Anda di halaman 1dari 24

FILOSOFI OTONOMI DAERAH DAN DESENTRALISASI FISKAL

Pentingnya memahami otonomi dan desentralisasi fiskal. Sebuah ungkapan sederhana yaitu money follow function sebenarnya secara sederhana dapat merefleksikan hubungan antara otonomi dan desenralisasi fiskal itu sendiri. Mengingat kaitan antara kedua hal tersebut sangat erat, maka diperlukan pemahaman yang komprehensif tentang otonomi daerah dan desentalisasi fiskal serta hubungan diantara keduannya. Hal inilah yang akan diuraikan secara ringkas dalam bahan ajar Filosofi Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal. Untuk melengkapi pemahaman, pada bahan ajar ini disertakan beberapa soal latihan guna membantu peserta untuk mengetahui pemahaman atas materi yang dipelajari. Disarankan disamping mempelajari bahan ajar ini peserta dapat melengkapi pemahaman tentang otonomi daerah dan desentralisasi fiscal dengan membaca regulasi terkait dengan otonomi dan desentalisasi fiscal (UU No. 33/2004, UU NO.32/2004 beserta peraturan turunannya).

A. OTONOMI DAERAH Pembahasan otonomi disini menyangkut pembahasan terhadap hal-hal yang pokok (filosofis). Untuk itu perlu diberikan terlabih dahulu pengertian dari filosofi itu sendiri. Dalam artian bahasa, kata filosofi merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sedangkan berfilsafat/berfilosofi mempunyai pengertian berpikir secara

mendalam tentang hakekat segala sesuatu dengan cara mencari makna yang paling mendalam/ makna sesungguhnya/benar. Inti dari pengertian filosofi disini adalah adanya pemahaman yang mendasar, mendalam dan benar atas sesuatu yang sedang dibahas. Terkait dengan materi ini, maka yang akan dipelajari, dicari adalah pemahaman yang benar, mendalam, dan sesungguhnya atas otonomi daerah. Selanjutnya pengertian dari otonomi atau otonom secara bahasa adalah berdiri sendiri atau dengan pemerintahan sendiri. Sedangkan daerah adalah suatu wilayah atau lingkungan pemerintah. Dan pengertian lebih luas lagi adalah wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi, politik, dan pengaturan perimbangan keuangan termasuk pengaturan sosial, budaya, dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadat daerah lingkungannya. Sedangkan Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 1 UU 32 Tahun 2004. Page 1

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

1. Latar Belakang adanya Otonomi Daerah Otonomi Daerah sebenarnya telah ada sejak zaman kolonial Belanda, terus berkembang seiring dengan dinamika politik di Indonesia.1 Tonggak fundamental yang melatarbelakangi adanya otonomi di Indonesia yaitu saat terjadi perubahan pemegang kekuasaan RI dan berpindah pada masa reformasi . Tuntutan pelaksanaan demokrasi berimbas pada tuntutan adanya otonomi daerah. Terkait dengan hal tersebut dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah, dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah; Kondisi eksternal ternyata berpengaruh terhadap berlangsungnya proses otonomi di Indonesia. Perkembangan keadaan, baik di dalam maupun di luar negeri, serta tantangan

persaingan global, dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan wewenang yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional, yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional, serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah, sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan, serta potensi dan keanekaragaman Daerah, yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia2.

Selanjutnya seiring dengan

perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan

penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia maka lahirlah UU No. 32 Tahun 2004 sebagai pengganti UU No 22 Tahun 1999. Harapan besar di tumpukan dengan UU 32 Tahun 2004 ini diantaranya bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia; Disamping itu perlu ditingkatkan bahwa efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antarsusunan

pemerintahan dan antarpemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan Negara.3
1 2

B.N. Marbun, Otonomi Daerah 1945-2005 (Proses & Realita), Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 2005 UU No. 22 Tahun 1999 3 UU No.32 Tahun 2004

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 2

2. Prinsip Otonomi Daerah Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang Otonomi Daerah. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peranserta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional.

Seiring dengan prinsip itu penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat. Selain itu penyelenggaraan otonomi daerah juga harus menjamin keserasian hubungan antara Daerah dengan Daerah lainnya, artinya mampu membangun kerjasama antar Daerah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dan mencegah ketimpangan antar Daerah. Hal yang tidak kalah pentingnya bahwa otonomi daerah juga harus mampu menjamin hubungan yang serasi antar Daerah dengan Pemerintah, artinya harus mampu memelihara dan menjaga keutuhan wilayah Negara dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan negara.

Agar otonomi daerah dapat dilaksanakan sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai, Pemerintah wajib melakukan pembinaan yang berupa pemberian pedoman seperti dalam penelitian, pengembangan, perencanaan dan pengawasan. Disamping itu diberikan pula standar, arahan, bimbingan, pelatihan, supervisi, pengendalian, koordinasi, pemantauan, dan evaluasi. Bersamaan itu Pemerintah wajib memberikan fasilitasi yang berupa pemberian peluang kemudahan, bantuan, dan dorongan kepada daerah agar dalam melaksanakan otonomi dapat dilakukan secara efisien dan efektif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Page 3

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Prinsip Pemberian Otonomi Daerah secara ringkas dapat dikelompokan sebagai berikut : 1. Memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan keanekaragaman

2. Otonomi luas, nyata, dan bertanggung jawab 3. Otoda yang luas dan utuh untuk Kabupaten, Otoda yang terbatas untuk Provinsi 4. Sesuai dengan konstitusi sehingga terjamin hubungan serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah 5. Lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom sehingga dalam kabupaten tidak ada wilayah administrasi 6. Peningkatan peran dan fungsi Badan Legislatif Daerah wilayah administrasi 7. Asas dekonsentrasi diletakkan pada Propinsi sebagai wilayah administrasi 8. Asas Tugas Pembantuan diberikan dari Pemerintah kepada Daerah serta dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa.

Otonomi Daerah, sebagai system yang ada tentu memiliki beberapa elemen. Beberapa hal yang menjadi elemen dari Otonomi Daerah yaitu : 1. Adanya penyerahan urusan ke Daerah 2. Adanya Kelembagaan sebagai wadah Otonomi 3. Personil pegawai yang memadai 4. Sumber sumber keuangan untuk mendanai Otda 5. Adanya unsur perwakilan (DPRD) 6. Adanya manajemen pelayanan publik (efisien, efektif, ekonomis, dan akuntable) 7. Adanya Pengawasan, Supervisi, Monitoring dan Evaluasi yang efektif dan efisien. Berikut secara singkat dijelaskan elemen dari Otonomi Daerah tersebut. 1. Penyerahan Urusan kepada Daerah Otonomi Daerah ditandai dengan adanya pembagian kewenangan yang jelas antara Daerah dan Pusat. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan PP No 38 tahun 2007 tentang pembangian urusan antara pusat dan daerah.

Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi, melayani,memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.4

PP 38 Tahun 2007 Pembagian Urusan Pemerintahan

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 4

Berdasarkan PP 38 tahun 2007 tersebut tertuang jelas kewenangan apa yang menjadi urusan pemerintah (pusat) dan kewenangan mana yang menjadi urusan Daerah.

Kewenangan yang menjadi urusan pusat (kewenangan absolut) yaitu meliputi : 1. Politik luar negeri, 2. Pertahanan, 3. Keamanan, 4. Yustisi, 5. Moneter dan fiskal nasional, 6. Agama.

Disamping kewenangan absolut tersebut terdapat juga urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan yang meliputi semua urusan pemerintahan di luar urusan obsolut. Urusan ini terdiri dari 31 bidang contohnya :

1. pendidikan; 2. kesehatan; 3. pekerjaan umum; 4. perumahan; 5. penataan ruang; 6. dst (dapat dilihat lebih lengkap pada PP 38 Tahun 2007)

Dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan absolute pemerintahan, Pemerintah dapat: a. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan; b. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah; atau c. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. Sedangan urusan yang menjadi urusan Daerah terdiri dari 2 jenis yaitu urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, berkaitan dengan pelayanan dasar. Contohnya : a. pendidikan; b. kesehatan; c. lingkungan hidup; DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 5

d. pekerjaan umum; e. penataan ruang; dll (dapat dilihat dalam PP 38 Tahun 2007)

Urusan Pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. 2. Kelembagaan sebagai Wadah Otonomi Penguatan Pemda sebagai wujud rumah otonomi merupakan bukti bahwa wadah otonomi telah ada. Bahkan diawal-awal otonomi menjamur pemekaran wilayah sebagai upaya implementasi otonomi yang lebih jelas. Walau pada akhirnya pemerintah memperketat adanya pemekaran wilayah, setidaknya wadah untuk otonomi telah ada dan lebih banyak dibanding masamasa sebelumnya. Disamping itu penataan struktur pemerintahan daerah juga mengalami perubaha yang drastis saat otonomi bergulir. 3. Pegawai Pemda yang memadai Kewenangan telah tegas dibagi dalam urusan-urusan, wadah sebagai rumah dari otonomi juga telah terbentuk maka subjek/aktor otonomi adalah aparat Pemda (Pegawai Pemda). Keberadaan pegawai Pemda yang memadahi sangat berpengaruh terhadap percepatan implementasi otonomi daerah. Diawal pelaksanaan otonomi daerah, maka pengalihan kepegawaian kepada Pemda merupakan salah satu solusi untuk menguatkan kapasitas SDM Pemda.

4. Sumber-sumber Pendanaan dalam Otda Masalah turunan yang belum tersembuhkan. Otonomi daerah ternyata membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Sementara aparat Pemda belum dapat mengupayakan pendanaan dari sumber selain dari topangan pusat. Pemerintah saat ini telah berupaya untuk memberikan penguatan pendanaan daerah dengan melimpahkan beberapa jenis pajak kepada daerah BPHTB dan PBB P2. Dengan pengalihan ini diharapkan PAD semakin meningkat. Kedepan untuk pemekaran DOB masalah pendanaan pertimbangan serius untuk menentukan DOB. DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 6 daerah otonom perlu menjadi

5.

Kelembagaan DPRD Adanya DPRD yang dipilih langsung oleh rakyat diharapkan menjadi cek and balance bagi

pelaksanaan otonomi daerah. Penguatan lebaga DPRD akan sangat menentukan konsep dan Upaya untuk mengawal pelaksanaan otonomi daerah. Walau dalam prakteknya masih terjadi permasalahan yang melibatkan DPRD dalam kasus KKN, maka kedepan diharapkan kelembagaan DPRD dapat lebih kuat adanya dalam mengawal keberhasilan Otda. 6. Adanya pelayanan publik yang lebih baik Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kaidah yang berlaku menuju pelaksanaan Otda. Mewujudkan otonomi daerah yang mampu meningkatkan pelayanan publik. Harapan memang demikian, karena permasalahan diidentifikasi oleh lokal sesuai dengan kebutuhan lokal maka harapan dari pelayanan yang diberikan tentu lebih baik, karena yang melayani juga aparat-aparat lokal. Namun kenyataan yang terjadi masih adanya pelayanan aparat daerah yang belum optimal bahkan malah menimbulkan masalah, merupakan hal yang harus disikapi dengan bijak dan dilakukan perbaikan untuk kedepannya. 7.

Adanya Pengawasan, Supervisi, Monitoring dan Evaluasi yang efektif dan efisien
Untuk pengendalian dan pengawasan maka institusi pengawasan baik internal maupun

eksternal sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Aparat pengawasan Pemda dari eksternal adalah BPK, kemudian Itjen Kemendagri, Inspektorat Provinsi, Inpektorat Kota/Kab, BPKP. Namun kenyataan ratusan Bupati periode 2004 hingga 2012 terlibat dalam perkara

korupsi . Ini menandakan masih lemahnya pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah.

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 7

Ribuan Pejabat Daerah Terlibat Kasus Korupsi


TEMPO.CO, Jakarta -Kementerian Dalam Negeri mencatat sepanjang Oktober 2004 hingga Juli 2012 ada ribuan pejabat daerah yang terlibat kasus korupsi. Setiap lapisan pejabat daerah, mulai dari gubernur, wali kota, bupati, hingga anggota dewan perwakilan daerah terlibat korupsi. Kami punya datanya lengkap" kata Direktur Jenderal Otonomi Daerah Djohermansyah Djohan saat ditemui di kantornya pada Rabu, 29 Agustus 2012. Sepanjang 2004 hingga 2012, Kementerian mencatat ada 277 gubernur, wali kota, atau bupati yang terlibat kasus korupsi. Itu baru kepala daerahnya saja, belum termasuk bawahannya, ujar Djohermansyah. Menurut Djoher, Kemendagri tengah menghimpun data berapa jumlah bawahan kepala daerah yang terjerat korupsi. Secara umum, kata Djohermansyah, setiap kasus yang melibatkan kepala daerah pasti membelit juga bawahannya. Minimal lima bawahannya pasti telibat kasus yang sama, katanya. Jika dihitung hingga bawahan kepala daerah, pejabat yang terlibat korupsi bisa mencapai 1.500-an. Kementerian juga mencatat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang terlibat korupsi. Di tingkat provinsi, dari total 2008 anggota DPRD di seluruh Indonesia, setidaknya ada 431 yang terlibat korupsi. Sementara di tingkat kabupaten dan kota, dari total 16.267 kepala daerah, ada 2.553 yang terlibat kasus. Djohermansyah mengatakan tingginya jumlah pejabat daerah yang terlibat kasus korupsi merupakan salah satu imbas dari politik berbiaya tinggi. Sejak Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah diberlakukan, biaya politik mendadak melonjak tinggi dibanding masa-masa sebelumnya. Melalui UU tersebut, rakyat langsung memilih kepala daerah. Berbeda dengan sebelumnya ketika kepala daerah cukup dipilih oleh anggota DPRD. Kebutuhan dana calon kepala daerah menjadi besar, katanya. Karena kebutuhan dana besar, calon-calon kepala daerah mencari uang ke mana-mana. Muncullah cukong yang mau memodali, katanya. Ketika naik jabatan, si kepala daerah akhirnya berutang. Karena utang yang besar itu akhirnya marak terjadi kasus korupsi di daerah. (ANANDA BADUDU)

Untuk itu KPK pada Tahun 2013 berusaha bekerja sama dengan BPKP untuk melakukan pengawasan terhadap penyusunan APBD.

