Empiema
Empiema
Pendahuluan
A. Latar belakang
Empiema adalah penyakit kuno yang terus menjadi masalah klinis yang penting saat
ini. Deskripsi paling awal pasien dengan empiema tercatat lebih dari 5000 tahun
yang lalu di Mesir kuno. Kemudian, deskripsi manifestasinya dan pengobatan telah
dicoba oleh Hippocrates lebih dari 2000 tahun lalu. Namun, meskipun berabad-abad
pengalaman belajar, penampilan antibiotik dan penggunaan vaksin pneumokokus
yang berbeda, empiema tetap menjafi komplikasi yang paling umum dari pneumonia
dan merupakan penyebab penting morbiditas di seluruh dunia. Saat ini, lebih dari
65 000 pasien menderita infeksi pleura setiap tahun di Inggris dan Amerika Serikat.
Sekitar 15% dari pasien-pasien ini meninggal, dan 30% memerlukan drainase
bedah dari rongga pleura. Insiden infeksi pleura berkurang secara signifikan pada
paruh pertama abad ke-20. Dalam era pra-antibiotik, empiema adalah komplikasi
dari sekitar 5% kasus pneumonia, namun dengan pengembangan antibiotik pada
dekade 1940-an tingkat empyema menolak untuk 2%. dalam sebuah studi yang
menarik lebih dari empat dekade, Weese et al menemukan kejadian empyema dari
79 kasus per 100 000 rujukan di era preantibiotic; Tingkat ini kejadian turun menjadi
52 kasus per 100 000 sejak 1947-1948 dan tetap pada yingkat tersebut sampai
1967-1969. Namun, kecenderungan ini berubah pada akhir abad ke-20 dan, sejak
dekade 1990-an kejadian empyema telah cenderung meningkat di seluruh dunia.1
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana konsep penyakit empiema?
b. Bagaimana proses asuhan keperawatan pada pasien dengan empiema?
C. Tujuan`
a. Mengetahui bagaimana proses asuhan keperawatan pada pasien empiema.
D. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi konsep empiema meliputi definisi, etiologi, manifestasi
klinis dan patofisiologi
b. Mengidentifiksi proses keperawatan pada empiema meliputi pengkajian,
analisis data dan diagnose, intervensi dan evaluasi
E. Manfaat
a. Mahasiswa memahami konsep dan proses keperawatan pada klien dengan
gangguan empiema shingga menunjang pembelajaran mata kuliah respirasi
b. Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat
menjadui bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit
Bab II
Pembahasan
A. Definisi
Empiema adalah akumulasi cairan kental dan purulent dalam ruang pleura, sering
diikuti dengan perkembangan fibrin dan area yang berlapis (walled-off) di tempat
yang terinfeksi. 2
Empiema didefinisaikan sebagai keadaan dimana terdapat akumulai pus dalam
ruang pleura, walaupun sebagian besar trial klinis dan penelitian lebih
menggunakan istilah infeksi pleura yang mencakup empyema dan complicated
parapneumonic effusions. 3
Empiema merujuk pada infeksi pda cavum pleura yang menghasilkan eksudat yang
mengandung glukosa, protein, leukosit, dan debris dari jaringan dan sel yang mati.4
B. Etiologi
Sebagian besar empyema disebabkan oleh komplikasi bacterial pneumonia atau
abses paru, (khususnya rupture abses paru yang menginvasi cavum pleura4).
