Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS KUALITAS AIR

Carissa Paresky Arisagy


12 / 334991 / PN / 12981
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Intisari
Kualitas air merupakan bagian terpenting dalam pengelolaan sumberdaya air. Kualitas air
dalam hal ini mencakup faktor-faktor fisik, kimia, dan biologi. Faktor-faktor tersebut
mempengaruhi ketersediaan air untuk kehidupan manusia, perikanan, pertanian, industri,
rekreasi, dan pemanfaatan lainnya. Praktikum analisis kualitas air ini dilaksanakan di kolam
Jurusan Perikanan UGM serta di danau Lembah UGM pada tangga 2 November 2013. Tujuan
praktikum ini adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan (kualitas) perairan di kawasan
kolam Jurusan Perikanan dan danau Lembah UGM berdasarkan parameter fisika, kimia dan
biologi. Metode yang digunakan adalah pengamatan dan pengambilan data parameter fisik,
kimia, dan biologi yang terbagi dalam dua lokasi yaitu danau dan kolam. Kondisi periran
yang paling baik adalah perairan danau, sebab nilai-nilai parameter danau cenderung lebih
optimum dibandingkan dengan kolam.

Kata kunci : biologi, danau, fisik, kimia, kolam, kualitas

PENDAHULUAN
Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan
suatu kegiatan atau keperluan tertentu. Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan
untuk kepentingan hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Sumberdaya air
harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik. Oleh manusia dan makhluk
hidup lainnya. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana
dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Memperhatikan dan menyadari pentingnya sumberdaya air, maka dirasa perlu untuk
dilakukan peningkatan pemahaman mengenai kualitas air melalui praktikum Limnologi
Analisis Kualitas Air.
Danau adalah suatu badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan
memiliki kualitas air tertentu yang beragam dari suatu danau ke danau lain, serta mempunyai
produktivitas biologi yang tinggi (Satari, 2000). Kualitas air dalam hal ini mencakup faktor-
faktor fisik, kimia, dan biologi. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi ketersediaan air
untuk kehidupan manusia, perikanan, pertanian, industri, rekreasi dan pemanfaatan lainnya
(Asdak, 1995). Pengaruh kualitas air sangat besar bagi kehidupan organisme perairan. Selain
itu, kualitas air juga berpengaruh pada siklus hidup dari organisme yang ada di lingkungan.
Adanya kondisi yang kurang baik pada keadaan kualitas air akan dapat memperlama siklus
hidup dari organisme yang bersangkutan (Odum, 1993). Faktor lingkungan yang berperan
aktif dalam menunjang kehidupan dalam air menurut Sumawidjaja (1990) adalah faktor fisik,
kimia, biologi. Di dalam usaha perikanan, manajemen kualitas air diperlukan untuk mencegah
aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh merugikan terhadap kualitas air dan produksi
ikan (Widjanarko, 2005).
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum analisis kualitas air yakni untuk
mengetahui kualitas air kolam Jurusan Perikanan dan danau Lembah UGM. Di samping itu,
praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara pengambilan sampel untuk diuji kualitas
airnya. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui hubungan antar parameter
kualitas air.

METODOLOGI
Praktikum analisis kualitas air ini dilakukan di dua tempat yang berbeda, yaitu kolam
Jurusan Perikanan serta danau Lembah UGM, pada tanggal 2 November 2013. Praktikum inin
dilaksanakan sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Adapun alat yang digunakan
pada praktikum kali ini meliputi termometer, secchi disk, pipet tetes, erlenmeyer, pH meter,
botol oksigen, kertas label, pipet ukur, kempot, ember, botol film, sedgwick rafter, mikroskop,
plankton net, plastik, botol air mineral dan gelas ukur. Sementara bahan yang digunakan
antara lain larutan KI alkalin, MnSO
4
, H
2
SO
4
, Na
2
S
2
O
3
, NaOH, indicator amilum, indikator
MO, reagen oksigen, indicator phenolpthelein, formalin 4% dan aqudest.
Parameter yang diamati pada praktikum kali ini meliputi parameter fisik, kimia dan
biologi. Parameter fisik meliputi TSS, kecerahan, suhu air, dan suhu udara. Pengamatan
parameter kimia meliputi DO, CO
2
bebas, pH, alkalinitas, BOD
5
serta BO. Sedangkan
pengamatan parameter biologi meliputi densitas dan diversitas plankton.
Prinsip kerja dalam praktikum analisis kualitas air ini adalah dengan pengamatan,
pengukuran serta pehitungan secara langsung terhadap parameter-parameter perairan.
Pengukuran suhu dan pH dilakukan secara langsung dengan menggunakan termometer dan
pH meter. Pengukuran kecerahan dilakukan dengan pengukuran dengan menggunakan secchi
disk.kecerahan ditentukan dengan rumus

. Kandungan O
2
terlarut (DO) ditentukan dengan
menggunakan metode Winkler dengan rumus,

(mg/l).
Pengukuran TSS dilakukan dengan pengambilan sampel. Pengukuran CO2 bebas dilakukan
dengan metode alkalimetri dengan rumus

