Anda di halaman 1dari 16

• Prioritas vaksin covid 19

• ceritakan disini bagaimana mau masuk kedalam kancah diplomasi


global nya ?( Probing : platform apa yang mau digunakan bila ingin
masuk ke kancah GHD : nasional lalu regional lalu internasional? Atau
platform melalui ASEAN? Atau platform melalui bilateral negara
dengan negara ? Atau NGO dan GO?.) Pilihan boleh lebih dari satu
tetapi setiap pilihan harus disertai dengan alasan yang masuk akal
tentang cara masuk ke kancah global dan juga tentang alasan memilih
platform tersebut.
Latar belakang Global Health Diplomacy
• Aspek ekonomi dan bisnis diplomasi kesehatan ikut menentukan keberhasilan negara dalam merespons krisis
Covid-19.
• Riset WHO dan pakar keamanan internasional mendemonstrasikan betapa faktor kesenjangan pembangunan
ekonomi antara negara negara Selatan yang terbelakang dan negara-negara Utara yang maju merupakan
sumber penyebaran epidemi, seperti HIV/AIDS, Cholera, Flu Babi, SARS dan Malaria.
• Penyakit-penyakit menular cepat mewabah dan sulit diberantas di negara dengan kapasitas pemerintahan dan
kemampuan ekonomi rendah. Sehingga, warga masyarakat rentan tidak mendapat pelayanan kesehatan
memadai. (Cooper et al. eds. 2016; Heymann 2003; Parker 2002).
• Untuk itu, dibutuhkan uluran tangan dari masyarakat internasional membantu mereka. Ironisnya, obat-obatan
serta vaksin diproduksi oleh perusahaan-perusahaan farmasi besar, yang mempunyai kapabilitas teknologi,
ilmu pengetahuan dan keuangan kuat, berafiliasi dengan rezim kesehatan nasional negara kaya, yang mana
logika kepentingan bisnis dan nasionalis biasanya bermain di balik kebijakan distribusi bahan baku dan produk
medis yang dibutuhkan oleh berbagai negara (Kay 2009).
• Disinilah diplomasi kesehatan dan tata kelola kesehatan global berperan guna mempersempit ruang bagi
permainan kepentingan individualis, dan sebaliknya memperlebar cakupan solidaritas, kebersamaan serta
empati di level internasional (Rushton dan Williams eds. 2011).
• Kajian Mandiri Tahun 2018 Pusat P2K Multilateral membawakan tema
“Kesehatan untuk Semua: Strategi Diplomasi Kesehatan Global
Indonesia” dengan tujuan mengkaji tantangan baru di bidang
diplomasi terkait kesehatan global akibat semakin kompleksnya
permasalahan lintas negara.
• Dalam skenario penyakit-penyakit tersebut menimbulkan pandemi
global, masyarakat internasional harus siap merespon dengan
pengendalian, diseminasi, dan distribusi obat/vaksin yang dapat
diakses merata
• Dari berbagai penelitian tentang penyebab masalah kesehatan, dapat
garis bawahi bahwa tantangan kesehatan global saat ini antara lain
disebabkan:
1. Perpindahan penduduk yang cepat;
2. Perubahan lingkungan hidup;
3. Pandemi penyakit menular dan tidak menular;
4. Tingginya angka kematian ibu dan anak;
5. Permasalahan tenaga kerja kesehatan;
6. Isu-isu perdagangan internasional, kekayaan intelektual, paten, dan
akses terhadap vaksin.
• Dalam merespon pandemi COVID-19, Indonesia senantiasa
menggarisbawahi pentingnya akses yang berkeadilan terhadap vaksin
yang aman, berkualitas, terjangkau dan efektif untuk semua orang
(fair and equitable access to safe, quality, affordable and efficacious
vaccines for all).
• Dalam hal ini, ketersediaan dan keterjangkauan vaksin COVID-19 bagi
semua orang dipandang sebagai kunci mengatasi pandemi COVID-19
dalam jangka panjang.
• Guna memastikan tercapainya ketersediaan vaksin COVID-19
tersebut, Indonesia menempuh diplomasi vaksin pada tiga tataran,
yaitu pada tataran multilateral, bilateral dan domestik.
Kementerian Luar Negeri merupakan focal point koordinasi internasional guna
merespon pandemi Covid-19. Diplomasi Kesehatan yang telah ditempuh Indonesia
antara lain:

