Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam rongga pleura.

Awalnya, cairan pleura adalah encer dengan jumlah leukosit rendah, tetapi sering kali menjadi stadium fibropurulen dan akhirnya sampai pada keadaan di mana paru-paru tertutup oleh membran eksudat yang kental. Hal ini dapat terjadi jika abses paru meluas sampai rongga pleura. Empiema adalah akumulasi pus diantara paru dan membran yang menyelimutinya (ruang pleura) yang dapat terjadi bilamana suatu paru terinfeksi. Empiema masih merupakan masalah dalam bidang penyakit paru karena secara signifikan masih menyebabkan kecacatan dan kematian walaupun sudah ditunjang dengan kemajuan terapi antibiotik dan drainase rongga pleura maupun dengan tindakan operasi dekortikasi. Empiema paling banyak ditemukan pada anak usia 29 tahun. Empiema merupakan salah satu penyakit yang sudah lama ditemukan dan berat. Empiema dapat diobati dan ditangani dari dini agar tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut. Untuk lebih jelasnya akan kami bahas pada makalah ini mengenai penyakit empiema paru.

B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini antara lain sebagai berikut: 1. Apakah definisi penyakit empiema? 2. Apakah etiologi penyakit empiema ? 3. Apakah manifestasi klinis penyakit empiema ?

4. Bagaimana patofisologi penyakit empiema ? 5. Bagaimana penatalaksanaan penyakit empiema ? 6. Bagaimana asuhan keperawatan penyakit empiema ?

C. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami tentang: 1. Definisi penyakit empiema. 2. Etiologi penyakit empiema. 3. Manifestasi klinis penyakit empiema. 4. Patofisologi penyakit empiema. 5. Penatalaksanaan penyakit empiema. 6. Asuhan keperawatan penyakit empiema.

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam rongga pleura. Pada awalnya cairan pleura sedikit dengan jumlah leukosit rendah, tetapi sering kali cairan ini berkembang ke tahap fibropurulen dan akhirnya ke tahap dimana cairan tersebut membungkus paru dalam membran eksudatif yang kental. (Brunner & Suddarth,2001) Empiema adalah keadaan dimana saat efusi pleura mengandung nanah. Empiema disebabkan oleh perluasan infeksi dari struktur yang berdekatan dan dapat merupakan komplikasi dari pneumonia, abses paru, atau perforasi karsinoma ke dalam rongga pleura. (Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine, 2005) Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam rongga pleura. Awalnya, cairan pleura adalah encer dengan jumlah leukosit rendah, tetapi sering kali menjadi stadium fibropurulen dan akhirnya sampai pada keadaan dimana paru-paru tertutup oleh membran eksudat yang kental. (Somantri, Irman, 2007) Empiema adalah suatu efusi pleura eksudat yang disebabkan oleh infeksi langsung pada rongga pleura yang menyebabkan cairan pleura menjadi keruh dan kental. Pada empiema terdapat cairan pleura yang mana pada kultur dijumpai bakteri atau sel darah putih > 15.000 / mm 3 dan protein > 3 gr/ dL.

B. Etiologi a) Berasal dari paru Pneumonia Abses paru Adanya fistel pada paru Bronkhiektasis Tuberkulosis Infeksi fungidal paru

b) Infeksi di luar paru Trauma dari tumor Pembedahan otak Thorakosentesis Subfrenic abses Abses hati karena amoeba

c) Bakteriologi (terjadi pada semua umur, sering dialami oleh anak-anak)


