Anda di halaman 1dari 28

Kopling ( Coupling )

A. Teori Pengenalan

Kopling menghubungkan dua batang poros atau elemen mesin yang berputar.

Menurut fungsinya, kopling di bagi dalam dua golongan atau dua tipe.

A.1. Kopling Tetap ( Coupling )

dua golongan atau dua tipe. A.1. Kopling Tetap ( Coupling ) Suatu Elemen Mesin yg berfungsi
dua golongan atau dua tipe. A.1. Kopling Tetap ( Coupling ) Suatu Elemen Mesin yg berfungsi

Suatu Elemen Mesin yg berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakan secara pasti.( tanpa terjadi slip ) dimana sumbu kedua poros tersebut terletak pada satu garis lurus atau dapat berbeda sumbunya Atau dengan kata lain menghubungkan pada umumnya dua batang poros secara tetap, arti tetap : Hubungan dapat di lepas hanya dengan membuka ikatan kopling atau menggeser salah satu porosnya.

membuka ikatan kopling atau menggeser salah satu porosnya. A.2. Kopling Tidak Tetap ( Clutch ) Suatu

A.2. Kopling Tidak Tetap ( Clutch )

Suatu Elemenmesin yang menghubungkan poros yang di gerakan dan poros penggerak, dengan putaran yang sama dalam meneruskan daya, serta dapat melepaskan hubungan kedua tersebut baik dalam keadaan diam maupun berputar.

A.1. Kopling Tetap ( Coupling )

Macam macam kopling tetap

1. Kopling Kaku

Kopling ini tidak mengijinkan ketidak lurusan kedua sumbu poros

a. Kopling Bus Pasak :

Bagian yg perlu di periksa pada kopling bus Bus / Muff :

Rumah atau pelindung yang menghubungkan kedua poros.

b. Kopling Flens Kaku Baut :

Bagian yg perlu di periksa pada kopling kaku adalah baut.dimana jika ikatan antara kedua flens dilakukan dengan baut baut pas. Meskipun dusahakan dengan ketelitian tinggi distribusi tegangan geser pada semua baut tetap tidak dapat dijamin seragam. Makin banyak jumlah baut terpasang makin sulit untuk menjamin keseragaman tersebut. Flens :

Pada Kopling di pergunakan sebagai penghubung turbin dengan generator. Biasanya dipakai bahan baja tempa, baja cor, di mana untuk menghindari keropos.

c.

Kopling Flens Tempa

2. Kopling Luwes ( Fleksibel ) Kopling ini mengijinkan sedikit ketidak lurusan sumbu poros.

a. Kopling flens Luwes

b. Kopling Karet Ban Pada kopling karet ban karena flens diikat dalam baut tanam maka momen yg diteruskan dapat dianggap terbagi rata pada semua baut

c. Kopling Karet Bintang

d. Kopling Gigi

e. Kopling Rantai

3. Kopling Universal Kopling ini yang dipergunakan bila kedua poros akan membentuk sudut yang cukup besar.

a. Kopling Universal hook

b. Kopling Universal kecepatan Tetap

4. Kopling Fluida Suatu kopling yang meneruskan daya melalui fluida sebagai zat perantara. Kopling ini disebut kopling fluida dimana antara kedua poros tidak ada hubungan mekanis. Dimana suatu impeller pompa dan suatu raner turbin dipasang saling berhadapan dimana keduanya berada didalam ruangan yang berisi minyak. Jika poros yang dihubungkan dengan impeller pompa di putar, minyak yang mengalir dari impeller tersebut akan menggerakan raner turbin yang dihubungkan dengan poros output.

raner turbin yang dihubungkan dengan poros output. Momen puntir yang diteruskan adalah berbanding lurus dengan

Momen puntir yang diteruskan adalah berbanding lurus dengan pangkat lima dari diameter luar kopling dan kuadrat dari putaran. Dalam keadaan normal, putaran poros output adalah lebih rendah dari pada putaran poros input. Perbedaan putaran ini disebut slip yang besarnya antara 2% sampai 5% dari putaran poros input. Dalam keadan slip efisien kopling mencapai harga maksimumnya. Kopling ini biasanya banyak digunakan sebagai penerus daya pada alat alat besar, lokomotip, baik yang digerakan oleh motor listrik maupun digerakan oleh motor bakar.

B. Perencanaan Kopling Tetap ( Coupling ) B.1. Hal-hal Penting Dalam Perencanaan Kopling Tetap Dalam

B. Perencanaan Kopling Tetap ( Coupling )

B.1. Hal-hal Penting Dalam Perencanaan Kopling Tetap

Dalam perencanaan suatu kopling tetap yang perlu di perhatikan dan dipertimbangkan adalah :

1. Pemasangan yang mudah dan cepat

2. Ringkas dan Ringan

3. Aman pada putaran tinggi ; getaran dan tumbukan kecil

5.

