Anda di halaman 1dari 38

MODUL PERENCANAAN KAS

REVISI 3

DISUSUN OLEH

WIBAWA PRAM SIHOMBING IMAN WIDHIYANTO


SEKSI PERENCANAAN KAS

DIREKTORAT PENGELOLAAN KAS NEGARA

DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .. BAB I. PENDAHULUAN . 1.1. 1.2. 1.3. Latar Belakang Tujuan Dasar Hukum .. Perencanaan Kas dan Siklus Anggaran . Ruang Lingkup Perencanaan Kas . Perkiraan Saldo Akhir Kas Kewajiban Membuat Perencanaan Kas .. Metode .. Pelaksanaan

i 1 1 2 3 4 4 6 7 7 8 8 10 12 16 19 20 20 21 21 21 23 25 25 27 27 29 31

BAB II. PERENCANAAN KAS . 2.1. 2.2. 2.3. 2.4.

BAB III. PELAKSANAAN PERENCANAAN KAS OLEH SATKER .. 3.1. 3.2.

3.2.1. Belanja Pegawai . 3.2.2. Belanja Barang .. 3.2.3. Belanja Modal . 3.2.4. Belanja Bunga 3.2.5. Belanja Subsidi .. 3.2.6. Belanja Bantuan Sosial 3.2.7. Belanja Hibah . 3.2.8. Belanja Lain-lain . BAB IV. MEKANISME PENYAMPAIAN LAPORAN 4.1. 4.2. Format Pelaporan ... Waktu Pelaporan ..

BAB V. TIDAK LANJUT PERENCANAAN KAS 5.1. Perencanaan Kas dan Manajemen Likuiditas .. 5.2. Penyempurnaan Perencanaan Kas BAB VI. KESIMPULAN . LAMPIRAN SE-02/PB/2006

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Sejak Republik Indonesia berdiri 17 Agustus 1945 hingga akhir tahun 2005, dalam rangka pengelolaan keuangan negara belum dikenal adanya perencanaan kas (cash planning). Hal tersebut terjadi karena para pengelola keuangan negara belum menyadari arti penting sebuah perencanaan kas serta tidak pernah dihadapkan pada permasalahan kekurangan kas. Pada umumnya satker beranggapan bahwa dengan tersedianya DIPA maka otomatis akan tersedia pula dananya. Untuk memastikan ketersediaan dana tersebut maka pemerintah menyimpan uang di bank Indonesia dalam rangka antisipasi pengeluaran. Kegiatan tersebut disadari atau tidak menimbulkan biaya bagi pemerintah dalam bentuk opportunity cost yang harus ditanggung. Opportunity cost yang dimaksud merupakan biaya bagi pemerintah karena seharusnya dana tersebut bisa diinvestasikan oleh pemerintah untuk mendapatkan bunga untuk menambah pendapatan negara. Pentingnya perencanaan kas mulai disadari pada UU No.1 Tahun 2004. Meskipun hanya dalam penjelasan, pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa salah satu fungsi perbendaharaan adalah melaksanakan kegiatan perencanaan kas. Kegiatan ini sangat diperlukan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintah yang terbatas, sehingga pemanfaatan keuangan negara dapat dilaksanakan secara efisien dan dapat memberikan nilai tambah. Selain itu, kegiatan perencanaan kas juga merupakan suatu strategi manajemen kas yang dilaksanakan Bendahara Umum Negara guna memastikan bahwa negara selalu memiliki kas yang cukup untuk memenuhi pembayaran kewajiban negara dalam rangka pelaksanaan APBN, serta terhadap saldo kas yang ada dapat dimanfaatakan secara maksimal sehingga dapat memberikan hasil yang optimal. Perencanaan Kas Pemerintah ditingkat pusat dapat didefinisikan sebagai kegiatan memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas pada waktu tertentu untuk mengetahui kemungkinan terjadinya cash mismatch sehingga dengan demikian dapat dilakukan tindakan yang sesuai untuk menindaklanjutinya. Perencanaan kas ditingkat pusat merupakan gabungan dari berbagai unsur penerimaan dan pengeluaran kas yang terdapat dalam rincian APBN termasuk yang terkait dengan kegiatan pembiayaan. 1

Jika ditinjau secara total pada APBN maka Cash mismatch adalah ketidaksamaan antara jumlah kas yang diterima dan kas yang dikeluarkan. Cash mismatch dapat berupa kekurangan atau kelebihan kas. Hal tersebut penting untuk diprediksi supaya dapat direncanakan langkah-langkah mencari sumber pembiayaan untuk menutup kekurangan kas atau melakukan penempatan, investasi jangka pendek bila pada suatu saat tertentu terjadi kelebihan kas. Ditinjau dari aspek penganggaran, perencanaan kas merupakan suatu bagian penting dalam upaya percepatan penyerapan anggaran karena dengan adanya perencanaan kas yang baik akan memastikan tersedianya dana untuk membiayai kegiatan pemerintah sehingga dapat mencegah kemungkinan terhambatnya suatu kegiatan akibat dari tidak tersedianya dana. Selama ini kegiatan tersebut diabaikan karena berbagai hal. Pemerintah selama ini berupaya memastikan ketersediaan kas dengan cara menyimpan uang dalam jumlah besar di Bank Indonesia untuk memenuhi pengeluaran negara sebagai upaya antisipasi. Hal ini mengakibatkan tingginya cost of money pemerintah karena pada saat kas pemerintah sebenarnya mencukupi, pemerintah masih membuat utang baru sebagai tindakan berjaga-jaga, sementara disisi lain pemerintah tidak dapat memanfaatkan kelebihan kas untuk investasi jangka pendek. Hal tersebut tidak dapat lagi dilanjutkan karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen kas yang baik dimana pemerintah seharusnya memegang kas dalam jumlah tertentu dan menginvestasikan sisanya. Perencanaan kas juga semakin penting karena negara saat ini dalam anggaran yang defisit dengan kata lain sebenarnya pendapatan negara kita tidak mencukupi untuk menutup belanja nagara sehingga pemerintah perlu meminjam uang dari dalam dan luar negeri. Selain itu penerapan perencanaan kas perlu untuk merubah pola pikir di satuan kerja yang beranggapan bahwa kas bukanlah sumber daya ekonomi yang langka dan selalu tersedia kapan saja diperlukan. Perubahan pola pikir ini menjadi semakin penting ketika pada suatu saat pemerintah mengalami kekurangan kas, terutama pada akhir-akhir tahun anggaran dimana pengeluaran sangat besar.

1.2.

Tujuan
Secara umum perencanaan kas dibuat dengan tujuan untuk memperkirakan aliran kas

pemerintah pada masa datang. Aliran kas tersebut mencakup penerimaan, pengeluaran dan pembiayaan, termasuk didalamnya baik yang berasal dari anggaran maupun non anggaran. Apabila berbagai variabel diatas dapat diperkirakan maka langkah selanjutnya adalah memperkirakan saldo kas. Jika saldo awal diketahui dan berbagai komponen penerimaan dan 2

pengeluaran dapat diperkirakan

dengan perencanaan kas yang baik, maka tentu dapat

diperkirakan saldo akhir kas sehingga dapat dilakukan tindakan yang sesuai. Perencanaan kas juga diciptakan untuk mendukung berbagai fungsi lain dalam manajemen kas secara keseluruhan seperti penerapan Treasury Single Account (TSA), penempatan dan investasi, menentukan besaran kebutuhan pembiayaan jangka pendek dan lainnya. Kegiatan investasi atas idle cash pemerintah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya perencanaan kas yang akurat. Selain fungsi utamanya yaitu memperkirakan kemungkinan terjadi kekurangan atau kelebihan kas.

1.3.

Dasar hukum Peraturan yang mengatur perencanaan kas adalah Peraturan Pemerintah Nomor 39

tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah. Pada pasal pasal 32 ayat (1) dinyatakan Menteri Keuangan selaku BUN atau Kuasa BUN Pusat bertanggungjawab untuk membuat perencanaan kas dan menetapkan saldo kas minimal dan pada pasal 32 ayat (4) dinyatakan Dalam rangka penyusunan perencanaan kas, kementerian negara/lembaga dan pihak-pihak lain yang terkait dengan penerimaan dan pengeluaran APBN wajib menyampaikan proyeksi penerimaan dan pengeluaran secara periodik kepada Bendahara Umum

Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara. Sebelum Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2007 diundangkan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan telah lebih dahulu menyadari pentingnya arti perencanaan kas. Melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor-02/PB/2006 tanggal 6 Januari 2006 tentang Penyampaian Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Kas Instansi/Satuan Kerja Pemerintah Pusat/Daerah, setiap instansi/satuan kerja yang merupakan mitra kerja KPPN diharuskan membuat dan menyampaikan laporan rencana penerimaan dan pengeluaran kasnya. Untuk lebih mempertajam dan menegaskan tentang pentingnya perencanaan kas, saat ini sedang disusun rancangan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perencanaan Kas Pemerintah. Dalam RPMK tersebut diusulkan untuk ditambahkan adanya sanksi bagi satuan kerja yang tidak menyampaikan laporan perencanaan kasnya kepada KPPN mitra kerjanya tentunya setelah memberikan pendidikan yang memadai kepada satker. Pada saat PMK tersebut operasional diharapkan nantinya satker dapat menyampaikan laporan perencanaan kasnya secara akurat dan tepat waktu.

