Anda di halaman 1dari 7

Pembuatan Profil Geologi dan Kolom Stratigrafi dan Kesebandingan Daerah Majenang dan Sekitarnya, Peta Geologi Lembar

Majenang Marcellina Ramadhani 21100110141036 Teknik Geologi Universitas Diponegoro Koresponding Autor : just.sassa@rocketmail.com

Sari Pembuatan penampang profil geologi dan kolom stratigrafi dan kesebandingan berperan penting dalam pembuatan laporan pemetaan geologi. Profil geologi menggambarkan kondisi geologi berupa satuan litologi, dan struktur geologi serta ketinggian (elevasi) dalam bentuk dua dimensi sedangkan kolom stratigrafi menggambarkan hubungan antar satuan litologi atau Formasi secara vertikal, menjelaskan tentang umur batuan, komposisi fosil, deskripsi litologi, lingkungan pengendapan, serta menghubungkan satuan litologi dengan geologi regional. Sehingga sangat penting untuk memahami pembuatan profil geologi serta kolom stratigrafi dan kesebandingan. Daerah Majenang merupakan Zona Pegunungan Selatan (Southern Mountain Zone) jika dilihat dari tatanan tektoniknya Berdasarkan struktur geologi yang terlihat, pada daerah Majenang memiliki struktur yang diperkirakan adanya sesar geser (terlihat pada Formasi Tapak) dan adanya antiklin pada Endapan Alluvium (Qa). Formasi pada daerah ini memiliki tiga formasi , yaitu pertama Formasi Kumbang (Tmpk) yang susunan litologinya berupa breksi gunungapi, lava, retas dan tuff bersusun andesit hingga basalt, batupasir tuff dan konglomerat. Kedua adalah Formasi Tapak (Tpt) yang susunan litologinya tersusun atas batupasir hingga beberapa sisipan napal. Ketiga adalah Endapan Alluvium (Qa). Dan berdasarkan pembuatan profil serta kolom stratigrafi dan kesebandingan, maka dapat disimpulkan bahwa Daerah Majenang memiliki tiga satuan batuan, yaitu : Satuan Breksi Gunungapi Satuan Batupasir Satuan Batulempung dengan sisipan Batupasir. Kata kunci : profil geologi, kolom stratigrafi dan kesebandingan, Zona Pegunungan Selatan batuan mengalami proses pelapukan. Dengan demikian daerah yang telah terangkat akan mengalami proses denudasi sehingga mengalami bentuk yang berbukit-bukit dan dataran (peneplain), proses patahan dan pengangkatan akan menimbulkan zona-

PENDAHULUAN Bentuk permukaan bumi yang kita lihat sekarang merupakan hasil dari suatu proses geologi sebagai tenaga endogen dan pengaruh faktor cuaca sebagai tenaga eksogen yang menyebabkan

zona lemah sehingga akan berbentuk lembah lembah sungai dan penerobosan magma ke dalam bentuk kegiatan vulkanisme yang menghasilkan batuan vulkanik. Seperti yang membentuk fisiografi Jawa Barat yang memiliki karakteristik geologi yang terdiri dari perdataran alluvial, perbukitan lipatan dan gunungapi. Beberapa lokasi di wilayah Jawa bagian selatan khususnya daerah MajenangBumiayu, Cilacap , Jawa Tengah memiliki pola tatanan struktur yang kompleks dan mencerminkan bentuk morfologi perbukitan, dataran yang dilihat dari gambaran citra landsat. Profil geologi dan kolom stratigrafi dan kesebandingan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam pembuatan laporan pemetaan geologi. Profil geologi menggambarkan kondisi geologi berupa satuan litologi, dan struktur geologi serta ketinggian (elevasi) dalam bentuk 2 dimensi sedangkan kolom stratigrafi menggambarkan hubungan antar satuan litologi atau Formasi secara vertikal, menjelaskan tentang umur batuan, komposisi fosil, deskripsi litologi, lingkungan pengendapan, serta menghubungkan satuan litologi dengan geologi regional. Sehingga sangat penting untuk memahami pembuatan profil geologi serta kolom stratigrafi dan kesebandingan. Lokasi penelitian terletak di Kabupaten Majenang, Jawa Barat. Berdasarkan klasifikasi menurut Van Bemmelen, 1949, daerah ini termasuk Zona Pegunungan Selatan. Pada geologi regional, daerah pemetaan terletak di lembar peta Majenang.