1. Indonesia menyoroti pentingnya ketersediaan vaksin sebagaimana dimaksud pada Butir 1 dalam berbagai
forum multilateral, termasuk WHO, ASEAN, GNB, G20, OKI, FPGH, dan MIKTA, maupun forum yang lebih
informal termasuk Ministerial Teleconference Of Covid-19 International Coordination Group (MCGC);
2. Dalam kerangka WHO, Indonesia mendukung Global Allocation Framework yang dikembangkan oleh WHO
guna memastikan aksesibilitas vaksin bagi kelompok kelompok yang paling membutuhkan, seperti pekerja
kesehatan dan kelompok usia senja maupun penyandang komorbiditas, termasuk di negara-negara
berkembang. Di samping itu, Menkes RI telah bersurat kepada Dirjen WHO yang menyatakan kesiapan
Indonesia untuk turut mengikuti uji klinis vaksin COVID-19 pada program Solidarity Trial WHO, guna
membantu percepatan penemuan vaksin COVID-19.
3. Dalam kerangka FPGH, keketuaan Indonesia pada tahun 2020 ini mengusung tema “Affordable Health Care
for All”. Pada tanggal 18 Mei 2020, Menteri Kesehatan RI telah memimpin Pertemuan Menteri Kesehatan
Foreign Policy and Global Health (FPGH) Initiative secara virtual di sela-sela sidang World Health Assembly
ke-73. Pertemuan mengesahkan Joint Statement Menteri Kesehatan FPGH yang berjudul “Turning this
Unprecedented Crisis into an Opportunity to Achieve Affordable Health Care for All”. Joint Statement
tersebut pada pokoknya menekankan pentingnya pendekatan multilateralisme dalam penanganan pandemi
COVID-19, antara lain untuk memastikan ketersediaan, aksesibilitas dan keterjangkauan obatanobatan,
vaksin, dan alat kesehatan, serta pentingnya penguatan sistem jaminan kesehatan nasional.
• Pada tataran bilateral, Indonesia menjajaki potensi kerja sama
bilateral dalam penelitian, pengembangan maupun produksi vaksin
COVID-19 dengan sejumlah entitas asing, antara lain penjajakan kerja
sama antara Sinovac (perusahaan farmasi asal Tiongkok), China
National Biotec Group (CNBG) Sinopharm (perusahaan farmasi asal
Tiongkok dan G42 (perusahaan artificial intelligence dan cloud
computing asal Uni Emirat Arab), dan Coalition for Epidemic
Preparedness Innovations (CEPI) dengan BioFarma serta penjajakan
kerja sama antara Genexine (perusahaan farmasi asal Korea Selatan)
dengan Kalbe Farma.
• Dalam rangka percepatan penanggulangan pandemi Corona Virus
Disease 2019 (COVID-l9), Pemerintah melakukan percepatan
pengadaan Vaksin COVID-19 dan pelaksanaan Vaksinasi COVID- 19.
• Cakupan pelaksanaan pengadaan Vaksin dan pelaksanaan Vaksinasi
COVID- 19 meliputi:
1. Pengadaan Vaksin COVID-19;
2. Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19;
3. Pendanaan pengadaan Vaksin COVID- 19 dan pelaksanaan Vaksinasi
COVID- 19;
4. dukungan dan fasilitas kementerian, lembaga, dan pemerintah
daerah.
• Pelaksanaan pengadaan Vaksin COVID-19 melalui:
• a. penugasan kepada badan usaha milik negara;
• b. penunjukan langsung badan usaha penyedia; dan/atau
• c. kerjasama dengan lembaga/badan internasional.