(mg/l). Alkalinitas
ditentukan melalui titrasi dan dilakukan perhitungan dengan rumus CO
3
2-
+ HCO
3
-
di mana

dan

BOD
5

diukur dan ditentukan dengan menganalisis BOD
0hari
serta BOD
5hari
. BOD
5
ditentukan dengan
rumus

di mana b merupakan volume titran BOD


5hari
dan a
merupakan volume titran BOD
0hari
. Pengukuran densitas dan diversitas plankton dilakukan
dengan metode pengambilan sampel yang kemudian diamati dengan bantuan sedgwick rafter
dan mikroskop.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum kali ini dilaksanakan di dua lokasi pengamatan, yaitu kolam Jurusan
Perikanan UGM serta danau Lembah UGM. Kondisi lingkungan kolam Jurusan Perikanan
UGM tampak rapi dan hijau di sekelilingnya, sebab ditumbuhi beberapa vegetasi seperti
pohon dan rerumputan yang tertata rapi. Kolam perikanan yang digunakan dalam praktikum
kali ini merupakan kolam semi intensif dimana kolam tersebut dasarnya masih berupa tanah
alami sementara dindingnya sudah berupa bangunan permanen dari semen. Air dalam kolam
tersebut tampak berwarna hijau dengan bagian dinding yang sedikit ditumbuhi lumut. Dalam
kolam tersebut tampak terdapat beberapa organisme-organisme seperti siput/keong, katak, dan
jangkrik. Kolam perikanan ini mendapat suplai air dari selokan Mataram. Kondisi danau
Lembah tampak jauh berbeda dibandingkan dengan kondisi kolam Jurusan Perikanan. Danau
Lembah UGM tampak lebih asri, di mana pada lingkungan sekitarnya ditumbuhi berbagai
macam vegetasi yang memberi kesan teduh dan sejuk. Meskipun demikian kondisi danau ini
tampak kurang terawat, yang mana terdapat banyak sampah, terutama pada bagian inlet.
Sampah tersebut kemungkinan terbawa dari selokan Mataram, yang merupakan penyuplai air
utama danau Lembah UGM. Pada danau ini juga terdapat berbagai macam organisme
diantaranya adalah ikan, katak, siput, bahkan udang. Hal tersebutlah yang mengundang
beberapa warga sekitar untuk mencari ikan pada danau tersebut dengan cara memancing.
Secara umum, keadaan cuaca ketika dilakukan pengamatan adalah panas terik, namun pada
danau Lembah UGM terkesan lebih sejuk dan segar karena pada danau terdapat banyak
vegetasi berupa pepohonan yang besar dan rindang.
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran parameter fisik dan kimia pada kolam
dan danau, dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2. Masing-masing lokasi memberikan
gambaran nilai parameter yang bervariasi.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Parameter Fisik, Kimia Danau
parameter
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
inlet outlet inlet outlet inlet outlet inlet outlet inlet outlet
Suhu udara
(C)
24,5 24.5 30 29.5 31 29.5 32 24 26.5 26
Suhu air (C) 29,5 29.5 28 28.5 31.5 30 31.5 30.5 29.5 27
Kecerahan
(cm)
54.75 34.5 43.5 51.375 24.125 43.5 43 32.35 25.5 38
TSS (ppm) 0.34 0.136 0.157 0.231 0.714 0.19
DO
(ppm)CO
2.2 3.3 6.1 3.6 7.7 10 6.25 11.5 5.8 9
CO (ppm) 97.9 24 21.4 17.4 11 0 1.125 2.8 49.2 16.6
Alkalinitas
(ppm)
88 109 102 36 96 110 100 73 115 112
BOD (ppm) 1.1 3.2 7.5 10.1 5.5 0.7
BOD (ppm) 0 0 0 0.1 0 0.6
BO 34.16 27.2 28.47 27.2 24.04 22.14
pH 7.15 7.65 7 7.7 8.8 8.95 8.9 8.35 7.65 7.3

Tabel 2. Hasil Pengamatan Parameter Fisik, Kimia Kolam
parameter 06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
inlet outlet inlet outlet inlet outlet inlet outlet inlet outlet
Suhu udara (C) 25.5 23 30 29 32 31.5 31.5 28.5 28.25 25.5
Suhu air (C) 29 29 27.5 29 30.5 30.5 28.5 33.5 33 31.5
Kecerahan (cm) 19.5 20 14.5 20.25 20.9 41.5 25 22 21 27.125
TSS (ppm) 0.156 0.165 0.131 0.21 0.178 0.13
DO (ppm)CO 3 2.35 2.8 27 8.5 6 7.5 9.5 6.3 6.1
CO (ppm) 55 25.5 44 27.4 30.8 30.5 65.4 20 26.2 30
Alkalinitas (ppm) 103 68 74 80 92 92 29 88 43 88
BOD (ppm) 2.2 0.9 5.8 7 5.8 7.4
BOD (ppm) 0 2.7 0.3 0 0.2 0.29
BO 24.04 32.9 32.26 13.28 26.56 31
pH 7.05 7.05 7.25 7 8.15 8.35 73 8.35 7.9 7.25

Berikut disajikan grafik beserta penjelasan dari masing-masing parameter baik fisik,
kimia, maupun biologi pada prairan kolam dan danau.