METODOLOGI Metoda-metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah identifikasi kondisi geologi daerah Majenang, yang menggunakan citra landsat. Pada Peta Geologi Regional Lembar Majenang yang disusun oleh Kartowodan N. Suwarna pada tahun 1996, daerah Bumiayu dan sekitarnya memiliki aspekaspek geologi yang menarik untuk diteliti yang meliputi variasi litologi, stratigafi,struktur geologi, geomorfologi dan potensi bahan galian. Kemudian data hasil kontur dapat digabungkan dengan peta regional daerah Majenang dengan menggunakan software Arc Gis 9.0 dan Global Mapper. Setelah hasil kontur dapat terlihat, kemudian kita membuat dua sayatan pada daerah ini sehingga mencakupi semua litologi, struktur geologi dan keadaan geologi pada daerah Majenang ini. Pada pembuatan penampang geologi menggunakan software Corel Draw, sehingga ketika pembuatan kolom stratigrafi dan kesebandingan memacu pada peta geologi daerah Majenang dan softaware yang digunakan juga menggunakan software Corel Draw agar hasil dapat dibaca secara jelas dan terperinci.

GEOLOGI REGIONAL DAERAH MAJENANG Fisiografi Menurut Van Bammelan 1949, yaitu Daerah Majenang termasuk ke dalam Zona Pegunungan Selatan (Southern Mountain Zone). Zona Pegunungan Selatan terbentang mulai dari teluk Pelabuhan Ratu sampai Pulau Nusakambangan. Zona ini mempunyai lebar kurang lebih 50 km, tetapi

dibagian timur menjadi sempit dengan beberapa lebar hanya beberapa km. pegunungan Selatan telah mengalami perlipatan dan pengangkatan pada zaman Miosen dengan kemiringan lemah kea rah Samudra Indonesia. Pegunungan Selatan dapat dikatakan suatu plateau dengan permukaan batuan endapan Miosen Atas, tetapi pada beberapa tempat permukaanya tertoreh-toreh dengan kuat sehingga tidak merupakan plateau lagi. Sebagian besar dari Pegunungan Selatan mempunyai dataran erosi yang letaknya lebih rendah, disebut dataran Lengkong yang terletak di bagian baratnya dan sepanjang hulu sungai Ci Kaso. Pada waktu pengangkatan Pegunungan Selatan (Pleistosen Tengah) dataran Lengkong ikut terangkat pula, sehingga batas utara mencapai ketinggian kurang lebih 800 m dan bukit-bukit pesisir mencapai 400 m.

kelompok batuan sedimen yang terdiri dari formasi Rambatan dan Halang, Formasi Tapak anggota batugamping dan Formasi Glagah.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian dan kerangka tektonik daerah Jawa Tengah Bagian Selatan. Formasi Kumbang tediri dari breksi, tuffan, lava andesit, penyebarannya menempati di daerah utara Majenang, selatan Karangpucung. Kenampakan pada citra satuan ini mencerminkan bentuk tektur kasar hingga sedang dengan bentuk morfologi perbukitan curam hingga bergelombang. Selanjutnya beberapa terobosan batuan beku berupa andesit yang terlihat jelas pada citra landsat dengan bentuk yang menonjol menyerupai kerucut tersebar pada formasi Kumbang, Rambatan dan Halang. Endapan lahar G.Slamet yang dapat dibagi dua yaitu endapan lahar dan endapan lahar tak terurai. Kenampakan pada citra landsat mencerminkan bentuk aliran lahar dan alur disertai bentuk lembah-lembah yang tertoreh. Penyebarannya di bagian timur seperti di daerah Tonjong, Bantarkawung dan Bumiayu. Formasi Ramabatan dan Halang terdiri dari batupasir tuffan, napal, lempung,