BAB II PELAKSANAAN PERENCANAAN KAS

2.1. Perencanaan Kas dan Siklus Anggaran


Perencanaan kas tidak terlepas dari proses pelaksanaan anggaran. Setiap satuan kerja memiliki rencana kerja masing-masing yang tertuang didalam DIPA. Pada DIPA tersebut tertera berapa besar anggaran yang disediakan oleh negara untuk saker tersebut dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagaimana yang telah direncanakannya setahun sebelumnya. Seharusnya pada saat mengajukan anggaran satker telah merencanakan apa yang akan dicapai pada tahun anggaran berikutnya. Dari tujuan yang akan dicapai tersebut satker merencanakan seberapa besar dana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini yang sering disebut dengan anggaran berbasis kinerja. Sebagai contoh suatu satker bertujuan untuk melakukan sosialisasi perencanaan kas pemerintah pusat. Dalam mencapai tujuan tersebut satker membutuhkan dana seperti untuk membayar honor pengajar, pengadaan ATK, perjalanan dinas, penginapan/akomodasi, sewa ruang rapat dan lainnya. Semua biaya tersebut akan tercantum didalam DIPA satker yang bersangkutan. Semakin besar satker maka akan semakin banyak kegiatannya yang berarti akan semakin besar juga dana dalam DIPA yang dikelola. Semakin besar satker maka semakin penting bagi satker untuk merencanakan dengan baik pelaksanaan kegiatannya. Kegiatan merencanakan menjadi penting untuk memastikan bahwa semua program/kegiatan yang telah direncanakan pada tahun sebelumnya dapat tercapai. Dengan adanya perencanaan kegiatan tersebut maka diaharapkan penyerapan dana satker yang bersangkutan juga dapat dilakukan secara baik disepanjang tahun dan penumpukan kegiatan pada kahir tahun dapat dihindari. Setelah mendapatkan DIPA satker yang bersangkutan tertunya akan menyusun Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). POK disetujui dan ditandatangani oleh PA atau KPA pada satker yang bersangkutan. Isi dari POK tersebut merupakan penjabaran kegiatan yang akan dilaksanakan beserta pendanaannya dan jauh lebih rinci dari DIPA. Pada POK suatu kegiatan lebih di rinci lagi kedalam berbagai komponen biaya yang terkait dengan kegiatan tersebut. Dari data tersebut tentunya akan lebih mudah dalam memperkirakan kapan dan seberapa besar dana tersebut akan terpakai. DIPA disusun pada tahun anggaran yang sebelumnya (dimulai dari bulan April), sehingga ada senjang waktu dengan saat pelaksanaanya, maka adalah hal yang wajar jika 4

sering dilakukan perbaikan/penyesuaian yang biasanya disebut dengan revisi DIPA. Pada dasarnya revisi DIPA harus dipandang sebagai upaya untuk mencapai tujuan/kinerja yang telah direncanakan sebelumnya atau dalam upaya mencapai kinerja yang baru dengan anggaran yang sama. Bisa saja dalam melaksanakan kegiatan yang sama satker tidak perlu menggunakan dana sebesar yang telah direncanakan sebelumnya atau bisa saja memerlukan dana yang lebih besar. Atau satker dapat saja merubah alokasi pendanaan kegiatannya karena ada kegiatan lain yang ternyata lebih penting. Perubahan pada DIPA akan mengakibatkan perubahan pula pada POK. Perubahan pada POK berarti perubahan pula pada besaran nilai dan saat terjadinya realisasi kegiatan yang tercantum didalam DIPA karena tentunya revisi memerlukan waktu. Jika terjadi demikian satker seharusnya melakukan antisipasi pada besaran dana yang akan ditarik dari KPPN melalui perencanaan kas dalam rangka pelaksanaan kegiatannya.

Diatas adalah contoh halaman III DIPA, yang seharusnya diisi dengan rencana kerja satker yang bersangkutan yang dikaitkan dengan kebutuhan belanjanya. Saat ini sebagian besar satker mengisi halaman tersebut dengan membagi pagu masing-masing belanja dengan angka 12 sehingga didapatkan nilai yang sama setiap bulannya. Hal tersebut tentunya salah, karena seperti diketahui sangat jarang satker sudah melakukan belanja modal apalagi dengan 5

nilai diatas Rp 50 juta pada awal tahun. Umumnya belanja modal, barang, dan belanja lain-lain dilakukan mendekati atau melewati bulan Juni. Hal tersebut jika belanja modal didasarkan pada proses pelelangan yang memakan waktu paling tidak tiga bulan. Sedangkan jika belanja barang biasanya satker baru memanfaatkannya juga pada pertengahan tahun misalnya untuk perjalanan dinas, pemeliharaan dan lainnya. Jika dilihat dari tren pencairan dana setiap tahunnya jelas bahwa pada awal tahun belanja pemerintah sangat rendah. Peningkatan yang cukup signifikan biasanya mulai terjadi setelah pertengahan tahun dan sangat tinggi menjelang akhir tahun. Hal tersebut harusnya tercermin pada sebagian besar DIPA satker.

2.2. Ruanglingkup Perencanaan Kas


Terkait laporan perencanaan kas yang disusun oleh instansi/satker mitra kerja KPPN, perencanaan kas masing-masing instansi/satker disusun berdasarkan perkiraan atas kegiatan yang akan berakibat pada Penambahan Uang Negara, Pengurangan Uang Negara, dan Saldo Uang Negara dalam periode tertentu, berikut penjelasannya :. 1. Penambahan Uang Negara bersumber dari : a. Pendapatan Negara antara lain penerimaan pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak, dan hibah; b. Penerimaan Pembiayaan antara lain penerimaan pinjaman, hasil penjualan kekayaan negara yang dipisahkan, dan pelunasan piutang; c. Penerimaan Negara Lainnya antara lain perhitungan pihak ketiga. 2. Pengurangan Uang Negara diakibatkan oleh : a. Belanja Negara antara lain belanja pegawai, modal, barang, subsidi dan lain-lain; b. Pengeluaran Pembiayaan antara lain pembayaran pokok utang, penyertaan modal negara, dan pemberian pinjaman; dan c. Pengeluaran Negara Lainnya antara lain perhitungan pihak ketiga.

3. Perkiraan surplus/defisit kas Surplus/defisit merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran. Dalam hubungannya dengan pengelolaan kas, terutama untuk pengelolaan kekurangan/kelebihan kas (cash mismatch), informasi surplus/defisit kas secara dini dapat membantu tugas pengelola kas, sehingga dapat segera diambil kebijaksanaan sehubungan keadaan kas

dimaksud. Seperti dalam hal terjadi kekurangan kas, Bendahara Umum Negara dapat melakukan : a. b. c. Pinjaman baik dari dalam maupun luar negeri Penjualan Surat Utang Negara (SUN) dan/atau surat berharga lainnya Pinjaman melalui penerbitan SUN (surat perbendaharaan dan obligasi)

Dan apabila terjadi kelebihan kas, Bendahara Umum Negara dapat melakukan kegiatan : a. Menempatkan uang negara pada rekening di bank sentral/bank umum yang dapat menghasilkan bunga/jasa giro dengan tingkat bunga yang berlaku umum b. Pembelian kembali (Buy Back) SUN

2.3.

Perkiraan saldo akhir kas Saldo akhir kas menunjukkan jumlah kas yang dimiliki pada setiap akhir hari kerja. Saldo

kas ini diarahkan seminimal mungkin sehingga jumlah kas yang dapat dimanfaatkan untuk penempatan bisa dimaksimalkan. Pemanfaatan saldo kas dengan baik akan meningkatkan pendapatan pemerintah. Perencanaan kas yang meliputi berbagai perkiraan-perkiraan tersebut di atas, tentu saja harus dilakukan secara cermat dengan melihat berbagai faktor dan indikator kegiatan ekonomi, baik yang telah lewat, masa kini dan perspektif masa depan, selain sumber-sumber dokumen yang sudah ada sebagai pedoman kegiatan perkiraan, sehingga akurasi perkiraan dapat mendekati realisasinya. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat bertanggung jawab untuk membuat perencanaan kas dan menetapkan saldo kas minimal. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No.302/KMK.01/2004 tanggal 23 Juni 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, pada pasal 883 ayat (1) secara implisit disebutkan bahwa Direktur Jenderal Perbendaharaan up. Direktorat Pengelolaan Kas Negara adalah instansi yang bertanggungjawab dalam penyusunan rencana penerimaan dan pengeluaran kas yang mendapatkan pelimpahan sebagian wewenang Menteri Keuangan.

2.4.

Kewajiban Membuat Perencanaan kas


Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara

Pusat bertanggungjawab untuk membuat perencanaan kas dan menetapkan saldo kas minimal. Saldo kas minimal ini merupakan buffer cash yaitu suatu cadangan kas yang harus ada di kas negara yang dipergunakan untuk menutup pengeluaran rutin dan pengeluaran yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. 7

Sebagai contoh di Amerika Serikat saldo tersebut ditetapkan sejumlah sekitar US$5 milyar sedangkan di Australia ditetapkan sekitar AUS$750 juta. Jika saldo kas minimal telah ditetapkan maka saldo kas pemerintah setiap hari diupayakan untuk mendekati patokan tersebut dan setiap rupiah diatas saldo kas minimal tersebut akan ditempatkan atau diinvestasikan jangka pendek (sangat likuid). Untuk mampu menerapkan hal yang sama maka pemerintah perlu melakukan perencanaan yang akurat setiap hari dimana setiap unit terkait setiap hari menyampaikan perencanaan kas untuk dikonsolidasikan. Perencanaan kas harian ini dibuat hingga tiga bulan kedepan dan dilakukan update secara terus menerus. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan dukungan dari setiap kementerian negara/lembaga dan pihak terkait untuk menyampaikan proyeksi penerimaan dan pengeluaran secara periodik kepada Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat/Daerah. Laporan tersebut kemudian dikompilasi untuk membuat perencanaan kas nasional yang juga merupakan rencana realisasi anggaran. Tingkat akurasi dari perencanaan kas nasional sangat dipengaruhi oleh kecermatan dalam pembuatan perencanaan penerimaan dan pengeluaran kas masing-masing departemen/lembaga. Laporan perencanaan kas yang baik seharusnya dilakukan secara harian. Hal tersebut didasarkan bahwa terjadinya penerimaan dan pengeluaran kas terjadi secara harian sehingga kemungkinan terjadi kekurangan atau kelebihan kas juga harian. Jika perencanaan kas dibuat mingguan atau bulanan maka tidak mungkin diketahui saat hari yang mana sebenarnya terjadi kekurangan atau kelebihan kas. Semakin jauh waktu perencanaan dari saat realisasinya maka akurasinya akan semakin rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan update atas perencanaan secara terus menerus. Dengan melakukan update ini akurasi dari perencanaan jangka pendek akan tetap terjaga akurat. Untuk meningkatkan akurasi perencanaan tersebut, perlu dibentuk suatu jaringan informasi yang baik antara instansi yang menjadi sumber data di dalam maupun diluar Departemen Keuangan dengan pihak yang mengolah dan melaporkan perencanaan kas (Ditjen Perbendaharaan c.q. Direktorat Pengelolaan Kas Negara). Peningkatan akurasi merupakan proses yang membutuhkan waktu cukup lama. Diperlukan suatu upaya terus-menerus dalam meneliti selisih antara proyeksi dan realisasi dan kerjasama dari berbagai pihak terkait, sehingga faktor-faktor yang menyebabkan selisih tersebut dapat diantisipasi. Langkah antisipasi tersebut penting supaya dalam perencanaan kas selanjutnya kesalahan serupa tidak terulang. Dengan koordinasi yang baik dengan semua pihak yang memberikan data perencanaan kas diharapkan pemerintah akan mampu membuat suatu perencanaan kas harian yang baik. 8