Selain itu, juga disebabkan oleh penetrating chest trauma, infeksi hematogenik pada
cavum pleura, infeksi non bakteri, dan sebab iatrogenic (pasca operasi thoraks
ataupun prosedur thoracentesis)2. Empiema juga disebabkan oleh perluasan infeksi
subdiaphragmatic.4 Penyebab lain adalah massa pada mediastinum dan penyakit
interstitial paru.5 Infeksi pleura yang dapat tidak disertai adanya pneumonia,
sehingga disebut empyema primer.7
C. Faktor resiko
Selain pneumonia sebagai resiko utama empiema, terdapat pertimbangan
independen terhadap berkembangnya empiema, antara lain:
Diabetes mellitus
Gastro-oesophageal reflux
Pemakaian alkohol
Operasi oesophageal
Tetapi sebagian besar pasien tidak menunjukkan factor resiko yang nyata. 7
D. Pathofisiologi7
a. Cairan normal pleura
Normalnya cairan pleura pada orang sehat adalah sedikit (<1 ml),
membentuk lapisan tipis (film) setebal 10 mm antara permukaan pleura
viscera dan parietal. Cairan pleura mengandung protein dengan kadar yang
sama dengan cairan interstitial, sedikit sel (sel mesothelial, makrofag dan
limfosit), dan sejumlah besar protein molecular berat semacam lactate
dehydrogenase (LDH). Cairan pleura juga mengandung bikarbonat, sodium
dan glukosa dalam kadar rendah. Normalnya, pH cairan ini adalah 7,6.
Parameter ini akan berubah seiring perkembangan penyakit yang
mempengaruhi jaringan paru yang berdekatan atau vaskularisasinya. Hal ini
akan mengaktifkan respon imunitas.
Air dan molekul kecil secara bebas melintasi sel mesotelial, sementara cel
yang berukuran lebih besar akan ditransportasikan oleh mekanisme
sitoplasmik atau komunikasi pleuro-lymphatk. Komunikasi pleuro-lymphatk
belum sepenuhnya dimengerti, tetapi kemungkinan terdiri atas rangkaian
stomata yang menghubungkan parietal, mediastinal, dan diaphragmatic
pleura, jaringan ikat dan rangkaian saluran limpatik.
b. Patofisiologi
Akibat invasi basil piogenik ke pleura, maka akan timbul peradangan akut
yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan banyaknya sel
polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati dan
meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya
endapan-endapan
fibrin
akan
membentuk
kantung-kantung
yang
besar-besaran
neutrophil
dan
aktivasi
cascade
koagulasi
G. Manifestasi klinis
a. Demam dan keluar keringat malam2
b. Nyeri pleura2
c. Dyspnea2
d. Anoreksia2
e. Penurunan berat badan2
f.
H. Pemeriksaan
Auskultasi dada di area yang terpengaruh menunjukkan penurunan suara napas,
perkusi dada dullnes, dan palpasi akan menemukan penurunan fremitus.2
Perlu diobservasi karakter sputum. Pergerakan dinding dada yang berkurang.
Dengan adanya kompresi jaringan paru pada area terpengaruh, suara paru
ditemukan bronkial, egophony, dan whispered pectoriloquy. Klien mungkin
hipotensif kareana adanya deviasi mediastinum yang menekan jantung. Palpasi
iktus kordis mungkin bergeser.8
Diagnosa ditegakkan dengan CT thoraks, akan menemukan lokasi dan volume
cairan. Thoracentesis juga diperlukan untuk mengetahui karakter cairan empiema.2
Caira empiema mempunyai ciri kental, buram eksudatif, dan berbau tdak sedap.
Cairan pleura dianalisa di laboratorium untuk mengetahui kadar eritrosit, leukosit,
kadar proterin dan glukosa, LDH dan pH. Biasanya sekaligus dilakukan
pemeriksaan gram-stain, acid-fast stain, dan sitology. Kadar protein di atas 3 g/dL
mengindikasikan proses eksudatif.8
Identifikasi7
Semua klien dengan efusi pleura yang berkaitan dengan sepsis atau
penyakit pneumonic membutuhkan dianosa sample cairan pleura
pH cairan pleura harus dikaji pada semua kasus efusi non-purulen ketika
terindikasi infeksi pleura
I.
