Anda di halaman 1dari 55

Peraturan Jabatan Notaris

(PJN)
Dosen Pengampu :
Notaris Dr. EDITH RATNA M.S.,S.H.
Buku Wajib

• UU RI No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No.30


Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
• UU RI No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
Literatur
 PJN  GHS Lumban Tobing
 Hukum Notariat Di Indonesia  R.Soegondo
Notodisoerjo
 Studi Notariat  Tan Thong Kie
 Notaris  Komar Andasasmita
 dsb
SEJARAH SINGKAT NOTARIAT
(Dari Jaman Romawi, dimulai permulaan Abad Masehi)
Asal Kata NOTARIS
Perkataan Notaris berasal dari perkataan :
1. NOTARIUS  yaitu nama yang pada jaman
Romawi, diberikan kepada orang-orang yang
menjalankan pekerjaan menulis.

Fungsi Notarius (Majemuknya : Notarii) ini sangat


berbeda dengan fungsi Notaris pada waktu
sekarang.
Nama Notarius ini lambat laun mempunyai arti
berbeda dengan semula, sehingga kira-kira
pada abad ke 2 sesudah Kristus yang disebut
dengan Notarius ialah mereka yang
mengadakan pencatatan dengan tulisan cepat,
jadi seperti stenograaf sekarang.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama Notarius itu
berasal dari perkataan :

2. NOTA LITERARIA  yaitu tanda (letter merk /


karakter) yang menyatakan sesuatu perkataan
Dalam Abad Ke 5 & Ke 6
Sebutan NOTARIUS (Notarii) itu
diberikan kepada penulis
(sekretaris) pribadi Raja (Kaizar)
Pada Akhir Abad Ke 5
Sebutan NOTARIUS (Notarii) diberikan kepada
pegawai-pegawai istana yang melaksanakan
pekerjaan administratif

Pejabat-pejabat yang dinamakan Notarii ini


merupakan pejabat-pejabat yang menjalankan tugas
untuk Pemerintah dan tidak melayani publik (umum).
Yang melayani publik dinamakan TABELLIONES.
TABELLIONES
Mereka ini menjalankan pekerjaan sebagai “penulis”
untuk publik yang membutuhkan keahliannya.

Sesungguhnya fungsi mereka sudah agak mirip dengan


Notaris pada jaman sekarang, tetapi tidak mempunyai
sifat “ambtelijk”, sifat jabatan negeri, sehingga surat-
surat yang dibuatnya tidak mempunyai sifat otentik.
Mereka membuat akta-akta, surat-surat dsb, tetapi
semuanya ini merupakan surat-surat biasa yang sifat
otentiknya tidak ada.
Tahun 537
Kaisar Justinianus  telah mengatur pekerjaan
dan kedudukan Tabelliones ini dalam suatu
Constitutie, tetapi pekerjaan dan kedudukan
mereka tetap tidak mempunyai sifat
“ambtelijk”. Karena eratnya hubungan
pekerjaan dengan hukum, maka mereka itu
ditaruh di bawah pengawasan Kehakiman.
Disamping Tabelliones terdapat juga apa yang dinamakan :
TABULARII
Mereka ini sesungguhnya adalah pegawai-pegawai
yang ditugaskan :
1. untuk memegang dan mengerjakan buku-buku dari
keuangan kota-kota serta mengadakan
pengawasan terhadap administrasi dari magistrat
kota
2. Untuk menyimpan surat-surat (dokumen-
dokumen) bahkan diberi wewenang untuk
membuat akta-akta.
Dari 2 tugas Tabularii tsb, maka publik lalu
lebih banyak mengalihkan perhatiannya
kepada tabularii dan lebih suka
mempergunakan jasa-jasa mereka itu dari
pada Tabelliones, karena tabularii ini
mempunyai sifat “ambtelijk” dan berhak
menatakan secara tertulis terjadinya
tindakan-tindakan hukum.
Perhatikan

Tugas yang ke 2 dari Tabularii  menyimpan surat-


surat (dokumen-dokumen) bahkan diberi wewenang
untuk membuat akta-akta

Ini yang berkaitan dengan tugas-tugas notaris saat ini.