4

Streptococcus pyogenes Bakteri gram negatif Bakteri anaerob

C. Manifestasi Klinis Empiema dibagi menjadi dua stadium yaitu sebagai berikut: a) Empiema Akut Terjadi sebagai akibat infeksi sekunder dari tempat lain, bukan primer dari pleura. Pada permulaan gejala-gejalanya mirip dengan pneumonia, yaitu panas tinggi dan nyeri dada pleuritik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura. Bila pada stadium ini dibiarkan beberapa minggu, maka akan timbul toksemia, anemia, dan clubbing finger. Jika nanah (pus) tidak segera dikeluarkan akan timbul fistel bronkopleural. Adanya fistel ditandai dengan batuk yang makin produktif, bercampur nanah dan darah masif dan kadang bisa menyebabkan sufokasi (mati lemas). Empiema karena pneumotorak pneumonia, timbul setelah cairan pneumonia membaik. Sebaliknya pada streptococcus pneumonia, empiema timbul sewaktu masih akut. Pneumonia karena basil gram negatif, misalnya E.Coli dan bakterioids sering kali menimbulkan empiema. b) Empiema Kronis Batas yang tegas antara empiema akut dan kronis sukar ditentukan. Disebut kronis jika empiema berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Pada saat itu, penderita akan mengeluh badannya tersa lemas, kesehatan makin mundur, pucat, clubbing fingers, dada datar, dan ditemukan adanya tanda-tanda cairan pleura. Bila terjadi fibrotorak, maka trakea dan jantung akan tertarik ke sisi yang sakit.
5

Tanda-tanda utama empiema adalah sebagai berikut: Demam, keringat malam Nyeri pleura Dispnea Anoreksia dan penurunan berat badan Perkusi dada, suara flattness Palpasi, ditemukan penurunan fremitus

Jika klien dapat menerima terapi antimikroba, manifestasi klinis akan dapat dikurangi. Diagnostik dapat ditegakkan berdasarkan hasil dari foto rontgen torak (chest x-ray) dan torasintesis.

D. Patofisiologi Akibat invasi basil piogeneik ke pleura, maka akan timbul peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serosa. Dengan banyaknya sel polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan endapan fibrin akan membentuk kant ong kantong yang melokalisasi nanah tersebut. Apabila nanah menembus bronkus, maka akan timbul fistel bronkopleuralyang menembus dinding toraks dan keluar melalui kulit yang disebut empiema nessensiatis. Stadium ini masih disebut empiema akut yang lama kelamaan akan menjadi kronis. Sekresi cairan menuju celah pleura normalnya membentuk keseimbangan dengan drainase oleh limfatik subpleura. Sistem limfatik pleura dapat mendrainase hampir 500 ml/hari. Bila
6

volume

cairan

pleura

melebihi

kemampuan limfatik

untuk

mengalirkannya maka, efusi akan terbentuk. Efusi parapnemonia merupakan sebab umum empiema. Pneumonia mencetuskan respon inflamasi. Inflamasi yang terjadi dekat dengan pleura dapat meningkatkan permeabilitas sel mesotelial, yang merupakan lapisan sel terluar dari pleura. Sel mesotelial yang terkena meningkat permeabilitasnya terhadap albumin dan protein lainnya. Hal ini mengapa suatu efusi pleura karena infeksi kaya akan protein. Mediator kimia dari proses inflamasi menstimulasi mesotelial untuk melepas kemokin, yang merekrut sel inflamasi lain. Sel mesotelial memegang peranan penting untuk menarik neutrofil ke celah pleura. Pada kondisi normal, neutrofil tidak ditemukan pada cairan pleura. Neutrofil ditemukan pada cairan pleura hanya jika direkrut sebagai bagian dari suau proses inflamasi. Netrofil, fagosit, mononuklear, dan limfosit meningkatkan respon inflamasi dan mengeluarkan mediator untuk menarik sel-sel inflamator lainya ke dalam pleura. Pembentukan empiema terjadi dalam 3 tahap, yaitu : 1. Fase eksudatif: Terjadi pada hari-hari pertama saat efusi. Inflamasi pleura menyebabkan peningkatan permeabilitas dan terjadi penimbunan cairan pleura namun masih sedikit. Cairan yang dihasilkan mengandung elemen seluler yang kebanyakan terdiri atas neutrofil. Stadium ini terjadi selama 24 72 jam dan kemudian berkembang menjadi stadium fibropurulen. Cairan pleura mengalir bebas dan dikarakterisasi dengan jumlah sel darah putih yang rendah dan enzim laktat dehidrogenase (LDH) yang rendah serta glukosa dan pH yang normal, drainase yang dilakukan sedini mungkin dapat mempercepat perbaikan. 2. Fase fibropurulen: Dikarakterisasi dengan inflamasi pleura yang meluas dan bertambahnya kekentalan dan kekeruhan cairan. Cairan dapat
7

