Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN ACARA II

PRAKTIKUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


INDEKS KEPADATAN STOK

Oleh:
Carissa Paresky Arisagy
12 / 334991 / PN / 12981

Asisten :
Gunawan Purnomo Aji

LABORATORIUM MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
33

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rowo Jombor merupakan sebuah rawa yang terletak di tengah Desa Krakitan,
Kecamatan Bayat yang dikelilingi oleh pegunungan kapur. Rowo Jombor merupakan
salah satu rawa yang sangat luas di Kabupaten Klaten. Rowo tersebut memiliki peranan
penting bagi penduduk untuk irigasi, perikanan dan juga tempat wisata. Masyarakat
sekitar rowo memanfaatkan perairan rowo sebagai lahan budidaya ikan dalam karamba
jaring tancap dan karamba jaring apung serta kegiatan wisata kuliner warung apung.
Pemanfaatan tersebut dapat menyebabkan ekosistem perairan dapat mengalami
perubahan. Perubahan yang umumnya terjadi biasanya mengarah pada penurunan
kualitas perairan, yang akhirnya bermuara pada penurunan stok populasi ikan.
Pengetahuan mengenai stok suatu jenis ikan sangat diperlukan untuk
pengelolaannya, terutama untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan
pelestarian. Oleh karena itu, dirasa perlu melakukan peningkatan pemahaman terhadap
kajian stok berdasarkan indeks populasi ikan melalui praktikum Manajemen Sumberdaya
Perairan khususnya pada acara Indeks Kepadatan Stok.

B. Tujuan
Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan acara Indeks Kepadatan Stok ini bertujuan
untuk :
1. Melatih mahasiswa untuk menghitung indeks populasi ikan
2. Menganalisis populasi dengan berbagai indeks

C. Manfaat
Manfaat dari Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan acara Indeks Kepadatan Stok
ini adalah mahasiswa mampu mengetahui gambaran kondisi dari populasi ikan di suatu
perairan berdasarkan nilai indeks yang diperoleh.

34

D. Waktu dan Tempat


Praktikum Lapangan Manajemen Sumberdaya Perairan dilaksanakan pada hari
Sabtu, 29 November 2014 sampai hari Minggu, 30 November 2014. Adapun lokasi
praktikum lapangan ini bertempat di Rowo Jombor, Klaten.

35

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Stok dalam disiplin ilmu-ilmu perikanan sering dimaksudkan sebagai populasi ikan di
daerah tertentu. Padahal yang dimaksudkan dengan stok ikan belum tentu merupakan suatu
populasi atau sebaiknya, sehingga kedua istilah ini kadang-kadang menjadi rancu dalam
pemakaiannya untuk menjelaskan suatu maksud. Beberapa pengertian istilah 'stok' yang
dikemukan oleh para ahli biologi perikanan adalah sebagai berikut, Gulland (1969)
menggunakan istilah stok untuk menggambarkan kelimpahan ikan di suatu perairan tertentu
dan bagaimana memanfaatkannya.
Indeks kepadatan stok (IKS) dapat digunakan untuk mengukur secara kuantitatif
struktur ukuran suatu populasi ikan. IKS merefleksikan fungsi rekruitmen, pertumbuhan dan
kematian. IKS memberikan informasi lebih banyak ketika populasi relatif tetap, misalnya
rekruitmen, pertumbuhan dan mortalitas konstan. Jika densitas tinggi, rekruitmen dianggap
tinggi, pertumbuhannya lambat, mortalitas tinggi dan nilai PSD akan rendah. Jika densitas
rendah, pertumbuhan dianggap cepat, rekruitmen lambat, mortalitas rendah, dan PSD akan
tinggi (Willis et.al, 1993).
Pengertian lain dari stok yang dikemukakan oleh Cross & Payne (1978) sesuai dengan
pandangan biokimia dan genetika, yaitu stok ikan sebagai kelompok dari individu-individu
yang memiliki komposisi gen-gen alelamorfik yang sama, sebagai hasil perkawinan secara
acak di lokasi yang terisolasi dengan populasi lain. Sehingga suatu jenis dapat memiliki gengen alelamorfik yang berbeda berdasarkan distribusi geografi. Defmisi ini juga didukung oleh
Booke (1981) yang menyatakan secara umum bahwa stok ikan adalah kelompok jenis ikan
tertentu yang hidup dan berkembang biak di lokasi tertentu pada waktu tertentu. Sedangkan
secara khusus, dikatakan bahwa stok ikan adalah stok genotip yang hidup dan berkembang
biak sesuai dengan hukum keseimbangan Castle-Hardy - Weinberg. Stok ikan yang sesuai
dengan hukum keseimbangan ini akan mempunyai frekwensi genotip yang tetap untuk
karakter tertentu dari generasi ke generasi. Dengan demikian perlu dilakukan pengujian
terhadap sejumlah sampel ikan untuk mengetahui bilamana frekwensi genotip yang
dimilikinya tetap, atau jika berbeda frekwensi genotipnya, maka ini akan menjadi indikasi
adanya percampuran stok.
Anderson (1976) mendefinisikan bahwa nilai PSD (Proportional Stock Density)
terdiri dari beberapa ukuran. Ukuran stock didefinisikan sebagai ukuran rata-rata matang
36