Penatalaksanaan
Prinsip terapi adalah mengsosongkan cavum pleura, memperluas paru, dan
mengontrol infeksi. Terapi intrapleural fibrinolytic mungkin deiperlukan jika terdapat
Pathway EMPIEMA
sel polimorphonucleus
kadar protein
(PMN)
Menembus bronkus
Fistel bronkopleura
Empiema nessensiatis
Port de Entry
kuman
Terputusnya
kontinuitas
jaringan kulit
b.d nyeri
EMPIEMA AKUT
EMPIEMA KRONIS
MK : nyeri
pleura
MK : bersihan jalan
nafas tidak efektif
PK: Resiko
Infeksi
Peningkatan
produksi pus
Peningkatan
pertumbuhan bakteri
MK : Resiko
terjadinya infeksi
Nafsu
makan
menurun
MK:
Perubahan
Nutrisi krg
dr
Kebutuhan
Penatalaksanaa
n yang kurang
tepat
MK : Kurangnya
pengetahuan,
tentang kondisi,
pengobatan,
pencegahan
Penatalaksanaan Keperawatan
A. PENGKAJIAN
a. Identitas
i. Nama
ii. Umur
iii. Suku/ bangsa
iv. Agama
v. Alamat
vi. Pendidikan
vii. Pekerjaan
B. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : nyeri pada dada pleuritik
b. Riwayat kesehatan sekarang
Berpakaian
i. Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan
bantuan melakukan aktivitas sehari-hari
ii. Tanda: pakaian pasien tidak pernah diganti, keluarga tampak
memakaikan klien pakaian
g. Rasa nyaman
i. Data: nyeri, sesak.
ii. Tanda: gelisah, meringis.
h. Rasa Aman
i. Gejala: Riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat atau
factor-faktor lingkungan adanya/ berulangnya infeksi.
i.
Kebersihan Diri
i. Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan
bantuan melakukan aktivitas sehari-hari
ii. Tanda: kebersihan buruk, bau badan.
j.
k. Beribadah
Bekerja
i. Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan
bantuan melakukan aktivitas sehari-hari
ii. Tanda: ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan
suara karena distress pernafasan, tidak bisa melakukan
aktivitas dengan normal
m. Rekreasi
i. Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan
bantuan melakukan aktivitas sehari-hari
ii. Tanda: ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan
suara karena distress pernafasan, tidak pernak berekreasi dan
lebih memilih untuk tinggal di rumah
n. Belajar
i. Gejala: Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan,
kegagalan untuk membaik
ii. Tanda: kondisi semakin memburuk karena menggunakan
erbagai obat untuk menyembuhkan diri
D. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : demam, berkeringat, pucat, compos mentis,
ketakutan, gelisah, penurunan BB, dispnea, lemah.
b. Pemeriksaan TTV, RR : >24 x/mnt, Nadi : >100 x/mnt,
>120/70 mmHg
TD :
Suhu : >36,5 oC
E. Pemeriksaan penunjang
a. Foto thorak
b. Kultur darah
c. Sampel sputum
d. Torakosenstesi
e. Pemeriksaan cairan pleura
f.
G. PRIORITAS MASALAH
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi
sputum, obesitas.
b. Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea, ansietas, posisi tubuh.
c. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane kapiler-alveolar,
ketidakseimbangan perfusi-ventilasi.
d. Nyeri pleuritik b.d empiema
e. Hypertermi b.d infeksi saluran pernapasan.
f.
H. RENCANA KEPERAWATAN
a. DIAGNOSA
i. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi
sputum, obesitas.
ii. TUJUAN
Setelah diberikan asuhan selama 3x24 jam diharapakan dapat:
1. Mengidentifikasi/menunjukkan perilaku mencapai bersihan
jalan napas.
2. Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih,
tidak ada dispnea, sianosis.
3. Mendemonstrasikan batuk efektif
iii. INTERVENSI
i. TUJUAN
Setelah diberikan asuhan selama 3X24 jam diharapkan pasien
dapat:
1. Menyatakan nyeri hilang/terkontro
2. Menunjukkan rileks, istirahat/tidur, dan peningkatan aktivitas
dengan tepat.