Dapat mencegah pembebanan lebih

6. Terdapat sedikit kemungkinan gerakan aksial pada poros sekiranya terjadi pemuaian panas.

gerakan aksial pada poros sekiranya terjadi pemuaian panas. B.2. Contoh Soal Kopling Bus Diketahui untuk muff

B.2. Contoh Soal Kopling Bus

terjadi pemuaian panas. B.2. Contoh Soal Kopling Bus Diketahui untuk muff Kopling dengan menggunakan penghubung
terjadi pemuaian panas. B.2. Contoh Soal Kopling Bus Diketahui untuk muff Kopling dengan menggunakan penghubung

Diketahui untuk muff Kopling dengan menggunakan penghubung dua poros mempunyai daya 40 kW pada 350 rpm. Matrial untuk poros dan pasak adalah baja Carbon yang mana Momen puntir dan tegangan gesek adalah 40 Mpa dan 80 Mpa. Untuk matrial Muff adalah besi cor dengan momen puntir yang dijinkan diasumsikan adalah 15 Mpa. Rencanakanlah untuk Poros, Muff dan Pasaknya.

Diketahui :

P

=

40

kW

=

40

10

N

= 350

rpm

 

3 W

s

=

40

MPa

=

40

N

/

2

mm

cs

c

=

80

MPa

=

80

N

=

15

MPa

=

15

N

/

/

mm

2

mm

2

1. Perencanaan Poros

Momen Puntir yang di alirkan oleh Poros,pasak dan Muff adalah :

T =

T =

P

60

=

40

 

10

3

60

2

N

1100

10

3

2.

N

.350

mm

 

=

1100 N

m

Untuk Momen Puntir Poros :

T

=

16

s

d

3

1100

1100

10

10

3

3

N

N

mm

mm

=

=

16

7,86

40

N

d

3

/

mm

d

d

3 1100 10 N mm 3 = = 140 10 2 7,86 N / mm
3
1100
10
N
mm
3
=
= 140
10
2
7,86
N
/
mm
3
3
=
140
10
=
52
mm
55
mm

3

2

d

3

Untuk perencanaan Poros didapat : 55 mm

2. Perencanaan Muff

Untuk Diameter Luar Muff

D = 2d + 13mm = 2 55mm + 13mm = 123mm 125mm

Untuk Panjang Muff

L = 3,5.d = 3,5 55 = 192,5mm = 195mm

Untuk Momen Puntir muff, di bolehkan meliputi Momen puntir muff

yg terbuat dari besi cor. Maka mempertimbangkan Lubang poros, Karena itu untuk tegangan Puntir untuk Muff adalah :

c

4 4  D d T = c 16     D 
4
4
 D
d
T =
c
16
D
4
4
 125
55
3
1100
10
N
mm
=
c
16
125
3
3
1100
10
N
mm
=
370
10
mm
.
c
1100
10
3 N
mm
2
=
= 2,97
N
/
mm
3
c 370
10
mm


Maka untuk Matrial Besi Cor untuk Muff dapat di pakai. Karena batas yang dijinkan = 15 MPa

c

3. Perencanaan Pasak

Untuk mengetahui lebar pasak dapat di lihat pada tabel 13.1, untuk poros dengan diameter 55 mm adalah , w = 18 mm

Untuk Tebal Pasak direncanakan , t = w = 18 mm Maka untuk panjang dari

Untuk Tebal Pasak direncanakan , t = w = 18 mm

Maka untuk panjang dari pasak masing masing poros adalah :

l

=

L

=

195

=

97,5 mm

 

2

2

Untuk Momen puntir pasak adalah :

d l w s 2 55 3 10 N mm = 97,5 18 s 2
d
l
w
s
2
55
3
10
N
mm
=
97,5
18
s
2
3
3
10
N
mm
=
48,2
10
mm
.
s
3
1100
10
N
mm
2
= 22,8
N
/
mm
3
48,2
10
mm

T =

1100

1100

s

=

Mempertimbangkan, Tegangan gesek sebuah pasak maka untuk momen Puntir untuk Pasak adalah :

t d T = l cs 2 2 18 55 3 1100 10 N mm
t
d
T
=
l
cs
2
2
18 55
3
1100
10
N
mm
=
97,5
2 cs
2
3
3
1100
10
N
mm
=
24,1
10
mm
.
cs
1100
10
3 N
mm
=
= 45,6
N
/
mm
3
cs 24,1
10
mm

2

Maka untuk Pasak dapat dipakai karena momen puntir yg direncanakan

adalah

=

80N / mm

2

cs

B.3. Contoh Soal Kopling Flens Kaku

B.3. Contoh Soal Kopling Flens Kaku Direncanakan kopling flens terbuat dari besi cor meneruskan Daya 15

Direncanakan kopling flens terbuat dari besi cor meneruskan Daya 15 kW untuk 900 r.p.m dari motor elektrik ke sebuah compressor. Untuk service factornya di asumsikan adalah 1,35 . Untuk masing masing Tegangan Yang Diizinkan adalah :

Tekanan Geser untuk material Poros, baut dan Pasak = 40 Mpa Tekanan terhadap tumbukan untuk baut dan Pasak = 80 Mpa Tekanan Geser untuk Besi Cor = 8 Mpa Uraikan perhitungan untuk kopling Flens.

Diketahui :

kW

15

P

N

=

900

=

=

s

cb

=

b

c

=

8

=

=

ck

MPa

15

10

3

W

factor

r p m Service

40

MPa

=

=

.

.