gonad. Sedangkan ukuran recreational diperoleh dari panjang minimum hasil tangkapan
dari alat tangkap tradisional. Indeks PSD memiliki kemiripan dengan nilai AT, yang
membedakan adalah nilai PSD dihitung melalui jumlah ikan sedangkan nilai AT ditentukan
berdasarkan berat ikan.
Gabelhouse (1984) mendefinisikan rentang panjang untuk indeks mulai dari stok (S),
quality (Q), preferred (P), memorable (M), dan throphy (T). Indeks RSD tradisional dihitung
sebagai persentase ukuran stok yang lebih panjang dari masing-masing kategori ukuran
minum ikan sehingga tradisional RSD terdiri dari PSD yang merupakan kepadatan stok relatif
dari ukuran quality (RSD-Q), kepadatan stok relatif dari ukuran preferred (RSD-P),
kepadatan stok relatif dari ukuran memorable (RSD-M), kepadatan stok relatif dari ukuran
throphy (RSD-T). Sedangkan Indeks RSD incremental ditentukan dari persentase panjang
yang terdiri dari jumlah individu antar panjang minimum masing-masing kategori. Sehingga
indeks RSD incremental terdiri dari kepadatan stok relative antara ukuran stock-quality
(RSD-SQ), ukuran quality-preferred (RSD-QP), ukuran preferred-memorable (RSD-PM),
ukuran memorable-trophy (RSD-MT).
Model lima sel adalah teknik yang dikembangkan untuk memudahkan ahli biologi
perikanan mengevaluasi struktur populasi ikan berdasarkan ukurannya. Model tersebut dapat
meningkatkan sensitivitas ukuran struktur indek. Model lima sel menggunakan indeks dengan
kriteria stok (20-26% terpanjang), kualitas (36-41% terpanjang), disukai (45-55%
terpanjang), termemori (59-64% terpanjang), trofi (74-80% terpanjang).
Metode akustik dapat digunakan untuk menduga keberadaan ikan, baik untuk ikan
pelagis maupun demersal (Mitson 1983). Beberapa keuntungan metode akustik adalah tidak
tergantung pada statistik hasil tangkapan, tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk
mendapatkan nilai hasil pengamatan, dan biaya yang relative lebih murah untuk penelitian
suatu wilayah laut yang luas dibandingkan dengan metode pendugaan

lainnya serta

kemampuan dalam menduga populasi absolut/sebenarnya (Thorne, 1979).


