Anda di halaman 1dari 41

PELUMAS DAN

PELUMASAN
>>>>>>>>>>>>>>
PELUMAS
PENGERTIAN PELUMAS

Pelumas adalah suatu zat yang dipakai


sebagai pelapis (film) benda yang saling
bergesekan, zat tersebut dapat berupa: zat
padat, cair, dan gas.

Adanya gesekan (friction) akan


mengakibatkan kehilangan energi dan
mempercepat keausan benda.
FUNGSI PELUMAS

 Sebagai pelindung, pendingin, perapat dan


pembersih.
 Membentuk lapisan film diantara benda yang
saling bergerak satu sama lain sehingga dapat
mencegah kontak/langsung pada permukaan
logam agar keausan bisa dikurangi.
 Meredam hentakan/getaran terutama pada
gear box.
 Media transfer panas dan tenaga.
Bahan dasar pelumas

 Lemak hewani dari biri-biri, ikan, babi.


 Lemak nabati dari buah kelapa, kelapa sawit,
biji kapas dan jarak
 Pelumas sintetis yaitu bahan hasil reaksi
kimia beberapa unsur yang dapat
menghasilkan zat yang bersifat pelumas.
 Pelumas mineral diperoleh dari minyak bumi.
Bentuk Pelumas
 Pelumas cair (Oli)
 Pelumas setengah padat (grease/gemuk lumas)
o Grease dasar sabun logam (metallic soap base)
o Grease dengan pengental sabun logam
kompleks (metal based complexes)
o Grease dengan pengental bukan sabun
 Pelumas padat
o Graphite
o Molibdenum Disulphide(MoS2)
 Pelumas gas
PELUMAS CAIR (OLI)

 Pelumas cair (oli) banyak digunakan untuk


mesin tenaga karena lebih efektif sebagai
pelicin, pendingin, pembersih, perapat, dan
pemindah tenaga (hidrolik)
 Syarat pemilihan oli yang baik adalah:
viskositas sesuai, multigrade, tidak mudah
terbakar, tidak bereaksi dengan oksigen dan
udara sekeliling.
Pelumas setengah padat
(grease /gemuk lumas)

 Bahan dasar dari grease/gemuk adalah pelumas cair yang


telah diberi bahan pengental, dengan kandungan oli 70%
sampai 90%.
 Keuntungan dari penggunaan pelumas setengah padat adalah
 merupakan penutup yang baik,
 biasanya lebih tahan terhadap suhu tinggi,
 tidak tercecer dan penggantian tidak perlu sering.

 Sedangkan kerugiannya adalah


 pendinginan kurang baik,
 friksi lebih besar,
 penanganan dan pengaplikasian lebih rumit,
 dan perlindungan yang kurang merata.
Pelumas Padat

 Pelumas padat berbentuk powder atau sebagai suspensi


dalam oli atau cairan yang mudah menguap dan apabila
cairan menguap, film pelumas tetap tertinggal.

 Pelumas padat mempunyai ciri-ciri sebgai berikut:


(1) harganya mahal,
(2) penggantian tidak secepat pelumasan konvensional,
(3) merupakan alternatif selain oli dan gemuk pelumas,
(4) tidak cocok untuk mesin pemroses makanan,
(5) suhu kerja tinggi,
(6) cocok untuk semua bahan bearing,
(7) tahan terhadap beberapa fluida
PELUMAS PADAT
Pelumas padat direkomendasikan untuk digunakan apabila:
 ada masalah dengan galling dan seizing,
 daerah pelumasan yang tidak terjangkau/terabaikan dalam perawatan
rutin,
 pengoperasian tidak kontinu,
 suhu tinggi atau rendah yang tidak dapat diatasi oleh oli,
 korosi tidak dapat dihindari, kontaminasi tidak dapat dihindari dan
daerah operasi daerah berdebu.

Contoh aplikasi pelumas padat yaitu pada: cetakan logam, bagian


berulir, slevee bearing, saklar kontak dan relay, alat penyuling minyak,
katub flens.

