Anda di halaman 1dari 45

Tasawuf Falsafi Al-Hallaj

AL-HALLAJ
(Biografi, karya, tasawuf, dan pemikirannya)

Latar Belakang
Pada abad ke 9 Masehi, berkembang kehidupan kerohanian Islam dengan jalan
melakukan Zuhud (mengabaikan dunia) untuk mencapai kesempurnaan ma rifat
dan tauhid kepada Allah. Gagasan-gagasan para ahli sufi dan syiah pada abad
tersebut telah ditemukan, baik yang berupa berupa syair ataupun pemikiran
yang menunjukkan keanekaragaman kemungkinan dalam kehidupan mistik,
seperti halnya Al Ghazali, Dzun Nun (859 M), Bayezid Bistami (874 M), dan Al
Harith al Muhasibi (857 M) dan Husein Ibn Mansur Al hallaj (858 M).
Pemikiran dan peranan para tokoh inilah yang perlu kita ketahui sebagai
wacana keilmuan dan sejarah, sekaligus menganalisa konflik pemikiran yang
tidak pernah habis dibahaskan, kerana pihak-pihak yang berbeda pendapat
tidak pernah saling bertemu untuk memberikan klarifikasi dalam satu majlis,
kecuali hanya saling mengecam dan mengkafirkan dengan musabab bibit konflik
politik kekuasaan yang serakah dan licik sejak dahulu.
Menarik untuk dikaji kembali penyataan yang popular yang di lontarkan oleh
Husein Ibnu Al Hallaj "Ana al-Haq" dan juga tak kalah populernya yaitu
paham hulul. Peristiwa ini merubah pandangan masyarakat umum terhadap
kaum Sufi atau para Zahid yang menjalankan praktis kerohaniannya dengan
melakukan dzikir secara rutin, shalat malam dan menjauhkan diri dari
perbuatan maksiat. Sehingga pada ujungnya berpengaruh terhadap
perkembangan ilmu tafsir yang menjadi nadi.

A. Biografi Al-Hallaj
Memiliki nama lengkap Abu al -Mughits al-Husein bin Mansur bin Muhammad al -
Baidawi . Beliau dilahirkan pada tahun 244 H (858 M) di Thur bagian distrik
Baida Persia, tempat orang-orang Iran selatan yang telah terArabisasi yang
merupakan sub camp dari jund Basrah, dan kemudian menjadi pusat militer
(dengan sebuah pabrik pembuat koin uang untuk pasukan yang keluar dari
Shiraz ke Khurasan untuk memerangi Turki), sekarang berada di wilayah Barat
Daya Iran. Beliau dibesarkan di Wasit dan Tustar yang dikenal sebagai tempat
perkebunan kapas dan tempat tinggal para penyortir kapas . Ayahnya adalah
seorang penyortir wool (hallaj), oleh karena itu beliau diberi gelar al -Hallaj .
Bersama ayahnya, al-Hallaj berimigrasi ke sebuah pusat tekstil di Ahwaz dan
Tustar. Kakeknya, Muhammad adalah seorang penyembah api, pemeluk agama
Majusi sebelum ia masuk Islam. Ada yang mengatakan bahwa al Hallaj berasal
dari keturunan Abu Ayyub, sahabat Rasulullah.
Sejak kecil al-Hallaj sudah banyak bergaul dengan orang-orang sufi terkenal.
Pada saat ia berumur 16 tahun, ia menetap di Tustar dan berguru pada Sahl ibn
Abdullah at-Tustury (wafat 896 M/ 282 H), seorang sufi terkenal yang pernah
belajar pada Sufyan at-Tsaury (Wafat 778 M/ 161 H) . Dua tahun kemudian ia
meninggalkan gurunya at-Tustury dan pindah ke Bashrah untuk belajar kepada
Sufi Amr al-Makki. Kemudian dia masuk ke kota Baghdad dan belajar kepada
al-Junaid al-Baghdadi. Al-Hallaj pernah hidup dalam pertapaan dari tahun 873-
879 M bersama-sama dengan guru sufi al -Tustury, Amr al -Makki, dan Junaid al-
Baghdadi.
Setelah itu al-Hallaj pergi mengembara dari satu negeri ke negeri lain,
menambah pengetahuan dalam ilmu tasawuf, sehingga tidak ada seorang syekh
ternama yang tidak pernah dimintainya nasehat. Al -Hallaj telah menunaikan
ibadah haji tiga kali selama hidupnya. Dalam perjalanan dan pengembaraan
serta pertemuannya dengan ahli - ahli sufi itulah yang membentuk pribadi dan
pandangan hidup al -Hallaj sehingga dalam usia 53 tahun ia telah menjadi
pembicara ulama pada waktu itu karena paham tasawufnya yang berbeda
dengan yang lain. Sampai -sampai seorang ulama fiqh terkemuka yang bernama
Ibn Daud al-Isfahani mengeluarkan fatwa yang mengatakan bahwa paham dan
ajaran al-Hallaj sesat. Atas dasar fatwa ini Al Hallaj dipenjarakan. Tetapi
setelah satu tahun dalam penjara, dia dapat melarikan diri dengan pertolongan
dari seorang penjaga yang menaruh simpati padanya.
Dari Baghdad ia melarikan diri ke Sus di wilayah Ahwas. Disana ia bersembunyi
selama empat tahun. Namun pada tahun 301H/903M ia ditangkap kembali dan
dimasukkan lagi ke dalam penjara sampai delapan tahun lamanya. Akhirnya
pada tahun 309/921M diadakanlah persidangaan ulama di bawah kerajaan Bani
Abbas di masa khalifah al-Muktadirbillah. Pada tanggal 18 Dzulkaidah 309H
jatuhlah hukuman kepadanya. Dia dihukum mati dengan mula-mula dipukul dan
dicambuk dengan cemeti, lalu disalib, sesudah itu dipotong kedua tangan dan
kakinya, dipenggal lehernya dan ditinggalakan tergantung pecahan-pecahan
tubunhnya itu di pintu gerbang kota Baghdad. Kemudian dibakar tubuhnya dan
abunya dihanyutkan di sungai Dajlah.
Dalam riwayat lain diceritakan secara lebih mendetail mengenai jalannya
eksekusi ekstra tragis yang diterima al -Hallaj. Al-Hallaj tengah dipecut
(disebat) seribu kali tanpa mengaduh kesakitan. Sesudah dipecut, kepalanya
dipenggal, tapi sebelum dipancung dia sempat shalat 2 rakaat. Kemudian kaki
dan tangannya dipotong. Badannya digulung ke dalam tikar bambu,
direndamkan ke naftah dan kemudian dibakar. Abu mayatnya dihanyutkan ke
sungai sedangkan kepalnya di bawa ke Khurasan untuk dipersaksikan oleh umat
Islam dan sejarahnya.
Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa ketika proses hukuman mati al -Hallaj,
algojo-algojo menaikkan al-Hallaj ke atas menara yang tinggi, kemudian
dikerumuni orang banyak yang datang dari berbagai penjuru yang
diperintahkan untuk melempari batu kepadanya. Ketika itu dia selalu
mengulang-ulang kalimat yang menyebabkan ia dijebloskan ke dalam penjara
dan hukuman mati, yaitu Ana Al Haqq (aku adalah Yang Maha benar). Dan
ketika disuruh untuk membaca syahadat, dia berteriak seraya berseru kepada
Allah : Sesungguhnya wujud Allah itu telah jelas, tidak
membutuhkan penguat semacam syahadat.
Ketika dipukul oleh para algojo, al -Hallaj tersenyum. Setelah selesai
memukulnya, mereka memotong tangan dan kakinya, diapun menerimanya
dengan tersenyum, bahkan dia sempat mengoleskan darah potongan tangannya
ke mukanya seakan-akan dia berwudhu dengan darah sucinya itu. Setelah itu
para algojo memotong lidah dan mencukil matanya. Pada saat itu dia berisyarat,
seakan-akan memintakan ampun bagi para algojo kepada Allah Mereka
semua adalah hambaMu, mereka berkumpul untuk
membunuhku karena fanatik terhadap agamaMu dan untuk
mendekatkan diri kepadaMu. Maka ampunilah mereka.
Andaikata Kau singkapkan kepada mereka apa yang Kau
singkapkan kepadaku, tentu mereka tidak akan melakukan
apa yang mereka lakukan sekarang ini.
Al-Hallaj adalah seorang alim dalam ilmu agama Islam. Sebagaimana dikatakan
oleh Ibn Suraij, ia adalah seorang yang hafal al -Quran beserta pemahamannya,
menguasai ilmu fiqh dan hadist serta tidak diragukan lagi keahliannya dalam
ilmu tasawuf. Beliau merupakan seorang zahid yang terkenal pada masanya,
dan masih banyak lagi sifat kesalehannya.

B. Karya Karya Al-Hallaj
Ibnu nadim seorang ahli riwayat ternama, yang banyak sekali membicarakan al -
Hallaj dan menentang pendiriannya, mencatat bahwa karya-karya al-Hallaj
tidak kurang dari 47 buah banyaknya. Diantaranya adal ah:
1. Al Ahruful muhaddasah, wal azaliyah, wal asmaul kulliyah.
2. Kitab Al Ushul wal Furu.
3. Kitab Sirrul Alam wal mab uts.
4. Kitab Al Adlu wat Tauhid.
5. Kitab Ilmul Baqa dan Fana.
6. Kitab Madhun Nabi wal Masaul Alaa.
7. Kitab Hua, Hua.
8. Kitab At Thawwasin.

Kedelapan kitab ini adalah yang terpenting di antara 47 kitab itu. Menurut at -
Taftazani, kitab At-Thawasin merupakan kitab al -Hallaj yang paling lengkap
dalam menggambarkan paham tasawufnya. Susunan bahasanya sangat sulit
dipahami, sehi ngga mungkin banyak pembaca tidak mengerti apa yang
dimaksudkan penulisnya. Disamping itu, kitab tersebut berisi rumus -rumus dan
istilah-istilah yang tidak gampang dimengerti.

C. Filsafat Al-Hallaj
Inti ajaran al-Hallaj telah dinyatakan dalam bentuk syai r (Tawasin) dan juga
kadang dalam prosa (Natsar), dalam susunan kata-kata yang mendalam di
sekililing tiga hal, yaitu :

1. Hulul ketuhanan (lahut) menjelma kedalam diri insan
(nasut).
Secara etimologi Hulul memiliki sinonim dengan infusion yang bermakna
penyerapan yakni menyerap keseluruh obyek yang dapat menerimanya (the
infusion spreads to all part of the receptive object). Secara harfiah hulul berarti
Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang
telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Menurut
keterangan Abu Nasr al -Tusi dalam al-Luma sebagaimana dikutip Harun
Nasution, hulul adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-
tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat
kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Paham hulul dapat dikatakan sebagai lanjutan atau bentuk lain dari faham al -
ittihad yang dipopulerkan oleh Abu Yazid al -Bustami (874 M/ 261 H). Tetapi
dua konsep ajaran ini berbeda. Dalam ajaran al -ittihad, diri manusia lebur dan
yang ada hanya diri Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sedangkan dalam konsep hulul,
diri manusia tidak hancur. Dalam konsep al -ittihad yang dilihat satu wujud,
sedangkan dalam konsep ajaran hulul disana ada dua wujud tetapi bersatu
dalam satu tubuh .
Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, Ia hanya melihat diri -Nya sendiri. Dalam
kesendirian-Nya itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan diri -Nya sendiri,
yaitu dialog yang di dalamnya tidak terdapat kata ataupun huruf. Yang dilihat
Allah hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya. Allah melihat kepada dzat-
Nya dan Ia pun cinta pada zat -Nya sendiri, cinta yang tak dapat disifatkan, dan
cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak ini. Ia pun
mengeluarkan dari yang tiada bentuk copy dari diri -Nya yang mempunyai sifat
dan nama-Nya. Bentuk copy ini adalah Adam. Setelah menjadikan Adam dengan
cara itu, Ia memuliakan dan mengagungkan Adam. Ia cinta pada Adam, dan pada
diri Adam Allah muncul dalam bentuk-Nya. Teori ini nampak dalam syairnya:

#
#


Maha suci dzat yang sifat kemanusiaannya membuka rahasia
Ketuhanan-Nya yang gemilang
Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata
Dalam bentuk manusia yang makan dan minum

Melalui syair diatas, tampaknya al -Hallaj memperlihatkan bahwa Allah memiliki
dua sifat dasar, yaitu sifat ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusiaan (nasut).
Demikian pula pada diri manusia juga terdapat dua sifat dasar, yaitu sifat
ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusiaan (nasut). Dengan demikian maka
manusia mempunyai sifat ketuhanan dalam dirinya. Yang demikian ini
merupakan bentuk pemahaman al -Hallaj dalam menafsirkan Q. S. Al -Baqarah
ayat 34 yang berbunyi :
^O)4 E4U~ gOj^U4Ug
W-c- 4E1E W-E=O
) "1)U) _O. 4OE'4c-4
4p~E4 =}g` -jOg^- ^@j
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat: "Tunduklah
(beri hormat) kepada Nabi Adam". lalu mereka sekaliannya tunduk
memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan
menjadilah ia dari golongan Yang kafir.

