Anda di halaman 1dari 15

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

1
FISIKA MATERIAL DAN PERKEMBANGAN GEOPOLIMER

1.1 Pengantar dan Tujuan Instruksional Sains dan rekayasa material merupakan fondasi utama perkembangan teknologi modern, baik untuk aplikasi struktural, elektronik, thermal, elektrokimia, lingkungan, biomedis dan lain sebagainya. Sejarah peradaban manusia berevolusi dari zaman batu ke zaman perunggu, zaman besi, zaman baja (steel), hingga zaman elektronika yang beriringan dengan zaman penjelajahan ruang angkasa. Setiap zaman dicirikan dengan kehadiran material tertentu. Zaman besi misalnya menghasilkan berbagai peralatan atau perkakas untuk keperluan hidup manusia. Zaman penjelajahan ruang angkasa mendorong penemuan berbagai material struktural (komposit) yang tahan panas, kuat sekaligus ringan. Zaman elektronika ditandai dengan kemajuan di bidang jenis material dan aplikasi semikonduktor. Dewasa ini, material dapat dibedakan atas kelompok logam, keramik, polymer, komposit, dan biomaterial. Bab ini berisi sekilas tinjauan tentang (dari sudut pandang fisika) jenis material tersebut dan aplikasinya dalam kehidupan umat manusia. Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat: 1. Menjelaskan ruang lingkup fisika material 2. Mengklasifikasikan berbagai jenis material baik yang diperoleh (tersedia) secara alami atau hasil rekayasa manusia 3. Menjelaskan beberapa contoh aplikasi dari berbagai jenis material 4. Menjelaskan berbagai kelemahan material polimer organik 5. Menjelaskan mengapa kehadiran polimer anorganik (geopolimer) menjadi sangat penting sebagai bahan baru subsitusi polimer organik 6. Menjelaskan beberapa sifat dan aplikasi geopolimer

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

1.2 Ruang Lingkup Fisika Material Fisika material secara khusus mempelajari dan menyelidiki hubungan antara struktur dan sifat material. Struktur material (dibedakan atas struktur makro, meso dan mikroskopik) berkaitan dengan susunan komponen internal material. Struktur sub-atomik mendeskripsikan perilaku elektron di dalam atom dan interaksinya dengan inti atom. Pada level atomik struktur material meliputi penyusunan atom-atom atau molekul relatif antara yang satu dengan yang lain. Struktur yang lebih besar yang terdiri atas sekumpulan atom disebut struktur mikro (microstructure) dan dapat diamati dengan menggunakan mikroskop elektron (Scanning Elektron Microscopy, SEM) atau Transmission Electron Microscopy, TEM)) (Gambar 1.1a dan 1.1b). Struktur material yang dapat diamati dengan mata kepala disebut struktur makro (macrostructure).

(a)

(b)

Gambar 1.1 (a) Philips XL-30 SEM, (b) JEOL-2011 TEM di Curtin University of Technology, Perth, Australia (Foto oleh Subaer, 2004) Di dalam ilmu fisika, sifat (karakteristik) material dapat dipelajari dari berbagai aspek seperti aspek mekanik, optik, listrik, magnetik, thermal, dan daya tahan (terhadap lingkungan fisik atau kimia). Sifat mekanik berkaitan dengan

