Asuhan Keperawatan Empiema pada Pasien
Asuhan Keperawatan Empiema pada Pasien
LAPORAN KELOMPOK
Fasilitator : Nurul Kartika Sari, S. Kep., Ns
Kelompok 1 :
1. Ika Desti Srimuryani 2. Lufi Ulfayanti 3. Nova Novitasari 4. Nimatul Faizah 5. Yeni Desi R 6. Tomy Syandara P 7. Yani Fajar W 8. Alvino Erick D 9. Risha Ika C 10. Muh. Arif Jauhari 11. Nuriyatus S
12. Lailatur Rosida 13. Siska Islamiati 14. Megawati 15. M. Sifaul Afif 16. Muhajir 17. Ahmad Munib 18. Asiatun 19. Syifaul Ihsan 20. Irine Devi M 21. Suroso Efendi
KATA PENGANTAR
Pada saat terselesaikannya laporan ini tak ada yang pantas penulis ucapkan kecuali rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Illahi Robbi dimana hanya atas limpahan kasih dan Rahmad-Nya, penulis telah dapat menyelesaikan laporan diskusi kelompok yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Empiema dengan baik. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Respiratory System 2. Laporan ini kami sajikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh pembaca. Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Ibu Nurul Kartika Sari S. Kep,. Ns selaku fasilitator dari kelompok 1. 2. Kepada rekan-rekanku senasib seperjuangan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa ibarat tak ada gading yang tak retak, tentulah pembuatan laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itulah kritik dan saran yang membangun dan yang mengarah pada perbaikan pada penyempurnaan laporan ini, sangat penyusun harapkan. Semoga laporan sederhana ini bermanfaat bagi perawat khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Penulis
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Empiema merupakan salah satu penyakit yang sudah lama ditemukan dan berat. Saat ini terdapat 6500 penderita di USA dan UK yang menderita empiema dan efusi parapneumonia tiap tahun, dengan mortalitas sebanyak 20% dan menghabiskan dana rumah sakit sebesar 500 juta dolar. Di India terdapat 5 10% kasus anak dengan empiema toraks. Empiema toraks didefinisikan sebagai suatu infeksi pada ruang pleura yang berhubungan dengan pembentukan cairan yang kental dan purulen baik terlokalisasi atau bebas dalam ruang pleura yang disebabkan karena adanya dead space, media biakan pada cairan pleura dan inokulasi bakteri. Empiema paling banyak ditemukan pada anak usia 2 9 tahun. Empiema adalah akumulasi pus diantara paru dan membran yang menyelimutinya (ruang pleura) yang dapat terjadi bilamana suatu paru terinfeksi. Pus ini berisi sel sel darah putih yang berperan untuk melawan agen infeksi (sel sel polimorfonuklear) dan juga berisi protein darah yang berperan dalam pembekuan (fibrin). Ketika pus terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan pada paru sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. Seiring dengan berlanjutnya perjalanan penyakit maka fibrin-fibrin tersebut akan memisahkan pleura menjadi kantong kantong (lokulasi). Pembentukan jaringan parut dapat membuat sebagian paru tertarik dan akhirnya mengakibatkan kerusakan yang permanen. Empiema biasanya merupakan komplikasi dari infeksi paru (pneumonia) atau kantong kantong pus yang terlokalisasi (abses) dalam paru. Empiema dapat juga terjadi akibat infeksi setelah pembedahan dada, trauma tembus dada, atau karena prosedur medis seperti torakosentesis atau karena pemasangan chest tube. Pus yang berasal dari rongga abdomen yang berada tepat di bawah paru (abses subfrenikus) juga dapat meluas ke rongga pleura dan menyebabkan empiema. Demam tinggi sering ditemui, sama seperti gejala pneumonia yang berupa batuk, nyeri dada karena pleuritis, dan kelemahan. Empiema juga dapat terjadi akibat dari keadaan keadaan seperti septikemia,
sepsis, tromboflebitis, pneumotoraks spontan, mediastinitis, atau ruptur esophagus. Infeksi ruang pleura turut mengambil peran pada terjadinya empiema sejak jaman kuno. Aristoteles menemukan peningkatan angka kesakitan dan kematian berhubungan dengan empiema dan menggambarkan adanya drainase cairan pleura setelah dilakukan insisi. sebagian dari terapi empiema masih diterapkan dalam pengobatan modern. Dalam tulisan yang dibuat pada tahun 1901 yang berjudul The Principles and Practice of Medicine, William Osler,mengemukakan bahwa sebaiknya empiema ditangani selayaknya abses pada umumnya yakni insisi dan penyaliran.1,2,3 Pada laporan ini akan di bahas tentang asuhan keperawatan pada pasien empiema.
