P. 1
Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. Buku Pegangan Tahun 2009. Penguatan Ekonomi daerah: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. Buku Pegangan Tahun 2009. Penguatan Ekonomi daerah: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

|Views: 244|Likes:
Dipublikasikan oleh Oswar Mungkasa

Dokumen diterbitkan oleh Bappenas setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Pertama kali diterbitkan tahun 2006

Dokumen diterbitkan oleh Bappenas setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Pertama kali diterbitkan tahun 2006

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Oct 22, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

Disusun dan dikoordinasikan oleh : KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Jalan

Taman Suropati 2 Jakarta 10310 Telp. (021) 31936207 INDONESIA

Daftar Isi

DAFTAR ISI 
  KATA SAMBUTAN  DAFTAR ISI  DAFTAR TABEL  DAFTAR GAMBAR  DAFTAR SINGKATAN    BAGIAN  I  BAB I.   PENDAHULUAN  1.1 1.2 1.3 1.4   Latar Belakang  Maksud dan Tujuan  Ruang Lingkup  Sistematika Pembahasan  i  v  ix  xi  xiii   

I‐2  I‐4  I‐5  I‐6      II‐2 

BAGIAN II  BAB II.  PENYEBAB DAN DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL  2.1 2.2 2.3 Penyebab Krisis Keuangan Global 

Kondisi Perekonomian Dunia Saat Ini dan Dampak Ke  II‐3  Depan  Dampak Krisis Keuangan Global Terhadap  Perekonomian Nasional  II‐4 

2.3.1 Dampak Terhadap Perkembangan Ekonomi Makro II‐5  2.3.2 Dampak Terhadap Pertumbuhan Sektor Riil  2.4 Dampak Krisis Keuangan Global Terhadap  Perekonomian Daerah  II‐12  II‐31 

BAB III.  KEBIJAKAN NASIONAL DALAM MENCEGAH DAN    MENGANTISIPASI DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL  3.1 3.2 Sepuluh Arahan Presiden RI  Kebijakan Moneter dan Perbankan  III‐2  III‐6  III‐6 

3.2.1 Kebijakan Pelonggaran Likuiditas BI 

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

v

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

3.2.2 Perppu No. 2 Tahun 2008 Tentang Perubahan  Kedua Atas UU No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank  Indonesia 

III‐6 

3.2.3 Perppu No. 3 Tahun 2008 Tentang Perubahan UU  III‐7  No. 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin  Simpanan  3.2.4 Perppu No. 4 Tahun 2008 Tentang Jaring  Pengaman Sektor Keuangan (JPSK)  3.3 Kebijakan Fiskal  3.3.1 Program Stimulus Fiskal 2009  3.3.2 Optimalisasi Penyerapan APBN 2009  3.4 Kebijakan Penguatan Sektor Riil  3.4.1 Kerangka Besar Program Pengamanan Sektor Riil  3.4.2 Bidang Perindustrian  3.4.3 Bidang UMKM  3.4.4 Bidang Pertanian Dan Perkebunan  3.4.5 Bidang Kelautan Dan Perikanan  3.4.6 Bidang Kehutanan  3.4.7 Bidang Lingkungan Hidup  3.4.8 Bidang Perdagangan  3.4.9 Bidang Investasi  3.4.10 Bidang Infrastruktur  3.4.11 Bidang Pariwisata  3.4.12 Bidang Ketenagakerjaan  3.4.13 Bidang Kemiskinan  III‐8  III‐9  III‐9  III‐18  III‐20  III‐20  III‐21  III‐22  III‐25  III‐26  III‐27  III‐28  III‐29  III‐30  III‐32  III‐39  III‐40  III‐44 

BAB IV.  LANGKAH‐LANGKAH YANG DAPAT DILAKUKAN    PEMERINTAH DAERAH DALAM MENGHADAPI DAMPAK  KRISIS KEUANGAN GLOBAL  4.1 4.2 Pengamanan Pelaksanaaan APBD 2009  Penguatan Sektor Moneter dan Sektor Keuangan  IV‐3  IV‐3  IV‐3  IV‐4 

4.2.1 Penguatan Sektor Moneter  4.2.2 Penguatan Sektor Keuangan 

vi

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Daftar Isi

4.3

Penguatan Sektor Riil 

IV‐6  IV‐6  IV‐6  IV‐8  IV‐8  IV‐9  IV‐9  IV‐10  IV‐11  IV‐12  IV‐12  IV‐18  IV‐19   

4.3.1 Bidang Perindustrian   4.3.2 Bidang Pertanian Dan Perkebunan  4.3.3 Bidang Peternakan  4.3.4 Bidang Kelautan Dan Perikanan  4.3.5 Bidang Kehutanan  4.3.6 Bidang Energi Dan Sumber Daya Mineral  4.3.7 Bidang Lingkungan Hidup  4.3.8 Bidang Perdagangan   4.3.9 Bidang Investasi  4.3.10 Bidang Infrastruktur  4.3.11 Bidang Pariwisata  4.3.12 Bidang Kemiskinan  BAGIAN III  BAB V.  RENCANA KERJA PEMERINTAH DAN KEBIJAKAN FISKAL  TAHUN 2009  5.1 RKP Tahun 2009  5.1.1 Tema RKP Tahun 2009 dan Pengarusutamaan  Pembangunan  5.1.2 Prioritas Pembangunan Tahun 2009  5.1.3 Prioritas Terkait Penguatan Ekonomi Daerah dalam  RKP Tahun 2009   5.2 Kebijakan Fiskal Tahun 2009  5.2.1 Arah Kebijakan Fiskal, Asumsi Ekonomi Makro dan  Postur APBN 2009  5.2.2 Belanja Negara   

V‐2  V‐3  V‐5  V‐6  V‐39  V‐39  V‐42 

BAGIAN IV    BAB VI.  PERKEMBANGAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN  DAN PEMBANGUNAN DAERAH  6.1 Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan  Daerah  VI‐3 

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

vii

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

6.1.1 Perkembangan Kelembagaan Pemerintah Daerah  6.1.2 Perkembangan Aparatur Pemerintah Daerah  6.1.3 Kerjasama Antar Daerah  6.1.4 Daerah Otonom Baru  6.2 Perkembangan Pelaksanaan Pembangunan Daerah  6.2.1 Perkembangan Pelaksanaan Penataan Ruang  Wilayah  6.2.2 Perkembangan Pelaksanaan Pembangunan  Kawasan Khusus Dan Daerah Tertinggal  6.2.3 Perkembangan Pelaksanaan Pembangunan  Wilayah Perkotaan Dan Perdesaan  LAMPIRAN A  LAMPIRAN B     

VI‐3  VI‐7  VI‐8  VI‐9  VI‐12  VI‐12  VI‐14  VI‐25  A‐2  B‐2 

viii

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Daftar Tabel

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Data dan Proyeksi Pertumbuhan Beberapa Indikator Ekonomi 2009 dan 2010 Tabel 2.2. Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas Tahun 2004 – 2008 Tabel 2.3. Realisasi Ijin Usaha Tetap PMDN dan PMA Tabel 2.4. Pendataan Pekerja yang terkena PHK Tabel 2.5. Nilai Ekspor Tiap Provinsi di Indonesia Tabel 3.1. Stimulus Fiskal, 2009 Tabel 3.2. Stimulus Peningkatan Daya Beli Masyarakat Tabel 3.3. Stimulus untuk Peningkatan Daya Saing dan Daya Tahan Usaha dan Ekspor II-22 II-27 II-28 II-30 II-33 III-10 III-13 III-15

Tabel 3.4. Stimulus Fiskal Untuk Peningkatan Infrastruktur Padat III-17 Karya Tabel 5.1. Asumsi Ekonomi Makro Tahun 2009 Tabel 5.2. Postur APBN Tahun 2009 Tabel 5.3. Belanja Negara Tahun 2009 Tabel 6.1. Daftar 26 Pusat Kegiatan Strategis Nasional di Kawasan Perbatasan V-40 V-40 V-43 VI-22

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

ix

Daftar Gambar

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Perkiraan Pertumbuhan Perdagangan Dunia Tahun II-4 2009 Gambar 2.2. Pertumbuhan Volume Perdagangan Global Gambar 2.3. Penurunan Neraca Perdagangan Indonesia Gambar 2.4. Sasaran dan Realisasi Ekspor Nonmigas Gambar 2.5. Nilai Ekspor 5 Besar Provinsi Pengekspor di Indonesia Gambar 2.6. Pertumbuhan Ekspor 5 Besar Provinsi Eksportir Utama di Indonesia Gambar 3.1. Kluster Program Penanggulangan Kemiskinan Gambar 4.1. Siklus Kerjasama Pemerintah dengan Swasta Gambar 6.1. Perkembangan DOB Tahun 1999-2009 Gambar 6.2. Skema Pembentukan Kecamatan, Kelurahan dan Desa Gambar 6.3. Ketersediaan Tanah Nasional Gambar 6.4. Penggunaan Tanah di Indonesia Gambar 6.5. Ilustrasi 10 Kawasan Perbatasan di Indonesia II-22 II-24 II-25 II-32 II-32 III-44 IV-15 VI-10 VI-11 VI-14 VI-14 VI-21

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

xi

Daftar Singkatan

DAFTAR SINGKATAN
A
ADB AKB AKI AMDAL APBD APBN APINDO ASDP ASEAN ASEM ASKI ASW : : : : : : : : : : : : Asian Development Bank Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Asosiasi Pengusaha Indonesia Angkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan Association of South East Asian Nations Asia-European Meeting Arsitektur Keuangan Indonesia ASEAN Single Window

B
BAPPENAS BBI BBM BBN BBPOPT BBPPMBTPH BEI BHMN BI BKPMM BKTRN BLK/UPTD BLM BLT BLU BMP BNK/Kota BNN BNP BOP BOS BP KAPET BPMB TPH : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional : Balai Benih Ikan : Bahan Bakar Minyak : Bahan Bakar Nabati : Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan : Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura : Bursa Efek Indonesia : Badan Hukum Milik Negara : Bank Indonesia : Badan Kerjasama Pembangunan Metropolitan Mamminasata : Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional : Balai Latihan Kerja : Bantuan Langsung Masyarakat : Bantuan Langsung Tunai : Badan Layanan Umum : Bobot Manfaat Perusahaan : Badan Narkotika Kabupaten/Kota : Badan Narkotika Nasional : Badan Narkotika Provinsi : Balance of Payment : Bantuan Operasional Sekolah : Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu : Balai Pengembangan Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura
xiii

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

BPMPT BPN BPSBTPH BPTP BPTPH BRR BTN BUMN BUMD

: Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak : Badan Pertanahan Nasional : Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian : Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura : Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi : Bank Tabungan Negara : Badan Usaha Milik Negara : Badan Usaha Milik Daerah

C
CAR CDM CPO : Capital Adequate Ratio : Clean Development Mechanism : Crude Palm Oil

D
DAK DAS DAU DBH DNA DOB DPD DPK DPK DPOD DPR DPRD : Dana Alokasi Khusus : Daerah Aliran Sungai : Dana Alokasi Umum : Dana Bagi Hasil : Deoxyribonucleic acid : Daerah Otonom Baru : Dewan Perwakilan Daerah : Dana Pihak Ketiga : Departemen Perikanan dan Kelautan : Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah : Dewan Perwakilan Rakyat : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

E
EBA : Efek Beragun Aset

F
FEATI FPD FX swap : Farmer Empowerent Through Agricultural Technology and Information : Fasilitas Pembiayaan Darurat : Forex Swap

G
GAPOKTAN GDP GNP
xiv

: Gabungan Kelompok Tani : Gross Domestic Product : Gross National Product
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Daftar Singkatan

GWM

: Giro Wajib Minimum

H
HDI HHBK HPH HSBK HTI HTR : Human Development Index : Hasil Hutan Bukan Kayu : Hak Pengelolaan Hutan : Harga Satuan Biaya Khusus : Hutan Tanaman Industri : Hutan Tanaman Rakyat

I
IDB IDP IKM Inpres ILO IMF IMIDAP IPM IPO IPP IRSDP ITPC IUP IUPHHBK IUPHHK : Islamic Development Bank : Indonesia Design Product : Industri Kecil Menengah : Instruksi Presiden : International Labour Organization : International Monetary Fund : Integrated Microhydro Development and Application Program : Indeks Pembangunan Manusia : Indonesia Promotion Office : Independent Power Producers : Infrastructure Reform Sector Development Project : Indonesia Trade Promotion Center : Ijin Usaha Pertambangan : Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu : Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu

J
Jabodetabekpunjur : Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur Jamkesmas : Jaminan Kesehatan Masyarakat JICA : Japan International Cooperation Agency JIDES : Jaringan Irigasi Desa JITUT : Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani JPSK : Jaring Pengaman Sektor Keuangan JTM : Jaringan Tegangan Menengah JTR : Jaringan Tegangan Rendah

K
KAPET KAT KB KBI KEK : Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu : Komunitas Adat Terpencil : Keluarga Berencana : Kawasan Barat Indonesia : Kawasan Ekonomi Khusus
xv

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

KEKI Keppres KESR KIE KILN KK KKKS KPBPB KPR KPRSH KPS KRD KRL KSN KSP KSSK KTI KTM KUR KVA KW K/L

: Kawasan Ekonomi Khusus Investasi : Keputusan Presiden : Kerjasama Ekonomi Sub Regional : Komunikasi, Informasi dan Edukasi : Kantor Investasi Luar Negeri : Kepala Keluarga : Kontraktor Kontrak Kerja Sama : Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas : Kredit Pemilikan Rumah : Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat : Kerjasama Pemerintah Swasta : Kereta Rel Diesel : Kereta Rel Listrik : Kawasan Strategis Nasional : Kawasan Sentra Produksi : Komite Stabilitas Sistem Keuangan : Kawasan Timur Indonesia : Kota Terpadu Mandiri : Kredit Usaha Rakyat : kilovolt-ampere : Kilo Watt : Kementerian/Lembaga

L
LDM LKBB LKM LLAJ LPND : Lumbung Desa Modern : Lembaga Keuangan Bukan Bank : Lembaga Keuangan Mikro : Lalu Lintas Angkutan dan Jalan : Lembaga Pemerintah Non-Departemen

M
MA MDGs METI MI MII MOP/MOW MTs : : : : : : : Madrasah Aliyah Millenium Development Goals Maritime Education and Training Improvement Madrasah Ibtidaiyah Marketing Investasi Indonesia Medis Operatif Pria / Medis Operatif Wanita Madrasah Tsanawiyah

N
NAD NKRI NPL NSW
xvi

: Nangroe Aceh Darussalam : Negara Kesatuan Republik Indonesia : Non Performing Loan : National Single Window
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Daftar Singkatan

NTB NTP NTT

: Nusa Tenggara Barat : Nilai Tukar Petani : Nusa Tenggara Timur

O
OECD OGS OPT OVOP : Organisation for Economic Co-operation and Development : Obat Generik Bersubsidi : Organisme Pengganggu Tanaman : One Village One Product

P
PAD PDB PDRD Perda PERPPU Perpres PERPAMSI Perseroda Perumda PHK PIDRA PIUKU PHLN PKH PKN PKSN PKUK PL-PTKP PLTA PLTMH PLTS PLTU PMA PMK PMN PMTB PNPM PNS PNSD POKMASWAS POPT POPT/PHP PP : Pendapatan Asli Daerah : Produk Domestik Bruto : Pajak Daerah dan Retribusi Daerah : Peraturan Daerah : Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang : Peraturan Presiden : Persatuan Perusahaan Air Minum di Seluruh Indonesia : Perusahaan Perseroan Daerah : Perusahaan Umum Daerah : Pemutusan Hubungan Kerja : Partisipatory Integrated Development In Rafed Areas : Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Umum : Pinjaman/Hibah Luar Negeri : Program Keluarga Harapan : Pusat Kegiatan Nasional : Pusat Kegiatan Strategis Nasional : Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan : Petugas Lapang Pembantu Tenaga Kontrak Pendamping : Pembangkit Listrik Tenaga Air : Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro : Pembangkit Listrik Tenaga Surya : Pembangkit Listrik Tenaga Uap : Penanaman Modal Asing : Peraturan Menteri Keuangan : Penyertaan Modal Negara : Pembentukan Modal Tetap Bruto : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat : Pegawai Negeri Sipil : Pegawai Negeri Sipil Daerah : Kelompok Masyarakat Pengawas : Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman : Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan-Pengamat Hama Penyakit : Peraturan Pemerintah
xvii

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

PPBJ : Panitia Pengadaan Barang dan Jasa PPIP/RIS-PNPM :Peningkatan Infrastruktur Pedesaan Skala Komunitas PPN : Pajak Pertambahan Nilai PPN DTP : Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah PPP : Public Private Partnership PPTSP : Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu PS PLP : Prasarana dan Sarana Penyehatan Lingkungan Permukiman PSO : Public Service Obligation PSU : Prasarana, Sarana, dan Utilitas PT KAI : Perseroan Terbatas Kereta Api Indonesia PTKP : Pendapatan Tidak Kena Pajak PUAP : Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian P2IPDT : Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan P2SEDT : Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal P2KPDT : Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal P3D : Pembiayaan, Personil, Peralatan dan Dokumen P3DN : Program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri P4DT : Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal

Q
-

R
Ranperpres RASKIN Raskin RISE/PISEW RKA K/L RKA SKPD RKP RPJMD RPJMN RPJP RPJPN RPP RRC RSH RT RTM RTR RTRW RTRWN
xviii

: Rancangan Peraturan Presiden : Beras untuk Rakyat Miskin : Rakyat Miskin : Regional Infrastructure Social Economic Development/ Pengembangan Infrastruktur Social EKonomi WIlayah : Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga : Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah : Rencana Kerja Pemerintah Nasional : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah : Rencana Pembangunan jangka Menengah : Rencana Pembangunan Jangka Panjang : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional : Rancangan Peraturan Pemerintah : Republik Rakyat Cina : Rumah Sederhana Sehat : Rumah Tangga : Rumah Tangga Miskin : Rencana Tata Ruang : Rencana Tata Ruang Wilayah : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Daftar Singkatan

RUKN Rusunawa

: Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional : Rumah Susun Sederhana Sewa

S
Sanimas SBI SBN SBNP SCM SD SDA SDLB SDM SIKD SILPA SKPD SKPG SL-PHT SL-PTT SMP SPIPISE SPM SRG STA STPI : Sanitasi oleh Masyarakat : Sertifikat Bank Indonesia : Surat Berharga Negara : Sarana Bantu Navigasi Pelayaran : Supply Chain Management : Sekolah Dasar : Sumber Daya Alam : Sekolah Dasar Luar Biasa : Sumber Daya Manusia : Sistem Informasi Keuangan Daerah : Sisa Lebih Penggunaan Anggaran : Satuan Kerja Pemerintah Daerah : Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi : Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu : Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu : Sekolah Menengah Pertama : Sistem Pelayanan Informasi & Perizinan Investasi Secara : Standar Pelayanan Minimal : Sistem Resi Gudang : Sub Terminal Agribisnis : Sekolah Tinggi Penerbang Indonesia

T
T/A TAHURA Taperum-PNS TCD TDL THK-POPT TKDN TKDN TKI TKP TPT TSL : Technical Assistance : Taman Hutan Raya : Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil : Transcranial Doppler : Tarif Dasar Listrik : THK Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan : Tingkat Kandungan Dalam Negeri : Tingkat Komponen Dalam Negeri : Tenaga Kerja Indonesia : Tenaga Kontrak Pendamping : Tanda Pendaftaran Tipe : Tumbuhan dan Satwa Liar

U
UKM UMKM UMR : Usaha Kecil Menengah : Usaha Mikro Kecil dan Menengah : Upah Minimum Regional
xix

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

UPIT UPJA UU PPh USO UU UUD

: Unit Pelayanan Investasi Terpadu : Unit Pelayanan Jasa Alsintan : Undang-Undang Pajak Penghasilan : Universal Service Obligation : Undang-Undang : Undang-Undang Dasar

V
-

W
WISMP WKP : Water Resources and Irrigation Sector Management Project : Wilayah Kerja Penambangan

X
-

Y
-

Z
-

xx

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN
Melalui Buku Pegangan yang diterbitkan setiap tahun ini, semua pihak yang berkepentingan diharapkan dapat memperoleh gambaran umum tentang proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Tema utama Buku Pegangan Tahun 2009 ini adalah ”Penguatan Ekonomi Daerah: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global”. Dengan demikian, upaya pencapaian sasaran pembangunan nasional khususnya menghadapi dampak krisis keuangan global dan upaya mempertahankan fundamental perekonomian negara untuk tetap kuat menghadapi krisis keuangan global ini dapat diatasi bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melalui keterpaduan penerapan kebijakan di masing-masing daerah serta mendapat dukungan penuh seluruh lapisan masyarakat.

1.1 Latar Belakang
Cita-cita nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah berkehidupan kebangsaan yang bebas, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Berkaitan dengan hal tersebut, disusunlah tujuan nasional dari pembentukan pemerintahan, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Kemerdekaan yang telah diraih harus dijaga dan diisi dengan pembangunan yang berkeadilan dan demokratis serta dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional serta memberikan arah bagi pelaksanaan pembangunan agar dapat berjalan dengan efektif, efisien, dan sesuai dengan sasarannya, maka diperlukan adanya kebijakan yang mampu merealisasikan cita-cita dan tujuan tersebut. Salah satu kebijakan yang diambil oleh pemerintah adalah penyusunan arah kebijakan pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebagai visi dan misi Presiden terpilih didalam menjalankan pemerintahan guna mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional tersebut.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Cita-cita nasional Negara Republik Indonesia adalah berkehidupan kebangsaan yang bebas, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur

Arah kebijakan pembangunan dituangkan dalam RPJMN yang merupakan penjabaran visi dan misi Presiden terpilih dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional

I-2

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004–2009. Di dalam RPJMN Tahun 2004–2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2004 pada tanggal 19 Januari 2004 sebagai penjabaran Visi dan Misi Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden pada tahun 2004, ditetapkan 3 Agenda Pembangunan, yang terdiri dari: Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai; Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga Agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam upaya peningkatan kesejahteraan rakyat

Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam rangka pencapaian agenda ketiga RPJMN 2004-2009 yaitu peningkatan kesejahteraan rakyat. Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, penguatan lembaga keuangan, dan sektor riil. Di sisi kebijakan fiskal, kebijakan diupayakan untuk menjaga ketahanan fiskal yang berkesinambungan serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. Dari sisi kebijakan moneter, kebijakan diupayakan untuk menjaga stabilitas moneter. Upayaupaya yang ditempuh tersebut selama ini telah mampu mendukung perekonomian Indonesia untuk dapat tumbuh pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat belakangan ini telah berkembang menjadi masalah serius. Krisis keuangan global yang bermula dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat memang membawa implikasi pada kondisi ekonomi global secara menyeluruh. Hampir di setiap negara, baik di kawasan Amerika, Eropa, maupun Asia, merasakan dampak akibat krisis keuangan global tersebut. Gejolak tersebut mulai mempengaruhi stabilitas ekonomi global di beberapa kawasan. Menurut perspektif ekonomi, perdagangan antar satu negara dengan negara lain saling berkaitan, misalnya melalui aliran barang dan jasa. Impor suatu negara merupakan ekspor bagi negara lain. Dalam hubungan yang sedemikian, akan sangat dimungkinkan resesi di satu negara akan menularkan dan mempengaruhi secara global, karena penurunan impor di satu tempat menyebabkan tertekannya ekspor di tempat lain. Saat ini hampir semua negara-negara di dunia menganut sistem pasar bebas sehingga terkait satu sama lain. Aliran dana, bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lain dengan regulasi moneter tiap negara yang sangat beragam. Akibatnya setiap negara memiliki resiko terkena dampak krisis secara sangat beragam.

Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat telah membawa implikasi pada kondisi ekonomi global secara menyeluruh

I-3

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Pendahuluan

Penanganan dampak krisis membutuhkan regulasi yang cepat dan tepat. Disetiap negara cara penanganannya dapat dipastikan akan berbeda, sebagaimana dampak krisis ekonomi yang juga berbeda. Secara umum, negara yang paling rentan terhadap dampak krisis adalah negara yang fundamental ekonomi domestiknya tidak kuat. Pemerintah Indonesia tetap optimis akan mampu mengatasi dampak krisis keuangan dunia ini. Penerapan kebijakan di bidang ekonomi yang tepat serta pemberantasan korupsi ditambah dengan dukungan keterpaduan penerapan kebijakan di masing-masing daerah diyakini sebagai langkah mempertahankan fundamental perekonomian negara yang kuat. Tahun 2009 juga merupakan tahun penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan yang tertuang dalam RPJMN, maka diperlukan upaya untuk mempertahankan kestabilan dan kesinambungan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2009 ini melalui upaya Penguatan Ekonomi Daerah. Berbagai upaya kearah itu juga telah ditempuh, mulai dari upaya percepatan pencairan anggaran belanja Kementerian/Lembaga maupun Pemerintah Daerah untuk membantu likuiditas keuangan di masyarakat, hingga upaya mengutamakan program untuk rakyat dengan melindunginya dari kemungkinan dampak krisis melalui kepastian penyaluran program-program pengentasan kemiskinan dan peningkatan program-program untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dalam menghadapi krisis keuangan global ini, sangat dibutuhkan ketenangan semua pihak agar dapat senantiasa berfikir rasional dalam mencari jalan dan solusi yang tepat mengatasinya. Meskipun tidak seluruh masalah berada dalam jangkauan wilayah kebijakan dan wewenang pemerintah, namun partisipasi dan peran serta semua pihak dalam menghadapi dampak krisis keuangan global mutlak dibutuhkan.

Penanganan dampak krisis membutuhkan regulasi yang cepat dan tepat disetiap negara

Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan yang tertuang dalam RPJMN, maka diperlukan upaya untuk mempertahankan kestabilan dan kesinambungan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2009 ini melalui upaya Penguatan Ekonomi Daerah

1.2 Maksud dan Tujuan
Peningkatan kesejahteraan rakyat melalui upaya penciptaan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas memerlukan komitmen stabilitas ekonomi makro. Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, penguatan lembaga keuangan, dan sektor riil. Buku Pegangan 2009 ini dimaksudkan untuk memberikan arah dan ramburambu yang dapat dijadikan pertimbangan oleh daerah dalam mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi di daerahnya. Dengan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga, serta adanya keterpaduan penerapan kebijakan di masing-masing daerah diyakini akan mempertahankan fundamental perekonomian negara untuk tetap kuat menghadapi krisis keuangan global ini.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Buku Pegangan 2009 dimaksudkan untuk memberikan arah dan rambu-rambu yang dapat dijadikan pertimbangan oleh daerah dalam mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi di daerahnya

I-4

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Adapun yang menjadi tujuan dari penyusunan buku ini, secara spesifik dijabarkan menjadi beberapa point dibawah ini: 1. Menjelaskan penyebab terjadinya krisis keuangan global saat ini. 2. Meningkatkan pemahaman akan dampak krisis keuangan global terhadap perekonomian nasional maupun perekonomian daerah. 3. Mengemukakan arah kebijakan yang dapat diambil dalam mencegah dan mengantisipasi dampak krisis keuangan global. 4. Memantapkan koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam mengambil langkah-langkah guna mengantisipasi dampak krisis keuangan global. 5. Menguraikan kegiatan prioritas pembangunan dan kebijakan fiskal tahun 2009 berkenaan dengan fokus penguatan ekonomi daerah. 6. Menguraikan perkembangan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah hingga saat ini.

1.3 Ruang Lingkup
Krisis ekonomi global yang terjadi belakangan ini telah berkembang menjadi krisis ekonomi yang serius di beberapa negara. Lingkup krisis ekonomi yang dibahas disini adalah krisis keuangan global yang bermula dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat yang membawa implikasi pada kondisi ekonomi global secara menyeluruh. Dampak krisis ekonomi seperti apa yang di terima oleh Indonesia menjadi salah satu ruang lingkup bahasan dalam Buku Pegangan 2009 ini guna mendapatkan pemahaman yang sama tentang penyebab dan dampak krisis ekonomi yang mungkin akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagaimana diketahui, agenda ketiga RPJMN 2004-2009 adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat yang dilaksanakan melalui upaya menjaga perekonomian Indonesia agar dapat tumbuh pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diupayakan dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian, infrastruktur dan energi serta dengan terjaganya stabilitas ekonomi. Tema RKP 2009 yang mengarah kepada upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengurangan kemiskinan menjadi komitmen pemerintah yang akan dipenuhi melalui berbagai strategi dan kebijakan. Kebijakan fiskal yang dilakukan dalam tahun 2009 ini diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkah-langkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini, sedangkan kebijakan moneter diupayakan untuk menjaga stabilitas moneter. Untuk itu, perlu dipahami bersama langkah-langkah apa saja yang telah diambil oleh Pemerintah Pusat dalam
I-5 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Pendahuluan

mengurangi dampak krisis ekonomi, serta hal-hal apa saja yang dapat dijadikan panduan atau acuan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan koordinasi dan konsultasi publik untuk merespon kebijakan yang telah diambil oleh Pemerintah Pusat tersebut.

1.4 Sistematika Pembahasan
Buku Pegangan 2009 ini terdiri dari enam Bab. Buku ini diawali dari Bab I Pendahuluan yang menguraikan latar belakang, maksud dan tujuan serta ruang lingkup penyajian dari Buku Pegangan 2009 ini. Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa Buku Pegangan 2009 ini disusun dengan maksud agar dapat digunakan sebagai referensi bagi para penyusun dan pembuat kebijakan di daerah dalam menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi daerahnya. Adapun tujuannya adalah menyamakan persepsi para pemangku kepentingan akan pentingnya keterpaduan penerapan kebijakan di masing-masing daerah dalam menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi daerah guna mempertahankan fundamental perekonomian negara untuk tetap kuat menghadapi krisis keuangan global ini. Dalam Bab II Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global, diuraikan isu, permasalahan penyebab timbulnya krisis ekonomi, kondisi perekonomian dunia saat ini dan dampaknya ke depan khususnya dampak terhadap perekonomian nasional maupun perekonomian daerah. Bab III Kebijakan Nasional dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global, menguraikan beberapa arahan Presiden RI, strategi kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah pusat selama ini baik itu kebijakan moneter dan perbankan, kebijakan fiskal maupun penguatan sektor riil termasuk didalamnya kebijakan penanggulangan kemiskinan dan peningkatan investasi. Bab IV Langkah-Langkah yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global, berisi hal-hal apa saja yang dapat dijadikan panduan atau acuan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan koordinasi dan konsultasi publik untuk merespon kebijakan yang telah diambil oleh Pemerintah Pusat dalam mengurangi dampak krisis keuangan global. Selanjutnya, Bab V Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009, membahas hal-hal pokok yang menjadi tema, fokus dan kegiatan prioritas pembangunan, serta prioritas anggaran tahun 2009. Tema RKP 2009 adalah “Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan”. Berdasarkan tema tersebut Buku Pegangan 2009 ini memfokuskan uraian pada upaya Penguatan Ekonomi Daerah.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah I-6

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Bab VI Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah, sebagai Bab terakhir, menguraikan beberapa hal pokok terkait dengan pencapaian penyelenggaraan pemerintahan, yang meliputi: perkembangan pencapaian kelembagaan pemerintah daerah, aparatur pemerintah daerah, perkembangan kerjasama antar daerah, dan perkembangan pembentukan daerah otonom baru. Selain itu pada bab ini pun akan dibahas mengenai garis besar pencapaian pembangunan daerah yang dilihat dari sudut pandang pelaksanaan penataan ruang wilayah, perkembangan pembangunan kawasan khusus dan daerah tertinggal, dan perkembangan pembangunan perkotaan dan perdesaan.

I-7

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

BAB II PENYEBAB DAN DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL
Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat belakangan ini telah berkembang menjadi masalah serius dan gejolak yang ditimbulkannya mulai mempengaruhi stabilitas ekonomi di beberapa kawasan. Pembangunan daerah disisi lain merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yang juga dapat terkena dampak krisis yang terjadi, maka Pemerintah terus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kelangsungan dan keberhasilan pembangunan di daerah. Gejolak krisis keuangan global yang mempengaruhi pembangunan di daerah tentunya juga akan sangat berpengaruh pada tingkat pencapaian pembangunan nasional. Pada Bab ini akan dipaparkan beberapa penyebab terjadinya krisis keuangan global, kondisi perekonomian dunia saat ini, dan juga dampak yang telah atau mungkin akan terjadi dari krisis keuangan global ini. Dengan demikian, didapatkan pemahaman yang sama akan kondisi perekonomian Indonesia dan dampak krisis yang dihadapi oleh Indonesia, baik di tingkat nasional maupun daerah.

2.1 Penyebab Krisis Keuangan Global
Krisis keuangan global yang terjadi saat ini sangat terkait erat dengan kondisi perekonomian Amerika yang memburuk. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat telah berkembang menjadi masalah yang serius. Goncangan yang terjadi pada negara adikuasa tersebut dipastikan telah memberikan dampak terhadap perekonomian dunia. Gejolak perekonomian yang terjadi di Amerika Serikat telah mempengaruhi stabilitas ekonomi global di beberapa kawasan. Keterbukaan ekonomi antar negara, memungkinkan terjadinya resesi di suatu negara untuk mengarah dan mempengaruhi negara lainnya. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat bermula dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat. Amerika Serikat pada tahun 1925 telah menetapkan undang-undang mengenai Mortgage (Perumahan). Peraturan tersebut berkaitan dengan sektor properti, termasuk kredit kepemilikan rumah yang memberikan kemudahan bagi para kreditur.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 2

Krisis keuangan global yang terjadi saat ini sangat terkait erat dengan kondisi perekonomian Amerika yang memburuk

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Kemudahan pemberian kredit tersebut juga terjadi pada saat harga properti di AS sedang mengalami kenaikan. Hal ini juga diikuti dengan spekulasi di sektor ini yang meningkat. Permasalahan muncul ketika banyak lembaga keuangan pemberi kredit properti di Amerika Serikat menyalurkan kredit kepada masyarakat yang sebenarnya secara finansial tidak layak memperoleh kredit yaitu kepada masyarakat yang tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memenuhi kredit yang mereka lakukan. Situasi tersebut memicu terjadinya kredit macet di sektor properti (subprime mortgage). Kredit macet di sektor properti tersebut mengakibatkan efek domino yang mengarah pada bangkrutnya beberapa lembaga keuangan di Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan lembaga pembiayaan sektor properti umumnya meminjam dana jangka pendek dari pihak lain yang umumnya adalah lembaga keuangan. Jaminan yang diberikan perusahaan pembiayaan kredit properti adalah surat utang (subprime mortgage securities) yang dijual kepada lembaga-lembaga investasi dan investor di berbagai negara. Padahal, surat utang tersebut tidak ditopang dengan jaminan debitor yang memiliki kemampuan membayar kredit perumahan yang baik. Dengan adanya tunggakan kredit properti, perusahaan pembiayaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada lembaga-lembaga keuangan, baik bank investasi maupun aset management. Hal tersebut mempengaruhi likuiditas pasar modal maupun sistem perbankan. Kondisi tersebut mengarah kepada terjadinya pengeringan likuiditas lembagalembaga keuangan akibat tidak memiliki dana aktiva untuk membayar kewajiban yang ada. Ketidakmampuan membayar kewajiban tersebut membuat lembaga keuangan yang memberikan pinjaman terancam kebangkrutan. Kondisi yang dihadapi lembaga-lembaga keuangan besar di Amerika Serikat mempengaruhi likuiditas lembaga keuangan yang lain, baik yang berada di Amerika Serikat maupun di luar Amerika Serikat terutama lembaga yang menginvestasikan uangnya melalui instrumen lembaga keuangan besar di Amerika Serikat. Disinilah krisis keuangan global bermula.
Dampak krisis keuangan global di 2.2 Kondisi Perekonomian Dunia Saat ini dan Dampak setiap Negara sangat Ke Depan tergantung pada kebijakan dan fundamental Dampak krisis keuangan global di tiap negara akan berbeda, karena ekonomi Negara sangat bergantung pada kebijakan yang diambil dan fundamental ekonomi masing-masing
II - 3 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

negara yang bersangkutan. Besarnya dampak krisis telah menyebabkan adanya koreksi proyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi berbagai negara dan dunia. Perekonomian Amerika Serikat diprediksikan akan melemah. Dengan demikian, negara-negara di kawasan Eropa dan Asia Pasifik akan melemah pula.

2.3 Dampak Krisis Keuangan Perekonomian Nasional

Global

Terhadap
Krisis keuangan global yang terus berlangsung menyebabkan merosotnya aktivitas ekonomi dan perdagangan dunia

Krisis keuangan global yang terus berlangsung saat ini menyebabkan macetnya sistem keuangan dunia sehingga menyebabkan merosotnya aktivitas ekonomi dan perdagangan dunia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan menurunnya pertumbuhan volume perdagangan dunia telah terjadi sejak pertengahan tahun 2007. Volume perdagangan dunia dalam tahun 2009 terus merosot ditunjukkan dengan proyeksi IMF yang mengalami beberapa kali revisi volume perdagangan dunia pada tahun 2009 dari 6,9 persen yaitu proyeksi yang dibuat pada bulan Januari 2008 menjadi 2,1 persen pada bulan November 2008 dan bahkan pada bulan Januari 2009 proyeksi pertumbuhan volume perdagangan dunia direvisi kembali menjadi negatif 2,8 persen (lihat Gambar 2.1). Hal ini tentunya akan memberikan dampak langsung yang signifikan bagi negara-negara yang perekonomiannya ditopang oleh ekspor seperti Cina, Jepang, Korea, dan negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Gambar 2.1. Perkiraan Pertumbuhan Perdagangan Dunia Tahun 2009

Sumber: IMF (World Economic Outlook – Update, Jan 2009)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

II - 4

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Melihat perkembangan yang makin memburuk pada triwulan terakhir ini, seluruh lembaga keuangan dan ekonomi dunia seperti IMF, OECD, Bank Dunia dan ADB melakukan revisi ke bawah tingkat pertumbuhan perekonomian dunia. IMF misalnya, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009 diperkirakan masih tertekan sehingga perkiraannya direvisi menjadi 2,2 persen pada bulan November 2008, dari sebelumnya 3,0 persen pada bulan Oktober 2008. Namun pada Januari 2009, IMF kembali melakukan revisi ke bawah atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 0,5 persen. Merosotnya perekonomian dunia ini tentunya akan sangat berpengaruh pada perkembangan perekonomian Indonesia. Antisipasi yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menyikapi kondisi ini adalah melakukan beberapa penyesuaian besaran asumsi makro seperti yang akan dipaparkan pada Bab IV dalam Buku Pegangan 2009 ini.

2.3.1 Dampak Terhadap Perkembangan Ekonomi Makro
Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2008 mencapai 6,1 persen. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 terutama didorong oleh investasi berupa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor barang dan jasa yang masing-masing tumbuh sebesar 11,7 persen dan 9,5 persen. Sementara itu, konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 5,3 persen dan konsumsi pemerintah meningkat sebesar 10,4 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 terutama didorong oleh sektor pertanian yang tumbuh 4,8 persen. Adapun industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 4,0 persen. Pertumbuhan ekonomi didorong pula oleh pertumbuhan sektor tersier terutama pengangkutan dan telekomunikasi; listrik, gas dan air bersih; serta konstruksi yang masing-masing tumbuh sebesar 16,7 persen; 10,9 persen, dan 7,3 persen.
Dampak yang ditimbulkan oleh krisis keuangan global terhadap perekonomian Indonesia mulai dirasakan pada triwulan IV tahun 2008

Dampak yang ditimbulkan oleh krisis keuangan global terhadap perekonomian Indonesia mulai dirasakan pada triwulan IV tahun 2008, dimana pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2008 menurun sebesar minus 3,6 persen dibandingkan triwulan III-2008 (q-t-q), dan meningkat 5,2 persen (yoy) dibandingkan dengan triwulan IV-2007 yang berarti lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan-triwulan sebelumnya pada tahun 2008 yaitu 6,2 persen di triwulan I, 6,4 persen pada triwulan II, 6,4 persen pada triwulan III. Melemahnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV tahun 2008 disebabkan oleh menurunnya pertumbuhan ekspor barang dan jasa yaitu minus 5,5 persen dibandingkan triwulan III2008 (q-t-q) dan hanya meningkat sebesar 1,8 persen dibandingkan triwulan IV tahun 2007 (y-o-y). Melemahnya pertumbuhan ekspor barang dan jasa adalah sebagai akibat dari menurunnya harga minyak serta

II - 5

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

menurunnya harga dan permintaan komoditas ekspor Indonesia sebagai dampak dari krisis keuangan global. Penurunan ekspor dan perlambatan pertumbuhan investasi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan terus terjadi pada tahun 2009. Untuk menjaga kemerosotan pertumbuhan ekonomi, konsumsi masyarakat diupayakan untuk tetap dijaga dengan menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi dan berbagai program pengurangan kemiskinan. Di samping itu efektifitas pengeluaran pemerintah juga ditingkatkan dengan program stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat dan peningkatan investasi. Dengan memperhatikan pengaruh eksternal dan berbagai kebijakan yang diambil, pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diproyeksikan berkisar antara 4,0 – 4,5 persen. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008 dan menurunnya harga-harga komoditi dunia mendorong penurunan penerimaan ekspor nasional. Pada tahun 2008, total penerimaan ekspor mencapai USD 139,3 miliar, atau naik 18,1 persen dibandingkan tahun 2007. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing sebesar 27,3 persen dan 15,5 persen. Sementara itu dalam tahun 2008, impor meningkat menjadi USD 116,0 miliar, atau naik 36,0 persen. Peningkatan ini didorong oleh impor migas dan nonmigas yang masing-masing naik sebesar 24,5 persen dan 39,4 persen. Dengan defisit jasa-jasa (termasuk income dan current transfer) yang mencapai USD 22,7 miliar, surplus neraca transaksi berjalan pada tahun 2008 mencapai sekitar USD 0,6 miliar turun dibandingkan tahun 2007 yang mencapai USD 10,5 miliar. Investasi langsung asing (neto) mencapai surplus sebesar USD 2,5 miliar didorong oleh investasi langsung asing yang masuk sebesar USD 8,3 miliar. Pada semester I/2008 arus masuk investasi portofolio meningkat, namun pada semester II/2008 cenderung melambat. Hal ini terutama dipengaruhi oleh arus modal keluar dari para investor guna memenuhi kebutuhan konsolidasi keuangan global, yang pada akhirnya berimbas pada pelepasan surat utang negara (SUN) dan surat berharga Bank Indonesia (SBI) yang terjadi selama semester II/2008. Secara keseluruhan tahun 2007, investasi portofolio neto mencapai USD 1,8 miliar turun dibandingkan tahun 2008 (USD 5,7 miliar) dengan investasi portofolio yang masuk sebesar USD 3,0 miliar. Adapun arus modal lainnya pada tahun 2008 mengalami defisit sebesar USD 6,3 miliar didorong oleh investasi lainnya di luar negeri sebesar USD 10,1 miliar. Dengan perkembangan ini neraca modal dan finansial dalam keseluruhan tahun 2008 mengalami defisit USD 1,7 miliar dengan cadangan devisa mencapai USD 51,6 miliar atau cukup untuk membiayai kebutuhan 4,0 bulan impor.
II - 6

Penurunan ekspor dan perlambatan pertumbuhan investasi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan terus terjadi pada tahun 2009

Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008 dan menurunnya hargaharga komoditi dunia mendorong penurunan penerimaan ekspor nasional

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Realisasi APBN Tahun 2008 banyak dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, antara lain tingginya harga komoditi khususnya minyak bumi dan gas alam (migas) serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang US dollar

Di sisi keuangan negara, realisasi APBN Tahun 2008 banyak dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, antara lain tingginya harga komoditi khususnya minyak bumi dan gas alam (migas) serta krisis finansial global yang mendorong depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang US dollar. Sampai dengan 31 Desember 2008, realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai Rp 981 triliun atau 21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi penerimaan negara dan hibah tersebut meningkat sebesar Rp 273,2 triliun atau naik sebesar 38,6 persen bila dibandingkan dengan realisasi APBN tahun 2007. Peningkatan pendapatan negara dan hibah tersebut utamanya didorong oleh peningkatan penerimaan perpajakan. Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2007, realisasi penerimaan perpajakan meningkat sebesar 34,2 persen dan penerimaan negara bukan pajak meningkat sebesar 48,8 persen. Peningkatan pendapatan negara dan hibah tersebut selain disebabkan oleh perbaikan dan reformasi administrasi perpajakan yang berkelanjutan (di antaranya melalui kebijakan intensifikasi perpajakan dan sunset policy), juga didorong oleh faktor eksternal, terutama meningkatnya harga komoditi di pasar internasional. Sementara itu, di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga 31 Desember 2008 mencapai Rp 985,3 triliun (21 persen terhadap PDB) atau meningkat sebesar 30 persen dibandingkan realisasi APBN Tahun 2007. Peningkatan realisasi belanja negara tersebut utamanya didorong oleh peningkatan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar 37,3 persen atau meningkat sebesar Rp188,3 triliun dan belanja ke daerah meningkat 15,5 persen atau sebesar Rp. 39,4 triliun. Sejalan dengan upaya pengamanan APBN tersebut, pemerintah mampu menekan defisit APBN Tahun 2008 menjadi sebesar 0,1 persen terhadap PDB. Realisasi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan realisasi defisit defisit tahun 2007 yang besarnya 1,3 persen terhadap PDB. Rendahnya realisasi defisit anggaran tersebut menimbulkan adanya kelebihan pembiayaan dalam bentuk Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp51,3 triliun. Kelebihan ini selanjutnya akan digunakan untuk memberikan stimulus fiskal pada tahun 2009. Dengan demikian, stok utang pemerintah pada akhir tahun 2008 diperkirakan sebesar 34,7 persen terhadap PDB. Selanjutnya pada tahun 2009, APBN diperkirakan masih akan mendapat tekanan dari faktor ekternal akibat krisis keuangan global. Melemahnya peran investasi swasta dan ekspor akibat turunnya perekonomian global, telah menjadikan peran kebijakan fiskal menjadi sangat strategis sebagai bentuk kebijakan counter-cyclical dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi sepanjang tahun 2009. Terkait dengan itu, telah dilakukan perubahan terhadap beberapa asumsi makro

II - 7

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

ekonomi yang telah ditetapkan sebelumnya melalui UU No. 41 Tahun 2008 tentang APBN Tahun 2009. Perubahan asumsi tersebut antara lain adalah perubahan target pertumbuhan ekonomi yang turun dari 6,0 persen menjadi sekitar 4,5 persen, perkiraan harga minyak mentah Indonesia yang turun dari USD 80 dolar per barel menjadi USD 45 dolar per barel, serta perkiraaan nilai tukar rupiah terhadap US dolar yang terdepresiasi dari Rp.9.400 per 1 US dolar menjadi Rp11.000 per 1 US dolar. Selain itu, perubahan APBN Tahun 2009, juga terkait dengan tambahan berupa stimulus fiskal terhadap perekonomian sebesar Rp73 triliun. Dengan berbagai perubahan tersebut, pendapatan negara dan hibah diperkirakan turun dari Rp.985,7 triliun menjadi Rp.848,6 triliun. Penurunan pendapatan negara dan hibah tersebut, utamanya didorong oleh penurunan penerimaan perpajakan dari Rp.725,8 triliun menjadi Rp 661,8 triliun. Penurunan penerimaan perpajakan tersebut merupakan dampak dari perlambatan pertumbuhan ekonomi, penurunan harga minyak mentah Indonesia dan pemberian stimulus fiskal khususnya pemotongan pajak penghasilan pasal 21. Meskipun penerimaan perpajakan diperkirakan lebih rendah dari target APBN Tahun 2009, namun sedikit lebih tinggi dibanding realisasi APBN Tahun 2008. Penurunan pendapatan negara dan hibah didorong pula oleh penurunan penerimaan bukan pajak (PNBP) yang diperkirakan menurun dari Rp258,9 triliun menjadi Rp.185,9 triliun, yang disebabkan oleh perubahan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebagai akibat dari turunnya harga minyak mentah dunia. Sementara itu, disisi pengeluaran negara, alokasi belanja negara pada APBN Tahun 2009 diperkirakan meningkat sebesar Rp.51,8 triliun dibanding realisasi APBN Tahun 2008 dengan total belanja negara yang ditetapkan sebesar Rp.1.037,1 triliun (19,5 persen terhadap PDB), yang didorong oleh peningkatan belanja pemerintah pusat sebesar Rp.23,74 triliun dan alokasi belanja ke daerah sebesar Rp. 28,06 triliun bila dibandingkan dengan realisasi APBN tahun 2008. Namun demikian, besaran alokasi belanja negara yang telah ditetapkan dalam APBN Tahun 2009 diperkirakan turun sebesar Rp. 49,0 triliun (dari Rp1.037,1 triliun menjadi Rp. 988,1 triliun) pada APBN Penyesuaiannya. Penurunan belanja negara tersebut utamanya didorong oleh penurunan belanja subsidi Rp.43,2 triliun yang terdiri atas penurunan belanja subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) Rp.33,1 triliun, subsidi listrik Rp.3,5 triliun, dan subsidi pajak Rp. 7 triliun. Sementara itu, belanja ke daerah diperkirakan turun Rp.17,6 triliun. Penurunan belanja ke daerah sejalan dengan turunnya penerimaan yang dibagihasilkan khususnya penerimaan SDA migas dan penerimaan pajak penghasilan. Disisi lain, terdapat peningkatan belanja negara sebagai tambahan stimulus fiskal sebesar Rp.11,2 triliun yang
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Disisi pengeluaran negara, alokasi belanja negara pada APBN Tahun 2009 diperkirakan meningkat dibanding realisasi APBN Tahun 2008

II - 8

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

dialokasikan pada kegiatan infrastruktur dan realokasi dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan ASEI. Berdasarkan perkembangan tersebut, defisit anggaran pada tahun 2009 diperkirakan meningkat dari Rp.51,3 triliun menjadi Rp.139,5 triliun atau menjadi 2,5 persen PDB. Peningkatan defisit anggaran tersebut, diperkirakan dibiayai melalui SILPA sebesar Rp.51,3 triliun dan tambahan pembiayaan utang sebesar Rp.44,5 triliun yang bersumber dari penarikan pinjaman siaga, serta tambahan penarikan pinjaman program sebesar Rp.1,1 triliun. Sementara itu stok utang pemerintah pada akhir tahun 2009 diperkirakan sebesar 31,3 persen terhadap PDB. Terkait dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sebagai salah satu pelaku dalam perekonomian nasional terus dibina agar semakin sehat dan mampu berdayasaing di kancah global. Pembinaan BUMN sejak tahun 2005 hingga 2009 meliputi: restrukturisasi, privatisasi, penyempurnaan infrastruktur hukum, pembinaan pelaksanaan tata-kelola yang baik, pembinaan pelaksanaan PSO, penambahan penyertaan modal negara (PMN), serta penyelesaian/restrukturisasi hutang BUMN. Langkah-langkah peminaan tersebut menunjukkan kinerja yang semakin baik. Dari tahun 2005 hingga tahun 2007 jumlah BUMN yang merugi semakin sedikit yaitu 36 BUMN pada tahun 2005, menjadi 39 BUMN pada tahun 2006, dan 28 BUMN pada tahun 2007. Sejalan dengan itu, besarnya keuntungan yang diraih BUMN juga meningkat. Dengan demikian, bagian laba BUMN yang diserahkan ke kas negara juga meningkat, yaitu dari Rp. 12,8 trilliun pada tahun 2005, menjadi Rp. 22,9 trilliun pada tahun 2006, menjadi Rp. 23,2 trilliun pada tahun 2007, dan meningkat menjadi Rp. 30,8 trilliun pada tahun 2008. Di sisi moneter, nilai tukar Rupiah yang sebelumnya sempat menguat dari Rp9.419,-/USD pada bulan Desember 2007 menjadi Rp9.118,-/USD pada bulan Juni 2008 didorong oleh peningkatan penerimaan ekspor dan pemasukan modal swasta. Selanjutnya, nilai tukar kemudian kembali melemah dan mencapai puncaknya menjadi Rp12.151,/USD pada bulan November 2008 dan sedikit menguat menjadi Rp10.700,/USD pada minggu ketiga April 2009. Selama tahun 2008 inflasi mencapai 11,1 persen, yang dipengaruhi oleh perkembangan harga BBM di pasar internasional dan domestik serta harga bahan-bahan pokok. Inflasi mengalami penurunan pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 seiring dengan menurunnya harga bahan bakar internasional dan domestik serta bahan-bahan pokok lainnya. Inflasi bulan April 2008 sebesar 8,96 persen (y-o-y) meningkat menjadi 10,38 persen (yo-y) pada bulan Mei 2008 seiring dengan kenaikan harga BBM domestik dan kenaikan harga bahan pangan pokok. Inflasi terus meningkat sehingga
II - 9 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

pada bulan September 2008 mencapai 12,14 persen (y-o-y). Sejalan dengan menurunnya harga minyak mentah di pasar internasional dan domestik serta bahan-bahan pokok lainnya, inflasi menurun secara bertahap menjadi 11,77 persen (y-o-y) pada bulan Oktober 2008, 11,06 persen (y-o-y) pada bulan Desember 2008 dan 8,60 persen (y-o-y) pada bulan Februari 2009 dan 7,92 persen pada bulan Maret 2009. Dengan semakin stabilnya harga-harga bahan pokok di pasar internasional dan kebijakan pengendalian inflasi, diharapkan inflasi akan turun secara bertahap menjadi 5,0 persen (y-o-y) pada akhir tahun 2009. Menurunnya inflasi pada akhir tahun 2008 memberikan cukup ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan perubahan kebijakan moneter yang semakin longgar. Kebijakan pengendalian moneter yang sebelumnya mengetat, yaitu dengan menaikkan BI rate naik secara bertahap dari sebesar 8,0 persen pada bulan April 2008 menjadi 9,50 persen pada bulan Oktober 2008, kemudian dilonggarkan melalui penurunan BI rate menjadi 9,25 persen pada bulan Desember 2008, 8,75 persen pada bulan Januari 2009 dan 7,5 persen pada awal April 2009. Agar dapat menggerakkan kegiatan ekonomi, penurunan BI rate diharapkan dapat diikuti penurunan suku bunga perbankan. Penurunan BI rate pada awal Desember 2008 belum diikuti oleh penurunan sukubunga perbankan dalam jangka pendek kecuali suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit investasi, karena masih ketatnya likuditas perbankan meskipun sudah mulai melonggar secara bertahap. Sektor Keuangan. Meskipun kondisi perekonomian dunia mengalami guncangan yang sangat berat, namun ketahanan sektor perbankan Indonesia masih cukup kuat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio – CAR) bank umum sebesar 16,8 persen pada tahun 2008, masih jauh lebih tinggi dibandingkan ketentuan batas minimal 8,0 persen. Terkait dengan potensi kredit macet, tingkat kredit berkinerja buruk (non performing loan – NPL) bank umum turun menjadi 3,2 persen pada tahun 2008 dari 4,1 persen pada tahun 2007. Di tengah-tengah krisis ekonomi dunia, pertumbuhan kredit perbankan nasional meningkat pesat. Sampai dengan Desember 2008 kredit tumbuh mencapai 30,7 persen dengan nilai Rp1.300,2 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahunan 2007 yang sebesar 26,4 persen (y-o-y). Di sisi penghimpunan dana, simpanan masyarakat pada bank tumbuh sebesar 16,2 persen (y-o-y) dari Rp1.528,2 triliun pada akhir 2007 menjadi Rp1775,2 triliun pada akhir 2008, lebih lambat dibandingkan akhir tahun 2007 yang tumbuh sebesar 17,7 persen (y-o-y). Seiring dengan perkembangan tersebut, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 10

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

deposit ratio – LDR) naik dari 65,1 persen pada tahun 2007 menjadi 73,2 persen pada akhir 2008. Untuk sektor UMKM, kredit bank umum yang berskala mikro, kecil dan menengah (kredit UMKM) meningkat sebesar 26,1 persen (y-o-y) pada akhir 2008 dengan nilai Rp633,9 triliun yang terdistribusi 8,6 persen untuk kredit investasi; 39,0 persen untuk kredit modal kerja, dan 52,4 persen untuk kredit konsumsi. Selain melalui sistem konvensional, pembiayaan melalui perbankan syariah juga terus meningkat. Pembiayaan melalui perbankan syariah tumbuh sebesar 36,5 persen (y-o-y) dari Rp28,0 triliun pada akhir 2007 menjadi Rp38,2 triliun pada 2008. Dilihat dari komposisinya, pembiayaan terbesar masih merupakan pembiayaan yang keuntungannya telah disepakati dahulu (piutang murabahah). Di sisi lain, penghimpunan dana masyarakat pada tahun 2008 tumbuh sebesar 31,6 persen (y-o-y) dari Rp28,0 triliun (2007) menjadi Rp36,9 triliun (2008). Terkait dengan fungsi intermediasi, rasio LDR perbankan syariah relatif stabil yaitu sekitar 103,0 persen. Pesatnya perkembangan perbankan syariah juga diikuti dengan membaiknya kualitas pembiayaan yang disalurkan. Rasio non performing financing (NPF) turun menjadi 3,9 persen (2008) dari 4,1 persen (2007). Goncangan pasar modal internasional dengan Wall Street di Amerika Serikat sebagai episentrumnya secara cepat menjalar dan menular ke negara-negara lainnya, termasuk negara-negara anggota Uni Eropa, Jepang dan Cina sehingga berimbas pula kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI yang sedikit membaik pada awal tahun 2008 dari 2.627,3 pada bulan Januari 2008 menjadi 2.721,9 (3,6 persen) pada bulan Februari 2008, menurun secara bertahap menjadi 2.165,9 (minus 20,4 persen) pada bulan Agustus, dan menurun secara bergejolak menjadi 1.355,4 (minus 37,4 persen) pada bulan Desember 2008. Penurunan IHSG didorong pula oleh keluarnya sebagian investor asing dari bursa. Pada bulan Februari 2009 IHSG masih mengalami penurunan menjadi 1.296,9 (minus 4,3 persen). Pada minggu III April 2009 IHSG sudah mulai meningkat menjadi 1.625,09. Meskipun masih sulit diprediksi kapan krisis keuangan global ini akan berakhir, namun pada akhir tahun 2009 diharapkan pasar modal berkembangan lebih stabil dan mengalami peningkatan jika upaya-upaya intervensi secara terkoordinasi dari seluruh negara-negara di dunia untuk menanggulangi krisis global tersebut terbukti efektif. Terkait dengan kondisi eksternal yang tidak menentu, selama tahun 2008 telah ditetapkan kebijakan guna memperkuat ketahanan sektor keuangan domestik khususnya perbankan. Beberapa kebijakan penting perbankan yang dikeluarkan Pemerintah selama tahun 2008 antara lain adalah (i) memberikan bantuan bagi perbankan yang
II - 11 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik serta menimbulkan potensi krisis akan dibiayai oleh pemerintah melalui APBN1; (ii) merubah besaran nilai simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)2 yang didahului oleh Perppu Nomor 3 tahun 2008 tentang Perubahan UU No 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan; serta (iii) membentuk landasan hukum bagi Jaring Pengaman Sektor Keuangan3. Seiring dengan langkah-langkah kebijakan yang dilakukan Pemerintah di dalam penanganan sektor keuangan tersebut, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan sektor keuangan yang antara lain adalah fleksibilitas di dalam pengaturan Giro Wajib Minimum (GWM) 4. Selanjutnya, lembaga keuangan non bank (LKNB) termasuk pasar modal telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Kepercayaan masyarakat terhadap LKNB sudah semakin baik, yang ditunjukkan oleh meningkatnya aset lembaga keuangan non bank (asuransi, dana pensiun, perusahaan pembiayaan, dan modal ventura) sebesar 23,2 persen (yoy) dari Rp369,9 triliun (2006) menjadi Rp455,8 triliun (2007), lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2006 yang sebesar 20,3 persen (y-o-y). Namun demikian, terkait dengan gejolak krisis keuangan dunia, nilai kapitalisasi pasar modal terhadap PDB menurun dari 64,4 persen PDB pada tahun 2007 menjadi 33,8 persen PDB.