Secara umum peralatan hidroakustik digunakan untuk mendapatkan informasi sekitar
objek bawah air yang dilakukan melalui pemancaran gelombang suara dan pengamatan dari
echo yang dipantulkan. Prinsip ini mengikuti prinsip kerja sonar dengan peralatannya adalah
echosounder. Komponen utama dalam sistem echosounder adalah unit pemancar
(transmitter), transducer, unit penerima (receiver amplifier), dan unit pencatat (recoder unit,
time base dan display unit). Suara dihasilkan dari perangkat pemancar kemudian dipancarkan
37

secara vertikal melalui transducer ke dalam kolom air dan bila mengenai target akan
dipantulkan kembali dan direkam pada kertas pencatat.

38

III.

METODOLOGI

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1. Alat tulis (pulpen, pensil, kertas)
2. Komputer/Laptop

B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah data panjang ikan hasil tangkapan di
Rowo Jombor

C. Cara Kerja
1. Ikan yang akan dianalisis dipilih dan data panjang yang diperoleh diurutkan.
2. Panjang minimum stok, kualitas, disukai, termemori dan trofi dihitung menggunakan
model lima sel dengan rumus :
a. Stok = panjang maksimum ikan x 23%
b. Kualitas = panjang maksimum ikan x 38,5%
c. Disukai = panjang maksimum ikan x 50%
d. Termemori = panjang maksimum ikan x 61,5%
e. Trofi = panjang maksimum ikan x 77%
3. Dari data yang ada dihitung :
a. RSD Tradisional
banyaknya >Q
PSD , dengan rumus= banyaknya S x 100
banyaknya> P
x 100
banyaknya S

RSDP , dengan rumus=

RSDM ,dengan rumus=

RSDT , dengan rumus=

banyaknya> M
x 100
banyaknya S

banyaknya >T
x 100
banyaknya S

b. RSD Incremental

RSD SQ, dengan rumus=

banyaknya> SQ
x 100
banyaknya S
39

banyaknya>QP
x 100
banyaknya S

RSD QP , dengan rumus=

RSD PM , dengan rumus=

banyaknya> PM
x 100
banyaknya S

RSD M T , dengan rumus=

banyaknya> M T
x 100
banyaknya S

RSDT , dengan rumus=

banyaknya >T
x 100
banyaknya S

40

IV.

PEMBAHASAN

A. Hasil
Ikan yang dianalisis adalah ikan nila hitam. Ikan nila hitam digunakan dalam
analisis kepadatan stok karena ikan nila hitam di Rowo Jombor tertangkap dalam jumlah
banyak serta memiliki ukuran panjang yang lebih bervariasi dibandingkan ikan hasil
tangkapan lainnya. Berikut disajikan tabel panjang ikan nila hitam hasil tangkapan di
Rowo Jombor.
Tabel 1. Panjang ikan nila hitam
Spesies

Panjang (cm)

Jumlah (ekor)

Nila hitam (Oreochromis niloticus)


Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)
Nila hitam (Oreochromis niloticus)

8,5
12,8
14,7
16,0
16,5
17,3
18,0
19,0
19,5
20,0
20,4
20,7
20,8
21,0
21,6
21,8
22,0
22,4
23,3
24,0
24,4

1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1

Ikan nila hitam (Oreochromis niloticus) yang didapatkan sebanyak 24 ekor,


memiliki ukuran panjang yang bervariasi. Ukuran terpanjang yaitu 24,4 cm dan ukuran
terpendek yaitu 8,5 cm.
41

Tabel 2. Model Lima Sel


Model lima sel

Nilai Tengah

Ikan Terpanjang

Nilai tengah *ikan


terpanjang (%)

Stok (S)
Kualitas (Q)
Disukai (P)
Termemori (M)
Trofi (T)

23,0
38,5
50,0
61,5
77,0

24,4
24,4
24,4
24,4
24,4

5,61
9,39
12,20
15,01
18,79

Berdasarkan hasil perhitungan tradisional PSD, populasi ikan di Rawa Jombor


didominasi oleh populasi ikan berukuran besar. Hasil perhitungan tradisonal PSD dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Tradisional PSD
Ukuran
Panjang