didalam ronggga pleura setempat mengisi rongga dapat atau seluruh pleura
penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura (Diane C. Baughman, 2000). Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural (Hudak & Gallo, 1997). Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa empiema adalah kondisi dimana terdapatnya udara dan nanah dalam rongga pleura dengan yang dapati timbul sebagai akibat traumatik maupun proses penyakit lainnya.
2.1.2 Etiologi
1. Berasal dari Paru Pneumonia Abses Paru Adanya Fistel pada paru Bronchiektasis TB Infeksi fungidal paru Abses paru 2. Infeksi Diluar Paru Trauma dari tumor Pembedahan otak Thorakocentesis Subdfrenic abces Abses hati karena amuba
3. Bakteriologi Staphilococcus Pyogenes Staphilococcus Aureus Bakteri gram negatif Bakteri anaerob
Staphilococcus Pyogenes
Staphilococcus Aureus
apabila stadium ini dibiarkan dalam beberapa minggu akan timbul toksemia, anemia, pada jaringan tubuh. Jika nanah tidak segera dikeluarkan akan timbul fistel bronchopleura dan empiema neccesitasis. 2. Empiema kronik
Batasan yang tegas antara akut dan kronis sukar ditentukan disebut kronis apabila terjadi lebih dari 3 bulan. Penderita mengelub badannya lemah, kesehatan penderita tampak mundur, pucat pada jari tubuh.
2.1.4 Penatalaksanaan
Penanganan tergantung dari penyebab efusi dan bertujuan untuk mengurangi penumpukan cairan. Untuk efusi yang sedikit, khususnya jika jenisnya adalah transudat, tidak diperlukan drainase. Untuk efusi yang banyak, diperlukan drainase dengan chest tube, khususnya jika cairannya purulen (empiema). Pada kasus yang lain, cairan sering terjadi pengentalan dan terlokalisasi sehingga membuat proses drainase menjadi sulit. Untuk itu, chest tube dipasang sedini mungkin setelah dipastikan adanya empiema dari torakosentesis. Pada kasus empiema dan efusi parapneumonia dimana drainase dipersulit dengan pengumpulan cairan yang terlokulasi maka video-assisted thoracoscopic surgical dbridement dapat membantu menurunkan morbiditas dan lamanya rawat inap di rumah sakit. Banyak kasus efusi parapneumonia dapat ditangani secara konservatif dengan pemberian antibiotika intravena. Anak sehat yang menderita empiema masih dapat berespons dengan pemberian antibiotika selama 3 4 minggu dan drainase dengan chest tube. Pada kebanyakan kasus, proses penyembuhan dapat dipercepat dengan dilakukan debridemen torakoskopi pada ruang pleura yang terkena infeksi dan terdapat lapisan fibrin sehingga dapat
mencegah penyebaran menyeluruh pada banyak kasus. Jika penyebabnya sudah berhasil ditangani maka akan berprognosis baik. Bila seorang anak dengan pneumonia tidak berespons dengan pemberian
antibiotika dalam beberapa hari maka dapat dilakukan radiografi dada posisi dekubitus atau CT scan untuk membantu penegakan diagnosis.
