Anda di halaman 1dari 72

PENGENDALIAN PELAKSANAAN

PEKERJAAN

DIKLAT PEMBANTU PENGAWAS


PEKERJAAN JALAN DAN JEMBATAN

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JALAN, PERUMAHAN PERMUKIMAN DAN
PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR
1
Ajang Zaenal Afandi
1. PENGERTIAN PENGENDALIAN
2.APA YANG DIKENDALIAKAN
3. SHOW CAUSE MEETING (SCM)

Ajang Zaenal Afandi


1. PENGERTIAN PENGENDALIAN
1) PENGAWASAN;
Melihat, mencatat, mengukur, dan membuat laporan

2) EVALUASI;
Analisa, identifikasi masalah, pengelompokan
masalah, dan upaya pemecahan masalah

3) TINDAK TURUN TANGAN ( T 3 );


Tindakan konkrit yang dilakukan dalam pemecahan
masalah tersebut sesuai hasil pengelompokan
2. APA YANG DIKENDALIKAN ?
1) WAKTU
2) MUTU
3) VOLUME
4) BIAYA
5) TERTIB ADMINISTRASI
1). PENGENDALIAN WAKTU
Tujuan
• Agar kemajuan pekerjaan tepat waktu
• Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
dalam proses pencapaian sasaran
• Agar tidak terjadi kenaikan biaya
• Menghindari terjadinya (SIAP)
BAGAIMANA MENGENDALIKAN ?
• Alat pengendali  Program Kerja

• Program kerja yang baik


- diagram balok (Bar Chart)
- kurva s (“S” Curve)
- diagram vektor (Vector Diagram)

Pilih program kerja yang sesuai;


Upper Level  Kurva S
Lower Level  Diagram Balok, Diagram Vektor
Penilaian Jadwal Waktu Pelaksanaan
1.1 Penilaian Umum Jadwal Waktu
Pelaksanaan
• Penjadwalan adalah suatu rencana tata cara yang
menunjukkan waktu dan urutan operasi atau
pelaksanaan setiap jenis pekerjaan.

• Dalam urutan perencanaan proyek yang normal,


kontraktor akan membuat beberapa jadwal dasar :
– Jadwal Kegiatan
– Jadwal Sumber Daya
– Jadwal Kemajuan Keuangan
– Jadwal Uang Tunai

7
 Pentingnya jadwal bagi seorang pengawas.

 Jadwal waktu pelaksanaan konstruksi yang realistis


merupakan
 Rencana tindakan yang tertulis
 Dasar periode waktu untuk penyelesaian setiap
jenis pekerjaan
 Dasar penentuan periode kontrak yang efektif
 Dasar pemakaian semua sumber daya yang efisien
 Dasar koordinasi dan pengendalian pekerjaan
 Dasar pengendalian biaya dan perkiraan uang
tunai (‘cash flow’).
8
• Sebagai dasar persyaratan pelaksanaan kontrak,
penjadwalan pekerjaan konstruksi dipakai oleh
pengguna jasa, kontraktor dan konsultan
pengawas sebagai dasar untuk :
– Memantau kemajuan kontraktor
– Mendukung pembayaran eskalasi harga
– Mendukung penyediaan anggaran biaya
– Mendukung permintaan tambahan biaya
akibat perubahan pekerjaan
– Mendukung permintaan perpanjangan waktu

9
1.2 Penilaian Jadwal Mobilisasi Sumber Daya

• Salah satu sasaran utama perencanaan


pelaksanaan proyek adalah: pemakaian dan
pengendalian sumber daya secara efisien, baik
tenaga kerja, peralatan, bahan maupun uang.

• Untuk mencapai keadaan ini, sumber daya


harus diratakan, yaitu dengan menyeimbang-
kan antara ketersediaan sumber daya dengan
kebutuhan yang ada.
10
Gambar 1.1.
Menggambarkan
keterkaitan antara sumber
daya yang diperlukan dan
yang tersedia sebelum
perataan, dan

Gambar 1.2.
menggambarkan
keterkaitan tingkat
keperluan sumber daya
dengan tingkat maksimum
sumber daya yang
tersedia.