3. Mencapai fungsi paru yang maksimal.
4. Mengutarakan pentingnya latihan paru setiap hari
ii. INTERVENSI
1. Pantau perubahan tanda vital
2. Jika tidak dapat berjalan, tetapkan suatu aturan untuk turun
dari tempat tidur, duduk di kursi beberapa hari sekali
3. Bantu reposisi, setiap jam jika mungkin
4. Dorong klien untuk melakukan latihan napas dalam dan
latihan batuk terkontrol 5 kali setiap jam
iii. RASIONAL
1. Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa
pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan lain untuk
perubahan tanda vital telah terlihat.
2. Meningkatkan kemampuan ekspansi paru. Jika klien dalam
posisi duduk, kemampuan ekspansi paru akan meningkat.
3. Membantu drainase postural, mencega depresi jaringan
paru atau dada untuk pernapasan.
4. Meningkatkan ekspansi paru dan asupan oksigen kedalam
paru dan sistem peredaran darah.
d. DIAGNOSA
Nyeri pleuritik b.d empiema
i. TUJUAN
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan pasien dapat:
1. Menunjukkan nyeri: efek merusak, dibuktikan dengan
indikator berikut:
a. Penurunan penampilan peran/ hubungan
interpersona
b. Gangguan kerja, kepuasaan hidup/ kemampuan
untuk mengendalikan diri.
c. Penurunan konsentrasi
d. Terganggunya tidur.
e. Penurunan nafsu makan.
ii. INTERVENSI
1. Kaji Karakteristik nyeri, misal tajam, constan, ditusuk.
Selidiki perubahan karakter/ lokasi/ intensitas nyeri
2. Pantau: Suhu setiap 4 jam, Hasil pemeriksaan SDP, Hasil
kultur sputum
3. Berikan tindakan untuk memberikan rasa nyaman
4. Berikan analgetik sesuai dengan anjuran untuk mengatasi
nyeri pleuritik jika perlu dan evaluasi keefektifannya.
5. Konsul pada dokter jika nyeri dan demam tetap ada atau
mungkin memburuk.
6. Berikan antibiotik sesuai dengan anjuran dan evaluasi
keefektifannya
iii. RASIONAL
1. Nyeri dada, biasanya dada dalam beberapa derajat pada
pneumonia seperti pericarditis dan endokarditis.
2. Untuk mengidentifikasi kemajuan-kemajuan atau
penyimpangan dari sasaran yg diharapkan
3. Tindakan tersebut akan meningkatkan relaksasi
4. Analgesik membantu mengontrol nyeri dengan memblok
jalan rangsang nyeri. Nyeri pleuritik yg berat sering kali
memerlukan analgetik narkotik untuk mengontrol nyeri lebih
efektif
5. Hal tersebut merupakan tanda berkembagnya komplikasi
6. Antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi, efek
maksimum dapat dicapai jika kadar obat dalam darah
konsisten dan dapat dipertahankan. Interaksi satu obat dgn
yg lain dpt mengurangi keefektifan pengobatan
e. DIAGNOSA
Hypertermi b.d infeksi saluran pernapasan.
i. TUJUAN
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan pasien dapat:
1. Pasien akan termoregulasi, dibuktikan dengan suhu kulit
dalam rentang normal.
2. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan.
DIAGNOSA
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia,
intoleransi makanan, hilangnya nafsu makan, mual/ muntah.
i. TUJUAN
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam maka
pasien diharapkan:
1. Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang
tepat
2. Menunjukkan perilaku/perubahan pola hidup untuk
meningkatkan dan atau mempertahankan berat yang tepat.
ii. INTERVENSI
1. Pantau : persentase jumlah makanan yg dikonsumsi setiap
kali makan, timbang BB setiap hari, Hasil pemeriksaan :
protein total, albumin dan osmalalitas.
2. Berikan perawatan mulut tiap 4 jam jika sputum tercium bau
busuk. Pertahankan kesegaran ruangan
g. KRITERIA EVALUASI
i. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan
produksi sputum, obesitas.