Algoritma penanganan empiema Stadium 1 : Drainase dengan torakostomi , antibiotika spektrum luas Stadium 2 : Video-assisted thoracoscopic surgery (VATS) dengan antibiotika spektrum luas. Drainase dengan torakostomi disertai antibiotika spektrum luas dan terapi fibrinolisis, bila gagal maka dilakukan VATS. Stadium 3 : VATS dengan torakotomi disertai antibiotika spektrum luas, atau Torakotomi terbuka dengan antibiotika spektrum luas. Penanganan dengan antibiotika sebaiknya ditujukan pada
stafilokokus yang resisten penisilin dan S. pneumoniae walaupun hasil pemeriksaan apusan atau kultur menunjukkan organisme lain sebagai penyebab. Sebagai obat tunggal, sefuroksim memiliki kerja khusus melawan S. aureus dan pneumokokus, namun tidak untuk organisme lain. Kombinasi oksasilin (untuk perlindungan terhadap S. aureus) dan sefotaksim (untuk perlindungan terhadap S. pneumoniae) sering digunakan. Pada daerah dengan insiden bakteri stafilokokus resisten terhadap metisilin yang tinggi, sebaiknya digunakan vankomisin dan klindamisin. Jika cairan pleura berbau busuk, sebaiknya dipikirkan kemungkinan bakteri anaerob sebagai penyebabnya dan diberikan terapi dengan klindamisin dan metronidazol. Pemberian streptokinase intrapleura efektif dan aman dalam menangani empiema stadium 1 dan sadium 2. Selanjutnya akan cenderungan terjadi penurunan drainase dan penurunan gejala demam dan gejala pernapasan, selain itu penanganan dengan fibrinolitik dapat dijadikan petunjuk untuk intervensi bedah dini. Penanganan empiema masih kontroversial khususnya pada anak anak. Pilihan penanganan mencakup pemberian antibiotika sistemik saja, torakosentesis, torakostomi dengan menggunakan tuba, dengan atau tanpa pemberian obat fibrinolitik. Teknik invasif lainnya adalah bedah torakoskopi, mini-torakotomi, dan torakotomi standar dengan dekortikasi (menyingkirkan bekuan fibrin dari paru). Bagaimanakah memilih terapi tersebut dan mengapa kontoversial itu karena beberapa alasan, yang pertama, pengalaman terapi pada dewasa tidak bisa begitu saja diterapkan dan diramalkan pada anak-anak. Berlawanan dengan penderita dewasa, kebanyakan anak dengan empiema sebelumnya terlihat sehat. Yang kedua,
faktor prognostik dapat membantu meramalkan terapi invasif pada pederita dewasa seperti level laktat dehidrogenase (LDH), glukosa, pH cairan pleura, yang tenyata semuanya tidak terlalu berguna pada anakanak. Seperti yang diterbitkan akhir akhir ini oleh British Thoracic Society guidelines for the treatment of pleural space infection in children merekomendasikan penggunaan agen fibrinolitik untuk menangani efusi parapneumonia dengan komplikasi (cairan yang kental, gambaran fibrous) atau empiema dan dengan tindakan bedah pada penderita yang tidak responsif terhadap fibrinolitik.
Clubbing Finger
Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura visceralis).
Diantara pleura parietalis dan pleura visceralis terdapat suatu rongga yang berisi cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan bergerak selama pernafasan. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus
paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfer, sehingga mencegah kolaps paru. Bila terserang penyakit, pleura mungkin mengalami peradangan atau udara atau cairan dapat masuk ke dalam rongga pleura menyebabkan paru tertekan atau kolaps. Pleura visceralis fungsinya untuk mengabsorbsi cairan pleura : Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit Di bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastic Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari a. Pulmonalis dan b. Brakhialis serta pembuluh limfe Menempel kuat pada jaringan paru
Pleura parietalis fungsinya untuk memproduksi cairan pleura : Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastic) Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. Intercostalis dan b. Mamaria interna, pembuluh limfe, dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperature Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnya
2.3 PATOFISIOLOGI
Akibat invasi basil piogeneik ke pleura, maka akan timbulah peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan sel polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan endapan fibrin akan membentuk kantung kantung yang melokalisasi nanah tersebut. Sekresi cairan menuju celah pleura normalnya membentuk keseimbangan dengan drainase oleh limfatik subpleura. Sistem limfatik pleura dapat mendrainase hampir 500 ml/hari. Bila volume cairan pleura melebihi kemampuan limfatik untuk mengalirkannya maka, efusi akan terbentuk. Efusi parapnemonia merupakan sebab umum empiema. Pneumonia mencetuskan respon inflamasi. Inflamasi yang terjadi dekat dengan pleura dapat meningkatkan permeabilitas sel mesotelial, yang merupakan lapisan sel terluar dari pleura. Sel mesotelial yang terkena meningkat permeabilitasnya terhadap albumin dan protein lainnya. Hal ini mengapa suatu efusi pleura karena infeksi kaya akan protein. Mediator kimia dari proses inflamasi menstimulasi mesotelial untuk melepas kemokin, yang merekrut sel inflamasi lain. Sel mesotelial memegang peranan penting untuk menarik neutrofil ke celah pleura. Pada kondisi normal, neutrofil tidak ditemukan pada cairan pleura. Neutrofil ditemukan pada cairan pleura hanya jika direkrut sebagai bagian dari suau proses inflamasi.
