Anda di halaman 1dari 29

Kegiatan Belajar pertama KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH DAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH 1.

Pengertian dan definisi Keuangan Negara Pendekatan yang digunakan dalam merumuskan Keuangan Negara adalah dari sisi obyek, subyek, proses, dan tujuan. Dari sisi obyek yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dari sisi subyek yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi seluruh obyek sebagaimana tersebut di atas yang dimiliki negara, dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perusahaan Negara/Daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara. Dari sisi proses, Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban. Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan obyek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Negara. Undang-undang nomor 17 tahun 2003 pasal 2 memerinci keuangan Negara menjadi item yang meliputi hak Negara, kewajiban Negara, peneriman negara, pengeluaran negara, penerimaan daerah, pengeluaran daerah, kekayaan Negara, kekayaan fihak lain. 2. Pengertian Keuangan Daerah Permendagri 13 tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Permendagri 21 tahun 2011, Pasal 1 angka 6 menyatakan bahwa Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Ruang lingkup keuangan daerah berdasarkan Permendagri nomor 13 tahun 2006 meliputi : (a). hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman; (b) kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintah daerah dan membayar tagihan pihak ketiga; (c). penerimaan daerah; (d). pengeluaran daerah; (e). kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang serta hak hak lain yang dapat

dinilai uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan (f) kekayaan pihak lain yang dikuasai pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan atau kepentingan umum. a. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan peraturan perundang-undangan, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah. Jenis Pajak provinsi terdiri atas: (a) Pajak Kendaraan Bermotor; (b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor; (c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; (d) Pajak Air Permukaan; dan (e) Pajak Rokok. Sementara itu pajak daerah yang dipungut oleh Kabupaten/Kota meliputi : (a) Pajak Hotel; (b) Pajak Restoran; (c) Pajak Hiburan; (d) Pajak Reklame; (e) Pajak Penerangan Jalan; (f) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan; (g) Pajak Parkir; (h) Pajak Air Tanah; (i) Pajak Sarang Burung Walet; (j) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan (k) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Disamping memiliki kewenangan untuk memungut pajak, daerah juga dapat memungut rertibusi. Retrebusi yang dipungut meliputi retribusi jasa umum, Retribusi jasa usaha dan Retribusi Perijinan tertentu. Retribusi yang dikenakan atas jasa umum digolongkan sebagai Retribusi Jasa Umum. Retribusi yang dikenakan atas jasa usaha digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha. Retribusi yang dikenakan atas perizinan tertentu digolongkan sebagai Retribusi Perizinan Tertentu. Pasal 110 UU 28 / 2009, menetapkan jenis Retribusi Jasa Umum, adalah : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) Retribusi Pelayanan Kesehatan; Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan; Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil; Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat; Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum; Retribusi Pelayanan Pasar; Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor; Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran; Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta; Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus; Retribusi Pengolahan Limbah Cair; Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang; Retribusi Pelayanan Pendidikan; dan Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.

Pasal 139 UU 28 tahun 2009 menetapkan

Subjek Retribusi Jasa Usaha adalah orang

pribadi atau Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan. Wajib Retribusi Jasa Usaha adalah orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundangundangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi Jasa Usaha. Untuk Retribusi Perizinan Tertentu, menurut Pasal 140 UU 28 / 2009, Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Jenis Retribusi Perizinan Tertentu menurut UU 28 tahun 2009, Pasal 141 adalah : 1) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan; 2) Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol; 3) Retribusi Izin Gangguan; 4) Retribusi Izin Trayek; dan 5) Retribusi Izin Usaha Perikanan. b. Kewajiban Daerah Daerah memiliki kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga. Kewajiban daerah untuk melakukan urusan pemerintahan merupakan bagian dari keuangan daerah. Disamping itu jika daerah mengadakan barang atau jasa, maka kegiatan pengadaan barang dan atau jasa tersebut akan berakibat timbulnya kewajiban untuk membayar harga dari barang dan atau jasa yang diperoleh tersebut. c. Penerimaan Daerah Permendagri 13 tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Permendagri nomor 21 yahun 2011 pasal 1 angka 48 menayatakan bahwa Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. Uang masuk ke kas Negara dapat berasal dari pendapatan daerah atau berasal dari kegiatan pembiayaan misalkan menarik pinjaman. Mengalirnya uang ke kas daerah juga dapat berasal dari potongan iuran pensiun pegawai negeri yang nantinya harus disetorkan ke perusahaan pengelola pensiun pegawai negeri. d. Pengeluaran Daerah Permendagri 13 tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Permendagri nomor 21 tahun 2011 pasal 1 angka 48 menayatakan bahwa Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Pengeluaran dari Kas daerah dapat terjadi untuk pembayaran belanja, pengeluaran pembiayaan misalkan untuk membayar angsuran pokok hutang, atau untuk membentuk cadangan. Uang juga dapat keluar dari kas daerah untuk menyetorkan PPh pasal 21 yang telah dipotong dari

pegawai negeri daerah, pembayaran iuran tabungan pensiun ke perusahaan penyelenggara pensiun pegawai negeri daerah, pembayaran iuran askes dan sebagainya. e. Kekayaan Daerah yang dikelola sendiri dan dikelola oleh fihak lain Aset Daerah dapat dikelola sendiri oleh Pemerintah Daerah. Tetapi dapat juga pengelolaan sebagian dari asset daerah dilakukan oleh pihak lain. Misalkan Kabupaten Cilacap bersama dengan Ditjen Dikti Depdiknas telah mendirikan Politeknik yang pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan. Maka asset daerah yang tertanam dalam Politeknik tersebut merupakan bagian dari keuangan daerah. f. Kekayaan fihak lain yang dikuasai daerah. Potongan iuran askes, iuran pension pegawai negeri yang sementara ada di kas daerah merupakan bagian dari keuangan daerah. 3. Visi dan Misi Daerah Untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, transparan, akuntabel, efisien dan efektif di bidang perencanaan pembangunan, diperlukan adanya tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan. Penyusunan Rencana Pembangunan mengacu pada UU no 25 tahun 2004 dan PP nomor 8 tahun 2008. Sesuai dengan UU nomor 25 tahun 2004, perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Sementara itu pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Untuk melakukan pembangunan tersebut diperlukan suatu sistem yang disebut Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Sesuai dengan UU no 25 tahun 2004 pasal 1 ayat 3, Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Perencanaan sangat penting sebagai salah satu proses dalam pengelolaan keuangan negara/ daerah. Perencanaan sangat bermanfaat dalam (a) mengurangi ketidakpastian serta perubahan di masa datang; (b) mengarahkan semua aktivitas pada pencapaian visi dan misi organisasi; (c) sebagai wahana untuk mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan kinerja suatu organisasi. Dilihat dari jangka waktu perencanaan, perencanaan pembangunan meliputi : (1) Rencana Pembangunan Jangka Panjang; (2) Rencana Pembangunan Jangka Menengah; (3) Rencana Pembangunan Tahunan. Sesuai dengan UU no 25 tahun 2004 pasal 1, Rencana Kerja Jangka Panjang meliputi kurun waktu 20 tahun, sementara itu RPJM meliputi Rencana Pembangunan Tahunan adalah rencana pembangunan untuk 1 tahun. Jika klasifikasi rencana pembangunan tersebut 4