2.3.2 Dampak terhadap Pertumbuhan Sektor Riil
A. Dampak Terhadap Bidang Infrastruktur Sektor Transportasi. Transportasi merupakan penggerak perekonomian masyarakat. Pada daerah yang telah berkembang, pelayanan transportasi dapat meningkatkan kegiatan ekonomi. Kondisi pelayanan transportasi yang memadai dapat mengurangi biaya transportasi yang akhirnya dapat menurunkan biaya produksi dan biaya distribusi. Demikian pula transportasi juga dapat merupakan penggerak kegiatan ekonomi di daerah. Ketersediaan prasarana transportasi dapat berfungsi memperlancar kegiatan ekonomi masyarakat terutama dalam memasarkan produk-produk masyarakat setempat ke daerah pemasaran
Dampak krisis pada sektor transportasi terlihat dari semakin tidak terpenuhinya kebutuhan pemeliharaan dan rehabilitasi infrastruktur transportasi

Perppu Nomor 2 tahun 2008 tentang Perubahan terhadap UU Nomor 23 tahun 1998 tentang Bank Indonesia 2 PP nomor 66 tahun 2008 3 Perppu Nomor 4 tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan 4 Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 10/25/PBI/2008 tentang Perubahan PBI nomor 10/19/PBI/2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing menetapkan bahwa GWM Rupiah Bank Umum sebesar 7,5% yang terdiri dari GWM Utama sebesar 5,0% dan Sekunder sebesar 2,5%. GWM Utama terdiri dari rekening simpanan Rupiah bank umum pada Bank Indonesia dan GWM Sekunder terdiri dari SBI, SUN atau excess reserve.
1

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

II - 12

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

lokal. Demikian pula transportasi juga dapat menggerakkan kegiatan pemerintahan di daerah. Krisis keuangan global, berdasarkan pengalaman-pengalaman negara-negara lain, berdampak pada menurunnya kemampuan pendanaan pemerintah serta daya beli masyarakat. Kemampuan pemerintah dalam penyediaan anggaran akan jauh berkurang dibandingkan masa sebelum krisis yang diindikasikan dengan semakin tidak terpenuhinya kebutuhan pemeliharaan dan rehabilitasi infrastruktur transportasi. Di sisi lain terjadi kenaikan biaya transportasi akibat terdepresiasinya nilai rupiah dan inflasi. Dampak dari hal tersebut di atas adalah terjadinya penurunan tingkat kinerja infrastrukur transportasi dalam mendukung kegiatan ekonomi. Penurunan tingkat keselamatan, kelancaran distribusi, dan terhambatnya hubungan dari satu daerah ke daerah yang lain. Keadaan tersebut menyebabkan biaya angkut dan biaya produksi yang lebih mahal dari yang seharusnya, sehingga berdampak pada meningkatnya harga jual barang dan jasa yang akhirnya akan membebani masyarakat. Dari sisi lain, terhambatnya transportasi antarwilayah akan mengurangi peluang terjadinya perdagangan antarwilayah yang dapat mengurangi perbedaan harga antarwilayah. Hambatan transportasi juga menurunkan mobilitas tenaga kerja sehingga meningkatkan konsentrasi keahlian dan keterampilan pada beberapa lokasi wilayah tertentu saja. Ketidakmerataan keterampilan dan keahlian, dan adanya perbedaan biaya mendorong terciptanya kesenjangan pembangunan antarwilayah.
Pembangunan infrastruktur dapat juga dilihat sebagai salah satu alternatif pemulihan pertumbuhan ekonomi, dimana Pembangunan kembali infrastruktur akan menyerap banyak tenaga kerja, membangkitkan sektor riil, dan memicu produksi dan konsumsi masyarakat

Sudah saatnya kita melihat infrastruktur sebagai salah satu alternatif bagi pemulihan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan kembali infrastruktur akan menyerap banyak tenaga kerja, membangkitkan sektor riil, dan memicu produksi dan konsumsi masyarakat. Pembangunan infrastruktur dapat mengurangi kesenjangan antar daerah serta mengurangi kemiskinan. Namun demikian, pembangunan infrastruktur ke depan harus menggunakan paradigma baru, berwawasan lingkungan, dan menggunakan pendekatan kewilayahan (regional-based). Ketika Indonesia masih berupaya keluar dari krisis, pertanyaan yang relevan dikemukakan adalah seberapa jauh pembangunan infrastruktur dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menyelesaikan krisis, dan langkah-langkah yang harus segera diambil. Pada hakekatnya pembangunan infrastruktur masih menjadi tanggungjawab pemerintah, baik sebagai bentuk pelayanan publik maupun sebagai instrumen pemerintah dalam mendukung lancarnya roda perekonomian negara. Dalam perjalanan pembangunan bangsa, sebagian peran tersebut dapat dijalankan oleh BUMN dan swasta untuk memberikan pelayanan infrastruktur kepada masyarakat. Pelaksanaan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

II - 13

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

pelayanan ini dalam keadaan tertentu membutuhkan subsidi dari pemerintah, namun disisi lain BUMN dan swasta dapat menciptakan margin dari tarif yang dibebankan kepada pengguna untuk dapat menutupi defisit pendanaan yang diperlukan. Sektor Perumahan dan Permukiman. Terdapat 3 dampak utama yang dirasakan akibat krisis global yang terkait dengan sektor perumahan dan permukiman, yaitu (1) mengeringnya likuiditas, yang tidak hanya mempengaruhi dunia usaha, melainkan kepada pemerintah untuk membiayai pembangunan; (2) menurunnya tingkat permintaan dan komoditas-komoditas utama ekspor Indonesia tanpa diimbangi peredaman laju impor secara signifikan yang menyebabkan defisit perdagangan; dan (3) menurunnya tingkat kepercayaan konsumen, investor dan pasar terhadap berbagai institusi keuangan yang ada. Pengurangan likuiditas akibat krisis global berdampak pada ketersediaan anggaran pemerintah untuk pembangunan perumahan dan perumahan. Beban berat yang dipikul oleh dunia usaha akibat krisis global menyebabkan intervensi pemerintah menjadi sangat diperlukan yang hingga saat ini sumber pendanaan pembangunan sektor perumahan dan permukiman masih didominasi oleh anggaran pemerintah. Padahal, prioritas pemerintah terhadap sektor perumahan dan permukiman (air minum, air limbah, persampahan dan drainase) dirasakan masih sangat rendah. Kondisi ini dapat meningkatkan kesenjangan antara kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat berpenghasilan rendah, terhadap perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya dengan upaya pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut. Dampak ini akan semakin terasa pada kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah sehingga dapat menumbuhkan kawasan-kawasan kumuh perkotaan. Tekanan likuiditas juga dapat terjadi pada sektor perbankan Indonesia. Untuk menekan tingkat inflasi, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI rate hingga menjadi 8,25% pada Februari 2009. Penurunan BI rate ini direspon oleh pergerakan suku bunga deposito dan suku bunga kredit. Namun dikemudian hari, penurunan SBI ini dikhawatirkan dapat mengakibatkan penurunan DPK (dana pihak ketiga) yang pada akhirnya dapat mempengaruhi jumlah kredit yang dapat dikucurkan baik untuk kegiatan konstruksi maupun bagi kredit bagi konsumen. Hal ini terjadi karena sumber utama pemodalan bank penyalur kredit hingga saat ini masih bertumpu pada DPK dibandingkan dengan sumber pendanaan jangka panjang lainnya. Pada sektor perumahan, penurunan DPK dapat memicu penurunan kredit yang dikeluarkan perbankan bagi pengembang untuk pembangunan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 14

Dampak krisis pada sektor perumahan dan permukinan adalah mengeringnya likuiditas, menurunnya permintaan, dan tingkat kepercayaan konsumen, investor dan pasar terhadap institusi keuangan

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

rumah (baik landed house maupun multistorey housing) sehingga menurunkan supply perumahan bagi masyarakat. Dari segi demand, penurunan DPK juga dapat mempengaruhi jumlah kredit pemilikan rumah (KPR) yang disalurkan bagi masyarakat. Padahal, hampir 50% masyarakat Indonesia yang berencana untuk memiliki rumah menggunakan angsuran (melalui KPR) sebagai rencana pembiayaan pemilikan rumah. Upaya penanganan terhadap penurunan DPK yang berisiko terhadap pengurangan penyaluran kredit perumahan telah dilakukan melalui pengembangan pasar sekunder perumahan. Pada awal Februari 2009 yang lalu, PT Sarana Multigriya Finansial, sebagai perusahaan yang ditunjuk oleh Departemen Keuangan untuk mengembangkan pasar sekunder perumahan, telah berhasil menerbitkan Efek Beragun Aset (EBA) yang dinamai EBA Danareksa SMF I-KPR BTN Kelas A senilai Rp.100.000.000.000,- (seratus milyar rupiah). Penerbitan instrumen pasar modal ini merupakan langkah yang diambil pemerintah guna meningkatkan likuiditas perbankan, khususnya Bank BTN agar mampu melakukan ekspansi kredit, baik kredit konstruksi maupun kredit pemilikan rumah. Namun, menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi dan instrumen keuangan dikhawatirkan mempengaruhi penjualan instrumen EBA di pasar modal yang pada akhirnya dapat mempengaruhi aksesibilitas masyarakat terhadap kepemilikan rumah. Penurunan tingkat permintaan dan komoditas-komoditas utama ekspor Indonesia mengakibatkan pengerutan sektor riil yang berlanjut kepada kenaikan PHK dan penurunan daya beli masyarakat. Hal ini dapat berakibat pada menurunnya demand terhadap perumahan dan permukiman. Kebutuhan masyarakat terhadap perumahan akan menurun drastis serta kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi juga semakin berkurang yang dapat berakibat pada kesehatan masyarakat, kesejahteraan masyarakat dan kualitas lingkungan permukiman. B. Dampak terhadap Bidang Pertanian dan Perkebunan
Dampak krisis pada bidang pertanian dan perkebunan relatif kecil yang lebih disebabkan oleh sisi permintaan akibat turunnya volume ekspor bukan karena faktor keuangan financial

Sektor pertanian relatif kecil terkena dampak krisis ekonomi dibandingkan dengan sektor lain. Dampak krisis kepada sektor pertanian lebih disebabkan dari sisi permintaan (demand side), dan bukan karena faktor keuangan finansial. Saat krisis ekonomi terjadi, justru sektor pertanian masih menjadi salah satu sektor yang diandalkan untuk penciptaan lapangan pekerjaan. Krisis keuangan yang bermula di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2008, menyebabkan turunnya permintaan barang secara agregat di negara tersebut. Penurunan tersebut ternyata
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

II - 15

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

berdampak kepada turunnya volume impor Amerika Serikat, dan di sisi lain menyebabkan turunnya volume ekspor dari negara eksportir. Kondisi ini juga berdampak bagi Indonesia, yaitu dengan menurunnya volume ekspor Indonesia dimana salah satunya adalah komoditas pertanian. Sementara itu, dari sisi on-farm, turunnya volume ekspor komoditas pertanian menyebabkan semakin berkurangnya permintaan terhadap produk petani sehingga harga komoditas pertanian menurun. Namun demikian, dampak dari krisis ekonomi tersebut tidak terjadi pada keseluruhan komoditas pertanian, tetapi lebih kepada komoditas ekspor utama, seperti kelapa sawit/CPO, kakao, dan karet. Komoditas Pangan. Produksi komoditas pangan nasional pada tahun 2008, dimana saat krisis ekonomi terjadi, secara rata-rata tetap menunjukkan peningkatan. Bahkan, apabila dibandingkan produksi tahun 2007, jumlah peningkatannya cukup besar. Beras/padi sebagai komoditas pangan utama, produksi pada tahun 2008 mencapai 60,28 juta ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat 5,46 persen dibandingkan tahun 2007. Demikian juga untuk jagung dan kedelai, produksi pada tahun 2008 meningkat masing-masing menjadi 15,86 juta dan 761 ribu ton atau meningkat 19,36 dan 28,47 persen dibandingkan tahun 2007. Sementara itu, harga beras dalam negeri relatif stabil dibandingkan harga beras internasional. Harga beras jenis umum pada tahun 2008 adalah Rp. 6.366,- per kg atau naik 4,95 persen dibandingkan tahun 2007 dimana harga rata-ratanya adalah Rp. 6.066,- per kg. Kondisi ini menunjukkan bahwa harga beras dalam negeri tidak terpengaruh dengan fluktuasi harga beras internasional, dimana pada pertengahan tahun 2008 harganya meningkat cukup tajam. Demikian juga untuk harga kedelai, secara rata-rata harganya mencapai Rp. 8.296,- per kg, dimana pada awal tahun (bulan Februari) harganya Rp. 7.948,- dan pada akhir tahun Rp. 8.368,- atau relatif hanya meningkat 5,28 persen. Stabilnya harga kedua jenis komoditas pangan tersebut disebabkan relatif tingginya produksi nasional sehingga ketersediaan (supply) dari kedua komoditas tersebut relatif mencukupi kebutuhan (demand) nasional. Melihat kondisi tersebut di atas, menunjukkan bahwa krisis keuangan global ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap produksi dan harga pangan dalam negeri. Dengan demikian, pendapatan petani dari usahatani komoditas pangan relatif tidak terpengaruh dengan krisis tersebut. Salah satu indikator yang dapat menunjukkan hal tersebut adalah Nilai Tukar Petani (NTP) yang secara rata-rata pada tahun 2008 justru meningkat menjadi 110,00 atau naik 2,80 persen dibandingkan tahun 2007. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pendapatan petani dari
II - 16

Komoditas pangan nasional disaat krisis ini secara rata-rata tetap menunjukan trend peningkatan dan dalam kisaran harga yang cukup stabil

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

aktivitas usahataninya relatif lebih besar dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan petani.
Dampak krisis menyebabkan pengurangan jumlah tenaga kerja yang berakibat pada turunnya daya beli masyarakat dan akses terhadap pangan Dampak krisis pada komoditas perkebunan terasa paling rentan karena komoditas ini sangat berorientasi ekspor dan diperdagangkan secara internasional

Krisis ekonomi justru berdampak terhadap demand side dari komoditas pangan tersebut. Terkait dengan krisis keuangan yang terjadi, telah menyebabkan sebagian industri yang berbasis ekspor mengurangi jumlah tenaga kerjanya. Kondisi ini akan menyebabkan daya beli sebagian masyarakat yang kehilangan pekerjaan menurun, sehingga mengurangi akses terhadap pangan. Apabila hal ini dibiarkan, maka akan berpotensi menyebabkan rawan pangan di masyarakat. Komoditas Perkebunan. Komoditas perkebunan merupakan komoditas yang paling rentan terhadap krisis keuangan global. Hal ini tidak terlepas dari sifat komoditas perkebunan yang berorientasi ekspor dan diperdagangkan secara internasional. Harga komoditas perkebunan tidak hanya dipengaruhi dengan jumlah permintaan dan penawaran, namun juga sangat rentan dengan aksi spekulasi yang muncul di dalam pasar komoditas tersebut. Dengan demikian, hal yang perlu diperhatikan dalam perdagangan komoditas perkebunan di pasar internasional adalah perkembangan ekonomi negara pengimpor serta tindakan spekulasi yang menyebabkan fluktuasi dan ketidakpastian harga. Hal ini akan membahayakan kelangsungan usaha komoditas primer serta kesulitan dalam perencanaan usaha. Sejak tahun 2004, baik produksi maupun luas area perkebunan terus menunjukkan kenaikan dengan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2008 diperkirakan sekitar 19,96 juta orang. Membaiknya sub sektor perkebunan juga tidak terlepas dari membaiknya harga dunia komoditas perkebunan sehingga produk perkebunan Indonesia dapat bersaing dengan komoditas negara lain. Namun, ketika krisis ekonomi terjadi pada tahun 2008, harga komoditas perkebunan di pasar internasional mulai turun. Harga CPO Cif Rotterdam pada bulan Juli 2008 yang sempat mencapai US$ 1.200 per ton turun menjadi hanya US$ 700 per ton minggu kedua bulan Oktober 2008. Sementara itu, harga karet di Kuala Lumpur pada akhir bulan Juni mencapai US$ 3,3 per kg turun menjadi US$ 2,2 per kg pada minggu kedua bulan Oktober 2008. Krisis ekonomi yang dialami oleh negara importir menyebabkan negara tersebut menunda, bahkan menghentikan kontrak perdagangan komoditas perkebunan. Walaupun nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika, namun penurunan harga komoditas yang relatif besar menyebabkan ancaman bagi kelangsungan pengembangan perkebunan di Indonesia. Terlebih dengan naiknya biaya produksi yang melebihi harga, menyebabkan petani banyak yang merugi.

II - 17

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

Sementara itu, turunnya harga komoditas perkebunan di pasar internasional, ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap harga beberapa komoditas olahan dalam negeri. Harga gula pasir dalam negeri secara rata-rata pada tahun 2008 adalah Rp. 6.510,- per kg. Pada awal tahun harga gula pasir mencapai Rp. 6.488,- dan pada akhir tahun menjadi Rp. 6.544,- atau hanya meningkat 0,86 persen. Sementara untuk harga minyak goreng cenderung berfluktuasi. Harga minyak goreng jenis curah secara rata-rata mencapai Rp. 10.023,- per liter. Pada awal tahun harga minyak goreng jenis curah mencapai Rp. 9.471,-, selanjutnya pada bulan Juni mencapai Rp. 11.620,- dan pada akhir tahun turun kembali menjadi Rp. 7.788,-. Sedangkan untuk harga rata-rata minyak goreng jenis kemasan mencapai Rp. 12.516,- per liter, dimana pada awal tahun harganya mencapai Rp. 10.772,-, pada bulan Juni meningkat menjadi Rp. 13.078,- dan pada akhir tahun turun menjadi Rp. 11.720,-. Komoditas Hortikultura. Tanaman hortikultura berfungsi sebagai fungsi pangan (sumber vitamin, mineral, serat, antioksidan, energi), fungsi ekonomi, fungsi kesehatan, serta fungsi budaya. Namun demikian, meski memiliki peranan penting, konsumsi sayuran masyarakat Indonesia masih kurang dibandingkan dengan anjuran konsumsi seharusnya. Pada tahun 2003 misalnya, konsumsi sayuran per kapita per tahun hanya 28,00 kg dari anjuran sebanyak 62,50 kg. Demikian juga dengan konsumsi buah pada tahun tersebut hanya 49 kg buah per kapita per tahun atau lebih rendah dari anjuran sebanyak 62,5 kg. Terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 2008 relatif tidak berdampak signifikan terhadap komoditas hortikultura. Hal ini terlihat dari perkembangan produksi dan luasan panen tanaman hortikultura pada tahun tersebut. Sejak tahun 2004 sampai dengan 2008, sisi produksi tanaman hortikultura selalu mengalami peningkatan. Demikian juga dengan luasan panen yang cenderung meningkat, kecuali untuk tanaman hias yang cenderung mengalami penurunan. Sementara itu, selama 2004-2007 terdapat kecenderungan impor produk sayuran dan buah-buahan meningkat. Maraknya buah-buahan dan sayuran impor ini selain karena permintaan dalam negeri yang masih tinggi juga kecenderungan harganya yang murah dan kualitas yang lebih bagus dibanding dengan komoditas lokal. Komoditas Peternakan dan Hasil Turunannya. Krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 tidak berpengaruh siginifikan terhadap komoditas peternakan dan hasil turunannya di dalam pasar dalam negeri. Kondisi ini terlihat dari jumlah populasi ternak dan produksi hasil ternak yang cenderung meningkat, serta relatif stabilnya harga dalam negeri walaupun menunjukkan tren peningkatan pada akhir tahun.

Turunnya harga komoditas perkebunan di pasar internasional tidak terlalu berpengaruh terhadap harga komoditas di dalam negeri

Dampak krisis pada komoditas hortikultura tidak berpengaruh signifikan karena permintaan dalam negeri yang masih cukup tinggi

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

II - 18

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Dampak krisis pada komoditas peternakan tidak berpengaruh secara signifikan namun pemenuhan pakan ternak yang masih mengandalkan impor akan cukup berpengaruh bila kita tidak mengurangi ketergantungan akan pakan impor

Populasi ternak pada tahun 2008 secara rata-rata meningkat. Populasi ternak ruminansia, yaitu sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, dan domba masing-masing jumlahnya mencapai 11,87 juta, 408 ribu; 2,19 juta; 15,81 juta; dan 10,39 juta ekor atau rata-rata meningkat antara tiga sampai sembilan persen dibandingkan tahun 2007. Demikian juga untuk jenis unggas, seperti ayam buras, ayam ras petelur, dan ayam ras pedaging, populasinya masing-masing mencapai 290,80 juta; 116,47 juta; dan 1075,89 juta ekor atau rata-rata meningkat emoat sampai dengan 20 persen dibandingkan populasi unggas tahun 2007. Sementara itu, produksi hasil ternak turunan, seperti daging, telur, dan susu, juga meningkat pada tahun 2008, dimana masing-masing mencapai 2,17 juta; 1,48 juta; dan 574 ribu ton atau rata-rata meningkat satu sampai dengan tujuh persen dibandingkan produksi tahun 2007. Walaupun jumlah populasi dan produksi hasil ternak terus meningkat, namun dengan terjadinya krisis ekonomi, dampak yang akan dihadapi lebih disebabkan oleh pemenuhan pakan ternak yang masih mengandalkan impor. Kenaikan harga jagung di pasar internasional telah menyebabkan biaya untuk pembelian pakan ternak juga meningkat. Produksi jagung dalam negeri yang semakin meningkat diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan impor. Namun karena laju permintaan terhadap konsumsi jagung yang tumbuh lebih cepat untuk keperluan pangan (food), Indonesia masih harus mengandalkan jagung impor dalam jumlah yang cukup besar. Sementara itu, harga dalam negeri untuk komoditas hasil ternak selama tahun 2008 menunjukkan kecenderungan meningkat pada akhir tahun. Secara rata-rata, harga daging ayam ras, daging sapi, dan telur ayam ras masing-masing adalah Rp. 24.856; Rp. 53.868; dan Rp. 13.529,-. Peningkatan harga di akhir tahun, diduga lebih disebabkan oleh meningkatnya permintaan daging dan telur pada saat hari besar keagamaan dan bukan pengaruh dari krisis keuangan global. C. Dampak terhadap Bidang Kelautan dan Perikanan

Dampak krisis pada produk perikanan sedikit terasa akibat penurunan permintaan ekspor namun tidak akan berpengaruh sejauh permintaan dalam negeri cukup tinggi dan produksi perikanan juga meningkat
II - 19

Krisis keuangan yang dimulai dari Amerika Serikat dapat berdampak terhadap produk perikanan walaupun belum terasa signifikan di sektor perikanan. Berdasarkan hasil ekspor perikanan, terdapat kenaikan nilai ekspor hasil perikanan dari US $ 2,259 miliar pada tahun 2007 menjadi US $ 2,410 miliar pada tahun 2008, yang terutama diekspor ke negara Amerika Serikat, Jepang dan EU. Khusus untuk Amerika Serikat, produk utama adalah udang (55%), ikan laut non tuna (30%) dan tuna (10%). Namun demikian, terjadi penurunan volume ekspor produk perikanan yaitu dari 845 ribu ton pada tahun 2007 menjadi 745 ribu ton pada tahun 2008. Sementara itu, dari sisi produksi perikanan terdapat
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

peningkatan dari 8,24 juta ton pada tahun 2007 menjadi 8,71 juta ton pada tahun 2008. Peningkatan produksi perikanan ini terutama dikontribusi oleh perikanan budidaya. Penyediaan ikan untuk konsumsi juga mengalami peningkatan, dari 28,28 kg/kap/th pada tahun 2007 menjadi 29,98 kg/kap/th pada tahun 2008. D. Dampak terhadap Bidang Kehutanan Lahan yang luas dan kekayaan sumber daya alam yang beragam merupakan potensi yang dimiliki negara Indonesia untuk mendukung dan mewujudkan pembangunan. Namun pada kenyataannya pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam dan lahan masih belum optimal dalam mewujudkan kesejahteraan dan mengatasi kemiskinan. Salah satu permasalahan yang terjadi adalah adanya konflik kepemilikan lahan serta perambahan sumber daya alam yang tidak berorientasi ekologis.
Bidang kehutanan merupakan bidang yang ditempatkan sebagai ujung tombak pemulihan ekonomi dalam masa krisis melalui pemanfaatannya yang arif dan bijaksana untuk Hutan sebagai salah satu bagian yang sangat penting bagi negara pembangunan kita. Menurut angka resmi luas kawasan hutan Indonesia adalah 120 juta ekonomi

hektar. Namun luas hutan yang sebenarnya ada hanya 90 juta hektar. Jadi hanya 75 persen luas kawasan hutan. Hutan ini pun banyak yang mengalami kerusakan. Hal ini ditandai dengan angka laju deforestasi sebesar 1,08 juta hektare setiap tahun.

Peran ekonomi hutan seringkali ditempatkan sebagai ujung tombak pemulihan ekonomi ketika mengalami krisis. Hutan memang merupakan sumber daya dan karena itu dapat dibenarkan pemanfaatannya untuk pembangunan ekonomi. Namun yang menjadi permasalahan kemudian adalah bukanlah pemanfaatannya melainkan cara pemanfaatannya. Terjadi laju pembalakan hutan yang sangat tinggi dengan alasan pembangunan ekonomi menjadi sangat mengkhawatirkan, ditambah lagi sistem pengawasan pemanfaatan hutan pun sangat tidak memadai. Bahkan eksploitasi berlebihan (overexploitation) mendapatkan insentif dengan dapat diubahnya status hutan yang overexploitation menjadi hutan rusak yang dapat dijadikan Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan kredit yang menggiurkan. Fasilitas kredit yang menarik juga tersedia untuk mengubahnya menjadi perkebunan seperti misalnya kelapa sawit. Krisis ekonomi dapat menimbulkan dampak baik positif maupun negatif terhadap sumber penghidupan masyarakat yang tinggal di hutan dan sekitarnya. Inflasi dan meningkatnya biaya hidup serta input pertanian, misalnya, akan menimbulkan kemunduran bagi banyak rumah tangga. Walaupun demikian, sumber penghidupan mungkin membaik karena perkembangan-perkembangan seperti meningkatnya keuntungan dari tanaman ekspor. Runtuhnya hukum dan ketertiban selama krisis,
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 20

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

seperti yang terjadi di Indonesia, juga merupakan faktor pendukung yang bersifat negatif maupun positif. Tutupan hutan alam pun dapat mendatangkan keuntungan atau sebaliknya menjadi rusak akibat dampak krisis ekonomi. Bila keuntungan dari tanaman ekspor meningkat, lebih banyak lahan hutan yang mungkin dikonversi untuk lahan pertanian, demikian pula keuntungan dari ekspor hasil hutan yang lebih besar dapat menyebabkan ekploitasi yang lebih besar terhadap hutan dan sumber dayanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemanfaatan hutan secara berlebih tersebut telah memberi sumbangan yang berarti pada peningkatan GNP Indonesia sehingga mengangkat negara Indonesia dari kelompok negara miskin menjadi kelompok negara berpendapatan menengah. Namun dampak kerusakan hutan yang kemudian terjadi tidak hanya terkait masalah kehutanan saja namun juga terkait dengan sektor kehidupan lainnya seperti kesehatan, pertanian, perikanan, permukiman, lingkungan hidup (banjir dan kekurangan air) serta perekonomian. Dampak ini pun tidak saja bersifat lokal, melainkan pula bersifat nasional, bahkan global. E. Dampak terhadap Bidang Lingkungan Hidup
Dampak krisis pada bidang lingkungan hidup lebih disebabkan oleh akumulasi perubahan iklim termasuk dampak akibat penjarahan penduduk untuk bertahan hidup

Krisis ekonomi tahun 2008 terjadi di tengah krisis lingkungan, yang meliputi krisis energi, air, pangan dan dampak dari akumulasi perubahan iklim. Kondisi ini akan berdampak terhadap kebutuhan untuk menata lingkungan, menurunkan karbondioksida di atmosfir dan berinvestasi untuk energi ramah lingkungan akan mengakibatkan ongkos energi naik 20 persen dan barang-barang bertambah mahal. Sementara itu, krisis kelangsungan hidup menyebabkan kerusakan ekologi dan rusaknya jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok/dasar telah mencapai tingkat yang tidak terpulihkan. Krisis ini berdampak bagi Penduduk yang berusaha bertahan hidup tidak berfikir panjang tentang kondisi bumi tempat mereka tinggal. Hutan, laut, tambang atau sumber daya alam apapun dijarah untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Eksploitasi alam yang telah terjadi mengakibatkan kualitas SDA & Lingkungan menurun (kualitas tanah semakin menurun, pencemaran air, dan penurunan sepertiga keanekaragaman hayati sejak tahun 1970 (WWF, 2005).

II - 21

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

F. Dampak terhadap Bidang Perdagangan Pelemahan Perdagangan Global. Pelemahan permintaan dunia sebagai dampak krisis keuangan global diperkirakan akan berlangsung di tahun 2009, tentunya akan berdampak terhadap penurunan volume perdagangan dunia. Hal ini merupakan kejadian pertama kali setelah tahun 1982 (Gambar 2.2) berdasarkan Global Economic Prospect 2009 (Bank Dunia, Desember 2008). Gambar 2.2. Pertumbuhan Volume Perdagangan Global
Dampak krisis pada bidang perdagangan dan industri terlihat pada penurunan volume perdagangan dunia

Sumber: World Bank GEP 2009

Tabel 2.1. Data dan Proyeksi Pertumbuhan Beberapa Indikator Ekonomi 2009 dan 2010 INDIKATOR WORLD BANK (2009)
· · · · · · · · · · Pertumbuhan PDB Riil Dunia (%) Pertumbuhan volume perdagangan dunia (%) Pertumbuhan harga komoditas, non-oil (%) Harga minyak dunia (USD per barrel) Pertumbuhan output dunia (%) Pertumbuhan volume perdagangan dunia (%) Pertumbuhan ekspor negara berkembang (emerging and developing countries), (%) Pertumbuhan ekspor negara maju (%) Pertumbuhan impor negara maju (%) Pertumbuhan impor negara berkembang (%) 3,7 7,5 17,0 71,1 5,2 7,2 9,6 5,9 4,5 14,5 2,5 6,2 22,4 101,2 3,4 4,1 5,6 3,1 1,5 10,4 0,9 -2,1 -23,2 74,5 0,5 -2,8 -0,8 -3,7 -3,1 -2,2 3,0 6,0 -4,3 75,8 3,0 3,2 5,4 2,1 1,9 5,8

2007

2008

2009

2010

IMF (2009)

Sumber: World Bank (Global Economic Prospect, Jan 2009) dan IMF (World Economic Outlook-Update, Jan 2009) Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 22

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Tabel 2.1 menunjukkan bahwa dampak dari krisis global sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2008. PDB riil dunia pada tahun 2008 terlihat lebih lambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan perlambatan ini diperkirakan akan terus berlangsung di tahun 2009. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2009 hanya akan sebesar 0,9 persen; sedangkan IMF memperkirakan hanya sebesar 0,5 persen. Melemahnya pertumbuhan ekonomi ini akan mengakibatkan penurunan permintaan, sehingga volume perdagangan dunia pun akan mengalami penyusutan yang cukup berarti. Perlambatan volume perdagangan dunia sudah mulai terlihat di tahun 2008, dan di tahun 2009 diperkirakan terjadi penurunan volume perdagangan hingga lebih dari 2 persen. Penurunan ekspor dan impor dari negara maju di tahun 2009 akan menjadi pemicu utama penurunan ekspor negara-negara berkembang, yang merupakan konsumen utama dari produk-produk ekspor negara berkembang. Berdasarkan perkiraan Bank Dunia (2009) dan IMF (2009), pertumbuhan volume perdagangan dunia di tahun 2010 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2009, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2010 yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2009. Ke depan, tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh Indonesia adalah semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia sebagai dampak lanjutan dari krisis global, yang akan berakibat pada melemahnya permintaan dunia. Akibatnya, tingkat persaingan produk ekspor di pasar global akan semakin runcing dan harga komoditas pun diperkirakan akan lebih rendah dari tahun 2008, karena menurunnya permintaan dunia dan aktivitas produksi industri global. Tantangan lain adalah adanya kemungkinan serbuan produk impor dari negara lain, akibat dari menurunnya permintaan produk di beberapa pasar utama ekspor dunia, yang kemudian dialihkan ke pasar Indonesia. Untuk itu, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 56/MDAG/PER/12/2008 yang telah diperbaharui oleh Peraturan Menteri Perdagangan No. 60/M-DAG/PER/12/2008 tentang ketentuan impor produk tertentu, yang mencakup produk pakaian jadi, makanan dan minuman, alas kaki, elektronika, dan mainan anak-anak. Ketentuan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009 untuk produk pakaian jadi; dan untuk produk lainnya mulai berlaku pada tanggal 1 Februari 2009. Penurunan Kinerja Ekspor Indonesia. Neraca Perdagangan Indonesia juga mengalami penurunan karena peningkatan ekspor lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan impor, sebagai efek dari melemahnya permintaan global.
II - 23 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

Gambar 2.3. Penurunan Neraca Perdagangan Indonesia

Sumber: BPS

Nilai ekspor Indonesia pun mengalami fluktuasi di sepanjang tahun 2008, mencatatkan nilai tertingginya sebesar USD12,89 milyar di bulan Juni dan kemudian mulai mengalami penurunan di paruh kedua tahun 2008. Ekspor nonmigas juga mencapai nilai tertingginya sepanjang tahun 2008 di bulan Juni, dengan nilai sebesar USD 9,91 milyar. Nilai ekspor nonmigas tersebut juga kemudian mulai mengalami penurunan di paruh kedua tahun 2008 kecuali di bulan September yang sempat menguat. Penurunan pertumbuhan untuk ekspor total dan nonmigas terbesar sepanjang tahun 2008 mulai dialami Indonesia di bulan Oktober, pertumbuhan ekspor total (m-o-m) menurun sebesar 11,6 persen dan ekspor nonmigas menurun sebesar 8,1 persen bahkan di bulan November ekspor nonmigas sempat menurun pertumbuhannya sampai dengan 9,2 persen. Sementara itu dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 yang mencapai 6,1 persen ekspor barang dan jasa mendukung pertumbuhan sebesar 9,5 persen naik dari pertumbuhan tahun 2007 yang sebesar 8 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun 2008 tersebut juga sebagian besar disumbangkan oleh komponen ekspor barang dan jasa, dari 6,1 persen pertumbuhan ekonomi tahun 2008, 4,6 persen bersumber dari komponen ekspor barang dan jasa. Bila dilihat dari kinerja perdagangan luar negeri selama tahun 2008 maka walaupun krisis keuangan global telah menurunkan tingkat pertumbuhan tahunan ekspor total maupun ekspor nonmigas Indonesia, namun sumbangan ekspor terhadap pertumbuhan maupun kinerja ekspor kita terutama ekspor nonmigas masih dapat diandalkan untuk menunjang perekonomian.
II - 24

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Secara kumulatif, ekspor Indonesia selama tahun 2007 dan 2008 menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Pertumbuhannya dalam kurun waktu tersebut jauh diatas sasaran yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009 (RPJMN) bahkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. Pertumbuhan ekspor nonmigas sepanjang tahun 2007 adalah sebesar 16,0 persen, dan pada tahun 2008 pertumbuhannya meningkat menjadi 17,2 persen.
Gambar 2.4. Sasaran dan Realisasi Ekspor Nonmigas
25,0%
Pertumbuhan (%)

20,0% 15,0% 10,0% 5,0% 0,0% Sasaran RPJM Sasaran RKP Realisasi 2005 5,5% 4,9% 18,8% 2006 6,5% 6,5% 19,8% 2007 7,5% 8,2% 15,6% 2008*) 8,1% 12,5% 17,2% 2009 8,7% 13,5%

Sumber: Bappenas dan BPS

Bila dibandingkan dengan Desember 2007, nilai ekspor Desember 2008 mengalami penurunan 20,56 persen, yang disumbang oleh turunnya ekspor migas sebesar 50,59 persen, sementara ekspor nonmigas juga turun sebesar 11,59 persen. Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama Januari-Desember 2008 mencapai US$136.761,7 juta atau meningkat 19,86 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$107.803,4 juta atau meningkat 17,16 persen. Selama periode Januari-Desember 2008, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 dijit) yaitu lemak & minyak hewan/nabati (HS 15), mesin/pesawat mekanik (HS 84), karet dan barang dari karet (HS 40), mesin/peralatan listrik (HS 85), bahan bakar mineral (HS 27), bijih, kerak, dan abu logam (HS 26), pakaian jadi bukan rajutan (HS 62), barang-barang rajutan (HS 61), perabot, penerangan rumah (HS 94), serta kertas/karton (HS 48) memberikan kontribusi 58,64 persen terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang tersebut meningkat 21,91 persen terhadap periode yang sama tahun 2007.
II - 25

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

Sementara itu, peranan ekspor nonmigas diluar 10 golongan barang pada Januari-Desember 2008 sebesar 41,36 persen. Selama periode Januari-Desember 2008, Jepang masih merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$13.811,2 juta (12,81 persen), diikuti Amerika Serikat dengan nilai US$12.516,6 juta (11,61 persen), dan Singapura dengan nilai US$10.098,2 juta (9,37 persen). Ekspor produk pertanian, produk industri serta produk pertambangan & lainnya masing-masing meningkat 34,98 persen, 15,15 persen, dan 24,62 persen. Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan JanuariDesember 2008, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 64,38 persen sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 3,61 persen, dan kontribusi ekspor produk pertambangan & lainnya adalah sebesar 10,84 persen, sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 21,17 persen. G. Dampak terhadap Bidang Industri Industri manufaktur. Perkembangan industri pengolahan bukan migas secara berturut-turut adalah 5,86 persen pada tahun 2005, 5,27 persen pada tahun 2006, 5,15 persen pada tahun 2007 serta 4,05 pada tahun 2008. Tiga subsektor industri yang memiliki pangsa kontribusi besar adalah industri makanan dan minuman, industri pupuk, kimia dan barang karet, serta industri alat angkut, mesin dan peralatan. Pada tahun 2008 ketiga subsektor ini tumbuh cukup baik yaitu berturut-turut sebesar 2,34 persen; 4,46 persen dan 9,79 persen. Data pertumbuhan triwulanan pada tahun 2008 menunjukkan bahwa pada triwulan ke-empat mengalami perlambatan yang cukup nyata, terutama subsektor yang rentan dengan pasokan atau permintaan pasar global, seperti industri tekstil, barang kulit dan alas kaki, industri kertas dan barang cetakan, industri logam dasar, besi dan baja, serta industri alat angkut, mesin dan peralatan. Pada tahun 2009 diperkirakan pertumbuhan industri masih melemah karena memang permintaan yang belum pulih akibat krisis global baik dari pasar domestik maupun dari pasar internasional. Sehingga pada tahun 2009 industri pengolahan non-migas diperkirakan tumbuh 3,94 persen.
Pada tahun 2009 diperkirakan pertumbuhan industri masih melemah karena memang permintaan yang belum pulih akibat krisis global baik dari pasar domestik maupun dari pasar internasional

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

II - 26

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Tabel 2.2. Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas Tahun 2004 – 2008
(Harga Konstan Tahun 2000) (dalam persen)

Cabang Industri 1). Makanan, Minuman, Tembakau 2). Tekstil, Brg. Kulit dan Alas Kaki 3). Brg. Kayu dan Hasil Hutan 4). Kertas dan Barang Cetakan 5). Pupuk, Kimia dan Barang Karet 6). Semen, Brg.Galian Non Logam 7). Logam Dasar Besi dan Baja 8). Alat Angkut, Mesin, Peralatan 9). Barang Lainnya Industri Pengolahan Non Migas
Sumber: BPS, diolah Depperin

2004 1,39 4,06 -2,07 7,61 9,01 9,53 -2,61 12,77 7,51

2005 2,75 1,31 2,39 8,77 3,81 -3,70 2,61 5,86

2006 2007 2008 7,21 5,05 2,34 3,45 4,46 1,23 -3,68 -3,64 2,09 4,48 0,53 4,73 7,55 5,27 5,79 -1,48 5,69 3,40 -1,49 1,69 -2,05 9,73 5,15 9,79 4,05

-0,92 -0,66 -1,74

17,67 12,38

3,62 -2,82 -0,96

Pada tahun 2008 kebijakan dan pembinaan untuk mendorong pertumbuhan industri yang dilaksanakan antara lain revitalisasi teknologi produksi industri tekstil; rintisan pola pembinaan industri di daerah dengan skema one village one product (OVOP); dan berbagai koordinasi lintas instansi untuk memecahkan berbagai persoalan nyata yang dihadapi oleh pengusaha industri. Menjelang akhir 2008, pembinaan industri difukuskan pada upaya menyiapkan industri nasional menghadapi krisis global, yaitu dengan memfasilitasi penyediaan insentif fiskal bagi industriindustri strategis. Langkah strategis lain dalam persiapan krisis global adalah menjaga pasar domestik dari produk-produk impor illegal, yaitu dengan membatasi pelabuhan masuk barang-barang impor tersebut. Selanjutnya pada awal tahun 2009 persiapan menghadapi krisi global semakin ditingkatkan yaitu dengan mendorong peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. Untuk itu, telah diterbutkan Instruksi presideng nomor 2 tahun 2009 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. H. Dampak terhadap Investasi Investasi. Pertumbuhan investasi berupa PMTB (Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto) selama tahun 2008 meningkat sebesar 11,7 persen, yang berarti tumbuh lebih tinggi dari tahun 2007 yang hanya
II - 27 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

mencapai sebesar 9,2 persen. Meskipun investasi mengalami peningkatan cukup pesat selama tahun 2008, namun perlu diwaspadai karena pada triwulan IV-2008 mengalami perlambatan pertumbuhan, yaitu hanya meningkat 0,8 persen dibandingkan dengan triwulan III-2008. Pertumbuhan investasi tersebut sebagian didukung oleh tingginya peningkatan dari realisasi ijin usaha tetap (IUT) Penanaman Modal Asing (PMA) sektor non migas. Selama tahun 2008, realisasi IUT PMA mencapai nilai USD 14,87 miliar atau tumbuh 43,7 persen dalam denominasi mata uang dolar Amerika Serikat dibandingan dengan tahun 2007. Meningkatnya kinerja PMA selama tahun 2008, memberikan imbas positif bagi pertumbuhan realisasi investasi sektor non migas secara keseluruhan yang mencapai Rp 164,27 triliun atau meningkat 26,9 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, meskipun kinerja Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menurun sebesar 41,6 persen selama tahun 2008. Tabel 2.3. Realisasi Ijin Usaha Tetap PMDN dan PMA
2006 2007 2008 Pertumbuhan (y-o-y) 2006 ke 2007 ke 2007 2008 72% 26,9%

Meskipun investasi mengalami peningkatan cukup pesat selama tahun 2008, namun perlu diwaspadai karena pada triwulan IV2008 mengalami perlambatan pertumbuhan

Realisasi Investasi/IUT (triliun) PMDN (Rp. Triliun) PMA (Rp triliun) PMA (US$ miliar)

75,46

129,43

164,2

20,65 54,81 5,98

34,88 94,55 10,35

20,36 143,91 14,87

69% 73% 73%

-41,6% 52,2% 43,7%

Sumber: BKPM Catatan: Kurs tengah tahun 2006 Rp 9.166 per USD Kurs tengah tahun 2007 Rp 9.136 per USD Kurs tengah tahun 2008 Rp 9.677 per USD

Dari sisi lokasi, pulau Jawa masih menduduki tingkat realisasi ijin usaha tetap PMDN tertinggi dengan nilai realisasi ijin usaha tetap sebesar Rp. 12,14 triliun, atau 59,6 persen dari total nilai realisasi IUT PMDN tahun 2008, diikuti dengan Pulau Sumatera dengan nilai realisasi ijin usaha tetap sebesar Rp. 4,8 triliun atau 23,8 persen, pulau Kalimantan dengan nilai IUT sebesar Rp. 1,55 triliun atau 8,9 persen serta Sulawesi dengan nilai IUT sebesar Rp. 2,8 triliun atau 5,6 persen dari total nilai realisasi IUT PMDN tahun 2008 yaitu sebesar Rp.20,3 triliun. Untuk realisasi IUT PMA, pulau Jawa tetap diminati oleh investor, dimana prosentase realisasi IUT PMA di pulau Jawa mencapai 91,2 persen dengan nilai USD 13,56 miliar, diikuti
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 28

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

pulau Sumatera 6,8 persen dengan nilai USD 1,38 miliar dari total nilai IUT PMA tahun 2008 sebesar USD 14,8 miliar. I. Dampak terhadap Ketenagakerjaan (Pengangguran)
Dampak krisis terhadap ketenagakerjaan adalah pada pengurangan jumlah tenaga kerja dan peningkatan pengangguran

Terjadinya krisis keuangan global diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya penurunan permintaan yang pada akhirnya akan berakibat pada pengurangan tenaga kerja. Jika permintaan luar negeri berkurang, industri akan melakukan penyesuaian, antara lain mengurangi produksi. Jika produksi dikurangi, kemungkinan besar sekali tenaga kerja pun akan dikurangi yang akan meningkatkan angka pengangguran. Artinya, dengan keadaan perekonomian Amerika Serikat yang tidak sehat ini, akan memberikan dampak langsung dan tidak langsung kepada Indonesia. Dunia usaha harus membuat penyesuaian-penyesuaian usaha yang pada umumnya adalah penurunan jumlah output yang pada gilirannya berakibat pada penurunan jumlah permintaan input. Salah satunya ialah input tenaga kerja. Banyak terjadi pemutusan hubungan kerja selama krisis berlangsung. Beberapa kalangan menaytakan bahwa pemutusan hubungan kerja seperti ini akan berdampak langsung kepada penignkatan angka pengangguran. Kemungkinan yang terburuk adalah bahwa jumlah penganggur akan meningkat sebesar jumlah tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Kenyataan yang terjadi tidaklah demikian, karena seseorang yang mengalami pemutusan hubungan kerja tidak dengan serta merta menjadi seorang penganggur. Oleh karenanya jumlah kasus pemutusan hubungan kerja tidak dapat dijadikan patokan untuk memperkirakan jumlah penganggur dalam perekonomian. Laporan yang dihimpun dari berbagai media menyebutkan bahwa tindakan PHK dan merumahkan pekerja sudah mulai berlangsung di beberapa tempat di Indonesia. Sejumlah perusahaan telah mengajukan untuk melakukan PHK terhadap pekerjanya.5 Pemerintah dalam usahanya untuk membantu para pengusaha untuk dapat mengurangi biaya produksi, beberapa waktu yang lalu melakukan pengendalian upah minimum melalui SKB 4 Menteri demi mencegah agar perusahaan terutama yang berorientasi ekspor tidak jatuh.

5

Berdasarkan kliping berita Direktorat Ketenagakerjaan, BAPPENAS, berbagai alasan-alasan yang dihimpun mengapa perusahaan melakukan PHK adalah (1) untuk mengurangi ongkos produksi (2) efisiensi dan efektivitas operasional pabrik akibat krisis global yang berdampak pada tingginya biaya produksi industri (3) menurunnya produksi dipabrik akibat berkurangnya pesanan dari luar negeri dan (4) iklim ekonomi yang tidak ramah.

II - 29

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

Tabel 2.4. Pendataan Pekerja yang Terkena PHK
Posisi 31 Desember 2009 5 Januari 2009 20 Januari 2009 Rencana PHK 25,577 25,577 24,817 Sudah Rencana PHK Dirumahkan 23,752 19,391 24,452 27,346 19,391 19,191 Sudah Dirumahkan 10,306 11,703 11,963 Total 79,026 81,123 83,317

Sumber: Depnakertrans

Banyak analisis yang mengasumsikan bahwa maraknya pemutusan hubungan kerja tersebut akan membawa konsekuensi langsung kepada peningkatan jumlah penganggur di Indonesia. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Bagian berikut ini akan membahas hal tersebut. Seseorang secara resmi didefinisikan sebagai penganggur apabila orang tersebut termasuk dalam angkatan kerja, namun pada saat tertentu sedang tidak bekerja dan mencari pekerjaan. Selanjutnya, angka pengangguran didefinisikan sebagai rasio antara jumlah penganggur terhadap total angkatan kerja. Dengan demikian menganggur berarti tidak memiliki pendapatan yang berasal dari kerja (labor income). Oleh karena itu menganggur hanyalah dimungkinkan apabila seseorang memiliki sejumlah pendapatan yang tidak berasal dari kerja (non-labor income) yang cukup. Dalam kerangka pikir seperti ini maka jelas bahwa maraknya pemutusan hubungan kerja tidak selalu berakibat langsung kepada peningkatan angka pengangguran sebab tidak semua kaum pekerja Indonesia memiliki non-labor income yang cukup untuk menutupi berbagai pengeluaran. Bekerja adalah keharusan untuk tetap memperoleh penghasilan. Dengan demikian tidak benar anggapan bahwa jumlah mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja adalah pendekatan (proxy) bagi jumlah penganggur di perekonomian. Krisis jelas mempengaruhi pasar tenaga kerja Indonesia. Berbagai pergerakan di pasar tenaga kerja tersebut dapat diantisipasi dengan mengetahui karakteristik pasar tenaga kerja Indonesia itu sendiri. Bagian berikut ini akan menguraikan karakteristik pasar tenaga kerja Indonesia, dan setelah itu akan diuraikan efek dari krisis yang tercermin dalam berbagai pergeseran atau mobilitas yang terjadi di pasar tenaga kerja. Oleh karena itu tenaga kerja Indonesia harus tetap bekerja. Dalam situasi di mana jumlah lowongan kerja (formal) tidak mencukupi untuk menampung seluruh pencari kerja, dan menganggur tidak bisa menjadi pilihan, maka mereka harus memasuki lapangan kerja informal. Sektor informal ini memiliki beberapa karakteristik khusus. Misalnya, jenis
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 30

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

usahanya tidak memiliki status hukum dan tidak terdaftar resmi, lokasi usaha berpindah-pindah dan tidak menetap, skala usaha kecil, dan menggunakan buruh tidak tetap. Dengan segala kekurangan sektor informal ini, ia memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki sektor formal. Keuntungan itu ialah bahwa sektor ini tidak memiliki kapasitas maksimum penampungan tenaga kerja. Jumlah pekerja yang dapat ditampung di sektor ini tidak terbatas. Malah sektor ini dikatakan sebagai penampung tenaga kerja yang tidak bisa ditampung oleh sektor formal. Kegiatan ekonomi informal memang kurang memperoleh perhatian di dalam literatur standar tentang pasar tenaga kerja. Namun di Negara berkembang seperti Indonesia, fenomena seperti ini yang terjadi. Oleh karena itu pekerja informal perlu menjadi perhatian utama dalam analisis dan perumusan kebijakan mengenai pasar tenaga kerja di Indonesia. Dalam situasi krisis ekonomi, lapangan pekerjaan informal akan menjadi semacam katup penyelamat. Para pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja dari lapangan kerja formal tidak mampu menjadi pengangguran. Untuk tetap bekerja mereka akan memasuki kegiatan informal. Konsekuensinya, pemutusan hubungan kerja tidak akan serta merta meningkatkan angka pengangguran. J. Dampak terhadap Kemiskinan
Dampak krisis terhadap kemiskinan terdapat pada penurunan daya beli masyarakat, peningkatan penduduk miskin, dan PHK

Kelesuan perekonomian global akan memberikan dampak pada perlambatan perekonomian di Indonesia. Perlambatan tersebut disebabkan antara lain oleh berkurangnya ekspor akibat kelesuan perekonomian di negara-negara tujuan ekspor, pemutusan hubungan kerja dan berkurangnya daya beli masyarakat akibat kenaikan inflasi, terutama di perkotaan. Sesuai sasaran tingkat kemiskinan yang sudah dituangkan di dalam RKP 2009, maka sasaran tingkat kemiskinan adalah 12 persen - 14 persen. Secara umum, dampak krisis keuangan global terhadap kemiskinan antara lain: 1. Penurunan daya beli masyarakat miskin dikarenakan kenaikan harga barang-barang. 2. Peningkatan penduduk miskin dan rentan yang diakibatkan PHK.

2.4 Dampak Krisis Keuangan Perekonomian Daerah

Global

Terhadap

Sektor Perdagangan. Sampai dengan bulan November 2008 DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Riau, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kepulauan
II - 31 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

Riau, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Lampung, merupakan 10 besar Propinsi dengan nilai perdagangan luar negeri yang terbesar. Secara rata-rata nilai ekspor perbulan sampai bulan November mencapai US$ 11,6 miliar, namun mulai mengalami sedikit penurunan pada bulan Oktober dan November 2008. Gambar 2.5. Nilai Ekspor 5 Besar Provinsi Pengekspor di Indonesia

Sumber: BPS (diolah Bappenas)

Gambar 2.6. Pertumbuhan Ekspor 5 Besar Provinsi Eksportir Utama di Indonesia

Sumber: BPS (diolah Bappenas)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

II - 32

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

II - 33

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

Dilihat dari nilai ekspornya, dari 33 Propinsi di Indonesia hanya terdapat empat Propinsi yang menonjol dalam melakukan kegiatan ekspor dan impor, yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Riau, serta Jawa Timur. Keempat Propinsi tersebut secara nasional adalah Propinsi yang mampu mencatatkan nilai ekspor diatas satu miliar dolar. Sementara itu dilihat dari pertumbuhannya Propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur adalah Propinsi yang mencatat nilai pertumbuhan ekspor relatif stabil, sementara itu Kalimantan Timur dan Riau mencatatkan pertumbuhan ekspor yang relatif berfluktuatif. Sektor UMKM. Krisis ekonomi yang sedang terjadi mungkin tidak memberikan pengaruh langsung bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti keterkaitan antara UMKM dan koperasi dengan perekonomian global yang masih sangat terbatas. Investasi asing yang masuk masih terfokus pada usaha skala besar. UMKM dan koperasi juga tidak memiliki hutang luar negeri. Sementara itu proporsi UMKM yang terlibat dalam pasar ekspor hanya mencapai 10 persen, dan hanya 0,19 persen diantaranya merupakan pelaku ekspor langsung. Sumbangan nilai ekspor non migas UMKM pada periode 2005-2007 masih pada kisaran 20 persen, dan sebagian besar produknya merupakan produk primer. Orientasi sebagian besar UMKM dan koperasi pada pasar lokal menyebabkan UMKM dan koperasi relatif lebih bisa bertahan dalam kondisi krisis ekonomi saat ini. Data SUSI (BPS, 2005) menunjukkan bahwa 96,2 persen UMKM yang tidak berbadan hukum dan bergerak di sektorsektor non pertanian masih memasarkan produknya hanya sebatas di dalam wilayah kabupaten/kotanya. Sisanya memasarkan produknya antar propinsi (2,4 persen) dan antar negara (0,13 persen). Kondisi ini terkait dengan jenis dan kualitas produk dan jasa yang disediakan oleh UMKM dan koperasi yang pada umumnya baru bisa menjangkau standar dan konsumen di pasar lokal dan regional. krisis yaitu UMKM relatif tidak terpengaruh keterbatasan pembiayaan/kredit yang disalurkan oleh perbankan. Pada awal pendirian usahanya, UMKM biasanya mengandalkan modal sendiri atau pinjaman dari keluarga/perseorangan. Pola pembiayaan lain yang diperoleh UMKM seiring dengan pertumbuhan usahanya mencakup pinjaman dari pemasok dan pembeli, serta pinjaman dari lembaga keuangan. Hal ini dibuktikan dari hasil Survey Usaha Terintegrasi BPS Tahun 2005 yang menunjukkan bahwa hanya sekitar 17,7 persen dari 18,2 juta UMKM yang disurvey yang memanfaatkan pinjaman dari sumber keluarga/perorangan/lainnya (62,8
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Dari 33 Provinsi di Indonesia ada 4 provinsi yang aktif melakukan ekspor dan impor. Dilihat dari pertumbuhannya provinsi DKI Jakarta dan Jawa Timur mempunyai pertumbuhan ekspor yang relative stabil sementara Kalimantan Timur dan Riau relative berfluktuatif

Dampak krisis pada sektor UMKM tidak memberikan pengaruh langsung karena keterkaitan UMKM dengan perekonomian global masih terbatas (tidak memiliki hutang Luar negeri,orientasinya masih pada pasar lokal, mengandalkan Faktor lain yang menjadikan UMKM bisa bertahan dalam masa modal sendiri bukan dari perbankan)

II - 34

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

persen), bank (25,4 persen), koperasi (5 persen), LKM lainnya (5,4 persen), dan modal ventura (1,4 persen). Data dari BRI (2008) juga menunjukkan baru 35 persen dari sekitar 49 juta UMKM yang memiliki akses ke pembiayaan/kredit bank. Selain itu, berdasarkan salah satu survey yang dilaksanakan oleh satu bank swasta, UKM di Indonesia cenderung memiliki pandangan yang optimis tentang prospek usahanya ke depan. Kelompok UKM yang disurvey memang cenderung akan mengambil keputusan bisnis yang lebih konservatif dan berhati-hati dalam berinvestasi dalam mengantisipasi dampak krisis ekonomi. Namun sebagian besar UKM tersebut masih akan mempertahankan tenaga kerja yang ada, bahkan 13 persen di antaranya berencana untuk menambah tenaga kerja dengan melihat prospek pengembangan usahanya di tahun 2009. Sebagian besar juga tetap akan melakukan belanja modal pada tahun 2009, dan optimis dapat mempertahankan volume perdagangannya pada tahun 2009. Namun demikian, dampak dari krisis keuangan global saat ini tetap dapat dirasakan oleh sebagian UMKM, terutama yang terkait dengan pasar ekspor. Berdasarkan identifikasi terhadap sektor industri yang terkena dampak krisis keuangan global, beberapa sektor yang memiliki populasi UMKM yang cukup besar diantaranya: industri makanan dan minuman, produk tekstil, alas kaki, furnitur, rotan olahan, keramik dan kerajinan lainnya. Dampak yang dirasakan umumnya terkait dengan terhambatnya pemasaran ekspor. Krisis keuangan global menyebabkan adanya perebutan pasar yang diakibatkan oleh (i) penurunan permintaan di Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang, serta (ii) peningkatan persaingan di pasar dalam negeri akibat adanya pengalihan pasar dari negara pengekspor ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampak lanjutan dari penurunan prospek pasar ekspor yaitu melemahnya pembiayaan UMKM karena sebagian besar UMKM memiliki modal yang terbatas. Salah satu contoh riil mengenai dampak dari krisis keuangan global dialami oleh UMKM di sektor kerajinan yaitu turunnya permintaan, pembatalan, atau penurunan pesanan dari pembeli di luar negeri. UMKM pengrajin di Jawa Barat, misalnya, menyebutkan adanya penurunan permintaan ekspor sebesar 25-30 persen sejak terjadinya krisis keuangan global. Sebagian besar produk ekspor tersebut belum tentu dapat dialihkan dan diserap pasar dalam negeri. Bahkan penurunan permintaan ekspor terhadap produk-produk UMKM di sektor perdagangan besi tua, kulit dan furnitur bisa mencapai 50 persen atau lebih. Penurunan volume pemasaran produk dan meningkatnya bunga kredit juga sudah menyebabkan semakin menipisnya permodalan UMKM.
II - 35

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Penyebab dan Dampak Krisis Keuangan Global

Krisis keuangan global juga mempengaruhi struktur dunia usaha nasional. Usaha skala besar dapat menyusut menjadi usaha skala menengah, dan hal ini ditunjukkan dengan trend menurunnya jumlah tenaga kerja pada usaha besar. Fenomena business downsizing juga dapat dialami oleh usaha menengah. Di sisi lain, kondisi ini menjadikan usaha mikro dan kecil memiliki peran yang strategis sebagai economic safety valves dengan menampung tenaga kerja dari usaha skala besar dan menengah. Memulai usaha dalam skala mikro dan kecil dianggap lebih fleksibel dan terjangkau oleh penganggur/tenaga kerja yang mengalami PHK karena dapat mengandalkan pemanfaatan bahan baku lokal, seperti untuk industri makanan, minuman dan pengolahan sederhana, sehingga mereka mampu bertahan ketika krisis ekonomi melanda (ILO, 2004). Namun untuk bisa cepat pulih dalam menghadapi krisis ekonomi, UMKM juga membutuhkan adanya penyediaan peluang usaha yang berkelanjutan dengan hambatan akses terhadap sumberdaya yang seminimal mungkin. Sektor ketenagakerjaan. Secara nasional, pada tahun 2009, tingkat pengangguran terbuka akan diturunkan menjadi 8,3 persen apabila ekonomi tumbuh dengan 5,0 persen. Apabila ekonomi tumbuh 4,5 persen, angka pengangguran terbuka menjadi 8,6 persen. Perkiraan ini mempertimbangkan adanya PHK yang tidak terserap kembali dalam pasar kerja. Masalah pengangguran merupakan tantangan besar yang harus ditangani bersama. Kesadaran pekerja, pengusaha dan bahkan dukungan politik sangat menentukan di dalam menurunkan tingkat pengangguran terbuka keseluruhan ini akan memberikan gambaran ketenagakerjaan yang lebih baik. Tercapainya sasaran penurunan angka pengangguran, sangat berpengaruh terhadap tingkat pengangguran di setiap daerah. Peranan daerah sangat penting dalam mendorong penurunan angka pengangguran. Dengan semakin besarnya fungsi pelayanan kepada masyarakat yang diberikan kepada daerah, peran daerah untuk mendorong kegiatan ekonomi semakin besar. Keselarasan antara APBN dan APBD sangat penting yang kemudian mendorong kegiatan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja di daerah. Pemecahan masalah pengangguran memerlukan dukungan institusi yang kuat dalam menjabarkan, termasuk didalamnya adalah mekanisme yang mampu memastikan bahwa pelaksanaan dari berbagai kebijakan penciptaan lapangan kerja benar-benar terjabarkan dengan baik, termasuk oleh daerah. Lebih lanjut, daerah-daerah yang merupakan kantong-kantong pengangguran perlu didorong menciptakan lapangan kerja, baik melalui investasi maupun melalui program-program APBN dan APBD. Deskripsi pengangguran secara nasional merupakan agregasi dari gambaran pengangguran di daerah. Beberapa kalangan menyatakan bahwa pemutusan hubungan kerja akan berdampak langsung kepada peningkatan angka pengangguran. Kemungkinan yang terburuk adalah
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah II - 36

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

bahwa jumlah penganggur akan meningkat sebesar jumlah tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Besarnya PHK dapat dicermati dari pemantauan perusahaan/industri yang melakukan PHK yang wajib dilaporkan kepada Dinas Tenaga Kerja setempat. Jumlah PHK selanjutnya dipantau untuk mengetahui apakah mereka masuk dalam kelompok penganggur atau masuk kembali dalam pasar kerja, atau keluar dari angkatan kerja. Kemungkinan ini dapat terjadi karena seseorang yang mengalami pemutusan hubungan kerja tidak dengan serta merta menjadi seorang penganggur. Oleh karenanya jumlah kasus pemutusan hubungan kerja tidak dapat dijadikan patokan untuk memperkirakan jumlah penganggur dalam perekonomian. Ada dua arus keluar utama dari kelompok bekerja yang disebabkan oleh pemutusan hubungan kerja. Pertama ialah arus masuk ke kelompok pekerja informal. Seseorang dari kelompok formal bisa masuk ke kelompok pekerja informal dengan dua cara. Cara pertama adalah langsung, artinya setelah mengalami pemutusan hubungan kerja kemudian si pekerja langsung menjadi tenaga kerja informal. Cara ini cenderung ditempuh oleh mereka yang hidupnya sepenuhnya digantungkan kepada labor income. Karena itu mereka harus bekerja, dan sektor informal menjadi katup penyelamat yang paling efektif di saat pemutusan hubungan kerja. Cara kedua adalah tidak langsung. Mereka yang menggunakancara kedua ini relatif memiliki non-labor income sehingga dapat bertahan menganggur untuk beberapa saat. Saat menganggur, mereka yang mencari pekerjaan formal, namun probabilita sangat kecil karena investasi yang diharapkan belum cukup menciptakan lapangan kerja, sehingga probabilitasnya lebih tinggi untuk medapatkan pekerjaann informal. Oleh karena itu pada akhirnya mereka akan menjadi pekerja sektor informal. Kedua adalah mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja tersebut memutuskan untuk keluar dari pasar tenaga kerja, dan keluar dari kelompok angkatan kerja.