BAB III PELAKSANAAN PERENCANAAN KAS OLEH SATKER 3.1. Metode


Untuk membantu meningkatkan akurasi perencanaan kas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat perencanaan kas yaitu : a. Perencanaan kas merupakan dan didasarkan pada rencana penerimaan atau pengeluaran pada masa yang akan datang. Data dalam perencanaan kas seharusnya sedapat mungkin dibuat berdasarkan informasi, data, atau bukti-bukti kuat tentang kemungkinan terjadinya penerimaan atau pengeluaran pada masa yang akan datang. Perencanaan kas seharusnya sedapat mungkin mengurangi penggunaan metodemetode statistika yang mengkaitkan masa lalu dengan masa depan karena pola-pola pengeluaran dan penerimaan dalam APBN tidak pernah sama setiap tahunnya. Hal tersebut juga diakibatkan karena selalu berubahnya kebijakan dan peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah. Jika terpaksa harus menggunakan metode statistik maka angka tersebut harus disesuaikan lagi dengan judgement pembuat laporan. b. Telescopic projection. Telescopic Projection dimaksudkan bahwa seharusnya akurasi perencanaan akan semakin tinggi seiring dengan semakin dekatnya waktu kejadian. Sebagai contoh jika belanja barang untuk kebutuhan perjalanan dinas akan semakin akurat diketahui jika sudah semakin dekat hari H-nya. Karena semakin dekat saatnya maka semua dokumen telah siap sehingga semakin mudah memperkirakan seberapa besar nantinya biaya yang diperlukan. c. Melakukan pemutakhiran. Pemutakhiran yang dimaksud adalah menyesuaikan angka perencanaan kas dengan keadaan yang diperkirakan dapat mempengaruhinya. Misalnya perencanaan kas untuk belanja modal berupa pembelian sepuluh komputer. Tentunya karena harganya diatas Rp 50 juta maka harus dilelang. Jika misalkan sebelum lelang diperkirakan dana yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 70 juta, jika direncanakan akan direalisasikan pada bulan Juni minggu keempat maka pada bulan tersebut harus mencantumkan nilai Rp 70 juta dalam perencanaan kas. Apabila setelah dilakukan lelang maka ternyata pemenang lelang mengajukan harga Rp 65 juta maka seharusnya perencanaan kas juga harus diupdate dengan angka tersebut. Seharusnya nilai tersebut tetap karena nilai lelang akan tidak berubah hingga tanggal realisasinya. d. Evaluasi. Evaluasi merupakan bagian penting dalam perencanaan kas. Evaluasi adalah kegiatan membandingkan realisasi dengan perencanaan kas. Perencanaan kas yang 9

dibuat dapat saja lebih tinggi atau lebih rendah dari realisasi. Dengan melakukan evaluasi diharapkan dapat diketahui penyebab perbedaan tersebut sehingga dapat dilakukan tindakan yang sesuai. Kegiatan evaluasi harus dilakukan secara rutin atau jika diperlukan sehingga diharapkan perencanaan kas dapat semakin akurat. e. Mengetahui pola atau saat terjadinya pengeluaran. Sebagian jenis pengeluaran atau penerimaan mempunyai pola tertentu yang selalu berulang atau kemungkinan berulangnya cukup tinggi. Jika demikian maka untuk membuat perencanaan kasnya dapat terbantu dengan pola tersebut. Contoh pengeluaran yang mempunyai pola seperti belanja untuk DAU yang nilainya relatif sama dan tanggal realisasinya juga relatif sama di awal bulan.

3.2. Pelaksanaan Perencanaan Pengeluaran


Perencanaan kas merupakan bagian penting dari manajemen kas. Selama ini satker masih belum memahami dengan baik tentang pentingnya sebuah perencanaan kas dikarenakan permintaan dana yang diajukan melalui KPPN sepanjang memenuhi syarat selalu dipenuhi. Pada negara-negara maju rencana permintaan kas harus sudah dilakukan maksimal sehari sebelum dilakukan percairannya. Untuk pengeluaran yang mendadak dan dalam jumlah besar dapat saja ditunda pencairannya karena tidak sesuai dengan perencanaan kas. Hal tersebut terjadi bukan karena negara tersebut kekurangan kas tetapi karena kas tersebut telah terlanjur diinvestasikan sehingga jika dipergunakan akan menimbulkan kerugian. Pada saat ini pemerintah baru memulai untuk menerapkan perencanaan kas yang baik. Hal ini sangat penting dalam rangka memaksimalkan penggunaan kas yang ada dan mencegah banyaknya kas yang menganggur. Sebenarnya kita sudah memiliki dokumen yang menampung perencanaan kas yaitu DIPA hanya saja dalam pelaksanaannya penggunaan halaman III DIPA yang berisi perencanaan kas masih belum dilakukan dengan baik. Perencanaan pengeluaran kas Halaman III DIPA tersebut masih dilakukan dengan cara membagi total dana dalam DIPA dengan 12 sesuai dengan jumlah bulan dalam satu tahun, sehingga rencana pengeluarannya rata setiap bulannya. Hal ini tidak tepat mengingat tidak semua pengeluaran sama nilainya setiap bulan. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan pada halaman III DIPA untuk mendukung perencanaan kas yang baik. Pada umumnya pengeluaran dapat dibagi kedalam beberapa kategori besar : 1. Pengeluaran yang telah terjadwal yaitu pengeluaran yang telah pasti jatuh temponya sehingga bisa diprediksikan dengan baik. Contoh pengeluaran tersebut antara lain pembayaran DAU, pelunasan pinjaman LN dan pembayaran bunga utang. Beberapa komponen dalam belanja gaji juga dapat dikelompokkan dalam bagian ini. 10

2. Pengeluaran yang rutin dilakukan setiap bulannya meskipun secara nominal jumlahnya mungkin berbeda antara bulan yang satu dengan bulan lainnya. Termasuk dalam pengeluaran yang bersifat rutin adalah belanja barang untuk operasional kantor dan belanja pemeliharaan. 3. Pengeluaran yang insidental namun nominalnya relatif besar misalnya pengeluaran untuk belanja modal yang pengadaannya harus menggunakan lelang, kontrak dan sebagainya.

Pada halaman II DIPA, Belanja dibagi kedalam lima kategori besar yaitu : 1. Belanja Pegawai, a. Gaji dan tunjangan PNS b. Honorarium c. Lembur d. Vakasi e. Uang Makan/Lauk Pauk 2. Belanja Barang, a. Belanja barang dan jasa b. Belanja pemeliharaan c. Belanja perjalanan dinas 3. Belanja Modal, a. Belanja Modal Tanah b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin c. Belanja Modal Gedung dan Bangunan d. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan e. Belanja Modal Lainnya 4. Belanja Bunga 5. Belanja Subsidi 6. Belanja Bantuan Sosial, 7. Belanja Hibah 8. Belanja Lain-lain.

11

Masing-masing belanja tersebut dirinci lagi kedalam fungsi, sub fungsi, program, kegiatan, sub kegiatan dan BKPK. Pada Halaman III DIPA, Belanja tersebut dibuat rencana penarikan pengeluaran atau perkiraan penerimaan bagi satker yang memiliki penerimaan. Pada halaman IV DIPA masing-masing belanja tersebut lebih dirinci lagi yang mana dapat dipergunakan untuk membantu meningkatkatkan akurasi perencanaan kas. Berikut cara meningkatkan akurasi perencanaan pada halaman III DIPA dan Perencanaan Kas Bulanan Satker tersebut.

3.2.1.

Belanja Pegawai
Belanja gaji dan tunjangan, Belanja honorarium/lembur/vakasi/tunjangan khusus Belanja kontribusi sosial yang terdiri dari belanja pensiun untuk PNS/TNI/Polri/pejabat negara, belanja asuransi kesehatan.

Belanja pegawai terbagi menjadi tiga bagian besar yaitu :

masing-masing mempunyai pola pengeluaran yang relatif berbeda. a. Gaji dan Tunjangan PNS a. Sifat Belanja 12

Secara garis besar Gaji bulanan dan Tunjangan PNS adalah belanja yang sifatnya rutin dan terjadwal, yang dilakukan setiap bulan dengan jumlah yang relatif sama atau dengan sedikit perubahan setiap bulannya. Pada umumnya komponen dari belanja pegawai adalah belanja yang sudah diketahui berapa jumlahnya. Belanja gaji dan tunjangan PNS terdiri dari : 1. Belanja gaji PNS Belanja gaji pokok

2. Tunjangan-tunjangan Tunjangan Suami/istri/anak Tunjangan struktural Tunjangan fungsional Tunjangan laup-pauk Tunjangan kemahalan Tunjangan uang makan