1. Mengidentifikasi/menunjukkan perilaku mencapai
bersihan jalan napas.
2. Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas
bersih, tidak ada dispnea, sianosis.
3. Mendemonstrasikan batuk efektif
ii. Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea, ansietas, posisi
tubuh.
1. Menunjukkan pola pernapasan efektif, dibuktikan
dengan status pernapasan yang tidak berbahaya:
ventilasi dan status tanda vital
2. Menunjukkan status pernapasan: ventilasi tidak
terganggu, ditandai dengan indicator gangguan sebagai
berikut
a. Kedalaman inspirasi dan kemudahan bernapas.
b. Ekspansi dada simetris.
Bab III
Studi Kasus
A. Kasus12
Seorang laki-laki 27 tahun menunjukkan dengan demam tinggi, dyspnea, dan
disfagia durasi tiga hari. Pada pemeriksaan denyut nadi adalah 110 denyut /
menit, BP 130 / 90mm Hg, saturasi oksigen adalah 96%; penurunan suara
nafas terdengar di sebelah kiri daerah bidang paru-paru bawah. Pada hari
masuk ia mengembangkan nyeri dan semakin parah, perut sesak, saturasi
oksigen <86%, suara napas yang menurun di daerah basal kiri, dan nyeri di
hypochondrium kiri.
X-ray dada sugestif hydropneumothorax kiri dan HRCT thorax mengungkapkan
mediastinitis dengan empiema sisi kiri (Gambar 1 dan 2); tabung drainase
interkostalis dimasukkan, yang mengungkapkan frank pus. Setelah tiga hari
antibiotik terapi demam, sesak dan disfagia masih persisten, X-ray dada
diulangi mengungkapkan pyothorax sisi kanan, dan ICD disisipkan pada sisi
kanan.
Pasien pada terapi antibiotik empiris; pasien mengalami demam dan sesak
napas. Kultur darah dan empiyema negatif. Pada evaluasi ulang pasien, ia
mengungkapkan riwayat disengat lebah di rongga mulut tiga hari sebelum
masuk RS, pemeriksaan THT menunjukkan aritenoid edema menyebabkan
mediastinitis dan empiema bilateral, barium swallow menunjukkan normal, dan
perforasi esofagus tidak dilaksanakan. Pasien dirawat dengan piperacillin
ditambah Tazobactam, metronidazol, dan steroid intravena selama 2 minggu.
Pasien mulai membaik dalam 48 jam terapi dan afebris setelah 5 hari dengan
resolusi klinis dan radiologi lengkap pada hari ke-10 terapi. Pasien dipulangkan
pada 14 hari dan steroid tapered pada periode yang sama.
Pasien asimtomatik sejak saat itu. pemeriksaan laboratorium mengungkapkan
hemoglobin 13,7% gm, sel darah putih (WBC) hitungan 11.200 / mm3, 87%
neutrofil, jumlah trombosit dari 201,000 / mm3, erythrocyte sedimentation rate
(ESR) 60mm dalam 1 jam. Tes fungsi hati mengungkapkan bilirubin total 1.9
mg / dL, langsung 0.8mg / dL, SGOT-49 IU / L, SGPT-54 IU / L, alkali fosfatase
80U / L; serum amilase 28 U / L, serum lipase-65 U / L; B urea 68mg / dL, S
kreatinin 1mg / dL. Tes HIV adalah reaktif. Analisis cairan pleura
mengungkapkan frank pus, gula 15 mg / dL, protein 2,3 gram / dL, white blood
cell 2.000 sel /mm3, differential count of 87% neutrophil, ADA-26,1 U / L. Kultur
cairan pleura dihasilkan tidak ada jamur atau bakteri patogen, trigliserida cairan
pleura tingkat yang 32mg / dL.
