Anda di halaman 1dari 12

KARAKTERISTIK PERAIRAN ESTUARI (Studi kasus: Blanakan Kuadran 15 Stasiun 30 ) * Kelompok 6 ABSTRAK Estuari (aestus, air pasang), menurut

definisi yang dimodifikasikan dari Pritchard (1967) dalam Odum (1993), adalah suatu badan air pantai setengah tertutup yang berhubungan langsung dengan laut terbuka; jadi sangat terpengaruh oleh gerakan pasang surut, di mana air laut bercampur (dan biasanya bila diukur, lebih cair) dengan air tawar dari buangan air daratan. Contohnya muara sungai, teluk pantai, rawai pasang-surut, dan badan air di balik pematang pantai. Lingkungan estuari merupakan kawasan yang sangat penting bagi berjuta hewan dan tumbuhan. Pada daerah-daerah tropis seperti di lingkungan estuary umumnya di tumbuhi dengan tumbuhan khas yang disebut Mangrove. Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan genangan air laut yang kisaran salinitasnya cukup lebar. Pada habitat mangrove ini lah kita akan menemukan berjuta hewan yang hidupnya sangat tergantung dari kawasan lingkungan ini. Praktikum kali ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi karakteristik komponen biotik maupun abiotik yang terdapat di mangrove, di daerah Blanakan-Subang. Metode praktikum yang digunakan adalah dengan observasi langsung di lapangan pada hari Minggu, 13 November 2011 dan mengambil sejumlah sampel dari tiap stasiun, untuk pengambilan beberapa contoh organisme yang hidup di mangrove dan pengamatan kondisi lingkungan yang dilihat dari beberapa parameter, seperti parameter fisika, kimia, dan biologi.Parameter fisika yang diamati berdasarkan warna perairan, suhu, kedalaman, kecerahan perairan, dan tipe substrat. Organisme yang diambil dikategorikan berdasarkan kebiasaan hidupnya. Beberapa contoh organismenya adalah neuston, nekton, perifiton, plankton, dan bentos. Untuk parameter kimia diamati berdasarkan tingkat keasaman dan salinitas. PENDAHULUAN Ekologi Perairan membahas mengenai proses ekologis dalam lingkungan perairan, seperti aliran energi, daur materi, faktor pembatas perairan; struktur organisasi organisme perairan (populasi dan komunitas); ekosistem perairan yang meliputi tawar, estuari dan laut, perubahan dan suksesi ekosistem, pencemaran dan keanekaragaman hayati. Berdasarkan salinitasnya, ekosistem perairan dibagi menjadi ekosistem laut (17 35 ), ekosistem payau (0,5 17 ), dan ekosistem perairan tawar (< 0,5 ). Estuari merupakan daerah pantai semi tertutup yang mempunyai hubungan dengan laut terbuka sehingga dipengaruhi oleh pasang, dan di dalamnya terjadi percampuran antara air laut dan air tawar. Estuari dapat disebut sebagai daerah peralihan (ekoton) antara habitat laut dan habitat air tawar. Memiliki karakter fisik, kimiawi, dan biologis yang khas, didominasi oleh substrat berlumpur dan endapan kebanyakan merupakan bahan organik. Estuari memiliki karakter perairan yang khas karena salinitas yang berbedadi setiap titik di estuari. Sedikit organisme yang dapat bertahan hidup di perairan estuari karena diperlukan kemampuan osmoregulasi yang cukup. Hutan mangrove merupakan Tipe hutan tropika yang khas tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai, dipengaruhi oleh pasang air laut. Karena estuari didominasi oleh substrat berlumpur, hutan mangrove dapat tumbuh secara optimal di daerah perairan estuari. Mangrove mempunyai arti penting karena dapat memberikan bahan organik, sebagai daerah asuhan dan pemijahan biota perairan, perakarannya yang kokoh dapat meredam gelombang, menahan lumpur, dan melindungi pantai dari abrasi.
*

Diwa Perkasa (C54100071), Priska Widyastuti (C54100072), Fitrianti Sofyan(C54100042), Herry Ihsan (C54100030), Lucia Pamungkasih Santoso (C54100018) Di bawah bimbingan : Ferdi Gudtian Utama (C54090027)