3. Belanja Gaji/tunjangan TNI/Polri 4. Belanja gaji/tunjangan pejabat negara 5. Belanja gaji dokter PTT b. Motode perencanaan b.1. Perencanaan dalam DIPA Belanja ini relatif sama setiap bulannya kecuali ada penambahan/pengurangan pegawai, kenaikan gaji atau tunjangan. Karena belanjanya cukup konstan maka untuk perencanaan pengeluarannya dalam DIPA dapat dilakukan dengan cara membagi pagu dengan 12 bulan sehingga didapatkan angka pengeluaran yang sama setiap bulannya. b.2. Perencanaan Bulanan Untuk perencanaan pembayaran gaji dan tunjangan PNS yang dibuat setiap bulan sebenarnya cukup mudah dilaksanakan. Data realisasi pembayaran gaji dan tunjangan bulan sebelumnya cukup untuk dijadikan acuan dalam melakukan perencanaan pengeluaran bulan berikutnya ditambah dengan kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi seperti: kenaikan pangkat; kenaikan gaji berkala; penambahan dan pengurangan anggota keluarga yang disebabkan oleh kelahiran anak, pegawai yang baru menikah dll. Selain itu yang lebih penting untuk diperhatikan adalah bila Satker akan mengajukan rapel atau kekurangan atas gaji dan tunjangan ini. Mengingat hal tersebut juga akan menambah pengeluaran belanja pegawai untuk bulan yang akan datang maka rencana pengajuan rapel atau kekurangan gaji tersebut harus dimasukkan dalam perencanaan pengeluaran kas satker bersangkutan. 13

c. Updating/Pemutakhiran Pemutakhiran data terhadap rencana pencairan belanja pegawai ini relatif tidak perlu dilakukan sepanjang tidak ada perubahan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan perubahan-perubahan sebagaimana disebutkan di atas dapat diantisipasi dan diperkirakan sebelumnya. Pemutakhiran data dilakukan apabila setelah laporan perencanaan

pengeluaran kas telah disampaikan ke KPPN oleh Satker, namun disinyalir akan terjadi perbedaan yang signifikan (sampai puluhan juta rupiah) antara perencanaan dengan realisasinya. b. Honorarium a. Sifat Belanja Secara garis besar belanja Honorarium adalah belanja yang sifatnya rutin yang dilakukan setiap bulan dengan jumlah yang relatif sama atau dengan sedikit perubahan setiap bulannya. Honorarium ini dibayarkan untuk honorarium mengajar guru tidak tetap, kelebihan jam mengajar dan ujian dinas. Selain itu juga bisa dibayarkan untuk tim-tim yang menyusun peraturan-peraturan, penugasan dan kegiatan lain yang ditetapkan oleh PA/KPA. Belanja honor terdiri dari honor tetap dan tidak tetap. b. Motode perencanaan b.1. Perencanaan dalam DIPA Perencanaan dalam DIPA untuk honorarium sebaiknya dengan memperhatikan realisasinya untuk tahun-tahun sebelumnya. Biasanya pola dari pembayaran honorarium ini relatif sama dari tahun ketahun, sehingga tinggal dilakukan penyesuaian saja dengan pagu yang diajukan. b.2. Perencanaan Bulanan Perencanaan bulanan pengeluaran untuk honorarium dilakukan dengan memperhatikan rencana kegiatan yang akan dilakukan satker bersangkutan. Setiap honoraium yang akan dibayarkan seharusnya didasarkan atas Surat Keputusan yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran. Perencanaan disusun dengan mempertimbangkan jumlah biaya satuan dikalikan dengan satuan waktu yang digunakan misalnya jam, hari dikalikan dengan jumlah orang yang berhak. c. Updating/Pemutakhiran Updating atas perencanaan pengeluaran kas atas honorarium dilakukan apabila disinyalir akan terjadi perubahan yang signifikan (sampai dengan puluhan juta rupiah) atas laporan rencana pengeluaran yang telah disampaikan kepada KPPN. Perubahan tersebut biasanya

14

disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang mendadak dan/atau penundaan pembayaran bulan-bulan sebelumnya. c. Lembur a. Sifat Belanja Secara garis besar lembur adalah belanja yang sifatnya rutin yang dilakukan setiap bulan dengan jumlah yang relatif sama atau dengan sedikit perubahan setiap bulannya. Namun perlu juga dicermati untuk bulan-bulan tertentu yang volume pekerjaannya tinggi, sehingga membutuhkan waktu lembur yang lebih panjang. b. Motode perencanaan b.1. Perencanaan dalam DIPA Belanja ini relatif sama setiap bulannya kecuali untuk bulan-bulan tertentu yang beban kerjanya cukup meningkat, misal pada akhir tahun. Data realisai lembur tahun-tahun sebelumnya dapat dijadikan acuan untuk perencanaan pengeluaran lembur dalam DIPA. b.2. Perencanaan Bulanan Umumnya perencanaan pengeluaran kas untuk pembayaran lembur cukup mudah diperkirakan. Hal ini dikarenakan pembayaran uang lembur dilakukan secara bulanan, dimana pelaksanaan lembur bulan lalu baru diajukan uang lemburnya pada bulan depan, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk mengajukan uang lembur pada bulan yang sama. Perencanaan atas pembayaran uang lembur didasarkan atas Surat Perintah Kerja Lembur yang dikeluarkan oleh kepala Kantor/Satker. Jumlah nominal yang direncanakan penarikan dananya diperoleh dari pengalian jumlah jam lembur dengan tarif lembur yang berlaku. c. Updating/Pemutakhiran Updating perencanaan pengeluaran kas atas lembur dilakukan apabila disinyalir akan terjadi perubahan yang signifikan (sampai dengan puluhan juta rupiah) atas laporan

rencana pengeluaran yang telah disampaikan kepada KPPN. Perubahan tersebut biasanya disebabkan oleh tambahan jam lembur akibat dari pekerjaan yang harus segera diselesaikan. d. Vakasi a. Sifat belanja Vakasi disediakan untuk imbalan bagi penguji atau pemeriksa kertas/jawaban ujian. Oleh karena perunukannya tersebut, biasanya vakasi ini hanya terdapat pada DIPA yang mempunyai fungsi pendidikan. Pengeluaran untuk vakasi tidak setiap bulan dilakukan,

15

hanya pada bulan-bulan tertentu saja yang biasanya ada banyak dilakukan ujian berkaitan dengan tupoksi satker bersangkutan. b. Motode perencanaan b.1. Perencanaan dalam DIPA Untuk perencanaan vakasi dalam DIPA, data realisasi tahun-tahun sebelumnya perlu dijadikan acuan. Biasanya pola pembayaran vakasi ini juga sama dari tahun ketahun. b.2. Perencanaan Bulanan Dikarenakan pembayaran vakasi belum tentu dilakukan secara bulanan, maka pengajuan rencana pembayaran vakasi disesuaikan dengan pelaksanaan kegiatannya. Besarnya dana yang diajukan dalam perencanaan pengeluaran kas didasarkan pada perhitungan jumlah jam dikalikan orangya. c. Updating/Pemutakhiran Updating perencanaan pengeluaran kas untuk vakasi dilakukan apabila disinyalir akan terjadi perubahan yang signifikan (sampai dengan puluhan juta rupiah) rencana pengeluaran yang telah disampaikan kepada KPPN. e. Uang Makan dan Lauk Pauk a. Sifat Belanja Lauk Pauk dibayarkan untuk anggota TNI/Polri, sedangkan uang makan dibayarkan kepada PNS. Biasanya pengeluaran untuk uang makan dan lauk pauk jumlahnya relatif sama setiap bulan. b. Metode Perencanaan atas laporan

b.1. Perencanaan dalam DIPA Perencanaan Lauk Pauk dan uang makan dalam DIPA dilakukan dengan membagi pagu menjadi 12. Hal ini dimungkinkan karena pengeluaran untuk belanja ini relatif sama setiap bulanya. b.2. Perencanaan Bulanan Perencanaan pembayaran bulanan untuk lauk pauk dan uang makan dilakukan dengan mengalikan jumlah anggota TNI/Polri dalam kesatuan tersebut atau pegawai dalam kantor yang bersangkutan dengan hari kerja dalam satu bulan berkenaan. Perencanaan relatif mudah dilakukan karena pembayaran atas pengeluaran ini dibayarkan pada bulan berikutnya. c. Updating/Pemutakhiran

16

Updating perencanaan pengeluaran kas untuk lauk pauk dan uang makan dilakukan apabila disinyalir akan terjadi perubahan yang signifikan (sampai dengan puluhan juta rupiah) atas laporan rencana pengeluaran yang telah disampaikan kepada KPPN.

3.2.2. Belanja Barang


Belanja barang terdiri dari beberapa komponen : Belanja barang operasional, terdiri dari belanja keperluan kantor, pengadaan bahan makanan, biaya pengiriman surat dan lainnya. Belanja jasa, terdiri dari belanja langganan daya dan jasa, jasa konsultan, belanja sewa, belanja jasa profesi Belanja pemeliharaan, seperti pemeliharaan gedung, bangunan, jalan, irigrasi, jaringan Biaya perjalanan dinas baik dalam negeri dan luar negeri. Belanja terkait Badan Layanan Umum (BLU)

1. Barang dan Jasa a. Sifat Belanja Secara garis besar belanja barang dan jasa digunakan untuk membiayai keperluan kantor sehari-hari baik fisik maupun non fisik yang secara langsung menunjang tugas pokok dan fungsi kementrian lembaga. Belanja ini sifatnya rutin dan hampir setiap hari diperlukan. Misalnya untuk pengadaan ATK, langganan daya dan jasa, inventaris kantor dll. b. Motode perencanaan b.1. Perencanaan dalam DIPA Perencanaan dalam DIPA untuk belanja barang dan jasa ini menggunakan standard biaya yang telah ditetapkan, sedangkan untuk kegiatan yang tidak ada standarnya digunakan Rincian Anggaran Biaya (RAB). b.2. Perencanaan Bulanan Belanja ini cukup berfluktuasi setiap bulannya sesuai dengan volume kegiatan kantor dan waktu pelaksanaan belanja. Untuk belanja keperluan sehari-hari kantor seperti ATK mungkin belanja tidak dilakukan setiap bulan tetapi setiap dua bulan atau tiga bulanan dengan volume disesuaikan dengan sisa persediaan ATK. Demikian juga untuk inventaris kantor harus diperhatikan saat pelaksanaan pengadaan inventaris tersebut. Belanja barang lain yang nilai dan waktu pelaksanaannya biasanya tidak sama setiap bulannya seperti : a. Pengadaan makanan/minuman penambah daya tahan tubuh b. Pengadaan pakaian kerja supir/pesuruh/satpam dan lainnya 17

