Anda di halaman 1dari 125

ACARA I KOLEKSI PUPUK

ABSTRAKSI
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 26 September 2012 di Laboratorium Kimia Dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang digunakan pada praktikum acara ini adalah Pupuk Permata Hijau, sedangkan alat yang digunakan ialah peralatan tulis dan alat dokumentasi. Pupuk dibeli di Toko Tani Maju, Jalan Magelang km 5.6, Yogyakarta. Jumlah pupuk yang dikumpulkan 1.000 ml lalu dicatat keterangan yang tertera pada pupuk tersebut. Pupuk ini mempunyai komposisi N 17 %, P 17 %, K 4 %, Mg, Ca, S, Fe, Mn, Zn, Co, Cu, B, Mb. Manfaat pupuk antara lain untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman, meningkatkan sekaligus merangsang pertumbuhan tanaman karena mengandung unsur hara makro dan mikro, serta zat pembasah yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. .

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pupuk merupakan bahan yang ditambahkan untuk menambah unsur-unsur hara dalam tanah. Pupuk biasanya diberikan pada tanah, tetapi dapat pula diberikan lewat daun atau batang sebagai larutan. Dengan menambahkan pupuk, diharapkan kebutuhan tanaman akan unsur hara makro maupun mikro dapat terpenuhi sehingga pertumbuhan tanaman lebih optimum. Pupuk dapat dibagi menjadi pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk yang dijual di pasaran pada umumnya merupakan pupuk anorganik yang diproduksi oleh perusahaan tertentu. Di dalam pupuk anorganik umumnya terkandung bahan-bahan aktif yang mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Pada umumnya, pupuk yang dijual memiliki kandungan N, P, dan K karena unsur-unsur tersebutlah yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah banyak. Sebelum menggunakan pupuk, sebaiknya kita mengetahui sifat dari pupuk tersebut serta membaca petunjuk yang tercantum pada kemasan. Dengan begitu, diharapkan pemakaian pupuk dapat lebih efektif, efisien, serta aman bagi tanaman maupun penggunanya. Kualitas dan kuantitas hasil panen sangat ditentukan oleh kesuburan pada tanah. Kesuburan dapat ditingkatkan dengan melakukan pemupukan. Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Adanya pupuk yang bermacam jenisnya membantu petani dalam usaha peningkatan hasil pertaniannya. Dalam pupuk buatan pabrik telah tersedia komposisi yang sesuai 1

untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Namun, komposisi ini kurang begitu berarti apabila tidak diimbangi dengan penggunaan pupuk yang benar baik dalam hal dosis, konsentrasi, cara pemupukan yang benar, serta waktu yang tepat untuk pemupukan. Banyaknya pupuk yang beredar di pasaran membawa dampak positif maupun negatif bagi dunia pertanian.Penggunaan pupuk yang terlalu berlebihan ataupun terlalu sedikit berdampak negatif bagi pertanaman yang nantinya dapat menyebabkan penurunan hasil produksi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan suatu bahan untuk dipergunakan sebagai bahan pupuk, antara lain : ketersediaan bahan dalam jangka panjang, kandungan hara, tingkat perombakan, bebas dari senyawa meracun, dan kemudahan pengolahan.

B.

Tujuan

Tujuan dari praktikum acara 1 yang berjudul Koleksi Pupuk adalah untuk membuat dan mengenal koleksi pupuk.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kesuburan tanah adalah salah satu faktor produksi pertanian, penurunan kesuburan tanah terjadi akibat penanaman yang tidak diimbangi dengan pemupukan yang tepat, penurunan bahan organik, kekeringan, kebanjiran, dan erosi. Di lain pihak, kecepatan dekomposisi bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah masih meragukan opara ahli dan praktisi pertanian. Kecepatan dekomposisi bahan organik tidak seiring dengan kecepatan peertumbuhan tanaman sehingga produksi yang diperoleh dari pertanian organik jauh lebih rendah daripada pertanian anorganik atau kimia (Wididana, 2004). Dalam arti luas, pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat kimia, fisika, dan biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Dalam pengertian yang khusus, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara tanaman. Dengan pengertian ini, kegiatan tersebut di atas hanya urea yang dianggap sebagai pupuk karena bahan tersebut mengandung hara tanaman, yakni unsur nitrogen (Rusmarkam dan Wiyono, 2002). Secara umum unsur pupuk hanya 3 macam yaitu N (nitrogen), P (fosfor), K (kalium). Namun sekarang oleh karena variasi pupuk sangat banyak serta adanya pengertian untuk menggunakan banyak unsur yang terkandung dalam tanah maka jaminan tentang hara dalam pupuk tidak dibatasi pada ketiga unsur tersebut, namun ada kecenderungan ditambah dan ditambah. Ada banyak unsur dalam pupuk terutama pupuk komplit (Gressel, 2000). Tiap bahan pupuk apakah pupuk tunggal atau pupuk majemuk lengkap yang siap untuk digunakan harus mempunyai jaminan tentang kadar haranya. Bentuk yang tepat umumnya ditentukan ole negara di mana pupuk itu dibuat. Jumlah nitrogen total biasanya dinyatakan dalam bentuk unsurnya (N), fosfor disebutkan dengan istilah fosfor yang tersedia (P2O5) atau fosfor tersedia, sedangkan kalium disebutkan sebagai kalium larut dalam air (K) atau kalium oksida (K2O5) tersedia. Jaminan untuk pupuk sederhana seperti sulfat dari amonia (Maas, 1996). Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk memasok hara pada tanaman dalam jumlah yang seimbang. Beberapa faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah adalah : cadangan hara, ketersediaan, besarnya pasokan, tidak adanya bahan racun maupun bahan yang menghambat penyerapan hara oleh tanaman (Sutanto, 1999).

Pemantapan tanah (soil conditioner) yang bertujuan untuk memperbaiki sifatsifat fisika tanah dengan menggunakan bahan kimia baik secara buatan maupun secara alami. Sifat sifat fisika ynag diperbaiki ini terutama mngenai pembentukan struktur tanah yang baik dalam hal tata udara dan airnya, porositas baik, sehingga memperlancar laju infiltrasi air, dan keadaannya mantap sehingga tahan terhadap erosi (Sarief, 1985). Jenis pupuk yaitu : pupuk kandang : kompos dan pupuk buatan. Pupuk buatan biasanya mengandung unsure makro yang dibutuhkan tanaman yaitu Nitrogen. Posfat, Kalium, Ca dan mg (Samino, 2011). Pupuk Anorganik : Pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk. Pupuk Organik : Pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat dibentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kandungan hara tidak sebanyak pupuk buatan, tetapi hampir semua nutrisi terkandung didalamnya (Listianingsih, 2008).

III. METODOLOGI Praktikum Koleksi Pupuk Anorganik dilaksanakan pada hari Rabu, 26 September 2012 di Laboratorium Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang digunakan pada praktikum acara ini adalah Pupuk Permata Hijau, sedangkan alat yang digunakan ialah peralatan tulis, dan alat dokumentasi. Langkah kerja pada praktikum kali ini ialah yang pertama dicari pupuk organik yang belum ada di Laboratorium Tanah. Selanjutnya pupuk organik dibeli di Toko Tani Maju, Jalan Magelang km 5.6, Yogyakarta. Pupuk yang dibeli adalah Pupuk Permata Hijau dengan volume per kemasan adalah 1000 ml. Kemudian ditulis datanya atau leafletnya yang memuat sifat dan cara aplikasinya.

IV. HASIL PENGAMATAN

Nama dagang

: Pupuk Permata Hijau Komposisi Zn, Co, Cu, B, Mb : N 17 %, P 17 %, K 4 %, Mg, Ca, S, Fe, Mn,

Kegunaan

Pupuk Pupuk Permata Hijau ini adalah pupuk perangsang pertumbuhan vegetatif tanaman, membuat daun tanaman hijau, memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran.

Aturan Pakai N no 1 Cabai

: Dosis per 1 Liter Air 2 ml/lt air Interval Aplikasi 3 minggu setelah tanam, diulang 2 minggu sekali 4 minggu setelah tanam, diulang 2 minggu sekali 3 minggu setelah tanam, diulang 2 minggu sekali 5 minggu setelah tanam, diulang 2 minggu sekali 1 lt/ha Saat pembentukan anakan dan diulang 2 minggu sekali

Jenis Tanaman

Tomat

2 ml/lt air

Bawang

1 ml/lt air 1 ml/ lt air

Tembakau

Padi

Tabel 1.1. Aturan Pemakaian Pupuk Permata Hijau

V. PEMBAHASAN 1. 2. Nama Pupuk : Permata Hijau Produsen : PT. Surya Cipata Perkasa Indonesia

3. Fungsi : Pupuk Pupuk Permata Hijau ini untuk perangsang pertumbuhan vegetatif tanaman, membuat daun tanaman hijau, memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran.

4. 5.

Sifat fisik Sifat kimia

: Bentuk cair : Senyawa kimia = P K: 4 % Mg, Ca, S, Fe, Mn, Zn, Co, Cu, B, Mb N : 17 % : 17 %

6. Kemasan 7. Tanggal Pembuatan

: Botol dan Tanggal kadaluarsa :-

Pupuk ini mengandung unsur hara makro utama yaitu N, P, dan K. unsur N diperlukan oleh tanaman sebagai penyusun asam amino, protein, dan klorofil. Apabila tanaman kekurangan unsur N akan menunjukkan gejala antara lain klorosis pada daun. Gejala kekurangan N pertama kali akan muncul pada daun tertua. Fosfat (P) berfungsi untuk pengedar dan penyimpan energi yang diperlukan untuk proses pertumbuhan dan proses reproduktif. Kalium (K) memiliki peranan yaitu mengatur berbagai mekanisme metabolik seperti fotosintesis, translokasi karbohidrat, sintesis protein, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kalium terdapat pada tanaman sebagai larutan garam anorganik dan garam dari asam organik didalam sel. Pergerakan kalium cepat di bagain tanaman yang masih muda. Pada bagian yang tua biasa kehilangan K karena unsur ini di transport ke titik-titik tumbuh. Kekurangan Kalium terlihat ada perubahan warna pinggiran daun yang menguning, urat-urat daun klorosis, banyak daun gugur, tanaman kerdil, dan nekrosis pada daun dimulai dari pinggir terus ke dalam bagian daun. Pupuk adalah zat yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik ataupun non-organik. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Dalam arti luas yang dimaksud pupuk ialah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau 8

biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Termasuk dalam pengertian ini adalah pemberian bahan kapur dengan maksud untuk meningkatkan pH tanah yang masam, pemberian legin bersama benih tanaman kacang-kacangan serta pemberian pembenah tanah (soil conditioner) untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Demikian pula pemberian urea dalam tanah yang miskin akan meningkatkan kadar N dalam tanah tersebut. Semua usaha tersebut dinamakan pemupukan. Dengan demikian bahan kapur, legin, pembenah tanah dan urea disebut pupuk. Kegunaan pupuk adalah sebagai berikut:

fisika : memperbaiki struktur tanah, memperbaiki aerasi tanah, meningkatkan daya

penyangga air tanah, menekan laju erosi.

Kimia : menyangga dan menyediakan hara tanaman, meningkatkan efisiensi

pemupukan, menetralkan sifat racun Al dan Fe.

Biologi : sumber energi bagi jasad renik / microba tanah yang mampu melepaskan

hara bagi tanaman. Berikut ini macam-macam pupuk yang dipasarkan: a) Pupuk dibedakan berdasarkan Fasanya: Pupuk padat

Pupuk padat umumnya mempunyai kelarutan yang beragam mulai yang mudah larut air sampai yang sukar larut. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam, contoh: urea dan TSP. b) Pupuk cair

Pupuk ini berupa cairan, cara penggunaannya dilarutkan dulu dengan air, Umumnya pupuk ini disemprotkan ke daun. Karena mengandung banyak hara, baik makro maupun mikro, harganya relatif mahal.. Pupuk amoniak cair merupakan pupuk cair yang kadar N nya sangat tinggi sekitar 83%, penggunaannya dapat lewat tanah (injeksikan). c) Pupuk gas

Pupuk ini berupa gas, misalnya ammonia. Penggunaan gas amonia bermacam-macam ada yang langsung digunakan sebagai pupuk, pembuatan pulp untuk kertas, pembuatan garam nitrat dan asam nitrat, berbagai jenis bahan peledak, pembuatan senyawa nitro dan berbagai 9

jenis refrigeran. Dari gas ini juga dapat dibuat urea, hidrazina dan hidroksilamina. Gas amonia banyak juga yang langsung digunakan sebagai pupuk, namun jumlahnya masih terlalu kecil untuk menghasilkan jumlah panen yang maksimum. Maka dari itu diciptakan pupuk campuran, yaitu pupuk yang mengandung tiga unsur penting untuk tumbuhan (N + P 2O5 + K2O). Pemakaian yang intensif diharapkan akan menguntungkan semua pihak. a) Berdasarkan asalnya dibedakan: Pupuk alam ialah pupuk yang terdapat di alam atau dibuat dengan bahan alam

tanpa proses yang berarti. Misalnya: pupuk kompos, pupuk kandang, guano, pupuk hijau dan pupuk batuan P. b) Pupuk buatan ialah pupuk yang dibuat oleh pabrik. dengan

kandungan unsur hara tertentu. Pada umumnya kandungan haranya lebih tinggi, mudah larut dan cepat diserap oleh akar tanaman. Alasan inilah yang membuat pupuk ini banyak digunakan. Akan tetapi pupuk ini mempunyai kelemahan jika penggunaannya berlebihan akan mengakibatkan kerusakan lingkungan dan tanaman. Pupuk ini dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam melalui proses fisika dan/atau kimia. Misalnya: TSP, urea, rustika dan nitrophoska. Berdasarkan senyawanya dibedakan:

a). Pupuk organik ialah pupuk yang berupa senyawa organik. Kebanyakan pupuk alam tergolong pupuk organik: pupuk kandang, kompos, guano. Pupuk alam yang tidak termasuk pupuk organik misalnya rock phosphat, umumnya berasal dari batuan sejenis apatit [Ca3(PO4)2]. b). Pupuk anorganik atau mineral merupakan pupuk dari senyawa anorganik. Hampir semua pupuk buatan tergolong pupuk anorganik. Berdasarkan jumlah hara yang dikandungnya dibedakan:

a). Pupuk yang hanya mengandung satu hara tanaman saja, dinamakan pupuk tunggal Misalnya: urea hanya mengandung hara N, TSP hanya dipentingkan P saja (sebetulnya juga mengandung Ca). b). Pupuk majemuk ialah pupuk yang mengandung dua atau lebih dua hara tanaman. Contoh: NPK, amophoska, nitrophoska dan rustika. Berdasarkan reaksi fisiologisnya dibedakan: 10

a). Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis masam artinya bila pupuk tersebut diberikan ke dalam tanah ada kecenderungan tanah menjadi lebih masam (pH menjadi lebih rendah). Misalnya: Za dan Urea. b). Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis basis ialah pupuk yang bila diberikan ke dalam tanah menyebabkan pH tanah cenderung naik misalnya: pupuk chili salpeter, calnitro, kalsium sianida. Berdasarkan macam hara tanaman dibedakan:

a). Pupuk makro ialah pupuk yang mengandung hanya hara makro saja: NPK, nitrophoska, gandasil. b). Pupuk mikro ialah pupuk yang hanya mengandung hara mikro saja misalnya: mikrovet, mikroplek, metalik. c). Campuran makro dan mikro misalnya pupuk gandasil, bayfolan, rustika. Sering juga ke dalam pupuk campur makro dan mikro ditambahkan juga zat pengatur tumbuh (hormon tumbuh). Berdasarkan cara penggunaannya dibedakan:

a). Pupuk daun ialah pupuk yang cara pemupukan dilarutkan dalam air dan disemprotkan pada permukaan daun. b). Pupuk akar atau pupuk tanah ialah pupuk yang diberikan ke dalam tanah disekitar akar agar diserap oleh akar tanaman.

11

VI. PENUTUP

A. 1. 2.

Kesimpulan Jenis pupuk yang dikoleksi adalah Pupuk Permata Hijau. Suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah

sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman, meningkatkan sekaligus merangsang pertumbuhan tanaman karena mengandung unsur hara makro dan mikro, serta zat pembasah yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. 3. Komposisi pupuk ini antara lain : N 17 %, P 17 %, K 4 %, Mg, Ca, S, Fe,

Mn, Zn, Co, Cu, B, Mb

B.

Saran

Untuk menambah wawasan mahasiswa tentang pupuk, perlu diperbanyak koleksi pupuk yang sudah tersedia di laboratorium.

12

DAFTAR PUSTAKA

Gressel, N. 2000. Soil testing and plant analysis part II. vol 29 : 149-160. Listianingsih, D. 2008. Pupuk. <http://luki2blog.wordpress.com/2008/05/10/apa-itupupuk-anorganik-apa-itu-pupuk-organik-apa-itu-pupuk-berimbang/>. Di akses tanggal 11 November 2012. Maas, Azwar. 1996. Ilmu Tanah dan Pupuk. Akademi Penyuluhan Pertanian, Yogyakarta. Roesmarkam, A. dan Yuwono, N.W. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta. Samino. 2011. Manfaat Pupuk Bagi Tanaman. <http://cybex.deptan.go.id/lokalita/manfaat-pupuk-bagi-tanaman>. Diakses tanggal 11 November 2012. Sarief, E.S. 1985. Konservasi Tanah dan Air. Pustaka Buana, Bandung. Sutanto, Rachman. 1999. Pertanian Organik. Sekretariat Pelayanan TaniNelayan Hari Pangan Sedunia, Yogyakarta. Wididana, G. N. 2004. Application of effective microorganisms technology (EM) in Indonesia agriculture. vol 5: 179 187.

13

ACARA II SIFAT PUPUK


Abstraksi
Praktikum Kesuburan Tanah Acara II, Sifat Pupuk dilaksanakan pada tanggal 3 Oktober 2012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah pupuk tunggal, pupuk majemuk dan pupuk alternatif dan pembenah tanah. Cara kerja praktikum ini adalah dengan mengamati pupuk dan brosur yang tersedia, kemudian dicatat/digambar/difoto. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengenal berbagai jenis pupuk dan mencirikan sifat-sifat pupuk berdasarkan koleksi yang sudah ada dengan mengetahui sifat suatu jenis pupuk maka kita dapat menentukan aplikasi yang tepat, waktu pemupukan, dan dosis pemupukan.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pupuk merupakan setiap bahan yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman dengan maksud untuk menambah unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Berdasarkan pada proses terjadinya, pupuk dapatdi golongkan menjadi 2 golongan yaitu pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan meramu bahan kimia (anorganik) dengan kadar hara yang tinggi; dan pupuk alam adalah pupuk yang terjadi dari akibat mekanisme alam terhadap bahan-bahan alami melalui proses degradasi dan dekomposisi. Berdasarkan pada kandungan kimia dari bahan pupuknya pupuk dapat digolongkan menjadi 2 yaitu pupuk organik yaitu pupuk yang terdiri dari senyawa-senyawa organik seperti C, H, dan O; dan pupuk anorganik yaitu pupuk yang tersusun atas senyawa-senyawa anorganik. Berdasarkan bahan/unsur utama yang terkandung di dalamnya, pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk tunggal, pupuk majemuk, serta pupuk alternatif dan pembenah tanah. Sebelum melakukan pemupukan, mengenal jenis dan sifat pupuk sangatlah penting karena akan menjadikan pengaplikasian pupuk tersebut sesuai dengan sifatnya dan dapat terserap oleh tanaman. Sifat yang diamati tersebut dapat berupa sifat fisik (bentuk, ukuran butir, warna, higroskopisitas, kadar lengas, dan BV), sifat kimia (senyawa kimia, kadar hara, sifat fisiologis/kemasaman), kemasan, produsen, tanggal pembuatan, tanggal kadaluarsa, aplikasi (cara dan takaran penggunaan), serta keterangan lain yang dianggap perlu. Oleh karenanya, pengenalan

14

sifat pupuk penting dilakukan untuk proses pemupukan dalam usaha perbaikan kesuburan tanah yang akan dijadikan lahan budidaya.

B. Tujuan Mengenal berbagai jenis pupuk dan mencirikan sifat-sifat pupuk berdasarkan koleksi yang sudah ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian itu sendiri. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah mulai pada permulaan dari manusia mengenal bercocok tanam >5.000 tahun yang lalu. Bentuk primitif dari pemupukan untuk memperbaiki kesuburan tanah terdapat pada kebudayaan tua manusia di negeri-negeri yang terletak di daerah aliran sungai-sungai Nil, Euphrat, Indus, di Cina, Amerika Latin, dan sebagainya (Honcamp, 1931). Lahan-lahan pertanian yang terletak di sekitar aliran-aliran sungai tersebut sangat subur karena menerima endapan lumpur yang kaya hara melalui banjir yang terjadi setiap tahun. Sifat pupuk sangat penting berkaitan dengan penanganan, pengangkutan, penyimpanan di gudang dan penggunaannya di lapangan. Sifat kimia diperlukan dalam pemilihan jenis dan jumlah pupuk yang akan digunakan (Rosmarkam dan Yuwono, 2001). Sifat-sifat yang penting untuk penilaian suatu pupuk adalah (Sastrohoetomo, 1968) : Kadar unsur Kadar atau kandungan unsur ini adalah ukuran pertama yang digunakan untuk menilai pupuk. Kadar ini menentukan kemampuan suatu pupuk untuk merubah kesuburan kimiawi secara mutlak (absolut). Pada dasarnya makin tinggi kadar unsurnya semakin baik. Kadar dinyatakan dalam % (persen). Higroskopisitas Bila kelembaban nisbi udara melebihi batas tertentu, maka pupuk mulai menarik / menjerap air. Dan sifat ini disebut higroskopisitas. Sesudah menarik air ini ada pupuk yang hanya menjadi lembab, ada yang menjadi basah dan melunak dan adapula yang mencair. Bila kelembaban nisbi turun, maka pupuk mengering kembali dan dapat menjadi bongkah-bongkah keras. Pupuk pada suhu udara rata-rata berbagai jenis pupuk buatan mulai menarik air pada kelembaban nisbi berkisar 51-90%. 15

Kelarutan Kelarutan pupuk sangat menentukan mudah tidaknya unsur-unsur yang terkandung diambil oleh tanaman. Dengan pasti dapat dikatakan bahwa pupuk yang sukar larut sukar pula dihisap unsur-unsurnya oleh tanaman. Pupuk N dan K mudah sekali larut dalam air. Sedang pupuk P dapat dibedakan atas pupuk yang larut dalam air (Superphosphate, ammophos), yang larut dalam asam sitrat atau ammonium sitrat netral (Fused magnesium phosphate) dan yang larut dalam asam keras (fosfat alam). Keasaman Karena sifat kimiawinya pupuk dapat merubah keasman tanah. Ada pupuk yang meningkatkan, ada yang mempertahankan dan ada pula yang mengurangi keasaman. Keasaman dapat mempengaruhi tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Pertanaman menghendaki tanah dengan kemasaman sedang (netral). Bekerjanya Yang dimaksud adalah waktu yang diperlukan hingga pupuk tersebut dapat dihisap tanaman dan memperlihatkan pengaruhnya. Pupuk buatan yang dibuat oleh pabrik, jumlah dan macamnya sangat banyak. Bahan pupuk selain mengandung hara tanaman umumnya mengandung bahan lain yakni (Rosmarkam dan Yuwono, 2001) : a. Zat oembawa (carrier). Double superfosfat (DS) zat pembawanya adalah

CaSO4 dan hara tanamannya fosfor (P). b. Senyawa-senyawa lain berupa kotoran (impurites) atau campuran bahan lain dalam jumlah relatif sedikit. Misalnya ZA sering mengandung kotoran sekitar 3% berupa klor, asam bebas (H2SO4) dan sebagainya. c. Bahan mantel (coated), yakni bahan yang melapisi pupuk dengan maksud agar pupuk tersebut mempunyai nilai lebih baik. Misalnya kelarutannya berkurang, nilai higroskopisnya menjadi lebih rendah, dan mungkin agar penampilannya lebih menarik. Bahan yang digunakan untuk selaput berupa aspal, lilin, malam, wax, dan sebagainya. Pupuk yang bermantel harganya lebih mahal dibandingkan dengan pupuk tanpa mantel.