dikaitkan dengan struktur pemerintahan maka rencana pembangunan dapat diikhtisarkan sebagai berikut : Kurun waktu perencanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Pembangunan Tahunan RKP RPJMN Rencana Strategis-KL (Renstra KL) Rencana Kerja-KL (Renja-KL) RKPD RKPD Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD) JPJMD RPJMD Renstra SKPD RPJP RPJPD RPJPD Nasional Tingkatan Struktur Pemerintahan Kementerian Provinsi Kabupaten/ Kota SKPD (Propinsi/Kota)

Dari tabel di atas, Daerah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Jangka Menengah Daerah, serta Rencana Kerja Pemerintah Daerah. Penyusunan rencana pembangunan di daerah ini sinkron dengan perencanaan pembangunan di tingkat pusat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ditetapkan dengan peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. Satuan Kerja sebagai perangkat daerah menyusun perencanaan jangka menengah yang disebut Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD). Renstra SKPD ditetapkan dengan peraturan Kepala SKPD setelah disesuaikan dengan RPJPMD yang ditetapkan oleh kepala daerah yang dilantik tersebut. RPJMD antara lain berisi gambaran umum kondisi daerah, gambaran pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pengelolaan, analisis isu-isue strategis, Visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah, serta program pembangunan daerah Visi dapat diartikan sebagai rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian

sebuah organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Dengan demikian visi memiliki karakteristik yang (a) berorientasi masa depan; (b) Mengekspresikan kreativitas; (c) memperhatikan sejarah dan kondisi organisasi; (d) mempunyai standard yang tinggi, ideal adalah sebagai berikut : (1). Tanah Laut Maju Berdasarkan Nilai nilai agama. Ini adalah Visi Kabupaten Tanah Laut serta memberikan harapan bagi organisasi; (e) memberi semangat; (f) bersifat ambisius dan sebagainya. Contoh Visi

(2). Terwujudnya kota Malang sebagai kota pendidikan yang berkualitas, kota sehat dan ramah lingkungan, kota Pariwisata yang berbudaya, menuju masyarakat yang maju dan mandiri (3). Terwujudnya Kota Yogjakarta sebagai kota Pendidikan yang berkualitas, Pariwisata yang berbudaya, pertumbuhan dan pelayanan yang prima, ramah lingkungan serta masyarakat madani yang dijiwai semangat Mangayu Hayuning Bawana. Jika kita perhatikan visi di atas, visi-visi tersebut memiliki karakteristik visi sebagaimana dijelaskan pada bagian di atas. Impian Kabupaten Tanah laut adalah membuat Tanah Laut yang maju dan memiliki nilai-nilai agama. Visi ini sangat ambisius dan memberikan harapan bagi penyelenggara pemerintahan maupun rakyat kabupaten tersebut. Demikian juga dengan visi kota Malang, visi tersebut juga merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh kota Malang yaitu kota pendidikan yang berkualitas, kota sehat dan ramah lingkungan, kota Pariwisata yang berbudaya, menuju masyarakat yang maju dan mandiri. Visi ini juga sangat ssesuai dengan sejarah dimana sejak lama kota Malang merupakan salah satu kota tujuan pemuda/pemudi untuk menuntut ilmu. Visi kota Yogjakarta juga demikian, visi tersebut merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh kota Yogjakarta. Visi ini juga memperhatikan perspektif sejarah Yogjakarta sebagai tujuan wisata baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan manca Negara. Misi Misi dapat diartikan sebagai pernyataan yang menunjukkan sesuatu yang harus dilakukan organisasi dalam usahanya mewujudkan visi yang telah ditetapkan. Secara opersional, anggota organisasi lebih memperhatikan misi yang sudah dinyatakan yang umumnya sudah disepakati sebagai interpretasi dari visi. Misi merupakan sesuatu yang nyata untuk dituju serta dapat dijadikan petunjuk garis besar cara pencapaian visi. Berikut ini diberikan beberapa contoh visi dan misi dari beberapa daerah sebagai berikut : a. Visi dan misi Kabupaten Tanah Laut Visi Kabupaten Tanah Laut adalah Tanah Laut Maju Berdasarkan Nilai nilai agama sementara itu Misi Kabupaten Tanah Laut adalah : 1) Peningkatan dan pengembangan nilai nilai agama 2) Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan

3) Penguatan ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada sector pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kelautan, kehutanan, industry, perdagangan, koperasi dan UMKM serta pariwisata. 3) Peningkatan pelayanan public dan pengembangan tanah laut sebagai daerah tujuan investasi baik PMDN maupun PMA. 4) Pengembangan Tanah Laut sebagai daerah tujuan wisata 5) Peningkatan kualitas mental aparatur pemerintah, profesionalisme dan pengembangan kepemimpinan yang baik. 6) Peningkatan penyelamatan dan menjamin kelestarian lingkungan Berdasarkan visi dan misi tersebut dirumuskan agenda pembangunan : Agenda 1 : Membangun Tanah laut berdasar nilai-nilai agama Agenda 2 : Membangun SDM yang berkualitas dan berdaya saing Agenda 3 : Membangun Tanah Laut yang Maju dan Sejahtera b. Visi dan Misi Kota Malang Visi Kota Malang adalah terwujudnya kota Malang sebagai kota pendidikan yang berkualitas, kota sehat dan ramah lingkungan, kota Pariwisata yang berbudaya, menuju masyarakat yang maju dan mandiri. Dalam rangka mewujudkan visi Kota Malang, maka dirumuskan upaya upaya yang akan dilaksanakan ke dalam Misi Kota Malang sebagai berikut : 1) Mewujudkan dan Mengembvangkan Pendidikan yang berkualitas 2) Mewujudkan peningkatan kesehatan masyarakat 3) Mewujudkan Penyelenggaraan Pembangunan yang ramah lingkungan 4) Mewujudkan pemerataan perekonomian Pusat Pertumbuhan Wilayah sekitarnya 5) Mewujudkan dan mengembangkan Pariwisata yang berbudaya 6) Mewujudkan Pelayanan Publik yang Prima. c. Visi dan Misi Kota Yogjakarta Visi kota Yogjakarta adalah terwujudnya Kota Yogjakarta sebagai kota Pendidikan yang berkualitas, Pariwisata yang berbudaya, pertumbuhan dan pelayanan yang prima, ramah lingkungan serta masyarakat madani yang dijiwai semangat Mangayu Hayuning Bawana. Misi 1) Menjadikan dan mewujudkan lembaga pendidikan formal, non formal dan sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi serta kompetitif dalam rangka mengembangkan pendidikan yang berkualitas.

2) Menjadikan dan mewujudkan pariwisata, seni dan budaya sebagai unggulan daerah dalam rangka mengembangkan kota sebagai kota pariwisata yang berbudaya. 3) Menjadikan dan mewujudkan kota Yogjakarta sebagai motor penggerak pertumbuhan dan pelayanan jasa yang prima untuk wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogjakarta dengan mengembangkan system ekonomi kerakyatan. 4) Menjadikan dan mewujudkan masyarakat yang menyadari arti pentingnya kelestarian lingkungan yang dijiwai semangat ikut memiliki /handarbeni. 5) Menjadikan dan mewujudkan maysrakat demokrasi yang dijiwai oleh sikap kebangsaan Indonesia yang berketuhanan, kemanusiaan yang adil dan beradab, berkerakyatan dan berkeadilan social dengan semangat persatuan dan kesatuan.

Kegiatan Belajar kedua PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Ruang lingkuppengelolaan keuangan Negara sesuai dengan Permendagri nomor 13 tahun 2006 meliputi azas umum pengelolaan keuangan daerah, struktur APBD, Penyusunan dan penetapan APBD, pelaksanaan APBD, Rancangan APBD, perubahan APBD, pengelolaan

penatausahaan keuangan kasda, akuntansi keuangan, pertanggungjawaban APBD. Bagian berikut ini akan membahas sebagian besar dari ruang lingkup pengelolaan keuangan daerah tersebut. 1. Azas umum pengelolaan keuangan daerah Sesuai dengan Permendagri 13 tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Permendagri 21 tahun 2011 pasal 4, Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundangundangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Keuangan daerah dikelola secara tertib sebagaimana dimaksud di atas adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Taat pada peraturan perundang-undangan berarti pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Efektif berarti pengelolaan keuangan daerah diarahkan mencapai hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Efisien sebagaimana dimaksud di atas merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. Ekonomis dimaksudkan sebagai pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah. Transparan merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah. Bertanggung jawab sebagaimana dimaksud di atas merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu keadilan sebagaimana dimaksud di atas adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif. Kepatutan bermakna tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional. Manfaat dimaksudkan bahwa keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat.

2. Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Kekuasaan Pengelolaan Keuangan daerah dipegang oleh Kepala Daerah. Kepala daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Sebagai Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah kepala daerah mempunyai kewenangan: a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD; b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah; c. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang; d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran; e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah; f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; g. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah; dan h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah; b. kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku PPKD; dan c. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. Pelimpahan sebagaimana dimaksud di atas ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan, menguji, dan yang menerima atau mengeluarkan uang. a. Sekretaris daerah selaku Koordinator pengelola keuangan daerah Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah mempunyai tugas antara lain adalah koordinasi di bidang: (a). penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD; (b) penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah; (c). penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD; (d). penyusunan Raperda APBD, perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; (e). tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangan daerah; dan (f). penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

b. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku PPKD Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas: (a). menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah; (b). menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD; (c). melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah; (d). melaksanakan fungsi BUD; (e). menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; dan (f). melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD berwenang: (a). menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD; (b). mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD; (c). melakukan pengendalian pelaksanaan APBD; (d). memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah; (e). melaksanakan pemungutan pajak daerah; (f). menetapkan SPD; (g). menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah;(h). melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; (i). menyajikan informasi keuangan daerah; dan (j). melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD c. Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas: (a). menyusun RKA-SKPD; (b). menyusun DPA-SKPD; (c). melakukan tindakan yang mengakibatkan mengeluaran atas beban anggaran belanja; (d). melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya; (e). melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; (f). melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak; (g). mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; (h). menandatangani SPM; (i). mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; (j). mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; (k). menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya; (l). mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya; (m). melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan (n). bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugas-tugas sebagaimana dimaksud di atas dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kepala unit

kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. Pelimpahan sebagian kewenangan sebagaimana tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. Pelimpahan sebagian kewenangan ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut meliputi: (a) melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja; (b)melaksanakan anggaran unit kerja yang dipimpinnya; (c) melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; (d) mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; (e) menandatangani SPM-LS dan SPM-TU; (f) mengawasi pelaksanaan anggaran unit kerja yang dipimpinnya; dan (g) melaksanakan tugas-tugas kuasa pengguna anggaran lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh pejabat pengguna anggaran. Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang sebagaimana dimaksud di atas bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK. berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan, anggaran kegiatan, beban kerja, lokasi, dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. PPTK yang ditunjuk oleh pejabat pengguna anggaran/pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang. PPTK yang ditunjuk oleh kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. Tugas PPTK mencakup: (a). mengendalikan pelaksanaan kegiatan; (b). melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan; dan (c). menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan. Dokumen anggaran tersebut mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD. PPK-SKPD mempunyai tugas: (a). meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/ disetujui oleh PPTK; (b). meneliti kelengkapan SPP-UP, SPP-GU, SPP-TU dan SPP-LS gaji dan tunjangan PNS serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara pengeluaran; (c). melakukan verifikasi SPP; (d). menyiapkan SPM; (e). melakukan

verifikasi harian atas penerimaan; (f). melaksanakan akuntansi SKPD; dan (g). menyiapkan laporan keuangan SKPD. PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah, bendahara, dan/atau PPTK. Disamping terdapat PPTK dan PPK, di Satuan Kerja Perangkat daerah juga terdapat bendaharan penerimaan dan bendahara pengeluaran. Bendahara Penerimaan dan Bendahara pengeluaran merupakan pejabat fungsional yang diangkat oleh Kepala Daerah atas usul PPKD. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD 3. Penatausahaan keuangan SKPD Permendagri 13 tahun 2006 sebagaimana terakhir diubah dengan Permendagri no 21 tahun 2011, Pasal 184 menetapkan bahwa : (1) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, bendahara penerimaan/pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/barang/kekayaan daerah wajib menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; (2) Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran atas pelaksanaan APBD bertanggung jawab terhadap kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. Untuk pelaksanaan APBD, kepala daerah menetapkan: a. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPD; b. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPM; c. pejabat yang diberi wewenang mengesahkan SPJ; d. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SP2D; e. bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran; f. bendahara pengeluaran yang mengelola belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi basil, belanja bantuan keuangan, belanja tidak terduga, dan pengeluaran pembiayaan pada SKPKD; g. bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu SKPD; dan h. pejabat lainnya dalam rangka pelaksanaan APBD Penetapan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud di atas didelegasikan oleh kepala daerah kepada kepala SKPD. Pejabat lainnya tersebut mencakup: (a). PPK-SKPD yang diberi wewenang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD; (b). PPTK yang diberi wewenang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang

tugasnya; (c). pejabat yang diberi wewenang menandatangani surat bukti pemungutan pendapatan daerah; (d). pejabat yang diberi wewenang menandatangani bukti penerimaan kas dan bukti penerimaan lainnya yang sah; dan (e). pembantu bendahara penerimaan dan/atau pembantu bendahara pengeluaran (Permendagri 13 tahun 2006, pasal 185) Penatausahaan Penerimaan daerah Penerimaan daerah disetor ke rekening kas umum daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk dan dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit. Penerimaan daerah yang disetor ke rekening kas umum tersebut dilakukan-dengan cara: (a). disetor langsung ke bank oleh pihak ketiga; (b). disetor melalui bank lain, badan, lembaga keuangan dan/atau kantor pos oleh pihak ketiga; dan (c). disetor melalui bendahara penerimaan oleh pihak ketiga. Bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. Bendahara penerimaan dalam melakukan penatausahaanmenggunakan dokumen : a. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah); b. surat ketetapan retribusi (SKR); c. Surat tanda setoran (STS); d. surat tanda bukti pembayaran; dan e. bukti penerimaan lainnya yang sah. Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara administratif atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Format laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan tercantum dalam Lampiran D.III permendagri 13 tahun 2006. Dalam hal obyek pendapatan daerah tersebar atas pertimbangan kondisi geografis wajib pajak dan/atau wajib retribusi tidak mungkin membayar kewajibannya langsung pada badan, lembaga keuangan atau kantor pos yang bertugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi bendahara penerimaan, dapat ditunjuk bendahara penerimaan pembantu. Bendahara penerimaan pembantu wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada bendahara penerimaan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.Selanjutnya Bendahara

penerimaan melakukan verifikasi, evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban penerimaan. Dalam hal bendahara penerimaan berhalangan, maka: a. apabila melebihi 3 (tiga) hari sampai selama-lamanya 1 (satu) bulan, bendahara penerimaan tersebut wajib memberikan surat kuasa kepada pejabat yang ditunjuk untuk melakukan penyetoran dan tugas-tugas bendahara penerimaan atas tanggung jawab bendahara penerimaan yang bersangkutan dengan diketahui kepala SKPD; b. apabila melebihi 1 (satu) bulan sampai selama-lamanya 3 _(tiga) bulan, harus ditunjuk pejabat bendahara penerimaan dan diadakan berita acara serah terima; c. apabila bendahara penerimaan sesudah 3 (tiga ) bulan belum juga dapat melaksanakan tugas, maka dianggap yang bersangkutan telah mengundurkan diri atau berhenti dari jabatan sebagai bendahara penerimaan dan oleh karena itu segera diusulkan penggantinya. Penatausahaan Pengeluaran daerah Setelah penetapan anggaran kas, PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan Surat Penyediaan Dana yang selanjutnya disingkat SPD. SPD tersebut disiapkan oleh kuasa BUD untuk ditandatangani oleh PPKD.Pengeluaran kas atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. SPD adalah dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. Berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD bendahara pengeluaran mengajukan SPP kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD. SPP tersebut terdiri dari: a. SPP Uang Persediaan (SPP-UP); b. SPP Ganti Uang (SPP-GU); c. SPP Tambahan Uang (SPP-TU); dan d. SPP Langsung (SPP-LS). Pengajuan SPP dilampiri dengan daftar rincian rencana penggunaan dana sampai dengan jenis belanja. SPP Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-UP adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan uang muka kerja yang bersifat pengisian kembali (revolving) yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. SPP Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-GU adalah dokumen yang diajukan oleh bendaharan pengeluaran untuk permintaan pengganti uang persediaan yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran Iangsung.

