Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

PENCUCIAN ALAT MAKAN PIRING DI WARUNG MAKAN POJOK UNTUK MENGETAHUI ANGKA KUMAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyehatan Makanan dan Minuman B

Disusun oleh : 1. Eko Agus Purnomo 2. Ema Suryaningtiyas 3. Endah Sumiyaningsih 4. Fidia Dwi Listya 5. Fitria Titi Widyawati 6. Gineung Ayu Pradini 7. Hajar Khoirunnisak 8. Hesti Palupi 9. Imroatul Chasanah 10. Irwan Fitriyanto 11. Istiqomah Astri Ayu 12. Joko Harjono NIM. P07133110055 NIM. P07133110056 NIM. P07133110057 NIM. P07133110058 NIM. P07133110059 NIM. P07133110060 NIM. P07133110061 NIM. P07133110062 NIM. P07133110063 NIM. P07133110064 NIM. P07133110065 NIM. P07133110066

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebersihan peralatan makan merupakan salah satu hal pokok dalam sanitasi makanan karena peralatan makan dapat menjadi media penularan penyakit dari satu orang ke orang lain tanpa disadari. Menurut UU No.7 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa sanitasi pangan adalah upaya pencegahan terhadap tumbuh dan berkembangnya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan dan dapat membahayakan kesehatan manusia. Pengertian tersebut menyebutkan bahwa salah satu media yang dapat digunakan untuk tumbuh dan berkembangnya jasad renik adalah peralatan, baik itu peralatan mengolah, menyajikan, menjual makanan maupun peralatan makan. Untuk mencegah hal tersebut perlu dilakukan pencucian terhadap alat makan. Keberhasilan suatu proses pencucian dapat dilihat dengan semakin rendahnya jumlah mikroba dalam alat makan tersebut yang dapat diketahui dengan uji angka kuman. Di Indonesia telah dibuat peraturan dalam bentuk Permenkes RI No. 715/Menkes/SK/V/2003 bahwa untuk persyaratan peralatan makan tidak boleh terdapat bakteri lebih dari 100 koloni/cm2 permukaan alat dan tidak mengandung E. coli (Depkes RI, 2003). Hal yang biasa dilakukan penjual makanan untuk mencegah penularan penyakit melalui alat makan adalah dengan pencucian alat makan menggunakan sabun dan sebelum digunakan kembali dilakukan pengelapan. Untuk itu perlu digalakkan metode pencucian menggunakan bahan desinfektan tanpa dilakukan pengelapan. Karena pengelapan dimungkinkan terjadinya pencemaran bakteri. Proses desinfeksi dalam pencucian berfungsi mematikan dan menghambat pertumbuhan kuman.

B. Tujuan 1. Umum Memperbaiki kebersihan piring di Warung Makan Pojok agar tidak melebihi 100 kuman per cm2 atau 0 E.Coli per cm2. 2. Khusus a. Mengukur jumlah angka kuman dari permukaan alat makan (piring) dengan desinfektan di TPM dan desinfektan sampel. b. Mengetahui jumlah angka kuman dalam permukaan alat makan (piring) yang memenuhi syarat kesehatan. c. Merekomendasikan kepada tempat pengolahan makanan,

mengenai jenis desinfektan yang efektif untuk pencucian alat makan (piring). d. Merekomendasikan kepada perusahaan produk desinfektan mengenai keefektifan kerja dalam pencuciaan sanitasi alat makan (piring) dan keberhasilan desinfektan dalam menurunkan angka kuman alat makan.

C. Manfaat 1. Ilmu pengetahuan Sebagai bahan informasi dalam pengembangan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan penyehatan makanan dam minuman. 2. Praktikan Sebagai bahan belajar untuk mengingkatakan kompetensi dalam bidang sanitasi makanan dan minuman. 3. Pengelola TPM Sebagai informasi mengenai jenis desinfektan yang efektif dalam pencuciaan alat makan (piring) dan rekomendasi tentang teknik pencucian piring yang benar. 4. Perusahaan Desinfektan Sebagai informasi mengenai keefektifan desinfektan dalam

mengurangi angka kuman di permukaan alat makan.