Dikarenakan aspek-aspek terkait perairan estuari dan hutan mangrove memiliki karakteristik tersendiri, perlu adanya kajian mengenai perairan estuari dan hutan mangrove. Melalui praktikum lapang ke daerah Belanakan, Subang diharapkan dapat mengenali karakteristik perairan estuari di Belanakan, Subang serta parameter fisika, kimia, dan biologi dan mengetahui sebaran spesies pada hutan mangrove. BAHAN DAN METODE Observasi yang dilakukan di daerah Blanakan, Subang menggunakan beberapa bahan seperti lugol dan formalin. Bahan-bahan tersebut digunakan untuk mengawetkan spesimen yang diambil agar dapat dilakukan penelitian di lab. Lalu ada beberapa alat yang digunakan seperti transek kuadrat, paralon 3 inchi dengan panjang 2 meter, plankton net, secchi disk, termometer, saringan, ember 10 L, botol film 10 buah, karet, kamera, dan tali rapia. Semua alat tersebut digunakan untuk menunjang semua kegiatan yang berhubungan dengan observasi yang dilakukan di Blanakan. Pengamatan dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama dengan melakukan sampling di Belanakan Subang dengan mengacu kepada beberapa parameter. Lalu praktikan melakukan pengolahan data yang dilakukan pada Sabtu, 19-11-2011. Data hasil dari pengolahan data tersebut akan menjelaskan keadaan perairan estuari dari beberapa parameter. PENGAMBILAN SAMPEL DI LAPANG Pengambilan sampel di lapang pada tepatnya di mangrove di daerah Belanakan, Subang dengan cara membagi 3 daerah yang sebelumnya ditandai dengan luasan 30x10 m. Dengan luasan seperti itu praktikan membagi atas 3 daerah kecil lagi atau sub stasiun menjadi 10x10 m. Praktikan akan menghitung jumlah tanaman mangrove yang dibedakan atas pohon, anakan, dan semai. Pohon adalah tumbuhan mangrove yang memiliki tinggi lebih dari 1,3 m dan memiliki diameter batang lebih dari 12,5 cm. Anakan adalah tumbuhan mangrove yang memiliki tinggi lebih dari 1,3 m dan memiliki diameter batang kurang dari 12,5 cm. Sedangkan semai adalah tumbuhan mangrove yang memiliki tinggi batang jurang dari 1,3 m dan memiliki diameter batang kurang dari 12,5 cm. Semua jenis pohon tersebut hanya dibedakan atas ukurannya dan dibatasi oleh tali rapia saja. Warna perairan dapat dilihat dengan kasat mata dengan mengamati partikel-partikel yang terdispersi didalamnya. Setelah itu warna air perairan didapat dengan cara difoto menggunakan kamera. Kecerahan air di Blanakan, Subang diamati dengan menggunakan secchi disk. Secchi disk yang telah diberikan skala kedalaman dimasukan ke dalam perairan. Setelah itu perhatikan ketika secchi disk mulai tidak terlihat. Lalu catat kedalamannya. Kemudian tarik secchi disk secara perlahan. Ketika warna dan bentuk secchi disk mulai terlihat, catat kedamannya. Lakukan perulangan sebanyak 3 kali di dalam transek kuadrat dengan tempat yang berbeda. Suhu perairan estuari di Blanakan, Subang diukur dengan menggunakan termometer. Perulangan pencatatan termometer sebanyak 3 kali di dalam wilayah transek yang telah ditentukan. Namun dilakukan di tempat yang berbeda walaupun masih di dalam transek yang sama. Kemudian catat hasil yang didapat dari semua perulangan. Kedalaman air dapat ditentukan menggunakan paralon 3 inchi yang telah diberi skala kedalaman. Paralon hanya dibiarkan tenggelam dengan posisi vertikal tanpa diberi adanya gaya dorong dari praktikan. Catat kedalamannya melalui skala. Lakukan sebanyak 3 kali di wilayah transek kuadrat, namun di tempat yang berbeda. Benthos diambil dengan menggunakan paralon 3 inchi yang telah dicelupkan ke parairan. Perhatikan substrat yang terangkat apakah terdapat organisme benthos yang terambil atau tidak. Catat jenisnya lalu simpan kembali menuju perairan. Plankton diambil dengan menggunakan ember 10 liter sebanyak 10 kali ke dalam plankton net. Plankton yang tersaring oleh plankton net tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol film lalu diberi formalin untuk mengawetkan spesimen tersebut. Perifiton diambil dengan melalui substrat