Tugas yang ke 2 ini yang disenangi karena mempunyai
sifat ambtelijk  dan selanjutnya berkembang
menjadi notaris.
Sekilas Sejarah...
Dalam pemerintahan gereja, Notarii itupun mempunyai
kedudukan dan peranan yang penting, baik dalam
lingkungan Paus maupun di dalam instansi-instansi
gereja yang lebih rendah. Dalam pemerintahan Paus,
para Notarii merupakan suatu college yang tertutup
dengan dikepalai oleh Primicerius Notarium. Mula-mula
Notarii dari pemerintahan Paus ini merupakan pejabat-
pejabat administratif, tetapi lambat laun menjadi
kebiasaan bahkan sengketa hukum oleh Paus diserahkan
kepada Dewan Kanselarijnya yang memutuskan tentang
hal itu, dalam hal mana para Notarii dari Pemerintahan
Paus memberikan pertimbangannya.
Lanjutan ...
Konstelasi dalam Pemerintahan Paus mengenai
Notarii ini, diikuti pula oleh instansi gereja yang lebih
rendah, demikianlah di gereja- gereja diadakan pula
Notarii yang mula-mula hanya mempunyai tugas
menjalankan pekerjaan administrasi belaka. Karena
bertambahnya pengaruh dari gereja dalam kehidupan
masyarakat dan adanya kemunduran dari kalangan
Tabelliones, maka publik dengan sendirinya lebih
banyak minta jasa-jasa hukum dari kaum rohaniawan
gereja, dan demikian para Notarii gereja ini terutama
ditugaskan untuk membuat akta-akta dan surat-surat
di bidang hukum perdata.
Lanjutan....
Notarii gereja ini dapat dibagi menjadi 2 golongan :
1. Mereka yang bekerja di bawah gereja atau
dibawah pejabat gereja yang lebih rendah dari
Paus.
2. Mereka yang diangkat oleh gereja atau oleh
pejabat gereja, dan ditugaskan untuk memberi
bantuan kepada publik untuk urusan-urusan yang
tidak semata-mata mengenai gereja. Mereka ini
dinamakan “clericus notarius publicus”
Notariat di negara-negara
CIVIL LAW
 Berkembang dengan jelasnya di negara-negara Eropa,
seperti Negeri Belanda pada akhir abad pertengahan
dengan di terimanya hukum Romawi. Dengan timbulnya
masa kodifikasi pada akhir abad ke 18 dan permulaan abad
ke 19, maka menyebabkan berkembangnya pula lembaga
notariat.
 Akta-akta notaris di negara-negara ini diduga mempunyai
kebenaran dan kekuatan bukti formil dan pada umumnya
mempunyai kekuatan eksekusi dan demikian memudahkan
prosedur di Pengadilan-Pengadilan, bahkan mengenai
berbagai tindakan/perbuatan harus disertai dengan akta
notaris.
CIVIL LAW :
 Belanda
 Perancis
 Belgia
 Luxemburg
 Jerman
 Austria
 Zwitserland (Negara Swiss)

Lihat di bahan foto copy


Mengapa
perkembangan notariat
di tiap-tiap negara
berbeda-beda ?
Perkembangan notariat di tiap-tiap negara berbeda-
beda karena tiap-tiap negara mengatur sendiri-
sendiri: wewenang-wewenang, formalitas-formalitas
dan lapangan kerja notariatnya.

Walaupun demikian antara negara yang satu dengan


negara yang lain seringkali terdapat saling mengisi
atau kerja sama atau yang satu belajar/mencontoh/
menyesuaikan dari/dengan yang lainnya, seperti
halnya Indonesia dan Negeri Belanda.
Notariat di negara-negara
COMMON LAW
 Di Inggris, Notariat : dengan tugas pertama dalam
pembuatan akta-akta untuk rakyat (umum), lebih
dahulu muncul dari pada Negeri Belanda.
 Dalam permulaan abad ke 13 disitu tercatat adanya
beberapa orang notaris yang ditugaskan untuk
membuat bermacam-macam akta, khususnya
wasiat, pemeriksaan saksi-saksi, pengambilan
sumpah, dll
 Sistem perkembangan/perubahan hukum
mempengaruhi pula keadaan notariat. Jika di benua
Eropa dengan diterimanya hukum Romawi pada akhir
abad pertengahan dan disusul dengan memuncaknya
kodifikasi-kodifikasi pada permulaan abad ke 19, yang
umumnya lebih banyak bergerak dari pada di Inggris,
dimana common law dalam abad-abad ke 12 dan ke 13
seakan-akan mencapai pembulatan dan sejak itu sistem
hukum pada dasarnya tidak banyak berubah.