Sedangkan untuk belanja barang yang nilainya sama setiap bulannya biasanya untuk sewa jaringan komunikasi (satelit) dan belanja untuk jasa pengiriman dokumen dapat dibagi rata setiap bulannya. Untuk keperluan mendadak yang jumlahnya relatif kecil dan belum direncanakan sebelumnya maka untuk keperluan penyusunan laporan perencanaan kas perlu ditambahkan dalam penyediaan dananya sebesar 1%-3% perbulan dari pagu belanja berkenaan. c. Updating/pemutakhiran Angka perencanaan kas harus dilakukan update sesuai dengan nilai saat pelaksanaanya. Misalnya jika pelaksanaan pengadaan inventaris yang direncanakan dilakukan pada bulan Maret tetapi karena ATK masih cukup kemudian diubah menjadi bulan April atau jumlah belanjanya dikurangi maka perencanaan kas juga harus disesuaikan. Bila diperkirakan akan terjadi pengeluaran yang cukup besar ( diatas 10 juta) yang tidak diperkirakan sebelumnya, maka Satker harus menyampaikan laporan pemutakhiran perencanaan kasnya paling lambat 1 minggu sebelum tanggal pembayaran kepada KPPN. 2. Belanja Pemeliharaan a. Sifat Belanja Pemeliharaan dimaksudkan untuk mempertahankan aset tetap atau aset lainnya yang sudah ada ke dalam kondisi normal. Belanja pemeliharaan meliputi antara lain pemeliharaan gedung dan bangunan,taman, jalan lingkungan kantor, rumah dinas, kendaraan dinas dan sarana lainnya yang berhubungan dengan dengan penyelenggaraan pemerintahan. Secara garis besar belanja pemeliharaan sifatnya rutin dilakukan setiap tahunnya. Untuk belanja pemeliharaan peralatan dan mesin mungkin dilakukan pada saatsaat tertentu (insidental), namun demikian ada juga belanja pemeliharaan yang sudah pasti terjadwal, misalnya untuk pemeliharaan peralatan dan mesin yang dilakukan secara berkala. b. Motode perencanaan b.1. Perencanaan dalam DIPA Perencanaan dalam DIPA untuk belanja pemeliharaan ini menggunakan standar biaya yang telah ditetapkan, sedangkan untuk kegiatan yang tidak ada standarnya digunakan Rincian Anggaran Biaya (RAB). b.2. Perencanaan Bulanan Untuk belanja pemeliharaan gedung dan bangunan yang dilakukan dengan kontrak relatif mudah untuk memperkirakan kapan saat kas akan keluar, yaitu sesuai dengan kontrak yang talah ditandatangani. Untuk pemeliharaan gedung dan bangunan yang tidak dilakukan 18

dengan kontrak biasanya nilainya relatif kecil (di bawah 10 juta), dapat terjadi sewaktuwaktu, misal untuk penggantian kaca jendela kantor yang pecah. Arus kas keluar untuk kejadian yang tidak terduga tersebut dananya perlu direncanakan juga misalnya 1% - 5% dari total pagu pemeliharaan gedung dan bangunan per bulannya. Untuk pemeliharaan lainnya, seperti peralatan dan mesin, perencanaan arus kas keluar juga sama seperti pada saat merencanakan arus kas keluar pemeliharaan gedung dan bangunan. c. Updating/pemutakhiran Angka perencanaan kas harus dilakukan update sesuai dengan nilai dan saat pelaksanaanya. Misalnya jika pelaksanaan pemeliharaan yang direncanakan dilakukan pada bulan Agustus tetapi karena suatu hal kemudian diubah menjadi bulan September maka perencanaan kas juga harus disesuaikan. Hal sebaliknya berlaku jika pada bulan Agustus terjadi pengeluaran yang tidak direncanakan sebelumnya yang nilainya relatif besar (di atas 10 juta), maka atas laporan perencanaan kas yang telah dibuat oleh satker harus di mutakhirkan yaitu dengan cara mengirimkan laporan pemutakhiran ke KPPN paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan pembayaran. 3. Belanja Perjalanan Dinas a. Sifat Belanja Belanja perjalanan dinas merupakan pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai perjalanan dinas dalam rangka pelaksanaan tugas, fungsi dan jabatan. Belanja ini dapat bersifat tetap artinya dilakukan rutin secara bulanan maupun insidental. b. Motode perencanaan b.1.Perencanaan dalam DIPA Perencanaan dalam DIPA untuk belanja perjalanan ini menggunakan standard biaya yang telah ditetapkan. b.2. Perencanaan bulanan Perencanaan kas untuk belanja perjalanan dilakukan dengan memperkirakan perjalanan yang akan dilakukan oleh pegawai/pejabat/bukan pegawai yang ditunjuk dalam satu bulan kedepan dikalikan dengan tarif perjalanannya. Misalkan seorang pegawai Satker di Jakarta akan melakukan perjalanan at cost ke Bali selama tiga hari, maka perencanaan kasnya adalah ongkos tranportasi ditambah dengan uang harian 3 x 400.000. Data-data ongkos transport yang pernah dilaksanakan dapat dijadikan acuan untuk menyusun perencanaan arus kas keluar. Sebagai contoh, untuk ongkos transport Jakarta-Pekanbaru yang sudah pernah dilakukan besarnya kurang lebih 2 juta rupiah. c. Updating/pemutakhiran 19

Bila diperkirakan akan terjadi pengeluaran yang cukup besar (diatas 10 juta) yang tidak direncanakan sebelumnya, maka Satker harus menyampaikan laporan pemutakhiran perencanaan kasnya paling lambat 1 minggu sebelum tanggal pembayaran kepada KPPN.

3.2.3. Belanja Modal


Belanja modal terdiri dari beberapa bagian pada intinya belanja modal adalah pengeluaran yang dikapitalisasi. Belanja modal terdiri atas : Belanja modal tanah, terdiri dari belanja pembelian tanah, pembebasan tanah, pembuatan sertifikat, pematangan tanah sehingga siap bangun, pengukuran dan lainnya Belanja modal peralatan dan mesin, terdiri atas belanja pembelian peralatan dan mesin, biaya pemasangan, biaya perijinan, perencanaan dan pengawasan termasuk pengiriman mesin tersebut hingga siap pakai. Belanja modal gedung dan bangunan, terdiri dari biaya membangun gedung tersebut termasuk perijinan, sewa peralatan terkait pembangunan, biaya pembongkaran dan pengosongan dan lainnya. Belanja modal jalan, irigrasi dan jaringan, termasuk belanja modal jalan dan jembatan, upah tenaga kerja dan honor, bahan baku, sewa peralatan dan perijinan yang diperlukan; Belanja modal lainnya Belanja modal terkait BLU

a. Sifat Belanja Belanja Modal merupakan pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang akan menambah aset kementrian/lembaga dengan kewajiban untuk menyediakan biaya pemeliharaannya. Penambahan aset dimaksudkan di sini bisa merupakan aset tetap maupun aset lainnya. Aset tetap mempunyai karakteristik berwujud, masa manfaat lebih dari satu tahun, menambah aset pemerintah dan nilainya relatif material (di atas Rp300.000 per unit).Sedangkan batasan kapitalisasi untuk gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan sebesar Rp10.000.000. Sedangkan karakteristik aset lainnya adalah aset yang tidak masuk dalam karakteristik aset tetap lainnya. Secara garis besar pengeluaran kas untuk belanja modal bersifat insidental dengan demikian belanja ini hanya dilakukan pada saat-saat tertentu dan belum tentu dilaksanakan setiap bulannya. b. Motode perencanaan b.1. Perencanaan dalam DIPA

20

Perhitungan dan penilaian belanja modal dilkukan sesuai dengan stabdar biaya yang telah ditetapkan, sedangkan untuk belanja modal yang tidak ada standar biayanya dilakukan atas RAB yang disusun oleh pejabat yang berwenang dengan memperhatikan harga pasar yang berlaku dan jenis serta spesifikasi yang diperlukan. b.2. Perencanaan Bulanan Perencanaan arus kas keluar untuk belanja modal relatif mudah untuk dilaksanakan karena belanja ini biasanya dilakukan dengan menggunakan kontak melalui proses pelelangan. Perencanaan pengeluaran didasarkan pada dokumen kontrak yang telah disusun yang biasanya sudah pasti kapan jatuh tempo pembayarannya. Misalnya untuk jasa konstruksi seperti pembangunan gedung maka pembayaran tergantung termin yang terdapat dalam kontrak pengerjaan. Sedangkan untuk pengadaan seperti komputer, AC dan sejenisnya biasanya pembayaran dilakukan setelah Berita Acara Serah Terima ditandatangani. c. Updating/pemutakhiran Angka perencanaan kas harus dilakukan bila diperkirakan akan terjadi pengeluaran yang cukup besar (diatas 10 juta) yang tidak direncanakan sebelumnya. Satker harus menyampaikan laporan pemutakhiran perencanaan kasnya paling lambat 1 minggu sebelum tanggal pembayaran kepada KPPN.

3.2.4. Belanja Bunga


Belanja Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang, baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri. Untuk pembayaran bunga biasanya sudah terjadwal dan besarnya juga telah diketahui sebelumnya. Perencanaan arus kas keluar bulanan/mingguan/harian pembayaran belanja bunga dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang dengan memperhatikan jatuh tempo pelaksanaan

pembayarannya. Updating/pemutakhiran atas perencanaan arus kas keluarnya dilakukan apabila diperkirakan akan terjadi pengeluaran yang tidak direncanakan sebelumnya. Misalnya ketika dilaksanakan kebijakan percepatan pembayaran bunga. Laporan updating tersebut harus sudah diterima oleh Direktorat Pengelolaan Kas Negara tiga hari sebelum pelaksanaan pembayaran. Belanja bunga ini terdiri dari : Belanja pembayaran bunga utang Belanja pembayaran diskon SUN dalam negeri Belanja pembayaran diskon SUN luar negeri Belanja pembayaran loss on redemption Belanja pembayaran diskon atas SBSN 21

3.2.5. Belanja Subsidi


Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian sehingga harga jualnya terjangkau oleh masyarakat. Perencanaan arus kas keluar bulanan/mingguan/harian dilakukan oleh institusi yang bersangkutan (Pertamina, PLN dll.)dengan mempertimbangkan pelaksanaan kegiatannya. Updating/pemutakhiran atas perencanaan arus kas keluarnya dilakukan apabila

diperkirakan akan terjadi pengeluaran yang tidak direncanakan sebelumnya. Laporan updating tersebut harus sudah diterima oleh Direktorat Pengelolaan Kas Negara tiga hari sebelum pelaksanaan pembayaran. Belanja subsidi terdiri atas : Belanja subsidi BBM (minyak tanah, diesel, premium, elpiji, solar, avtur) Belanja subsidi non BBM terdiri atas (subsidi pangan, listrik, benih, gula, pupuk, obat dan lain-lain) Subsidi pajak (PPh, PPN dan bea masuk) Subsidi dalam rangka PSO (subsidi untuk KAI, PELNI, POS)

3.2.6. Belanja Bantuan Sosial


Bantuan sosial biasanya berupa transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Bantuan ini dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk bantuan untuk lembaga non pemerintah. Yang termasuk dalam kategori belanja bantuan sosial antara lain: a. b. Belanja bantuan kompensasi sosial, misalnya BLT dari kenaikan BBM Bantuan sosial kepada lembaga pendidikan dan peribadatan, seperti bantuan beasiswa, bantuan operasional sekolah c. Bantuan kepada lembaga sosial lainnya.