II - 37

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

BAB III KEBIJAKAN NASIONAL DALAM MENCEGAH DAN MENGANTISIPASI DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL
Dalam upaya mencegah dan mengantisipasi dampak krisis keuangan global, pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan nasional, baik kebijakan moneter, fiskal maupun kebijakan penguatan sektor riil. Paparan dalam Bab III akan menggambarkan kebijakan-kebijakan yang telah dan akan diambil oleh Pemerintah Pusat tersebut terkait upayaupaya penguatan ekonomi daerah dalam rangka mengantisipasi dampak krisis, untuk mendukung perekonomian Indonesia agar dapat tumbuh pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

3.1 Sepuluh Arahan Presiden RI
Berkaitan dengan terjadinya krisis keuangan global tersebut dan adanya pemahaman untuk terus menjaga kekuatan sektor riil, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memberikan 10 Arahan (Direktif Presiden RI) dalam menghadapi krisis keuangan global. Arahan ini dimaksudkan untuk memelihara momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis keuangan global. Sepuluh arahan tersebut adalah: Pertama. Semua kalangan harus tetap optimis, dan bersinergi untuk memelihara momentum pertumbuhan ekonomi dan mengelola serta mengatasi dampak krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Oleh sebab itu, kita semua tidak boleh panik dan harus tetap menjaga kepercayaan masyarakat. Pemerintah mengimbau masyarakat agar lebih tenang dan lebih rasional menghadapi dampak krisis ekonomi di AS. Perekonomian Indonesia pasti akan terkena imbas dari dampak krisis ekonomi AS, dan hal ini harus disikapi dengan tetap bersinergi dalam mengambil keputusan dan tindakan-tindakan yang diperlukan.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 2

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan 10 arahan untuk memelihara momentum Pertumbuhan ekonomi Indonesia

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Kedua. Dengan kebijakan dan tindakan yang tepat, serta dengan kerja keras dan upaya maksimal, nilai pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan sebesar 6 persen. Komponen yang perlu dijaga antara lain: konsumsi, belanja pemerintah, investasi, ekspor, dan impor. Tindakan yang perlu dilakukan adalah pemanfaatan perekonomian domestik dan mengambil pelajaran dari krisis 1998, di mana sabuk pengaman perekonomian domestik adalah sektor UMKM, pertanian, dan sektor informal. Ketiga. Optimasi APBN 2009 untuk memacu pertumbuhan dan membangun social safety net. Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu: · Penyediaan infrastruktur dan stimulasi pertumbuhan; · Alokasi anggaran penanggulangan kemiskinan tetap menjadi prioritas; · Defisit anggaran harus “tepat” dan “rasional” atau tidak mengganggu pencapaian sasaran “kembar” (growth with equity). Pemerintah akan memantau defisit APBN sekaligus memantau penggunaan anggaran kementerian dan lembaga. Pengeringan likuiditas global jelas mempengaruhi pembiayaan defisit APBN yang berasal dari pasar. Keempat. Dunia usaha khususnya sektor riil harus tetap bergerak, agar penerimaan negara tetap terjaga dan pengangguran tidak bertambah. Meskipun ekspansi usaha bisa berkurang akibat krisis yang terjadi namun pemerintah berharap kalangan swasta lebih adaptif dan terus mempertahankan kinerja, dengan tetap mencari peluang dan share the hardshift. Bank Indonesia dengan jajaran perbankan diharapkan terus mengembangkan kebijakan agar kredit dan likuiditas tersedia. Sementara, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan regulasi iklim dan insentif. Kelima. Semua pihak agar cerdas menangkap peluang untuk melakukan perdagangan dan kerjasama ekonomi dengan negara sahabat. Diperkirakan ekonomi Asia akan tetap baik, terutama China. Meskipun pasar di AS dan Eropa akan lebih tertutup dan melemah untuk ekspor produk Indonesia. Untuk tetap mempertahankan neraca ekspor, pemerintah akan mengalihkan ekspor yang tidak terserap di AS ke sejumlah negara yang tidak terkena imbas krisis keuangan. Keenam. Galakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga pasar domestik akan bertambah kuat. Menteri terkait diimbau untuk memberikan insentif/disinsentif agar masyarakat Indonesia tetap menggunakan produksi dalam negeri serta mencegah dumping barang luar negeri ke pasar dalam negeri. Presiden juga menginstruksikan kepada jajaran pemerintah agar dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah (procurement) lebih mengutamakan produk industri nasional.
III - 3 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Ketujuh. Memperkokoh sinergi dan kemitraan (partnership) pemerintah dengan perbankan dan dunia usaha. Pemerintah melalui Bank Indonesia akan menempuh beberapa langkah, yaitu memperkuat likuiditas sektor perbankan, menjaga pertumbuhan kredit pada tingkat yang sesuai untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan yang berkaitan dengan neraca pembayaran. Selain itu pemerintah juga akan memantau penggunaan anggaran kementerian dan lembaga negara dan mencarikan pembiayaan defisit APBN dari sumber non pasar, seperti sumber-sumber pembiayaan lainnya. Kedelapan. Semua kalangan diminta menghindari sikap ego sektoral dan memandang remeh masalah. Presiden menegaskan pentingnya kerjasama yang terkoordinir antar instansi terkait. Konflik yang tidak terselesaikan antar lembaga tidak saja memalukan di mata masyarakat, akan tetapi juga akan menghambat momentum pertumbuhan yang sudah tercapai. Hasil kinerja tidak akan optimal akibat rusaknya kepercayaan masyarakat. Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelesaian masalah yang ada, diharapkan setiap solusi tidak didasarkan pada kepentingan golongan/lembaga tertentu. Oleh karena itu, sangat penting melakukan kerjasama dan penguatan institusi secara terus menerus. Kesembilan. Mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan golongan dan pribadi. Berkaitan dengan tahun 2008 dan 2009 yang merupakan tahun politik dan tahun Pemilu, maka Presiden meminta semua kalangan untuk melakukan langkah dan kebijakan bagi kepentingan rakyat. Pemerintah, Bank Indonesia, DPR, DPD, dunia usaha, dan pelaku lainnya diharapkan dapat berperan secara positif dan konstruktif dalam menghadapi dan mengatasi dampak krisis keuangan global. Kesepuluh. Semua pihak diminta melakukan komunikasi dengan tepat dan bijak kepada rakyat. Presiden meminta semua pihak untuk melakukan komunikasi sejujurnya kepada masyarakat. Memberikan bukti nyata tentang apa saja yang sudah dijanjikan kepada masyarakat serta menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan. Namun, informasi tersebut harus tetap positif dan optimistis sehingga tidak menimbulkan kepanikan dalam masyarakat. Untuk itu pemerintah akan terus memantau dampak krisis global ini dan memberikan informasi perkembangan perekonomian beserta dengan solusi kebijakan yang akan diambil bersama.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

III - 4

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Presiden Susilo Lebih lanjut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Bambang delapan grand strategy pembangunan ekonomi ke depan, yaitu: Yudhoyono 1. Menggunakan dan meningkatkan sumber-sumber pembiayaan dalam menetapkan negeri, agar tidak senantiasa terhantui oleh bahaya arus modal ke luar delapan Grand negeri (capital out flow); Strategy pembangunan 2. Meningkatkan tabungan (saving) dalam negeri sebagai sumber ekonomi ke depan. investasi domestik;

3. Memperkuat perekonomian domestik, termasuk pasar dalam negeri, agar pertumbuhan perekonomian (growth) tidak hanya mengandalkan ekspor, yang setiap saat bisa terancam manakala ekonomi dunia mengalami resesi; 4. Meningkatkan daya beli masyarakat, demikian juga spending pemerintah dan swasta, agar pasar domestik makin tumbuh dengan baik; 5. Menggalakkan penggunaan produk dalam negeri (barang dan jasa), agar neraca pembayaran kita aman (tidak defisit) dan devisa kita tidak terkuras; 6. Meningkatkan ketahanan dan kecukupan kebutuhan rakyat, terutama pangan, agar ketika dunia mengalami krisis ekonomi, kebutuhan rakyat tetap dapat dipenuhi; 7. Memajukan ekonomi daerah di seluruh provinsi, kabupaten dan kota agar semua daerah dapat menjadi sumber, kekuatan dan sabuk pengaman perekonomian nasional; 8. Mengelola dan mendayagunakan sumber daya alam, terutama minyak, gas, batubara dan minyak kelapa sawit, agar benar-benar dapat meningkatkan penerimaan negara, dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam sistem pemerintahan desentralisasi, pemerintah daerah memiliki peran yang strategis dan penting untuk menopang kekuatan nasional. Oleh karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah memberikan instruksi khusus kepada Gubernur, Bupati dan Walikota, yaitu: 1. Bangun ekonomi di daerah agar terus tumbuh (growth), jaga stabilitas harga (inflation), ciptakan terus lapangan kerja (employment), terus kurangi angka kemiskinan (poverty reduction); 2. Ke depan, pidato Presiden di hadapan DPR dan DPD akan mencantumkan capaian/kinerja masing-masing provinsi, kabupaten dan kota tentang 4 (empat) hal yaitu growth, inflation, unemployment, poverty. Sesuai dengan Arahan Presiden RI tersebut, telah disusun strategi kebijakan dalam upaya mencegah serta mengantisipasi dampak krisis keuangan global terhadap perekonomian Indonesia, baik berupa kebijakan
III - 5

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

moneter dan perbankan, kebijakan anggaran, maupun kebijakan penguatan sektor riil.

3.2 Kebijakan Moneter dan Perbankan
3.2.1 Kebijakan Pelonggaran Likuiditas BI
Mencermati gejolak ekonomi dan keuangan global yang sedang berjalan, Bank Indonesia mengambil langkah-langkah yang menjaga kecukupan likuiditas valuta asing dan rupiah di dalam negeri. Langkahlangkah tersebut mencakup: 1. Perpanjangan tenor FX Swap dari paling lama 7 hari menjadi sampai 1 bulan (berlaku sejak 15 Oktober 2008). Langkah ini untuk memenuhi permintaan valuta USD yang sifatnya temporer sehingga memberi waktu penyesuaian yang cukup bagi bank/pelaku pasar sebelum benar-benar melakukan penyesuaian komposisi portfolio-nya. 2. Penyediaan pasokan valuta asing bagi perusahaan domestik melalui perbankan (berlaku sejak 15 Oktober 2008), untuk meningkatkan kepastian pemenuhan kebutuhan valuta asing perusahaan domestik. 3. Penurunan rasio GWM valuta asing untuk bank umum konvensional dan syariah dari 3,0% menjadi 1,0% (berlaku sejak 13 Oktober 2008) untuk menambah ketersediaan likuiditas valuta USD yang dapat digunakan bank dalam bertransaksi dengan nasabahnya. 4. Pencabutan ketentuan pasal 4 PBI No. 7/1/PBI/2005 tentang batasan posisi saldo harian Pinjaman Luar Negeri jangka pendek dengan meniadakan batasan posisi saldo harian Pinjaman Luar Negeri jangka pendek (berlaku sejak 13 Oktober 2008). Langkah ini ditujukan untuk mengurangi tekanan pembelian USD karena adanya pengalihan rekening rupiah ke valuta asing oleh nasabah asing. 5. Penyederhanaan perhitungan GWM rupiah (berlaku sejak 24 Oktober 2008) menjadi hanya dalam bentuk statutory reserves sebesar 7,5% dari dana pihak ketiga (DPK) agar likuiditas rupiah dalam sistem perbankan menjadi lebih memadai.
Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah dalam menjaga likuiditas valuta asing dan rupiah di dalam negeri.

3.2.2 PERPPU No. 2 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia
Sehubungan dengan telah terjadinya krisis ekonomi secara global yang mempengaruhi stabilitas sistem keuangan diperlukan upaya untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat tersebut dianggap perlu untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 tahun 2004
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 6

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

yang mengatur mengenai kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dari Bank Indonesia kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank. Pasal utama (Pasal 11) dalam PERPPU yang mengakomodasi perubahan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 1. Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah untuk jangka waktu paling lama 90 hari kepada Bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek Bank yang bersangkutan. 2. Dalam hal suatu Bank mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan, Bank Indonesia dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah. 3. Ketentuan dan tatacara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari APBN diatur dalam undang-undang tersendiri.

3.2.3 PERPPU No. 3 Tahun 2008 Tentang Perubahan UU No. 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin Simpanan
Selain melakukan perubahan terhadap ketentuan tentang Bank Indonesia mengatur mengenai kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank, dianggap perlu pula untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UU No. 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang mengatur mengenai kriteria perubahan nilai simpanan yang dijamin. Pasal utama (Pasal 11) yang mengakomodasi perubahan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Nilai simpanan yang dijamin dapat diubah apabila dipenuhi salah satu atau lebih kriteria sebagai berikut: (a) terjadi penarikan dana perbankan dalam jumlah besar secara bersamaan; (b) terjadi inflasi yang cukup besar dalam beberapa tahun; (c) jumlah nasabah yang dijamin seluruh simpanannya menjadi kurang dari 90% dari jumlah nasabah penyimpan seluruh bank; atau (d) terjadi ancaman krisis yang berpotensi mengakibatkan merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dan membahayakan stabilitas sistem keuangan. 2. Apabila kondisi di atas sudah teratasi besaran nilai Simpanan yang dijamin dapat disesuaikan kembali. 3. Penyesuaian besaran nilai Simpanan di atas ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah setelah dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat.
III - 7 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Adapun besarnya nilai Simpanan yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank paling banyak sebesar Rp 2 miliar (PP No. 66 tahun 2008).

3.2.4 PERPPU No. 4 Tahun 2008 Tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK)
Secara umum JPSK ditujukan untuk menciptakan dan memelihara stabilitas sistem keuangan melalui pengaturan dan pengawasan lembaga keuangan dan sistem pembayaran, penyediaan fasilitas Lender of Last Resort, program penjaminan simpanan serta pencegahan dan penanganan krisis. Meskipun demikian, Undang-undang ini hanya mengatur masalah pencegahan dan penanganan krisis. Ruang lingkup JPSK meliputi: 1. Pencegahan krisis dilakukan melalui penanganan kesulitan likuditas dan penanganan masalah solvabilitas dari bank dan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) yang berdampak sistemik, yaitu antara lain dengan memberikan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) bagi bank atau bantuan likuiditas bagi LKBB yang mengalami kesulitan likuiditas. Selain itu, pencegahan krisis dapat pula dilakukan dengan menambah modal berupa penyertaan modal sementara terhadap bank dan LKBB yang mengalami solvabilitas. 2. Penanganan krisis pada dasarnya dilakukan dengan cara yang sama seperti pencegahan krisis, namun penanganan krisis dilakukan pada saat kondisi sistem keuangan dalam keadaan krisis yang membahayakan stabilitas sistem keuangan dan perekonomian nasional. Dalam rangka pelaksanaan JPSK, berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dibentuk Komite Stabilitas Sistem keuangan (KSSK) yang beranggotakan Menteri Keuangan (merangkap sebagai ketua) dan Gubernur Bank Indonesia. KSSK berfungsi menetapkan kebijakan dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis di sistem keuangan. Fungsi dan tugas KSSK meliputi antara lain: a. Mengevaluasi skala dan dimensi permasalahan likuiditas dan/atau solvabilitas bank/LKBB yang ditengarai berdampak sistemik. b. Menetapkan permasalahan likuiditas dan/atau masalah solvabilitas bank/LKBB berdampak sistemik atau tidak berdampak sistemik dan c. Menetapkan langkah-langkah penanganan masalah bank/LKBB yang dipandang perlu dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis. Dalam hal pemberian insentif dan fasilitas untuk penanganan sektor privat (Pasal 26), Pemerintah dan Bank Indonesia dapat memberikan insentif dan/atau fasilitas dalam rangka mempercepat penyelesaian masalah likuiditas dan/atau solvabilitas bank/LKBB yang
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 8

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

berdampak sistemik yang dilakukan oleh sektor privat yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun sumber pendanaan Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) diatur sebagai berikut: a. Sumber pendanaan untuk pencegahan dan penanganan krisis berasal dari APBN yang diberikan Pemerintah melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) atau secara tunai. b. Untuk memberikan fleksibilitas agar krisis dapat dicegah atau ditangani segera, penerbitan SBN dikecualikan dari ketentuan tujuan penerbitan SBN sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Surat Utang Negara dan Undang-undang tentang Surat Berharga Syariah Negara. c. Bertindak sebagai pembeli SBN di pasar primer adalah Bank Indonesia. Dalam rangka akuntabilitas, Menteri Keuangan melaporkan penerbitan SBN tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Penggunaan dana APBN untuk pencegahan dan penanganan krisis harus mendapat persetujuan dari DPR. d. PERPPU JPSK tersebut dikembalikan kepada Pemerintah untuk diperbaiki dalam rangka membangun landasan hukum yang kuat untuk pencegahan dan penanganan krisis keuangan. Oleh karena itu, Pemerintah mengusulkannya dalam bentuk Rancangan Undangundang (RUU) tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) yang masih dalam pembahasan dengan DPR.

3.3 Kebijakan Fiskal
3.3.1 Program Stimulus Fiskal 2009
Pemerintah menerapkan kebijakan countercyclical berupa stimulus fiskal untuk mencegah perlemahan ekonomi yang lebih parah

Dalam rangka mencegah perlemahan ekonomi yang lebih parah sebagai akibat dampak negatif krisis keuangan global, dalam tahun 2009 Pemerintah menerapkan kebijakan countercyclical dalam bentuk stimulus fiskal. Kebijakan tersebut ditujukan terutama untuk (a) memelihara dan/atau meningkatkan daya beli masyarakat untuk menjaga agar konsumsi rumah tangga tumbuh 4,0 sampai dengan 4,7 persen; (b) menjaga daya tahan perusahaan/sektor usaha menghadapi krisis global; serta (c) menciptakan kesempatan kerja dan menyerap dampak PHK melalui kebijakan pembangunan infrastruktur padat karya. Oleh karenanya program yang dapat dilaksanakan adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut: (i) menciptakan lapangan kerja yang signifikan; (ii) hasilnya seketika dan dapat diselesaikan dalam tahun 2009; (iii) memenuhi sasaran Inpres Nomor 5 Tahun 2008 tentang fokus Program Ekonomi 2008-2009; (iv) melengkapi sistem jaringan infrastruktur agar lebih efisien; (v) merupakan bagian dari rencana strategis pemerintah; (vi) sudah memiliki desain atau dapat menyiapkan desain secara cepat; dan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

III - 9

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

(vii) tidak tersangkut dengan masalah tanah. Berdasarkan Rapat kerja Panitia Anggaran DPR-RI dengan pemerintah tanggal 23-24 Februari 2009, telah disepakati beberapa hal terkait program stimulus fiskal 2009 sebagai berikut: 1. Besaran defisit APBN 2009 meningkat dari 1 persen PDB atau Rp. 51,3 triliun menjadi 2,5 persen dari PDB atau Rp. 139,5 triliun, yang berarti mengalami peningkatan sebesar Rp. 88,2 triliun. Meningkatnya defisit anggaran tersebut didasarkan pada perubahan asumsi makro, yakni penurunan pertumbuhan ekonomi, perubahan nilai tukar dan penurunan harga minyak. Perubahan asumsi tersebut telah menyebabkan adanya penurunan potensi pendapatan negara dan penyesuaian belanja negara. 2. Kenaikan defisit anggaran dalam tahun 2009 dari 1 persen PDB menjadi 2,5 persen PDB tersebut akan dibiayai dari: a. SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) tahun 2008 sebesar Rp. 51,3 triliun, b. Tambahan pembiayaan utang sebesar Rp. 44,5 triliun yang bersumber dari penarikan pinjaman siaga apabila penerbitan SBN tidak bisa dipenuhi, dan c. Tambahan pinjaman program sebesar Rp. 1,1 triliun. Tabel 3.1. Stimulus Fiskal, 2009 (dalam triliun rupiah) Uraian 1. Penghematan Pembayaran Pajak (Tax Saving) - Penurunan Tarif PPh: - Penurunan Tarif PPh Badan - Penurunan Tarif PPh Orang Pribadi - Peningkatan PTKP menjadi Rp15,8 juta 2. Subsidi Pajak-BM/DTP kepada Dunia Usaha/RTS - PPN eksplorasi migas, minyak goreng - Bea masuk bahan baku dan barang modal - PPh karyawan - PPh panas bumi 3. Subsidi + Belanja Negara kepada Dunia Usaha/ Lapangan Kerja - Penurunan harga solar - Diskon tarif listrik untuk industri - Tambahan belanja infrastruktur + subsidi + PMN - Perluasan PNPM Jumlah Stimulus
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Alokasi 43,0 32,0 18,5 13,5 11,0 13,3 3,5 2,5 6,5 0,8 17,0 2,8 1,4 12,2 0,6 73,3
III - 10

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

3. Besaran stimulus fiskal APBN 2009 adalah Rp. 73,3 triliun, yang terdiri dari: a. Stimulus perpajakan dan kepabeanan sebesar Rp. 56,3 triliun yang berasal dari penurunan tarif PPh, kenaikan PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak), PPN DTP (Ditanggung Pemerintah), Bea Masuk DTP, Fasilitas PPh pasal 21 dan PPh Panas Bumi. b. Stimulus Belanja Negara sebesar Rp. 17,0 triliun, meningkat Rp. 2 triliun untuk tambahan belanja infrastruktur. Dari total stimulus belanja negara tersebut, terdapat stimulus belanja infrastruktur sebesar Rp 12,2 triliun. Memelihara dan/atau Meningkatkan Daya Beli Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan dan memelihara daya beli masyarakat, pemerintah memberikan stimulus fiskal dalam bentuk penurunan tarif pajak penghasilan orang pribadi, peningkatan batas PTKP maupun pemberian subsidi

Dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang telah ditargetkan, faktor-faktor pendorong pertumbuhan ekonomi terutama konsumsi masyarakat perlu dipertahankan, dan bahkan jika mungkin ditingkatkan. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam rangka memelihara dan meningkatkan daya beli masyarakat untuk menjaga agar konsumsi rumah tangga mampu tumbuh diatas 4,0 persen hingga 4,7 persen pada tahun 2009, Pemerintah memberikan stimulus fiskal, baik dalam bentuk penurunan tarif pajak penghasilan orang pribadi (OP) dan peningkatan batas penghasilan tidak kena pajak (PTKP) maupun melalui pemberian berbagai subsidi, antara lain berupa subsidi harga obat generik, serta subsidi PPN atas beberapa produk akhir untuk minyak goreng dan bahan bakar nabati (BBN). Dari sisi perpajakan, dalam APBN 2009 telah dimasukkan penurunan tarif pajak orang pribadi sebagai hasil dari diberlakukannya amendemen UU PPh. Dengan demikian, pendapatan riil masyarakat meningkat sehingga diharapkan akan mampu mendorong daya beli. Penurunan tarif PPh orang pribadi memberikan pengurangan pembayaran pajak (tax saving) sebesar Rp. 24,5 triliun, yang akan menambah likuiditas perekonomian dan mendorong daya beli rumah tangga. Dalam amendemen UU PPh telah dilakukan perubahan mendasar pada susunan tarif dan lapisan tarif bagi PPh orang pribadi (OP) dan PPh badan. Stimulus fiskal yang diberikan untuk wajib pajak (WP) OP akan meringankan beban masyarakat sebesar Rp. 24,5 triliun. Stimulus tersebut terdiri atas penyederhanaan dan penurunan tarif perlapisan penghasilan untuk WP OP (tarif tertinggi dari 35 persen menjadi 30 persen) memberikan dampak sebesar Rp. 13,5 triliun, dan kenaikan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dari Rp. 13,2 juta menjadi Rp. 15,8 juta per individu memberikan dampak sebesar Rp. 11,0 triliun.

III - 11

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Di sisi belanja negara, dalam rangka menjaga daya beli masyarakat dalam APBN 2009 Pemerintah telah menetapkan kebijakan kenaikan gaji pokok PNS, TNI, Polri dan pensiunan sebesar 15 persen dan pemberian gaji ke-13, serta pemberian BLT bagi 18,2 juta rumah tangga sasaran (RTS) selama 2 bulan dengan pembayaran Rp. 100.000,0 per bulan per RTS. Selanjutnya, Pemerintah juga telah menyiapkan suatu paket stimulus yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari terjadinya krisis ekonomi global terhadap masyarakat sebesar Rp. 1.350,0 miliar. Stimulus tersebut terdiri atas subsidi pajak atau PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP) atas minyak goreng Rp. 800,0 miliar, dan subsidi PPN DTP atas bahan bakar nabati (BBN) Rp. 200,0 miliar, serta pemberian subsidi untuk obat generic sebesar Rp. 350,0 miliar. Subsidi PPN (DTP) atas minyak goreng merupakan lanjutan dari fasilitas PPN DTP pada tahun 2008. Dalam tahun 2009, subsidi PPN tersebut ditujukan bagi penjualan minyak goreng curah dan minyak goreng kemasan sederhana dengan menggunakan merek generik milik Pemerintah, yaitu “Minyakita”. Selanjutnya, subsidi PPN untuk bahan bakar nabati (BBN) ditujukan agar harga BBN lebih murah dan dapat bersaing dengan harga bahan bakar minyak (BBM) dari fosil yang tidak terbaharukan. Dengan pemberian subsidi ini, diharapkan produksi BBN akan dapat terus meningkat di kemudian hari, sehingga mengurangi ketergantungan akan BBM dari fosil. Sementara itu, dalam rangka menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat di seluruh daerah sebagai antisipasi apabila terjadi resesi ekonomi, Pemerintah memberikan subsidi harga obat generik atau Obat Generik Bersubsidi (OGS) sebesar Rp. 350,0 miliar. Subsidi tersebut diberikan untuk obat-obatan yang paling dibutuhkan masyarakat (fast moving) dan obat-obatan untuk menyelamatkan nyawa (life saving). Subsidi juga diberikan bagi obat esensial, obat program kesehatan, dan obat yang tidak bernilai ekonomis tetapi sangat dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan.

Dalam rangka menjaga daya beli masyarakat, dalam APBN 2009 Pemerintah telah menetapkan kebijakan kenaikan gaji pokok PNS, TNI, Polri, dan pensiunan serta pemberian BLT bagi 18,2 juta rumah tangga sasaran (RTS) selama 2 bulan dengan pembayaran Rp 100.000,- per bulan per RTS.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

III - 12

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Tabel 3.2. Stimulus Peningkatan Daya Beli Masyarakat Uraian A. Perpajakan 1. Penurunan Tarif PPh Non Migas - Penurunan tarif PPh OP (35% --> 30%) dan perluasan lapisan tarif 2. Peningkatan PTKP menjadi Rp15,8 juta B. Belanja Subsidi 1. Subsidi Pajak (DTP) - PPN Minyak Goreng - PPN Bahan Bakar Nabati (BBN) 2. Subsidi Non Pajak - Obat Generik Jumlah Stimulus Alokasi 24.500,0 13.500,0 11.000,0 1 .350,0 1 .000,0 800,0 200,0 350,0 350,0 25.850,0

Menjaga Daya Tahan Perusahaan/Sektor Usaha dalam Menghadapi Krisis Global
Dalam rangka meningkatkan daya saing dan daya tahan usaha dan ekspor, pemerintah memberikan stimulus perpajakan, stimulus subsidi dan stimulus pembiayaan

Dalam rangka meningkatkan daya saing dan daya tahan usaha dan ekspor, pemerintah juga memberikan stimulus melalui perpajakan dan pemberian berbagai subsidi, serta dalam pembiayaan. Stimulus perpajakan diberikan dalam bentuk penurunan tarif tunggal WP badan, sedangkan pemberian stimulus subsidi berupa pembebasan BM, falisitas PPN, fasilitas PPh pasal 21 karyawan, potongan tarif listrik untuk industri, dan penurunan harga solar. Sementara itu, pemberian stimulus dalam pembiayaan berupa penyertaan modal negara (PMN) untuk kredit usaha rakyat (KUR) dan penjaminan ekspor. Dari sisi perpajakan, telah diberikan stimulus fiskal untuk meningkatkan daya saing dan daya tahan usaha dan ekspor yang telah diperhitungkan dalam penyusunan APBN tahun 2009. Stimulus fiskal tersebut antara lain berupa penghematan pembayaran (taxsaving) sebesar Rp. 18,5 triliun, yang berasal dari pelaksanaan amendemen UU PPh. Dalam amendemen UU PPh tersebut terjadi perubahan mendasar penerapan tarif tunggal WP badan sebesar 28 persen pada tahun 2009 dan pemberian fasilitas untuk perusahaan masuk bursa berupa penurunan tarif sebesar 5 persen lebih rendah dari tarif yang berlaku. Di samping itu, WP badan juga mendapat keringanan beban pajak berupa pemberian insentif pajak untuk perusahaan yang bergerak pada sektor tertentu dan/atau berlokasi di daerah tertentu.

III - 13

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Di sisi belanja negara, Pemerintah juga telah menyiapkan suatu paket stimulus yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari terjadinya krisis ekonomi global terhadap daya saing dan daya usaha dan ekspor sebesar Rp. 16,5 triliun. Stimulus tersebut terdiri atas pembebasan bea masuk (BM) sebesar Rp2,5 triliun, fasilitas PPN eksplorasi migas ditanggung Pemerintah sebesar Rp. 2,5 triliun, insentif PPh panas bumi sebesar Rp. 0,8 triliun, fasilitas PPh pasal 21 karyawan ditanggung pemerintah sebesar Rp. 6,5 triliun, potongan tarif listrik untuk industri sebesar Rp. 1,4 triliun, penurunan harga solar sebesar Rp. 2,8 triliun, dan subsidi bunga untuk perusahaan air bersih sebesar Rp. 15,0 miliar. Dalam APBN 2009, Pemerintah telah mengalokasikan fasilitas bea masuk DTP sebesar Rp. 2,5 triliun, dalam rangka memenuhi penyediaan barang dan/atau jasa untuk kepentingan umum, mendorong sektor riil dan meningkatkan daya saing industri tertentu di dalam negeri. Insentif subsidi bea masuk tersebut diberikan untuk empat belas sektor, yaitu antara lain bahan baku dan komponen industri alat berat, bahan baku dan komponen untuk pembuatan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) kapasitas kecil, bahan baku susu (skim milk dan full cream), bahan baku dan komponen industri otomotif, komponen elektronika, bahan baku dan komponen kapal, serta pesawat terbang. Sementara itu, subsidi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam rangka impor diberikan kepada perusahaan yang melaksanakan eksplorasi minyak dan gas bumi. Dengan adanya subsidi PPN untuk PDRI tersebut diharapkan semakin banyak perusahaan yang berinvestasi di industri minyak dan gas bumi, sehingga diharapkan produksi minyak dan gas bumi tersebut semakin meningkat pada masa mendatang. Sedangkan, insentif PPh pajak ditanggung Pemerintah untuk panas bumi diberikan Pemerintah, dalam rangka meningkatkan kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi untuk pembangkitan energi/listrik dalam memenuhi permintaan energi/listrik yang semakin meningkat. Selain itu, Pemerintah juga memberikan Subsidi Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 yang ditujukan untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan oleh perusahaan. Pajak yang dipungut oleh perusahaan dari karyawan tetap tidak disetor ke Kas Negara, melainkan pajak tersebut ditanggung oleh Pemerintah, sehingga pajak yang dipungut tersebut dapat digunakan untuk menambah modal kerja maupun untuk membiayai operasional perusahaan. Selanjutnya, untuk menurunkan biaya produksi, Pemerintah juga memberikan potongan tarif listrik untuk industri, yaitu industri kelompok I-3 dengan daya sambung 20 kilo volt ampere (KVA) – 30 KVA, dan kelompok I-4 dengan daya sambung di atas 30 KVA. Pada beban puncak, tarif daya maksimal diturunkan dari empat kali menjadi tiga kali dari tarif listrik biasa.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 14

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Dalam rangka menurunkan beban masyarakat khususnya biaya transportasi, Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga solar bersubsidi sebesar Rp300/liter dari Rp. 4.800/liter menjadi Rp. 4.500/liter mulai tanggal 15 Januari 2009, sehingga harga solar bersubsidi secara akumulatif telah turun 18,2 persen (dari Rp. 5.500/liter menjadi Rp. 4.500/liter) sejak pertengahan Desember 2008. Dengan penurunan harga solar tersebut diharapkan akan menurunkan tarif angkutan sekitar 10 persen. Selain itu, dalam rangka menambah 10 juta sambungan rumah (SR) air bersih bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), Pemerintah memberikan subsidi bunga bagi perusahaan air bersih dalam memperoleh pinjaman dari perbankan. Tabel 3.3. Stimulus untuk Peningkatan Daya Saing dan Daya Tahan Usaha dan Ekspor (dalam milliar rupiah) Uraian A. Perpajakan 1. Penurunan Tarif PPh Non Migas - Penurunan tarif PPh Badan (30% --> 28%) dan Perusahaan masuk bursa —> tarif 5% lebih rendah B. Belanja Subsidi 1. Subsidi Pajak (DTP) - Bea Masuk Industri - PPN Eksplorasi Migas - PPh Panas Bumi - PPh Pasal 21 2. Subsidi Non Pajak - Penurunan Harga Solar Rp300/liter - Diskon tarif listrik untuk industri - Subsidi bunga untuk air bersih C. Pembiayaan - PMN kepada Jamkrindo dan Askrindo dalam rangka penambahan dana penjaminan untuk KUR Jumlah Stimulus Alokasi 18.500,0 18.500,0

16.472,8 12.300,0 2.500,0 2.500,0 800,0 6.500,0 4.172,8 2.779,9 1.377,9 15,0 500,0 500,0 35.472,8

Di samping kegiatan-kegiatan tersebut di atas, pemberian stimulus fiskal juga dilakukan melalui pemberian PMN kepada Jamkrindo dan Askrindo dalam rangka penambahan dana penjaminan untuk KUR sebesar Rp. 500 miliar. Penjaminan KUR tersebut diberikan dengan tujuan untuk
III - 15 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

meningkatkan akses usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi pada sumber pembiayaan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian, melalui PMN tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan kapasitas penjaminan KUR sehingga semakin banyak usaha kecil, mikro dan menengah yang dapat memperoleh kredit usaha rakyat tersebut. Menciptakan Kesempatan Kerja melalui Kebijakan Pembangunan Infrastruktur Padat Karya Dalam rangka penciptaan kesempatan kerja dan penyerapan dampak PHK, Pemerintah akan mengalokasikan stimulus fiskal sebesar Rp.11.335,0 miliar dalam tahun 2009, yang akan digunakan untuk belanja infrastruktur. Alokasi tambahan dana stimulus untuk penciptaan kesempatan kerja diprioritaskan untuk melaksanakan pembangunan infrastuktur padat karya di berbagai bidang. Bidang-bidang yang akan memperoleh alokasi dana tersebut antara lain adalah bidang pekerjaan umum, bidang perhubungan, bidang energi, dan bidang perumahan rakyat. Secara lebih rinci, kegiatan yang akan memperoleh alokasi tambahan dana belanja infrastruktur tersebut adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum Rp. 6,601 triliun; pembangunan infrastruktur bidang perhubungan Rp. 2,199 triliun; pembangunan infrastruktur bidang energi Rp. 500 miliar; pembangunan infrastruktur bidang perumahan rakyat Rp. 400 miliar; pembangunan infrastruktur dan perumahan khusus Rp. 100 miliar; pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur jalan usaha tani dan irigasi tingkat usaha tani Rp. 650 miliar; 7. pembangunan infrastruktur pasar Rp. 315 miliar; 8. peningkatan pelatihan bidang ketenagakerjaan Rp. 300 miliar; 9. pembangunan infrastruktur bidang kesehatan Rp. 150 miliar 10. Revitalisasi dan rehabilitasi gudang komoditi primer di daerah sentra produksi pangan Rp. 120 miliar. Alokasi anggaran bagi program pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum akan digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan sebagai berikut (1) penanganan bencana (termasuk banjir Bengawan Solo); (2) perluasan jaringan distribusi dan pembangunan instalasi pengelolaan air minum; (3) percepatan penyelesaian infrastruktur lanjutan; (4) jalan inspeksi dan irigasi sentra produksi tambak; (5) rehabilitasi jaringan irigasi dalam rangka ketahanan pangan; (6) jalan, jembatan dan irigasi; dan (7) pengembangan infrastruktur permukiman.
III - 16

Dalam rangka penciptaan kesempatan kerja, Pemerintah akan mengalokasikan stimulus fiskal yang digunakan untuk belanja infrastruktur padat karya

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Tabel 3.4. Stimulus Fiskal Untuk Peningkatan Infrastruktur Padat Karya (dalam miliar rupiah) PROGRAM/KEGIATAN
I. Belanja Infrastruktur 1 Pembangunan Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum a. Penanganan Bencana (termasuk banjir Bengawan Solo) b. Perluasan jaringan distribusi dan pembangunan instalasi pengelolaan air minum c. Percepatan penyelesaian infrastruktur lanjutan d. Jalan inspeksi dan irigasi sentra produksi tambak e. Rehabilitasi jaringan irigasi dalam rangka ketahanan pangan f. Jalan, jembatan dan irigasi g. Pengembangan infrastruktur permukiman 2 Pembangunan Infrastuktur Bidang Perhubungan a. Pembangunan dan rehabilitasi jaringan KA b. Revitalisasi/reaktivasi KA c. Perpanjangan runway dan rehabilitasi bandara d. Bandara e. Pembangunan dan rehabilitasi pelabuhan dan dermaga penyeberangan f. Pelabuhan laut dan penyeberangan g. Perhubungan darat 3 Pembangunan Infrastuktur Bidang Energi a. Pembangunan transmisi, jaringan dan gardu induk b. Desa Mandiri Energi 4 Pembangunan Infrastuktur Bidang Perumahan Rakyat a. Pembangunan Rusunawa untuk TNI/POLRI/Pekerja/Mahasiswa (40 twin blok) 5 Pembangunan Infrastruktur dan Perumahan Khusus a. Pembangunan infrastruktur perumahan khusus (nelayan, daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil) 6 Pembangunan dan Rehabilitasi Infrastruktur Jalan Usaha Tani dan Irigasi Tingkat Usaha Tani a. Jalan produksi sentra produksi perkebunan, peternakan, dan tanaman pangan dan irigasi di beberapa kabupaten 7 Pembangunan Infrastruktur Pasar a. Pembangunan pasar untuk pembinaan PKL/Usaha Mikro dan Kecil b. Pembangunan pasar tradisional di beberapa kabupaten/kota 8 Peningkatan Pelatihan Bidang Ketenagakerjaan a. Pelatihan keterampilan oleh BLK b. Peningkatan sarana dan prasarana BLK 9 Pembangunan Infrastruktur Bidang Kesehatan a. Pembangunan World Class Hospital RSCM (lanjutan) 10 Revitalisasi dan rehabilitasi gudang komoditi primer di daerah sentra produksi pangan II. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat

ALOKASI
11.335,0 6.601,2 700,0 450,0 900,0 424,0 461,0 3.423,3 243,0 2.198,8 300,0 100,0 145,2 714,0 179,8 702,0 57,8 500,0 425,0 75,0 400,0 400,0 100,0 100,0 650,0 650,0 315,0 100,0 215,0 300,0 136,0 164,0 150,0 150,0 120,0 601,5

JUMLAH
III - 17

11.936,5

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Sementara itu, alokasi anggaran bagi program pembangunan infrastruktur bidang perhubungan akan digunakan antara lain untuk (1) pembangunan dan rehabilitasi jaringan kereta api; (2) revitalisasi/reaktivasi kereta api; (3) perpanjangan runway dan rehabilitasi bandara; (4) bandara; (5) pembangunan dan rehabilitasi pelabuhan dan dermaga penyebrangan; (6) pelabuhan laut dan penyebrangan; dan (7) perhubungan darat. Selanjutnya, anggaran bagi program pembangunan infrastruktur bidang energi akan dialokasikan untuk (1) pembangunan transmisi, jaringan dan gardu induk; dan (2) pembentukan Desa Mandiri Energi (DME). Sedangkan alokasi anggaran bagi program pembangunan infrastruktur bidang perumahan rakyat akan digunakan untuk pembangunan rumah susun sederhana sewa bagi TNI/Polri/pekerja dan mahasiswa sebanyak 40 twins blok. Sementara itu, anggaran bagi program pembangunan infrastruktur dan perumahan khusus akan digunakan untuk pembangunan di permukiman nelayan, daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil. Sedangkan, anggaran bagi program pembangunan dan rehabilitasi jalan usaha tani dan irigasi tingkat usaha tani, akan dialokasikan untuk pembangunan jalan produksi sentra produksi perkebunan, peternakan, dan tanaman pangan dan irigasi di beberapa kabupaten. Lebih lanjut, program pembangunan infrastruktur pasar akan digunakan untuk (1) pembangunan pasar untuk pembinaan pedagang kaki lima/usaha mikro dan kecil; dan (2) pembangunan pasar tradisional di beberapa kabupaten/kota. Sedangkan anggaran bagi program peningkatan pelatihan bidang ketenagakerjaan, akan digunakan untuk pelatihan keterampilan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) dan peningkatan sarana dan prasarana BLK. Adapun anggaran program pembangunan infrastruktur bidang kesehatan akan digunakan untuk pembangunan World Class Hopital RSCM.

3.3.2 Optimalisasi Penyerapan APBN 2009
Dampak krisis keuangan global dapat dikurangi melalui percepatan penyerapan APBN 2009. Dengan menggunakan instrumen pengadaan yang ada, yaitu Keppres 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Meneg PPN/Kepala Bappenas telah mengeluarkan Surat No.0217/M.PPN/10/2008 perihal Upaya Antisipasi Perlambatan Perekonomian Global melalui Pendayagunaan dan Percepatan Pengadaan Barang/Jasa TA 2009. Surat tersebut menguraikan bahwa untuk mengantisipasi perlambatan perekonomian global, dengan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 18

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Upaya mengatasi dampak krisis keuangan global dapat dilakukan melalui percepatan penyerapan APBN salah satunya dengan instrumen pengadaan yang ada yaitu Keppres 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah

mengacu pada Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden No.95 Tahun 2007, maka seluruh jajaran pemerintah perlu melakukan berbagai upaya pendayagunaan dan percepatan pengadaan barang/jasa, sebagai berikut: 1. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (5) dan (6), Menteri/Kepala Lembaga/Kapolri/Panglima TNI/Pimpinan Lembaga/Dewan Gubernur BI/Gubernur/ Bupati/Walikota/Pimpinan BHMN/Direksi BUMN/Direksi BUMD dapat memulai proses pengadaan barang/jasa pemerintah (lelang) sejak bulan Oktober-Desember 2008 sekalipun DIPA/DPA TA 2009 belum disahkan, dengan catatan telah mendapat kepastian alokasi anggaran untuk TA 2009. Untuk itu, masing-masing kementerian/lembaga diminta mempercepat penetapan/penunjukkan pejabat pembuat komitmen/satuan kerja; 2. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 40, instansi pemerintah wajib memaksimalkan penggunaan barang/jasa hasil produksi dalam negeri, termasuk rancang bangun dan perekayasaan nasional dalam pengadaan barang/jasa; memaksimalkan penggunaan penyedia barang/jasa nasional; memaksimalkan penyediaan paket-paket pekerjaan untuk usaha kecil termasuk koperasi kecil serta kelompok masyarakat; 3. Berdasarkan Lampiran I Bab I, waktu yang diperlukan untuk pelelangan umum dengan pasca kualifikasi dapat dilaksanakan dalam 18 (delapan belas) hari kerja, sejak pengumuman lelang sampai dengan penandatanganan kontrak. Untuk mempercepat proses pelelangan tersebut, setiap Panitia Pengadaan dituntut untuk siap dengan seluruh dokumen dan komponen pendukung lainnya, seperti dokumen perencanaan, gambar-gambar desain, spesifikasi teknik, pemaketan pekerjaan, dan lain sebagainya. Sebagai tindak lanjut dari Surat tersebut, telah dikeluarkan Surat Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah No.0033/KA/X/2008 perihal Tindak Lanjut Surat Meneg PPN/Ka Bappenas, tentang Upaya meminimalkan dampak negatif krisis keuangan global melalui percepatan realisasi belanja pemerintah TA 2009. Untuk menindaklanjuti pelaksanaan Surat Meneg PPN/Ka Bappenas tersebut, salah satu agenda yang wajib dilaksanakan oleh seluruh instansi pemerintah adalah memperkuat sektor riil.

Perkuatan sektor riil terkait dengan pengadaan pemerintah dilakukan melalui percepatan realisasi belanja pemerintah
III - 19

Perkuatan sektor riil yang terkait dengan pengadaan pemerintah, diantaranya dengan melakukan percepatan realisasi belanja pemerintah dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip: efisien (value for money), efektif (tepat sasaran), terbuka dan bersaing secara sehat, transparan, adil (tidak diskriminatif), dan akuntabel, serta pengutamaan penggunaan produk/jasa dalam negeri.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Agar percepatan realisasi belanja pemerintah bisa diwujudkan, diperlukan persiapan sebagai berikut: 1. Kementerian/lembaga, pada waktu membahas RKAKL dengan DPR, secara internal, sudah menyiapkan Rencana Pengadaan (Procurement Plan), yang meliputi jumlah pemaketan, metoda pengadaan, dokumen pengadaan, jadwal pengadaan dan draft kontrak pengadaan. Sehingga, apabila DPR telah menyetujui RKAKL pada akhir bulan Oktober 2008, proses pengadaan dapat segera dilakukan; 2. Bagi DPRD Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota agar segera menyelesaikan pembahasan RKA Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKASKPD) pada bulan November 2008, agar pengadaan di daerah untuk TA 2009 dapat segera dilaksanakan pada akhir tahun 2008, dan pekerjaan segera dapat dilaksanakan pada awal tahun 2009; 3. Untuk mengatasi keterbatasan panitia yang memiliki sertifikat ahli pengadaan, maka Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota wajib segera membentuk Unit Layanan Pengadaan. Sedangkan kewajiban memiliko sertifgikat ahli pengadaan bagi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), baru akan dilaksanakan pada TA 2010. Bagi para PPK cukup memiliki sertifikat pelatihan pengadaan.

3.4 Kebijakan Penguatan Sektor Riil
3.4.1 Kerangka Besar Program Pengamanan Sektor Riil
Berdasarkan Arahan Presiden RI, dunia usaha khususnya sektor riil harus tetap bergerak, agar penerimaan negara tetap terjaga dan pengangguran tidak bertambah. Meskipun ekspansi usaha bisa berkurang akibat krisis yang terjadi namun pemerintah berharap kalangan swasta lebih adaptif dan terus mempertahankan kinerja, dengan tetap mencari peluang dan share the hardshift. Bank Indonesia dengan jajaran perbankan diharapkan terus mengembangkan kebijakan agar kredit dan likuiditas tersedia. Sementara, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan regulasi iklim dan insentif. Secara garis besar, program pengamanan sektor riil dalam upaya mengantisipasi dampak krisis keuangan antara lain: 1. Penguatan ekspor barang dan jasa. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga daya saing produk dalam negeri. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain trade financing dan mengurangi ekonomi biaya tinggi. Selain itu untuk menjaga pertumbuhan ekspor perlu dilakukan upaya peningkatan ekspor ke pasa ekspor non-tradisional (selain AS, EU,
III - 20

Pemerintah melalui regulasi iklim dan insentif berharap agar kalangan swasta lebih adaptif dan terus mempertahankan kinerja, dengan tetap mencari peluang dan share the hardshift

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Jepang, dan Singapura) sehingga tingkat ketergantungan kepada pasar AS, EU, Jepang, dan Singnapura dapat berkurang. 2. Pengamanan pasar dalam negeri dan penggunaan produk dalam negeri. Pengamanan pasar dalam negeri dilakukan untuk mencegah serbuan barang-barang impor illegal, dumping, dan pengalihan barang impor dari negara lain akibat berkurangnya permintaan pasar internasional. Sedangkan untuk memperkuat permintaan terhadap produk dalam negeri dilakukan promosi produk dalam negeri serta penguatan dan pembinaan terhadap produsen produk dalam negeri terutama usaha kecil dan menengah (UKM). 3. Pengamanan sektor riil, antara lain industri manufaktur, pertanian, perikanan dan kelautan, migas dan pertambangan, kehutanan, jasa perdagangan, jasa pariwisata, jasa angkutan, dan UMKM. Dalam upaya untuk lebih mempercepat pengembangan sekfor riil dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan sebagai kelanjutan Instruksi Presiden (Inpres) No. 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan lklim lnvestasi, maka dikeluarkan Inpres No.6 tahun 2007 tentang kebijakan percepatan pengembangan sektor riil dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kemudian dilanjutkan lagi dengan Inpres No.5 Tahun 2008 tentang fokus program ekonomi tahun 2008-2009.

3.4.2 Bidang Perindustrian
Dalam rangka mengoptimalisasi belanja pemerintah dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah, sekaligus menggerakkan pertumbuhan dan memberdayakan industri dalam negeri maka dikeluarkan Inpres No.2 Tahun 2009 tentang penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah

Dalam rangka mengoptimalisasi belanja pemerintah dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah, sekaligus menggerakkan pertumbuhan dan memberdayakan industri dalam negeri melalui peningkatan penggunaan produk dalam negeri, maka dikeluarkan Inpres No.2 Tahun 2009 tentang penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah yang bertujuan: 1. Memaksimalkan penggunaan barang/jasa hasil produksi dalam negeri termasuk rancang bangun dan perekayasaan nasional, serta penggunaan penyedia barang/jasa nasional; 2. Memberikan preferensi harga untuk barang produksi dalam negeri dan penyedia jasa pemborongan nasional kepada perusahaan penyedia barang/jasa. Untuk itu, dibentuk Tim Nasional Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Timnas P3DN) yang terdiri dari beberapa Kementerian/Lembaga terkait. Sebelumnya dalam mengimplementasikan Keppres 80/2003 dan perubahannya, Menteri Perindustrian menerbitkan Peraturan No.11/MIND/PER/3/2006, yang isinya antara lain:

III - 21

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

1. Mewajibkan instansi menggunakan produksi dalam negeri yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) tertentu; 2. Memberikan preferensi harga pada produksi dalam negeri yang memiliki nilai TKDN tertentu pada Tender; 3. Mewajibkan instansi membentuk Tim Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) untuk mendorong Penggunaan Produksi Dalam Negeri yang diimplementasikan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai dengan monitoring; 4. Permen No.11/2006 efektif 14 Juni 2006 namun bagi instansi yang belum siap selambat-lambatnya 1 Januari 2007 wajib melaksanakannya (Permen No.30/2006) Pengaturan ini mencakup belanja pemerintah di Departemen, LPND (Lembaga Pemerintah Non Departemen), BUMN (Badan Usaha Milik Negara), BUMD (Badan Usaha Milik Daerah), BHMN (Badan Hukum Milik Negara), KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama), anak perusahaan BUMN/BUMD, dan lain-lain. Tujuan P3DN yaitu mengerakkan sektor riil melalui upaya pemanfaatan pasar dalam negeri dengan tujuan strategis untuk meningkatkan peranan sektor industri dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Adapun sasaran P3DN yaitu: (1) meningkatnya daya saing, khususnya di pasar domestik; dan (2) meningkatnya penggunaan produksi dalam negeri, terutama dalam pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan oleh pemerintah. Keluaran yang diharapkan antara lain: (1) meningkatnya penggunaan Produksi Dalam Negeri; (2) meningkatnya/penyerapan tenaga kerja; (3) penghematan devisa; dan (4) berkurangnya ketergantungan terhadap produk luar negeri melalui pengoptimalan belanja pemerintah (pusat dan daerah), BUMN, BUMD, BHMN, atau KKKS.

3.4.3 Bidang UMKM
Upaya-upaya untuk penguatan sektor riil sebaiknya tidak hanya ditujukan untuk membantu usaha besar dalam mengatasi dampak krisis keuangan global. Upaya-upaya tersebut juga perlu memiliki fokus untuk menyediakan dukungan untuk UMKM, baik untuk mengatasi dan mengurangi dampak krisis ekonomi, maupun untuk memperkuat UMKM sebagai economic safety valves. Perlindungan terhadap UMKM dari dampak krisis ekonomi dapat dilakukan melalui penyediaan dukungan fiskal, dukungan pengembangan pasar ekspor baru, perkuatan pasar domestik, dan peningkatan akses UMKM terhadap sumber pembiayaan. Sementara itu perkuatan UMKM sebagai economic safety valves dapat dilakukan melalui penyediaan peluang usaha, penyediaan dukungan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perlindungan terhadap UMKM dari dampak krisis ekonomi dapat dilakukan melalui penyediaan dukungan fiskal, dukungan pengembangan pasar ekspor baru, perkuatan pasar domestik, dan peningkatan akses UMKM terhadap sumber pembiayaan.
III - 22

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

pembiayaan, dukungan pengembangan usaha dengan memanfaatkan sumberdaya lokal, dan pengurangan hambatan bagi pendirian usaha baru (ease of entry) di daerah. Dukungan fiskal bagi UMKM dapat dilakukan dengan memanfaatkan stimulus fiskal yang difasilitasi melalui Peraturan Menteri Keuangan yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. Dalam PMK tersebut UMKM mendapatkan insentif berupa PPN yang ditanggung pemerintah untuk pengadaan bahan-bahan baku yang mencakup mesin mini pembuat es untuk perikanan, kain untuk industri pakaian jadi, kulit/sol/komponen karet untuk industri alas kaki, bahan baku perak untuk industri kerajinan, rotan untuk industri mebel, pakan ikan/udang, bahan bakar nabati non subsidi, dan minyak goreng. Beberapa bahan baku lain yang dibutuhkan oleh UMKM juga mendapatkan keringanan bea masuk. Kelompok UMKM yang mendapatkan fasilitas tersebut merupakan UMKM yang termasuk dalam rantai nilai (value change) dengan industri yang berorientasi ekspor, menghasilkan barang yang dibutuhkan masyarakat, dan/atau menyerap banyak tenaga kerja. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk memperkuat UMKM dalam menghadapi dampak krisis ekonomi global adalah penyediaan dukungan bagi UMKM yang berada dalam rantai produksi dan pemasaran produk untuk pasar ekspor. Kemudahan mengakses bahan baku yang lebih murah, termasuk energi, melalui insentif fiskal yang sudah disebutkan merupakan salah satu dukungan yang disediakan. Dukungan lainnya dapat mencakup pemberian kemudahan akses dan persyaratan pembiayaan/kredit produksi dan ekspor, termasuk mempertahankan suku bunga kredit yang wajar, penyediaan insentif ekspor dan kemudahan administrasi ekspor. Jika pasar-pasar ekspor tradisional (Amerika, Uni Eropa dan Jepang) masih lesu dalam menyerap produk-produk ekspor, termasuk yang dihasilkan UMKM, perlu dicarikan tujuan pasar ekspor baru. Misalnya, UMKM produsen mebel yang dulu terfokus untuk memenuhi permintaan pasar Amerika Serikat, dapat dialihkan ke pasar-pasar yang memiliki proporsi pemesanan dalam volume yang terbatas seperti di Amerika Latin dan negara-negara Asia lainnya. Untuk memperbesar proporsi pemesanan tentunya dibutuhkan dukungan promosi, penyediaan informasi dan minat pembeli, dan pendampingan dalam rangka menyesuaikan keterampilan pekerja di UMKM mebel agar dapat menghasilkan disain dan jenis produk yang sesuai dengan permintaan di pasar ekspor yang baru. Pada saat yang bersamaan, UMKM yang berorientasi ekspor juga perlu pendampingan untuk dapat membina hubungan dengan pembeli di pasar ekspor utama, yang sementara ini masih bersikap menunggu. Hal ini untuk mengantisipasi adanya perbaikan
III - 23 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

kondisi ekonomi di masa datang dan untuk tetap dapat mempertahankan daya saing. Pasar domestik yang masih menjadi tujuan pemasaran utama bagi produk dan jasa yang dihasilkan UMKM juga perlu mendapat dukungan perkuatan. Hal ini mengingat adanya gejala pengalihan produk dari negara-negara lain yang tidak terserap oleh pasar di negara-negara yang sedang mengalami krisis ekonomi ke pasar dalam negeri Indonesia. Upaya perkuatan yang dapat diberikan yaitu pemberlakuan standar nasional produk, label khusus produk impor, pengaturan pendaftaran importir, dan pengaturan peredaran barang impor di pasar-pasar tradisional. Selain itu dapat dikembangkan sinergi promosi dan publikasi produk UMKM dengan dukungan pemerintah daerah dan swasta. Hal ini khususnya dapat dilakukan oleh Pemda dengan mengalokasikan anggaran melalui APBD untuk kegiatan promosi produk UKM dan menjembatani kerjasama promosi produk UKM dengan peritail besar. Dalam paket stimulus yang disiapkan Pemerintah Pusat juga sudah disediakan dukungan perkuatan pasar domestik melalui pembangunan pasar untuk pembinaan pedagang kaki lima/usaha mikro dan kecil di beberapa kabupaten dan kota. Upaya yang selalu dianggap penting untuk memperkuat sektor riil, termasuk UMKM, adalah melalui penyediaan kemudahan akses bagi pembiayaan/kredit. Program penjaminan kredit UMKM melalui Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sangat strategis dalam membantu UMKM yang usahanya layak untuk menjadi bankable. Disain program KUR yang menggabungkan peran pemerintah dalam menyediakan penjaminan dan bank dalam menyediakan pembiayaan merupakan pola kerjasama publik dan swasta yang baik. Selain itu, adanya segmentasi dalam penyediaan KUR mikro (di bawah Rp. 5 juta) dan KUR retail (>Rp. 5 juta s/d Rp. 500 juta) juga menunjukkan adanya perhatian terhadap kebutuhan pembiayaan yang berbeda antar kelompok UMKM. Sampai dengan 31 Desember 2008, KUR sudah disalurkan lebih dari Rp. 12,6 triliun untuk hampir 1,7 juta UMKM. Penyaluran KUR diharapkan dapat menjangkau lebih banyak UMKM seiring dengan pelaksanaan pola KUR linkage yang melibatkan lembaga keuangan mikro (LKM) dan koperasi. Pemda dan pihak-pihak lain yang berkepentingan diharapkan dapat mendukung penyebarluasan informasi mengenai KUR sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama yang memiliki usaha yang produktif, layak dan membutuhkan tambahan pembiayaan. Penyediaan KUR sebenarnya belum cukup untuk dapat memberikan jaring pengaman bagi UMKM karena kebutuhan UMKM berbeda-beda sesuai dengan taraf perkembangannya. Dalam rangka mendukung peran UMKM sebagai economic safety valves, perlu disediakan skim modal awal (seed capital) khususnya bagi masyarakat
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 24

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

yang ingin memulai usaha baru dan meningkatkan pendapatan. Pola dana bergulir, dana padanan dan modal ventura dapat menjadi alternatif pembiayaan yang strategis bagi usaha baru. Tentu upaya ini membutuhkan dukungan ketersediaan peluang usaha dan pengurangan hambatan bagi pendirian usaha baru (ease of entry) di daerah. Upaya ini dapat diarahkan terutama untuk mendukung pengembangan industriindustri padat karya yang berbasis/memanfaatkan sumberdaya lokal.

3.4.4 Bidang Pertanian dan Perkebunan
Krisis keuangan global membawa dampak di sektor pertanian berupa turunnya permintaan terhadap komoditas pertanian. Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah dalam rangka pencegahan dan pengurangan dampak krisis ekonomi tersebut. Langkah-langkah tersebut harus mampu melindungi produsen (petani) pada sisi supply serta konsumen (masyarakat) pada sisi demand.
Langkah-langkah pencegahan turunnya permintaan akibat dampak krisis di sektor pertanian dilakukan melalui pemantapan ketahanan pangan nasional, peningkatan kualitas dan daya saing komoditas perkebunan nasional

Terkait dengan komoditas pangan, langkah yang perlu ditempuh adalah memantapkan ketahanan pangan nasional, dimana penyediaan pangan nasional harus diupayakan sebesar-besarnya dari produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor dari negara lain. Hal ini untuk menciptakan kemandirian dan kedaulatan pangan nasional. Kebijakan yang dapat ditempuh dari sisi supply adalah : (i) meningkatkan produksi dan produktivitas pangan di dalam negeri, (ii) meningkatkan kelembagaan pertanian, khususnya permodalan dan penelitian, (iii) memberikan perlindungan kepada petani dalam konteks ketahanan pangan, tingkat penghidupan masyarakat desa dan kesejahteraan masyarakat, serta (iv) mempertegas regulasi retail modern. Sementara dari sisi demand-nya, kebijakan di bidang pangan yang dapat diterapkan adalah : (i) memperkuat cadangan pangan pemerintah dan masyarakat, (ii) menjamin kelancaran manajemen distribusi pangan pokok, (iv) stabilisasi harga pangan nasional, serta (v) melaksanakan strategi diversifikasi pangan. Dalam mencegah dan mengurangi dampak krisis keuangan global terhadap komoditas perkebunan nasional, maka kualitas komoditas perkebunan nasional harus terus ditingkatkan. Saat ini, komoditas perkebunan nasional telah memiliki keunggulan komparatif yang berupa sumber daya alam dan sumber daya manusia (tenaga kerja). Keunggulan tersebut hendaknya dapat digunakan untuk mendorong keunggulan kompetitif (daya saing) komoditas perkebunan nasional di dalam perdagangan internasional. Sasaran ke depan yang harus dicapai adalah komoditas/produk perkebunan Indonesia harus memiliki daya saing tinggi.