Akibatnya : notaris-notaris di Inggris boleh dikatakan


menjadi terbelakang bila dibandingkan dengan rekan-
rekan mereka yang ada di benua Eropa.
Keterlambatan berkembangnya notariat di Inggris ini
disebabkan karena :
1. Eratnya hubungan antara notariat dengan gereja.
2. Banyaknya “solisitors” (pengacara) yang menggantikan
pekerjaan / notaris.
3. Tugas notaris di Inggris hanya terbatas pada pembuatan
“formele certificaten” dari bidang-bidang yang biasa
dipakai. Akta-aktanya hanya mempunyai kekuatan bukti
terhadap “kesaksian” dari notaris sehubungan dengan
akta-akta mengenai hal terhadap apa notaris mempunyai
wewenang, misalnya tentang protes-protes perkapalan,
barang-barang tak bergerak, protes-protes tentang utang
piutang.
4. Notaris di Inggris tidak berwenang untuk mengambil
sumpah.
COMMON LAW :
 Inggris
 Amerika Serikat
 Skotlandia
 Kanada
 Australia
 Afrika Selatan

Lihat bahan foto copy


NOTARIAT DI INDONESIA
Perundang-undangan di bidang Notariat :
 Instructie voor notarissen in Indonesia (Stbl.1822-
11)
 Peraturan Jabatan Notaris (Notaris Reglement –
Stbl.1860-3)
 UU RI No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
 UU RI No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
UU RI No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
Catatan
Staatsblad 1860-3 ditandatangani oleh Gubernur
Jenderal Chs.F Pahud dan Algemene Secretaris A
London di Batavia, dan dikeluarkan pada tanggal 26
Januari 1860. Mulai berlaku di seluruh Indonesia
tanggal 1 Juli 1860.

Sejak kapan Staatsblad 1860-3 tidak berlaku ??


UU RI No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris

Mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yaitu


pada tanggal 6 Oktober 2004
Mengapa Staatsblad
1860-3 tidak berlaku lagi
dan diganti dengan UU RI
No. 30 Tahun 2004 ??
Reglement op het notaris ambt in
Indonesie (Staatsblad 1860-3)
yang mengatur mengenai jabatan
notaris tidak sesuai lagi dengan
perkembangan hukum dan
kebutuhan masyarakat
Perlu Diketahui

Peraturan yang tidak berlaku lagi sejak tanggal 6


Oktober 2004 (sejak berlakunya UU 30/2004) :
1. Reglement op Het Notaris Ambt in Indonesie (Stb
1860 : 3) sebagaimana telah diubah terakhir dalam
Lembaran Negara Tahun 1945 Nomor 101
2. Ordonantie 16 September 1931 tentang
Honorarium Notaris
3. UU Nomor 33 Tahun 1954 tentang Wakil Notaris
dan Wakil Notaris Sementara (Lembaran Negara
Tahun 1954 Nomor 101, TLN Nomor 700).
4. Pasal 54 UU Nomor 8 Tahun 2004 tentang
Perubahan Atas UU Nomor 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum (LN Tahun 2004 Nomor 34, TLN
Nomor 4379)
5. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1949
tentang Sumpah / Janji Jabatan Notaris.
Perlu Diketahui...

Pada tanggal 27 Agustus 1620, Melchior Kerchem,


Sekretaris dari “College van Schepenen” di Jakarta,
diangkat sebagai notaris pertama di Indonesia.

Diangkat oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon


Coen
Perlu Diperhatikan...

Cara pengangkatan Melchior Kerchem sebagai Notaris


pada waktu itu sangat berbeda dengan pengangkatan
Notaris sekarang ini.