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 8

Awasi Pengelolaan APBD, KPK Gandeng BPKP JAKARTA, suaramerdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan kerja sama koordinasi-supervisi pencegahan dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam mengawasi perencanaan dan pengelolaan APBD. "BPKP SDM lebih banyak untuk melakukan koordinasi dan supervisi secara masif di 33 provinsi, yaitu kepada 33 pemprov dan 497 SKPD pemkot/pemkab," kata Wakil Ketua KPK Zulkarnaen. Selain terkait APBD, ujar Zulkarnaen, yang menjadi perhatian khusus adalah pelayanan publik dan pengadaan barang dan jasa. Dia menambahkan, di tahun ini, KPK juga menggagas dan melaksanakan program "Pilkada Berintegritas". Pilkada DKI Jakarta menjadi pilot project pelaksanaan program pencegahan korupsi melalui pengawasan penyelenggaraan pemilu. "Latar belakang program ini adalah karena sistem politik berintegritas merupakan salah satu pondasi dalam terwujudnya sistem integritas nasional dan salah satu momen signifikan dan krusial dalam sistem politik di negeri ini adalah saat dilangsungkannya pemilu/pilkada," katanya. Lebih lanjut, Zulkarnaen mengatakan, KPK juga melakukan berbagai kajian sistem dan tindak lanjut terhadap kajian yang telah dilakukan. Salah satunya di sektor kehutanan yang sistem pengelolaannya masih belum baik, sehingga tidak hanya menimbulkan kerugian negara dalam jumlah yang besar, namun juga berpotensi memicu konflik. "KPK mendorong terciptanya solusi dan regulasi tata kelola kawasan hutan yang transparan, akuntabel, dan berpihak kepada pemenuhan hak-hak dasar rakyat selaku pemegang kedaulatan ekonomi. Kajian lainnya adalah menyangkut social cost of corruption serta sektor katahanan pangan dan ketahanan energi," ujarnya. Di sektor pendidikan, ujar Zulkarnaen, KPK menerbitkan buku "Tunas Integritas", sebuah buku bacaan yang ramah anak sebagai salah satu media pembelajaran. Dalam seri buku yang terdiri atas enam buku sarat gambar ini, nilai-nilai antikorupsi ditanamkan ke anak-anak melalui beragam cerita yang menyenangkan dan tidak menggurui. Sementara Untuk membangkitkan semangat masyarakat untuk memberantas korupsi, salah satu caranya adalah melalui pendekatan budaya pop (pop culture) bertema peran keluarga dalam membangun budaya antikorupsi, yaitu dengan pembuatan film layar lebar berjudul "Kita versus Korupsi" atau disingkat "KvsK". Film ini diproduksi bekerja sama dengan USAID, MSI, TII, dan Cangkir Kopi. Sejak diluncurkan pada 26 Januari 2012, film ini sudah ditonton melalui screening program dan non-screening program sebanyak hampir 50.000 penonton di seluruh Indonesia dalam kegiatan road show di 15 kota. Secara masif, KPK pada tahun ini mengampanyekan tagline "Berani Jujur Hebat", satu dari sembilan nilai dasar antikorupsi yang mencerminkan integritas diri. "Serangkaian kegiatan dilakukan di berbagai wilayah dengan mengusung tema ini. Hebatnya, kampanye ini tidak dilakukan KPK sendirian, melainkan juga terdapat keterlibatan banyak elemen. Selain itu, KPK juga coba untuk membangun budaya antikorupsi di dalam keluarga," ujarnya. ( Mahendra Bungalan / CN31 / JBSM )

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 9

Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan oleh Komite Pengawasan Pelaksanaan Otonomi Daerah, dari elemen-elemen tersebut masih memilik beberapa permasalahan baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Beberapa permasalah umum diantaranya : 1. Belum Jelasnya Pembagian Kewenangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah. 2. Berbedanya Persepsi Para Pelaku Pembangunan Terhadap Kebijakan Otonomi Daerah. 3. Masih Rendahnya Kerjasama Antar Pemerintah Daerah. 4. Belum Terbentuknya Kelembagaan Pemerintah Daerah Yang Efektif Dan Efisien. Terbatasnya Dan Rendahnya Kapasitas Aparatur Pemerintah Daerah. 5. Masih Terbatasnya Kapasitas Keuangan Daerah. 6. Pembentukan Daerah Otonom Baru (Pemekaran Wilayah) Yang Masih Belum Sesuai Dengan tujuannya. Sedangkan masalah/kendala yang sifatnya khusus meliputi : Kelembagaan Otomoni 1. Adanya kecenderungan daerah untuk menerapkan struktur gemuk akibat tekanan birokrasi dan politisi 2. Adanya nomenklatur struktur yang berbeda-beda sehingga menyulitkan kordinasi dan pembinaan 3. Struktur yg gemuk membutuhkan PNS yg banyak sehingga untuk gaji dan insentif PNS menelan sebagian besar alokasi APBD dibandingkan untuk pelayanan publik. 4. Struktur organisasi yang ada belum sepenuhnya mengakomodasikan fungsi pelayanan publik yaitu penyediaan pelayanan dasar dan pengembangan potensi unggulan daerah. Urusan Pemerintahan 1. Terjadi tumpang tindih antar tingkatan pemerintahan dalam pelaksanaan urusan pemerintahan, karena belum sinkronnya antara UU Otoda dengan UU Sektor. 2. Terjadi tarik menarik urusan, khususnya urusan yang mempunyai potensi pendapatan (revenue). 3. Adanya gejala keengganan dari Departemen/LPND untuk mendesentralisasikan urusan secara penuh karena kekhawatiran daerah belum mampu melaksanakan urusan tsb secara optimal. Kepegawaaian /SDM Aparatur 1. Banyak Pemda mengalami kelebihan PNS dengan kompetensi rendah dan kekurangan PNS dengan kompetensi yg memadai. 2. Adanya gejala pengedepanan Putera Asli Daerah untuk menduduki jabatan-jabatan strategis dengan mengabaikan kompetensi/profesionalisme. 3. Adanya gejala politisasi PNS (terutama dalam event Pilkada). Page 10

