
kota) untuk diolah lebih lanjut.

4. Sarana
Pembuangan a. Tidak ada 0 0

Sampah / b. Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak ada tutup 1 6.25

tempat sampah c. Ada, kedap air dan tidak bertutup 11 68.7


d. Ada, kedap air dan bertutup 4 25
III Perilaku
Penghuni
1. Membuka
Jendela a. Tidak pernah dibuka 9 56.2

Kamar b. Kadang-kadang 5 31.2

Tidur c. Setiap hari dibuka 2 12.5

2. Membuka
Jendela
Ruang a. Tidak pernah dibuka 2 12.5

Keluarga b. Kadang-kadang 9 56.2


c. Setiap hari dibuka 5 31.2
3. Membersihkan
rumah dan
a. Tidak pernah 0 0
halaman
b. Kadang-kadang 7 43.7
c. Setiap hari 9 56.2

4. Membuang tinja a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam 0 0


bayi dan balita sembarangan 0 0
ke jamban b. Kadang-kadang ke jamban 16 100
c. Setiap hari dibuang ke jamban

5. Membuang a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam 0 0


sampah pada sembarangan
tempat b. Kadang-kadang dibuang ke tempat 1 6.75
sampah sampah
c. Setiap hari dibuang ke tempat 15 93.7
sampah
Penilaian PHBS

Ber-
PHBS
19%
Tidak
Ber-
PHBS
81%
Penilaian Status Rumah Sehat
&PHB S

Sehat saja
13%
19% 6% Ber-PHBS saja

62% Tidak sehat dan


tidak ber-PHBS
Sehat dan ber-
PHBS
PEMBAHASAN Pada penilaian rumah sehat, masalah yang
menonjol :
 ketiadaan jendela kamar tidur sejumlah
Hasil penelitian menunjukkan : 10 rumah (62,5%),
status Rumah Sehat dan PHBS pada  lubang ventilasi < 10% luas lantai

pasien TB paru di wilayah kerja sejumlah 9 rumah (56,2%),


 pencahayaan yang kurang terang
Puskesmas Kanigaran menunjukkan
sejumlah 10 rumah (62,5%),
nilai yang tidak sehat sejumlah 11
 tidak pernah membuka jendela kamar
rumah (69%) dan tidak ber-PHBS
tidur sebanyak 9 responden (56,2%),
sejumlah 13 responden (81%).
 dan 9 responden ( 56,2%) kadang-kadang
membuka jendela ruang keluarga.
 Sebagian besar kuman TB akan mati dalam  Dalam penelitian observasional analitik
waktu beberapa menit bila terkena paparan Wantia, dkk tahun 2014: rumah yang
langsung sinar ultraviolet. jendelanya tidak memenuhi syarat, berisiko
 Studi metaanalisis Zurcher, dkk tahun 2016 menjadi TB 16,3 kali lebih tinggi daripada
tentang Mortalitas Penyakit Tuberkulosis dan rumah dengan ventilasi yang memenuhi
Kondisi Lingkungan di Switzerland : syarat.
Kematian TB berkorelasi positif dengan jumlah  Studi observasional Wantia, dkk tahun 2014
orang per kamar (p = 0,026) dan berkorelasi menunjukkan rumah dengan penerangan
positif dengan kamar yang tidak memiliki alami yang tidak memenuhi syarat yaitu
cahaya matahari langsung (p = 0,020). Selain <60lux memiliki risiko TB 4,5 kali lebih tinggi
itu kematian TB berkorelasi dengan kepadatan daripada orang-orang dengan pencahayaan
penduduk (p = 0,014). rumah yang memenuhi persyaratan.
Dilihat dari 10 indikator PHBS, yang masih
di bawah standar pencapaian PHBS
Menurut Laporan Akuntanbilitas Kinerja
nasional (>70%) adalah
Kementrian Kesehatan RI tahun 2014:
Persalinan yang belum ditolong oleh
target rumah tangga ber-PBHS = 70%.
Status PHBS pasien TB paru di wilayah tenaga kesehatan sebanyak 62,5%
kerja Puskesmas Kanigaran : konsumsi buah dan atau sayur
 3 responden (19%) responden sudah hanya 31,2%
ber-PHBS
melakukan aktifitas atau olahraga
 sedangkan sebanyak 13 responden
sejumlah 37,5%
(81%) tidak ber-PHBS
(belum mencapai target pemerintah) hanya 43,7% yang tidak merokok.
Hubungan antara merokok dan penyakit TB :
 Kurangnya konsumsi buah dan atau  Bates dkk dalam studi metaanalisis didapatkan
sayur menyebabkan kekurangan gizi bahwa dari 24 studi tentang efek merokok pada TB,
mikro faktor resiko terkena infeksi, menunjukkan bahwa risiko relatif penyakit TB (RR =
termasuk infeksi Mtb 2.3-2.7) lebih tinggi di kalangan perokok
 Penelitian metaanalisis Narasimhan, dibandingkan dengan bukan perokok
dkk tahun 2013 menjelaskan  Peningkatan risiko kejadian tuberkulosis adalah
kekurangan gizi (defisiensi mikro dan bahwa merokok mengurangi kemampuan fagositik
makro) meningkatkan risiko penyakit makrofag alveolar serta penurunan respon imun dan
TB karena gangguan respon imun . /atau CD4 + limfopenia karena nikotin dalam rokok
menjadi alasan peningkatan kerentanan terhadap
tuberkulosis paru.
kesimpulan

 Status Rumah Sehat pasien TB Puskesmas Kanigaran


menunjukkan 69% rumah tidak sehat dan 31% rumah sehat.
 Status PHBS pasien TB Puskesmas Kanigaran menunjukan
81% tidak ber-PHBS sedangkan 19% sudah ber-PHBS.
 Status rumah sehat dan PHBS pasien TB Puskesmas
Kanigaran :
-62% rumah tidak sehat dan tidak ber-PHBS,
-13% rumah sehat dan ber-PHBS
-19% rumah sehat saja
-sisanya 6% hanya ber-PHBS.
saran

Untuk Puskesmas
 Diharapkan terus melakukan promosi kesehatan tentang
rumah sehat dan PHBS sehingga seluruh masyarakat
menerapkan rumah sehat dan PHBS dalam menunjang
pencegahan TB
 Diharapkan petugas kesehatan melakukan kunjungan ke
rumah penderita TB agar dapat menilai kondisi rumah dan
sanitasi.
 Memberikan penyuluhan pada waktu kunjungan rumah dan
memberi saran terciptanya rumah sehat, sebagai upaya
mengurangi penyebaran penyakit.
saran

Untuk Masyarakat
 Menerapkan PHBS untuk mencegah Untuk peneliti selanjutnya
penyakit TB dan agar dapat menjaga  Perlu diteliti lebih lanjut mengenai
kondisi rumah selalu dalam keadaan penilaian faktor-faktor komponen
bersih dan sehat rumah sehat dan PHBS serta
 Mengupayakan kesehatan lingkungan hubungannya dengan kejadian TB.
perumahan dengan memodifikasi  Perlu diteliti lebih lanjut tentang
desain rumah agar ventilasi dan kondisi rumah dan PHBS pada
pencahayaan memenuhi syarat penderita TB paru putus obat.
sehingga memperkecil kejadian TB.
Dokumentasi