Apa perbedaannya...??
Perbedaannya
 Di dalam akta pengangkatan Melchior Kerchem sebagai
Notaris sekaligus secara singkat dimuat suatu instruksi
yang menguraikan bidang pekerjaan dan wewenangnya,
yakni untuk menjalankan tugas jabatannya di Kota Jakarta
untuk kepentingan publik.
 Kepadanya ditugaskan untuk menjalankan pekerjaannya
itu sesuai dengan sumpah setia yang diucapkannya pada
waktu pengangkatannya dihadapan Baljuw di Kasteel
Batavia (yang sekarang dikenal sebagai gedung
Departemen Keuangan-Lapangan Banteng), dengan
kewajiban untuk mendaftarkan semua dokumen dan akta
yang dibuatnya, sesuai dengan cara bunyinya instruksi
tsb.
Peraturan apa yang dipakai
oleh para Notaris sebelum
tahun 1822 di Indonesia..??
Peraturan pertama bagi para notaris di Indonesia itu
hanya berupa “instructie” (petunjuk/syarat jabatan) saja,
tertanggal 16 Juni 1625, yang terdiri dari 10 pasal dan
isinya antara lain dan kurang lebih :
 bahwa para notaris itu paling sedikit harus memiliki
pengetahuan tentang hukum dari negeri-negeri di
bawah kekuasaan Belanda
 bahwa para notaris itu harus diuji dahulu
 bahwa para notaris itu harus memberi jaminan bahwa
ia tidak akan melakukan kesalahan atau kealpaan
 Bahwa para notaris itu harus menyelenggarakan
protokol dan daftar yang setiap waktu diperlihatkannya
kepada Ketua Pengadilan dan Kejaksaan di kota yang
bersangkutan
Lanjutan....
 bahwa tanpa pilih bulu para notaris harus
melakukan jabatan mereka itu sebaik-baiknya dan
bila perlu melayani fakir miskin secara gratis dan
prodeo.
 bahwa para notaris itu tidak akan melakukan atau
menerima pemalsuan-pemalsuan (barang, alat,
uang,dll)
 bahwa para notaris itu akan memegang rahasia
jabatan mereka
 bahwa para notaris itu tidak akan membuat akta
untuk kepentingan/menyangkut pribadinya
Lanjutan...
 bahwa mereka tidak akan mengeluarkan
salinan/turunan akta selain dari kepada yang
berkepentingan
 diatur pula tarif honorarium notaris dan sebelum
melakukan jabatannya, seorang notaris harus pula
diambil sumpah.
Apa yang menjadi sebab
tidak dikenalnya lembaga
notariat secara meluas
pada jaman dahulu..??
Ada 2 Faktor utama yang
menyebabkan kurang meluasnya
1.
lembaga notariat
Bahwa sebelum Perang Dunia II hampir seluruh
notaris yang ada di Indonesia pada waktu itu
adalah berkebangsaan Belanda, sedang jumlah
notaris yang berkebangsaan Indonesia sangat
sedikit jumlahnya. Pada waktu itu lembaga notariat
seolah-olah dimonopoli oleh orang-orang Belanda.
Lagi pula pada umumnya mereka mempunyai
tempat kedudukan di kota-kota besar, sehingga
mudah dimengerti bahwa hubungan mereka dapat
dikatakan hanya dengan orang-orang Eropa, Cina,
Timur Asing dan bangsa asing...
Lanjutan....
Bangsa asing lainnya, yang biasanya bermukim di
kota-kota besar pula serta sebagian kecil orang-
orang Indonesia, yang terbatas pada golongan
tertentu dalam masyarakat.
2. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya bahwa
masuknya lembaga notariat di Indonesia ialah pada
saat, dimana tingkat kesadaran dan budaya hukum
dari masyarakat bangsa Indonesia pada waktu itu,
suatu masyarakat yang bersifat primordial, yang
masih berpegang teguh pada hukum adatnya dan
kaedah-kaedah religius, masih rendah dan sempit,
lebih-lebih lagi dimana para pengasuh dari
Lanjutan....
lembaga notariat itu lebih menitik beratkan
orientasinya pada hukum Barat, semuanya itu
merupakan faktor-faktor penghambat dan yang
tidak menguntungkan bagi perkembangan dan
untuk dikenalnya lembaga notariat ini dengan cepat
dan secara luas di kalangan masyarakat yang justru
harus dilayaninya.
Perlu Diketahui...
Berbicara mengenai sejarah notariat di Indonesia,
kiranya tidak dapat terlepas dari sejarah lembaga ini
di negara-negara Eropa pada umumnya dan di negeri
Belanda pada khususnya. Dikatakan demikian oleh
karena perundang-undangan Indonesia di bidang
notariat berakar pada “Notariswet” dari negeri
Belanda tanggal 9 Juli 1842 (Ned.Stbl.1842-20),
sedang “Notariswet” itu sendiri pada gilirannya,
sekalipun itu tidak merupakan terjemahan
sepenuhnya, namun susunan dan isinya sebagian
terbesar mengambil contoh dari undang-undang
notaris Perancis dari 25 Ventose an XI (16 Maret 1803)
Lanjutan....
Yang dahulu pernah berlaku di negeri Belanda,
sehingga apabila seseorang ingin sungguh-sungguh
mempelajari dan mengerti PJN yang berlaku di
Indonesia, suatu studi perbandingan mengenai ketiga
perundang-undangan itu merupakan suatu syarat
yang tidak dapat diabaikan.
Catatan
 NOTARIAT timbul dari kebutuhan dalam pergaulan
sesama manusia, yang menghendaki adanya alat
bukti baginya mengenai hubungan hukum
keperdataan yang ada dan/atau terjadi di antara
mereka.
 Suatu lembaga dengan para pengabdinya yang
ditugaskan oleh kekuasaan umum (openbaar gezag)
untuk dimana dan apabila undang-undang
mengharuskan sedemikian atau dikehendaki oleh
masyarakat, membuat alat bukti tertulis yang
mempunyai kekuatan otentik.
UU RI Nomor 2 Tahun 2014
Tentang Perubahan Atas
UU Nomor 30 Tahun 2004
Tentang Jabatan Notaris
UU RI Nomor 2 Tahun 2014
mulai berlaku

