Anda di halaman 1dari 37

ANASTESI UMUM DENGAN ETT NAFAS SPONTAN

Chritian DYR Meity A.P Pembimbing: dr. Noor Achmadi,SpAn

STATUS PASIEN
I. Identitas pasien Nama Usia Jenis kelamin Agama Alamat 14/8/ Jakarta No CM : 37 10 58 : 8 Mei 2011 : Nn. Eva Purwanita : 22 th : Perempuan : Islam : Jl. Cempaka Sari III/29 rt

Tanggal pemeriksaan

II. Anamnesis Keluhan utama Terdapat benjolan pada payudara kanan. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara kanan. Pasien pertama kali menyadari benjolan tersebut sejak 3 tahun yang lalu saat sedang mandi. Benjolan terdapat pada payudara kanan agak ke medial, kurang lebih 0,5-1 cm di sebelah puting susu. Benjolan teraba lunak, dapat digerakkan,kadang terasa nyeri saat ditekan, kemerahan(-) bengkak (-). Pada puting susu tidak ada kerutan, tidak keluar cairan

Riwayat keluarga Ibu pasien pernah menderita penyakit yang sama Riwayat Operasi dan Anastesi Operasi appendicitis dengan anestesi spinal, tidak ada mual muntah pascaoperasi, dan dirawat di ruang perawatan pascaoperasi. Riwayat Alergi - Alergi obat - Alergi dingin : disangkal : (+) - Alergi makanan (kacang kedelai, telur) : disangkal

iwayat Penyakit Dahulu Asma Penyakit Paru Penyakit Jantung Hipertensi Diabetes : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

Penyakit hati dan ginjal Riwayat kejang/pingsan

emeriksaan Fisik a. Status Generalis eadaan Umum : tampak sakit sedang esadaran TB B : compos mentis : 160 cm : 47 kg

MT (Indeks Massa Tubuh) = [47 / (1,6)2] = 18,35 (normal) Tanda-tanda vital

- Kepala

: normocephal, warna rambut hitam, mudah dicabut

distribusi merata, tidak - Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor 2 mm, - Telinga - Hidung hidung -/- Mulut gigi berlubang (-), gigi palsu (-), mallampati 1 - Leher : Massa (-), deviasi trakea (-), pembesaran bantu napas (-). KGB (-), retraksi otot : Sianosis (-), lidah kotor (-), gigi goyang (-), refleks cahaya +/+. : liang lapang +/+, serumen -/-, : deviasi septum (-), sekret (-), nafas cuping

- Tenggorokan : Faring hiperemis (-), T1-T1 tenang

- Thorax
- Inspeksi : Pergerakan simetris saat statis dan dinamis

- Palpasi : Fremitus taktil dan fremitus vocal simetris kanan dan kiri - Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru - Auskultasi: Vesikuler pada kedua lapang paru, Rhonki (-/-), Wheezing (-/-) - Jantung -Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak -Palpasi : Ictus Cordis teraba pada ICS V midclavicula sinistra -Perkusi : Batas atas : ICS III Linea parasternalis sinistra Batas kiri : ICS V linea midclavicularis sinistra Batas kanan : ICS V linea sternalis dextra -Auskultasi : BJ I dan II regular normal, murmur (-), gallop (-)

- Abdomen
- Inspeksi : Datar

- Auskultasi - Palpasi Lien tidak teraba - Perkusi

: Bising Usus (+) Normal : Supel, Nyeri Tekan (-), Hepar dan membesar : Timpani

- Ekstremitas : Akral hangat, edema -/-, CRT < 2 Status lokalis (mammae dextra) Teraba benjolan (+) pada kuadran bagian tengah agak ke medial, arah jam 03.00. Benjolan tersebut 0,5-1 cm dari papilla mammae, berukuran 2x1 cm dengan permukaan rata, konsistensi lunak, berbatas tegas, dan dapat digerakkan. Nyeri tekan (+), retraksi puting susu (-), discharge (-).

emeriksaan Penunjang

a. Laboratorium (8 mei 2011)

arah rutin

emoglobin : 12,8

(12 16 g/dL)

ematokrit : 39

(37 47 %)

ritrosit : 4,6

(4,3 6,0 juta/uL)

Kimia Ureum : 28 Creatinin : 0,5 Gula darah sewaktu : 90 (20 50 mg/dL) (0,5 1,5 mg/dL) (<140 mg/dL)