16

d.

Pengisi (filler). Pupuk majemuk atau pupuk campur yang kadarnya tinggi

sering diberi filler agar ratio fertilizer tepat sesuai keinginan juga dengan maksud agar mudah disebar lebih merata. Suatu pupuk majemuk memiliki grade 15-10-15 artinya pupuk tersebut mengandung 15% N, 10% P2O5, dan 15% K2O. untuk mendapatkan angka aktual, angka masing-masing hara harus dikonversikan. N = N aktual, P2O5 x 0,44 = P aktual, K2O x 0,83 = K aktual. Jika kita memiliki 100 kg pupuk dengan grade 6-12-6 artinya sama dengan 200 kg pupuk yang memiliki grade 3-63. karena keduanya mengandung 6 kg N, 12 kg P2O5, dan 6 kg K2O. Selisih berat 100 kg merupakan filter yang ditambahkan (Jones, 1979 cit Yuwono, 1999). Menurut asalnya pupuk dibedakan menjadi 2, yaitu: Pupuk buatan (anorganik) Pupuk alam (organik) : pupuk N (urea), P (TSP), dan K (KCL) : pupuk kandang, kompos.

Menurut cara pemberiannya (Lingga, 1997) : Pupuk akar Pupuk daun : diberi lewat akar misalnya : TSP, ZA, KCL, dan kompos. : diberi lewat daun penyemprotan.

Menurut unsur yang dikandungnya : Pupuk tunggal : pupuk (buatan atau alam) yang mengandung 1

unsur hara (misalnya urea) Pupuk majemuk : pupuk yang mengandung lebih dari 1 unsur hara, misalnya

: NPK dan beberapa pupuk daun, dan kompos. Pupuk lengkap : mengandung unsur lengkap secara keseluruhan

(unsur hara makro maupun mikro). Hasil-hasil penelitian yang ada menunjukkan bahwa efisiensi pemupukan N masih sangat rendah. Hara N yang diserap oleh tanaman pada kebanyakan tanaman hanya berkisar antara 30 50 % dari hara N yang diberikan melalui pupuk (Miller, 1982). Efisiensi pemupukan N rendah tersebut disebabkan karena sebagian hara N hilang melalui proses denitrifikasi (5 30 %), pencucian dalam bentuk NO (5 20 %), dan erosi serta hilang melalui penguapan dalam bentuk NH khususnnya pada tanah-tanah alkaline. Oleh karena itu di dalam budidaya tebu biasanya
3 3-

diperlukan pupuk N dalam jumlah besar. Besarnya derajad cekaman kekurangan N bervariasi terhadap kategori tanaman (PC atau 17

ratoon). Pada awal pertumbuhan, besarnya derajad cekaman kekurangan N dapat mengurangi jumlah anakan, dan jumlah batang pada ratoon, daun menjadi kuning, pendek dan sempit. Kekurangan N pada saat mendekati panen, dapat menyebabkan menurunnya diameter batang dan jumlah batang yang dapat diperah (millable cane) (Yang et al., 2006). LNS (low nitrogen stress) mengurangi laju fotosintesis dan sangat berpengaruh pada awal pertumbuhan dibanding dengan late growth serta berpengaruh besar terhadap PC dari pada ratoon (Yang et al., 2006) . Pupuk N konvensional yang banyak beredar dan telah digunakan oleh pekebun tebu secara luas saat ini adalah Urea dan ZA. Pupuk Urea dan ZA selain digunakan untuk tanaman tebu juga digunakan secara intensif pada tanaman pangan (padi dan palawija) dan tanaman lainnya. Sementara itu ketersediaan kedua jenis pupuk tersebut di pasaran akhir-akhir ini mulai terbatas sehingga sering menimbulkan persoalan serius dan menganggu sistem produksi tanaman. Pada kondisi demikian dan mengingat kebutuhan pupuk selalu meningkat dari tahun ke tahun maka kehadiran produk pupuk-pupuk alternatif akan sangat membantu para petani dan pekebun(Ismail, 2005).

18

III. METODOLOGI Praktikum Kesuburan Tanah Acara II yang berjudul Sifat Pupuk dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 3 Oktober 2012, di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Adapun bahan yang diperlukan dalam praktikum ini meliputi pupuk tunggal berupa pupuk N (Urea, ZA), pupuk P (SP-36), pupuk K (KCl); pupuk majemuk berupa pupuk NP, NPK, NK, PK, NPK+ hara mikro. Selanjutnya pupuk alternatif dan pembenah tanah berupa batuan fosfat, kompos, pupuk kandang, pupuk hayati, zeolit. Cara kerjanya yaitu pertama diamati pupuk dan brosur yang tersedia kemudian dicatat/digambar/difoto mengenai sifat fisik berupa bentuk, ukuran butir, warna, higroskopisitas, kadar lengas dan BV. Sifat kimia berupa senyawa kimia, kadar hara, sifat fisiologis/ kemasaman. Selanjutnya mengenai kemasan, produsen, tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluwarsa. Aplikasinya berupa cara dan takaran penggunaan. Selain itu keterangan-keterangan lain yang dianggap perlu.

19

IV. HASIL PENGAMATAN 1. Bio Calcium Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna : Tepung : Butiran Kecil Sekali : Putih

Higroskopisitas: Kurang Baik Sifat Kimia Senyawa kimia : Kalsium CaCO3 95%, Magnesium MgO 3 %, Boron B3O3 0,5% Kemasan Produsen : CV. TUNAS JAYA MANDIRI

Tgl kadaluarsa : Aplikasi Diencerkan dengan air. Masa jovenik 1-2 gr/l, maturing 2-3 gr/l, mencegah rontok 3gr/l.

2. SAPUTRA NUTRIENT Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna Higroskopis Sifat kimia Senyawa kimia : Nitrogen, Fosfor, Kalsium, Kalium, Magnesium Kemasan Produsen : PT. Saputra Nutrient Tgl Kadaluarsa : Aplikasi 1 sendok makan ditambahkan 5 liter air, lalu disemprotkan ke tanah, akar, : Powder : Kecil Sekali : Coklat : Kurang Baik

daun dan batang. Bulan ke-1 semprot 1x seminggu 20

Bulan ke-2 semprot 2x seminggu Bulan ke-3 semprot 1x sebulan

3. 88 Spalding Super Sifat fisik Bentuk Warna : Cair : Merah

Higroskopisitas : Sifat kimia Senyawa kimia : N 7,83%; P2O5 8,08 %; K2O 8,92%; S 2,25%; Fe 1,724%; Mg 1,989%; Zn 18 ppm; Mn 24 ppm; Ca 1,002%; Cu 3,01%; NI 2,71%; A,B,E NIACIN Kemasan Produsen : PT. DELTA SATRIA MANDALA Tgl Kadaluarsa : Aplikasi Dilarutkan dengan air dan gunakan alat penyemprot, semprot di daun dan

batang. Dapat juga dicampur pestisida yang tidak bersifat alkali dan bebas ionic. Tomat 12 ml/L

4. Green Grano Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna Higroskopis Sifat kimia Senyawa kimia : N 8,6%; P 5,4%; K 7,2%; Ca 4,12%; S 0,7%; Mg 2,7%; Mn 18,9 ppm; Cl 0,1 %; Fe 0,06%; Zn 3,4 ppm; Cu 0,02 ppm; Na 0,02 ppm; Si 1,31%; B 10 ppm; C/N 3 Kemasan 21 : Cair : Molekul : Coklat :-

Produsen : PT. Cipta Arum Lestari Tgl Kadaluarsa : -

Aplikasi Dilarutkan dalam air dan disemprot.

Padi / Palawija 5cc/2L Umbi-umbian 5cc / 2L Sayur dan tanaman hias 3cc / 2L Tanaman Perkebunan 5cc/2L

5. BIO NUTRIMAX Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna Higroskopis Sifat kimia Senyawa kimia : N 4,8%; P2O5 0,23%; K2O 0,58%; Ca 1048,01 ppm; S 10,67 ppm; Mg 128,63 ppm; Mn 178,35 ppm; Cl 0,87 ppm; Fe 301,8 ppm; Zn 11,54 ppm; Cu 9,65 ppm; Na 43,51 ppm;; B 20,27 ppm; Mo 45,01 ppm; CO 0,36 ppm Kemasan Produsen : PT. ZELFAGRO INDOPRIMA Tgl Kadaluarsa : Aplikasi Padi : Cair : Molekul : Kuning tua :-

2-3 hari sebelum tanam 50cc/10L disiram Pembentukan anakan 50cc/10L disemprot Sebelum berbunga 50cc/10L disemprot Jagung

10-15 hari sekali 30cc/10L disemprot 22

Pembentukan tongkol 40cc/10L disemprot

6. GRO-MATE Ls Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna : Cair : molekul : Hitam

Higroskopisitas : Sifat kimia Senyawa kimia : Nitrogen, Fosfor, Kalium, Magnesium, Zink, Besi, Boron, Carbon Organik. Kemasan Produsen : Tgl Kadaluarsa : Aplikasi Pada Tanah diencerkan 1,25-2,5cc/L air Pada Daun diencerkan 1-1,2cc/L air 7. TOP SP Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna Higroskopis Sifat kimia Senyawa kimia : Nitrogen, Fosfor, Kalsium, Kalium, Magnesium, Sulfur, Mangan, Alumunium. Kemasan Produsen : Proton Chemical Division Tgl Kadaluarsa : Aplikasi 23 : Cair :: Biru :-

8. Biosan Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna Higroskopis Sifat kimia

Kakao, kopi, cengkeh, tebu, apel, jeruk,the = 2-4cc/L air (1-2 mst) Padi = 2-4cc/L air (tiap 7-14 hari) Kacang-kacangan = 2-3cc/L air Umbi-umbian= 1-2cc/L air

: Cair :: bening : Cukup Baik

Senyawa kimia : Nitrogen, Fosfor, Kalsium, Kalium, Magnesium, Boron, Zink, Mangan, Besi Kemasan Produsen : PT. Noeralisa corporation Tgl Kadaluarsa : Aplikasi Cabai, Tomat, Melon 1,5-2 cc/L Kedelai 2cc/L Buah-buahan 2-3cc/L Tanaman Hias 1-1,5cc/L

9. Super Tonik Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna Higroskopis Sifat kimia Senyawa kimia : Nitrogen, Fosfor, Kalsium, Kalium, Magnesium, Mangan, Alumunium, Sulfur, GA 24 : Cair :::-

Kemasan Produsen : CV. Agro Jaya Oktaviant Tgl Kadaluarsa : Aplikasi Kakao 2-4 cc/L ( 1-2 mst ) Padi 2-4cc/L ( tiap 7-14 mst ) Umbi-umbian 1-2 cc/L ( 4-5 mst )

10. Agri Simba Sifat Fisik Bentuk Ukuran Warna Higroskopis Sifat kimia Senyawa kimia : Nitrogen, Fosfor, Kalsium, Kalium, Magnesium, Boron, Zink, Mangan, Besi, Natrium, Chloride : Cair :: Coklat :-

Kemasan Produsen : PT. Rekayasa Sumber Daya Hayati, Bandung Tgl Kadaluarsa : Aplikasi 2 kali setahun Larutkan dalam air, siram ke tanah, pupuk kimia dikurangi 50%, dilakukan

25

V. PEMBAHASAN Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi. Menurut jenis unsur hara yang dikandungnya dapat dibagi menjadi dua , yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang jenis unsur hara yang dikandungnya hanya satu macam, biasanya berupa jenis unsur hara makro primer, misalnya urea yang hanya mengandung Nitrogen saja. Sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur hara. Dalam praktikum sifat pupuk kali ini, kita bisa mempelajari secara tidak langsung mengenai sifat fisika, sifat kimia, higroskopis, aplikasi, serta fungsi dari berbagai macam pupuk. Pupuk dikelompokkan ke dalam pupuk majemuk dan pupuk tunggal. Dari data yang di dapat, yang merupakan kategori pupuk majemuk adalah : Bio Calcium, Saputra Nutrient, 88 Spalding Super, Green Grano, Bio Nutrimax, GRO-MATE Ls, TOP SP, Biosan, Super Tonik dan Agri Simba. Sedangkan yang termasuk pupuk tunggal tidak ada, namun dapat dicontohkan yaitu pupuk ZA, Urea, dan SP-36. Pupuk majemuk saat ini sudah sangat luas. Berbagai merk, kualitas, dan analisis telah tersedia di pasaran. Kendati harganya relatif lebih mahal, pupuk majemuk tetap dipilih karena kandungan haranya lebih lengkap. Efisiensi pemakaian tenaga kerja pada aplikasi pupuk majemuk juga lebih tinggi daripada aplikasi pada pupuk tunggal yang harus diberikan dengan cara dicampur. Pupuk majemuk berkualitas prima memiliki besar butiran yang seragam dan tidak terlalu higroskopis , sehingga tahan disimpan dan tidak cepat menggumpal. Hampir semua pupuk majemuk bereaksi asam, kecuali yang telah mendapatkan perlakuan khusus seperti penambahan Ca dan Mg. Dalam praktikum kita juga mempelajari sifat higroskopisitas. Higroskopisitas adalah sifat pupuk yang berkaitan dengan potensinya dalam mengikat uap air dari udara. Pupuk dianggap bersifat sangat higroskopis jika ditempat terbuka mudah sekali mencair Sifat ini sangat menentukan sekali daya simpan pupuk. Pupuk yang bersifat higroskopis sebaiknya tidak disimpan terlalu lama dan harus disimpan di dalam wadah yang kedap udara. Jika tidak, pupuk akan mencair atau menggumpal dengan cepat. Selain higroskopisitas, daya larut suatu pupuk juga penting dalam pengaplikasian pupuk. Yang dimaksud dengan daya larut adalah kemampuan suatu jenis pupuk untuk terlarut di dalam 26

air. Daya larut juga menentukkan cepat atau lambatnya unsur hara yang ada di dalam pupuk untuk diserap tanaman atau hilang karena tercuci. Pupuk dengan daya larut tinggi lebih cepat diserap oleh tanaman, tetapi mudah tercuci oleh hujan. Setelah pupuk ditebarkan ke tanah, pH tanah dapat berubah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah. Jenis pupuk yang menyebabkan pH tanah menurun disebut pupuk bereaksi asam dan pupuk yang menyebabkan pH tanah meningkat disebut pupuk bereaksi basa. Pengaruh aplikasi suatu jenis pupuk yang menyebabkan kenaikkan pH sering disajikan dalam daftar equivalen kebasaan atau disebut equivalen CaCO3. Yang dimaksud equivalen kebasaan adalah jumlah CaCO3 yang diperlukan untuk meningkatkan pH yang nilainya sama , seperti yang dilakukan oleh 100 kg pupuk bereaksi basa.

27

VI. A. Kesimpulan 1.

PENUTUP

Pupuk yaitu bahan-bahan kimia dari unsur-unsur makro dan mikro yang

ditambahkan oleh manusia ke tanah atau medium pertumbuhan lainnya untuk meningkatkan suplaiunsur-unsur hara tanaman bagi tanaman. 2. Berbagai jenis pupuk dengan sifat fisika dan kimia dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan penggunaan terhadap kesuburan tanah dan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi tanaman. 3. Setiap unsur hara mempunyai peranan masing-masing dan dapat menunjukkan

gejala tertentu pada tanaman apabila ketersediaanya kurang. 4. Pemupukan yang efisien dan tepat sasaran meliputi penentuan jenis pupuk, dosis

pupuk, metode pemupukan, waktu, frekuensi pemupukan serta pengawasan mutu pupuk. 5. 6. abu. 7. Aplikasi pupuk menggunakan beberapa metode di semprot melalui daun, disebar, Kemasan pupuk beranekaragam, yaitu kemasan botol, sachet, kantung plastik. Warna pupuk bermacam-macam ada yang berwarna merah, hijau, putih dan abu-

dikocor dan ditabur. 8. 9. Termasuk pupuk tunggal : ZA, Urea, dan SP-36. Termasuk pupuk majemuk : Bio Calcium, Saputra Nutrient, 88 Spalding Super,

Green Grano, Bio Nutrimax, GRO-MATE Ls, TOP SP, Biosan, Super Tonik dan Agri Simba.

B. Saran 1. Dalam pengemasan pupuk sebaiknya dilengkapi pula dengan tanggal kadaluarsa,

karena dapat dimungkinkan bahwa kandungan zat di dalam pupuk akan berkurang seiring berjalannya waktu.

28

DAFTAR PUSTAKA

Honcamp, F. 1931. Historisches ber die Entwicklung der Pflanzenernhrungslehre, Dngung und Dngemittel. In F. Honcamp (Ed.). Handbuch der Pflanzenernhrung und Dngelehre, Bd. I und II. Springer, Berlin.

Ismail, I. 2005. Pengujian Pupuk N-Aternatif pada Tebu Tanaman Pertama (PC) di PG Pesantern Baru dan PG Jombang Baru. Jombang. Jones, U.S. 1979. Fertilizer and Soil Fertility. Reston Pub. Co. Virginia.

Miller, F. P. 1982. Fertilizers and our environment. Dalam. W.C. White & D.N. Collins (eds). The fertilizer hand book p. 21-68. The Fertilizer Institute, Wangsington.

Rosmarkam, A dan N.M Yuwono. 2001. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sastrohoetomo, A. 1968. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Djambatan. Jakarta.

Yang, Rong-Zhong, Yu-MoTan, Li-Ming Liu, Lun-Wang Wang, Fang Tan and Yang-Rui Li. 2006b. Effect of low nitrogen stress on early growth, phisio-morphological and quality attributes of sugarcane. Proc.Internl. Symp.on Technologies to Improve Productivity in Developing Countries. Guilin. P.R. China. P. 483 -486.

29

LAMPIRAN

30

ACARA III CARA PEMUPUKAN

ABSTRAKSI
Praktikum Acara 3 cara pemupukan dilaksanakan oleh masing-masing kelompok. Praktikum ini bertujuan untuk mengenal berbagai cara pemupukan tanaman dan membuat dokumentasi dalam bentuk digital. Ada beberapa macam pemupukan yang lazim dilakukan yaitu broadcasting, ring placement, spot placement, foliar application, dan fertigation. Untuk menentukan cara pemupukan yang tepat harus diketahui jenis tanaman yang dibudidayakan, kondisi tanah, dan luas lahan. Praktikum dilaksanakan tanggal 21 Oktober 2012 di Desa Bantengan Kecamatan Banguntapan, Bantul. Cara pemupukan yang dilakukan pada praktikum ini adalah foliar application. Praktikum ini direkam dengan kamera video. Metode foliar application sering digunakan karena dianggap lebih sederhana, hemat tenaga dan praktis tetapi disisi lain, metode foliar application kurang efisien karena akan banyak N yang hilang melalui proses nitrifikasi dan denitrifikasi, penguapan amonia dan pencucian. Selain itu, dapat memacu pertumbuhan gulma dimana pertumbuhan gulma dapat menekan populasi tanaman budidaya.