Gambar 1.1 dan 1.2


11
1.3 Penilaian Jadwal Masing-Masing Divisi
Pekerjaan
Seorang pengawas harus dapat menilai jadwal
berdasarkan prinsip-prinsip pembuatan jadwal
sebagai berikut:

Aspek perencanaan menyangkut penentuan atas


hal-hal sbb :
1) APA yang harus dikerjakan ?
2) KAPAN harus dikerjakan ?
3) BAGAIMANA cara mengerjakannya ?
4) SIAPA yang harus mengerjakan ?
5) BERAPA biaya yang harus dikeluarkan ? 12
Tatacara penilaian jadwal :

1) Melakukan penelaahan awal atas dokumen kontrak


2) Melakukan penelitian lapangan secara rinci untuk menguji
lokasi, sumber daya yang tersedia dan menentukan tingkat
kesulitan yang terkait pada pekerjaan yang akan dilaksanakan,
3) Melakukan pengkajian Daftar Kuantitas dan Harga secara rinci,
4) Melakukan pengkajian Gambar Rencana secara rinci,
5) Menguji Spesifikasi,
6) Menguji Syarat-syarat Umum Kontrak,
7) Menganalisa pekerjaan yang diperlukan untuk setiap kegiatan,
8) Menentukan urutan pekerjaan,
9) Menentukan biaya proyek.

13
Langkah-langkah di atas kemudian ditindaklanjuti
dengan membuat analisa terhadap hal-hal berikut :
1) Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap
kegiatan
2) Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh
kegiatan
3) Urutan setiap kegiatan
4) Metoda kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan
setiap kegiatan
5) Sumber daya yang diperlukan
6) Resiko yang terkait
7) Biaya sebenarnya untuk menyelesaikan setiap
kegiatan
14
8) Nilai pekerjaan yang diselesaikan.
Jenis-jenis jadwal antara lain:
• Analisa Jaringan Kerja -Metoda Lintasan
Kritis dan Teknik Kajian penilaian Proyek
• Diagram Balok (Bar Chart)
• Program 'linier'

15
Analisa jaringan kerja,

Umumnya dikenal sebagai diagram panah


sebagaimana dipakai dalam modul ini, adalah
Metoda Lintasan Kritis (MLK) atau Critical Path
Method (CPM).

• Caranya didasarkan pada penggambaran


hubungan yang logis antara kegiatan-kegiatan
dengan mempertimbangkan waktu yang
diperlukan yang mempunyai pengaruh kaitan
paling kritis pada penyelenggaraan proyek.

16
Diagram Balok (Bar Chart)

• Diagram balok, sering juga disebut diagram ‘time-


grid’ atau diagram ‘Gantt’, penemu diagram ini,
adalah jenis jadwal yang paling umum dan sering
dipakai serta mudah dipahami untuk proyek
konstruksi.

• Keuntungan jenis jadwal tersebut, ialah mudah


digambar, mudah dipahami dan tidak memerlukan
staf yang berpendidikan tinggi untuk
mempelajarinya.
17
Program Linier

 Program lininer adalah diagram waktu terhadap lokasi


yang menggambarkan lokasi pada sumbu datar dan
waktu pada sumbu tegak.

 Dasar pemikirannya: menggambarkan semua kegiatan


yang mencerminkan kemajuannya terhadap waktu dan
lokasi.

 Keuntungan program linier: menggambarkan secara


grafik kaitan antar kegiatan-kegiatan pekerjaan, lokasi
kegiatan pekerjaan dan waktu kapan kegiatan
dikerjakan. 18
1.4 Penilaian Jadwal Kemajuan Pekerjaan dan
Keuangan (Kurva – S)

1) Jadwal Kemajuan Keuangan, umumnya disebut Kurva-S

2) Merupakan sarana yang paling bermanfaat untuk pemantauan


dan pengendalian kemajuan keuangan proyek.

3) Perwujudan grafik kemajuan dalam bentuk kemajuan pekerjaan


dan nilai pekerjaan yang telah diselesaikan dan dinyatakan dalam
prosentase jumlah nilai kontrak terhadap waktu pelaksanaan
proyek.

4) Bila kurva-S kemajuan pekerjaan yang dicapai ada di atas kurva-S


yang direncanakan, maka proyek lebih awal majunya dari jadwal,

5) Bila kurva-S kemajuan pekerjaan yang dicapai ada di bawah kurva-


S yang direncanakan, maka proyek itu mengalami keterlambatan.
19
Penggambaran Kurva-S Rencana

– Penjumlahan bobot kemajuan pekerjaan pada bulan


yang bersangkutan.

Cara menentukan koordinat untuk menggambarkan Kurva


S adalah :
1. Menentukan pada koordinat 0% sampai 100%
2. Dengan melihat bobot kumulatif yang tertera pada
bulan yang bersangkutan.

• Untuk menggambarkan Kurva S, adalah dengan cara


menggunakan ordinat dan absis :
1. Ordinat menggambarkan % kemajuan pekerjaan dari 0%
sampai 100%.
2. Absis menggambarkan kumulatif kemajuan pekerjaan
tiap-tiap bulan dari bulan 1 sampai bulan terakhir.
3. Koordinat menggambarkan % kemajuan pekerjaan
pada tiap-tiap bulan yang bersangkutan.