yang ada di dasar perairan kemudian dikerik menggunakan sikat gigi dan dicampur dengan aquades di dalam botol film. Hasil kerikan yang dicampur dengan akuades dimasukan ke dalam botol film lalu diberi larutan formalin untuk diawetkan. Nekton diambil dengan menggunakan serok/sair yang diserokan masih di dalam wilayah transek kuadrat. Perhatikan nekton yang tersaring lalu masukan ke dalam botol film. Neuston diambil dengan memperhatikan permukaan perairan yang masih di dalam transek kuadrat. Jika ada organisme yang hidup ambil dengan menggunakan serok/sair. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH. Sampel air yang diambil dari perairan Blanakan, Subang diukur derajat keasamannnya dengan menggunakan kertas pH. Kertas pH menunjukan bahwa Blanakan, Subang memiliki pH 6. Lalu dilakukan pengukuran salinitas perairan estuari dengan menggunakan refraktometer. Nilai salinitas dapat dilihat setelah contoh perairan yang telah diambil dioleskan pada salah satu ujungnya lalu dilihat dengan cara diteropong menghahadap cahaya matahari. Lihat nilai salinitas yang satu garis dengan skala nilainya. Analisis Laboratorium dan Data Praktikan melakukan analisis dengan menggunakan laboratorium Bima 1 pada pukul 10.00 sampai dengan 12.00 WIB. Pengamatan dilakukan dengan mengamati kelimpahan beberapa organisme seperti benthos, perifiton, plankton, nekton, dan neuston. Serta melakukan pengamatan fisik perairan lingkungannya dengan menggunakan rumus-rumus yang sudah disediakan. Pengamatan secara biologi dilakukan dengan mencari jenis organisme dengan contoh organisme yang dijelaskan di buku sebagai referensinya. Sehingga diharapkan dengan mencari jenis organisme, praktikan dapat mengetahui beberapa jenis organisme. Selanjutnya untuk pengamatan lainnya menggunakan rumus-rumus yang digunakan untuk mengolah data yang telah didapat pada saat pengamatan di Belanakan. Adapun rumus-rumusnya sebagai berikut: Parameter Fisika Kecerahan Kecerahan (cm) =

( d 1 d 2) 2

Keterangan : d1 : kedalaman saat secchi disk tepat menghilang d2 : kedalaman saat secchi disk terlihat kembali Kecepatan arus V=

S t

Keterangan : V : kecepatan arus (m/s) S : jarak yang ditempuh (m) t : waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak (s) Parameter Biologi: Kelimpahan Plankton Ni =

Oi Vr 1 N Op Vo Vs UP

Keterangan : Ni : Kepadatan plankton jenis ke-i 2 Oi : Luas gelas penutup (mm )

Op Vr Vo Vs N U P

: Luas penampang pandang (mm ) : Volume botol contoh (ml) : Volume 1 tetes air contoh (ml) : Volume air yang disaring pada plantonet (100L) : Jumlah plankton yang tercacah : Ulangan : Jumlah lapang pandang

Kepadatan Perifiton Ni =

Oi Vr 1 N Op Vo As UP

Keterangan : Ni : Kepadatan plankton jenis ke-i 2 Oi : Luas gelas penutup (mm ) 2 Op : Luas penampang pandang (mm ) Vr : Volume botol contoh (ml) Vo : Volume 1 tetes air contoh (ml) 2 As : Luas kerikan (cm ) N : Jumlah plankton yang tercacah U : Ulangan P : Jumlah lapang pandang Kepadatan Bentos X=

n . m

Keterangan : 2 X : Kepadatan bentos (ind/m ) n : Jumlah individu per satuan alat 2 : Luas bukaan mulut alat (m ) m : Jumlah ulangan Penganalisaan pohon mangrove itu menggunakan nilai indeks penting. Nilai indeks penting digunakan untuk menjelaskan pengaruh atau peranannya dalam suatu komunitas mangrove. Rumusnya adalah: INP = RDi + RFi + Rci Ket: INP = Indeks nilai penting RDi = Kepadatan individu per satuan luas RFi = Frekuensi relatif jenis RCi = Penutupan relatif jenis a. Kerapatan Jenis (Di) Di =
ni A