berisi banyak leukosit polimorfonuklear (PMN) , bakteri dan debris seluler. Akumulasi protein dan fibrin disertai pembentukan membrane fibrin, yang membentuk bagian atau lokulasi dalam ruang pleura. Saat stadium ini berlanjut, pH cairan pleura dan glukosa menjadi rendah sedangkan LDH meningkat. Stadium ini berakhir setelah 7 10 hari dan sering membutuhkan penanganan yang lanjut seperti torakostomi dan pemasangan tube. 3. Fase organisasi: Terjadi pembentukan kulit fibrinosa pada membrane pleura, membentuk jaringan yang mencegah ekspansi pleura dan membentuk lokulasi intrapleura yang menghalangi jalannya tuba torakostomi untuk drainase. Kulit pleura yang kental terbentuk dari resorpsi cairan dan merupakan hasil dari proliferasi fibroblast. Parenkim paru menjadi terperangkap dan terjadi pembentukan fibrotoraks. Stadium ini biasanya terjadi selama 2 4 minggu setelah gejala awal. Gambaran bakteriologis efusi parapneumoni dengan kultur positif berubah seiring berjalannya umumnya waktu. Sebelum era antibiotik, bakteri yang didapatkan adalah

Streptococcus pneumoniae danstreptococci hemolitik. Saat ini, organisme aerob lebih sering diisolasi dibandingkan organisme anaerob. Staphylococcus aureus dan S pneumoniae tumbuh pada 70 % kultur bakteri gram positif aerob. Bakteriologi suatu efusi parapneumoni berhubungan erat dengan bakteriologi pada proses pneumoni. Organisme aerob gram positif dua kali lebih sering diisolasi dibandingkan organisme aerob gram negatif. Klebsiela, Pseudomonas, dan Haemophilus merupakan 3 jenis organisme aerob gram negatif yang paling sering diisolasi. Bacteroides dan Peptostreptococcus merupakan organisme anaerob yang paling sering diisolasi. Campuran bakteri aerob dan anaerob lebih sering menghasilkan suatu empiema dibandingkan infeksi satu jenis organisme. Bakteri anaerob telah dikultur 36 sampai 76 % dari empiema. Sekitar 70 % empiema merupakan
8

suatu

komplikasi

dari

pneumoni.

Pasien

dapat

mengeluh

menggigil, demam tinggi, berkeringat, penurunan nafsu makan, malaise, dan batuk. Sesak napas juga dapat dikeluhkan oleh pasien.

E. Pathway Empiema
Invasi kuman piogen dan etiologi lainnya

Peradangan pleura akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serosa

Penumpukan sel-sel PNM yang mati bercampur dengan cairan pleura Proses supurasi meningkat tidak mampu di absorbsi pleura Akumulasi pus di kavum pleura Terjadi proses inflamasi Nyeri Hiperter mi Paru Gastrointesti nal Efek hiperventelasi Ekstremitas Psikososial Pengembangan paru tidak optimal

paO2 menurun, pCO2 meningkat, sesak napas, produksi sekret meningkat, penurunan Pola napas tidak efektif, inefektif bersihan jalan napas

Penurunan suplai ke jaringan Metabolisme anaerob

Produksi HCl meningkat, akumulasi gas meningkat 10 Konstipasi, mual, Gangguan muntah pemenuhan nutrisi (-) kebutuhan tubuh

Adanya sesak napas dari tindakan invasif Koping individu inefektif, ketidaktahuan Cemas, kurang pengetahuan