Bleeding time : 230 Clothing time : 430 SGOT : 10 SGPT : 21

(! 3 menit) (1 6 menit) (< 35 U/l ) (< 40 U/l )

b. Foto Thoraks Kesan : Cor dan Pulmo dalam batas normal c. USG Mammae - suspek FAM dekstra pkl 03.00, jarak 0,5 - 1 cm dari papilla mammae, (2 x1) cm. - KGB aksila tidak membesar d. EKG : Irama Sinus dalam batas normal. ukuran

Diagnosa Bedah Fibroadenoma Mammae Dekstra Diagnosis Anastesi ASA I Rencana Anastesi Anastesi umum dengan ETT nafas spontan Rencana Pembedahan Eksisi

aporan Anastesi

Pre Operasi :

ERSIAPAN ALAT dan BAHAN

nfus

- Infuse set dan cairan infus Ringer Laktat

- Abocath no 18

c. Seperangkat peralatan intubasi, seperti : - sarung tangan steril - Laringoskop - Sungkup muka no 5 - Spuit 20 cc - gel - ETT no 6 ,7,7 - Ambu bag - Magill forcep - Guedel - Stylet - plester

d. Mesin anestesi e. Monitor Elektokardiogram (EKG) f. Alat-alat monitor dan oksimeter g.Sfigmomanometer digital h.Suction

ERSIAPAN OBAT

- Premedikasi Midazolam 2 mg

: Fentanyl 100 mcg +

- Induksi

: Propofol 100 mg

- Relaksan

: Rocuronium 20 mg

- Obat anestesi O2 = 2 : 2 liter/

: Isoflurane 1 vol %, N2O : menit

PERHITUNGAN DOSIS DENGAN BERAT BADAN 47 KG


Midazolam : dosis 0,01 0,1 mg/kgBB (sedasi), pemberian 2 mg Fentanyl pemberian 100 g Propofol : dosis 2 2,5 mg/kgBB (induksi), pemberian 100 mg Rocuronium : dosis 0,6 mg/kgBB (dosis awal untuk intubasi), pemberian 20 mg (dosis minimal) Ondancentrone : dosis 2-4 mg (dosis untuk mualmuntah pascaoperasi), pemberian 8 mg Tramadol kemudian, : dosis 50-100 mg, dapat diulang 4-6 jam dosis maksimal 400mg/hari, : dosis 1 3 g/kgBB (suplemen anestesi),

PERSIAPAN PASIEN
1. Inform consent : bertujuan untuk memberitahu kepada pasien tindakan medis yang akan dilakukan kepada pasien, bagaimana pelaksanaannya, kemungkinan efek sampingnya. 2. Surat persetujuan operasi merupakan bukti tertulis dari pasien/keluarga pasien yang menunjukkan persetujuan akan tindakan medis yang akan dilakukan. 3. Pasien dipuasakan sejak pukul 00.00 (jam 12 malam), tujuannya untuk memastikan bahwa lambung pasien telah kosong sebelum pembedahan untuk menghindari kemungkinan terjadinya muntah dan regurgitasi lambung dan aspirasi yang akan membahayakan pasien. 4. Memakai pakaian operasi yang telah disediakan di ruang persiapan

5. Anamnesa, penting untuk mengetahui riwayat anestesi terdahulu, penyakit penyerta, kebiasaan seperti merokok, peminum alkohol, alergi atau tidak, serta apakah pasien dalam masa pengobatan. 6. Pembersihan wajah dan kuku pasien dari kosmetik agar tidak mengganggu pemeriksaan selama anestesi, misalnya bila ada sianosis. Bila ada gigi palsu sebaiknya dilepaskan agar tidak mengganggu kelancaran proses intubasi dan bila ada perhiasan sebaiknya dilepas, berikan kepada keluarga pasien. 7.Pemeriksaan fisik di ruang persiapan TD : 120/80 mmHg, Nadi : 84x/menit, Napas : 16x/ menit. Suhu : 36,70C

PELAKSANAAN ANESTESI (9 Mei 2011)


Di ruang operasi 1.Pukul 10.00 wib pasien masuk kamar operasi, kemudian di pasang infus pada tangan kiri pasien nomor jarum infus 18, dengan cairan Ringer Laktat 500 mL. 2.Monitor EKG, sfigmomanometer dan alat saturasi oksigen dipasang. 3.Pukul 10.40 wib diberikan midazolam 2 mg (IV) dengan tujuan untuk meredakan kecemasan dan ketakutan, lalu diberikan Fentanyl 100 mcg (IV) sebagai analgetik, dilanjutkan dengan propofol 100 mg (IV) dan Rocuronium 20 mg (IV).