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

deformasi yang dihasilkan oleh beban atau gaya seperti pada pengukuran modulus elastisitas dan kekuatan tekan (compressive strength). Sifat listrik meliputi antara lain konduktivitas listrik dan konstanta dielektrik bahan. Perilaku thermal dapat dinyatakan misalnya dalam besaran kapasitas panas dan konduktivitas thermal. Sifat magnetik bahan memperlihatkan tanggapan sebuah material terhadap pengaruh medan magnetik, rapat fluks magnetik (B) dan magnetisasi (H), kurva B-H, serta untai (loop) histeresis bahan. Sifat optik antara lain meliputi perilaku bahan terhadap radiasi gelombang elektromagnetik seperti indeks bias, daya pantul, daya transmisi, dan daya absorpsi. Sifat deteriorasi menunjukkan reaktivitas bahan terhadap pengaruh lingkungan fisik (udara dan sinar matahari) dan bahan kimia. Rekayasa material dipelajari dengan maksud untuk menyelidiki dan mendesain berbagai jenis aplikasi bahan dengan mempertimbangkan tiga kriteria dasar, yakni: 1. Kondisi bahan pada saat pemakaian 2. Sifat deteriorasi bahan, dan 3. Nilai ekonomi bahan 1.3 Klasifikasi Material Berdasarkan sifat kimia dan struktur atomik, bahan material dapat dikelompokkan dalam 5 jenis, sebagai berikut: a. Logam-Alloy Logam terbentuk dari kombinasi unsur-unsur logam, mengandung banyak elektron bebas (elektron yang tidak terlokalisasi) yakni elektron yang tidak terikat pada atom tertentu. Banyak sifat logam berkaitan langsung dengan rapat elektron bebas tersebut. Logam merupakan penghantar listrik dan panas yang sangat baik, tidak transparan terhadap cahaya tampak, mudah digosok (polish), keras tapi mudah dibentuk sehingga banyak dipakai untuk aplikasi struktural.

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

b.

Keramik Keramik adalah campuran antara unsur-unsur logam dan unsur-unsur non

logam, umumnya berupa oksida, nitrida dan karbida. Material yang tergolong keramik umumnya tersusun atas mineral lempung, semen dan gelas.

Gambar 1.2 Beberapa produk keramik untuk aplikasi kelistrikan (http://fsjunmei.en.alibaba.com/product) c. Polimer Polimer meliputi bahan plastik dan karet. Polymer yang paling umum dikenal adalah polymer organik yang tersusun dari rantai karbon yang panjang, hidrogen dan unsur-unsur non logam. Selain itu dikenal polymer in-organik yang penyusun utamanya tidak terdiri atas atom karbon. d. Komposit Material komposit dibangun dari dua atau lebih jenis bahan. Contoh komposit yang terkenal adalah serat gelas (glass fiber) yang dibungkus dengan bahan polymer dan digunakan sebagai kabel komunikasi. yang terbaik Komposit dari didesain untuk mengkombinasikan fleksible. e. Biomaterial (material Biologi) Material biologi umumnya bersumber dari makhluk hidup serta rekayasa material untuk menyerupai sifat-sifat bahan biologi alami. Struktur kulit, sel, serta karakteristik komponen-komponen

penyusunnya. Fiber gelas misalnya memiliki sifat keras dan polymer bersifat

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

tulang dan gigi merupakan material biologi yang banyak dipelajari dalam fisika material. 1.4 Aplikasi Material Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa bentuk aplikasi material dalam bidang teknologi yang berkembang dewasa ini. (a) Aplikasi Struktural Aplikasi struktural adalah aplikasi yang membutuhkan material dengan unjuk kerja (performance) mekanik yang baik seperti kekuatan, kekakuan dan kemampuan menahan getaran, baik ketika material tersebut terbebani maupun tidak. Ketika material terbebani (dalam keadaan terpakai), informasi mengenai sifat mekanik secara akurat sangat diperlukan. Aplikasi struktural ditemukan pada pembangunan gedung, jembatan, jalan raya, pesawat terbang, kereta api, mobil, mesin, satelit, raket tennis, perabot rumah dan lain sebagainya. Selain sifat mekanik, material struktural juga dirancang untuk memiliki sifat yang lain, seperti massa jenis yang kecil (ringan) agar menghemat bahan bakar pada pesawat terbang dan mobil, dan untuk kecepatan tinggi pada sepeda balap. Sifat lain yang tak kalah pentingnya adalah resistansi korosi dan kemampuan untuk menahan suhu tinggi atau siklus thermal yang ekstrim ketika material dalam keadaan terpakai. (b) Aplikasi Elektronik Aplikasi elektronik meliputi aplikasi kelistrikan, optik, dan kemagnetan karena sifat listrik, optik dan magnet umumnya ditentukan perilaku elektron. Aplikasi kelistrikan dimanfaatkan untuk komputer, divais elektronika, rangkaian listrik, divais thermolistrik, piezoelektrik, robotik, mesin mikro, dan lain sebagainya.