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

4. Tidak terdapat kejelasan dalam career planning dan career development akibat tidak adanya manpower planning di daerah. 5. Penilaian kinerja yang sudah obselete (out of date); tidak ada reward atau punishment terkait dengan kinerja. 6. Kesejahteraan yg belum memadai sehingga PNS cenderung mencari penghasilan tambahan dan tidak fokus pada tugas pokok. Keuangan Daerah 1. Keuangan daerah yang kurang mencukupi (Financial Insufficiency). 2. Overhead cost pemda yang tinggi. 3. Kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyusunan APBD. 4. Kurangnya kejelasan sistem pembiayaan melalui dekonsentrasi dan tugas Pembantuan. 5. Kurangnya manajemen aset Pemda. 6. Masih lemahnya kebijakan investasi di daerah Perwakilan/DPRD 1. Ekses dari meningkatnya kewenangan DPRD. 2. Kurang terserapnya aspirasi masyarakat oleh DPRD. 3. Campur tangan DPRD dalam penentuan Penunjukan pejabat karir. 4. Masih kurangnya pemahaman DPRD terhadap peraturan perundangan. 5. Kurangnya kompetensi anggota DPRD dan lemahnya networking. Pelayanan Publik 1. Masih rendahnya kualitas pelayanan 2. Masih besarnya peranan Pemda dalam penyediaan pelayanan. 3. Tidak jelasnya standar pelayanan. 4. Rendahnya akuntabilitas pelayanan.

Otonomi di Indonesia, tidak luput dari tetap terjaganya Negara kesatuan Republik Indonesia. Indonesia tentu berbeda dengan Negara lain, Indonesia tentu punya konsep yang khusus ala Indonesia beberapa konsep tersebut yaitu : 1. Kesatuan Pemerintah daerah (ada pembentukan secara yuridis/legal) 2. Provinsi sebagai bentuk desentralisasi dan Kab/Kota sebagai bentuk daerah otonom 3. Kebijakan desentralisasi dilakukan pemerintah, dan penyelenggaraan otonomi oleh Pemda 4. Hubungan antara daerah otonom dan pusat, bersifat dependent dan hirarkhi. 5. Urusan yang didesentralisasikan hanya urusan pemerintahan tidak termasuk kompetensi lembaga negara tertinggi/lembaga tinggi negara lainnya.

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 11

Bahan Diskusi Bila Gagal Daerah Otonom dihapus

Pemerintah menegaskan, pemekaran daerah harus ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jika gagal menyejahterakan rakyat, daerah otonom baru akan dihapus dan digabung kembali dengan daerah induk. Pernyataan itu disampaikan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi pada pidato pengesahan pembentukan tujuh daerah otonom baru (DOB) dalam Rapat Paripurna DPR, Jumat (14/12). Gamawan mengingatkan tujuan pemekaran, yakni meningkatkan kesejahteraan rakyat, pelayanan publik, dan tata kelola pemerintahan. Berdasarkan evaluasi pemerintah terhadap 205 DOB yang terbentuk sepanjang 1999-2004, sebagian besar daerah belum berhasil mencapai tujuan pemekaran. Peningkatan kesejahteraan masyarakat, tata kelola pemerintahan, dan daya saing daerah belum menunjukkan hasil menggembirakan, katanya. Pemerintah menengarai, kegagalan terjadi karena proses pembentukan DOB selama ini belum memperhatikan aspek teknis pemerintahan. Penyebab lain adalah perilaku para penyelenggara pemerintah daerah yang dinilai kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Atas dasar itulah, pemerintah bertekad untuk melakukan penataan daerah. Penataan tidak hanya mengatur pembentukan, tetapi juga penghapusan dan penggabungan daerah. Proses pembentukan daerah akan diperketat dengan memberlakukan daerah persiapan. Selama tiga tahun calon DOB menjadi daerah persiapan. Jika gagal, calon DOB tidak akan disetujui. Jika berhasil, calon DOB akan disetujui menjadi daerah definitif. DOB yang gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat akan dihapuskan dan digabung kembali dengan daerah induk. Desain penataan daerah dan pengaturan pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah sudah diusulkan melalui RUU Pemerintahan Daerah. Tujuh calon DOB yang disahkan yakni Kabupaten Mahakam Ulu, Panukal Abab Lematang Ilir, Malaka, Pulau Taliabu, Mamuju Tengah, Banggai Laut, dan Kolaka Timur. Ketua Komisi II DPR Agun Gunanjar Sudarsa mengingatkan, DOB dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. APBN diharapkan tidak digunakan untuk membangun infrastruktur perkantoran dan mobil dinas, tetapi untuk masyarakat. Namun, Ketua Pusat Pengkajian Otonomi Daerah Universitas Brawijaya, Malang, Ibnu Tricahyo mengatakan, Pemekaran menyisakan masalah efektivitas pemerintahan, pelayanan publik tidak membaik, beban anggaran negara semakin berat, serta konflik masyarakat dan sengketa perbatasan. Pemekaran tanpa desain ini harus dihentikan. Pengajar ilmu politik Universitas Airlangga, Surabaya, priyatmoko, mengatakan, moratorium tidak akan efektif ketika akar masalah yang mendorong pemekaran tidak ditangani. Isu pemekaran relatif sepi di Jawa karena banyak alternatif sumber kesejahteraan di pulau ini. Dalam sistem baru penataan daerah itu, menurut pengajar Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana, harus dirumuskan kebijakan bahwa pemekaran harus menggunakan pertimbangan yang tidak semata-mata politis, tetapi melihat kapasitas calon DOB. (nta/ina/dik) --- (Sumber KOMPAS Senin, 17 Desember 2012 Hal.Politik & Hukum) --Diskusikan dalam kelompok (5-6 peserta) apakah usulan DOB akan mempercepat pembangunan di daerah sesuai dengan semangat otonomi daerah ?

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 12

B. DESENTRALISASI FISKAL

Konsekwensi logis dari adanya otonomi daerah yang diikuti dengan beralihnya kewenangan dan urusan yang selama ini menjadi tanggung jawab pusat menjadi tanggung jawab daerah maka harus dibarengi juga dengan delegasi pendanaan. Sebagaimana diketahui bahwa sumber pendanaan nasional semasa sentralisasi hampir 75-80 % dikelola oleh daerah.

Namun selanjutnya seiring dengan pertumbuhan otonomi maka pengalihan sumbersumber pendanaan kepada daerah menjadi semakin besar. Pemerintah mulai

mendesentralisasikan hal-hal yang terkait dengan pendanaan kepada daerah (fiscal).