;

_

40

k

=

80

8

=

N

MPa

/

=

mm

=

80

2

N

N

/

mm

N / mm

/

mm

/ mm 2

2

1,35

2

1. Perencanaan Untuk Hub Kopling

Momen Puntir :

T

=

P

60

=

15

10

3

60

2.

. N

2

900

=

159,13 N

m

Karena diketahui Service factor adalah 1,35, Maka untuk maksimum Torsi yang di tranmisikan oleh poros adalah :

T

max

=

1,35

159,13

=

215

N

m =

215

10

3

N

mm

Untuk Diameter Poros :

215

10

3

=

16

s

d

d

d

215

10

3

3

=

=

30,1

7,86

mm

35

=

27,4

mm

3

=

10

16

3

40

d

3

=

7,86.

d

3

Untuk Diameter Luar dan Panjang Hub :

D

=

2.

d

=

2

35

mm

=

70

mm

L

=

1,5.

d

=

1,5

35

mm

=

52,5

mm

Tegangan Geser Untuk matrial Hub :

215

3

D

4

d

4

10

3

=

16

215

c

10

D

3,4

N

/

=

2

mm

16

=

=

=

c 63147

c

70

4

35

4

70

3,4

MPa

= 63147.

c

Untuk Matrial Hub dapat dipakai. Karena masih di bawah Tegangan Geser yang dijinkan.

2. Perencanaan Untuk Key/ Pasak

Untuk matrial dari pasak untuk tegangan geser ( k =2 k ) , karena itu ukuran dari pasak dapat diambil dari tabel 13.1 untuk diameter Shaft 35 mm

tegangan geser ( k =2 k ) , karena itu ukuran dari pasak dapat diambil dari

Maka Untuk Perencanaan pasak adalah :

lebar

_

pasak w

;

=

12

mm

tebal

_

pasak t

,

=

w

=

12

mm

panjang

_

pasak l

,

=

L

=

52,5

mm

Untuk Tegangan pada pasaknya dimana mempertimbangkan dari gesekan dan tumbukan , Maka untuk maksimum Torsi yang di tranmisikan oleh Pasak adalah :

T

Maks

215

=

l

10

3

w

N

k

mm

d

2

=

52,5

12

1100

=

3

10

1100

N

10

3

mm

N

=

11025

mm

=

mm

19,5

s 11025 mm

k

.

N

k

/

35

2

2

mm

=

19,5

MPa

Mempertimbangkan, Tegangan gesek sebuah pasak maka untuk momen Puntir untuk Pasak adalah :

T

=

l

215

215

cs

=

t

2

10

3

10

3

cs

d

2

N

mm

=

52,5

12

 
 
 

2

N

mm

=

5512,5

mm

 

.

215

10

3

N

mm

5512,5 mm

=

39

N

cs

/

35

2

cs

mm

2

=

39

MPa

3. Perencanaan Untuk Flange / Flens

Untuk Tebal dari flens adalah 0,5 d

t

f

= 0,5

d

= 0,5

35 = 17,5

mm

Untuk Tegangan Gesek pada Flens dimana mempertimbangkan Flens Kepada Pertemuan antara Hub dari Gesekan. Maka untuk maksimum Torsi yang di tranmisikan adalah :

2 . D = t T mak c f 2 2 (70) 3 215 10
2
.
D
=
t
T mak
c
f
2
2
(70)
3
215
10
N
mm
=
17,5
c
2
3
215
10
N
mm
=
134713
mm
.
c
3
215
10
N
mm
2
=
=
1,6
N
/
mm
cs
134713
mm

=

1,6

MPa

Untuk Flens dapat dipakai. Karena masih di bawah Tegangan Geser yang dijinkan.8 MPa

4.

Perencanaan Untuk Bolt/ Baut

d 1 = Nominal Diameter Baut.

Untuk Diameter Poros 35 mm, karena itu kita tentukan untuk Jumlah dari Baut, n = 3

Maka untuk Lingkaran Jarak diameter baut adalah :

D

1 =

3.d

=

3

35

=

105mm

Untuk Diameter Baut , Maka deketahui untuk maksimum Torsi yang di tranmisikan adalah :

T

mak

215

215

(

d 1 )

D

=

4

(

10

10

2

d

1

3

N

3

N

215

)

2 n b mm = 4 mm = 10 3 N
2
n
b
mm
=
4
mm
=
10
3 N

1

(

2

d

1

)

2

40

N

/

mm

4950

mm

.

c

mm

= 43,43 mm

=

5950

N

/

2

mm

d

1

= 6,6

mm

2

3

105

2

Maka dapat kita asumsikan untuk standart baut yang kita pakai adalah

M8

Diameter Luar dari Flens :

D

2 =

4.d

=

4

35

=

140mm

M8 Diameter Luar dari Flens : D 2 = 4. d = 4 35 = 140

Untuk Tebal Kampuh kepala baut dari Flans adalah :

t

p

= 0,25.

d

= 0,25

35 = 8,75

mm

10

mm

B.4. Aplikasi Kopling Tetap

B.4. Aplikasi Kopling Tetap Contoh Soal Kopling Karet Ban dan Kopling Fluida dapat di pelajari pada
B.4. Aplikasi Kopling Tetap Contoh Soal Kopling Karet Ban dan Kopling Fluida dapat di pelajari pada

Contoh Soal Kopling Karet Ban dan Kopling Fluida dapat di pelajari pada Buku Sularso Hal : 41 dan 52.

