Anda di halaman 1dari 15

AUDIT PLAN, AUDIT PROGRAM, AUDIT

PROCEDURES, AUDIT TEKNIK, RISIKO


AUDIT, DAN MATERIALITAS

1. MARIA ASUMPTA KARMELITA MOI


[1703020019]
2. SUSANA RENAVIZTA [1703020015]
3. DEDESTON BENU [1703020201]
4. KRISTINA MARTA DINATA ULU [1703020075]
5. SRI CHAIRUNNISA KOLI POLA [1703020139]
6. REFRY MAULOLE [1703020154]
7. CHRIS A. SELAN [ 1703020074]
8. MIRA AJMIYATI [1703020190]
9. STEVANUS BALA RURON [1703020147]
1. AUDIT PLAN (PERENCANAAN
PEMERIKSAAN)

Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi


menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang
diharapkan. Sifat, luas dan saat perencanaan bervariasi
dengan ukuran dan kompleksitas suatu usaha,
pengalaman mengenai satuan usaha, dan pengetahuan
bisnis satuan usaha. Dalam perencanaan audit, auditor
harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu :
•Masalah yang berkaitan dengan bisnis satuan usaha tersebut dan industry
dimana satuan usaha tersebut beroperasi didalamnya
•Kebijakan dan prosedur akuntansi satuan usaha tersebut.
•Metode yang dilakukan satuan usaha tersebut dalam mengelola informasi
akuntansi yang signifikan
•Penetapan tingkat resiko pengendalian yang direncanakan.
•Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit.
•Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian
•Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubah pengujian
audit
•Sifat laporan audit yang diharapkan akan diserahkan kepada pemberi
tugas
Prosedur yang dapat di pertimbangkan oleh auditor dalam
perencanaan dan supervise biasanya mencakup review terhadap
catatan auditor yang berkaitan dengan satuan usaha dan diskusi
denga staf lain dalam kantor akuntan dan pegawai satuan usaha
tersebut. Contoh prosedur tersebut meliputi :

a. Me-review arsip korespondensi, kertas kerja, arsip permanan, laporan


keuangan, dan laporan audit tahun lalu.
b. Membahas masalah-masalah yang berdampak terhadap audit denga staf kantor
akuntan yang bertanggung jawab atas jasa non audit bagi satuan usaha.
c. Mengajukan pertanyaan tentang perkembangan bisnis saat ini yang
berdampak satuan usaha.
d. Membaca laporan keuangan interim tahun berjalan.
e. Membicarakan tipe, luas, dan waktu audit dengan manajemen, dewan
komisaris, atau komite audit.
f. Mempertimbangkan dampak diterapkannya peryataan standar akuntansi dan
standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia(IAI), terutama
yang baru.
g. Mengordinasikan bantuan dari pegawai satuan usaha dalam penyiapan data.
h. Menentukan luasnya keterlibatan, jika ada, konsultan, spesialis, dan auditor
intern
i. Membuat jadwal pekerjaan audit (time schedule).
j. Menentukan dan mengordinasikan kebutuhan staf audit.
k. Melaksanakan diskusi dengan pihak pemberi tugas untuk memperoleh
tambahan informasi tentang tujuan audit yang akan dilaksanakan
Agar dapat membuat perencanaan audit dengan
sebaik-baiknya, auditor harus memahami bisnis klien
dengan sebaik-baiknya ( under stnding client
business), termasuk sifar dan jenis usaha klient,
struktur organisasinya, struktur permodalan, metode
produksi, pemasaran, distribusi, dan lain-lain.

Pengetahuan tentang bisnis klient, membantu auditor dalam :


1. Mengidentifikasikan bidang yang memerlukan pertimbangan
kusus.
2. Menilai kondisi yang di dalamnya data akuntansi yyang
dihasilkan, diolah, di-review dan dikumpulkan dalam
organisasi.
3. Menilai kewajaran estimasi, seperti penilaian atas persediaan,
depresiasi, penyisihan piutang ragu-ragu, persentase
penyelesaian kontrak jangka panjang.
4. Menilai kewajaran representasi manajemen.
5. Mempertimbnagkan kesesuaian standar akuntansi yang
diterapkan dan kecukupan pengungkapannya.
Menurut ISA 300-Planning an Audit of Financial
Statements dalam Hayes (2014:18.2)
Tujuan auditor adalah untuk merencanakan auditnya
agar bisa dilakukan secara efektif. Auditor harus
menetapkan strategi audit menyeluruh yang mengatur
scope timing dan direction dari audit, dan mengarahkan
perkembangan audit plan (perencanaan audit).
Tujuan planning adalah untuk menentukan jumlah dan
tipe bukti audit dan penelaahan yang diperlukan untuk
memberikan auditor keyakinan bahwa tidak terdapat
salah saji material dalam laporan keuangan.