4. Pukul 10.43 wib Setelah reflek bulu mata menghilang, pasien segera diberikan oksigen 6 liter/menit dengan menggunakan sungkup muka selama 3 menit. Dilanjutkan dengan intubasi menggunakan ETT no.7 non-kingking, cuff (+), guedel (+). Kemudian ETT disambung ke mesin anestesi dan diberikan bantuan nafas dengan cara memompa balon yang sudah terisi oksigen (frekuensi 12x/menit dan TV 300 mL (6-8 mL/kgBB)). Ini dilakukan selama 10 menit sampai timbul nafas spontan. Sebagai rumatan digunakan anestesi inhalasi isofluran 2 vol %, dan N2O : O2 = 2 : 2 liter/menit 5. Operasi mulai pukul 10.55 wib 6. Pada pukul 11.00 diberikan ondancentrone 8mg (IV)

7. Pada pukul 11.10 diberikan ketorolac 30mg (IV) 8. Pada pukul 11.15 diberikan propofol 20mg (IV) 9. Pada pukul 11.20 operasi selesai, isoflurane dimatikan, diberikan Dexametasone 10 mg (IV) dan reverse: prostigmin + Sulfas Atrophine = 1:1. Tekanan darah 105/71; Nadi: 62x/menit; RR: 10x/menit. Post Operasi Pasien tiba di ruang pulih sadar/ recovery room pukul 11.30, lalu diberikan oksigen dengan sungkup sederhana sebesar 6 liter/menit, kemudian dilakukan penilaian terhadap fungsi vital yaitu kesadaran compos mentis, tekanan darah 110/60 mmHg, Frekuensi nadi 60x/menit, frekuensi pernafasan 14x/menit.

Adapun penilaian dilakukan Aldrette score : Kesadaran Pernafasan Aktifitas Warna kulit Total score :2
+

:2 :2 :2 : 10

Tekanan darah : 2

Terapi Cairan
Berat badan 47 kg Kebutuhan cairan pasien perjam : 2cc/kgBB 2 cc x 47 kg= 94 cc/jam Lama puasa pasien 10 jam (dimulai pukul 24.00 sampai pukul 10.00) Lama puasa x kebutuhan/jam 10 jam x 94 cc/jam = 940 cc Stress operasi : operasi sedang (4 cc / kg BB) 4cc x 47 kg = 188 cc Kebutuhan cairan pada jam pertama 50% puasa+stress operasi+kebutuhan cairan/jam470cc+188cc+94cc = 752 cc Kebutuhan cairan pada jam kedua 25% puasa+stress operasi+kebutuhan cairan/jam235cc+188cc+94cc = 517 cc

Kebutuhan cairan pada jam ketiga 25% puasa+stress operasi+kebutuhan cairan/jam235cc+188cc+94cc = 517cc Kebutuhan cairan pada jam keempat stress operasi+kebutuhan cairan/jam 188cc+94cc = 282 cc Operasi berlangsung 25 menit Cairan yang diberikan (1jam 20 menit) : RL I 500 ml RL II (saat selesai operasi masih sisa 150 ml)

Pasien di observasi di Recovery Room selama 45 menit Tanda vital/waktu Kesadaran Tekanan Darah (mmHg) Frek. Nadi (x/menit) Frek. Nafas (x/menit) 15 menit I 15 menit II 15 menit (11.45) (12.00) III (12.15) Compos mentis 112/68 Compos mentis 120/80 Compos mentis 120/85

68 16

70 18

84 18

Pada pukul 11.45 diberikan Tramadol 100mg (drip) Pada pukul 12.20 dibawa kembali ke ruang perawatan bedah lantai 5 Keadaan umum Kesadaran : tampak sakit sedang

: kompos mentis

Penilaian terhadap fungsi vital : TD : 120/80 mmHg : 82x/menit,

Frekuensi nadi

Frekuensi pernafasan : 18x/menit

ANASTESI UMUM
Definisi Anestesia umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat pulih kembali (reversible). Komponen anestesia yang ideal terdiri dari sedasi, analgesia, dan relaksasi otot. Syarat utama melakukan anestesia umum ialah untuk menjaga agar jalan nafas selalu bebas, berjalan lancar, dan teratur. Metode anestesia umum dibagi menjadi 3, antara lain: Parenteral (IM atau IV) Per-rektal Inhalasi