 Kelebihan pelumas padat ini adalah dapat bekerja pada temperatur


operasi 250 – 300oC dan dibawah –60oC. Pada suhu tersebut pemakaian
oli atau gemuk tidak memungkinkan lagi. Pelumas padat dalam
bentuk bedak, partikelnya berukuran 0,5 m hingga beberapa m.
Pelumas gas
 Jenis pelumas gas digunakan untuk melumasi
tempat-tempat yang tidak mungkin dilumasi,
karena mempunyai putaran kurang lebih
100.000 rpm.
 Biasanya diaplikasikan pada peralatan
pembangkit energi nuklir dan beberapa
instalasi turbin gas.
PARAMETER UTAMA PELUMAS

 Viskositas
 Indek viskositas
 Titik Nyala
 Titik Tuang
 Specific Gravity
 TAN
 TBN
VISKOSITAS
 Viskositas adalah suatu skala nilai yang menunjukkan
sifat kekentalan suatu fluida. (lihat tabel konversi )
 Viscosity atau kekentalan suatu minyak pelumas
diperoleh dari pengukuran mengalirnya minyak
pelumas, dihitung dalam ukuran standard.
 Makin besar perlawanannya untuk mengalir, berarti
makin tinggi viscosity-nya, begitu juga sebaliknya.
 Umumnya dinyatakan dalam viskositas kinematik
(cSt) dan viskositas absolut / dinamis(cP).
 Viskositas absolute = viskoasitas kinematik x densitas
 Viskositas minyak pelumas berubah oleh temperatur
 Viskositas naik bersamaan dg.turunya temperatur.
 Sifat atau karakteristik ini sangat penting untuk
“handling” minyak pelumas tersebut.
VISKOSITAS KINEMATIK

 Viskositas pelumas umumnya dinyatakan dalam


viskositas kinematik-cSt.
 Viskositas kinematik diperoleh dengan
mengukur waktu yang diperlukan oleh sejumlah
volume tertentu tersebut untuk mengalir
melalui pipa khusus dari alat viscosimeter.
 Temperatur pengukuran telah dikhususkan yaitu
pada 40oC dan 100oC.
 Selain viskositas kinematik cSt, ada pengukuran
dengan saybolt Universal second (SSU),
Redwood Second (RI) dan Engler degree ( oE).
(Lihat Tabek konversi).
 .
NILAI VISCOSITAS

 .
NILAI KARAKTERISTIK SOLAR

 .
INDEK VISKOSITAS
 Indek viskositas (IV) ialah bilangan yang
menunjukkan suatu perubahan viskositas pelumas
oleh karena berubahnya temperatur.
 IV merupakan ukuran kemampuan suatu Oli dalam
menjaga kestabilan kekentalan Oli pada
temperatur tinggi (panas).
 Semakin tinggi Viskositas Indeks nya, semakin baik
kestabilan kekentalannya.
 Bila viskositas tidak banyak berubah oleh peubahan
temperatur maka indek viskositasnya tinggi.
 Oli mobil yang baik di mesin adalah Oli dengan
Viskositas Indeks tinggi.
 Minyak pelumas jenis parafinik mempunyai indek
viskositas yang lebih tinggi dari napthenik.
NILAI VISCOSITY INDEX

Nilai viscosity index ini dibagi dalam 3


golongan, yaitu:
 HVI (High Viscosity Index) di atas 80.
 MVI (Medium Viscosity Index) 40 – 80.
 LVI (Low Viscosity Index) di bawah 40.
TITIK NYALA
 Titik nyala: Temperatur terendah mulai
terjadinya pembakaran bila suatu nyala api
disinggungkan gas yang dihasilkan minyak
pelumas tersebut.
 Titik nyala pada minyak lumas merupakan
indikator mudah terbakarnya minyak lumas
tersebut pada temperatur operasi mesin.
 Titik nyala minyak pelumas umumnya diatas
200oC
TITIK TUANG
 Titik tuang adalah temperatur terendah
dimana pelumas masih dapat mengalir.
 Titik tuang dari minyak pelumas merupakan
indikator mudah atau tidaknya minyak lumas
tersebut membeku pada temperatur tersebut.
 Apabila minyak lumas tersebut cepat
membeku, maka akan menyebabkan mesin
tidak dapat dipompakan dan pelumasan tidak
terjadi.
 Juga mengindikasikan jenis minyak lumas
dasar yang digunakan.
SPECIFIC GRAVITY
 Specific gravity (SG): Perbandingan berat suatu
pelumas pada 60o F dengan air murni pada volume
dan temperatur yang sama
 SG Sering digunakan untuk menyatakan berat jenis
pelumas.
 SG tidak secara langsung digunakan utk
memastikan kualitas pelumas sebab masih
tergantung dari jenis hidrokarbon yang dikandung
pelumas tersebut.
 SG diukur dengan hidrometer.
 Umumnya SG. dari minyak lumas fraksi ringan
sebesar 0,82-0,91 dan yang berat 0,85-0,95.
 SG bensin 0,72-0,76.
RUMUS PERHITUNGAN SG