SPP Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-TU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan tambahan uang persediaan guna melaksanakan kegiatan SKPD yang bersifat mendesak dan tidak dapat digunakan untuk pembayaran Iangsung dan uang persediaan. SPP Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran Iangsung kepada pihak ketiga atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja Iainnya dan pembayaran gaji dengan jumlah, penerima, peruntukan, dan waktu pembayaran tertentu yang dokumennya disiapkan oleh PPTK. Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang digunakan/diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-UP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atasbeban beban pengeluaran DPA-SKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan. Surat Perintah Membayar Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPMGU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan. Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPMTU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD, karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disingkat SPM-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga. Pengujian SPP dan Penerbitan SPM Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran meneliti kelengkapan dokumen SPP-UP, SPPGU, SPP-TU, dan SPP-LS yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. Penelitian kelengkapan dokumen SPP tersebut dilaksanakan oleh PPK-SKPD. Dalam hal kelengkapan dokumen yang diajukan, PPK-SKPD mengembalikan dokumen SPP-UP, SPP-GU, SPP-TU, dan SPP-LS kepada bendahara pengeluaran untuk dilengkapi.

Dalam hal dokumen SPP dinyatakan lengkap dan sah, pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menerbitkan SPM. Penerbitan SPM tersebut paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya dokumen SPP. . Dalam hal dokumen SPP dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah, pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menolak menerbitkan SPM. Penolakan penerbitan SPM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 ayat (2) paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPP . Dalam hal pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran berhalangan, yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani SPM. SPM yang telah diterbitkan diajukan kepada kuasa BUD untuk penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). Penerbitan SPM ini ditatausahakan oleh PPK-SKPD dalam (a). register SPM-UP/SPMGU/SPM-TU/SPM-LS; dan (b). register surat penolakan penerbitan SPM. Penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat SP2D adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM yang diajukan oleh Pengguna Anggaran. Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran agar pengeluaran yang diajukan tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Kelengkapan dokumen SPM-UP untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Kelengkapan dokumen SPM-GU untuk penerbitan SP2D mencakup: a. surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran; b. bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap. Kelengkapan dokumen SPM-TU untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Sementara itu kelengkapan dokumen SPM-LS untuk penerbitan SP2D mencakup: a. surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran; dan b. bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap sesuai dengan kelengkapan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Dalam hal dokumen SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan lengkap, kuasa BUD menerbitkan SP2D. Sebaliknya dalam hal dokumen SPM sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah dan/atau pengeluaran tersebut melampaui pagu anggaran, kuasa BUD menolak menerbitkan SP2D. Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan kepada pengguna anggaran/kuasa penggguna anggaran. Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan pembayaran langsung kepada pihak ketiga.

10

Kegiatan Belajar 3 KEBIJAKAN UMUM APBD 1. APBD, Struktur APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan ditetapkan dengan peraturan daerah. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah. Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Misalkan daerah menerima setoran pajak daerah, setoran ini jika dilihat dari sudut pandang daerah adalah penerimaan uang yang masuk ke rekening kas umum daerah. Pajak daerah merupakan hak daerah dan jumlah yang sudah diterima tersebut tidak akan dibayar kembali, sehingga penerimaan ini akan menambah kekayaan bersih daerah. Kekayaan daerah juga lazim disebut ekuitas dana. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana, merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Misalkan daerah telah membayar imbalan jasa yang telah diberikan oleh konsultan. Pembayaran ini akan mengakibatkan keluarnya uang dari rekening kas umum daerah yang nantinya tidak akan diterima kembali. Pengeluaran ini merupakan kewajiban daerah sehingga akan mengurangi kekayaan daerah atau mengurangi ekuitas dana. Pembiayaan daerah meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. Jika rencana pendapatan lebih kecil dari rencana belanja, maka selisihnya harus ditutup dengan kegiatan pembiayaan. Salah satu bentuk kegiatan tersebut adalah meminjam uang. Jika daerah meminjam uang maka akan berakibat adanya penerimaan uang dari pinjaman. Pinjaman tersebut harus dikembalikan sehingga penerimaan pinjaman ini tidak memenuhi definisi pendapatan, melainkan merupakan penerimaan pembiayaan. 2. Perencanaan Pembangunan dan APBD Jika kita merujuk pada UU 32 tahun 2004 pasal 1, dapat dikatakan bahwa unsur penyelenggara pemerintahan daerah meliputi Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemerintah Daerah meliputi Gubernur/Bupati/Walikota dan perangkat Daerah seperti berbagai dinas atau badan di tingkat propinsi, kabupaten atau Kota. Dinas atau badan tersebut merupakan satuan kerja yang lazim disebut dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Sebagaimana telah dibicarakan dalam kegiatan belajar pertama, Rencana pembangunan terdiri dari rencana pembangunan jangka panjang (20 tahun), rencana pembangunan jangka menengah (5 tahun) dan rencana pembangunan tahunan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ditetapkan dengan peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. Satuan Kerja sebagai perangkat daerah menyusun perencanaan jangka menengah yang disebut Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD). Renstra SKPD ditetapkan dengan peraturan Kepala SKPD setelah disesuaikan dengan RPJPMD yang ditetapkan oleh kepala daerah yang dilantik tersebut. Renstra-SKPD memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinyaa, berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. Untuk melakukan kegiatan pada suatu tahun, Kepala Bapeda menyiapkan rancangan awal RKPD sebagai penjabaran dari RPJPMD (UU nomor 25 tahun 2004 pasal 20). Selanjutnya Kepala SKPD menyiapkan Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD) dengan mengacu pada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra SKPD. Selanjutnya Kepala Bapeda mengkoordinir penyusunan RKPD dengan menggunakan renja SKPD. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat, dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah (UU 32 tahun 2004 pasal 150 huruf d ). Keterkaitan antara RKPD dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dapat dilihat dari proses sinkronisasi antara RKPD dengan RKP sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 37 tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran dan Belanja Daerah tahun Anggaran 2013. Baik UU no 25 tahun 2004 pasal 25 maupun UU nomor 17 tahun 2003 pasal 17 ayat 2 menyatakan bahwa RKPD merupakan pedoman penyusunan APBD. Dalam proses penyusunan APBD, selambat-lambatnya pada bulan Juni Pemda mengajukan kebijakan umum APBD tahun berikutnya sejalan dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah sebagai landasan penyusuan RAPBD (UU no 17 tahun 2003, pasal 18 ayat 1). Setelah kebijakan umum disepakati oleh Pemda dan DPRD, dibahas prioritas dan plafon anggaran sementara yang dijadikan acuan bagi SKPD. Pembahasan berikut ini terkait dengan Kebijakan Umum APBD. 3. Arah Kebijakan Umum APBD Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa daerah menghadapi keterbatasan kemampuan memperoleh pendapatan, sementara itu kebutuhan anggaran belanja dan mungkin pembiayaan sangat besar sehingga diperlukan adanya arah kebijakan anggaran yang mengupayakan 2