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

Gambar 1.3 Tranduser piezoelektrik untuk pesawat udara yang terbuat dari keramik (www.kulite.com). Aplikasi optik berkaitan dengan laser, sumber cahaya, serat optik (material dengan daya serap optik kecil untuk komunikasi dan penginderaan), absorber, pemantul dan transmisi radiasi elektromagnetik, fotografi, fotocopy, penyimpan data optik, holografi, dan pengendali warna. Aplikasi magnetik berkaitan dengan transformator, perekam magnetik, memori komputer magnetik, sensor medan magnetik, pelindung magnetik, kereta levitasi magnetik, penjejak magnetik untuk partikel, penyimpan energi magnetik, magnetic resonance imaging, dan spektrometer massa. Perlu dicatat bahwa untuk aplikasi elektronik, semua jenis material memberikan andil yang signifikan. Material semikonduktor merupakan jantung elektronika dan divais optoelektronika. Logam digunakan sebagi kabel penghubung, konektor, kontak listrik, dan sebagainya. Polymer digunakan sebagai bahan dielektrik dan pembungkus kabel. Keramik dipakai sebagai bahan kapasitor, divais thermolistrik, divais piezoelektrik, dan serat optik. (c) Aplikasi Thermal Aplikasi thermal meliputi perpindahan panas, baik secara konduksi, konveksi atau radiasi. Perpindahan panas diperlukan pada pemanasan dan pendinginan gedung,

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

proses industri seperti sintering, casting dan annealing, lemari pendingin untuk makanan dan minuman, pendinginan divais elektronika, dan lain sebagainya. Perpindahan panas dapat diperoleh dengan penggunaan lebih dari satu mekanisme. Sebagai contoh, konduksi dan konveksi paksa digunakan ketika sebuah fluida dipaksa mengalir melewati pori-pori zat padat yang bersifat konduktor thermal. Konduksi thermal melibatkan peran elektron, ion, dan/atau fonon. Elektron dan ion bergerak dari titik bertemperatur tinggi ke titik bertemperatur rendah dan karena itu memindahkan energi panas. Fonon merupakan vibrasi (getaran) kisi kristal yang juga memindahkan energi panas. Konduksi di dalam logam ditentukan oleh jumlah elektron bebas pada kulit terluar atom penyusunnya. Untuk material intan, proses konduksi diatur oleh fonon, karena elektron bebas tidak tersedia, dan nomor atom karbon (C) yang kecil memperbesar vibrasi kisi. Sebaliknya, polimer merupakan konduktor panas yang buruk kerena elektron bebas tidak tersedia dan ikatan kimia sekunder (gaya Van der Waals) antara molekul sangat lemah sehingga sulit bagi fonon untuk bergerak dari molekul yang satu ke molekul lainnya. Keramik, di lain pihak, cenderung lebih konduktif daripada polimer, dan gerakan elektron dan/atau ion berperan pada konduksi thermal. (d) Aplikasi Lingkungan Aplikasi lingkungan berkaitan dengan perlindungan lingkungan dari polusi. Perlindungan tersebut dapat berupa pengeluaran pencemar (pollutant) atau pengurangan jumlah pencemar yang dikeluarkan. Pengeluaran dapat dilakukan dengan cara ekstraksi dari permukan zat padat (misalnya dengan karbon aktif). Pencemar dapat dikurangi dengan mengganti material dan atau proses yang digunakan di dalam industri misalnya dengan material biodegradable (material yang dapat terdegradasi secara alami), dengan material yang dapat didaur ulang, atau dengan mengganti sumber energi dari bahan bakar fosil ke baterai, sel surya dan/atau hidrogen.