D. Waktu dan Tempat 1. Waktu a. Pengambilan Sampel Usap Alat Makan Jumat, 09 Desember 2011. Pukul 09.30-11.00 WIB b. Perhitungan Koloni Angka Kuman Senin, 11 Desember 2011. Pukul 10.00 WIB 2. Tempat a. Pengambilan Sampel Usap Alat Makan Rumah Makan Pojok. Jln. Godean b. Pemeriksaan Angka Kuman Laboratorium Dasar Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Jln. Tata Bumi No.3 Gamping Sleman.

BAB II ISI

A. Hasil Pemeriksaan Angka Kuman Data untuk Rumah Makan yang digunakan sebagai lokasi praktikum, adalah sebagai berikut : 1. Nama Rumah Makan 2. Alamat Rumah Makan 3. Nama Pengusaha 4. Jumlah Karyawan : Rumah Makan Pojok : Jln. Godean : Pak Agus : 5 orang

Data hasil perhitungan jumlah kuman dengan uji usap alat makan di Rumah Makan, adalah sebagai berikut : No. 1 2 3 4 5 Jenis Desinfektan Sampel NON SAB NON SAB (TPM) SAB NON SAB NON SAB Jumlah Kuman/Koloni 65 116 14 65 116 10 Jumlah Angka Kuman (Kontrol)

Tabel.1 Hasil perhitungan kuman uji usap alat makan dengan berbagai desinfektan sampel dan desinfektan TPM. Selanjutnya data tersebut diatas dilakukan perhitungan angka kuman untuk setiap cm2nya. Perhitungan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Desinfektan NON SAB (
( )

2. Desinfektan NON SAB (TPM) (


( )

3. Desinfektan SAB (
( )

4. Desinfektan NON SAB (


( )

5. Desinfektan NON SAB (


( )

Dari lima jenis bahan desinfektan yang kami bawa ternyata ada yang sama dengan disenfektan yang digunakan TPM (Warung Pojok). Dari produk disinfektan Hasil Pemeriksaan Angka Kuman Piring Uji Usap Alat Makan dengan berbagai desinfektan sampel dan

desinfektan TPM dimasukkan ke dalam tabel dummy. Hal ini dilakukan

untuk mengetahui keberhasilan desinfektan dalam menurunkan angka kuman hingga sesuai dengan Permenkes RI No.

715/Menkes/SK/V/2003 bahwa untuk persyaratan peralatan makan tidak boleh terdapat bakteri lebih dari 100 koloni/cm 2 permukaan alat. Berikut tabel penyajian hasil pemeriksaan uji usap alat makan :

No. 1 2 3 4 5

Jenis Desinfektan Sampel NON SAB NON SAB (TPM) SAB NON SAB NON SAB

Jumlah Angka Kuman (koloni/cm2) 550 1060 40 550 1060

Tabel.2 Hasil perhitungan angka kuman (koloni/cm2)uji usap alat makan dengan berbagai desinfektan sampel dan

desinfektan TPM

Keterangan : 1. SOS 2. WINGS (TPM) : Desinfektan Non SAB : Desinfektan Non SAB koloni/cm2 3. SAB 4. LARIS 5. MF : SAB : Desinfektan Non SAB : Desinfektan Non SAB koloni/cm2 : 40 koloni/cm2 : 550 koloni/cm2 : 1060 : 550 koloni/cm2 : 1060

B. Teknik Pencucian di TPM Berikut ini cara pencucian yang dilakukan oleh TPM : 1. Membasahi piring kotor dengan air. 2. Mencelupan busa ke dalam desinfektan yang sudah dicampur dengan air.

3. Mengusapkan spons yang telah diberi desinfektan ke piring kotor. 4. Menggosok hingga berbusa dan licinnya hilang 5. Membilas piring dengan air pda bak. 6. Mengeringkan/Meniriskan piring. 7. Sebelum dipakai di usap pakai kain/lap. Dari hasil pengamatan di lapangan ternyata tidak ada saluran pembuangan air limbah yang kedap air. Seharusnya sesuai dengan

ketentuan pembuangan air limbah yang benar yaitu saluran terbuat dari bahan kedap air, dan tidak menjadi sumber pencemaran.

Penanggulannya dengan menggunakan saluran tertutup.