Allah memberi perintah kepada malaikat agar bersujud kepada Adam. Karena
yang berhak untuk diberi sujud hanya Allah, maka al -Hallaj memahami bahwa
dalam diri Adam (manusia) sebenarnya terdapat unsur ketuhanan. Disisi lain,
hal ini (sujud) dikarenakan pada diri Adam, Allah menjelma sebagaimana Dia
menjelma dalam diri Isa as.
Kalau sifat-sifat kemanusian itu telah hilang dan yang tinggal hanya sifat-sifat
ketuhanan dalam dirinya, disitu baru Tuhan dapat mengambil tempat dalam
dirinya. dan ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh
manusia, sebagaimana diungkapkannya dalam syair berikut :

#

#
#
Telah bercampur rohMu dalam rohku
Laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih
Bila menyentuh akan-Mu sesuatu, tersentuhlah Aku
Sebab itu, Engkau adalah Aku, dalam segala hal
Aku adalah ia yang kucintai dan ia yang ku cintai adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh
Jika engkau lihat aku, engkau lihat ia
Dan jika engkau lihat ia, engkau lihat kami.

Berdasarkan syair diatas, dapat diketahui bahwa persatuan antara Tuhan
dengan manusia dapat terjadi dengan mengambil bentuk hulul. Yakni dengan
terlebih dahulu menghilangkan sifat kemanusiaannya (nasut). Setelah sifat -sifat
kemanusiaannya hilang dan hanya tinggal sifat ketuhanan (lahut) yang ada
pada dirinya, disitulah Tuhan mengambil tempat dalam dirinya, dan ketika itu
roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh manusia.
Menurut al-Hallaj, pada hulul terkandung kefanaan total kehendak manusia
dalam kehendak ilahi, sehingga setiap kehendaknya adalah kehendak Tuhan,
demikian juga tindakannya. Namun disisi lain al -Hallaj mengatakan:
Keinsananku tenggelam kedalam ketuhanan-Mu, tetapi
tidaklah mungkin percampuran. Sebab ketuhanan-Mu itu
senantiasa menguasai akan keinsananku. Barangsiapa yang
menyangka bahwa ketuhanan bercampur keinsanan jadi
satu, atau keinsanan masuk kedalam ketuhanan, maka
kafirlah dia. Sebab Tuhan itu bersendiri dalam zat-Nya dan
sifat-Nya daripada makhluk dan sifat-Nya pula. Tidaklah
Tuhan serupa dengan manusia dalam rupa bentuk yang
mana jua pun.
Dengan demikian, al -Hallaj sebenarnya tidak mengakui bahwa dirinya adalah
Tuhan dan juga tidak sama dengan Tuhan. Seperti yang terlihat dala syairnya:

#
Aku adalah yang Maha Benar
Dan bukanlah yang Maha benar itu aku
Aku hanya satu dari yang Maha Benar
Maka bedakanlah aku dari yang Maha Benar

Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hulul
yang terjadi pada al-Hallaj tidaklah nyata karena membari pengertian secara
jelas bahwa adanya perbedaan antara hamba dengan Tuhan. Dengan demikian,
hulul yang terjadi hanya sekedar kesadaran psikis yang berlangsung pada
kondisi fana, atau sekedar terlebarnya nasut kedalam lahut, dan diantara
keduanya tetap ada perbedaan. Untuk lebih memahami doktrin hulul ini, lebih
jelasnya dapat merujuk kepada rangkaian penjelasan al -Hallaj berikut ini :
Siapa yang membiasakan dirinya dalam ketaatan, sabar
atas kenikmatan dan keinginan, maka ia akan naik
ketingkat muqarrabin. Kemudian ia senantiasa suci dan
meningkat terus hingga terbebas dari sifat-sifat
kemanusiaan ini. Apabila sifat-sifat kemanusiaan dalam
dirinya lenyap, maka roh Tuhan akan mengambil tempat
dalam tubuhnya sebagaimana ia mengambil tempat pada
diri Isa bin Maryam. Dan ketika itu seorang sufi tidak lagi
punya kehendak kecuali apa yang dikehendak oleh ruh
Tuhan sehingga seluruh perbuatannya merupakan
perbuatan Tuhan . Air tidak dapat menjadi anggur
meskipun keduanya telah bercampur aduk .

2. Al-Haqiqah al-Muhammadiyah (Nur Muhammad)
Menurut al Hallaj Nur Muhammad merupakan asal atau sumber dari segala
sesuatu , segala kejadian, amal perbuatan dan ilmu pengetahuan . Dan dengan
perantaraan Nur Muhammad itulah alam ini dijadikan. Nur Muhammad bisa
diartika juga sebagai pusat kesatuan alam dan pusat kesatuan nubuwwat segala
Nabi. Dan nabi -nabi itu, nubuwwat-nya ataupun dirinya hanyalah sebagian dari
Nur Muhammad itu. Segala macam ilmu, hikmat dan nubuwwat adalah pancaran
dari Nur Muhammad.
Menurut Al Hallaj, kejadian Nabi Muhammad terbentuk dari dua rupa. Pertama,
rupanya yang qadim dan azali, yaitu dia telah terjadi sebelum terjadinya segala
yang ada ini. Kedua, ialah rupanya sebagai manusia, sebagai seorang Rasul dan
Nabi yang diutus Tuhan. Rupanya sebagai manusia akan mengalami maut, tetapi
rupanya yang qadim akan tetap ada meliputi alam.
Paham tentang Nur Muhammad ini berdasar pada hadis yang sangat populer di
kalangan ahli sufi, yaitu : Aku berasal dari cahaya Tuhan dan
seluruh dunia berasal dari cahayku. Dan paham ini kemudian
dikembangkan dan disebarluaskan oleh Muhyiddin Ibnu Arabai (w638H) dan
Abd. al Karim bin Ibrahim al Jili (w. 811H) dalam kerangka ide Insan Kamil.
Dalam teori kejadian alam dari Nur Muhammad ini nampak adanya pengaruh
ajaran filsafat. Kalau dalam filsafat Islam, teori terjadinya alam semesta
diperkenalkan oleh al Farabi dengan mentransfer teori emanasi Neo Platonisme
Plotinus, maka dalam tasawuf teori ini mula-mula diperkenalkan oleh al Hallaj
dengan konsep barunya yang disebut Nur Muhammad atau Haqiqah
Muhammadiyah sebagai sumber dari segala yang maujud.

3. Wahdah al adyan (Kesatuan agama-agama)
Inti ajaran dari Wahdah al adyan adalah sebenranya nama agama yang berbagai
macam, seperti Islam, Nasrani, Yahudi dan yang lain-lain hanyalah perbedaan
nama dari hakikat yang satu saja. Nama berbeda, satu tujuan. Segala agama
adalah agama Allah maksudnya ialah menuju Allah. Orang memilih suatu agama,
atau lahir dalam satu agama, bukanlah atas kehendaknya, tetapi dikehendaki
untuknya. Cara ibadah bisa berbeda warnanya, namun isinya hanya satu. Paham
Wahdah al-Adyan ini muncul sebagai konsekuensi logis dari pahamnya tentang
Nur Muhammad. Yakni pahamnya al -Hallaj tentang qadimnya Nur Muhammad
telah mendorongnya untuk berkesimpulan tentang kesatuan agama.
Mengenai hal ini, Abdullah bin Tahir al -Azdi mengatakan, sebagaimana
dicatatkan oleh al-Taftazani sebagai berikut:
Suatu hari aku bertengkar dengan orang yahudi di pasar
baghdad. Diapun ku maki: hai anjing. Ketika itu al -Hallaj
lewat dan memandangku dengan geram. Dan tegurnya:
jangan kau maki anjingmu. Dan diapun langsung pergi.
Setelah pertengkaran itu, aku mencari al -Hallaj. Namun
ketika ku temui, dia memalingkan wajahnya. Akupun
meminta maaf kepadanya. Lalu dia berkata: wahai
sahabatku, semua agama adalah milik Allah. Setiap
golongan menganut suatu agama tanpa adanya pilihan,
bahkan dipilihkan bagi mereka. Kerena itu, barangsiapa
menyalahkan apa yang dianut golongan itu sama saja
halnya dia telah menghukumi golongan tersebut menganut
agama atas upayanya sendiri. Ketahuilah ! agama-agama
yahudi, islam dan yang lain-lainya adalah sebutan serta
nama yang beraneka ragam dan berbeda. Akan tetapi
tujuan tujuan semuanya tidak berbeda .
Tidak ada faedahnya seseorang mencela orang yang berlainan agama dengan
dia, karena itu adalah takdir (ketentuan) Tuhan buat orang itu. Tidak ada
perlunya berselisih dan bertingkah. Tetapi lebih baik perdalamlah agama
masing-masing.