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Unsur hara merupakan komponen penting dalam pertumbuhan tanaman, unsur hara banyak tersedia dialam, sehingga tumbuhan bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan metabolismenya. Tetapi ketersediaan unsur hara di beberapa tempat tidak sama, ada yang berkecukupan sehingga pertumbuhan tanaman menjadi baik namun ada juga yang kekurangan, sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat. Khusus untuk tanaman budidaya kebutuhan unsur haranya sangat tinggi, hal ini dikarenakan pada lahan atau tempat yang sama ditanami tanaman tertentu yang membutuhkan jumlah unsur yang sama setiap waktunya. Sedangkan persediaan dialam terus berkurang akibat diserap oleh tanaman budidaya yang ditanam dilahan tersebut musimnya (intensif), sehingga untuk dapat memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara harus dilakukan penambahan unsur hara dalam bentuk pupuk dalam jumlah yang cukup. Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda beda bergantung pada umur, jenis tanaman, dan kebutuhan tanaman itu sendiri. Yang perlu diingat tanaman tidak dapat menyerap unsur hara dalam bentuk tunggal tetapi tanaman menyerap unsur hara tersebut dalam bentu ion seperti unsur hara N dapat diserap tanaman dalam bentuk NH4 dan NO3- begitu juga unsur lain juga diserap tanaman dalan bentuk ion, yang sering disebut sebagai bentuk tersedia bagi tanaman. Tetapi permasalahannya jika unsur N diberikan dalam jumlah yang berlebih justru dapat 31

mengakibatkan produksi tanaman menurun, hal ini dikarenakan pemberian unsur N dalam jumlah yang banyak atau melebihi kebutuhan tanaman dapat mengekibatkan fase vegetative tanaman lebih panjang sehingga pembentukan organ generative tidak maksimal. Akibatnya selain produktivitasnya menurun, kualitas yang dihasilkan juga menurun. Selain itu pemeberian asupan yang terlalu banyak berpengaruh terhadap kesuburan tanah. B. Tujuan Mengetahui pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Pemupukan adalah usaha pemberian pupuk yang bertujuan untuk menambah persediaan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk peningkatan produksi maupun mutu hasil tanaman (Nelson, 1956). Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menambah hara tanaman (pupuk) pada tanah. Pemberian bahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki suasana tanah, baik fisik, kimia ataupun biologi, disebut pembenahan (amandement) yang berarti perbaikan (reparation) dan penggantian (restitution). Bahan-bahan ini mencakup mulsa (pengawetan lengas tanah), pembenah tanah (soil conditioner, untuk memperbaiki struktur tanah), kapur pertanian (menaikkan pH yang terlalu rendah atau melawan racun Al dan Mn), tepung belerang (menurunkan pH yang terlalu tinggi), dan gips (menurunkan kegaraman tanah yang terlalu tinggi). Kotoran ternak dan hijauan legume diberikan ke tanah dengan maksud sebagai pupuk ataupun amandeman (Notohadiprawiro et al., 2002). Pemberian pupuk dengan cara yang berbeda-beda dilakukan dengan mempertimbangkan faktor letak geografis lahan pertanaman, tujuan yang ingin dicapai dari pemupukan tersebut, kondisi atau keadaan lahan atau tanah pertanaman, jenis tanaman, bentuk dari pupuk itu sendiri, keefisienan dan keefektifannya dalam pemberian pupuk (Foth, 1988). Pemberian pupuk padat dilakukan dengan cara ditugal, disebar di atas tanah atau di sebelah tanaman, sedangkan pemberian pupuk daun dengan cara menyemprotkan pada daun, bersama air disemprotkan sebagai perlakuan tambahan. Pemupukan secara disebar mempunyai kelemahan bahwa pupuk mudah menguap ataupun terikat dalam tanah. Sebenarnya tanah merupakan sumber 32

unsur-unsur hara. Suatu hasil yang tinggi dari tanaman akan mengangkut keluar unsur lebih banyak daripada tanaman yang berdaya hasil rendah (Anonim, 2008). Pemupukan secara foliar application yaitu cara pemupukan dengan cara penyemprotan pupuk cair pada permukaan daun. Cara ini dilakukan untuk melengkapi pemberian pupuk melalui tanah. Unsur hara yang diberikan, terutama hara mikro masuk ke dalam tanaman melalui stomata secara difusi atau secara otomatis. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: 1. 2. Kepekatan pupuk harus cukup rendah (0,1-0.5%). Tegangan muka larutan pupuk harus rendah, sehingga kontak dengan

permukaan daun lebih besar. 3. 4. Kadar biuret pada urea harus kurang dari 2%. Kondisi lingkungan harus menguntungkan.

Cara pemupukan ini biasanya relatif lebih cepat pengaruhnya terhadap tanaman dibandingkan dengan pemupukan lewat akar. Tetapi untuk unsur makro penyerapan lewat daun hanya sebagian kecil saja dibandingkan lewat akar untuk memenuhi seluruh kebutuhan tanaman. Problem aplikasi pemupukan lewat daun adalah (Anonim, 2008): a. b. c. Penetrasi akar sangat lambat pada tanaman yang mempunyai kutikula tebal. Lapisan luar yang hidrofobik sering menyebabkan larutan tidak mau menempel. Terbatasnya kcepatan pemindahan unsur dari daun ke organ yang lain terutama

pada tempat penyerapan daun tua untuk unsur tertentu seperti Ca2+. d. Adanya gejala kerusakan daun kalau kadar larutan melampaui ambang batas.

Menurut (Mulyanto et.al, 2006), ada dua kemungkinan mengapa produksi yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan, yaitu: 1. Hara yang berasal dari pupuk tidak dapat diambil oleh tanaman karena waktu

pemupukan dan atau penempatan pupuk yang salah, atau karena adanya perubahan bentuk hara sehingga pupuk yang diberikan tidak tersedia bagi tanaman. 2. Meskipun hara dapat diambil oleh tanaman, tetapi hara tidak digunakan untuk

memproduksi, akibatnya adanya faktor pembatas pertumbuhan. Untuk mendapatkan efisiensi pemupukan yang optimal pupuk harus diberikan dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Bila pupuk 33

diberikan berlebihan maka besar kemungkunan tanaman tersebut akan mengalami keracunan, sebaliknya bila pupuk diberikan kurang dari yang seharusnya maka pengaruh pemupukan pada tanaman mungkun tidak nampak. Dengan waktu konsentrasi pemupukan yang tepat akan diperoleh produksi maksimum (Maas, 1996).

34

III.

METODOLOGI

Praktikum Acara 3 dengan judul Cara Pemupukan dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2012 di Desa Bantengan Kecamatan Banguntapan, Bantul. Alat yang dibutuhkan adalah alat penyemprot, ember, dan kamera video. Bahan yang digunakan adalah pupuk daun, air dan sampel tanaman. Cara pemupukan yang dilakukan adalah foliar application. Cara kerja yang dilakukan mula-mula adalah ditentukan pupuk yang akan digunakan serta tanaman yang akan dipupuk. Selanjutnya diukur kebutuhan pupuk untuk satu satuan lahan sesuai dengan populasi tanaman. Pupuk dimasukkan dalam tabung penyemprot, lalu disemprotkan secara merata pada bagian permukaan daun.

35

IV.

HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan dari Acara 3 ini dengan judul Cara Pemupukan telah dikumpulkan dalam bentuk video yang dimasukan ke media CD. Kelompok kami membuat video cara pemupukan dengan teknik Foliar Application.

V. PEMBAHASAN Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan mengandalkan sediaan hara dari tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara pasokan hara dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur-angsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian pupuk dan pembenah akan meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta menjaga mutu tanah agar tetap berfungsi secara lestari. Pemupukan berfungsi untuk memperbaiki strutur tanah sesuai dengan yang dikehendaki oleh tanaman, menggantikan unsur hara yang hilang atau habis sehingga dapat mempertahankan keseimbangan unsur hara dalam tanah dan kesuburan tanah meningkat, meningkatkan daya ikat terhadap air sehingga kebutuhan tanaman terhadap air dapat tercukupi, mengikat fraksi tanah, mengurangi bahaya erosi karena tanaman tumbuh subur, meningkatkan produksi baik kuantitas maupun kualitas. Tujuan utama pemupukan adalah menjamin ketersediaan hara secara optimum untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga diperoleh peningkatan hasil panen. Penggunaan pupuk yang efisien pada dasarnya adalah memberikan pupuk bentuk dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pertumbuhan tanaman tersebut. Tanaman dapat menggunakan pupuk hanya pada perakaran aktif, tetapi sukar menyerap hara dari lapisan tanah yang kering atau mampat. Efisiensi pemupukan dapat ditaksir berdasarkan kenaikan bobot kering atau serapan hara terhadap satuan hara yang ditambahkan dalam pupuk tersebut. Metode pemupukan yang dikenal antara lain : 1. Foliar application 36

Foliar application ialah metode yang dilakukan dengan bantuan alat penyemprot, yang kemudian diaplikasikan langsung pada tanaman dengan cara disemprot. Keuntungan dari metode ini adalah pupuk langsung mengenai sasaran dan lebih mudah pengaplikasiannya. Sedangkan kerugian dari penggunaan metode ini adalah pupuk akan lebih mudah hilang yang dapat diakibatkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi. Cara kerjanya adalah sebagai berikut: a. b. c. 2. Siapkan larutan pupuk sesuai takaran (misalnya Urea 0.5%). Masukkan kedalam tabung penyemprot. Lakukan pemupukan pada permukaan daun. Broadcasting

Pemupukan cara broadcasting dilakukan dengan menyebarkan pupuk yang akan diaplikasikan. Metode broadcasting dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu top dressing (pemakaian di atas permukaan tanah) dan side dressing (pemakaian disamping tanaman). Dalam top dressing, pupuk disebarkan merata pada permukaan tanah sesudah tanaman tumbuh. Dalam side dressing, pupuk ditempatkan di sepanjang atau diantara baris sesudah tanaman tumbuh. Pupuk Nitrogen biasanya diberikan pada tanah dengan cara ini untuk mengurangi kehilangan N. Metode broadcasting sering digunakan karena dianggap lebih sederhana, hemat tenaga dan praktis akan tetapi disisi lain,tetapi metode broadcasting kurang efisien karena akan banyak N yang hilang melalui proses nitrifikasi dan denitrifikasi, penguapan amonia dan pencucian. Selain itu dapat memacu pertumbuhan gulma yang dapat menekan populasi tanaman budidaya. Cara kerjanya sebagai berikut: a. b. 3. Tentukan kebutuhan pupuk (200 kg urea/hektar). Lakukan pemupukan secara merata keseluruh lahan dengan cara disebar. Fertigation

Pemupukan cara ini memanfaatkan sistem irigasi yang mengairi lahan. Masalah yang dihadapi yaitu tidak ada keseragaman distribusi pupuk, dan tersematnya P serta beberapa hara mikro pada permukaan tanah dimana mereka pada dasarnya tidak tersedia bagi akar dan pemberiaan pupuk tidak akan sampai semua kerena hilang ditengah jalan.. Walaupun begitu metode fertigasi ini merupukan metode aplikasi pupuk yang paling praktis, nyaman, dan

37

murah yaitu biaya energi, tenaga dan perlengkapanya yang lebih rendah. Cara kerjanya adalah sebagai berikut: a. b. 4. Siapkan larutan pupuk sesuai takaran (misalnya 1 sendok dalam 10 L air). Siramkan kedalam media pertanaman. Spot placement

Pada pemupukan cara spot placement, pupuk ditempatkan dalam dasar lubang atau dasar alur khusus yang sudah disediakan sedalam 10 cm, pupuk dibenamkan dan ditutup kembali dengan tanah sebelum ditanam. Pemupukan dengan cara placement memiliki keuntungan yaitu tanaman lebih mudah menyerap unsur hara yang diberikan karena unsur hara yang diberikan tidak ada yang hilang sehingga kehilangan unsur hara dapat dikurangi, karena langsung ditempatkan dan diuraikan dalam tanah. Kerugiannya dengan metode ini kurang hemat waktu dan memerlukan tenaga dan biaya yang besar, terutama apabila tanaman yang butuh pupuk tersebut berada dalam lahan yang luas. 5. Ring placement

Pemupukan cara ini dilakukan dengan membuat parit sedalam 10-15 cm mengelilingi tanaman selebar tajuk terluar. Pupuk ditaburkan secara merata, kemudian parit ditimbun dengan tanah.

38

VI. A. 1. KESIMPULAN

PENUTUP

Pemupukan adalah usaha pemberian pupuk yang bertujuan untuk menambah

persediaan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk peningkatan produksi maupun mutu hasil tanaman. 2. Ada beberapa cara pemupukan yang lazim dilakukan, yaitu broadcasting, ring

placement, spot placement, foliar application, dan fertigation. 3. Pemupukan secara foliar application adalah suatu cara pemupukan dengan

penyemprotan bahan pupuk cair pada permukaan daun.

B.

SARAN

Sebelum melakukan praktek pemupukan, sebaiknya praktikan mencari petani yang memang memiliki jadwal untuk memupuk sehingga praktikan dapat mengetahui persis bagaimana cara petani melakukan pemupukan khususnya pada metode ini.

39

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2008. Tata Cara Pemupukan. <http://pusri.wordpress.com>. Diakses Tanggal 10 November 2012. Anonim. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. <http://fp.uns.ac.id/~hamasains /BAB%20VIIIdasgro.htm>. Diakses tanggal 10 November 2012. Foth, H. 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Maas, A. 1996. Ilmu Tanah dan Pupuk. APP, Yogyakarta. Mulyanto, B.,Eka L., Dyah T. 2006. Perbandingan efisiensi pemupukan sawah baru dan lama di Kecamatan Cugening, Cianjur. Agrista 2: 162-168. Nelson, W and Tisdale, S. 1956. Soil Fertility and Fertilizers. Macmillan Publishing, New York. Notohadiprawiro, T., Soeprapto S., & E. Sukana. 2002. Pengelolaan kesuburan tanah dan peningkatan efisiensi pemupukan. Buletin Fakultas Pertanian UGM 21: 124.

40

ACARA IV PEMBUATAN KOMPOS

ABSTRAKSI
Praktikum Kesuburan, Kesehatan, dan Pemupukan Tanah Acara IV yang berjudul Pembuatan Kompos dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 17 Oktober 2012, di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum ini bertujuan untuk mengenal pembuatan kompos dan mengamati perombakan kompos dari berbagai sampai organik. Bahan yang dibutuhkan pada pratikum ini antara lain bahan utama kompos berupa seresah (daun-daunan, jerami, dan pupuk kandang), air, dan aktivator EM4. Alat yang digunakan antara lain plastik bening dan kertas label.Cara kerja pada praktikum ini antara lain diawali dengan disiapkannya bahan utama kompos berupa (daundaunan, jerami, dan pupuk kandang), yang dipotong menjadi ukuran kecil-kecil sekitar 2 cm. Perlakuan yang dilakukan yaitu kontrol, ditambah aktivator, dan ditambah tanah. Lalu diaduk sampai merata dan diatur kadar airnya sehingga tercapai sekitar 30%. Kemudian dimasukkan ke dalam plastik bening, ditutup rapat dan diberi label. Setiap minggu, diamati kenampakan yang terjadi. Pada minggu ke-2, diambil contoh untuk pengujian pH dan DHL. Bahan utama kompos yang mengalami proses pematangan paling cepat adalah kompos dari dedaunan, diikuti pukan kambing, jerami, kemudian pukan sapi. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan antara lain rasio C/N, ukuran partikel, aerasi, porositas, kelembaban (moisture content), suhu, ph, kandungan hara, kandungan bahan berbahaya, dan lama pengomposan. Bau menyerupai humus (agak harum), strukturnya lunak, warna coklat kehitaman, kadar air sekitar 30%, suhunya mendekati suhu awal pengomposan, pH 6-7 (agak netral), kadar bahan organik 30-60%, dan nisbah C/N sekitar 15.

41

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Di dalam tanah memang sudah tersedia berbagai macam unsur hara baik yang makro maupun yang mikro secara alamiah. Namun, tidak semua tanah dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman. Oleh karena itu, tanah yang tidak/kurang menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman perlu diberi tambahan unsur hara dari luar (organik maupun anorganik) yang diberikan langsung ke dalam tanah. Tambahan unsur hara ini biasanya disebut pupuk, sedangkan pengaplikasian pupuk disebut pemupukan. Pupuk yang ada di pasaran terdiri dari berbagai macam jenis dan bentuk. Berdasarkan bahan bakunya, jenis pupuk tersebut dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik (pupuk alami) dapat dibedakan menjadi pupuk kompos, hijau, guano, dan pupuk kandang sedangkan pupuk anorganik identik dengan pupuk buatan dari pabrik (pupuk kimiawi). Bahan organik yang terdapat pada pupuk organik berfungsi untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman, dapat menyumbangkan mikrobia aktif yang dapat memperbaiki struktur tanah dan merombah bahan organik tanah, dan meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat fisika, buatan, dan biologi tanah. Penggunaan pupuk buatan secara berlebihan dapat merusak tanah berupa sifat fisika, buatan, maupun biologi tanah, misalnya saja strukturnya menjadi gumpal padat, dan teksturnya lempungan. Selain itu juga dapat menurunkan populasi mikrobia tanah dan mencemari perairan disekitar lahan pengaplikasian pupuk buatan tersebut. Mengingat pentingnya fungsi bahan organik dan makin intensifnya penggunaan pupuk buatan di zaman modern ini, maka perlu diperhatikan kebutuhan tanah akan bahan-bahan organik tersebut. Salah satu kebutuhan ini bisa dipenuhi oleh kompos, sebagai salah satu pupuk organik (pupuk alami). B. Tujuan Mengenal pembuatan kompos dan mengamati perombakan kompos dari berbagai sampah organik.

42

II. TINJAUAN PUSTAKA Tanah adalah benda alam yang tersusun atas padatan (mineral dan bahan organik), cairan, dan gas yang menempati permukaan daratan, dan dicirikan oleh horizonhorizon atau lapisanlapisan yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari proses penambahan, penghilangan, pemindahan, dan transformasi energi dan materi, yang memiliki kemampuan mendukung tanaman berakar didalam lingkungan alami (Soil Survey Staff 1998). Menurut Soepardi (1983), tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman mengandung 45% bahan mineral, 5% bahan organik, 20-30% gas/udara, dan 20-30% cairan/air. Bahan organik merupakan salah satu penyusun tanah yang berperan penting dalam merekatkan butiran tanah primer menjadi butiran sekunder untuk membentuk agregat tanah yang mantap. Kondisi seperti ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air, aerasi, dan suhu tanah. Bahan organik dengan C/N tinggi, seperti jerami dan sekam berpengaruh besar terhadap perbaikan sifat fisika tanah. Bahan organik memiliki peran penting seperti: (1) penyedia hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan hara mikro (Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, dan Fe), meskipun jumlahnya relative sedikit; (2) meningkatkan kapasitas tukar kation; dan (3) dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti Al, Fe, dan Mn (Suriadikarta dan Simanungkalit 2006). Bahan organik juga merupakan sumber energi bagi kehidupan organisme tanah yang menjalankan berbagai proses penting di dalam tanah. Keberadaan bahan organik di dalam tanah ditunjukkan oleh lapisan berwarna gelap atau hitam, biasanya pada lapisan atas setebal 10-15 cm. Jumlah dan ketebalan lapisan atas ini bergantung pada proses yang terjadi seperti pelapukan, penambahan, mineralisasi, erosi, pembongkaran dan pencucian (leaching), serta pengaruh lingkungan seperti drainase, kelembapan, suhu, ketinggian tempat, dan keadaan geologi (Suhardjo et al. 1993). Pada usaha pertanian intensif seperti padi sawah diperlukan sarana produksi untuk menunjang produktivitas yang tinggi, seperti benih varietas unggul, pupuk, pestisida, dan pengolahan tanah yang tepat. Namun, usaha tani intensif menyebabkan petani lebih menyukai menggunakan pupuk buatan seperti urea, SP36, dan KCl dibanding pupuk organik karena dapat langsung diserap oleh tanaman. Sisa panen seperti jerami sebagian besar dibakar atau untuk pakan ternak, bahan pembuatan kertas, atau untuk budi daya jamur agar tanah segera dapat diolah untuk penanaman berikutnya. Keadaan demikian sudah berlangsung cukup lama dan 43

menyebabkan tanah menjadi rusak atau terdegradasi. Sifat tanah memburuk, sulit diolah karena pejal (padat), terjadi akumulasi fosfat, dan keadaan mikrobiologi tanah kurang serasi sehingga kegiatan jasad mikro dalam tanah merosot (Suhardjo et al. 1993). Komponen utama limbah padat pertanian adalah selulosa. Selulosa merupakan senyawa yang secara alami sulit untuk didekomposisi. Hal ini menyebabkan petani lebih suka membakar jeraminya di lahan pertanian daripada mengembalikannya lagi ke tanah dalam bentuk kompos, sebab pengomposan secara alami membutuhkan waktu yang lama (4-5 bulan), terlebih pada bahan organik berlignin pada tanaman perkebunan seperti pelepah daun dan tandan kosong kelapa sawit yang mengandung lignin tinggi. Lignin merupakan polimer structural fenilpropan pada tanaman dan mengikat serat dinding sel, berfungsi menurunkan permeasi air melintasi dinding jaringan xylem dan membuat kayu resisten terhadap serangan mikroba. Di dalam tanah lignin dari tanaman mati didegradasi oleh mikroba menjadi humus, air dan karbon dioksida. Humus pada permukaan tanah penting untuk struktur tanah, meningkatkan aerasi dan moistureholding capacity. Humus berfungsi sebagai penukar ion dasar dan mampu menyimpan serta melepaskan hara di sekitar tanaman ( Eriksson et. al., 1989). Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman umumnya sedikit mengandung bahan berbahaya. Namun penggunaan pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos/pupuk organik cukup mengkhawatirkan karena banyak mengandung bahan berbahaya seperti misalnya logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan. Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini justru terkonsentrasi dalam produk akhir pupuk. Untuk itu diperlukan seleksi bahan dasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun (B3). Bahan/pupuk organik dapat berperan sebagai pengikat butiran primer menjadi butir sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2006). Keadaan ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah. Bahan organik dengan C/N tinggi seperti jerami atau sekam lebih besar pengaruhnya pada perbaikan sifat-sifat fisik tanah dibanding dengan bahan organik yang terdekomposisi seperti kompos. Pupuk organik/bahan organik memiliki fungsi kimia yang penting seperti: (1) penyediaan hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan mikro seperti Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, dan Fe, meskipun jumlahnya relative sedikit. Penggunaan bahan organik dapat mencegah kahat unsur mikro pada tanah marginal atau tanah yang telah diusahakan secara 44

intensif dengan pemupukan yang kurang seimbang; (2) meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah; dan (3) dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti Al, Fe, dan Mn (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2006). Penggunaan pupuk hayati pernah terdata dengan baik beberapa waktu, yaitu ketika pupuk hayati (inokulan rhizobia) merupakan salah satu komponen paket produksi untuk proyek intensifikasi kedelai pemerintah. Pemerintah mengadakan kontrak pesanan inokulan untuk seluruh areal intensifikasi kedelai. Karena adanya sistem kontrak ini beberapa pabrik inokulan berdiri karena dengan sistem ini produksi inokulan mereka terjamin pembelinya(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2006). Pada periode 1983-1986, inokulan (Legin) sebanyak 68.034,67 kg telah digunakan untuk menginokulasi tanaman kedelai seluas 453.564 ha pada 25 provinsi di Indonesia (Sebayang and Sihombing, 1987). Pada musim tanam tahun 1997/1998, jenis inokulan lain (pupuk hayati majemuk Rhizoplus) sebanyak 41.348,75 kg digunakan untuk menginokulasi 330.790 ha kedelai di 26 provinsi (Saraswati et al., 1998).