Perencanaan arus kas keluar untuk belanja ini dilakukan oleh instansi terkait dengan memperkirakan kapan saat terjadinya pembayaran. Misalnya untuk pembayaran BLT kompensasi kenaikan BBM, diajukan oleh Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Pelaksanaan pembayarannya dilakukan sesuai dengan jadwal waktu yang telah disusun. Updating/pemutakhiran atas pelaksanaan pembayaran belanja ini dilakukan apabila pelaksanaan pembayarannya tidak sesuai dengan yang telah direncanakan. Laporan updating perencanaan kas disampaikan kepada Direktorat Pengelolaan Kas Negara paling lambat tiga hari sebelum pelaksanaan pembayaran. 22

3.2.7. Belanja Hibah


Hibah merupakan transfer barang/jasa/uang yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau organisasi internasional. Pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian/lembaga terkait. Namun demikian belanja ini sangat jarang dilakukan. Perencanaan arus kas keluar untuk belanja ini dilakukan oleh instansi terkait dengan memperkirakan kapan saat terjadinya pembayaran. Updating/pemutakhiran atas pelaksanaan pembayaran belanja ini dilakukan apabila pelaksanaan pembayarannya tidak sesuai dengan yang telah direncanakan. Laporan updating perencanaan kas disampaikan kepada Direktorat Pengelolaan Kas Negara paling lambat tiga hari sebelum pelaksanaan pembayaran. Belanja hibah ini terdiri atas : Belanja hibah kepada pemerintah luar negeri Belanja hibah kepada organisasi internasional Belanja hibah kepada pemerintah daerah

3.2.8. Belanja Lain-lain


Belanja lain-lain yaitu pengeluaran pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan kedalam jenis belanja pada poin-poin yang telah dibahas di atas. Perencanaan arus kas keluar untuk belanja ini dilakukan oleh instansi terkait dengan memperkirakan kapan saat terjadinya pembayaran. Updating/pemutakhiran atas pelaksanaan pembayaran belanja ini dilakukan apabila pelaksanaan pembayarannya tidak sesuai dengan yang telah direncanakan. Laporan updating perencanaan kas disampaikan kepada Direktorat Pengelolaan Kas Negara paling lambat tiga hari sebelum pelaksanaan pembayaran. Belanja lain-lain terdiri atas : Belanja untuk rekonstruksi aceh Pengeluaran tak tersangka Dana tanggap darurat Belanja kompensasi BBM Belanja lain-lain.

Secara umum ada dua hal penting yang mempengaruhi akurasi perencanaan kas : Saat melakukan perencanaan kas

23

Pada umumnya perencanaan kas akan semakin akurat jika semakin dekat dengan waktu kejadian. Perencanaan kas yang dibuat sehari sebelum terjadi akan jauh lebih akurat dibandingkan dengan yang dibuat sebulan sebelum saat kejadian. Update Updating dalam perencanaan kas adalah sangat penting dalam meningkatkan akurasi karena berbagai hal dapat terjadi sehingga mempengaruhi akurasi perencanaan. Perencanaan kas yang baik harus selalu di-update sehingga selalu mencerminkan keadaan terakhir.

3.3. Pelaksanaan Perencanaan Penerimaan


Perencanaan kas untuk penerimaan sebagian besar diperoleh dari Eselon I di lingkup Departemen Keuangan yaitu : a. Direktorat Jenderal Pajak untuk: i. Pajak Penghasilan Non Minyak Bumi dan Gas Alam; ii. Pajak Pertambahan Nilai; iii. Pajak Bumi dan Bangunan; iv. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan; v. Pajak Lainnya; vi. Restitusi/pengembalian kelebihan pembayaran pajak dan imbalan bunga. b. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk: i. Bea Masuk; ii. Pungutan Ekspor/Bea Keluar; iii. Cukai; iv. Pengembalian kelebihan pembayaran di bidang kepabeanan dan cukai serta imbalan bunga. c. Direktorat Jenderal Anggaran untuk: i. Pajak Penghasilan Minyak Bumi dan Gas Alam; ii. Sumber Daya Alam Migas; iii. Sumber Daya Alam Non Migas; iv. Bagian Pemerintah atas Laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN); v. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Lainnya ; vi. Pengembalian-pengembalian terkait dengan PNBP d. Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang menyampaikan rencana penerimaan hibah yang diregistrasi. 24

Selain data yang didapatkan dari unit Eselon I Departemen Keuangan sebenarnya pada DIPA juga tersedia informasi mengenai penerimaan yang selama ini belum dipergunakan secara maksimal. Selain memuat rencana penarikan pengeluaran, halaman III DIPA satuan kerja juga memuat perkiraan penerimaan PNBP, Perkiraan Penerimaan BLU dan Penerimaan Pajak. Namun demikian masih sedikit sekali satker yang mengisi halaman III DIPA tersebut secara akurat. Bahkan yang sering terjadi, kolom-kolom perkiraan penerimaan dalam DIPA tersebut dibiarkan kosong tidak diisi. Perencanaan penerimaan baik pajak, bukan pajak maupun hibah yang dilakukan oleh satuan kerja juga memegang peranan penting dalam perencanaan kas secara nasional. Bagaimana melakukan perencanaan tersebut akan diuraikan dalam paparan dibawah ini. 3.3.1 Penerimaan Perpajakan A. Pajak Penghasilan (PPh) Pada umumnya pajak penghasilan yang dipungut oleh Bendahara Pengeluaran adalah PPh pasal 21 yang bersifat final. PPh ini biasanya dipungut dari belanja pegawai yang antara lain berupa pembayaran gaji induk, uang lembur, honorarium, vakasi, dan penghasilan lainnya yang bersumber dari APBN melalui potongan SPM. Selain itu juga dipungut PPh pasal 22 atas pengeluaran-pengeluaran dari belanja non pegawai. PPh ini dipungut atas pengadaanpengadaan baik melalui kontrak maupun swakelola. Untuk perencanaan penerimaan pajak dalam DIPA dapat digunakan data penerimaan pajak tahun-tahun sebelumnya baik yang berasal dari potongan gaji induk maupun potonganpotongan penghasilan lainnya. Sedangakan PPh dari non belanja pegawai dapat direncanakn dengan cara mengakilan tarif pajaknya dengan rencana pengadaan dari non belanja pegawai dalam DIPA yang akan dilakukan. Perkiraan penerimaan pajak ini dengan mudah dilihat dari RKAKL yang disusun oleh tiap-tiap Satuan Kerja. Untuk perencanaan bulanan, PPh pasal 21 atas belanja pegawai sumber data diambill dari daftar gai induk bulanan dan rencana pembayaran honorarium, uang lembur dan vakasi dikalikan dengan tariff pajaknya. Sedangkan untuk PPh pasal 22 atas pengadaan barang direncanakan dengan cara memperkirakan kapan kira-kira akan dilakukan pengadaan dengan berpedoman pada petunjuk operasional kegiatan (POK) yang telah disusun. B. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

25

PPN dipungut atas pengadaan-pengadaan yang dilakukan oleh satuan kerja, baik untuk pengadaan barang maupun jasa. PPN tidak dipungut atas belanja pegawai, melainkan atas belanja non belanja pegawai. Perencanaan penerimaan PPN dalam DIPA dilakukan dengan cara mengalikan tariff pajaknya dengan rencana pengadaan yang akan dilakukan selama satu tahun anggaran. Dengan melihat RKAKL yang disusun, maka dengan relative mudah dapt diketahui berapa nilai PPN yang akan diterima dalam satu tahun anggaran. Untuk perencanaan bulanan, perencanaan PPN dapat dilakukan dengan cara mengalikan tariff PPN dengan rencana pengadaan yang akan dilakukan satu bulan mendatang, atau dapat juga dengan memperkirakan kapan jatuh tempo pembayaran kontrak/swakelola akan dilaksnakan. Pada umumnya perkiraan penerimaan PPN ini secara bersamaan terkait dengan perkiraan penerimaan untuk PPh pasal 22.