20
4) Demikian seterusnya, titik-titik koordinat yang
merupakan bobot kumulatif kemajuan pekerjaan
rencana dari bulan 1 sampai dengan bulan
terakhir ditentukan.

5) Titik-titik koordinat tersebut, kemudian


dihubungkan satu dengan yang lain, sehingga
tergambar suatu kurva yang berbentuk S.

6) Kurva ini merupakan suatu Kurva S Rencana.

7) Dengan cara yang sama, maka Kurva S yang


sebenarnya dapat pula digambar, sehingga akan
terlihat jelas kemajuan suatu proyek, apakah
proyek terlambat, tepat waktu atau lebih cepat
dari rencana.
21
22
1.5 Revisi Kurva S

• Selama proyek berjalan, dengan memperhatikan


kondisi yang ada di lapangan, seringkali jadwal
pelaksanaan pekerjaan harus direvisi.
• Prinsip utama dalam melakukan revisi jadwal
pelaksanaan pekerjaan adalah :

1) Kurva S awal tetap dipertahankan

2) Revisi jadwal tidak bertujuan untuk


memperkecil deviasi

3) Proses revisi jadwal dimulai pada tanggal


terjadinya perubahan.
23
Gambar 1.13 Revisi Jadwal Akibat Perpanjangan
Waktu (Benar)
100 Batas Re-Jadwal 2 bulan

90
2 bulan
80
2 bulan

70 AWAL

60
1
50
Re-skedul
40
4
2
30
3
20
D = (Awal – Rencana Baru) > 0
10 REALISASI

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

24
Gambar1.14 Revisi Jadwal Akibat
Perpanjangan Waktu (Salah)

100 BATAS
RE-JADWAL 2 bulan
90
AWAL
80
Re-skedul
70

60

50

40

30 D > 0 Berarti ada kelebihan


Perpanjangan Waktu (SALAH)
20
REALISASI
10

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

25
Gambar 1.15 Revisi Jadwal Akibat Perpanjangan
Waktu (Salah)

Batas Re-Jadwal 2 bulan

100

90

80 AWAL

70

60

50
Re-skedul
40

30
Melanjutkan Kurva Realisasi
20 (SALAH)

10 REALISASI

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

26
Gambar 1.16 Revisi Jadwal, Perubahan Volume,
Balance Budget, Waktu Tetap.

100

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

27
Gambar 1.17 Revisi Jadwal, Perubahan
Volume, Tambahan Dana, Waktu Tetap

100

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

28
PERPANJANGAN WAKTU
1. Pekerjaan tambah
2. Perubahan desain
3. Keterlambatan yang disebabkan pengguna jasa
4. Masalah yang timbul diluar pengendalian penyedia
jasa
5. Keadaan kahar

Catatan
Semua jaminan harus disesuaikan masa berlakunya menurut
waktu dalam amandemen kontrak
3. SHOW CAUSE MEETING (SCM)

• Rapat Pembuktian; diadakan oleh Tim


Pembuktian Kemampuan Kontraktor

• Bermanfaat dalam rangka upaya mengatasi


keterlambatan kegiatan PPK (proyek) untuk
kontrak-kontrak dengan kondisi kritis
3. Rapat Pembuktian (Show
Cause Meeting/SCM)
3.1 Pengertian dan Ketentuan tentang SCM

Rapat Pembuktian atau Show Cause Meeting


(SCM) dilaksanakan apabila kontrak dinyatakan
kritis.

Acuannya adalah
1) Permen PU No.43/PRT/M/2007 tentang Standar
dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi,
Buku 1, Pasal 33. Kontrak Kritis,
2) Pelaksanaannya mengacu pada Surat Edaran
Dirjen. Bina Marga No. 02/SE/Db/2010 tanggal
15 Juni 2010.
31
Show Cause Meeting/SCM
Dilakukan melalui tahap pemberian surat
peringatan, rapat pembuktian dan uji coba
kepada Penyedia Jasa. Jika dalam 3 (tiga)
kali kesempatan uji coba, paket tersebut
masih kritis maka Pejabat Pembuat
Komitmen dapat melakukan pemutusan
kontrak secara sepihak dengan
mengesampingkan Pasal 1266 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata
32
Show Cause Meeting/SCM
• Prosedur pemberian surat peringatan, rapat pembuktian dan uji
coba dilakukan sebagai berikut :
a. Apabila kontrak telah memasuki kondisi kritis, yaitu ketika
realisasi fisik pelaksanaan terlambat 10% (pada periode 0-
70%) atau terlambat 5 % (pada periode 70-100%), maka
selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kalender sejak
diketahuinya kondisi kritis, PPK memberikan Surat Peringatan
Pertama kepada Penyedia Jasa dan melaporkan secara
tertulis kepada Kepala Satuan Kerja atau atasan Langsungnya

b. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak


diterimanya laporan dari PPK, Kasatker harus mengadakan
Rapat Pembuktian Tingkat I untuk membahas program
percepatan yang disusun oleh Penyedia Jasa dan selanjutnya
Penyedia Jasa melakukan Uji Coba Tingkat I dalam suatu
jangka waktu yang disepakati paling lama adalah 30 (tiga
puluh) hari kalender.
33
SHOW CAUSE MEETING
Deviasi
Kategori Periode I (0-70%) Periode II (70-100%)
Kontrak