Sebelum membahas lebih jauh tentang desentralisasi fiscal, maka perlu memahami beberapa pengertian yang mendukung yaitu : Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan dan kebijakan kepada manajer atau orang-orang yang berada pada level bawah dalam suatu struktur organisasi. Desentralisasi fiskal merupakan pendelegasian tanggungjawab , otoritas, dan sumber-sumber yang berkaitan (keuangan, pegawai, sarana-prasarana) dari pemerintah pusat kepada

tingkatan pemerintahan yang lebih rendah.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah, apa alas an pemerintah melakukan desentralisasi. Alasan dilakukannya desentralisasi fiscal yang utama adalah supaya Pengambilan keputusan akan lebih baik apabila diserahkan kepada tingkatan pemerintahan yang lebih rendah yang secara langsung dapat merasakan dampak dari program dan pelayanan yang direncanakan pemerintah. 1. Masud dan Tujuan Sedangkan yang menjadi maksud dan tujuan dari dilaksanakannya desentralisasi fiscal yaitu 1) Memperbaiki relevansi kualitas penyediaan pelayanan publik terhadap kebutuhan dan kondisi masyarakat lokal dengan tetap mengacu pada tujuan pembanguan ekonomi dan sosial baik regional maupun nasional. 2) Pengambilan keputusan untuk pelayanan publik, program dan proyek yang dilakukan lebih relefan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Demikian juga perencanaan , pelaksanaan dan pembiayaan diharapkan dapat terjamin keberadaanya sesuai dengan kemampuan daerah. Page 13

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Dengan melaksanakan desenralisasi fiscal, apabila dapat berjalan dengan baik maka dapat memberikan keuntungan diantaranya : Peningkatan efektivitas dan efisiensi biaya pelayanan masyarakat Berkembangnya proses demokrasi Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembilan keputusan Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pemerintah Mobilisasi pendapatan

Selain itu Desentralisasi Fiskal dapat memberikan manfaat yang besar kepada daerah yaitu : 1. Adanya sensitivitas terhadap keinginan (preferensi) daerah yang berbeda-beda 2. Terpenuhinya keinginan/kebutuhan (preferensi) masyarakat 3. Perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan generasi mendatang 4. Terbatasnya kekuasaan

Selanjutnya secara konseptual bahwa desentralisasi dapat dikelompokkan dalam 3 hal yaitu : Desentralisasi penuh (full decenralization) artinya pendelegasian tanggung jawab,

wewenang dan fungsi kepada pemerintah daerah yang dilakukan secara penuh. Deconcentration, pemerintah melaksanakan fungsinya didaerah-daerah dengan

menggunakan sumber daya dan fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Pusat. C0-Administration, merupakan bentuk desentralisasi yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menjalankan peranan dan fungsi pemerintah pusat dengan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah pusat.

2. Empat Pilar (building blocks) desentralisasi Fiskal Penyelenggaraan otonomi yang luas dan bertanggungjawab, harus memperhatikan empat pilar dari desentralisasi fiskla itu sendiri. Pendelegasian/pendistribusian tanggung jawab pengeluaran (the assignment of

expenditure responsibility). Harus tegas apa fungsi dan tanggung jawab masing-masing (level) pemerintahan. Pendistribusian sumber perpajakan (assignment of tax resources). Pemerintah daerah diberi tanggung jawab atas pengeluaran tertentu, sumber pajak dan non tax apa saja yang dapat dikelola oleh Pemda. Transfer dari Pemerintah pusat kepada Daerah (inter govermental fiscal transfer). Pemerintah pusat dapat menyediakan tambahan dana untuk menambah sumber pendapatan daerah melalui transfer dan subsidi. Defisit Daerah, pinjaman dan utang (subnational deficit, borrowing, and debt). Pemda harus berhati-hati untuk mengantisipasi celah fiskalnya agar tidak terbebani dengan utang. DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 14

Secara umum yang menjadi prinsipprinsip dari desenralisasi fiscal adalah : 1. Mendorong/mempromosikan tercipanya Otda 2. Perencanaan menurut prinsip bottom-up 3. Partisipasi penuh dalam proses demokrasi 4. Pengendalian sumber keuangan 5. Pembagian sumber daya (bagi hasil) yang lebih merata antara Pusat/daerah

Dalam pelaksanana desentralisasi fiscal memiliki bebrapa kendala yaitu : 1. Alokasi sumber daya antar daerah yang tidak efisien 2. Kompetisi local tax/restribusi yang kurang sehat 3. Ekspor pajak, dan dampak negatif penyediaan barang publik. 4. Distribusi pendapatan yang kurang optimal 5. Kebijakan Stabilisasi yang kurang optimal 6. Kurang pengalaman dan miskinnya kapasitas organisasional 7. Kurangnya Sistem Informasi Keuangan Daerah 8. Partisipasi masyarakat untuk berperanan pada proses pembangunan (Perencanaa, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban) masih rendah

Bagaimana pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di Indonesia dalam rangka mendukung pelaksanaan Otonomi Daerah selama ini .

Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia telah memasuki tahun ke-10 dan telah membawa pengaruh yang besar bagi pelaksanaan pembangunan daerah dan pengembangan perekonomian daerah. Kebijakan tersebut

dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang keduanya telah direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Pelaksanaan kebijakan tersebut merupakan jawaban atas tuntutan reformasi yang terjadi pada tahun 1998. Pemberian otonomi luas kepada daerah disertai dengan pelaksanaan desentralisasi fiskal pada hakekatnya diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Disamping itu melalui otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 15

kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejalan dengan bergulirnya tuntutan reformasi di berbagai bidang, pengelolaan keuangan Pusat dan Daerah juga mengalami reformasi. Pemikiran tentang reformasi di bidang fiskal sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun 80-an berkaitan dengan upaya untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah, efisiensi penggunaan keuangan negara, serta prinsip-prinsip good governance seperti partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Efisiensi penggunaan keuangan negara yang telah didesentralisasikan dapat tercermin pada pelaksanaan fungsi pelayanan pemerintahan yang bersifat lokal. Sebelum otonomi daerah dilaksanakan, fungsi pemerintahan yang bersifat local tersebut dikelola oleh Pemerintah Pusat (Pemerintah). Hal ini cenderung memberikan dampak biaya yang relatif lebih besar, sehingga penggunaan keuangan negara menjadi kurang efisien. Melalui kebijakan otonomi daerah, Pemerintah juga ingin mewujudkan keadilan vertikal dan horisontal serta membangun tatanan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik menuju terwujudnya good governance dan clean government.

Penerapan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal juga dilatarbelakangi pengalaman bahwa pengambilan keputusan yang bersifat sentralistis di bidang pelayanan sektor publik di Indonesia ternyata mengakibatkan rendahnya akuntabilitas, lambatnya proses pembangunan infrastruktur, menurunnya rate of return pada proyek-proyek sektor publik, serta terhambatnya pengembangan institusi di daerah. Hal ini terjadi karena Pemerintah menghadapi kondisi demografis dan geografis yang sangat kompleks. Oleh karena itu, penerapan kebijakan otonomi daerah yang diiringi dengan kebijakan desentralisasi fiskal diharapkan dapat membantu Pemerintah untuk memberikan pelayanan sampai pada tingkat pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat lokal.

Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal tersebut dilakukan dengan menyerahkan sebagian besar urusan pemerintahan kepada daerah, sedemikian rupa sehingga Pemerintah hanya menangani 6 (enam) urusan pemerintahan utama saja, yaitu urusan di bidang fiskal dan moneter, peradilan, agama, pertahanan, dan keamanan serta politik luar negeri. Implikasi langsung dari kebijakan tersebut adalah adanya diskresi (keleluasaan) bagi Pemerintah Daerah untuk dapat merencanakan dan menentukan prioritas pembangunan daerahnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan keuangan daerahnya. Sebagai

konsekuensinya, kebutuhan terhadap dana untuk membiayai pelaksanaan urusan pemerintahan yang telah menjadi kewenangan daerah juga meningkat. Untuk itu, Pemerintah melaksanakan kebijakan desentralisasi fiskal melalui perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah sesuai dengan prinsip money follow function sebagai upaya untuk mendukung pendanaan berbagai DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 16

urusan pemerintahan yang telah diserahkan kepada daerah. Selain itu, kebijakan pendanaan kepada daerah dalam rangka menjalankan urusan pemerintahan yang telah diserahkan tersebut diikuti dengan pemberian kewenangan dalam hal perpajakan daerah (localtaxing power).

Perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah pada hakekatnya merupakan suatu sistem pendanaan pemerintahan dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan dan sumber-sumber pendapatan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, serta pemerataan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, sejalan dengan kewajiban dan pembagian urusan, serta tata cara penyelenggaraan kewenangan, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya. Tujuan perimbangan keuangan tersebut adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, serta mengurangi kesenjangan kemampuan fiscal antar daerah.

Dari sisi pembagian sumber-sumber pendapatan, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan upaya yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan akuntabilitas daerah dalam pengelolaan keuangannya. Dalam kaitan ini dilakukan sinkronisasi antara sistem perpajakan nasional dengan sistem perpajakan daerah. Sumber-sumber pendapatan yang memenuhi kriteria pungutan Pusat ditetapkan sebagai objek pajak Pusat dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sedangkan sumber-sumber pendapatan yang memenuhi kriteria pungutan Daerah ditetapkan sebagai objek pajak daerah dan retribusi daerah. Proses pembagian sumber-sumber pendapatan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah tersebut dilakukan secara bertahap sesuai kondisi dan kemampuan daerah. Penerbitan UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan langkah strategis yang memberikan kewenangan yang lebih luas kepada daerah di bidang perpajakan daerah. Namun demikian, kebijakan ini perlu diikuti dengan sistem pengawasan dan pengendalian yang memadai, sehingga upaya peningkatan PAD tidak menghambat upaya penciptaan iklim investasi yang kondusif di daerah. Selain itu, hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah mencakup pula pinjaman daerah dan hibah ke daerah dalam mendukung pendanaan pelaksanaan pembangunan daerah. Dalam melaksanakan kebijakan desentralisasi fiskal tersebut, Pemerintah perlu

menerapkan prinsip-prinsip: (1) meningkatkan efisiensi, (2) memperbaiki struktur fiskal dan mobilisasi sumber-sumber keuangan, (3) meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat, (4) mengurangi disparitas fiskal dan menjamin penyediaan pelayanan dasar sosial, (5) memperbaiki kesejahteraan masyarakat, dan (6) mendukung stabilitas makro ekonomi. Dengan melaksanakan prinsip-prinsip tersebut, pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 17

diharapkan dapat mampu menciptakan sinergi antara Pusat dan Daerah, serta antar Daerah dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. 3. Dukungan Kebijakan Pendanaan Pelaksanaan Urusan Pemerintahan

Dilihat dari sisi keuangan negara, kebijakan desentralisasi fiskal telah membawa perubahan dalam pola pengelolaan fiskal nasional. Dalam tahun pertama pelaksanaan desentralisasi fiskal, total dana yang didaerahkan melalui dana perimbangan dalam APBN tahun 2001 adalah sebesar Rp 82,40 triliun, sedangkan dalam APBN tahun 2010 besarnya meningkat menjadi Rp306 triliun. Peningkatan yang cukup signifikan tersebut telah menyebabkan pengelolaan fiskal yang menjadi tanggung jawab daerah menjadi semakin penting.

Implementasi kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia juga ditandai dengan besarnya proporsi dana perimbangan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Secara umum, proporsi dana perimbangan dalam penerimaan APBD kabupaten/kota adalah lebih dari 85 persen, dan sekitar 70 persen dalam ratarata penerimaan APBD provinsi. Besarnya proporsi tersebut menunjukkan tingkat ketergantungan fiskal daerah yang masih tinggi terhadap Pemerintah. Apabila tidak dikelola dengan hati-hati, kondisi tersebut justru dapat menciptakan disinsentif bagi Pemerintah Daerah dalam jangka panjang, khususnya dalam meningkatkan PAD. Oleh karena itu, perubahan pola pengelolaan fiskal nasional tersebut harus pula diiringi dengan fleksibilitas daerah yang cukup tinggi dalam pemanfaatan sumber-sumber utama pendanaan tersebut.

Sejak dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, selain telah terjadi peningkatan dana yang dialokasikan kepada daerah, terdapat pula penambahan komponen dalam alokasi transfer ke daerah. Selain alokasi dana perimbangan, transfer ke daerah mencakup pula dana otonomi khusus (otsus) dan dana penyesuaian. Dana otsus dan dana tambahan infrastuktur dialokasikan kepada Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan otonomi khusus, sebagai konsekuensi diberlakukannya UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Selanjutnya dengan ditetapkannya UU No. 35 tahun 2008 tentang Penetapan PP Pengganti UU No. 1 tahun 2008 tentang Perubahan atas UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, ditetapkan bahwa Provinsi Papua Barat juga mendapatkan Dana Otsus dan dana tambahan infrastuktur dari APBN. Dana otsus tersebut adalah sebesar 2 persen dari plafon DAU nasional, dan berlaku selama 20 tahun. Selain kepada Provinsi Papua dan Papua Barat, dana otsus juga dialokasikan kepada Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) mulai tahun 2008 sesuai UU No. 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dana Otsus tersebut berlaku untuk jangka waktu 20 tahun, dengan rincian untuk tahun pertama sampai dengan tahun DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 18

ke-15 besarnya setara dengan 2 persen plafon DAU Nasional dan untuk tahun ke-16 sampai dengan tahun ke-20 besarnya setara dengan 1 persen plafon DAU Nasional. Sementara itu, dana penyesuaian dialokasikan untuk beberapa pos belanja daerah, antara lain: tambahan tunjangan kependidikan guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) dan dana insentif bagi daerah yang berprestasi.

Di samping dukungan pendanaan dalam bentuk dana transfer ke daerah, alur dana APBN ke daerah dapat meliputi dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan untuk mendanai sebagian urusan Pemerintah yang dilimpahkan kepada gubernur dan ditugaskan kepada gubernur/bupati/walikota dan/atau desa, serta dana instansi vertikal bagi pelaksanaan pelimpahan sebagian urusan pemerintahan dari Pemerintah kepada instansi vertikal di daerah. Selain itu, belanja APBN di Daerah mencakup pula pendanaan untuk pelaksanaan program nasional yang menjadi Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, seperti Program Nasional

Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), serta program nasional melalui subsidi yang sebagian besar juga dibelanjakan di daerah, seperti subsidi energi dan subsidi non energi. Sepuluh tahun pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal merupakan kurun waktu yang layak untuk dilakukan evaluasi sebagai bentuk continous improvement menuju kepada kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang lebih baik. Untuk itu, dalam rangka mendukung implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiscal secara utuh, nyata, proporsional, dan akuntabel, pengaturan fiskal yang lebih baik perlu diiringi dengan penataan regulasi yang lebih proporsional.