III - 25

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Langkah strategi yang dapat ditempuh untuk mendukung peningkatan daya saing komoditas perkebunan adalah dengan: (i) mengefektifkan penerapan teknologi perkebunan dan mengefisienkan usaha perkebunan, serta (ii) mempromosikan komoditas dan produk perkebunan di pasar internasional dan dalam negeri, baik yang telah dikuasai maupun yang masih berupa alternatif atau tambahan. Sementara untuk kebijakan yang dapat diambil adalah : (i) revitalisasi perkebunan, yang meliputi aspek lahan, pembiayaan, benih, pupuk, teknologi, dan infrastruktur; (ii) diversifikasi komoditas dan produk; (iii) diversifikasi pasar; (iv) pengamanan harga/resiko harga; (v) efisiensi pemasaran; (vi) sistem informasi dan analisis pasar, serta (vii) penelitian dan kajian/analisis kebijakan. Terkait dengan pengembangan tanaman hortikultura, langkah strategis yang dapat dilakukan dalam rangka mengurangi dampak krisis ekonomi antara lain : (i) mendorong peningkatan mutu dan daya saing produk hortikultura dalam rangka mengurangi ketergantungan impor yang cenderung terus meningkat (untuk komoditas buah durian dan jeruk), (ii) mendorong diversifikasi pasar, (iii) mendorong investasi melalui peran swasta, (iv) mendorong industri benih dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap benih impor, (v) mengembangkan kawasan agribisnis hortikultura, serta (vi) menciptakan kemitraan antara pelaku bisnis dengan petani hortikultura.

3.4.5 Bidang Kelautan dan Perikanan
Dalam rangka mencegah dan mengurangi dampak krisis keuangan global terhadap produk perikanan, maka diperlukan langkah-langkah kebijakan baik dari sisi supply maupun demand, yang mampu melindungi produsen (nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan), serta konsumen (masyarakat). Langkah yang ditempuh dalam bidang perikanan terutama melalui: (1) penguatan pasar domestik, dan (2) ketahanan pangan. Penguatan pasar dalam negeri perlu ditingkatkan mengimbangi ketergantungan pada pasar global. Hal ini mengingat dampak yang ditimbulkan saat terjadi krisis ekonomi dan mengingat potensi pasar dalam negeri yang masih besar. Penguatan pasar dalam negeri ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) pembinaan dan pengembangan sistem usaha perikanan melalui pengembangan kemitraan usaha baik antara pengusaha besar dan nelayan/pembudidaya kecil maupun antara pemerintah dengan pengusaha; (2) subsidi benih ikan dan pakan ikan; (3) penguatan akses permodalan bagi nelayan, pembudidaya, pengolah, pemasar dan pelaku usaha lainnya; (4) memperkuat kebijakan dan peraturan baik peraturan pusat maupun daerah terkait dengan pemasaran; (5) meningkatkan industri pengolahan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Upaya mencegah dan mengurangi dampak krisis keuangan global dalam bidang perikanan ialah melalui penguatan pasar domestik dan untuk ketahanan pangan

III - 26

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

ikan dan industri pakan dalam negeri dalam rangka meningkatkan produk olahan pangan ikan dan menjamin ketersediaan input produksi, khususnya produk dalam negeri; dan (6) peningkatan kapasitas pengolahan dan pemasaran ikan dalam rangka meningkatkan produk perikanan yang berpihak pada lingkungan. Ketahanan pangan dilakukan melalui dua langkah kebijakan utama yaitu: (1) menjamin pasokan pangan (ikan) yang berkualitas dan bergizi bagi semua golongan masyarakat, dan (2) kemandirian pangan. Strategi yang dilakukan antara lain: (1) meningkatkan produksi ikan dalam negeri terutama dari produksi budidaya ikan; (2) meningkatkan fasilitas pengawasan dan pengendalian produk perikanan untuk menjamin intake protein hewani yang higienis dan cukup, mulai dari produksi, distribusi sampai konsumsi; (3) pengendalian komponen impor produk perikanan antara lain pengurangan impor tepung ikan; dan (4) meningkatkan pelaksanaan gerakan gemar makan ikan (gemarikan) di seluruh propinsi.

3.4.6 Bidang Kehutanan
Kebijakan sektor kehutanan yang telah dan tengah dilakukan ketika terjadi krisis keuangan global diantaranya: menata ulang arah reformasi sektor perkayuan, membatasi permintaan kayu bulat, memperlambat laju konversi hutan, dan menggeser agenda kearah keadilan.

Ketika terjadi krisis keuangan global, telah terjadi gejolak dalam reformasi kebijakan kehutanan. Beberapa kebijakan yang telah dan tengah dilakukan adalah sebagai berikut: Menata Ulang Arah Reformasi Sektor Perkayuan. Beberapa dekade terahir, kebijakan sektor kehutanan didominasi oleh wacana reformasi sistem konsesi Hak Pengelolaan Hutan (HPH). Tujuan utama reformasi ini adalah mengurangi tingkat agregat pembalakan kayu. Membatasi Permintaan Kayu Bulat. Kesulitan logistik yang cukup besar dalam mengendalikan pasokan kayu bulat di Indonesia menegaskan pentingnya langkah proaktif untuk membatasi permintaan kayu dalam industri pengolahan kayu domestik guna mengurangi tekanan terhadap hutan alam yang tersisa. Tidak terkendalinya penebangan liar di banyak provinsi utama penghasil kayu mengindikasikan bahwa tingkat panenan kayu bulat di Indonesia akan jauh melampaui tingkat panenan yang sah dan lestari selama defisit struktural kayu yang substansial belum berhasil diatasi. Memperlambat Laju Konversi Hutan. Kebijakan yang berupaya mengendalikan pasokan kayu bulat Indonesia, perlu difokuskan lebih luas dari sekedar membatasi output kayu bulat yang dihasilkan oleh sistem HPH. Penurunan tingkat panenan kayu bulat yang tinggi hanya mungkin dicapai jika juga dilakukan langkah-langkah untuk menurunkan laju konversi sisa hutan alam Indonesia bagi penggunaan lain. Hal ini dilakukan

III - 27

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

melalui pemberlakuan moratorium sementara atas alokasi kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Menggeser Agenda ke Arah Keadilan. Pihak swasta dianggap sebagai pihak yang paling tepat dalam pembalakan hutan, karena pelaku swasta dianggap akan mempunyai insentif untuk mengelola konsesinya secara lestari. Pihak swasta dianggap memiliki investasi jangka panjang dalam industri pengolahan yang kelangsungannya tergantung pada kesinambungan pasokan kayu, dan memiliki skala ekonomis yang memungkinkan untuk melakukan kegiatan pemanenan secara efisien. Namun pada prakteknya sebagian besar pemegang konsesi melakukan kegiatan pembalakan secara sembarangan untuk melikuidasi sesegera mungkin sumber daya kayu yang disediakan bagi mereka oleh pemerintah. Gagal dicapainya kelestarian sebagai tujuan kebijakan, menunjukkan bahwa keadilan bagi masyarakat lokal dengan klaim historis dan atau adat yang jelas terhadap kawasan hutan seharusnya menjadi prinsip utama yang memandu reformasi sektor kehutanan. Pengakuan hukum atas hak masyarakat lokal tidak dengan sendirinya menjamin bahwa satu kawasan hutan akan lebih lestari dibandingkan jika dikelola oleh perusahaan perkayuan swasta. Namun, pengakuan tersebut akan menyediakan dasar untuk memastikan bahwa masyarakat di sekitar dan di dalam hutan mempunyai wewenang yang sah untuk menentukan pengelolaan kawasan hutan yang menjadi sumber kehidupannya dan untuk membagi secara adil manfaat yang didapat dari produk-produk yang dipanen dalam kawasan yang menjadi wewenang mereka. Masyarakat yang bergantung pada hutan di banyak wilayah Indonesia merupakan pengelola sumber daya yang cakap dan mampu mengelola ekosistem hutan yang rumit secara lestari dari generasi ke generasi (Fried, 1995; Dove, 1986 dalam Resosudarmo dan Colfer, 2003).

3.4.7 Bidang Lingkungan Hidup
Kebijakan untuk mencegah dan mengurangi dampak krisis keuangan global terhadap lingkungan hidup adalah : (i) Mengarusutamakan (mainstreaming) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan; (ii) Meningkatkan kapasitas dan koordinasi lembaga pengelolaan lingkungan; (iii) Meningkatkan upaya harmonisasi pengembangan hukum lingkungan dan penegakannya secara konsisten; (iv) Meningkatkan upaya pengendalian dampak lingkungan; (v) Meningkatkan konservasi sumber daya alam dan penataan lingkungan melalui pendekatan penataan ruang; (vi) Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup dan berperan aktif sebagai kontrol-sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup; dan (vii) Meningkatkan peran serta masyarakat dalam
III - 28

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

pengelolaan SDA dengan memberikan akses dan kontrol pengelolaan SDA ditingkat lokal.

3.4.8 Bidang Perdagangan
Upaya mengatasi krisis di sektor perdagangan adalah dengan mengupayakan pencegahan penyelundupan barang-barang dari luar negeri; memperkuat pasar dalam negeri dan promosi produk dalam negeri; serta mendorong ekspor hasil industri padat karya.

Dalam upaya mengantisipasi dampak krisis keuangan global, telah ditetapkan Peraturan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Tentang Pemeliharaan Momentum Pertumbuhan Ekonomi Nasional dalam Mengantisipasi Perkembangan Perekonomian Global. Berdasarkan Peraturan Bersama tersebut, upaya yang perlu dilakukan dalam sektor perdagangan antara lain: (1) Mengupayakan peningkatan pencegahan dan penangkalan penyeludupan barang – barang dari luar negeri; (2) Memperkuat pasar dalam negeri dan promosi penggunaan produk dalam negeri; dan (3) Mendorong ekspor hasil industri padat karya. Dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2009, sebagai langkah antisipasi perlemahan pertumbuhan ekonomi dunia maka kebijakan perdagangan luar negeri diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah ekspor dan diversifikasi pasar, sedangkan kebijakan perdagangan dalam negeri diarahkan untuk meningkatkan stabilitas harga dan mengamankan pasokan bahan pokok Kebijakan perdagangan luar negeri diarahkan pada upaya untuk meningkatkan ekspor yang bernilai tambah tinggi dan meningkatkan diversifikasi pasar tujuan ekspor, terutama pada pasar ekspor nontradisional. Adapun kegiatan-kegiatan pokok untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: a) Penyelenggaraan dan pengembangan Indonesia Promotion Office (IPO); b) Pembentukan dan pengembangan National Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW); c) Pemetaan dan analisis komoditas utama dan potensial; d) Pengembangan ekspor daerah; e) Pelaksanaan pengamatan pasar (Market Intelligence); f) Pengembangan promosi dagang; g) Penyelenggaraan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC); h) Peningkatan kualitas dan desain produk ekspor dalam rangka Indonesian Design Product (IDP); i) Promosi produk ekspor Indonesia; j) Pembinaan ekspor, peningkatan daya saing, dan pengendalian impor k) Peningkatan partisipasi aktif dalam perundingan di berbagai fora internasional; l) Penyelenggaraan Tim Nasional Perundingan Perdagangan Internasional; m) Peningkatan koordinasi penanganan isu-isu perdagangan internacional.

III - 29

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Sementara itu, kebijakan perdagangan dalam negeri akan diarahkan pada pengembangan sistem distribusi perdagangan dalam negeri untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kelancaran arus barang di pasar domestik. Untuk melaksanakan kebijakan tersebut, kegiatan-kegiatan pokok yang akan dilaksanakan adalah: a) Pembangunan dan pengembangan sarana distribusi; b) Pembinaan pasar dan distribusi; c) Pengembangan Sistem Resi Gudang (SRG); d) Pengembangan pasar lelang daerah; e) Pemberdayaan perlindungan konsumen; f) Peningkatan pengawasan barang beredar dan jasa; g) Peningkatan pengawasan kemetrologian; h) Penegakan hukum persaingan usaha; i) Pengembangan dan harmonisasi kebijakan persaingan usaha; j) Penyelenggaraan monitoring dugaan praktek monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sebagai langkah kebijakan perkuatan sektor perdagangan terutama perdagangan dalam negeri dalam mengantisipasi krisis ekonomi global, maka pemerintah juga mengalokasikan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana perdagangan dalam kebijakan stimulus fiskal, dimana salah satunya adalah pembangunan pasar dan sarana pergudangan.

3.4.9 Bidang Investasi
Dalam upaya memperbaiki iklim investasi yang kondusif dan berdaya saing, serta mengantisipasi penurunan aliran investasi ke Indonesia, maka telah disusun sejumlah kebijakan sebagai berikut: Inpres Nomor 6 tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang merupakan Paket Lanjutan Inpres Nomor 3 tahun 2006 tentang Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi, meliputi 4 ruang lingkup kebijakan yakni: perbaikan iklim investasi terdiri dari 49 tindakan/keluaran telah diselesaikan 40 tindakan/keluaran, reformasi sektor keuangan terdiri dari 39 tindakan/keluaran telah diselesaikan 28 tindakan/keluaran, percepatan pembangunan infrastruktur 40 tindakan/keluaran telah diselesaikan 13 tindakan/keluaran, dan pemberdayaan UMKM terdiri dari 40 tindakan/keluaran telah diselesaikan 35 tindakan/keluaran. Sehingga dari seluruh 168 sasaran tindakan/keluaran telah diselesaikan 116 tindakan/keluaran.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

III - 30

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Inpres 5 tahun 2008 tentang Program Ekonomi Tahun 2008-2009 yang diterbitkan pada bulan Mei 2008 yang merupakan kelanjutan dari Inpres Nomor 6 tahun 2007. Beberapa tindakan maupun keluaran dari Inpres sebelumnya yang tertunda telah menjadi agenda dalam Inpres baru dan khusus di bidang investasi telah disusun persiapan pembangunan sistem pelayanan terpadu satu pintu secara elektronik, kebijakan KEK, dan didukung dengan upaya kelancaran arus barang dan kepabeanan. Beberapa upaya perbaikan juga telah dilakukan, antara lain: (1) disusun dan ditindaklanjutinya Paket Kebijakan Infrastruktur dengan pelaksanaan “Infrastructure Summit II” dengan tujuan meningkatkan kerjasama dengan swasta melalui skema public-private partnership (PPP); (2) digabungkannya 10 prosedur (yang terdiri dari: Clearance nama perusahaan dari Depkumham, penandatanganan akta pendirian, keterangan domisili, NPWP dan NPPKP, pembukaan rekening dan penyetoran modal, pembayaran PNBP, persetujuan akta pendirian perusahaan oleh Depkumham, Tanda Daftar Perusahaan/TDP, Pencantuman dalam berita negara, Surat Ijin Usaha Perdagangan/SIUP) menjadi 1 prosedur Pendirian Badan Hukum PT; (3) dikuranginya 19 prosedur perijinan menjadi 9 prosedur (yakni: keterangan lokasi dari kec/kel, perolehan ijin penggunaan tanah, perolehan IMB, persetujuan UKL/UPL, perolehan Ijin Penggunaan Bangunan/IPB, Pendaftaran gudang/TDG ke Dinas Perdag, sambungan listrik, sambungan air dan pembuangan limbah, serta sambungan telepon). Bahkan untuk sambungan listrik, sambungan air dan pembuangan limbah, serta sambungan telepon disatukan. Dengan demikian waktu dan biaya yang digunakan untuk mengurus perijinan berkurang; (4) terdapat 2,779 perda telah dibatalkan, serta (5) percepatan pelayanan ekspor dan impor masing-masing dari 6 (enam) hari menjadi 2 (dua) hari. Selain itu, beberapa kebijakan yang telah dilaksanakan antara lain adalah: (1) telah terbangun PTSP 293 kabutapen/kota sampai dengan akhir tahun 2008 sebagai dampak pelaksanaan Permendagri 24 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP); (2) diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal dalam UU RI Nomor 25 tahun 2007; (3) dikeluarkannya PP RI Nomor 1 Tahun 2007 tentang pemberian fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman modal (PM) di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu; serta (4) dikeluarkannya Perpres RI Nomor 76 dan 77 tahun 2007 tentang daftar bidang usaha tertutup dan terbuka serta revisi Perpres Nomor 77 Tahun 2007 yakni Perpres Nomor 111 Tahun 2007. Dalam rangka meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi, Pemerintah terus mengintensifkan dan mengefektifkan kegiatan promosi investasi melalui penetapan target sektor usaha dan pelaku usaha
III - 31 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

di negara-negara potensial sebagai sumber dana investasi secara door to door. Untuk itu telah dilakukan beberapa kegiatan antara lain: seminar dan pameran Marketing Investasi Indonesia (MII), serta telah disusunnya Road Map Penanaman Modal. Guna mendukung peningkatan penanaman modal telah diupayakan fasilitasi penyelesaian masalah yang dihadapi oleh perusahaan, antara lain: (1) perselisihan antara para pemegang saham perusahaan; (2) tumpang tindih peruntukan penggunaan lahan bagi kegiatan perkebunan, kehutanan, dan pertambangan; serta (3) perselisihan perburuhan; serta (4) diterbitkannya PP 45 tentang pedoman pemberian fasilitas dan kemudahan investasi di daerah.

3.4.10 Bidang Infrastruktur
Dalam mengantisipasi dampak krisis keuangan global, pemerintah mengalokasikan stimulus fiskal sebesar Rp 7.755,0 miliar untuk belanja infrastruktur. Alokasi tambahan dana stimulus tersebut diprioritaskan untuk melaksanakan pembangunan infrastuktur padat karya di berbagai bidang, antara lain adalah bidang pekerjaan umum, bidang perhubungan, bidang energi, dan bidang perumahan rakyat. Sektor Transportasi. Dalam upaya mempertahankan tingkat pelayanan kepada masyarakat, maka pemerintah melaksanakan beberapa kebijakan antara lain: 1. Pengembangan transportasi berdasarkan sistem transportasi nasional, dan penyiapan prakarsa pembuatan RUU sistem transportasi nasional agar bisa menjadi acuan semua pihak. 2. Memprioritaskan pengembangan angkutan massal di perkotaan. 3. Menyelesaikan pembangunan prasarana transportasi agar dapat segera dimanfaatkan (mengurangi pentahapan). 4. Memprioritaskan pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana transportasi. 5. Pengembangan pelayanan keperintisan dan kelas ekonomi. 6. Penyediaan transportasi bagi daerah terpencil, pedalaman, perbatasan, pulau-pulau kecil terdepan melalui pola subsidi operasi keperintisan baik untuk angkutan penyeberangan, angkutan bus, laut, maupun udara serta pemberian PSO kepada penumpang kelas ekonomi angkutan kereta api maupun kapal laut. 7. Pembangunan fasilitas dan prasarana transportasi dalam mendukung kerjasama ekonomi regional ASEAN dan menghadapi persaingan global. 8. Pembangunan prasarana dan fasilitas keselamatan transportasi sesuai dengan SPM. 9. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Pemerintah mengalokasikan dana stimulus fiskal sebesar Rp 7.755,0 milliar untuk belanja infrastruktur padat karya di berbagai bidang antara lain bidang pekerjaan umum, bidang perhubungan, bidang energi, dan bidang perumahan rakyat

III - 32

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

10. Bantuan kepada daerah untuk melaksanakan kegiatan yang telah menjadi urusan daerah dibiayai melalui dana alokasi khusus (DAK).
Di sektor Sumber Daya Air, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, atau Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya mendorong partisipasi masyarakat petani dalam pengelolaan sistem irigasi

Sektor Sumber Daya Air. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, atau Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya perlu mendorong partisipasi masyarakat petani dalam pengelolaan sistem irigasi. Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangka mencegah dan mengurangi dampak krisis ekonomi perlu didorong sistem pengelolaan irigasi yang padat karya dengan memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada partisipasi petani pemakai air itu sendiri. Selain bertujuan untuk mendapatkan pola pengelolaan irigasi yang efektif dan efisien serta menumbuhkan rasa kepemilikan petani terhadap irigasi, pendekatan ini juga akan mendorong penyediaan lapangan kerja. Sektor Perumahan. Untuk sektor perumahan, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam rangka mengantisipasi imbas krisis keuangan global terdiri dari antisipasi dari sisi pasokan (penyedia perumahan) dan antisipasi dari sisi permintaan (konsumen/pembeli perumahan). Kebijakan antisipasi yang telah dilakukan dari sisi pasokan yang akan dilakukan adalah: 1. Mendorong pemanfaatan tanah negara/daerah untuk pembangunan Rusunami (rumah susun sederhana milik); 2. Kemudahan penyederhanaan perijinan untuk pembangunan rusunami 3. Mendorong penempatan dana Taperum-PNS (Tabungan PerumahanPegawai Negeri Sipil) di Bank Pelaksana KPR/KPRS; 4. Memberdayakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan industri/perdagangan bahan bangunan lokal terkait program KPR/KPRS Mikro Bersubsidi sejalan dengan PNPM Mandiri. Adapun kebijakan antisipasi untuk sisi permintaan yaitu: 1. Fixed-rate untuk tingkat suku bunga bersubsidi selama masa subsidi; 2. Memperluas akses kredit dan pilihan skim subsidi, yang terdiri dari Konvensional-Syariah, Landed–Vertical, Formal–Swadaya. Selain itu, beberapa kebijakan lanjutan sebagai antisipasi, adalah sebagai berikut: Sisi pasokan : 1. Pemanfaatan tanah negara/daerah untuk pembangunan Rumah Sederhana Sehat (RSH) bagi PNS, TNI, dan POLRI. 2. Penyederhanaan perijinan untuk pembangunan RSH. 3. Menyediakan dukungan Prasarana Dasar (Infrastruktur) Permukiman dan dukungan Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) Lingkungan dan Kawasan Perumahan.

III - 33

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

4. Pembebasan PPN (pajak pertambahan nilai) masukan untuk Rusunami dengan harga jual maksimal Rp. 144 juta. Sisi permintaan: 1. Pembebasan PPN keluaran untuk Rumah Sederhana dengan harga jual maksimal Rp. 100 juta 2. Mendorong bank BUMN selain BTN untuk menjadi bank pelaksana KPR Bersubsidi 3. Menyediakan fasilitas likuiditas pokok pinjaman bagi Bank Pelaksana KPR Bersubsidi sehingga kewajiban menyediakan pokok pinjaman dalam rangka penerbitan KPR Bersubsidi sebagian disediakan Pemerintah 4. Menyiapkan skim sewa-beli sarusunami dan menyediakan fasilitas likuiditas untuk pelaksanaan program sewa-beli sarusunami (satuan rumah susun sederhana milik) 5. Mengeluarkan ketentuan yang meminta Bank BUMN untuk mengalokasikan sejumlah tertentu (mis 10%) dari total portofolio investasinya untuk KPR Bersubsidi 6. Bank Indonesia agar menurunkan bobot risiko portofolio KPR Bersubsidi dari 40 persen menjadi 30 persen sehingga bank lebih bergairah dalam menerbitkan KPR Bersubsidi, karena CAR (capital adequate ratio) akan meningkat (lebih baik). 7. Untuk mengantisipasi penurunan daya beli/PHK konsumen yang telah akad kredit KPR Bersubsidi perlu diambil kebijakan moratorium pembayaran angsuran bulanan maksimal selama 1 (satu) tahun. Melalui kebijakan ini, pokok pinjaman KPR ditunda pembayarannya ke belakang, sementara komponen bunga disubsidi oleh Pemerintah. Sektor Permukiman (air minum, air limbah, persampahan dan drainase). Dikarenakan dampak terbesar pada sektor permukiman adalah terkait dengan besarnya alokasi anggaran bagi penyediaan pelayanan air minum, air limbah, persampahan dan drainase, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah, maka kebijakan utama bagi pencegahan dan penanganan dampak krisis ekonomi adalah: 1. Pelaksanaan advokasi dan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan legislatif guna meningkatkan prioritas pembangunan air minum, air limbah, persampahan dan drainase; 2. Menciptakan skema insentif berbasis kinerja untuk pemda dalam meningkatkan investasi air minum; 3. Peningkatan efektivitas dan akuntabilitas anggaran pemerintah untuk air minum, air limbah, persampahan dan drainase; 4. Peningkatan kerjasama dengan pihak swasta, melalui skema PPP (public-private-partnership); 5. Menciptakan instrumen keuangan yang mampu memobilisasi dana masyarakat untuk membiayai pembangunan prasarana dan sarana air
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 34

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

minum, air limbah, persampahan dan drainase, seperti obligasi, medium term notes, efek beragun aset (EBA) dan sebagainya; 6. Peningkatan subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui penyediaan prasarana dan sarana fisik maupun melalui skema tarif; 7. Fasilitasi peningkatan kualitas lembaga pengelola air minum, air limbah, persampahan dan drainase. Sektor Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Dampak yang akan terasa dapat disimpulkan kedalam dua hal. Pertama, mengeringnya likuiditas. Mengeringnya likuiditas ini akan berdampak tidak saja kepada dunia usaha akan tetapi akan berdampak pula pada kemampuan pemerintah untuk membiayai pembangunan. Kedua, melemahnya ekonomi di berbagai negara maju akan melemahkan ekspor. Dari kedua hal tersebut maka pada gilirannya akan berdampak kepada seluruh dunia usaha dan sektor riil yang selanjutnya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian semua kebijakan atau langkah-langkah yang dilakukan harus mempunyai dampak pada bergeraknya sektor riil dan lebih jauh lagi mengupayakan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Likuiditas yang berkurang dari sektor finansial global harus dapat ditutup dengan menarik sebanyak mungkin penanaman modal di daerah, salah satunya adalah investasi dalam bidang infrastruktur karena semakin banyak investasi di daerah akan semakin cepat pula kegiatan ekonomi yang akan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Kerjasama pemerintah dengan swasta (KPS) merupakan salah satu pola kerjasama untuk menarik minat swasta untuk berpartisipasi dalam penyediaan infrastruktur. Salah satu tujuan pengembangan KPS tidak lain adalah efisiensi penggunaan sumber daya pemerintah daerah yang terbatas dalam penyediaan infrastruktur yang berkualitas. Ketersediaan Infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan daerah dapat meningkatkan peluang daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonominya. Tentunya, dana pemerintah yang terbatas tersebut tetap harus diprioritaskan kepada infrastruktur yang sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya infrastruktur yang tidak memiliki kelayakan komersial. Adapun untuk yang bernilai komersial, pengembangannya dapat dilakukan melalui mekanisme KPS. Peningkatan partisipasi swasta dilakukan melalui restrukturisasi dan reformasi berbagai peraturan perundangan, kebijakan, dan perundangan berkenaan dengan penyediaan infrastruktur. Berbagai perundangan di bidang infrastruktur telah membuka peluang kerjasama pemerintah dan swasta (KPS). UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan membuka peluang BUMN dan swasta dalam pengusahaan jalan tol, begitu
III - 35 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

juga UU no 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian memberikan peluang bagi sektor swasta untuk ikut mengelola sarana atau prasarana perkeretaapian serta UU No 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang memberikan peluang bagi sektor swasta untuk berpartisipasi dalam penyediaan dan atau pelayanan jasa di bidang kepelabuhanan dan jasa terkait dengan kepelabuhan. Untuk keperluan panduan operasional, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur sebagai pengganti Keputusan Presiden No. 7 Tahun 1998 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta dalam Pembangunan dan/atau Pengelolaan Infrastruktur. Untuk memastikan tingkat pengembalian investasi badan usaha swasta, Perpres ini memberikan landasan bagi penentuan tarif awal dan penyesuaiannya melalui (a) penetapan tarif yang mencerminkan biaya investasi dan operasi serta keuntungan yang wajar; dan apabila hal ini tidak dapat terpenuhi maka penetapan tarif akan didasarkan pada tingkat kemampuan konsumen melalui pemberian kompensasi oleh pemerintah kepada badan usaha swasta; dan (b) pengaturan besaran kompensasi pemerintah berdasarkan perolehan hasil kompetisi antar peserta lelang. Perpres ini memberikan peluang bagi badan usaha swasta untuk mengajukan prakarsa proyek kerjasama di luar proyek yang diajukan pemerintah (unsolicited project) dengan tetap mengacu pada prosedur pengusulan proyek yang berlaku dan apabila diterima, akan tetap diproses melalui pelelangan umum secara terbuka dan kompetitif. Pemrakarsa proyek akan diberikan kompensasi antara lain dalam bentuk pemberian tambahan nilai atau pembelian prakarsa proyek termasuk Hak Kekayaan Intelektual yang menyertainya. Jenis Infrastruktur yang dapat dikerjasamakan dengan Badan Usaha dalam Perpres tersebut mencakup : · infrastruktur transportasi, meliputi pelabuhan laut, sungai atau danau, bandar udara, jaringan rel dan stasiun kereta api; · infrastruktur jalan, meliputi jalan tol dan jembatan tol; · infrastruktur pengairan, meliputi saluran pembawa air baku; · infrastruktur air minum yang meliputi bangunan pengambilan air baku, jaringan transmisi, jaringan distribusi, instalasi pengolahan air minum; · infrastruktur air limbah yang meliputi instalasi pengolah air limbah, jaringan pengumpul dan jaringan utama, dan sarana persampahan yang meliputi pengangkut dan tempat pembuangan; · infrastruktur telekomunikasi, meliputi jaringan telekomunikasi;
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 36

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

· ·

infrastruktur ketenagalistrikan, meliputi pembangkit, transmisi atau distribusi tenaga listrik; dan infrastruktur minyak dan gas bumi meliputi pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, transmisi, atau distribusi minyak dan gas bumi.

Pembagian (alokasi) resiko merupakan salah satu hal terpenting dalam proyek KPS. Perpres 67 Tahun 2005 memperkenalkan konsep bahwa untuk menjamin efisiensi dan efektifitas, pengelolaan resiko investasi sebaiknya dialokasikan kepada pihak yang paling mampu mengendalikan resiko. Menindaklanjuti hal ini, Depertemen Keuangan telah menerbitkan PMK No 38/PMK.01/2006 tentang Pengelolaan Risiko atas Penyediaan Infrastruktur yang mengatur jenis risiko dalam skema pembagian antara pemerintah dan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur yaitu risiko politik, kinerja proyek dan permintaan. Apabila diperlukan, untuk meningkatkan kelayakan finansialnya, Pemerintah dapat memberikan Dukungan Pemerintah yaitu kompensasi finansial dan/atau bentuk lainnya yang diberikan oleh Pemerintah kepada badan usaha melalui skema pembagian risiko dalam rangka pelaksanaan proyek kerjasama penyediaan infrastruktur. Persiapan proyek KPS sesuai Perpres 67 Tahun 2005 dimulai dengan mengindentifikasi proyek-proyek penyediaan infrastruktur yang akan dikerjasamakan Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah dengan Badan Usaha, dengan mempertimbangkan antara lain (i) kesesuaian dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah dan Rencana Strategis Sektor Infrastruktur; (ii) kesesuaian lokasi proyek dengan Rencana Tata Ruang Wilayah; (iii) keterkaitan antarsektor infrastruktur dan antarwilayah; (iv) analisis biaya dan manfaat sosial. Setiap usulan proyek yang akan dikerjasamakan juga harus disertai dengan : (i) pra studi kelayakan; (ii) rencana bentuk kerjasama; (iii) rencana pembiayaan proyek dan sumber dananya; dan (iv) rencana penawaran kerjasama yang mencakup jadwal, proses dan cara penilaian. Untuk pengadaan tanah, Pemerintah telah mengeluarkan Perpres No 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, yang telah direvisi dengan Perpres No 65 tahun 2006 tentang Perubahan atas Perpres No 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pengadaan tanah akan dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah. Apabila tanah negara/daerah tersebut ingin dimanfaatkan melalui KPS, PP No 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah memberikan 2 (dua) opsi yaitu Bangun guna serah (build operate trasnfer/BOT) dan bangun serah guna (build transfer operate/BTO).
III - 37

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

Seirama dengan semangat desentralisasi dan penguatan otonomi daerah, peran pemerintah daerah sangat diperlukan dalam membangun dan menentukan pola-pola kemitraan atau kerjasama antara pemerintah dan swasta (KPS), pada lingkup pekerjaan dan standar pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Pemerintah daerah didorong untuk lebih berperan dalam memfasilitasi terwujudnya kerjasama yang bermanfaat bagi daerah, sekaligus menciptakan stimulan untuk terwujudnya iklim investasi yang sehat bagi perkembangan dunia usaha. Upaya tersebut kiranya harus dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan dan pengamanan kepentingan masyarakat dalam arti luas sebagai pengguna atau yang memanfaatkan infrastruktur. Melalui KPS ini pemerintah daerah bisa mengalihkan sebagian beban pembiayaan investasi penyediaan infrastruktur kepada pihak swasta, sedangkan pemulihannya (cost recovery) dipikul oleh masyarakat yang ditarik berupa tarif jasa pelayanan. Beban APBD akan berkurang dan tanggung jawab masyarakat akan terbangun untuk menyadari bahwa pelayanan umum tidak sepenuhnya menjadi tugas pemerintah. KPS kiranya perlu didukung oleh konsistensi terhadap komitmen yang telah disepakati antara pemerintah dan swasta secara lintas waktu dan administrasi. Salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam membantu percepatan penyediaan infrastruktur sektor air minum adalah melalui kebijakan penghapusan beban bunga dari utang PDAM sebesar Rp. 3,3 triliun dari total utang PDAM yang sudah mencapai Rp. 4,4 triliun. PDAM yang berhak mendapatkan penghapusan utang adalah PDAM yang telah menyesuaikan tarifnya dengan cost recovery dan telah membuat perencanaan bisnis. KPS akan bisa terlaksana bila tercipta iklim yang kondusif bagi investor untuk proyek yang layak jual. Untuk itu perlu sistem pengaturan yang sehat serta dukungan lembaga di daerah yang dapat menjamin kepastian dan kelancaran proses pengadaan. Di tingkat pusat, Lembaga yang memfasilitasi KPS adalah Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur. Hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung pengembangan KPS mencakup diantaranya: kepastian hukum, kemudahan perijinan dalam arti tidak menjadikan birokrasi sebagai bagian dari biaya terukur (fixed cost), stabilitas ekonomi yang didukung oleh fluktuasi nilai valas dan laju inflasi yang terkontrol, pemberian insentif berupa baik pajak maupun nonpajak ataupun berupa suku bunga yang menarik, membantu promosi, dan menekan gangguan ekonomi seperti monopoli, dan penetapan upah minimum serta harga maksimum yang tidak wajar.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 38

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Sektor Energi. Untuk pembangunan infrastruktur energi diarahkan melalui kebijakan diversifikasi energi yang dilaksanakan dengan mengembangkan dan memanfaatkan potensi energi baru terbarukan (EBT) terutama potensi energi lokal di daerah-daerah perdesaan. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan jaminan pasokan energi dalam negeri guna mendorong kegiatan perekonomian daerah sekaligus melaksanakan upaya-upaya pengendalian lingkungan hidup karena pemanfaatan energi bersih. Sektor Listrik. Turut serta berpartisipasi membangun sistem ketenagalistrikan di daerahnya khususnya yang bersifat tidak tersambung ke jaringan transmisi nasional terutama bagi daerah-daerah tertinggal dan terisolasi serta turut memfasilitasi penggunaan dana perbankan daerah untuk berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur ketenegalistrikan. Sektor Pos dan Telekomunikasi. Kebijakan pembangunan telekomunikasi diarahkan untuk menjamin kelancaran arus informasi melalui perluasan jangkauan, serta peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur telekomunikasi dengan menitikberatkan pada (1) penciptaan iklim investasi dan berusaha yang kompetitif dan tidak diskriminasi; (2) peningkatan kerja sama dengan swasta; (3) pengelolaan sumber daya terbatas (spektrum frekuensi radio dan penomoran) secara lebih efisien; dan (4) peningkatan penggunaan industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada industri luar negeri dan teknologi proprietary. Terkait penciptaan iklim investasi dan berusaha yang kompetitif dan tidak diskriminasi, serta peningkatan kerja sama dengan swasta, pemerintah menetapkan kebijakan dan peraturan yang membuka peluang usaha seluas-luasnya kepada swasta yang dinilai layak dan berkemampuan, tanpa diskriminasi. Adapun terkait penggunaan industri dalam negeri, pemerintah telah menetapkan penggunaan industri dalam negeri oleh penyelenggara telekomunikasi sekurang-kurangnya sebesar 30% dari belanja modal (capital expenditure) dan 50% dari belanja operasi (operational expenditure).

3.4.11 Bidang Pariwisata
Kebijakan pembangunan pariwisata diarahkan untuk mendorong peningkatan daya saing destinasi, peningkatan pemasaran, dan peningkatan kemitraan antarpelaku pariwisata melalui pembangunan pariwisata berbasis masyarakat dengan tetap memperhatikan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan dan tatakelola yang baik (Good Governance) dengan fokus pada:
III - 39

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

a. Peningkatan pemanfaatan berbagai media dan teknologi informasi sebagai sarana promosi pariwisata; b. Pengembangan kerjasama pemasaran dan promosi pariwisata dengan lembaga terkait terutama kerjasama antar travel agent dan antar tour operator di dalam dan di luar negeri; c. Pengembangan destinasi pariwasata berbasis alam, bahari, budaya, dan olahraga; d. Pengembangan kemitraan dengan sektor terkait dalam upaya peningkatan kenyamanan dan kemudahan akses di destinasi wisata; e. Pengembangan system informasi pariwisata; f. Pengembangan profesionalisme SDM pariwisata.

Kebijakan pembangunan pariwisata diarahkan untuk mendorong peningkatan daya saing destinasi, peningkatan pemasaran, dan peningkatan kemitraan antar pelaku pariwisata.

3.4.12 Bidang Ketenagakerjaan
Krisis keuangan global yang dihadapi berbagai negara akhir-akhir ini juga berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia, sehingga akan berdampak negatif terhadap perkembangan dunia usaha dan ketenagakerjaan. Untuk mengatasinya, pemerintah telah menerapkan Program Stimulus Fiskal yang salah satu tujuannya adalah untuk menciptakan kesempatan kerja dan menyerap dampak PHK melalui kebijakan pembangunan infrastruktur padat karya. Secara umum, kebijakan dalam bidang ketenagakerjaan dapat dijabarkan sebagai berikut: Pencegahan Penanganan dampak krisis membutuhkan regulasi yang cepat dan tepat. Di setiap Negara cara penanganannya dapat dipastikan akan berbeda, sebagaimana dampak krisis ekonomi yang juga berbeda. Dalam menghadapi krisis keuangan dan resesi ekonomi global, tidak seluruh masalah berada di jangkauan wilayah kebijakan dan wewenang pemerintah, partisipasi dan peran serta semua pihak dalam mengatasi dampak krisis keuangan global mutlak dibutuhkan. Disinilah peran semua elemen bangsa, para pelaku proses produksi harus mampu memahami kondisi masing-masing dan menempatkannya pada kepentingan bersama. Bantuan kepada perusahaan seyogjanya diartikan sebagai bantuan berupa perumusan kebijakan dengan tujuan untuk mengurangi biaya (cost) perusahaan atau berbagai kebijakan yang secara tidak langsung dapat memberikan peningkatan keuntungan bagi perusahaan. Sebagai contoh, peningkatan tariff import untuk sebagian komoditi yang dihasilkan oleh perusahaan padat pekerja atau insentif pajak bagi perusahaan padat pekerja merupakan bantuan kepada perusahaan tersebut. Banyak sekali peraturan dan kebijakan yang dapat disempurnakan sehingga dapat mengurangi biaya ekonomi tinggi serta mengurangi ketidakpastian. Selain hal itu, dalam mengantisipasi krisis, sedapat mungkin penyesuaian yang
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 40

Pemerintah telah menerapkan program stimulus fiskal yang salah satu tujuannya untuk menciptakan kesempatan kerja

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

dilakukan oleh perusahaan adalah tidak melalui pemutusan hubungan kerja (PHK). Untuk itu berbagai aturan main yang berpotensi mendorong perusahaan beralih dari penggunaan pekerja ke penggunaan mesin harus terus disempurnakan. Seandainya keadaan ekonomi melemah, perusahaan dihimbau untuk tidak langsung melakukan PHK. Pada awalnya perusahaan dapat melakukan pengurangan waktu kerja bagi perusahaan secara keseluruhan atau dapat juga melalui mengurangi waktu kerja bagi karyawan dengan pengaturan beban kerja (defensive restructuring). Implementasi dari kebijakan tersebut perlu didorong oleh berbagai aturan main termasuk kemudhan untuk tidak meningkatkan upah riil secara tajam walaupun upah nominal dapat saja meningkat. Dengan harapan melemahnya kegiatan ekonomi hanya sementara dan pada saat kegiatan eknomi meningkat kembali, perusahaan tetap siap untuk melakukan peningkatan produksi. Program Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas a. Bagi mereka yang statusnya belum di PHK dimana perusahaan melakukan “defensive restructuring”, dapat dilakukan pelatihan kembali (employment retraining) dan peningkatan ketreampilan (skills upgrading). Pelatihan ini dilakukan agar pada saat ekonomi membaik dan perusahaan siap untuk mengembangkan usahanya, telah tersedia pekerja dengan ketrampilan yang sesuai. Pelatihan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dari perusahaan. b. Beberapa alternatif yang bisa diberikan untuk membantu mereka yang telah di PHK antara lain: dapat dilakukan pelatihan yang sesuai dengan minat, bakat dan kecakapannya. Berbeda dengan butir sebelumnya dimana bidang pelatihan sangat ditentukan oleh perusahaan pada butir ini jenis pelatihan tergantung dari minat pekerja dan permintaan dari pasar kerja. c. Beberapa program lain yang dapat dilaksanakan adalah: 1) Pelatihan untuk tenaga kerja sebagai pekerja mandiri. Program pelatihan ini dilaksanakan oleh Dinas Ketenagakerjaan setempat bekerja sama dengan instansi teknis terkait di daerah, seperti Dinas UKM dan Koperasi, DInas Industri dan Perdagangan, serta melibatkan Perguruan Tinggi setempat; 2) pelatihan untuk pembentukan kader-kader penggerak pembangunan di perdesaan dan daerah tertinggal. Pelatihan ini dapat dirancang untuk membantu tenaga kerja korban PHK yang mempunyai pendidikan Sarjana sebagai tenaga motivator kader pembangunan sekaligus tenaga pendampingan; 3) Pemagangan berbasis pengguna. Peserta program pemagangan diprioritaskan pada tenaga kerja semi skill (SLTA/SMK ke atas) yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Peserta pemagangan akan dilatih aspek teoritis
III - 41 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

di lembaga pelatihan yang telah ditunjuk oleh Forum Jejaring Pemagangan (yaitu forum pemagangan di kabupaten/kota yang terdiri dari uinsur pengusaha, dinas tenaga kerja, lembaga pelatihan kerja dan asosiasi perusahaan) selama satu bulan, selanjutnya mereka akan dibimbing dan diawasi oleh instruktur/pekerja yang berpengalaman untuk terlibat langsung dalam proses produksi (barang atau jasa). Keunikan kegiatan pemagangan berbasis pengguna dibandingkan dengan program pemagangan lainnya adalah keterlibatan perusahaan yang cukup besar mulai dari tahap rekruitmen peserta sampai dengan pelaksanaan pemagangan. Pengurangan dampak Krisis ekonomi global akan berdampak pada sektor riil dan pertumbuhan investasi yang pada akhirnya akan berdampak pada kesempatan kerja yang dapat diciptakan. Untuk menekan angka pengangguran, dalam kondisi seperti ini, dilihat dari sudut kesejahteraan pekerja dan penganggur, intervensi pemerintah dilakukan untuk membantu 3 kelompok, yang memerlukan perhatian yaitu: 1. Kelompok perusahaan dan pekerjanya 2. Kelompok pekerja yang hidup dibawah garis kemiskinan 3. Kelompok penganggur yang ingin memperoleh pekerjaan yang lebih baik Pembagian ini dimaksudkan agar intervensi pemerintah baik itu intervensi langsung seperti pemberian bantuan langsung maupun intervensi tidak langsung seperti regulasi dapat diberikan sesuai dengan sasarannya. Berikut adalah 3 kelompok sasaran dengan jenis intervensi yang akan dilakukan: 1. Kelompok perusahaan dan pekerjanya Bagi kelompok ini sebaiknya digunakan intervensi melalui regulasi. Pemerintah telah memberikan berbagai insentif dan kemudahan agar perusahaan dapat terus bertahan termasuk menurunkan harga BBM. Kegiatan yang dibiayai APBn untuk tahun 2009 akan dipercepat dengan mempercepat proses pengadaan. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengeluarkan surat edaran No.0217/M.PPN/10/2008 Perihal Upaya Antisipasi Perlambatan Perekonomian Global Melalui Pendayagunaan dan Percepatan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah TA 2009. Pemerintah terus mendorong penyaluran kredit perbankan kepada sektor riil dengan memberikan kelonggaran antara lain dengan menurunkan Giro Wajib Minimum sehingga penyaluran kredit perbankan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah III - 42

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

kepada sektor riil dapat berjalan. Sedangkan untuk usaha mikro dan kecil pemerintah akan terus meningkatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat atau KUR. Pemerintah telah mengeluarkan Surat Peraturan Bersama 4 Menteri Tentang Pemeliharaan Momentum Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dalam Mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Global. Peraturan Bersama ini dimaksudkan untuk menjaga agar tidak terjadi PHK masal. Peningkatan upah minimum yang terlalu cepat berpotensi meningkatkan jumlah PHK. Tetapi untuk upah individual yang diterima pekerja dapat ditingkatkan melalui perundingan secara bipartite. Surat peraturan bersama ini juga mendorong dilakukannya perundingan bipartite untuk berbagai masalah ketenagakerjaan. Perusahaan dihimbau untuk tidak melakukan PHK dan diminta mengambil langkah-langkah seperti pengaturan kembali jam kerja (defensive restructuring) dan juga mengambil inisiatif untuk dapat melakukan pelatihan kepada para pekerjanya sehingga bila keadaan membaik pekerja telah siap bekerja dengan produktivitas yang lebih tinggi. 2. Kelompok pekerja yang hidup di bawah garis kemiskinan Program infrastruktur Bagi kelompok ini akan dilakukan program-program pembangunan infrastruktur yang dapat dilakukan melalui dua pendekatan: 1. Kegiatan pembangunan infrastruktur skala sedang (ataupun besar, bila memungkinkan untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu) sebaiknya dilakukan dengan cara pada pekerja (labor intensive) tanpa mengurangi kualitas pekerjaan. 2. Melaksanakan program pembangunan infrastruktur padat pekerja (cash for work program), yaitu pembangunan infrastruktur sederhana dengan memberikan upah di bawah upah rata-rata. Hal ini dimaksudkan agar hanya orang yang betul-betul membutuhkan yang akan mengikuti program ini (self-targeting). Program bantuan langsung Program-program Pemberian Bantuan Langsung kepada masyarakat, untuk mengurangi beban agar dapat mempertahankan daya beli, seperti: (a) pemberian uang tunai bagi mereka yang benar-benar miskin; (b) pemberian beasiswa langsung kepada anak pekerja/buruh; (c) pengucuran kredit/modal/dana bergulir usaha skala mikro/kecil; (d) Jaminan Kesehatan Masyarakat (JamKesMas); (e) program pelatihan untuk melatih agar mereka siap bekerja bila ekonomi membaik dan berbagai program bantuan langsung lainnya.

III - 43

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan Nasional Dalam Mencegah dan Mengantisipasi Dampak Krisis Keuangan Global

3. Program Bagi Penganggur Yang Berusaha Mencari Pekerjaan yang Baik Bagi kelompok ini sebaiknya dilakukan intervensi tidak langsung seperti penyempurnaan regulasi. Pekerjaan yang baik biasanya dating melalui investasi, dengan demikian iklim berusaha yang baik harus terus ditingkatkan. Iklim berusaha yang baik akan mengundang investasi baru dan juga mempertahankan yang sudah ada. Berkaitan dengan itu Pemerintah telah melakukan revisi PP No 1 Tahun 2007 menjadi PP No 62 Tahun 2008 Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanam Modal di Bidang usaha tertentu dan/atau di Daerah Tertentu. a. Pembangunan infrastruktur keras seperti pelabuhan, jalan, listrik dan telekomunikasi selain akan mencipatakan kesempatan kerja akan mendorong membaiknya iklim berusaha. b. Program pelatihan berbasis kompetensi dengan sertifikasi yang memadai sangat membantu bagi mereka yang ingin memperoleh pekerjaan yang baik. c. Pemerintah akan terus memperkuat pasar domestic dengan memperketat impor barang-barang ilegal.

3.4.13 Bidang Kemiskinan
Krisis keuangan global berdampak pada meningkatnya jumlah kemiskinan di Indonesia, sebagai akibat dari bertambahnya jumlah pengangguran. Dalam rangka efisiensi dan efektivitas penanganan dampak krisis terhadap kemiskinan, perlu diupayakan optimalisasi instrumen program APBn dan APBD agar dapat dikerjakan secara padat pekerja dan penguatan kerjasama dengan Pemda untuk pemantauan dan penanganan dampak krisis. Gambar 3.1. Kluster Program Penanggulangan Kemiskinan

K E M A N D I R I A N
III - 44

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Dalam rangka peningkatan ketepatan sasaran program-program penanggulangan kemiskinan, digunakan kriteria penerima program berdasarkan 3 kluster program kemiskinan. Untuk program dalam Kluster 1, acuan data rumah tangga sasaran (RTS) yang terdiri dari RT sangat miskin, miskin, dan dekat miskin sebaiknya menggunakan data hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008 yang telah disampaikan oleh Menko Kesra ke daerah-daerah. Untuk Kluster 2 yang ditujukan bagi kelompok masyarakat miskin melalui program-program PNPM Mandiri, disiapkan langkah-langkah antara lain sebagai berikut:, 1. Mengarahkan kegiatan infrastruktur sederhana termasuk kegiatan operasional pemeliharaan melalui cash for work dan padat pekerja untuk infrastruktur skala sedang (bila memungkinkan untuk jenis pekerjaan tertentu). Agar perluasan hanya dimanfaatkan oleh orang yang benar-benar membutuhkan (self-targeting), upah yang diberikan di bawah upah rata-rata. 2. Meningkatkan kegiatan ekonomi produktif secara selektif, antara lain untuk penambahan modal, kepada masyarakat yang terkena dampak, sepanjang menjadi anggota kelompok masyarakat yang terlibat dalam PNPM Mandiri. 3. Meningkatkan jumlah pendamping dan konsultan PNPM Mandiri untuk memberikan kesempatan kerja bagi sarjana yang masih menganggur. 4. Melibatkan pendamping dan konsultan PNPM dalam memantau kondisi riil dampak krisis dan memanfaatkan mekanisme yang ada untuk melaporkan kondisi terkini dampak krisis di masyarakat. Untuk Kluster 3, perlu dilakukan penguatan koordinasi pelaksanaan program-program KUR agar dapat dimanfaatkan bagi kelompok masyarakat dekat dan di atas garis kemiskinan yang terkena dampak krisis.

III - 45

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

BAB IV LANGKAH-LANGKAH YANG DAPAT DILAKUKAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENGHADAPI DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL
Dalam paparan bab-bab terdahulu telah disampaikan bahwa dampak krisis keuangan global sudah mulai dirasakan oleh perekonomian Indonesia. Segala upaya dari sisi moneter dan fiskal nasional, serta upaya untuk memperkuat sektor riil sudah mulai dikerahkan untuk mengantisipasi dampak krisis terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Dana APBN 2009, bersama konsumsi masyarakat, bahkan sangat diharapkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi di tahun 2009 ini sehingga keberhasilan pelaksanaan APBN itu akan berperan penting bagi Pemerintah dan perekonomian Indonesia, yang disisi lain ekspor dan investasi diperkirakan akan mengalami perlemahan. Dalam sistem pemerintahan yang sudah terdesentralisasi, segala upaya pemerintah pusat melalui kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil tidak banyak berarti kalau tidak disertai dengan upaya yang sama kerasnya dan seriusnya dari Pemerintah Daerah. Dengan sistem yang ada saat ini serta mengacu pada ketentuan-ketentuan yang berlaku, praktis sebagian besar kewenangan pemerintahan sudah berada di tangan Pemerintah Daerah. Dari segi hubungan keuangan pusat dan daerah, banyak hal yang dapat dilakukan Pemerintah Daerah untuk memperkuat fiskal nasional dan menciptakan stimulus pertumbuhan dari APBD mereka sendiri, serta memperkuat sektor riil di daerahnya. Bab ini berupaya menjelaskan hal-hal apa saja yang dapat dijadikan panduan atau acuan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan koordinasi dan konsultasi publik untuk merespon kebijakan yang telah diambil oleh Pemerintah Pusat dalam mengurangi dampak krisis keuangan global.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

IV - 2

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Dalam upaya menghadapi dampak krisis ekonomi global, pemerintah daerah perlu mengambil langkah-langkah untuk : (1) Mengamankan pelaksanaan APBD 2009; (2) Mendukung penguatan pada sektor moneter dan sektor keuangan; (3) Mendukung penguatan sektor riil didaerah

4.1 Pengamanan Pelaksanaaan APBD 2009
Optimalisasi Langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tingkat penyiapan APBD TA daerah dapat dilakukan melalui optimalisasi penyiapan APBD TA 2009, 2009 adalah langkah meliputi: strategis untuk menjaga 1. Efektifitas anggaran (alokasi, distribusi dan stabilisasi), dalam hal: a. Pemberdayaan ekonomi masyarakat (empati pada kaum miskin). pertumbuhan di daerah b. Pembangunan infrastruktur.

2.

3. 4. 5.

c. Rasionalisasi pajak dan restribusi. d. Penggunaan produk dalam Negeri. e. Pembatasan atau penundaan belanja pada jenis belanja tertentu. Peningkatan daya serap anggaran, melalui: a. Percepatan proses penetapan APBD dan DIPA. b. Percepatan proses penggadaan. c. Penyusunan rencana penyerapan dana untuk setiap kegiatan (cash flow) dan peningkatan kapasitas aparatur keuangan daerah. d. Hindari adanya SILPA di akhir tahun anggaran (khususnya sisa belanja). e. Belanja Hibah dan Bantuan harus betul-betul di efektifkan dan akuntabilitasnya perlu ditingkatkan. f. Buat klausal kondisi darurat dalam PERDA penetapan APBD untuk meningkatkan fleksibilitas anggaran dan menghindari implikasi hukum. Mengembangkan kebijakan atau kegiatan yang inovatif (berdasarkan nilai-nilai potensi lokal). Penghematan penggunaan energi. Bangun kerjasama swasta dan pemerintah daerah, antara swasta, dan antar pemerintah daerah (sinergitas sumber daya maupun pasar).

Perkuatan peran tim pengendali inflasi daerah adalah salah 4.2.1 Penguatan Sektor Moneter satu upaya di sektor moneter untuk Upaya yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk mengurangi mengurangi dampak krisis keuangan dampak dari krisis keuangan global adalah dengan memperkuat peran tim global pengendalian inflasi daerah. Tim pengendalian inflasi daerah ini
IV - 3 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

4.2 Penguatan Sektor Moneter dan Sektor Keuangan

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

melibatkan Bank Indonesia, BPS, dinas-dinas yang berhubungan dengan sektor perdagangan, Bappeda, Dinas Perhubungan, dan dinas-dinas yang terkait dengan pungutan. Dinas-dinas yang terkait dengan sektor perdagangan diperlukan perannya dalam hal menjaga kelancaran distribusi barang. Dinas Perhubungan berperan dalam memastikan ketersediaan infrastruktur untuk dapat mendukung distribusi barang. Sementara, dinas yang terkait dengan pungutan perlu disertakan untuk mencegah terjadinya pungutan-pungutan liar yang menjadi salah satu faktor penyebab inflasi di daerah. Peran serta aktif dari masing-masing pihak tersebut sangat diperlukan untuk dapat menjaga stabilisasi inflasi daerah agar target inflasi nasional dapat tercapai. Upaya kedua yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah dalam sektor moneter adalah melakukan operasi pasar untuk memantau stabilitas harga bahan-bahan kebutuhan pokok. Mengingat bahwa inflasi daerah memberikan kontribusi yang relatif besar yakni 73 persen dari inflasi nasional, pemantauan yang seksama dari pergerakan harga bahanbahan kebutuhan pokok di daerah melalui operasi pasar menjadi sangat penting agar inflasi daerah dapat tetap terkendali.
Melakukan operasi pasar adalah bentuk upaya lain di sektor moneter untuk memantau stabilitas harga bahan-bahan kebutuhan pokok

4.2.2 Penguatan Sektor Keuangan
Sektor Perbankan. Di dalam sektor perbankan, Bank Pembangunan Daerah diharapkan dapat diperkuat perannya melalui reorientasi strategi bisnis dalam rangka mengembangkan perekonomian di daerahnya. Dengan strategi bisnis yang diarahkan pada pengembangan perekonomian daerah, maka diharapkan Bank Pembangunan Daerah dapat berperan lebih optimal dalam mendukung pembangunan di daerah. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk memperkuat sektor perbankan di daerah adalah melalui pengembangan alternatif pembiayaan lain seperti melalui sistem bagi hasil (pembiayaan syariah). Karakteristik pembiayaan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, pembiayaan syariah akan menjadi alternatif sistem perbankan di daerah yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Salah satu penyebab dari kurang berkembangnya sektor perbankan dan lembaga keuangan non bank di daerah adalah terbatasnya
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah IV - 4

Penguatan sektor keuangan dilakukan melalui reorientasi strategi bisnis, pengembangan alternatif pembiayaan lain, perkuatan Biro Informasi Kredit daerah, lembaga keuangan non bank dan memperluas layanan lembaga keuangan

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

informasi mengenai kondisi perusahaan-perusahaan dan calon-calon debitur di daerah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penguatan dalam Biro Informasi Kredit di daerah. Tugas dari Biro Informasi Kredit adalah menghimpun dan menyimpan data debitur, kemudian mengolah, mempertukarkan dan mendistribusikan data tersebut sebagai informasi debitur dalam rangka mendukung pelaksanaan fungsi intermediasi lembaga keuangan. Dengan kuatnya peran Biro Informasi Kredit di daerah, terutama untuk sektor UMKM, diharapkan lembaga-lembaga keuangan tersebut bersedia memperluas jangkauan pelayanannya hingga ke daerahdaerah yang saat ini belum terjangkau karena dapat memperoleh informasi mengenai calon-calon debitur yang sebelumnya tidak dapat diketahui perilaku kreditnya. Lembaga Keuangan Non Bank termasuk Pembiayaan Mikro. Salah satu keterbatasan yang dimiliki oleh lembaga-lembaga keuangan non bank di daerah adalah keterbatasan modal. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dikembangkan kerja sama antara lembaga-lembaga keuangan non bank di daerah agar lembaga-lembaga tersebut dapat saling membantu dalam hal penyediaan modal. Hal ini dapat dilakukan, misalnya, melalui pengembangan sistem dana bergulir antar lembagalembaga tersebut. Pelayanan lembaga keuangan sebagian besar masih hanya dilakukan di daerah perkotaan. Untuk memperkuat sektor keuangan non bank di daerah, pemerintah daerah perlu memperluas jangkauan pelayanan dari lembaga-lembaga keuangan di daerah agar jasa pembiayaan lembaga-lembaga ini dapat juga dinikmati oleh dareahdaerah yang relatif lebih tertinggal. Perluasan jangkauan pelayanan ini dapat dilakukan sejalan dengan perkuatan Biro Informasi Kredit di daerah, sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya. Selain melalui kerja sama antara lembaga-lembaga keuangan dalam hal penguatan modal, lembaga keuangan non bank juga perlu meningkatkan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk dapat memperkuat permodalannya. Kerja sama dengan pemerintah daerah ini juga dapat membantu lembaga-lembaga keuangan non bank ini dalam hal legalitas, mengingat banyaknya lembaga keuangan yang pelayanannya menjadi terhambat karena belum memiliki status hukum. Dengan adanya kerja sama dengan pemerintah daerah setempat, diharapkan lembagalembaga keuangan ini dapat memperoleh kepastian dalam hal status hukumnya. Untuk mendukung tumbuhnya wirausaha-wirausaha baru (new start-up enterpreneurs) maka perlu dikembangkan perusahaan modal ventura daerah yang bekerja sama dengan lembaga- lembaga pendukung
IV - 5 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

lainnya, terutama pusat inovasi daerah. Dalam rangka mitigasi di daerahdaerah yang rawan bencana, perlu dikembangkan skim-skim asuransi mikro yang terutama ditujukan bagi rumah tangga miskin. Perusahaan sewa guna usaha (leasing) juga perlu dikembangkan di daerah, terutama untuk mendukung petani, nelayan dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam pengadaan peralatan usahanya, seperti traktor mini, perahu bermesin, mesin bubut dan mesin pengolah lainnya.