BAB III PEMBAHASAN

A. Desinfektan Pada pemeriksaan angka kuman dengan uji usap alat makan di Rumah Makan Pojok yang di uji dengan beberapa desinfektan sampel yang kami sediakan dan desinfektan yang digunakan oleh TPM

tersebut dapat dilihat bahwa hasil pemeriksaan angka kuman dari kelima desinfektan yang digunakan ada satu yang memenuhi syarat dari Permenkes RI No. 715/Menkes/SK/V/2003 bahwa persyaratan peralatan makan tidak boleh terdapat bakteri lebih dari 100 koloni/cm 2. Dari kelima disinfektan yang diuji angka kuman yang terendah yaitu 40 koloni/cm2, memenuhi baku mutu. Bila dilhat dari kondisi tempat pencucian yang digunakan di TPM tersebut sudah memenuhi syarat,. Namun bila dilihat dari kwalitas air yang digunakan masih sangat perlu diperhatikan. Karena dalam proses pencucianya tidak menggunakan air yang mengalir walaupun menggunakan air PDAM serta higyne sanitasi petugas warung makan yang tidak sesuai dengan kepmenkes yang ditetapkan yaitu antara lain :tidak boleh memakai perhiasan, tidak sedang sakit dll.

B. Teknik Pencucian Dalam pencucian alat makan kami melaksanakan tahapantahapan pencucian sebagai berikut (Ditjen, PMM dan PL 2001) : 1. Tahapan membuang sisa kotoran (scraping) Memisahkan segala kotoran dan sisa-sisa makanan diatas piring, gelas, sendok, panci dan lain-lain. Kotoran tersebut dikumpulkan bersama sampah dapur lain untuk dibuang , atau dapat pula dikumpulkan untuk makanan ternak. 2. Merendam dalam air (flushing)

Mengguyur kedalam peralatan yang akan dicuci sehingga terendam seluruh permukaannya. Sebelumnya semua peralatan yang akan dicuci telah dibersihkan dari sisa makanan dan ditempatkan dalam bak yang tersedia, sehingga perendaman dapat berlangsung sempurna. Perendaman peralatan dapat juga dilakukan tidak dalam bak, tetapi kurang efektif. Perendaman dimaksudkan untuk memberi kesempatan peresapan air ke dalam sisa makanan yang menempel sehingga menjadi mudah untuk dibersihkan. Waktu perendaman sangat tergantung dari kondisi peralatan minimal waktu perendaman adalah 30 menit sampai 1 jam. 3. Mencuci dengan detergent (washing) Mencuci peralatan dengan cara menggosok dan

melarutkan siasa makanan dengan zat pencuci atau detergent. Detergent yang baik yaitu yang terdiri dari detergent cair atau bubuk. Penggunaan sabun biasa sebaiknya dihindarkan, karena sabun biasa tidak dapat melarutkan lemak, sehingga pembersihan lemak tidak sempurna dan kemungkinan masih tersisa bau. Pada tahap penggosokan ini perlu diperhatikan bagianbagian peralatan yang perlu dibersihkan lebih cermat yaitu : a. Bagian-bagian peralatan yang terkena makanan b. Bagian peralatan yang kontak dengan tubuh c. Bagian-bagian yang tidak rata 4. Membilas dengan air bersih (rinsing) Mencuci peralatan yang telah digosok detergent sampai bersih dengan cara dibilas air bersih. Setiap alat yang dibersihakan dibilas dengan cara menggosok-gosok dengan tangan sampai terasa kesat (tidak licin). Bilamana masih terasa licin berarti pada peralatan tersebut masih menempel sisa-sisa lemak atau detergent. Pembilasan sebaiknya dilakukan dengan air