Grafik 1. Suhu Udara VS Waktu pada Kolam










Grafik 2. Suhu Udara VS Waktu pada Danau

Menurut Benyamin (1997), Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara.
Suhu udara merupakan kondisi atau keadaan temperatur yang menunjukkan situasi udara pada
suatu wilayah atau daerah. Alat untuk mengukur suhu udara atau derajat panas disebut
thermometer. Biasanya pengukur dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan
Fahrenheit (F). Suhu udara pada suatu wilayah perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor,
salah satunya adalah faktor kondisi dari wilayah perairan tersebut. Vegetasi yang ada pada
suatu wilayah perairan sangat menentukan kondisi suhu udara pada wilayah perairan tersebut.
Suhu udara pada pagi hari, siang hari maupun malam hari akan berbeda-beda. Hal ini
tentunya sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Semakin tinggi intensitasnya
maka akan semakin tinggi pula suhu udaranya.
Berdasarkan grafik 1 dan grafik 2 tampak bahwa pada kolam suhu udaranya relatif
stabil, baik pada bagian inlet maupun outletnya di mana suhu tertinggi berada pada pukul
12.00 WIB, yakni 31,5
o
C. Pada kondisi ini matahari tepat berada di atas kita sehingga
0
10
20
30
40
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
C


waktu
Suhu udara VS waktu
inlet
outlet
0
10
20
30
40
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
C


waktu
suhu udara VS waktu
inlet
outlet
suhunya pun tinggi. Pada pukul 06.00 pagi serta pada 18.00 suhu udara relatif rendah, sebab
pada waktu tersebut matahari belum muncul maupun sudah beranjak pergi. Apabila
dibandingkan antara kolam inlet dan outlet, suhu udara pada outlet kolam cenderung lebih
rendah dibandingkan pada bagian intlet. Suhu udara pada danau Lembah relatif stabil pada
bagian outlet, sementara pada bagian outlet suhunya relatif berfluktuasi di mana pada pukul
15.00 terjadi penurunan suhu yang cukup signifikan, dimana suhu menurun dari 41,5
o
C
menjadi 22
o
C. Perbedaan suhu pada bagian inlet dan outlet ini dapat dipengaruhi oleh
vegetasi yang tumbuh di sekelilingnya. Berdasarkan grafik tersebut suhu udara pada kolam
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan suhu udara pada danau. Hal tersebut disebabkan ada
kolam panas matahari langsung terpapar tanpa ada penghalang seperti vegetasi, berbeda
dengan wilayah perairan danau Lembah UGM yang terdapat banyak pepohonan yang rindang
sehingga udara un terasa sejuk sebab suhunya relatif lebih rendah. Suhu udara dapat dengan
cepat berubah dikarenakan udara lebih mudah menyerap dan melepaskan intensitas panas dari
matahari (Odum, 1993). Berdasarkan data suhu udara yang diperoleh, maka dapat dikatakan
bahwa kondisi lingkungan kolam Jurusan Perikanan cenderung lebih optimal apabila
dibandingkan dengan lingkungan danau. Sebab menurut Odum (1993), suhu udara yang
optimal bagi kehidupan adalah berkisar antara 28
o
C-32
o
C. Suhu optimal pada kedua perairan
tersebut rata-rata dicapai ketika intensitas matahari sedang maupun tinggi, yakni pada pukul
09.00, 12.00, serta 15.00.











Grafik 3. Suhu Air VS Waktu pada Kolam



0
10
20
30
40
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
C


waktu
suhu air VS waktu
inlet
outlet










Grafik 4. Suhu Air VS Waktu pada Danau

Suhu air merupakan kodisi keadaan temperatur yang menunjukkan situasi air pada
suatu wilayah atau daerah. Faktor yang mempengaruhi suhu air pada suatu perairan adalah
pemanasan langsung oleh sinar matahari, organisme yang hidup di dalam air seperti tanaman
air dan hewan-hewan air yang dapat mempengaruhi suhu perairan. Suhu air merupakan faktor
penting dalam lingkungan perairan. Suhu air dapat mempengaruhi besarnya kadar O
2
terlarut
dalam suatu perairan, semakin tinggi suhu periran maka kadar O
2
terlarutnya akan rendah,
begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan pada suhu yang tinggi organisme akan melakukan
metabolisme yang tinggi pula sehingga organisme tersebut membutuhkan Oksigen yang lebih
untuk beraktivitas, sebagai sumber energi. Menurut Effendi (1998), suhu suatu badan air
dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam satu hari,
siklus udara, penutupan awan, dan aliran air serta kedalaman dari badan air. Kenaikan suhu
air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu .Air memiliki
beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebihlambat dari
pada udara. Selanjutnya Soetjipta (1992) menambahkan bahwa walaupun suhu kurang mudah
berubah di dalam air daripada di udara, namun suhu merupakan faktor pembatas utama, oleh
karena itu mahluk akuatik sering memiliki toleransi yang sempit. Ikan merupakan hewan
ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung
atau menyesuaikan suhu lingkungansekelilingnya (Hoole et al. 2005).
Berdasarkan kedua grafik tersebut suhu air tampak fluktuatif pada inlet kolam, suhu
tertinggi justru terdapat pada sore hari pukul 15.00 ketika matahari mulai beranjak tenggelam.
Hal tersebut dikarenakan sifat air yang cenderung menyerap panas, sehingga pada sore hari
sekalipun suhunya masih tinggi (Odum, 1993). Hal tersebut juga dikarekan sifat termal air
24
26
28
30
32
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
C


waktu
suhu air VS waktu
inlet
outlet
yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara. Pada
danau suhu tertinggi baik outlet maupu inlet adalah sekitar pukul 15.00 WIB, dimana suhunya
sebesar 31,5
o
C pada inlet dan 30,5
o
C pada outlet. Sementara pada kolam suhu tertingginya
mencapai 33,5
o
C. Suhu tertinggi tersebut terjadi ketika pukul 15.00. Menurut Odum (1993),
air dengan suhu berkisar antara 24-27
o
C adalah suhu yang optimal bagi kehidupan biota
perairan. Hal tersebut menandakan bahwa, baik pada perairan danau maupun kolam telah
melampaui suhu optimalnya. Akan tetapi, diantara kedua lokasi tersebut danau Lembah
UGM-lah yang memiliki kondisi suhu perairan yang cenderung lebih mendekati optimum.