Stratigrafi Daerah penelitian merupakan bagian dari Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan tinggian Majenang dan depresi Majenang dengan satuan endapan sedimen laut yang terlipat kuat dan tersesarkan dengan morfologi berbentuk perbukitan dan pegunungan (Sujanto dan Roskamil, 1975). Penafsiran citra landsat didaerah Majenang-Bumiayu ini memperlihatkan jenis dan sebaran batuan yang bervariasi. Hal ini diperlihatkan oleh cirri-ciri bentuk tekstur kasar, sedang dan halus, serta adanya jejak bidang perlapisan, pola kelurusan struktur. Satuan batuan yang menyusun daerah ini antara lain Kelompo Batuan Volkanik terdiri dari satuan Formasi Kumbang, Endapan lahar G.Slamet dan beberapa terobosan batuan beku, sedangkan

serpih, napal, batupasir gampingan. Pada citra landsat satuan ini mencirikan pola sebaran memanjang sesuai dengan sebaran bidang perlapisannya dan menempati punggung perbukitan agak curam dan bergelombang yang memanjang berarah hamper barattimur. Satuan ini mencerminkan perulangan antara batuan klastik kasar dan yang halus yang membentuk kenampakan bidang perlapisan yang cukup baik. Jejak bidang perlapisan kadang-kadang dapat diamati dengan baik, yang mempunyai kemiringan ke arah selatan. Kedua formasi tersebut pada citra landsat sulit dibedakan mengingat hamper sama bentuk teksturnya yang mencerminkan bentuk agak kasar hingga halus karena di beberapa tempat telah terdegradasi dan tererosi cukup kuat. Formasi ini menempati daerah utara Karangpucung, Gumelar, Darmaji dan selatan Ajibarang. Formasi Tapak terdiri dari batupasir, konglomerat, napal lempungan. Pada citra landsat satuan ini menempati dibagian tengahtepatnya barat Majenang dan sekitar Karangpucung. Pada formasi Tapak ini juga dijumpai batugamping. Pada citra landsat, satuan ini tampak seperti bukitbukit internal dengan penyebarannya disekitar selatan Ajibarang. Selanjutnya Satuan Alluvium tersebar di bagian selatan Majenang, selatan Sidereja, Bumiayu dan Tonjong. Pada citra satelit, satuan ini mencerminkan dataran rendah yang cukup luas yang ditempati endapan sungai dan dilalui oleh aliran sungai yang cukup lebar.

Gambar 2. Foto Citra Satelit Kawasan Bandung Struktur geologi di daerah ini yang teridentifikasi dengan baik pada citra, yaitu struktur lipatan, struktur sesar naik dan struktur kelurusan/sesar. Struktur sesar naik teridentifikasi di daerah utara Karangpucung pada formasi Halang. Sedangkan kelurusan-kelurusan (kemungkinan kekar) yang saling sejajar dan beberapa tempat berpotongan menempati pada Formasi Kumbang di utara Majenang.

Gambar 3. Peta Geologi daerah Majenang-Bumiayu berdasarkan citra landsat.

PEMBAHASAN Daerah Majenang merupakan Zona Pegunungan Selatan (Southern Mountain Zone) jika dilihat dari tatanan tektoniknya Berdasarkan struktur geologi yang terlihat, pada daerah Majenang memiliki struktur yang diperkirakan adanya sesar geser (terlihat pada Formasi Tapak) dan adanya antiklin pada Endapan Alluvium (Qa). Formasi pada daerah ini memiliki tiga formasi , yaitu pertama Formasi Kumbang (Tmpk) yang susunan litologinya berupa breksi gunungapi, lava, retas dan tuff bersusun andesit hingga basalt, batupasir tuff dan konglomerat. Kedua adalah Formasi Tapak (Tpt) yang susunan litologinya tersusun atas batupasir hingga beberapa sisipan napal. Pada Formasi Tapak ini juga dijumpai adanya batugamping. Ketiga adalah Endapan Alluvium (Qa) yang tersusun atas kerikil, batupasir dan batulempung. Terendapkan sepanjang dataran banjir sungai-sungai besar juga endapan lempung hitam yang merupakan hasil dari endapan rawa. Selain itu juga terlihat adanya intrusi batuan beku pda peta geologi Majenang. Hal ini membuktikan bahwa satuan ini mencerminkan dataran rendah yang cukup luas yang ditempati endapan sungai dan dilalui oleh aliran sungai yang cukup lebar. Struktur geologi yang terlihat pada daerah penelitian kemungkinan adanya sesar geser disepanjang daerah Melewung hingga Gayamsari pada Formasi Tapak (Tpt) . Sesar geser tersebut dapat terjadi karena adanya aktifitas tektonik sehingga mengalami pergerakan deformasi yang menyebabkan pergeseran. Sesar geser ini juga merupakan kontak antara

