Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Empiema merupakan suatu proses supurasi yang terjadi di dalam
rongga pleura. Empiema ialah keadaan terkumpulnya nanah (pus) di dalam
rongga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura.
Empiema yang terjadi di rongga pleura dikenal dengan nama empiema
toraks (Nadel, 2010).
Hippocrates sudah mengenalnya sejak 2.400 tahun yang lalu dan
dialah yang petama kali melakukan torakosintesis dan drainase pada
pleural empiema, kemudian oleh Graham dan kawan-kawannya dari suatu
komisi empiema waktu perang dunia satu diberikan cara-cara perawatan
dan

pengobatan

yang

dianut

sampai

sekarang.

Walaupun

cara

penatalaksanaan empiema di berbagai rumah sakit beraneka ragam, namun


tindakan standar masih tetap dieprtahankan (Rosenbluth, 2012). Penyakit
ini dapat disebabkan oleh trauma pada dada (sekitar 1-5% kasus
mendorong ke arah empiema) dam pecahnya abses dari paru ke dalam
rongga pleura. Empiema mempunyai tingkat kematian yang cukup tinggi,
biasanya akibat dari kegagalan bernapas dan sepsis. Dengan ditemukannya
antibiotik yang ampuh, maka angka prevalensi dan mortalitas empiema
mula-mula menurun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir oleh karena
perubahan jenis kuman penyebab dan resistensi terhadap antibiotik,
morbiditas

dan

mortalitas

empiema

tampak

meningkat

(Palgunadimargono, 2008).
Insidensi infeksi pleural mulai berubah pada awal abad ke 20. Pada
zaman preantibiotik, empiema merupakan komplikasi dari kasus
pneumonia sebesar 5%, tapi setelah adanya perkembangan tentang
antibiotik (sekitar tahun 1940) angka tersebut menurun menjadi 2%. Pada
penelitian selama empat dekade, Weese et al., menemukan insidensi
empiema sebesar 79 kasus tiap 100.000 pada zaman preantibiotik, rata-rata

insidensi ini menurun menjadi 52 kasus tiap 100.000 pada tahun 19471948 (Rogayah, 2010).
Untuk memahami dinamika insidensi empiema, diperlukan
pemahaman yang kompleks mengenai mikrobiologi infeksi pleura.
Prevalensi dari mikroorganisme penyebab, masing-masing berbeda
tergantung dari sumber infeksi (community vs. Hospital-acquired
empyema),

usia

dan

Immunocompromised

karakteristik
patients).

host

Sekitar

(immunocompetent
40%

kasus

vs.

empiema,

mikroorganisme penyebab tidak dapat diisolasi lewat kultur (Rogayah,


2010).
Penyakit empiema masih merupakan masalah penting, meskipun ada
perbaikan teknik pembedahan dan penggunaan antibiotik baru yang lebih
efektif. Empiema dapat terjadi sekunder akibat infeksi di tempat lain.
Untuk itu perlu dilakukan pengobatan yang adekuat terhadap semua
penyakit yang dapat menimbulkan penyulit pada empiema (Rosenbluth,
2012).
B. Tujuan
1. Untuk mempelajari definisi dari empiema
2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya empiema
3. Untuk mengetahui insiden terjadinya empiema
4. Untuk mengetahui perjalanan penyakit dari empiema
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan empiema
6. Untuk mengetahui prognosis dari empiema

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Empiema difenisikan sebagai suatu infeksi pada ruang pleura yang
berhubungan dengan pembentukan cairan yang kental dan purulen baik
terlokalisasi atau bebas dalam ruang pleura yang disebabkan karena

adanya dead space, media biakan pada cairan pleura dan inokulasi
bakteri. Empiema adalah akumulasi pus diantara paru dan membran
yang menyelimutinya (ruang pleura) yang dapat terjadi bilamana suatu
paru terinfeksi. Pus ini berisi sel-sel darah putih yang berperan untuk
melawan agen infeksi (sel-sel polimorfonuklear) dan juga berisi
protein darah yang berperan dalam pembekuan (fibrin). Ketika pus
terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan pada
paru sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. Seiring
dengan berlanjutnya perjalanan penyakit maka fibrin-fibrin tersebut
akan

memisahkan

pleura

menjadi

kantong-kantong

(lokulasi).

