Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH ORGANISASI INTERNASIONAL WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) (Sengketa Uni Eropa dengan Indonesia dan Jepang) Mata

Kuliah : Hukum Antar Tata Hukum Dosen : Bobby Stiven, S.H., L.L.M.

Disusun Oleh: Eva Dewi Kartika 205110114 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA 2012-2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME, yang telah memberkati saya dan memberikan petunjuk serta berkat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah Hukum Antar Tata Hukum (Hatah), yaitu Bapak Bobby Stieven, S.H., L.L.M. yang selama satu semester ini telah memberikan ilmu yang berguna bagi saya dalam bidang hukum. Makalah ini berkisar antara 9 halaman diluar kata pengantar dan daftar isi. Tujuan utama saya membuat makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang menjadi dalam sebuah Organisasi Internasional, apa tujuan diadakannya tujuan organisasi tersebut, manfaatnya dan yang paling ditekankan adalah bagaimana cara menyelesaikan masalah antar sesama anggota organisasi internasional itu sendiri. Apakah organisasi tersebut sudah bertindak adil dalam melakukan keputusan. Saya sebagai menyampaikan pendapat dalam makalah ini dari permasalahan yang saya angkat dengan harapan yang masalah saya angkat menjadi inspirasi dan pemacu semangat bagi pembaca. Karya ilmiah ini disusun untuk memberi pengetahuan tentang Organisasi Internasional dalam bidang perdagangan, yaitu WTO berikut ditampilkannya beberapa contoh kasus yang sedang ataupun telah terjadi diantara Negara Uni Eropa dengan negara anggota WTO, yaitu Indonesia dan Jepang. Akhir kata saya mengucapkan semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat dan solusi yang lebih baik.

Jakarta, 7 Desember 2012

Eva Dewi Kartika

Daftar Isi

Kata Pengantar.......................................................................................i

Daftar Isi...............................................................................................ii

Bab I : Pendahuluan..............................................................................1

Bab II : Apakah itu WTO?....................................................................3

Bab III : Analisis Kasus dan Cara Penyelesaiaannya...........................5

Bab IV : Kesimpulan............................................................................9

Daftar Pustaka.....................................................................................10

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang


Setiap sendi kehidupan manusia selalu bertolak ukur pada segi ekonomi. Dalam melaksanakan pemenuhan akan hidupnya, manusia tidak akan pernah lepas pada kegiatan ekonomi. Langsung ataupun tidak langsung manusia akan selalu bersinggungan dengan kegiaan ekonomi yang satu ini, yaitu perdagangan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kegiatan perdagangan telah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu melintas batas benua maupun samudra. Kegiatan ini telah berlangsung, dan akan tetap terus berlangsung dengan berbagai perkembangannya untuk melaksanakan pemenuhan kebutuhan manusia. Kegiatan perdagangan antar lintas negara, maupun benua berkembang sangat pesat diiringi dengan kemajuan teknologi yang mendukung pelaksanaannya. Hal inilah yang membuat perlu dibentuknya sebuah organisasi untuk memayungi lalu lintas perdagangan tersebut. World Trade Organization atau yang biasa kita singkat dengan WTO, adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang perdagangan internasional. WTO bertujuan untuk mengawasi dan liberalisasi perdagangan internasional. Tak hanya itu, organisasi ini berkaitan juga dengan regulasi perdagangan antara negara-negara peserta. Ia menyediakan kerangka kerja untuk negosiasi dan memformalkan perjanjian perdagangan, dan proses penyelesaian sengketa yang bertujuan untuk menegakkan kepatuhan peserta dengan perjanjian WTO, yang ditandatangani oleh wakil-wakil dari pemerintah negara. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional sebagai hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh negara-negara anggota. Persetujuan tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota yang mengikat pemerintah untuk mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan perdagangannya. Walaupun ditandatangani oleh pemerintah, tujuan utamanya adalah untuk membantu para produsen barang dan jasa, eksportir dan importer dalam kegiatan perdagangan.1 Organisasi ini secara resmi dimulai pada tanggal 1 Januari 1995, berdasarkan perjanjian Marrakesh untuk menggantikan Perjanjian Umum mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT), yang dimulai pada tahun 19482. Tercatat hingga kini WTO memiliki 157 anggota dan 27 pemerintah pengamat, anggota WTO ini tersebar di seluruh benua dengan dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal, yaitu Pascal Lamy, yang memimpin staf lebih dari 600 orang di Jenewa, Swiss.3
1

http://romiroyadi.blogspot.com/2011/07/wto-dan-posisi-indonesia-dalam.html (WTO dan Posisi Indonesia dalam Perdagangan dunia)