Netrofil, fagosit, mononuklear, dan limfosit meningkatkan respon inflamasi dan mengeluarkan mediator untuk menarik sel-sel inflamator lainya ke dalam pleura. Efusi pleura parapneumoni dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan patogenesisnya, yaitu efusi parapneumoni tanpa komplikasi, dengan komplikasi dan empiema torakis. Efusi parapneumoni tanpa komplikasi merupakan efusi eksudat
predominan neutrofil yang terjadi saat cairan interstisiil paru meningkat selama pneumonia. Efusi ini sembuh dengan pengobatan antibiotik yang tepat untuk pneumonia. Efusi parapneumoni komplikasi merupakan invasi bakteri pada celah pleura yang mengakibatkan peningkatan jumlah neutrofil, asidosis cairan pleura dan peningkatan konsentrasi LDH. Efusi ini sering bersifat steril karena bakteri biasanya dibersihkan secara cepat dari celah pleura. Empiema torakis didefinisikan sebagai suatu infeksi pada ruang pleura yang berhubungan dengan pembentukan cairan yang kental dan purulen baik terlokalisasi atau bebas dalam ruang pleura yang disebabkan karena adanya dead space, media biakan pada cairan pleura dan inokulasi bakteri.
Pembentukan empiema terjadi dalam 3 tahap, yaitu : o Fase eksudatif : Selama fase eksudatif, cairan pleura steril berakumulasi secara cepat ke dalam celah pleura. Cairan pleura memiliki kadar WBC dan LDH yang rendah, glukosa dan pH dalam batas normal. Efusi ini sembuh dengan terapi antibiotik, penggunaan chest tube tidak diperlukan. o Fase fibropurulen : Invasi bakteri terjadi pada celah pleura, dengan akumulasi leukosit PMN, bakteri dan debris. Terjadi kecendrungan untuk lokulasi, pH dan kadar glukosa menurun, sedangkan kadar LDH menngkat. o Fase organisasi : Bentuk lokulasi. Aktivitas fibroblas menyebabkan pelekatan pleura visceral dan parietal. Aktivitas ini berkembang dengan pembentukan perlengketan dimana lapisan pleura tidak dapat dipisahkan. Pus, yang kaya akan protein dengan sel inflamasi dan debris berada pada celah pleura. Intervensi bedah diperlukan pada tahap ini.
Gambaran bakteriologis efusi parapneumoni dengan kultur positif berubah seiring berjalannya waktu. Sebelum era antibiotik, bakteri yang umumnya didapatkan adalah Streptococcus pneumoniae danstreptococci hemolitik. Saat ini, organisme aerob lebih sering diisolasi dibandingkan organism anaerob. Staphylococcus aureus dan S pneumoniae tumbuh pada 70 % kultur bakteri gram positif aerob. Bakteriologi suatu efusi parapneumoni berhubungan erat dengan bakteriologi pada proses pneumoni. Organisme aerob gram positif dua kali lebih sering diisolasi dibandingkan organisme aerob gram negatif. Klebsiela, Pseudomonas, dan Haemophilus merupakan 3 jenis organisme aerob gram negatif yang paling sering diisolasi. Bacteroides danPeptostreptococcus merupakan organisme anaerob yang paling sering diisolasi. Campuran bakteri aerob dan anaerob lebih sering menghasilkan suatu empiema dibandingkan infeksi satu jenis organisme. Bakteri anaerob telah dikultur 36 sampai 76 % dari empiema. Sekitar 70 % empiema merupakan suatu komplikasi dari pneumoni. Pasien dapat mengeluh menggigil, demam tinggi, berkeringat, penurunan nafsu makan, malaise, dan batuk. Sesak napas juga dapat dikeluhkan oleh pasien.