Pembentukan jaringan parut dapat membuat sebagian paru tertarik dan


akhirnya mengakibatkan kerusakan yang permanen (Rogayah, 2010).
B. Etiologi
Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab empiema yang
paling sering ditemukan dalam isolasi mikrobilogi, selebihnya adalah
bakteri gram negatif. Dring ditemukannya bakteri gram negatif pada
biakan terjadi diantaranya karena tingginya insidensi resisten karena
pemberian antibiotik pada fase awal pneumonia.penelitian yang
dilakukan Yu Chen dkk pada pasien efusi pleura dengan empiema
didapatkan Klebsiella pneumoniae merupakan penyebab terbanyak (Yu
Chen, et al., 2013). Penyebab terjadinya empiema sendiri terbagi
menjadi :
1. Infeksi yang berasal dari dalam paru
a. Pneumonia
b. Abses paru
c. Bronkiektasis
d. TBC paru
e. Aktinomikosis paru
f. Fistel bronko-pleura
2. Infeksi yang berasal dari luar paru
a. Trauma thoraks
b. Pembedahan thorax
c. Torakosintesis pada pleura
3

d. Sufrenik abses
e. Amoebic liver abses (Faucy, 2009)
Bakteri penyebab :
1. Bakteri gram negatif (P. aeruginosa, Klebsiella, Bacteroides, E.
2.
3.
4.
5.
6.

colli, P. mirabilis ) 20 30 %
S. aureus 25 35 %
S. pyogenes 5 15 %
Bakteri anaerob 30 70 %
Kultur (-) 3 30 %
Polimikroba 30 70 % (Palgunadimargono, 2008)

C. Klasifikasi
Empiema dibagi menjadi tiga fase :
1. Stadium I disebut juga stadium eksudatif atau stadium akut, yang
terjadi pada hari-hari pertama saat efusi. Inflamasi pleura
menyebabkan peningkatan permeabilitas dan terjadi penimbunan
cairan pleura namun masih sedikit. Cairan yang dihasilkan
mengandung elemen seluler yang kebanyakan terdiri atas netrofil.
Stadium ini terjadi selama 24 72 jam dan kemudian berkembang
menjadi stadium fibropurulen. Cairan pleura mengalir bebas dan
dikarakterisasi dengan jumlah darah putih yang rendah dan enzim
laktat dehidrogenase (LDH) yang rendah serta glukosa dan pH
yang normal, drainase yang dilakukan sedini mungkin dapat
mempercepat perbaikan.
2. Stadium II disebut juga stadium fibropurulen atau stadium
transisional yang dikarakterisasi dengan inflamasi pleura yang
meluas dan bertambahnya kekentalan dan kekeruhan cairan. Cairan
dapat berisi banyak leukosit polimorfonuklear, bakteri dan debris
seluler. Akumulasi protein dan fibrin disertai pembentukan
membran fibrin, yang membentuk bagian atau lokulasi dalam
ruang pleura. Saat stadium ini berlanjut, pH cairan pleura dan
glukosa menjadi rendah sedangkan LDH meningkat. Stadium ini