2

http://en.wikipedia.org/wiki/Wto Ibid

Layaknya sebuah organisasi yang berupaya memayungi hubungan hukum antar negara, masih pula ditemukan berbagai konflik. Konflik internal antar sesama anggota WTO inilah yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini. Sumbu dari terjadinya konflik adalah sebuah permasalahan yang tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan oleh kedua belah pihak. Hal ini dapat dimaklumi karena WTO bergerak di bidang perdagangan dunia, dimana setiap anggota WTO, yaitu negara menginginkan terciptanya arus perdagangan yang menguntungkan, dan tidak merugikan konsumen di negaranya. Hal inilah yang kemudian melatar belakangi saya untuk menulis makalah ini. Di dalam makalah ini saya akan mencoba menampilkan dan mengurai beberapa kasus yang pernah bergejolak diantara anggota WTO, berikut dengan analisis yang saya buat, maupun putusan pengadilannya.

B. TUJUAN Tujuan dari makalah ini adalah saya menginginkan agar para pembaca mengerti bahwa di dalam suatu organisasi internasional, walaupun sudah disepakati tentang perjanjianperjanjian berikut ketentuan. Namun, masih banyak terdapat konflik antar sesama anggota. Hal ini tentunya bertolak belakang dari tujuan organisasi internasional itu sendiri yang mengacu pada suatu kesatuan dan perdamaian dalam pelaksanaannya.

BAB II Apakah itu WORLD TRADE ORGANIZATION

(WTO) ? World Trade Organization (WTO) merupakan satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah perdagangan antar negara. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui persetujuan yang berisikan aturan-aturan dasar perdagangan internasional yang dihasilkan oleh para negara anggota melalui proses negosiasi. Persetujuan tersebut merupakan perjanjian antar negara anggota yang mengikat pemerintah negara anggota untuk mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan perdagangan mereka. Selama ini telah dilakukan delapan periode negosiasi yang disebut dengan perundingan multilateral perdagangan semenjak General Agreement on Tariff and Trade (GATT) didirikan, yang terakhir yaitu Putaran Uruguay yang berakhir pada tahun 1994. Perundingan ini merupakan suatu upaya untuk memperkuat sistem GATT dan mencegah semakin meningkatnya kecenderungan proteksionisme di berbagai negara.4 Tanggal 31 Desember 1994, negara-negara anggota telah menyetujui untuk mendirikan badan baru, yang disebut WTO pada tanggal 1 Januari 1995 WTO atau organisasi perdagangan dunia merupakan satu-satunya badan internasional yang mengatur masalah perdagangan antar negara. Sistem perdagangan tersebut diatur melalui suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional sebagai hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh negara-negara anggota.5 Persetujuan tersebut mengikat setiap negara anggota, sehingga pemerintahan dari negara tersebut harus mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan perdagangannya. Pada Juli 2008 organisasi ini memiliki 153 negara anggota. Seluruh anggota WTO diharuskan memberikan satu sama lain status negara paling disukai, sehingga pemberian keuntungan yang diberikan kepada sebuah anggota WTO kepada negara lain harus diberikan ke seluruh anggota WTO. WTO dijalankan oleh pemerintah anggotanya. Semua keputusan penting dibuat oleh keanggotaan secara keseluruhan, baik oleh menteri (yang biasanya bertemu setidaknya sekali setiap dua tahun) atau oleh duta atau utusan (yang bertemu secara teratur di Jenewa). Sementara WTO didorong oleh negara-negara anggotanya, itu tidak bisa berfungsi tanpa Sekretariat untuk mengkoordinasikan kegiatan. Sekretariat mempekerjakan lebih dari 600 staf, dan para ahli yang - pengacara, ekonom, ahli statistik, dan ahli komunikasi - membantu anggota WTO setiap hari untuk memastikan, antara lain, bahwa negosiasi berjalan lancar, dan bahwa aturan perdagangan internasional diterapkan dengan benar dan ditegakkan. Tujuan utama WTO adalah untuk membantu kelancaran perdagangan sebebas mungkin asalkan tidak ada efek samping yang tidak diinginkan - karena ini penting bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan.6 Itu berarti sebagian menghilangkan hambatan. Ini juga berarti memastikan bahwa individu, perusahaan dan pemerintah tahu apa aturan perdagangan di
4