Kel.
Panjang

Jumlah

Formula

Hasil
(%)

5.61-9.39

SQ

PSD=(>Q)/( S)x100

95,83

9.40-12.20

QP

RSD P= (>P)/( S)x100

95,83

12.21-15.01

PM

RSD M= (>M)/( S)x100

87,50

15.02-18.79

M-T

RSD T= (>T)/( S)x100

66,67

Populasi
seimbang

>18.79

16

0,00

Populasi
didominasi
ukuran kecil

Total :

Kesimpulan
Populasi
didominasi
ukuran
besar

24

Berdasarkan hasil perhitungan incremental RSD, populasi ikan di Rawa Jombor


didominasi oleh populasi ikan berukuran kecil. Hasil perhitungan incremental RSD dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Incremental RSD
Ukuran
Panjang

Kel.
Panjang

Jml

Formula

Hasil
(%)

5.61-9.39

SQ

RSD S-Q=(>S-Q)/(S)x100

4,17

9.40-12.20

QP

RSD Q-P=(>Q-P)/(S)x100

0,00

Kesimpulan
Populasi
didominasi
ukuran kecil

42

12.21-15.01

PM

RSD P-M=(>P-M)/(S)x100

8,33

15.02-18.79

M-T

RSD M-T=(>M-T)/(S)x100

20,83

>18.79

16

RSD T=( >T) /(S)x100

66,67

Total :

Populasi
seimbang

24

B. Pembahasan
Indeks PSD digunakan untuk mengetahui proporsi kelompok ukuran tertentu
terhadap keseluruhan populasi suatu spesies. Nilai PSD mencerminkan kondisi stok ikan
di perairan. Jika nilainya antara 40-70 maka kondisi populasi seimbang, lebih kecil dari
40 populasi ikan didominasi ukuran kecil, sedangkan bila nilainya lebih dari 70 maka
populasi ikan didominasi ukuran besar. Hal tersebut menunjukkan tidak adanya ikan
yang dibawah ukuran disukai/panen karena ikan kecil dimangsa predator sehingga ikan
besar terus bertambah.
RSD dikembangkan untuk mengatasi PSD yang kurang sensitif terhadap struktur
ukuran populasi ikan yang lebih besar daripada panjang kualitas. Dalam penghitungan
PSD dan RSD ini digunakan model lima sel. Teknik ini dikembangkan untuk
memudahkan kegiatan evaluasi struktur populasi ikan berdasarkan ukurannya. Model ini
dapat meningkatkan sensitivitas ukuran struktur indek (Djumanto, 2010).
Berdasarkan tabel 2. analisis data menggunakan model lima sel, panjang ikan
ukuran kelas stock yaitu sebesar 5,61 cm; panjang ukuran kelas quality yaitu sebesar
9,39 cm; panjang ukuran kelas disukai yaitu sebesar 12,20 cm; panjang ukuran kelas
termemori yaitu sebesar 15,01 cm; dan panjang ukuran kelas trofi yaitu sebesar 18,79
cm.
Pada Tabel 3. analisis data menunjukkan nilai PSD tradisional sebesar 95,83%.
Menurut Willis & Scalet (1989) populasi ikan dengan nilai PSD tinggi menunjukkan
bahwa populasi didominasi ikan dengan ukuran besar, sedangkan PSD dengan nilai
rendah menunjukkan bahwa populasi didominasi oleh ikan kecil. Maka bisa dikatakan
bahwa populasi ikan wader ijo di Rowo Jombor didominasi oleh ikan dengan ukuran
besar.
43