berakhir setelah 7 10 hari dan sering membutuhkan penanganan


yang lanjut seperti torakostomi dan pemasangan tube.
3. Stadium III disebut juga stadium organisasi (kronik). Terjadi
pembentukan kulit fibrinosa pada membran pleura, membentuk
jaringan yang mencegah ekspansi pleura dan membentuk lokulasi
intrapleura yang menghalangi jalannya tuba torakostomi untuk
drainase. Kulit pleura yang kental terbentuk dari resorpsi cairan
dan merupakan hasil dari proliferasi fibroblas. Parenkim paru
menjadi terperangkap dan terjadi pembentukan fibrotoraks.
Stadium ini biasanya terjadi selama 2 4 minggu setelah gejala
awal (Rogayah, 2010).
D. Patofisiologi
Akibat invasi basil piogenik ke pleura akan mengakibatkan
timbulnya radang akut yang diikuti pembentukan eksudat serous.
Dengan banyaknya sel PMN yang mati akan meningkatkan kadar
protein dimana mengakibatkan timbunan cairan kental dan keruh.
Adanya endapan-endapan fibrin akan membentuk kantong-kantong
yang melokalisasi nanah tersebut (Rogayah, 2010).
Apabila nanah menembus bronkus, timbul fistel bronkus pleural.
Sedangkan bila nanah menembus dinding toraks dan keluar melalui
kulit disebut empiema nesessitasis. Empiema dapat digolongkan
menjadi akut dan kronis. Empiema akut dapat berlanjut ke kronis.
Organisasi dimulai kira-kira setelah seminggu dan proses ini berjalan
terus sampai terbentuknya kantong tertutup (Rogayah, 2010).
E. Manifestasi Klinis
Empiema dibagi menjadi dua stadium, yaitu :
1. Empiema Akut
Terjadi sekunder akibat infeksi tempat lain, bukan primer dari
pleura. Pada permulaan, gejala-gejalanya mirip dengan pneumonia,
yaitu panas tinggi dan nyeri pada dada pleuritik. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.
Bila stadium ini dibiarkan sampai beberapa minggu maka akan
5

timbul toksemia, anemia dan clubbing finger. Jika nanah tidak


segera dikeluarkan akan timbul fistel bronkopleura. Adanya fistel
ditandai dengan batuk yang makin produktif, bercampur nanah dan
darah masif, serta kadang-kadang bisa timbul sufokasi (mati lemas)
(Nadel, 2010).
Pada kasus empiema karena pneumotoraks pneumonia,
timbulnya cairan adalah setelah keadaan pneumonianya membaik.
Sebaliknya pada Streptococcus pneumoniae, empiema timbul
sewaktu masih akut. Pneumonia karena basil gram negatif seperti
Escherichia coli atau Bakterioides sering kali menimbulkan
empiema (Rugoyah, 2010).
2. Empiema Kronis
Batas yang tegas antara empiema akut dan kronis sukar
ditentukan. Disebut kronis jika empiema berlangsung selama lebih
dari tiga bulan. Penderita mengeluh badannya terasa lemas,
kesehatan makin menurun, pucat, clubbing finger, dada datar dan
adanya tanda-tanda cairan pleura. Bila terjadi fibrotoraks, trakea
dan jantung akan tertarik ke sisi yang sakit (Yu Chen, et al., 2013).
F. Diagnostik
1. Anamnesa
a. Demam dan keluar keringat malam
b. Nyeri pleura
c. Dispnea
d. Anoreksia dan penurunan berat badan (Nadel, 2010)
2. Pemeriksaan Fisik
a. Pada inspeksi, sisi yang sakit lebih cembung, tertinggal pada
b.
c.
d.
e.
f.

pernapasan
Pada palpasi ditemukan penurunan fremitus
Pada perkusi ditemukan suara flatness (redup)
Pada auskultasi dada ditemukan penurunan suara napas
Mediastinum terdorong ke sisi yang sehat
Pada empiema yang kronis hemitoraks yang sakit mungkin
sudah mengecil karena terbentuknya schwarte (Rugoyah,
2010).

3. Pemeriksaan Penunjang
6

Pemeriksaan Radiologi
a. Foto toraks (Yu Chen, et al., 2013)
Pada pasien empiema, aliran bebas cairan pleura terkumpul
di bagian tertentu dan cavum pleura dan mengaburkan sudut
kostofrenikus. Jumlah cairan pleura yang menyebabkan
penumpulan sudut kostofrenikus pada foto toraks lateral sekitar
75 ml. Pada foto toraks PA jumlah cairan yang menyebabkan
penumpulan sudut kostofrenikus sekitar 200 ml.
Pemeriksaan foto toraks posteroanterior (PA) dan lateral
mempunyai arti penting untuk diagnosis empiema. Pasien yang
difoto dengan posisi bardiri, cairan pleura bebas akan
terakumulasi di bagian terendah hemitoraks dan sudut
kostofrenikus. Foto toraks dengan diafragma normal tetapi
tampak gambaran berkantong yang terlokalisir sebaiknya juga
diperiksa

ultrasonografi

(USG)

toraks

atau

computed

tomograpgy (CT scan), terlebih bila terlihat gambaran efusi.