45

III. METODOLOGI Praktikum Kesuburan, Kesehatan, dan Pemupukan Tanah Acara IV yang berjudul Pembuatan Kompos dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 17 Oktober 2012, di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang dibutuhkan pada pratikum ini antara lain bahan utama kompos berupa seresah (daun-daunan, jerami, dan pupuk kandang), air, dan aktivator EM4. Alat yang digunakan antara lain plastik bening dan kertas label. Cara kerja pada praktikum ini antara lain diawali dengan disiapkannya bahan utama kompos berupa (daun-daunan, jerami, dan pupuk kandang), yang dipotong menjadi ukuran kecilkecil sekitar 2 cm. Perlakuan yang dilakukan yaitu kontrol, ditambah aktivator, dan ditambah tanah. Lalu diaduk sampai merata dan diatur kadar airnya sehingga tercapai sekitar 30%. Kemudian dimasukkan ke dalam plastik bening, ditutup rapat dan diberi label. Setiap minggu, diamati kenampakan yang terjadi. Pada minggu ke-2, diambil contoh untuk pengujian pH dan DHL.

46

IV. HASIL PENGAMATAN

Kenampakan yang terjadi Kotoran kambing E ontrol K T E ontrol

Indikator

Dedaunan

Jerami

Kotoran sapi

K ontrol

E ontrol

K anah

T M4

anah M4

anah M4

anah M4

Bau + + + + ++ + + ++ +++ + ++ ++

Warna + ++ ++ ++ ++ ++ ++ +++ ++ + ++ +

Kadar Air + Tingkat + ++ ++ ++ ++ +++ + ++ ++ + ++ ++ + ++ +++ ++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++

Perombakan

Ket : tanda (+) lebih banyak menunjukkan kualitas yang lebih baik. Tabel 4.1. Hasil pengamatan pupuk

V.

PEMBAHASAN

Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos. Bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman, kotoran hewan, dan sebagainya mengalami proses perubahan dahulu agar dapat digunakan oleh tanaman. Tanpa perubahan, unsure hara dalam bahan-bahan tersebut tetap dalam keadaan terikat sehingga tidak bias diserap oleh tanaman. Selama proses perubahan dan penguraian bahan organik, unsure hara mengalami perubahan dan menjadi bentuk larut yang bias diserap tanaman. Proses perubahan ini disebut pengomposan. Pada pembuatan kompos ini dilakukan dengan perlakuan yaitu kotoran sapi ditambahkan dengan biang kompos. Penambahan biang kompos dimaksudkan untuk mempercepat terbentuknya kompos matang. Metode dalam pembuatan kompos ini yaitu metode indore (penimbunan) yang dilakukan didalam ruangan. Bahan kompos ditimbun dan jangan sampai padat tetapi dibuat longgar,hal ini 47

bertujuan agar proses penghawaan (aerasi) berjalan dengan lancar. Bahan kompos juga lebih baik dicincang dulu agar mudah terdekomposisi. Selama proses pengomposan terjadi reaksi eksotermik sehingga akan timbul panas akibat pelepasan energi. Kenaikan temperature dalam timbunan bahan organik akan menghasilkan temperature yang menguntungkan bagi mikroorganisme termofilik dalam merombak bahan organik dalam hal ini bahan kompos. Suhu pada pengamatan tidak sampai tinggi sehingga tidak dikhawatirkan akan membunuh mikroorganisme yang berperan dalam proses dekomposisi. Proses pengomposan yang baik untuk menghasilkan kompos yang cepat matang yaitu yang yang memerlukan penghawaan yang lancar. Pembalikan kompos yang dilakukan tiap minggu bertujuan untuk memperlancar sirkulasi udara dan mempercepat proses perombakan bahan organik. Hal ini dikarenakan aktivitas mikrobia memrlukan aliran udara yang lancar. Pada saat pengomposan dilakukan penyiraman, hal ini berhubungan dengan kandungan air yang dibutuhkan untuk proses pengomposan. Kandungan air yang cukup selama proses pengomposan merupakan kunci keberhasilan dalam pengomposan. Kompos jangan sampai terlalu basah karena akan kompak dan berlendir, tetapi jangan pula terlalu kering karena akan menghambat proses dekomposisi. Selama proses pengomposan berlangsung didapatkan data pengamatan yang menunjukkan terjadinya perubahan secara kuantitatif maupun kualitatif. Dari segi sifat kualitatif dapat ditunjukkan dengan adanya perubahan warna, bau dan strukturnya. Warna akan menjadi hitam kecoklatan, bau seperti humus (tidak berbau bangkai/ busuk) dan strukturnya akan remah dan lunak, tidak menggumpal dan melumpur.. Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan asamasam organik, sehingga pH menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan mempunyai dampak netralisasi keasaman. Makin tinggi kadar pH dalam timbunan kompos maka makin cepat terjadi peruraian bahan. Untuk memperoleh kadar pH tinggi, timbunan kompos dapat ditambah dengan kapur atau abu. Hasil pengamatan menunjukkan pada pH sekitar 6-7, yang merupakan pH ideal dalam proses pengomposan. Timbunan bahan kompos akan lebih cepat mengalami peruraian bila suhunya tepat. Suhu ideal untuk proses pengomposan adalah 30 45 C, salah satu cara menjaga kestabilan suhu dalam pembuatan kompos adalah dengan menimbun bahan dalam ketinggian tertentu. Timbunan yang terlalu rendah dapat menyebabkan panas mudah menguap, seblaiknya timbunan terlalu tinggi membuat bahan-bahan menjadi memadat. Suhu terlalu tinggi bias membunuh bakteri 48

pengurai. Sedangkan kondisi yang kurang uadara dapat memacu pertumbuhan baktreri anaerobic sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Dari hasil pengamatan menunjukkan pengomposan dengan penambahan biang kompos menyebabkan DHL-nya cukup tinggi yaitu berkisar antara 0.7 1.0. Hal ini menunjukkan bahan kompos tersebut memiliki KTK yang tinggi. Agar pemupukan pada suatu tanah efektif maka tanah harus memiliki kapasitas tukar kation tinggi. Dengan demikian kompos dapat membantu meningkatkan KTK suatu tanah. kompos matang mempunyai karakteristik fisik yaitu: Struktur, bahan kopos matang bersifat remah; merupakan media yang lepaslepas tidak kompak maupun tidak dikenali kembali bahan dasarnya. Warna, terbaik adalah warna coklat kehitaman. Warna hitam murni menunjukkan proses fermentasi yang kurang baik karena terlalu banyak lengas dan kekurangan udara. Status kelengasan, apabila segumpal kompos kita ambil kemudian diperas tidak ada air yang keluar. Bau, kompos yang baik harus berbau seperti humus atau tanah. Apabila kompos berbau busuk menandakan bahwa proses dekomposisi belum selesai dan proses peruraian masih berlangsung. Kemasaman, mempunyai PH netral sampai agak masam. Kisaran PH kompos yang baik adalah 6,0-7,5.

49

V. PENUTUP B. 1. Kesimpulan Bahan utama kompos yang mengalami proses pematangan paling cepat adalah

kompos dari jerami, diikuti pukan kambing, pukan sapi, kemudian dedaunan. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan antara lain rasio C/N,

ukuran partikel, aerasi, porositas, kelembaban (moisture content), suhu, ph, kandungan hara, kandungan bahan berbahaya, dan lama pengomposan. 3. Bau menyerupai humus (agak harum), strukturnya lunak, warna coklat kehitaman,

kadar air sekitar 30%, suhunya mendekati suhu awal pengomposan, pH 6-7 (agak netral), kadar bahan organik 30-60%, dan nisbah C/N sekitar 15.

C. 1.

Saran Berat bahan utama yang digunakan untuk pembuatan komposa disamakan agar

data yang didapat lebih akurat. 2. Terlebih dahulu dilakukan uji jenis tanah, karena jika tanah yang digunakan tidak

sesuai dengan jenis tanah yang dibutuhkan akan menimbulkan kerancuan dalam pemahaman.

50

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor.

Eriksson, K.E.L., R.A. Blanchette, and P. Ander. 1989. Microbial and Enzymatic Degradation of Wood and Wood Components. Springer Verlag Heildeberg. New York.

Saraswati, R., D.H. Goenadi, D.S. Damardjati, N. Sunarlim, R.D.M. Simanungkalit, dan Djumali Suparyani. 1998. Pengembangan Rhizo-plus untuk Meningkatkan Produksi, Efisiensi Pemupukan Menunjang Keberlanjutan Sistem Produksi Kedelai, Laporan Akhir Penelitian Riset Unggulan Kemitraan I Tahun (1995/1996-1997-1998). Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan.

Sebayang, K. dan D.A. Sihombing 1987. The technology impact on soybean yield in Indonesia. pp. 37-48. In J.W.T. Bottema, F. Dauphin, and G. Gijsbers (Eds.). Soybean Research and Development in Indonesia. CGPRT Centre, Bogor.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Soil Survey Staff. 1998. Kunci Taksonomi Tanah. Edisi kedua.

Suhardjo, H., M. Supartini, dan U. Kurnia. 1993. Bahan organik tanah. Dalam Informasi Penelitian Tanah, Air, Pupuk, dan Lahan. Serial Populer No.3/PP/SP/1993. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Suriadikarta, D.A. dan R.D.M. Simanungkalit. 2006. Pendahuluan. hlm. 1-10. Dalam Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.

51

LAMPIRAN

1. EM4

2. Tanah

3. Kontrol

52

ACARA V UJI MUTU KOMPOS ABSTRAKSI


Praktikum Kesuburan Tanah acara V yaitu Uji Mutu Kompos dilaksanakan pada hari Rabu 24 Oktober 2012 di Rumah kaca, Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui mutu kematangan kompos dengan metode perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif. Bahan yang digunakan adalah pupuk kompos (pukan sapi, pukan kambing), sekam dan benih sawi. Sedangkan alat yang digunakan antara lain label, alat tulis, pot dan semprotan. Untuk cara kerjanya, pertama - pertama disiapkan 5 pot kosong, lalu 5 pot tersebut masing masing diisi dengan sekam (sebagai kontrol), (pukan sapi), (pukan kambing), sekam + (pukan sapi), sekam + (pukan kambing), (pukan sapi) + (pukan kambing) dan (pukan kambing) + (pukan sapi) + sekam, yang dibuat oleh tiap-tiap kelompok. Kemudian benih bayam cabut sebanyak 10 biji disebarkan merata pada permukaan media pot tersebut (1 pot = 10 biji), lalu disemprot dengan air untuk menjaga kelengasan (kelembaban) selama percobaan. Setelah itu pot diberi label agar memudahkan dalam pengamatan (tidak tertukar dengan kelompok lain), serta tidak lupa diamati pertumbuhan biji bayam cabut tersebut selama 7 hari. Setelah 7 hari, dihitung biji yang berkecambah, Gaya berkecambah, dan Indeks vigor. Uji mutu kompos penting untuk mengetahui kesiapan kompos sebelum digunakan sebagai pupuk. Kompos yang tidak matang akan menghambat atau mematikan tanaman. Hasil yang diperoleh menunjukkan perkecambahan kompos bahan pupuk kandang sapi sebanyak 80%, pupuk kandang kambing 20%, sekam 0%, pupuk kandang sapi dengan sekam 10%, pupuk kandang sapi dengan pupuk kandang kambing 5-%, pupuk kandang kambing dengan sekam 80%, dan campuran pupuk kandang sapi dengan kambing dan sekam sebanyak 40%. Pupuk yang telah siap digunakan ialah yang memiliki GB baik yaitu diatas 75% untuk benih ortodoks sayur.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Untuk meningkatkan kesuburan tanah, pemberian pupuk anorganik (buatan) saja tidak cukup, perlu diberikan pupuk organik dan salah satu diantaranya adalah kompos. Kompos selain mudah didapat dan murah harganya serta merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme bermanfaat di dalam tanah. Ditambahkan oleh bahwa bahan organik atau pupuk kandang akan diuraikan oleh mikroorganisme tanah menghasilkan bahan humus yang mampu meningkatkan agregasi tanah. Agregasi tanah yang baik akan menjamin tata udara dan air yang baik sehingga aktifitas mikroorganisme berlangsung baik sehingga dapat meningkatkan ketersediaan beberapa unsur hara. Hasil pembuatan kompos tidak langsung dapat digunakan, melainkan harus dilakukan pengujian terhadap mutu kompos terlebih dahulu. Perlu diketahui bahwa kompos yang belummatang jika diaplikasikan di lahan pertanian dapat menghambat atau

53

mematikan tanaman. Untuk itu petani harus menentukan kematangan kompos sebelum digunakan sebagai media tumbuh atau dicampurkan dengan tanah. B. Tujuan Untuk mengetahui mutu kematangan kompos dengan metode perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif.

II. TINJAUAN PUSTAKA Kompos adalah pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan - bahan hijauan dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan, misalnya kotoran ternak atau bila dipandang perlu, bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik, seperti urea. Sampah kota bisa juga digunakan sebagai kompos dengan catatan bahwa sebelum diproses menjadi kompos sampah kota harus terlebih dahulu dipilah-pilah, kompos yang rubbish harus dipisahkan terlebih dahulu. Jadi yang nantinya dimanfaatkan sebagi kompos hanyala sampahsampah jenis garbage saja (Wied 2004 cit. Sulistyorini 2005). Kompos dapat memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga d iketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit. Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak. Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya adalah (Anonim, 2011) : A. Aspek Ekonomi : 1. 2. 3. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah Mengurangi volume/ukuran limbah Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya

54

B. 1.

Aspek Lingkungan : Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas

metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah 2. C. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan Aspek bagi tanah/tanaman: Meningkatkan kesuburan tanah Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah Meningkatkan aktivitas mikroba tanah Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen) Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah

Kriteria Kualitas Kompos menurut World Bank adalah persyaratan minimal dalam pembuatan kompos, maka sebaiknya dalam pembuatan kompos diperhatikan kualitas kompos setara dengan pupuk organik seperti yang dibakukan oleh Standar Internasional dan preferensi beberapa pengguna / pembeli kompos yang disajikan dalam Tabel 2 (Anonim, 2006). PARAMETER KUALITAS KUALITAS UMUM a . Kadar Air % < 45 1 SATUAN STANDAR KUALITAS

55

b .

C/N Ratio

Dimensionless

< 20

2 KADAR LOGAM BERAT a . b Cu mg/kg berat kering < 150 Cr (Khrom) mg/kg berat kering < 45

. (Tembaga) c . d . Zn (Seng) mg/kg berat kering < 400 Pb (Timbal) mg/kg berat kering < 150

Selama pasca pematangan terbentuk komplek lempung-humus. Hal ini berarti bahwa makin matang kompos maka kandungan hara kompos yang tersedia untuk tanaman turun dan dikarakterisasikan dengan perbaikan sifat fisik tanah. Pasca pematangan dicirikan suhu yang lebih rendah daripada tahap dekomposisi utama. Setelah kenaikan suhu yang terjadi dalam waktu yang singkat pada proses konversi, suhu turun dan akhirnya mencapai suhu udara ambien. Selama proses pendinginan, populasi organisme dan cacing tanah membantu mencampur komponen mineral dan organik (Irwanti, 2003) Bahan organik berperan besar dalam memperbaiki struktur tanah,mampu meningkatkan kemampuan menahan air, menyeimbangkan nisbahpori mikro dan makro guna memperbaiki aerasi tanah, meningkatkan kesuburan kimia tanah dan meningkatkan aktivitas biologi jasad mikroorganisme tanah dalam mendokomposisi bahan organik.Bahan organk dapat berasal dari kotoran cair dan padat dari hewan (pupuk kandang),sisa-sisa tanaman (pupuk hijau), sampah dan limbah organik (kompos), jasad penambat nn udara. Semakin mudah diurai, bahan organik yang

56

lebih sukar diurai memerlukan waktu lama untuk menunjukkan pengaruhnya, namun efektivitasnya dapat berlangsung lebih lama (Brady, 1974). Petani menjaga ketersediaan bahan dengan memperhatikan kuantitas pupuk yang

diproduksi dengan berbagai macam kotoran ternak dan dengan menyediakan nutrisi penting bagi tanaman yang termuat dalam pupuk. Hal ini penting untuk mengenal pengaruh pengelolaan yang dilakukan untuk mengembalikan kualitas pupuk pada pertanian yang berbeda. Secara umum, terlebih lebih tergantung pada pemupukan sebagai sumber nutrisi di dalam tanah. Pada beberapa tempat, bagaimanapun juga pupuk harus mempertimbangkan penambahan materi ke tanah. Termasuk beberapa pertimbangan nutrisi yang disediakan oleh pupuk kandang dan pupuk penyubur (Millar, 1955).

57

III.

METODOLOGI

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 20012 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Adapun alat yang digunakan yaitu pot dan bahan yang digunakan yaitu benih bayam cabut, lalu media yaitu pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing, sekam, campuran pupuk kandang sapi-kambing, campuran pupuk kandang sapi-sekam, campuran pupuk kandang sapikambing-sekam. Mula-mula pot yang sudah diisi label dimasukan media sesuai dengan perlakuan masingmasing. Setelah itu media sedikit disiram air agar basah dan disebar benih bayam cabut. Diamati gaya berkecambah dari benih tersebut selama 7 hari. Setelah data GB didapat selama 7 hari pengamatan dilihat hasilnya, buat pembahasan mengenai besarnya GB dengan kelayakan pupuk yang digunakan sebagai perlakuan. Diamati pula pH dan Daya Hantar Listrik (DHL) media yang digunakan sebagai perlakuan.

Presentase ( % ) Rumus Gaya Berkecambah Rumus Indeks Vigor ( (

x100%

58

IV. n o 1 2 3 4 5 6 7 kam

HASIL PENGAMATAN Jumlah benih tumbuh hari keG 6 7 1 0 1 5 8 4 7 B 8 2 0 1 5 8 4 8 0% 2 0% 0 % 1 0% 5 0% 8 0% 4 0%

Perlakuan

1 0 0 0 0 0 0

2 2 0 0 0 2 3

3 4 0 0 0 3 6

4 6 0 0 0 4 8

5 7 1 0 1 5 8 4

Pukan sapi Pukan kambing Sekam Sapi+Sekam Sapi+Kambing Kambing+Sekam Kambing+Sapi+Se

0 0 1 2 Tabel 5.1. GB benih tiap perlakuan n o 1 2 3 4 5 6 7 kam Perlakuan p H 6. 52 7. 57 7. 57 7. 83 6. 85 7. 83 7. 2 HL

D 0. 4 0. 3 0. 1 0. 2 0. 2 0. 1 0. 3

Pukan sapi Pukan kambing Sekam Sapi+Sekam Sapi+Kambing Kambing+Sekam Kambing+Sapi+Se

Tabel 5.2. pH dan DHL tiap perlakuan 59

n o 1 2 3 4 5 6 7 kam

Perlakuan

IV 1 0 0 0 0 0 0 .5 0 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1.33333 0 0 0 1 2 0.33333 .5 .5 4 1 .4 0 0 .2 0 0 .2 1 2 .6 0 .8 0 0.66667 0.57143 1 1 1.33333 1.14286 0 0 5 1 1.16667 0.16667 0 0.16667 0.83333 1.14286 0.28571 0 0.14286 0.71429 6 7

Pukan sapi Pukan kambing Sekam Sapi+Sekam Sapi+Kambing Kambing+Sekam Kambing+Sapi+Se

Tabel 5.3. IV benih tiap perlakuan

60

V.

PEMBAHASAN

Kompos adalah hasil penguraian parsial atau tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Kompos disebut juga sebagai pupuk organik. Seperti yang telah kita ketahui pupuk organik memiliki sifat sifat penting yang mempengaruhi kesuburan tanah, diantaranya adalah : 1.Mempengaruhi sifat fisik tanah. Bahan organik membuat tanah menjadi gembur dan lepas-lepas, sehingga aerasi dan pengatusan dakhil menjadi lebih baik serta lebih mudah ditembus perakaran tanaman. Pada tanah yang bertekstur pasiran, bahan organik akan meningkatkan pengikatan antar partikel dan meningkatkan kapasitas mengikat air. Sifat fisik bahan organik yang baik sangat ideal apabila dicampur terlebih dahulu dengan pupuk kimia sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk. Dari penambahan bahan organik ini, warna tanah yang dulunya cerah akan berubah menjadi kelam. 2.Mempengaruhi sifat kimia tanah Kapasitas tukar kation (KPK) dan ketersediaan hara meningkat dengan penggunaan bahan organik. Asam yang dikandung humus akan membantu meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. 3.Mempengaruhi sifat biologi tanah Bahan organik akan menambah energi yang diperlukan kehidupan mikroorganisme tanah. Tanah yang kaya bahan organik akan mempercepat perbanyakan fungi , bakteri, mikro flora dan mikro fauna tanah lainnya. Pada umumnya kandungan hara pupuk organik rendah dan kadarnya bervariasi. Rendahnya kandungan hara ini tergantung pada jenis bahan dasarnya. Kandungan hara yang rendah ini memiliki arti pada biaya untuk setiap unit unsur hara yang digunakan nisbi yang lebih mahal. Hara yang berasal dari bahan organik ini diperlukan untuk kegiatan mikrobia yang bermanfaat di dalam tanah. Mikroba mikroba tanah tersebut akan merubah bentuk ikatan kompleks organik yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik sederhana yang dapat diserap oleh tanaman. Kebanyakan unsur di dalam tanah biasanya terlindi dalam bentuk unsur tersedia dari hasil perombakan bahan organik. Pupuk organik juga menyediakan hara untuk tanaman dalam jumlah yang terbatas dan tidak cukup. 61

Kompos dapat dibuat dari semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen, misalnya seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian. Namun untuk material organik seperti tulang, tanduk, dan rambut, sulit untuk dikomposkan (dibuat kompos). Proses pengomposan (pembuatan kompos) akan segera berlangsung setelah material material organik dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o - 70o C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi

dekomposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 40% dari volume/bobot awal bahan. Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan, karena selama proses pengomposan akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses anaerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S (Anonim, 2011). Dalam pembuatan kompos perlu diperhatikan tingkat kematangannya. Kompos yang belum matang dapat menghambat atau mematikan tanaman. Kompos matang biasanya dilihat dari hasil uji rasio C/N. Namun uji ini harus dilakukan di laboratorium kimia. Sebenarnya ada cara yang sederhana dan mudah untuk menguji kualitas kompos, yaitu dengan uji kecambah dan uji dengan tanaman.