 SGT = SG60 – c(T - 60)

SGt = Kerapatan relatif pelumas pada suhu t o

SG60 = Kerapatan relatif pelumas pada suhu 60oF


c = 0,00036, yaitu nilai rata-rata normal koefisien
muai minyak per 0F
T = Suhu dimana nilai SG minyak dicari (oF)
CONTOH PERHITUNGAN SG
 Suatu minyak pelumas X mempunyai  =
0,850 gr/cm3 yang diukur pada temperatur
60oF, hitunglah Spesific Gravity (SG) pelumas
X tsb jika beroperasi pada temperatur 130 oC?

 Jawab:
 SG60 = 0,850/1= 0,850
 T = (130 x1,8) + 32 = 266
 SGt = SG60 – c(T - 60)
 = 0,850 - 0,00036(266-60)
 = 0,776
TOTAL ACID NUMBER (TAN)
 Pada proses penyulingan pelumas sifat asam
tidak bisa dinetralisir secara sepenuhnya.
 Adanya sedikit asam ini sebenarnya tidak
berpengaruh secara fisik maupun kimiawi.
 Asam yang dikandung tersebut akan menjadi
aktif apabila bereaksi dengan asam hasil
oksidasi.
 Minyak pelumas yang terlalu asam (TAN tinggi)
tidak boleh dipergunakan, karena akan
mengakibatkan sifat korosif pada logam.
 Keasaman pada pelumas diukur dengan suatu
besaran angka yang disebut TAN (Total Acid
Number)
TOTAL BASE NUMBER (TBN)

Total Base Number (TBN)


 Merupakan pengukuran tingkat alkalin pada
oil sebagai penetral asam terutama yang
timbul akibat pembakaran

 Sifat basa yang dimiliki pelumas menunjukkan


bahwa pelumas tersebut mengandung aditif
terutama jenis detergent dan dispersant.
 Tingkat kebasaan dari pelumas diketahui dari
kandungan TBN (Total Base Number).
 Angka TBN pelumas bekas akan lebih rendah dari
pelumas yang baru, karena sebagian basa telah
digunakan untuk menetralisir asam-asam yang
terbentuk ataupun yang telah dipakai untuk
menghancurkan kotoran.
Standarisasi pelumas
 Metode klasifikasi pelumas yang dipakai didunia ada
beberapa yaitu:
 SAE (Society of Automotive Engineers)
 API (American Petroleum Institute)
 ASTM (American Standard of Testing and Material)
 BS 4232 (British Standard)
 DIN 51519 (Deuthsche Industry Norm)
 ISO 3448 (Industrial Standard of Organization)

 Standarisasi Pelumas Kendaraan:


 Kekentalan pelumas kendaraan berdasarkan
penggolongan angka SAE dibedakan:
 SAE J300 :khusus untuk pelumas mesin
 SAE J306 :khusus untuk roda gigi dan transmisi
ARTI SIMBOL PADA PELUMAS KENDARAAN

Simbol Keterangan
Tingkat kekentalan menurut SAE nomor 20, dipakai untuk
SAE 20
kendaraan yang tinggal didaerah tropis saja.

Tingkat kekentalan menurut SAE nomor 40, dipakai untuk


SAE 40 W
kendaraan yang tinggal didaerah dingin saja.