Tabel 4. menunjukan nilai RSD incremental, yaitu RSD S-Q, RSD Q-P, RSD PM. RSD M-T dan RSD-T. RSD S-Q adalah persentase populasi ikan antara ukuran
minimum stok dan ukuran minimum kualitas. RSD Q-P adalah persentase populasi ikan
antara ukuran minimum kualitas dan ukuran minimum disukai. RSD P-M adalah
persentase populasi ikan antara ukuran minimum disukai dan ukuran minimum
termemori. RSD M-T adalah persentase populasi ikan antara ukuran minimum termemori
dan ukuran minimum trofi (Abernethy, 2007). Dari hasil yang diperoleh, kelompok
panjang S-Q atau nilai RSD S-Q memiliki persentase yang rendah yaitu 4,17% dengan
jumlah 1 ekor. Hal tersebut menggambarkan bahwa ikan nila hitam di Rowo Jombor
didominasi oleh ikan dengan ukuran kecil. Hasil lain yang diperoleh menunjukan ikan
dengan ukuran Q-P memiliki persentase 0% yang berarti populasi ikan wader ijo
berukuran disukai tidak ditemukan di Rawa Jombor. Sehingga dapat dikatakan bahwa
pertumbuhan stok ikan di Rowo Jombor tidak begitu baik karena ikan berukuran kecil
jumlahnya lebih banyak daripada ikan ukuran besar. Ikan berukuran kecil lebih banyak
karena populasinya mulai menurun akibat kegitan penangkapan. Banyaknya ikan
berukuran kecil tersebut juga dapat disebabkan oleh adanya predasi.

44

V.

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Panjang ikan ukuran kelas stock yaitu sebesar 5,61 cm; panjang ukuran kelas
quality yaitu sebesar 9,39 cm; panjang ukuran kelas disukai yaitu sebesar 12,20
cm; panjang ukuran kelas termemori yaitu sebesar 15,01 cm; dan panjang ukuran
kelas trofi yaitu sebesar 18,79 cm.
2. Nilai PSD tradisional sebesar 95,83% yang berarti populasi ikan nila hitam di Rowo
Jombor didominasi oleh ikan dengan ukuran besar.
3. Nilai RSD S-Q memiliki persentase tertinggi yaitu 66,67% dengan jumlah 16 ekor.
Hal tersebut menggambarkan bahwa ikan nila hitam di Rowo Jombor didominasi
oleh ikan dengan ukuran M-T (memorable-trophy) artinya populasi tersebut
seimbang.

DAFTAR PUSTAKA
45

Abernethy, D. L. 2007. An Anglers Guide to Interpreting Alabama Wildlife and Freshwater


Fisheries Reservoir Reports. Department of Conservation and Natural Resources
Wildlife and Freshwater Fisheries Division Fisheries Section. Alabama.
Anderson, R.O. 1976. Management of small warm water impoundmennt. Fisheries 1:5-7, 2628.
Booke, H.E. 1981. The conundrum of the stock concept are nature and nurture definable in
fishery sciense. Can. J. Fish. Aquat. Sci. 38 : 1479 1480.
Cross, T. J dan R. H. Payne. 1978. Geographic variation in Atlantic cod (Gadus morhua), off
eastern North America : a biochemical systematics approach. J. Fish. Res. Bd.
Canada. 35 : 117 123.
Djumanto. 2010. Petunjuk Praktikum Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Gabelhouse, D.W., Jr. 1984. An assessment of crappie stocks in small midwestern private
impoundments. North Am. J. Fish. Manage., 4:371-384.
Gulland, J.A. 1969. Manual of methods for fish stock assessment. Part 1 : Fish population
analysis. FAO Rome. Italy.
Mitson, R.B. 1983. Fisheries acoustics. A practical manual for aquatic biomass estimation.
FAO Fish. Tech. Pap. Italy.
Thorne, R.E. 1979. Hydroacoustics. In L.A. Nielsen and D.L. Johnson (eds.). Fisheries
techniques. Am. Fish. Soc Bethesda Maryland. USA.
Willis, D. W. and C. G. Scalet. 1989. Relations between proportional stock density and
growth and condition of northern pike populations. Noerth American Journal of
Fisheries Management. 9 : 488-492.
Willis, D. W., B. R. Murphy and C. S. Guy. 1993. Stock density indices: development, use,
and limitations. Reviews in Fisheries Science 1 (3) : 203-222.

46