Grafik 5. Kecerahan VS Waktu pada Kolam











Grafik 6. Kecerahan VS Waktu pada Danau

0
10
20
30
40
50
60
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
c
m

waktu
kecerahan VS waktu
inlet
outlet
0
10
20
30
40
50
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
c
m

waktu
kecerahan VS waktu
inlet
outlet
Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis
pada suatu ekosistem perairan, yang mana merupakan parameter seberapa jauh intensitas
cahaya matahari dapat masuk ke dalam suatu wilayah perairan. Di samping itu, kecerahan air
juga dapat diartikan sebagai ukuran transparansi perairan. Kecerahan yang tinggi
menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan. Begitu juga
sebaliknya. Schram(1990), menyatakan bahwa kecerahan suhu perairan dapat mempengaruhi
suplai oksigen, yang mana cahaya matahari yang masuk ke dalam periaran akan dimanfaatkan
oleh tumbuhan air untuk melangsungkan fotosintesis sehingga menghasilkan oksigen
Berdasarkan kedua grafik tersebut, tingkat kecerahan tertinggi terdapat pada danau
Lembah di pagi hari pukul 06.00 pada bagian inlet, dengan nilai 54,75 cm, disusul kemudian
pada bagian outlet danau. Pada kolam kecerahan tertinggi mencapai 41,5 cm pada bagian
outlet yang terjadi pada pukul 12.00, ketika intensitas cahaya matahari berada pada level
tertinggi. Nilai kecerahan pada perairan kolam Jurusan Perikanan jauh lebih rendah apabila
dibandingkan dengan Danau Lembah UGM. Rendahnya tingkat kecerahan akan berdampak
pada biota air di dalamnya. Seperti yang diungkapkan oleh Nyebaken (1992), rendahnya
tingkat kecerahan atau tingginya kekeruhan menyebabkan penetrasi cahaya menurun sehingga
fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan bentik akan terganggu dan mengakibatkan
produksi primer menurun. Secara umum tingkat kecerahan dari kedua lokasi tersebut relatif
berfluktuasi. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh TSS, densitas plankton serta intensitas
cahaya matahari. Menurut Marwah (2001) kecerahan yang optimal untuk biota perairan yaitu
berkisar antara 35 40 cm dari permukaan air. Berdasarkan kecerahan kondisi perairan
danau relatif lebih optimal, sehingga danau Lembah UGM tersebut lebih cocok difungsikan
sebagai habitat dari biota-biota perairan.









Grafik 7. TSS VS Waktu pada Kolam

0
0.1
0.2
0.3
06.00 12.00 18.00
p
p
m

waktu
TSS VS waktu
inlet
outlet








Grafik 8. TSS VS Waktu pada Danau

Total suspended solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah bahan-bahan
organik yang tersuspensi dan tidak terlarut dalam molekul air (Michael, 1994). Yang
termasuk TSS adalah lumpur, tanah liat, logam oksida, sulfida, ganggang, bakteri dan
pukulur.
Pada danau nilai TSS tertinggi mencapai 0,714 ppm, dengan nilai TSS terendah 0,136
ppm. Nilai terendah terjadi pada pukul 06.00, sedangkan nilai tertinggi pada pukul 18.00.
Sementara pada kolam nilai TSS tertinggi hanya mencapai 0,21 ppm, dengan nilai TSS
terendah 0,13 ppm. Nilai terendah terjadi pada pukul 18.00, sedangkan nilai tertinggi pada
pukul 12.00. Berdasarkan kedua grafik tersebut nampak bahwa nilai TSS pada danau lembah
UGM cukup tinggi. Hal tersebut diakibatkan pintu masuk air pada inlet danau lebih lebar dan
besar dibandingkan pada inlet kolam sehingga banyak material dari sungai yang yang terbawa
masuk ke dalam danau. Pada dasarnya daerah inlet biasanya memiliki kandungan TSS yang
tinggi karena air membawa material-material sepanjag jalannya. TSS sangat mempengaruhi
respirasi biota perairan, semakin tinggi TSS maka akan semakin sulit suatu organisme untuk
melakukan respirasi. Padatan tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan
melalui dua cara. Pertama, menghalangi dan mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan
air, sehingga mengahambat proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya.
Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air. Kedua, secara
langsung TSS yang tinggi dapat mengganggu biota perairan seperti ikan karena tersaring oleh
insang. Menurut Marwah (2001) TSS akan semakin tinggi pada outlet dan bagian yang tenang
dari suatu perairan. Marwah (2001) juga mengatakan bahwa TSS dalam suatu perairan tidak
boleh > 100 ppm, apabila lebih dari itu maka akan sangat mengganggu respirasi dari ikan di
perairan tersebut.