4.3 Penguatan Sektor Riil
4.3.1 Bidang Perindustrian
Implementasi pembangunan industri nasional dilakukan secara sinergi dan terintegrasi di seluruh daerah, dilakukan dengan 2 (dua) pendekatan, yaitu: 1. Pengembangan 32 Klaster Industri Prioritas yang dipilih berdasarkan kemampuan nasional untuk bersaing di pasar domestik dan internasional. 2. Pengembangan industri pengolahan komoditi unggulan daerah menuju Kompetensi Inti Industri Daerah (pemberdayaan produk industri unggulan daerah). Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan kompetensi inti industri dapat diberikan dalam bentuk: a) Pemerintah daerah bertanggung jawab sepenuhnya untuk membangun perekonomian daerah, termasuk sektor industri; b) Sebagai langkah awal diperlukan perencanaan ekonomi makro daerah yang mampu meningkatkan perekonomian yang berkelanjutan, yang bertumpu pada pertumbuhan investasi dan ekspor; c) Prinsip dasar kebijakan ekonomi daerah: reformasi perekonomian, inovasi lokal dan efisiensi; d) Dalam membangun sektor industri daerah harus selaras dengan Kebijakan Industri Nasional sebagaimana diamanatkan dalam Perpres 28 Tahun 2008, yaitu dengan pendekatan Kompetensi Inti Industri Daerah; e) Pemda harus berani memberikan insentif yang memadai untuk menarik investor, dan khusus untuk industri manufaktur perlu diberikan perhatian lebih kepada perizinan, AMDAL, pertanahan dan infrastruktur.
Di bidang Perindustrian, perkuatan dilakukan dengan pengembangan klaster industri prioritas dan pengembangan kompetensi inti industri

Di bidang pertanian dan perkebunan, penguatan dilakukan melalui kebijakan pemantapan ketahanan pangan, 4.3.2 Bidang Pertanian dan Perkebunan pengembangan komoditas perkebunan dan Langkah pengurangan dampak krisis ekonomi terhadap ketahanan tanaman pangan baik di tingkat rumah tangga maupun di tingkat individu dilakukan holtikultura
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah IV - 6

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui langkah-langkah pemantapan ketahanan pangan. Kebijakan pemantapan ketahanan pangan nasional yang telah ada, diharapkan dapat diperkuat di tingkat daerah. Kebijakan nasional tersebut meliputi peningkatan produksi dan produktivitas pangan; penguatan kelembagaan pertanian, khususnya permodalan dan penelitian; perlindungan kepada petani; penguatan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat; peningkatan manajemen distribusi pangan; stabilisasi harga pangan nasional; serta peningkatan diversifikasi pangan. Sementara itu, di tingkat daerah penguatan kebijakan ketahanan pangan dapat dilaksanakan melalui upaya-upaya: (i) Memperkuat kelembagaan pertanian lokal, (ii) Memfasilitasi petani dalam mengakses sumberdaya produktif, misalnya permodalan dan sarana prasarana pertanian, (iii) Memperkuat cadangan pangan di tingkat daerah dan masyarakat, (iv) Penyediaan infrastruktur yang mendukung distribusi pangan, dan (v) Diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal. Beberapa langkah yang dapat diambil pemerintah daerah terkait dengan upaya untuk mengurangi dampak krisis ekonomi terhadap pengembangan komoditas perkebunan antara lain: (i) Dalam kerangka otonomi daerah, dimana pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan investasi di daerahnya, maka perlu adanya langkah-langkah untuk menarik para investor untuk masuk ke dalam bidang perkebunan di daerahnya. Dalam mendukung hal tersebut, maka perlu adanya kemudahan ijin bagi investasi tersebut, (ii) Pemanfaatan dan penyediaan sumber daya, khususnya sumber daya lahan, (iii) Memfasilitasi pembiayaan bagi usaha perkebunan, khususnya perkebunan rakyat, melalui skim-skim pembiayaan yang menguntungkan, (iv) Mendorong terbangunnya pabrik pengolahan produk perkebunan di daerahnya sehingga dapat meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan, serta (v) Mendorong terciptanya diversifikasi pasar. Pengembangan tanaman hortikultura yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka mengurangi dampak krisis ekonomi adalah: (i) Meningkatkan mutu dan daya saing produk hortikultura yang berbasis komoditas lokal, (ii) Diversifikasi pasar komoditas hortikultura dan meningkatkan akses petani ke pasar,
IV - 7

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

(iii) Mendorong investasi melalui peran swasta daerah, khususnya melalui perluasan areal tanam, (iv) Mendorong industri benih lokal, (v) Meningkatkan pemanfaatan lahan tidur, serta (vi) Memfasilitasi terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan antara pelaku bisnis dengan petani.

4.3.3 Bidang Peternakan
Peran pemerintah daerah dalam rangka memperkuat pembangunan peternakan untuk mengurangi dampak krisis ekonomi antara lain: (i) Mendorong produksi bahan baku pakan ternak khususnya jagung sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan impor, (ii) Mendorong terciptanya integrasi vertikal dengan menerapkan polapola kemitraan (contract farming) dimana para peternak bergabung dengan perusahaan inti sehingga dapat meningkatkan jumlah dan kualitas komoditas peternakan tersebut, serta (iii) Memperkuat fungsi-fungsi pengawasan penyakit yang berhubungan dengan hewan seperti flu burung, anthrax, dan penyakit lainnya.

4.3.4 Bidang Kelautan dan Perikanan
Beberapa langkah yang dapat diambil pemerintah daerah terkait dengan upaya untuk memperkuat pasar domestik antara lain: (1) Pembenahan peraturan dan sistem perijinan yang menjadi kewenangan daerah dalam rangka peningkatan investasi daerah; (2) Penguatan pasar ikan tradisional; (3) Pengembangan sarana dan prasarana pengolah dan pemasaran ikan yang menjadi kewenangan daerah; (4) Mengembangkan pola kemitraan usaha perikanan; (5) Pembinaan dan penyuluhan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan; (6) Mengembangkan alternatif pekerjaan berbasis perikanan; dan (7) Meningkatkan sistem kelembagaan nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan. Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan, langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain: (1) Meningkatkan produksi perikanan tangkap dan budidaya skala kecil melalui pengembangan sarana dan prasarana perikanan termasuk di pulau-pulau kecil, antara lain saluran tambak tersier, pangkalan pendaratan ikan, dan input yang terjangkau dan tepat waktu, serta penyediaan modal usaha;
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah IV - 8

Upaya memperkuat pasar domestic dan ketahanan pangan adalah langkahlangkah untuk perkuatan bidang kelautan dan perikanan

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

(2) (3)

peningkatan diversifikasi produk olahan ikan melalui pengembangan industri pengolahan tingkat rumah tangga; menjamin keamanan produk pangan bersumber ikan melalui pengawasan dan pengendalian penggunaan bahan berbahaya dalam proses produksi, seperti formalin.

4.3.5 Bidang Kehutanan
Pemerintah daerah sangat dipengaruhi oleh para pemangku kepentingan lain dalam pengelolaan yang berkaitan dengan hutan, yang sistem produksinya cenderung merusak hutan. Oleh karena itu, penguatan peran pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan dapat mengarah pada keadilan (equity) yang lebih baik dan pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan. Pemerintah daerah akan memerlukan dukungan dan pengawasan dari lembaga luar untuk mengelola sumber daya secara tepat (Kaimowitz, 1998 dalam Resosudarmo dan Colfer, 2003). Selain itu, desentralisasi telah menciptakan sejumlah peluang baru bagi masyarakat dan produsen kayu skala kecil untuk memperoleh kendali langsung atas sebagian royalti kayu. Sejauh ini temuan berkaitan dengan proses desentralisasi di Indonesia menunjukkan bahwa kawasan lindung dan konservasi berpotensi menghadapi kemungkinan resiko yang lebih tinggi pada masa otonomi daerah. Akan bijaksana apabila semua pemangku kepentingan yang terlibat memandang otonomi daerah tidak hanya sebagai kekuasaan atas sumber daya, tetapi juga sebagai tanggung jawab.

4.3.6 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah untuk mengatasi dampak krisis keuangan global di bidang energi dan sumberdaya mineral adalah: (i) Pemerintah daerah ikut memantau ketersediaan dan distribusi BBM di wilayahnya, melaporkan kelangkaan serta masalah-masalah yang berkaitan dengan distribusi BBM; (ii) Pemerintah daerah memantau pelayanan listrik, serta terjadinya kasus-kasus pemadaman listrik dan kekurangan pasokan listrik di wilayahnya; (iii) Pemerintah daerah bekerjasama dengan PT PLN dan PT Pertamina membicarakan mutu pelayanan BBM dan listrik di wilayahnya serta berusaha bersama merumuskan langkah-langkah untuk meningkatkan mutu pelayanan energi yang diberikan oleh kedua BUMN tersebut;

IV - 9

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

Dalam hal di wilayahnya terdapat sumber-sumber gas bumi atau infrastuktur pemrosesan dan penyaluran gas bumi yang telah dikembangkan, Pemerintah Daerah meminta kepada PT PGN, produsen/transporter gas bumi yang bersangkutan atau Pemerintah Pusat agar di wilayahnya juga diadakan pelayanan gas bumi; (v) Pemerintah daerah melakukan persiapan untuk mampu menyiapkan RUED (Rencana Umum Energi Daerah), yang telah diamanatkan oleh UU 30 Tahun 2007 Tentang Energi. Agar dapat melakukan tugas ini, Pemerintah Daerah segera melakukan usaha meningkatkan kapasitas institusinya, terutama kemampuan sumberdaya manusia aparatnya; (vi) Pemerintah daerah mengajak penduduk di wilayahnya untuk dapat mengkonsumsi energi secara hemat dan membudayakan kebiasaan ini; (vii) Pemerintah daerah ikut mempromosikan agar penyediaan energi dilakukan dengan mengutamakan sumber-sumber daya energi yang tersedia lokal di wilayahnya, bukan dengan memperbesar “impor.”; (viii) Pemerintah daerah berhati-hati dan berkoordinasi lebih baik dengan instansi lainnya yang terkait dalam pemberian izin WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) di wilayahnya, baik untuk penambangan batubara maupun bahan-bahan mineral golongan C; (ix) Pemerintah Daerah menjalin kerjasama dengan perusahaanperusahaan pertambangan dan energi di wilayahnya dalam rangka mendukung upaya mereka melakukan kegiatan pengembangan masyarakat (community development) dan corporate social responsibility; serta (x) Pemerintah daerah ikut mengawasai agar kegiatan penambangan di wilayahnya tidak menimbulkan dampak negatif kepada lingkungan di wilayahnya; termasuk mengawasi agar di daerahnya tidak berkembang kegiatan-kegiatan pertambangan liar (PELI).

(iv)

4.3.7 Bidang Lingkungan Hidup
Langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah dalam mengurangi dampak krisis ekonomi terhadap bidang lingkungan hidup adalah: (i) Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan pengembangan jasa lingkungan, misalnya ekowisata; (ii) Pengembangan Debt for Nature Swaps (DNS) Bidang Lingkungan Hidup; (iii) Pengembangan Perangkat Ekonomi dan Pendanaan Lingkungan; (iv) Menerapkan instrumen ekonomi dalam kebijakan lingkungan, yaitu menerapkan biaya progresif terhadap konsumen untuk SDA yang digunakan, melakukan retribusi limbah/emisi, melakukan depositrefund, yaitu membeli sisa produk dari konsumen untuk didaur
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah IV - 10

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

(v)

ulang, mewajibkan suatu kegiatan usaha untuk menyerahkan dana kinerja lingkungan sebagai penjamin bahwa pelaku kegiatan/usaha akan melaksanakan reklamasi/konservasi lingkungan akibat dari kegiatan/usaha mereka; serta Pengembangan hutan kemasyarakatan & akses pemanfaatan sumber daya hayati hutan di kawasan konservasi untuk mencegah penjarahan hasil hutan dan illegal logging; budidaya terumbu karang dan ikan hias (mencegah illegal fishing); dan pengembangan ekowisata yang berbasis masyarakat untuk memberikan tambahan penghasilan.

4.3.8 Bidang Perdagangan
Dalam rangka penguatan ekonomi daerah, langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah di bidang perdagangan antara lain: 1. Menjaga daya saing ekspor, dengan memastikan kelancaran arus barang, trade financing, pengelolaan pasokan listrik, UMR, membangun citra dan identitas bangsa, negosiasi dan promosi produk dalam negeri. 2. Penguatan pasar dalam negeri, dengan menindak tegas penyelundupan, pengawasan barang beredar, promosi P3DN, Tarif, TTN, anti dumping dan safeguard, dan Belanja Pemerintah/BUMN. 3. Menciptakan iklim investasi yang kondusif dan memberikan insentif. Hal ini merupakan Implementasi dari PP 62/2008 tentang Fasilitas PPh, Inpres 5/2008, Penyempurnaan Perpres 111/2008, dimana PPh Badan turun dari 30 persen menjadi 28 persen pada 2009 dan 25 persen pada 2010.
Dalam upaya meningkatkan daya saing produk dalam negeri, salah satu sektor industri yang perlu dikembangkan oleh pemerintah daerah adalah sektor industri kreatif

Dalam upaya meningkatkan daya saing produk dalam negeri, salah satu sektor industri yang perlu dikembangkan oleh pemerintah daerah adalah sektor industri kreatif. Pekerja-pekerja kreatif di dalam industri film, musik, permainan interaktif, layanan komputer dan piranti lunak, arsitek, riset dan pengembangan memiliki penghasilan di atas ratarata penghasilkan pekerja di sektor industri lain. Konsentrasi pekerjapekerja kreatif yang tinggi ini menandakan dinamika dan ekonomi yang sehat, serta menjadi magnet investasi dan peluang kerja yang lebih baik. Secara umum, industri kreatif perlu dikembangkan di Indonesia karena dapat memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, menciptakan Iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa, berbasis kepada sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreatifitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa, serta memberikan dampak sosial yang positif.

IV - 11

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

4.3.9 Bidang Investasi
Upaya yang dilakukan dalam mendorong tumbuhnya investasi di daerah antara lain: • Promosi bersama antara BKPM dan Daerah baik di Dalam Negeri maupun di Luar Negeri; • Sosialisasi Undang-Undang Penanaman Modal kepada aparatur Pusat dan Daerah, para pengusaha, masyarakat non dunia usaha, dan pejabat perwakilan RI di Luar Negeri; • Konsolidasi Perencanaan Pelaksanaan Penanaman Modal regional; • Workshop pemahaman PP No.1/2007 Jo. No.62/2008 Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal Di Bidang-Bidang Usaha tertentu Dan/Atau Di Daerah-Daerah Tertentu; • Workshop Pengembangan Potensi Daerah dalam rangka upaya peningkatan investasi; • Matchmaking antara UMKMK dengan pengusaha besar baik di Dalam Negeri maupun di Luar Negeri; • Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam meningkatkan Investasi; • Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2008 tentang pemberian fasilitas dan kemudahan investasi di daerah.

4.3.10 Bidang Infrastruktur
Sektor Transportasi. Sejalan dengan diberlakukannya program desentralisasi, pembangunan infrastruktur transportasi darat, laut dan udara menghadapi beberapa kendala, terutama dalam program pembangunan dan pemeliharaan asset yang ada. Hal ini terjadi bukan saja pada infrastruktur yang secara administratif di bawah pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota, tetapi juga pada infrastruktur yang sudah dikelola oleh BUMN tertentu yang berada di wilayah propinsi dan kabupaten/kota. Penyebabnya adalah belum adanya pengertian yang sama antara pihak terkait tentang sumber pendanaan program pembangunan dan pemeliharaan. Untuk asset yang secara hukum telah menjadi tanggung jawab propinsi dan kabupaten/kota seperti prasarana jalan hampir semua pemerintah daerah tidak mengalokasikan anggaran yang memadai untuk program pembangunan dan pemeliharaan. Di sisi lain untuk infrastruktur transportasi yang sudah dikelola oleh BUMN penyelenggara jasa kepelabuhanan; kebandarudaraan; dan angkutan sungai, danau dan penyeberangan, terdapat kecenderungan masing-masing pemerintah daerah ingin mengambil alih, atau paling tidak meminta bagian keuntungan sebagai sumber pendapatan daerah. Selain itu, sering juga ditemukan berbagai peraturan daerah (Perda) baru yang
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah IV - 12

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

mengenakan pungutan tambahan kepada pengguna jasa. Kondisi ini sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan pemerintah daerah, sebab memang belum adanya kesamaan pengertian tentang hak dan kewajiban antarpihak yang berkepentingan (stakeholders). Untuk mengatasi kesenjangan pemahaman tersebut, sudah saatnya segera diupayakan langkah-langkah pembenahan secara menyeluruh. Upaya ini harus dimulai dari proses perencanaan, pembangunan, pemeliharaan dan pengoperasiannya yang dituangkan dalam peraturan perundangan, sehingga masing-masing pihak yang terkait mengetahui hak dan kewajibannya. Mekanisme proses perencanaan sampai dengan pengoperasiannya sebaiknya menggunakan pendekatan dari bawah (bottom up), yang dimulai dari kabupaten/kota diteruskan ke propinsi dan selanjutnya ke pusat. Dengan demikian usulan tersebut benar-benar merupakan keinginan/kebutuhan daerah. Proses ini tentunya harus mempertimbangkan kemampuan daerah untuk ikut membangun, memelihara dan mengoperasikannya, sehingga memperjelas subsidi/bantuan pemerintah pusat kepada propinsi atau kabupaten/kota yang memang memerlukannya. Demikian pula bila pemerintah daerah akan bekerjasama dengan pihak ketiga, apakah itu BUMN ataupun swasta nasional dan asing. Bila mekanisme tersebut dapat dilaksanakan dijamin akan terjadi saling pengertian dan memperjelas tingkat tanggung jawab masing-masing. Langkah-langkah lain yang dapat dilakukan pemerintah daerah dalam penguatan sektor riil melalui pembangunan infrastruktur transportasi antara lain adalah: · Pembangunan transportasi berbasis kewilayahan dengan memanfaatkan kondisi spesifik daerah; · Pengembangan pelayanan keperintisan dan kelas ekonomi oleh pemerintah daerah; · Mempercepat pelaksanaan kegiatan yang telah menjadi urusan daerah. Pemerintah memberikan bantuan kepada daerah berupa DAK dengan tujuan agar daerah dapat melaksanakan urusan-urusan yang telah menjadi wewenang dan tanggung jawabnya; · Menghapuskan restribusi daerah dan pungutan-pungutan baik resmi maupun tidak resmi di bandar udara, pelabuhan, dan terminal; · Pemerintah daerah dapat melakukan kerjasama operasional dan investasi dengan BUMN atau badan usaha yang bergerak di bidang transportasi untuk melayani masyarakat di daerahnya; · Melakukan kerjasama antar pemerintah daerah untuk memanfaatkan prasarana transportasi secara bersama agar penggunaan dana investasi pemerintah dapat lebih efisien dan efektif. Demikian pula dapat menarik investasi swasta di bidang infrastruktur karena lebih ada jaminan terhadap demand. Masing-masing pemerintah daerah tidak perlu memiliki bandar udara maupun pelabuhan internasional sendiri;
IV - 13 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

·

Menghapuskan monopoli operator sarana dan prasarana transportasi.

Sektor Sumber Daya Air. Langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah dalam penguatan sektor riil melalui pembangunan infrastruktur pengairan antara lain adalah mendorong kinerja infrastruktur irigasi dengan memprioritaskan kegiatan operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi. Irigasi merupakan salah satu penyokong sektor pertanian sehingga keandalan air irigasi perlu mendapat perhatian bersama, ditambah lagi trend harga pangan dunia yang semakin meningkat. Dalam hal ini optimalisasi pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk irigasi menjadi isu yang sangat penting. Selain infrastruktur irigasi, hal lain yang tidak kalah penting adalah infrastruktur penyediaan air baku untuk kebutuhan industri dan domestik. Walaupun hanya sebagai prasarana pendukung, tapi penyediaan air baku menjadi hal yang sangat penting jika dilihat bahwa air merupakan suatu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Sektor Perumahan. Dalam rangka implementasi kebijakan pencegahan dan pengurangan dampak krisis ekonomi, maka langkahlangkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah pada sektor perumahan adalah terutama untuk mendorong sisi pasokan, yaitu sebagai berikut: · Memanfaatkan tanah daerah bagi pembangunan rusunami; · Reformasi bidang administrasi perijinan, terutama pertanahan, guna mempercepat pembangunan rusunami; · Pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan terkait dengan industri/perdagangan bahan bangunan lokal; · Pemanfaatan dana SILPA bagi pembangunan perumahan pegawai negeri. Sektor Permukiman (air minum, air limbah, persampahan dan drainase). Adapun pada sektor permukiman, langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah adalah sebagai berikut: · Meningkatkan prioritas pembangunan air minum, air limbah, persampahan dan drainase; · Meningkatkan alokasi APBD bagi investasi bidang air minum, air limbah, persampahan dan drainase, seperti melalui pemanfaatan dana SILPA; · Meningkatkan efektivitas dan akuntabilitas pemanfaatan ABPD, khususnya bagi pembangunan air minum, air limbah, persampahan dan drainase;

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

IV - 14

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

· · · · ·

Meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta, melalui skema PPP (public-private-partnership); Menciptakan instrumen keuangan yang mampu memobilisasi dana masyarakat untuk membiayai pembangunan prasarana dan sarana air minum, air limbah, persampahan dan drainase; Menyediakan prasarana dan sarana air minum dan air limbah khususnya bagi masyarakat berpendapatan rendah; Menciptakan skema tarif subsidi silang sehingga kebutuhan masyarakat berpendapatan rendah dapat terpenuhi; Meningkatkan kualitas lembaga pengelola air minum, air limbah, persampahan dan drainase.

Sektor Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Indonesia masih membutuhkan investasi yang sangat besar di bidang infrastruktur. Selama kurun waktu tahun 2004-2009 pemerintah hanya mampu memenuhi sebesar 38 persen saja dari kebutuhan total investasi. Hal ini memberikan peluang besar bagi swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS), baik pembangunan infrastruktur baru maupun pengelolaan infrastruktur yang sudah ada. Untuk lebih detailnya bisa dilihat di Gambar 4.1 yang menjelaskan tentang siklus proses Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Siklus ini dirancang berdasarkan Perpres No 67 tahun 2005. Gambar 4.1. Siklus Kerjasama Pemerintah dengan Swasta
Seleksi & Prioritisasi Proyek Studi Kelayakan & Uji Tuntas Proses Tender Negosiasi Manajemen Kontrak

• • •

Analisis kebutuhan (need analysis) identifikasi dan penetapan prioritas proyek Analisis Value for Money

• • • • • •

Studi Kelayakan Identifikasi kebutuhan dukungan Pemerintah Analisis Resiko Pemilihan bentuk KPS Uji Tuntas Penetapan untuk dapat ditenderkan

• • • • • •

Penyiapan dokumen Lelang Penetapan cara evaluasi Pembentukan Panitia (Transaction Team) Proses Lelang Evaluasi Tender Penetapan Calon Pemenang

• • • • •

Checklist negosiasi Pembentukan Tim Negosiasi Negosiasi draft perjanjian kerjasama Negosiasi alokasi risiko Penetapan Pemenang

• • • • • •

Financial closing Konstruksi Commissioning Operasi Monitoring Pengalihan di akhir masa konsesi (jika ada)

Tahapan yang terdapat dalam siklus diatas adalah :
IV - 15 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

Tahap 1 Penetapan Prioritas dan Pemilihan Proyek KPS. Pada tahap ini merupakan proses penyaringan awal dari sekian banyak proyek yang bisa berpotensi untuk dikerjasamakan antara Pemerintah dan Swasta. Penyaringan dilakukan dengan menggunakan Analisis Multi Kriteria (AMK) yakni : (1) Metodologinya dapat diterima; dan (2) Menggunakan tujuantujuan yang ditetapkan Pemerintah sebagai kriterianya. Selain itu juga proyek yang diajukan haruslah proyek yang memiliki pendekatan nilai uang (Value for Money) dan keputusan untuk dilanjutkan didasarkan pada kesiapan (readiness) dari proyek. Tahap 2 Pra Studi Kelayakan/Studi Kelayakan. Proyek-proyek yang sudah lolos pada langkah satu harus dilakukan pra studi kelayakan dan studi kelayakan. Alasan studi ini harus dilakukan adalah sebagai landasan untuk pembuatan dokumen tender sehingga mengurangi biaya-biaya transaksi dan mempercepat implementasi PSP. Selain itu hal tersebut juga menjadi dasar negosiasi dengan Badan Usaha pemenang tender. Termasuk didalamnya adalah negosiasi mengenai alokasi resiko dan dukungan fiskal. Tahap 3 Pengadaan Badan Usaha. Dalam KPS, pengadaan dimaksudkan untuk mendapatkan Badan Usaha yang dianggap mampu sebagai mitra Pemerintah dalam pelaksanaan proyek KPS atau sebagai pemegang konsesi. Pengadaan kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC) menjadi tanggung jawab Badan Usaha pemegang konsesi. Proses pengadaan dilakukan melalui 2 tahap yaitu proses prakualifikasi; proses tender dan seleksi. Diperlukan studi yang mencukupi bagi semua peserta untuk mengikuti tender. Tahap 4 Negosiasi. Pelaksana tender/pemberi kontrak harus memiliki strategi negosiasi. Untuk bernegosiasi dibutuhkan informasi yang memadai agar mampu berinteraksi secara efektif dengan Badan Usaha. Negosiasi sering dianggap sebagai kombinasi antara seni dan keterampilan. Perlu dipahami item-item atau isu-isu yang tidak dapat dinegosiasikan (non-negotiable). Titik awal yang kemungkinan besar menjadi isu utama yang perlu dinegosiasikan dapat diperoleh dari pengalaman; temuan atau hasil yang diperoleh pada waktu melakukan studi kelayakan; dan persyaratan dan kondisi yang dimuat dalam dokumen tender. Beberapa isu kunci yang kemungkinan menjadi topik negosiasi diantaranya: tarif, lahan/tanah, masa konsesi, alokasi resiko, perhitungan biaya modal, klausul-klausul dalam perjanjian yang bersifat spesifik, aspek teknis, spesifikasi output. Tahap 5 Manajemen Proyek. Sering tidak terpikirkan dan sangat penting untuk dipersiapkan adalah upaya mengatur bagaimana pengelolaan proyek dan interaksi antara instansi pemberi kontrak dan Badan Usaha
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah IV - 16

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

pemegang konsesi selama masa konsesi. Manajemen proyek tersebut harus dipersiapkan dan disepakati sebelum perjanjian/kontrak KPS ditandatangani karena memiliki implikasi biaya dan sumber daya yang besar. Empat tahapan besar dalam Manajemen Kontrak: i. Setelah kontrak-sebelum konstruksi ii. Masa konstruksi iii. Masa operasi iv. Saat penyerahan (atau ditawarkan kembali) Dalam rangka meningkatkan kerjasama antara sektor swasta dengan pemerintah di bidang infrastruktur, pemerintah Indonesia melaksanakan proyek IRSDP dengan didukung oleh Bank Pembangunan Asia dan Pemerintah Negara Belanda. Salah satu komponen penting dari IRSDP adalah Project Development Facility (PDF) yang bertujuan untuk mempercepat pelaksanaan proyek KPS. Kegiatan yang akan dilaksanakan PDF antara lain membantu Pemerintah baik pusat maupun daerah dalam : (i) Menyiapkan studi kelayakan proyek infrastruktur; (ii) Melaksanakan proses pelelangan proyek yang terbuka dan transparan; (iii) Melaksanakan transaksi proyek. Bappenas akan bertindak sebagai pelaksana (executing agency) dari proyek IRDSP. Melalui PDF diharapkan partisipasi sektor swasta dalam proyek-proyek infrastruktur di daerah meningkat, pemerintah daerah lebih mampu mempersiapkan proyek KPS dengan baik dan sesuai dengan aturan yang ada, serta kemampuan melaksanakan KPS tersebut di adopsi dengan baik dan digunakan pemerintah daerah dalam melaksanakan proyek-proyek KPS lainnya. Peran PDF dalam siklus KPS adalah memberikan bantuan pada tahap studi kelayakan, proses tender dan negosiasi. Pada tahap identifikasi, diasumsikan sudah dilakukan oleh pemerintah daerah pengusul. Sedangkan pada tahap manajemen kontrak (pasca penandatanganan perjanjian kerjasama/kontrak konsesi) bukan merupakan ruang lingkup PDF. Namun untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam siklus KPS, PDF juga bertugas untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah yang menangani langsung proses KPS. Dari program KPS dan PDF diharapkan bisa membantu pemerintah dalam mengisi keterbatasan sumber pendanaan untuk mempercepat proses infrastruktur. Semakin tinggi informasi dan pengetahuan pemerintah baik pusat maupun daerah dalam pengelolaan PKS akan mempercepat keberhasilan dari proyek-proyek KPS tersebut.

IV - 17

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global

Sektor Energi. Untuk bidang infrastruktur energi dapat dilakukan upaya-upaya dan fasilitasi yang mendorong peranserta para pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif yaitu energi baru terbarukan serta penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan investasi. Sektor Ketenagalistrikan. Turut serta berpartisipasi membangun sistem ketenagalistrikan di daerahnya khususnya yang bersifat tidak tersambung ke jaringan transmisi nasional terutama bagi daerah-daerah tertinggal dan terisolasi di daerahnya serta turut memfasilitasi penggunaan dana perbankan daerah untuk berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Sektor Pos dan Telematika. Untuk sektor telekomunikasi, pemerintah daerah diharapkan mendukung kebijakan pemerintah pusat dalam upaya menciptakan kompetisi yang sehat dan tidak diskriminasi. Mengingat beberapa peraturan pemerintah pusat, seperti pengaturan menara bersama, memberikan ruang kepada pemerintah daerah dalam pelaksanaannya sesuai dengan kewenangannya, pemerintah daerah hendaknya menetapkan peraturan daerah yang sejalan dengan semangat kompetisi tersebut. Peraturan daerah yang tidak bertentangan dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dipastikan akan menjadi insentif bagi keberlanjutan investasi di daerah tersebut yang pada akhirnya akan menciptakan lapangan pekerjaan yang berlanjut.

4.3.11 Bidang Pariwisata
Dengan mengacu pada UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, maka langkah-langkah yang perlu dilakukan pemerintah daerah antara lain: a. Menyusun dan menetapkan rencana induk pembangunan kepariwisataan; b. Menetapkan destinasi dan daya tarik pariwisata berbasis alam, sejarah, budaya dan olahraga; c. Menyelenggarakan pengelolaan/manajemen kepariwisataan di daerah/wilayahnya; d. Memfasilitasi dan melakukan pemasaran dan promosi terutama promosi pariwisata dan produk pariwisata yang berada di wilayahnya; e. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta penelitian kepariwisataan; f. Menyelenggarakan sosialisasi sadar wisata; g. Memperkuat kemitraan dan jaringan kerja antarpelaku, antar pemangku kepentingan dan antar wilayah/daerah; h. Menyusun profil investasi pariwisata; i. Menyusun database kepariwisataan;
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah IV - 18

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

j. Memelihara dan melestarikan aset yang menjadi daya tarik wisata; k. Menyediakan atau mengalokasikan anggaran.

4.3.12 Bidang Kemiskinan
Untuk meningkatkan efektivitas program pembangunan dalam ikut serta mengatasi dampak krisis finansial global terhadap kemiskinan maka di setiap daerah sangat perlu untuk: 1. Meningkatkan koordinasi pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di dalam ketiga Kluster, melalui peran Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPK-D). Sebagaimana diketahui, Ketua TKPK-D adalah wakil Gubernur, yang beranggotakan pula Kepala Dinas/Satker di tingkat provinsi untuk TKPK-Provinsi dan Kepala Dinas/Satker tingkat Kabupaten/Kota untuk TKPK-Kabupaten/Kota. Sehubungan dengan itu, maka secara khusus program-program penanggulangan kemiskinan yang berada dalam 3 klaster dapat secara efektif membantu masyarakat miskin dalam mengatasi dampak krisis ini. 2. Mensinergikan program-program sektoral lainnya untuk melengkapi pelaksanaan program penanggulangan yang dikelompokkan di dalam 3 kluster tersebut, sehingga program-program pembangunan di daerah akan dapat membantu masyarakat dalam mengatasi dampak yang mengenai mereka.

IV - 19

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

BAB V RENCANA KERJA PEMERINTAH DAN KEBIJAKAN FISKAL TAHUN 2009
Perencanaan pembangunan perlu diterjemahkan ke dalam program dan kegiatan pembangunan yang nyata, spesifik, dan jelas besaran alokasi pendanaannya. Pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2004-2009 dituangkan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang telah disepakati bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bab ini akan menjelaskan RKP Tahun 2009 yang membahas hal-hal pokok yang menjadi tema, fokus dan kegiatan prioritas pembangunan, serta prioritas anggaran tahun 2009. Tema RKP 2009 adalah “Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan”. Berdasarkan tema tersebut Buku Pegangan 2009 ini memfokuskan uraian pada upaya Penguatan Ekonomi Daerah.

5.1 RKP Tahun 2009
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004–2009 dan merupakan kelanjutan RKP Tahun 2008. Penyusunan RKP merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004, penyusunan RKP mengacu kepada RPJMN. Di dalam RPJMN Tahun 2004–2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7 tanggal 19 Januari 2004 sebagai penjabaran Visi dan Misi Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden pada tahun 2004, ditetapkan 3 Agenda Pembangunan, yaitu: 1. Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai;
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah V-2

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

2. Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3. Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga Agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Keberhasilan pelaksanaan satu agenda akan ditentukan oleh kemajuan pelaksanaan agenda lainnya, yang dalam pelaksanaan tahunan dirinci ke dalam RKP. Dengan mempertimbangkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya, serta masalah dan tantangan yang akan dihadapi pada pelaksanaan RKP tahun 2009 seperti telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya dalam Buku Pegangan 2009 ini, maka ditetapkanlah Tema Pembangunan Nasional yang menunjukkan titik berat pelaksanaan Agenda Pembangunan. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya yang terbatas, selanjutnya ditetapkan prioritas pembangunan nasional tahunan yang dijabarkan ke dalam fokus, program dan kegiatan pokok pembangunan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan.

5.1.1 Tema RKP Tahun Pembangunan

2009

dan

Pengarusutamaan

Berdasarkan kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan 2008, serta tantangan yang dihadapi tahun 2009 seperti tantangan akan adanya implikasi krisis keuangan global, tema pembangunan pada tahun 2009 adalah PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN PENGURANGAN KEMISKINAN. Di dalam melaksanakan pembangunan yang tertuang dalam RKP ini, terdapat 7 (tujuh) prinsip-prinsip pengarusutamaan yang menjadi landasan operasional bagi seluruh aparatur negara, yaitu: 1. Pengarusutamaan partisipasi masyarakat. Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan harus mempertimbangkan partisipasi masyarakat dalam arti luas. Para jajaran pengelola kegiatan pembangunan dituntut peka terhadap aspirasi masyarakat. Dengan demikian akan tumbuh rasa memiliki yang pada gilirannya mendorong masyarakat berpartisipasi aktif; 2. Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan yang bermanfaat tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan pembangunan generasi berikutnya. Prinsip pembangunan berkelanjutan mencakup tiga tiang utama pembangunan yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan yang saling menunjang dan terkait. Lingkungan hidup yang lestari merupakan
V-3 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

modal dasar pembangunan untuk mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup yang tinggi bagi masyarakat. Pelaksanaan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berlanjut mutlak harus mempertimbangkan upaya pelestarian sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya. Pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan tidak memperhitungkan dampak terhadap lingkungan, serta eksploitasi sumber daya alam yang melebihi daya dukung lingkungan akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang. Untuk itu, pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan pada kegiatan-kegiatan pembangunan, termasuk upaya yang mendukung terhadap antisipasi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan kedalam kegiatan prioritas pembangunan nasional terutama pada sektor-sektor pembangunan yang langsung terkait; 3. Pengarusutamaan gender. Pada dasarnya hak asasi manusia tidak membedakan perempuan dan laki-laki. Strategi pengarusutamaan gender, ditujukan untuk mengurangi kesenjangan gender di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Perempuan dan laki-laki menjadi mitra sejajar, dan memiliki akses, kesempatan, dan kontrol, serta memperoleh manfaat dari pembangunan yang adil dan setara; 4. Pengarusutamaan tata pengelolaan yang baik (good governance). Tata kepemerintahan yang baik melibatkan tiga pilar yaitu penyelenggara negara termasuk pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus bersinergi untuk membangun tata kepemerintahan yang baik di lembaga-lembaga penyelenggara negara (good public governance), dunia usaha (good corporate governance) dan berbagai kegiatan masyarakat. Penerapan prinsipprinsip tata kepemerintahan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan akan menyelesaikan berbagai masalah secara efisien dan efektif serta mendorong percepatan keberhasilan pembangunan di berbagai bidang. Tata kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan negara mencakup lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Terbangunnya tata kepemerintahan yang baik tercermin dari berkurangnya tingkat korupsi, makin banyaknya keberhasilan pembangunan di berbagai bidang, dan terbentuknya birokrasi pemerintahan yang professional dan berkinerja tinggi. Pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi perlu terus dilanjutkan secara konsisten; 5. Pengarusutamaan pengurangan kesenjangan antarwilayah dan percepatan pembangunan daerah tertinggal. Pelaksanaan kegiatan pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia secara merata. Oleh karena masih signifikannya perbedaan pembangunan antara daerah yang sudah relatif maju dengan daerah lainnya yang relatif masih tertinggal, maka
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah V-4

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

diperlukan pemihakan dalam berbagai aspek pembangunan oleh seluruh sektor terkait secara terpadu untuk percepatan pembangunan daerah-daerah tertinggal termasuk kawasan perbatasan, yang sekaligus dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah; 6. Pengarusutamaan desentralisasi dan otonomi daerah. Mengingat kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan di tingkat daerah, maka peran Pemerintah Daerah perlu terus semakin ditingkatkan. Sejalan dengan itu, maka kegiatan pembangunan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna melalui pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah termasuk pendesentralisasian pelayanan-pelayanan kementerian/lembaga yang sebenarnya sudah dapat dan layak dikelola oleh daerah, guna lebih mendekatkan pelayanan dan hasilhasil pembangunan demi kesejahteraan masyarakat; 7. Pengarusutamaan padat karya. Program padat karya produktif dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran, setengah penganggur, dan masalah kemiskinan sementara (transient poverty). Sasaran pemanfaatan program ini adalah penduduk miskin yang untuk sementara waktu sedang menganggur atau setengah menganggur. Melalui program ini mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang memberikan penghasilan (income generating). Lapangan pekerjaan produktif dalam skema ini adalah pekerjaan manual di bidang pembangunan prasarana seperti jalan, jembatan, fasilitas air bersih, fasilitas sanitasi, dan lain-lain. Penetapan kelompok sasaran, jumlah, jenis kegiatan, dan lokasi yangn dipilih, serta penentuan upah dalam pekerjaan yang dirancang di bawah upah minimum yang berlaku di daerah tersebut. Mekanisme sistem penyaluran dan dan pengelolaannya akan dilakukan secara transparan, dan secara teknis dan administrasi kegiatan ini harus dapat dipertanggungjawabkan.

5.1.2 Prioritas Pembangunan Tahun 2009
Sebagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, RKP memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro serta program-program kementerian/lembaga, lintas kementerian/ lembaga, dan lintas wilayah dalam bentuk: (i) kerangka regulasi, serta (ii) kerangka investasi pemerintah dan layanan umum. Prioritas pembangunan nasional tahunan tersebut disusun berdasarkan kriteria sebagai berikut: 1. Memiliki dampak yang besar terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan sesuai tema pembangunan; 2. Memiliki sasaran-sasaran dan indikator kinerja yang terukur sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat; 3. Mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan;
V-5 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

4. Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk melaksanakannya; 5. Realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun. Berdasarkan sasaran yang harus dicapai dalam RPJM Tahun 2004 – 2009, kemajuan yang dicapai dalam tahun 2007 dan perkiraan tahun 2008, serta berbagai masalah dan tantangan pokok yang harus dipecahkan dan dihadapi pada tahun 2009, maka prioritas pembangunan nasional pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan; 2. Percepatan Pertumbuhan Yang Berkualitas Dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung Oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur dan Energi; 3. Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, serta Pemantapan Demokrasi dan Keamanan Dalam Negeri.

5.1.3 Prioritas Terkait Penguatan Ekonomi Daerah dalam RKP Tahun 2009
Berbagai prioritas pembangunan dalam RKP Tahun 2009, khususnya prioritas 1 dan 2 yang ditujukan untuk penguatan ekonomi daerah sebagai langkah antisipasi krisis keuangan global, dapat ditempuh dengan sasaran, fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut: A. Prioritas 1: Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan Sasaran Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan pada tahun 2009, terkait dengan penguatan ekonomi daerah antara lain: Kemiskinan 1. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat miskin, sehingga diharapkan angka kemiskinan dapat diturunkan menjadi 12-14 persen; 2. Terlaksananya program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat, PNPM Mandiri: (i) mencakup seluruh kecamatan baik di perdesaan maupun di perkotaan; (ii) meningkatnya harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM Mandiri; 3. Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin; 4. Tersedianya subsidi beras bagi masyarakat miskin (Raskin);
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah V-6

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

5. Tersedianya Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ekonomi Usaha Rakyat 1. Terselenggaranya penguatan kelembagaan ekonomi; 2. Meningkatnya pengembangan agroindustri perdesaan; 3. Meningkatnya pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya pelaku usaha perikanan dan masyarakat pesisir. Sumber Daya Air 1. Terbangunnya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku; 2. Terbangunnya tampungan untuk air baku; 3. Optimalnya fungsi tampungan, prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku; 4. Terbangunnya dan optimalnya prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan; 5. Optimalnya fungsi sarana/prasarana pengendali banjir dan prasarana pengaman pantai. Transportasi 1. Meningkatnya aksesibilitas pelayanan transportasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat melalui pembangunan prasarana dan penyediaan sarana angkutan transportasi di wilayah perkotaan, perdesaan, daerah terpencil, pedalaman dan kawasan perbatasan, serta pulau-pulau kecil dan pulau terluar dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dan mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan nasional, termasuk penyediaan angkutan massal, pemberian subsidi operasi keperintisan dan penyediaan kompensasi untuk public service obligation (PSO). Energi 1. Pemenuhan kebutuhan energi terutama di perdesaan dan pulau-pulau terpencil untuk masa datang dalam jumlah yang memadai dan berkesinambungan, melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi setempat yang terbarukan (mikro hidro, angin, surya, dan bahan bakar nabati) beserta kelembagaannya untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. Ketenagalistrikan 1. Meningkatnya rasio elektrifikasi menjadi sebesar 65 persen dan rasio elektrifikasi perdesaan menjadi sebesar 94 persen 2. Berkembangnya partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat di berbagai wilayah dalam pengembangan ketenagalistrikan di daerah khususnya untuk pengembangan listrik perdesaan.
V-7

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

3. Meningkatnya penggunaan produksi listrik di wilayah perdesaan yang menggunakan energi terbarukan setempat. 4. Meningkatnya kemampuan swadaya masyarakat dalam mengelola sistem ketenagalistrikan di daerahnya. Pos dan Telematika 1. Tersedianya layanan pos di 93% kantor pos cabang luar kota, layanan telekomunikasi di 100% wilayah USO, siaran televisi di 19 provinsi wilayah blank spot dan perbatasan. Perumahan dan Permukiman 1. Meningkatkan penyediaan hunian sewa/milik yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembangunan rumah susun sederhana sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya, penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah susun sederhana (RSH) dan rumah susun, fasilitasi pembangunan dan perbaikan perumahan swadaya, fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru, perbaikan rumah, dan penyediaan prasarana-sarana dasar di permukiman kumuh, desa tradisional, desa nelayan, dan desa ekstransmigrasi, serta peningkatan kualitas lingkungan perumahan; 2. Meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan (air limbah, persampahan dan drainase) melalui pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat; serta 3. Meningkatnya pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan untuk menunjang kawasan ekonomi dan pariwisata melalui pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan pada kawasan strategis, skala regional dan sistem terpusat. Arah Kebijakan, Fokus dan Kegiatan Prioritas Dalam rangka mencapai sasaran tersebut ditempuh arah kebijakan yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: perlindungan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat miskin, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi usaha rakyat, yang didukung dengan peningkatan pelayanan dan infrastruktur dasar. Arah kebijakan untuk mencapai sasaran di atas ditempuh melalui berbagai program pembangunan dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut:
Fokus 1.

a)

Pembangunan dan Penyempurnaan Sistem Perlindungan Sosial Khususnya Bagi Masyarakat Miskin Penyempurnaan Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sosial dengan target bantuan kepada korban bencana alam 5,25 juta jiwa;
V-8

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

b) c)

d) e) f) g) h) i) j) k) l) m) n) o) p)

q)

r) s)
V-9

korban bencana sosial 350.000 jiwa dan BRR 19.000 KK di 33 provinsi; Penyempurnaan Pelaksanaan Bantuan Tunai Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin yang Memenuhi Persyaratan dengan target 720.000 KK di 13 provinsi; Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar Bagi Anak, Lanjut Usia dan Penyandang Cacat dengan target layanan terhadap 212.880 anak; 32.788 lanjut usia terlantar; 5.482 tuna sosial; 4.200 korban napza; dan 44.947 penyandang cacat di 33 Provinsi; Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Anak (PUA) dengan target PUG di 18 K/L, 10 provinsi & 50 kab/kota; Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan/Anak (P2TP2A) dengan target terlaksananya fasilitasi pembentukan P2TP2A di 40 kab/kota; Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SMP dengan target 751.193 siswa; Penyediaan Beasiswa bagi siswa miskin jenjang SD dengan target 1.796.800 siswa; Beasiswa untuk Siswa Miskin MI dengan target 640.000 siswa; Beasiswa untuk Siswa Miskin MTs dengan target 540.000 siswa; Beasiswa untuk siswa miskin SMA dengan target 248.124 siswa; Beasiswa untuk siswa miskin SMK dengan target 329.000 siswa; Beasiswa untuk Siswa Miskin MA dengan target 320.000 siswa; Penyediaan Beasiswa Untuk Mahasiswa Miskin dan Peningkatan Prestasi Akademik, Serta Bantuan Belajar dan Daerah Konflik dan Bencana dengan target 590.000 mahasiswa; Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin di Perguran Tinggi Agama dengan target 65 ribu orang; Pelayanan Kesehatan Bagi Penduduk Miskin di kelas III Rumah sakit dengan target 76,4 juta penduduk miskin; Pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya dengan target seluruh penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya; Jaminan Pelayanan KB Berkualitas Bagi Rakyat Miskin dengan target tersedianya Alokon dan pelayanan Kontap gratis bagi 916.900 PB Miskin (Implant, IUD, MOP/MOW) dan 9.589.700 PA Miskin (suntik, pil, kondom), serta ayoman melalui perluasan akses dan peningkatan kualitas pelayanan KB; Penyediaan Subsidi Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) dengan target penyediaan beras untuk 19,1 juta masyarakat miskin, sebanyak 20 kg per RTM selama 12 bulan; Penyediaan Bantuan Langsung Tunai dengan target rumah tangga sasaran yang mencakup Rumah Tangga Sangat Miskin,
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

t)

Rumah Tangga Miskin, dan Rumah Tangga Hampir Miskin di 33 provinsi; Pembiayaan jaminan kesehatan dengan target 100 persen klaim pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin terverifikasi. Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan PNPM Perdesaan dengan Kecamatan Grant (PNPM Perdesaan) dengan target pemberdayaan di 2.886 kecamatan (BLM & T/A); Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (PNPM Perkotaan) dengan target perluasan kelurahan di 1.072 kecamatan; Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (RISE) dengan target 1.817 desa di 237 kecamatan; Peningkatan Infrastruktur Pedesaan Skala Komunitas (PPIP/RISPNPM) dengan target pemberdayaan di 3.200 desa; Peningkatan Kualitas Lingkungan Perumahan Perkotaan dengan target 285 kelurahan di 32 kab/kota; Penyediaan dan Perbaikan Infrastruktur Pertanian dengan target JITUT 70.000 ha, JIDES 40.000 ha, TAM 20.000 ha, Balai Subak 20 unit, Irigasi air permukaan 205 unit, Sumur resapan 450 unit, pompa hydram 8 unit, embung 200 unit, irigasi tanah dangkal 400 unit, irr tanah dalam 50 unit, irr bertekanan 135 unit, JUT 470 km, jalan produksi 300 km, Optimalisasi lahan 21.000 ha, Konservasi lahan 500 ha, Reklamasi lahan 4.500 ha, PLTB di lahan rawa 500 ha, Konservasi DAS 15.000 ha, fasilitasi sertifikasi lahan petani 25.000 bdg, Pengembangan SRI 50 paket, pengembangan dampak SRI 50 unit, cetak sawah 25.000 ha, pendampingan cetak sawah 25 kab, pembukaan lahan kering 2.500 ha, peral horti 3.500 ha, peral bun 4.500 ha, pengembangan HMT 3.000 ha, padang pengembalaan 500 ha, PHLN (WISMP, PISP, NTB-WRMP, IDB, POST TSUNAMI, DRIP IRRIGATION) 6 paket; Penguatan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Melalui LM3 dengan target tersalurkannya bantuan permodalan kepada 200 lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat (LM3); terselenggaranya pengembangan hortikultura melalui LM3 dan bantuan sosial pada 32 kawasan dan sentra produksi hortikultura potensial lainnya di 33 provinsi; pengembangan LM3 Peternakan 340 klp, LM3 kambing/domba 53 klp dan SDM 250 klp; dan fasilitasi 150 LM3 pengolahan dan pemasaran hasil; Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) dengan target pengembangan PUAP di 10.000 desa; Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus dengan target pemberdayaan masyarakat di 32 kabupaten tertinggal,
V - 10

Fokus 2.

a) b) c) d) e) f)

g)

h) i)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

j) k) l)

bantuan sosial ke 1.044 desa tertinggal; 2 paket pelatihan @ 16 orang/kab (2.448 peserta); Percepatan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (P2IPDT) dengan target prasarana perdesaan di 800 desa tertinggal di 148 kabupaten, 29.850 unit PLTS di 952 desa tertinggal; Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal (P2SEDT) dengan target 14.800 kader penggerak pembangunan, 1.480 kelompok masyarakat, 148 kabupaten; Pemberdayaan keluarga, fakir miskin melalui keterampilan usaha dan pemberdayaan KAT dengan target 130.201 KK fakir miskin; 3.300 keluarga rentan; 6.565 keluarga muda mandiri di 33 provinsi. Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil Penyediaan Skim Penjaminan Kredit UMKM termasuk untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang didukung Pendampingan kepada 3.500 UKM oleh 500 BDS; Penyediaan Dana Bergulir Untuk Kegiatan Produktif Skala Usaha Mikro Dengan Pola Bagi Hasil/Syariah dan Konvensional Ternasuk Perempuan Pengusaha dengan target 75.000 UMi/3.000 Koperasi/LKM; Bimbingan Teknis/Pendampingan dan Pelatihan Pengelola LKM/KSP dengan target 2.800 Koperasi/LKM; Pelatihan Fasilitator Budaya/Motivasi Usaha dan Teknis Manajeman Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 1.000 koperasi; Pembinaan Sentra-Sentra Produksi UMKM di Daerah Terisolir dan Tertinggal/Perbatasan dengan target 60 sentra/1.700 UMI; Fasilitasi Pengembangan Pemasaran Usaha Mikro Melalui Koperasi dengan target 4.300 UMI; Penyediaan Dana Melalui Koperasi Untuk Pengadaan Sarana Produksi Bersama Anggota dengan target 125 koperasi; Pemberdayaan Ekonomi, Sosial dan Budaya Pelaku Usaha Perikanan dan Masyarakat Pesisir dengan target Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir di 100 kab/kota, berkembangnya usaha perikanan budidaya di 200 kb/kota, penyediaan sarana perikanan tangkap di 33 provinsi dan meningkatnya akses permodalan di 5 lokasi, serta pemberdayaan perempuan pesisir / lembaga adat; Pengembangan Agroindustri Perdesaan dengan target peningkatan daya saing komoditas hortikultura melalui pembenahan SCM di 62 kab/kota di 22 provinsi; peningkatan pelayanan investasi hortikultura melalui PATIH (Fasilitasi Investasi) terpadu di 32 kawasan daerah sentra produksi potensial lainnya pada 33 provinsi; pembukaan ULIB Baru 300
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Fokus 3.

a) b)

c) d) e) f) g) h)

i)

V - 11

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

j) k) l) m)

n)

o)

unit, Integrasi Tanaman-ternak sapi/kerbau 22 klp, UPJA Penetas Unggas dan Pengolah Pakan 25 klp; Industri pengolahan berbasis tepung lokal 29 kab, pengolahan hasil horti di 50 kab, Pengolahan hasil bun di 40 kab, pengolahan hasil ternak di 15 kab. Pengolahan pakan ternak di 15 Kab; Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Perbatasan dengan target 2 paket; Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Tertinggal dengan target 10 paket; Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh dengan target 2 paket; Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT) dengan target berkembangnya kawasan produksi pada 120 kabupaten (termasuk kabupaten NAD – Nias ex. BRR) melalui 1.440 kelompok masyarakat di 360 desa tertinggal; Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT) dengan target berkembangnya pusat pertumbuhan berbasis lokal pada 44 kabupaten melalui 816 kelompok masyarakat di 204 desa tertinggal; Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan dengan target terlaksananya pengembangan di 55 kawasan agropolitan (lanjutan). Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Sumber Daya Air Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku dengan debit layanan 3,04 m3/det; Pembangunan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya pembangunan tampungan untuk air baku sebanyak 46 buah; Rehabilitasi Tampungan Untuk Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi tampungan untuk air baku sebanyak 26 buah; Rehabilitasi Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terlaksananya rehabilitasi prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku sebanyak 11 buah; Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku dengan target terpeliharanya prasarana pengambilan dan saluran pembawa untuk air baku di 26 titik;
V - 12

Fokus 4.

A. a)

b) c) d)

e)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

f) g)

h) i)

Operasi dan Pemeliharaan Tampungan Untuk Air Baku dengan target terpeliharanya tampungan untuk air baku di 54 lokasi; Pembangunan/Peningkatan Prasarana Air Tanah Untuk Air Minum Daerah Terpencil/Perbatasan dengan target terlaksananya pembangunan prasarana air tanah untuk air minum di daerah terpencil/perbatasan; Rehabilitasi Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya rehabilitasi sarana/prasarana pengendali banjir di 46 lokasi; Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir dengan target terpeliharanya prasarana pengendali banjir di alur sungai sepanjang 240 km. Bidang Energi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energi perdesaan, peningkatan aksesibilitas energi perdesaan, tersosialisasikannya pemanfaatan Biofuel di sektor industri dan bangunan, pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik, pengembangan desa wisata energi, terwujudnya kelembagaan energi terbarukan perdesaan, terlaksananya Program IMIDAP. Bidang Ketenagalistrikan Listrik Perdesaan dengan target rasio desa berlistrik 94% yang dicapai melalui pembangunan listrik perdesaan; 67.500 unit pembangkit listrik tenaga (PLT) surya berkekuatan 50 WP; 15 unit PLT bayu berkekuatan 80KW; 2 unit PLT mikro hidro (PLTMH) dengan kekuatan 150 KW; Gardu Distribusi sebanyak 1.100 buah/53.100 KVA; jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 2.750 KMS; dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 2.150 KMS. Bidang Pos dan Telematika Penyediaan Infrastruktur Pos dan Telematika di Daerah Non Ekonomis dengan target jasa layanan pos di 2.350 kantor pos cabang luar kota sebagai pelaksanaan program PSO pos, jasa akses telekomunikasi di 38.471 desa dan internet di 500 desa, dan infrastruktur pemancar televisi di daerah blank spot dan perbatasan di 19 provinsi (pelaksanaan PHLN Improvement of TV Transmitting Station Phrase-I). Bidang Permukiman dan Perumahan Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh, Desa Tradisional, Desa Nelayan, dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

B. a)

C. a)

D. a)

E. a)

V - 13

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

b)

c)

d)

e)

f) g)

Stimulasi Pembangunan Baru dan Perbaikan Rumah di Permukiman Kumuh, Desa Tradisional, Desa Nelayan, dan Desa Eks-Transmigrasi sebanyak 10.000 unit; Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh, Desa Tradisional, Desa Nelayan, dan Desa Eks-Transmigrasi dengan target tersedianya Fasilitasi dan Stimulasi Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar di Permukiman Kumuh, Desa Tradisional, Desa Nelayan, dan Desa EksTransmigrasi sebanyak 10.000 unit Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana dengan target terlaksananya Bantuan Pembangunan dan Perbaikan Rumah di Kawasan Perbatasan dan Bencana sebanyak 1000 unit; Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di 1.669 desa; Pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan target terlaksananya Pembangunan sistem penyediaan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah di 41 kawasan; Fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya dengan target tersedianya fasilitasi dan Stimulasi Pembangunan Perumahan Swadaya sebanyak 10.750 unit; Penyediaan Sarana dan Prasarana Permukiman di Pulau Kecil / Terpencil dengan target tersedianya sarana dan prasarana permukiman di pulau kecil / terpencil di 32 kawasan. Bidang Transportasi Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Kawasan Perbatasan di 118 km; Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar dengan target terlaksananya Pembangunan Jalan di Pulau-Pulau Terpencil dan Pulau Terluar sepanjang 52 km; Pengadaan Bus Perintis dengan target terlaksananya Pengadaan Bus Perintis sebanyak 70 unit; Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan dengan target tesedianya Subsidi Operasi Perintis Angkutan Jalan di 153 lintas di 21 provinsi; Pemberian Subsidi PSO PT. KAI untuk pelayanan angkutan KA kelas ekonomi; Subsidi Pelayaran Perintis dengan target tersedianya Pelayanan Pelayaran Perintis di 62 trayek; Pemberian subsidi PT. Pelni Rp. 850 M;
V - 14

F. a) b) c) d) e) f) g)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

h) i)

j)

Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis dengan target tersedianya Subsidi Operasi Lintas Penyeberangan Perintis di 70 lintasan, antar provinsi 8 lintasan untuk 36 buah; Subsidi Angkutan Udara Perintis dan Angkutan BBM Penerbangan Perintis dengan target tersebar di 15 provinsi: NAD, Sumut, Sumbar, Kaltim, Kalteng, Sulut, Sulsel, Sulbar, Sultra, Sulteng, NTT, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat; Peningkatan Infrastruktur Perdesaan Skala Komunitas (PPIP/RISPNPM) dengan target 3.200 desa.

