Anda di halaman 1dari 12

MATA KULIAH HUKUM WARIS BARAT, ISLAM DAN ADAT BAGIAN HUKUM WARIS ADAT

DR. SUKIRNO, SH, MSI

Jenis hukum waris di indonesia


 Hukum waris kuh. Perdata

 Hukum waris islam

 Hukum waris adat

Definisi hwa menurut prof. Soepomo :


Peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang2 harta benda
dan barang2 tdk berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie)
kepada keturunannya.
Definisi hwa menurut ter haar :
Aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad penerusan dan
peralihan dari harta kekayaan yang berujud dan tidak berujud dari generasi ke generasi.
Definisi hwa menurut hilman hadikusuma
Aturan-aturan hukum adat yg mengatur bagaimana harta peninggalan atau harta warisan
diteruskan atau dibagi-bagi dari pewaris kepada para waris dari generasi ke generasi
Sifat hk waris adat :
 Tidak mengenal legitime portie (bagian mutlak), lihat ps. 913 kuh perdata, al
qur’an surat an-nisa.
 Proses pembagian warisan mem-perhatikan asas kerukunan dan persamaan hak

 Ahli waris tidak berhak memaksa agar warisan dibagi

 Ada harta warisan yang tidak dapat dibagi-bagi secara perorangan

 Harta warisan tidak merupakan satu kesatuan

 Dikenal pergantian ahli waris ( lihat plaatsvervulling di kuh. Perdata)

Hukum waris adat tdk dapat dilepaskan dari :


 Hukum kekeluargaan

 Hukum perkawinan

Asas asas hk waris adat


 Kebersamaan
 Kesamaan hak

 Kerukunan

 Kegunaan/kepatutan

Sistem pewarisan
 Individual

 Kolektif

 Mayorat

Unsur unsur hukum waris adat


1. Pewaris
2. Ahli waris
3. Harta warisan
4. (proses pewarisan)
Harta warisan
 Adalah semua harta benda pewaris baik harta benda yang sudah dibagi, belum terbagi
atau memang tidak terbagi
 Sudah terbagi : ahli waris sudah siap menerima

 Belum terbagi : ada janda yg membutuhkan dan atau anak-anak belum dewasa

 Tidak terbagi : karena sifat benda, keadaan dan kegunaannya tidak dapat dibagi (harta
pusaka, alat perlengkapan adat, senjata, jimat, ilmu gaib, jabatan/gelar adat utk a.w.
tertentu, dimanfaatkan utk kepentingan bersama)
Jenis harta warisan
 Harta asal

 Harta pemberian

 Harta pencarian

 Hak dan kewajiban yg diwariskan

Harta asal/ harta bawaan


 Adalah semua harta kekayaan yg dikuasai pewaris, baik berupa harta bawaan yg dibawa
ke dlm perkawinan dan kemungkinan bertambah selama perkawinan hingga akhir
hayatnya
 Harta asal seolah-olah sebagai modal pribadi pewaris yg dibawa masuk ke dalam
perkawinan
 Harta asal dapat dibedakan harta asal suami dan harta asal istri

Harta asal sebelum perkawinan


 Yang telah dipunyainya sebelum perkawinan

 Pemberian berkaitan dengan kematian orang tua (bukan sebagai ahli waris)  masy
patrilineal
 Yang diperoleh karena pewarisan (sbg ahli waris)

 Pemberian orang lain

Harta asal selama perkawinan


 Memperoleh harta karena usaha sendiri tanpa bantuan pasangannya (suami/istri)

 Pemberian/ pewarisan/hadiah yg hanya jatuh pada salah seorang suami/istri saja

Harta bawaan/asal suami


 Sebagai harta pembujangan atau sbg harta pembekalan

 Sbg harta pembujangan,mk fungsi harta itu sbg harta penantian kedatangan istri dalam
perkawinan jujur
 Biasanya berupa tanah, bangunan rumah alat2 rmh tangga, dll