Kritis > 15% > 10%


Terlambat 10-20% 5-10%
Wajar < 10% < 5%

T-3 kontrak kritis :


1. Tahap awal tingkat proyek/satker » uji coba » gagal
2. Tingkat atasan langsung » uji coba » gagal
3. Tingkat atasan (eselon I) » Pihak III (TPA)
a. Penyedia jasa tetap tanggung jawab
b. Pihak ketiga ditetapkan pihak I atas usul pihak II
harga sesuai kontrak
c. Bila harga lebih tinggi selisih harga tanggungan
pihak II
d. Pembayaran kepada pihak ke III dapat langsung
Show Cause Meeting/SCM
c. PPKmelakukan pemantauan terhadap
pelaksanaan Uji Coba Tingkat I dan apabila
Penyedia Jasa gagal, maka dalam waktu selambat-
lambatnya 3 (tiga) hari kalender setelah masa Uji
Coba berakhir, PPK segera memberikan Surat
Peringatan Kedua kepada Penyedia Jasa dan
melaporkan hasil tersebut kepada Kasatker

d. Selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kalender setelah


menerima laporan dari PPK, Kasatker
mengusulkan kepada Ka Balai Besar/Balai
Pelaksanaan Jalan Nasional/Atasan Langsung
Kasatker, untuk mengadakan Rapat Pembuktian
Tingkat II.
35
Show Cause Meeting/SCM
e. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak
diterimanya usulan dari Kasatker, Ka Balai Besar/Balai
Pelaksanaan Jalan Nasional/Atasan Langsung Kasatker
mengadakan Rapat pembuktian Tingkat II untuk membahas
program percepatan yang disusun oleh Penyedia Jasa dan
selanjutnya Penyedia Jasa melakukan Uji Coba Tingkat II
dalam suatu jangka waktu yang disepakati, paling lama
adalah 30 (tiga puluh) hari kalender

f. PPK melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Uji Coba


Tingkat II daa apabila Penyedia Jasa gagal, maka dalam waktu
selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kalender setelah masa uji
coba berakhir, PPK segera memberikan Surat Peringatan
Ketiga kepada Penyedia Jasa, dan melaporkan kepada
Kasatker dan Kepala Balai Besar/Balai Pelaksanaan Jalan
Nasional/ Atasan Langsung Kepala Satauan kerja. 36
Show Cause Meeting/SCM
g. Selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kalender sejak
diterimanya laporan dari PPK, Ka Balai Besar/Balai
Pelaksanaan Jalan Nasional/Atasan Langsung Kasatker
melaporkan kepada kepada Direktur Jenderal Bina Marga
melalui Pembantu Atasan Kepala Satuan Kerja.

h. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak


diterimanya usulan dari Ka Balai Besar/Balai Pelaksanaan
Jalan Nasional/Atasan Langsung Kasatker, Pembantu
Atasan Langsung Kasatker atas nama Direktur Jenderal Bina
Marga mengadakan Rapat pembuktian Tingkat III untuk
membahas program percepatan yang disusun oleh
Penyedia Jasa dan selanjutnya Penyedia Jasa melakukan Uji
Coba Tingkat III dalam suatu jangka waktu yang disepakati,
paling lama adalah 30 (tiga puluh) hari kalender

37
Show Cause Meeting/SCM
i. PPK melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan
Uji Coba Tingkat II daa apabila Penyedia Jasa gagal,
maka dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari
kalender setelah masa uji coba berakhir, PPK
dengan diketahui oleh Kasatker segera melaporkan
kepada Dirjen Bina Marga melalui Pembantu
Atasan Kasatker dengan tembusan kepada Kepala
Balai Besar/Balai Pelaksanaan Jalan Nasional/
Atasan Langsung Kepala Satauan kerja dan sekaligus
meminta pertimbangan untuk penyelesaian paket
kritis.
38
Show Cause Meeting/SCM
j. Pembantu Atasan Kasatker bertindak atas nama Dirjen
Bina Marga memberikan pertimbangan penyelesaian
paket kritis dalam waktu selambat-lambatnya 14
(empat belas) hari kalender sejak menerima laporan
dari PPK tentang hasil Uji Coba Tingkat III
k. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak
menerima pertimbangan dari Pembantu Atasan Satker
atas nama Dirjen Bina Maraga, PPK harus memberikan
keputusan kepada Penyedia Jasa