3.3.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) PNBP adalah penerimaan bukan pajak satuan kerja terkait dengan tupoksinya yang bersifat rutin maupun penerimaan bukan pajak lainnya yang sifatnya incidental dan berada hampir pada setiap satuan kerja. Misal, penerimaan dari talk, nikah, rujuk berada hanya pada satuan kerja di Departemen Agama. Sedangkan PNBP untuk penjualan barang inventaris dengan lelang ada hampir pada semua satuan kerja. Untuk PNBPyang bersifat rutin dan berulang biasanya ditunjuk bendahara penerimaan. Bendahara inilah yang akan membuat perencanaan penerimaan nantinya sesuai dengan tupoksi satuan kejanya. Sedangkan untuk penerimaan yang bersifat insidental tidak perlu ada bendahara penerimaan. Penyetoran dan pembukuan penerimaan atas PNB ini cukup dilakukan oleh bendahara pengeluarannya saja. Untuk memperkirakan jumlah PNBP yang akan diterima dalam DIPA baik PNBP yang terkait dengan tupoksi satuan kerja maupun tidak, informasi dapat diperoleh melalui realisasi PNBP tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian perlu juga dipertimbangkan adanya kemungkinan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi penerimaan PNBP satuan kerja

bersangkutan. Misal, PNBP dari ijin pengelolaan hutan akan turun seiring dengan makin sempitnya kawasan hutan. Perkiraan bulanan atas PNBP yang sifatnya rutin dilakukan dengan cara

mempertimbangkan PNBP bulan sebelumnya serta memperhatikan factor lain yang mempengaruhi PNBP tersebut. Sedangkan untuk PNBP yang sifatnya insidental dapat dilakukan dengan cara memprediksi penjualan yang atas barang-barang yang akan dilelang sesuai dengan jadual pelelangannya. 26

3.3.3 Penerimaan Hibah dalam Bentuk Kas Penerimaan Hibah merupakan penerimaan bukan pajak yang berasal dari satuan kerja lain dan/atau pemerintah lain dengan tidak ada kewajiban untuk melakukan pengembalian atas hibah yang dieterimanya. Pada umunya hibah diberikan dalam bentuk barang atasu jasa. Sangat jarang hibah yang diberikan berupa fresh money/uang tunai kepada satuan kerja Kementerian/Lembaga. Perencanaan penerimaan hibah dalam DIPA dilakukan terhadap hibah barang dan/atau uang yang akan diterima dalam tahun anggaran bersangkutan. Satuan Kerja

Kementerian/Lembaga harus menantumkan perkiraan nilai uang atas barang/uang yang akan diterima melalui hibah tersebut ke dalam halaman III DIPA satuan kerjanya. Dalam perencanaan bulanan, nilai penerimaan hibah dapat diperkirakan melalui rencana penarikan hibah dimaksud pada bulan bekenaan. Misal pada bulan Agustus, satuan kerja akan menerima hibah berupa 10 unit laptop sebesar 100 juta rupiah. Maka pada bulan Juli disusun rencana penerimaan hibah bulan agustus sebesar 100 juta.

27

BAB IV MEKANISME PENYAMPAIAN LAPORAN

Kecepatan penyampaian laporan dan akurasi laporan merupakan salah satu faktor penting dari perencanaan kas yang baik. Untuk itu mekanisme pelaporan yang dipergunakan sangat tepat jika menggunakan internet, telepon dan faximile. Mekanisme pelaporan dengan menggunakan surat sangat tidak mendukung perencanaan kas yang baik karena membutuhkan waktu berminggu-minggu. Sementara itu sangat perlu dipahami bahwa semakin jauh waktu pelaporan dan saat melakukan perencanaan maka semakin tidak reliable perencanaan kas yang disajikan. Perencanaan bukanlah pelaporan atas kegiatan yang telah terjadi tetapi kegiatan yang akan terjadi. Selain itu, perlu juga penyederhanaan laporan sehingga laporan dapat dibuat dan dikompilasi dengan cepat di pusat. Proses pembuatan dan pelaporan perencanaan harus dirancang sesederhana mungkin sehingga tidak membebani satker sehingga menurunkan kualitas laporan. Idealnya laporan perencanaan kas hanya satu lembar kertas faximile saja atau beberapa baris kalimat dalam e-mail. Penting untuk dipahami bahwa perencanaan kas sangat berbeda dengan perencanaan anggaran, sehingga sifat laporan perencanaan kas juga sangat berbeda dengan laporan pelaksanaan anggaran atau laporan keuangan. Laporan keuangan atau realisasi anggaran adalah melaporkan transaksi keuangan yang telah terjadi berdasarkan bukti-bukti transaksi, setiap angka yang dilaporkan dapat di validasi karena memang benar-benar terjadi. Dalam laporan perencanaan kas, yang dilaporkan adalah recana pengeluaran atau penerimaan kas, karena belum terjadi maka angka-angka tersebut tidak bisa divalidasi ke dokumen sumber. Oleh karena itu, judgement untuk menentukan angka dalam perencanaan kas sangat berperan. Mengingat laporan perencanaan kas adalah melaporkan sesuatu yang akan terjadi, kecepatan penyampaian data untuk membuat perencanaan kas menjadi sangat penting, sebab ketika kejadian tersebut telah menjadi kenyataan (direalisasikan) maka laporan perencanaan kas tersebut tidak lagi berguna. Fungsinya telah berubah menjadi laporan realisasi anggaran yaitu melaporkan transaksi ekonomi yang telah terjadi. Skema dibawah ini menunjukkan bagaimana akurasi perencanaan kas dan kegunaan laporan meningkat seiring dengan semakin dekat saat kejadian. 28

belum terjadi Saat Tingkat akurasi forecasting kejadian

Sudah terjadi

Fungsi forecasting

0% Hari (sebelum) 10

50%

100%

0% Hari

1 100%

5 50%

10 0%

(sesudah)

Tingkat kegunaan forecasting Fungsi perencanaan

Tingkat kegunaan laporan Fungsi pelaporan/realisasi

Kualitas/akurasi laporan perencanaan kas akan semakin meningkat jika jarak pembuatan laporan dan waktu kejadian yang direncanakan semakin dekat. Sebagai contoh, jika satu bulan dari sekarang direncanakan akan melakukan pembelian senilai Rp.10 juta maka kemungkinan bahwa pengeluaran tersebut benar-benar Rp.10 juta mungkin hanya 50%. Hal ini disebabkan karena banyaknya variabel yang mempengaruhi rencana pengeluaran tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu maka seharusnya tingkat kepastian pengeluaran tersebut semakin tinggi dan angka yang disajikan akurasinya juga semakin meningkat. Contoh, sehari sebelum dilakukan pengeluaran dapat dipastikan dengan tingkat akurasi 97% (perkiraan) bahwa pengeluaran yang akan terjadi adalah Rp. 11,5 juta bukan Rp. 10 juta. Prediksi yang hampir mencapai 100% dimungkinkan karena variable yang mempengaruhi sudah semakin sedikit. Sehari sebelum pengeluaran pasti kontrak-kontrak jual beli sudah selesai, harga jual beli juga sudah disepakati dan bisa dikatakan tidak ada lagi judgement dalam angka tersebut. Kenaikan tingkat akurasi angka yang dilaporkan seiring dengan semakin dekatnya waktu pelaporan dengan waktu kejadian sebenarnya adalah berlaku umum untuk setiap angka yang dilaporkan dalam perencanaan kas. Oleh karena itu membuat suatu rencana yang terinci dalam jangka waktu yang terlalu jauh dari waktu kejadian adalah tidak efektif dan efisien. Ilustrasi diatas juga menggambarkan pentingnya melakukan pemutakhiran secara terus menerus atas rencana tersebut untuk meningkatkan akurasinya. Mekanisme penyampaian laporan perencanaan kas dilakukan secara berjenjang. Pertama-tama laporan perencanaan kas dibuat oleh satker kementerian/lembaga yang mempunyai bagian anggaran yang pengeluarannya akan menyebabkan uang negara keluar dari Rekening Kas Umum Negara. Satker menyampaikan kepada KPPN mitra kerjanya, 29

sedangkan pengeluaran melalui Subdit perencanaan kasnya kepada Subdit

Kas

Umum

Negara menyampaikan laporan dan Pengendalian Kas. KPPN

Perencanaan

mengkompilasi seluruh laporan perencanaan kas satker-satker diwilayah kerjanya dan menyampaikan kompilasi laporan tersebut kepada Direktorat PKN. Selanjutnya Direktorat PKN melakukan kompilasi perencanaan kas secara nasional atas dasar laporan kompilasi perencanaan kas oleh KPPN dan satker-satker yang pengeluaranya melalui Direktorat PKN.

4.1. Format Pelaporan


Format pelaporan untuk tingkat Satuan Kerja dan KPPN saat ini diatur dalam SE-02/PB/2006 sebagaimana terdapat dalam lampiran modul ini. Tata cara pengisian juga telah diatur dalam SE tersebut. Pada prinsipnya pelaporan pada KPPN dan satker sama. KPPN hanya bertugas untuk melakukan rekap atas semua satker yang menjadi mitra kerjanya.

4.2. Waktu Pelaporan (Menurut SE-O2/PB/06)


Penyampaian laporan oleh satker seharusnya dilaksanakan pada setiap minggu pertama pada setiap awal bulannya. Laporan yang dibuat oleh satker sesuai dengan format yang ditentukan pada SE-02/PB/06. Karena satker menyampaikan laporan jauh sebelum saat terjadinya pengeluaran maka akan lebih baik jika satker memberikan update kepada KPPN jika terjadi perubahan pada perencanaan kas. Selain itu untuk mempersingkat waktu pelaporan jika memungkinkan satker dapat mengirimkan pelaporan melalui emai atau fax atau disampaikan secara langsung kepada KPPN. Setelah menyampaikan laporan kepada KPPN, satker masih dapat melakukan ralat atas perencanaan kasnya. Ralat tersebut pada prinsipnya masih dapat disampaikan hingga saat sebelum KPPN menyampaikan laporan kepada Direktorat PKN. Setiap kali satker melakukan updating atas perencanaan kasnya maka KPPN harus kembali melakukan rekap ulang atas perencanaan kas yang dikirimkan kepada Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Penyampaian laporan oleh KPPN seharusnya dilaksanakan paling lambat pada akhir minggu kedua setiap bulannya. KPPN diberikan waktu sekitar satu minggu untuk melakukan rekapitulasi atas semua satker yang menjadi mitra kerjanya. Untuk meningkatkan jumlah satker yang mengirimkan laporan kepada KPPN sebaiknya KPPN memberikan penyuluhan mengenai cara membuat perencanaan kas. Selain itu KPPN sebaiknya lebih memfokuskan untuk mendapatkan pelaporan perencanaan kas dari satker dengan nilai DIPA besar. Hal ini tidak berarti ada pengecualian pelaporan anatara satker besar dan kecil. Hal tersebut lebih kepada prioritas kerja karena 30

satker kecil sering berada pada lokasi yang cukup terpencil sehingga sering menjadi tidak efektif dan efisien jika harus menunggu satker kecil untuk melaporkan perencanaan kas.Satkersatker besar jika dijumlahkan maka jumlahnya sangat signifikan jika dibandingkan dengan satker-satker kecil. KPPN sebaiknya menggunakan media internet untuk mengirimkan laporannya karena akan menghemat waktu dan lebih efisien. Laporan dari KPPN-KPPN akan direkap oleh Direktorat PKN. Laporan yang disampaikan oleh KPPN paling lambat tanggal 15 setiap bulannya. Jika ada updating maka laporan tersebut dapat tetap disampaikan. Direktorat PKN membuat perencanaan kas nasional yang hasilnya disampaikan kepada Menteri Keuangan pada tanggal 25 setiap bulannya. Jika terdapat update maka masih tetap dapat dilakukan hingga akhir bulan. Semua proses perencanaan kas tersebut akan diulang pada setiap bulannya. Proses tersebut secara sederhana disajikan pada gambar dibawah ini :