A.2. Kopling Tidak Tetap ( Clutch )

Macam macam Kopling Tidak Tetap

1. Kopling Cakar / Cakra Kopling ini meneruskan momen dengan kontak positip ( tidak dengan perantaraan gesekan ) sehingga tidak dapat slip. Kopling ini mempunyai bentuk hamper serupa dengan kopling ekspansi. Hanya pada kopling cakar bagian belah kopling yang berada pada poros penggerak disambung tetap memakai pasak tirus, sedangkan bagian belah yang lain dapat bergerak sepanjang pasak benap pada poros yg

digerakan. Biasanya pergeseran bagian kopling dilakukan dengan sebatang garpu tongkat, dimana cakar-cakar diserongkan agar memudahkan dalam melepaskan hubungan, akan tetapi koplin cakar dengan bentuk ini hanya dapat memindahkan kopel searah.

dengan bentuk ini hanya dapat memindahkan kopel searah. 2. Kopling Plat / Gesek Kopling ini meneruskan

2. Kopling Plat / Gesek

dapat memindahkan kopel searah. 2. Kopling Plat / Gesek Kopling ini meneruskan momen dengan perantara gesekan.

Kopling ini meneruskan momen dengan perantara gesekan. Dengan demikian pembebanan yang berlebihan pada poros penggerak pada waktu dihubungkan dapat dihindari. Selain itu karena dapat terjadi slip, maka kopling ini sekaligus berfungsi sebagai pembatas momen. Kopling ini jarang terjadi kejutan yang berarti. Letak kedua poros harus pada satu garis lurus agar terdapat hubungan yang baik dan tidak cepat aus atau rusak. Menurut jumlah platnya, kopling ini dapat dibagi atas kopling plat tunggal dan kopling plat banyak. Menurut cara pelayanannya dapat dibagi atas cara manual, cara hidroulik dan cara magnetik.

Ada empat tahapan pokok gerakan kopling Plat antara lain : a. Tahap 1 : Menghubungkan

Ada empat tahapan pokok gerakan kopling Plat antara lain :

a. Tahap 1 :

Menghubungkan : Bidang gesek-gesek kopling di dorong dan ditekan satu dengan yang lainnya, poros digerakan berputardari kecepatan yang sama dengan poros yang menggerakan.

b. Tahap 2 :

Telah Dihubungkan : Kedua bidang gesek telah menjadi satu kopling berfungsi poros yang digerakan dan yang menggerakan berputar dengan kecepatan yang sama.

c. Tahap 3 :

Melepaskan : Bidang gesek-gesek dipisahkan satu dengan yang lainya, poros yang digerakan memperlambat kecepatan berputarnya lalu berhenti.

d. Tahap 4 :

Telah Dilepaskan : Kedua bidang gesek telah meregang, poros yang digerakan sudah tak bergerak, kopling gesek sudah tak berfungsi lagi. Poros yang menggerakan dapat berlangsung berputar atau juga berhenti.

Ditinjau dari pokok gerakan kopling plat, maka yang harus diperhatikan sewaktu mendisainnya ialah bentuk dan luas bidang

geseknya, bahan untuk bagian bidang gesek dan cara menghubungkan kedua bidang gesek. Bahan bidang gesek dilihat dari segi fungsi bidang gesek harus dapat memenuhi beberapa syarat :

a. Mempunyai koefisien gesek yang besar, akan tetapi cukup keras tidak mudah cacat dan tahan terhadap aus.

b. Kuat dan tahan panas.

3. Kopling Kerucut Kopling ini menggunakan bidang gesek yang berbentuk bidang kerucut. Dimana kontruksinya sederhana dan mempunyai keuntungan dimana dengan gaya aksial yang kecil dapat ditranmisikan momen yang besar. Kopling macam ini dulu banyak dipakai, tetapi sekarang tidak lagi karena daya yang diteruskan tidak seragam. Walaupun demikian dalam keadaan dimana bentuk plat tidak dikehendaki dan kemungkinan terkena minyak, kopling kerucut sering legih menguntungkan.

terkena minyak, kopling kerucut sering legih menguntungkan. 4. Kopling Friwil Kopling ini hanya dapat meneruskan momen

4. Kopling Friwil Kopling ini hanya dapat meneruskan momen dalam satu arah putaran, sehingga putaran yang berlawanan arahnya akan dicegah atau tidak diteruskan. Cara kerjanya dapat berdasarkan efek biji dari bola atau rol. Bola-bola atau rol-rol dipasang dalam ruangan yang bentuknya sedemikian rupa sehingga jika poros penggerak. Bagian dalam berputar searah jarum jam, maka gesekan yang timbul akan menyebabkan rol atau bola terjepit diantara poros penggerak dan cincin luar bersama poros yang digerakan akan berputar meneruskan daya. Jika poros penggerak berputar berlawanan arah jarum jam, atau jika poros yang digerakan berputar lebih cepat dari pada poros yang berputar lebih cepat cepat dari poros penggerak, maka bola atau rol akan lepas dari jepitan hingga tidak terjadi penerusan momen lagi. Kopling ini sangat banyak digunakan dalam otomatisasi mekanis. Suatu bentuk lain dari kopling semacam ini, menggunakan bentuk cam/nok sebagai pengganti bola dan rol dan disebut kopling cam.