Harta pembekalan suami


 Sebagai bekal tambahan terhadap hrt penantian istri (harta tepatan) dlm perkawinan
semanda/semendo
 Statusnya bisa menjadi satu atau terpisah sbgm dlm peribahasa : “hrt tepatan tinggal, hrt
pembawaan kembali, hrt suarang dibagi, hrt sekutu dibelah”
Harta bawaan istri
 Dibedakan harta bawaan ke tempat suami krn perkw jujur, dan harta bawaan sbg harta
penantian istri pd perkw semanda
 Pd perkw jujur (batak/lampung), hrt bawaan istri menjadi satu kesatuan dengan hrt pokok
suami, shg dikuasi dan dimiliki sbg harta bersama dibawah kekuasaan suami. Di lampung
disebut harta sesan, di batak anak perempuan diberi tanah pauseang.
Hrt bawaan istri sbg hrt penantian
 Berlaku pada perkawinan semenda
 Perk semenda dimana kedudukan istri sbg tunggu tubang (suku semendo, di sumsel)

 Perkawinan tut buri (jawa) suami mengikuti istri, perkw nyalindung kagelung (jabar),
perk semenda mati manuk mati tungu (lampung pesisir)
Harta pemberian adalah semua harta yg diperoleh dari pemberian seseorang atau sekelompok
orang kepada suami/istri atau suami istri selama perkawinan
Pemberian dari siapa ?
 Pemberian suami, menjadi milik pribadi istri, lebih tampak pada perkawinan poligami.
Pemberian suami pd perempuan lain yg melahirkan anaknya (istri piaraan (tionghoa),
baku piara (minahasa) pemberian pd anak disebut lilikur, nepa-piara (sangir-talaud). Bisa
terjadi istri memberi suaminya (pd perkw nyalindung kagelung, dll)
 Pemberian orang tua, contohnya : pd masy dayak kendayan (kalbar) pemberian lebih
banyak pd anak pangkalan (anak yg memelihara ortu),
 Pemberian kerabat

 Orang lain.

Hrt pencarian/hrt bersama


 Adalah harta yg diperoleh suami-istri selama dalam ikatan perkawinan.

 Ma berpendapat (pts no.51/k/sip/1956) mnrt hk adat semua hrt yg diperoleh selama


berlangsungnya perkw termasuk gono-gini, meskipun hasil kegiatan suami sendiri.
 Dlm kenyataannya, ada hrt milik suami atau milik istri sendiri, krn masing-masing punya
usaha dan penghasilan sendiri.
Hak-hak kebendaan
 Hak pakai (harta pusaka yg tidak terbagi scr individual,misalnya tanah ulayat, rumah
gadang, nuwou balak/rmh kerabat di lampung, dll)
 Hak tagihan (hutang-piutang), pakai hrt yg mana ? Harta pencarian almarhum. Lihat
bedanya dng psl.1100 kuh perdata.
 Hak gelar dan jabatan adat, di lampung jatuh pd anak punyimbang (anak lelaki tertua),
anak tunggu tubang (anak prp tertua di suku semendo)
Dalam uu perkawinan (ps 35-37)
 Pasal 35 :

(1) Hrt benda selama perkw menjadi hrt bersama


(2) Hrt bawaan masing-masing & hadiah perkw/warisan dibawah kekuasaan masing2
sepanjang pr pihak tdk menentukan lain.
Pasal 36 uu perkawinan :
(1) mengenai harta bersama, suami/istri dpt bertindak atas persetujuan kedua belah pihak
(2) mengenai hrt bawaan masing2, suami dan istri memp hak sepenuhnya utk melakukan
perbuatan hk atas hrt bendanya
Pasal 37 uu perkawinan
 Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menrt hukumnya masing-
masing
Para waris
 Dibedakan menjadi: (1) ahli waris; (2) bukan ahli waris (prof. Hilman hadikusuma)

 Ahli waris adalah semua orang yang berhak mewarisi harta warisan

 Bukan ahli waris adalah semua orang yang bukan ahli waris ttp dpt harta warisan

pada umumnya para ahli waris adalah anak


 Tetapi tidak semua anak adalah ahli waris, kemungkinan bukan ahli waris, seperti anak pr
(patrilineal), anak tiri, anak piara/anak asuh, dll
 Ada juga yg bukan ahli waris waris janda dlm masy patrilineal