Beberapa prosedur yang harus dilakukan dalam rangka


menyusun audit plan :
1. Dapatkan pemahaman tentang entitas dan
lingkungannya, termasuk internal kontrolnya.
2. Tetapkan risiko salah saji material dari laporan
keuangan.
3. Tentukan materiality
4. Buat planning memorandum dan audit program yang
berisi respos auditor terhadap risiko yang
diidentifikasi.
Pada umumnya audit planning memorandum berisi
beberapa hal berikut :
•Informasi latar belakang perusahaan
•Tujuan audit
•Penentuan risiko penugasan
•Auditor lainnya atau tenaga ahli (ekspert)
•Materiality
•Inherent risk (risiko bawahan)
• Kesimpulan tentang control Environment
(lingkungan pengendalian)
•Tingkat kepercayaan auditor terhadap Computer
Information System Klien
•Kualitas system akuntansi dan internal control klien
•Pendekatan audit
•Time schedule dari pekerjaan audit
•Audit budget
2. AUDIT PROGRAM

Setelah audit plan disusun, tetapi sebelumnya pemeriksaan


dimulai, auditor harus menyusun audit program yang merupakan
kumpulan dari prosecedur audit yang akan dijalankan dan dibuat
secara tertulis. Auditor program membantu auditor dalam
memberikan perintah kepada asisten mengenai pekerjaan yang
harus dilaksanakan, audit program harus menggariskan dengan
rinci, prosedur audit yang menurut keyakinan auditor diperlukan
untuk mencapai tujuan audit, audit program baik harus
mencantumkan :
1. Tujuan pemeriksaan
2. Prosedur audit yang akan dijalankan
3. Kesimpulan pemeriksaan

Sebagai KAP menggunakan audit program yang sudah


distandarisasi dan digunakan disetiap kliennya, sebagian lagi
menggunakan audit program yang disusun sesuai kondisi dan
situasi perusahaan( trailor made)
3. AUDIT PROCEDURES DAN AUDIT
TEKNIK

Audit procedures adalah langkah-langkah


yang harus dijalankan auditor dalam
melaksanakan pemeriksaannya dan sangat
diperlukan oleh asisten agar tidak melakukan
penyimpangan dan dapat bekerja secara
efeisien dan efektif. Audit procedures
dilakukan dalam rangka mendapatkan
bahan-bahan bukti(audit evidence) yang
cukup untuk mendukung pendapat auditor
atas kewajaran laporan keuangan untuk itu
diperlukan audit teknik, yaitu cara-cara
untuk memperoleh audit evidence seperti:
konfirmsi, observasi, inspeksi, Tanya jawab
(inquiry) dan lain-lain
4. RISIKO AUDIT DAN
MATERIALITAS

Menurut SA 320.1&320.2
Materialitas dalam konteks audit
Kerangka pelaporan keuangan sering kali membahas konsep
materialitas dalam konteks penyusunan dan penyajian laporan
keuangan. Walaupun kerangka pelaporan keuangan mungkin
membahas materialitas dengan istilah yang berbeda-beda kerangka
tersebut secara umum menjelaskan bahwa
•Kesalahan penyejaian, termaksud penghilangan, dianggap material
bila kesalahan penyajian tersebut secara individual atau agregat
diperkirakan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi yang diambil
berdasarkan laporang keuangan oleh pengguna laporang keuangan
tersebut
•Pertimbangan tentang materialitas dibuat dengan memperhitungkan
berbagai kondisi yang melingkupinya dan dipengaruhi oleh ukuran
atau sifat kesalahan penyajian, atau kombinasi keduanya
•Pertimbangan tentang hal-hal yang material bagi pengguna laporan
keuangan didasarkan pada pertimbangan kebutuhan informasi
keuangan yang umum yang diperlukan oleh pengguna laporan
keuangan sebagai suatu grup.
Penentuan materialitas oleh auditor membutuhkn pertimbangan
professional,dan dipengaruhi oleh persepi auditor tentang kebutuhan
informasi keuangan oleh para pengguna laporan keuangan. Dalam konteks
ini adalah masuk akal bagi auditor untuk mengasumsikan bahwa pengguna
laporan keuangan
1. Memiliki suatu pengatahuan memadai tentang aktifitas bisnis dan
ekonomi serta akuntansi dan kemajuan untuk mempelajari informasi
yang ada dalam laporan keuangan dengan cermat
2. Memahami bahwa laporang keuangan disusun, disajikan dan diaudit
berdasarkan tingkat materialitas tertentu
3. Mengakui adanya ketidakpastian bawaan dalam pengukuran suatu
jumlah yang ditentukan berdasarkan penggunaan estimasi, pertimbangan
dan pertimbangan atas peristiwa masa depan
4. Membuat keputusan ekonomi yang masuk akal berdasrkan informasi
dalam laporan keuangan.