Pengobatan Prinsip pengobatan pada empiema : 1. Pengosongan rongga pleura dari nanah a) Aspirasi Sederhana Dilakukan berulangkali dengan memakai jarum lubang besar. Cara ini cukup baik untuk mengeluarkan sebagian besar pus dari empiema akut atau cairan masih encer. Kerugian teknik seperti
ini sering menimbulkan pocketed empiema. USG dapat dipakai untuk menentukan lokasi dari pocket empiema. b) Drainase Tertutup Pemasangan Tube Thoracostomy = Closed Drainage (WSD). Indikasi pemasangan drainage ini apabila nanah sangat kental, nanah berbentuk sudah dua minggu dan telah terjadi pyopneumathoraks. Pemasangan selang jangan terlalu rendah, biasanya diafagma terangkat karena empiema. Pilihlah selang yang cukup besar. Apabila tiga sampai 4 mingu tidak ada kemajuan harus ditempuh dengan cara lain seperti pada empiema kronis. c) Drainase Terbuka (open drainage) Tindakan ini dikerjakan pada empiema kronis dengan memotong sepenggal iga untuk membuat jendela. Cara ini dipilih bila dekortikasi tidak dimungnkinkan dan harus dikerjakan dalam kondisi betul-betul steril.
2.
Pemberian antibiotika Mengingat sebab kematian umumnya karena sepsis, maka pemberian antibiotik memegang peranan yang penting. Antibiotik harus segera diberikan begitu diagnosa diegakkan dan dosisnya harus adekuat. Pilihan antibiotik didasarkan pada hasil pengecatan gram dari hapusan nanah. Pengobatan selanjutnya tergantung pada hasil kultur dan tes kepekaan obat. Bila kuman penyebab belum jelas dapat dipakai Benzil Penicillin dosis tinggi.
3.
Penutupan rongga pleura Empiema kronis gagal menunjukkan respon terhadap drainase selang, maka dilakukan dekortikasi atau thorakoplasti. Jika tidak ditangani dengan baik akan menambah lama rawat inap.
4.
Pengobatan kausal
Tergantung
penyebabnya
misalnya
amobiasis,
TB,
5.
Komplikasi Fistula Bronchopleura Syock Sepsis Gagal jantung Kongestif Otitis media
WSD 3 Botol
2)
Pencegahan Sekunder Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas
penyakit, menghindari komplikasi, dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat sehingga dapat mencegah meluasnya penyakit dan terjadinya komplikasi. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: Pemeriksaan fisik Pemberian Antibiotik Drainase yang adekuat Terapi oksigen Obat-obatan (bronkodilator, kortikosteroid, dll)
3)
Pencegahan Tersier Pencegahan ini berupa rehabilitasi, disebabkan pesien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi Rehabilitasi meliputi: 1. 2. 3. Fisioterapi Rehabilitasi psikis Rehabilitasi pekerjaan
3.1 Pengkajian
I. Identitas 1. Nama : Tn. H 2. Jenis kelamin: Laki-Laki II. III. Keluhan Utama/Alasan Masuk RS : Panas tinggi disertai sakit pada dada Riwayat Keperawatan Riwayat Penyakit Dahulu Klien tidak pernah menderita TB, pneumonia. Keluhan sesak nafas dan nyeri dada pernah ada 4 bulan yang lalu tapi tidak pernah dibawa berobat. Riwayat Penyakit Sekarang Keluhan nyeri dada dimulai 10 hari yang lalu dan 2 hari SMRS memberat dan disertai panas tinggi. Keluhan lain batuk, badan makin kurus, tidak nafsu makan dan badan terasa lemah. Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang mengalami penyakit jantung, asma, kencing manis, gondok dam tidak ada yang mengalami sakit batuk-batuk selama satu tahun terakhir. IV. Observasi dan Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Wajah tampak pucat Tubuh lemah dengan posisi badan semi fowler Pasien terpasang O2 nasal kanul Pada jari terdapat clubbing finger
Inspeksi : Didapatkan perubahan kesimetrisan rongga dada, klien sesak nafas, mengguanakan otot bantu nafas, keringat dingin, klien nampak kelelahan, nafas cepat dan dangkal. Ekspansi dada menurun pada kedua paru. Ada cyanosis, warna kulit agak pucat. Ada clubbing finger, capillary refill 6 detik
Palpasi : Taktil premitus menurun/hilang pada daerah yang sakit, ICS melebar pada sisi sebelah kiri