bertekanan tinggi yang cukup sehingga dapat melarutkan sia kotoran atau sisa bahan pencuci. 5. Membebashamakan (sanitizing/ desinfection) Tindakan sanitasi untuk membebashamakan peralatan setelah proses pencucian peralatan yang selesai dicuci perlu dijamin aman dari mikroba dengan cara sanitasi atau dikenal dengan istilah desinfeksi. Cara desinfeksi yang umum dilakukan ada beberapa macam yaitu : 1) Dengan rendaman air panas 100 0C selama 2 menit 2) Dengan larutan chlor aktif (50 ppm) 3) Dengan udara panas (oven) 4) Dengan sinar ultra violet 5) Dengan uap panas 6. Mengeringkan (toweliling) Mengunakan kain lap atau mengeringkan dengan menggunakan kain atau handuk (towel) dengan maksud untuk menghilangkan sisasisa kotoran yang mungkin masih menempel sebagai akibat proses pencucian seperti noda detergent. Noda bisa terjadi pada mesin-mesin pencuci yang sistem desinfeksinya sudah kurang tepat.Towel yang sudah digunakan dicuci dan disterilkan sehingga benarbenar steril setiap akan digunakan. Dalam pembersihan peralatan yang menggunakan tindakan sanitasi kering maka penggunakan towel sebaiknya tidak digunakan. Selanjutnya kami membandingkan dengan cara pencucian yang benar di atas dengan cara pencucian yang ada di TPM kemudian dihubungkan dengan hasil pemeriksaan angka kuman di labaratorium ternyata ada hubungan bahwa teknik pencucian yang terapkan di warung tersebut kurang benar serta dalam penggunaan bahan desinfektan tidak sesuai petunjuk yang ada yang dapat di mungkinkan tidak optimal kinerja desinfektan terhadap kuman serta dimungkinkan terjadi pencemaran. Karena bila dilihat dari tahap

pencucian terakhir yang di TPM yaitu di usap dengan kain atau lab sebelum digunakan, padahal cara tersebut memungkinkan terjadi pencemaran apalagi kain yang digunakan tidak bersih dan digunakan berulang-ulang. Tempat pencucian peralatan tidak tersedia air panas yang cukup memadai dan tidak ada tiga bilik atau bak pencuci yang memadai. Seharusnya air untuk pencucian dilengkapi air panas suhu 40 C - 80 C dan air dingin bertekanan 15 psi. Bak pencucian setidaknya terdiri dari 3 bilik/ bak pencuci yaitu untuk mengguyur, menyabun, membilas. Tempat pencuci bahan makanan yaitu air pencuci yang dipakai tidak mengandung larutan pencuci hama sehingga tidak memakai desinfektan. Seharusnya bahan makanan dicuci dengan air mengalir atau air yang mengandung larutan Kalium Permanganat 0,02 %. Maka sangat perlu sekali ada sosialisasi terhadap para pekerja warung makan agar keamanan pangan dapat lebih terjamin, apalagi kebanyakan para pekerja warung makan tingkat pendidikanya rendah.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Dari hasil pemeriksaan dan perhitungan angka kuman dengan uji usap alat makan (piring) menggunakan berbagai desinfektan sampel dan juga desinfektan dari TPM didapatkan angka kuman yang paling rendah setelah melalui uji tersebut adalah sebanyak 40 koloni/cm2 dan memenuhi syarat.. 2. Angka kuman terendah dan paling bagus dihasilkan dari pencucian alat makan (piring) dengan menggunakan desinfektan SAB. 3. Dari desinfektan yang digunakan oleh TPM masih belum

menurunkan angka kuman dalam alat makan (piring) sesuai syarat pada Permenkes RI No. 715/Menkes/SK/V/2003, sehingga perlu dilakukan perbaikan mutu dan evaluasi makan diberbagai dan bagian untuk dengan

meningkatkan

Rumah

makanan

menurunkan angka kuman dalam alat makan sesuai dengan persyaratan. 4. Teknik pencucian yang digunakan oleh TPM juga belum sesuai dengan teknik pencucian/sanitasi alat makan/alat masak yang benar. Sehingga perlu adanya tindakan rekomendasi mengenai cara pencucian yang baik dan benar kepada TPM.

B. Saran 1. Bagi Mahasiswa a. Meningkatkan koordinasi antara dosen pembimbing mata kuliah, petugas laboratorium dengan mahasiswa/i. b. Alat dan bahan yang digunakan untuk praktik sebaiknya diperiksa terlebih dahulu.