Dapat dipergunakan pada musim dingin sesuai dengan SAE


nomor 20 dan pada musim panas sesuai dengan SAE nomor 40.
SAE 20W-40
sehingga pergantian musim tidak perlu ganti minyak pelumas.
Pelumas ini disebut juga oli dengan dua indek( multigrade oil)
SAE : SOCIETY OF AUTOMOTIVE ENGINEERS
Kode Kemampuan Kelebihan Kekurangan
Huruf “W” berarti Winter, jika di luar  Cocok untuk kondisi
negri huruf “W” disebut Weight. Jakarta yang macet,  Kurang efisien dalam pemakaian
Mampu dipakai sampai kondisi suhu jarang berkendara jauh, BBM.
SAE 20W-50 dingin -10° C s/d -15°C (kode 20W) polusi dan beban berat.
Dan pada suhu 150°C dengan tingkat  Sangat baik dalam
kekentalan tertentu. perlindungan/perawatan.

Mampu dipakai sampai kondisi suhu  Sedikit lebih encer dari  Sangat riskan digunakan untuk motor
dingin -15°C s/d -20°C (kode 15w) 20W-50. yang menyatukan oli mesin dengan
SAE 15W-50 Dan pada suhu 150°C dengan tingkat Nilai Viskositas Indeks gear box (wet cluth).
kekentalan tertentu. lebih tinggi dari 20W-50 Lebih mudah berubah kekentalannya
dibanding 20W-50
Mampu dipakai dalam kondisi suhu
dingin -15°C s/d -20°C (kode 15W)  Paling stabil  Sensitif terhadap stress di gear
Sering dipakai untuk mesin diesel yang kekentalannya untuk
memutuhkan kestabilan dalam jarak jarak jauh
jauh dan kondisi ekstrem.  Baik digunakan pada
SAE 15W-40 Terdapat tambahan aditif Viskositas suhu rendah maupun
Indeks yang berupa senyawa tinggi
Kopolimer. Rantai panjang yang
mampu beradaptasi pada suhu yang
rendah dan tinggi.

Mampu dipakai sampai kondisi suhu


dingin -20°C s/d -25°C (kode 10W)  Paling irit BBM  Kurang baik dalam perlindungan
Dan pada suhu 150°C dengan tingkat mesin
SAE 10W-40 kekentalan tertentu. Kurang baik untuk kondisi macet dan
Jenis oli ini adalah yang relatif paling mengangkut beban berat
encer dari ketiga oli sebelumnya.
CONTOH PENGGUNAAN
Tipe Viskositas yang biasa digunakan sebagai
standar oli di berbagai negara/kawasan.

 5W-30 untuk cuaca dingin seperti di Swedia


 10W-30 untuk iklim sedang seperti di
kawasan Inggris
 15W-30 untuk Cuaca panas seperti di
kawasan Indonesia
Pelumasan
 Pelumasan adalah suatu
cara/prosedur/metode untuk mengurangi
gesekan antara dua permukaan benda yang
saling bergesekan dengan menambahkan
suatu zat pelumas diantara permukaan
tersebut.
 Pelumasan merupakan salah satu cara untuk
merawat mesin-mesin agar dapat berfungsi
sebagimana mestinya.
TUJUAN PELUMASAN
Mengurangi semaksimal mungkin gesekan yang terjadi diantara
bagian-bagian yang bergerak.
Mengusahakan agar keausan terjadi seminal mungkin
Mendinginkan bagian-bagian mesin yang panas akibat gesekan
Menghalangi masuknya debu
Mencegah terjadinya korosi

Faktor utama yang paling sering mengakibatkan kerusakan mesin


adalah masalah pelumasan, yaitu
 jenis yang salah,

 tingkat viskositas yang salah,

 kapasitas yang tidak sesuai,

 penggantian minyak pelumas yang tidak teratur,

 bahkan sama sekali tidak pernah dilumasi.