62

GB benih bayam cabut


9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 2 4 hari ke-n 6 8 Pukan sapi Pukan kambing sekam sapi+sekam kambing+sekam kambing+sapi+sekam sapi+kambing

jumlah benih

Grafik 5.1. GB benih bayam cabut Pada Grafik ini dapat terlihat bahwa pada perlakuan menggunakan pupuk kandang kambing serta pupuk kandang kambing dan pupuk kandang sapi dengan campuran sekam memiliki gaya berkecambah yang paling tinggi yaitu mencapai 80%. Ini sangat berbeda dengan keadaan GB benih pada perlakuan hanya menggunakan sekam yaitu 0%. Ini menunjukan bahwa pupuk kambing sudah memiliki sifat yang cocok untuk perkecambahan suatu benih. Ini dapat terlihat dengan benih yang tumbuh sudah melebihi batas standar perkecambahan benih ortodoks sayur yang biasanya adalah sebesar 75%. Pada saat perkecambahan suatu benih dibutuhkan kelembaban, kadar air sekitar benih, aerasi (kandungan oksigen), serta keadaan pH pada sekitar benih. Untuk percobaan ini aspek terpenting yang kita soroti dalam hal agronomis perkecambahan ialah pH. Dari yang kita ketahui bahwa pupuk yang belum matang atau belum siap diaplikasikan memiliki efek panas terhadap organ tanaman. Ini adalah disebabkan oleh pH dari benih tersebut yang terlalu rendah. Selain itu pupuk yang belum matang kita ketahui bahwa teksturnya belum membentuk remah sehingga jika benih yang kita tanam dibenamkan terlalu dalam akan kekurangan oksigen pada perkecambahannya. Adapula faktor tekstur dapan mempengaruhi dari penyimpanan air padahal air adalah hal yang paling penting dari perkecambahan. Air nantinya akan menginisiasi enzim pertumbuhan serta menginisiasi enzim lainnya seperti contohnya yang bekerja untuk merombak kandungan lemak pada biji untuk dikonversi menjadi ATP dan digunakan untuk membentuk protein dalam pembelahan sel. 63

IV benih bayam cabut


2.5 2 1.5 IV 1 0.5 0 0 2 4 hari ke-n 6 8 Pukan sapi Pukan kambing sekam sapi+sekam kambing+sekam kambing+sapi+sekam sapi+kambing

Grafik 5.2. IV benih bayam tiap perlakuan Indeks vigor dalam segi agronomis tidak kalah penting dibandingkan dengan Gaya Berkecambah benih. Indeks vigor ialah sebagai nilai keserempakan suatu benih berkecambah pada suatu waktu (dalam hitungan hari). Dari data yang telah diolah menjadi grafik menunjukan bahwa IV pada perlakuan pupuk kambing+sekam dan pupuk sapi memiliki titik puncak yang paling tinggi. Ini juga dapat menjadi suatu variabel yang memperkuat bahwa pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing+sekam sudah cukup baik dan matang untuk diaplikasikan pada tanaman budidaya. Pupuk kandang dan pupuk kompos adalah salah satu pupuk yang cukup mudah untuk dibuat oleh masyarakat. Hanya dengan menggunakan limbah dari pekarangan ataupun dari hewan ternak. Namun untuk penggunaan dari pupuk yang dibuat ini haruslah dilakukan pengujian mutu pupuk terlebih dahulu. Pupuk yang belum matang tidak akan membantu pertumbuhan tanaman bahkan dapat meracuni tanaman budidaya. Pada umumnya pupuk yang belum siap untuk diaplikasikan atau biasa disebut belum matang akan memberikan efek panas terhadap organ yang terkena oleh pupuk tersebut. Selain dengan dilihat dari dampak yang terjadi pada tanaman, kematangan pupuk juga dapat dilihat dari teksturnya yang sudah remah, tidak berair, memiliki warna yang gelap menyerupai tanah, pH yang netral 6-7, aroma yang tidak busuk atau bau seperti bahan awal, dan memiliki kadar bahan organik hingga 60% serta nisbah C/N 15. Adapun benih

64

bayam dipilih karena memiliki kecepatan yang tumbuh cukup cepat, yaitu sudah mencapai perkecambahan yang baik dalam waktu sekitar 7 hari.

VI. A. 1. Kesimpulan

PENUTUP

Pupuk kandang kotoran sapi dan pupuk kandang kotoram kambing dengan

campuran sekam sudah memiliki kematangan yang baik untuk diaplikasikan pada tanaman budidaya. B. Saran

Menurut info dari salah satu asisten, seharusnya pada praktikum acara ini tidak menggunakan pupuk murni pada saat percobaan. Sebaiknya pupuk perlakuan dicampurkan pada tanah sehingga dapat terlihat secara jelas dampak dari pupuk yang dijadikan perlakuan.

65

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2006.

Standar

Kualitas

Kompos

Menurut

Bank

Dunia.

<

www.mnlh.go.id/kompos >. diakses pada tanggal 11 November 2011. Anonim. 2011. Kompos. < http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos#Jenis-jenis_kompos >. Diakses pada tanggal 11 November 2012. Brady, N.C. 1974. The Nature and Properties of The Soils. 8th ed. Macmillan Pub Co, New York. Irwanti, I. 2003. Pengaruh metode pengomposan terhadap waktu pematangan kompos. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan IV (6) : 35-48. Millar, G. E. 1955. Soil Fertility. John Willey and Sons Inc, New York. Sulistyorini, L. 2005. Pengelolaan sampah dengan cara menjadikan kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan 2(1) : 77 84.

66

ACARA VI KESUBURAN TANAH AKTUAL

ABSTRAKSI
Praktikum Kesuburan Tanah acara VI dengan judul Kesuburan Tanah Aktual dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 3 Oktober 2012 di Rumah Kaca, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang digunakan yaitu benih jagung (Zea mays), tanah Ultisol, Vertisol, dan Inceptisol yang berasal dari tempat yang berbeda. Alat yang digunakan yaitu cetok, alat tulis dan dokumentasi. Metode pelaksanaan praktikum yaitu 3 benih jagung (Zea mays) per pot (jika sudah tumbuh akan dijarangkan menjadi 2 tanaman jagung). Pot tersebut ditanami dengan tanaman jagung dan diberi air secukupnya setiap hari. Kemudian diamati kenampakan visual tanaman jagung pada setiap pot, diukur, dan dicatat tinggi tanaman, jumlah daun dan tingkat kehijauan daun seminggu sekali. Dari beberapa jenis tanah yang digunakan tersebut, maka tanah inseptisol adalah tanah yang paling subur karena memiliki rata-rata tinggi tanaman yang paling baik. Hal ini dapat diduga bahwa tingkat kesuburan tanah aktual dari beberapa jenis tanah yang digunakan adalah berbeda-beda. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa jenis tanah inseptisol merupakan jenis tanah yang memiliki kesuburan tanah aktual yang paling baik, dengan tinggi tanaman 45,03 cm dan jumlah daun 5 helai. Sedangkan jenis tanah yang paling jelek kesuburan tanah aktualnya adalah jenis tanah ultisol dengan tinggi tanaman 37,23 cm dan jumlah daun 4 helai. Tingkat urutan kesuburan aktual tanah dari tertinggi hingga terendah yaitu tanah inceptisol > vertisol > ultisol.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beragam masalah kesuburan tanah yang muncul di lapangan dapat diidentifikasi dengan berbagai cara. Hasil identifikasi ini sangat menentukan dalam memutuskan tindakan yang harus diambil unutk memecahkan masalah. Cara identifikasi yang tepat akan menghasilkan keputusan kesuburan tanah yang tepat dan efisien. Cara-cara identifikasi dapat dilakukan dengan cara: mengamati penampakan visual tanaman, analisis tanah, analisis bagian tanaman, dan percobaan pemupukan. Kesuburan tanah didefinisikan sebagai kualitas yang memungkinkan suatu tanah untuk menyediakan unsur-unsur hara yang memadai, baik dalam jumlah maupun imbangannya untuk pertumbuhan spesies tanaman bila temperatur dan faktor lain mendukungnya. Produktivitas tanah untuk memproduksi satu spesies tanaman tertentu atau sekelompok tanaman di bawah suatu sistem managemen yang khusus. Agar tanah itu produktif maka tanah itu harus subur. Tetapi tidak harus berarti bahwa tanah yang subur selalu produktif. Banyak tanah subur yang berada di 67

daerah kering akan tetapi dengan sistem managemen yang tidak menggunakan irigasi, tanah itu tidak akan produktif untuk tanaman jagung maupun padi. Pada prinsipnya tanah yang subur adalah tanah yang secara konsisten dapat memberikan hasil yang baik tanpa penambahan pupuk dan bahan-bahan lain yang menunjang pertumbuhan tanaman secara optimal. Tanah kemungkinan mempunyai kesuburan asli yang tinggi, tetapi hasil produksinya rendah karena faktor produksi lainnya yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Tanah yang memiliki kesuburan asli tanpa dilakukan usaha perbaikan atau peningkatan kesuburannya disebut dengan kesuburan tanah aktual. Jenis tanah tertentu mempunyai potensi kesuburan yang tinggi, tetapi karena tidak dilakukan perbaikan tingkat kesuburannya maka hanya diperoleh hasil dengan aras yang sedang. Namun demikian jenis tanah memiliki tingkat kesuburan tanah aktual yang berbeda-beda tergantung sifat fisik dan kimia dari setiap jenis tanah tersebut. B. Tujuan

Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui kesuburan aktual tanah dari berbagai jenis tanah.

68

II. TINJAUAN PUSTAKA Tanah ialah lapisan atas bumi yang dikerjakan setiap waktu untuk selanjutnya ditanami dan dipungut hasilnya. Dapat dikatakan bahwa tanah ialah tempat tanaman dapat tumbuh dan berdiri tegak, tempat tanaman dapat menghisap air yang mengandung zat-zat makanan yang diperlukan untuk hidupnya tumbuh-tumbuhan (Rismunandar, 1990). Kemampuan tanah sebagai habitat tanaman menghasilkan bahan yang dapat dipanen sangat ditentukan oleh tingkat kesuburan atau sebagai alternatif kapasitas berproduksi atau produktivitas. Kesuburan tanah dibedakan menjadi dua, yaitu kesuburan tanah potensial, yakni maksimum hasil yang diperoleh dengan cara mengoptimalisasi semua faktor produksi. Sedangkan kesuburan tanah aktual, yakni kesuburan asli tanah tanpa dilakukan usaha perbaikan atau peningkatan kesuburannya. Jenis tanah tertentu mempunyai potensi kesuburan yang tinggi, tetapi karena tidak dilakukan perbaikan tingkat kesuburannya maka hanya diperoleh hasil dengan aras yang sedang (Sutanto, 2005). Kesuburan tanah diberi batasan sebagai mutu kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara pada takaran yang diperlukan dan keseimbangan tertentu secara sinambung, untuk menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor pertumbuhan lainnya dalam keadaan yang menguntungkan. Tanah dikatakan subur bila mampu memacu pertumbuhan dan perkembangan sampai aras yang memungkinkan fungsi-fungsi pertumbuhan dan perkembangan optimum tanaman (Poerwowidodo, 1993). Pada umumnya penggunaan lahan tergantung dari 2 segi yaitu kemampuan lahan dan lokasi. Oleh karena itu tanah punya nilai ekonomis dan nilai pasar yang berbeda. Untuk lahan pertanian nilai ekonomis lahan didasarkan pada tingkat kesuburan, lereng permukaan, kemampuan menahan air, dan lokasi (Fachrur, 2007). Uji kesuburan tanah diperlukan sebelum mengusahakan lahan pertanian sehingga dapat diketahui potensi lahan dan kendala yang harus diatasi. Dalam hal ini tanaman dapat digunakan sebagai indikator kesuburan yaitu dengan melihat kenampakan fisik tanaman (Davidescu dan Davidescu, 1982). Karakteristik kimiawi dan fisika tanah dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Jika terdapat perbedaan/variasi faktor pembentuk tanah antar tempat tersebut. Di dataran tinggi, suhu relatif rendah, mengakibatkan pelapukan lebih lambat sedangkan di dataran rendah suhu lebih

69

tinggi mendukung pelapukan lebih cepat. Perbedaan karekteristik kimia dan fisika kimia tanah tersebut mengakibatkan berbedanya pengelolaan yang diperlukan (Basyaruddin, 2001). Tujuan utama pemberian pupuk dan kapur adalah memberikan takaran pupuk dan kapur yang akan menghasilkan keuntungan paling besar bagi tanaman yang diproduksi. Ada juga tujuan lain seperti suatu mutu tanaman, hasil maksimum, konversi tanah dan mutu lingkungan. Takaran pupuk dan kapur yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tujuan yang disebut terakhir mungkin berbeda dari yang untuk keuntungan maksimum. Untuk mencapai salah satu dari tujuan ini, digunakan pendekatan perumusan hara yang serupa (Whitney et al., 1997). Tanaman mengabsorbsi N pada waktu tanaman tumbuh aktif tetapi tidak selalu pada tingkat kebutuhan yang sama. Banyaknya N yang dapat diabsorbsi setiap hari per satuan berat tanaman adalah maksimum pada saat masih muda dan berangsur-angsur menurun dengan bertambahnya usia tanaman. Terjadi kekurangan N yang hebat akan menghentikan proses pertumbuhan dan reproduksi. Kekurangan N adalah salah satu penyebab tanaman menjadi kerdil sehingga faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dibagi menjadi dua yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Anonim, 2009). Begitu juga menurut Anonim (2006), bahwa dengan pemupukan N disamping akan berpengaruh terhadap proses-proses fisiologi juga akan meningkatkan indeks luas daun maksimal, berat kering organ vegetatif, dan konsentrasi N daun. Inseptisol merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian tanah ini tidak hanya berupa bahan asal atau induk tetapi harus sudah terjadi proses pembentukan tanah yang menghasilkan epipedon okhrik. Pada inseptisol mungkin juga ditemukan epipedon anthropik, horison albik dan agrik. Akumulasi garam, besi oksida dan lain-lain mungkin ditemukan juga tapi pada kedalaman lebih dari 1 meter (Hardjowigeno, 1993). Banyak tanah inseptisol yang digunakan untuk usaha pertanian misalnya daerah endapan sungai atau daerah rawa-rawa pantai. Tanah ini berasal dari bahan aluvium umumnya merupakan tanah subur. Perbaikan drainase di daerah rawa-rawa menyebabkan munculnya cat clay yang sangat masam akibat oksidasi sulfida menjadi sulfat (Hardjowigeno, 1993).

70

III. METODOLOGI Praktikum acara VI dengan judul Kesuburan Tanah Aktual dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3 Okober 2012 di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tong fiber, tanah lapis olah yaitu vertisol, inceptisol, ultisol dan tanaman jagung (Zea mays) sebagai indikator kesuburan aktual tanah. Alat yang dikgunakan yaitu alat tulis, penggaris dan alat dokumentasi. Cara kerja yang digunakan yaitu Tong fiber dengan volume 120 L yang telah dilubangi bagian bawahnya disiapkan dan diberi label nama kelompok, lokasi dan tanggal pengambilan tanah. Selanjutnya tanah lapis olah yang diambil dari berbagai lokasi pada lahan pertanian dengan jenis tanah yang berbeda-beda disiapkan untuk kemudian dimasukkan pada masingmasing tong fiber. Tanah lapis olah tersebut dimasukkan secara bertahap agar tanah lebih mudah digemburkan dan untuk mencegah bagian tanah yang padat. Setelah tanah menjadi gembur maka benih jagung (Zea mays) siap ditanam ke dalam masing-masing tong. Pada 1 MST dilakukan penjarangan dengan mencabut satu tanaman dan sisakan dua tanaman yang paling baik kenampakan visualnya. Kenampakan visual tanaman (morfologi dan warna daun) diamati setiap minggunya (pada hari Rabu) dan juga diukur tinggi tanamannya dan jumlah daunnya. Setiap hari tanaman juga perlu disiram untuk menghindari terjadinya kekeringan pada tanaman.

71

IV. HASIL PENGAMATAN Jenis Tanah I Ultisol Vertisol Inceptisol 11,29 11,87 12,88 Pengamatan minggu ke- (cm) II 29,29 30,61 31,04 III 37,23 40,46 45,03

Tabel 6.1. Tinggi Tanaman Jagung (Zea mays) pada Kesuburan Tanah Aktual

Jenis Tanah I Ultisol Vertisol Inceptisol 3 2 3

Pengamatan minggu ke- (helai) II 4 4 4 III 4 5 5

Tabel 6.2. Jumlah Daun Tanaman Jagung (Zea mays) pada Kesuburan Tanah Aktual

Jenis Tanah I Ultisol Vertisol Inceptisol + + +

Pengamatan minggu keII ++ ++ ++ III ++ ++ ++

Tabel 6.3. Tingkat Kehijauan Daun Tanaman Jagung (Zea mays) Kesuburan Tanah Aktual

72

V. PEMBAHASAN Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh salingtindak (interaction) sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Kesuburan tanah pada hakekatnya ditentukan oleh sifatsifat fisik, kimia dan biologi tanahnya. Sehingga seringkali orang lebih senang menggunakan istilah kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Kesuburan kimiawi tanah ditentukan terutama oleh kemampuan tanah memasok unsur-unsur hara bagi tanaman, sedangkan kesuburan fisik tanah mencakup pengertian kemampuan tanah memberikan dukungan mekanik yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Secara rampat dukungan tersebut mengunjuk pada galah ukur (parameter) struktur tanah. Struktur tanah yang baik bukan saja akan memberikan dukungan mekanik yang layak bagi perakaran tanaman, tetapi juga secara tak langsung akan mempengaruhi aerasi tanah. Dan pada gilirannya akan menciptakan peluang terbaik bagi perakaran tanaman untuk menjangkau unsur hara dan lengas yang tersedia di dalam tanah. Kondisi fisik dan kimiawi tanah yang baik akan berarti tersedianya lingkungan hidup yang sesuai bagi organisme tanah. Organisme tersebut sangat berperan dalam proses pendauran materi di dalam tanah. Pengertian kesuburan tanah secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kesuburan aktual dan kesuburan potensial. Kesuburan aktual adalah kesuburan tanah alamiah sedang kesuburan potensial adalah kesuburan tanah maksimum yang dapat dicapai dengan mengoptimumkan semua faktor yang dibantu oleh adanya masukan teknologi. Kelayakan masukan teknologi yang diterapkan sangat ditentukan oleh: 1) imbangan antara tambahan hasil panen atau nilai tambah mata dagangan (komoditi) yang diharapkan dapat dihasilkan dan tambahan biaya produksi yang harus dikeluarkan, 2) kemampuan masyarakat dalam membiayai masukan teknologi, 3) ketrampilan teknik masyarakat dalam menerapkan masukan teknologi secara sinambung, 4) sifat dan kelakuan tanah. Kesuburan aktual adalah kesuburan yang dapat diciptakan oleh tanah itu sendiri tanpa adanya suplai hara atau spesial treatment untuk tanaman yang ada diatasnya jadi dengan kata lain kemampuan maksimal dari tanah tersebut untuk dapat terus menompang hidup tanaman tanpa adanya perbaikan atau perubahan baik dari segi fisik, kimia atau biologi tanah itu sendiri. Kesuburan potential adalah kesuburan yang paling optimal yang dapat diberikan tanah setelah segala faktor penghalang yang merugikan tanaman disingkirkan atau diminimumkan. Pada kesuburan potensial terdapat campur tangan dari manusia seperti perbaikan struktur tanah dan 73

pemupukan jadi pada kesuburan potensial, tanah diusahakan sebagaiman mungkin baik untuk pertumbuhan tanaman. Kesuburan tanah itu sendiri adalah kualitas dan mutu dari tanah itu sendiri yang digunakan untuk berbagai kegiatan bercocok tanam diatasnya dimana tanaman yang ada diatasnya berinteraksi dengan sifat fisik, kimiawi dan biologis dari tanah itu sendiri. Kesuburan tanah tidak dapat dipatok nilai standarnya sehingga tingkat kesuburan untuk tiap tanah selalu berbeda Masukan-masukan teknologi tersebut antara lain adalah usaha-usaha pemupukan atau pengapuran. Nutrisi atau unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman terdiri dari unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur hara mikro (Fe, Mn, Bo, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co) dalam bentuk anion dan kation. Dalam setiap panenan banyak sekali unsur hara yang terangkut dari dalam tanah. Oleh karena itu maka kalau panenan terus-menerus dilakukan pada lahan pertanian tersebut berarti sekian banyak nutrisi yang telah terangkut tanpa dikembalikan lagi ke dalam tanah. Sehingga pengetahuan tentang cara menjaga kesuburan tanah dengan menjaga kandungan unsur hara bagi tanaman sangat penting bagi petani. Tanah merupakan campuran antara padatan anorganik dan organik , udara, air, dan

mikroorganisme. Semuanya berinteraksi satu dengan lainnya. Reaksi dari padatan mempengaruhi kualitas air dan udara, air dan udara melapukkan padatan, dan mikroorganisme mengkatalis beberapa reaksi. Proses-proses yang terjadi di dalam tanah sesungguhnya sangat kompleks. Ia begitu kompleks sehingga jauh sekali dari bayangan kita yang sederhana. Hal ini seringkali menyulitkan identifikasi masalah kesuburan yang akan timbul. Tanah ialah lapisan atas bumi yang dikerjakan setiap waktu untuk selanjutnya ditanami dan dipungut hasilnya. Dapat dikatakan bahwa tanah ialah tempat tanaman dapat tumbuh dan berdiri tegak, tempat tanaman dapat menghisap air yang mengandung zat-zat makanan yang diperlukan untuk hidupnya tumbuhtumbuhan. Berbagai jenis tanah di Indonesia ada yang subur dan ada juga yang tidak subur. Tanah yang subur banyak dimanfaatkan penduduk untuk kegiatan pertanian yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Vertisol merupakan tanah yang belum matang dengan perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah matang. Profilnya mempunyai horison yang dianggap pembentukannya agak lamban sebagai hasil alterasi bahan induk. Inceptisol banyak dijumpai pada tanah sawah memerlukan masukan yang tinggi baik untuk masukan anorganik (pemupukan 74