Amesta Yisca Putri, Tinjauan Yuridis Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Secara Wajib Berdasarkan Perjanjian Technical Barrier To Trade (TBT) dan Good Regulatory Practice (GRP), (Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2010). Hlm. 1
5

Ibid, hlm 2

seluruh dunia, dan memberi mereka keyakinan bahwa tidak akan ada perubahan kebijakan mendadak. Dengan kata lain, aturan harus 'transparan' dan dapat diprediksi. Hubungan perdagangan sering melibatkan konflik kepentingan. Perjanjian, termasuk yang susah payah dinegosiasikan dalam sistem WTO, sering perlu menafsirkan. Cara yang paling harmonis untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan ini adalah melalui beberapa prosedur netral didasarkan pada landasan hukum yang disepakati. Itu adalah tujuan di balik proses penyelesaian sengketa ditulis ke dalam perjanjian WTO. Prosedur WTO untuk menyelesaikan pertengkaran perdagangan di bawah Memahami Penyelesaian Sengketa sangat penting untuk menegakkan aturan dan oleh karena itu untuk memastikan bahwa perdagangan mengalir lancar.7 Negara-negara membawa sengketa ke WTO jika mereka berpikir hak mereka di bawah perjanjian yang dilanggar. PENILAIAN oleh para ahli independen yang ditunjuk secara khusus didasarkan pada interpretasi dari perjanjian dan komitmen masing-masing negara.

BAB III Analisis Kasus di dalam WTO Dan Putusan Pengadilan a. Kasus Pertama
6

http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/who_we_are_e.htm (Understanding The WTO, Who We Are)


7

http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/what_we_do_e.htm (Understanding The WTO, What We Do)

INDONESIA vs. EU (Uni Eropa) Serangan Kasus DS 442 - AD tindakan atas impor alkohol berlemak tertentu dari Indonesia.8 Pada tanggal 27 Juli 2012 Indonesia meminta konsultasi WTO dengan Uni Eropa tentang masalah larangan atas Impor Alkohol lemak tertentu dari Indonesia. Ini menyangkut sementara terhadap larangan pada produk kimia tertentu yang diberlakukan oleh Uni Eropa pada Mei 2011. Langkah-langkah menyangkut juga India dan Malaysia. Kasus ini adalah kasus yang pertama kalinya dilaporkan oleh Indonesia terhadap sikap Uni Eropa. Uni Eropa menerima permintaan konsultasi pada tanggal 20 Agustus 2012. Dalam permintaan tersebut, Indonesia mengacu pada inkonsistensi kemungkinan langkah-langkah dengan Perjanjian Anti-Dumping dan Perjanjian Umum mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT 1994). Tindakan pengaduan ini dikarenakan Indonesia tarif dikenakan sesuai dengan Peraturan Dewan Pelaksana (UE) No 1138/2011 dari 8 November 2011 memberlakukan bea larangan atas bahan kimia tertentu. Dan sementara dikenakan pada impor alkohol lemak tertentu dan campuran mereka berasal di India , Indonesia dan Malaysia, OJ L 293, 11.11.2011, hal.1.9 Tindakan sementara ditantang oleh Indonesia dikenakan sesuai dengan Peraturan Komisi (UE) No 446/2011 dari 10 Mei 2011 memberlakukan bea anti-dumping sementara pada impor alkohol lemak tertentu dan campuran mereka berasal dari India, Indonesia, dan Malaysia, OJ L 122, 2011/05/11, p. 47. Penyelidikan dimulai sesuai dengan Pemberitahuan dimulainya suatu persidangan larangan atas bahan kimia tertentu yang dinilai tidak baik untuk kesehatan pada impor alkohol lemak tertentu dan campuran mereka berasal di India, Indonesia dan Malaysia, OJ C 219, 2010/08/13, p. 12. Indonesia mengklaim bahwa tindakan tidak konsisten dengan: Pasal 1, 2.3, 2.4, 2.6, 3.1, 3.2, 3.3, 3.4, 3.5, 4.1, 5.8, 6.7, 6.9, 9.2, 9.4, 18 dari Perjanjian Anti-Dumping, danArtikel VI dan X: 3 (a) dari GATT 1994. Permintaan untuk konsultasi secara resmi memulai sengketa di WTO. Konsultasi memberi kesempatan pihak untuk membahas masalah dan menemukan solusi yang memuaskan tanpa melanjutkan lebih lanjut dengan litigasi. Setelah 60 hari, jika konsultasi telah gagal untuk menyelesaikan sengketa, pengadu dapat meminta ajudikasi oleh panel. Analisis Saya : Pada masalah ini belum ditentukan tindakan apa untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Pertemuan antara kedua belah pihak pun belum dilangsungkan sehingga kasus ini belum diproses secara lanjut. Di dalam kasus ini hanya terlihat bahwa pihak Indonesia menginginkan adanya suatu konsultasi bersama dengan pihalk Uni Eropa yang dijembatani oleh WTO.