Teknik Anastesia Umum 1. Anastesia Umum Intravena 2. Anastesia Umum Inhalasi : - Inhalasi Sungkup Muka - Inhalasi pipa endotrakea nafas spontan - Inhalasi pipa endotrakea nafas kendali 3. Anastesia Imbang Indikasi Anastesia Umum 1.Bayi & anak usia muda 2. Dewasa yang memilih anestesi umum 3. Pembedahannya luas / ekstensif 4.Penderita sakit mental 5.Pembedahan lama

6. Pembedahan dimana anastesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan 7. Riwayat penderita toksik/alergi anastesi lokal 8. Penderita dengan pengobatan antikoagulan. Evaluasi Pra Anastesia Tujuan : a.Mengetahui status fisik pasien praoperatif b.Mengetahui dan menganalisis jenis operasi c.Meramalkan penyulit yang mungkin akan terjadi selama operasi atau pasca bedah d.Mempersiapkan obat/alat guna menanggulangi penyulit yang diramalkan

Persiapan Anamnesis Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Laboratorium Konsultasi dan Koreksi terhadap kelainan fungsi organ vital. Masukan Oral Menentukan Prognosis Pasien Perioperatif Premedikasi Meredakan kecemasan dan ketakutan Memperlancar induksi anestesia Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus Meminimalkan jumlah obat anestetik Mengurangi mual-muntah pasca bedah Menciptakan amnesia Mengurangi isi cairan lambung Mengurangi refleks yang membahayakan

Komplikasi Anastesi Umum a. Selama Induksi Suntikan keluar dari vena Batuk dan spasme laring Sumbatan jalan nafas Muntah b. Selama operasi Gangguan airway (tanda sianosis) : depresi pernafasan, sumbatan jalan nafas, pangkal lidah jatuh kebelakang, kelaianan di dalam faring, spasme laring, dan bronkospasme. Tanda-tanda lain: kulit merah, panas dan berkeringat, tekanan darah meningkat, takikardia, frekuensi nafas cepat dan dalam, perdarahan yang difus dari luka operasi

Komplikasi sistem kardiovaskular Komplikasi saluran pencernaan Komplikasi lain: kornea mata luka karena masker/kap/duk operasi, kelumpuhan ekstremitas, gigi patah, mulut dan bibir terluka, kulit terbakar karena pemakaian diatermi, dan retensi urin TEKNIK ANASTESIA SPONTAN DENGAN PIPA ENDOTRAKEA Indikasi tehnik anastesi napas spontan dengan pipa endotrakea a. Pada Operasi di daerah kepala dan leher dengan posisi terlentang, berlangsung singkat dan tidak memerlukan relaksasi otot yang maksimal b. Kesulitan mempertahankan jalan nafas bebas pada anastesia dengan sungkup muka. Kontra Indikasi tehnik anastesi napas spontan dengan pipa endotrakea - Teknik ini tidak dianjurkan pada operasi intrakranial, torakotomi, laparotomi, operasi dengan posisi khusus

Obat anestesi yang digunakan


SEDASI MIDAZOLAM 2 mg Efek 2 menit setelah penyuntikan, dosis sedasi 0,01-0,1 mg/kgBB (IV) ANALGESIK Fentanyl 100 mcg Dosis 1-3 g/kgBB analgesinya kira-kira hanya berlangsung 30 menit INDUKSI Propofol 100 mg Dosis induksi 2-2,5 mg/kgBB. Dosis rumatan untuk anestesi intravena total 4-12 mg/kg/jam, dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2 mg/kg.

MUSCLE RELAXAN Rocuronium 20mg Dosis intubasi : 0,45 0,9 mg/kg i.v Dosis rumatan : 0,15 mg/kg bolus Onset : 1-2 menit Durasi kerja : 30-60 menit dosis normal Suksinilkolin ISOFLURANCE N2O Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi N2O : O2 yaitu 60% : 40%, 70% : 30%. Dosis untuk mendapatkan efek analgesik digunakan dengan perbandingan 20% : 80%, untuk induksi 80% : 20%,

Terima kasih