Selanjutnya dilakukan torakosintesis, cairan yang didapat
diperiksa warna, purulensi, viskositas, bau dan analisis cairan
pleura. Cairan pleura berupa transudat tidak dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut (Marc Tobler, et al., 2013).

Foto thorax PA laki-laki usia 50 tahun yang selama 2 minggu


telah mendapatkan pengobatan pneumonia. Pasien mengeluh
demam persisten dan nyeri dada. Gambaran opasitas patchy
bilateral pada parenkim paru menunjukkan adanya pneumonia.
7

Sudut kostofrenikus kiri yang tumpul menunjukkan adanya


efusi pleura kiri (Marc Tobler, 2013).

Foto thorax pasien empiema thorax tanpa abses paru (HuangChe, et al., 2010)

Foto thorax pasien empiema dengan abses paru (Huang-Che, et


al., 2010)
Terdapat gambaran opasitas yang menunjukkan cairan
dengan atau tanpa kelainan paru
Bila tampak air fluid level berarti disitu terdapat terdapat
juga udara. Adanya udara disebabkan oleh :
Udara masuk waktu dilakukan torasentesis
Udara masuk melalui fistel bronkopleura
Ada basil-basil pembentuk gas misalnya Clostridium
welchii
8

Bila terjadi fibrosis, trachea atau mediastinum tertarik ke


sisi yang sakit dan tampak penebalan pleura.
Kantong empiema dapat terbatas di satu tempat (Alsagaf,
2010)
b. Bronkoskopi
Dilakukan pada keadaan seperti (Alsagaf, 2010) :
1) Untuk menentukan tumor atau benda asing di intrabronkial
2) Untuk menentukan fistel bronkopleura, dibuktikan dengan
penyuntikkan beberapa methylen blue ke dalam rongga
pleura, sehingga dapat dilihat dari lobus mana yang
sekretnya berwarna biru.
c. Computed Tomography (Yu Chen, et al., 2013)
CT-scan digunakan untuk membedakan kelainan parenkim
terhadap pleura, mengevaluasi kelainan parenkim, menentukan
lokulasi, mengevaluasi permukaan pleura dan membantu dalam
penentuan terapi. Tidak semua penderita efusi parapneumonia
dengan komplikasi memerlukan pemeriksaan CT-scan toraks,
tetapi berguna pada penderita efusi komplikasi dengan lokulasi
untuk pertimbangan terapi, yang akan menurunkan morbiditas,
mortilitas maupun lamanya rawat tinggal (Rugoyah, 2010).
Tergantung pada manajemen klinis yang diharapkan, pasien
dapat menjalani pencitraan dengan atau tanpa bahan kontras
intravena. Jika penyadapan efusi pleura klinis yang signifikan
secara klinis diindikasikan, media kontras intravena tidak
diperlukan untuk mengevaluasi keberadaan dan lokasi cairan
pleura.
Yang khas adalah empiema lenticuler. CT-scan dapat
menunjukkan efusi pleura atipikal sepanjang mediastinum,
pleura yang menebal, loculations dalam celah, septa atau
gelombang gas dalam rongga pleura.

CT-scan Toraks pasien dengan Empiema (Rugoyah, 2010)

Chest x-ray menunjukkan adanya atelektasis pulmo, empiema


masif yang dikelilingi oleh kalsifikasi dan masa pada bagian
bawah dinding empiema, termasuk semua lapisan dinding dada
anterolateral. Chest x-ray menunjukkan adanya bayangan masif
pada bagian bawah kanan thorax sampai dinding dada. Masa
berdiameter 3 cm (Marc Tobler, et al., 2011).