http://trade.ec.europa.eu/doclib/docs/2007/may/tradoc_134652.pdf Hlm. 24 http://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/cases_e/ds442_e.htm

Yang dapat saya simpulkan pada kasus ini adalah pihak Uni Eropa mengeluarkan peraturan terbarunya tentang pendistribusian bahan kimia yang dinilai dapat merusak tubuh. Hal ini dilakukan Uni Eropa untuk melindungi warga negaranya dan tentunya juga bersifat mendapat keuntungan dari peraturan terbaru tersebut. Namun, disalah satu pihak menyebabkan kenaikan tarif atas impor Alkohol yang dinilai oleh Indonesia sangat merugikan dalam pendistribusian produknya tersebut. Pada prinsip perdagangan bebas, yang juga dinaungi oleh WTO, seharusnya pihak Uni Eropa tetap melakukan ketentuan yang berdasarkan GATT tahun 1944. Tindakan Uni Eropa yang tiba-tiba mengeluarkan ultimatum tentang pelarangan bahan kimia yang berbahaya tersebut dinilai merugikan pihak tertentu. Karena dengan adanya peraturan tentang pelarangan tersebut biaya beacukai untuk memasarkan produk akan semakin tinggi. Sudah seharusnya dalam prinsip perdagangan bebas rasa keadilan tentang persamaan tarif dengan didasarkan pada suatu peraturan yang telah disepakati bersama, harus dilakukan. Terlebih lagi bila kita lihat selama ini pada pelaksanaan impor alkohol, tidak ditimbulkan keluhan dari konsumen yaitu masyarakat Uni Eropa. Warga Uni Eropa selama ini baik-baik saja walaupun tetap mengkonsumsi alkohol dari Indonesia. Oleh karena itu seharusnya Uni Eropa hanya memberlakukan tarif bagi import bahan kimia yang sebenarnya sudah terbukti merusak kesehatan bagi tubuh.