Perkusi : Bunyi redup/pekak pada sisi dada sebelah kiri Auskultasi : Bunyi nafas hilang/melemah pada sisi dada sebelah kiri, tidak didapatkan suara ronkhi atau wheezing
b. Cardiovaskuler (B2) Inspeksi : Didapatkan keringat dingin, palpitasi tidak ada, ictus cordis tampak pada ICS 5 mid sternal kiri, distensi vena jugularis tidak tampak, edema tidak ditemukan. Palpasi : Teraba ictus cordis pada ics 5 mid sternal kiri Perkusi : Redup pada area jantung Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni, tidak ada murmur, irama gallop tidak ada
c. Persyarafan (B3) Kesadaran menurun, kepala bentuk mesoceophal ,tidak ada pelebaran vena di temporal, tidak ada bekas luka, wajah simetris. Bentuk mata simetris, sklera putih, konjungtiva tidak anemis, pupil ukuran 2 mm isokor, reflek pupil dan reflek kornea normal. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar di leher, Kaku kuduk tidak ada, JVP dalam batas normal. Persepsi sensori Tidak ada gangguan pendengaran, tidak menggunakan hearing aids
Fungsi penciuman normal Fungsi pengecapan normal, dapat membedakan rasa manis, asin, pahit
Fungsi penglihatan baik Tidak ada gangguan fungsi perabaan, bisa membedakan panas dan dingin
d. Perkemihan (B4) Produksi urine dalam batas normal 2000 cc/24 jam dan tidak ada keluhan pada system perkemihan.
e. Pencernaan (B5) Klien mual, nyeri lambung dan menyebabkan klien tidak nafsu makan. Peristaltik menurun menyebabkan klien jarang BAB, Gigi taring dan pre molar kiri dan kanan bagian atas dan bawah tanggal berjumlah 8 buah, tidak ada gangguan menelan. Abdomen simetris bilateral, datar dan warna sama dengan kulit sekitarnya, tidak ada pembesaran vena, nyeri tekan tidak ada, suara hipersonor pada epigastrium, redup pada kuadran kanan atas dan kuadran kiri atas, pekak pada kuadran kanan bawah dan kuadran kiri bawah, distensi abdomen tidak ada, bowel sound menurun. Ada riwayat hemorroid, tetapi berobat ke dokter ( tidak dioperasi) BAB frekuensi 1 x/hari konsistensi padat dan keras
f. Tulang-Otot-Integumen (B6) Karena pengguanaan otot Bantu nafas yang lama klien terlihat kelelahan, didapatkan intoleransi aktifitas dan gangguan
pemenuhan ADL. Kulit : Warna kulit sawo matang, pucar, integritas intake, tidak ada bekas perlukaan, peradangan maupun edema, turgor kulit baik, akral dingin.
V.
Pemeriksaan Penunjang Ultra Sonograf (USG) Empiema merupakan perkembangan penyakit atau stadium dari efusi parapneumonia. Drainase sulit dilakukan karena cairan yang bersifat kental dan adanya lokulasi fibrin dalam ruang pleura. Meskipun beberapa penelitian menemukan adanya cara efektif mendapatkan keparahan penyakit, memperkirakan prognosis dan merencanakan penanganan penderita empiema dengan ultrasonik, terdapat
ketidaksesuaian pada hasil penelitian tersebut, karena setelah pemberian urokinase intrapleura secara acak pada anak dengan empiema, ternyata hasil ultrasonik masih tidak berpengaruh. Selain itu ultrasonik kurang spesifik dalam membedakan daerah kistik yang padat pada ruang pleura dan menentukan apakah cairan pleura sudah terinfeksi atau belum. Walaupun gambaran ultrasund penderita dengan empiema biasanya ekogenik homogen, efusi hemoragik dan kilotoraks juga memiliki gambaran yang sama. Ekogenitas cairan pleura disebabkan karena elemen-elemen sel seperti eritrosit, sel-sel radang, dropletdroplet lemak atau gelembung udara, dan uultrasonik tidak dapat membedakan elemen-elemen tersebut. Foto dada posisi frontal, lateral, dan dekubitus Kultur darah Apusan nasofaringeal/ sampel sputum Hitung darah lengkap dengan diferensiasi (tidak spesifik namun bisa mencari penyebab infeksi atau diskrasia darah) Torakosenstesis jika etiologi efusi tidak diketahui atau tidak dapat ditentukan dari proses infeksi yang telah dicurigai sebelumnya Pemeriksaan cairan pleura Hitung sel darah dan diferensiasi Protein, laktat dehidrogenase (LDH), glucosa, dan Ph Kultur bakteri aerob dan anaerob, mikobakteri, fungi, mikoplasma, dan bila ada indikasi disertai dengan pemeriksaan viral patogen.