D. Pendapat Ulama Mengenai Pemikiran Al Hallaj
Berbagai macamlah perkataan ulama tentang al -Hallaj. Sebagian mengkafirkan
dan sebagian yang lain membela atau membenarkan. Beberapa perkataan,
terutama dari pihak masa kekuasaan pada masa itu tersiar bahwa ajaran al -
Hallaj sangat merusak ketentraman umum. Murid-muridnya sampai ada yang
menyangka bahwa al -Hallaj adalah Tuhan, sebagaimana prasangkaan orang
nasrani terhadap diri isa al -masih. Dia dianggap pandai menghidupkan orang
mati, menyembuhkan orang sakit kusta. Muridnya kian lama kian banyak. Dan
setelah diselidiki oleh penyelidik kerajaan, katanya dia mengadakan hubungan
yang rapat dengan kaum karamithah, yaitu segolongan umat di abad ketiga dan
keempat yang menyerupai faham komunis di indonesia. Sebab itu dia tidak mau
mengakui kekuasaan pemerintahan yang sah. Dia mengakui sebagian
kepercayaan kaum ismailiyyah bahwa imam yang sejati ialah imam yang ghaib.
Dan lagi menurut beritra yang tersiar itu pula beliau menfatwakan
bahwasannya naik haji yang lahir pergi ke mekkah itu tidaklah perlu
dikerjakan. Sebab itu hanya memayah-mayahkan diri saja. Itu boleh diganti
dengan haji yang lain, yaitu dengan haji rohani, dengan membersihkan diri dan
jiwa dan tafakur mengingat Tuhan dalam khalwat, sehingga kabah itu
sendirilah yang datang kedalam khalwatnya menemuinya. Disanapun dia boleh
berthawaf.
Memang, banyak di antara ulama yang tidak bisa menerima ajaran tasawuf yang
diajarkan oleh Al Hallaj ini, tetapi tidak sedikit pula para ulama yang
sependapat dan membelanya. Kebanyakan Ulama fiqih mengkafir kannya.
Dengan alasan bahwasanya mengatakan bahwa diri manusia bersatu dengan
Tuhan adalah syirik yang amat besar. Oleh karena itu Ibn at Taymiyah, Ibn al
Qayyim, Ibn an Nadim dan lain-lain berpendapat bahwa hukuman mati yang
ditimpakan kepada Al Halaj memang patut diterimanya.
Tetapi ulama-ulama fiqih yang lain seperti Ibnu Syuraih seorang ulama yang
sangat terkemuka dari mazhab Malik, memberikan komentar: "Ilmuku tidak
mendalam tentang dirinya, karena itu saya tidak bisa
berkata apa-apa".
Pembela-pembela Al Hallaj menjernihkan ajarannya dari apa yang dituduhkan
orang kepadanya. Syaikh Abdurrahman As Saqqaf salah seorang Syaikh tarikat
Alawiyah, mengatakan bahwa dia sebelumnya menyangka pada diri Al Hallaj
ada keretakan karena sikapnya, seperti keretakan pada kaca, tetapi setelah
sampai pada maqam al qutbiyyah dia melihat bahwa Al Hallaj telah mencapai
tingkat bila diandaikan buah dia telah matang.
Imam Al Ghazali ketika ditanyai bagaimana pendapatnya tentang perkataan
"ana al haq?". Beliau menjawab," Perkataan demikian yang keluar
dari mulutnya adalah karena sangat cintanya kepada Allah.
Apabila cinta sudah demikian mendalamnya, tidak ada lagi
rasa berpisah antara diri seseorang dengan seseorang yang
dicintainya". Sehingga beliau, Jalaludin Rumi, dan Fariduddin al Attar
memberinya julukan "Syahidul Haq" (seorang syahid yang benar).
Beliau syekh Maftuh Basthul Birri salah satu masyayikh di ponpes Hidayatul
Mubtadiin (lirboyo) dalam bukunya yang berjudul Manaqib 50 Wali Agung
mengatakan Syekh al-Hallaj ini tinggi sekali ma rifat dan ilmu haqiqatnya,
jadzab dan cintanya dengan Allah seperti imam Abu Yazid al -Bustomi, sehingga
beliau pernah berkata ANAL HAQ. Maka banyak orang yang ingkar karena tidak
sampai kefahamannya.



Kesimpulan
1. Al-Hallaj merupakan seorang ahli sufi, filsuf, dan sekaligus wali Allah yang
hidup pada masa khalifah al -muktadir billah dan beliau wafat karena dihukum
mati untuk mempertanggung jawabkan ajarannya yang dianggap sesat oleh
beberapa ulama khususnya fuqoha pada masa itu.
2. Al-Hallaj tidak melakukan dosa terhadap kebenaran, tetapi beliau dihukum
karena tindakannya yang dipandang bertentangan dengan hukum. Beliau
membuka rahasia tentang Tuhan dengan mengemukakan segala yang dianggap
misteri tertinggi yang selayaknya hanya boleh diketahui oleh orang-orang
terpilih saja.
3. Ajaran al-Hallaj yang mashur adalah hulul (ketuhanan (lahut) menjelma ke
dalam diri insan (nasut)), al -haqiiqah al-muhammadiyyah (nur Muhammad),
dan wahdatul adyan (kesatuan semua agama).
4. Al-Hallaj mengatakan bahwa tidak ada pemisahan antara Tuhan dengan
makhluk-Nya sebagaimana dengan kesatuan ilahi yang melingkupi makhluk-
Nya. Yang berbicara Ana Al -Haq bukanlah al-Hallaj pribadi, melainkan Tuhan
sendiri melalui mulut al -Hallaj.

Daftar Pustaka:
Massignon Louis, Al Hallaj, (Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, tt)
As Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002)
Rosihon anwar dan Mukhtar sholihin, ilmu tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia, tt)
Hamka, Tasauf, Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta : PT. Pustaka
Panjimas)
Basthul Birri Maftuh, Manaqib 50 Wali Agung, (Kediri:Lirboyo, 1999)






















At Thawasin Al Azal
Oleh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

1. Thasin Al Siraj (Pelita Nubuwah Nabi Muhammad S.A.W)
2. Thasin Al Fahm (Pemahaman)
3. Thasin Al Shafa (Kebeningan)
4. Thasin Al Dairah (Lingkaran)
5. Thasin Al Nuqthah (Titik)
6. Thasin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita
Eterniti / Keabadian dan Kekeliruan Pemahaman)
7. Thasin Al Masyi-ah (Kehendak)
8. Thasin Al Tauhid (Keesaan)
9. Thasin Al Asrar fi al Tauhid (Kesadaran Diri Dalam Tauhid)
10. Thasin Al Tanzih (Kesucian, Keterbebasan)
11. Thasin Bustan Al Marifah (Taman Pengetahuan/Marifat)


Thasin Al Siraj (Pelita Nubuwah Nabi Muhammad SAW)

1. Sang Pelita (As-Siraj) tampak dan tercerah dari Cahaya Keghaiban,ia terpancar dan
(tampak) kembali, dan melampaui pelita-pelita lain.Ia rembulan yang cerlang, yang
menampakkan kecemerlangannya lebih dari bulan-bulan lain. Ia bintang yang graha
perbintangannya di Langit Azaly. Allah menyebutnya ummi (awam) atas dasar
keterpusatan aspirasinya,juga harami (suci) disebabkan kelimpahan syafaatnya,
dan makki (pusat) karena kedekatannya di Hadirat-Nya.

2. Dia (Allah) lapangkan dadanya, Dia tingkatkan kekuatannya, dan mengangkatnya
dari beban yang memberati punggungnya (Q. 94: 2-3) serta Dia tetapkan
kewenangannya. Sebagaimana Allah membuat Badr-nya terpancar, demikianlah
purnamanya muncul dari awan Yamamah, mentarinya terbit di bukit Tihamah
[Makkah],dan pelitanya bersinar gemerlap dari sumur Karamah (Zamzam).

3. Ia tidak menyampaikan sesuatu kecuali yang menyangkut pandangan (bashirah) batinnya,
dan tidak mewajibkan diikuti keteladanannya kecuali yang menyangkut
kebenaran Sunnah-nya. Ia berada di Hadirat Allah, dan ia mengajukan yang lain ke
Hadirat-Nya.Ia telah melihat (Kebenaran), lalu ia sampaikan apa yang dilihatnya. Ia
telah diutus sebagai sang Pemberi Tunjuk, maka ia menggariskan batas (halal-haram)
perilaku.

4. Tidak seorang pun mampu mengungkapkan kebenaran maknanya kecuali sang Tulus
Hati (Al-Amin) ini. Karena ia menegaskan ke-syahid-annya, serta mengiringkannya,
maka tiada lagi tersisa perbedaan di antara kaumnya.

5. Tiada seorang arif (irfan) pun yang merasa kenal padanya, yang tidak keliru mengenali
kebenaran kualitasnya. Kualitasnya hanya jelas kepada seseorang yang Allah bimbing
untuk menyingkap (kasyf) tabirnya, Yaitu yang telah Kami berikan kepadanya Kitab,
mereka mengenalinya seperti mengenali anak-anaknya. Namun, sebagian mereka
menyembunyikan kebenarannya, padahal mereka mengetahui. [Q. 2: 146]

6. Segenap cahaya nubuwah berasal dari cahayanya, dan cahayanya tercerahkan dari Cahaya
yang Gaib.Di antara cahaya-cahaya itu tidak ada yang lebih gemerlap, lebih nyata atau
lebih mutlak dari cahayanya sang Junjungan Semesta Rahmat ini.

7. Aspirasi (himmah)-nya mendahului segenap aspirasi lain, adanya mendahului
Tiada (Adam), namanya mendahului Pena (Qalam), sebab keberadaannya terdahulu
ada sebelum apa pun.

8. Tidak pernah ada di atas semesta atau di luar semesta, tidak juga di balik semesta, sesuatu
yang lebih indah, lebih agung, lebih bijak, lebih adil, lebih kasih, lebih taat atau lebih
takwa, yang lebih dari sang Tokoh Utama ini.Gelarnya adalah sang Junjungan Makhluk,
namanya adalah Ahmad, dan harkatnya adalah Muhammad. Perintahnya penuh
kepastian, hikmahnya penuh kebaikan, sifatnya penuh kemuliaan, dan aspirasinya penuh
keunikan.

9. Maha Suci Allah! Adakah yang lebih nyata, lebih tampak, lebih agung, lebih masyhur,
lebih kemilau, lebih perkasa ataupun cendekia, yang lebih darinya? Ia sungguh telah
dikenal sebelum penciptaan sesuatu, yang ada, juga semesta. Ia senantiasa diingat sebelum
adanya sebelum dan setelah adanya setelah, juga sebelum ada substansi dan kualitas.
Substansinya adalah cahaya semata, ucapannya adalah nubuwah, hikmahnya adalah
wahyu, gaya bahasanya adalah Arab, kesukuannya adalah tiada Timur dan tiada Barat
[Q. 24: 35], silsilahnya adalah garis kebapakan, misinya adalah damai, dan sebutannya
adalah ummi (awam).

10. Segenap mata terbuka dengan isyaratnya, segenap rahasia dan segenap jiwa terasa dengan
kehadirannya yang ada. Adalah Allah yang membuatnya fasih menghafalkan rangkaian
Firman-Nya, dan menjadi Bukti (Al-Hujjah) yang meneguhkannya. Juga Allah yang
mengutusnya, dan ia adalah Bukti senyatanya Bukti. Adalah ia yang memuaskan
dahaga hati pedamba yang kehausan, yang tidak tersentuh apa pun, tidak terkatakan
lidah, tidak juga terekayasa, yang menyatu dengan Allah tanpa terpisahkan, bahkan jauh
di luar jangkauan pikiran. Pokoknya ia yang mengabarkan adanya akhir, dan akhirnya
akhir, serta akhir-akhirnya akhir.

11. Ia singkapkan awan, dan menunjuk ke Rumah Suci (Bayt al-Haram). Ia adalah
pembeda, bahkan ia adalah panglima perang. Adalah ia yang diperintah untuk
meluluhlantakkan berhala-berhala, juga ia yang diutus kepada ummat manusia untuk
membasmi pemujaan.

12. Di atasnya awan bergemuruh menyambarkan kilat, dan di bawahnya kilat menyambar
gemuruh, berkilatan, mencurahkan hujan, serta menyuburkan. Segenap pengetahuan
hanyalah setetes dari samuderanya, segenap kearifan hanyalah secauk dari bengawannya,
dan segenap waktu hanyalah sesaat dari masanya.

13. Allah (ada) bersamanya, dan bersamanya adalah hakikat. Ia yang pertama dalam
kesatuan (penciptaan) dan terakhir yang diutus sebagai Rasul, yang hakikatnya bersifat
batin, dan marifatnya bersifat lahir.

14. Tiada seorang pakar pun yang pernah mencapai hikmahnya, bahkan para filsuf niscaya
tersadar atas kearifannya.

15. Allah tidak menyerahkan [hakikat-Nya] itu kepada makhluk-Nya, sebab ia adalah ia,
dan ia adanya bersama Dia, sedangkan Dia adalah Dia.

16. Tidak ada apa pun yang keluar dari Mim ( )-nya Muhammad ( ), dan tidak ada
yang masuk ke Ha ( )-nya. Adapun Ha ()-nya sebagaimana Mim ()-nya yang
kedua, sedangkan Dal ()-nya seperti Mim ()-nya yang pertama. Mim ()-nya yang
pertama adalah peringkat (maqam)-nya, serta Ha ()-nya adalah
keadaan (hal) spritualnya, sebagaimana Mim ( )-nya yang kedua.