0
0.2
0.4
0.6
0.8
06.00 12.00 18.00
p
p
m

waktu
TSS VS waktu
inlet
outlet









Grafik 9. pH VS Waktu pada Kolam










Grafik 10. pH VS Waktu pada Danau

Menurut Purba (2006), pH merupakan parameter keasaman dari suatu larutan. Derajat
keasaman atau pH merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen dalam perairan.
Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu
perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan
bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa (Effendi, 2003).
Berdasarkan data tersebut tampak bahwa pH tertinggi didapat pada pukul 12.00
hingga 15.00. Pada danau nilai pH tertinggi mencapai 8,9 dengan nilai pH terendah 7. Nilai
terendah terjadi pada pukul 09.00, sedangkan nilai tertinggi pada pukul 15.00. Sementara
pada kolam nilai pH tertinggi mencapai 8,35 dengan nilai pH terendah 7. Nilai terendah
terjadi pada pukul 09.00, sedangkan nilai tertinggi pada pukul 12.00 dan 15.00. Kondisi air
pada kedua perairan tersebut cenderung bersifat basa. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh
adanya limbah rumah tangga yang terbawa masuk melalui inlet baik ke dalam perairan kolam
0
2
4
6
8
10
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
waktu
Ph VS waktu
inlet
outlet
6
6.5
7
7.5
8
8.5
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
waktu
pH VS waktu
inlet
outlet
maupun danau. Mahida (1993) menyatakan bahwa limbah buangan industri dan rumah tangga
dapat mempengaruhi nilai pH perairan. pH mempengaruhi kandungan CO
2
bebas. pH tinggi
memnyebabkan CO
2
bebas rendah pada perairan. Berdasarkan nilai pH perairan yang
diperoleh, dapat dikatakan bahwa kolam memiliki nilai pH yang relatif optimal bagi
kehidupan biota perairan. Sebab menurut Odum (1993) pH air yang sesuai dengan kehidupan
dari biota perairan atau bisa dikatakan optimum yaitu berkisar antara 7-8,5.












Grafik 11. Alkalinitas VS Waktu pada Kolam











Grafik 12. Alkalinitas VS Waktu pada Danau

Alkalinitas merupakan suatu parameter kimia perairan yang menunjukkan jumlah ion
karbonat dan bikarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan tawar.
0
20
40
60
80
100
120
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
p
p
m

waktu
alkalinitas VS waktu
inlet
outlet
0
20
40
60
80
100
120
140
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
p
p
m

waktu
alkalinitas VS waktu
inlet
outlet
Alkalinitas juga didefinisikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) yang
menetralkan perubahan pH perairan yang sering terjadi (Effendi,2003). Pembentuk alkalnitas
yang utama adalah bikarbonat, karbonat dan hidroksida (Irianto, 2005).
Pada danau nilai alkalinitas tertinggi mencapai 115 ppm, dengan nilai alkalinitas
terendah 36 ppm. Nilai terendah terjadi pada pukul 09.00, sedangkan nilai tertinggi pada
pukul 18.00. Sementara pada kolam nilai alkalinitas tertinggi mencapai 103 ppm dengan nilai
alkalinitas terendah 29 ppm. Nilai terendah terjadi pada pukul 15.00, sedangkan nilai tertinggi
pada pukul 06.00. Berdasarkan kedua grafik tersebut alkalinitas baik pada kolam maupun
danau cenderung fluktuatif, bahkan pada danau pukul 09.00 alkalinitasnya menurun drastis
dari 109 ppm menjadi 36 ppm. Hubungan antara alkalinitas dan waktu ini dipengaruhi oleh
pH, sebab pH akan menurun ke arah asam apabila terjadi pelapukan senyawa organik. pH
turut dipengaruhi oleh CO
2
. Semakin rendah alkalinitas maka CO
2
semakin tinggi , begitu
pula sebaliknya. Menurut Odum (1993), ketinggian alkalinitas sebaiknya tidak lebih dari 500
sehingga kisaran optimum bagi biota perairan adalah 50-200 ppm. berdasrkan pengamatan
alkalinitas pada kedua lokasi tersebut perairan danau alkaliniasnya relatif optimum
dibandingkan dengan kolam perikanan. Dengan demikian danau Lembah UGM lebih cocok
sebagai habitat ikan karena nilai alkalinitasnya tinggi, sehingga kemampuan untuk
mempertahankan pH-nya pun tinggi. Ikan sangat sensitif pada kondisi kadar alkalinitas yang
rendah (Mintardjo, 1984). Fluktuasi pH air sangat ditentukan oleh alkalinitas air tersebut.
Apabila alkalinitasnya tinggi, maka air tersebut akan mudah mengembalikan pH nya
(Sastrawijaya, 2000).












Grafik 13. BO VS Waktu pada Kolam
0
5
10
15
20
25
30
35
06.00 12.00 18.00
p
p
m

waktu
BO VS waktu
inlet
outlet










Grafik 14. BO VS Waktu pada Danau

Bahan organik (BO) merupakan kumpulan beragam senyawa organil yang kompleks
yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi
maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia
heterotrofik dan autotrofik yang terlibat dan berada di dalamnya (Madjid, 2008).
Berdasarkan grafik tersebut tampak bahwa kandungan bahan organik (BO) pada danau
relatif rendah apabla dibandingkan dengan kandungan bahan organik (BO) pada kolam.
Kandungan bahan organik tertinggi pada bdanau dicapai pada pukul 12.00 WIB. Akan tetapi,
pada kolam antara inlet dan outlet tampak berbanding terbalik. Pada bagian inlet mencapai
nilai BO maksimum pada pukul 12.00 WIB. Perbedaan pada hasil ini dikarenakan banyaknya
mikroorganisme yang melakukan metabolisme sehingga bahan organik (BO) tinggi.
Menurunnya nilai BO pada outlet kolam dapat disebabkan cahaya matahari yang diterima
perairan outlet intensitasnya rendah, sehingga organisme air kurang maksimum dalam
berfotosintesis sehingga bahan organik yang dihasilkan pun rendah BO ini dipengaruhi oleh
pH di mana apabila pH terlalu rendah ataupun terlalu tinggi dapat mengganggu kinerja dari
mikroorganisme yang merambah bahan organik tersebut. Selain itu, kandungan O
2
juga
sangat berpengaruh di mana mikroorganisme yang melakukan perambahan membutuhkan O
2

untuk melakukan proses respirasi. Menurut Marwah (2001), BO yang baik bagi perairan dan
biota di dalamnya adalah < 100 ppm. Dengan demikian pada perairan kolam maupun danau
masih dapat dikatakan optimal.