2. Bagi TPM a. Diperlukan perbaikan mutu Rumah Makan terutama dalam penggunaan desinfektan yang mampu menurunkan angka kuman alat makan yang sesuai persyaratan dalam Permenkes RI No. 715/Menkes/SK/V/2003. Dalam hal ini kami

merekomendasikan kepada pengelola TPM agar menggunkan Desinfektan SAB. b. Perlu adanya peningkatan pengetahuan pengelola dan juga karyawan TPM mengenai cara pencucian alat makan (piring) yang tepat dan benar. 3. Bagi Perusahaan Desinfektan a. Untuk Desinfektan SAB, cukup efektif dalam menurunkan angka kuman karena sudah sesuai persyaratan pada Permenkes RI No. 715/Menkes/SK/V/2003. Oleh karena itu, kami

merekomendasikan desinfektan SAB yang diproduksi oleh Perusahaan PT. Unilever Indonesia, Cikarang, Bekasi untuk digunakan TPM tersebut. Serta harus tetap dijaga dalam penggunaan bahan aktif dan bahan tambahan lainnya agar tetap aman dipakai oleh konsumen sesuai petunjuk yang tercantum pada bungkus. b. Untuk yang Non SAB masih besar angka kuman dalam alat makan (piring) dan belum memenuhi persyaratan dalam Permenkes RI No. 715/Menkes/SK/V/2003. Sehingga dalam hal ini perlu adanya koreksi bagi perusahaan terkait untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas desinfektan yang diproduksi terutama dalam fungsinya untuk menurunkan angka kuman dalam alat makan (piring).

LAMPIRAN

a. NamaProduk Perusahaan Alamat

: Morning Fresh : PT PZ Cussons Indonesia : Jl Halim Perdana KusumaNo 144 Tangerang, Indonesia.

Merk Daftar BahanAktif

: Depkes RI PKD 20301900665 :

o Sodium Laureth 4.9 % : o Sodium Lauryl Sulfate 2.208%

Sifat Kelarutan 1) Warna 2) Bau : kuning, hijau : ekstrak lemon, ekstrak jeruk nipis

3) pH 4) Kekentalan 5) Sifat tidak iritan

: 8 (cenderung basa) : kental

Cara Pemakaian

1) Menuangkan sedikit cairan morning fresh triple action pada wadah berisi air. 2) Memasukkan spons basah dalam larutan morning fresh tersebut. 3) Mencuci peralatan makan dan masak lainnya dan membilasnya bilas hingga bersih. Harga/Netto :Rp 7.695,00 / 750 ml

b. NamaProduk Perusahaan Alamat

: Larisst : PT SongoGeniMaju : Bogor, Indonesia

Merk Daftar BahanAktif

: DEPKES RI PKD 20301010334 : : Detergen jenis keras sukar

o NatriumAlkilBenzenaSulfonat

dirusak oleh mikroorganisme meskipun bahan tersebut dibuang akibatnya zat tersebut masih aktif. Jenis inilah yang menyebabkan pencemaran air. o NatriumLauril Ether Sulfat

Sifat Kelarutan 1) Warna 2) Bau 3) pH 4) Kekentalan 5) Sifat tidak iritan : hijau : ekstrak jeruk nipis : cenderung basa : kental

Cara Pemakaian

1) Menuangkan 1 sendok teh Larisst pencuci piring kedalam setengah gelas air 2) Mencuci peralatan dapur seperti biasanya dengan menggunakan spon, lalu bilas dengan air bersih. 3) Peralatan dapur akan menjadi bersih cemerlang sekaligus bebas lemak dan harum Harga/Netto : Rp 4.085,00/400 ml

c. NamaProduk Perusahaan Alamat Merk Daftar

: S.O.S : PT FilmaUtama Soap : Surabaya-Indonesia : Depkes RI PKD 20301700089

BahanAktif

o LAS : berasal dari petrolium atatu minyak bumi. Bersifat toksisitas akut, bentuknya gel / pasta berwarna kuning muda. merupakan garam dari ABS yang rantainya linier, berfungi menghasilkan busa besar-besar dan membersihkan kotoran-kotoran. Membuat sabun juga lebih tidak terlalu licin sehingga tidak perlu air banyak-banyak untuk membilasnya. o SLES: Secara fungsional SLES bahan mempunyai andil dalam meningkatkan daya bersih. Ciri dari bahan aktif ini mempunyai

busa banyak dan bentuknya gel translucent (pasta). SLES juga termasuk bahan utama pembuatan sabun. o Triclosan o Aloevera : sebenarnya berfungsi sebagai anti bakteri, namun

ternyata menyebabkan kuman / bakteri kebal terhadap anti biotik. : sebagai bahan yang berguna untuk regenerasi

selkulit, antioksidan, adstringen, dan antiseptik.

