Anda di halaman 1dari 8

VI. ANATOMI IKAN A. Sasaran Pembelajaran 1.

Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan anatomi 2. Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan cara-cara melakukan pengamatan organ dalam ikan (anatomi ikan). B. Pengertian Anatomi Anatomi merupakan salah satu cabang dari Ilmu Hayat (Biologi) yang mempelajari organ-organ dalam suatu organisme. Anatomi suatu spesies ikan sangat penting untuk diketahui karena merupakan dasar dalam mempelajari jaringan tubuh, penyakit dan parasit, sistematika, dan sebagainya. Bentuk dan letak setiap organ dalam antara satu spesies ikan dapat saja berbeda dengan spesies ikan lainnya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan bentuk tubuh, pola adaptasi spesies ikan tersebut terhadap lingkungan tempat mereka hidup, atau stadia dalam hidup spesies tersebut. Beberapa organ yang dapat diamati secara anatomis pada tubuh ikan antara lain: otak, rongga mulut, insang, jantung, hati, empedu, alat pencernaan makanan, limpa, kelenjar kelamin, gelembung renang, dan lain-lain (Gambar 29 dan 30). Ada dua tindakan pengamatan yang dilakukan untuk mengamati anatomis ikan yaitu: a. Inspectio = mengamati dengan tidak mempergunakan alat bantu. b. Sectio = membuka dinding badan untuk mengamati bagian dalam tubuh ikan. Agar organ-organ yang diamati berada pada kondisi yang baik dan tetap berada pada posisi masing-masing, maka sebaiknya ikan yang diamati adalah ikan-ikan yang telah diawetkan sebelumnya. Jika sampel ikan telah diawetkan maka organ-organ yang lunak dan mudah rusak seperti otak, jantung, hati, dan lain-lain, telah menggumpal atau mengeras dan tidak akan terganggu pada saat dilakukan pembedahan. Bahan pengawet yang digunakan adalah larutan formalin 10%.
82

Gambar 29. Letak organ dalam pada ikan Osteichthyes (Affandi et al., 1992)

83

Gambar 30. Letak organ dalam pada ikan Chondrichthyes (Affandi et al., 1992)

84

C. Prosedur Pembedahan Untuk melakukan pembedahan yang baik haruslah dilakukan dengan urutan sebagai berikut (Gambar 31): 1. Ikan yang akan diamati, diletakkan di atas papan bedah atau baki bedah dengan kepala menghadap ke sebelah kiri dan bagian punggung terletak di bagian atas. 2. Dengan menggunakan pisau atau gunting yang tajam dibuat sayatan membujur, dimulai dari pertengahan mulut kemudian terus ke arah bagian atas kepala sehingga otak akan tampak. 3. Jika sayatan telah melewati daerah tengkuk (kuduk) maka penyayatan harus dilakukan dengan hati-hati agar ujung pisau tidak melewati dasar tulang punggung. Hal ini dimaksudkan agar organ yang berada di bawah tulang punggung tidak terganggu. 4. Penyayatan atau pembedahan harus diarahkan ke bagian bawah pada saat pisau bedah telah mendekati bagian ekor. Ujung sayatan kemudian berakhir di daerah belakang anus. 5. Dengan menggunakan gunting bedah, bagian dasar tubuh (dasar perut) kemudian digunting mengarah ke bagian depan sehingga otot-otot yang membungkus organ-organ dalam dapat dibuka secara keseluruhan. 6. Bagian yang dikelupas (telah dibuka) hanya bagian sebelah depan saja sehingga dengan demikian letak organ dalam, mulai dari organ-organ yang terletak di bagian kepala sampai ke organ-organ yang terletak di bagian belakang, akan nampak jelas terlihat. 7. Organ-organ yang tidak nampak dalam preparat dapat dicari dengan cara menelusuri dan membandingkannya dengan pustaka. D. Istilah-istilah Anatomi Beberapa istilah anatomi yang sering ditemukan adalah: cranial caudal superior inferior dorsal ventral = ke arah kepala = ke arah ekor = ke arah atas (atas) = ke arah bawah (bawah) = ke arah punggung = ke arah perut
85