17. Allah membuat bicaranya jelas, menambah nilainya, dan membuat bukti (hujjah)-
nya dikenal. Dia menurunkan wahyu Pembeda [Al-Furqan] kepadanya. Dia membuat
lidahnya fasih, dan Dia membuat hatinya terang. Dia membuat ummat sezamannya tidak
mampu [memalsu Al-Quran].Dia pun mengakui kejelasannya, dan memuji kemuliaannya.

18. Andaikan kau melarikan diri dari kewenangan syariat-nya, adakah jalan (lain) yang
dapat kau tempuh, tanpa adanya pembimbing, hai orang yang malang? Ketahuilah, segenap
fatwa para filsuf berantakan, seperti gundukan pasir, dibandingkan hikmahnya.


__________________________________________________





Thasin Al Fahm (Pemahaman)

1. Pemahaman tentang alam-makhluk tidak terkait dengan hakikat, dan hakikat tidak juga
terkait dengan alam-makhluk. Pemikiran [yang asal-terima] adalah taqlid, dan taqlid-nya
alam-makhluk tidak ada keterkaitannya dengan hakikat. Pengertian tentang hakikat itu
sulit dicapai, makanya betapa lebih sulit lagi mencapai pengertian tentang hakikatnya-
Hakikat (Allah). Apalagi, Allah itu di luar hakikat, dan hakikat tidak dengan
sendirinya menyatakan 'ada'-Nya Allah.

2. Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar. Lalu, ia kembali ke teman-
temannya, dan menceritakan keadaan (hal) spiritualnya dengan ungkapan yang penuh
kesan. Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api dalam hasratnya untuk mencapai
Penyatuan (Tawhid) yang sempurna.

3. Cahayanya nyala api adalah Pengetahuan ('llm) hakikat, panasnya adalah
Kenyataan ('Ayn) hakikat, dan Penyatuan dengannya adalah Kebenaran (Haqq) hakikat.

4. Ia merasa tidak puas dengan cahayanya ataupun dengan panasnya, sehingga ia melompat ke
dalam nyala api langsung. Sementara itu, teman-temannya menantikan kedatangannya,
supaya ia menceritakan kepada mereka tentang 'penglihatan' aktualnya, karena ia merasa
tidak puas dengan kabar angin saja. Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas sirna (fana'),
musnah dan buyar ke dalam serpihan-serpihan, yang tersisa tanpa wujud, tanpa jasad
ataupun tanda pengenal. Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia dapat kembali ke teman-
temannya? Dan, keadaan (hal) spiritual apa yang tengah dicapainya sekarang? Ia yang
sampai pada pandangan (bashirah) batin niscaya sanggup terlepas dari pekabaran saja.
Juga ia yang sampai pada inti pandangan batin tidak lebih prihatin tentang pandangan
batinnya.

5. Pemaknaan (masalah) ini tidak menyangkut manusia yang alpa, tidak juga manusia yang
maya, atau manusia yang penuh dosa, ataupun manusia yang menuruti hawa-nafsunya
semata.

6. Wahai kau yang ragu-ragu! Jangan persamakan 'aku' (insani) dengan 'Aku' Ilahi --
janganlah sekarang, janganlah di masa depan nanti, janganlah pula di masa lampau dulu.
Bahkan, kendatipun 'aku' itu merupakan pencapaian seorang 'Arif, kendatipun ini
merupakan keadaan (hal) spiritual, namun itu bukanlah kesempurnaan. Kendatipun 'aku'
adalah milik-Nya, namun 'aku' bukanlah Dia.

7. Bila kau memahami ini, maka pahamilah juga bahwa pemaknaan (masalah) itu bukanlah
kebenaran bagi siapa pun kecuali (bagi) Muhammad (shalallahu 'alaihi wasallam), dan
"Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang kerabatmu" (Q. 33: 40) tapi Rasulullah
(Utusan Allah) dan penutup para nabi (khatam an-nabiyyin). Ia mem-fana'-kan dirinya
dari manusia dan jin, serta memejamkan matanya ke (arah) 'mana' pun, hingga tidak lagi
tersisa kepalsuan hati ataupun kemunafikan.

8. Ada suatu "jarak sepanjang dua busur" lebarnya (Q. 53: 9), atau lebih dekat lagi, saat ia
mencapai gurun Pengetahuan hakikat, dan "ia beritahukan hal itu dari hati
lahirnya (fu'ad)" (Q. 53: 10). Ketika sampai pada Kebenaran hakikat, ia menanggalkan
hasratnya di situ, dan mempersembahkan dirinya naik ke Hadirat Sang Pengasih. Setelah
mencapai Kebenaran (Allah), ia pun kembali sambil berkata: "Hati-batinku bersujud
kepada-Mu, dan hati-lahirku beriman kepada-Mu." Ketika mencapai Pohon-Batas
Penghabisan, ia berkata: "Aku tidak dapat memuji-Mu sebagaimana mestinya Engkau
dipuji." Dan, ketika mencapai Kenyataan hakikat, ia berkata: "Hanya
Engkau Sendiri yang dapat memuji Diri-Mu." Ia menanggalkan lagi hasratnya, dan
menuruti panggilan tugasnya, "hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya" (Q.
53:11) di maqam dekat Pohon-Batas-Terjauh (Sidrat al-Muntaha). (Q. 53:14) Ia tidak
berpaling ke kanan, ke arah hakikat sesuatu, tidak juga ke kiri, ke arah Kenyataan
hakikat. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak berkisar daripada menyaksikan Dengan
tepat (akan pemandangan Yang indah di situ Yang diizinkan melihatnya), dan tidak pula
melampaui batas." (Q. 53: 17)

__________________________________________________












Thasin Al Shafa (Kebeningan)


1. Hakikat itu adalah sesuatu yang sangat halus, dan sulit menguraikannya. Jalan untuk
menempuhnya sempit, dan tentang jalannya itu, seorang penempuh (salik) harus mengarungi
'kobaran api' di tengah gurun yang dalam. Seorang asing (gharib) telah mengikuti jalan ini,
dan menyampaikan bahwa apa yang dialaminya ada empat puluh Maqam, yaitu:
1. Kesopansantunan ['adab],
2. Kegentarhatian [rahab],
3. Kejerihpayahan [nashab],
4. Penuntutan-diri [thalab],
5. Ketakjuban ['ajab],
6. Peniadaan ['athab],
7. Pemujaan [tharab],
8. Pendambaan [syarah],
9. Penjernihan [nazah],
10. Kelurusan [shidq],
11. Persahabatan [rifq],
12. Persamaan [litq],
13. Keberangkatan [taswih],
14. Penghiburan [tarwih],
15. Ketajaman [tamyiz],
16. Penyaksian [syuhud],
17. Keberadaan [wujud],
18. Penghitungan ['add],
19. Pengupayaan [kadda],
20. Pemulihan [radda],
21. Perluasan [imtidad],
22. Pengolahan [i'dad],
23. Penyendirian [infirad],
24. Pengendalian [inqiyad],
25. Kemauan [murad],
26. Kehadiran [hudur],
27. Pelatihan [riyadhah],
28. Kehati-hatian [hiyathah],
29. Penyesalan [iftiqad],
30. Kedayatahanan [istilad],
31. Pengawasan [tadabbur],
32. Keterkejutan [tahayyur],
33. Perenungan [tafaqqur],
34. Kesabaran [tashabbur],
35. Penafsiran [ta'abbur],
36. Penolakan [rafdh],
37. Pengoreksian [naqd],
38. Pengamatan [ri'ayah],
39. Pembimbingan [hidayah],
40. Permulaan-jalan [bidayah].
Maqam terakhir ini adalah maqam-nya orang-orang yang Hatinya tenang dan suci (shufi).

2. Tiap maqam memiliki keadaan (hal) spiritualnya sendiri sebagai pahalanya, yang
sebagiannya mungkin diperoleh dan sebagian lainnya tidak.

3. Adapun sang Gharib yang telah mengharungi gurun (hakikat) dan menyeberanginya, telah
mencakupnya serta memahaminya secara keseluruhan. Ia tidak memperoleh sesuatu yang
lazim ataupun biasa, tidak di gunung ataupun di darat.

4. "Ketika Musa (as) menunaikan tugasnya", ia meninggalkan ummatnya karena hakikat
akan merengkuhnya sebagai 'milik'-Nya. Tapi, masih juga ia berpuas dengan penerangan
semu tanpa pandangan (bashirah) batin langsung, sehingga ada perbedaan antara ia dan
sang Insan Kamil [Muhammad saw]. Karena itu ia (Musa as) berkata: "Siapa tahu aku
dapat membawa sedikit penerangan untukmu." [Q. 20: 10]

5. Andaikan sang Pembimbing Utama puas dengan penerangan semu, bagaimana dapat
seseorang yang menempuh jalan (thariqah) tidak mencukupkan dirinya dengan jejak semu.

6. Dari Semak yang Terbakar, di Bukit Sinai, apa yang kedengarannya difirmankan Semak
bukanlah dari Semak atau belukarnya, tetapi (firman) Allah.

7. Dan peranan 'aku' adalah seperti 'Semak' itu.

8. Jadi, hakikat adalah 'hakikat' dan makhluk adalah 'makhluk'. Makanya buanglah sifat
kemakhlukanmu, supaya kau sesuai dengan-Nya, beserta Dia -- kau pun dalam liputan
hakikat.

9. 'Aku' sejati adalah subyek, dan obyek yang terurai adalah subyek dalam hakikatnya.
Soalnya adalah bagaimana itu terurai?

10. Allah berfirman kepada Musa (as): "Kau bimbinglah (ummatmu) pada Bukti (al-
Hujjah)," tapi bukan pada Obyeknya Bukti. Adapun bagi-Ku, Aku adalah 'Bukti' dari
setiap bukti.

11. Allah membuatku melampaui apa adanya hakikat dengan kesepakatan, perjanjian, dan
persekutuan. Rahasiaku adalah penyaksian (syahadah) langsung tanpa (keikutsertaan)
pribadi makhlukku. Itulah rahasiaku, dan inilah hakikat.

12. Allah memfirmankan pengetahuanku melalui 'aku' dari hatiku. Dia menarikku dekat
pada-Nya setelah jauh dari-Nya. Dia membuat aku menjadi Sahabat (Waly)-Nya, Dia
memilih aku
_________________________________________________















Thasin Al Dairah (Lingkaran)












1. Pintu ba () pertama melambangkan seseorang yang menjangkau lingkaran Kebenaran.
Pintu ba () kedua melambangkan orang yang menjangkaunya, yang setelah
memasukinya, sampailah ia ke pintu yang tertutup. Pintu ba () ketiga melambangkan
seseorang yang tersesat di gurun Sifatnya-Kebenaran.

2. Ia yang memasuki lingkaran itu jauh dari Kebenaran, sebab jalannya terjegal dan sang
penempuh (salik) disuruh kembali. Adapun noktah di atas melambangkan hasratnya.
Noktah yang lebih bawah melambangkan kembalinya ke titik-tolaknya, dan noktah di
tengah adalah kebingungannya.

3. Lingkaran dalam tidak memiliki pintu ba (), dan titik yang ada di dalamnya adalah
pusat Kebenaran.

4. Makna tentang Kebenaran adalah yang darinya, baik lahir maupun batin, tidak ada yang
luput. Dan, ia pun tidak direkayasa.

5. Andaikan kau berhasrat memahami apa yang aku terangkan ini.ambillah empat
ekor burung, cincanglah buatmu, (QS. 2: 260) sebab Al-Haqq (Allah) tak-terbang.

6. Adalah kecemburuan-Nya yang membuat ia tampak, setelah Dia menyembunyikannya.
Adalah keterpesonaan yang menjaga keterpisahan kita. Adalah kebingungan yang
mencabut kita dari-Nya.