Formasi Tapak dengan Endapan Alluvium. Selain itu juga dapat dilihat di sepanjang daerah Sawangan ditemukan adanya lipatan yang merupakan Antiklin. Antiklin sendiri dapat terjadi karena adanya pergeseran akibat tekanan gaya kompres pada dua arah yang salin berlawanan, sehingga menyebabkan lekukan cekung ke atas hingga membentuk sebuah lipatan antiklin. Pada lipatan antiklin ini sendiri terlihat jelas pada peta yang termasuk kedalam Formasi Tapak juga. Penentuan umur batuan bisa dilihat dari arah kemiringan jurus atau strike maupun dip nya sehingga stratigrafi penyusun pada daerah Majenang ini terlihat jelas bahwa pada Formasi Kumbang (Tmpk) merupakan umur yang paling tua susunan litologinya, dan kemudian Formasi Tapak (Tpt) sehingga endapan alluvium merupakan umur yang paling muda. Pada Formasi Kumbang sendiri merupakan sebuah intrusi dari Endapan lahar G.Slamet dan beberapa terobosan batuan beku, sehingga litologi penyusun batuan ini bisa diidentifikasikan adanya breksi volkanik dari gunungapi. Kemudian Formasi Tapak merupakan kelompok dari batuan sedimen yang terusun atas litologi batugamping, batupasir hingga beberapa sisipan napal. Endapan Alluvium merupakan umur yang paling muda, karena endapan alluvium merupakan hasil dari endapan rawa maupun endapan sungai-sungai besar sepanjang pulau Jawa bagian Selatan sehingga endapan alluvium ini merupakan zona yang paling lemah. Litologi penyusun pada endapan alluvium ini terlihat jelas yaitu batupasir dan batulempung. Maka bisa disimpulkan bahwa semakin ke arah selatan daerah Majenang maka umur batuan akan semakin muda.

KESIMPULAN Pembuatan penampang geologi bertujuan untuk menggambarkan kondisi geologi daeran penelitian dalam bentuk dua dimensi, sehingga memudahkan kita untuk melihat dengan jelas keadaan litologi, struktur geologi pada daerah penelitian. Dan pembuatan kolom stratigrafi dan kesebandingan bertujuan untuk menentukan umur batuan, kondisi litologi, lingkungan pengendapan serta menghubungkan satuan litologi dengan geologi regional. Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila dari penampang geologi, bahwa daerah Majenang dapat diidentifkasikan adanya struktur sesar geser dan lipatan antiklin. Pada daerah ini juga mencakup tiga formasi yaitu Formasi Kumbang, Formasi Tapak dan Endapan Alluvium. Secara fisiografis pada geologi regional daerah Majenang juga memperlihatkan hal yang sama. Dan stratigrafi penyusunnya bahwa Formasi Kumbang merupakan umur yang paling tua satuan litologinya dan Endapan Alluvium merupakan umur yang paling muda. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin ke selatan, umur batuan akan semakin muda. DAFTAR PUSTAKA Brahmantyo, Budi. 2005. Geology Cekungan Bandung, Departemen Teknik Geologi ITB. Bemmelen, R.W. van. 1949. The Geology of Indonesia, Vol. 1a 732 p. Governmental Printing Office. the Hague.Netherlands. Kastowo, Suwana, 1996. Peta Geologi Lembar Majenang. Skala 1 :

100.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung. Sudradjat, Adjat . 1992. Jawa Barat Selatan Sebagai Potensi Yang Terpendam. Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Departemen Penambangan dan Energi. Zuidam, R.A. Van. 1983. Aerial PhotoInterpretation Terrain Analysis and Geomorphology Mapping. Smith Publisher The Hague, ITC.