Produksi asam laktat

Intoleransi aktivitas,

F. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan empiema adalah sebagai berikut: a) Pengosongan nanah Prinsip penatalaksanaan ini seperti umumnya yang dilakukan pada abses, untuk mencegah efek toksiknya. 1. Closed drainage-tube toracostorry water sealed drainage dengan indikasi: Nanah sangat kental dan sukar di aspirasi Nanah terus terbentuk setelah dua minggu Terjadinya piopneumotorak

WSD dapat juga dibantu dengan pengisapan negatif sebesar 10-20 cmH2O. Jika setelah 3-4 minggu tidak ada kemajuan harus ditempuh cara lain seperti pada empiema kronis. 2. Drainage terbuka (open drainage) Dilakukan dengan menggunakan kateter karet yang besar, oleh karenanya disertai juga dengan reseksi tulang iga. Open drainage ini dikerjakan pada empiema kronis, hal ini bisa terjadi akibat pengobatan yang terlambat atau tidak adekuat, misalnya aspirasi yang terlambat/tidak adekuat, drainase tidak adekuat atau harus sering mengganti/ membersihkan drain. b) Antibiotik Mengingat kematian utama karena sepsis, maka antibiotik memegang peranan penting. Antibiotik harus segera diberikan begitu diagnosis ditegakkan dan dosisnya harus adekuat. Pemilihan antibiotik didasarkan pada hasil pengecatan gram dan apusan nanah. Pengobatan
11

selanjutnya bergantung pada hasil kultur dan sensitivitasnya. Antibiotika dapat diberikan secara sistematik atau topikal. Biasanya diberikan penicillin.

c) Penutupan rongga empiema Pada empiema menahun sering kali rongga empiema tidak menutup karena penebalan dan kekakuan rongga pleura. Pada keadaan demikian dilakukan pembedahan (dekortikasi) atau torakoplasti. 1. Dekortikasi Tindakan ini termasuk operasi besar, dilakukan dengan indikasi sebagai berikut: Drain tidak berjalan baik karena terdapat banyak kantong Letak empiema sukar dicapai oleh drain Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura viseralis 2. Torakoplasti Alternatif untuk torakoplasti diambil jika empiema tidak kunjung sembuh karena adanya fistel bronkopleural atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi. Pada pembedahan ini segmen dari tulang iga dipotong subpriosteal. Dengan demikian dinding toraks jatuh ke dalam rongga pleura karena tekanan atmosfir. d) Pengobatan kausal

12

Misalnya

pada

subfrenik

abses

dengan

drainase

subdiafragmatika, terapi spesifik pada amoebiasis dan sebagainya. e) Pengobatan tambahan Perbaiki keadaan umum, fisioterapi untuk membebaskan jalan napas.

G. Pemeriksaan Diagnostik a) Pemeriksaan Radiologi Foto thoraks PA dan lateral didapatkan gambaran opacity yang menunjukkan adanya cairan dengan atau tanpa kelainan paru. Bila terjadi fibrotoraks, trakhea di mediastinum tertarik ke sisi yang sakit dan juga tampak adanya penebalan.

b) Pemeriksaan Pus Aspirasi pleura akan menunjukkan adanya pus di dalam rongga dada (pleura). Pus dipakai sebagai bahan pemeriksaan sitologi, bakteriologi, jamur, dan amoeba. Untuk selanjutnya dilakukan kultur (pembiakan) terhadap kepekaan antibiotik. Kultur bakteri aerob dan anaerob, mikobakteri, fungi, mikoplasma, dan bila ada indikasi disertai dengan pemeriksaan viral patogen. Torakosentesis dapat membantu mengetahui penyebab efusi dan menyingkirkan infeksi. Kekuatan diagnostik yang di ambil dari hasil kultur yang diambil dari torakosentesis adalah lemah, namun tinggi pada anak dengan infeksi yang jelas dan mendapatkan antibiotika lebih dalam waktu 24 jam. Tanpa adanya infeksi, normalnya cairan pleura memiliki berat jenis yang rendah (<1.015) dan protein (<2.5 g/dL), kadar laktat
13

dehidrogenase yang rendah (3 g/dL) dan laktat dehidrogenase yang tinggi (>250 IU/L), pH yang rendah (<7.2), glukosa yang rendah (<40 mg/dL), dan hitung selular yang tinggi dengan banyaknya leukosit polimorfonuklear. Diagnosis empiema ditegakkan bila ditemukan cairan pleura yang purulen, terdeteksi bakteri gram atau adanya hitung sel darah putih lebih dari 5 x 109 sel/l5.