B. Prioritas 2: Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, dan Energi Sasaran Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam prioritas Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, dan Energi pada tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Meningkatnya investasi dalam bentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 12,1 persen; 2. Meningkatnya ekspor non-migas sekitar 13,5 persen; 3. Meningkatnya jumlah perolehan devisa dari sektor pariwisata menjadi sekitar USD 8 miliar dan meningkatnya wisatawan nusantara menjadi sekitar 226 juta perjalanan; 4. Tumbuhnya pertanian, perikanan, dan kehutanan sebesar 3,7 persen yang terdiri dari pertumbuhan tanaman bahan pangan sebesar 4,9 persen, perkebunan sebesar 4,4 persen, peternakan dan hasilnya sebesar 4,9 persen, dan perikanan sebesar 5 persen; 5. Tumbuhnya industri pengolahan non-migas sebesar 6,0 persen; 6. Menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 7 - 8 persen dari angkatan kerja. Arah Kebijakan, Fokus dan Kegiatan Prioritas Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan tersebut ditempuh arah kebijakan sebagaimana dalam Bab 16, Bab 17, Bab 18, Bab 19, Bab 22, Bab 31 dan Bab 32 Buku II dengan fokus dan kegiatan prioritas sebagai berikut:

V - 15

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

EKONOMI– dengan fokus pertumbuhan Fokus 1. Meningkatkan Daya Tarik Investasi a) Penyederhanaan prosedur, peningkatan pelayanan dan pemberian fasilitas penanaman modal dengan target Terwujudnya peningkatan pelaksanaan pelayanan penanaman modal dan operasional kelembagaan 3 UPIT (Unit Pelayanan Investasi Terpadu) di Pekanbaru, Manado, dan Kendal, dan penyediaan sarana dan prasarana 3 UPIT; b) Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana Investasi dengan target terbangunnya satu sistem pelayanan informasi & perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) secara bertahap di 33 Prov & 50 Kabupaten/Kota dan 16 Instansi Terkait; c) Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Investasi (KEKI) dengan target Penyusunan 4 Peraturan Pemerintah dan sosialisasi UU KEK di 12 provinsi dan 4 negara; d) Peningkatan promosi investasi di dalam negeri dengan target Indonesia Investment Expo sebanyak 15 kali, seminar 8 kali di dalam negeri, talk show 3 kali di dalam negeri, publikasi melalui inflight magazine penerbangan nasional, koran nasional (bilingual) ), information kit dalam 5 bahasa (Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, dan Indonesia); e) Peningkatan promosi investasi terintegrasi di luar negeri dengan target Marketing Intelligence (MI) di 12 negara ; Pemberdayaan Kantor Investasi Luar Negeri (KILN) di 7 negara ; Marketing Investasi Indonesia (MII) di 5 negara, promosi investasi nasional Indonesia melalui media cetak internasional; f) Pemantapan Koordinasi Penegakan Hukum di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan target tersusunnya 24 laporan hasil pengawasan / pemeriksaan / penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum di bidang pasar modal dan lembaga keuangan; serta tersusunnya 38 pedoman / manual / peraturan yang melandasi pengawasan, pemeriksaan penyidikan dan pengenaan sanksi atas pelanggaran hukum, termasuk pengaturan terhadap lembaga pembiayaan seperti Indonesia Infrastructure Fund. Peningkatan Ekspor Bernilai Tambah Tinggi dan Diversifikasi Pasar Penyelenggaraan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) dengan target meningkatnya kapasitas kelembagaan 14 ITPC dalam rangka penetrasi pasar ekspor tradisional dan non tradisional, serta berdirinya 6 ITPC baru;
V - 16

Fokus 2.

a)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

b) c)

d)

e)

f)

g)

h)

i)

j)

k)

l)
V - 17

Pengembangan promosi dagang dengan target partisipasi pada 33 pameran dagang internasional di dalam dan luar negeri, 3 kegiatan Indonesian week dan misi dagang di 7 negara potensial; Penyelenggaraan dan Pengembangan Pusat Promosi Terpadu (Indonesian Promotion Office/IPO) Bidang Pariwisata, Perdagangan dan Investasi dengan target penyelenggaraan 1 IPO yang ada dan pendirian 1 IPO baru; Peningkatan Kualitas dan Design Produk Ekspor, Dalam Rangka Indonesian Design Power dengan target Meningkatnya kualitas 150 produk; terbentuknya 7 lokasi/daerah yang dapat melayani peningkatan pengemasan produk pangan UKM; dan terdaftarnya 1000 merek/produk; Pembentukan dan Pengembangan Nasional Single Window (NSW) dan Asean Single Window (ASW) dengan target pengembangan sistem perijinan ekspor dan impor secara elektronik dalam rangka pelaksanaan National Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) untuk mendukung pasar tunggal ASEAN (77 perijinan online); dan terlaksananya pilot project NSW di 3 (tiga) pelabuhan utama; Peningkatan Partisipasi Aktif dalam Perundingan di Berbagai Fora Internasional dengan target partisipasi aktif dalam 175 sidang internasional (termasuk penyelenggaraan sidang) baik yang bersifat bilateral regional, dan multilateral; Fasilitasi Pengembangan Destinasi pariwisata unggulan berbasis alam, sejarah, budaya, dan olahraga dengan target terselenggaranya 90 kegiatan dukungan pengembangan kepariwisataan di 15 destinasi unggulan pariwisata; Peningkatan Kegiatan Meeting, Incentives, Conferences and Exhibitions (MICE) dengan target terselenggaranya 15 kegiatan fasilitasi penyelenggaraan MICE di dalam negeri dan di luar negeri; Pengembangan sarana dan prasarana promosi pariwisata dengan target terselenggaranya 100 kegiatan promosi melalui media cetak dan elektronik yang digunakan dalam pemasaran pariwisata Indonesia; Pendukungan pengembangan kebijakan pemasaran dan promosi pariwisata daerah dengan target terselenggaranya 48 kegiatan dukungan promosi pariwisata dalam rangka partisipasi event di 33 provinsi; Pengembangan kebijakan SDM kebudayaan dan pariwisata nasional dengan target terselenggaranya diklat peningkatan kompetensi untuk 1.000 pelaku kepariwisataan di 15 destinasi pariwisata unggulan; Pendukungan pengembangan kapasitas pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan dengan target terselenggaranya diklat
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

aparatur pemerintah daerah untuk 990 peserta bidang kebudayaan dan kepariwisataan di 33 provinsi.
Fokus 3.

a)

b)

c)

Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Pertanian dan Pengembangan Kawasan dengan target (1) Terlaksananya pengawalan peningkatan produksi & produktivitas komoditas serealia dan kabi di 33 provinsi, (2) Pengembangan kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar di 100 kab, (3) Pengembangan tanaman pangan unggulan lokal (shorgum, gandum, tal; (1) Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk hortikultura melalui penerapan GAP di 33 provinsi, (2) berkembangnya 32 komoditas hortikultura di 29 provinsi, 90 kab/kota, (3) terselenggaranya manajeman pengembangan hortikultura di 33 provinsi; Produksi dan distribusi 3 juta ds semen beku, Pengadaan 1829 ekor pejantan dan fasilitasi 2 Balai inseminasi buatan, serta POPT inseminator; Bantuan Benih/Bibit Sarana Produksi Pertanian dan Perbaikan Mekanisme Subsidi Pupuk dengan target: Pertama, tersalurkannya bantuan benih untuk SL-PTT: (1) padi non hibrida 25.000 ton (1 juta ha); (2) Padi hibrida 750 ton (50 ribu ha), (3) jagung hibrida 1.125 ton (75.000 ha), (4) kedelai 4.000 ton, (5) koordinasi dan pengawalan di 32 provinsi; Kedua, terselenggaranya kegiatan operasional dalam rangka pengembangan perbenihan (operasi BBPPMBTPH, 29 BPSBTPH, 60 BBI, pembinaan 1000 penangkar (5.000 ha), pembinaan & pengembangan perbenihan di pusat dan 33 provinsi; Ketiga, perbanyakan benih hortikultura dan operasionalisasi BBh di 32 provinsi, operasional lab kultur jaringan di 20 provinsi dan penguatan kelembagaan BPSB TPH di 30 provinsi ditambah dengan BPMB TPH cimanggis, Bantuan benih kepada penangkar hortikultura di 23 propinsi, 90 kab/kota, terselenggaranya pembayaran BOP Pengawsan benih (522 orang), terselenggaranya operasional kelembagaan perbenihan; Keempat, pembangunan Kebun Bibit Tebu 1.200 ha, Bongkar Ratoon Tebu 3.000 Ha, KTG 1.760 Ha, Perluasan Areal Tebu 500 ha, rekruitmen dan operasional Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapang Pembantu TKP (PL-PTKP) 224 orang; Peningkatan Penanganan Pasca Panen dan Pemasarana Komoditas Pertanian dengan target revitalisasi penggilingan padi kecil 1.500 unit, Gudang pengering padi 139 kab, Operasionalisasi Silo Jagung 56 unit, Revitalisasi Silo 18 unit, Cold Room 24 lokasi, Lantai Jemur 138 Kab, Revitalisasi STA dan Kemitraan 50 unit, Operasionalisasi Pasar Tani 34 lokasi, Revitalisasi LDM 10 unit, Petugas informasi pasar 300 petugas
V - 18

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

d) e)

f)

g)

h)

i)

j) k) l)

dan sistem informasi harga / pasar di 110 kab, Rehab pasar hewan 15 kab; Penyediaan Dana Subsidi Bunga Kredit Ketahanan Pangan dan Energi Penyediaan Dana Subsisi Pupuk dengan target produksi Urea sebanyak 4 juta ton, SP-36 sebanyak 700 ribu ton, ZA sebanyak 600 ribu ton, NPK sebanyak 1,5 juta ton, dan pupuk organik sebanyak 900 ribu ton Penyediaan Dana Subsidi Benih dengan target padi non hibrida 95.000 ton, jagung komposit 2.000 ton, jagung hibrida 3.000 ton dan kedelai 2.000 ton serta Cadangan benih nasional sebanyak 48.000 ton padi non hibrida, 6.800 ton jagung hibirda dan 12.300 ton kedelai; Penyediaan Dana Alokasi Khusus Untuk Mendukung Peningkatan Ketahanan Pangan dengan target sarana dan prasarana perbenihan tan. Pangan, pengadaan pangan dan infrastruktur pangan; Pengembangan Desa Mandiri Pangan dan Penanganan Rawan Pangan dengan target meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah ketersediaan, distribusi dan rawan pangan, penguatan kelembagaan pangan di pedesaan, pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) pada 1103 desa mandiri pangan di 240 kab serta pemberdayaan lumbung pangan/tunda jual di 33 provinsi; pengembangan PIDRA di 14 kabupaten (3 provinsi); Diversifikasi Pangan dengan target terlaksananya gerakan pangan beragam, bergizi seimbang bersumber pangan lokal melalui peningkatan peran 412 UMKM pangan/usaha makanan tradisional, 201 SD/MI, ibu hamil, menyusui dan balita di 32 provinsi pada 201 Kab/Kota, dan Kampanye melalui berbagai media (cetak dan elektronik); Peningkatan partisipasi mahasiswa/Perguruan Tinggi dalam percepatan diversifikasi pangan; Penyediaan cadangan beras pemerintah dengan target 500 ribu ton; Pengembangan Pembibitan Sapi dengan target pengadaan 2.231 ekor Brahman eks-impor dan fasilitasi 8 UPT Pembibitan ; Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Penyakit Hewan, Karantina Dan Peningkatan Keamanan Pangan dengan target (1) Operasional BBPOPT-Jatisari, (2) Operasional BPMPT, (3) Operasionalisasi 29 BPTPH provinsi dengan lingkup kerja meliputi 429 kab, (4) penanggulangan OPT dan dampak fenomena iklim (brigade proteksi) di 33 provinsi, (5) pembinaan pengembangan perlindungan tanaman di pusat dan 33 provinsi,

V - 19

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

m)

n) o) p) q) r) s) t) u) v)

(6) pengawasan pestisida di 33 provinsi, (7) insentif 3.051 POPT/PHP, (8) kontrak 1.300 THK-POPT; Penanganan dan Pengendalian Virus Flu Burung Pada Hewan dan Restrukturisasi Perunggasan dengan target vaksinasi Al 50 jt ds, Biosecuriti 600 rr ltr Depopulasi, Kompensasi 200rb ekor dan Penataan unggas di pemukiman di 40 lokasi; Pembangunan/Peningkatan Jaringan Irigasi dengan target seluas 70.000 ha; Rehabilitasi Jaringan Irigasi dengan target seluas 240.000 ha; Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (WISMP) dengan target terlaksananya kegiatan di 15 Propinsi, 85 Kabupaten/Kota; Peningkatan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PISP) dengan target terlaksananya kegiatan di 6 Propinsi, 25 Kabupaten/Kota; Pembangunan/Peningkatan Jaringan Rawa dengan target seluas 20.700 ha; Rehabilitasi Jaringan Rawa dengan target seluas 164.806 ha; Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi dengan target terpeliharanya jaringan irigasi seluas 2.100.000 ha; Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Rawa dengan target terpeliharanya jaringan rawa seluas 530.000 ha; Koordinasi, monitoring & evaluasi, stabilisasi harga bahan pokok, cadangan pangan dan penanganan pangan strategis dengan target 6 rumusan kebijakan stabilisasi harga bahan pokok cadangan pangan dan penanganan pangan strategis. Peningkatan Kualitas Pertumbuhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Peremajaan Tanaman Perkebunan Rakyat dan Pengembangan Perkebunan Komersial (Bahan Baku Energi) dengan target (1) Pengembangan Kapas Rakyat 25.000 ha, Rekrutmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Kapas 164 Orang, Peremajaan Kelapa Rakyat 8.000 ha, Pengembangan Kako Non Revit, Karet, Jambu Mete, Kopi dan Tembakau seluas 10.000 ha, pengembangan teh 300 ha, Lada 800 ha, cengkeh 700 ha dan pala 400 ha, Pengembangan komoditi spesifik (gambir, nilam, akar wangi, wijen, jarak kepyar, panili) seluas 2.500 ha; Pengembangan Komoditi Potensial (Kina, Pinang, Aren, dan sagu) seluas 177 Ha; Pengawalan Revitalisasi Perkebunan (Karet, Kakao dan Kelapa sawit) seluas 529.000 ha, Rekruitmen dan Operasionalisasi TKP dan PLPTKP Revit (724 orang), Rehab Bangunan UPP 27 unit, Sepeda Motor 181 Unit; Penguatan Kelembagaan, Pembangunan kebun induk jarak pagar 409 ha dan Pengutuhan Tanaman jarak Pagar seluas 2.200 ha; Pengembangan sumber benih kakao 15 provinsi, karet 14 provinsi, kopi 15 provinsi, lada 6 provinsi, jambu mete 7 provinsi
V - 20

Fokus 4.

a)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

b)

c)

d)

dan kelapa 8 provinsi; (2) Meningkatnya kapasitas 183.935 TCD, mendorong terbangunnya 8 PG baru, meningkatnya overall recovery di atas 85%, areal tanam 275.000 ha, produksi hablur 2.300.000 ton, ha ; Kelapa rakyat 30.000 ha; lada 800 ha. Kebun IP3; Penelitian dan Diseminasi Inovasi Pertanian (PRIMATANI dan Sekolah Lapang PTT) dengan target: Pertama, 12 formulasi kebijakan resposif pengembang tanaman pangan, 12 varietas baru tan pangan, 4 paket pengelolaan plasma nutfah, 8 paket data potensi SBL; 6 komponen teknologi pengolahan tanah dan pemupukan, 5 komponen teknologi informasi iklim, cuaca dan lingkungan pertanian; 4 kandidat padi, tomat, kentang, kapas, transgenik, sidik jari DNA 45 tan pangan, 1 paket rumusan kebiajakan biotek pertanian, 18 BPTP penguatan kelembagaan, metode diseminasi dan isu jalinan lokasi pengembangan perdesaan SUID di 209 lokasi/desa primatani berbasis tanaman pangan dan peternakan; Kedua, 24 paket teknologi sistem produksi sayuran, buah tropika dan tanaman hias; 74 inovasi sistem produksi letupan penyakit zoonis dan keamanan pangan; 5 paket teknologi pasca panen; 13 rekayasa alat mektan; 24 paket teknologi sistem produksi, pemuliaan, pengelolaan plasma nutfah sayuran, buah tropika, tan hias; 74 inovasi sistem produksi tan rempah-obat, biofarmaka, kelapa, tan serat, dan penerapan teknologi mutakhir kelapa sawit, karet, kopi, kakao, the, kina, tebu di 24 prop; 5 galur ternak unggul, 3 paket teknologi pakan ekonomis, 7 paket informasi antisipasi letupan penyakit zoonosis dan keamanan pangan, 5 paket teknologi pasca panen, 13 rekayasa alat mekanisasi pertanian, 13 paket rumusan kebijakan pengembangan agribisnis dan ekonomi pedesaan, 33 paket teknologi spesifik lokasi, terbentuknya AIP dan SUID di 222 desa, & 5.000 unit replikasi PRIMATANI berbasis horti dan perkebunan; Penyediaan Subsidi Bunga Penyediaan Energi Nabati Dan Revitalisasi Perkebunan dengan target tersedianya subsidi bunga untuk pembangunan, rehabilitasi dan peremajaan kebun (komoditas kelapa sawit, kakao dan karet); Mekanisasi Pertanian Pra dan Pasca Panen Penyediaan dengan target tersalurkannya bantuan (1) pembelian traktor (R-2) 2.600 unit, (2) bantuan alat bengkel 250 paket, (3) terselenggaranya koordinasi & pengawalan di 32 provinsi; terselenggaranya alat dan mesin pertanian bagi pengembangan hortikultura di 16 kawasan hortikultura di 16 kawasan hortikultura potensial, 16 provinsi, 30 kabupaten/kota; pembangunan RPUSK sebanyak 8 unit; kelembagaan pasca panen 45 kab, pengujian Mutu Alsintan, rehab RPH, RPU 30 kabupaten;
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

V - 21

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

e)

f)

g)

h)

i)

j)

Magang Sekolah Lapang dan Pelatihan Pendidikan Pertanian dan Kewirausahaan Agribisnis dengan target: Pertama, terselenggaranya: (a) SL-PTT-Padi 40 ribu kel, SL-PTT padi hibrida 5.000 kelompok, SL-PTT jagung hibrida 5.000 kelompok, SL-PTT kedelai 10.000 kelompok; (b) SLPHT 500 unit; (c) SL-Iklim 100 unti; (d) Pelatihan penagkar benih 25 unit; (e) Pelatihan UPJA dan bengkel alsin 20 unit; Kedua, terselenggaranya sekolah lapang (SL) penerapan GAP/SOP dan pengendalian hama terpadu (PHT) pada 33 provinsi; Ketiga, terselenggaranya magang pada 125 kelompok SL-PHT Perkebunan; Keempat, terdidik dan terlatihnya 10.000 petugas, petani/calon petani di bidang pertanian dan kewirausahaan agribisnis; Peningkatan Sistem Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Pertanian serta Pengembangan Kelompok Tani dengan target (1) Biaya operasional 31.379 orang penyuluh PNS dan 26.000 penyuluh kontrak; Fasilitasi pembangunan/renovasi BPP dan kegiatan penyuluhan melalui Farmer Empowerent Through Agricultural Technology and Information (FEATI) di 71 kabupaten/18 provinsi. Pembinaan 100.000 Poktan dan 3.200 Gapoktan; (2) Pemberdayaan Kel. Tani 50 paket, Sekolah Lapang 50 paket, PIP 50 paket; Pembinaan dan pengembangan sistem usaha perikanan dengan target terbinanya dan berkembangnya sistem usaha perikanan di 33 provinsi; pelayanan usaha penangkapan di 21 UPT pelabuhan perikanan; 10 klaster industri perikanan; 6 lokasi buffer stock rumput laut; serta sertifikasi 1.500 persil lahan nelayan; Peningkatan mutu dan pengembangan pengolahan hasil perikanan dengan target pengembangan sistem rantai dingin di 33 provinsi, penerapan Program Manajemen Mutu Terpadu (PPMT) di 33 provinsi, pengembangan sentra pengolahan hasil perikanan di 10 lokasi, meningkatnya kompetensi dan kapasitas 39 Laboratorium Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan tersusunnya 20 SNI.; Pengembangan dan penyelengggaraan karantina perikanan dan sistem pengelolaan kesehatan ikan dengan target terselenggaranya sistem pengelolaan kesehatan ikan di 33 provinsi dan berkembangnya 43 UPT Karantina Perikanan; Penyelenggaraan revitalisasi perikanan dengan target penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik di 350 kab/kota, intensifikasi usaha budidaya perikanan 871.000 ha, introduksi benih unggul, peningkatan tenaga pendamping teknologi, pengembangan seaweed center di Lombok, verifikasi unit pengolahan ikan di 33 provinsi, penanggulangan penggunaan bahan kimia berbahaya di 21 lokasi, terbentuknya otorita
V - 22

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

k)

l)

m)

n)

o)

p)

q)

r)

kompeten tingkat provinsi di 6 lokasi, berkembangnya sarpras pengolahan dan pemasaran di 6 pelabuhan perikanan.; Penyediaan subsidi pupuk dan benih ikan dengan target tersalurkannya subsidi (pengganti selisih harga) benih udang, nila, rumput laut, patin, kakap, lele, ikan mas, dan gurame di 33 Provinsi; Penyediaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kelautan dan Perikanan dengan target meningkatnya sarana dan prasarana produksi perikanan tangkap dan budidaya, peningkatan mutu, pengolahan, pemasaran hasil perikanan, pengawasan, serta pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; Pengelolaan sumber daya perikanan secara bertanggung-jawab dan berkelanjutan dengan target terkelolanya sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di 10 lokasi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP); Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perikanan serta input produksi lainnya dengan target pengembangan/rehabilitasi dan bantuan operasionalisasi 21 UPT Pelabuhan Perikanan, dan 25 pengkalan pendaratan ikan (PPI); serta beroperasinya syahbandar di 41 lokasi, 53 balai benih ikan dan balai benih udang; Penguatan dan pengembangan pemasaran dalam negeri dan ekspor hasil perikanan dengan target terfasilitasinya kerjasama antar lembaga pemasaran, berkembangnya sarpras pemasaran di 25 lokasi, terselenggaranya promosi dan diplomasi pemasaran di 3 kawasan pasar ekspor, terselenggaranya sosialisasi gemar makan ikan di 33 provinsi, dan terselenggaranya pembinaan eksportir.; Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan dan Peningkatan Sistem Penyuluhan dengan target berkembangnya SDM kelautan dan perikanan melalui 12 Sekolah/Akademi/Sekolah Tinggi dan 6 Balai pelatihan, serta perkuatan sistem penyuluhan perikanan dan pengembangan 3.000 orang penyuluh, operasional 10 unit perahu penyuluh dan 1 unit kapal latih; Pengembangan rekayasa teknologi terapan perikanan dengan target dihasilkannya 8 paket teknologi terapan penangkapan ikan, 12 teknologi terapan budidaya perikanan dan 26 teknologi produk bernilai tambah tinggi; Pengembangan Sistem Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan dengan target terselenggaranya 180 hari operasi terpadu, operasional 23 kapal pengawas, terbentuknya 88 POKMASWAS, terselenggaranya pentaatan & penegakan hukum, pengembangan 5 UPT, tersedianya sarana dan prasarana pengawasan;

V - 23

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

s) t)

u) v)

w) x) y)

z)

aa)

Pengembangan Pengelolaan Pemanfaatan Hutan Alam dengan target 30 Unit IUPHHK bersertifikat PHPL mandatory; 50 unit HPH melaksanakan sistem silvikultur intensif; Pengelolaan Hutan Produksi yang tidak Dibebani Hak/Ijin Pemanfaatan dengan target Terbentuknya HPH, HTI, dan HTR seluas 3,2 juta ha pada kawasan yang belum dibebani hak / ijin dalam bentuk IUPHHK – HA, IUPHHK – HT, HTR dan IUPHHBK.; Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pembangunan HTI seluas 300.000 ha, dan HTR seluas 300.000 ha; Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat dengan target pengembangan HTI seluas 1,3 juta ha; dan terselenggaranya pengembangan HTI dan HTR melalui skema BLU; Perencanaan dan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan target terfasilitasinya perijinan seluas 400.000 ha di 25 provinsi; Restrukturisasi Industri Primer Kehutanan dengan target peningkatan produksi industri pengolahan dan pemasaran hasil hutan sebesar 5%; diversifikasi produk olahan; Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dengan target terbentuknya sentra HHBK (bambu seluas 2.605 ha di 12 provinsi, sutera alam seluas 160 ha, sentra rotan seluas 250 ha, sentra gaharu 800 ha, sentra madu 12 unit) serta sentra HHBK unggulan seluas 250 ha.; Pengembangan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam dengan target meningkatnya pengembangan hutan kota, meningkatnya produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) dan jasa lingkungan 2% dari tahun 2008, dan meningkatnya budidaya dan penangkaran TSL; Perencanaan, Pembangunan, dan Kelembagaan Hutan Rakyat dengan target terselesaikannya pengembangan model rehabilitasi DAS; Terlaksananya monitoring dan evaluasi daerah rawan bencana (banjir, longsor, biofisik, sosek). Revitalisasi Industri Manufaktur Peningkatan Iklim Usaha Industri dengan target fasilitasi pemerintah terhadap 30 klaster industri dan pengembangan kompetensi inti industri daerah di 70 kabupaten / kota; Restrukturisasi Permesinan Industri Restrukturisasi dengan target restrukturisasi teknologi process dan teknologi energi bagi 90 perusahaan; Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri dengan target tersedianya data Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi 300 produk serta 1 kali Pameran Produksi Indonesia Tingkat Nasional;
V - 24

Fokus 5.

a) b) c)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

d) e) f) g) h) i) j) k)

Fasilitasi Pengembangan Kawasan Industri dengan target 8 kawasan dan 4 paket penyiapan pengembangan kawasan; Pengembangan IKM Unggulan Daerah dengan target pembinaan IKM dengan metoda OVOP di 33 propinsi, 80 kabupaten/kota; Revitalisasi Sentra-sentra IKM dan Fasilitasi Layanan UPT dengan target 20 sentra IKM dan operasi layanan di 40 UPT Pengembangan Industri Bahan Bakar Nabati dengan target 20 unit pabrik pengolahan; Pengembangan Standardisasi Industri dengan target penyusunan 152 Rancangan SNI; Pembinaan dan Pemanfaatan Teknologi Industri dengan target pengembangan 10 produk substitusi pangan; Pengembangan Teknologi Baru dan Aplikasi ke Industri dengan target 4 teknologi baru; Penerapan Standardisasi, Akreditasi, dan Peningkatan Mutu dengan target perapan SNI di 100 perusahaan. Meningkatkan Produktivitas dan Akses UKM Kepada Sumberdaya Produktif Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Koperasi dan UMKM dengan target 5 paket; Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Penyusunan Kebijakan Pemberdayaan UMKM dengan target 2 rekomendasi kebijakan, 5 laporan koordinasi kebijakan pemberdayaan UMKM; Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target 59 koperasi; Koordinasi Fasilitasi Pengembangan UKM Berbasis Teknologi dengan target tersusunnya 1 paket rekomendasi kebijakan mengenai pengembangan UMKM berbasis teknologi di daerahdaerah; Pengembangan Inovasi UMKM berbasis Teknologi dengan targe 3 paket kegiatan UMKM inovatif; Pengembangan Pemasaran Produk dan Jaringan Usaha KUKM dengan target 5.000 KUKM; Pengembangan Jaringan Antar LKM/KSP dengan target 25 jaringan; Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah dengan target 47.500 bidang tanah UKM; Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan dengan target berkembangnya wilayah perbatasan melalui 56 kelompok masyarakat di 25 kabupaten. Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kerja
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Fokus 6.

a) b) c) d)

e) f) g) h) i)

Fokus 7.

V - 25

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

a)

b) c)

d) e) f) g) h)

i) j)

Peningkatan Fungsi dan Revitalisasi BLK Menjadi Lembaga Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan target terwujudnya 11 BLK (UPTP) percontohan dan fasilitasi pelatihan berbasis kompetensi di 33 BLK (UPTD); Percepatan Pengakuan/Rekognisi Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja dengan target terlaksananya sertifikasi melalui uji kompetensi bagi 50.000 tenaga kerja; Penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri (Penyelenggaraan Pelatihan Pemagangan Penganggur) Usia Muda Terdidik dengan target terselenggaranya pemagangan bagi 10.000 orang tenaga kerja terdidik; Pemberian Dorongan dan Penyempurnaan Pelaksanaan Negosiasi Bipartit dengan target terwujudnya proses negosiasi upah, kondisi kerja dan syarat kerja; Penyelenggaraan Padat Karya Produktif dengan target di 45 kabupaten/kota di Pulau Jawa; Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan target berkurangnya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di sektor industri; Konsolidasi Program-Program Perluasan Kesempatan Kerja dengan target terlaksananya sinergi program APBN untuk memperluas kesempatan kerja di 33 provinsi; Fasilitasi Pendukung Pasar Kerja, Melalui Peningkatan Kelembagaan, Peningkatan Informasi, Penyelenggaraan Bursa Kerja dengan target tersedianya informasi pasar kerja di 146 kabupaten/kota; Peningkatan Pelayanan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri dengan target terfasilitasinya 500.000 TKI yang bekerja di luar negeri di 20 provinsi; Penguatan Kelembagaan Badan Penyelenggara Tenaga Kerja Indonesia dengan target terselenggaranya proses rekrutmen calon TKI di 15 provinsi.

EKONOMI - dengan fokus stabilisasi
Fokus 8.

a) b)

c)

Stabilitas Harga dan Pengamanan Pasokan Bahan Pokok Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif dengan target 6 laporan kegiatan, 6 rumusan kebijakan pengelolaan energi termasuk energi alternatif; Pengembangan Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP) dengan target pemberdayaan Gapoktan di daerah sentra produksi pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan (gabah 38 ribu ton dan jagung 20 ribu ton); Pembangunan dan pengembangan sarana distribusi dengan target pembangunan satu paket sistem informasi pasokan dan
V - 26

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

d)

permintaan serta harga bahan pokok nasional; Pengembangan pasar Percontohan yang bersih dan nyaman sebanyak 10 unit; dan partisipasi dalam pembangunan pasar turi; Peningkatan Pengawasan Barang Beredar dan Jasa dengan target operasionalisasi pengawasan barang beredar dan jasa untuk 3 kelompok komoditi; Pengembangan SDM PPBJ dan PPNS PK sejumlah 300 orang. Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter Penyusunan & Evaluasi Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro dengan target terususnnya 14 laporan evaluasi pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro; Penyusunan/Penyempurnaan Peraturan Perundang di Sektor Keuangan dengan target tersedianya 8 RUU dan 38 peraturan yang menjamin kepastian hukum, perlindungan terhadap nasabah/investor/pelaku pasar, kelembagaan yang efisien dan pruden, serta harmonisasi peraturan dengan standar internasional termasuk Arsitektur Keuangan Indonesia (ASKI) serta pengembangan Sistem Peringatan Dini Sektor Keuangan; Peningkatan koordinasi stabilisasi ekonomi makro dan keuangan baik di pusat maupun di daerah dengan target 16 laporan koordinasi, monitoring, dan evaluasi kebijakan stabilisasi ekonomi dan keuangan. Pengamanan APBN Pengelolaan Risiko Fiskal dengan target tersedianya laporan tentang pengelolaan risiko fiskal; Pemantapan Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan sasaran (1) tersedianya Perangkat Teknologi Informasi Perpajakan, (2) terbentuknya 4 DPC (Data Processing Center), dan (3) tersedianya Sistem Informasi Pajak.

Fokus 9.

a)

b)

c)

Fokus 10.

a) b)

INFRASTRUKTUR DAN ENERGI
Fokus 11.

Dukungan Infrastruktur Bagi Peningkatan Daya Saing Sektor Riil Bidang Sumber Daya Air Pembangunan Waduk, Embung, Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan 6 waduk dan 17 embung; Rehabilitasi Waduk, Embung, Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terlaksananya rehabilitasi 5 waduk, 20 embung, situ dan bangunan penampung air lainnya;

A. a) b)

V - 27

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

c) d) e) f) g) h)

i) j) B. a) b)

Operasi dan Pemeliharaan Waduk, Embung, Situ dan Bangunan Penampung Air Lainnya dengan target terpeliharanya 19 waduk, embung, situ dan bangunan penampung air lainnya; Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (WISMP) dengan target terlaksananya peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai di 15 UPT dan 54 UPTD; Pembangunan Sarana/Prasarana Pengendali Banjir dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana / prasarana pengendali banjir sepanjang alur sungai 232,37 km; Pembangunan Sarana/Prasarana Pengaman Pantai dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana/prasarana pengaman pantai sepanjang 49,02 km; Penanggulangan Bencana / Tanggap Darurat dengan target terlaksananya kegiatan tanggap darurat bencana di daerah industri dan pusat-pusat perekonomian; Pembangunan Sarana / Prasarana Pengendalian Lahar Gunung Berapi dengan target terlaksananya kegiatan pembangunan sarana / prasarana pengendali lahar gunung berapi sebanyak 12 unit; Rehabilitasi Sarana Prasarana Pengamanan Pantai dengan target sepanjang 4,45 km; Pemeliharaan Prasarana Pengamanan Pantai dengan target terpeliharanya prasarana pengamanan pantai sepanjang 1,5 km. Bidang Energi Pembangunan jaringan transmisi dan distribusi gas, penyusunan regulasi dan kebijakan pendukung dengan target terbangunnya jaringan transmisi dan distribusi gas bumi Jakarta; Pembinaan / Koordinasi / Pelaksanan Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan dengan target fasilitasi percepatan pengembangan Bahan Bakar Nabati. Bidang Ketegalistrikan Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan dengan target terwujudnya penyiapan bahan perizinan usaha penyediaan tenaga listrik, pembinaan dan pengawasan pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik, monitoring dan evaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan PIUKU sementara, monitoring penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik oleh pemegang IUKU, penyusunan pedoman pola kerjasama pengawasan pemegang IUKU dengan Perda dan Instansi Terkait, Kajian mekanisme perizinan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan ekspor, Penyusunan pedoman mekanisme perizinan usaha distnbusi ;
V - 28

C. a)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

b)

c)

d)

e)

f)

g)

Penyiapan Informasi dan Bimbingan Teknis Ketenagalistrikan dengan target Terlaksananya rekonsiliasi informasi, analisa, dan evaluasi data ketenagalistrikan, tersedianya analisa dan evaluasi beban harian Jawa-Bali, terselenggaranya bimtek dan evaluasi terhadap program pembangunan ketenagalistrikan; Penyelenggaraan Kerjasama Ketenagalistrikan dengan target terwujudnya fasilitasi kerjasama nasional dan bilateral, terfasilitasinya kerjasama regional, terfasilitasinya kerjasama multilateral sektor ketenagalistrikan dan pemanfaatan energi. Pengaturan dan Pengawasan Usaha Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya kajian pemberian jaminan pemerintah terhadap kelanjutan pembangunan pembangkit tenaga listrik baru oleh swasta, tersusunnya kajian implikasi regulasi usaha penyediaan tenaga listrik terhadap Perilaku Usaha Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan ( PKUK); Pembangunan Transmisi, Distribusi, Pembangkit Listrik dan memfasilitasi Pembangunan atau Pengembangan Fasilitas Ketenagalistrikan Yang Dilakukan Badan Usaha, Pemda dan Masyarakat dengan target fasilitasi percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000MW, pembangunan fasilitas ketenagalistrikan yang menggunakan dana pinjaman luar negeri yg diteruspinjamkan kepada PT. PLN, serta pembangunan listrik swasta (IPP); Penyiapan Program Ketenagalistrikan dengan target termonitornya pemanfaatan potensi sumber energi primer pembangkitan, termonitornya penanganan daerah krisis TL, termonitornya pengembangan jaringan tenaga listrik (TL) terkait program 10.000 MW, terupdatenya RUKN, terevaluasinya pembangunan TL jangka menengah/panjang, terselenggaranya kajian pembentukan Badan Pengelolaan Listrik Perdesaan, tersusunnya master plan listrik perdesaan, tersusunnya investasi penyediaan dan pemantauan TL, terkooordinirnya pelaksanaan pembangunan Power Transmission Improvement, tersusunnya harga satuan biaya khusus (HSBK) satker lisdes, terpantaunya pelaksanaan pendanaan pembangunan TL; Induk Pembangkit dan Jaringan dengan target melanjutkan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi meliputi 275 kV sepanjang 150 km; 175 kVA sepanjang 150 km; 150 kV sepanjang 1450 km; gardu induk 18 lokasi, dan melanjutkan pembangunan beberapa pembangkit PLTU, di wilayah distribusi Sumatera, Aceh, Sumbagsel, Jawa Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi (Peningkatan ini ditujukan untuk mempercepat dan memenuhi penyelesaian pembangunan jaringan transmisi 10.000 MW guna menunjang iklim daya saing perekonomian nasional);

V - 29

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

h)

i)

j)

k)

l)

m)

Penyusunan Regulasi Perlindungan Konsumen Listrik dengan target sosialisasi perlindungan konsumen listrik, Fasilitasi pengaduan konsumen listrik/masyarakat, Melakukan penilaian terhadap usulan penerima penghargaan Dharma Karya PE, Pembinaan dan pengawasan Indikator tingkat mutu pelayanan penyedia tenaga listrik untuk umum yang disediakan oleh PT PLN (Persero), Penyusunan pedoman mekanisme pelayanan oleh penyedia tenaga listrik terhadap konsumen Industri Kecil dan Menengah (IKM); Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Standardisasi Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan rancangan SNI bidang ketenagalistrikan, terselenggaranya forum konsensus rancangan SNI bidang ketenagalistrikan, terwujudnya kalibrasi alat ukur listrik dalam rangka SKB Peneraan, terwujudnya kerjasama internasional standardisasi ketenagalistrikan, terlaksananya pengukuran dan perhitungan losses teknis jaringan TL; Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Kelaikan Teknik dan Keselamatan Ketenagalsitrikan dengan target terlaksananya inspeksi ketenagalistrikan, terlaksananya sertifikasi laik operasi (SLO), terfasilitasinya tim keandalan sistem TL, tersebarnya informasi keselamatan ketenagalistrikan, tersusunnya pedoman pengawasan SLO; Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan dengan target tersusunnya rumusan standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan, tersusunnya pedoman sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan, terlaksananya pengawasan sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan, terwujudnya penetapan dan pemberlakuan standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan, terwujudnya forum konsensus standar kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan; Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Penunjang Ketenagalistrikan dengan target terlaksananya verifikasi atas kebenaran capaian dan inventarisasi barang/jasa produk dlm negeri pada industri penunjang TL, terlaksananya pemetaan daerah cakupan pemanfaatan jaringan TL untuk kepentingan telematika di Jawa Bali, tersusunnya database badan usaha penunjang TL; Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Hubungan Komersial Ketenagalistrikan dengan target peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha dalam bisnis tenaga listrik, koordinasi pelaksanaan penyidikan kasus tindak pidana pemakaian Iistnk ilegal, Penelaahan aturan pelaksanaan hubungan komersial di bidang UPTL, Fasilitasi penyelesaian
V - 30

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

n)

perselisshan dalarn usaha penyediaan tenaga listrik, Penyiapan bahan pertimbangan teknis pemberian sanksi atas pelanggaran penyelenggaraan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik; Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Harga dan Subsidi Listrik dengan target pemantauan dan verifikasi usulan harga jual pembangkit, monitoring dan perhitungan penetapan biaya jasa eksploitasi air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), monitoring dan perhitungan TDL-PLN dan Tarif Listrik PIUKU terintegrasi, monitoring dan evaluasi penyelesaian tunggakan rekening listrik yang disediakan oleh PKUK, penyusunan pedoman mekanisme verifikasi susut jaringan dan BPP dalam proses perhitungan subsidi listrik, penyusunan pedoman penetapan harga jual listnk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan energi terbarukan yang dijual kepada PKUK, penyusunan pola dan mekanisme penetapan harga jual tenaga listrik dan sewa jaringan tenaga listrik antar negara, penyusunan mekanisme penetapan tarif dan database potensi daerah dalam rangka penerapan tarif listrik regional, inventarisasi dan evaluasi permasalahan hukum dalam pelaksanaan hubungan komersial di bidang TL. Bidang Pos Dan Telematika Penyusunan/Pembaharuan Kebijakan, Regulasi, Kelembagaan Industri Pos dan Telematika dengan target (1) RUU Pos, (2) Rancangan awal revisi UU Telekomunikasi, (3) Hasil penataan stasiun penyiaran berjaringan dan pemantauan perijinan penyiaran, (4) Peraturan pelaksana UU Informasi dan Transaksi Elektronik, (5) RUU Cyber Crime, dan (6) RUU Ratifikasi Convention on Cyber Crime; Peningkatan Standarisasi dan Sertifikasi Pelayanan, Keahlian SDM, Perangkat dan Sistem Pos dan Telematika dengan target (1) prototipe produk telekomunikasi radio Broadband Wireless Access dan (2) regulasi tentang Tingkat Kandungan Lokal Produk Telekomunikasi Dalam Negeri; Peningkatan Literasi Masyarakat terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Literacy) dengan target (1) perangkat TIK tahap 2 (komputer dan jaringan, internet, data center, instalasi) di Kota Jogja, Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunung Kidul, (2) konsep rencana roll out sistem e-learning, (3) gedung beserta perangkat keras TIK (penyediaan, instalasi, dan pengintegrasian), perangkat lunak, dan sistem untuk ICT Training Center di UIN; Pengembangan dan Pemanfaatan Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan target (1) kebijakan migrasi, aplikasi dan infrastruktur open source; (2) Model Community Access Point (CAP) versi 2.0 kemitraan, (3) warung masyarakat informasi di 50
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

D. a)

b)

c)

d)

V - 31

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

e)

lokasi, (4) sistem dan prosedur pelaksanaan Certification of Authority, (5) aplikasi sistem early warning. Peningkatan Jangkauan, Kapasitas dan Kualitas Infrastruktur dan Layanan Pos dan Telematika dengan target: (1) hasil pemantauan pembangunan jaringan Palapa Ring; (2) penyelenggara Broadband Wireless Access; (3) sarana laboratorium simulasi pengaman dan pengawasan jaringan internet; (4) gedung ICT Training Center di Jababeka; (5) jadwal migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital; (6) Dukungan ID SRITII dalam rangka pengamanan infrastruktur komunikasi data Pemilu 2009; dan (7) Pemancar televisi dan radio. Bidang Permukiman dan Perumahan Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Pembuangan Air Limbah Sistem Terpusat di 30 kawasan dan 4 kota; Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Minum Pada Kawasan Strategis di 168 kawasan dan 40 kab/kota; Pengembangan Sistem Drainase dengan target terlaksananya Pengembangan Sistem Drainase di 33 kab/kota; Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) dengan target terlaksananya Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Limbah Percontohan Skala Komunitas (SANIMAS) di 105 lokasi; Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH dengan target terlaksananya Penyediaan Infrastruktur Primer Perkotaan bagi Kawasan RSH di 125 kawasan; Fasilitasi dan Stimulasi Pengembangan Kawasan dengan target Pengembangan Kawasan di 4 Kota dan 2 Kawasan; Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana dasarnya dengan target terlaksananya Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Beserta Prasarana dan Sarana Dasarnya Sebanyak 80 Twin Blok; Penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun dengan target tersedianya penyediaan prasarana dan sarana dasar untuk rumah sederhana sehat (RSH) dan rumah susun sebanyak 16.275 unit; Perbaikan Lingkungan Permukiman dengan target terlaksananya Perbaikan Lingkungan Permukiman di 218 kawasan; Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dengan target terlaksananya pembangunan Rumah Susun
V - 32

E. a)

b)

c) d)

e) f) g)

h)

i) j)

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

k)

Sederhana Sewa beserta prasarana dan sarana dasarnya sebanyak 70 Twin Blok; Penyediaan Kredit Program – KPRSH dan Rusunami dengan target tersedianya kredit program – KPRSH dan Rusunami sebanyak 240.736 unit RSH/Rusunami. Bidang Transportasi Pembangunan/Pengadaan/Peningkatan Sarana dan Prasarana dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dari: (1) Pembangunan Rating School Sorong, (2) Pembangunan Maritime Education and Training Improvement (METI), (3) Pembangunan Rating School NAD, (4) Pembangunan Rating School Ambon, (5) pembangunan & pemasangan Simulator Pesawat Komersial sebagai Sarana Latih Diklat Penerbang, (6) Pembangunan Akademi Perkeretaapian Indonesia, (7) Pengembangan Kampus BP2IP Surabaya, (8) pembangunan fasilitas sistem telekomunikasi pelayaran tahap 4 yang tersebar di seluruh Indonesia, (9) pengadaan kapal navigasi (ATN Vessel) sebanyak 7 unit, (10) Indonesia Ship Reporting System untuk Selat Sunda dan Lombok, (11) Indonesian Coast Guard Patrol Boats Retrofit Project dengan target memperbaiki kondisi Kapal Patroli Kelas II, (12) Lanjutan Pembangunan kapal penumpang 2000 GT 5 unit, (13) Pengadaan kapal patroli Kelas II sebanyak 2 unit, Kelas III 7 unit, Kelas IV 33 unit, Kelas V 59 unit, serta lanjutan Pembangunan Kapal Patroli Kelas I sebanyak 1 unit, (14) Pembangunan VTS Selat Malaka Tahap I, dan (15) Pengadaan Sarana ASDP yang terdiri dari kapal perintis lanjutan 12 unit, bus air 30 unit, sped boat 12 unit; Pembangunan Gedung dengan target Pembangunan Gedung Simulator Pesawat Komersial (Tersedianya Prasarana Latih Diklat Penerbang 1 Paket); Pengadaan Peralatan Laboratorium dengan target Upgrading laboratorium STPI Curug (Tersedianya Lab. Diklat STPI Curug 10 Paket); Rehabilitasi Fasilitas Bangunan Operasional dengan target Rehabilitasi Fasilitas Bangunan (73.000 M2 tersebar di : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat); Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan LLAJ di 32 Provinsi dengan target Marka jalan sepanjang 2.923.500 M, guardrail 106.360 M, Rambu Lalulintas 29.477 buah, Delineator 36.500 M, RPPJ 1200 Bh, Traffic Light 110 Unit, warning Light 50 unit, Cermin Tikungan 108 Bh; paku marka 15.500 buah, Prasarana BRT 8 Lokasi; 30 paket alat; Pembangunan Terminal dengan target dibangunnya terminal di 9 lokasi;
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

F. a)

b) c) d)

e)

f)
V - 33

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

g) h)

i) j) k) l)

m) n)

o) p)

q)

r)

Pembangunan Jembatan Timbang dengan target 6 paket; Rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang dengan target rehabilitasi Peralatan Operasional Jembatan Timbang (1 Paket peralatan operasional jembatan timbang dan prasarana fasilitas LLAJ dan alat PKB); Pengadaan Sarana KA Kelas Ekonomi, KRL, dan KRD/Krde/Kd3 dengan target 97 unit; Peningkatan Jalan dan Prasarana Kereta Api dengan target peningkatan jalan KA di lintas: Sumatera bagian utara, selatan; Lintas Jawa - 400 Km; Peningkatan Jembatan Ka dengan target 53 buah; Pembangunan Jalan Kereta Api dengan target pembangunan dan Pengadaan yang terdiri dari: (1) Pembangunan Perkeretaapian di NAD (1 Paket), (2) Pembangunan Jalan KA Lintas Tanjung Priok – Pasoso (JICT – KOJA) 2,5 Km (1 Paket), (3) Pengadaan Track Machinery (1 Paket), (5) Pengadaan Rel dan Wesel UIC-54 - 52 Km, (6) Pembangunan Jalur KA antara Gununggangsir - Sidoarjo – 18,1 Km; Peningkatan dan Rehabilitasi Sistem Sinyal dan Telekomunikasi dengan target peningkatan Sintelis (Jawa dan Sumatera) - (18 Paket); Pembangunan Double Track dan Double-Double Track dengan target pembangunan Jalur Ganda yang terdiri dari: (1) Pembangunan Jalur Ganda Serpong - Maja - Rangkasbitung (32 Km), (2) Pembangunan Jalur Ganda Tegal - Pekalongan (17 Km), (3) Pembangunan Jalur Ganda Cirebon - Kroya (24 Km), (4) Pembangunan Jalur Ganda Kroya - Kutoarjo (76 Km), (5) Lanjutan Pembangunan Doubel-double Track Manggarai -Cikarang (18 Km); Pengembangan Perkeretaapian dengan target pembangunan dan Modifikasi yang terdiri dari: (1) Modifikasi Stasiun Cirebon (1 Paket), (2) Pembangunan MRT Jakarta; Rehabilitasi Jalan Ka dengan target lintas Cikampek - Padalarang, Bandung - Banjar - Kroya, Semarang - Solo, Tj.Enim-Prabumulih Tarahan, Telukbayur - Sawahlunto, Lubukalung - Naras, Ma.Kalaban -Pd.Sibusuk; Pembangunan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dengan target pengadaan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) - Mensu : 42 Unit, Ramsu : 123 unit , Pelsu : 100 unit, Ramtun : 30 Unit (Seluruh Indonesia 25 Disnav); Pembangunan Kapal dengan target pembangunan dan Pengembangan industri Kapal yang terdiri dari: (1) Pembangunan Kapal Perintis (Lanjutan : 2 unit Kapal 900 DWT, 2 unit kapal 750 DWT, 2 unit kapal 500 DWT, 2 unit kapal 350 DWT, (2) Lanjutan Pembangunan Kapal GT 2000 (5 unit); serta terlaksannya Public Ship Finance Program;
V - 34

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

s)

t)

u)

v)

w) x) y)

z)

å)
V - 35

Pengadaan Peralatan Penunjang Keselamatan Transportasi Laut dengan target peningkatan, pengembangan dan pengadaan peralatan keselamatan yang terdiri dari: (1) Improvement and Development of Indonesia Aids to Navigation (Meningkatkan keandalan SBNP ), (2) Port Security System Improvement Plan di 9 Pelabuhan (Belawan, Dumai, Tg. Pinang, Tlk Bayur, Palembang, Pontianak, Benoa, Bitung, Makassar), pengadaan peralatan SAR 18 unit; Pembangunan Sarana dan Prasarana Pelabuhan dengan target Pembangunan Fasilitas Pelabuhan yang terdiri dari: Pembangunan fasilitas pelabuhan baru di 9 lokasi: Belawan (Sumut), Depare (Papua), Kariangau (Kaltim), Tg. Batu dan Palaihari (Kalsel), Manada dan Bitung (Sulut), Bojanegara (Banten), dan Teluk Batang (Kalbar); Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut di 16 Lokasi A. Yani (Malut), Anggrek (Gorontalo), Arar (Papua Barat), Bau-Bau (Sultra), Belang-belang (Sulbar), Garongkong (Sulsel), Lab. Amuk (Bali), Malarko (Kepri), Maloy (Kaltim), Rembang (Jateng), Sungai Nyamuk (Kaltim), Tg. Buton (Riau), Tlk. Tapang (Sumbar), Tarakan (Kaltim), Panajam Pasir (Kaltim), dan Manokwari (Papua); Pengerukan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan Penyebrangan dengan target pengerukan alur pelayaran dan Kolam Pelabuhan (Lokasi : Kanpel Kalbut, Adpel Lhok Seumawe, Adpel Kuala Langsa, Adpel Jambi, Kanpel Manggar, Kanpel Seba, Kanpel Paloh/Sekura, Adpel Sampit, Kanpel Leok), Adpel Samarinda, Adpel Palembang; Pembangunan Dermaga Sungai, Danau dan Penyeberangan dengan target (1) dermaga lanjutan 65 dermaga, 5 dermaga penyeberangan, 8 dermaga sungai lanjutan dan 1 dermaga danau; Rehabilitasi Dermaga Penyeberangan dengan target dermaga penyeberangan 21 lokasi, sungai 12 lokasi, danau 9 lokasi; Pengerukan Alur dan Kolam pelabuhan Penyeberangan dengan target 7 lokasi; Pengadaan dan Pemasangan Fasilitas Keselamatan Penerbangan dengan target 17 paket tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat; Pembangunan Bandara Baru dengan target pembangunan Bandar Udara yang terdiri dari: (1) Pembangunan Bandar Udara Kualanamu sebagai pengganti Bandar Udara Polonia-Medan (1 paket di Kualanamu-Sumatera Utara), (2) Pembangunan Bandar Udara Hasanuddin - Makasar Sulawesi Selatan; Pengembangan/Peningkatan Bandara dengan target (1) Pengembangan Bandar Udara Dobo, Saumlaki Baru, Seram
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

ä) ö) aa)

bb) cc)

dd) ee) ff) gg) hh) ii) jj) kk) ll)

Bagian Timur, Namniwel, Sam Ratulangi-Manado, Sulawesi Utara, Dumatubun-Langgur, Muara Bungo dan Waghete baru; (2) Pembangunan/peningkatan Bandara di daerah perbatasan, terpencil dan rawan bencana (11 lokasi di : Rembele, Silangit, Sibolga, Enggano, Rote, Ende, Naha, Manokwari, Melongguane, Nunukan, dan Haliwen); dan (3) Pembangunan/peningkatan Bandara di Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten dan Daerah Pemekaran (Tersebar di seluruh propinsi, ibukota kabupaten dan daerah pemekaran); Rehabilitasi Fasilitas Landasan dengan target 425.000 M2 tersebar di : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat; Rehabilitasi Fasilitas Terminal dengan target 3.000 M2 tersebar di : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua dan Papua Barat; Rehabilitasi Fasilitas Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional dengan target rehabilitasi Peralatan Keselamatan Penerbangan dan Penunjang Operasional (8 paket tersebar di : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat); Pengadaan Sarana dan Prasarana Penunjang Pencarian dan Penyelamatan dengan target tersedianya kelengkapan penunjang kegiatan SAR 1 Paket; Pengembangan Pelabuhan Strategis Pengembangan Pelabuhan yang terdiri dari: (1) Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok (1 paket supervisi dan konstruksi), (2) Pengembangan Pelabuhan Bojonegara (1 Paket), (3) Pengembangan Pelabuhan Belawan (Medan) (1 Paket), (4) Pengembangan Pelabuhan Manokwari (3 Lokasi Manokwari, Bitung, Manado); Pengadaan dan Pemasangan Konverter Kit dengan target 2.000 unit; Pengadaan dan Pemasangan SBNP dan Rambu Sungai Transportasi Penyeberangan dengan target tersedianya SBNP 34 buah rambu suar dan 2000 buah rambu; Bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan dengan target bantuan Penanggulangan Darurat Jalan dan Jembatan; Pengadaan Peralatan / Bahan Jalan dan Jembatan dengan target LS; Rehabilitasi Jalan Nasional dengan target 1.303 km; Pemeliharaan Jalan Nasional dengan target 24.827 km; Rehabilitasi Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 6.705 m; Pemeliharaan Jembatan Ruas Jalan Nasional dengan target 29.442 m; Pembangunan Fly-over dengan target 5.035 m;
V - 36

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

mm) nn) oo) pp) qq) rr) ss)

Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Lintas dengan target 1.982 km dan 3.772 m; Peningkatan Jalan dan Jembatan Nasional Non Lintas dengan target 405 km dan 2.209 m; Pembangunan Jembatan Suramadu dengan target 1 paket; Pembangunan Jalan Lintas Pantai Selatan Jawa dengan target 50 km; Pembangunan Jalan Akses dengan target 5 km; Pembangunan Jalan Baru dan Peningkatan Jalan Strategis dengan target 69 km; Pengusahaan Jalan Tol dengan target dibangunnya jalan tol Solo– Kertasono sepanjang 12 km. Peningkatan Investasi Infrastruktur melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta Koordinasi Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur dengan target 3 rumusan kebijakan, 8 laporan koordinasi kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur; Pembebasan Lahan; Penyusunan Penyempurnaan Pengkajian Peraturan Perundangan dengan target 1 paket kerangka kebijakan dan pedoman operasional pengadaan tanah; Peningkatan Investasi Dan Produksi Migas, Batubara, Dan Mineral Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dengan target Pelaksanaan harmonisasi wilayah kerja pertambangan minerbapabum, pengembangan statistik minerbapabum, penyiapan wilayah usaha pertambangan perumusan draft rancangan Kepres tentang perizinan serta penyiapan dan evaluasi usaha pertambangan, Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) dan Keputusan Presiden Pasca Tambang, Reklamasi, advokasi hukum, perijinan usaha; Pengelolaan, Penyiapan dan Penilaian Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi dengan target penawaran 20 wilayah kerja baru migas, seismic laut Flores sepanjang 1.500 km, synopsis geologi WK, interpretasi potensi migas di laut Sulawesi; Peningkatan pemanfaatan Pertambangan dengan target Perumusan Pedoman Perizinan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan IUP Produksi Minerba, penetapan WKP panas bumi, kriteria wilayah usaha pengelolaan panas bumi di Lampung, perumusan regulasi panas bumi dan pemantauan sub sektor minerbapabum.

Fokus 12.

a) b) c)

Fokus 13.

a)

b)

c)

V - 37

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009 Fokus 14.

a)

b)

c)

d)

e)

f)

Percepatan Diversifikasi Energi, Efisiensi Distribusi dan Pemanfaatan BBM Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Usaha Energi Baru Terbarukan dengan target terselenggaranya studi kelayakan PLTMH untuk interkoneksi dengan jaringan PLN, terpantaunya pengawasan kegiatan energi baru terbarukan untuk daerah terpencil, evaluasi usaha pembangkit listrik energi baru terbarukan skala kecil dan menengah, tersusunnya informasi teknologi energi baru terbarukan, terevaluasinya program pembinaan implementasi pembangkit listrik, terupdatenya database energi terbarukan dan konservasi energi; Pengkoordinasian/Penyelenggaraan Konservasi Energi dengan target terselenggaranya audit energi di sektor industri dan bangunan, termonitornya implementasi hasil audit energi, terevaluasinya pelaksanaan penghematan energi, pendamping kegiatan konservasi energi (kerjasama dengan JICA), penerapan konservasi energi melalui pemasangan lampu LED tenaga surya, Energy Eficiency incontracting and use of large buiding; Penyiapan Bimbingan Teknis Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dengan target terlaksananya pengembangan clearing house energi terbarukan dan konservasi energi, tersosialisasikannya pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi, terselenggaranya kerjasama dalam rangka sosialisasi pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi, terbitnya buletin energi hijau, terselenggaranya sekretariat komunitas EBT negara-negara Asia Afrika; Penyusunan Kebijakan dan Regulasi Pemanfaatan Energi dengan target termonitornya implementasi kebijakan energi nasional, tersusunnya baseline faktor emisi sistem ketenagalistrikan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua untuk CDM, Terlaksananya Capacity Building sektor energi, tersusunnya kebijakan energi, tersusunnya program pemanfaatan energi; Pembinaan Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan dengan target pelaksanaan evaluasi hasil pengawasan produksi, perubahan kepemilikan saham, pembinaan perijinan pengusahaan minerbapabum, pengawasan produksi penjualan, serta inventarisasi barang modal dan sarana dan prasarana; Pengembangan dan Pemanfaatan Energi dengan target terkoordinirnya pengembangan energy perdesaan, peningkatan aksesibilitas energy perdesaan, tersosialisasinya pemanfaatan biofuel di sektor industry dan bangunan, pengembangan pulau kecil terluar melalui pemanfaatan energi terbarukan non listrik;

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

V - 38

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

g)

Pelayanan dan Pemantauan Usaha Gas Bumi dengan target penawaran 10 wilayah kerja CBM, penetapan harga gas bumi, pengusahaan CBM di daerah Sumatera.

5.2 Kebijakan Fiskal Tahun 2009
5.2.1 Arah Kebijakan Fiskal, Asumsi Ekonomi Makro dan Postur APBN 2009
A. Arah Kebijakan Fiskal Sesuai dengan tema pembangunan tahun 2009, kebijakan ekonomi makro tahun 2009 diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengurangan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas diupayakan dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian, infrastruktur dan energi serta dengan terjaganya stabilitas ekonomi.
Kebijakan fiskal dalam tahun 2009 diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkahlangkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini

Berdasarkan kerangka ekonomi makro tersebut, kebijakan fiskal dalam tahun 2009 diarahkan untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian dengan tetap menjaga langkah-langkah konsolidasi fiskal yang telah dilakukan selama ini. Prioritas pembangunan nasional tahun 2010 dijabarkan dalam pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2009 sebagai berikut: (i) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang saat ini masih dalam proses pembahasan di DPR; (ii) peningkatan pembangunan infrastruktur, terutama bandara dan pelabuhan; (iii)pelaksanaan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melalui pendistribusian BBM bersubsidi dengan sistem tertutup dan kebijakan lain yang dianggap perlu agar subsidi lebih tepat sasaran, dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan negara dan daya beli masyarakat; (iv) perhitungan pendapatan dalam negeri neto sebagai basis penetapan pagu DAU nasional memperhitungkan antara lain beban subsidi BBM, subsidi listrik, subsidi pupuk, dan subsidi benih; dan (v) pelaksanaan amandemen Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Di samping itu, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, Pemerintah perlu melakukan perbaikan quality of spending dan penajaman prioritas terhadap belanjanya. B. Asumsi Ekonomi Makro Merosotnya perekonomian dunia sebagai dampak dari krisis keuangan global tentunya akan sangat berpengaruh pada perkembangan perekonomian Indonesia. Antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah

V - 39

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

dalam menyikapi kondisi ini adalah melakukan beberapa penyesuaian besaran asumsi ekonomi makro sebagai berikut: 1. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun menjadi 4,5 persen. 2. Laju inflasi diperkirakan turun menjadi 6 persen. 3. Rata-rata suku bunga SBI 3 bulan diperkirakan sebesar 7,5 persen. 4. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika diperkirakan sebesar Rp. 11.000/US$. 5. Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) di pasar internasional diperkirakan turun menjadi US$45/barel. Sedangkan, lifting minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar 0,96 juta barel per hari. Tabel 5.1. Asumsi Ekonomi Makro Tahun 2009
NO 1 2 3 4 5 6 ASUMSI Pertumbuhan ekonomi (%) Inflasi (%) Tingkat bunga SBI rata-rata (%) Nilai tukar (Rp/US$1) Harga minyak (US$/barel) Lifting (Juta Barel per Hari) APBN 2009 6,0 6,2 7,5 9.400,0 80,0 0.960 APBN 2009 PENYESUAIAN 4,5 6,0 7,5 11.000,0 45,0 0.960

Sumber: Depkeu

Tabel 5.2. Postur APBN Tahun 2009 (dalam triliun rupiah)
APBN A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak II. Hibah B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat II. Transfer ke Daerah C. Keseimbangan Primer D. Surplus/Defisit Anggaran (A-B) E. Pembiayaan (I+II+III) I. Pembiayaan Dalam Negeri II. Pembiayaan Luar Negeri (Neto) III. Tambahan Pembiayaan Utang
Sumber: Depkeu
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah V - 40

985,7 984,8 725,8 258,9 0,9 1.037,1 716,4 320,7 50,3 -51,3 51,3 60,8 -9,4 -

APBN Penyesuaian 848,6 847,6 661,8 185,9 0,9 988,1 685,0 303,1 28,9 -139,5 139,5 109,5 -14,5 44,5

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

C. Postur APBN 2009 Dengan adanya perubahan beberapa asumsi ekonomi makro yang secara signifikan berpengaruh terhadap besaran-besaran APBN, baik pada pendapatan negara maupun belanja negara sebagai implikasi adanya tambahan program stimulus sebagaimana diuraikan sebelumnya, maka terhadap APBN 2009 sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008, dilakukan penyesuaian sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5.2. Pokok-pokok kebijakan fiskal dari sisi pendapatan negara maupun belanja negara dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Sisi pendapatan negara, meliputi: a. Bidang perpajakan Langkah-langkah kebijakan perpajakan yang diambil dalam tahun 2009 antara lain: (i) menyediakan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi penanaman modal dengan memperluas cakupan sektor dan wilayah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di BidangBidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu; (ii) memperluas kantor pelayanan pajak yang berbasis sistem administrasi modern di Jawa dan Bali; (iii) menyempurnakan manajemen risiko kepabeanan; (iv) melanjutkan harmonisasi tariff bea masuk impor; dan (v) mengimplementasikan ASEAN Single Window. Di samping itu, untuk meningkatkan kinerja BUMN antara lain akan dilakukan pengalokasian anggaran yang bersumber dari laba BUMN untuk pengembangan sektor-sektor strategis dan penguatan sektor manufaktur (barang modal) dalam rangka memperbaiki peran BUMN dalam perekonomian nasional. b. Bidang PNBP Kebijakan di bidang PNBP dalam tahun 2009 akan tetap ditujukan untukmengoptimalkan penerimaan yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA), bagian laba BUMN, PNBP lainnya, serta pendapatan badan layanan umum (BLU). Sasaran tersebut dilakukan dengan melanjutkan reformasi administrasi dan penyempurnaan kebijakan PNBP melalui: (i) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada kementerian negara/ lembaga; (ii) monitoring, evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada kementerian negara/lembaga; (iii) penyusunan rencana dan pagu penggunaan PNBP yang lebih realistis pada kementerian negara/lembaga; (iv) pemantauan, penelaahan, evaluasi, dan verifikasi laporan PNBP pada kementerian negara/lembaga dan SDA nonmigas; (v) peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan PNBP pada kementerian negara/lembaga; (vi) percepatan penyelesaian kewajiban
V - 41 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

Pertamina/KKKS kepada Pemerintah terkait dengan kegiatan migas; (vii) peningkatan koordinasi terkait dengan pencapaian target produksi/ lifting minyak mentah dan volume gas bumi; dan (viii) perbaikan terhadap kebijakan cost recovery pada Kontrak Production Sharing (KPS). 2. Sisi belanja negara Belanja negara yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat dan Belanja Daerah akan dipaparkan secara lebih rinci pada Subbab 5.2.2. Selanjutnya, kebijakan umum pembiayaan anggaran antara lain dititikberatkan pada penetapan sasaran surplus/defisit anggaran berdasarkan proyeksi penerimaan negara maupun rencana alokasi belanja negara. Berdasarkan proyeksi dan berbagai langkah kebijakan di atas, dalam APBN Tahun Anggaran 2009 diperkirakan masih terdapat defisit anggaran. Sebagian besar defisit tersebut akan dibiayai dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri. Untuk menutupi defisit tersebut, dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemandirian dalam pembiayaan anggaran, dengan lebih memprioritaskan pendanaan yang tersedia, murah dan berisiko rendah yang bersumber dari dalam negeri.