10

Kontras computed tomography aksial (CT-scan) pada tingkat


pembuluh darah paru inferior, pasien adalah seorang pria
berusia 50-an yang memiliki riwayat 2 minggu pneumonia
diobati secara parsial. Gambar menunjukkan cairan
terlokalisasi dalam fisura utama kiri, pseudotumor (tanah
panah). Gelembung gas muncul tergantung dari cairan pleura
(tanda panah) (Marc Tobler, et al., 2013).
d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI jarang digunakan untuk melihat gambaran efusi pleura
(tingkat kepercayaan dalam diagnosis empiema moderat). MRI
mungkin berguna untuk mengevaluasi penebalan membran
pleura ketika pemberian kontras merupakan kontraindikasi
(Marc Tobler, et al., 2013).
e. Ultrasonography (USG)
USG merupakan pemeriksaan tambahan yang penting
dalam mendefinisikan karakteristik efusi pleura dan dapat pula
untuk mendeteksi efusi kecil. USG juga menyediakan
informasi tentang viskositas cairan, adanya septa dan sifat
efusi. Diagnosis empiema tidak hanya berdasarkan USG (Marc
Tobler, et al., 2013).
4. Diagnosis banding secara radiologis
a. Efusi Pleura

11

Pada foto toraks ini, cairan dalam rongga pleura tampak berupa
perselubungan semiopak, homogen, menutupi paru bawah yang
biasanya relatif radioopak dengan permukaan atas cekung,
berjalan dari lateral atas ke medial bawah (meniscus sign).
Penumpukan cairan ini menyebabkan sinus kostofrenikus
menumpul. Karena cairan mengisi hemithorax maka paru akan
terdorong ke arah sentral/hilus, dan kadang-kadang mendorong
mediastinum ke arah kontra lateral (Malueka, 2007).
5. Diagnosis Pasti
a. Didapatkan nanah atau pus yang berasal dari rongga pleura
melalui aspirasi, drainase dan lain-lain.
b. Nanah digunakan sebagai bahan pemeriksaan bakteriologi,
amoeba, jamur, kultur dan tes resistensi antibiotik (Malueka,
2007).
G. Komplikasi
1. Fistel bronkopleura
2. Syok
3. Sepsis
4. Gagal jantung kongesti (Rugoyah, 2010)
H. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan empiema adalah :
1. Pengosongan nanah
12

Prinsip ini seperti umumnya yang dilakukan pada abses, untuk


mencegah efek toksisnya.
a. Closed drainage-tube toracostory water scaled drainage
dengan indikasi :
Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi
Nanah terus terbentuk setelah dua minggu
Terjadinya piopneumothorax.
Upaya WSD juga dapat dibantu dengan pengisapan negatif
sebesar 1020 cmH2O. Jika setelah 3 4 minggu tidak ada
kemajuan, harus ditempuh cara lain seperti empiema kronis
(Alsagaf, 2010).
b. Drainage terbuka (open drainage)
Karena menggunakan kateter karet yang besar, maka perlu
disertai juga dengan reseksi tulang iga. Open drainage ini
dikerjakan pada empiema kronis, hal ini bisa terjadi akibat
pengobatan yang terlambat atau tidak adekuat misalnya aspirasi
yang terlambat atau tidak adekuat, drainase tidak adekuat
sehingga harus mengganti atau membersihkan drain (Alsagaf,
2010).
2. Antibiotik
Mengingat kematian sebagai akibat utama dari sepsis, maka
antibiotik memegang peranan penting. Antibiotik harus segera
diberikan begitu diagnosis ditegakkan dan dosisnya harus tepat.
Pemilihan antibiotik didasarkan pada hasil pengecatan gram dan
apusan nanah. Pengobatan selanjutnya tergantung pada hasil kultur
dan sentivitasnya. Antibiotik dapat diberikan secara sistemik dan
topikal. Biasanya diberikan penicilin. Pemilihan awal didasarkan
pada CAP dan HAP ( laktam, penicilin, sefalosporin, kabapenem).
Jika dicurigai bakteri anaerob, ditambah metronidazole atau
clindamycin. Lama pemberian antibiotik adalah 2 4 minggu
(Faucy, 2009).
3. Fibrinolitik Intrapleura
Diberikan pada empiema dengan pus yang kental dan atau
empiema yang berkantong-kantong. Kontraindikasi pada fistula
13