Sifat Kelarutan 1) Warna 2) Bau 3) pH 4) Kekentalan 5) Sifat tidak iritan : hijau : ekstrak lime fresh : Cenderung basa : kental

Cara Pemakaian

1) Menuangkan cairan SOS pencuci piring secukupnya kedalam wadah berisi air. 2) Mencuci piring, gelas dan perabot lainnya. 3) Membilas dengan air dan mendapatkan hasil cemerlag, bebas bakteri, bau amis dan lemak

Harga/Netto : Rp 4.495,00/400 ml

d. NamaProduk Perusahaan Alamat

: Sunlight Plus-Anti Bakteri : PT Unilever Indonesia Tbk :Jl Jendral Gatot Subroto Kav.15, Jakarta 12930 Indonesia

Merk Daftar

: No. 510183

BahanAktif : o Natrium Alkil Benzena Sulfonat 12% o Natrium Lauril Eter Sulfat 5% o Cocoamido Propil Betain 0.75 % o Natrium Salisilat 0.5 %

Sifat Kelarutan 1) Warna 2) Bau 3) pH : hijau : ekstrak jeruk nipis : cenderung basa

4) Kekentalan : kental

5) Sifat tidak iritan

Cara Pemakaian

1. Melarutkan 1 sendok teh Sunlight Anti Bakteri ke dalam 100 ml air. Masukkan spons ke dalam larutan tersebut, lalu remas-remas sampai berbusa. Spons siap digunakan. 2. Untuk hasil terbaik, tuangkan 2-3 tetes Sunlight Anti Bakteri langsung pada spons yang basah.Remas spons perlahan beberapa kali sampai berbusa. Untuk lemak yang sangat membandel takaran dapat ditambah. 3. Untuk mencuci buah dan sayuran tuangkan Sunlight secukupnya pada wadah berisi air, cuci buah dan sayur, kemudian bilas dengan air bersih. 4. Untuk hasil lebih higienis setelah pemakaian, bilas spons dari sisa kotoran hingga bersih dan letakkan di wadah yang kering dan bersih. 5. Menuangkan 2 sendok teh Sunlight Anti Bakteri pada spons dan remas-remas untuk meratakan produk, diamkan semalaman (minimal 6 jam) untuk menjadikn spons lebih bersih higienis. Spons sekarang siap untuk digunakan untuk membersihkan kembali.

Harga/ netto

: Rp 3850,00 / 200 ml

e. NamaProduk Perusahaan Alamat Merk Daftar

: Sunlight Active Gel : PT Unilever Indonesia Tbk : Cikarang, Bekasi : DEPKES RI PKD 20301700480

BahanAktif

o LAS : berasal dari petrolium atatu minyak bumi. Bersifat toksisitas akut, bentuknya gel / pasta berwarna kuning muda. merupakan garam dari ABS yang rantainya linier, berfungi menghasilkan busa besar-besar dan membersihkan kotoran-kotoran. Membuat sabun juga lebih tidak terlalu licin sehingga tidak perlu air banyak-banyak untuk membilasnya. o SLES : Secara fungsional SLES bahan mempunyai andil

dalam meningkatkan daya bersih. Ciri dari bahan aktif ini mempunyai busa banyak dan bentuknya gel translucent (pasta). SLES juga termasuk bahan utama pembuatan sabun

o CAPB

Sifat Kelarutan 1) Warna 2) Bau 3) pH 4) Kekentalan 5) Sifat tidak iritan : hijau : ekstrak jeruk nipis : basa : sangat kental

Cara Pemakaian

1) Menuangkan beberapa tetes Sunlight Active Gel langsung pada spons basah 2) Membiarkan cairan meresap dan menambahkan sedikit air pada spons basah tersebut 3) Menekan dan meremas spons sampai mengahasilkan cukup busa. Spons siapdigunakan untuk mencuci lebih banyak Harga/Netto : Rp 2000,00 / 50 ml, Rp 4.490,00 / 200 ml