b. Kasus Kedua Jepang vs Uni Eropa Serangan Kasus DS 376 - Teknologi Informasi Agreement (tahap prosedural: panel)10 Pada tanggal 28 Mei 2008, Jepang dan Amerika Serikat meminta konsultasi WTO dengan Uni Eropa pada klasifikasi pabean dan mengakibatkan perlakuan tarif dari 3 produk, (i) set10

http://trade.ec.europa.eu Loc. Cit. Hlm. 24

top box dengan modem jenis tertentu atau yang menggabungkan perangkat melakukan rekaman atau reproduksi fungsi seperti hard disk atau DVD drive, (ii) LCD monitor mampu mereproduksi gambar video dari sumber lain selain mesin pengolahan data otomatis atau dengan atribut tertentu seperti Digital Visual Interface, (iii) printer multifungsi. Mereka kemudian bergabung dengan China Taipei yang juga meminta konsultasi pada tanggal 12 Juni 2008. Jepang dan dua lainnya keluhan mengklaim bahwa produk ini harus diklasifikasikan dalam pos tarif yang bebas bea dalam penerapan komitmen yang diambil berdasarkan Perjanjian Teknologi Informasi dan dilaksanakan melalui modifikasi dari jadwal Uni Eropa konsesi pada tahun 1997. Pengadu menganggap bahwa, karena gagal untuk melakukannya, Uni Eropa telah melanggar Pasal II dari GATT 1994. Selain itu, mereka mengklaim bahwa Uni Eropa peraturan klasifikasi diterapkan pada set-top boxes sebelum publikasi mereka dalam Jurnal Resmi Uni Eropa pada Mei 2008 melanggar Pasal X: 1 dan X: 2 dari GATT 1994. Konsultasi dengan Jepang diadakan pada tanggal 26 Juni 2008 dan 16-17 Juli 2008 di Jenewa. Jepang meminta pembentukan sebuah panel untuk pertama kalinya pada pertemuan DSB dari 29 Agustus 2008, bersama-sama dengan AS dan Cina Taipei. Karena ini adalah pertama kalinya permintaan pembentukan Panel yang ditempatkan pada agenda DSB, Uni Eropa melaksanakan haknya untuk menentang pendirian. Sebuah panel didirikan pada pertemuan DSB pada tanggal 23 September 2008, namun kesepakatan antara kedua belah pihak pada komposisinya tidak bisa dihubungi. Pada tanggal 22 Januari 2009 Direktur Jenderal WTO dinominasikan para anggota panel. Para pihak menerima laporan akhir panel pada tanggal 23 Juli 2010. Laporan itu beredar pada tanggal 16 Agustus 2010. Uni Eropa ditemukan melanggar komitmennya terhadap WTO baik berdasarkan Pasal II dan Pasal X GATT, sehubungan dengan tindakan menantang pada tiga produk tertentu. Pada saat yang sama, panel menekankan dalam laporannya bahwa tidak semua mesin fotokopi multifungsi, set-top boxes dan perangkat televisi panel layar datar "tentu akan jatuh dalam lingkup konsesi ini. Itu harus ditentukan berdasarkan kasus-oleh per kasus, dengan mempertimbangkan semua karakteristik obyektif produk tertentu "(para 7,734, 7,986, dll). Tak satu pun dari para pihak yang bersengketa mengajukan banding, sebagai konsekuensi Penyelesaian Sengketa Tubuh (DSB) dari WTO mengadopsi laporan panel pada tanggal 21 September 2010. Uni Eropa menegaskan niatnya untuk melaksanakan rekomendasi, dan putusan dalam sengketa ini dalam komunikasi ke DSB pada tanggal 15 Oktober 2010 (WT/DS375/14, WT/DS376/14, WT/DS377/12) dan pada pertemuan DSB dari 25 Oktober 2010. Uni Eropa meminta jangka waktu yang wajar di mana untuk melakukannya. Pada tanggal 20 Desember 2010, para pihak yang bersengketa memberitahu DSB bahwa mereka telah sepakat bahwa jangka waktu yang wajar bagi Uni Eropa untuk melaksanakan rekomendasi dan keputusan dari DSB akan sembilan bulan dan sembilan hari sejak tanggal