B. Pengkajian
a. Analisa data
i. DS
1. Laki-laki
2. 27 tahun
3. Keluhan utama
a. Demam tinggi
b. Dyspnea
c. Disfagia durasi tiga hari
d. nyeri dan semakin parah, perut sesak,
e. Nyeri di hypochondrium kiri
4. Riwayat kesehatan
a. Riwayat disengat lebah di rongga mulut tiga hari
sebelum masuk RS
ii. DO
1. Demam tinggi
2. HR 110 denyut / menit
3. BP 130 / 90mm Hg
4. 87% neutrofil
5. Saturasi oksigen adalah 96%
6. Penurunan suara nafas terdengar di sebelah kiri daerah
bidang paru-paru yang lebih rendah
7. Saturasi oksigen <86%
8. Suara napas yang menurun di daerah basal kiri
iii. Penunjang
1. X-ray dada hydropneumothorax kiri
2. HRCT thorax mediastinitis dengan empiema sisi kiri
(Gambar 1 dan 2)
3. Tabung drainase interkostalis dimasukkan; frank pus.
4. Setelah tiga hari antibiotik terapi demam, sesak dan
disfagia masih ada,
5. Ulangi X-ray dada; pyothorax sisi kanan
C. Diagnose keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif b.d. Perubahan eksapansi paru karena akumulasi
cairan pada cavum pleura sekunder mediastinitis d.d. Dyspnea, HR 110
denyut / menit
b. Hipertemia b.d. Infeksi mediastinitis sekunder venom lebah d.d. Demam
tinggi, aritenoid edema, 87% neutrofil
c. Gangguan pertukaran gas b.d. akumulasi cairan pada pleura sekunder
mediastinitis d.d dyspnea, saturasi oksigen <86%, suara napas yang
menurun di daerah basal kiri
d. Nyeri akut b.d. Perkembangan infeksi d.d. Klien mengembangkan nyeri
dan semakin parah, perut sesak, nyeri di hypochondrium kiri
Daftar Pustaka
1. Joaqun Burgos; Vicen Falc; Albert Pahissa Disclosures. 2013. The Increasing
Incidence of Empyema. Dari http://www.medscape.com/viewarticle/805300
2. Bare, Brenda and Smeltzer, Suzanne, dkk. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and Suddarth. Jakarta: EGC.
3. F.J.H.Brims,S.M.Lansley,G.W.Waterer,Y.C.G.Lee. 2010. Empyema thoracis: new
insights into an old disease. Dari http://err.ersjournals.com/content/19/117/220
4. Porth & Grossman. 2014. PORTHS PATHOPHYSIOLOGY: Concepts of Altered
Health States NINTH EDITION. Philadelpia | Wolters Kluwer Health | Lippincott
Williams & Wilkins. (PDF version)
5. Lewis.
2014.
MEDICAL-SURGICAL
NURSING:
ASSESSMENT
AND
&
Weerakkody
et
al.
_.
Thoracic
Empyema.
Dari
http://radiopedia.org/articles/ thoracic-empyema-1
7. Davies, Helen E dkk. 2010. Management of pleural infection in adults: British
Thoracic
Society
pleural
disease
guideline
2010.
Dari
http://thorax.bmj.com/content/65/ Suppl_2/ii41#BIBL
8. Ignativisius & Workman. 2013. MEDICAL-SURGICAL NURSING: PATIENTCENTERED COLLABORATIVE CARE. Missouri | Mosby, an imprint of Elsevier Inc.
(PDF version)
9. Ball, dkk. 2015.SEIDELS GUIDE TO PHYSICAL EXAMINATION. Missouri | Mosby,
an imprint of Elsevier Inc. (PDF version)
10. Nurkhasanah. 2015. Askep Empiema. Dari http://www.askepkeperawatan.com/
2015/12/askep-empiema.html
11. Doengoes E. Marilynn, Moorhouse F. Mary, Geissler C. Alice. (2000). Rencana
Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
12. Venkataramanappa et al. 2014. Case Report An Unusual Case of Bilateral
Empyema Associated with Bee Sting. India | Hindawi Publishing Corporation