7. Inilah makna tentang Kebenaran. Ia lebih licin dari lingkaran Asal, ataupun rancangan
Bidang. Dan, yang lebih licin lagi adalah memfungsikan kearifan secara batin, karena
ketersembunyiannya (Kebenaran) dari khayalan.

8. Ini karena sang pengkaji hanya mengkaji lingkaran dari wilayah luar, bukannya dari
wilayah dalam.

9. Adapun tentang pengetahuannya-pengetahuan Kebenaran, sang pengkaji tidak
memahaminya, karena ia tidak mampu. Pengetahuan menunjukkan tempat, sedang
lingkaran itu tempat yang terlarang [haram].

10. Makanya mereka menamakan Sang Rasul (saw): Haramy, sebab hanya ia seorang yang
keluar dari Lingkarang Haram itu.

11. Ia penuh kegentaran dan keterpesonaan, serta mengenakan jubah Kebenaran. Ia keluar dan
menyerukan Ah!!! () kepada segenap makhluk.

_________________________________________________













Thasin Al Nuqtah (Titik)

1. Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik AzaliyAda yang lebih
halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik Azaliy yang berupa Asal, dan yang
(keberadaannya) tidak bertambah ataupun berkurang, tidak juga habis sirna dirinya.

2. Orang yang mengangkal keadaan (hal) batinku telah menyangkalnya, karena tidak
mengetahui aku, malah menyebutku bidah. Dituduhnya aku dengan sebutan Iblis, serta
dianggapnya kekeramatanku sebagai praktik perdukunan, juga demikian terhadap
lingkaran suci yang berada di luarnya-luar jangkauan, yang dicemoohkannya.

3. Orang yang menjangkau lingkaran kedua membayangkan aku menjadi sang Pemangku
Ilham.

4. Orang yang menjangkau lingkaran ketiga mengira aku berada di bawah pengaruh nafsu.

5. Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran melupakan aku, bahkan perhatiannya
beralih dariku.

6. Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pelindung pun. Pada hari itu hanya Tuhan
penolongmu untuk kembali. Juga pada hari itu setiap manusia akan diberi tahu tentang
perbuatan yang didahulukannya dan yang dilalaikannya. (QS. 75: 11-13)

7. Namun, umumnya manusia berpaling pada pernyataan semu, melarikan diri pada sang
pelindung, mengkhawatiri pertanda-pertanda, tujuan hidupnya terpedaya, dan akibatnya
tersesat.

8. Aku terisap ke kedalaman samudera kelanggengan (baqa). Dan, orang yang menjangkau
lingkaran Kebenaran itu sibuk di pantai samudera pengetahuan dengan pengetahuannya
sendiri, luput pandangan (bashirah) batinnya dariku.

9. Aku melihat sejenis burung khasysy dari pribadi Shufi yang terbang dengan dua
sayap Tashawuf. Ia menyangkal kekeramatanku, sebagaimana ia terus membumbung
dalam penerbangannya.

10. Ia menanyai aku tentang kesucian-batin, dan aku menjawabnya: Pangkaslah sayapmu
dengan gunting penyirnaan-diri (fana). Kalau tidak, kau tidak dapat mengikuti aku.

11. Ia berkata kepadaku: Aku terbang dengan sayapku menuju Kekasihku. Aku katakan
kepadanya: Hati-hati buat kau! Sebab, tidak ada yang menyerupai-Nya. Hanya Dia
sang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka, seketika itu ia jatuh ke samudera
kearifan dan hilang tenggelam.

12. Orang dapat menggambarkan samudera kearifan sebagai berikut:








Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku, aku menyapa: Siapakah Engkau? Dia
menjawab: Kau! Namun, bagi-Mu, di mana tidak memiliki tempat. Dan, tidak ada di
mana ketika perhatian hanya menyangkut-Mu. Akal pun tidak punya bayangan tentang
keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu, yang memungkinkan akal mengetahui di
mana adanya Engkau. Engkau adalah Sesuatu yang meliputi setiap di mana,
mengatasi titik yang tak di mana-mana. Jadi, di mana Engkau adanya?

13. Sebuah titik-tunggal yang unik dari lingkaran (titik-titik), menandakan beragamnya
anggapan tentang kearifan. Adalah sebuah titik-tunggal saja yang dirinya berupa
Kebenaran, sedangkan sisanya merupakan kekeliruan.

14. Ia begitu dekat saat kenaikannya (miraj) ia tampak kembali saat kemuncakannya
(transenden). Karena pencarian, ia begitu dekat. Karena kegairahan, ia tampak kembali.
Ia menanggalkan hatinya di sana, dan begitu dekat kepada-Nya. Ia
sirna (fana) ketika melihat Allah, kendati demikian ia tidak sampai tuntas sirna (fana
ul-fana). Bagaimana mungkin ia hadir sekaligus tak-hadir? Bagaimana mungkin pula ia
tampak dan sekaligus tak-tampak?

15. Dari ketakjuban ia melintas ke pencerahan, dan dari pencerahan ke ketakjuban. Dengan
kesaksian Allah, ia menyaksikan Allah. Ia sampai dan sekaligus pisah. Ia mencapai
Pujaan-Nya, dan terputus dari hatinya. Hatinya tidak berdusta tentang apa yang
dilihatnya. (QS. 53: 11)

16. Allah menyembunyikannya ketika membuatnya begitu dekat. Dia mengangkatnya dan
menyucikannya. Dia membuatnya dahaga dan menyegarkannya. Dia menyucikannya dan
memilihnya. Dia menyerunya dan memerintahkannya. Dia menimpainya Cobaan dan
menjenguknya untuk membantunya. Dia mempersenjatainya dan mendudukkannya di atas
pelana.

17. Ada sebuah jarak dari satu rentangan busur, dan ketika ia kembali, ia pun mencapai
sasarannya. Ketika diseru, ia menjawabnya merasa dilihat, ia rendahkan dirinya.
Karena minum, ia merasa puas. Karena mendekat, ia dicekam keterpesonaan. Dan,
karena keterpisahan dirinya dari Kota serta para pembantunya, ia pun terpisah dari
bisikan nurani, dari pandangan, juga dari lamunan makhluk.

18. Sahabatmu tidak tersesat, (QS. 53: 2) ia tidak lemah atau bertambah sedih. Matanya
tidak goyah atau lelah oleh suatu Saat dari sejatinya masa.

19. Sahabatmu tidak tersesat dalam tafakurnya mengenai Kami. Ia tidak menyeberang
dalam kunjungannya kepada Kami, tidak juga melanggar terhadap Risalah Kami. Ia
tidak membandingkan Kami dengan yang lain kalau membicarakan Kami. Ia tidak
menyimpang di taman zikir dalam tafakurnya mengenai Kami, tidak juga tersesat dalam
pengembaraan di alam fikir.

20. Cukuplah ia mengingat Allah (zikrullah) dalam tarikan nafasnya, dan kerdipan
matanya. Bertawakkal kepada-Nya dalam kesusahan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

21. Ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, (QS. 53: 4) dari Cahaya
ke Cahaya.

22. Ubahlah bicaramu! Kosongkan dirimu dari khayalan, angkatlah kakimu tinggi-tinggi dari
manusia serta makhluk lainnya. Bicaralah tentang Dia dengan selaras dan sekadarnya!
Jadilah berghairah, dan tenggelamlah dalam keghairahanmu. Ketahuilah bahwa kau
akan terbang melampaui gunung dan lembah, gunung kesadaran dan lembah perlindungan,
agar melihat Dia yang kau puja-puja. Dan, puasa wajib pun berakhir dengan datang ke
Rumah Suci (Kabah).

23. Maka, ia begitu dekatnya kepada Allah, seperti seorang asyiq yang memasuki Masyuq.
Selanjutnya ia memaklumkan bahwa itu terlarang. Itu seperti sebuah rintangan yang lebih
dari cukup untuk melemahlunglaikan. Ia melintas dari Maqam Pembersihan
ke Maqam Pencelaan, dan dari Maqam Pencelaan ke Maqam Kedekatan. Ia begitu dekat
sebagai pencari, dan ia kembali secara berlari. Ia begitu dekat sebagai pendoa, dan ia
kembali sebagai Abdi. Ia begitu dekatnya sebagai penyeru, dan kembali
dengan baiat sebagai Qarib-Nya Ilahi. Ia begitu dekatnya sebagai seorang saksi, dan
kembalinya sebagai ahli tafakur.

24. Jarak di antara keduanya adalah dua rentangan busur. Ia membidik tanda di
mana [ayna] dengan panah di antara [bayna]. Ia menyatakan bahwa ada dua rentangan
busur untuk menetapkan ketepatan tempat-nya, baik karena tiada terlukiskannya sifat
Zat, atau karena serasa lebih akrab pada Zatnya-Zat.

25. Sang Faqir yang Luar dari Biasa (Khariq ul-Addah) Al-Husain ibn Manshur Al-
Hallaj, berkata:

26. Aku tidak percaya bahwa ungkapan kita di sini dapat dipahami, kecuali untuk orang
yang sampai pada rentangan busur kedua, yang adanya melampaui Lembaran yang
Terjaga [Lawh ul-Mahfudz].

27. Itulah suratan yang tidak mempergunakan huruf Arab ataupun Persia.

28. Kecuali satu huruf saja, yaitu huruf mim ( ), yang merupakan huruf pertanda apa
yang ia pancarkan.

29. Mim ( ) yang menandakan Yang Terakhir.

30. Mim ( ) yang juga merupakan untaian Yang Terawal. Rentangan busur pertamanya
adalah Alam Kegagahan (Jabarut), dan yang keduanya
adalah Alam Kerajaan (Malakut). Sedangkan Sifat-Nya adalah untaian dua Alam itu.
Serta Zat-Nya yang Khusus Beriluminasi (tajalliy khasysy) adalah panah yang Mutlak,
panahnya dua rentangan.

31. Panahnya itu dari Seseorang yang menyalakan api Iluminasi (tajalliy).

32. Dia berfirman bahwa kepantasan dari pembicaraan adalah yang pengertiannya merupakan
gambaran kedekatan. Adapun sang Firman dari pemaknaan ini adalah Kebenaran Allah,
bukan metode ciptaan-Nya. Dan, kedekatan ini juga hanya berlaku dalam lingkaran
ketepatan yang amat sangat tepat.

33. Kebenaran dan Kebenarannya-Kebenaran (Allah) ini terdapat dalam halusnya perbedaan,
lewat pengalaman sebelumnya, dengan memakai penangkal yang dibuat oleh sang pecinta,
untuk membalas keterputusannya dengan segenap kecintaan (makhluk), di pelananya yang
sampai secara berbarengan, karena bahaya terus mengancam, serta tajamnya perbedaan,
yang diatasinya dengan ayat pembebasan. Inilah jalan (shufi) yang terpilih dalam
memperhatikan Diri pribadi. Dan, kedekatannya terlihat sebagai areal luas, agar sang
arif (irfan) yang taat mengikuti jalannya tradisi nubuwah ini dapat dipahami adanya.

34. Sang Junjungan Yatsrib (Muhammad), shalawat dan salam atasnya, memaklumkan
keagungan yang kerasukan jiwa anggun ini, yang tak-tergugat, yang terawat dalam Kitab
Tersembunyi (QS. 56: 78), sebagaimana Dia menyatakannya dalam Kitab (alam)
Terbuka, dalam Kitab Tertulis yang menerangkan makna bahasa burung, ketika Dia
mengangkatnya ke sana.

35. Apabila kau memahami ini, hai pecinta, pahamilah bahwa Tuhan tidak berbicara kecuali
dengan Diri-Nya, atau dengan Sahabat-Nya (waly).

36. Untuk menjadi Sahabat-Nya, janganlah punya Guru ataupun Murid. Jadilah tanpa
pilihan, tanpa perbedaan, tanpa kepura-puraan atau sok-nasihat, jangan mengakui sesuatu
itu miliknya atau darinya. Tapi, apa yang ada padanya cukuplah sebagai apa yang
ada padanya, tanpa merasa adanya itu padanya, sebagaimana gurun tanpa air di suatu
gurun tanpa air, juga sebagaimana pertanda di suatu pertanda.