Gambar foto dada opacity ANALISA DATA DATA Ds : Klien mengeluh panas tinggi disertai sakit pada dada Do : TTV : TD : 100/70 Penumpukan eksudat di rongga pleura Inflamasi pleura Invasi ke pleura ETIOLOGI Bakteri, jamur, ISPA MASALAH Bersihan nafas efektif jalan tidak
mmHg N : 100x/ menit S : 38C Klien tampak pucat, lemah dengan posisi badan semifowler, nasal jari
Empiema
clubbing
Peningkatan sputum
produksi
Bersihan
jalan
nafas
tidak efektif
nafas, kaji dan pantau pernafasan. Catat atau adanya derajat gelisah dan suara
proses kronis yang yang dapat infeksi alergi. Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif menimbulkan atau reaksi
kembali efektif dalam 1x24 jam. - Mempertahank an jalan nafas paten bunyi bersih dengan nafas waktu -
kedalaman
- Kx
dapat -
derajat
distress -
batuk Meningkatkan masukan cairan sampai 2500 ml per hari toleransi jantung. Mengkaji frekwensi, kedalaman pernapasan Meninggikan kepala tempat tidur sesuai
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Waktu Hari/tanggal Tempat Sasaran Penyuluh
: Empiema : Perawatan Empiema : Pukul 07.30 08.30 : Kamis/13 Oktober 2011 : Balai Warga Kelurahan Kayu Putih, Tuban : Warga Kelurahan Kayu Putih Tuban : Mahasiswa STIKES NU Tuban Semester 3
--------------------------------------------------------------------------------------------------A. Tujuan Instruksional 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mendapat penyuluhan tentang Empiema, warga mampu menjelaskan tentang perawatan pada penderita empiema. 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan mahasiswa mampu : 1) Menjelaskan tentang definisi empiema 2) Menyebutkan etiologi empiema 3) Menyebutkan tipe dan gejala empiema 4) Menyebutkan terapi atau pengobatan pada empiema 5) Menyebutkan usaha-usaha pencegahan empiema
2. Flipchart 3. Leaflet
D. Kegiatan Penyuluhan No 1 Waktu 5 menit Kegiatan Penyuluh Pembukaan 1. Menyampaikan salam pembuka 2. Memperkenalkan diri 3. Menyampaikan penyuluhan 2 a) Penyampaian a) e Materi, tentang: 1) Memperhatikan penjelasan dan tujuan Respon Peserta Membalas salam Memperhatikan
penyuluhan yang berkaitan dengan materi 3 15 menit Penutup 1. Tanya jawab (evaluasi) 2. Menyimpulkan hasil penyuluhan 3. Mengakhiri kegiatan 4. Mengucapkan salam 5. Membagikan leaflet 1. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan diskusi dan tanya jawab 2. Menjelaskan kembali materi dan menjawab pertanyaan. 3. Mendengarkan dan membalas salam
: Irine Devi M : Membuka dan menutup kegiatan Membuat susunan acara dengan jelas Memimpin jalannya kegiatan
3. Penyaji
: Siska Islamiyati
: Menyampaikan materi penyuluhan dengan jelas : Ahmad Munib : Membuat resume kegiatan Penyuluhan : 1) Ika Desti Srimuryani 2) M. Sifaul Afif
Job Discription
: Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan Memotivasi audience untuk bertanya Menanggapi pertanyaan audience
F. Kritera Evaluasi 1. Evaluasi struktur 1) Warga Kelurahan Kayu Putih 2) Penyelenggaraan penyuluhan di Kelurahan Kayu Putih 3) Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa STIKES NU semester 3. 4) Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan Penyuluhan. 2. Evaluasi proses 1) Peserta antusias terhadap materi penyuluhan. 2) Peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai. 3) Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. 4) Peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing. 3. Evaluasi hasil : 1) Peserta mampu menyebutkan definisi empiema. 2) Peserta mampu menyebutkan etiologi empiema. 3) Peserta mampu menyebutkan tipe dan gejala empiema. 4) Peserta mampu menyebutkan terapi atau pengobatan empiema. 5) Peserta mampu menyebutkan usaha-usaha pencegahan empiema.