bentuk lain dari kopling semacam ini, menggunakan bentuk cam/nok sebagai pengganti bola dan rol dan disebut

C. Perencanaan Tetap (Clutch )

C.1. Kopling Cakar

Jika daya yang akan diteruskan adalah P ( kW ), dan putaran adalah

(rpm ) serta factor koreksi

poros dapat dihitung. Sebuah alur pasak untuk menggeserkan cakar

tentu harus disediakan.

dan bahan poros dipilih, maka diameter

n

1

f

c

disediakan. dan bahan poros dipilih, maka diameter n 1 f c Lambang-lambang untuk kopling cakar. Untuk

Lambang-lambang untuk kopling cakar.

Untuk Diameter poros

d

s

Dimana :

D

D

h

1

2

= Diameter Dalam

= Diameter Luar

= Tinggi

( mm ) dapat ditentukan :

D

D

1 =

=

2

(mm)

( mm )

( mm )

1.2

d

2

d

s +

s +

25

10

d

s + 8

h = 0.5

Momen Puntir yang diteruskan ;

10

T

=

9.74

5

f

c

P / n

1

( kg.mm )

Gaya tangensial :

Dimana :

r m =

(

F

t

D

1

D

= T / r

+

2

m

) / 4

F

r

t

m

= Gaya tangensial ( kg )

= jari jari rata-rata ( mm )

Jika luas akar dari cakar adalah ½ dari

geser yg timbul pada akar cakar adalah :

8   F

=

t

/ D

2

(

2

4

(

D

D

2

1

)

2

2

D

2

1

)

, maka tegangan

Dimana :

F

t

Tegangan geser ( kg/mm 2 )

=

= Gaya tangensial ( kg )

Momen lentur yang bekerja pada cakar adalah adalah jumlah cakar

(

Alas

tingginya adalah [ (

dari

penampang

D

2

2

cakar

D

2

1

segi

/

)/ 4 ](

n

empat

)

,

adalah

F

t

/

n h

)

(

D

2

2

Untuk momen tahanan lentur adalah :

Z =

1

(

D

2

D

1

)

6

2

(

D

1

+

D

2

)

4 n

2

Besarnya tegangan Lentur adalah :

b

=

F h

t

nZ

( kg/mm 2 )

Tegangan geser maksimum adalah :

Maks

=

( 2 2 + 4 b
(
2
2
+
4
b

)/ 2

, dimana n

D

2

1

)/ 2

,

jika

Jika harga ini lebih kecil dari tegangan geser yg dizinkan, maka dapat diterima, tetapi jika lebih besar, maka D 1 , D 2 , h harus disesuaikan. Dan dalam menghubungkan dan melepaskan kopling harus dilakukan dalam keadaan berhenti.

Contoh Soal :

Sebuah kopling cakar untuk putaran dua arah akan dihubungkan dengan sebuah poros baja liat untuk meneruskan daya sebesar 1,5 kW pada 120 rpm, tentukan diameter luar, diameter dalam dan tinggi cakar denagan mengambil cakar 3 buah .

Penyelesaian :

1. Daya Yang akan di transmisikan dan Putaran Poros.

P = 1,5 kW, n1 = 120 rpm

2. Matrial.

Dengan menganggap kadar karbon poros baja liat sebesar 0,20 % .

B

=

40kg / mm

2

.

Ambil misal ;

Sf

1

=

6;

Sf

2

=

2,5(

Dengan

_

40

=

a 6

2,5

= 2,67

kg mm

/

2

alur

_

pasak

)

3.

Factor Koreksi :

f

c

= 1

Daya Rencana

P = 1 1,5 = 1,5kW

Momen rencana :

5

(

P

N

T =

9,74

10

)

=

9,874

4. Faktor Koreksi Momen Puntir :

Faktor Lenturan Diameter Poros

C

b

= 1

10

K

t

5

(

1,5

120

= 2,5

)

=

12175(

d

d

s

s

=

=

  

5,1

a

5,

12,67

K

t

C

b

2,5

1

T

1 / 3

12175

1 / 3

=

38,7

mm

40

kg mm

.

mm

)

5. Dengan Menganggap kadar karbon baja liat sebagai bahan cakra besar 0,25% Kekuatan tarik :

B

=

45(

kg mm

/

2

),

Sf

1

=

10,;

Sf

2

=

5

Tegangan Geser Yang dijinkan :

a

=

45

5)

D

1

= +

s

d

= 0,9(

10

=

kg mm

/

1,2

40

+

2

(10

6. Diameter Dalam cakra :

1.2

)

10

Diameter Luar Cakra :

=

58(

mm

)

D

2

=

2 d

s +

25

=

2

 

40

+

25

=

105(

mm

)

Tinggi Cakra :

 

h

= 0.5d

s +

8

=

0,5

40

+

8

=

28(mm)

7. jari jari rata-rata

 
 

( D

1

+

D

 

(58

+

105)

 

r m

=

2

)/ 4

=

4

 

= 41(

mm

8. Gaya Tangential

F

t

=

T

/

r

m

=

12175(

kg mm

.