Prosedur pemutusan kontrak dan penerapan sanksi kepada Penyedia


Jasa mengikuti aturan yang ditetapkan dalam dokumen kontrak.
39
PEMUTUSAN KONTRAK
Kesalahan kedua pihak Kesalahan Penyedia Jasa Kesalahan Pengguna Jasa

Terbukti melakukan KKN 1. Tidak segera Pengguna jasa gagal


melaksanakan pekerjaan memenuhi keputusan
2. Gagal uji coba akhir penyelesaian
Sanksi Penyedia jasa : melaksanakan hasil SCM perselisihan
-Jaminan pelaksanaan stor 3. Tidak berhasil
-Sisa uang muka dilunasi memperbaiki kegagalan
-Pengenaan daftar hitam 2 pelaksanaan pekerjaan Sanksi :
tahun 4. Bangkrut Pengguna jasa harus
5. Gagal mematuhi membayar semua
Sanksi pengguna jasa : keputusan penyelesaian pengeluaran penyedia
-PP 30/1980 penyelisihan jasa
-Ketentuan lain sesuai 6. Menyampaikan
dengan per UUan pernyataan tidak benar
Sanksi :
Dimasukkan ke dalam daftar
hitam
2). PENGENDALIAN MUTU

• Sesuai dengan persyaratan spesifikasi yang


ditentukan dalam dokumen kontrak

• Mutu merupakan kebutuhan semua pihak


yang terikat kontrak maupun masyarakat
Pengendalian Mutu
• Teknik dan kegiatan operasional yang digunakan
untuk mengendalikan jaminan mutu agar tujuan
jaminan mutu tercapai

• Jaminan mutu merupakan prosesyang


berkesinambungan didukung oleh prosedur, kriteria
dan SDA, SDM dan alat yang baik. Untuk
menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan
atau spesifikasi.
Pengendalian Mutu
Kegiatannya terdiri dari :
Inspeksi :Kegiatan pemeriksaan apakah
prosedur, kriteria, manual, sumber
daya yang tercantum dalam jaminan
mutu telah dilaksanakan dengan
benar.

Pengujian: Kegiatan pemeriksaan dan analisa


komponen produk dan produk akhir
yang secara kuantitatif memenuhi
persyaratan mutu yang ditentukan.
Pengendalian Mutu

• Pengkajian Bahan Baku (tanah, pasir, batu,


semen, aspal, dll)
• Pengujian Bahan olahan (LPA, LPB, Campuran
beton, campuran aspal, dll)
• Pengujian Pekerjaan terpasang (tubunan,
pondasi, lapisan hotmix, lantai limbalin, dll).
3. PENGENDALIAN VOLUME
• Pengawasan Kuantitas

45
PENGAWASAN KUANTITAS
 Volume pekerjaan disesuaikan dengan kontrak
 Pemeriksaan bersama sebelum pekerjaan dimulai
(MC1)
 Pengukuran bersama pada tahap pelaksanaan
untuk menghitung prestasi pekerjaan (termijn)
 Pemeriksaan bersama sebelum penyerahan kontrak
pekerjaan selesai 100% (PHO)
4).PENGENDALIAN BIAYA
 Biaya sesuai dengan target yang tertuang dalam
dokumen kontrak
 Keterkaitan dengan waktu, mutu, dan volume
 Suatu perubahan tambah atau kurang harus dihitung
dalam biaya
 Perubahan nilai kontrak maks 10% nilai kontrak awal
kecuali akibat pek. Tambah penganan darurat
bencana alam
 Negosiasi harga untuk pekerjaan tambah yang belum
ada harga satuannya
Syarat-Syarat Kontrak
Pengendalian Biaya
 Perubahan Kuantitas
- Volume MPU Akhir Berbeda  25% volume Awal & tidak
melebihi 1% dari harga Kontrak Awal
 Direksi dapat menyesuaikan Harga Satuan
- Kontrak Akhir > 115% Kontrak Awal
 Perubahan HS harus disetujui Pemilik

 Penyesuaian Harga
- Untuk MPU (80% Nilai Kontrak)
- Pekerjaan yang terlambat  Tidak berlaku
Syarat-Syarat Kontrak
Pengendalian Biaya  (lanjutan)
 Sertifikasi Pembayaran Bulanan
- Dapat dikoreksi setiap saat
- Pembayaran dalam waktu 28 hari
- Pembayaran MOS : Maks. 80% untuk bahan yang tertera
dalam lampiran 5 Penawaran
 Retention Money
- 10% MC
- PHO  50% Retensi dikembalikan
- Retensi dapat diganti Bank Garansi
- PHO  seluruh Retensi Dikembalikan
 Denda Keterlambatan
- 1‰dari Nilai kontrak, perhari maks. 5% nilai kontrak
2. Penilaian Biaya Pelaksanaan
2.1 Penilaian Umum Biaya Pelaksanaan

1) Salah satu batasan dalam pelaksanaan proyek adalah sudah


ditentukannya biaya.