 Berhak tidaknya para ahli waris dipengaruhi oleh sistem kekerabatan, sehingga daerah
satu berbeda dengan daerah lainnya
Anak kandung
 Anak yang lahir dari kandungan ibunya dan ayah kandungnya

 Kedudukan anak kandung sebagai waris dipengaruhi oleh perkawinan yang dilakukan
oleh orang tuanya
 Artinya jika perkawinan ayah ibu si anak sah maka anaknya sah sebagai waris dari orang
tuanya
Anak sah
 Adalah anak kandung yg lahir dari perkawinan orang tuanya yang sah. Menurut ps.42
uup : anak yg dilahirkan dalam atau sbg akibat perkawinan yg sah.
 Pada dasarnya anak sah adalah waris dari orang tuanya, walaupun ada yg berkedudukan
sbg waris
Anak tidak sah
 Lahir sebelum terjadi perkawinan
 Lahir setelah bercerai lama dari suaminya

 Lahir tanpa melakukan perkawinan sah

 Lahir akibat berbuat zina dng orang lain

 Lahir dng tdk diketahui siapa ayahnya (bali:bebinjat)

Status anak tidak sah


 Mnrt uup ps.43 ayat (1) : hanya mempunyai hub pdt dengan ibunya

 Di minahasa, ayah biologisnya memberi tanda pengakuan (lilikur ) maka diperlakukan


sama dng anak sah
 Di jawa, anak kowar, mungkin sbg waris atas dasar perikemanusiaan/parimirma/welas
asih
Anak lelaki (patrilineal)
 Pd masy patrilineal hanya anak lk2 sbg ahli waris, tetapi ada penyimpangan, spt di
lampung pepadun : tdk punya anak lelaki, mk anak pr tertua berkedudukan sbg lelaki dng
perkawinan ambil suami (ngakuk ragah) atau perkw minjam jantan (nginjam jaguk ) mk
anak lelaki hasil perkw tsb menjadi ahli waris kakeknya.
 Penyimpangan di bali, pada perkawinan nyentana/jeburin, anak pr yg sdh berubah status
menjadi anak lk berhak mewarisdari ayahnya
 Penyimpangan lainnya, ayah memberi hibah pd anak perempuannya

Anak perempuan (matrilineal)


 Terdapat di minangkabau, lampung peminggir, semendo (sumsel)

 Penyimpangan, pd suku semendo, punya anak lelaki maka dikawinkan secara semendo
nyangkit
 Penyimpangan yg lain, ibu memberi hibah pada anak lelakinya

Anak lelaki dan perempuan (parental)


 Dulu di jawa bagian anak lelaki dan pr berbeda (sepikul segendong ) , sekarang
bagiannya sama ( sigar semangka)
 Di beberapa daerah di jawa ada penyimpangan, bagian anak sulung lebih banyak atau
anak bungsu lebih banyak
 Pembagian tergantung keadaan harta dan warisnya, di banten anak pr dpt rumah, di p.
Sawu harta ibu jatuh ke anak pr, harta ayah jatuh ke anak lelaki
Waris anak sulung
 Anak sulung laki-laki (lampung pepadun, bali, jayapura)

 Anak sulung harus tetap berada & berkedudukan di rumah ayahnya

 Di lampung anak sulung (punyimbang) tdk punya anak lelaki, ambil istri kedua agar
punya anak lelaki. Atau anak pr dijadikan lk dan kawin dg lk dr anak sdr lk terdekat
 Perkemb, semakin melemah, merantau, sdr lainnya minta hrt dibagi. Rmh klg sbg tempat
berkumpul
Anak sulung perempuan
 Di suku semendo (sumsel), disebut anak tunggu tubang, harta tdk dibagi
 Di suku dayak landak/tayan, disebut anak pangkalan
 Pd sk dayak kendayan, tergantung penunjukan org tua, bisa anak 1,2,3. Bagian terbanyak
anak pangkalan, kmdn anak bungsu, terus anak yg lain
 Perkembangannya, kedudukan anak pr sulung juga berubah, krn merantau, kawin dg
orang luar suku
Anak tiri
 Di jawa, anak tiri tdk berhak mewaris dari ortu tirinya
 Di lampung pepadun, anak tiri dapat mewaris, pd perkw levirat (perkw semalang): istri
dr anak punyimbang kawin dg sdr suami, kmdn anak suami ke-2 ini dijadikan tegak tegi,
caranya anak lk dr perkw ke-2 dikawinkan dg anak pr dr istri &suami (alm).
 Msh di lampung, punyimbang kawin dg istri kedua yg sdh punya anak lelaki, kmdn
diangkat anak oleh suaminya
Anak angkat mewaris
 Di lampung, anak angkat tegak tegi (menantu lk2 dr kerabat sendiri yg diangkat sbg
anak)
 Di madura dan using banyuwangi, anak angkat hanya mewaris dari orang tua angkatnya
saja
 Di jawa mewaris dari dua sumber