II.
ETIOLOGI
1. Berasal dari Paru Pneumonia Abses Paru Adanya Fistel pada paru Bronchiektasis TB Infeksi fungidal paru
2.
3.
Bakteriologi Staphilococcus Aureus Streptococcus Pyogenes Bakteri gram negatif Bakteri anaerob
Tanda dan gejala empiema : Manifestasi klinis empiema hampir sama dengan penderita pneumonia bakteria, gejalanya antara lain adalah: Batuk Dada datar Pucat, malaise Clubbing finger Pekak Pada Perkusi Dada Dispneu Menurunnya Suara Pernapasan Pleural Rub (pada fase awal) Menurunnya vokal fremitus
Nyeri Dada Menyempitnya ruangan interkosta Nyeri Abdomen Muntah Demam dan menggigil Keringat berlebihan, terutama berkeringat di malam hari Berat badan menurun
DAFTAR HADIR PESERTA PENDIDIKAN KESEHATAN DI BALAI WARGA KELURAHAN KAYU PUTIH TANGGAL 13 OKTOBER 2011
NO
NAMA
ALAMAT
TANDA TANGAN
LEMBAR OBSERVASI
KRITERIA STRUKTUR 1. Peserta ditempat penyuluhan menit 15 KRITERIA PROSES KRITERIA HASIL 1.Peserta menjawab dapat pertanyaan
hadir 1. Masing-masing anggota Tim bekerja sesuai dengan tugas : a. Moderator - Membuka kegiatan ( ) - Tidak berbelit-belit ( ) - Susunan acara jelas ( ) b. Penyaji - Komunikatif ( ) - Menyampaikan isi dengan jelas ( ) - Sesuai/tepat waktu ( ) c. Demonstran - Persiapan alat dan bahan ( ) - Persiapan penderita ( ) ) -Pemberian obat sesuai prosedur( ) d. Fasilitator -membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan ( ) - Memotivasi audience untuk bertanya( ) -Membantu penyaji dalam (
yang diajukan tentang : a.Pengertian empiema ( ) b.Penyebab empiema ( ) c.Tipe dan gejala
sebelum
Kayu Putih ( 3.
materi
penyuluhan yang diberikan, serta peserta yang terlibat aktif dalam penyuluhan 50 % dari yang hadir.( ) 3. Peserta Tidak ada yang meninggalkan tempat sebelum penyuluhan selesai ( )
KESIMPULAN
Akibat invasi basil piogeneik ke pleura, maka akan timbulah peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan sel polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan endapan fibrin akan membentuk kantung kantung yang melokalisasi nanah tersebut. Empiema adalah adanya eksudat purulent dalam cavum pelura. Pus dalam rongga pleura yang disebabkan oleh infeksi seperti pneumonia atau abses paru-paru terjadi setelah operasi atau akibat luka tusuk dada. Efusi parapnemonia merupakan sebab umum empiema. Pneumonia
mencetuskan respon inflamasi. Inflamasi yang terjadi dekat dengan pleura dapat meningkatkan permeabilitas sel mesotelial, yang merupakan lapisan sel terluar dari pleura. Sel mesotelial yang terkena meningkat permeabilitasnya terhadap albumin dan protein lainnya. Hal ini mengapa suatu efusi pleura karena infeksi kaya akan protein.
DAFTAR PUSTAKA
Hudak & Gallo, (1997), Keperawatan kritis : suatu pendekatan holistic, EGC, Jakarta Diana C. Baughman, (2000), Patofisiologi, EGC, Jakarta. Marilyn E. Doengoes, (2000), Rencana asuhan keperawatan, pendekatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien., EGC, Jakarta. Ngastiyah, (1997), Perawatan anak sakit , EGC, Jakarta. Poppy M. Lintong,SpPa. Bahan Ajar Patologi Anatomi.2007.Manado. Fakultas Keperawatan Unika De La Salle. Irman Somantri. Keperawatan Medikal Bedah. Dalam: Askep Sistem Pernapasan. 2007.J akarta. Salemba Medika Anonim. Epiema Thorax (Available at : www.scribd.com/doc/33194993/EMPIEMATORAKS) di akses pada : 12 Oktober 2011 Zieshila.Askep Empiema. (Available at :http://zieshila.wordpress.com/ibu-dan-