H. Asuhan Keperawatan Klien Empiema 1. Pengkajian a. Identitas klien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat : : : : Agama Suku Status pendidikan Pekerjaan : : : :

b. Riwayat penyakit saat ini Klien sering merasa sesak napas mendadak dan semakin lama semakin berat. Nyeri dada dirasakan pada sisi dada yang sakit, rasa berat, tertekan, dan terasa lebih nyeri saat bernapas.

c. Riwayat penyakit dahulu Apakah klien pernah merokok atau terpapar polusi udara yang berat. Pernah mengalami trauma pada rongga dada hingga pleura. d. Riwayat penyakit keluarga Apakah ada riwayat alergi pada keluarga.

14

2. Pemeriksaan Fisik a. B1 (breathing) Inspeksi Pada klien dengan empiema, jika akumulasi pus lebih dari 300 ml, perlu diusahakan peningkatan upaya dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu napas. Geakan pernapasan ekspansi dada yang asimetris (pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada asimetris ( cembung pada sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang produktif dengan sputum purulen. Palpasi Taktil fremitus menurun pada sisi yang sakit. Di samping itu, pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat kembali normal atau melebar. Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat. Perkusi Terdengar suara ketok pada sisi yang sakit, redup sampai pekak sesuai banyaknya pus di rongga pleura. Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat. Hal ini terjadi apabila tekanan intrapleura tinggi. Auskultasi Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit.

15

b. B2 (Blood) Perawat perlu memonitor dampak pneumothoraks pada status kardiovaskuler, termasuk didalamnya keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dan CRT. c. B3 (Brain) Saat melakukan inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji. Di samping itu, juga diperlukan pemeriksaan GCS. d. B4 (Bladder) Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria itu adalah salah satu tanda awal dari syok. e. B5 (Bowel) Akibat sesak napas klien biasanya mengalami mual dan muntah, anoreksia, dan penurunan berat badan. f. B6 (Bone) Pada trauma tusuk di dada sering didapatkan adanya kerusakan otot dan jaringan lunak dada sehingga meningkatkan resiko infeksi. Klien dengan trauma ini sering dijumpai mengalami gangguandalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari akibat adnya sesak napas, kelemahan dan keletihan fisik.

3. Diagnosa Keperawatan a. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum

16

b. Inefektif pola napas berhubungan dengan dispnea, menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap akumulasi pus dan peningkatan takanan ppositif di dalam rongga pleura c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolar, ketidakseimbangan perfusi-ventilasi d. Nyeri berhubungan dengan proses infeksi pada paru e. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi bakteri pada rongga pleura f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan sekunder, dispnea h. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan akan penyakit dan pengobatan

4. Intervensi Keperawatan a. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum Tujuan : Bersihan jalan napas efektif

Kriteria hasil : Bunyi napas bersih Batuk efektif Mengi (-), ronchi (-), cracles (-) Intervensi :

Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas tambahan, kaji dan pantau suara pernapasan.

17

R/: untuk mengetahui adanya obstruksi jalan napas, takipnea merupakan derajat yang ditemukan adanya proses infeksi akut. Catat adanya atau derajat dispnea, gelisah, ansietas, dan distress pernapasan R/: disfungsi pernapasan merupakan tahap proses kronis yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi Pertahankan lingkungan yang bebas dari polusi R/: Lingkungan polusi menjadi pencetus tipe reaksi alergi yamg dapat meningkatkan episode akut Tingkatkan intake cairan sampai 3000 ml/hari sesuai tolerans jantung R/: hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah pengeluarannya.

Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi R/: merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti

lokal,menurunkan spasme jalan napas,mengi, dan produksi sekret. b. Inefektif pola napas berhubungan dengan dispnea, menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap akumulasi pus dan peningkatan tekanan positif di dalam rongga pleura Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan 2x24 jam pola napas klien kembali normal Kriteria Hasil : - Tidak ada tanda hipoksia Tidak ada gejala sianosis
18

Intervensi :

TTV dalam batas normal

Identifikasi faktor penyebab R/: dengan mengidentifikasikan penyebab kita dapat menentukan jenis empiema sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat.

Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap perubahan yang terjadi. R/: dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien.

Berikan posisi yang nyaman dalam posisi duduk atau dengan tempat tidur ditinggikan (posisi semifowler) R/: penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal

Observasi tanda-tanda vital R/: peningkatan RR dan takikardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru

Bantu dan ajarkan klien untuk melakukan teknik napas dalam dan batuk efektif R/: membantu mengeluarkan sekret yang mengalami penumpukan

Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2, obatobatan ( Mukolitik, ekspektoran, bronkodilator), serta foto thorax R/: Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hipoxia dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya pengembangan paru.

19

c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolar, ketidakseimbangan perfusi-ventilasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24jam pertukaran gas menjadi optimal Kriteria hasil : - Perbaikan sirkulasi dan oksigenasi - GDA dalam batas normal - Tidak ada tanda distress pernafasan Intervensi

Kaji frekuensi dan kedalaman pernafasan. Catat penggunaan otot aksesori, napas bibir, dan ketidakmampuan berbicara. R/: berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit

Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung R/: takikardia, disritmia, dan perubahan TD dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung

Atur atau baringkan pasien dalam posisi fowler R/:pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi semi fowler

Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas senggang. R/: Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.

d. Nyeri berhubungan dengan proses infeksi pada paru

20

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam nyeri berkurang dan klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang ada

Kriteria hasil : - Mengungkapkan rasa nyeri di dada kiri berkurang - Dapat bernafas tanpa rasa nyeri - Tanda vital dalam batas normal - Hasil laboratorium : Leukosit dalam batas normal Intervensi:

Pantau nadi dan tekanan darah tiap 3 4 jam R/: Identifikasi kemajuan/penyimpangan dari hasil yang diharapkan Kaji tingkat nyeri dan kemampuan adaptasi R/: Memantau tingkat nyeri dan respon klien terhadap nyeri yang timbul

Lakukan tindakan manajemen nyeri berupa relaksasi, distraksi, dan pengaturan posisi R/: untuk memberikan rasa nyaman/ mengurangi nyeri.

Kolaborasi : pemberian analgetik R/: Mengontrol nyeri dan memblok jalan rangsang nyeri

e. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi bakteri pada rongga pleura Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 2x24 jam suhu tubuh kembali dalam batas normal Kriteria hasil : - Anak tidak menangis Intervensi : Suhu tubuh normal : 36,5-37,5oC

Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital R/: untuk mengetahui peningkatan suhu tubuh klien Berikan kompres hangat di sekitar lipatan misalnya axila, dan lipatan paha

21

R/: Di ketiak dan lipatan paha terdapat banyak pembuluh darah besar. Hipertermi mengalami vasokontriksi sehingga harus diberi kompres hangat agar terjadi vasodilatasi Anjurkan dan berikan klien untuk banyak minum air putih lebih dari 1000 cc/hari R/: Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. Ciptakan suasana yang nyaman (atur ventilasi) R/: Suhu ruangan harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal Anjurkan keluarga untuk tidak memakaikan selimut dan pakaian yang tebal R/: Pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh Kolaborasi : pemberian obat anti mikroba, antipiretik pemberian cairan parenteral R/: Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien tidak mengalami mual muntah dan anoreksia Kriteria Hasil : - adanya peningkatan nafsu makan Intervensi : Berat badan klien dalam batas normal

Kaji kebiasaan diet. Catat derajat kesulitan makan R/: pasien distres pernapasan akut sering anoreksia akibat dispnea dan produksi sputum
22

Observasi intake dan output/8 jam. Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari dan timbang BB setiap hari. R/: mengidentifikasi adanya kemajuan/penyimpangan dari tujuan yang diharapkan.

