Anda di halaman 1dari 18

)

Sejarah
Abad ke- 9 Pertama kali, kopi hanya ada di Ethiopia. Kemudian meluas sampai ke Afrika Utara dan mulai meluas dari Asia sampai pasaran Eropa. y abad ke-17 sekitar tahun 1646 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arabia ke Jakarta.
y

Perkebunan Kopi
y

Perkebunan kopi yang kami amati yaitu perkebunan milik Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP), Jawa Barat,Cibalagung. Lahan perkebunan kopi seluas 1Ha yang terdiri 3 macam jenis tanaman kopi yaitu kopi leberica, kopi robusta dan kopi colombia. Lahan yang kita amati yaitu lahan kopi jenis robusta

METODE PENGAMATAN Metode yang dipakai dalam mengambil contoh pohon dalam menentukan severitas penyakit adalah metode sistematik dengan pengamatan secara diagonal (X). Petakan 1
Robusta

Petakan 3
Columbia

Petakan 5
Liberica

Robusta Columbia

Liberica

Petakan 2

Petakan 4 Petakan 6

Penyakit yang terdapat di lahan kopi yaitu Penyakit Karat daun (Hemileia vastatrix) y Embun Jelaga y Antraknosa pada buah
y

Penyakit Karat daun (Hemileia vastatrix) vastatrix)


y

Tanaman sakit ditandai oleh adanya bercak bercak berwarna kuning muda pada sisi bawah daunnya, kemudian berubah menjadi kuning tua. Di bagian ini terbentuk tepung berwarna jingga cerah (oranye) yang merupakan uredospora cendawan H. vastatrix.

Bercak yang sudah tua berwarna coklat tua sampai hitam, dan kering. Daun daun yang terserang parah kemudian gugur dan tanaman menjadi gundul. Tanaman yang demikian menjadi kehabisan cadangan pati dalam akar akar dan ranting-rantingnya, akhirnya tanaman mati.

Severitas Penyakit adalah 28.1%

Uredospora

Karat Daun

Cara Pengendalian Penyakit Karat


 Cara

pengendalian penyakit karat yang dilakukan oleh petani kopi di STPP adalah dengan cara sanitasi.  Pengendalian yang disarankan selain sanitasi adalah dengan cara penanaman varietas tahan (varietas sigarar utang, S 795, andung sari 1), penggunaan musuh alami (PGPR dan Trichoderma harzianum), secara kultur teknis (menjaga kesehatan tanaman dengan pemupukan yang berimbang, pemangkasan dan pohon pelindung yang cukup), dan menggunakan fungisida yang telah dianjurkan.

Penyakit Embun Jelaga


y

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Capnodium sp. Miselium berwarna hitam, hanya terdapat di permukaan daun dan tidak masuk ke dalam jaringan. Cendawan hanya makan embun madu yang melekat pada daun untuk pertumbuhannya. Selaput hitam tipis pada permukaan daun terbentuk dari hifa yang saling menjalin dan akan terlepas atau pecah jika udara kering.

Selaput hitam yang terdapat di permukaan daun mengganggu proses fotosintesis. Cendawan berkembang cepat pada musim kemarau.

Gejala yang ditimbulkan oleh Capnodium sp. adalah pada permukaan daun terdapat lapisan seperti jelaga berwarna hitam (lapisan tersebut mudah dikelupas).

Severitas Penyakit 38.4%

Miselium

Embun jelaga

Pengendalian Embun Jelaga


Pemilik lahan tidak melakukan pengendalian khusus terhadap penyakit embun jelaga ini karena dinilai masih belum terlalu merugikan atau mencapai ambang ekonomi. y Pengendalian yang direkomendasikan adalah memberantas serangga penghasil embun madu dengan membuat sanitasi yang baik di sekitar pertanaman atau dengan pengaplikasian insektisida. Embun jelaga akan hilang jika serangga penghasil embun sudah tidak ada di pertanaman.
y

Penyakit Antraknosa pada Buah


Penyakit antraknosa pada buah kopi disebabkan oleh Colletotrichum sp. Patogen bisa menyerang buah yang masih hijau atau merah (buah yang sudah masak), daun dan batang. y Gejala diawali dengan muculnya bintik-bintik kecil kehitaman agak berlekuk pada buah yang masih hijau atau matang, bintik-bintik tersebut membesar dan memanjang semakin gelap, buah mengering, keriput dan mudah rontok. y Perkembangannya penyakit dapat terjadi pada suhu rendah dan memiliki kelembaban yang tinggi (banyak naungan). Penyebaran penyakit dibantu oleh angin dan air. y Severitas Penyakit adalah 27.5%
y

Konidia Colletotricum sp

Gejala Antraknosa

Pengendalian Antraknosa
Pemilik lahan juga tidak melakukan pengendalian khusus terhadap penyakit antaraknosa (hanya melakukan pembersihan gulma). y Pengendalian yang direkomendasikan adalah merontokan buah yang telah terserang, mengurangi kelembapan (mengurangi pohon naungan), pemupukan yang tepat atau berimbang, menggunakan musuh alami (seperti Trichoderma harzianum), dan menggunakan fungisida yang telah dianjurkan.
y

KESIMPULAN
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat beberapa penyakit yang sangat dominan menyerang pertanaman kopi di SPPP cibalagung antaranya antraknosa pada buah , embun jelaga pada daun, dan karat pada daun. Insiden penyakit antraknosa pada buah sebesar 100% dengan rata-rata severitas penyakit sebesar 27.5%. Insiden penyakit embun jelaga adalah sebesar 100% dengan rata-rata severitas penyakit sebesar 38,4%. Sedangkan insiden penyakit karat pada daun kopi sebesar 100% dengan rata-rata severitas 28.1%. Perkembangan penyakit kopi di SPPP cibalagung sangat cepat. Hal ini dikarenakan minimnya perawatan yang dilakukan oleh petani kopi di SPPP cibalagung.

TERIMA KASIH

Pertanyaan
ZAKARIAS y Serangga menghasilkan embun madu apakah ada serangga lain,,bagaimana aplikasi PGPR dan Trichoderma sp? Arif y Mengapa pengendalian embun jelaga memakai insektisida? Fitri y apakah Hemilia vastatrix mengambil nutrisi dari tanaman kopi selain pati?

Jawaban Pertanyaan
Ada, tetapi serangga dominan yaitu kutu daun. Aplikasi PGPR dengan cara perendaman benih dan penyemprotan pada tanaman, trichoderma dengan cara pencampuran pada tanah. y Insektisida digunakan untuk mengendalikan kutu daun penghasil embun madu yang menjadi substrat embun jelaga y Belum mendapatkan literatur mengenai nutrisi lain yang diambil oleh cendawan tersebut selain pati dari tanaman kopi.
y