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

Selama beberapa dekade material yang dikembangkan untuk aplikasi struktural, elektronika, thermal dan aplikasi lainnya tidak banyak mempertimbangkan masalah pembuangan dan daur ulang. Dewasa ini disadari bahwa pertimbangan tersebut mesti diambil pada saat pegembangan desain. Material untuk adsorpsi merupakan inti pengembangan material untuk aplikasi lingkungan. Material ini meliputi karbon, zeolit, aerogel dan material berpori lainnya. Kualitas yang diinginkan meliputi kapasitas adsopsi yang besar, ukuran pori yang cukup besar relatif terhadap ukuran molekul dan ion yang akan diserap dapat dibersihkan setelah dipakai. Serat karbon aktif sangat penting untuk mengktifkan partikel karbon di dalam fluida dinamik. Akan tetapi material ini sangat mahal. Pori pada permukaan material berperan sebagai lokasi adsorpsi. Secara umum, pori dapat berupa macropores (> 500 ), mesopores (antara 20 sampai 500 ), micropores (antara 8 sampai 20 ) dan nanopores (< 8 ). (e) Aplikasi Biomedis Aplikasi biomedis berkaitan dengan diagnosa dan kondisi perlakuan, penyakit, cacad, serta pencegahannya. Hal ini meliputi implantasi (tulang pinggul, katup jantung, kulit, dan gigi), divais operasi dan diagnosa, alat pemacu jantung, elektroda untuk mengumpulkan dan mengirimkan signal optik atau listrik ke dalam tubuh, kursi roda, dan instrumen untuk diagnosa dan analisis kimia (misalnya analisa darah dan air seni). Material implantasi sangat menantang karena material tersebut harus bersifat biocompatible (misalnya terhadap darah), tahan karat, tahan gesekan, dan tidak mudah aus. 1.5 Polimer Organik Sejak dahulu kala manusia telah menggunakan berbagai jenis material untuk menopang kehidupan mereka. Jenis material yang mereka gunakan antara lain

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

meliputi kayu sebagai bahan bangunan, kulit, wol dan kapas sebagai bahan pakaian, dan kanji (starch) yang digunakan sebagai bahan perekat. Dewasa ini, material tersebut digolongkan sebagai polimer organik (organic polymer). Organik polimer yang digunakan pada masa lalu umumnya merupakan polimer yang tersedia atau diperoleh secara alami (naturally occurring polymers) dan karena itu dikenal pula dengan nama biopolymer (biopolymers). Material yang tergolong biopolimer antara lain meliputi protein, enzim, dan selulosa yang diperoleh dari proses biologi dan fisiologi tumbuhan dan hewan. Secara umum, polimer organik terdiri atas rantai (jaringan) atom karbon yang sangat panjang dan karena itu tergolong sebagai molekul makro. Berbagai bencana alam, baik yang bersifat fisik maupun biologis, peperangan yang berkepanjangan, serta peningkatan kebutuhan hidup manusia akan berbagai jenis material menjadi salah satu faktor yang mendorong pengembangan polimer dari polimer alam menjadi polimer semi-sintetik. Sebagai contoh pemanfaatan bubur kayu sebagai bahan dasar kertas didorong oleh menurunnya jumlah kapas, pengembangan sutera buatan dilakukan sebagai akibat merajalelanya gangguan hama pada ulat sutera. Pada awalnya, produksi polimer sintetik dilakukan secara empiris karena pada saat tersebut sifat atau perilaku dasar molekul polimer belum diketahui dengan baik. Pada awal 1900-an, kemajuan berbagai instrumen penelitian bidang sains (Fisika, Kimia, dan Biologi) telah memungkinkan penentuan struktur molekul polimer dan membuka jalan bagi pengembangan molekul organik menjadi polimer sintetik. Sejak akhir perang dunia II revolusi dibidang material ditandai dengan kemajuan polimer sintetik seperti plastik, elastomer, karet dan serat (fiber). Sains polimer berkembang pesat di tangan Paul Flory, seorang ahli kimia. Selanjutnya de Gennes dan Edwards menerapkan konsep fisika modern dan fisika statistik untuk mendeskripsikan rantai molekul yang panjang. Untuk beberapa aplikasi praktis, bagian logam dan kayu telah digantikan oleh plastik dan karet, oleh karena harganya yang murah serta memenuhi persyaratan seperti halnya dengan logam dan kayu. Polimer organik sintetik atau secara singkat