37. Wacana umum mengalihartikan maknanya. Makna pun mengalihartikan maksudnya,
sedangkan maksudnya terlihat dari kejauhan. Jalannya sulit, namanya agung, tampilannya
unik. Pengetahuannya adalah ketidaktahuan, ketidaktahuannya adalah kebenaran
tunggal, keawamannya adalah sumber rahasianya. Namanya adalah Jalannya, karakter-
lahirnya adalah kehangatannya, dan perlambang-batinnya adalah kegairahannya.

38. Hukum syariat [syariy] adalah ciri-khasnya, kebenaran [haqaiq] adalah gelanggangnya
dan keagungannya. Jiwanya adalah serambinya, Syaitan adalah pengajarnya, dan setiap
musafir yang ada dijadikannya sebagai kerabatnya. Keinsanan adalah nuraninya,
kerendahhatian adalah kemuliaannya, kefanaan adalah subyek zikir-nya, istri adalah
tamansarinya, dan fananya-fana adalah singgasananya.

39. Pelindungnya adalah perlindunganku, prinsipnya adalah peringatanku, syafaatnya adalah
permohonanku, karunianya adalah persinggahanku, dan duka-citanya adalah
kesedihanku.

40. Pewarisannya adalah kedai tempat minum-(ku), lengan bajunya bukan apa-apa kecuali
sekadar pengelap debu-(ku). Ajarannya adalah dasar pijakan keadaan (hal) batinnya,
sedangkan keadaan batinnya adalah kefanaan. Kendati demikian, sembarang
keadaan (ahwal) lainnya dapat menjadi obyek kemurkaan Allah. Makanya cukuplah ini,
semoga rahmat Allah besertamu.

Thasin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita
Eterniti/Keabadian dan Kekeliruan pemahaman)


[: Untuk ia yang 'arif, dalam ke'arifannya-ke'arif saat berhubungan dengan wacana publik
tentang apa yang logis dalam memperhatikan tujuan...]

1. Sang Faqir, Abu Mughits (Al-Hallaj), semoga Allah merahmatinya, berkata: "Tidak ada
misi yang tangguh kecuali yang diemban Iblis dan Muhammad,
shalawat dan salam atasnya. Hanya, Iblis terjatuh dari Zat, dan Muhammad merasakan
Zatnya-Zat."

2. Telah dikatakan kepada Iblis: "Sujudlah!" (QS. 2: 34) dan kepada Muhammad:
"Tengoklah!" (QS. 53: 13) Namun, Iblis tidak bersujud, dan Muhammad pun tidak
menengok. Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri, "Matanya tidak celingukan, tidak
juga jelalatan." (QS. 53: 17)

3. Sementara Iblis, setelah menyatakan misinya, ia tidak kembali ke kemampuan awalnya.

4. Sedangkan Muhammad, ketika menyatakan misinya, ia kembali ke kemampuannya.

5. Dengan pernyataan ini: "Bersama Engkau semata aku merasa bahagia, dan kepada
Engkau semata aku mengabdikan diriku." Dan: "Wahai Engkau yang membolak-balik
hati." Serta: "Aku tidak tahu bagaimana memuji-Mu sebagaimana mestinya Engkau
dipuji."

6. Di antara penghuni surga tidak ada pemuja sekaligus peng-Esa (Tawhid) yang seperti Iblis.

7. Karena Iblis 'di situ' telah 'melihat' penampakan Zat Ilahi. Ia pun tercegah bahkan dari
mengedipkan mata kesadarannya, dan mulailah ia memuja Sang Esa Pujaan dalam
pengasingan khusyuknya.

8. Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda, dan ia didakwa ketika menuntut
kesendirian (Allah) mutlak.

9. Allah berfirman kepadanya: "Sujudlah (kepada Adam as)!" Ia menjawab: "Tidak,
kepada yang selain Engkau." Dia berfirman lagi kepadanya: "Bahkan, apabila kutuk-Ku
jatuh menimpamu?" Ia menjawab lagi: "Itu tidak akan mengazabku!"

10. "Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu, dan alasanku (ingkar) niscaya
melanggar bagi-Mu. Tetapi, apalah Adam dibandingkan dengan-Mu, dan siapalah aku --
Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!"

11. Ia jatuh ke Samudera Keluasan, ia menjadi 'buta', dan berkata: "Tidak ada jalan bagiku
kepada yang lain selain dari-Mu. Aku pecinta yang 'buta'!" Dia berfirman kepadanya:
"Kau telah takabur!" Ia menjawab: "Apabila ada satu saja kilasan pandang di antara
kita, itu cukup membuatku sombong dan takabur. Kendati begitu, aku adalah 'ia' yang
mengenal-Mu sejak ke-baqa'-an masa Terdahulu, dan "aku lebih baik daripadanya" (QS.
7: 12), sebab aku lebih lama mengabdi kepada-Mu. Tidak ada satu pun, di antara dua
jenis makhluk (Adam dan Iblis) ini, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripadaku!"
"Ada Kehendak-Mu bersamaku, dan ada kehendakku bersama-Mu, sedangkan keduanya
mendahului Adam. Apabila aku bersujud kepada yang selain Engkau, ataupun tidak
bersujud, niscaya harus bagiku untuk kembali ke asalku. Karena Engkau menciptakan
aku dari api, dan api kembali ke 'api', menuruti keseimbangan (sunnah) dan pilihan yang
adanya milik-Mu."

12. "Tidak ada jarak dari-Mu padaku, karena aku yakin bahwa jarak dan kedekatan
itu 'satu'!" "Bagiku, apabila aku dibiarkan, pengabaian-Mu justru menjadi mitraku.
Jadi, seberapa pun jauhnya lagi, pengabaian dan cinta tetap 'menyatu'!" "Terpujilah
Engkau, dalam taufiq-Mu dan Zat-Mu yang tiada terjangkau, bagi sang pemuja setia ini,
yang tiada bersujud ke yang selain Engkau!"

13. Musa (as) bertemu Iblis di lereng Bukit Sinai, dan bertanya kepadanya: "Hai Iblis, apa
yang mencegahmu dari bersujud?" Ia (Iblis) menjawab: "Yang mencegahku adalah
pernyataan ikrarku mengenai Sang Pujaan yang Unik. Dan, jika aku bersujud, aku akan
menjadi sepertimu. Karena kau hanya perlu dipanggil sekali, "Tengoklah ke gunung," kau
langsung menengok. Sementara aku, aku telah dipanggil ribuan kali untuk menyujudkan
diriku kepada Adam, aku tidak bersujud, karena aku bersiteguh
dengan 'Tujuan' Ikrarku."

14. Musa (as) bertanya: "Kau membangkangi perintah?" Iblis pun menjawab: "Itu sebuah
ujian, bukannya perintah." Musa bertanya lagi: "Tanpa dosa? Kendati wajahmu berubah
begitu?" Iblis menyahut: "Hai Musa, keadaanku ini sekadar kemenduaan dari
penampilan-lahir, sementara keadaan (hal) spiritualku tidak bergantung atasnya, bahkan
tidak berubah. Ma'rifat tetaplah benar sebagaimana pada awalnya, dan itu tidak berubah
kendatipun pribadinya berubah."

15. Musa (as) bertanya: "Adakah kau mengingat-Nya (zikir) sekarang?" "Hai Musa,
pikiran yang murni tidak membutuhkan daya-ingat, -- dengan itu aku mengingat (Dia) dan
Dia mengingat (aku). Ingatan-Nya adalah ingatanku, dan ingatanku adalah ingatan-Nya.
Bagaimana mungkin, ketika kami saling mengingat, kami berdua berlainan satu sama
lain?" "Pengabdianku sekarang lebih murni, waktuku lebih lapang, ingatanku lebih agung,
sebab aku mengabdi kepada-Nya secara mutlak demi keberuntunganku, bahkan sekarang
aku mengabdi kepada-Nya demi Diri-Nya."

16. "Aku mencabut keserakahan dari segenap apa pun yang mencegahku atau menahanku,
baik demi kerugian ataupun keuntungan. Dia mengasingkanku, membuatku mabuk-
kepayang, melinglungkanku, mengeluarkanku, sehingga aku tidak dapat berpadu dengan
para ruh suci. Dia menjauhkanku dari yang lain, sebab kecemburuanku (kepada-Nya)
supaya Dia Sendiri saja. Dia mengubahku, sebab Dia mengagumiku. Dia mengagumiku,
sebab Dia membuangku. Dia membuangku, sebab aku pengabdi. Dan, menempatkanku
dalam ahwal terlarang disebabkan kemitraanku. Dia mempertunjukkan kekurangan
nilaiku disebabkan aku memuji Keagungan-Nya. Dia menyederhanakanku dengan sehelai
kain ihram disebabkan kehajianku [hijya]. Dia membiarkanku disebabkan 'penemuan'-
ku atas-Nya dalam zikir. Dia menyingkapkan (kasyf) hijabku disebabkaan penyatuanku.
Dia mempenyatukanku disebabkan Dia memencilkanku. Dan, Dia memencilkanku
disebabkan Dia mencegah hasratku."

17. "Dengan Kebenaran-Nya, maka aku tidak salah dalam memperhatikan titah-Nya,
bukannya aku menolak takdir. Aku tidak peduli sama sekali tentang perubahan wajahku.
Aku hanya menjaga keseimbanganku (sunnah) melalui hukuman ini."

18. "Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang masa, aku tetap tidak akan
bersujud kepada sesuatu (selain-Nya). Aku tidak akan merundukkan diriku kepada
pribadi atau jasad (Adam as), sebab aku tidak mengaku berlawanan dengan-Nya!
Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang yang khusyuk dalam 'cinta'!"

19. Al-Hallaj berkata: "Ada beragam teori yang berkenaan dengan keadaan (hal)
spiritualnya 'Azazyl () [sebutan Iblis sebelum kejatuhannya]. Seseorang
mengatakan bahwa ia ditugaskan dengan misi di surga, serta dengan suatu misi (lainnya) di
bumi. Di surga ia berkhutbah kepada malaikat, menunjukinya tentang amalan yang baik.
Dan, di bumi ia berkhutbah kepada manusia dan jin, menunjukinya tentang perbuatan
yang jahat."

20. "Sebab, seseorang tidak akan mengenali sesuatu kecuali dengan (mengenali) yang
sebaliknya. Sebagaimana dengan sutera putih halus, yang hanya dapat ditenun
dengan menggunakan lakan hitam di belakangnya -- makanya, malaikat
mempertunjukkan amalan baiknya, dan berkata simbolis, "Jika kau beramal, kau akan
mandapat pahala." Namun, ia yang tidak mengenal kejahatan sebelumnya, niscaya tidak
dapat mengenali kebaikan."

21. Sang Faqir, Abu Umar Al-Hallaj, berkata: "Aku bersoal dengan Iblis dan Fir'aun
tentang kehormatan Sang Pemurah." Kata Iblis: "Jika aku bersujud, aku niscaya
kehilangan gelar kehormatanku." Dan, kata Fir'aun: "Jika aku beriman kepada Rasul
(Musa as) itu, aku niscaya terjatuh dari harkat kehormatanku."

22. Al-Hallaj pun berkata: "Jika aku memungkiri pengajaranku dan pernyataanku,
aku juga niscaya jatuh dari altar kehormatanku."

23. Tatkala Iblis berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)," maka ia tidak melihat
sesuatu pun selain dirinya. Tatkala Fir'aun berkata: "Aku tahu pun tidak bahwa kau
(Musa as) mempunyai Tuhan yang selain aku," ia tidak mengetahui bahwa sembarang
rakyatnya dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.