)

41(

mm

)

= 297(

kg

)

)

9. Tegangan Geser Cakar

  8  

/

(

2

D

2

2

D

1

)

=

  8

t

=

F

297

kg mm

/

2

)

=

(105

2

2

58 )

 
   

2

1

(

D

 

D

)

 

(

D

 

+

D

)

6

2

2

1

 

1

4 n

 

2

1

 

(105

 

58)

 

 

(58

+

6

 

2

 

4

3

 

105

 

2

= 0,099(

10. Tegangan Lentur

Z =

Z

= 7141(

mm

3

)

b

=

Fh t

297

28

=

nZ

3

7141

= 0,388( kg mm

/

2

)

11. Tegangan Geser Maksimum ( 2 2 = + 4 ) / 2 Maks b
11. Tegangan Geser Maksimum
(
2
2
=
+ 4
) / 2
Maks
b
2
2
0,388
+
4
0,099
=
Maks
2

= 0,218(

kg mm

/

2

)

12. Untuk Perencanaan Kopling Cakra :

d

D

s

1

= 40(

= 58(

mm

mm

)

)

D

h

2

= 105(

mm

= 28(

mm

)

)

bahan cakra : baja Liat ( C = 0,25% )

C.2. Kopling Plat

) ) bahan cakra : baja Liat ( C = 0,25% ) C.2. Kopling Plat Besarnya

Besarnya gaya yg menimbulkan tekanan pada kopling gesek adalah :

F

=

4

(D

2

2

D

2

1

)P

Dimana :

D 1 = diameter dalam

D

2 = Diameter luar bidang gesek

P

= tekanan rata rata pada bidang gesek ( kg/mm 2 )

Besarnya Momen Gesek adalah :

T

=

F

D

1

+

D

2

4

Dimana :

= Koefisien gesek

Dimana : = Koefisien gesek Untuk Kopling Plat yg sederhana, sebanyak mungkin segi yg penting harus

Untuk Kopling Plat yg sederhana, sebanyak mungkin segi yg penting harus diperhatikan agar kopling dapat bekerja dengan aman dan halus, karena kopling adalah suatu bagian yang sangat penting.

Contoh Soal :

Rencanakan Sebuah kopling plat tunggal untuk meneruskan daya sebesar 7,5 kW pada 100 rpm. Anggaplah besarnya perbandingan

Koefisien Gesekan = 0,2 dan tekanan

permukaan yang dizinkan pada bidang gesek

diameter

D

1

/

D

2

=

0,8

p

a

= 0,02

kg/mm 2 .

Penyelesaiannya :

1. P = 7,5 kW, n 1 = 100 rpm

2. Daya motor Nominal sebesar 7,5 kW,

3. Daya rencana :

f

P

d

=

c

P

= 1

7.5 = 7,5

kW

f

c

= 1.0

4. Momen Puntir Poros :

T

=

9.74

10

5

T =

9.74

10

5

f

c

P / n

1

7,5 /100

=

73050

kg.mm

5. Gaya Tekanan Kopling

( 2 2 ) 2 F = f ( D / D ) D c
(
2
2
)
2
F
=
f
(
D
/
D
)
D
c
1
2
2
4
(
2
2
)
2
F
=
1
0.8
D
0.02
=
2
4
6. Gaya Tangensial
r
=
(
D
/
D
+
f
)
D
/ 4
m
1
2
c
2
r
(0,8
+
1)D / 4
=
0,45D
m =
2
2

p

a

0,00565

D

2

2

7.

Besar Momen Gesek :

T

T

=

F

=

0,2

D

1

+

D

2

4

0,00565D

2

2

0,45D

2

=

508,5

10

6

D

3

2

8. Diameter Luar bidang Gesek:

= T T Poros Kopling 73050 = 508,5 10 6 D 73050 D = 3
= T
T Poros
Kopling
73050
=
508,5
10
6 D
73050
D
=
3
=
2
6
508,5
10
9. Maka Didapat :

3

2

523,73mm

530mm

Diameter Luar Bidang gesek Kopling D

Diameter Dalam Kopling, D 1 =

530mm

2 =

=

424mm

0,8

530

Dalam perhitungan diatas hanya yang dihitung besar momennya saja.

Dalam prakteknya karena percepatan turut menentukan, maka

perhitungan seperti contoh diatas tidak cukup. Adapun cara perhitungan yang lebih lengkap adalah :

1. Mula mula ditentukan cara pelayanan pada mesin yang akan dipakai seperti manual atau otomatik, langsung atau jarak jauh, serta pelayanan seperti mahual hidrolik, numatik atau magnetik

2. Tentukan macam kopling menurut besarnya momen yang akan diteruskan plat tunggal atau banyak

3. Pertimbangkan macam dan karakteristik momen dari penggerak mula.

4. Untuk jumlah penghubungan kurang dari 20 kali/menit, semua macam dapat dipakai, tetapi untuk lebih dari 20 kali/menit, kopling basah tidak cocok.

