Anda di halaman 1dari 10

Hukum Internasional Lotus Case

Kelompok : Mega Ekaputri (110110060031) Siswi Wulandari (110110060043) Indah Puji Rahayu (110110060044) Towy Aryanosa (110110060058) Mitha Mariza Putri (110110060059) Fitri Verawati (110110060067)

FAKTA HUKUM
1. Pada tanggal 2 Agustus 1926 kapal Lotus milik Perancis menabrak kapal Bozkourt pada jarak 5 mil diutara Tanjung Sigri (Laut Lepas). 2. Kapal Turki S.S Bozkourt tenggelam di laut lepas didaerah utara mytelene, dengan delapan korban jiwa kru kapal dan penumpang.

3.

Setelah peristiwa kecelakaan tersebut terjadi, pihak Prancis memiliki itikad baik untuk mengantarkan korban kecelakan tersebut ke pelabuhan Turki. Lotus berhasil menyelamatkan 10 awak Bozkourt, dan melanjutkan perjalanannya menuju Konstantinopel. Namun sesampainya di pelabuhan Turki, Officer on watch abroad M.Demons seorang warga negara Perancis dari Lotus dan Kapten kapal Bozkourt Turki yakni Hassan Bey yang ikut diselamatkan dari tenggelamnya kapal Turki tersebut, ditangkap oleh pemerintah Turki karena ia dianggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

4.

5.

6.

pada tanggal 3 Agustus dan 4 Agustus 1926, Konsulat Jendral Perancis menerima laporan dari Lotus. Perancis menyatakan keberatan karena peristiwa tersebut terjadi di laut lepas dimana kedaulatan suatu kapal ditentukan oleh bendera yang terpasang di kapal. Sehingga Turki tidak berhak mengadili secara sepihak officer on abroad M.Demons karena Prancis juga merasa memiliki kedaulatan diatas kapal miliknya. Pada tanggal 26 Oktober 1926, Perancis dan Turki sepakat untuk membawa masalah ini kehadapan PCIJ.

IDENTIFIKASI MASALAH
Apakah Turki melanggar ketentuan hukum internasional yaitu pasal 15 konvensi Laussane dengan menuntut M.Demons selaku Officer onboard ketika tabrakan terjadi?

Putusan Pengadilan
Pengadilan berdasarkan hasil Voting menyatakan bahwa Turki tidak melanggar ketentuan dari pasal 15 konvensi Lausanne 24 Juli 1923. Prinsip bahwa yurisdiksi eksklusif dari Negara Bendera tidak diterima secara universal.

Analisa kasus
1. Perancis berpendapat bahwa Turki tidak memiliki yurisdiksi untuk mengadili Demons karena dia adalah seorang warga negara Perancis dan pada saat kejadian itu negara benderanya adalah Perancis. Selain itu Turki merupakan peserta dari konvensi Lausanne yang apabila dilihat dari pasal 15 dapat diartikan bahwa jika terjadi masalah mengenai yurisdiksi antara Turki dan negara peserta lainnya maka hal ini akan diselesaikan dengan prinsip hukum internasional. Dilain pihak Turki dalam kasus ini melihat negaranya memiliki yurisdiksi berdasar pasal 15 konvensi Lausanne 1923 sehingga tidak bertentangan dengan prinsip hukum internasional.

2.

Hukum Internasional tidak membatasi yurisdiksi yang dijalankan oleh setiap negara kecuali jika pembatasan itu telah dibuktikan sebagai prinsip hukum internasional. Dalam kasus Lotus walaupun Perancis beragumen hal ini tidaklah menjadi yurisdiksi dari Turki karena negara bendera pada saat itu adalah Perancis namun pengadilan memutuskan karena prinsip ini belum diterima secara universal maka Turki dalam hal ini tidak melanggar hukum internasional yaitu pasal 15 konvensi Lausanne 1923.