Keterangan : ni = tegakan jenis ke-i A = luas total plot Kerapatan Relatif Jenis Perbandingan antara jumlah individu jenis ke-i dan jumlah total individu seluruh spesies (RDi) RDi =
Di n

x 100%

Keterangan : ni = tegakan jenis ke-i n =jumlah total tegakan seluruh jenis b. Frekunsi Jenis (Fi)

Fi =

Pi P

Keterangan : Pi = jumlah plot di mana ditemukan jenis i P = jumlah total plot yang diamati Frekuensi Relatif Jenis Rfi =
Fi F

x 100%

Keterangan : Fi = Frekuensi jenis ke-i F = jumlah frekuensi untuk seluruh jenis c. Penutupan Jenis (Ci) Ci =
BA A
2

BA = .DBH /4 . cm2/pohon Keterangan : = 3,14 DBH = diameter batang pohon jenis i A = Luas plot total Penutupan Relatif Jenis RCi =
Ci Ci

x 100%

Keterangan : Ci = Luas area penutupan jenis ke-i Ci = Luas total area penutupan seluruh jenis

Hasil dan Pembahasan Lingkungan Periarian Parameter Warna perairan Tipe substrat Suhu Kecerahan Kedalaman Ph Salinitas Densitas
o

Fisika

Unit C m m o /oo 3 gram/cm

Kimia

SS 1 Hijau kecokelatan Lumpur halus 29 0,15 0,073 7 9 1,005

SS 2 Hijau kecokelatan Lumpur halus 28 0,08 0,075 7 9 1,005

SS3 Hijau kecokelatan Lumpur halus 29 0,10 0,079 7 9 1,005

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di hutan mangrove yang berada di Belanakan, Subang dapat diketahui secara langsung bahwa warna perairannya adalah hijau kecokelatan. Warna ini berkaitan dengan komposisi meteri organik dan anorganik yang terkandung di dalamnya serta kadar fitoplankton yang banyak sehingga mengakibatkan warna perairannya menjadi hijau. Peranan estuari dikenal sebgai daerah atau wilayah perairan yang subur dan mempunyai produktifitas yang tinggi sebagai pendukung fitozooplankton. Perairan estuari merupakan perangkap nutrien yang menyebabkan prodikfitasnya tinggi dan subur sehingg merupakan daerah asuhan atau nursery ground berbagai jenis organisme (Odum, 1971). Tipe substrat subsrat pada perairan ini berupa lumpur yang sangat halus. Tipe lumpur yang sangat halus dikarenakan akumulasi sedimen yang terbawa dari sungai yang membawa substrat halus dari hilir sungai. Muatan run off yang membawa lumpur memberikan kesuburan tanah dan hutan menjadi produktif. Suhu diukur setelah perairan diamati, berdasarkan hasil pengukuran suhu dengan o menggunakan termometer didapat kisaran suhu perairan tersebut adalah 28-29 C. o Mangrove tumbuh pada kondisi dareah tropik di mana suhu udaranya lebih dari 20 C (Kennish, 1990). Pada umumnya suhu yang cocok bagi produksi daun mangrove adalah suhu rata-rata daerah tropis (Weich, 1980). Suhu ideal yang menopang kehidupan berbagai organisme di perairan estuari tersebut membuat laju fotosintesis dan pertumbuhan fitoplankton meningkat pula dengan meningkatnya suhu. Sehingga banyak fitoplankton yang hidup di sekitar perairan estuari tersebut. Pengukuran derajat keasaman (pH) dilakukan pada permukaan perairan, hasil yang didapat yaitu sebesar 7. Menurut Weich 1980 perairan yang produktif berada pada kisaran 7,5-8,5. Sehingga dapat disimpulkan perairan tersebut mendekati produktif dan cukup baik untuk menunjang berbagai kehidupan organisme perairan estuari tersebut. Salinitas yang o didapat berdasarkan pengamatan adalah 9 /oo. Mangrove dapat hidup dan tumbuh di daerah o estuaria dengan kisaran salinitas antara 10-30 /oo dan mangrove dapat tumbuh secara o optimal pada salinitas 28-34 /oo (Reynold, 1990). Kedalaman dilakukan setelah masuk ke perairan dan didapat kisaran antara 0,68 0,74 meter. Variasi kedalaman antar substasiun dikarenakan tipe substrat yang berupa lumpur sehingga kontur kedalaman bervariasi. Namun topografinya relatif sama antar substasiun. Hal ini berbeda seperti danau yang mempunyai stratifikasi suhu yang berbeda jika mendekati tengah perairan. Kecerahan yang didapat pada saat pengamatan berkisar antara 0,08 - 0.12 meter. Nilai kecerahan berpengaruh pada penetrasi cahaya yang masuk sehingga kemampuan fitoplankton untuk berfotosintesis pun hanya sekitar permukaan saja.