5. Jika lingkungan kerja tidak baik, pakailah kopling basah, dan jika pemakaian kopling kering tidak dapat dihindari, pasanglah kopling tersebut didalam kotak yang tertutup rapat dan kedap.

6. Untuk penempatan yang menyulitkan pemeriksaan dan pemeliharaan, lebih cocok jika dipakai cara pelayanan hidrolik, numatik atau elektro magnetik.

7. Jika diingini umur yang panjang, pemakaian kopling basah sangat sesuai.

Dari Petunjuk diatas, maka perhitungan dapat dikelompokan menjadi 5 rumus :

1. Momen Puntir

2. Kerja Penghubung

3. Jangka Waktu Kerja

4. Perhitungan Panas

1.

Momen Puntir

i). Momen yang dihitung dari daya penggerak mula.

Maka Momen Puntir pada poros kopling adalah :

Dimana :

T = 974

f P

c

n

1

T

= Momen Puntir ( kg.m )

P

= Daya penggerak ( kW )

f

c

= Faktor Koreksi

n 1 = Putaran Poros Kopling ( rpm )

Jika P adalah daya nominal motor,

karena sudah mencakup beberapa tambahan.

f

c

= 1 dapat dipandang cukup

ii). Momen yang dihitung dari Beban.

Maka Momen Beban dapat dinyatakan adalah :

Dimana :

T

1

=

974

FV

6120.

n

1

.

T 1 = Momen Beban ( kg.m )

F

= Beban ( kg )

V

= Kecepatan Beban ( m/min )

n 1 = Putaran Poros Kopling ( rpm ) = Efisiensi mekanis

Jika Beban berat sudah bekerja sejak permulaan dan harganya tidak diketahui, maka momen T puntir yang dihitung dari daya motor nominal dapat dipakai secara efektip. Jika momen start adalah

T

i1

(kg.m), maka : T

i

1

T

Momen maksimum pada kecepatan penuh dapat dianggap

Persamaan Gerak dari seluruh benda yang berputar adalah Momen dari luar maka :

T

12

(kg.m).

T

=

J

  GD

4 g

2

f

o

t

a

Dimana :

T = Momen Dari luar ( kg.m)

J = Momen Inersia (kg.m.s 2 ) = Kecepatan sudut ( rad/s )

f = Kecepatan sudut awal ( rad/s)

t

o = Kecepatan sudut akhir ( rad/s)

a = Jangka waktu penghubungan ( s )

GD 2

= Gaya terhadap poros kopling ( kg.m 2 )

g = 9.8 ( m/s 2 )

Jika momen Percepatan yang di perlukan untuk mencapai jangka

waktu perhubungan yang direncanakan t , adalah T

momen luar T = T T

a

, maka karena

e

a

i1

T

a

T

i 1

=

GD

2

2

2

n

2

GD

2

(

n

1

n

2

)

n

1

1

4

9,8

60

60

t

e

375. t

e

=

2

GD

T

=

. n

r

a 375. t

e

+ T

i

1

Bila GD 2 dan momen beban adalah kecil pada penghubungan, dan momen beban berat dikenakan setelah terjadi hubungan, serta jika

momen beban maksimum

T

12

dimana :

T a =

GD

2

.

n

1

375. t

e

+

T

i

1

<

1

2

T

12

Maka kopling tersebut dapat dianggap bekerja dengan momen gesekan statis. Dalam keadaan demikian. Pilihlah kopling dengan T sebagai kapasitas momen gesekan statis dalam daerah berikut :

so

T

so

>

T

12

.

f

Bila momen beban berat dikenakan dari permulaan, maka pilihlah

kopling dengan T daerah berikut :

sebagai kapasitas momen gesekan dinamis dalam

do

T

do

>

T

12

.

f

Untuk Kopling Elektromagnetik plat tunggal kering momen gesekan statis di berikan dalam tabel 3.2 dan momen gesekan dinamisnya dalam tabel 3.3.

plat tunggal kering momen gesekan statis di berikan dalam tabel 3.2 dan momen gesekan dinamisnya dalam
plat tunggal kering momen gesekan statis di berikan dalam tabel 3.2 dan momen gesekan dinamisnya dalam

Tabel 3.2. Momen puntir gesek statis untuk kopling elektromagnit plat tunggal kering

Tabel 3.3. Faktor keamanan untuk memilih kopling tak tetap.
Tabel 3.3. Faktor keamanan untuk memilih kopling tak tetap.

2. Kerja Penghubung

Setelah pemilihan kapasitas momen, perlu di bahas panas gesekan atau kerja penghubung oleh slip pada waktu berlangsung proses penghubungan.

i). Pada waktu percepatan.

Untuk Kerja penghubung adalah :

Dimana :

E

=

T

do

1

2

2

t

ae

=

T

do

 

n

1

2

n

2

t

ae

=

T

do

n

r

60

 

60

2

 

19.1

2

t

ae

T do

t ae

= Kapasitas Momen gesek dinamis (kg.m)

= Kerja jangka waktu penghubung yg sesungguhnya (s)

1 = Kecepatan sudut ( rad/s)

2 = Kecepatan sudut ( rad/s)

Karena T

a

menjadi

t

ae

=

T

do

maka :

GD

2

 

(

 
 

n

 

T

do

T

i 1

.