 Pts ma no.37 k/sip/1959 : anak angkat mewaris harta gono gini ortu angkatnya, thd brg
asal tdk berhak mewaris
 Di minahasa, anak angkat sama hak mewarisnya dg anak kandung, kecuali harta
kalakeran. Anak angkat dipecat, kemungkinan hak mewaris tdk dipecat, menyebabkan
sengketa dg anak kandung
Anak angkat tdk mewaris
 Di lampung, perkw ambil lelaki (ngakuk ragah), anak lk angkat tdk mewaris hrt ortu
angkatnya.
 Anak akuan, anak pancingan, anak piara, anak titip tdk mewaris dari ortu angkatnya

Ahli waris balu, janda, duda


 Balu, adalah lk/pr yang ditinggal mati pasangannya
 Kedudukan balu, dipengaruhi oleh sistem kekerabatan dr masy yg bersangkutan & bentuk
perkawinannya
 Sepeninggal pasangannya, balu tetap berkedudukan di kerabat suami/istrinya
 Ada juga yg dpt kembali pd kerabat asalnya
 Bebas tentukan kawin lagi atau tidak
Balu dlm sistem patrilineal
 Pd umumnya, janda bukan ahli waris suaminya, hanya menikmati sampai akhir hidupnya

 Di lampung dan batak , janda bisa kawin levirat (dng sdr suaminya)

 Jika kawin ke luar, janda tdk membawa apa-apa kecuali harta bawaan

Balu dlm sistem matrilineal


 Duda tdk mewaris dari istrinya yg meninggal
 Jika kawin ke luar, anak2 dan hrt warisan tetap tinggal di tempat istri di urus oleh mamak
kepala waris. Duda hanya bawa sebagian dari hrt pencariannya (hrt suarang)
 Pd lampung peminggir yg lakukan perkw semanda, istri meninggal, mk suami hanya
berhak sebagian dr hrt pencarian, jika tdk ada anak. Kalau ada anak, hrt jatuh kpd
anaknya semua. Lebih-lebih pd perkw semanda mati manuk mati tungu.
Balu pd sistem parental
 Yurisprudensi sebelum kemerdekaan, janda bukan ahli waris suaminya (kpts raad van
justitie batavia 25 mei 1939).
 Setelah kemerdekaan janda sbg ahli waris suaminya. Lihat pts ma no.387 k/sip/1958
(janda berhak separoh dr hrt gono-gini
 Di aceh, janda mewaris hrt pencarian & menguasai hrt pemberian (areuta peunulang)

