Anda di halaman 1dari 3

PENYAKIT REFLUKS GASTROESOFAGEAL

PENDAHULUAN
Penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal reflux disease/GERD) adalah suatu keadaan patologis akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus, dengan berbagai gejala yang timbul akibat keterlibatan esofagus, faring, laring, dan saluran nafas.

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Penyakit refluks gastroesofageal bersifat multifaktorial. Esofagus dan gaster dipisahkan oleh suatu zona tekanan tinggi yang dihasilkan oleh kontraksi lower esophageal sphincter (LES). Pemeran terbesar pemisah antirefluks adalah tonus LES. Refluks gastroesofageal terjadi melalui 3 mekanisme: refluks spontan pada saat relaksasi LES yang tidak adekuat, aliran retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan, meningkatnya tekanan intraabdomen.

MANIFESTASI KLINIK
Gejala klinik yang khas dari GERD adalah nyeri atau rasa tidak enak di epigastrium atau retrosternal bagian bawah. Rasa nyeri biasanya dideskripsikan sebagai rasa terbakar, kadang-kadang bercampur dengan gejala disfagia, mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah. Gejala GERD biasanya berjalan perlahan-lahan, sangat jarang terjadi episode akut atau keadaan yang bersifat mengancam nyawa.

DIAGNOSIS
1. Endoskopi saluran cerna bagian atas Merupakan standar baku untuk diagnosis GERD dengan ditemukannya mucosal break di esofagus (esofagitis refluks). Jika tidak ditemukan mucosal break disebut non-erosive reflux disease (NERD). Klasifikasi Los Angeles Derajat kerusakan A B Gambaran endoskopi Erosi kecil pada mukosa esofagus dengan diameter < 5 mm Erosi pada mukosa atau lipatan mukosa dengan diameter > 5 mm tanpa saling berhubungan C Lesi yang konfluen tetapi tidak mengelilingi seluruh lumen

Lesi mukosa esofagus yang mengelilingi seluruh lumen

2. Pemantauan pH 24 jam Pengukuran pH pada esofagus bagian distal. pH di bawah 4 pada jarak 5 cm di atas LES dianggap diagnostik untuk refluks gastroesofageal. 3. Tes penghambat pompa proton (PPI) Tes ini dengan memberikan PPI dosis tinggi selama 1-2 minggu sambil melihat respons yang terjadi. Tes ini dianggap positif jika terdapat perbaikan dari 50%-75% gejala yang terjadi.

PENATALAKSANAAN
1. Modifikasi gaya hidup Meninggikan posisi kepala saat tidur dan menghindari makan sebelum tidur, berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol, mengurangi konsumsi lemak dan mengurangi jumlah makan yang dimakan, menghindari coklat, teh, kopi dan minuman bersoda. 2. Medikamentosa Terapi lini pertama adalah golongan PPI dan digunakan terapi step down. 1. Antasid Cukup efektif dan aman, tidak menyembuhkan lesi esofagitis. Dosis: sehari 4 x 1 sendok makan. 2. Antagonis reseptor H2 Efektif hanya pada pengobatan esofagitis ringan sampai sedang serta tanpa komplikasi. Dosis: simetidin 4 x 400 mg, ranitidin 4 x 150 mg, famotidin 2 x 20 mg, nizatidin 2 x 150 mg. 3. Obat-obatan prokinetik Metoklopramid: efektifitas rendah dalam mengurangi gejala, tetapi tidak menyembuhkan lesi esofagus. Dosis: 3 x 10 mg. Domperidon: dapat meningkatkan tonus LES. Dosis: 3 x 10-20 mg.

Cisapride: lebih efektif dalam mengurangi gejala dan menyembuhkan lesi esofagus. Dosis: 3 x 10 mg. 4. Penghambat pompa proton (PPI) Merupakan drug of choice. Sangat efektif dalam menghilangkan keluhan serta penyembuhan lesi esofagus, bahkan pada esofagitis erosiva derajat berat. Pengobatan diberikan selama 6-8 minggu dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan selama 4 bulan atau on demand therapy (pemberian obat-obatan selama beberapa hari sampai dua minggu jika ada kekambuhan sampai gejala hilang). Dosis: omeprazole 2 x 20 mg, lansoprazole 2 x 30 mg, pantoprazole 2 x 40 mg, rabeprazole 2 x 10 mg, esomeprazole 2 x 40 mg. Untuk pengobatan NERD diberikan dosis standar: omeprazole 1 x 20 mg, lansoprazole 1 x 30 mg, pantoprazole 1 x 40 mg, rabeprazole 1 x 10 mg, esomeprazole 1 x 40 mg. Pengobatan diberikan selama minimal 4 minggu dilanjutkan dengan on demand therapy.

Makmun D. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V jilid 1. 2009. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.