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

disebut polimer, telah memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sekalipun telah mengalami perkembangan yang luar biasa dalam beberapa dasawarsa serta dapat memenuhi berbagai kebutuhan manusia, polimer organik sesungguhnya memiliki sejumlah kelemahan. Kelemahan utama yang dimiliki oleh polimer organik adalah stabilitas termal dan resistansi oksidasi yang rendah, serta masalah lingkungan (limbah industri dan limbah plastik yang tidak dapat didaur ulang). Kebutuhan untuk memproduksi material yang memiliki daya tahan mekanik, termal dan kimia yang melampaui daya tahan plastik pada umumnya berkembang pesat seiring dengan perkembangan industri pesawat ruang angkasa. Selain itu, perkembangan bahan plastik dan elastomer mengalami kemunduran sebagai akibat menurunnya jumlah pasokan bahan mentah fosil karbon. Kenyataan tersebut justru mendorong dan mempercepat berbagai penelitian untuk menemukan material alternatif dari sumber mineral yang tersedia di bumi dalam jumlah yang tak terbatas. Hasilnya, sejumlah ahli fisika-kimia di berbagai belahan bumi mulai menyelidiki kemungkinan untuk mensintesa polimer anorganik (inorganic polymers) yang dapat menutup berbagai kelemahan yang dimiliki oleh polimer organik. Secara sederhana, istilah polimer anorganik merujuk pada bahan (polimer) yang jaringan atomnya tidak tersusun dari atom karbon. Dengan definisi sederhana seperti itu, material seperti silicate, polyphosphate, polysilanes, siloxanes, aluminosilicates, polyposphazenes, polymeric sulphur nitride dan glas inorganic tergolong polimer anorganik. Selain itu, zeolit termasuk polimer anorganik, sekalipun material tersebut hanya ditemukan secara bebas di alam dalam jumlah yang kecil serta memiliki sifat mekanik yang umumnya lebih buruk dibandingkan dengan polimer organik. Akan tetapi, sejak tahun 1960, sejumlah ilmuwan telah mampu mensintesa zeolit dan feldspathoid dari bahan dasar silika dengan alumina. Dewasa ini, semen Portland, karena alasan proses/perilaku hydrasi dan polikondensasi, digolongkan pula sebagai salah satu jenis polimer anorganik. Polimer anorganik sintetik yang paling tua adalah alkali silicate glass yang telah digunakan sejak periode Badarian di Mesir (12000 S.M.). Sedangkan benda-benda

10

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

yang terbuat dari gelas pertama kali digunakan di Thebes sekitar 5000 S.M. sebagai azimat (lions amulet) yang dewasa ini disimpan di British Museum. Terobosan pertama dalam produksi polimer anorganik dilakukan oleh Thomas Graham pada tahun 1833 berupa sodium polyphosphate yang dapat berbentuk kristal atau amorf. Pada tahun 1897, H.N. Stokes berhasil mensintesa polydichlorophosphazene yakni material elastomer anorganik yang memiliki sifat seperti karet, dan menjadi stimulus berbagai penelitian material polimer phosphazene. Pada tahun 1904, F.S. Kipping menemukan polysiloxane, material pertama yang terbuat dari bahan polimer organoanorganik. Penemuan penting lainnya adalah ditemukannya sulphur nitride pada tahun 1973 oleh V.V. Labels yang ternyata bersifat konduktor. Pada tahun 1975, Green et. al. menunjukkan bahwa sulphur nitride memiliki sifat superkonduktor. Dewasa ini, industri polimer anorganik yang paling besar adalah manufaktur semen Portland. Berbagai bahan dasar seperti batu gamping (calcium carbonate), lempung, dan silika dihaluskan dan dibakar pada suhu tinggi antara 1375 1475 oC. Hasil akhir dari pembakaran tersebut merupakan material yang terdiri atas empat fase dengan rumus kimia ideal Ca3SiO5, Ca2SiO4, Ca3Al2O6, and Ca2(Al,Fe)2O5 dengan perbandingan tertentu (berat, wt%) yang disesuaikan dengan tujuan aplikasinya. Namun demikian, proses atau produksi semen Porland melepaskan gas CO2 dalam jumlah yang sangat besar, dan dengan memperhitungkan jumlah industri semen yang ada secara global maka dapat difahami mengapa industri tersebut merupakan kontributor utama emisi gas CO2 ke udara. Penelitian inovatif sangat diperlukan agar produksi semen atau material subsitusi semen menghasilkan teknologi polimer anorganik yang lebih hijau atau ramah lingkungan. Beberapa tahun terakhir ini, pengembangan material semen yang diaktivasi dengan larutan alkali, termasuk geopolymer, menarik perhatian yang sangat besar dari para ilmuwan dan pihak industri sebagai salah satu alternatif semen bermutu tinggi dan ramah lingkungan. 1.6 Kehadiran Geopolimer Durabilitas beton dan mortar kuno yang sangat tinggi, seperti beton piramida Giza di Mesir dan colloquium di Roma dibandingkan dengan beton dan mortar zaman