bronkopleura, gangguan koagulasi. Fibrinolitik intrapleural volume


total 50 100 ml. Jenis obat yang diberikan :
Streptokinase 200.000 250.000 IU 1 2 kali/hari
Urokinase 50.000 100.000 IU 1x1 hari
Saat pemberian WSD diklem 4 8 jam. Obat diberikan selama 3
hari berturut-turut (Yu Chen, et al., 2013).
4. Penutupan Rongga Empiema
Pada empiema menahun sering kali rongga empiema tidak
menutup karena penebalan dan kekakuan pleura. Pada keadaan
demikian dilakukan pembedahan (dekortikasi) atau torakoplasti.
a. Dekortikasi
Tindakan ini termasuk operasi besar dengan indikasi :
Drain tidak berjalan baik karena banyak kantung-kantung
Letak empiema sukar dicapai oleh drain
Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura
visceralis.
b. Torakoplasti
Jika empiema tidak mau sembuh karena adanya fistel
bronkopleura atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi. Pada
pembedahan ini, segmen dari tulang iga dipotong subperiosteal,
dengan demikian dinding toraks jatuh ke dalam rongga pleura
karena tekanan atmosfer (Alsagaf, 2010).
5. Pengobatan Kausal
Misalnya subfrenik abses dengan drainase subdiafragmatika,
terapi spesifik pada amoeniasis dan sebagainya (Fauci, 2009).
Apabila dijumpai abses subfrenika, maka harus dilakukan drainase
subdiafragmatika. Selain itu perlu diberikan pengobatan spesifik
untuk amoebiasis, tuberculosis, actinomicosis dan sebagainya
(Alsagaf, 2010).
6. Pengobatan Tambahan
Perbaiki keadaan umum lalu fisioterapi untuk membebaskan
jalan

napas.

Infeksi

dikontrol

dengan

pemberian

obat

antimikrobial, berdasarkan hasil uji sensitivitas kultur organisme


dari sputum. Pasien mungkin akan diberikan obat antibiotik selama
bertahun-tahun dengan tipe antibiotik berbeda sesuai dengan

14

perubahan

dalam

interval.

Beberapa

dokter

sering

kali

membeberkan penyakit ISPA timbul. Pasien dianjurkan untuk


diberikan vaksin ulangan influenza dan pneumonia (Rogayah,
2010).
Postural drainase merupakan dasar dari rencana
penatalaksanaan medis untuk bronkiektasis. Drainase yang
memanfaatkan gaya gravitasi diharapkan akan mengurangi jumlah
sekret dan tingkat infeksi (sering sekali sputum mukopurulen harus
diangkat dengan bronchoscopy). Pada area dada, lakukan perkusi
untuk membantu menaikkan sekresi. Postural drainase dimulai
pada jangka waktu pendek dan selanjutnya meningkat (Rogayah,
2010).
Untuk meningkatkan pengenceran dan pengeluaran sputum,
dapat diberikan acrosolized nebulizer dan dapat meningkatkan
intake cairan. Facetent sangat ideal untuk memberikan kelembapan
tambahan pada aerosol. Pasien harus dicegah untuk merokok,
karena hal tersebut akan dapat merusak drainase bronkhial akibat
dari paralisis kerja siliari, meningkatkan sekresi bronchial dan
menyebabkan peradangan pada membrane mukosa sehingga
mengakibatkan hiperplasia dari kelenjar mukus (Rogayah, 2010).
Intervensi surgical meskipun sering digunakan diindikasikan
untuk pasien dengan pengenceran dan pengeluaran sputum yang
berlanjut dalam jumlah besar, serta pasien dengan pneumonia dan
hemoptisis berulang karena tidak berobat secara teratur (Rogayah,
2010).
I. Penyulit
Penyulit yang sering timbul adalah :
1. Fistel bronkopleura
2. Sepsis
3. Syok
4. Gagal jantung kongestif
5. Otitis media (Alsagaf, 2010)
J. Prognosis
15