2) Pengendalian biaya merupakan usaha untuk meyakinkan bahwa


kuantitas bahan, volume pekerjaan dan ketepatan ukuran hasil
pekerjaan adalah benar sesuai kontrak atau perubahannya.

3) Pada dokumen kontrak awal sudah tercantum volume masing-


masing pekerjaan yang cukup detail.

4) Dalam Rapat Pra-Pelaksanaan hal ini dibicarakan dan disepakati


bersama.

5) Dalam proses pelaksanaan mungkin saja terjadi penambahan atau


pengurangan volume pekerjaan, yang pada akhirnya berpengaruh
50
pada perhitungan biaya pekerjaan.
Pemeriksaan Lapangan Bersama
• Untuk memastikan volume awal pekerjaan proyek harus dilakukan
pemeriksaan lapangan bersama. Berdasarkan volume tersebut
besarnya biaya ditetapkan kembali

2.2 Penilaian Biaya Masing-Masing Divisi Pekerjaan


• Tahap-tahap metode analisis harga satuan pekerjaan
• Kecuali Divisi 1, pada prinsipnya metode Perhitungan Analisis Harga
Satuan Divisi 2 sampai Divisi 8 dapat dirangkum seperti pada Gambar
2.1. Pengisian Asumsi dan Metode Kerja harus memperhatikan
Gambar Rencana, Spesifikasi, Ketentuan dan Peraturan yang berlaku
serta pertimbangan teknis terhadap situasi dan kondisi lokasi
pekerjaan di samping hal-hal lain yang berkaitan dengan Perhitungan
Analisis Harga Satuan.

51
Gambar 2.1 Metode perhitungan Analisis
Harga Satuan

Asumsi:
·Jenis Pekerjaan
· Lokasi
· Material
(Spesifikasi) Analisis Harga Satuan
· Informasi lain Dasar (HSD):
Analisis
· Komponen Bahan
Harga
· Komponen Alat
Satuan
· Komponen Upah
Metode Kerja: Pekerjaan
·Jenis Alat
·Cara Pelaksanaan
·Informasi lain

Overhead Harga
dan Profit Satuan
Pekerjaan
(HSP)

52
2.4 Pekerjaan Tambah Kurang
 Apabila terdapat perbedaan antara kondisi lapangan
pada saat pelaksanaan pekerjaan dengan
spesifikasi teknis dan gambar yang ditetapkan
dalam dokumen kontrak, maka pengguna jasa
bersama penyedia jasa dapat melakukan perubahan
kontrak.

Seorang pengawas perlu mengetahui ketentuan


tentang perubahan kontrak yaitu :
1) Menambah atau mengurangi kuantitas pekerjaan
yang tercantum dalam dokumen kontrak;
2) Menambah atau mengurangi jenis pekerjaan/mata
pembayaran;
3) Mengubah spesifikasi teknis dan gambar pekerjaan
sesuai dengan kebutuhan lapangan. 53
2.4 Denda dan Ganti Rugi

• Denda adalah sanksi finansial yang dikenakan


kepada penyedia jasa, sedangkan ganti rugi adalah
sanksi finansial yang dikenakan kepada pengguna
jasa, karena terjadinya cidera janji terhadap ketentuan
dokumen kontrak.

• Besarnya denda kepada penyedia jasa atas


keterlambatan penyelesaian pekerjaan adalah 1 ‰
(per seribu) dari harga kontrak atau bagian kontrak
untuk setiap hari keterlambatan.

54
– Besarnya ganti rugi yang dibayar oleh pengguna
jasa atas keterlambatan pembayaran adalah sebesar
bunga terhadap nilai tagihan yang terlambat
dibayar, berdasarkan tingkat suku bunga yang
berlaku pada saat itu menurut ketetapan Bank
Indonesia, atau dapat diberikan kompensasi sesuai
ketentuan dokumen kontrak.

– Tata cara pembayaran denda dan/atau ganti rugi


sesuai ketentuan dokumen kontrak.