11

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

sekarang telah mendorong berbagai penelitian untuk menyelidiki komposisi beton kuno tersebut. Davidovits (1987) menunjukkan bahwa produk kuno tersebut tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga tahan terhadap serangan zat asam dan siklus panasdingin yang ekstrim. Pada mulanya, diduga bahwa perbedaan utama antara produk kuno dengan semen Portland terletak pada komponen calcium silicate hydrates (C-SH) yang merupakan komponen utama semen Portland. Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan bahwa beton kuno di Piramida Mesir juga mengandung C-S-H dan oleh karena itu Davidovits (1988) menduga bahwa terdapat fase zeolitik dalam konsentrasi yang besar pada semen kuno. Campbell and Folk (1991) kemudian membuktikan bahwa tingginya durabilitas beton kuno tersebut sungguh-sungguh karena kehadiran fase zeolitik dan senyawa amorf di dalamnya. Di awal tahun 1980-an, Davidovits mengusulkan sebuah teori bahwa sebagian besar material piramida di Mesir tidak terbuat dari bongkahan balok batu gamping yang kemudian disusun membentuk piramida sebagaimana yang selama ini diyakini. Menurut Davidovits batu bata piramida dicetak di tempat tersebut dan dibiarkan mengeras membentuk tiruan batuan zeolitik. Penelitian intensif mengikuti usulan tersebut akhirnya melahirkan sebuah keluarga mineral polimer yang baru, yang oleh Davidovits et.al. diberi nama alkali-activated aluminosilicate geopolymer atau geopolymer saja. Nama geopolimer dipilih karena kondisi hidrotermal material tersebut mirip dengan proses kondensasi polimer organik. Dalam hal komposisi kimia dan proses pembentukan, geopolimer dapat dipandang ekivalen dengan zeolit sintetik sekalipun geopolimer bersifat amorf. Davidovits (1988) mengusulkan bahwa geopolimer diperoleh dari disolusi dan polikondensasi polimerik mineral aluminasilikat dan larutan alkali tinggi. Pada kondisi hidrotermal proses tersebut menghasilkan material polimerik amorf tigadimensi. Keluarga material baru ini disebut poly(sialates) dan terdiri dari jaringan amorf SiO4 tetrahedral dan AlO4 tetrahedral yang berikatan dengan ion Na+ atau K+ (Gambar 1.4). Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa geopolimer poly(sialate) dapat disintesa dari bahan dasar yang murah seperti lempung ( kaolinitic clays), sisa

12

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

produk seperti debu terbang (fly ash), abu sekam padi (rice husk ash) dan dan furnace slag.