24. Jadi, aku (Al-Hallaj) berkata: "Andaipun kau tidak mengenal-Nya, maka kenalilah
pertanda-Nya. Akulah pertanda-Nya [tajally], dan akulah Sang Kebenaran (anal'-Haqq)!
Hal ini disebabkan aku tiada henti menyadari 'ada'-Nya Sang Kebenaran!"

25. Temanku adalah Iblis, dan guruku adalah Fir'aun. Iblis diancam dengan api dan tidak
mencabut pernyataannya. Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah tanpa mencabut
pernyataannya ataupun mengakui sembarang perantara (rasul). kendatipun begitu ia
berkata: "Aku beriman bahwa tiada Tuhan kecuali Dia yang diimani oleh Bani Isra'il."
(QS. 10: 90) Dan, bukankah kau melihat bahwa Allah pun menentang Jibril dalam
Keagungan-Nya? Dia berfirman: "Mengapa kau penuhi mulutmu dengan 'pasir'?"

26. Jadi, aku (akhirnya) dibunuh, digantung, tangan dan kakiku dipotong, tanpa aku
mencabut pernyataan tegasku!

27. Istilah Iblis diperoleh dari 'mutasi' nama pertamanya, 'Azazyl ().
'Ain'-nya () menunjukkan keluasan ikhtiarnya,
'zay'-nya () adalah bertambah kerapnya kunjungan (kepada-Nya),
'alif'-nya () sebagai jalan hidupnya dalam harkat-Nya,
'zay'-nya () yang kedua keasketisannya dalam derajat-Nya,
'ya'-nya () langkah pengembaraannya ke penderitaannya, dan
'lam'-nya () ketegarannya dalam kesakitannya.

28. Dia (Allah) berfirman kepadanya: "Kau tidak bersujud, hai yang nista!" Ia menjawab:
"Sebutlah lebih baik -- 'pecinta'!" Karena pecinta dianggap rendah, maka Engkau
menyebutku nista. Aku telah membaca dalam Kitab yang Nyata, wahai Sang Kuasa dan
Setia, bahwa hal ini akan terjadi padaku. Jadi, bagaimana mungkin aku menistakan
diriku kepada Adam, padahal Engkau menciptakannya dari tanah, sedangkan aku dari
api? Dua hal yang berlawanan tidak dapat diakurkan. Dan, aku telah mengabdi-Mu lebih
lama, juga memiliki kebajikan yang lebih luhur, pengetahuan yang lebih luas, serta aktivitas
yang lebih sempurna."

29. Allah, yang senantiasa terpujilah Dia, berfirman kepadanya: "Pilihan adalah milik-Ku,
bukannya milikmu." Ia menjawab: "Segenap pilihan, bahkan pilihan diriku, adalah milik-
Mu. Karena Engkau telah terpilih untukku, wahai Sang Khaliq. Jika Engkau
mencegahku dari bersujud kepadaanya (Adam as), Engkau adalah 'Sebab' pencegahan itu.
Jika aku khilaf berbicara, Engkau tidak membiarkanku, karena Engkau Sang Maha
Mendengar. Jika Engkau berkehendak aku bersujud kepadanya, aku niscaya taat. Aku
tidak mengetahui seorang pun di antara (makhluk) yang 'Arif, yang mengenal-Mu secara
lebih baik daripada aku."

30. Jangan persalahkan aku, ide kecaman jauh dariku, anugerahilah aku, wahai Penguasaku,
demi aku sendiri. Kalaupun dalam hal janji, janji-Mu itu sejatinya Kebenaran prinsip,
tentunya prinsip ikhtiarku juga kuat. Ia yang berhasrat menulis ikrarku ini, atau
membacanya, akan mengetahui bahwa aku (akhirnya) menjadi seorang Syahid!

31. Hai saudaraku! Ia (Iblis) disebut 'Azazyl karena ia dibebastugaskan ('uzyla),
dibebastugaskan dari kesucian purbanya. Ia tidak kembali dari asalnya ke akhirnya, sebab
ia tidak keluar dari akhirnya. Ia dibiarkan, dikutuk dari asalnya.

32. Upayanya untuk keluar pun gagal, disebabkan perasaan iba-dirinya. Ia mendapatkan
dirinya antara api tempat peristirahatannya dan cahaya posisi ketinggiannya.

33. Sumber air di darat adalah telaga yang rendah. Ia (Iblis) terazab kehausan di tempat yang
(airnya) berlimpah-ruah. Ia menangisi kesakitannya, karena api telah membakarnya.
Kekhawatirannya tidak lain hanyalah kepura-puraan, dan ke-'buta'-annya adalah kesia-
siaan -- itulah ia adanya!

34. Hai saudaraku! Andaikan kau mengerti, kau telah mempertimbangkan jalan sempit di
kesempitannya yang teramat sangat. Kau telah menunjukkan khayalan itu kepadamu
dalam kemusykilannya yang teramat sangat. Dan, kau akan menderita serta penuh
kegelisahan.

35. Kaum shufi yang paling terjaga pun tetap bungkam tentang Iblis, dan para 'arifin tidak
memiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang telah dipelajarinya (tentang Iblis).
Iblis lebih kuat daripada mereka dalam hal pemujaan, dan lebih dekat daripada mereka
kepada Sang Zat Wujud. Ia (Iblis) mengerahkan dirinya lebih dan 'lebih' setia pada
perjanjian, serta lebih dekat daripada mereka kepada Sang Pujaan.

36. Malaikat lain bersujud kepada Adam (as) karena dukungan (Allah), sedangkan Iblis
menolak (bersujud) karena ia telah 'tafakur' sekian lamanya.

37. Kendati begitu, keadaannya menjadi membingungkan, dan pikirannya kesasar, sehingga ia
berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)." (QS. 7: 12) Ia tetap di balik tabir,
tidak menghargai 'debu' (asal kejadian Adam as), dan mengusung kutukan di atas
pundaknya hingga Akhir Ke-'baqa'-an Masanya-Masa Ke-'baqa'-an nanti...

_________________________________________________



















Thasin Al Masyi-ah (Kehendak)













1. Inilah penggambaran tentang Taqdir Ilahi. Lingkaran ( o ) pertama adalah
Kehendak [masyiah] Allah, dan ( o ) kedua adalah Hikmah-Nya, serta ( o ) ketiga
adalah Kuasa-Nya, sedangkan ( o ) keempat adalah Ilmu-Nya yang Azaliy.

2. Iblis berkata: Bila aku memasuki lingkaran pertama, aku akan menempuh ujian dari
(lingkaran) yang kedua. Dan, bila aku melintas ke yang kedua, aku harus menempuh
ujian dari (lingkaran) yang ketiga. Bahkan, bila aku menyeberang ke yang ketiga, aku
mesti menempuh ujian dari (lingkaran) yang keempat.

3. Maka tidak (la), tidak (la), tidak (la), tidak (la), dan tidak (la)! Bahkan, bila
aku istirah di tidak pertamaku, aku pasti dikutuk sampai aku mengucapkan (tidak)
yang kedua, dan dibuang sampai aku mengucapkan (tidak) yang ketiga. Jadi, apakah
yang keempat berarti bagiku?

4. Kalaulah aku tahu bahwa bersujud (kepada Adam as) pasti menyelamatkan aku, aku
niscaya bersujud. Kendati demikian, aku tahu bahwa setelah lingkaran (pertama) itu ada
lingkaran-lingkaran (kedua, ketiga, dan keempat) lainnya. Dengan pemikiran begitu,
maka kukatakan kepada diriku: Kalaupun aku selamat dari lingkaran (pertama) ini,
bagaimana dapat aku keluar dari (lingkaran) yang kedua, yang ketiga, dan yang keempat?

5. Adapun Alif ( ) dari La ( ) yang kelima adalah Dia Tuhan, Sang Hidup.
(QS. 2: 255)

_________________________________________________


Thasin Al Tauhid (Keesaan)


1. Dia Allah, Sang Maha Hidup (Al-Hayy).

2. Allah adalah Sang Esa, Unik, Sendiri, dan saksi sebagai yang Satu.

3. Sekaligus, Sang Esa dan kesaksian atas Penyatuan (Tawhid) yang Satu, Adalah di Dia
dan dari Dia.

4. Dari-Nya datang jarak pemisah (makhluk) yang lain dari Penyatuan-Nya, dan itu dapat
dilambangkan demikian ini:





[Tauhid terpisah dari Allah, dan simbol wahdaniyah ini dilambangkan oleh Alif
( ) panjang, dengan sejumlah dal ( ) di dalamnya. Adapun Alif-nya ( ) merupakan
Zat, dan dal-nya ( ) sebagai Sifat.]

5. Pengetahuan Tauhid adalah sebuah ikhtisar kesadaran yang mandiri, dan perlambangnya
demikian ini:








[Inilah Alif ( ) purba-Nya Zat (Alif panjang) dengan alif-alif ( ) lainnya, yang
merupakan wujud-wujud makhluk, dan yang hidup di atas Alif ( ) utama.]

6. Tauhid adalah sifat subyek makhluk yang melafalkan ketauhidannya, dan bukan sifat
sang Obyek yang tersaksikan Satu.

7. Apabila aku yang makhluk mengatakan aku, dapatkah aku membuat-Nya juga
mengatakan Aku? Tauhidku datang dariku, dan bukan dari-Nya. Dia
suci [munazzah] dariku dan Tauhidku.

8. Bila aku mengatakan: Tauhid kembali ke ia yang mengatakannya, maka aku
membuatnya (Tauhid) sebagai suatu makhluk.

9. Jika aku mengatakan: Tidak, Tauhid itu datang dari sang Obyek yang tersaksikan,
maka adakah hubungan yang mengaitkan seorang peng-Esa (Tauhid) ke pernyataannya
tentang Penyatuan itu?

10. Andai kukatakan: Memang, Tauhid adalah hubungan yang mengaitkan sang Obyek ke
subyeknya, maka aku telah mengarahkan hal ini ke sebuah ketentuan nalar!

____________________________________________

























Thasin Al Asrar fi al Tauhid (Kesadaran Diri Dalam
Tauhid)



1. Adapun perlambang Thasin Al Asrar fi al Tauhid : Kesadaran-Diri dalam Tauhid
adalah demikian ini:






[Alif ( ) panjang Penyatuan; Tauhid. Hamzah ( ) kesadaran-diri, beberapa di
satu sisi dan beberapa lagi di sisi lainnya. Ain ( ) di awal dan akhir Zat.]

Kesadaran-diri itu berproses dari-Nya, kembali pada-Nya, dan beredar di dalam-Nya.
Kendati demikian, secara nalar semuanya tidak penting (bagi-Nya).

2. Subyek sejatinya Tauhid berbolak-balik melintasi keragaman subyek, sebab Dia tidak
tercakup dalam subyek atau dalam obyek ataupun dalam kata-ganti lainnya. Akhiran
kata-bendanya juga tidak terliput pada Obyeknya. Kata-kepunyaan ha-nya ( ) adalah
milik Ah-nya ( ), dan bukan Ha ( ) lain, yang tidak membuat kita bertauhid.

3. Bila kukatakan tentang Ha ( ) ini Wa-Ha (), yang lainnya akan berseru padaku,
Malangnya!

4. Itulah julukan, sebutan dan kiasan demonstrative yang menembus (Tauhid) ini, sehingga
kita dapat melihat Allah melalui keadaan (hal) senyatanya.

5. Segenap peribadi insan seperti sebuah bangunan yang tersusun rapi. Inilah ketentuannya,
dan Penyatuan Allah (Tauhid) tidak terkecuali bagi ketentuan ini. Kendati demikian,
setiap ketentuan adalah batasan, dan sifat batasan hanya berlaku bagi obyek-terbatas.
Sebaliknya, obyek Tauhid tidak mengakui pembatasan tersebut.