0
10
20
30
40
06.00 12.00 18.00
p
p
m

waktu
BO VS waktu
inlet
outlet









Grafik 15. DO VS Waktu pada Kolam










Grafik 16. DO VS Waktu pada Danau

Oksigen terlarut merupakan jumlah oksigen dalam mg yang terdapat dalam satu liter
air (ppt). Oksigen terlarut juga dapat diartikan sebagai kandungan gas Oksigen yang terlarut
dalam air. Oksigen terlarut dalam perairan merupakan faktor penting sebagai pengatur
metabolisme tubuh organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Sumber Oksigen terlarut
dalam air berasal dari difusi Oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air melalui air
hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novotny and Olem,
1994). Difusi oksigen atmosfer ke air bisa terjadi secara langsung pada kondisi air stagnant
(diam) atau terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya gelombang atau
angin. Difusi oksigen dari atmosfer ke perairan pada hakekatnya berlangsung relatif lambat,
meskipun terjadi pergolakan massa air atau gelombang.
Berdasarkan kedua hasil tersebut tingkat DO tertinggi pada kolam inlet terjadi pada
pukul 09.00 dan terendah pada pukul 06.00. Pada pukul 09.00 tersebut plankton mulai
0
2
4
6
8
10
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
p
p
m

waktu
DO VS waktu
inlet
outlet
0
5
10
15
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
p
p
m

waktu
DO
inlet
outlet
berfotosintesis sehingga kandungan DO-nya tinggi dan terus menurun seiring dengan semakin
aktifnya aktivitas organisme air di dalamnya yang membutuhkan O
2
. Pada danau inlet
mencapai kandungan DO tertinggi pada pukul 12.00 di mana suhu dan intensitas cahaya yang
masuk optimum. Sementara pada bagian outlet tertinggi pada pukul 15.00. DO pada suatu
penelitian sangat bergantung pada suhu air dan pemakaian oksigen oleh biota perairan.
Hubungan DO dengan waktu adalah semakin siang maka DO semakin menurun meski
plankton akan aktif memproduksi O
2
, hal ini dikarenakan biota perairan akan semakin banyak
menggunakan O
2
sebab adanya pengaruh suhu yang semakin tinggi. Menurut, Harjono
(1992), kandungan O
2
yang optimal bagi biota perairan adalah DO yang berkisar antara 6-15
ppm. Dengan demikian perairan yang optimum adalah danau Lembah UGM.











Grafik 13. CO
2
VS Waktu pada Kolam










Grafik 14. CO
2
VS Waktu pada Danau

0
20
40
60
80
100
120
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
p
p
m

waktu
CO VS waktu
inlet
outlet
0
20
40
60
80
06.00 09.00 12.00 15.00 18.00
p
p
m

waktu
CO
inlet
outlet
Karbondioksida bebas merupakan istilah untuk menunjukkan CO2 yang terlarut di
dalam air. CO2 yang terdapat dalam perairan alami merupakan hasil proses difusi dari
atmosfer, air hujan, dekomposisi bahan organik dan hasil respirasi organisme akuatik.
Tingginya kandungan CO2 pada perairan dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota
perairan. Konsentrasi CO2 bebas 12 mg/l dapat menyebabkan tekanan pada ikan, karena akan
menghambat pernafasan dan pertukaran gas. Kandungan CO2 dalam air yang aman tidak
boleh melebihi 25 mg/l, sedangkan konsentrasi CO2 lebih dari 100 mg/l akan menyebabkan
semua organisme akuatik mengalami kematian (Wardoyo, 1989).
Berdasarkan grafik tersebut nampak bahwa pada pukul 12.00 baik pada kolam
maupun danau terjadi penurunan kandungan CO
2
bebas. Kandungan CO
2
bebas pada pagi hari
tinggi. Hal tersebut diakibatkan oleh proses respirasi yang mana pada malam hari akan
mengonsumsi O
2
dan menghasilkan CO
2
. Pada malam hari tidak terjadi proses fotosintesis
sehingga O
2
yang terakumulasi digunakan sepenuhnya untuk respirasi dan menghasilkan CO
2

bebas pada perairan. Sementara pada siang hari kandungan CO
2
bebas mulai menurun dan
naik kembali pada sore menjelang malam. Hal tersebut berkaitan dengan proses fotosintesis
yang dilakukan oleh fitoplankton dan produsen perairan lainnya. pH dapat mempengaruhi
CO
2
bebas dimana semakin rendah pH maka CO
2
bebas akan semakin tinggi. Menurut
(Odum (1993), kandungan CO
2
bebas yang optimal bagi biota perairan yaitu berkisar antara
6-20 ppm. Dengan demikian, kondisi perairan terbaik berada pada outlet danau.