Untuk

menyempurnakan

penataan

regulasi

mengenai

pelaksanaan

kebijakan

desentralisasi fiskal, Pemerintah saat ini sedang mempersiapkan penyusunan amandemen Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Amandemen Undang-Undang tersebut bertujuan untuk menyempurnakan berbagai ketentuan yang mendasari pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal yang dalam perkembangannya selama ini masih dihadapkan pada berbagai kendala teknis dalam pencapaian tujuan awal otonomi daerah. Selain melakukan penataan regulasi terhadap dana perimbangan, Pemerintah bersama DPR-RI juga telah menyempurnakan pengaturan mengenai pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah melalui penetapan UU Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Undang-undang ini merupakan penyempurnaan UU Nomor 34 Tahun 2000 yang dipandang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Salah satu tujuan dari perubahan kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah yang dituangkan dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 adalah meningkatkan PAD melalui serangkaian strategi antara lain (1) memberikan kepastian DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 19

mengenai jenisjenis pungutan daerah dengan menerapkan closed-list system. (2) meningkatkan kewenangan daerah dalam perpajakan daerah dengan meningkatkan local taxing power, (3) meningkatkan efektifitas pengawasan pajak daerah dan retribusi daerah dengan menerapkan sistem preventif dan korektif yang diikuti dengan sanksi atas pelanggaran ketentuan perpajakan daerah, serta (4) memperbaiki pengelolaan pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah, sehingga dapat memberikan keadilan dan meningkatkan kualitas penggunaan dana yang dipungut dari masyarakat.

Upaya peningkatan PAD tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan porsi PAD dalam APBD, tetapi lebih ditujukan untuk optimalisasi penerimaan PAD tanpa menimbulkan dampak negatif bagi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi di daerah. Melalui pengaturan dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 diharapkan dapat memberikan ruang gerak yang lebih fleksibel bagi daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah sesuai potensi dan kondisi masingmasing daerah, dengan tetap menjaga iklim investasi yang kondusif agar daya saing antar daerah dapat ditingkatkan. SINERGI ANTARA PUSAT DAERAH DAN ANTAR DAERAH DALAM PEMBANGUNAN DAN PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DAN DESENTRALISASI FISKAL

Dalam kurun waktu sepuluh tahun pertama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia, telah terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam memahami pengertian otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Diawali dengan penyerahan sebagian besar urusan pemerintahan yang diikuti dengan desentralisasi fiskal, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah melaksanakan desentralisasi politik, yang antara lain diwujudkan dengan pemilihan kepada daerah secara langsung. Selain desentralisasi politik, desentralisasi ekonomi diwujudkan pula dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi, kondisi, dan karakteristik daerah. Pengalaman di negaranegara lain menunjukkan bahwa untuk mewujudkan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab diperlukan waktu yang relatif lama dan menuntut konsistensi serta upaya penyempurnaan kebijakan yang terus menerus. Hal yang sangat penting adalah perlunya pemahaman dan kesamaan pandang oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, pelaku ekonomi, dan masyarakat luas atas berbagai masalah dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

Upaya yang terus dilakukan oleh Pemerintah, terutama dalam hal sinergi pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, dapat ditunjukkan melalui pengembangan strategi pembangunan untuk semua (development for all). Dalam pengembangan Page 20 strategi

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

pengembangan tersebut terdapat 6 (enam) strategi yang dikembangkan, yaitu (i) strategi pembangunan yang inklusif melalui pembangunan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), serta penyelarasan antara RPJMN dengan RPJM Daerah (RPJMD); (ii) pembangunan berdimensi kewilayahan, dimana daerah difokuskan sebagai pusat pertumbuhan; (iii) penciptaan integrasi ekonomi nasional dalam era globalisasi melalui optimalisasi peluang dan menghindari efek negatif yang mungkin ditimbulkan; (iv) keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan yang disertai keadilan (growth with equity) melalui triple track strategy; (v) pembangunan yang menitikberatkan pada kemajuan kualitas manusia melalui pembangunan aspek pendidikan, kesehatan, pendapatan, dan lingkungan kehidupan; dan (vi) pengembangan ekonomi lokal melalui penguatan keterkaitan antar daerah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur, keterkaitan fungsional antara industri hulu dan hilir, serta menghilangkan hambatan perdagangan antar daerah.

Dengan demikian, strategi pembangunan untuk semua yang dibangun dalam rangka sinergi antara pembangunan nasional dan daerah diarahkan tidak saja untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, akan tetapi juga ditekankan kepada perwujudan pembangunan ekonomi daerah. Untuk itu, kebijakan ekonomi daerah kedepan diarahkan untuk : (i) melakukan pemulihan ekonomi melalui program-program pro-rakyat, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar; (ii) menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran; (iii) menurunkan inflasi untuk meningkatkan daya beli; (iv) mendorong peningkatan kegiatan investasi dan perdagangan; dan (v) menjaga ketahanan pangan dan energi. Arah kebijakan ekonomi daerah merupakan bagian dari prioritas nasional dalam RPJMN tahun 2010 sampai dengan 2014 dalam rangka sinergi antara Pusat-Daerah dan antar Daerah. Sementara itu, upaya sinergi antara Pusat-Daerah dan antar Daerah dalam kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal juga terus diupayakan melalui harmonisasi peraturan antara Pusat dan Daerah, serta koordinasi dalam proses pengambilan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Sinergi yang lebih nyata untuk mengoptimalkan peran gubernur dalam pembangunan daerah dapat diwujudkan dalam penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 2008 tentang

Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 156 Tahun 2008, Pemerintah (melalui Kementerian/Lembaga) dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan (di luar 6 urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah) yang menjadi kewenangan Pemerintah di daerah kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk penyelenggaraan dekonsentrasi, dan memberikan penugasan kepada daerah (provinsi/kabupaten/kota dan/atau desa) untuk penyelenggaraan tugas pembantuan. Page 21

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Pemerintah, gubernur sebagai wakil Pemerintah dapat melakukan sinkronisasi dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah, penyiapan perangkat daerah yang akan melaksanakan program dan kegiatan dekonsentrasi, dan koordinasi, pengendalian, pembinaan, pengawasan, dan pelaporan pelaksanaan dekonsentrasi. Disamping itu, dalam PP No. 19 tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang, serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi, gubernur juga memiliki peranan untuk melakukan koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Dalam hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah, selain perlu peningkatan sinergi dalam pelaksanaan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan, perlu pula mulai ditingkatkan sinergi dalam pelaksanaan asas desentralisasi. Sinergi yang telah dilakukan adalah pengumpulan data dasar untuk Alokasi Dasar DAU berupa daftar gaji pegawai daerah. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara koordinatif antara Kementerian Keuangan c.q. DJPK, Kementerian Dalam Negeri c.q. Ditjen BAKD, dan Biro Keuangan Provinsi dengan menghadirkan semua kabupaten/kota dalam wilayah provinsi yang bersangkutan bertempat di ibukota provinsi. Kegiatan sinergis ini dalam beberapa tahun terakhir telah menghasilkan data dasar Alokasi Dasar DAU lebih akurat karena diambil langsung dari sumbernya.