Prognosis dipengaruhi oleh umur serta penyakit yang


melatarbelakanginya. Angka kematian meningkat pada usia tua,
penyakit asal yang berat dan pengobatan yang terlambat. Faktor
prognosis buruk pada empiema apabila :
1. Didapatkan nanah di rongga pleura
2. Pewarnaan gram cairan pleura positif
3. Kadar glukosa cairan pleura kurang dari 40 mg/dl
4. Biakan cairan pleura positif
5. pH cairan pleura < 7, 0
6. Kadar LDH cairan pleura > 3 kali nilai normal serum (Rogayah,
2010).

BAB III
KESIMPULAN
Empiema adalah akumulasi pus pada cavum pleura yang dapat
terjadi bilamana suatu paru terinfeksi. Penyebab empiema toraks
dapat berasal dari paru dan dari luar paru. Empiema akut ditandai
pada permulaan gejala mirip dengan pneumonia, yaitu panas tinggi
dan nyeri pleuritik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda
cairan di rongga pleura. Empiema disebut kronis apabila berjalan
lebih dari tiga bulan. Ditandai dengan badan tampak lemas, kurus,
kesehatan makin menurun, tampak pucat, sering dijumpai jari
tabuh, dada datar sampai cekung di bagian yang sakit disertai
tanda-tanda adanya cairan pleura.
Pada pemeriksaan penunjang radiologi, foto polos thoraks tetap
merupakan studi pertama untuk mengevaluasi efusi atau empiema.
Jika terdapat efusi, pencitraan dekubitus bilateral diindikasikan
untuk karakterisasi lebih lanjut. Pemeriksaan ini cukup informatif
dan hemat biaya. Ultrasonografi dapat menunjukkan volume kecil
cairan pleura dan dapat memberikan informasi tentang viskositas.
USG juga dapat dengan cepat menunjukkan septa dalam akumulasi
cairan pleura. CT-scan thoraks memberikan informasi yang paling

16

banyak. CT-scan menggambarkan cairan, loculation, dan penebalan


membran pleura.
Diagnosis pasti didapatkan nanah atau pus yang berasal dari
rongga pleura melalui aspirasi, drainase dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Alsagaf, M. 2010. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya :
Airlangga University Press
Fauci, Anthony et al. 2009. Harrisons Manual of Medicine 17th
Edition. New York : The McGraw-Hill Company
Huang-Che H, Heng-Chung C, et al. 2010. Lung Abcess Predicts
the Surgical Outcome in Patients with Pleural Empyema.
Journal of Cardiothoracic Surgery. Diakses pada tanggal 05
Oktober

2016

http://www.cardiothoracosurgery.org/content/5/1/88
Malucka, Rusdy Ghazali. 2007. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta :
Pustaka Cendikia Press
Marc Tobler, Barry HG, et al. 2013. Empyema Imaging. Medscape.
Diakses

tanggal

05

Oktober

2016.

http://emedicine.medscape.com/article/355892_overview
Nadel, Murray. 2010. Text Book of Respiratory Medicine Third
Edition Volume One. Philadelphia, 985-1041
Palgunadimargono, Benjamin dkk. 2008. Pedoman Diagnosa dan
Terapi BAG/SMF Ilmu Penyakit Paru edisi 3. Surabaya
Rogayah, Rita. 2010. Empiema. Jakarta : Dept. Pulmonologi dan
Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI
Rosenbluth DB. 2012. Pleural Effusion : Nonmalignant and
Malignant. In : Fishmans of Pulmonary Disease and
Disorders. Editors : Fishman AP, Elias JA, et al. 3rd. Ed.
McGraw-Hill Companies, 487-508

17

Yu Chen, Kuan MD, et al. 2013. Emphasis on Klebsiella


Pneumoniae in Patients with Diabetes Mellitus. American
College of Chest Physician. Diakses tanggal 05 Oktober 2016
http://chestjournal.chestpubs.org/content/117/6/1685.full.pdf
+html

18