Dalam keadaan ini seperti ini pelumasan yang tepat dapat


berfungsi sebagai perawatan mencegah (preventive maintenance).
TUGAS
 Apa fungsi pelumas?
 Sebutkan dan berikan contoh bentuk pelumas
yang anda ketahui?
 Apa yang dimaksud TAN dan TBN?
 Suatu minyak pelumas x mempunyai  = 870
gr/cm3 yang diukur pada suhu 60oF, hitunglah
Spesific Gravity (SG) pelumas x tersebut jika
dia beroperasi pada suhu 150oC?
 Konversikan nilai kekentalan pelumas Shell
Tellus 27 yang mempunyai kekentalan 3,0 oE
kedalam satuan cSt, SSU dan RI !
JAWAB
TAN & TBN
 Pada umumnya proses penyulingan pelumas sifat
asam tidak bisa dinetralisir secara sepenuhnya.
 Adanya sedikit asam ini sebenarnya tidak
berpengaruh secara fisik maupun kimiawi.
 Asam yang dikandung tersebut akan menjadi
aktif apabila bereaksi dengan asam hasil
oksidasi.
 Keasaman pada pelumas diukur dengan suatu
besaran angka yang disebut TAN (Total Acid
Number)
 Minyak pelumas yang terlalu asam (TAN tinggi)
tidak boleh dipergunakan, karena akan
mengakibatkan sifat korosif pada logam.
TAN & TBN

Total Base Number (TBN)


 Merupakan pengukuran tingkat alkalin pada oil
sebagai penetral asam terutama yang timbul akibat
pembakaran

 Sifat basa yang dimiliki pelumas menunjukkan bahwa


pelumas tersebut mengandung aditif terutama jenis
detergent dan dispersant.
 Tingkat kebasaan dari pelumas diketahui dari kandungan
TBN (Total Base Number).
 Angka TBN pelumas bekas akan lebih rendah dari pelumas
yang baru, karena sebagian basa telah digunakan untuk
menetralisir asam-asam yang terbentuk ataupun yang telah
dipakai untuk menghancurkan kotoran.
VISCOSITY
 Viscosity merupakan ukuran hambatan oil
untuk mengalir
 Viscosity secara langsung berhubungan dengan
seberapa baik oil melumasi atau membentuk lapisan
tipis (oil film) untuk menjaga permukaan logam tidak
kontak - satu sama dan oil dapat mengalir dengan
baik untuk meyakinkan suplay keselu - ruh
komponen yang berputar
VISCOSITY GRADE

Viscosity grade merupakan batas viscosity oil


pada temperature tertentu yang
mengacu kepada standar “ the Society of
Automotive Engineer “(SAE J300)
yang sering kita jumpai dengan SAE 10, SAE
20,SAE 15W40 dsb yang diukur
pada temperature 100C
 Viscosity grade yang dimulai dengan huruf
W adalah viscosity oil yang diukur pada
dua kondisi yaitu 100C dan -15C. Satuan
viscositas yang umum dipakai adalah
centistrokess (cSt)
Factor yang menyebabkan perubahan
viscosity pada engine terdiri dari :
 Temperature
 Pressure
 Shear rate
MULTI GRADE OIL

Oil jenis ini akan mengalir dengan baik saat


start-up dalam kondisi dingin
dengan viscosity 15 W dan dapat mencapai
kekentalan yang baik pada
temperature operasi dengan viscosity SAE
40 yaitu temperature diatas 100C
 Keasaman (acid)
 Pada umumnya proses penyulingan pelumas sifat asam tidak bisa
dinetralisir secara sepenuhnya. Adanya sedikit asam ini sebenarnya
tidak berpengaruh secara fisik maupun kimiawi. Asam yang
dikandung tersebut akan menjadi aktif apabila bereaksi dengan
asam hasil oksidasi. Keasaman pada pelumas diukur dengan suatu
besaran angka yang disebut TAN (Total Acid Number), minyak
pelumas yang terlalu asam (TAN tinggi) tidak boleh dipergunakan,
karena akan mengakibatkan sifat korosif pada logam.
 Kebasaan (base)
 Sifat basa yang dimiliki pelumas menunjukkan bahwa pelumas
tersebut mengandung aditif terutama jenis detergent dan
dispersant. Tingkat kebasaan dari pelumas diketahui dari
kandungan TBN (Total Base Number). Angka TBN pelumas bekas
akan lebih rendah dari pelumas yang baru, karena sebagian basa
telah digunakan untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk
ataupun yang telah dipakai untuk menghancurkan kotoran.
SPECIFIC GRAVITY (SG)

 Specific Gravity (SG) didefinisikan sebagai


perbandingan antara densitas minyak dengan
densitas air yang diukur pada  tekanan dan
temperature standart (60 ºF dan 14,7 psia).