berimbang N, P, dan K) maupun masukan organik (pencampuran sisa panen ke dalam tanah saat pengolahan tanah. Inceptisol adalah tanah-tanah yang kecuali dapat memiliki epipedon okrik dan horizon albik seperti yang dimiliki tanah inseptisol juga memiliki sifat penciri horison kambik. Tanah Vertisol memiliki kesuburan yang lebih tinggi dibandingkan tanah lain. Hal tersebut dikarenakan tanah ini memiliki nilai KPK yang paling tinggi dan kandungan bahan organiknya juga tinggi. Nilai KPK ditandai dengan banyaknya mineral lempung pada tanah ini. Nilai KPK yang tinggi menunjukan kemampuan tanah untuk menyediakan hara dan pertukarannya dalam tanah untuk tanaman. Sedangkan nilai KPK tanah Inceptisol lebih tinggi dibandingkan tanah Ultisol. Tanah Inceptisol merupakan tanah muda, tanah yang belum berkembang sehingga nilai KPK tanah tersebut lebih rendah daripada tanah Vertisol. Inceptisol dapat dianggap sebagai tanah tua karena telah mencapai tingkat akhir dalam proses pembentukan tanah dan pada horizon B mengandung liat yang sangat tinggi (argilik). Adanya kandungan liat mudah mengembang dan mengkerut yang tinggi merupakan masalah utama tanah ini. Faktor penting dalam pembentukan tanah ini adalah adanya musim kering dalam setiap tahun dengan musim basah 1-2 bulan. Vertisol merupakan tanah yang memiliki potensial cukup baik, akan tetapi yang menjadi kendala adalah dalam hal pengolahan tanahnya yang relatif cukup sulit, bersifat sangat lekat bila basah dan sangat keras bila dalam keadaan kering, jadi harus diketahui kelengasan tanah pada lapisan permukaan yang memungkinkan untuk dilakukan pengelolaan tanah untuk persiapan lahan baik untuk pembibitan maupun penanaman. Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda. Kata inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai horison kambik. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah aluvial, andosol, regosol, gleihumus, dll. Tanah ini mempunyai produktivitas alami yang beragam karena tidak memiliki sifat fisik dan kimia yang khas. Dengan demikian tingkat kesuburan tanah ini tergantung sifat fisik dan kimia tanah inceptisol. Namun karena tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) dengan perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah yang matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya. Tanah Inceptisol yang terdapat di dataran rendah solum yang terbentuk pada umumnya tebal, sedangkan pada daerah-daerah berlereng curam solum yang terbentuk tipis. Warna tanah Inceptisol beranekaragam tergantung dari jenis bahan induknya. Warna kelabu bahan induknya 75

dari endapan sungai, warna coklat kemerah-merahan karena mengalami proses reduksi, warna hitam mengandung bahan organik yang tinggi. Tanah Ultisol memiliki kemasaman kurang dari 5,5 sesuai dengan sifat kimia, komponen kimia tanah yang berperan terbesar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya pada kesuburan tanah. Nilai pH yang mendekati minimun dapat ditemui sampai pada kedalaman beberapa cm dari dari batuan yang utuh (belum melapuk). Tanah-tanah ini kurang lapuk atau pada daerah-daerah yang kaya akan basa-basa dari air tanah pH meningkat pada dan di bagian lebih bawah solum. Tanah Ultisol sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur, tetapi sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial, asalkan dilakukan pengelolaan yang

memperhatikan kendala (constrain) yang ada pada Ultisol ternyata dapat merupakan lahan potensial apabila iklimnya mendukung. Tanah Ultisol memiliki tingkat kemasaman sekitar 5,5 . Untuk meningkatkan produktivitas Ultisol, dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan, penambahan bahan organik, penanaman tanah adaptif, penerapan tekhnik budidaya tanaman lorong (atau tumpang sari), terasering, drainase dan pengolahan tanah yang seminim mungkin. Pengapuran yang dimaksudkan untuk mempengaruhi sifat fisik tanah, sifat kimia dan kegiatan jasad renik tanah. Pengapuran pada Ultisol di daerah beriklim humid basah seperti di Indonesia tidak perlu mencapai pH tanah 6,5 (netral), tetapi sampai pada pH 5,5 sudah dianggap baik sebab yang terpenting adalah bagaimana meniadakan pengaruh meracun dari aluminium dan penyediaan hara kalsium bagi pertumbuhan tanaman Perbedaan kesuburan tanah aktual disetiap daerah disebabkan adanya perbedaan pada faktor-faktor pembentuk tanah. Batuan induk, iklim, relief, organism, dan waktu yang berbedabeda menghasilkan jenis tanah dan kesuburan yang berbeda pula. Pada lahan pertanian manajemen kesuburan oleh petani sangat mempengaruhi kesuburan tanah aktual di suatu daerah. Ketersediaan hara dalam tanah harus dijaga antara yang hilang dari tanah dan jumlah yang dimasukan ke dalam tanah.

76

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh grafik hasil untuk tinggi tanaman jagung pada beberapa jenis tanah adalah

Grafik Tinggi Tanaman Vs Minggu Pengamatan


50 Tinggi Tanaman (cm) 40 30 Ultisol 20 10 0 1 2 Minggu ke3 Vertisol Inceptisol

Grafik 6.1. Tinggi Tanaman Jagung pada Kesuburan Tanah Aktual Dari grafik dapat ketahui tinggi tanaman Jagung paling baik pada tanah Inseptisol, kemudian Vertisol, terakhir Ultisol. Hal ini dapat diketahui dari rata-rata tinggi tanaman tiap minggunya. Dari minggu 1 hingga minggu 3 tinggi tanaman terus bertambah hal ini dikarenakan kebutuhan tanaman akan hara dan air masih terpenuhi. Pertumbuhan tinggi tanaman yang berbeda dikarenakan kesuburan aktual masing-masing jenis tanah juga berbeda. Tanah Vertisol memiliki nilai KPK dan bahan organik yang paling tinggi dibandingkan Inceptisol dan Ultisol. Hal tersebut dapat dimungkinkan sehingga hara tidak menjadi faktor penghambat bagi tanaman. Selain itu penyiraman tanaman yang teratur juga menentukan pertumbuhan tanaman. Namun pada hasil pengamatan diketahui bahwa tanah inseptisol memiliki kesuburan lebih tinggi daripada vertisol, hal ini dikarenakan tanah vertisol pengelolaan tanahnya relatif cukup sulit, bersifat sangat lekat apabila basah dan bersifar keras apabila dalam keadaan kering. Pada tanah inseptisol sering digunakan untuk areal persawahan dan sudah mengalami pengolahan tanah sehingga tanahnya lebih subur.

77

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh histogram hasil jumlah daun tanaman jagung pada beberapa jenis tanah adalah

Histogram Jumlah Daun


6 5 Jumlah Daun 4 3 2 1 0 1 2 Minggu ke3 Ultisol Vertisol Inceptisol

Histogram 6.1. Jumlah daun Tanaman Jagung pada Kesuburan Tanah Aktual Dari grafik dapat ketahui pertumbuhan jumlah daun tanaman Jagung paling baik pada tanah Inceptisol, kemudian Vertisol, dan Ultisol. Bertambahnya jumlah daun dikarenakan kebutuhan tanaman akan hara dan air masih terpenuhi. Pertambahan jumlah daun tanaman yang berbeda dikarenakan kesuburan aktual masing-masing jenis tanah juga berbeda. Tanah Vertisol memiliki nilai KPK dan bahan organik yang paling tinggi dibandingkan Inceptisol dan Ultisol. Hal tersebut dapat dimungkinkan sehingga hara tidak menjadi faktor penghambat bagi tanaman. Selain itu penyiraman tanaman yang teratur juga menentukan pertumbuhan tanaman. Namun pada hasil pengamatan diketahui bahwa tanah inseptisol memiliki kesuburan lebih tinggi daripada vertisol, hal ini dikarenakan tanah vertisol pengelolaan tanahnya relatif cukup sulit, bersifat sangat lekat apabila basah dan bersifar keras apabila dalam keadaan kering. Pada tanah inseptisol sering digunakan untuk areal persawahan dan sudah mengalami pengolahan tanah sehingga tanahnya lebih subur. Tingkat kehijauan daun berkaitan erat dengan kandungan klorofil dalam daun. Klorofil berkorelasi positif dengan kandungan nitrogen dalam tanah. Apabila kandungan nitrogen dalam tanah optimum maka kandungan klorofil optimum sehingga warna daun semakin hijau, dengan begitu proses fotosintesis tanaman akan berjalan dengan baik dan menghasilkn produksi tanaman 78

yang maksimal. Warna daun kuning mengindikasi kekurangan unsure nitrogen dalam tanah. Pada hasil pengamatan diperoleh tingkat kehijauan daun dari 1 MST samapai 3 MST memiliki intensitas kehijauan yang sama, hal ini mengindikasikan bahwa unsure nitrogen dalam tanah inseptisol, vertisol dan ultisol memiliki jumlah yang sama.

79

VI. PENUTUP A. 1. Kesimpulan Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung faktor pembentuk tanah,

yaitu bahan induk, iklim, relief, organisme, dan waktu. 2. Kesuburan tanah aktual adalah kesuburan asli tanah tanpa dilakukan usaha

perbaikan atau peningkatan kesuburannya misalnya dengan pemupukan atau penambahan bahanbahan yang dapat meningkatkan kesuburan tanah tersebut. 3. Berdasarkan hasil percobaan tanah Inseptisol memiliki kesuburan aktual yang

tinggi bila dibandingkan dengan Vertisol dan Ultisol. 4. Tanah Inceptisol memiliki kesuburan tanah aktual yang tinggi dilihat dari

pengukuran pertumbuhan yang paling tinggi selama 3 minggu, dengan tinggi tanaman 45,03 cm dan jumlah daun 5 helai. 5. Pengetahuan untuk menjaga kesuburan tanah sangat penting dalam menjamin

keberhasilan suatu kegiatan pertanian dengan menjaga ketersediaan hara dalam tanah bagi pertumbuhan tanaman. 6. Penilaian tingkat kesuburan tanah dari berbagai jenis tanah dapat dilihat dari

kenampakan visual (morfologi dan warna) serta tinggi tanaman dan jumlah daun. 7. Tingkat kehijauan tanaman jagung dari ketiga jenis tanah adalah sama.

B.

Saran

Pengetahuan tentang kesuburan tanah yang akan digunakan sebagai media tanam yang akan dijalankan sangat lah penting guna mendapatkan hasil pertumbuhan tanaman atas kebutuhan tanaman akan unsur hara yang terkandung pada tanah tersebut. Karena tingkat pertumbuhan pada tiap jenis tanah berbeda, pemupukan diperlukan untuk menambah keharaan tanah yang keadaannya semakin lama semakin menipis karena dipergunakan secara terus menerus oleh tanaman selama pertumbuhannya untuk mencapai produksi yang optimum dan kualitas yang baik.

80

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Kesuburan Diakses tanggal 3 November 2012.

Tanah.

<http://blogbintang.com/kesuburan-tanah>.

Anonim, 2006. Peranan Pupuk N Pada Tanaman. <www.ferdinap.org/ipns>. Diakses tanggal 3 November 2012. Basyarudin. 2001. Karakteristik kimiawi dan fisiko-kimiawi andisol yang berkembang pada berbagai ketinggian di Sumatra Utara. Jurnal Penelitian Pertanian 2 : 6778. Davidescu, D., and V. Davidescu. 1982. Evaluation of Fertility by Plant and Soil Analysis. Abacus Press, England. Fachrur, R. 2007. Nilai ekonomi dalam mempertahankan kelestarian sumberdaya lahan. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Edisi Khusus Balitkabi 10: 112-119. Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta. Poerwowidodo. 1993. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa, Bandung. Rismunandar. 1990. Pengetahuan Dasar Tentang Perabukan. Sinar Baru, Bandung. Sutanto. 1993. Peranan Pertanian dalam Menciptakan Keterpaduan Pertanian, Kelembagaan Pemerintah, dan Kepencintaalaman dalam Mengelola Ekosistem. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Whitney, D.A., J.T. Cooped an L.F.Welch. 1997. Fertilizer Technology. GMUP, Yogyakarta.

81

LAMPIRAN FOTO TANAMAN JAGUNG SETIAP MINGGUNYA

Minggu ke-0 (0MST)

Minggu ke-1 (1 MST)

82

Minggu ke-2 (2MST)

Minggu ke-3 (3MST)

83

LAMPIRAN ACARA VI KESUBURAN AKTUAL TANAH

TABEL HASIL PENGAMATAN ACARA 6 KESUBURAN TANAH AKTUAL

Tinggi N o J enis tanah U langan tanaman minggu ke- (cm) 1 A 1 siang A 1 sore A 3 siang 1 U ltisol A 3 sore A 5 siang A 5 sore R ,22 1 4,99 6 6,25 2 2,4 1 0,85 1 7,17 3 84 2,65 1 3,3 4 2,34 2 0 1 2,55 4 8,65 4 1,5 1 0,6 2 8,15 4 1 2,2 3 7,1 2 2 2 0 4 3 3

Jumlah Daun minggu ke- (helai)

Tingkat kehijauan daun minggu ke-

2 + + + ++ + + + +++ + + + + + + + ++ + + +

3 +

+ +++

atarata A 1 siang A 1 sore A 3 siang A 3 sore A 5 siang A 5 sore R atarata A 1 siang I 3 nsepti sol A 1 sore A 3 siang A

1,29

9,29

7,23

1 2,45 1 1,55 1 1,45 1 2,13 1 2,35 1 1,30 2,37 5,04 4,64 5,4 7,1 9,15

2 3,05 2 0,65 3 5,45 3 1,30 3 2,88 2 9,43

+ + + ++ + + + +++ + + + + + + ++ + + +

V ertisol

+ +++

1 1,87 0,61

3 0,46

+ + +

1 0,5 1 4.8 7 ,2 1 5,1 0.5 5,3

2 5,2 4 0 2 2,3 3

+ + + ++ + + + + + +

5 85

3 sore A 5 siang A 5 sore R atarata

8,8 1 2,75 1 5,17

8,5 3 4,15 3 2,17

0,2 4 1,5 4 1,00

++

++ + + + +

+ + + + +

1 2,88 1,04

3 5,03

+ + +

Tabel 6.4. Data pengamatan jagung Keterangan: TT JD : Tinggi Tanaman (cm) : Jumlah Daun (helai) : 3 Oktober 2012 : 10 Oktober 2009 : 17 Oktober 2009 : 24 Oktober 2009

Minggu 0 Minggu I Minggu II Minggu III (***) (-)

: tanaman mati : tidak ada tanaman / tanaman belum dapat diukur tingginya.

+ : tingkat kehijauan daun

86

ACARA VII PENGARUH PEMUPUKAN

ABSTRAKSI
Praktikum Kesuburan Tanah Acara VII dengan judul Pengaruh Pemupukan dilaksanakan di rumah kaca Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 10 Oktober 2012. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah. Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi pot plastik, alat tulis, penggaris, oven, dan gunting. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain tanah lapis olah, pupuk NPK, pupuk organik, dan benih jagung. Langkah kerja yang dilakukan pertama kali adalah tanah lapis olah diambil di lahan pertanian, kemudian digemburkan dan dimasukan ke dalam pot plastik 6 L yang berlubang di bagian bawahnya. Setiap pot ditanami 3 benih jagung. Setelah tumbuh dipilih 1 tanaman yang terbaik untuk dipelihara. Ditambahkan air secukupnya (dijaga sekitar kapasitas lapangan) dilakukan setiap hari agar tanaman tumbuh dengan baik. Kemudian pada masing-masing pot dibuat perlakuan yaitu (a) tanpa pupuk (kontrol), (b) +NPK 0,5 sendok teh, (c) pupuk organik 100 gram, dan (d) +NPK 0,5 sendok teh + pupuk organik 100 gram. Pupuk NPK diberikan saat usia tanaman 1 minggu, sedangkan pupuk organik dicampur merata dengan tanah pada saat persiapan. Pengamatan dilakukan setiap minggu, dicatat tinggi tanaman, jumlah daun dan kenampakan visual dari tanaman tersebut untuk setiap perlakuan. Pada akhir percobaan tanaman dipotong tepat pada pangkal batangnya. Ditimbang bobot segar dan bobot kering berangkasan. Bobot kering diperoleh setelah jaringan tanaman tersebut dioven pada temperatur 60 C selama >48 jam. Penambahan pupuk menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Tanaman yang diberi pupuk NPK tumbuh lebih baik daripada tanaman yang diberi tambahan pupuk lainnya karena memiliki tinggi tanaman yang paling tinggi. Sedangkan untuk jumlah daun, tanaman yang diberi pupuk NPK dan pupuk NPK+organik memiliki jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan perlakuan lainnya.

I. TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan bertujuan untuk memenuhi jumlah kebutuhan hara yang tidak sesuai di dalam tanah sehingga produksi meningkat. Hal ini berarti penggunaan pupuk dan input lainnya diusahakan agar mempunyai efisiensi tinggi. Keefisienan pupuk adalah jumlah kenaikan hasil yang dapat dipanen atau parameter pertumbuhan lainnya yang diukur sebagai akibat pemberian satu satuan pokok atau hara (Foth, 1988). Pemupukan bertujuan untuk menggantikan hara yang hilang terbawa panen, volatilisasi, pencucian, fiksasi, dan sebagainya. Untuk lahan sawah, pemupukan N dapat dilakukan pada kisaran 100-150 kg N/ha atau 200-300 kg urea/ha, bergantung pada N tanah, potensi hasil dan penggunaan bahan organik serta pupuk hayati (biofertilizer). Untuk lahan kering masam, P-alam 87

reaktif dengan takaran 1 t/ha diberikan sekali dalam 6 musim tanaman pangan semusim. Pupuk hayati adalah bahan dari mikroba yang diformulasikan sebagai pupuk dan dapat digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Contoh pupuk hayati adalah rhizobium, mikroba pelarut fosfat, azospirillum, dan cendawan mikoriza. Beberapa produk pupuk hayati antara lain adalah BioPhos dan BioDek. BioPhos adalah pupuk hayati yang bermanfaat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dan efisiensi pemupukan P sampai 50-60% dari takaran anjuran. BioDek merupakan kumpulan mikroba perombak bahan organik yang mampu mengubah lingkungan mikro tanah dan komunitas mikroba serta meningkatkan kualitas tanah dan produksi tanaman (Anonim, 2006). Pada umumnya suplai unsur hara memegang peran penting untuk membangun tubuh tanaman. Nitrogen, Fosfor, dan Kalium adalah unsur makro yang sangat penting bagi kehidupan tanaman. Unsur N dapat mempercepat pertumbuhan dan memberikan hasil yang lebih besar, mendorong pertumbuhan vegetatif seperti daun, batang dan akar yang mempunyai peranan penting dalam beberapa tanaman. Unsur P sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman, yaitu berfungsi dalam metabolisme sel, menstimulir pertumbuhan, perkembangan perakaran tanaman, memperbaiki kualitas hasil, dan mempercepat masa pematangan. Unsur K bagi tanaman berperan dalam metabolisme air tanaman, mempertahankan turgor, dan membentuk batang yang kuat (Abidin et al., 2002). Pupuk berdasarkan kandungan unsur haranya dibagi menjadi 2 golongan, yaitu (Maas, 1996) : 1. Pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara (misalnya: Urea, ZK, dan TSP). 2. Pupuk majemuk, yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu macam unsur hara (misalnya : DAP). Pupuk majemuk mengandung dua atau lebih hara tanaman (makro maupun mikro). Banyak sekali pupuk majemuk yang beredar di pasaran baik untuk pertanian, perkebunan, pertanaman, hidrofonik, maupun khusus untuk tanaman anggrek. Pupuk yang ditujukan untuk komoditas yang bernilai tinggi umumnya mengandung banyak hara tanaman terutama N,P,dan K (Rosmarkam et al., 2002). Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua 88

untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini (Anonim, 2010). Pupuk anorganik mempunyai beberapa kebaikan di samping keburukan. Kebaikan-kebaikan pupuk anorganik adalah dapat memberikan pada tanaman sejumlah unsur hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, mudah larut dalam air sehingga unsur hara yang dikandungnya mudah tersedia tersedia bagi tanaman, unsur hara yang diperlukan dapat diberikan dalam komposisi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dapat diberikan pada saat yang tepat sesuai dengan tingkat pertumbuhan tanaman, dan pemakaiannya lebih praktis, demikian pula pengangkutannya lebih mudah karena konsentrasinya tinggi (Rauf et al., 2000).

89

II. METODOLOGI Praktikum Kesuburan Tanah Acara VII yang berjudul Pengaruh Pemupukan dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Oktober 2012 di rumah kaca Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanah. Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputipot plastik, alat tulis, penggaris, oven, dan gunting. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain tanah lapis olah, pupuk NPK, pupuk organik, dan benih jagung. Langkah kerja yang dilakukan pertama kali adalah tanah lapis olah diambil di lahan pertanian, kemudian digemburkan dan dimasukan ke dalam pot plastik 6 L yang berlubang di bagian bawahnya. Setiap pot ditanami 3 benih jagung. Setelah tumbuh dipilih 1 tanaman yang terbaik untuk dipelihara. Ditambahkan air secukupnya (dijaga sekitar kapasitas lapangan) dilakukan setiap hari agar tanaman tumbuh dengan baik. Kemudian pada masing-masing pot dibuat perlakuan yaitu (a) tanpa pupuk (kontrol), (b) +NPK 0,5 sendok teh, (c) pupuk organik 100 gram, dan (d) +NPK 0,5 sendok teh + pupuk organik 100 gram. Pupuk NPK diberikan saat usia tanaman 1 minggu, sedangkan pupuk organik dicampur merata dengan tanah pada saat persiapan. Pengamatan dilakukan setiap minggu, dicatat tinggi tanaman, jumlah daun dan kenampakan visual dari tanaman tersebut untuk setiap perlakuan. Pada akhir percobaan tanaman dipotong tepat pada pangkal batangnya. Ditimbang bobot segar dan bobot kering berangkasan. Bobot kering diperoleh setelah jaringan tanaman tersebut dioven pada temperatur 60 C selama >48 jam.

90

III. HASIL PENGAMATAN

Tinggi tanaman minggu kePerlakuan 1 (cm) 2 30, Tanpa pupuk 5,11 13,2 + Pupuk organik + Pupuk organik dan pupuk NPK 5 15,1 + Pupuk NPK 7 1 5 11,2 8 46, 50 2 26, 4 5 40, 8 36, 6 44, 3 35,

Tabel 7.1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung.

Jumlah daun minggu kePerlakuan 1 Tanpa pupuk + Pupuk organik + Pupuk organik dan pupuk NPK + Pupuk NPK 4 4 4 5 5 5 2 3 (helai) 2 4 5 3 4 4

Tabel 7.2. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Jagung. 91

Warna daun minggu kePerlakuan 1 Tanpa pupuk + Pupuk organik + Pupuk organik dan pupuk NPK + Pupuk NPK + ++ ++ ++ ++ ++ + + 2 ++ ++ 3 ++ ++

Tabel 7.3. Hasil Pengamatan Warna Daun Tanaman Jagung (Tanda + menunjukkan tingkat kehijauan daun.