Dalam perencanaan audit, auditor membuat pertimbangan-pertimbangan


tentang ukuran kesalahan penyajian yang dipandang material. Pertimbangan-
petimbangan tersebut menyediakan suatu basis untuk
1. Menentukan sifat, saat, dan luas prosedur penilaian risiko
2. Mengidentifikasi dan menilai risiko kesalahan penyajian material
3. Menentukan sifat, saat, dan luas prosedur audit lanjutan
Menurut SA 320,5 320,6&320,7
Dalam melakukan suatu audit atau laporan keuangan, tujuan
auditor adalah untuk mendapatkan reasonable assurance bahwa
laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan
penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan atau
kesalahan, oleh karena itu memungkinkan auditor untuk
menyatakan pendapat apakah laporang keuangan, dalam semua
hal yang material, telah disusun sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku, dan untuk melaporkan
laporang keuangan tersebut serta mengkomunikasikan temuan-
temuan auditor sebagaimana disyaratkan oleh SA.

Resiko audit adalah risikobahwa auditor menyatakan opini yang tidak


tepat ketika terdapat kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan.
Risiko audit merupakan fungsi gabungan risiko kesalahan penyajian material
dan risiko deteksi, materialitas dan risiko audit perlu dipertimbangkan
sepanjang pelaksanaan audit, khusus pada saat:
•Mengidentifikasi dan menilai risiko kesalahan penyajian material
•Menentukan sifat, saat, dan luas prosedur audit selanjutnya dan
•Mengevaluasi dampak kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada,
terhadap laporan keuangan dan dalam merumuskan opini dalam laporan
auditor
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses identifikasi
suatu tolak ukur yang tepat mencakup:
•Unsur-unsur laporan keuangan (sebagai contoh: asset,
liabilitas, ekuitas, pendapatan, beban)
•Apakah terdapat unsur-unsur yang menjadi perhatian khusus
para pengguna laporan keuangan suatu entitas tertentu( sebagai
contoh: untuk tujuan pengevaluasian kinerja keuangan,
pengguna laporan keuangan cenderung akan fokus pada laba,
pendapatan maupu asset bersih)
•Sifat entitas, posisi entitas dalam siklus hidupnya, dan
industry serta lingkungan ekonomi yang di dalamnya entitas
tersebut beroperasi
•Struktur kepemilikan dan pendanaan entitas ( sebagai contoh,
jika pendanaan sebuah entitas hanya dari utang dan bukan dari
ekuitas , maka pengguna laporan keuangan akan lebih
menekankan pada asset dan klaim atas asset tersebut daripada
pendapatan entitas)
•Fluktuasi relatif tolak ukur tersebut.
1. RisikoBawaan
Risiko Bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan
transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan Asumsi bahwa tidak
terdapat pengendalian yang terkait.Risiko salah saji demikian adalah
lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu
dibandingkan dengan yang lain. Sebagai contoh, perhitungan yang rumit
lebih mungkin disajikan salah jika dibandingkan dengan perhitungan
sederhana.

2. Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang
dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi
secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko ini
merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian intern
untuk mencapai tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan
keuangan entitas.Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena
keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern

3. Risiko Deteksi
Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidakdapat mendeteksi
salah saji material yang terdapat dalam suatu esersi.Risiko deteksi
merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh
auditor. Risiko ini timbul sebagian karena ketidakpastian yang ada
pada waktu auditor tidak memeriksa 100%. Ketidakpastian lain
semacam itu timbul karena auditor mungkin memilih suatu prosedur
audit tidak sesuai, menerapkan secara keliru prosedur yang semestinya,
atau menafsirkan secara keliru hasil audit.
Tabel berikut ini menunjukan bagaimana tingkat risiko
deteksi yang dapat diterima berdasarkan penilaian dari risiko
bawaan dan risiko pengendalian. Penilaian Auditor atasKontrol

Tinggi Sedang Rendah


Penilaian Auditor Tinggi Paling Rendah Lebih Rendah Sedang
terhadap Risiko Sedang Lebih Rendah Sedang Lebih Tinggi
Bawaan Rendah Sedang Lebih Tinggi Paling Tinggi

Risiko deteksi yang dapat diterima oleh auditor dalam merancang


prosedur audit tergantung pada tingkat yang diinginkan untuk
membatasi risiko audit suatu saldo akun atau golongan transaksi dan
tergantung atas penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan risiko
pengendalian. Apabila, penetapan auditor terhadap risiko bawaan
dan risiko pengendalian menurun, risiko deteksi yang dapat
diterimanya akan meningkat.

Beri Nilai