 Di minahasa, janda bukan ahli waris suaminya, dkmn sebaliknya. Jika janda punya anak,
janda dpt separo hrt pencarian dan setengahnya dibagi untuk anak2nya
Penggolongan ahli waris :
 Ahli waris hubungan darah (anak, cucu, orang tua, kakek-nenek)
 Ahli waris hubungan hukum (istri /suami, anak angkat)
Utk tentukan ahli waris hub darah :
 Garis pokok keutamaan (gpk) : grs hk utk tentkan urutan2 keutamaan diantara klp2
keutamaan dlm klg pewaris, dg pedoman klp keutamaan urutan atas lebih utama drpd klp
keutamaan di bawahnya
 Grs pokok penggantian (bw:plaatsvervulling): grs hk utk tentukan siapa diantara org2
dlm klp keutmaan terttu yg tampil sbg ahli waris yg paling berhak dpt warisan
Penggolongan ahli waris :
 Ahli waris hubungan darah (anak, cucu, orang tua, kakek-nenek, dll)
 Ahli waris hubungan hukum (istri/suami, anak angkat)
Penentuan ahli waris hub darah :
 Garis pokok keutamaan (gpk): utk tentukan urutan2 keutamaan, diantara klp keutmn dlm
klg pewaris; dg pedoman klp keutmn urutan atas lebih utama drpd dibawahnya.
 Grs pokok penggantian (bw:plaatsvervulling) : utk ttk siapa yg tampil sbg ahli waris dlm
satu klp keutamaan tertentu.
Gpk pd masy parental (jawa,dll) :
1. Gpk i : keturunan pewaris
2. Gpk ii: orang tua pewaris
3. Gpk iii: sdr pewaris dan keturunanya
4. Gpk iv : kakek-nenek pewaris
5. Gpk v : sdr ortu pewaris (paman/tante pewaris dan keturunannya)
Gpk masyarakat patrilineal (misal batak karo-mnrt prof rehngena purba) :
1. Anak laki-laki
2. Ayah
3. Sdr laki-laki
4. Anak sdr laki-laki
5. Sdr laki-laki ayah
6. Anak sdr laki-laki ayah
7. Kakek
8. Sdr laki-laki kakek
Gpk masy matrilineal (minang) utk hrt pusaka (mnrt dr.chairul anwar, sh):
 Harta pusaka

1. Yg meninggal ibu, ahli waris (a.w. nya) adl a.w. nan dakek-
nya (a.w. yg dekat), yaitu anak2nya, kmdn cucu2nya , dst.
pr belum kawin, a.w.nya dan sanak kanduang (sdr kan-
dung).
tdk ada a.w. nan dakek a.w. nan jauah (ibu pewaris)sdr –
laki2/pr dari ibu pewaris.
2. Yg meninggal se-org laki-laki, a.w. nya adl a.w. nan dakek
nya yaitu dan sanak kanduang, sdr laki2 dan/ perempuan
yg seibu sebapak.
laki2 belum kawin, a.w.nya dan sanak kanduang (sdr kan-
dung).
Gpk masy matrilineal (minang) utk hrt pencarian (mnrt dr.chairul anwar, sh):
 Harta pencarian (harato suarang)

1. Semasa org tua masih hidup dihibahkan pada anak2nya


(dulu). Mnrt von benda beckman dan pts mahkamah agung tgl.
12 februari 1969 no. 39k/sip/1968: kemenakan bukan lagi
mewarisi harta pencarian.
2. Jika harta pencarian banyak, kemenakan terkadang
ingin dpt bagian harta pencarian.
3. Jika suami org kaya tdk punya anak, kemenakan akan meng-
gugat bagian harta pencarian yg skrg dpegang oleh istri
mamaknya.
Gpk masy matrilineal (minang) utk hrt pusaka (mnrt dr.chairul anwar, sh):
 Ahli waris yg dekat (warih nan dakek) dr grs ibu ( anak, cucu, dst). Dr grs lk blm kawin
(dan sanak kanduang : sdr lk/pr dr pewaris yg seibu sebapak)
 Ahli waris yg jauh (warih nan jauah) : jika pr mk a.w.nya : 1. Ibu, 2. Sdr lk/pr, 3.
Anggota dr lingk klg sedarah dr pewaris.
Gpk masy matrilineal hrt pencarian :
 Tergantung kemauan si pewaris semasa hidup.

 Kebanyakan semasa hidup telah dibihahkan pd anak2nya, anak2nya yg menjadi ahli


waris
 Jika harta warisannya banyak, anak kemenakan biasanya tidak tinggal diam, shg timbul
perselisihan. Lebih-lebih jika pewaris tdk punya anak.
Perkembangan hwa pd masy patrilineal :
 Pada masy batak:

 Putusan ma tgl.1 november 1961 no.179 k/sip/1961 : anak pr dan anak lk dr si peninggal
warisan bersama berhak atas harta warisan. Dlm arti bag anak lk sama dg anak pr.
 Di tingkat daerah/tanah batak putusan ma ini belum disetujui terutama org2 tua

 Peneltn meiliana lubis (2003) thd org batak di jkt : anak lk & pr, serta istri sbg ahli waris

Perkembangan hwa pd masy patrilineal :


 Pd masy bali:

 Keputusan pesamuan agung majelis utama desa pakraman (mudp) no.01/kep/psm-3/mdp


bali/x/2010 tgl 15 oktobrr 2010, ada 7 item, a.l:
 Suami & istrinya memp kedudukan yg sama thd harta guna kaya (harta perkawinan/ harta
bersama)
 Anak kandung (lk & pr) serta anak angkat (lk & pr) memp kedudukan yg sama thd harta
guna kaya ortunya
Perkemb pd masy matrilineal
• Dimulai dng kasus dokter mochtar tahun 1938. Dia tugas di bpm perlak dan punya fonds
bpm, saat cuti di minang dia meninggal ttp sdh buat srt wasiat bhw hartanya utk
anak2nya, ttp sdr grs ibu derajat lima di minang menggugat bhw mrk sbg ahli waris sah.
Bpm minta advis pd ter haar : krn sdh bermukim di luar minang, hub ortu dg anak erat,
mk berlaku anaklah ahli waris yg sah.
• Peneltn abdi saifullah (2003) thd orang minang di smg : anak adl ahli waris ortunya.
Yurisprudensi mahkamah agung
 Putusan ma tgl.16-9-1958 no.148 k/sip/1958 : bilamana seseorang lelaki kawin dgn lebih
dari seorang perempuan sedangkan ada pula lebih dari satu gono-gini, mk gono-gini itu
dipisahkan
 Putusan ma tgl.7-3-1959 no. 393 k/sip/1958 : telah menjadi yurisprudensi tetap dari ma
bahwa seorang janda mendapat separoh dari gono-gini.
 Putusan ma tgl 18-3-1959 no.391 k/sip/1958 : hak utk mengisi/menggantikan kedudukan
seorang a.w. yg lebih dahulu meningggal dari org yg meninggalkan warisan ada pd
keturunan dlm garis menurun.
 Putusan ma tgl.10-10-1959 no.141 k/sip/1959 : penggantian waris dlm garis ke atas juga
mungkin ditinjau dari rasa keadilan.
 Putusan ma tgl.23-8-1960 no.225 k/sip/1960 :

a. Hibah tdk memerlukan persetujuan a.w.


b. Hibah tdk mengakibatkan a.w. dari si penghibah tdk berhak lagi atas harta
peninggalan dari si penghibah
c. Hibah wasiat tdk boleh merugikan a.w. dari si penghibah.
Yurisprudensi mahkamah agung
 Putusan ma tgl.12 september 1979 no.681 k/sip/1975 (kasus di aceh) : karena harta
sengketa adl harta serekat /gono gini penggugat/istri dgn mendiang suaminya (ayah
tergugat), maka ia sbg istri mendapat ½ bagian ditambah satu bagian anak, menjadi ½ +
¼ = ¾ , sedang tergugat sbg anak mendapat ¼ bagian.
 Putusan ma tgl. 23 mei 1962 no.97 k/sip/1962 (kasus di bangil pasuruan) : dlm hal
seseorang meninggal dengan meninggalkan seorang janda (istri kedua) dan tiga orang
anak yg lahir dari istri pertama, mk brg gono-gini dengan istri kedua dibagi sbg berikut:
yg separoh utk janda tsb sbg haknya atas brg gono-gini sisanya dibagi sama rata antara
janda dan ketiga anak tsb.
 Jadi bag. Janda : 1/2 + 1/8 = 5/8 ; bag. Masing-masing anak : 1/8

 Putusan ma tgl. 15 maret 1990 no.3428 k/pdt/1985 : anak-anak yg berasal dr seorang


istri pertama mempunyai hak mewaris atas harta gono-gini (bagian) bapaknya yg
diperoleh dlm perkawinannya dg istri yg kedua, ketiga dan selanjutnya (dlm otje salman,
2002:188).
 Putusan ma tgl.26 juli 1986 no.741 k/pdt/1985 : mnrt hk adat, istri kedua tdk mempunyai
hak atas hrt gono-gini suaminya dng istri pertama, hrt tsb semata-mata merupakan hak
dari istri pertama beserta anak-anaknya
 Lihat pasal 65 (1) uu perkawinan : hrt bersama bagian masing-masing istri tdk dpt
bercampur.