keseimbangan antara kemampuan pendapatan dengan kebutuhan belanja dan pembiayaan untuk menekan terjadinya deficit anggaran. Kebijakan Umum APBD merupakan arah pembangunan daerah dalam satu tahun anggaran yang disepakati dan dijadikan pedoman penyusunan prioritas dan plafond Anggaran sementara serta rancangan APBD. Kepala daerah menyusun rancangan KUA dan rancangan PPAS berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun (Permendagri 13 tahun 2006 pasal 83). Pedoman penyusunan APBD memuat antara lain: a. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan pemerintah daerah; b. prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan; c. teknis penyusunan APBD; dan d. hal-hal khusus lainnya. Rancangan KUA dan rancangan PPAS umumnya disusun oleh Tim Anggaran pemerintah Daerah (TAPD) yang diketuai oleh Sekretris Daerah. Rancangan KUA dan rancangan PPAS yang telah disusun disampaikan oleh sekretaris daerah selaku ketua TAPD kepada kepala daerah, paling lambat pada minggu pertama bulan Juni. Rancangan KUA dan rancangan PPAS disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. Rancangan KUA dan rancangan PPAS yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA dan PPAS paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan. KUA dan PPAS yang telah disepakati dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD dalam waktu bersamaan. Dalam hal kepala daerah berhalangan yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani nota kesepakatan KUA dan PPAS. Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap, penandatanganan nota kesepakatan KUA dan PPAS dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang. Dilihat dari isinya Rancangan KUA memuat kondisi ekonomi makro daerah, asumsi penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah, kebijakan belanja daerah, kebijakan pembiayaan daerah, dan strategi pencapaiannya. Strategi pencapaian tersebut memuat langkah-langkah kongkrit dalam mencapai target. Untuk memahami isi dari KUA pembahasan berikut ini akan mengambil contoh KUA yang telah dibuat oleh Pemda Madiun yang diunduh dari situs resmi Pemda Madiun.

a. Bagian Pendahuluan Pada bagian pendahuluan diuraikan latar belakang dibuatnya KUA yaitu karena keterbatasan dana sementara kebutuhan yang banyak maka perlu dibuat KUA. Selanjutnya diikuti dengan pemaparan tujuan dibuatnya KUA, yaitu mengakomodir dinamika pembangunan dan seterusnya. b. Kerangka ekonomi makro Pada bagian ini diuraikan perkembangan Produk domestik Regional bruto dari tahun 2004 s.d. tahun 2008 dirinci menurut sektornya yaitu: (a) sektor pertanian, (b) Pertambangan dan Penggalian, (c) Industri Pengolahan, (d) Listrik Gas dan Air Bersih, (e) Bangunan, (f) Perdagangan, Hotel dan Restoran, (g) Angkutan dan Komunikasi, (h) Keuangan, Persewaan dan jasa perusahaan, (i) Jasa jasa. Dari paparan kerangka ekonomi yang dirinci per sektor, maka dapat dilihat sektor yang memberi kontribusi terhadap PDRB tinggi, rendah serta rata-rata. Pada bagian ini juga disjikan pendapatan per kapita, perkembangan tingkat inflasi selama tahun 2004 s.d. 2008. Informasi mengenai penaman modal juga disajikan di bagian kerangka ekonomi makro. Berdasarkan evaluasi atas kerangka ekonomi makro tahun sebelumnya dan kondisi kota Madiun, selanjutnya ditentukan target ekonomi makro tahun 2010. Kota Madiun menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,62 % s.d. 7 %. Penentuan target ini juga memperhatikan Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi kota Madiun. Disamping itu pada bagian ini juga dikenali prospek perekonomian daerah kota Madiun diarahkan pada sektor industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta jasa-jasa. Untuk mencapai target yang telah ditetapkan, maka tentukan arah kebijakan ekonomi c. Asumsi asumsi dasar dalam penyusunan RAPBD Pada bagian ini diuraikan mengenai data APBN. Data ini penting karena APBN sangat berpengaruh terhadap APBD kota Madiun. Misalkan jika APBN ada transfer ke daerah berupa DAU, DAK, DBH maka tentu kota Madiun akan mendapat alokasi dana tersebut. Selanjutnya juga diuraikan perkembangan inflasi selama beberapa tahun dan prediksi inflasi tahun 2010 yaitu diperkirakan 7,82 %. Asumsi asumsi dasar ini akan mempengaruhi kebijakan APBD kota Madiun. d. Kebijakan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah Kebijakan mengenai pendapatan menetapkan pilihan tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperoleh pendapatan.. Dibagian ini juga ditentukan target pendapatan yang harus diterima oleh Kota Madiun selama tahun 2010 yang dirinci menurut sumbernya yaitu dari PAD, Dana