Pola sinergi tersebut perlu dikembangkan untuk penyediaan data dasar Kebutuhan Fiskal DAU agar keseimbangan data antar daerah dalam satu provinsi dapat dijamin kewajarannya. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai institusi penyediaan data dasar Kebutuhan Fiskal dalam melaksanakan tugasnya menggunakan Kantor Statistik yang tersebar hampir diseluruh kabupaten/kota. Kantor Statistik menyediakan data meliputi jumlah penduduk, indeks

pembangunan manusia (IPM), indeks kemahalan konstruksi (IKK), dan product domestic regional bruto (PDRB). Untuk mengurangi perbedaan persepsi daerah terhadap data yang disediakan Kantor Statistik dengan data yang diyakini daerah, Gubernur sebagai Wakil pemerintah Pusat di daerah dapat mengkoordinasikan Kantor Statistik provinsi/kabupaten/kota untuk melakukan review data sebelum Kantor BPS provinsi/kabupaten/Kota menyampaikan data ke BPS. Koordinasi ini akan meningkatkan kualitas data dasar Kebutuhan Fiskal DAU, terutama dalam mengukur kewajaran data antara kabupaten/kota dalam satu provinsi, disamping meningkatkan kapasitas provinsi dalam penyediaan data untuk keperluan Pemerintah.

Hal yang sama dapat diterapkan dalam penyediaan data luas wilayah. Permasalahan luas wilayah yang terjadi akhir-akhir ini, antara lain ketidakpuasan Kabupaten Paniai karena penurunan data luas wilayah, demikian juga tertukarnya data luas wilayah antara Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Timur adalah bukti dari kurangnya koordinasi dalam penyediaan data luas DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 22

wilayah. Gubernur dapat bekerjasana dengan Kementerian Dalam Negeri c.q. Ditjen Pemerintahan Umum (DJPUM) untuk membantu pencapaian akurasi data luas wilayah, dengan cara mensosialisasikan, membahas, mereview data luas wilayah sebelum disampaikan ke Kementerian Keuangan untuk digunakan dalam perhitungan Kebutuhan Fiskal daerah.

Dalam hubungannya dengan Dana Bagi Hasil (DBH), selama ini penyediaan data DBH Pajak dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Pajak, baik mengenai perkiraan maupun realisasinya. Dalam hal DBH SDA, data perkiraan disediakan oleh kementerian terkait, sedangkan data realisasinya disediakan berdasarkan rekonsiliasi data realisasi PNBP yang tercatat dalam pembukuan Kas Negara dengan data yang dimiliki oleh daerah. Gubernur dapat melakukan koordinasi DBH SDA dalam hal data realisasi penyetoran PNBP yang dimiliki oleh daerah. Kegiatan koordinatif ini dimaksudkan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam penyaluran DBH SDA. Koordinasi tersebut dapat dilaksanakan dengan mengupayakan agar daerah mendapatkan data setoran PNBP yang dilakukan oleh

kontraktor/investor sumber daya alam. Terkait dengan data untuk perhitungan Dana Alokasi Khusus (DAK) selama ini belum ada koordinasi antara kabupaten/kota dengan provinsi, masing-masing daerah menyampaikan secara sendiri-sendiri data teknis berupa infrastruktur yang perlu dibangun/direhabilitasi kepada kementerian terkait. Data perhitungan DAK meliputi Kemampuan Keuangan Daerah (KKD) yang disediakan oleh Kementerian Keuangan dari data yang telah digunakan untuk perhitungan DAU. Data kondisi wilayah disediakan oleh kementerian tertentu, antara lain data daerah tertinggal oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan data daerah perbatasan dengan negara lain oleh Kementerian Dalam Negeri. Selanjutnya data infrastruktur yang akan dibangun/direhabilitasi dapat dikoordinasikan oleh gubernur untuk meningkatkan kualitas data dan meningkatkan kapasitas provinsi untuk turut memantau kebutuhan infrastruktur di masing-masing daerah yang akan didanai dari DAK, sekaligus meningkatkan kepercayaan daerah terhadap validitas data infrastruktur daerah.

Untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendetail atas pelaksanaan desentralisasi fiskal tahun 2010 dan mendapatkan intisari sinergi Pusat-Daerah dan antar Daerah dalam desentralisasi fiskal, Pelengkap Buku Pegangan Penyelenggaraan Pemerintahan dan

Pembangunan Daerah Tahun 2010 ini akan memaparkan mengenai arah pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia, pengelolaan keuangan daerah, kendala-kendala yang dihadapi, serta berbagai kebijakan Pemerintah yang mendasari pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia. Buku ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi semua pemangku kebijakan, baik Pemerintah dan Pemerintah Daerah, pelaku ekonomi dan masyarakat dalam melaksanakan kebijakan desentralisasi DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK Page 23

fiskal di Indonesia, khususnya pengelolaan keuangan di daerah yang transparan dan akuntabel untuk meningkatkan pelayanan publik sesuai agenda pro-rakyat yaitu progrowth, pro-job, dan propoor.5 Soal-soal Latihan : 1. Apa yang melatarbelakangi lahirnya Otonomi Daerah, menurut Saudara ? 2. Dalam menerapkan Otonomi Daerah perlu memperhatikan beberapa prinsip, sebutkan prinsipprinsip pemberian Otonomi Daerahtersebut ! 3. Pelaksanaan Otda akan berjalan dengan baik apabila elemen-elemen Otda bisa tesedia dengan memadai. Elemen-elemen tersebut adalah ? 4. Dalam rangka mewujudkan pembanguna ekonomi daerah yang lebih baik, maka pembangunan ekonomi daerah diarahkan kepada hal-hal apa saja ? 5. Sebutkan bentuk-bentuk desentralisasi fiscal ! 6. Terdapat empat pilar (Buildings Block) dalam desentralisasi fiscal yaitu ? 7. Hal-hal yang menjadi hambatan dalam desentralisasi fiscal diantaranya ? 8. Beberapa kendala dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah ? 9. Sebutkan jenis kewenangan yang dimikiki oleh pusat dan daerah ! 10. Bagaimana upaya untuk mensinergikan antara kebijakan fiscal pusat dan daerah, jelaskan!

Pelengkap Buku Pegangan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 2010 (Sinergi Pusat dan Daerah dalam perspektif Desentralisasi Fiskal), DJPK Kementerian Keuangan, 2010

DTSD Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah_Pusdiklat KNPK_BPPK

Page 24