19,6

60

1

n

2

)

=

GD

2

.

n

r

(

375 T

do

T

i 1

)

Maka kedua persamaan tersebut :

E =

GD

2

.

n

2

7160

T

do

.

T

do

T

i 1

( kg.m/hb )

Bila dalam keadaan diam, maka

n

r =

n

1

ii). Jika sisi beban berputar berlawanan dengan arah putaran poros penggerak.

Persamaan gerak dari benda yang berputar :

Maka :

(

(

T

do

T

do

+

T

i 1

T

i 1

)

)

=

GD

2

(

0

2

)

4.g

.

t

1

=

GD

2

(

1

0

)

4.g

.

t

2

t

1

t

2

=

=

GD

2

.

n

2

(

375 T

do

GD

2

+

.

n

T

i 1

1

)

(

375 T

do

+

T

i 1

)

Besarnya sudut yang ditempuh adalah :

((

2

)

/ 2 .t

1

T

do

2

(

+

n

1

1

+

t

1

n

+

2

)

(

n

2

1

)

/ 2 .t

+

2

)

2

7160

 

T

do

+

T

i

1

T

do

 

T

i 1

n 1

Maka kerja penghubung :

E =

Jika kerja penghubung yang diizinkan adalah haruslah :

E

E

a

3. Jangka Waktu Kerja

E (kg.m/hb) maka

a

Pada permulaan perhitungan, momen percepatan yang di perlukan untuk memenuhi waktu penghubungan yang direncanakan dicari dulu. Dan momen puntir serta nomor kopling ditentukan. Rumus yang di peroleh dapat di susun sebagai berikut :

i). Pada percepatan.

ii).

Bila

sisi

beban

penggerak.

yang

t ae

=

GD

2

.

 

(

375 T

do

n

r

T

i 1

)

berlawanan

dengan

t

ae

=

GD

2

n

2

n

1

375

T

do

+

Ti

1

T

do

T

i 1

+

arah

putaran

poros

Waktu yang di ambil sejak dari permulaan pelayanan sehingga tercapai hubungan adalah waktu perhubungan yang sesungguhnya

o diambil sejak operator pelayanan sampai saat gaya

bekerja pada badan kopling. Besarnya waktu adalah penting walaupun harganya tidak tetap.

ditambah waktu

t

ae

t

4. Perhitungan Panas

Kerja penghubung pada kopling akan menimbulkan panas karena

gesekan sehingga temperatur kopling akan naik. Temperatur

permukaan gesek biasanya nain menjadi 200 ( C ) dalam sesaat. Tetapi untuk seluruh kopling umumnya dijaga agar suhunya tidak lebih

tinggi

Jika Kerja penghubungan untuk satu kali pelayanan direncanakan

lebih kecil dari pada kerja penghubungan yang dizinkan, pada

dasarnya pemeriksaan temperatur tidak diperlukan lagi.

o

dari 80 (

o

C

).

5. Umur Plat Gesek

Umur

plat gesek kopling kering adalah lebih rendah dari pada kurang

lebih

sepersepuluh

umur kopling.Karena laju keausan plat gesek

tergantung dari

1. bahan geseknya

2. tekanan kontak

3. kecepatan keliling,

4. temperatur

Sangat sukar untuk menentekan umur secara teliti, sekalipun dapat diperoleh rumus :

=

Dimana :

3

L

E w

.

N mL

E

= Kerja penghubung untuk satu kali hubungan ( kg.m/hb )

w

= Laju keausan permukaan bidang gesek ( cm 2 /kg.m) Tabel 3.4

L 3

= Volume keausan yang dizinkan dari plat gesek ( cm 3 )

bidang gesek ( cm 2 /kg.m) Tabel 3.4 L 3 = Volume keausan yang dizinkan dari
bidang gesek ( cm 2 /kg.m) Tabel 3.4 L 3 = Volume keausan yang dizinkan dari

Contoh Soal :

Sebuah mesin yang memberikan beban penuh sejak awal digerakan oleh sebuah motor dengan gaya nominal sebesar P = 1 ( PS ) dengan putaran poros motor n m =1450 rpm dan putaran poros kopling sebesar 600 rpm, Dimisalkan

efek roda gaya terhadap poros kopling GD 2 =3,0 kg-m 2 .Dan frekwensi penghubung N = 6 hb/min. Pilihlah sebuah kopling plat tunggal kering yang cocok untuk poros. Taksirlah umur plat geseknya. Jika kopling dianggap kerja 6 jam sehari.

Jawab :

1. P = 1,0 PS = 0,735 kW , n m = 1450 rpm , n 1 = 600 rpm

2. factor koreksi

3. Daya Rencana :

f

c

= 1

P

d

= f

c

P = 1 0.735 = 0.375

kW

4. Momen poros motor & Poros Kopling :

( kg.m )

f

c

P

0,735

1450

0,735

600

T

1 =

T 2 =

974

974

n

f

m

c

P

n

1

=

=

974

974

= 0,494

= 1,19

( kg.m )

5. Momen beban saat awal & momen beban setelah awal :

T

i

1

= T

2

=

1,19(

kg m

.

)

= T

i

2

6. GD 2 poros kopling & Putaran relatip

GD

n