Grafik 19. BOD
0
VS Waktu pada Kolam



0
2
4
6
8
06.00 12.00 18.00
p
p
m

waktu
BOD0 VS waktu
inlet
outlet










Grafik 20. BOD
0
VS Waktu pada Danau










Grafik 21. BOD
5
VS Waktu pada Kolam










Grafik 22. BOD
5
VS Waktu pada Danau

0
2
4
6
8
10
12
06.00 12.00 18.00
p
p
m

waktu
BOD0 VS waktu
inlet
outlet
0
0.2
0.4
0.6
0.8
06.00 12.00 18.00
p
p
m

waktu
BOD 5 VS waktu
inlet
outlet
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
06.00 12.00 18.00
p
m
m

waktu
BOD5 VS waktu
inlet
outlet
Biological Oxygen Demand (BOD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
bakteri untuk menguraikan (mengoksidasi) hampir semua zat terlarut dan sebagai zat-zat
organisme yang tersuspensi dalam air. Menurut Lee et al. (1978), BOD5 merupakan salah
satu indikator pencemaran organik pada suatu perairan. Perairan dengan nilai BOD5 tinggi
mengindikasikan bahwa air tersebut tercemar oleh bahan organik. Bahan organik akan
distabilkan secara biologik dengan melibatkan mikroba melalui sistem oksidasi aerobik dan
anaerobik. Oksidasi aerobik dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut di
perairan sampai pada tingkat terendah, sehingga kondisi perairan menjadi anaerob yang dapat
mengakibatkan kematian organisme akuatik.
Adapun hubungan waktu dengan BOD5 yaitu pada pengujian BOD0, denagn
demikian kita dapat mengetahui dengan jelas kandungan O2 awalnya kemudian dimasukkan
ke dalam rumus bersama dengan kandungan BOD5, barulah diperoleh kandungan BOD total.
Brdasarkan grafik tersebut, tampak bahwa kandungan BOD baik di danau maupun di kolam
berfluktuasi. Fluktuasi tersebut terjadi berkaitan dengan DO sebab semakin tinggi DO
menyebabkan BOD5 semakin rendah, sebab BOD5 merupakan jumlah O2 yang diperlukan
atau digunakan organisme untuk respirasi. Menurut Odum (1993), BO5 optimum yang
mendukung kehidupan biota adalah BOD5 yang besar. Semakin besar nilai BOD maka
perairan tersebut akan semakin subur. Dengan demikian, perairan yang baik berdasarkan nilai
BOD5 adalah kolam, karena kolam memiliki range BOD5 yang lebar.














Grafik 23. Densitas Plankton VS Waktu pada Kolam
0
10
20
30
40
50
60
70
80
06.00 12.00 18.00
inlet
outlet
Densitas Kolam VS Waktu
D
e
n
s
i
t
a
s

Waktu













Grafik 24. Densitas Plankton VS Waktu pada Danau

Plankton merupakan sekelompok biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun hewan
yang hidup melayang maupun terapung secara pasif di permukaan perairan, dan pergerakan
serta penyebarannya dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun sangat lemah (Nybakken,
1992). Densitas plankton merupakan banyaknya individu plankton yang dinyatakan dengan
persatuan luas, maka nilai itu juga disebut sebagai kepadatan (density) plankton.
Berdasarkan grafik tersebut plankton berada pada kepadatan maksimum ketika pukul
18.00 dan minimum pada pukul 06.00. Grafik densitas plankton diatas berguna untuk
mengetahui kepadatan dari plankton baik pada area inlet maupun outlet pada danau maupun
kolam. Pada inlet danau pukul 06.00 densitas plankton berkisar 77,5 ind/L, pada pukul 12.00
berkisar 102,5 ind/L, dan pada pukul 18.00 berkisar 22,5 ind/L, hal ini berarti pada pukul
12.00 terjadi kenaikan namun turun lagi pada pukul 18.00 . Untuk outlet diperoleh data untuk
pukul 06.00 yaitu berkisar 142,5 ind/L yang mengalami kenaikan pada pukul 12.00 menjadi
105 ind/L dan turun menjadi 100 ind/L. Sementara untuk inlet kolam diawali pukul 06.00
dengan 47,5 ind/L yang kemudian naik pada pukul 12.00 menjadi 55 ind/L dan terus naik
menjadi 72,5 ind/L pada pukul 18.00 . Untuk outletnya pada pukul 06.00 berada 27,5 ind/L
yang kemudian naik ke 57,5 ind/L dan terus naik mencapai 75 ind/L masing-masing pada
pukul 12.00 dan 18.00. Hubungan antara densitas dengan waktu adalah seberapa padat
plankton dalam melakukan fotosintesis pada pagi, siang serta sore hari dan ternyata
waktukepadatan berada pada siang serta sore hari yang dimana intensitas matahari tinggi dan
0
20
40
60
80
100
120
140
160
06.00 12.00 18.00
inlet
outlet
Densitas Danau VS Waktu
D
e
n
s
i
t
a
s

Waktu
ketika sore mulai berkurang. Densitas plankton sedikit terjadi karena adanya unsur hara yang
banyak tersedia pada perairan dan dilengkapi dengan intensitas penyinaran matahari yang
baik. Menurut odum (1993) semakin banyak fitoplankton di perairan dapat memberi oksigen
terlarut yang lebih banyak, selain itu dapat berguna juga sebagai produksi energi bagi ikan
pemakan plankton.