tanggal 15 Januari 2014


Mengapa UU RI Nomor
30 Tahun 2004 perlu
dilakukan perubahan ?
Alasan dilakukannya perubahan UU 30/2004 :
1. Karena beberapa ketentuan dalam UU 30/2004
sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan
hukum dan kebutuhan masyarakat sehingga perlu
dilakukan perubahan.
2. Untuk menjamin kepastian, ketertiban dan
perlindungan hukum dibutuhkan alat bukti tertulis
yang bersifat autentik mengenai perbuatan,
perjanjian, penetapan dan peristiwa hukum yang
dibuat dihadapan atau oleh pejabat yang
berwenang (Notaris).
............Lanjutan
3. Notaris sebagai pejabat umum yang menjalankan
profesi dalam memberikan jasa hukum kepada
masyarakat, perlu mendapatkan perlindungan dan
jaminan demi tercapainya kepastian hukum.
Ketentuan – ketentuan
apa saja yang diubah
dalam UU 30/2004 ??
Beberapa ketentuan yang diubah dari UU 30/2004,
yaitu :
1. Penguatan persyaratan untuk dapat diangkat
menjadi Notaris, antara lain : adanya surat
keterangan sehat dari dokter dan psikiater serta
perpanjangan jangka waktu menjalani magang dari
12 bulan menjadi 24 bulan.
2. Penambahan kewajiban, larangan merangkap
jabatan dan alasan pemberhentian sementara
Notaris
3. Pengenaan kewajiban kepada calon Notaris yang
sedang melakukan magang
4. Penyesuaian pengenaan sanksi yang diterapkan
pada pasal tertentu, antara lain berupa pernyataan
bahwa Akta yang bersangkutan hanya mempunyai
kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah
tangan, peringatan lisan / peringatan tertulis, atau
tuntutan ganti rugi kepada Notaris.
5. Pembedaan terhadap perubahan yang terjadi pada
isi Akta, baik yang bersifat mutlak maupun bersifat
relatif.
6. Pembentukan Majelis Kehormatan Notaris
7. Penguatan dan penegasan Organisasi Notaris
8. Penegasan untuk menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa resmi dalam pembuatan Akta
Autentik.
9. Penguatan fungsi, wewenang dan kedudukan
Majelis Pengawas.