6. Kebenaran [al-Haqq] itu sendiri tidak lain dari singgasana Allah, bukannya Zat Allah.

7. Dikatakan, Tauhid tidak mencapai (Kebenaran) itu, karena peran kebahasaan dari suatu
istilah dan pengertiannya yang pas, tidak berpadu satu sama lain, ketika menyangkut
sebuah imbuhan. Kalau begitu, bagaimana dapat semua berpadu, ketika menyangkut
Allah?

8. Kalau kukatakan: Tauhid terpancar dari-Nya, maka aku menggandakan Zat Ilahi,
dan membuat pancaran dari Dirinya sendiri, ada bersama dengan-Nya, ada ataupun
tiada Zatnya secara bersamaan.

9. Andai kukatakan bahwa ada-nya tersembunyi di dalam Allah, dan Dia
mengejawantahkannya. Bagaimana itu tersembunyinya, sedangkan di (Allah) sana tidak
ada bagaimana atau apa ataupun ini-itu, dan di sana juga tidak ada tempat [dimana]
yang memuat Dia.

10. Sebab, di dalam ini-itu adalah ciptaan Allah, sebagaimana adanya di mana.

11. Adapun yang mendukung suatu aksi (aksiden) bukannya tanpa substansi. Dan, yang
tidak terpisahkan dari jasad bukannya tanpa unsur jasad. Juga yang tidak terpisahkan
dari ruh bukannya tanpa unsur ruh. Karena itu, Tauhid merupakan sebuah perpaduan
(spiritual).

12. Kita kembali dulu, di luar semua itu, ke pokok masalah [Obyek kita] dan
memisahkannya dari kalimat tambahan, pemaduan, penghitungan, peleburan dan
penyifatan.

13. Lingkaran pertama [pada diagram berikutnya] terdiri atas tindakan Allah, yang kedua
terdiri atas tiruannya (tindakan). Dan, inilah dua lingkaran (makhluk) ciptaan.

14. Sedangkan (lingkaran) titik-pusat melambangkan Tauhid, tetapi bukan (sebenarnya)
Tauhid. Kalau tidak, bagaimana mungkin itu terpisahkan dari lingkaran?

____________________________________________









Thasin al Tanzih (Kesucian, keterbebasan)

1. Inilah lingkaran qiyas (alegori) Tauhid, dan inilah sosok perlambangnya:










2. Inilah kesemestaan yang dapat memperlihatkan kepada kita mengenai fatwa dan hukum
(Tauhid), juga buat para pakar, ahli ibadah dan ahli madzhab, ahli fiqih dan ahli kalam.

3. Lingkaran pertama adalah perasaan harfiah, yang kedua adalah rasa batin, dan yang
ketiga adalah kias ruh (yang tidak terkiaskan).

4. Itulah keseluruhan segala sesuatu, yang dicipta ataupun digubah, yang dipakai, ditapis,
disaring, disangkal, yang dibuai ataupun dibius.

5. Ia beredar dalam kata-ganti kami subyek-subyek pribadi. Seperti sebatang panah, ia
menembusi sekujur mereka, melengkapinya, mengejutkannya, dan membalikkannya. Ia juga
menakjubkan mereka, meneranginya, dan ia mempesonakannya saat menemui mereka.

6. Itulah keseluruhan substansi dan kualitas makhluk. Adapun Allah tidak berhubungan
dengan perumpamaan ini.

7. Kalau kukatakan: Ia adalah Dia, pernyataan itu bukanlah (refleksi) Tauhid.

8. Bila kukatakan bahwa Tauhid Allah itu shahih, orang akan menjawabku Tidak
sangsi lagi!

9. Andai kukatakan tanpa waktu, orang akan bertanya: Adakah maknanya Tauhid
itu tamsil? Padahal, tidak ada perbandingan saat menggambarkan Allah. Tauhidmu itu
tidak ada hubungannya dengan Allah ataupun makhluk, sebab faktanya mengungkapkan
bahwa sejumlah waktu itu mengintrodusir kondisi terbatas. Dalam hal ini, kau telah
menambahkan pengertian pada Tauhid, seolah (Tauhid) itu bergantung. Bagaimanapun,
kebergantungan bukanlah sifat Allah. Zat-Nya itu Unik. Dan, sekaligus, baik Kebenaran
maupun apa yang gaib, tidak mungkin terpancar (keluar) dari Zat-Nya Zat.

10. Jika kukatakan: Tauhid adalah Firman itu sendiri, Firman adalah sifatnya Zat,
bukan Zat itu sendiri.

11. Jika kukatakan: Tauhid maknanya Allah berhasrat sebagai yang Satu,
Kehendak Ilahi adalah sifatnya Zat, sedangkan hasrat adalah makhluk.

12. Jika kukatakan: Allah adalah Tauhidnya Zat yang dinyatakan pada dirinya sendiri,
maka aku membuat Zat bertauhid, yang bisa menjadi pergunjingan kita.

13. Jika kukatakan: Tidak, ia (Tauhid) bukan Zat, lalu dapatkah aku menyatakan
bahwa Tauhid adalah makhluk?

14. Jika kukatakan: Nama dan obyek yang dinamai itu Satu, maka apakah pengertian
(nama) yang dikandung Tauhid?

15. Jika kukatakan: Allah adalah Allah, maka adakah aku mengatakan bahwa Allah
adalah zatnya-Zat, dan ia (Tauhid) adalah Dia?

16. Inilah Tha-Sin yang membicarakan tentang penyangkalan atas alasan-alasan sekunder,
dan inilah lingkaran-lingkarannya, dengan La ( ) yang tertulis di sini sebagai sosoknya:











17. Lingkaran pertama adalah pra-Kelanggengan, yang kedua Keterangjelasannya, yang ketiga
Dimensinya, dan yang keempat Berpengetahuannya.

18. Adapun Zat bukannya tanpa sifat.

19. Sang penempuh (lingkaran) pertama membuka Gerbang Pengetahuan, dan tidak bertemu.
Yang kedua membuka Gerbang Penyucian, dan tidak bertemu. Yang ketiga membuka
Gerbang Pemahaman, dan tidak bertemu. Yang keempat membuka Gerbang Pemaknaan,
dan tidak bertemu. Tidak seorang pun ketemu Allah dalam Zat-nya atau dalam
Kehendak-Nya, tidak dalam pembicaraan, apalagi dalam Dia-nya Dia Sejati.

20. Maha Besar Allah, yang Maha Suci, yang dengan kesucian-Nya tidaklah Dia terjangkau
oleh segenap cara (thariqah) sang arif, apalagi oleh segenap intuisi orang kebatinan.

21. Inilah Tha-Sin tentang Nafi-Itsbat (Penyangkalan dan Penegasan) dan inilah
penjabarannya:












22. Rumus pertama membicarakan pikiran orang kebanyakan (amm), yang kedua pemikiran
orang terpilih (khasysy). Dan, lingkaran yang menggambarkan Ilmu Allah ada di antara
keduanya. Adapun La () yang tertutup lingkaran adalah penyangkalan atas segenap
dimensi. Dua ha-nya () adalah perangkatnya, seperti pilar dua sisinya Tauhid, yang
menopangnya ke atas. Di luar itu berawal ketergantungan (makhluk).

23. Pikiran orang kebanyakan tercebur ke samudera khayal, dan pemikiran orang terpilih
(tercebur) ke samudera kearifan. Tetapi, dua samudera itu akan mengering, dan jalan yang
mereka tandai akan terhapus. Pikiran dan pemikiran itu akan lenyap, dua pilarnya akan
runtuh, dua alam maujudnya akan hancur, juga pembuktiannya serta pengetahuannya akan
musnah.

24. Sedangkan di hadirat Keilahian Allah, Dia tetap Ada, mengatasi sekalian makhluk yang
bergantung. Segenap puji bagi Allah, yang tidak terjangkau oleh alasan sekunder. Bukti-
nya sangat kuat, dan kuasa-Nya sangat agung. Dia, Tuhan Sang Kemegahan dan
Keagungan serta Kemuliaan. Maha Satu yang Tiada-Terbilang dengan kesatuan aritmetis.
Tiada patokan, hitungan, awalan atau akhiran yang menjangkau-Nya. Wujud-Nya
Tiada-Terbayang karena Dia bebas dari maujud. Dia Sendiri saja yang mengetahui Diri-
Nya, Penguasa Keluasan dan Keluhuran (QS. 55: 27), Pencipta (Al-Khaliq) ruh dan
jasad.

____________________________________________


"THASIN": Pencapaian Sang Laron

Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar.
Lalu ia kembali ke rekan-rekannya, dan menceritakan
keadaan (hal) spiritualnya dengan ungkapan yang penuh kesan.
Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api
dalam hasratnya untuk mencapai Penyatuan (Tawhid) yang sempurna.

Cahayanya nyala api itu adalah Pengetahuan hakikat,
panasnya adalah Kenyataan hakikat,
dan Penyatuan dengannya adalah Kebenaran hakikat.

Ia merasa tidak puas dengan cahayanya ataupun dengan panasnya,
sehingga ia melompat ke dalam nyala api langsung.
Sementara itu rekan-rekannya menantikan kedatangannya,
supaya ia menceritakan kepada mereka tentang 'penglihatan' aktualnya,
karena ia merasa tidak puas dengan kabar angin saja.
Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas sirna (fana'),
musnah dan buyar ke dalam kepingan-kepingan,
yang tersisa tanpa wujud, tanpa jasad ataupun tanda pengenal!
Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia dapat kembali ke rekan-rekannya?
Dan keadaan (hal) spiritual apa yang tengah dicapainya sekarang?
Ia yang sampai pada pandangan (bashirah) batin,
niscaya sanggup terlepas dari perkabaran saja.
Juga ia yang sampai pada inti pandangan batin,
tidak lebih prihatin tentang pandangan batinnya...

(: Dari Fragmen "THAWASIN" Al-Hallaj...)

"THASIN TITIK 'AZALI"
(Sebuah Fragmen dalam "THAWASIN" Al-Hallaj)


... aku 'melihat' Tuhanku dengan mata hatiku,
aku menyapa: "Siapakah Engkau?"
Dia menjawab: "Kau!"
namun, bagiku, 'di mana' tak memiliki tempat,
dan tak ada 'di mana' ketika perhatian menyangkut-Mu,
akal pun tak punya bayangan
tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu,
yang mengizinkan akal mengetahui 'di mana' Engkau adanya...
Engkau adalah 'Sesuatu' yang meliputi setiap 'di mana',
mengatasi 'Titik' yang 'tak-di mana-mana'.
jadi, 'di mana'-kah Engkau adanya...?



Diterjemahkan oleh AM Santrie dari THAWASIN edisi Arab, terbitan Beirut dan
edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana








AM. SANTRIE lahir & besar di Bandung, & pernah menjalani kehidupan dgn berbagai
profesi. Sebelum menikah (1985) dgn Halimah -- yg telah membuahkan 7 org anak -- ia pernah
menerjuni jalan tasawuf, & keluar-masuk pesantren secara takhosus, jg mengikuti beberapa
thoriqoh mu'tabaroh. Lalu mendalami dunia sastra, dgn menulis berbagai prosa & artikel di
koran2 & majalah2, terutama di majalah sastra HORISON. Bahkan pernah memenangi
sayembara naskah sandiwara di DKJ (1981), serta menjuarai lomba cerpen di majalah
KARTINI (1982 & 1983). Begitu menikah, ia bekerja di Penerbit PUSTAKA Salman ITB
sebagai editor/penyunting, telah menyunting puluhan buku2 Islam. Di samping itu, ia pun telah
menerbitkan 2 buah buku: 1) "ALINEA" (1985), kumpulan cerpen bernafas tasawuf,
diterbitkan oleh PUSTAKA Salman ITB; dan 2) "MARTABAT (ALAM) TUJUH, Suatu
Naskah Mistik Islam dari Desa Karang, Pamijahan" (1987), dlm "WARISAN
INTELEKTUAL ISLAM INDONESIA", Editor: Ahmad Rifa'i Hasan, MA, diterbitkan
oleh MIZAN...