Berdasarkan pengamatan pengukuran beberapa parameter baik fisika maupun kimia dapat dikatakan bahwa kondisi perairan estuari tersebut cukub baik untuk menopang berbagai kehidupan organisme di dalamnya. Karena untuk mencapai kondisi yang sangat optimal masih belum cukup syarat untuk mencapainya. Biologi Perifiton Spesies Diatomae Polycystis 4962 Oscillatoria 0 Spirogyra 7443 Zygnema 14885 Total 2481 9923 2481 2481 2481 4962 4962 0 SS1 9923 SS2 2481 SS3 2481

Perifiton

37213

14886

19847

Perifiton
40000 30000 20000 10000 0 SS1 (Ind/L) SS2 (Ind/L) SS3 (Ind/L) Grafik diatas memberikan informasi bahwa kelimpahan perifiton terbanyak perairan 2 payau di Blanakan Subang terdapat pada SS1 yaitu sebesar 37213 ind/cm selanjutnya, komposisi terbesar setelah SS1 adalah SS3 yaitu sebesar 19847 ind/L, sedangkan yang kelimpahan terendah terdapat pada SS2 yaitu sebesar 14886 ind/L. Dari tabel diatas terlihat bahwa kelimpahan dan komposisi peryphiton terbesar ada pada SS1 dibandingkan dengan sub satasiun lainnya. Hal ini dikarenakan substrat yang terdapat di SS1 didominasi oleh substrat kasar dan berat yang merupakan tempat bagi peryphiton untuk menempel. Keberadaan substrat pada SS3 diperkirakan berasal dari pohon mangrove yang berada dekat dengan SS2 seperti sisa batang, daun, dan ranting jatuh yang terbawa air. Kecerahan berpengaruh pada kemampuan perifiton untuk berfotosintesis dan sekaligus sebagai sumber makanan dan penyedia oksigen bagi organisme lainnya. Semakin besar tingkat kecerahan maka semakin banyak kelimpahan perifiton. Karena SS2yang lokasinya berada di perairan yang memiliki kecerahan yang kecil dibandingkan sub stasiun lainnya, hal ini berpengaruh pada komposisi fitoplankton (ketersediaan makanan bagi perifiton) pada daerah tersebut. Kelimpahan perifiton pada daerah tersebut akan lebih kecil

jika dibandingkan dengan kedua substasiun yang lain. Ha ltersebut dikarenakan kelimpahan plankton dan ketersediaan matahari yang rendah pada daerah tersebut.

Plankton Spesies Fitoplankton Amphora Aphanizomenon Nitzschia pungens Nitzschia seriata Nitzschia sigma Merismopedia Tabellaria Total Zoopalnkton Chromogaster Keratela Ploesoma Spirostomun Synchaeta Total SS1 (Ind/L) 298 0 496 0 99 198 595 1686 0 298 99 0 198 SS2 (Ind/L) 0 198 99 0 794 99 298 1488 198 0 0 198 99 SS3 (Ind/L) 198 99 99 298 695 99 396 1884 0 99 0 0 298

595

495

397

Zooplankton
700 600 500 400 300 200 100 0 SS1 (Ind/L) SS2 (Ind/L) SS3 (Ind/L)

Fitoplankton
2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 SS1 (Ind/L) SS2 (Ind/L) SS3 (Ind/L)