Perimbangan serta Lain lain pendapatan daerah yang sah disertai dengan upaya upaya daerah untuk mencapai target tersebut. Misalkan untuk tercapainya target PAD akan diupayakan efisiensi melalui penyederhanaan dan optimalisasi prosedur administrasi pemungutan pajak dan retribusi, memanfaatkan teknologi informasi serta meningkatkan ketaatan wajib pajak dan retribusi. Untuk pendapatan yang sangat dipengaruhi oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat, upaya yang dilakukan adalah meningkatkan hubungan intensitas/kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Pusat. Kebijakan mengenai belanja daerah ditetapkan bahwa belanja daerah disesuaikan dengan kekuatan keuangan daerah. Dijelaskan pada bagian ini arah kebijakan belanja diutamakan untuk memenuhi belanja tidak langsung yang meliputi belanja pegawai, hibah, bantuan sosial dan belanja tidak terduga sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Pemda juga akan melakukan efisiensi dalam pemanfaat listrik, telepon, air serta belanja pemeliharaan gedung kantor/kendaraan dinas dan sebagainya. Belanja juga diarahkan pada kegiatan yang mendukung prioritas pembangunan. Pemda juga akan mengoptimalkan belanja untuk dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Belanja tidak langsung dalam bentuk hibah akan dikeluarkan kepada fihak-fihak yang berpartisipasi dalam pelaksanaan pembangunan. Sementara itu belanja bantuan sosial diarahkan antara lain untuk bedah rumah keluarga miskin. e. Kebijakan Pembangunan Daerah Pembangunan daerah diupayakan konsisten dengan RPJMD, rencana pembangunan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, capaian kinerja tahun sebelumnya serta masalah mendesak yang dihadapi. Konsistensi ini akan terwujud jika pemerintah daerah mengikuti peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan APBD yang biasanya terbit setiap tahun. Dengan memperhatikan hal-hal di atas maka prioritas pembangunan diarahkan pada : (a) Peningkatan kemandirian masyarakat; (b) Peningkatan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan; (c) Peningkatan kapasitas kelembagaan; (d) Peningkatan infrastruktur khususnya pengendalian banjir dan lingkungan hidup. Prioritas pembangunan di atas akan diimplementasikan dengan berbagai program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh berbagai SKPD. f. Kebijakan Pembiayaan Pada bagian ini diatur bagaimana memanfaatkan surplus dan bagaimana mengatasi defisit. Dalam hal akan terjadi defisit maka akan melakukan rasionalisasi belanja dst. Pemda berusaha untuk menarik pinjaman. Dan seterusnya.

Kegiatan belajar ke 4 POKOK POKOK PERTANGGUNGJAWABAN APBD 1. Entitas Pelaporan dan jenis laporan keuangan Untuk mewujudkan transparansi dan akuntalibilitas dalam pengelolaan keuangan daerah, laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah daerah perlu disampaikan secara tepat waktu dan disusun mengikuti standar akuntansi pemerintahan. Sehubungan dengan itu laporan keuangan pemerintah daerah harus dihasilkan melalui proses akuntansi dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi keuangan pemerintahan. Laporan keuangan pemerintah daerah disampaikan kepada Dewan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. Laporan keuangan pemerintah daerah harus diaudit oleh lembaga pemeriksa ekstern yang independen dan profesional sebelum disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya. Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku Pengguna Anggaran menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pendapatan dan belanja, yang berada dalam tanggung jawabnya. Akuntansi sebagaimana dimaksud di atas digunakan untuk menyusun laporan keuangan Pemerintah Daerah sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan (UU no 1 tahun 2004, pasal 51). Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun laporan keuangan pemerintah daerah untuk disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah tersebut disampaikan kepada kepada Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Dalam menyusun laporan keuangan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud di atas : a. Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang menyusun laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBD pada SKPD yang bersangkutan dan menyampaikannya kepada Gubernur/Bupati/Walikota melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah. Laporan Keuangan tersebut meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, dan catatan atas laporan keuangan. b. Laporan Keuangan sebagaimana dimaksud pada huruf a disampaikan kepada kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

c. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah

menyusun

LRA, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah dan menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota selambat-lambatnya 2 bulan setelah tahun anggaran berakhir. d. Gubernur/bupati/walikota selaku wakil pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan menyusun ikhtisar laporan keuangan perusahaan daerah. e. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah untuk disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah tersebut disusun berdasarkan Laporan Keuangan yang diterima dari berbagai SKPD dan Laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah yang disusun oleh Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah. Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang

pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, selambat lambatnya 6 (enam bulan) setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan tersebut meliputi : Laporan Realisasi APBD, Neraca, LAK, dan Catatan Atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah (UU no 17 tahun 2003, pasal 31). Bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) disusun oleh suatu komite standar yang independen dan ditetapkan Peraturan Pemerintah setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan dari Badan Pemeriksa Keuangan. UU no 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, pasal 2 mengatakan bahwa dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD, setiap Entitas Pelaporan wajib menyusun dan menyajikan: a. Laporan Keuangan; dan b. Laporan Kinerja. Entitas Pelaporan sebagaimana dimaksud di atas berdasarkan PP 8 tahun 2006 dalam Pasal 3 terdiri dari: a. Pemerintah pusat; b. Pemerintah daerah; c. Kementerian Negara/Lembaga; dan d. Bendahara Umum Negara.

Menurut pasal 5 ayat 1 PP 8 tahun 2006, laporan keuangan pemerintah pusat/daerah setidak-tidaknya terdiri dari : a. Laporan Realisasi Anggaran; b. Neraca; c. Laporan Arus Kas; dan d. Catatan atas Laporan Keuangan. Sementara itu menurut pasal 5 ayat 2, Laporan Keuangan Kementerian dan Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah setidak-tidaknya terdiri dari : a. Laporan Realisasi Anggaran; b. Neraca; dan c. Catatan atas Laporan Keuangan. Pasal 5 ayat 3 menetapkan Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah setidak-tidaknya terdiri dari: a. Laporan Realisasi Anggaran; b. Neraca; c. Laporan Arus Kas; dan d. Catatan atas Laporan Keuangan. 2. Standar Akuntansi Pemerintahan Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan Negara, laporan pertanggungjawan keuangan Negara perlu disampaikan tepat waktu dan disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yaitu standar akuntansi pemerintahan yang tertuang dalam peraturan pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2005 dan nantinya akan diberlakukan PP 71 tahun 2010. Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya disebut SAP, adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan Pemerintah 3. Sistem Akuntansi Pemerintahan Permendagri 13 tahun 2006, Pasal 232 menetapkan bahwa Entitas pelaporan dan entitas akuntansi menyelenggarakan sistem akuntansi pemerintahan daerah. Sistem akuntansi pemerintahan daerah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah mengacu pada peraturan daerah tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah. Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai

dengan pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Proses di atas didokumentasikan dalam bentuk buku jurnal dan buku besar, dan apabila diperlukan ditambah dengan buku besar pembantu. Sistem akuntansi pemerintahan daerah sekurang-kurangnya meliputi: (a). prosedur akuntansi penerimaan kas; (b). prosedur akuntansi pengeluaran kas; (c). prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah; dan (d). prosedur akuntansi selain kas. Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengendalian internal dan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan. 4. Unsur-unsur laporan keuangan Pemerintah Pusat Sesuai dengan penjelasan di atas, LKPP meliputi Laporan Realisasi APBN, Neraca, Laporan Arus Kas serta Catatan Atas Laporan Keuangan. Dengan diterapkannya akuntansi pemerintah berbasis akrual maka entitas pelaporan juga harus menyusun laporan operasional a. Laporan Realisasi APBN Laporan Realisasi Anggaran (LRA) mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN. LRA menyajikan informasi mengenai pendapatan, belanja, penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan serta surplus atau deficit dalam satu periode pelaporan. Secara rinci Infromasi yang tersaji dalam Laporan Realisasi Anggaran dapat dilihat pada lampiran 1 LRA menyajikan perbandingan antara anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan. Isi laporan realisasi APBN terdiri dari Pendapatan, Belanja, Penerimaan Pembiayaan serta Pengeluaran Pembiayaan. Selisih antara Pendapatan dengan belanja disebut surplus jika pendapatan lebih besar daripada belanja. Sementara itu jika belanja lebih besar daripada pendapatan, selisihnya disebut defisit. Pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Belanja adalah pengeluaran dari rekening kas umum negara/daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak

Penerimaan pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran Selisih antara Penerimaan Pembiayaan dengan Pengeluaran Pembiayaan disebut Pembiayaan Neto. Selanjutnya jika surplus atau defisit dihubungkan akan menghasilkan Silpa atau Sikpa. b. Neraca Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan yaitu menyajikan aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Keunikan Neraca pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah adalah ada hubungan antara unsur-unsur di kelompok asset dengan unsur ekuitas. Aset lancar akan sama dengan ekuitas dana lancar jika tidak ada hutang jangka pendek. Total asset tetap akan sama dengan total ekuitas dana di investasikan. Secara sederhana isi neraca dapat digambarkan sebagai berikut : Neraca Aset Rp XXX Kewajiban Ekuitas Dana Total Rp XXX Total Rp XXX Rp XXX Rp XXX

Contoh neraca secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 2 c. Laporan Arus Kas Laporan Arus Kas dibuat oleh BUN, sementara itu Kementerian dan Lembaga tidak ada kewajiban untuk menyusun Laporan Arus Kas. Informasi yang terkandung dalam Laporan Arus kas meliputi informasi mengenai sumber dan penggunaaan kas, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan aktivitas nonanggaran. Laporan arus kas dapat dilihat pada lampiran 3. d. Catatan atas Laporan Keuangan Agar laporan keuangan dapat dipahami oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk pembaca tertentu ataupun manajemen entitas pelaporan maka perlu penjelasan yang dituangkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Laporan Keuangan mungkin mengandung informasi yang dapat berpotensi timbulnya kesalahpahaman di antara pembacanya, maka dibuat

Catatan atas Laporan Keuangan yang berisi informasi untuk memudahkan pengguna dalam memahami Laporan Keuangan . Catatan atas laporan keuangan berisi : (1) Penjelasan Umum; (2) Penjelasan per pos LRA; (3) Penjelasan Per Pos Neraca; (4) Penjelasan per pos Laporan Arus Kas; dan (5) Daftar Di bagian penjelasan umum diuraikan dasar hokum penyusunan APBN dan pertanggungjawabannya, Kebijakan Fiskal/Keuangan dan Ekonomi makro, pendekatan penyusunan laporan keuangan dan penjelasan mengenai kebijakan akuntansi. Penjelasan Pos pos LRA meberikan gambaran umum mengenai Laporan realisasi anggaran yang menjelaskan pendapatan dan belanja apa saja yang terjadi. Selanjutnya masing-masing jenis pendapatan dan belanja serta pembiayaan disajikan secara rinci di bagian berikutnya. Dalam penjelasan tersebut dibandingkan antara anggaran dengan realisasinya. Realisasi tahun yang bersangkutan juga dibandingkan dengan realisasi tahun anggaran sebelumnya. Jika ada catatan peting lainnya juga disajikan di bagian ini. Bagian penjelasan terinci atas pos pos neraca diawali dengan penyajian posisi keuangan pemerintah secara umum. Penjelasan ini menyajikan mengenai jumlah dari masing-masing kelompok asset, kewajiban dan ekuitas dana. Masing-masing kelompok asset, kewajiban serta ekuitas dana tersebut dibandingkan dengan saldo akhir tahun sebelumnya. Misalkan dibandingkan antara asset lancar akhir tahun anggaran yang bersangkutan dengan asset lancar akhir tahun anggaran yang lalu dan seterusnya. Setelah itu masing-masing post dijelaskan secara rinci bahkan jika diperlukan dapat disajikan table / daftar yang memerinci setiap unsure neraca. Masing-masing pos neraca disamping dijelaskan secara rinci, juga dibandingkan dengan sado akhir tahun lalu. Penjelasan atas pos-pos Laporan Arus Kas diawali dengan informasi global mengenai arus kas masuk dan arus kas keluar serta arus neto. Setelah itu dijelaskan arus kas masuk dari berbagai sumber dan penggunanaannya. Penjelasan diawali dari arus kas yang timbul dari kegiatan operasi, kegiatan investasi investasi asset non keuangan, dan dialnjutkan dengan arus kas yang berasal dari aktivitas pembiayaan. Penjelasan atas pos Laporan Arus Kas ditutup dengan penjelasan atas arus kas yang berasal dari aktivitan non anggaran. Bagian akhir dari catatan atas laporan keuangan umumnya berisi daftar-daftar yang dipandang perlu disampaikan seperti daftar pendapatan Daerah yang dirinci per jenis pendapatan.