Grafik 25. Diversitas Plankton VS Waktu pada Kolam













Grafik 26. Diversitas Plankton VS Waktu pada Danau

0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
06.00 12.00 18.00
inlet
outlet
Diversitas Danau VS Waktu
D
i
v
e
r
s
i
t
a
s

Waktu
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
06.00 12.00 18.00
inlet
outlet
Diversitas Kolam VS Waktu
D
i
v
e
r
s
i
t
a
s

Waktu
Dari grafik ini kita dapat mengetahui keragamana plankton yang bisa ditemukan
diperairan baik di kolam maupun danau. Berdasarkan data yang ada keragaman pada inlet
danau pada pukul 06.00 menurun pada pukul 12.00 dan kemudian naik pada pukul 18.00.
Untuk outletnya diperoleh data pada pukul 06.00 yaitu 2, sementara pada pukul 12.00
meningkat , namun pada pukul 18.00 keragamannya menurun. Sementara untuk inlet pada
kolam pada pukul 06.00 berda di angka 2.5, pada pukul 12.00 turun dan meningkat pada
pukul 18.00, sedangkan untuk area outletnya dari pukul 06.00 keragamannya menurun hingga
pukul 12.00 dan kemudian meningkat pada pukul 18.00 .
Hubungan antara waktu dan keragaman plankton adalah pada waktu siang hari dimana
intensitas penyinaran matahari yang baik, berbagai jenis plankton (fitoplankton) akan keluar
dan berkembangbiak serta melakukan fotosintesis, sementara zooplankton juga akan keluar
untuk memakan fitoplankton tersebut. Semakin tinggi keragaman plankton pada suatu
perairan, maka perairan tersebut akan semakin subur (Odum, 1993).
Dapat dilihat bahwa perairan danau memiliki kepadatan plankton yang lebih tinggi
begitupun dengan keragamannya maka dapat disimpulkan bahwa perairan danau lebih subur
dibandingkan perairan di area kolam, namun perairan kolam maupun danau keduanya masih
berada dalam kondisi yang baik atau dapat digunakan untuk proses pembudidayaan. Hal ini
dilihat dari parameter fisika, kimia, dan biologi yang masih berada pada lingkup atau rentang
optimum bagi biota perairan, seperti yang telah dibahas sebelumnya.
Ilmu tentang analisis kualitas air memiliki peran yang penting khususnya bagi
program studi Manajemen Sumberdaya Perairan yakni untuk menjaga kelestarian lingkungan
perairan yang tentunya berguna dalam bidang konservasi, yang juga dapat diterapkan untuk
pengelolaan perikanan yang lebih baik. Berdasarkan perbandingan antar parameter, baik fisik,
kimia, maupun biologi, perairan danaulah yang memiliki tingkat kualitas air yang baik untuk
biota perairan dapat hidup. Sebab pada perairan danau parameter-parameternya menunjukkan
nilai yang optimum atau mendekati optimum.

KESIMPULAN
Baik pada perairan danau maupun kolam dipengaruhi oleh parameter fisik yang berupa suhu
air dan udara, kecerahan, serta padatan tersuspensi (TSS), parameter kimia yang meliputi
kandungan DO, CO
2
bebas, alkalinitas, pH, BO, BOD
5
, serta parameter biologi meliputi
densitas dan diversitas plankton. Parameter-parameter tersebut dimati dengan pengambilan
sampel pada bagian inlet dan outlet. Berdasarkan hasil pengamatan, perairan danau dan kolam
UGM masih dalam kondisi yang baik. Akan tetapi, perairan danau lebih baik dibandingkan
dengan perairan kolam. Hal tersebut dikarenakan nilai-nilai parameter fisik, kimia, dan
biologi pada danau Lembah UGM lebih optimum atau relatif mendekati nilai optimum
dibandingkan pada kolam Jurusan Perikanan UGM.

SARAN
Alangkah baiknya apabila alat dan bahan yang digunakan diperbanyak agar ketika
hendak mengamati parameter-parameternya tidak saling menunggu antara kelompok yang
satu dengan kelompok yang lain, sehingga waktu yang digunakan menjadi lebih efektif dan
efisien.

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. UGM Press. Yogyakarta.
Benyamin, Lakitan. 1997. Klimatologi Dasar. Radja Grafindo Persada. Jakarta.
Effendi, H. 1998.Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Institut Pertaninan Bogor Press. Bogor
Harjono, B. 1992. Kualitas Sumberdaya Perairan.Gramedia Pustaka. Jakarta.
Hoole, S.R.H. dan Hoole P.R.P. 1996. Modern Short Course in Engineering
Electromagnetics. Oxford University Press. New York.
Madjid, Abdul. 2008, Bahan Organik Tanah. http://www.unsri.ac.id. Diakses 17 Desember
2012, Pukul 11.28 WIB
Mahida, U.N. 1993. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri, PT Raja. Gravindo
Persada. Jakarta.
Marwah. 2001. Parameter Pengukuran Kualitas Perairan. Sumber Alam. Surabaya.
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. UI Press.
Jakarta.
Mintardjo, K.A. 1984. Persyaratan Tanah dan Air. Direktorat Jendral Perikanan. Direktorat
Pertanian. Hal 63-89.
Novotny, V. dan Olem H. 1994. Water Quality: Prevention, Identification, and Management
of Diffuse Pollution. van Nostrand Reinhold. New York.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga . Gajah Mada University Press.
Jogjakarta. H. 134-162.
Purba, M. 2006. Kimia I. Erlangga. Jakarta.
Sastrawijaya, A. Tresna. 2000. Pencemaran Lingkungan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Satari, G. Pengelolaan dan Pemanfaatan Danau dan Waduk. Universitas Padjadjaran.
Bandung.
Schram, F.R. 1990. Crustacea. Oxford University Press. New York : 606 pp.
Soetjipta. 1992. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Sumawidjaya,K. 1990. Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian
Bogor. Bogor
Wardoyo, S.T.H. 1989. Kriteria Kualitas Air untuk Pertanian dan Perikanan. Makalah pada
Seminar Pengendalian Pencemaran Air. Dirjen Pengairan Departemen Pekerjaan
Umum. Bandung.
Widjanarko, P. 2005. Analisis Kualitas Air. IPB. Bogor.