Fitoplankton

Dari tabel dan penyajian grafik di atas jumlah kelimpahanfitoplankton terbesar berada pada SS3 yaitu sebesar 1884 ind/Lsedangkan yang terkecil berada pada SS2 yaitu sebesar 1488 ind/L.Untuk zooplankton kelimpahan terbesar berada pada SS3 sebesar 298 ind/L sedangkan yang terkecil berada pada SS2 sebesar 99 ind/L. Kelimpahan fitoplankton lebih besar dibanding kelimpahan zooplankton. Perbedaan komposisi ini berhubungan dengan tingkat kecerahan, suhu, kedalaman, dan pH perairan. Kecerahan sangat penting dalam perairan karena berkaitan erat dengan proses fotosintesis fitoplankton dan tanaman air lainnya. Penetrasi sering kali dihalangi oleh zat terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa. Kekeruhan terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap dan sering kali penting sebagai faktor pembatas, sedangkan bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas (Odum, 1971). Perlu diingat bahwa semakin dalam suatu perairan maka semakin sulit bagi cahaya untuk menembus kedalaman perairan, sehingga proses

fotosintesis hanya terjadi pada kedalaman tertentu (Reid, 1961). Itulah sebabnya mengapa kelimpahan plankton di SS3 palingbanyak dari pada substasiun substasiun lainya. Benthos Spesies Rhynchonescella Bentos Torrea candida Cavolinia inflexa Total SS1 2 (Ind/ cm ) 11,11 0 0 11,11 SS2 2 (Ind/ cm ) 0 0 11,11 11,11 SS3 2 (Ind/ cm ) 0 11,11 0

11,11

Benthos
12 10 8 6 4 2 0 SS1 (Ind/ cm2) SS2 (Ind/ cm2) SS3 (Ind/ cm2) Benthos

Bentos adalah organisme yang hidup pada permukaan atau di dalam substrat dasar perairan yang meliputi flora (fitobentos) maupun fauna (zoobentos). Habitat organisme ini di dasar perairan dapat berada di permukaan substrat dasar (epifauna) atau di dalam substrat dasar (infauna) (Goldman and Horne, 1983). Dari grafik diatas dapat dilihan bahwa kepadatan bentos pada setiap sub stasiun 2 sama yaitu 11,11 Ind/ cm . Hal ini dikarenakan tipe substrat yang sama dan kedalaman yag tidak terlalu berbeda pada setiap sub stasiun. Bentos hidup relatif menetap sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungankarena selalu mengalami kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Bentos juga merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar atau hidup di dasar endapan terlebih lagi dari tipe cara makannya dibagi menjadi dua, yaitu tipe penyaring dan tipe pemakan deposit atau sisa sisa (Odum, 1971). Nekton dan Neuston

Pada percobaan kali ini tidak ditemukan nekton, hal ini diakibatkan karena kadar oksigen yang rendah sehingga tidak adanya nekton yang dapat hidup di lingkungan pengamatan.

Tumbuhan Air

Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan di dalam air dan berfungsi sebagai produsen penghasil energi. buhan air dapat dikelompokkan menjadi terrestrial plants (tumbuhan air yang seluruh organ tubuhnya belum tertutup oleh air), emerged plants (tumbuhan air yang akarnya berada dalam air dan bagian lainnya berada di permukaan air), floating plants (taumbuhan air yang bagian akar dan batangnya berada dalam air, sedangkan daunnya mencuat ke permukaan air), dan submerged plants (tumbuhan air yang seluruh bagiannya berada dalam air) (Odum, 1998). Di setiap substasiun tidak ditemukan tumbuhan air. Hal tersebut dikarenakan kadar oksigen yang diprediksi rendah akibat mangrove tersebut adalah buatan. Sehingga pasang surut yang mengakibatkan perpindahan oksigen dari laut hanya berpengaruh sedikit. Akibat daerah sekitar yang dominan dikelilingi oleh daratan.