55
2.5 Kompensasi

1) Kompensasi dapat diberikan kepada penyedia jasa bila


dapat dibuktikan merugikan penyedia jasa
2) Penyedia jasa belum bisa masuk ke lokasi pekerjaan
3) Pengguna jasa tidak memberikan gambar, spesifikasi,
atau instruksi sesuai jadwal yang telah ditetapkan;
4) Pengguna jasa memodifikasi atau mengubah jadwal
5) Pengguna jasa terlambat melakukan pembayaran;
6) Pengguna jasa menginstruksikan untuk melakukan
pengujian tambahan
7) Pengguna jasa menolak sub penyedia jasa tanpa
alasan yang wajar;

56
IV. Pembuatan Amandemen/Adendum Kontrak
4.1 Pengertian dan Ketentuan Perubahan Kontrak
(Contract Change Order/CCO)

1) Perubahan kontrak adalah perjanjian yang disepakati


oleh pengguna jasa dan kontraktor tentang adanya
perubahan atau tambahan pekerjaan secara terbatas
pada pekerjaan yang dirubah/ditambah tersebut pada
tahap pelaksanaannya.

2) Selama perubahan kontrak tidak mempengaruhi total


nilai kontrak awal, kesepakatan perubahan kontrak ini
sudah cukup sebagai pendukung kontrak awal dan
mempunyai legalitas dari sisi hukum kontrak.

3) Apabila jumlah perubahan kontrak sedemikian


sehingga secara kumulatif mengubah nilai kontrak
awal, maka harus dibuat Amandmen/Adendum Kontrak.
57
4.2. Pengertian dan Ketentuan Amandemen/
Adendum Kontrak
Amandemen/Adendum Kontrak adalah perjanjian
tambahan atau perubahan perjanjian akibat adanya
perubahan isi kontrak.

Hal ini bisa terjadi apabila :


1) Panjang efektif berubah
2) Waktu pelaksanaan pekerjaan berubah
3) Nilai kontrak berubah
4) Perubahan pada kuantitas jenis pekerjaan > 25 %
5) Ada jenis pekerjaan baru yang tergolong major item
58
4.3. Proses Pembuatan Perubahan Kontrak dan
Amandemen/Adendum Kontrak
Dalam pembuatan perubahan kontrak, prosedur
berikut harus dilalui:

1) Kontraktor menunjuk secara tertulis wakil


perusahaannya yang akan diberi kuasa,

2) Kasatker/PPK menunjuk secara tertulis pejabat yang


yang diberi kuasa,

3) Kontraktor harus membantu setiap pengajuan satu


usulan ‘Lump Sump’ dan untuk setiap Harga Satuan .

59
V. Penyelesaian Perselisihan dan Permasalahan Kontrak

5.1 Pengertian dan Ketentuan Tentang Perselisihan


Kontrak
1) Dalam pelaksanaannya kontrak tidak selalu berjalan
sebagaimana mestinya karena adanya perbedaan
pandangan, persepsi dan interpretasi terhadap isi
kontrak.
2) Keadan ini dapat berkembang menjadi perbantahan
(dispute), perselisihan, atau konflik.
3) Apabila pengguna jasa tidak berhasil mengelola
konflik tersebut dengan penyelesaian yang baik, hal
ini akan menjadi sengketa hukum yang rumit.
61
5.2 Penghentian Kontrak (Determination)

Hal-hal yang boleh mengakibatkan dihentikan


kontrak, antara lain :
1) Timbulnya perang
2) Pemberontakan dan perang saudara,
sejauh kejadian-kejadian tersebut
berkaitan dengan Republik Indonesia
3) Keributan, kekacauan dan huru-hara
4) Bencana alam

62
5.3 Pemutusan Kontrak (Termination)

 Pemutusan kontrak diberlakukan apabila salah satu pihak, baik


pengguna jasa atau kontraktor tidak memenuhi kewajibannya
dan tanggung jawabnya (cidera janji) terhadap ketentuan yang
diatur dalam kontrak.

Salah satu pihak dinyatakan telah melakukan cidera janji apabila


yang bersangkutan:
1) Tidak melakukan apa yang diperjanjikan akan dilakukan;
2) Melakukan apa yang diperjanjikan, tetapi tidak sebagaimana
yang dijanjikan;
3) Melakukan apa yang diperjanjikan tetapi terlambat; atau
4) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh
dilakukan
63
5.4 . Kesepakatan Tiga Pihak (Three Parties Agreement)

 Apabila kontraktor setelah memalui proses test case


tetap tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai
dengan kontrak,

 Langkah pengamanan dan penyelamatan untuk suatu


penyelesaian pekerjaan yang dinilai lebih luwes, adalah
melalui Kesepakatan Tiga Pihak/’Three Party
Agreement’

 Melibatkan kontraktor lain sebagai penerus


pelaksanaan pekerjaan dengan

64
5.5 Penundaan Pekerjaan (Suspension)

1) Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan khusus,


Kasatker/PPK dapat menggunakan kewenangannya
memerintahkan kontraktor untuk menunda pelaksanaan
pekerjaan atau bagian pekerjaan yang dilakukannya.