5.2.2 Belanja Negara
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa jumlah belanja negara dalam APBNPenyesuaian 2009 sebesar Rp. 988.088,3 miliar, yang terdiri dari: 1. Anggaran belanja pemerintah pusat sebesar Rp. 685.036,3 miliar; dan 2. Anggaran belanja daerah sebesar Rp. 303.051,9 miliar. A. Belanja Pemerintah Pusat Kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan, menciptakan dan memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan, di samping tetap menjaga stabilitas nasional, kelancaran kegiatan penyelenggaraan operasional pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, maka prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 akan difokuskan pada: (i) kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebutuhan dasar operasional di setiap kementerian negara/ lembaga; (ii) melanjutkan program pengentasan kemiskinan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Keluarga Harapan (PKH), dan Jamkesmas; (Hi) meningkatkan alokasi program kementerian
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2009 diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan, menciptakan dan memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan
V - 42

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

negara/lembaga untuk peningkatan produksi pangan, infrastruktur dan energi alternatif; (iv) pengurangan subsidi BBM melalui efisiensi di PT Pertamina dan PT PLN; (v) melanjutkan rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah pasca bencana alam; serta (vi) mengamankan pelaksanaan Pemilu 2009. Jumlah Belanja Pemerintah Pusat setelah dilakukan penyesuaian pada APBN tahun 2009 yaitu sebesar Rp. 685.036,3 miliar, terdiri dari Belanja K/L sebesar Rp. 333.532,4 miliar dan Belanja Non-K/L sebesar Rp. 351.503,9 miliar. Tabel 5.3. Belanja Negara Tahun 2009 (dalam triliun rupiah)
APBN Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat A. Belanja K/L B. Belanja Non-K/L II. Transfer ke Daerah 1. Dana Perimbangan a. Dana Bagi Hasil b. Dana Alokasi Umum c. Dana Alokasi Khusus 2. Dana Otsus dan Penyesuaian a. Dana Otonomi Khusus b. Dana Penyesuaian JUMLAH
Kebijakan pengalokasian transfer ke daerah dalam tahun 2009 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab
V - 43

1.037,1 716,4 322,3 394,1 320,7 297,0 85,7 186,4 24,8 23,7 8,9 14,9 1.037,1

APBN Penyesuaian 988,1 685,0 333,5 351,5 303,1 279,3 68,1 186,4 24,8 23,7 8,9 14,9 988,1

Sumber: Depkeu

B. Belanja Daerah Kebijakan pengalokasian transfer ke daerah dalam tahun 2009 tetap diarahkan untuk mendukung program/kegiatan prioritas nasional dan menjaga konsistensi dan keberlanjutan pelaksanaan desentralisasi fiskal guna menunjang penyelenggaraan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab, dengan tujuan: 1. Meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah; 2. Mendukung kegiatan prioritas pembangunan nasional yang juga merupakan urusan daerah; 3. Meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah;
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

4. Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah serta antardaerah; 5. Meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah; 6. Mendukung kesinambungan fiskal nasional dalam kerangka kebijakan ekonomi makro; dan 7. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional. Alokasi anggaran belanja daerah setelah dilakukan penyesuaian pada APBN 2009 yaitu sebesar Rp. 303.051,9 miliar, terdiri dari: 1. Dana perimbangan sebesar Rp. 279.313,3 miliar, terdiri dari: a. Dana bagi hasil ditetapkan sebesar Rp. 68.079,6 miliar; b. Dana alokasi umum ditetapkan sebesar Rp. 186.414,1 miliar; c. Dana alokasi khusus ditetapkan sebesar Rp. 24.819,6 miliar. 2. Dana otonomi khusus dan penyesuaian sebesar Rp. 23.738,6 miliar, terdiri dari: a. Dana otonomi khusus sebesar Rp. 8,900 miliar, terdiri dari: · Dana otonomi khusus Aceh sebesar Rp. 3,728 miliar; · Dana Otsus Papua & Papua Barat Rp. 3,728 miliar; · Tambahan Infrastruktur Papua dan Papua Barat Rp 1,400 miliar. b. Dana penyesuaian sebesar Rp. 14,900 miliar. Jumlah alokasi anggaran belanja daerah per provinsi dapat dilihat pada Lampiran A. Dana Bagi Hasil Pada dasarnya Dana Bagi Hasil (DBH) bersifat block grant, yang berwenang penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah penerima, kecuali untuk dana tambahan alokasi sebesar 0,5 persen yang diambil dari dana pembagian Sumber Daya Alam (SDA) Migas yang digunakan untuk tambahan anggaran pendidikan dasar di daerah. Penggunaan dana tambahan tersebut dipantau dan dievaluasi oleh Menteri Keuangan. Dalam APBN 2009, Dana Bagi Hasil (DBH) yaitu sebesar Rp. 85,718.73 miliar, terdiri dari: a. Dana Bagi Hasil Pajak sebesar Rp. 45,754.4 miliar. b. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA) sebesar Rp. 39,964.3 miliar yang dibagikan kepada seluruh daerah termasuk 12 daerah pemekaran baru yang disetujui pada tahun 2008 dengan catatan ke – 12 daerah pemekaran tersebut diresmikan dan dilantik pejabat daerahnya. Dana Alokasi Umum 1. Besaran Dana Alokasi Umum (DAU) yang akan dialokasikan ke daerah dalam tahun 2009 adalah sebesar Rp. 186,414.1 miliar yang dibagikan kepada seluruh daerah (Provinsi dan Kab/Kota) termasuk 26 daerah
V - 44

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

pemekaran (Mei 2007 – Mei 2008) yaitu sebanyak 14 daerah dan pada periode Juni 2008 terdapat 12 daerah otonomi baru. 2. DAU ditetapkan 26 persen dari Penerimaan Dalam Negeri (PDN) Neto yang ditetapkan dalam APBN. Besaran alokasi DAU per daerah sesuai dengan UU Nomor 33 tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005 ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden. 3. Proporsi pembagian DAU adalah sebesar 10 persen untuk Daerah Provinsi dan sebesar 90 persen untuk Daerah Kabupaten/Kota dari besaran DAU secara nasional. 4. Dalam penggunaan DAU, diberikan keleluasaan/wewenang kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah dengan tujuan untuk menyeimbangkan kemampuan keuangan antar daerah. Dana Alokasi Khusus 1. Alokasi DAK tahun 2009 adalah sebesar Rp. 24,819.59 miliar. 2. Arah kebijakan DAK tahun 2009 adalah sebagai berikut: a. Diprioritaskan untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah, dalam rangka mendorong pencapaian standar pelayanan minimal kepada masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat. Selain itu, alokasi juga dapat diberikan kepada seluruh daerah yang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku diprioritaskan untuk mendapatkan alokasi DAK. b. Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana jalan, irigasi, air minum dan penyehatan lingkungan di kabupaten daerah tertinggal yang terdiri dari: daerah pesisir dan kepulauan, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah tertinggal/ terpencil, daerah pasca bencana, serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan, dan daerah pariwisata. c. Menunjang penguatan sistem distribusi nasional, terutama untuk memperlancar arus barang antarwilayah yang dapat meningkatkan ketersediaan bahan pokok di daerah perdesaan, daerah tertinggal/terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah pulau-pulau kecil terluar, dan daerah pasca bencana, melalui kegiatan khusus di bidang sarana dan prasarana perdagangan, serta sarana dan prasarana perdesaan. d. Mendorong peningkatan produktivitas, perluasan kesempatan kerja, angkutan barang dan kebutuhan pokok, serta pembangunan perdesaan, melalui kegiatan khusus di bidang pertanian, perikanan dan kelautan, infrastruktur, perdagangan, serta pembangunan perdesaan. e. Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar, sarana dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus di bidang pendidikan, kesehatan, keluarga berencana, infrastruktur, serta sarana dan prasarana perdesaan daerah tertinggal.
V - 45 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

f. Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup, mencegah kerusakan lingkungan hidup, dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus di bidang lingkungan hidup, dan kehutanan. g. Menyediakan serta meningkatkan cakupan, kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar, kualitas pelayanan terutama keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus di bidang infrastruktur jalan dan perhubungan. h. Mendukung penyediaan prasarana pemerintahan di daerah pemekaran dan daerah yang terkena dampak pemekaran pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi melalui kegiatan khusus di bidang prasarana pemerintahan. i. Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran kementerian/lembaga serta kegiatan yang didanai dari APBD, melalui peningkatan koordinasi pengelolaan DAK di pusat dan daerah. j. Melanjutkan pengalihan secara bertahap anggaran kementerian/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan daerah ke DAK, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Bidang atau program yang didanai DAK tahun 2009 terdiri dari 11 bidang atau program DAK tahun 2008, yaitu dalam rangka penyelesaian RPJMN 2004-2009, serta 3 bidang atau program baru yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari pengalihan anggaran kementerian/lembaga ke DAK. Dengan demikian, bidang atau program yang didanai oleh DAK tahun 2009 meliputi: a. Pendidikan, dengan arah kebijakan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 tahun yang bermutu, yang diperuntukkan bagi SD/SDLB, MI/Salafiyah Ula, termasuk sekolah-sekolah setara SD berbasis keagamaan lainnya, baik negeri maupun swasta; yang diprioritaskan pada daerah tertinggal, daerah terpencil, daerah perbatasan, daerah rawan bencana, dan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. b. Kesehatan, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB); meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin serta masyarakat di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan, melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya untuk pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya termasuk poskesdes, dan rumah sakit provinsi/kabupaten/kota untuk pelayanan
V - 46

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

kesehatan rujukan, serta penyediaan sarana/prasarana penunjang pelayanan kesehatan di kabupaten/kota. Keluarga Berencana (KB), dengan arah kebijakan untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan tenaga lini lapangan Program KB, sarana dan prasarana pelayanan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)/advokasi Program KB; sarana dan prasarana pelayanan di klinik KB; dan sarana pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak dalam rangka menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk, serta meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga. Infrastruktur jalan dan jembatan, dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana jalan provinsi, kabupaten, dan kota dalam rangka memperlancar distribusi penumpang, barang dan jasa, serta hasil produksi yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian, industri, dan pariwisata sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional. Infrastruktur irigasi, dengan arah kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana sistem irigasi termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi urusan kabupaten/kota dan provinsi khususnya di daerah lumbung pangan nasional dan daerah tertinggal dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan. Infrastruktur air minum dan penyehatan lingkungan, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum dan meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan peyehatan lingkungan (air limbah, persampahan, dan drainase) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Pertanian, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian di tingkat usaha tani dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan nasional. Kelautan dan perikanan, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, peningkatan mutu, pemasaran, dan pengawasan serta penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulaupulau kecil. Prasarana pemerintahan daerah, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan publik di daerah pemekaran dan daerah yang terkena dampak pemekaran tahun 2007/2008, yang diprioritaskan untuk pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor bupati/walikota, dan pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor DPRD,

V - 47

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Rencana Kerja Pemerintah dan Kebijakan Fiskal Tahun 2009

dengan tetap memperhatikan kriteria umum, khusus, dan teknis dalam penentuan daerah penerima. j. Lingkungan hidup, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang lingkungan hidup melalui peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan kualitas air, pengendalian pencemaran air, serta perlindungan sumberdaya air di luar kawasan hutan. k. Kehutanan, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS), meningkatkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai, pemantapan fungsi hutan lindung, Taman Hutan Raya (TAHURA), hutan kota, serta pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan kehutanan termasuk operasional kegiatan penyuluhan kehutanan. l. Perhubungan, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan terutama keselamatan bagi pengguna transportasi jalan guna menurunkan tingkat kecelakaan pada lalu lintas angkutan jalan khususnya pada jalan kabupaten/kota dalam rangka melaksanakan rencana aksi “road map to zero accident” dengan fokus pada jalan provinsi karena mempunyai volume lalu lintas dan potensi tingkat kecelakaan yang relatif lebih besar dibandingkan jalan kabupaten/kota. m. Pembangunan perdesaan daerah tertinggal, dengan arah kebijakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan prasarana dan sarana dasar untuk memperlancar arus angkutan penumpang, bahan pokok, dan produk pertanian lainnya dari daerah pusatpusat produksi di perdesaan ke daerah pemasaran. n. Perdagangan, dengan arah kebijakan untuk menunjang penguatan sistem distribusi nasional melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan yang terutama berupa pasar tradisional di daerah perbatasan, daerah pesisir dan pulau-pulau kecil, daerah tertinggal/terpencil, serta daerah pasca bencana. 4. Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari besaran alokasi DAK yang diterimanya. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, daerah dengan kemampuan keuangan tertentu tidak diwajibkan menganggarkan dana pendamping. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian tahun 2009 sebesar Rp. 8,856.6 miliar yang terdiri dari: 1) Dana Otonomi Khusus sebesar Rp. 8,856.6 miliar yang diberikan untuk provinsi Papua dan Papua Barat dan provinsi NAD dan Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka otsus untuk Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Dana Otonomi Khusus Papua digunakan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah V - 48

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

2)

untuk pendanaan pendidikan dan kesehatan, sedangkan Dana Otonomi Khusus NAD digunakan untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan. Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka otsus untuk Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat diutamakan untuk pendanaan pembangunan infrastruktur. Dana Penyesuaian sebesar Rp. 14,882.02 miliar yang terdiri dari Dana Tambahan DAU sebesar Rp. 14,490 miliar, kurang bayar DAK 2007 sebesar Rp. 295.27 miliar, dan kurang bayar DPIL 2007 sebesar Rp. 96.75 miliar. Dana Tambahan DAU dialokasikan untuk guru PNSD guna meningkatkan penghasilan guru PNSD dalam rangka memperbaiki kesejahteraan guru. Selain itu dialokasikan untuk daerah tertentu sebagai penguatan desentralisasi fiskal untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.

V - 49

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

BAB VI PERKEMBANGAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH
Tujuan nasional dari pembentukan pemerintahan adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Kemerdekaan yang telah diraih harus dijaga dan diisi dengan pembangunan yang berkeadilan dan demokratis serta dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Salah satu kebijakan lain yang diambil oleh pemerintah dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional tersebut adalah dengan melaksanakan desentralisasi dan otonomi daerah. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan di daerah, komponen desentralisasi tersebut harus diaktualisasikan secara bersama-sama dan satu dengan lainnya harus saling mendukung. Tujuan dari pelaksanaan desentralisasi adalah untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik dan menciptakan proses pengambilan keputusan publik yang lebih demokratis. Sebagai sebuah proses, pelaksanaan desentralisasi di Indonesia bersifat dinamis dan telah dilakukan sejak tahun 2001. Bab VI dalam Buku Pegangan 2009 ini mencoba menelaah kembali perkembangan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah yang telah dilaksanakan selama ini yang meliputi: perkembangan pencapaian kelembagaan pemerintah daerah, aparatur pemerintah daerah, kerjasama antar daerah, dan pembentukan daerah otonom baru. Selain itu pada bab ini pun akan dibahas mengenai garis besar pencapaian pembangunan daerah yang dilihat dari sudut pandang pelaksanaan penataan ruang wilayah, perkembangan pembangunan kawasan khusus dan daerah tertinggal, dan perkembangan pembangunan perkotaan dan perdesaan.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

VI - 2

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

6.1. Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
6.1.1 Perkembangan Kelembagaan Pemerintah Daerah
Kelembagaan Pemerintah Daerah merupakan elemen dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan di suatu daerah, selain elemen urusan pemerintahan dan kapasitas aparatur pemerintah daerah itu sendiri. Pengaturan terhadap kelembagaan atau sering disebut dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), telah diatur dan ditetapkan berdasarkan PP No. 84 Tahun 2000, yang diganti dengan PP No. 8 Tahun 2003, dan kemudian direvisi menjadi PP No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Dalam PP No. 41 Tahun 2007 tersebut, disebutkan bahwa pelaksanaan peraturan perundangan ini diharapkan dapat selesai dalam waktu 1 tahun sejak ditetapkan. Akhir tahun 2008 merupakan batas waktu bagi pemerintah daerah untuk menetapkan Peraturan Daerah mengenai Organisasi Perangkat Daerah berdasarkan PP No. 41 Tahun 2007.
Baru 15 provinsi (45%), 120 kabupaten dan 25 kota (30%) yang telah melaporkan Perda Organisasi Perangkat Daerah

Sampai saat ini baru 15 provinsi, 120 kabupaten dan 25 kota yang telah melaporkan Perda Organisasi Perangkat Daerahnya kepada Depdagri, atau hanya sebesar 45% provinsi dan 30% kabupaten/kota. Informasi lengkap daerah-daerah yang telah melaporkan pelaksanaan PP No. 41 Tahun 2007 di daerahnya masing-masing dapat dilihat pada Tabel B.1 di lampiran B Buku Pegangan 2009 ini. Tabel tersebut menunjukkan bahwa pencapaian pelaksanaan PP No. 41 Tahun 2007 oleh Pemerintah Daerah baru mencapai 31% dari seluruh wilayah di Indonesia. Dari 160 wilayah (provinsi, kabupaten dan kota), 17,5% diantaranya telah melaksanakan pada tahun 2007, dan sebanyak 82,5%, melaksanakan PP tersebut pada tahun 2008. Sisanya, masih terdapat 18 provinsi, 267 kabupaten dan 71 kota yang belum melaksanakan PP tersebut, atau setidaknya belum melaporkan Perda Organisasi Perangkat Daerah mereka berdasarkan PP No. 41 Tahun 2007. Oleh karenanya Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota yang belum melaksanakan PP dimaksud agar segera melaksanakan dan melaporkannya. Selanjutnya terdapat beberapa peraturan mengenai kelembagaan pemerintah daerah (baik struktural maupun non struktural), yang mengamanatkan tiap daerah untuk membentuk suatu instansi daerah dengan nomenklatur tertentu untuk menjalankan urusan pemerintahan yang didelegasikan oleh kementerian lembaga terkait. antara lain:

VI - 3

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

1. UU No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Dan Kehutanan, mengamanatkan pembentukan kelembagaan penyuluhan pemerintah, dengan ketentuan (pasal 8): a. pada tingkat pusat berbentuk badan yang menangani penyuluhan; b. pada tingkat provinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan; c. pada tingkat kabupaten/kota berbentuk badan pelaksana penyuluhan; dan d. pada tingkat kecamatan berbentuk Balai Penyuluhan. 2. UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, yang mengatur mengenai Komisi Informasi, yang terdiri atas Komisi Informasi Pusat, Komisi Informasi Provinsi, dan jika dibutuhkan Komisi Informasi Kabupaten/kota, dengan ketentuan (pasal 24): a. Komisi Informasi Pusat berkedudukan di ibu kota Negara. b. Komisi Informasi Provinsi berkedudukan di ibu kota provinsi dan c. Komisi Informasi Kabupaten/kota berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota. Beberapa kewajiban pokok yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai konsekuensi dari disahkannya UU/14 2008 tersebut dalam rangka memperkuat kelembagaan daerah adalah perlunya segera menyusun rencana strategis dan rencana aksi sebagai perangkat kesiapan internal lembaga untuk dapat memenuhi tuntutan publik atas informasi. Rencana-rencana tersebut antara lain: 1. Rencana jangka menengah: mengembangkan budaya pendokumentasian bagi seluruh unit kerja di daerah. 2. Rencana jangka pendek: mengklasifikasi jenis informasi yang dapat dibuka untuk publik sesuai Undang-undang dan mengembangkan pusat-pusat layanan informasi publik, data center dan meningkatkan kualitas layanannya. 3. UU No. 3 Tahun 2005, tentang Sistem Keolahragaan Nasional, mengatur mengenai penyelenggaraan keolahragaan sebagai berikut (Pasal 14): a. Dalam melaksanakan tugas, Pemerintah dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. Dalam melaksanakan tugas, pemerintah daerah membentuk sebuah dinas yang menangani bidang keolahragaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 4. Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2007 tentang Badan Narkotika Nasional, Badan Narkotika Provinsi, Dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota, mengatur mengenai:
VI - 4

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

a. (Pasal 15) à Badan Narkotika Provinsi yang selanjutnya disebut BNP adalah lembaga non-struktural yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Gubernur b. (Pasal 23) à Badan Narkotika Kabupaten/Kota yang selanjutnya dalam Peraturan Presiden ini disebut BNK/Kota adalah lembaga nonstruktural yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Bupati/Walikota. 5. UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mengatur mengenai Badan Penanggulangan Bencana Daerah, sebagai berikut (Pasal 18) a. Pemerintah daerah membentuk badan penanggulangan bencana daerah. b. Badan penanggulangan bencana daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: i. badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib; dan ii. badan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa.
Sistem pelayanan terpadu satu pintu dikembangkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi

Salah satu bentuk kelembagaan pemerintah daerah yang sedang ditingkatkan terkait pelayanan publik adalah pelayanan terpadu satu pintu. Sistem pelayanan ini dikembangkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, sesuai Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi. Tingginya tingkat kesulitan masyarakat dalam mengurus/memperoleh dokumen perijinan maupun non perijinan dari pemerintah, disinyalir terkait dengan panjangnya rantai birokrasi dan banyaknya instansi yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut. Oleh karena itu, peningkatan iklim investasi diusahakan melalui pemangkasan rantai birokrasi pelayanan publik, yang juga diaplikasikan pada pelayanan dokumen non perijinan. Bentuk pelayanan terpadu satu pintu (penyederhanaan pelayanan) yang diarahkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan di daerah adalah pembentukan Perangkat Daerah Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP), yang memiliki: i. loket/ruang pengajuan permohonan dan informasi; ii. tempat/ruang pemrosesan berkas; iii. tempat/ruang pembayaran; iv. tempat/ruang penyerahan dokumen; dan v. tempat/ruang penanganan pengaduan, sebagai sarana dan prasarana pendukung mekanisme pelayanan.

VI - 5

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Terkait dengan hal tersebut, beberapa wilayah di Indonesia telah melaksanakan pelayanan terpadu satu pintu dengan berbagai macam bentuk kelembagaan, yaitu kantor, badan dan unit pelayanan. Daerahdaerah yang telah menyusun PPTSP disajikan pada Tabel B.2 di lampiran B Buku Pegangan 2009 ini. Permasalahan mendasar dalam program peningkatan kapasitas kelembagaan Pemda adalah masih belum optimalnya proses penerapan SPM (Standar Pelayanan Minimal) sampai saat ini, sesuai dengan amanat dari PP Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM. Penetapan SPM dalam rangka menyediakan pelayanan kepada masyarakat, khususnya pelayanan yang bersifat wajib, minimal Pemerintah Daerah (kabupaten/kota atau provinsi) harus mengacu kepada SPM yang disusun oleh Pemerintah. Untuk itu setiap pemerintah daerah diwajibkan menyusun rencana pencapaian SPM yang memuat target tahunan pencapaian SPM dengan mengacu pada batas waktu pencapaian SPM. Sampai Awal Januari 2009, terdapat 3 (tiga) SPM yang secara resmi diterbitkan oleh Pemerintah, dintaranya: 1. Departemen Kesehatan telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1457/MENKES/SK/X/2003 tentang SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Sedangkan, SPM Rumah Sakit masih dalam proses finalisasi. 2. Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah menerbitkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 197 tahun 2004 tentang SPM Bidang Lingkungan Hidup di daerah kabupaten dan daerah kota. 3. Departemen Sosial telah menerbitkan Peraturan Menteri Sosial RI No. 129 / HUK / 2008 tentang SPM Bidang Sosial Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. Beberapa langkah yang sudah dilakukan Pemerintah dalam rangka pelaksanaan penerapan SPM antara lain : 1. Penerbitan Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan SPM, termasuk Pengembangan Instrumen Analisis Rencana dan Penganggaran Pencapaian SPM berdasarkan Analisis Kemampuan dan Potensi Daerah sebagai alat bantu Pemerintah Daerah dalam mengkaji kemampuannya dan menyusun rencana pencapaian SPM. 2. Penerbitan Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian SPM. Dalam menyusun rencana pencapaian SPM, Pemerintah Daerah wajib menetapkan skala prioritas yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi daerah. Beberapa metode yang kita kenal dapat digunakan untuk menentukan skala prioritas salah satunya adalah metode analisis SWOT (Kekuatan/Strength, Kelemahan/Weaknesses, Peluang/Opportunities dan Ancaman/Threats). 3. Penetapan prioritas dalam SPM khususnya bidang kesehatan, pendidikan dan prasarana dasar oleh Dewan Pertimbangan Otonomi
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 6

Permasalahan mendasar dalam program peningkatan kapasitas kelembagaan Pemda adalah masih belum optimalnya proses penerapan SPM

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Daerah (DPOD). Hal ini diarahkan dalam upaya meningkatkan penggunaan indeks pembangunan manusia (human development index) sebagai indikator kemajuan pembangunan di suatu daerah, dengan cara menyusun indikator SPM sejalan dengan Millenium Development Goals (MDGs), dan mengumpulkan data yang telah dikoordinasikan dengan instansi terkait (kantor statistik, dinas terkait) sebagai input perhitungan indikator SPM 4. Pengembangan Modul Pelatihan untuk Pelatihan Penyusunan dan penerapan SPM di tingkat Pemerintah Pusat dan Daerah. Modul tersebut akan berguna sebagai bahan (materi khusus) bagi peningkatan pengetahuan aparat pemerintah dalam memahami SPM secara lebih baik 5. Pengembangan instrumen Monitoring dan Evaluasi Penerapan Standar Pelayanan Minimal Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota. Hal ini diperlukan untuk mengawasi dan mengevaluasi jaminan pelayanan minimum yang telah direncanakan untuk diberikan, SPM yang sudah dicapai, dan mengantisipasi persoalan-persoalan berkenaan dengan SPM.
SPM dapat dijadikan alat untuk mengukur kinerja pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan publik dan meningkatkan akuntabilitas Pemerintahan Daerah terhadap masyarakat

Pelaksanaan SPM secara luas menghadapi beberapa tantangan yaitu: (1) kompleksitas dalam merancang dan menyusun indikator di dalam SPM; (2) ketersediaan dan kemampuan penganggaran yang relatif terbatas; (3) perlu melakukan proses konsultasi publik dalam menentukan norma dan standar tertentu yang disepakati bersama untuk menghindari adanya perbedaan persepsi di dalam memberikan pelayanan publik sesuai SPM. Pelaksanaan SPM ke depan diharapkan mampu meningkatkan pelayanan dasar Pemerintah Daerah kepada masyarakat dengan lebih baik. SPM juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas perimbangan keuangan dan/atau bantuan lain dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah menjadi lebih adil dan transparan. Dalam proses penentuan anggaran kinerja berbasis manajemen kinerja, SPM dapat dijadikan dasar dalam alokasi anggaran daerah dengan tujuan yang lebih terukur. SPM dapat menjadi alat untuk meningkatkan akuntabilitas Pemerintahan Daerah terhadap masyarakat. Sebaliknya, masyarakat dapat mengukur sejauhmana Pemerintahan Daerah dapat memenuhi kewajibannya dalam menyediakan pelayanan publik.

6.1.2 Perkembangan Aparatur Pemerintah Daerah
Dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, terdapat ketentuan mengenai kepegawaian daerah, yaitu sebanyak 7 pasal dalam Bab V. Kepegawaian daerah yang dimaksud adalah pegawai negeri sipil daerah, dimana penyelenggaraan manajemen kepegawaian daerah merupakan satu kesatuan dengan pegawai negeri sipil secara nasional. Terkait dengan fungsi pengelolaan kepegawaian tersebut, lebih
VI - 7 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

lanjut UU No. 32 Tahun 2004 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manajemen kepegawaian daerah meliputi (Pasal 129 ayat 2): 1. Penetapan Formasi 2. Pengadaan, Pengangkatan, Pemindahan, Pemberhentian Pegawai 3. Penetapan Pensiun, gaji, tunjangan, kesejahteraan hak dan kewajiban, kedudukan hukum 4. Pengembangan Kompetensi 5. Pengendalian Jumlah Pegawai Wilayah pemerintahan di Indonesia terdiri dari wilayah Provinsi, Kabupaten, dan Kota yang masing-masing memiliki karakteristik khusus, terkait dengan elemen dasar pemerintahan daerah, khususnya personel. Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004, disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus segala kewenangan pemerintahan dalam skala lintas kabupaten/kota, dan dalam posisinya sebagai Gubernur yang juga menjadi wakil Pemerintah, memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus segala kewenangan pemerintahan dalam upaya memperpendek rentang kendali pelaksanaan tugas dan fungsi Pemerintah. Tugas tambahan tersebut kemungkinan mempengaruhi kondisi jumlah aparatur pemerintah Provinsi. Namun, dilihat dari tugas dan fungsi pelayanan umum langsung kepada masyarakat, maka Kabupaten/Kota memiliki tugas yang lebih teknis dan perlu didukung oleh jumlah aparatur yang sebanding dengan beban dan jangkauan pelayanannya (jumlah penduduk dan luas wilayah). Tidak seperti kondisi sekarang ini dimana konsentrasi penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa-Bali, maka pola persebaran aparatur pemerintah daerah di Indonesia juga mengikuti beban pelayanan umum yang didasarkan pada jumlah penduduk saja, tetapi tidak mengikuti rentang kendali atau jangkauan pelayanannya (luas wilayah) sehingga perlu adanya penyesuaian kembali penataan aparatur pemerintah daerah yang mempertimbangkan lokasi geografis daerah sebagai variabel pengaruh bagi pengembangan kapasitas pemerintahan daerah.
Penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa-Bali, Dengan pola persebaran aparatur pemerintah daerah yang mengikuti beban pelayanan umum yang tidak didasarkan pada jumlah penduduk saja, tetapi tidak mengikuti rentang kendali atau jangkauan pelayanannya (luas wilayah)

6.1.3 Kerjasama Antar Daerah
Kerjasama antar Pemerintah Daerah merupakan bentuk kesepakatan antara gubernur dengan gubernur; atau gubernur dengan bupati/wali kota; atau antara bupati/wali kota dengan bupati/wali kota yang lain, dan atau gubernur, bupati/wali kota dengan pihak ketiga, yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban. Kerjasama antar Pemerintah Daerah ini semakin didorong dalam era desentralisasi terkait dengan usaha meningkatkan kemandirian daerah dalam penyelenggaraan pembangunan. Terkait dengan tujuan desentralisasi dan otonomi daerah dalam rangka peningkatan pelayanan publik, maka saat ini kerjasama antar Pemerintah Daerah juga didorong untuk mencakup
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Upaya meningkatkan kemandirian daerah dalam penyelenggaraan pembangunan di era desentralisasi ini, Pemerintah mendorong upayaupaya Kerjasama antar Pemerintah Daerah
VI - 8

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

sektor pelayanan publik, yang selama ini masih cenderung dipisahkan berdasarkan batas administrasi wilayah. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kerjasama antar Pemerintah Daerah di Indonesia. Hal-hal tersebut diatur dalam PP No. 50 Tahun 2007, yang menjadi pedoman daerah dalam bekerja sama dan mengembangkan potensi daerahnya. Poin-poin kerjasama antar Pemerintah Daerah yang perlu disepakati antar subyek kerjasama (kepala daerah dan/atau pihak ketiga), meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Subjek kerja sama; 2. Objek kerja sama; 3. Ruang lingkup kerja sama; 4. Hak dan kewajiban para pihak; 5. Jangka waktu kerja sama; 6. Pengakhiran kerja sama; 7. Keadaan memaksa; dan 8. Penyelesaian perselisihan. Kesepakatan tersebut harus dituangkan dalam surat perjanjian kerjasama (dapat dalam berbagai bentuk : Kesepakatan Bersama, Perjanjian Bersama, dan lain-lain), yang perlu mendapatkan persetujuan dari DPRD. Namun, jika kegiatan yang akan dikerjasamakan tersebut telah tercakup dalam APBD (telah dianggarkan), maka kerjasama tersebut dapat dilakukan tanpa melewati proses persetujuan Dewan.

6.1.4 Daerah Otonom Baru
Penataan DOB sampai saat ini masih sangat identik dengan pemekaran wilayah, belum ada upaya-upaya yang mengarah pada penghapusan dan penggabungan wilayah seperti diatur dalam PP 129 Tahun 2000

Sejak diberlakukannya UU No. 22 dan No. 25 Tahun 1999, yang kemudian diganti dengan UU No. 32 dan No. 33 Tahun 2004, Indonesia mulai mencoba satu bentuk penyelenggaraan pemerintahan baru yang memberikan peran yang lebih besar kepada pemerintahan daerah. Oleh karena itu, penataan Daerah Otonom Baru (DOB) menjadi salah satu isu penting, yang sampai tahun 2008 masih menjadi fokus Pemerintah. Penataan DOB sampai saat ini masih sangat identik dengan pemekaran wilayah, belum ada yang mengarah pada penghapusan dan penggabungan wilayah seperti diatur dalam PP 129 tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah yang kemudian diganti dengan PP 78 tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah. Pembentukan DOB sejak tahun 1999 sampai 2008 menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, karena jumlah Provinsi di Indonesia meningkat sebesar 21%, jumlah Kabupaten meningkat sebesar 41%, dan jumlah Kota meningkat sebesar 37%. Selanjutnya, perkembangan

VI - 9

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

pembentukan daerah otonom baru sejak tahun 1999 sampai tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 6.1 berikut. Gambar 6.1. Perkembangan DOB Tahun 1999-2009
Perkembangan Daerah Otonom Baru (DOB) 1999 - 2009
250

203
200

205

173
150 Jumlah

147

148

148

148

100

98 60 38 12
2001 2002 2003

50

45 45

48

49 25 1
2004 Tahun Jumlah Kumulatif

30 2

3
0 1999 2000

0
2005

0
2006 2007 2008

2009

Sumber : Depdagri, 2008

Peningkatan tersebut sangat mempengaruhi penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia, khususnya pemerintahan daerah, mengingat tujuan penyelenggaraan otonomi daerah seluas-luasnya adalah untuk: (1) meningkatkan kesejahteraan masyarakat, (2) pelayanan umum, (3) daya saing daerah. Untuk itu, sedang disusun Grand Design Penataan Otonomi Daerah, untuk menjawab berapa jumlah ideal Provinsi, Kabupaten, dan Kota di Indonesia untuk dapat menjalankan pemerintahannya dengan efektif dan efisien. Keberagaman wilayah administrasi DOB merupakan salah satu kondisi yang perlu diperhatikan, disamping isu lain yang bermunculan. Selama pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah, pemekaran wilayah yang terpantau oleh Pemerintah adalah pemekaran Provinsi, Kabupaten dan Kota, karena penetapannya harus melalui Undang-undang. Di sisi lain, pembentukan kecamatan, kelurahan dan desa hanya ditetapkan melalui peraturan daerah, sehingga belum dapat terpantau secara terkini oleh Pemerintah, mengingat belum adanya suatu sistem pelaporan atau pencatatan peraturan daerah yang kontinyu di tingkat pusat. Berdasarkan pencatatan yang dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri selama 6 bulan (Juli 2007 – Januari 2008), diketahui bahwa telah terbentuk 106 kecamatan, 177 kelurahan dan 399 desa.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Grand Design disusun untuk menjawab berapa jumlah ideal provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia.

VI - 10

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Pembentukan wilayah administrasi tersebut terkait dengan adanya pemekaran wilayah kabupaten/kota yang mensyaratkan beberapa persyaratan teknis seperti yang terangkum dalam skema berikut. Gambar 6.2. Skema Pembentukan Kecamatan, Kelurahan dan Desa

Sumber : Bappenas, 2008

Tingginya tingkat pemekaran kecamatan, kelurahan dan desa di Indonesia berpotensi menjadi cikal bakal bagi pemekaran wilayah yang lebih besar, yaitu kabupaten, kota, maupun provinsi

Jika dihitung secara rata-rata dari kecenderungan pemekaran kecamatan, kelurahan dan desa pada kurun waktu Juli 2007 sampai Januari 2008 di atas, maka dapat diasumsikan bahwa tiap bulannya terbentuk 18 kecamatan, 30 kelurahan dan 67 desa di Indonesia. Wilayah yang terbentuk tersebut menjadi cikal bakal bagi pemekaran wilayah yang lebih besar, yaitu kabupaten, kota, maupun provinsi, sehingga perlu mendapat perhatian khusus. Persyaratan cakupan wilayah DOB yang diatur dalam PP No. 78 Tahun 2007 dapat dipenuhi melalui pemekaran wilayah kecamatan, yang secara tidak langsung juga akan mendorong pemekaran kelurahan dan desa. Walaupun dalam ketentuannya, masih terdapat persyaratan lain, misalnya jumlah penduduk, luas wilayah, tingkat perekonomian, pelayanan publik serta sarana dan prasarana, namun pemekaran wilayah yang lebih kecil ini masih merupakan isu yang perlu ditindaklanjuti, terutama terkait dengan pengendaliannya.

VI - 11

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

6.2. Perkembangan Pelaksanaan Pembangunan Daerah
6.2.1 Perkembangan Pelaksanaan Penataan Ruang Wilayah
Penataan ruang memiliki peranan penting sebagai instrumen spasial dalam pembangunan. Tata ruang diharapkan menjadi pendorong untuk meningkatkan daya dukung wilayah nasional dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah. Adapun tujuan dari penyelenggaraan penataan ruang adalah: (1) Instrumen pembangunan untuk mengarahkan pola pemanfaatan ruang dan struktur ruang yang disepakati bersama antara pemerintah dan masyarakat dengan memperhatikan kaidah teknis, ekonomis, dan kepentingan umum; (2) Suatu upaya mewujudkan tata ruang yang terencana melalui suatu proses yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang yang satu sama lain merupakan satu kesatuan yang saling terkait; dan (3) Suatu upaya untuk mencegah perbenturan kepentingan antar sektor, daerah dan masyarakat dalam penggunaan sumberdaya manusia, sumberdaya alam, sumberdaya buatan melalui proses koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Landasan pelaksanaan penataan ruang adalah: · Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. · Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) 2008-2028. · Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabekpunjur). · Revisi Keppres No. 62 Tahun 2000 tentang Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) Peraturan Perundangan yang masih dalam proses penyusunan adalah: · Draft 7 perpres RTR Pulau, yaitu RTR Pulau Sumatera, jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, papua, dan kepualaun Maluku dan Nusa Tenggara dan Ranperpres RTR Kawasan Metropolitan Mamminasata dan Badan Kerjasama Pembangunan Metropolitan Mamminasata (BKPMM).
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 12

Tata ruang diharapkan menjadi pendorong untuk meningkatkan daya dukung wilayah nasional dalam rangka pelaksanaan RPJP dan RPJM baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

·

·

Draft revisi PP. 69 Tahun 1996, tentang Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang dalam rangka kegiatan peninjauan kembali dan pendayagunaan rencana tata ruang untuk menjamin keterpaduan pembangunan antar wilayah dan antar sektor. Draft RPP amanat UU No. 26 Tahun 2007 yaitu RPP tentang penyelenggaraan penataan ruang, tingkat ketelitian peta dan RTR, penataan ruang kawasan pertahanan, pembangunan sumber daya, bentuk dan tata cara peran masyarakat,

Pengelolaan penataan ruang tidak terlepas dari bidang pertanahan dengan isu alih fungsi lahan

Penataan ruang juga tidak terlepas dari bidang pertanahan, dimana tanah merupakan unsur vital yang merupakan modal dasar dalam pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih sebagian besar rakyat Indonesia susunan masyarakat dan perekonomiannya bercorak garis yang menggantungkan hidup dari tanah. Oleh karena itu tanah perlu dikelola dan diatur secara nasional untuk menjaga keberlanjutan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun dalam bidang pertanahan, terdapat beberapa isu strategis yang muncul, yakni: (1) Ketimpangan penguasaan, pemilikan, dan penggunaan tanah. (2) Belum memadainya kepastian hukum hak atas tanah. (3) Maraknya konflik dan sengketa tanah. Fenomena yang perlu menjadi perhatian adalah adanya alih fungsi lahan dari penggunaan tanah pertanian ke non pertanian. Lahan di Indonesia saat ini sebesar 190,92 juta hektar. Jumlah ini terbagi menjadi dua yaitu kawasan terbangun sekitar 71,98% dan kawasan lindung sebesar 28,02%. Berdasarkan hasil analisa, bahwa proporsi terbesar lahan terdapat pada kategori: lahan tersedia dan dapat digunakan untuk budidaya yaitu sebesar 45,06%. Sementara proporsi paling kecil terdapat pada kategori lahan yang sudah dikuasai dan penggunaannya sesuai fungsi kawasan sebesar 13,94%. Penggunaan tanah di Indonesia terbagi menjadi penggunaan untuk hutan, non-pertanian, sawah, pertanian tanah kering, perkebunan, dan lain-lain. Dari data yang didapat, penggunaan tanah yang paling besar yaitu untuk hutan dan yang peling kecil adalah untuk sawah.

VI - 13

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Gambar 6.3. Ketersediaan Tanah Nasional

14,46% 13,94%

45,56%

Sudah ada penguasaan & penggunaan tanah tidak sesuai fungsi Sudah ada penguasaan & penggunaan tanah sesuai fungsi Tersedia fungsi lindung Tersedia

24,41%

Sumber: BPN, 2008

Gambar 6.4. Penggunaan Tanah di Indonesia.

9,49% 4,64% 1,96% 9,35%

10,06%

Hutan Non pertanian Sawah Pertanian tanah kering 64,50% Perkebunan Lain-lain

Sumber: BPN, 2008

6.2.2 Perkembangan Pelaksanaan Pembangunan Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal
Perkembangan pelaksanaan Pembangunan kawasan khusus dan daerah tertinggal khususnya berkaitan dengan aspek (a) pengembangan wilayah tertinggal, (b) pengelolaan kawasan perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar, dan (c) pengelolaan kawasan strategis nasional meliputi kawasan pelabuhan bebas, kawasan ekonomi khusus, dan kawasan pengembangan ekonomi terpadu. Ketiga kawasan tersebut diarahkan dalam rangka mendukung pencapaian daya saing perekonomian nasional dan daya saing domestik.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 14

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A.
Perpres Nomor 7 Tahun 2005 telah mengidentifikasi ada 199 daerah yang dikategorikan sebagai daerah tertinggal

Pengembangan Wilayah Tertinggal

Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009 (Perpres Nomor 7 Tahun 2005) telah diidentifikasi ada 199 daerah yang dikategorikan sebagai daerah tertinggal, yaitu daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. 199 daerah yang dikategorikan sebagai daerah tertinggal, yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Sebagian kecil daerah tertinggal terdapat di Pulau Jawa dan Bali. Bagian terbesarnya tersebar di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Berdasarkan sebaran wilayahnya, sebanyak 123 kabupaten atau (63%) kawasan tertinggal berada di Kawasan Timur Indonesia, 58 Kabupaten (28%) berada di Pulau Sumatera, dan 18 Kabupaten (8%) berada di Pulau Jawa dan Bali. Di luar kategori wilayah tertinggal, terdapat sejumlah kawasan yang dapat kita sebut sebagai “kawasan paling tertinggal”. Kawasan ini dihuni oleh Komunitas Adat Terpencil (KAT), yaitu kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar. Pada umumnya, kawasan itu belum tersentuh oleh jaringan dan pelayanan sosial, ekonomi dan politik. Sementara itu, hampir seluruh pulau-pulau kecil terluar dan terdepan di dalam wilayah kedaulatan negara kita, yang berjumlah 92 pulau, termasuk pula di dalam kategori kawasan tertinggal. Berbagai permasalahan sebagai penyebab suatu daerah kabupaten menjadi daerah tertinggal, secara dominan dikelompokkan ke dalam: — Permasalahan aspek pengembangan ekonomi lokal yaitu keterbatasan pengelolaan sumber daya lokal dan belum terintegrasinya dengan kawasan pusat pertumbuhan; — Permasalahan aspek pengembangan sumber daya manusia yaitu rendahnya kualitas sumber daya manusia; — Permasalahan aspek kelembagaan, terutama rendahnya kemampuan kelembagaan aparat dan masyarakat; — Permasalahan aspek sarana dan prasarana terutama transportasi darat, laut, dan udara; telekomunikasi, dan energi, serta keterisolasian daerah; — Permasalahan aspek karakteristik daerah terutama berkaitan dengan daerah rawan bencana (kekeringan, banjir, longsor, kebakaran hutan, gempa bumi, dll) serta rawan konflik sosial. Untuk mengatasi permasalahan pembangunan daerah tertinggal dilakukan strategi dasar melalui empat pilar: (1) Pilar pertama, meningkatkan kemandirian masyarakat dan daerah tertinggal, dilakukan melalui: (1) pengembangan ekonomi lokal, (2)

“Kawasan paling tertinggal” adalah kawasan yang belum tersentuh oleh jaringan dan pelayanan sosial, ekonomi dan politik seperti 92 pulau kecil terluar dan terdepan

VI - 15

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

(2)

(3)

(4)

pemberdayaan masyarakat, (3) penyediaan prasarana dan sarana lokal/perdesaan, dan (4) peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat; Pilar kedua, mengoptimalkan pemanfaatan potensi wilayah, dilakukan melalui: (1) penyediaan informasi potensi sumberdaya wilayah, (2) pemanfatan teknologi tepat guna, (3) peningkatan investasi dan kegiatan produksi, (4) pemberdayaan dunia usaha dan UMKM, dan (5) pembangunan kawasan produksi; Pilar ketiga, memperkuat integrasi ekonomi antara daerah tertinggal dan daerah maju, dilakukan melalui: (1) pengembangan jaringan ekonomi antar wilayah, (2) pengembangan jaringan prasarana antar wilayah, dan (3) pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi daerah; Pilar keempat, meningkatkan penanganan daerah khusus yang memiliki karakteristik ‘keterisolasian ’, dilakukan melalui: (1) pembukaan keterisolasian daerah (pedalaman, pesisir, dan pulau kecil terpencil), (2) penanganan komunitas adat terasing, dan (3) pembangunan daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil.

Berdasarkan evaluasi terhadap kebijakan alokasi dana perimbangan dan kinerja ekonomi daerah tertinggal, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Faktor atau dimensi yang paling dominan yang menyebabkan ketertinggalan suatu daerah yaitu: · belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari pelaku pengembangan kawasan di daerah; · Masih lemahnya koordinasi, sinergi, dan kerjasama diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan, baik pemerintah, swasta, lembaga non pemerintah, dan masyarakat, serta antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, dalam upaya meningkatkan daya saing produk unggulan; · Jeterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi dalam mendukung pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah; · Belum optimalnya pemanfaatan kerangka kerjasama antar wilayah maupun antar negara untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan; · Ketidakseimbangan pasokan sumberdaya alam dengan kebutuhan pembangunan; · Permasalahan utama dari ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan adalah arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi ’inward looking’ sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan negara; · Pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. Diantaranya
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 16

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya, serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah. 2. Faktor pengungkit untuk mempercepat pembangunan daerah tertinggal: · Peningkatan kapasitas fiskal merupakan titik awal dari percepatan pembangunan daerah tertinggal. · Pembangunan infrastruktur sosial dan dasar agar berdampak optimal terhadap penegmbangan sumberdaya manusia, baik dari apsek ekonomi, pendidikan,dan kesehatan. · Aksestabilitas masyarakat daerah tertinggal terhadap faktor produksi yang terdapat diwilayahnya maupun diluar wilayahnya. 3. Strategi percepatan pembangunan dari masing-masing daerah tertinggal berdasarkan dimensi yang paling dominant dan factor pengungkit dari masing-masing dimensi ketertinggalan: · Pembangunan daerah tertinggal harus dilakukan dengan pendekatan kewilayahan. · Perlu dibedakan stratagi pembangunan daerah tertinggal yang ada di kepulauan dan pesisir dengan di non kepulauan dan non pesisir. · Perlu dibedakan stratagi pembangunan daerah tertinggal yang ada diperbatasan dan non perbatasan. 4. Rencana kedepan strategi percepatan pembangunan daerah tertinggal: · Pengembangan daerah tertinggal dapat dilakukan dengan strategi pokok sebagai berikut: (a) setiap daerah harus menentukan sektor unggulan; (b) pembangunan sumberdaya manusia disesuaikan dengan potensi sumberdaya alam lokal dan sesuai dengan standar industri, untuk meminimalkan atau menghilangkan konflik antara masyarakat lokal dengan industri; (c) pengembangan komoditas unggulan secara terfokus; (d) pemberian insentif fisik dan nonfisik bagi pengembangan sektor/komoditas unggulan, diantaranya berupa keringanan pajak dan retribusi, pembangunan prasarana dan sarana, kemudahan perijinan, dan kepastian hukum; (e) pembangunan industri berbasis sumberdaya alam; (f) meningkatkan produktivitas untuk menciptakan daya saing daerah; dan (g) membangun alur pasar yang jelas, terutama UKM, melalui perantara perusahaan besar. · Fungsi Pemerintah adalah melakukan pemihakan kepada yang lemah, sehingga pembangunan tidak sekedar bersifat marketdriven, sehingga diperlukan instrumen untuk mengkoordinasikan program dan anggaran dalam pengembangan daerah tertinggal, yang diantaranya dapat melalui peningkatan kerjasama antardaerah, sesuai PP Nomor 50 Tahun 2007, yang diperlukan untuk permasalahan daerah-daerah tertinggal.
VI - 17 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

·

Permasalahan utama dalam pengembangan ekonomi lokal adalah pasarnya yang kecil sehingga strategi ekspor sangat penting untuk memperluas pasar, yang diantaranya: (a) fokus pada pengembangan berbasis klaster; dan (b) membangun kemitraan antara pemerintah dengan sektor swasta. Pengelolaan Kawasan Perbatasan dan Pulau-Pulau Kecil Terluar

B.

Salah satu langkah pemerintah dalam mengantisipasi krisis ekonomi adalah melalui penguatan perekonomian wilayah-wilayah di kawasan perbatasan. Kawasan Perbatasan termasuk pulau-pulau kecil terluar memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang sangat besar yang dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu kawasan perbatasan merupakan kawasan yang sangat strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. Pengembangan perekonomian kawasan perbatasan perlu dilakukan secara seimbang dengan pengelolaan aspek keamanan yang juga sering muncul sebagai isu krusial di kawasan ini. Kegiatan eksploitasi SDA secara ilegal oleh pihak asing, seperti illegal logging dan illegal fishing, masih marak terjadi dan menyebabkan degradasi lingkungan hidup. Adanya kesamaan budaya dan adat antara masyarakat di kedua negara menyebabkan munculnya aktivitas lintas batas tradisional, tidak hanya pada pintu-pintu batas resmi yang telah disepakati namun juga pada jalur-jalur tidak resmi. Lemahnya sistem pengawasan di kawasan perbatasan menyebabkan tingginya tingkat kerawanan kawasan ini terhadap transnasional crime. Permasalahan lain yang tidak dapat dilepaskan dalam pengelolaan kawasan perbatasan adalah belum disepakatinya penetapan wilayah negara di beberapa segmen batas darat dan laut melalui kesepakatan dengan negara tetangga. Kerusakan atau pergeseran sebagian patokpatok batas darat sering menyebabkan demarkasi batas di lapangan menjadi kabur. Perlu diperhatikan pula eksistensi pulau-pulau terluar yang menjadi lokasi penempatan Titik Dasar/Titik Referensi sebagai acuan dalam menarik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. belum optimalnya koordinasi dan sinergitas antar pelaku yang menyebabkan lambannya upaya pengelolaan kawasan perbatasan. Hal ini disebabkan oleh belum berjalan optimalnya manajemen pengelolaan kawasan perbatasan yang terintegrasi, baik dalam aspek perencanaan maupun pelaksanaannya.
Pengembangan perekonomian kawasan perbatasan perlu dilakukan secara seimbang dengan pengelolaan aspek keamanan yang sering muncul sebagai isu krusial di kawasan tersebut

Permasalahan yang mengemuka dalam pengelolaan kawasan perbatasan adalah belum adanya kesepakatan penetapan batas wilayah negara serta kurang optimalnya koordinasi dan sinergitas antar Permasalahan lainnya yang mengemuka hingga saat ini adalah masih pelaku

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

VI - 18

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Pendekatan pengembangan wilayah perbatasan dilakukan melalui pendekatan keamanan dan pendekatan kesejahteraan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP) 2005-2025 telah menetapkan arah kebijakan pengembangan wilayah perbatasan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan yang digunakan selain menggunakan pendekatan keamanan juga dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Penjabaran lima tahun pertama dari kebijakan jangka panjang tersebut tertuang dalam Perpres No. 7 tahun 2005 mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 melalui Program Pembangunan Wilayah Perbatasan yang memiliki 2 tujuan, yaitu : (a) Menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui penetapan hak kedaulatan NKRI yang dijamin oleh Hukum Internasional; (b) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi, sosial dan budaya serta keuntungan lokasi geografis yang sangat strategis untuk berhubungan dengan negara tetangga. Program Pengembangan Wilayah Perbatasan memiliki 6 kegiatan pokok antara lain: 1. Penguatan pemerintah daerah dalam mempercepat peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui: (a) peningkatan pembangunan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi; (b) peningkatan kapasitas SDM; (c) pemberdayaan kapasitas aparatur pemerintah dan kelembagaan; (d) peningkatan mobilisasi pendanaan pembangunan; 2. Peningkatan keberpihakan pemerintah dalam pembiayaan pembangunan, terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana ekonomi di wilayah-wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil melalui, antara lain, penerapan berbagai skema pembiayaan pembangunan seperti: pemberian prioritas dana alokasi khusus (DAK), public service obligation (PSO) dan keperintisan untuk transportasi, penerapan universal service obligation (USO) untuk telekomunikasi, program listrik masuk desa; 3. Percepatan pendeklarasian dan penetapan garis perbatasan antar negara dengan tanda-tanda batas yang jelas serta dilindungi oleh hukum internasional; 4. Peningkatan kerja sama masyarakat dalam memelihara lingkungan (hutan) dan mencegah penyelundupan barang, termasuk hasil hutan (illegal logging) dan perdagangan manusia (human trafficking). Namun demikian perlu pula diupayakan kemudahan pergerakan barang dan orang secara sah, melalui peningkatan penyediaan fasilitas kepabeanan, keimigrasian, karantina, serta keamanan dan pertahanan; 5. Peningkatan kemampuan kerja sama kegiatan ekonomi antar kawasan perbatasan dengan kawasan negara tetangga dalam rangka mewujudkan wilayah perbatasan sebagai pintu gerbang lintas negara. Selain dari pada itu, perlu pula dilakukan pengembangan wilayah

VI - 19

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam lokal melalui pengembangan sektor-sektor unggulan; 6. Peningkatan wawasan kebangsaan masyarakat; dan penegakan supremasi hukum serta aturan perundang-undangan terhadap setiap pelanggaran yang terjadi di wilayah perbatasan. Mengacu kepada kebijakan dan program pembangunan jangka panjang dan jangka menengah, pemerintah telah mengeluarkan berbagai regulasi terkait dalam pengelolaan kawasan perbatasan. Mengantisipasi pesatnya pembangunan kawasan perbatasan dan paradigma baru dalam pengelolaan kawasan perbatasan, Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah menegaskan prioritas penataan ruang kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis nasional dari sudut pandang pertahanan dan keamanan. Terdapat 5 fungsi yang menjadi dasar kebijakan penataan ruang kawasan perbatasan, yaitu : (1) kawasan perbatasan sebagai “beranda depan” negara dan pintu gerbang internasional ke negara tetangga, (2) penerapan keserasian prinsip pembangunan kesejahteraan dan pertahanan keamanan, (3) perlindungan terhadap kawasan konservasi dunia dan kawasan lindung nasional, (4) pengembangan ekonomi secara selektif sesuai potensi eksternal dan internal kawasan, dan (5) penciptaan kerjasama ekonomi yang menguntungkan antar negara dengan melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha. Undang-Undang Penataan Ruang juga menetapkan 10 kawasan strategis nasional pertahanan dan keamanan di perbatasan baik perbatasan darat maupun laut. Kawasan perbatasan darat terdiri dari 3 kawasan antara lain : (1) Kawasan Perbatasan Darat dengan Malaysia (Kalbar dan Kaltim), (2) Kawasan Perbatasan Darat dengan Papua Nugini (Papua), dan (3) Kawasan Perbatasan Darat dengan Timor Leste (NTT). Sedangkan kawasan perbatasan laut terdiri darl 7 kawasan, antara lain : (1) Kawasan Perbatasan Laut dengan Thailand/India/Malaysia (NAD dan Sumut) termasuk 2 Pulau Kecil Terluar, (2) Kawasan Perbatasan Laut dengan Malaysia/Vietnam/Singapura (Riau dan Kepri), termasuk 20 Pulau Kecil Terluar; (3) Kawasan Perbatasan Laut dengan Malaysia dan Filipina (Kaltim, Sulteng, dan Sulut), termasuk 18 Pulau Kecil Terluar; (4) Kawasan Perbatasan Laut dengan Palau (Maluku Utara, Papua Barat, Papua), termasuk 8 Pulau Kecil Terluar; (5) Kawasan Perbatasan Laut dengan Timor Leste dan Australia (Papua dan Maluku), termasuk 20 Pulau Kecil Terluar; (6) Kawasan Perbatasan Laut dengan Timor Leste dan Australia (NTT), termasuk 5 Pulau Kecil Terluar; dam (7) Kawasan Perbatasan Laut Berhadapan dengan Laut Lepas (NAD, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB), termasuk 19 Pulau Kecil Terluar.
VI - 20

Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah menegaskan prioritas penataan ruang kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis nasional (terdiri dari 10 KSN dan 26 PKSN) yang dilihat dari sudut pandang pertahanan dan keamanan

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Gambar 6.5. Ilustrasi 10 Kawasan Perbatasan di Indonesia

Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional sebagai penjabaran Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah menetapkan 26 Pusat Kegiatan Strategis Nasional di Perbatasan (PKSN). PKSN adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara yang ditetapkan dengan beberapa kriteria, antara lain : (1) pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara tetangga; (2) pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga; (3) pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya; dan/atau (4) pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya. Pengembangan PKSN dimaksudkan untuk menyediakan pelayanan yang dibutuhkan untuk mengembangkan kegiatan masyarakat di kawasan perbatasan, termasuk pelayanan kegiatan lintas batas antarnegara. Sebagai respon dan kebutuhan terhadap manajemen pengelolaan kawasan perbatasan secara terintegrasi, saat ini telah dikeluarkan Undang Undang nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara yang mengamanatkan pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan. Undang-undang ini mengamanatkan pembentukan Badan Pengelola Nasional dan Badan Pengelola Daerah yang berwenang untuk : (1) menetapkan kebijakan program pembangunan perbatasan; (2) menetapkan rencana kebutuhan anggaran; (3) mengoordinasikan pelaksanaan; dan (4) melaksanakan evaluasi dan pengawasan.

VI - 21

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Tabel 6.1. Daftar 26 Pusat Kegiatan Strategis Nasional di Kawasan Perbatasan PKSN
1. Jagoibabang 2. Nangabadau 3. Paloh-Aruk 4. Entikong 5. Jasa 6. Long Pahangai 7. Long Nawan 8. Nunukan 9. Simanggaris 10. Long Midang 11. Atambua 12. Kefamenanu 13. Tanah Merah

Kab/Kota
Bengkayang Kapuas Hulu Sambas Sanggau Sintang Kutai Barat Malinau Nunukan

PKSN
14. Jayapura 15. Merauke 16. Batam 17. Ranai 18. Dobo 19. Saumlaki 20. Ilwaki 21. Daruba 22. Sabang 23. Kalabahi 24. Dumai 25. Tahuna 26. Melonguane

Kab/Kota
Jayapura (Kota) Merauke Batam Natuna Kepulauan Aru Maluku Tenggara Barat Halmahera Utara Sabang Alor Dumai Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud

Belu Timor Tengah Utara Boven Digoel

Pemerintah secara khusus mengeluarkan pula regulasi mengenai pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, melalui penerbitan Peraturan Presiden nomor 78 tahun 2005 mengenai pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang bertujuan untuk memberikan arahan kebijakan operasional dalam pengelolaan 92 pulau kecil terluar. Terdapat 3 misi utama dari Perpres 78 tahun 2005 yaitu : (1) Menjaga keutuhan NKRI, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa, serta menciptakan stabilitas kawasan; (2) Memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan berkelanjutan; (3) Memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatkan kesejahteraan dengan prinsip pengelolaan berdasarkan wawasan nusantara, berkelanjutan dan berbasis masyarakat, serta mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah. Penerbitan berbagai produk kebijakan diatas diharapkan dapat semakin meningkatkan keberpihakan. keterpaduan dan sinergitas seluruh stakeholder, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, maupun masyarakat, dalam melakukan pengelolaan kawasan perbatasan, sehingga percepatan pembangunan kawasan perbatasan dalam aspek kesejahteraan dan keamanan secara seimbang dapat terwujud.