penerapan rekomendasi dan keputusan dari DSB. Dengan demikian, periode waktu yang wajar berakhir pada tanggal 30 Juni 2011. Pada tanggal 30 Juni 2011, Uni Eropa diberitahukan kepada pengadu bahwa mereka telah mengadopsi langkah-langkah yang diperlukan untuk mematuhi rekomendasi dan keputusan dari DSB dalam sengketa ini. Langkah-langkah adalah sebagai berikut: (A) Komisi Pelaksana Peraturan (UE) No 620/2011 Mengubah Lampiran I Peraturan Dewan (EEC) no 2658/78 pada nomenklatur tarif dan Tarif Bea umum, diterbitkan pada Jurnal Resmi Uni Eropa (selanjutnya disebut sebagai OJEU), L 166/16 dari 2011/06/25); (B) Penghapusan Penjelasan untuk kode CN 8521 90 00, 8528 71 13, 8528 71 19 8528 71 dan 90 (2011 / C 185/1, diterbitkan pada OJEU C 185/1 dari 2011/06/25), dan (C) Pernyataan diadopsi oleh Komite Kode Bea Cukai pada tanggal 7 Juni 2011, dan diterbitkan pada 29 Juni 2011, yang menurutnya Pernyataan pada klasifikasi "perangkat multifungsi" disepakati pada pertemuan 360 dari Bea Cukai Kode Komite adalah untuk diabaikan. Meskipun tidak secara langsung berhubungan dengan temuan Panel, Uni Eropa, menyusul permintaan Serikat industri dan Anggota, diadopsi pada bulan Desember 2011 peraturan bimbingan beberapa pada klasifikasi produk yang berhubungan dengan mereka yang dilindungi oleh sengketa WTO, terutama pada set-top boxes dan multifungsi mesin. Pedoman panel layar datar sedang dipersiapkan. Analisis Saya : Kasus ini terjadi karena Jepang menuntut diberlakukannya pos tarif yang bebas bea dalam penerapan komitmen yang diambil berdasarkan Perjanjian Teknologi Informasi dan dilaksanakan melalui modifikasi dari jadwal Uni Eropa konsesi pada tahun 1997. Dalam kasus ini saya lebih membela pihak Jepang ketimbang pihak Uni Eropa. Karena pihak Uni Eropa dirasa ingin meraup keuntungan yang berlebih dengan memasang tarif untuk impor barang elektronik. Padahal notabanenya pihak Jepang merasa bahwa ia adalah pemasok barang elektronik dalam jumlah yang cukup besar merasa sangat dirugikan dengan keputusan ini. Bab IV Kesimpulan Berkumpulnya negara-negara dalam satu organisasi yang mengusung adanya persatuan dan perdamaian dalam pelaksanaan kegiatan dagang, yaitu WTO, dirasa masih sangat jauh memenuhi harapan. Hal ini terlihat dalam terjadinya beberapa kasus antar anggota negara. Pihak-pihak tersebut menginginkan adanya keadilan dan perlakuan yang sama dalam menjalankan peraturan di bawah payung organisasi yang mereka naungi.

Oleh karena itu WTO, selaku organisasi perdagangan yang merupakan satu-satunya wadah di seluruh dunia perlu menyediakan wadah dan peraturan yang berlandaskan keadilan bagi semua anggota negara. Disamping itu perlu adanya pengendalian ego antar sesama anggota. Tidak bisa dipungkiri dalam kehidupan ini, antar negara melakukan persaingan yang cukup rumit di bidang ekonomi, sehingga sering melakukan hal-hal yang tidak patut dilakukan. Saya berharap agar WTO terus melakukan pembaharuan di dalam pelaksanaan programnya berikut menambah sarana yang menunjang, berikut peraturan yang mengutamakan kesetaraan keadilan bagi negara maju, negara berkembang, maupun negara yang terbelakang. Agar terjadi keadilan di muka bumi ini.

DAFTAR PUSTAKA http://romiroyadi.blogspot.com/2011/07/wto-dan-posisi-indonesia-dalam.html (WTO dan Posisi Indonesia dalam Perdagangan dunia) http://en.wikipedia.org/wiki/Wto http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/who_we_are_e.htm (Understanding The WTO, Who We Are)

http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/what_we_do_e.htm (Understanding The WTO, What We Do) http://trade.ec.europa.eu/doclib/docs/2007/may/tradoc_134652.pdf http://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/cases_e/ds442_e.htm Putri, Amesta Yisca. Tinjauan Yuridis Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Secara Wajib Berdasarkan Perjanjian Technical Barrier To Trade (TBT) dan Good Regulatory Practice (GRP). Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2010.