2) Konsultan pengawas dalam hal ini harus membantu


Kasatker/PPK dengan memberikan pedoman dan
perintah kepada kontraktor dalam melindungi / menjaga
pekerjaan selama masa penundaan.

3) Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh kontraktor selama


masa penundaan menjadi tanggung jawab Kasatker 65
5.6Arbitrase

1) Dalam penyelesaian suatu perkara secara


hukum, Arbitrase termasuk dalam Perkara
Perdata.

2) Berdasarkan UU.RI No. 30/1999 tentang


Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa, pengertian Arbitrase adalah :
“Penyelesaian sengketa perdata diluar
Peradilan Umum berdasarkan suatu Perjanjian
Arbitrase secara tertulis antara para pihak yang
bersengketa”. 66
 Arbitrase dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) tata cara penyelesaian sengketa dilakukan berdasarkan
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang
mengatur penyelesaian sengketa melalui alternatif
penyelesaian sengketa;

2) putusan arbitrase bersifat final dan mengikat;

3) arbitrase dapat dilakukan sebelum atau sesudah pek selesai

4) selama proses arbitrase masing–masing pihak terikat pada


kewajiban sesuai ketentuan kontrak

5) pihak yang menang dapat meminta perlindungan pengadilan


dalam hal pihak yang kalah tidak melaksanakan keputusan
67
Arbitrase.
5.7 Keadaan Kahar (Force Mayour)

Yang dimaksud keadaan kahar adalah suatu keadaan yang


terjadi di luar kehendak para pihak sehingga kewajiban yang
ditentukan dalam dokumen kontrak menjadi tidak dapat
dipenuhi.

 Yang digolongkan keadaan kahar adalah:


1) Peperangan;
2) Kerusuhan;
3) Revolusi;
4) Bencana alam: banjir, gempa bumi, badai, gunung meletus,
tanah longsor, wabah penyakit, dan angin topan;
5) Pemogokan;
6) Kebakaran;
7) Gangguan industri lainnya. 68
5.8 Klaim

 Klaim dapat berasal dari salah satu pihak yang terikat dalam kontrak,
yaitu dari pengguna jasa kepada kontraktor atau sebaliknya.

 Selain itu dapat pula berasal dari pihak lain yang tidak terikat
kontrak (pihak ketiga) seperti : pemasok bahan, sub penyedia jasa,
sub kontraktor atau masyarakat.

 Klaim dapat dikategorikan sebagai berikut :


1. Dari pengguna jasa terhadap kontraktor : 
1) Pengurangan nilai kontrak
2) Percepatan waktu penyelesaian
3) Kompensasi atas kelalaian.

2. Dari kontraktor terhadap pengguna jasa : 


4) Tambahan waktu pelaksanaan
5) Tambahan kompensasi
6) Tambahan konsesi atas pengurangan spesifikasi teknis /
bahan.
69
RAPAT RUTIN
• Rapat rutin merupakan bagian dari upaya memantau dan
mengendalikan secara terus menerus dan berkesinambungan
atas berbagai aspek penyelenggaraan proyek, berupa
mingguan, bulanan, kwartalan atau tengah tahunan.

• Aspek dan objek yang dibahas dalam rapat rutin ini adalah
setiap masalah yang diketemukan dalam kegiatan
pengendalian misalnya mambahas kendala-kendala dan usulan
yang diajukan, kemudian menghasilkan keputusan dan
petunjuk pelaksanaan secara teknis terhadap setiap uraian
kegiatan yang bermasalah tersebut untuk diketahui dan
mendapat perhatian pihak-pihak terkait.

• Dengan demikian rapat rutin akan memberi gambaran tentang


kondisi pekerjaan yang sebenarnya terutama dalam hal-hal
sebagai berikut : 70
Gambaran Kemajuan Pekerjaan
Memberikan gambaran kemajuan pekerjaan pada
saat rapat rutin, terutama yang berkaitan dengan
sasaran yang telah digariskan, seperti biaya, jadwal
dan mutu, berikut hubungannya satu sama lain
diantara sasaran-sasaran tersebut.

Identifikasi Persoalan
Mengidentifikasi persoalan yang dihadapi dan
membuat prakiraan pencapaian sasaran akibat dari
adanya masalah yang timbul, dan usaha-usaha
mengatasinya. Hasil evaluasi kemajuan tersebut
dituangkan dalam suatu laporan tertulis, yang
selanjutnya dibahas dalam rapat rutin oleh semua
pihak yang terkait

71
TERIMA KASIH

72