• Kerjasama dengan lembaga/badan internasional hanya terbatas untuk


penyediaan Vaksin COVID-19 dan tidak termasuk peralatan
pendukung untuk Vaksinasi COVID- 19.
• Kerjasama dengan lembaga/badan internasional dilakukan dengan
lembaga/badan internasional yang melakukan penawaran atau kerjasama
penelitian, produksi , dan atau penyediaan Vaksin COVID- 19 meliputi:
• a. The Coalition for Epidemic Preparedness Innouations (cEPI);
• b. The Global Alliance for Vaccines and Immunizations (GAVI)
• c. lembaga/badan internasional lainnya.
• Kerjasama dengan lembaga/badan internasionai dilakukan oleh
kementrian luar negeri dan Kementerian Kesehatan
• Menteri Luar Negeri memberikan dukungan sebagai berikut: fasilitasi
diplomasi internasional dalam rangka mendapatkan akses Vaksin COVID-
19 dan dukungan penganggaran untuk kerjasama multilateral; dan b.
dukungan lainnya yang diperlukan.
DIPLOMASI DOMESTIK

• Sejak awal pandemic diplomasi Indonesia fokus untuk memastikan ketersediaan


peralatan medis dan obat – obatan serta ke akses ke vaksin.
• Vaksin menjadi game changer dalam memerangi Covid - 19.
• Selain isu kesehatan, pentingnya penanganan Covid – 19 di dalam negeri juga akan
berimplikasi terhadap pemulihan ekonomi nasional.
• Diplomasi vaksin bukanlah hal yang mudah, karenanya dukungan dari Komisi I terus
mengalir kepada Kementerian Luar Negeri berupaya memfasilitasi produksi obat –
obatan Covid – 19 dalam negeri serta pengembangan vaksin secara mandiri.
• Indonesia telah dijanjikan 20 hingga 30 juta dosis vaksin pada akhir tahun 2020.
Penyedianya adalah Sinovac, perusahaan farmasi asal China. Hingga saat ini,
Indonesia telah menjalin kerja sama dengan 120 pihak, yaitu 11 negara, 12
Organisasi Internasional, dan 97 NGOs.
• Komitmen penyediaan vaksin telah diperoleh untuk 2020 hingga 2021,
Diplomasi lewat ASEAN
• Sejak pandemi ini mulai menyebar, ASEAN telah mengeluarkan sebuah
pernyataan (ASEAN Chair Statement pada 14 Februari 2020 sebagai
komitmen politik seluruh negara anggotanya. Kemudian, telah dibentuk
juga ASEAN Coordinating Council Working Group on Public Health
Emergencies (ACCWG-PHE), sebuah kelompok kerja lintas pilar dan sektor
yang mengoordinasi langkah-langkah penanganan bersama ASEAN.
• Dalam pertemuan ke-25 ACC melalui telekonferensi video pada 9 April
2020, para Menlu ASEAN telah mensinergikan upaya komprehensif di
ketiga pilar, antara lain wacana pembentukan dana ASEAN untuk
memberantas COVID-19, memastikan arus perdagangan dan jasa intra-
ASEAN, potensi kerja sama produksi vaksin, hingga prosedur kedaruratan
kesehatan masyarakat di kawasan.
• Indonesia ikut berperan aktif di Executive Board WHO, salah satunya
dengan mendorong kerja sama dalam trial obat dan vaksin COVID-19.
• Indonesia juga berperan dalam forum Organisation of Islamic
Cooperation (OIC), yaitu melalui penguatan OIC Centre of Excellence
on Vaccines and Biotechnology Products. Tujuan dari kerja sama
internasional ini adalah pembuatan vaksin sebagai kunci membangun
imunitas dan melawan COVID-19 dalam jangka panjang. Kerja sama
internasional juga sangat diperlukan dalam menjamin ketersediaan
dan keterjangkauan vaksin COVID-19 untuk semua negara.