Gambar 1.4 Struktur molekular geopolimer Na-Poly(sialate) (Davidovits, 2000) Sebagai jenis baru dari material polimer, geopolimer memiliki potensi aplikasi yang sangat luas, baik dalam bentuk murni maupun dengan tambahan penguat (reinforced). Secara umum, aplikasi tersebut dapat dibagi atas 2 (dua) kategori: 1. Produk struktural seperti sebagai bahan penguat dalam manufaktur mold (mould), pengganti semen dan beton 2. Teknologi immobilisasi (solidifikasi/stabilisasi) untuk bahan kimia beracun, limbah industri, dan sisa bahan radioaktif. Dalam waktu dekat diharapkan aplikasi material tersebut akan ditemukan pada industri mobil dan pesawat ruang angkasa, metalurgi, industri plastik, solidifikasi/stabilisasi limbah logam berat, dan lain sebagainya. 1.7 Beberapa Sifat dan Aplikasi Geopolymer Sebagai polimer, anorganik aluminasilikat dapat bereaksi, terpolikondensasi dan mencapai kestabilan dimensional pada suhu di bawah 100oC. Geopolimer yang

13

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

dihasilkan bersifat keras, tahan terhadap cuaca, serangan bahan kimia, dan suhu tinggi. Agregat pasir dan mineral lainnya dapat dicampurkan ke matriks geopolimer untuk membentuk material yang menyerupai komposit-keramik, mortar dan beton. Semen geopolimer seperti (K-Ca) poly(sialate-siloxo), dicampur pada suhu rendah dan mengeras dengan cepat selama proses polimerisasi dengan kekuatan tekan (compressive strength) akhir serupa bahkan lebih baik dengan kekuatan tekan semen Portland. Kekuatan tekan semen geopolimer dapat mencapai 20 MPa dalam beberapa jam setelah proses polimerisasi, dan mencapai nilai 70 100 MPa dalam waktu kurang dari satu bulan. Beberapa tahun yang lalu, komposisi aktivasi-alkali semen geopolimer telah mencapai tahap komersial dan dipasarkan oleh manufaktur semen Amerika Lone Star Industries Inc. dengan nama PYRAMENT (Davidovits 1991). Perhatian yang besar terhadap geopolimer tidak hanya didorong oleh ketersediaan bahan dasar alumina dan silika (mineral aluminasilikat) dalam jumlah yang besar tetapi juga karena manufaktur semen geopolimer sangat ramah lingkungan oleh karena tidak melepaskan gas buangan CO2. Sebaliknya, produksi 1 (satu) ton semen Portland juga melepaskan sekitar 1 (satu) ton gas CO2 ke udara. Pemanfaatan matriks geopolimer untuk menghasilkan komposit serat-karbongeopolimer telah digunakan sebagai cabin tahan api pada pesawat terbang, panel interior, dan aplikasi infrastruktur lainnya (Lyon et al. 1997). Material geopolimer yang terbuat dari Na-atau K-poly(sialate-siloxo) tidak terbakar pada tingkat irradiansi 50 kW/m2, sebuah nilai fluks panas yang dapat memercikkan api dengan mudah. Selain itu, geopolimer tersebut mampu mempertahankan sekitar 67% kekuatan lengkungan (flexural strength) setelah dibakar pada suhu tinggi. Perbandingan atomik Si:Al di dalam struktur geopolimer memainkan peranan yang sangat penting dalam penentuan sifat dan aplikasi material tersebut. Gambar 1.5 memperlihatkan potensi aplikasi material geopolimer. Dari gambar tersebut nampak bahwa untuk rasio Si:Al yang rendah (1,2,3) menghasilkan jaringan 3 dimensional yang sangat keras dan cocok untuk manufaktur batu bata, keramik, pelindung panas. Sementara itu, material dengan komposisi 20<Si:Al<35 menghasilkan sifat polimer yang sesuai untuk resistansi panas dan api hingga suhu antara 1000 1200oC.

14

Fisika Material Dan Perkembangan Geopolimer

Gambar 1.5 Kebergantungan sifat geopolimer pada rasio atomik Si:Al (Geopolymer Association Website, http://www.geopolymer.org)

15