92

IV. PEMBAHASAN Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun yang anorganik dengan maksud untuk menganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor keliling atau lingkungan yang baik. Pupuk juga merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil panen. Pemupukan terhadap satu pertanaman berarti menambahkan/menyediakan unsur hara untuk tanaman. Dengan demikian program pemupukan berimbang dapat saja menggunakan pupuk tunggal (Urea/ZA, TSP/SP-36 dan KCl) dan atau pupuk majemuk (Chemical process atau Physical Blending). Pemupukan dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi jumlah kebutuhan hara yang tidak sesuai di dalam tanah sehingga produksi meningkat. Hal ini berarti penggunaan pupuk dan input lainnya diusahakan agar mempunyai efisiensi tinggi. Keefisienan pupuk adalah jumlah kenaikan hasil yang dapat dipanen atau parameter pertumbuhan lainnya yang diukur sebagai akibat pemberian satu satuan pokok atau hara. Pemupukan meningkatkan produktivitas tanaman, sehingga apabila tanaman yang diberi tambahan pupuk mengalami penurunan kesuburan berarti pemupukan yang dilakukan tergolong gagal. Hal ini tentu saja menyebabkan kerugian ganda bagi petani. Karena disamping petani mengeluarkan dana lebih untuk pembelian pupuk, juga kerugian akibat penurunan kualitas hasil pertanian mereka. Aplikasi pupuk organik pada tanah selain dapat meningkatkan kesuburan tanah, juga menambah unsur hara mikro dalam tanah, menggemburkan tanah, memperbaiki kemasaman tanah (meningkatkan PH tanah), memperbaiki porositas tanah dan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyediakan oksigen bagi perakaran tanaman. Yang lebih penting dari itu semua, penggunaan pupuk organik akan menjaga tanah sebagai tempat tumbuh tanaman tetap sehat. Aplikasi pupuk organik pada media tanam dapat sebagai sumber hara, memperbaiki sruktur, permeabilitas, daya ikat lengas, mengandung mikrobia dalam jumlah cukup yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik, dan dapat meningkatkan KPK tanah. Sedangkan pupuk organik memasok berbagai macam hara terutama berupa senyawa organik berkonsentrasi rendah yang tidak mudah larut. Karena memasok hara dalam konsentrasi rendah dan tidak mudah larut dan diperlukan waktu yang lebih lama bagi tanaman untuk menyerap pupuk organik dibanding 93

dengan pupuk anorganik. Namun dapat memberikan hasil yang baik dalam jangka panjang. Dalam praktikum ini terlihat bahwa perlakuan dengan pupuk organik mempunyai kenampakan visual yang baik daripada perlakuan yang lain yaitu hijau tua. Pupuk yang akan digunakan adalah pupuk NPK sebab memiliki unsur-unsur lengkap yang dibutuhkan oleh tanaman. Nitrogen merupakan salah satu unsur hara yang sangat penting dan dapat disediakan melalui pemupukan. Tanaman menyerap unsur ini terutama dalam bentuk NO3-, namun bentuk lain yang dapat juga diserap adalah NH4+ dan urea (CO(NH2)2) dalam bentuk NO3. Nitrogen yang tersedia bagi tanaman dapat mempengaruhi pembentukan protein, dan disamping itu unsur ini juga merupakan bagian yang integral dari klorofil.Bersama-sama N dan K tergolong ke dalam unsur hara utama. Phosphor terdapat di dalam setiap tanaman, walaupun jumlahnya tidak sebanyak N dan K. Unsur ini terutama diserap tanaman dalam bentuk orthophosphate primer, H2PO4-. Kalium diserap tanaman dalam bentuk ion K+, dan dijumpai di dalam tanah dalam jumlah yang bervariasi, namun jumlahnya dalam keadaan tersedia bagi tanaman biasanya kecil. Ketiga unsur N, P, dan K mempunyai peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, dimana ketiga unsur ini saling berinteraksi satu sama lain dalam menunjang pertumbuhan tanaman, unsur nitrogen dapat diperoleh dari pupuk Urea dan ZA. unsur P dari pupuk TSP/SP-36, sedangkan K dalam KCI dan Z Unsur N adalah merupakan unsur yang cepat kelihatan pengaruhnya terhadap tanaman. Peran utama unsur ini adalah merangsang pertumbuhan vegetatif (batang dan daun), meningkatkan jumlah anakan, dan meningkatkan jumlah bulir atau rumpun. Kurang unsur N menyebabkan pertumbuhannya kerdil, daun tampak kekuningkuningan, dan sistem perakaran terbatas. Kelebihan unsur N menyebabkan tanaman adalah pertumbuhan vegetatif memanjang (lambat panen), mudah rebah, menurunkan kualitas bulir, dan respon terhadap serangan hama-penyakit. Secara detail fungsi posfor dalam pertumbuhan tanaman sukar di utarakan, namun demikian fungsi-fungsi utama posfor dalam pertumbuhan tanaman adalah memacu terbentuknya bunga, menurunkan aborsitas, perkembangan akar halus dan akar rambut, memperkuat jerami sehingga tidak mudah rebah, dan memperbaiki kualitas gabah. Kekurangan posfor menyebabkan pertumbuhan kerdil, jumlah anakan sedikit, dan daun meruncing berwarna hijau gelap.

94

Kalium merupakan satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman. Peranan utama kalium dalam tanaman ialah sebagai aktivator berbagai enzim. Dengan adanya kalium yang tersedia dalam tanah menyebabkan ketegaran tanaman terjamin, merangsang pertumbuhan akar, tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit, memperbaiki kualitas bulir, dan dapat mengurangi pengaruh kematangan yang dipercepat oleh posfor. Kekurangan Kalium menyebabkan pertumbuhan kerdil, daun kelihatan kering dan terbakar pada sisi-sisinya, menghambat pembentukan hidrat arang pada biji, permukaan daun memperlihatkan gejala klorotik yang tidak merata, dan munculnya bercak coklat mirip gejala penyakit pada bagian yang berwarna hijau gelap. Kelebihan kalium dapat menyebabkan daun cepat menua sebagai akibat kadar magnesium daun dapat menurun, kadang-kadang menjadi tingkat terendah sehingga aktifitas fotosintesis terganggu.
60 Tinggi tanaman (cm) 50 40 30 20 10 0 1 2 Minggu ke3 Tanpa pupuk + Pupuk organik + Pupuk organik dan pupuk NPK + Pupuk NPK

Grafik 7.1. Tinggi Tanaman

Berdasarkan grafik 1 terlihat bahwa tanaman jagung yang diberi perlakuan pupuk NPK lebih tinggi pada minggu ke 3 dari pada perlakuan lainnya. Kemudian perlakuan yang baik pada pertumbuhan tinggi lainnya bagi tanaman jagung adalah pupuk organik, diikuti oleh pupuk NPK + pupuk organik kemudian tanpa pupuk (kontrol). Pada perlakuan dengan pupuk NPK paling baik bagi pertumbuhan tanaman jagung karena peran utama unsur ini adalah merangsang

95

pertumbuhan vegetatif (batang dan daun), meningkatkan jumlah anakan, dan meningkatkan jumlah bulir atau rumpun. Sehingga perlakuan dengan pupuk NPK lebih baik.

6 5 Jumlah Daun 4 3 2 1 0 Tanpa pupuk + Pupuk organik + Pupuk organik dan pupuk NPK Perlakuan + Pupuk NPK Minggu ke-1 Minggu ke-2

Histogram 7.1. Jumlah Daun Berdasarkan diagram 1 terlihat bahwa tanaman jagung yang diberi perlakuan pupuk NPK dan perlakuan pupuk NPK + pupuk organik jumlah daunnya lebih banyak pada minggu ke 3 dari pada perlakuan pupuk organik dan kontrol. Pada perlakuan dengan pupuk NPK paling baik bagi pertambahan jumlah daun pada tanaman jagung karena peran utama unsur ini adalah merangsang pertumbuhan vegetatif (batang dan daun), meningkatkan jumlah anakan, jumlah daun dan meningkatkan jumlah bulir atau rumpun. Sehingga perlakuan dengan pupuk NPK lebih baik pada pertambahan jumlah daun. Warna daun tanaman jagung pada semua perlakuan sama tingkat kehijauannya pada minggu ke-3, hanya saja perlakuan pupuk NPK menunjukkan warna hijau yang lebih pekat mulai minggu ke-1. Hal ini berbeda dengan perlakuan lain yang menunjukkan warna daun hijau pekat mulai minggu ke-2.

96

V. KESIMPULAN 1. Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun

yang anorganik dengan maksud untuk menganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor keliling atau lingkungan yang baik. 2. Penambahan pupuk menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan

dan pertambahan jumlah daun tanaman jagung. 3. Tanaman jagung yang diberi perlakuan pupuk NPK tumbuh lebih baik daripada

perlakuan lainnya. 4. Penggunaan pupuk harus memperhatikan jenis tanaman, umur tanaman, tipe

perakaran tanaman, iklim, ketersediaan air, jenis tanah dan jenis pupuk yang digunakan.

97

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z, N. Nurtika dan Suwandi. 2002. Pengaruh pengapuran dan pemupukan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil bayam cabut. Buletin Penelitian Hortikultura 18: 48-55. Anonim. 2006. Teknologi Pemupukan. <http://primatani.litbang.deptan.go.id/>. Diakses tanggal 10 November 2012. Anonim. 2010. Jagung. <http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung>. Diakses tanggal 10 November 2012. Foth. 1988. Soil Elementary. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Maas, Azwar. 1996. Ilmu Tanah Dan Pupuk. Akademi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta, Yogyakarta.

Rauf, A.W., T. Syamsudin, dan S.R. Sihombing. 2000. Peranan pupuk NPK pada tanaman padi. Penelitian dan Pengembangan Pertanian Irian Jaya 10 : 1-9.

Rosmarkam, A dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisus, Yogyakarta.

98

LAMPIRAN

99

ACARA VIII MANAJEMEN KESUBURAN TANAH

ABSTRAKSI
Praktikum Kesuburan Tanah yang berjudul Manajemen Kesuburan Tanah ini dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2012 di Desa Bantengan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Praktikum mengenai Manajemen Kesuburan Tanah ini bertujuan untuk mengetahui cara memelihara cara memelihara kesuburan tanahyang dilakukan oleh petani. Metode yang digunakan adalah dengan cara observasi (pengamatan langsung), wawancara pada narasumber, pengisian lembar pengamatan, dokumentasi serta dilanjutkan dengan pembuatan makalah dan slide unuk presentasi. Alat-alat yang digunakan adalah lembar pengamatan, kamera digital dan laptop. Hasil dari pengamatan ini adalah cara manajemen kesuburan tanah oleh petani untuk memelihara kesuburan tanahnya. Dari hasil pengamatan diperoleh lembar pengamatan, lembar hasil wawancara, dan foto bersama dengan narasumber.

I. PENDAHULUAN A. Latar belakang

Dalam bidang pertanian mengusahakan tanaman dengan hasil yang tinggi secara kuantitas dan kualitas erat kaitannya dengan media tanam yaitu tanah. Tanah merupakan media penyedia unsur hara bagi tanaman, namun dari tanah ini juga mampu membuat tanaman sakit. Tanah yang kekurangan unsur hara atau terdapat patogen akan mengakibatkan tanaman sakit. Tanaman yang sakit dapat menurunkan hasil tanaman secara kuantitas dan kualitas. Maka dari itu manejemen kesuburan tanah perlu dilakukan. Manajemen kesuburan tanah sendiri dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemupukan adalah usaha memberikan bahan organik maupun anorganik ke dalam tanah dengan tujuan mempertahankan produktivitas lahan. B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui cara memelihara kesuburan tanah yang dilakukan oleh petani.

100

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak di permukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan lingkungan, yaitu bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan makro), topografi, dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat panjang, yang dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik, kimia, biologi dan morfologi (Sugeng W, 2005). Tanah juga sebagai sumber unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Berdasarkan fungsi spesifik di dalam tanaman, ada 16 unsur hara yang mutlak dibutuhkan tanaman disebut unsure hara esensiil. Dari 16 unsur hara esensiil tersebut ada 13 unsur yang diambil tanaman dari tanah, sedangkan lainnya yaitu C, H dan O diambil dari udara dan air. Konsentrasi ketigabelas unsur tersebut bervariasi dan berubah-ubah berdasarkan tempat dan waktu (Bohn et al, 1979). Tanah juga merupakan media yang sangat baik untuk mendaur ulang dan mengurangi sifatsifat meracun dari bahan organik. Juga dapat mendaur ulang banyak unsur dan gas-gas global. Karena kemampuan tanah tersebut maka hingga sekarang, tanah menjadi alternatif pertama untuk pembuangan limbah yang sangat murah. Tanah yang dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik tanah dikatakan tanah tidak subur atau istilah populer sekarang adalah tanaman sakit. Sehingga usaha-usaha untuk menyehatkan tanah sangat penting untuk kelangsungan hidup di muka bumi ini (Hardjowigeno, 1993). Tanah yang sehat adalah tanah yang mempunyai produktifitas tanah yang tinggi. Produktifitas tanah sendiri merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman di bawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan produk tanaman yang baik dan menguntungkan dapat dikatakan tanah produktif. Dan tanah yang produktifitas didukung adanya kesuburan tanah (Sirrapa et al, 2001). Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah yang menyediakan unsurunsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman, dalam bentuk senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman, dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu apabila suhu dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya mendukung pertumbuhan normal tanaman. Maka dari itu, manajemen kesuburan tanah sangat penting dilakukan oleh petani untuk menjaga kemampuan dan kualitas tanah (Sugeng W, 2005).

101

III.

METODOLOGI

Praktikum Kesuburan Tanah Acara 10 mengenai Manajemen Kesuburan Tanah dilaksanakan pada hari Minggu, 21 Oktober 2012, di Desa Bantengan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Alat-alat yang digunakan adalah lembar pengamatan, kamera digital dan laptop. Cara kerja dari praktikum ini adalah dilakukan secara kelompok datang pada lahan pertanian. Pengamatan langsung (observasi) dilakukan kelompok di lahan petani. Perlakuan wawancara narasumber, dan mengisi lembar pengamatan dan penelusuran data terkait. Kemudian pengamatan langsung diabadikan lewat dokumentasi yang dicantumkan pada lembar lampiran. Hasl pengamatan dan wawancara dituangkan lewat makalah dan slide yang digunakan unuk presentasi. Di dalam makalah akan dilengkapi pembahasan mengenai apa saja yang dikerjakan petani untuk menjaga kesuburan tanah.

102

IV. A. Nama Umur Pekerjaan Status Profil petani : Sukimin Susilo : 63 tahun

HASIL PENGAMATAN

: Pamong desa : Bapak dari 3 anak

Mengelola tanah begkok sebagai gajinya B. 1. Hari Dusun Kecamatan Sketsa lokasi Lembar pengamatan Umum : Minggu : : Banguntapan : Tanggal : 21 Oktober 2012 Desa Waktu : 09.00-11.00 WIB

: Bantengan

Kabupaten : Bantul

Altitude (Ketinggian tempat) Kelerengan Fisiografi Topografi Erosi Landuse Irigasi Cuaca

: 120 m dpl : 0 - 2% : dataran : datar : ringan

: sawah dan tegalan : sederhana : cerah, panas 103

Jeluk mempan Jenis tanah

: 0-20 cm : tanah regosol

2. Panjang

Petak yang diamati : 80 m, lebar : 10 m :2m : bagus

Jarak lahan dari jalan aspal Akses ke jalan besar

3. Lebar

Pematang : 25 cm, Tinggi : 25 cm, Panjang : 10 m x 8 m

Tanaman di pematang: Cabai lokal pribadi, jika sisa baru dijual Cabai kombinasi pribadi, jika sisa baru dijual Terong pribadi, jika sisa baru dijual , tinggi : 60 cm, jarak tanam : 100cm, fungsi: memenuhi kebutuhan , tinggi : 70 cm, jarak tanam : 60 cm, fungsi: memenuhi kebutuhan , tinggi : 50 cm, jarak tanam : 40 cm, fungsi: memenuhi kebutuhan

4.

Keadaan tanah permukaan (top soil)

Tekstur (rabaan) : kasar (pasir) Warna tanah Struktur Kelengasan : kelabu : gumpal : lembab

5. Varietas

Lahan ada tanaman : Padi IR 64 Jarak tanam Umur panen : 25 cm x 25 cm : 3 bulan

Umur sekarang : 5 minggu Pengolahan tanah Pupuk hijau : traktor 2 roda : 0,5

ton/ha, jenis: jerami, daun-daunan ton/ha, jenis: kotoran ayam hst, 104 Kondisi: segar

Pupuk kandang : 1 Urea

: 6 kg/ha, diberikan : 14

6.

Tidak ada tanaman

Ditanam tgl: Sebulan lagi Terdapat: mulsa jerami dan jerami dibenamkan Bekas jerami yang dibakar menyebar, Pupuk kandang disebar Ditumbuhi gulma jenis rumputan Jerami dimanfaatkan untuk: dikembalikan lagi dalam tanah sebagai pupuk alami dan ada yang dijadikan mulsa 7. Pola tanam (Kombinasi antara tumpang sari dan rotasi)

Tumpang sari : suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dalam waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur Rotasi tanaman : menanam tanaman secara bergulir di suatu lahan pertanian. tanaman ditanam secara berselang seling untuk memberikan waktu pada tanah mengembalikan kesuburannya.

8.

Produktivitas , hasil : 420 ton/ha gabah kering

MT I, bulan : September

105

V.

PEMBAHASAN

Jenis tanah yang berada di banguntapan, tempat dimana kami melakukan wawancara yaitu tanah regosol. Tanah regosol merupakan jenis tanah terbanyak di daerah kecamatan banguntapan. Untuk orang-orang yang ingin melakukan budidaya tanaman di daerah ini, perlu mengetahui jenis tanah. Karena tanah berfungsi sebagai sumber unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Berdasarkan fungsi spesifik di dalam tanaman, ada 16 unsur hara yang mutlak dibutuhkan tanaman disebut unsure hara esensiil. Dari 16 unsur hara esensiil tersebut ada 13 unsur yang diambil tanaman dari tanah, sedangkan lainnya yaitu C, H dan O diambil dari udara dan air. Konsentrasi ketigabelas unsur tersebut bervariasi dan berubah-ubah berdasarkan tempat dan waktu. Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak di permukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan lingkungan, yaitu bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan makro), topografi, dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat panjang, yang dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik, kimia, biologi dan morfologi. Tanah regosol pun dapat dibedakan secara sifat fisik, kimia dan biologi (Hardjowigeno, 1993). Berdasarkan sifat fisik dari tanah regosol yaitu mempunyai tekstur tanah yang kasar, struktur tanah menggumpal menggupal menyudut, warna tanah keabuan karena mengandung pasir, kelengasan kering karena struktur tanah yang menggumpal membuat air mudah menguap atau mengalami perlindian. Sifat kimia tanah regosol secara teori yaitu mempunyai pH 6-7, konsistensi tanah teguh pada saat kering dan lekat pada saat basah, mempunyai bahan organik yang banyak, mempunyai kandungan Mn yang rendah, kandungan kapur yang tinggi, umumnya cukup mengandung unsur P dan K, tetapi kekurangan unsur N. Pada tanah regosol mempunyai biologi tanah dengan total mikroorganisme tanah yang cukup banyak, karena terdapat suplai energi yang tersedia pada tanah, dengan teori di tanah terdapat bahan organik yang banyak (Hardjowigeno, 1993).. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah adalah sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Kesuburan tanah ditentukan dengan adanya ketersediaan unsur hara yang cukup dan berimbang, kondisi tata tanah air yang optimal, kondisi tata udara tanah yang optimal, dan kondisi mikrobia tanah yang baik. Sifat fisik yaitu tekstur dan struktur tanah mempengaruhi jumlah air dan udara. Sifat kimia yang memunyai pH terlalu asam atau basa dapat menghambat

106

ketersediaan unsur hara yang penting bagi tanaman. Dan keberadaan mikroorganisme sangat mendukung tersedianya kondisi tata uara tanah yang optimal bagi tanaman (Sugeng, 2005). Tanaman yang dibudidayakan pada daerah ini adalah Padi IR 64, dengan alasan varietas ini adalah varietas yang tahan pada serangan hama. Padi dipilih oleh sang narasumber karena dapat memenuhi kebutuhan mereka pribadi sebagai bahan makanan buat keluarga beliau. Beliau menerapkan pola tanam yang rotasi dan tumpang sari. Pola tanama rotasi dipilh beliau untuk menjaga dan mengembalikan kesuburan tanah. Sedangkan tumpang sari dipilih supaya menekan serangan hama, dan memanfaatkan lahan yang kosong disela-sela tanaman yang akhirnya dapat digunakan untuk tambahan memenuhi kebutuhan pribadi. Usaha yang dilakukan petani menjaga kesuburan tanah yaitu menggunakan pupuk urea untuk mengembalikan unsur N, pupuk kompos untuk bahan pangan tanaman, pupuk kandang, pola tanam rotasi, pengairan yang cukup dan membalik tanah untuk memperbaiki aerasi. Semua yang diusahakan petani sudah sesuai dengan teori, namun masih ada tambahan saran dari kelompok kami yaitu ada perlunya usaha untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Dengan penggunaan pestisida yang berlebihan selain mengakibatkan hama dan penyakit menjadi resisten, juga dapat merusak sifat biologi tanah. Akan bannyak mikroorganisme sebagai dekomposr dan memperbaiki tanah akan ikut mati juga, sehingga dapat mengancam kesuburan tanah itu sendiri.

107

VI. A. Kesimpulan

PENUTUP

Cara manajemen kesuburan tanah yang dilakukan oleh petani hampir sama dengan teori. Dengan pemupukan sesuai kebutuhan, pola tanam rotasi, pengairan yang cukup, pengolahan tanah secara teknis. Saran yang dianjurkan adalah mengurangi penggunaan pestisida. B. Saran

Pada saat pengambilan sampel seharusnya dilakukan pada ketinggian tanah yang sama, sehingga pada pemilihan lahan untuk pengambilan sampel sebaiknya dipilih tanah lapang yang luas dan memiliki kedataran yang sama dan tidak berbukit.