Gambar 31. Prosedur pembedahan tubuh ikan (Andy Omar, 1987)

86

abdominal thoracal anterior posterior dexter sinister lateral medial proximal distal

= ke arah dalam perut = ke arah dada = ke arah muka = ke arah belakang = sebelah kanan = sebelah kiri = ke arah sisi/samping = ke arah tengah = lebih mendekati ke arah batang tubuh = lebih menjauhi ke arah batang tubuh

Untuk menentukan kedudukan atau posisi organ-organ, maka badan ikan dapat dibagi atas bidang-bidang (Gambar 32) sebagai berikut: Bidang medial, yaitu bidang yang jalannya memotong garis tengah dan berjalan dari bagian dorsal ke ventral Bidang sagittal, yaitu bidang yang jalannya sejajar dengan bidang median, di sebelah kanan dan kiri garis tengah Bidang frontal, yaitu bidang yang jalannya tegak lurus bidang median dan memotong bidang median dengan sudut 90 dari cranial ke caudal. Bidang transversal, yaitu bidang yang jalannya tegak lurus bidang frontal.

E. Gelembung Berenang Pada beberapa ikan tertentu ditemukan gelembung berenang (vesica natatoria = pneumatocyst). Gelembung berenang berfungsi sebagai alat hidrostatik, untuk menentukan tekanan air sehubungan dengan kedalaman perairan. Pneumatocyst terdapat di bagian dorsal rongga badan, yaitu di sebelah ventral dari ren, aorta abdominalis, dan columna vertebralis. Umumnya berbentuk oval dengan warna keputih-putihan, terdiri atas dua bagian yang tidak sama besar. Dari bagian anterior, tepat di perbatasan antara bagian anterior dan bagian posterior, keluar sebuah saluran yang menghubungkan pneumatocyst dengan esophagus. Saluran ini disebut ductus pneumaticus dan berfungsi sebagai jalan keluar masuknya udara ke dalam pneumatocyst (Gambar 33).

87

Gambar 32. Berbagai posisi tubuh ikan (Andy Omar 1987)

Gambar 33. Gelembung berenang (Bond, 1979)


88

Berdasarkan ada tidaknya ductus pneumaticus, ikan-ikan dapat dibedakan atas dua golongan yaitu: Physostomi, adalah ikan-ikan yang memiliki ductus pneumaticus, misalnya ikan karper (Cyprinus carpio carpio Linnaeus, 1758) Physoclysti, adalah ikan-ikan yang tidak memiliki ductus pneumaticus, misalnya ikan mujair (Oreochromis mossambicus (Peters, 1852)) F. Soal-soal Latihan Setelah membaca materi di atas, bentuklah kelompok diskusi (5 orang per kelompok). Selanjutnya, setiap kelompok melakukan penelusuran pustaka dan carilah lima jenis ikan yang termasuk golongan physostomi dan physoclisti. Presentasikan tugas tersebut di dalam kelas. G. Daftar Pustaka Affandi, R., D.S. Sjafei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Iktiologi. Suatu Pedoman Kerja Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Alamsjah, Z. 1974. Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Alamsjah, Z. dan M.F. Rahardjo. 1977. Penuntun Untuk Identifikasi Ikan. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Andy Omar, S. Bin. 1987. Penuntun Praktikum Ichthyologi. Jurusan Perikanan Universitas Hasanuddin, Ujungpandang. Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. W.B. Saunders Company, Philadelphia. Chiasson, R. 1980. Laboratory Anatomy of the Perch. Third edition. WM. C. Brown Company Publishers, Dubuque, Iowa. Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller, and D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology. Second edition. John Wiley and Sons, Inc., New York. Moyle, P.B. and J.J. Cech, Jr. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Second edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey. Wischnitzer, S. 1972. Atlas and Dissection Guide for Comparative Anatomy. Second edition. W. H. Freeman and Company, San Francisco.

89