Perpres 78 tahun 2005 mengenai pengelolaan pulaupulau kecil terluar bertujuan untuk memberikan arahan kebijakan operasional dalam pengelolaan 92 pulau kecil terluar melalui 3 misi utama

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

VI - 22

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

C. Pengelolaan Kawasan Strategis Nasional Pengelolaan kawasan strategis dalam Buku Pegangan ini difokuskan informasinya pada 3 kawasan strategis nasional yaitu meliputi: (a) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, (b) Kawasan Ekonomi Khusus, dan (c) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu. Langkah-langkah kebijakan yang telah dilaksanakan untuk pengembangan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (KPBPB) khusus untuk Sabang adalah melalui UU No. 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang menjadi Undang-Undang yang mulai efektif berlaku sejak tanggal 1 September 2000. Penetapan ini bertujuan untuk mendorong pembangunan Provinsi NAD dan daerah lain di Indonesia, dimana jangka waktu berlakunya Undang-undang ini adalah 70 tahun. Keputusan Presiden No. 191/M Tahun 2005 Tanggal 22 Desember 2005 tentang pejabat Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam selaku ExOfficio menjadi Ketua Dewan Kawasan Sabang. Selain itu diterbitkannya UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh, dimana dalam UU tersebut telah mengukuhkan dan mempertegas status dan kapasitas Sabang sebagai suatu kawasan yang bebas dari tata niaga, pengenaan bea masuk, pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah. Pengembangan Kawasan Sabang diarahkan untuk kegiatan perdagangan dan investasi serta kelancaran arus barang dan jasa. Untuk KPBPB lainnya pemerintah melakukan perubahan UU No 36/2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas atau Perpu No 1/2007 menyangkut batas kawasan yang ditetapkan dengan PP, Jenis kegiatan di kawasan ditetapkan dengan PP, Pembentukan kawasan yang juga dengan PP, mengubah Perpu No 1/2007 menjadi UU No. 44 Tahun 2007 Tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, tersusunnya PP No. 46 Tahun 2007 tentang Penetapan Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, PP No. 47 Tahun 2007 tentang Penetapan Bintan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, PP No. 48 Tahun 2007 tentang Penetapan Karimun sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, tesusunnya Keppres No. 9 Tahun 2008 tentang Dewan Kawasan Batam, Keppres No. 10 Tahun 2008 tentang Dewan Kawasan Bintan, Keppres No. 11 Tahun 2008 tentang Dewan Kawasan Karimun, Perpres No. 30 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, dan tersusunnya Dewan Nasional dengan tugas menetapkan kebijakan umum dalam rangka percepatan pengembangan KPBPB sehingga mampu bersaing dengan kawasan sejenis di negara lain, membantu Dewan KPBPB dalam rangka pengelolaan KPBPB, termasuk
VI - 23 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

dalam upaya penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam pengelolaan KPBPB, melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengelolaan KPBPB, dan adanya Keputusan Menko Perekonomian selaku Ketua Dewan Nasional Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas No. KEP-35/M.EKON/05/2008 tentang Tim Pelaksana Dewan Nasional Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, dan telah tersusunnya Master Plan Kawasan Batam 2008-2027 beserta Business Plan Otorita Batam 2008-2012 meski belum memiliki kekuatan hukum (belum disahkan). Langkah-langkah kebijakan untuk pengembangan KAPET diantaranya sedang mengupayakan perbaikan Keppres 150/2000 tentang BP KAPET menjadi Perpres tentang Revitalisasi Pengelolaan KAPET yang berisi kejelasan komitmen Pemerintah terhadap pengembangan KAPET kedepan dengan merevitalisasi kebijakan KAPET, perbaikan sistem kelembagaan Badan Pengembangan di pusat dan Badan Pengelola di daerah, bentuk kelembagaan pengelola menjadi Badan Pengusahaan yang profesional, kejelasan kewenangan dan peran Badan Pengembangan dengan Badan Pengusahaan di daerah, mekanisme koordinasi sinkronisasi keterpaduan program lintas sektor dan pendanaan di pusat dan daerah, keorganisasian tugas dan fungsi Badan Pengembangan dan Badan Pengusahaan, mengupayakan rencana percepatan penyediaan sarana infrastruktur di KAPET. Langkah kebijakan untuk KEK adalah dibentuknya Tim Nasional Pengembangan KEKI melalui SK Menko Perekonomian No 21/M.Ekon/03/2006 yang dirubah menjadi Keputusan Menko Perekonomian No. 33/2008 tentang Timnas KEKI, dan sedang dilakukan pembahasan tentang RUU tentang KEK antara Pemerintah dengan DPR. Langkah-langkah kebijakan untuk pengembangan KESR oleh Seknas KSER adalah membina memelihara dan melanjutkan komitmen dengan berbagai pihak terkait antar negara anggota KESR baik secara bilateral maupun multilateral, memberikan informasi dan konsultasi bagi Provinsi dan Kabupaten/Kota yang terkait dengan kegiatan KESR, melakukan korespondensi dan materi tentang partisipasi Indonesia dalam kerjasama ekonomi, dan koordinasi dengan instansi terkait baik di pusat maupun daerah, menyelesaikan Country Papers bagi anggota delegasi Indonesia dan Chairman Notes tentang hal yang relevan bagi ISOM/SOM/MM/Summit, mempersiapkan pendapat dan saran bagi Annotated Agenda dan program untuk ISOM/SOM/MM/Summit dan kegiatan lainnya, menyiapkan atau membagikan Highlight/Laporan/Updates/Persetujuan yang ditetapkan di berbagai meeting atau petunjuk pimpinan, menyiapkan rencana kegiatan tahunan Indonesia dalam rangka kerjasama ekonomi sub-regional, melaksanakan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 24

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

monitoring terhadap tindakan yang dilakukan untuk menghadapi hal-hal yang timbul dari berbagai rapat koordinasi/working group/cluster, dan juga melaksanakan asistensi dalam pengorganisasian meeting, dimana Indonsia menjadi tuan rumah. Disamping itu peran yang dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam kaitannya dengan pengembangan KESR adalah mendukung Tim Diskusi dan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia terutama dalam bidang Ketenagakerjaan dan Perburuhan meliputi upayaupaya memberikan informasi tentang Peraturan Perundang-Undangan tentang Ketenagakerjaan termasuk Peraturan Dasar yang terkait dengan KESR, mengajukan usulan agar hambatan mobilitas worker migration dapat dihilangkan tanpa mengurangi aspek keamanannya seperti fiskal keberangkatan keluar negeri, adanya MOU tentang prosedur penggunaan tenaga kerja asing yang lebih jelas dan aman antar negara pemasok dan negara penerima, memberikan informasi tentang ketersediaan dan kebutuhan tenaga kerja baik dari segi jumlah maupun mutu SDM-nya.

6.2.3 Perkembangan Pelaksanaan Perkotaan dan Perdesaan
Jumlah dan proporsi penduduk perkotaan terus meningkat, namun bagian terbesar penduduk pekotaan masih berada di jawa

Pembangunan

Wilayah

Potret perkembangan wilayah perkotaan di Indonesia tidak jauh berbeda dari gambaran perkembangan pembangunan wilayah yang ada. Jumlah dan proporsi penduduk perkotaan terus meningkat, namun bagian terbesar penduduk perkotaan masih berada di Jawa. Proporsi penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan di Indonesia meningkat dari sekitar 22 persen di tahun 1980 menjadi 31 persen dan 42 persen di tahun 1990 dan 2000, dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi lebih dari 60 persen di tahun 2025. Proporsi penduduk perkotaan yang tinggal di Jawa tidak banyak berubah dari 69.8 persen di tahun 1980 menjadi 69.2 persen dan 69.1 persen di tahun 1990 dan 2000, masih selalu lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menghuni kota-kota di luar Jawa.

VI - 25

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

PERKOTAAN
Jumlah penduduk perkotaan > perdesaan
90 80 70 60 50 40 30 20 10
17.4 35.91 30.9 43.99 82.6 77.73

Perdesaan Perkotaan
69.1 64.09 60.39 56.01 52.03 48.3 51.7 47.97 43.95 39.61 34.95 56.05 65.05

22.27

19 70 19 80

20 10 20 15

20 05

19 90 19 95

Struktur dan hirarkhi kota-kota kita masih belum beranjak banyak dari keadaan beberapa dekade lalu di mana wilayah Jakarta dan sekitarnya masih menduduki urutan pertama pusat pertumbuhan, diikuti Surabaya, Bandung, Semarang, Palembang, Medan, Makassar, Padang, Malang, Lampung dan seterusnya. Jumlah kota-kota kecil relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah kota menengah.

Ketidakseimbangan Jumlah Kota Menengah dan Kecil : Kota Kecil Belum BerkembangKeterkaitan antara desa-kota kecil masih kurang
Kota Metropolitan Kota Besar Kota Sedang Kota Kecil

15 %

14 %

58 %

12 %

Di satu sisi kota-kota di Indonesia memiliki potensi dan daya tarik yang amat besar dengan keunikan lokasi dan pemandangan alam serta kekayaan dan keragaman sosial dan budaya, termasuk keragaman seni, hasil bumi, dan kuliner. Namun di sisi lain, berbagai permasalahan dalam bidang pembangunan perkotaan masih harus dihadapi di antaranya adalah: (1) rendahnya kualitas pelayanan publik, (2) terbatasnya tingkat penyediaan perumahan yang layak, (3) rendahnya akses terhadap lahan
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 26

20 20

20 25

20 02

Sumber : Bappenas (2005), Pustra (2008), diolah dengan asumsi growth 1.5%/thn

0

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

perkotaan, (4) masih tingginya tingkat kemiskinan di perkotaan, serta (5) masalah-masalah yang terkait dengan proses otonomi daerah dan demokratisasi pembangunan, seperti pembentukan kota-kota baru yang menambah jumlah agenda pembangunan perkotaan, adanya konflik kewenangan antara pusat dan daerah, terjadinya krisis solidaritas lintas wilayah.. Di samping itu masih terdapat pula masalah lainnya seperti (6) keterkaitan kota-desa masih lemah, (7) belum terbangunnya keterkaitan spasial dan mata rantai produksi antara pertanian dan suplai inputnya antara kawasan perkotaan dan perdesaan, (8) belum optimalnya kerjasama antar Pemerintah Daerah dalam pengelolaan kawasan perkotaan, (9) menurunnya daya dukung kota besar dan metropolitan akibat pembangunan yang tidak terkendali, (10) belum maksimalnya peran kota kecil dan menengah dalam mendorong pertumbuhan wilayah, , serta (11) rentannya kota-kota di Indonesia terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam.
Polusi Udara, Air Dan Suara Merupakan Degradasi Lingkungan Perkotaan Terbesar

343 Bencana di Indonesia pada 1907 – 2007 terbanyak adalah banjir, gempa bumi, gunung berapi , longsor dan epidemi
A K e b a k a n g r a T G u n u n g L o in n s B n B E G K e e m p k e p a r in id b t o h u e g a e u g a u n p a t a a r a s n o m p r jir m m n 0 i i 8 3 0 6 0 9 0 1 2 0 3 3 8 5 n n i i 3 7 1 0 8 8 4 5 1 9 0

Ancaman Perubahan Iklim : Krisis air baku, sanitasi, energi , dan pangan, serta Peningkatan banjir

Sesuai dengan misi yang harus diemban dalam pembangunan nasional jangka panjang, maka arah pembangunan perkotaan dapat dirinci ke dalam program-program pembangunan yang menekankan pentingnya halhal sebagai berikut:

VI - 27

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

MISI

ARAH PEMBANGUNAN PERKOTAAN
1. Orientasi pada keragaman etnis & budaya, serta pembangunan berkelanjutan. 2. Penciptaan lapangan kerja formal serta kesejahteraan pekerja informal. 3. Peningkatan Iklim investasi yang menarik 4. Pengembangan IKM di luar Pulau Jawa. 5. Peningkatan sarana dan prasarana dalam kota, antar kota, antara kota dan desa berorientasi ramah lingkungan dan hemat energi 6. Penyediaan kebutuhan hunian untuk mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh. 7. Peningkatan pelayanann dasar (industri, perdagangan, transportasi, pariwisata, dan jasa) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menyeimbangkan pertumbuhan antar kota Peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi antar kota pengendalian pemanfaatan ruang Peningkatan peran dan fungsi kota-kota menengah dan kecil Peningkatan kegiatan ekonomi kota ramah lingkungan Peningkatan kemampuan keuangan daerah perkotaan Pengembalian fungsi kawasan Penataan kembali pelayanan fasilitas publik Pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar perkotaan

Bangsa yg berdaya saing

Pembangunan yg merata dan berkeadilan

Indonesia asri dan lestari

1. 2. 3. 4. 5.

Identifikasi dan pemetaan daerah-daerah rawan bencana Kemampuan penerapan sistem deteksi dini bencana alam pembangunan yang berkelanjutan Pemanfaatan jasa ramah lingkungan Pemulihan dan rehabilitasi kondisi lingkungan hidup

Negara kepulauan yg mandiri, maju,kuat

1. Pengembangan kota berwawasan bahari 2. Pengembangan industri kelautan 3. Pengurangan dampak bencana pesisir dan pencemaran

Kebijakan bidang perkotaan didasarkan pada paradigma pembangunan perkotaan yang melihat kota sebagai suatu kesatuan kawasan/wilayah. Dengan melihat kota sebagai kesatuan ini, maka kota harus dilihat dari dua sisi, yaitu kota sebagai “mesin” pertumbuhan nasional dan regional serta kota sebagai tempat tinggal yang nyaman, layak huni dan berkelanjutan. Mengembangkan kota sebagai mesin pertumbuhan nasional dan regional dapat dilakukan melalui upaya-upaya seperti peningkatan daya saing kawasan perkotaan, pengembangan dan pengoptimalan peran kota kecil dan menengah sebagai pendukung ekonomi perdesaan, peningkatan kerjasama antar Pemerintah Daerah dalam pengelolaan kawasan perkotaan (Keterkaitan antar kota), peningkatan manajemen perkotaan di kawasan metropolitan serta peningkatan fungsi koordinasi lintas wilayah dan lintas sektoral serta peningkatan dan revitalisasi peran dan fungsi kawasan metropolitan. Sedangkan untuk mengembangkan kota sebagai tempat tinggal yang nyaman, layak huni dan berkelanjutan dapat dilakukan melalui upayaupaya seperti peningkatan pelayanan perkotaan, pengendalian pertumbuhan penduduk kota-kota besar dan kawasan metropolitan (tidak hanya dengan mengendalikan kelahiran tetapi juga dengan mengembangkan kota kecil dan menengah untuk mencegah migrasi masuk ke kota besar dan kawasan metropolitan, development capacity pembangunan berkelanjutan kawasan metropolitan, serta peningkatan penataan ruang kawasan metropolitan. Prioritas pembangunan perkotaan tahun 2010 diarahkan untuk melaksanakan upaya-upaya sebagai berikut :
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 28

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

1. Pengembangan Sistem Informasi Perkotaan a. Pengkajian dan Pengembangan Sistem Informasi melalui Penyusunan Data dan Informasi peran masing-masing kota PKN, PKW, PKL dam PKSN dalam sistem perkotaan nasional 2. Pengembangan Badan Kerjasama Antar Kota a. Fasilitasi Pengelolaan Kawasan Perkotaan 3. Penyusunan Pedoman, Rencana dan Evaluasi Pedoman Pembangunan Kota /Antar Kota a. Penataan Lingkungan Kawasan Perkotaan Metropolitan, Besar, Menengah dan Kecil. b. Fasilitasi Penguatan Sistem Perkotaan Nasional c. Penataan Lingkungan Kawasan Pinggiran Kota (Fringe Area) 4. Pengembangan Sistem Kelembagaan Ekonomi Perkotaan a. Pengembangan dan Revitalisasi Sistem Kelembagaan Ekonomi Perkotaan 5. Pengembangan Infrastruktur Kota a. Pembangunan Sektor Perkotaan (USDRP) 6. Pengembangan Ekonomi Kota Kecil dan Menengah a. Pendampingan Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten/Kota 7. Pengembangan Sistem Informasi Pembangunan Kota Besar dan Metropolitan a. Penyiapan Jakstra 20 th Pengembangan Perkotaan Nasional 8. Penyusunan Rencana, Kebijakan dan Pedoman Pengendalian Pembangunan Kota-Kota Besar dan Kawasan Metropolitan a. Penyiapan Rencana Tindak Pengembangan Kota-Kota Besar b. Penyusunan RTR, rencana tindak dan pembentukan kelembagaan kawasan metropolitan c. Penyusunan kebijakan dalam pengendalian pertumbuhan kotakota satelit di sekitar kota inti metropolitan sesuai dengan fungsi dan daya dukung lingkungan d. Pengendalian dan Pengembalian Fungsi Kawasan Metropolitan dan Kota Besar melalui peremajaan pada pusat kegiatan perkotaan (pasar tradisional, kawasan pendidikan, kawasan kesehatan). Meskipun terdapat kecenderungan peningkatan jumlah dan prosentase penduduk di wilayah perkotaan, sebagian besar wilayah Indonesia sebenarnya merupakan kawasan perdesaan. Namun demikian, tingkat kesejahteraan penduduk pedesaan secara umum masih relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata penduduk perkotaan. Sebagian besar penduduk perdesaan bekerja di sektor pertanian dengan pola kepemilikan lahan yang semakin sempit. Jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di perdesaan juga masih lebih tinggi daripada penduduk miskin perkotaan.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Tingkat kesejahteraan penduduk pedesaan secara umum masih relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan penduduk perkotaan

VI - 29

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

WILAYAH PERDESAAN
96.68 Papua Nusa Tenggara Maluku Sulawesi Kalim antan Jawa dan Bali Sumatera 70.07 87.61 90.61 91.54 88.63 91.58

Sumber: BPS, PODES 2006

82,31 % wilayah Indonesia adalah kawasan perdesaan
membangun Indonesia = membangun perdesaan = membangun pertanian
4% 0% 14% 5% 0% 9% 7%

60% 1%

Pertanian Listrik, Gas, Air Angkutan

Pertambangan Bangunan Jasa& Keuangan

Industri Pengolahan Perdagangan Jasa Kemasyarakatan

PERTANIAN: WAJAH DOMINAN PERDESAAN

Konsentrasi Penduduk Miskin Di Pedesaan Tinggi Meskipun Cenderung Menurun
Tahun 1996 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
60 50 40 30 20 10 0

Dalam Juta Orang

Kota 9,42 17,60 15,64 12,30 8,60 13,30 12,20 11,40 12,40 14,49 13,56

Desa 24,59 31,90 32,33 26,40 29,30 25,10 25,10 24,80 22,70 24,81 23,61

Total 34,01 49,50 47,97 38,70 37,90 38,40 37,30 36,10 35,10 39,30 37,17

% Penduduk Miskin lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan berdasarkan propinsi (2007 & 2008)

NTB

NAD

Riau

Banten

NTT

DKI Jakarta

Bengkulu

Lampung

Bangka Belitung

Kepulauan Riau

Maluku

Sumatera Utara

Sulawesi Utara

Maluku Utara

Jawa Barat

Gorontalo

Sumatera Barat

2007 Kota

2007 Desa

2008 Kota

2008 Desa

Kawasan perdesaan menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal yang menghambat perwujudan kawasan permukiman perdesaan yang produktif, berdaya saing dan nyaman. Adapun permasalahan tersebut secara garis besar meliputi: (1) masih terbatasnya alternatif lapangan kerja berkualitas, (2) masih lemahnya
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 30

Sulawesi Barat

Jawa Tengah

DI Yogyakarta

Papua Barat

Jawa Timur

Papua

Jambi

Bali

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Bertolak dari misi yang harus diemban dalam pembangunan nasional jangka panjang, maka arah pembangunan perdesaan dapat dirinci ke dalam program-program pembangunan yang menekankan pentingnya hal-hal sebagai berikut:
MISI
1.

ARAH PEMBANGUNAN PERDESAAN
peningkatan penciptaan lapangan kerja di sektor formal serta kebijakan yg mendukung sektor informal peningkatan efisiensi dan modernisasi dalam pengolahan sektor primer (pertanian, kelautan dan pertambangan) Peningkatan nilai tambah sektor primer melalui pengembangan agribisnis (rantai nilai) Peningkatan daya saing melalui diversifikasi produk Penguatan industri dan jasa pendukung sektor primer

Bangsa yg berdaya saing

2. 3. 4. 5.

1.Pengembangan agroindustri berbasis pertanian dan kelautan;

Pembangunan yg merata dan berkeadilan

2.Peningkatan kapasitas SDM 3.Pengembangan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di kawasan perdesaan dan kota-kota kecil; 4.Peningkatan akses informasi, pemasaran, lembaga keuangan, kesempatan kerja, dan teknologi; 5.Pengembangan social capital 6.Intervensi harga dan kebijakan pro pertanian 1.Pengelolaan berbasis keragaman SDA lokal 2.Mitigasi bencana alam 3.Peningkatan nilai tambah dari SDA berbasis keunikan lokal 1.Pengembangan industri kelautan (pariwisata dan agroindustri)

Indonesia asri dan lestari Negara kepulauan yg mandiri, maju,kuat

Dengan perkiraan pencapaian sasaran pada RPJMN 2004-2009 sampai dengan tahun 2008, maka rencana dan langkah tindak lanjut pembangunan untuk periode selanjutnya adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan penciptaan lapangan kerja di sektor formal serta kebijakan yg mendukung sektor informal. 2. Peningkatan efisiensi dan modernisasi dalam pengolahan sektor primer (pertanian, kelautan dan pertambangan). 3. Peningkatan nilai tambah sektor primer melalui pengembangan agribisnis (rantai nilai). 4. Peningkatan daya saing melalui diversifikasi produk. 5. Penguatan industri dan jasa pendukung sektor primer. 6. Pengembangan agroindustri berbasis pertanian dan kelautan. 7. Peningkatan kapasitas SDM. 8. Pengembangan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di kawasan perdesaan dan kota-kota kecil. 9. Peningkatan akses informasi, pemasaran, lembaga keuangan, kesempatan kerja, dan teknologi. 10. Pengembangan social capital. 11. Intervensi harga dan kebijakan pro pertanian.
Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah VI - 32

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

12. Pengelolaan berbasis keragaman SDA lokal 13. Mitigasi bencana alam. 14. Peningkatan nilai tambah dari SDA berbasis keunikan lokal. 15. Pengembangan industri kelautan (pariwisata dan agroindustri). Dalam rangka pengembangan ekonomi lokal dan daerah, berbagai permasalahan yang masih harus dihadapi adalah: (1) Rendahnya akses terhadap infrastruktur fisik pendukung kegiatan ekonomi produktif dan masih rendahnya kuantitas dan kualitas infrastruktur bagi pengembangan ekonomi, (2) Rendahnya akses terhadap data dan informasi yang mendukung percepatan pengembangan ekonomi lokal dan daerah, (3) Belum kondusifnya pengembangan usaha ditinjau dari iklim berusaha, persaingan usaha, dan keberlanjutan sumberdaya produk unggulan daerah, sehingga dianggap perlu untuk mengoptimalkan regulasi dalam moneter, fiskal, dan perizinan, (4) Belum terintegrasi program-program lintas sektoral di dalam lingkup pengembangan ekonomi lokal dan daerah, (5) Rendahnya kinerja kelembagaan dan kemampuan sumberdaya manusia di pusat dan daerah dalam upaya mempercepat pembangunan, (6) Belum optimalnya kerjasama antar daerah, antar kementerian/ lembaga dengan daerah, dan kemitraan antara pemerintah dan dunia usaha, (7) Kurang terakomodasinya aspirasi dan kondisi daerah dalam desain program, (8) Terbatasnya kapasitas dan jumlah fasilitasi serta jangka waktu fasilitasi di dalam sistem yang mendukung pengembangan ekonomi lokal, (9) Belum maksimalnya dan terintegrasikannya programprogram pembangunan yang terkait dengan pengembangan kawasan, seperti agropolitan, Kawasan Sentra Produksi (KSP), Kota terpadu Mandiri (KTM), dan lainnya dan cenderung bersifat sektoral. Dengan perkiraan pencapaian sasaran pada RPJMN 2004-2009 sampai dengan tahun 2008, maka rencana dan langkah tindak lanjut pembangunan untuk periode selanjutnya adalah sebagai berikut: 1. Pengembangan ekonomi lokal dan daerah diharapkan berjalan dengan memperhatikan perubahan paradigma pembangunan, terutama dengan adanya perubahan paradigma kepemerintahan berdasarkan desentralisasi dan otonomi daerah. 2. Pengembangan ekonomi lokal dan daerah diharapkan sebagai sebagai insiatif daerah yang dilakukan secara partisipatif melalui peningkatan nilai tambah sektor primer melalui pengembangan agribisnis dengan menekankan pada pendekatan pengembangan bisnis (business development). 3. Pengembangan dan peningkatan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi, distribusi dan pemasaran. 4. Peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dan di perdesaan secara sinergis dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’.
VI - 33 Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

5. Perluasan dan diversifikasi aktivitas ekonomi dan perdagangan (nonpertanian) di pedesaan yang terkait dengan pasar di perkotaan 6. Pengembangan ekonomi lokal diarahkan melibatkan seluruh stakeholder khususnya dunia usaha dan pemerintah daerah baik dalam penganggaran maupun perencanaan, agar tercapai keberlanjutan. 7. Pengembangan ekonomi lokal dan daerah diarahkan untuk mengisi dan mengoptimalkan kegiatan ekonomi yang dilakukan berdasarkan pengembangan wilayah berkelanjutan melalui pengembangan komoditi unggulan yang berbasis sumber daya alam dan berbasis pengetahuan. 8. Kerjasama sama antar daerah dilakukan dalam rangka pengembangan ekonomi lokal terutama untuk peningkatan promosi investasi dan regional marketing. 9. Pengembangan sistem informasi pengembangan ekonomi lokal dan daerah dalam rangka mendukung promosi investasi dan regional marketing.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

VI - 34

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

LAMPIRAN A
1. Tabel A.1. Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Per Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2009. Tabel A.2. Dana Alokasi Khusus (DAK) Per Bidang Tahun 2009.

2.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A-2

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Tabel A.1. Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Per Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2009
NO
1

DAERAH
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Tenggara Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen Kab. Pidie Kab. Simeuleu Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kab. Nagan Raya Kab. Aceh Jaya Kab. Aceh Barat Daya Kab. Gayo Lues Kab. Aceh Tamiang Kab. Bener Meriah Kota Subulussalam Kab. Pidie Jaya Provinsi Sumatera Utara Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Deli Serdang Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Nias Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kab. Pakpak Bharat

DAK
48,189 45,466 48,972 43,527 48,132 40,875 39,939 51,143 50,372 46,947 58,774 45,413 40,928 43,004 38,739 34,299 40,538 36,564 38,035 36,215 38,263 39,123 38,575 48,265 46,303 77,532 48,026 91,188 49,370 57,820 63,972 52,781 78,074 77,476 54,190 58,620 60,756 50,056 28,399 50,645 39,228 37,461 41,326 33,285 38,751 42,341

DAU
509,686 315,650 398,139 326,501 209,184 317,753 284,719 358,657 226,981 391,967 417,380 209,831 313,126 182,458 228,877 248,528 324,215 218,522 231,877 252,889 259,602 227,320 167,103 212,548 761,055 446,561 327,835 784,029 393,397 247,309 597,483 385,229 400,252 634,437 274,928 292,588 360,547 279,899 283,641 855,641 307,529 211,212 227,878 221,410 256,544 162,411
A-4

2

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

NO

DAERAH
Kab. Nias Selatan Kab. Humbang Hasundutan Kab. Serdang Berdagai Kab. Samosir Kab. Batu Bara Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Labuhan Batu Selatan Kab. Padang Lawas Utara Kab. Padang Lawas Provinsi Sumatera Barat Kab. Lima puluh Kota Kab. Agam Kab. Kepulauan Mentawai Kab. Padang Pariaman Kab. Pasaman Kab. Pesisir Selatan Kab. Sawahlunto Sijunjung Kab. Solok Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Panjang Kota Padang Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok Kota Pariaman Kab. Pasaman Barat Kab. Dharmasraya Kab. Solok Selatan Provinsi Riau Kab. Bengkalis Kab. Indragiri Hilir Kab. Indragiri Hulu Kab. Kampar Kab. Kuantan Singingi Kab. Pelalawan Kab. Rokan Hilir Kab. Rokan Hulu Kab. Siak Kota Dumai Kota Pekanbaru Provinsi Kepulauan Riau Kab. Bintan Kab. Natuna Kab. Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kab. Lingga Kab. Anambas Provinsi Jambi

DAK
48,351 49,257 75,214 55,797 54,801 10,314 16,923 3,689 3,689 47,179 71,758 54,579 49,634 59,167 45,064 59,274 37,896 47,630 60,348 37,113 38,192 45,463 36,459 41,245 37,867 46,648 50,344 40,654 47,238 26,046 22,783 11,279 18,128 42,594 37,229 32,436 42,902 19,702 32,054 8,137 20,931 21,020 38,974 33,251 34,650 35,220 35,928 4,097 35,121

DAU
267,988 260,061 396,360 234,945 315,324 171,797 158,678 150,581 139,981 648,943 391,561 418,759 276,657 417,432 318,690 435,556 279,412 368,852 379,905 236,111 194,872 628,481 237,493 190,330 205,837 222,479 323,131 249,601 218,779 171,851 399,646 269,236 217,217 273,042 215,636 239,218 113,530 340,974 403,132 161,220 90,285 183,939 279,663 229,303 178,517 33,016 473,506

3

4

5

6
A-5

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

NO

DAERAH
Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tanjung Jabung Timur Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh Provinsi Sumatera Selatan Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Ogan Komering Ulu Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau Kota Prabumulih Kab. Banyuasin Kab. Ogan Ilir Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan Kab. Empat Lawang Provinsi Bangka Belitung Kab. Bangka Kab. Belitung Kota Pangkal Pinang Kab. Bangka Selatan Kab. Bangka Tengah Kab. Bangka Barat Kab. Belitung Timur Provinsi Bengkulu Kab. Bengkulu Selatan Kab. Bengkulu Utara Kab. Rejang Lebong Kota Bengkulu Kab. Kaur Kab. Seluma Kab. Mukomuko Kab. Lebong Kab. Kepahiang Kab. Bengkulu Tengah Provinsi Lampung Kab. Lampung Barat Kab. Lampung Selatan Kab. Lampung Tengah

DAK
40,149 40,324 49,724 46,364 48,252 44,014 9,805 48,262 43,787 36,436 3,720 48,458 29,138 55,145 34,656 73,115 25,061 11,770 35,701 39,355 33,577 63,549 44,000 53,054 43,670 34,894 45,563 55,138 41,749 39,134 41,840 40,966 40,002 38,289 53,277 50,196 85,235 56,425 43,175 49,004 50,660 52,385 38,341 57,760 4,202 40,016 55,901 77,307 73,574

DAU
277,645 311,266 334,059 346,143 292,375 273,455 202,713 218,722 281,393 370,770 58,483 507,356 355,796 86,728 388,998 399,028 533,746 304,463 689,117 174,706 207,020 187,557 441,359 282,738 361,082 253,297 190,027 407,995 278,345 242,777 234,868 219,713 196,786 219,258 218,130 487,339 272,440 306,075 321,223 340,293 204,914 247,384 234,111 207,913 215,420 79,378 628,506 335,371 444,678 669,123
A-6

7

8

9

10

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

NO
Kab. Lampung Utara Kab. Lampung Timur Kab. Tanggamus Kab. Tulang Bawang Kab. Way Kanan Kota Bandar Lampung Kota Metro Kab. Pesawaran Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Barat Kab. Bandung Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab. Ciamis Kab. Cianjur Kab. Cirebon Kab. Garut Kab. Indramayu Kab. Karawang Kab. Kuningan Kab. Majalengka Kab. Purwakarta Kab. Subang Kab. Sukabumi Kab. Sumedang Kab. Tasikmalaya Kota Bandung Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar Kab. Bandung Barat Provinsi Banten Kab. Lebak Kab. Pandeglang Kab. Serang Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Tangerang Kota Serang Provinsi Jawa Tengah Kab. Banjarnegara Kab. Banyumas Kab. Batang Kab. Blora Kab. Boyolali

DAERAH

DAK
60,706 77,328 57,727 52,586 43,336 58,701 37,404 35,520 29,388 28,437 61,469 104,123 101,257 49,054 102,035 45,506 52,623 39,313 39,796 45,455 81,438 105,026 40,770 77,536 40,908 15,128 21,019 33,873 19,293 40,089 31,746 40,445 31,070 19,130 32,121 68,076 77,839 73,132 49,765 27,014 9,829 8,465 3,437 65,960 37,629 68,377 52,242 69,901

DAU
454,525 537,546 567,326 464,061 327,284 528,637 227,349 237,177 977,238 1,080,232 618,248 1,112,000 858,188 840,790 828,693 1,012,059 706,786 722,111 638,797 642,731 454,483 666,936 855,802 629,016 801,726 989,246 630,404 439,254 358,971 456,946 287,531 339,007 418,880 209,615 566,589 361,179 576,191 618,800 582,554 855,237 295,340 496,391 151,744 1,130,743 504,765 735,161 416,413 487,324 586,029

11 12

13

14

A-7

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

NO

DAERAH
Kab. Brebes Kab. Cilacap Kab. Demak Kab. Grobogan Kab. Jepara Kab. Karanganyar Kab. Kebumen Kab. Kendal Kab. Klaten Kab. Kudus Kab. Magelang Kab. Pati Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Purbalingga Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Semarang Kab. Sragen Kab. Sukoharjo Kab. Tegal Kab. Temanggung Kab. Wonogiri Kab. Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Provinsi DI Yogyakarta Kab. Bantul Kab. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Sleman Kota Yogyakarta Provinsi Jawa Timur Kab. Bangkalan Kab. Banyuwangi Kab. Blitar Kab. Bojonegoro Kab. Bondowoso Kab. Gresik Kab. Jember Kab. Jombang Kab. Kediri Kab. Lamongan Kab. Lumajang Kab. Madiun Kab. Magetan

DAK
39,229 86,475 71,896 26,808 76,104 68,096 74,226 74,895 71,995 59,851 80,652 75,860 60,665 34,670 51,785 68,762 56,633 65,058 48,158 63,107 46,276 51,185 70,354 67,019 29,932 38,705 32,044 41,803 38,765 37,876 33,410 55,635 71,523 56,399 35,976 36,491 18,001 68,906 79,909 74,839 42,913 44,047 62,374 74,621 49,308 13,752 83,560 70,897 48,554 69,980

DAU
716,603 782,157 488,823 614,901 522,070 517,678 638,814 512,817 726,202 471,877 596,447 621,179 475,256 609,488 462,109 526,630 407,165 508,713 551,921 509,733 624,992 430,276 614,608 431,743 256,734 265,366 236,696 687,638 435,477 241,790 523,920 568,510 508,220 413,087 587,866 414,352 1,118,478 478,777 766,844 629,891 596,440 455,458 511,333 940,413 601,460 701,513 581,728 534,218 463,561 489,562
A-8

15

16

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

NO

DAERAH
Kab. Malang Kab. Mojokerto Kab. Nganjuk Kab. Ngawi Kab. Pacitan Kab. Pamekasan Kab. Pasuruan Kab. Ponorogo Kab. Probolinggo Kab. Sampang Kab. Sidoarjo Kab. Situbondo Kab. Sumenep Kab. Trenggalek Kab. Tuban Kab. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Provinsi Kalimantan Barat Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Kapuas Hulu Kab. Ketapang Kab. Pontianak Kab. Sambas Kab. Sanggau Kab. Sintang Kota Pontianak Kota Singkawang Kab. Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab. Kubu Raya Provinsi Kalimantan Tengah Kab. Barito Selatan Kab. Barito Utara Kab. Kapuas Kab. Kotawaringin Barat Kab. Kotawaringin Timur Kota Palangkaraya Kab. Barito Timur Kab. Murung Raya Kab. Pulang Pisau

DAK
93,983 64,675 71,311 69,847 61,207 60,478 88,914 78,219 44,996 75,610 45,382 60,792 34,140 68,943 59,524 83,750 33,100 28,260 30,825 20,597 26,788 38,546 35,056 28,534 33,037 53,314 49,454 48,067 60,386 60,677 48,092 82,724 75,885 53,767 42,293 57,116 42,620 41,127 45,605 18,468 59,296 50,044 39,994 64,383 63,004 33,209 44,060 37,185 13,622 63,212

DAU
959,115 502,185 590,844 555,634 429,143 458,248 606,174 550,754 537,651 428,955 666,166 433,451 565,861 465,955 520,028 625,049 225,704 408,256 272,311 471,748 238,050 230,770 259,539 765,895 218,141 744,834 288,988 346,888 525,525 591,888 185,532 447,339 441,911 486,882 404,247 262,355 248,981 290,645 211,799 375,547 694,822 331,548 307,778 494,413 368,750 457,825 334,314 266,807 384,353 301,064

17

18

A-9

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

NO

DAERAH
Kab. Gunung Mas Kab. Lamandau Kab. Sukamara Kab. Katingan Kab. Seruyan Provinsi Kalimantan Selatan Kab. Banjar Kab. Barito Kuala Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Kota Baru Kab. Tabalong Kab. Tanah Laut Kab. Tapin Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Kab. Balangan Kab. Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Timur Kab. Berau Kab. Bulungan Kab. Kutai Kartanegara Kab. Kutai Barat Kab. Kutai Timur Kab. Malinau Kab. Nunukan Kab. Pasir Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kab. Penajam Paser Utara Kab. Tana Tidung Provinsi Sulawesi Utara Kab. Bolaang Mongondow Kab. Minahasa Kab. Sangihe Kota Bitung Kota Manado Kab. Kepulauan Talaud Kab. Minahasa Selatan Kota Tomohon Kab. Minahasa Utara Kota Kotamobagu Kab. Bolaang Mongondow Utara Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro Kab. Minahasa Tenggara Kab. Bolaang Mangondow Timur Kab. Bolaang Mangondow Selatan

DAK
41,588 43,648 39,416 47,039 51,562 43,352 62,868 60,872 53,321 53,785 52,167 35,434 51,103 43,325 43,318 42,670 49,711 40,969 51,790 3,811 21,001 14,959 38,375 47,546 30,350 40,709 53,315 7,557 34,592 7,667 17,985 4,815 6,199 11,751 52,879 72,700 76,073 104,820 44,070 55,682 59,973 57,048 50,178 60,473 63,394 54,208 72,037 56,125 3,763 3,763

DAU
305,713 255,348 255,064 386,753 345,011 483,365 378,148 302,981 294,252 290,970 248,190 376,072 253,998 292,074 256,785 218,329 403,889 184,193 250,910 17,867 254,362 175,295 339,903 184,714 400,963 124,387 126,666 176,849 16,420 268,444 45,604 22,708 24,332 558,635 250,176 372,089 280,704 271,230 420,760 255,097 279,557 204,696 256,519 192,537 196,141 202,518 205,597 49,627 55,388
A - 10

19

20

21

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

NO
22

DAERAH
Provinsi Gorontalo Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Kota Gorontalo Kab. Pohuwato Kab. Bone Bolango Kab. Gorontalo Utara Provinsi Sulawesi Tengah Kab. Banggai Kab. Banggai Kepulauan Kab. Buol Kab. Toli-Toli Kab. Donggala Kab. Morowali Kab. Poso Kota Palu Kab. Parigi Moutong Kab. Tojo Una Una Kab. Sigi Provinsi Sulawesi Selatan Kab. Bantaeng Kab. Barru Kab. Bone Kab. Bulukumba Kab. Enrekang Kab. Gowa Kab. Jeneponto Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Maros Kab. Pangkajene Kepulauan Kab. Pinrang Kab. Selayar Kab. Sidenreng Rappang Kab. Sinjai Kab. Soppeng Kab. Takalar Kab. Tana Toraja Kab. Wajo Kota Pare-pare Kota Makassar Kota Palopo Kab. Luwu Timur Kab. Toraja Utara Provinsi Sulawesi Barat Kab. Majene Kab. Mamuju Kab. Polewali Mandar Kab. Mamasa Kab. Mamuju Utara

DAK
51,346 44,775 66,585 53,140 42,875 45,349 50,414 60,057 54,031 47,554 52,948 47,440 64,018 43,254 68,540 46,230 68,958 49,782 3,603 44,849 45,415 53,335 78,708 70,097 47,662 66,057 47,907 61,588 49,106 57,046 60,698 49,212 55,219 56,120 52,737 53,499 56,354 62,359 66,521 44,431 43,151 45,135 47,866 3,526 66,053 45,689 58,939 65,332 33,868 49,027

DAU
388,325 205,847 344,635 261,095 240,870 230,417 173,237 629,397 437,511 255,290 258,602 307,439 288,623 368,928 379,554 354,626 365,480 263,967 215,943 663,422 227,505 252,539 531,920 370,488 263,565 419,308 302,313 338,400 325,503 316,396 332,590 346,666 252,367 306,792 288,769 320,709 292,187 262,379 352,951 237,302 647,309 244,348 227,789 139,831 391,061 252,255 361,961 342,593 227,707 192,512

23

24

25

A - 11

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

NO
26

DAERAH
Provinsi Sulawesi Tenggara Kab. Buton Kab. Konawe Kab. Kolaka Kab. Muna Kota Kendari Kota Bau-bau Kab. Konawe Selatan Kab. Bombana Kab. Wakatobi Kab. Kolaka Utara Kab. Konawe Utara Kab. Buton Utara Provinsi Bali Kab. Badung Kab. Bangli Kab. Buleleng Kab. Gianyar Kab. Jembrana Kab. Karangasem Kab. Klungkung Kab. Tabanan Kota Denpasar Provinsi Nusa Tenggara Barat Kab. Bima Kab. Dompu Kab. Lombok Barat Kab. Lombok Tengah Kab. Lombok Timur Kab. Sumbawa Kota Mataram Kota Bima Kab. Sumbawa Barat Kab. Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur Kab. Alor Kab. Belu Kab. Ende Kab. Flores Timur Kab. Kupang Kab. Lembata Kab. Manggarai Kab. Ngada Kab. Sikka Kab. Sumba Barat Kab. Sumba Timur Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Timor Tengah Utara Kota Kupang Kab. Rote Ndao

DAK
56,318 64,583 68,631 49,059 71,482 47,459 42,347 72,544 49,156 53,003 39,456 47,922 49,857 36,108 41,648 45,611 50,231 59,614 51,898 56,708 51,216 56,388 34,918 48,024 59,167 48,584 50,917 57,104 62,836 63,874 45,114 41,782 45,967 3,300 59,733 50,691 69,336 72,098 59,399 76,085 48,983 64,389 70,749 55,314 67,353 71,524 67,529 52,349 48,773 47,095

DAU
589,844 330,366 400,083 375,914 396,953 339,100 261,587 321,259 229,582 203,254 234,076 250,718 199,573 471,063 280,990 276,006 506,300 393,605 306,368 356,688 278,558 424,288 360,017 554,432 440,308 300,013 324,119 515,670 627,038 424,707 314,252 234,249 170,240 162,617 652,757 295,940 384,891 322,462 324,837 412,510 223,447 232,282 240,094 311,878 221,035 337,429 395,751 289,200 329,008 207,118
A - 12

27

28

29

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

NO

DAERAH
Kab. Manggarai Barat Kab. Nagekeo Kab. Sumba Barat Daya Kab. Sumba Tengah Kab. Manggarai Timur Provinsi Maluku Kab. Maluku Tenggara Barat Kab. Maluku Tengah Kab. Maluku Tenggara Kab. Pulau Buru Kota Ambon Kab. Seram Bagian Barat Kab. Seram Bagian Timur Kab. Kepulauan Aru Kab. Maluku Barat Daya Kota Tual Kab. Buru Selatan Provinsi Maluku Utara Kab. Halmahera Tengah Kab. Halmahera Barat Kota Ternate Kab. Halmahera Timur Kota Tidore Kepulauan Kab. Kepulauan Sula Kab. Halmahera Selatan Kab. Halmahera Utara Provinsi Papua Kab. Biak Numfor Kab. Jayapura Kab. Jayawijaya Kab. Merauke Kab. Mimika Kab. Nabire Kab. Paniai Kab. Puncak Jaya Kab. Kepulauan Yapen/ Yapen Waropen Kota Jayapura Kab. Sarmi Kab. Keerom Kab. Yahukimo Kab. Pegunungan Bintang Kab. Tolikara Kab. Boven Digoel Kab. Mappi Kab. Asmat Kab. Waropen Kab. Supiori Kab. Mamberamo Raya Kab. Mamberamo Tengah Kab. Yalimo

DAK
50,192 53,927 41,026 53,523 32,944 68,267 59,243 59,930 47,899 52,091 44,833 57,915 42,678 48,986 4,695 41,866 4,247 83,658 60,392 87,890 53,631 52,394 52,998 55,421 52,875 61,941 81,273 58,284 54,887 78,421 83,524 58,931 42,641 52,111 66,402 54,804 56,169 39,513 47,604 62,365 76,953 59,121 50,927 55,364 66,193 60,581 44,313 34,352 54,490 51,286

DAU
247,347 211,196 223,988 171,231 171,327 578,164 243,895 437,604 221,153 196,272 354,898 281,087 219,409 265,083 145,571 55,068 93,869 458,512 245,558 216,550 262,099 163,098 220,210 234,462 301,036 275,719 1,058,228 315,277 373,058 161,562 702,019 193,784 287,208 374,582 243,316 257,999 335,206 397,040 285,343 398,060 446,727 314,947 480,521 439,565 534,224 310,988 194,434 390,795 53,016 86,563

30

31

32

A - 13

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

NO
Kab. Lanny Jaya Kab. Nduga Kab. Dogiyai Kab. Puncak Provinsi Papua Barat Kab. Sorong Kab. Manokwari Kab. Fak Fak Kota Sorong Kab. Sorong Selatan Kab. Raja Ampat Kab. Teluk Bintuni Kab. Teluk Wondama Kab. Kaimana

DAERAH

DAK
54,233 53,894 76,753 29,616 68,580 49,587 51,963 47,308 45,712 46,854 66,055 40,709 40,454 38,109

DAU
82,397 74,590 135,253 198,303 595,756 327,413 395,191 361,815 239,515 267,508 314,053 343,393 213,954 353,372

33

Total
Sumber : Sekretariat DAK Bappenas, 2009

24,819,589

186,414,100

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 14

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 15

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 16

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 17

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 18

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 19

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 20

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 21

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 22

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 23

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 24

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 25

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 26

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 27

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 28

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

A - 29

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran A: Alokasi Belanja Daerah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

A - 30

Lampiran B: Data Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

LAMPIRAN B
1. Tabel B.1. Pelaksanaan PP No. 41 Tahun 2007 oleh Pemerintah Daerah. Tabel B.2. Pelaksanaan Terpadu Satu Indonesia. Pelayanan Pintu di

2.

3.

Tabel B.3. Daerah Otonom Baru Tahun 2008 – Februari 2009.

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

B-2

Lampiran B: Data Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Tabel B.1. Pelaksanaan PP No. 41 Tahun 2007 oleh Pemerintah Daerah Lingkup Provinsi
NAD

2007
- Provinsi - Kota Lhoksumawe - Kab. Simeuleu -

2008
Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Barat Kab. Bener Meriah Kab. Nagan Raya Kab. Pidie Kab. Aceh Jaya Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Tengah Kab. Deli Sedang Kab. Tanah Karo (Karo) Kab. Toba Samosir Kota Padang Sidempuan Kab. Dairi Kab. Pasaman Barat Kab. Sawahlunto Kab. Solok Kota Payakumbuh -

Keterangan
50% Dari 24 wilayah

Sumatera Utara

-

16% Dari 31 wilayah

Sumatera Barat

-

20% Dari 20 wilayah 8% Dari 12 wilayah 8% Dari 12 wilayah 50% Dari 16 wilayah

Riau Jambi Sumatera Selatan

- Kab. Rokan Hulu -

- Kab. Batanghari Provinsi Kab. Musi Rawas Kab. Banyuasin Kab. Lahat Kota Pagaralam Kota Palembang Kota Prabumulih Kab. Empat Lawang Provinsi Kab. Rejang Lebong Kab. Seluma Kab. Kepahiang Kab. Way Kanan Kab. Tanggamus Kota Bandar Lampung Kab. Lampung Selatan Kab. Lampung Utara Kota Metro Provinsi Kota Pangkalpinang -

Bengkulu

- Kab. Kaur

45% Dari 11 wilayah 75% Dari 12 wilayah

Lampung

- Provinsi - Kab. Lampung Tengah - Kab. Lampung Timur

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta

- Kab. Lingga -

25% Dari 8 wilayah 12,5% Dari 8 wilayah 0% Dari 7 wilayah

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

B-4

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Lingkup Provinsi
Jawa Barat

2007
- Kab. Bandung - Kota Bandung -

2008
Kab. Cirebon Kab. Majalengka Kab. Subang Kab. Sukabumi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Provinsi Kab. Boyolali Kab. Batang Kab. Grobogan Kab. Kebumen Kab. Pekalongan Kab. Sukoharjo Provinsi Kab. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Provinsi Kab. Banyuwangi Kab. Gresik Kab. Situbondo Kab. Tulungagung Kota Probolinggo

Keterangan
37% Dari 27 wilayah

Jawa Tengah

- Kab. Kendal

22% Dari 36 wilayah

DIY Jawa Timur

-

33% Dari 6 wilayah 15% Dari 39 wilayah

-

Banten Bali

-

NTB NTT

-

-

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah

- Kab. Bengkayang - Kab. Melawi - Kab. Sanggau -

Provinsi Kab. Tabanan Kab. Bangli Kab. Buleleng Kab. Jembrana Kab. Bima Kab. Sumbawa Barat Kota Mataram Kab. Manggarai Timur Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Nagekeo Kab. Belu Kab. Manggarai Barat Kab. Sikka Kab. Ngada Kota Kupang Kab. Pontianak Kab. Sekadau Kota Pontianak Kab. Barito Utara Kab. Kapuas Kab. Sukamara Kota Palangkaraya

0% Dari 8 wilayah 50% Dari 10 wilayah

27% Dari 11 wilayah 38% Dari 21 wilayah

40% Dari 15 wilayah 27% Dari 15 wilayah

B-5

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran B: Data Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Lingkup Provinsi
Kalimantan Selatan

2007
- Kab. Hulu Sungai Selatan - Kab. Hulu Sungai Tengah - Kab. Tabalong - Kab. Tanah Bumbu -

2008
Provinsi Kab. Balangan Kab. Barito Kuala Kab. Kotabaru Kab. Tapin Kota Banjarmasin Kab. Berau Kab. Bulungan Kab. Malinau Kab. Tana Tidung Kab. Minahasa Selatan Kab. Minahasa Kab. Minahasa Utara Kab. Kepulauan Tauhid Kota Manado Kota Tomohon Provinsi Kab. Toli-toli Kab. Buol Kota Palu Kab. Luwu Kab. Barru Kab. Bulukumba Kab. Gowa Kab. Luwu Timur Kab. Luwu Utara Kab. Pinrang Kab. Soppeng Kab. Wajo Kota Pare-pare Provinsi Kab. Kolaka Utara Kab. Wakatobi Kab. Konawe Utara Kab. Buton Utara Kab. Kendari Kota Kendari - Kab. Tual - Kab. Maluku Tenggara Barat - Kab. Pulau Buru - Kab. Seram Bagian Timur - Kab. Halmahera Tengah - Kab. Raja Ampat

Keterangan
42% Dari 24 wilayah

Kalimantan Timur Sulawesi Utara

27% Dari 15 wilayah 50% Dari 16 wilayah

- Kab. Minahasa Tenggara - Kota Kotamobagu

Sulawesi Tengah - Kab. Banggai

42% Dari 12 wilayah 46% Dari 24 wilayah

Sulawesi Selatan - Kab. Pangkajene Kep.

Sulawesi Tenggara

- Kab. Konawe - Kab.Buton - Kab. Konawe Selatan

77% Dari 13 wilayah

Gorontalo Sulawesi Barat Maluku

- Kab. Bone Bolango - Kab. Mamuju - Provinsi

14% Dari 7 wilayah 17% Dari 6 wilayah 42% Dari 12 wilayah

Maluku Utara Papua Barat

-

11% Dari 9 wilayah 10% Dari 10 wilayah
B-6

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

Lingkup Provinsi
Papua Total

2007
-

2008
82,5% Dari 160 daerah yang telah melaporkan Perdanya

Keterangan
0% Dari 27 wilayah 31% Dari total wilayah Indonesia

17,5% Dari 160 daerah yang telah melaporkan Perdanya Sumber : Biro Organisasi-Depdagri, 2008

B-7

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran B: Data Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Tabel B.2. Pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Indonesia NO.
1 2 3 4 5

PROVINSI
Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Lampung Jawa Barat

KABUPATEN/KOTA
§ Serdang Bedagai § Kota Bukit Tinggi § Kabupaten Solok § Kab. Indragiri Hilir § Kota Pekanbaru § Kota Dumai § Kota Metro § Kab. Bogor § Kota Bekasi § Kota Cirebon § Kota Bogor § Kab. Semarang § Kab. Jepara § Kab. Grobogan § Sragen § Kab. Sleman § Kota Kediri § Kota Madiun § Kab. Lumajang § Kab. Magetan § Kab. Bondowoso § Kab. Lamongan § Kota Blitar § Kabupaten Serang § Kota Tangerang § Kabupaten Jembrana § § § § § § § § § § Kab. Sumbawa Kota Pontianak Kab. Ketapang Kota Palangkaraya Kab. Kotabaru Kab. Barito Kuala Kab. HSU Kab. Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru

KETERANGAN
§ Sejak September 2006, unit pelayanan § Sejak 16 Juni 2001, Kantor § Sejak 1998, unit pelayanan (unit OSS+) § Sejak 26 April 2001, Kantor § Sejak Maret 1999, Kantor § Sejak 20 Februasi 2002, Badan § Sejak 11 Oktober 2001, Unit § Sejak 29 April 1999, Unit Pelayanan § Sejak Maret 1999, Satuan Pelayanan § Sejak 2001, Unit Pelayanan à kurang efektif § Sejak Oktober 1999, Kantor § Sejak September 2001, Kantor § Sejak Oktober 2003, Kantor § Sejak Mei 2001, Kantor § Sejak 2002, Kantor (peningkatan status dari unit) § Sejak Januari 1999, Unit Pelayanan à tidak efektif § Sejak Januari 2002, Kantor § Sejak Februari 1998, Unit Pelayanan § Sejak September 2002, Unit Pelayanan § Sejak September 2002, Kantor § Sejak Maret 2003, Kantor à Tidak efektif § Sejak Februari 2003, Kantor § Sejak Juli 2003, Kantor § Sejak September 1999, Kantor § Sejak Januari 2001, Kantor § Sejak 2003, bergabung di dinas informasi, komunikasi dan transportasi § Sejak Januari 2003, Unit Pelayanan § Sejak 1999, Kantor § Sejak 2006, Kantor § Sejak November 2001, Unit Pelayanan § Sejak Maret 2007, Unit Pelayanan § Sejak Mei 2007, Kantor § Sejak 2002, Kantor

6

Jawa Tengah

7 8

DIY Jawa Timur

9 10 11 12 13 14

Banten Bali NTB Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

B-8

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

NO.
15 16 17

PROVINSI
Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Gorontalo § § § §

KABUPATEN/KOTA
Kota Tarakan Kota Samarinda Kab. PangKep. Kota Pare-pare

KETERANGAN
§ Sejak Desember 2001, Unit Pelayanan § Sejak Desember 1998, Unit Pelayanan § Dalam proses pembuatan § Sejak 2004, Kantor (peningkatan status dari unit) § Sejak Oktober 2002, Unit Pelayanan

§ Kota Gorontalo

Sumber : PUM-Depdagri, 2008

B-9

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

Lampiran B: Data Perkembangan Penyelenggaraan Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah

Tabel B.3. Daerah Otonom Baru Tahun 2008 – Februari 2009
NO DOB DAERAH INDUK Kabupaten Labuhan Batu Kabupaten Labuhan Batu Kab. Nias Kab. Nias Kab. Nias UU IBUKOTA JUMLAH PENDUDUK (2007) ± 250.173 JUMLAH KECAMATAN 5 LUAS WILAYAH (KM2) ± 3.596

PROVINSI SUMATERA UTARA
1 2 3 4 5 Kab. Labuhan Batu Selatan Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Nias Utara Kab. Nias Barat Kota Gunungsitoli Kota Sungai Penuh Kab. Bengkulu Tengah Kab. Kep. Meranti Kab. Anambas Kab. Pringsewu Kab. Mesuki Kab. Tulang Bawang Barat Kota Tangerang Selatan Kab. Lombok Utara 22 Tahun 2008 23 Tahun 2008 45 Tahun 2008 46 Tahun 2008 47 Tahun 2008 Kota Pinang Aek Kanopan Lolofaoso Onolimbu Gunungsitoli

PROVINSI JAMBI
6 Kabupaten Kerinci Kabupaten Bengkulu Utara Kab. Bengkalis Kabupaten Natuna Kab. Tanggamus Kab. Tulang Bawang Kab. Tulang Bawang 25 Tahun 2008

PROVINSI BENGKULU
7 24 Tahun 2008 Karang Tinggi ± 93.557 6 ± 1.223,94

PROVINSI RIAU
8 12 Tahun 2009 Selat Panjang

PROVINSI KEPULAUAN RIAU
9 33 Tahun 2008 Tarempa, Siantan Pringsewu Sidomulyo Panaragan ± 233.360 8 ± 1.201,00 ± 41.341 6 ± 590,14

PROVINSI LAMPUNG
10 11 12 48 Tahun 2008 49 Tahun 2008 50 Tahun 2008

PROVINSI BANTEN
13 Kab. Tangerang 51 Tahun 2008 Ciputat 7

PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
14 Kabupaten Lombok Barat Kab. Kupang 26 Tahun 2008 Tanjung ±204.556 6 ± 776,25

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
15 Kab. Sabu Raijua 52 Tahun 2008 Mania ±72.190 6 ± 460,54

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

B - 10

PENGUATAN EKONOMI DAERAH: Langkah Menghadapi Krisis Keuangan Global

NO

DOB

DAERAH INDUK Kabupaten Bolaang Mongondow Kabupaten Bolaang Mongondow Kabupaten Donggala Kabupaten Tana Toraja Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Buru Kab. Halmahera Utara Kab. Sorong Kab. Kebur

UU

IBUKOTA

JUMLAH PENDUDUK (2007) ± 61.123 ± 54.751

JUMLAH KECAMATAN 5 5

LUAS WILAYAH (KM2) ± 910,176 ± 1.615,86

PROVINSI SULAWESI UTARA
16 17 Kab. Bolaang Mongondow Timur Kab. Bolaang Mongondow Selatan Kab. Sigi 29 Tahun 2008 30 Tahun 2008 Tutuyan Bolaang Uki

PROVINSI SULAWESI TENGAH
18 27 Tahun 2008 Sigi Biromaru ± 203.898 (2005) ± 219.428 15 ± 5.196,02

PROVINSI SULAWESI SELATAN
19 Kab. Toraja Utara Kab. Maluku Barat Daya Kab. Buru Selatan Kab. Pulau Morotai Kab. Maibrat Kab. Tambrauw Kab. Lanny Jaya Kab. Mamberamo Tengah Kab. Yalimo Kab. Nduga Kab. Dogiyai Kab. Puncak Papua Kab. Intan Jaya Kab. Deiyai 28 Tahun 2008 Rantepao 21 ± 1.215,55

PROVINSI MALUKU
20 31 Tahun 2008 Tiakur ± 66.627 8 ± 4.581,06

21

32 Tahun 2008

Namrole

± 43.096

5

± 3.780,56

PROVINSI MALUKU UTARA
22 23 24 53 Tahun 2008 13 Tahun 2009 56 Tahun 2008 Daruba Kumurkek Kebur ± 29.119 6 ± 5.179,65 ± 54.876 5 ± 2.476

PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA
25 26 27 28 29 30 31 32 Kabupaten Jayawijaya Kabupaten Jayawijaya Kabupaten Jayawijaya Kabupaten Jayawijaya Kabupaten Nabire Kabupaten Puncak Jaya Kab. Paniai Kab. Paniai 5 Tahun 2008 3 Tahun 2008 4 Tahun 2008 6 Tahun 2008 8 Tahun 2008 7 Tahun 2008 54 Tahun 2008 55 Tahun 2008 Tiom Kobakma Elelim Kenyam Kigamani Ilaga Yokatapa Waghete 89.332* 54.735* 34.057* ± 73.696* ± 51.805* ± 60.294* ± 41.163 ± 38.301 10 5 5 8 7 8 6 5 ± 2.248 ± 1.275 ± 1.253 ± 2.168 ± 4.237,4 ± 8.055 ± 3.922,02 ± 537,39

* tidak ada keterangan tahun. Sumber : OTDA-Depdagri dan UU Pembentukan Wilayah (DOB)

B - 11

Buku Pegangan 2009 Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->