Ciptakan suasana yang menyenangkan. Lingkungan yang bebas dari bau selama waktu makan R/: bau-bauan dan pemandangan yang tidak sedap dapat menyebabkan anoreksia

Auskultasi bunyi usus R/: penurunan atau hipoaktif bisisng usus menunjukkan motilitas gaster dan konstipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan.

Hindari makanan yang mengandung gas dan minuman berkarbonat R/: dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan

Hindari makanan yang sangat panas ataupun dingin R/: suhu ekstrim dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk

Dorong klien untuk makan diet TKTP R/: peningkatan pemenuhan kebutuhan dan pertahanan tubuh

Kolaborasi dengan ahli gizi/nutrisi Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien/ penggunaan energi

g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan sekunder, dispnea
23

Tujuan

: setelah dilakukan tindakan keperawatan 224 jam intoleransi aktivitas dapat teratasi.

Kriteria hasil : adanya peningkatan kemampuan beraktivitas yang dapat di ukur dengan tidakadanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan TTV dalam batas normal

Intervensi

Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan, dan perubahan tanda-tanda vital. R/: mengidentifikasi tingkat ketidakmampuan pasian dalam beraktivitas

Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk aktivitas dan istirahat. R/: menurunkan stress dan rangsangan berlebih, meningkatkan istirahat.

Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. R/: Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk

menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon individual terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernafasan. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan

peningkatan kemajuan aktivitas selama fase penyembuhan. R/: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
24

h. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan akan penyakit dan pengobatan Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan 1x24 jam klien tidak mengalami kecemasan berlebihan Kriteria Hasil : - Klien mengungkapkan perasaan ansietas Intervensi : Klien dan keluarga memahmi kondisi penyakitnya

Jelaskan tujuan terapi pada klien R/: Mengorientasikan program terapi, membantu menyadarkan klien untuk memperoleh kontrol

Ajarkan tindakan untuk membantu mengontrol dispnea R/: Pengontrolan dipsnea melalui diet seimbang, istirahat cukup dan aktifitas yang dapat ditoleransi

Ajarkan klien melakukan latihan napas R/: Latihan napas dengan spirometri insentif , latihan efek paru atau latihan posterior paru atau latihan area iga lateral bawah

Ajarkan dan evaluasi teknik drainase postural R/: Memfasilitasi pengeluaran sekret Jelaskan bahayanya infeksi dan cara menurunkan resiko R/: Mencegah infeksi, baik sekunder maupun primer yang mungkin diakibatkan oleh gangguan napas

Anjurkan klien untuk melaporkan gejala penting dengan segera. R/: Mencegah komplikasi yang tidak terpantau atau gejala yang dianggap normal oleh klien

Ajarkan atau observasi penggunaan nebulizer atau inhaler dosis terukur R/: Mencegah penggunaan inhaler melebihi dosis

25

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Empiema merupakan terkumpulnya cairan purulen (pus) didalam rongga pleura. Awalnya, cairan pleura adalah encer dengan jumlah leukosit rendah, tetapi seringkali menjadi stadium fibropurulen dan akhirnya sampai pada keadaan di mana paru paru tertutup oleh membrane eksudat yang kental. Klasifikasi empiema ada Akut dan Kronis yang dtandai dengan demam, dispnea, nyeri plerural, anoreksia hingga penurunan berat badan. B. Saran Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, jadi diharapkan untuk para pembaca untuk lebih mengembangkannya lagi. Jadikan makalah ini sebagai pertimbangan pengembangan dari penyakit yang telah kami dibahas diatas.

26

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Jakarta. EGC Price & Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit . Jakarta. EGC Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta. Salemba Medika Somantri, Irman. 2007. Asuhan Keperawatan pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta. Salemba medika Doenges, Marilynn E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta: EGC

27