Ekosistem Hutan Mangrove Indeks Nilai Penting (INP)

No 1 2

Spesies Avicennia Rhizophora

Rdi
95,3488 9,3

Rci
0,9954 0,0046

RFi
24,998 75,0018

INP
121,3422 84,3064

Keterangan

Spesies mangrove yang paling mendominasi di Blanakan Subang adalah Avicennia marina. Dari tabel di atas kita dapatkan bahwa Avicenia mempunyai peranan yang penting bagi komunitas hutan mangrove Blanakan, Subang. Pohon Avicennia mempunyai INP sebesar 297 dan anakan sebesar 213. Avicennia banyak mendominasi di zona ini karena avicennia mampu beradaptasi dengan lingkungan mangrove yang sering mengalami perendaman oleh air laut karena letaknya yang dekat dengan laut. Avicenniamempunyai adaptasi yang tinggi dengan perakarannya. Hal ini dapat membantu spesies ini dalam mengikat sedimen dan mempercepat proses daratan.
Interaksi Antara Komponen Abiotik dengan Biotik Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi. Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru. Sebagai suatu ekosistem mangrove yang terdapat pada Blanakan, Subang memiliki komponen-komponen sebagaimana ekosistem lain yaitu komponen biotik dan abiotik. Secara umum, pada ekosistem perairan komponen biotik yang berperan adalah tumbuhan hijau (produser), bermacam-macam kelompok hewan (konsumer) dan bakteri (dekomposer). Komponen abiotik meliputi unsur dan senyawa baik organik maupun anorganik dan parameter lingkungan berupa temperatur, oksigen, nutrien dan faktor fisik lain yang membatasi kondisi kehidupan. Komponen-komponen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.

Keterkaitan antar komponen-komponen tersebut sangat erat sehingga perubahan salah satu komponen tersebut dapat berakibat pada berubahnya kondisi ekosistem. Keseimbangan ekosistem akan selalu terjaga bila komponen-komponen tersebut tetap berada pada kondisi stabil dan dinamis. Indikator kesetabilan itu dapat dilihat berdasarkan besarnya keanekaragaman hayati (biodiversity) yang merupakan unsur biotik dalam suatu ekosistem. Interaksi Antara Komponen Biotik Penyusun Ekosistem Perairan Interaksi komponen biotik pada rantai makanan perairan estuari berupa detritus food chain. Hal itu dapat terlihat dari sumber makanan utamanya berupa serasah oleh vegetasi mangrove. Produksi serasah yang merupakan bahan-bahan organic yang terhanyut dari ekosistem bakau ke dalam perairan sekitarnya. Kemudian bahan-bahan organik tersebut akan diuraikan oleh bakteri dan protozoa membentuk detritus dan nutrien. Detritus dan nutrient ada yang hilang ke muara, ada yang dimanfaatkan fitoplankton dalam proses fotosintesis, dan ada juga yang langsung dimanfaatkan oleh ikan-ikan pemakan detritus, kerang-kerangan, dsb. Zooplankton berperan penting dalam proses pemindahan energi, karena zooplankton adalah penghubung antara fitoplankton dan organisme lainnya dalam perairan mangrove (Odum,1998). Kesimpulan Ekosistem hutan mangrove adalah ekosistem hutan trofik yang sangat khas dimana tumbuhan mangrove yang tumbuh dapat hidup di daerah yang memiliki salinitas.Berdasarkan pembahasan maka karakter dari perairan payau di Blanakan adalah mempunyai nilai kekeruhan yang tinggi, salinitas yang berubah-ubah, pH normal, substrat lumpur, perairan dangkal. Faktor pembatas terpenting dari perairan payau adalah salinitas (Odum 1998). Sedangkan pada ekosistem mangrove di Blanakan Subang, yang paling mendominasi adalah Avicennia spp. Karena Avicennia dapat beradaptasi dengan perubahan salinitas, substrat berlumpur dan mampu menahan sedimen di dasar perairan. Rantai makanan yang terdapat pada estuari adalah rantai makanan detritus, yang awalnya bahan organik dari serasah daun vegetasi mangrove diuraikan oleh detritus. Selain itu nutrien juga diperoleh melalui air sungai dan air laut yang bertemu.

Daftar Pustaka Odum, E.P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. Fourth Edition. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Nybakken, J. N. 1986. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologi. (Terjemahan M. Eidman, Koesoebiono dan D.G. Bengen). Penerbit PT. Gramedia. Jakarta. 459 hal.