31

BAB V TINDAK LANJUT PERENCANAAN KAS

5.1. Perencanaan kas dan manajemen likuiditas Salah satu sasaran penting dari penerapan manajemen kas adalah untuk memastikan negara memiliki kas yang cukup untuk menyelesaikan semua kewajiban yang jatuh tempo. Untuk itu diperlukan manajemen likuiditas. Manajemen likuiditas sangat penting mengingat terjadinya cash mismatch dimana kegiatan pemerintah antara lain pembayaran gaji dan DAU dan penyediaan dana untuk kegiatan semua unit organisasi (uang persediaan) sudah dimulai sejak awal tahun sementara itu penerimaan negara seperti pajak dan penerimaan lainnya belum mencukupi. Untuk mendukung percepatan penyerapan anggaran terutama sejak awal tahun, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah untuk mengelola kas sehingga pada awal tahun pemerintah tetap memiliki dana yang cukup dalam membiayai kegiatannya. Pada awal tahun biasanya dana yang dimiliki pemerintah yang berasal dari pendapatan negara tidak mencukupi untuk menutupi pengeluaran oleh karena itu pemerintah harus mampu mencari alternatif pembiayaan yang paling efisien untuk menutup kekurangan dana tersebut. Untuk manajemen likuiditas yang baik diperlukan perencanaan kas yang baik. Perencanaan kas diperlukan untuk mengetahui saat terjadinya kekurangan dan kelebihan kas dan melakukan tindakan untuk mengatasi hal tersebut. Perencanaan kas bisa dikatakan akurat jika berhasil menekan perbedaan antara realisasi dan perencanaan tidak lebih dari 5%. Jika hal ini berhasil dicapai maka perencanaan kas yang dilakukan dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan manajerial berupa keputusan untuk melakukan investasi jangka pendek atau pinjaman sesuai dengan hasil perencanaan kas. Tindakan untuk melakukan investasi atau pinjaman tersebut merupakan upaya untuk mempertahankan agar saldo kas selalu mendekati patokan buffer cash yang merupakan cadangan kas untuk kebutuhan tak terduga.

32

Skema diatas menunjukkan bagaimana perencanaan kas berperan dalam menstabilkan saldo kas pemerintah dengan menggunakan satu instrumen yaitu SUN sebagai stabilisator likuiditas. Ada dua skenario pada diagram tersebut yaitu pada saat kelebihan kas dan kekurangan kas. Mungkin penggunaan SUN sebagai alat stabilisasi likuiditas kurang tepat karena SUN tergolong investasi jangka panjang (tidak likuid) pada negara maju ada berbagai surat berharga jangka pendek pemerintah yang dipergunakan untuk hal tersebut. a. Pengelolaan kekurangan kas Dalam hal pemenuhan kekurangan kas pemerintah (defisit kas) perlu perhatian khusus karena tidak mungkin dilakukan dengan cepat terutama jika pemenuhan tersebut berasal dari luar negeri. Untuk itu perlu antisipasi lebih awal untuk kekurangan kas, jika berdasarkan perencanaan kas diperkirakan akan terjadi kekurangan kas pada saat tertentu maka BUN harus melakukan pencarian pinjaman atau menjual investasi jangka pendek sehingga saldo kas kembali mendekati jumlah buffer cash. Pada masa yang akan datang diharapkan pemerintah akan memiliki surat hutang jangka pendek (harian atau mingguan) yang bisa dengan segera menutupi kekurangan kas jangka pendek. Dalam hal terjadi kekurangan kas, BUN dapat melakukan : a. Mencairkan penempatan di bank umum atau di Bank Indonesia; b. Menjual surat utang negara yang dimiliki; c. Melakukan repo

33

Sesuai dengan prinsip pengelolaan kas yang baik, pencairan pinjaman dalam rangka menutup kekurangan kas harus sedekat mungkin dengan saat terjadinya kekurangan kas untuk menghindari kerugian atas pembayaran bunga. Selain itu jika masih memungkinkan kekurangan kas tersebut ditutupi dengan menjual investasi jangka pendek yang dimiliki daripada mengeluarkan surat utang. b. Pengelolaan kelebihan kas Sebaliknya untuk investasi jangka pendek atas kelebihan kas perlu dilakukan secara hati-hati dan harus memperhatikan prisip keamanan dan likuiditas. Dalam hal terjadi kelebihan kas, Bendahara Umum Negara dapat melakukan : a. Menempatkan uang negara pada rekening di bank sentral/bank umum yang menghasilkan bunga/jasa giro dengan tingkat bunga yang berlaku umum. b. Pembelian Surat Utang Negara; c. Melakukan reverse repo. Kelebihan kas adalah setiap rupiah diatas buffer cash. Dana tersebut dapat dipergunakan untuk investasi jangka pendek dengan memperhatikan prinsip keamanan dan kehati-hatian dalam penempatan uang negara. Jika pada saat tertentu terjadi kekuarangan kas maka investasi jangka pendek yang berasal dari kelebihan kas merupakan prioritas utama untuk dicairkan kecuali ada sumber pembiayaan lain yang terbukti lebih menguntungkan. Secara umum prinsip keamanan ini diperlukan untuk mencegah kegagalan penarikan investasi pemerintah pada pihak ketiga yang dapat mengakibatkan terhambatnya realisasi anggaran karena kesalahan jumlah/waktu dalam penempatan uang negara.

5.2. Menyempurnakan Perencanaan Kas


Dalam membuat perencanaan kas yang baik ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal membuat perencanaan kas yang baik yaitu: a. Kualitas data/laporan Dalam membuat perencanaan kas ada istilah garbage in garbage out artinya adalah jika perencanaan kas yang awal kualitas data sudah tidak baik maka kualitas laporan yang dihasilkan pasti tidak akan baik. Demikian pula apabila perencanaan kas yang disampaikan oleh satker tidak baik maka tentunya laporan yang dihasilkan oleh KPPN tidak akan baik. Oleh karena itu sangat penting bagi KPPN untuk membina satker dalam mebuat perencanaan kas. b. Pengumpulan data secara efektif

34

Setelah membuat perencanaan kas dengan baik sebagaimana yang telah dibahas pada bagian sebelumnya hal penting dilakukan selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data dari seluruh penyedia informasi secara efektif. Sebagai contoh pengumpulan data dari Direktorat Pengelolaan Kas negara atas perencanaan kas yang disampaikan oleh KPPN sebaiknya adalah dengan media internet. Hal ini menjadi sangat penting karena perencanaan kas harus mengejar waktu pelaporan, apabila laporan perencanaan kas disampaikan ketika realisasi telah terjadi maka nilai perencanaan kas tersebut menjadi hilang atau tidak berguna lagi. c. Metodologi perencanaan kas Cara membuat perencanaan kas dapat diubah jika diperlukan dalam upaya meningkatkan akurasi perencanaan kas. Cotoh format pelaporan dapat saja dirubah jika memang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan. Cara mendapatkan angka perencanaan kas juga dapat dirubah misalnya dengan merubah variabel yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kas. d. Pelaporan Pelaporan dalam perencanaan kas seharusnya dibuat sederhana, ringkas tanpa mengurangi kualitas informasi yang disampaikan. Hal ini penting karena semakin banyak informasi yang dimuat maka akan semakin lama laporan tersebut dalam persiapannya. Selain itu banyaknya data yang dilaporkan juga akan memberatkan pihak yang diminta menyediakan data dalam hal ini satker atau unit-unit eselon I terkait.

35

KESIMPULAN

Perencanaan kas merupakan suatu perencanaan yang relatif sederhana, mudah untuk dimengerti tetapi sulit untuk di implementasikan dengan baik, terlebih lagi untuk membuat suatu perencanaan yang akurat yang bisa dipergunakan untuk kepentingan pengambilan keputusan oleh manajemen. Untuk mendapatkan suatu perencanaan kas yang baik diperlukan suatu usaha yang konsisten dari instansi yang memberikan data dan pihak yang mengolah data untuk meningkatkan akurasi perencanaan. Peningkatan kualitas/akurasi perencanaan kas sendiri adalah suatu proses belajar terus menerus yang diharapkan akan semakin baik dalam waktu yang lama. Sebagai tindak lanjut perencanaan kas, penting untuk menempatkan dana yang belum dipergunakan pada investasi yang menguntungkan. Walaupun demikian perlu dipahami bahwa dana pemerintah berbeda dengan dana swasta sehingga metode investasinya juga berbeda. Faktor keamanan merupakan pertimbangan utama, investasi pemerintah harus dijamin sepenuhnya. Koordinasi dengan Bank Indonesia sangat diperlukan dalam menentukan instrumen investasi atas kelebihan kas pe merintah. Selain itu perencanaan kas akan sangat tergantung pada kemampuan sumber daya manusia di setiap instansi dalam membuat perencanaan kas yang baik. Untuk itu sosialisasi dan pendidikan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya perencanaan kas dan bagaimana membuat perencanaan kas yang baik sangat diperlukan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut juga perlu didukung dengan tersedianya sarana komunikasi yang memadai. Pada masa yang akan datang diharapkan dengan seiring meningkatnya kemampuan perencanaan kas, meningkat pula kemampuan pemerintah dalam mengelola kelebihan maupun kekurangan kas. Instrumen yang dapat dipergunakan pemerintah dalam mengelola dana yang dimiliki juga diharapkan bertambah. Walaupun hal tersebut masih jauh dari kenyataan diharapkan dengan upaya serius dan dukungan semua pihak yang terkait, suatu saat nanti pemerintah akan mampu melakukan perencanaan kas sebagaimana yang dilakukan dinegaranegara maju.

36