108

DAFTAR PUSTAKA Bohn, H. L. Brain L. McNeal and George A. OConnor. 1979. Soil Chemistry. A Willey Interscience Publication. John Willey & Sons. Toronto. Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta. Pang, X. P., Letey. 2000. Organik Farming : Challenge of Timing Nitrogen Availability to Crop Nitrogen Requirements. Soil Sci. Soc. Amer. J. 64:247-253. Sirrapa, M. P.,S. Sabiham, D. Sopandie dan Suwarno. 2001. Studi Kalibrasi Tanah Hara N dalam Penentuan Batas Kritis Kelas N Total Tanah, dan Rekomendasi Pemupukan N pada Tanaman Jagung. J. Tanah Tropika. 13: 23-35. Sugeng, Winarso. 2005. Kesuburan Tanah : Dasar Kesehatan Tanah dan Kualitas Tanah. Penerbit Gava Media. Yogyakarta.

109

ACARA IX PENCUPLIKAN TANAH ABSTRAKSI


Praktikum kesuburan tanah dengan acara pencuplikan tanah ini dilakukan di daerah Pathuk, Gunung kidul. Jenis tanah yang diambil sampel adalah tanah ultisol. Tanah yang berwarna merah ini mengandung banyak lempung dan sangat kering saat pengambilan contoh sehingga kami sedikit kesulitan saat pengambilan. Metode pengambilan yang dilakukan ialah dengan cara random pada beberapa titik, kemudian hasil dari berbagai tempat pengambilan dijadikan satu untuk menjadi contoh komposit tanah.

I. A. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN

Dalam pengembangan lahan pertanian perlu adanya penelitian untuk mengetahui sifatsifat dan keadaan tanah. Analisis tanah memberikan data sifat fisika dan kimia serta status unsur hara di dalam tanah. Selain untuk uji tanah, analisis tanah juga diperlukan untuk klasifikasi tanah dan evaluasi lahan. Uji tanah digunakan dalam penelitian kesuburan agar dapat memberikan rekomendasi. Tanah adalah benda alami di permukaan bumi yang terbentuk dari bahan induk tanah (bahan organik dan atau bahan mineral) oleh proses pembentukan tanah dari interaksi faktorfaktor iklim, relief/ bentuk wilayah, organisma (mikro-makro) dan waktu, tersusun dari bahan padatan (organik dan anorganik), cairan dan gas, berlapis-lapis dan mampu mendukung pertumbuhan tanaman. Batas atas adalah udara, batas samping adalah air dalam > 2 meter atau singkapan batuan dan batas bawah adalah sampai kedalaman aktivitas biologi atau padas yang tidak tembus akar tanaman, dibatasi sampai kedalaman 2 meter. Pencuplikan tanah dilakukan untuk mendapatkan sampel tanah dari suatu lahan untuk diteliti lebih lanjut tingkat kesuburannya. Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah. Analisis kimia dari contoh tanah yang diambil diperlukan untuk mengukur kadar hara, menetapkan status hara tanah dan dapat digunakan sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan kapur secara efisien, rasional dan menguntungkan. Namun, hasil uji tanah 110

tidak berarti apabila contoh tanah yang diambil tidak mewakili areal yang dimintakan rekomendasinya dan tidak dengan cara benar. Oleh karena itu pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah.

B. TUJUAN Mengetahui cara mengambil cuplikan tanah untuk uji kesuburan tanah

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanah merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber kehidupan manusia yaitu air, udara dan unsur hara. Tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe) dan mangan (Mg) merupakan beberapa unsur hara mikro yang esensial bagi tanaman karena walaupun diperlukan dalam jumlah relatif sedikit tapi sangat besar peranannya dalam metabolisme di dalam tanah (Syukur, 2002). Kesuburan tanah diberi batasan sebagai kemampuan tanah menyediakan unsur hara pada takaran dan keseimbangan tertentu secara sinambung, untuk menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor pertumbuhan lainnya dalam keadan menguntungkan. Tanah dikatakan subur bila mampu memacu pertumbuhan dan perkembangan sampai aras yang memungkinkan fungsi-fungsi pertumbuhan dan perkembangan optimum tanaman

(Poerwowidodo, 1993). Contoh tanah dapat diambil setiap saat, namun tidak boleh dilakukan beberapa hari setelah pemupukan. Keadaan tanah saat pengambilan contoh tanah pada lahan kering sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah sedang yaitu keadaan tanah kira-kira cukup untuk pengolahan tanah). Sedang pengambilan pada lahan sawah sebaiknya diambil pada kondisi basah (BPPT, 2006). Setelah dilakukan deskripsi tentang tanah maka diambil sampel untuk dianalisis di laboratorium. Dalam pengambilan sampel tanah sebaiknya dari lapisan yang terbawah kemudian disusul lapisan di atasnya. Sampel yang diambil sebaiknya di plastik tertutup dan diberi notasi sesuai kode profil dan lapisannya. Mengenai macam unsur dianalisis tergantung untuk tujuan studi (Purwanto, 2005). Dalam analisis tanah, pengambilan contoh tanah harus mewakili suatu areal tertentu. Contoh tanah yang dianalisis untuk suatu jenis hara hanya memerlukan beberapa gram saja. Oleh 111

karena itu kesalahan dalam pengambilan contoh tanah menyebabkan kesalahan dalam evaluasi dan interpretasi. Pengambilan contoh tanah untuk mengetahui status hara (kesuburan tanah) menggunakan sistem composite sample, yaitu pencampuran contoh yang diambil dari areal yang dikehendaki. Contoh tanah tersebut mewakili areal yang relatif agak seragam dalam hal jenis tanah, topografi, kemiringan, dan bahan induk (Rosmarkam dan Yuwono, 2002). Pengambilan contoh tanah umumnya dengan berjalan sambil mengambil contoh tanah dengan mengiris tipis sedalam sekitar 25 cm (daerah perakaran). Suatu areal diambil sebanyak 10 - sampai 20 contoh (umumnya diambil dengan jumlah ganjil) misalnya sebanyak 15 lokasi. Tanah dari 15 lokasi tersebut dikumpulkan dan dicampur sehomogen mungkin. Dari campuran tanah yang dianggap homogen tersebut diambil contoh untuk dianalisis. Sebagian tanah yang berasal dari campuran inilah yang digunakan untuk analisis (Hidayat, 2003). Pengolahan tanah penting bagi pertumbuhan tanaman untuk mencapai hasil yang tinggi. Pengolahan tanah diperlukan bila kepadatan, kekuatan dan aerasi tanah tidak mendukung penyediaan air dan penggembangan akar. Perlu tidaknya tanah diolah harus dilihat dari kepadatan, kekuatan dan aerasi tanah (Soame dan Pedgin, 1975).

112

III.

METODOLOGI

Praktikum Kesuburan Tanah acara Pencuplikan Tanah ini dilaksanakan pada hari Sabtu 6 Oktober 2012, yang bertempat di daerah Pathuk, Kabupaten Gunung Kidul. Adapun alat yang digunakan sekop kecil dan karung atau plastik. Sedangkan bahan yang digunakan adalah contoh tanah pada suatu hamparan. Cara kerja yang dilakukan yaitu ditentukan lahan yang akan diamati kesuburannya. Contoh tanah komposit diambil setelah panen atau menjelang pengolahan tanah yang pertama kali. Cuplikan tanah komposit dengan sub cuplikan 16-20 yang diambil secara acak. Setelah itu, rumput-rumput, batu-batuan atau kerikil, sisa-sisa tanaman atau bahan organik segar/seresah yang terdapat di permukaan tanah disisihkan/dibersihkan. Pada saat pengambilan contoh, sebaiknya tanah dalam kondisi lembab tidak terlalu basah atau terlalu kering. Contoh tanah tunggal diambil menggunakan sekop dari lapisan olah (0-20 cm). Contoh tanah tunggal yang diambil dengan sekop diusahakan sama banyak (kedalaman dan ketebalannya) dari satu titik dengan titik lainnya, misalnya sekitar setengah kg dari masing-masing titik. Contoh-contoh tanah tunggal dari masing-masing titik dicampur dan diaduk sampai merata, jika ada sisa tanaman, akar, atau kerikil dibuang. Untuk selanjutnya, tanah siap untuk dianalisis.

113

IV.

HASIL PENGAMATAN

Jenis Tanah Lokasi Tanggal Pengambilan Tekstur (rabaan) Warna tanah

: Ultisol : Pathuk, Gunungkidul : : halus : merah

Ultisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur lempung dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif rendah serta kejenuhan basa <35%. Ultisol merupakan tanah yang memiliki horizon argilik dimana terdapat akumulasi lempung pada horizon tersebut, berwarna merah karena banyak mengandung oksida-oksida besi.

114

V.

PEMBAHASAN

Pengambilan contoh tanah dalam praktikum ini dilakukan secara random. Cara pengambilan ini digunakan karena dianggap cara inilah yang tepat untuk mewakili suatu hamparan lahan tertentu. Selain cara pengambilan sampel tanah dengan cara random juga terdapat cara yang lain seperti: diagonal, zig-zag, dan linear. Tanah yang diambil merupakan tanah pada lapisan tanah olah, yaitu tanah yang berada pada kedalaman antara 0-20 cm dari permukaan tanah. Digunakan tanah pada lapisan tersebut, karena pada lapisan tanah olah ini sangat erat pengaruhnya terhadap ketersediaan hara bagi tanaman. Pada dasarnya metode pencuplikan tanah dibagi menjadi empat menurut pola sebaran titik yang diambil, yaitu: 1. Linear. Pola pengambilan sampel tanahnya berupa garis lurus. 2. Diagonal. Dilakukan dengan cara menetapkan 1 titik sebagai titik pusat pada lahan yang akan diambil contoh tanahnya. Kemudian menentukan titik-tititk di sekelilingnya sebanyak 4 titik. Jarak antara setiap titik kurang lebih 50 m diukur dari titik pusat. 3. Acak. Pengambilan contoh tanah secara acak dilaksanakan dengan menentukan titik-titik pengambilan contoh tanah secara acak, tetepi menyebar rata di seluruh bidang tanah yang diwakili. Setiap titik yang diambil mewakili daerah sekitarnya. Persyaratan dan cara pengambilan contoh tanahnya sama seperti metode lainnya. 4. Zig-zag. Cara pengambilan contoh tanah ini dilaksanakan dengan menetukan titik-titik yang akan digunakan sebagai tempat pengambilan contoh tanah. Metode ini memiliki kelebihan dapat mencakup atau mewakili keseluruhan lahan yang dijadikan sampel uji. Pengambilan contoh tanah yang dilakukan di daerah Pathuk tanahnya termasuk jenis tanah Ultisol. Ultisol merupakan tanah yang sudah mengalami perkembangan lanjut. Warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bahan organik yang menyebabkan warna gelap atau hitam, kandungan mineral primer fraksi ringan seperti kuarsa dan plagioklas yang memberikan warna putih keabuan, serta oksida besi seperti goethit dan hematit yang memberikan warna kecoklatan hingga merah. Makin coklat warna tanah umumnya makin tinggi kandungan goethit, dan makin merah warna tanah makin tinggi kandungan hematit Ultisol dapat berkembang dari berbagai bahan induk, dari yang bersifat masam hingga basa. Namun sebagian besar bahan induk tanah ini adalah batuan sedimen masam. 115 Ciri

morfologi yang penting pada Ultisol adalah adanya peningkatan fraksi lempung dalam jumlah tertentu pada horizon seperti yang disyaratkan dalam Soil Taxonomy (Soil Survey Staff 2003). Horizon tanah dengan peningkatan lempung tersebut dikenal sebagai horizon argilik. Horizon tersebut dapat dikenali dari fraksi lempung hasil analisis di laboratorium maupun dari penampang profil tanah. Horizon argilik umumnya kaya akan Al sehingga peka terhadap perkembangan akar tanaman, yang menyebabkan akar tanaman tidak dapat menembus horizon ini dan hanya berkembang di atas horizon argilik. Metode acak digunakan agar komposit tanah mewakili seluruh hamparan yang homogen dari areal tersebut. Sebelum pengambilan contoh tanah, perlu diperhatikan keseragaman areal atau hamparan. Keseragaman tersebut meliputi topografi, tekstur, warna tanah, pertumbuhan tanaman, dan input (pupuk, kapur, bahan organik, dan sebagainya). Hamparan tanah yang homogen tidak mencirikan perbedaan- perbedaan yang nyata, antara lain warna tanah dan pertumbuhan tanaman kelihatan sama.

VI.

PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Pengambilan contoh tanah ini harus mewakili kondisi tanah dalam areal tertentu. 2. Tanah yang diambil sebagai contoh adalah tanah yang berada pada lapisan olah (0-20 cm). 3. Pengambilan contoh tanah ini mewakili areal yang relatif agak seragam dalam hal jenis tanah, topografi, kemiringan, dan bahan induk. 4. Metode yang digunakan adalah acak yang dilakukan pada hamparan lahan yang homogen.

B. SARAN Agar pengambilan sampel dapat mewakili kondisi hamparan, maka harus digunakan metode yang paling tepat, yang disesuaikan dengan kondisi tempatnya.

116

DAFTAR PUSTAKA Bppt. 2006. Cara Pengambilan Contoh Tanah Untuk Analisis (Uji Tanah).

<Http://Www.Sulsel.Litbang.Deptan.Go.Id/Index.Php?Option=Com_Content&View=Arti cle&Id=138:Cara-Pengambilan-Contoh-Tanah-Untuk-Analisis-Uji-Tanah&Catid=48:Panduanpetunjuk-Teknis-Leaflet&Itemid=53>. Diakses Tanggal 6 November 2012. Hidayat, A.2003. Komposisi unsur dalam cuplikan partikulat udara daerah Bandung dan Lembang tahun 1999. Jurnal Sains Dan Teknologi Nuklir Indonesia, Vol. IV (2). Purwanto, B. H. 2005. Hand Out Mata Kuliah Kesuburan Tanah. Jurusan Tanah FakultasPertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Poerwowidodo. 1993. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa, Bandung Soame, B. D, And J.D Pedgin. 1975. Tillage requirement relation to soil physical properties. Soil Science 5: 376-385. Syukur, A.2002. Pengaruh pengenangan terhadap fraksi-fraksi Fe, Mn, Zn, dan Cu pada entisol. Jurnal Ilmu Tanah 3: 10-17. Yuwono, N., dan A. Roesmarkam. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

117

ACARA 10 UJI CEPAT TANAH

ABSTRAKSI
Praktikum Kesuburan Tanah yang berjudul Uji Cepat Tanah ini dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2012 di Laboratorium Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum mengenai Uji Cepat Tanah ini bertujuan untuk mengenal penggunaan perangkat uji tanah sawah secara cepat untuk menentukan kebutuhan pupuk N, P dan K. Metode yang digunakan adalah menggunakan dua perangkat, yaitu PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) dan PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering). Ketiga jenis tanah tersebut diuji menggunakan PUTS dan PUTK. Pada pengujian PUTS, tanah yang diuji adalah Tanah Inseptisol dan tanah Vertisol. Dari kedua jenis tanah tersebut dilakukan pengujian N, P, K dan pH. Pada pengujian PUTK, tanah yang diuji adalah Tanah Inseptisol dan tanah Vertisol. Dari kedua jenis tanah tersebut dilakukan pengujian pH, C-Organik, K dan Kapur. Setelah melakukan pengujian, hasil yang didapat dicocokkan pada tabel rekomendasi yang disediakan dalan satu paket pada PUTK dan PUTS. Data yang didapat adalah dalam pengujian PUTS pada tanah Inseptisol, rekomendasi N yaitu urea 300 kg/ha, rekomendasi P yaitu SP-36 50 kg/ha dan rekomendasi K adalah KCl 50 kg/ha. Dalam pengujian PUTS pada tanah Vertisol, rekomendasi N yaitu urea 200 kg/ha, rekomendasi P yaitu SP -36 100 kg/ha dan rekomendasi K adalah KCl 50 kg/ha. Dalam pengujian PUTK pada tanah Inseptisol, rekomendasi K adalah 50 kg/ha (jagung, kedelai dan padi gogo) dan C-organik 2t/ha. Dalam pengujian PUTK pada tanah Vertisol, rekomendasi K untuk jagung 75 kg/ha, kedelai 100 kg/ha dan padi 75 kg/ha, rekomendasi C-organik 2t/ha, rekomendasi P adalah jagung 250 kg/ha, kedelai 200 kg/ha dan padi 200 kg/ha dan rekomendasi K adalah jagung 6500 kg/ha dan kedelai 1000 kg/ha. Setelah didapatkan data rekomendasi, dapat dibahas dengan teori yang bersangkutan.

I. A. Latar belakang

PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi yang pesat dalam sektor pertanian diikuti dengan pertumbuhan jumlah penduduk, berdampak pada kebutuhan akan pangan dan produk-produk pertanian lain terus meningkat. Untuk menghasilkan produk-produk pertanian perlu adanya usaha menjaga kesuburan tanah. Kesuburan tanah sangat erat kaitannya dengan hasil produksi nantinya. Secara teori kesuburan tanah dapat ditingkatkan dengan program intensifikasi. Intensifikasi dapat dilakukan dengan pemupukan, penggunaan bibit unggul, pengairan, dan pengolahan tanah. Sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian sangat penting untuk mempunyai wawasan dalam memanajemen kesuburan tanah, maka dari itu perlu adanya pembelajaran tentang kesuburan tanah secara teori maupun pengamatan langsung di lapangan.

118

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah mengenal penggunaan perangkat uji tanah sawah secara cepat untuk menentukan kebutuhan pupuk N, P dan K.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu faktor pertumbuhan tanaman adalah unsur hara, pengaruh unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman dapat melalui keberadaannya (bentuk ketersediaan), konsentrasi maupun kesetimbangannya dengan unsur hara lain. Kondisi unsur hara di dalam tanah, baik bentuk, konsentrasi dan kesetimbangannya dengan unsur hara lainnya dalam tanah dapat/mudah dikendalikan, sehingga sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman dan menjaga kualitas tanah atau lingkungan. Unsur hara di dalam tanaman yang mempunyai fungsi spesifik dan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas tanaman tersebut disebut unsur hara esensiil (Hardjowigeno, 1993). Unsur hara tanaman dikatakan esensil jika : 1) unsur hara tersebut dibutuhkan dan berfungsi sangat spesifik dalam pertumbuhan tanaman, 2) jika kondisinya rendah atau tidak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman akan menghambat atau bahkan menyebabkan kematian, 3) karena fungsi di dalam tanaman sangat spesifik sehingga tidak bisa digantikan dengan unsur hara lainnya. Unsur-unsur tersebut ada 16 macam dengan berbagai konsentrasi, yaitu C, H, O (diambil dari udara dan air, ketiga unsur ini mendominasi unsure dalam jaringan tanaman yaitu sekitar 90% dari total); N, P, K (diambil dari tanah, yang selanjutnya disebut unsure hara makro karena dibutuhkan dalam jumlah banyak); Ca, Mg, S (diambil dari tanah yang selanjutnya disebut unsur hara sekunder, karena dibuthkan cukup banyak); Fe, Cu, Mn, Zn, B, Mo, Cl (diambil dari tanah yang selanjutnya disebut unsur hara mikro, karena dibutuhkan dalam jumlah sedikit) (Sirrapa et al, 2001). N merupakan salah satu unsur hara esensiil yang keberadaannya mutlak untuk kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sebagian tanah untuk mencukupi kebutuhan tanaman tersebut perlu diberikan tambahan dalam bentuk pupuk. Kebutuhan akan N di Indonesia selalu meningkat, tanpa pemberian dosis yang tepat dapat mengurangi hasil produksi. Nitrogen mampu menaikkan produksi jika dikombinasikan dengan P dan K. Maka dari itu pengujian kandungan tanah penting, untuk mendapatkan dosis pupuk yang tepat tanah (Sugeng, 2005). 119

III.

METODOLOGI

Praktikum Kesuburan Tanah Acara 10 mengenai Uji Cepat Tanah dilaksanakan pada hari Rabu, 24 Oktober 2012, di Laboratorium Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada , Yogyakarta. Alat-alat yang digunakan adalah Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Bahan yang digunakan adalah tanah inceptisol dan tanah vertisol. Cara kerja dari praktikum ini adalah menggunakan dua perangkat, yaitu PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) dan PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering). Ketiga jenis tanah tersebut diuji menggunakan PUTS dan PUTK. Pada pengujian PUTS, tanah yang diuji adalah Tanah Inseptisol dan tanah Vertisol. Dari kedua jenis tanah tersebut dilakukan pengujian N, P, K dan pH. Pada pengujian PUTK, tanah yang diuji adalah Tanah Inseptisol dan tanah Vertisol. Dari kedua jenis tanah tersebut dilakukan pengujian pH, C-Organik, K dan Kapur. Setelah melakukan pengujian, hasil yang didapat dicocokkan pada tabel rekomendasi yang disediakan dalan satu paket pada PUTK dan PUTS. Setelah didapatkan data rekomendasi, dapat dibahas dengan teori yang bersangkutan.

120

IV.

HASIL PENGAMATAN

1. PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) No 1 Tanah Sawah I Inseptisol pH Agak Masam (pH 5-6) Jenis Tanah Uji N P K Hasil Rendah Tinggi Sedang Rekomendasi Urea 300 kg/ha SP-36 50 kg/ha Pupuk KCl 50 kg/ha KCl+Jerami 5t jerami/ha Sistem drainase konvensional Pupuk N dalam bentuk ZA

2 Tanah Sawah II Vertisol

N P K

Sangat Tinggi Rendah Tinggi

Urea 200 kg/ha SP-36 100 kg/ha KCl 50 kg/ha KCl+Jerami 5t jerami/ha

pH

Netral (pH 6-7)

Sistem drainase konvensional Pupuk N dalam bentuk Urea

Tabel 10.1. Data pengamatan PUTS 2. PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) No 1 Tanah Kering I Inseptisol C-Organik Kapur 2 121 Rendah Netral (pH 6-7) K Tinggi Jenis Tanah Uji pH Hasil Netral (pH 6-7) Jagung -> 50 kg/ha Kedelai -> 50 kg/ha Padi gogo -> 50 kg/ha 2 t/ha Jagung -> 75 kg/ha Rekomendasi

Sedang

Kedelai -> 100 kg/ha Padi gogo -> 75 kg/ha

pH Tanah Kering II Vertisol P C-Organik

Agak Masam (pH 5-6) Rendah

2 t/ha Jagung -> 250 kg/ha

Rendah

Kedelai -> 200 kg/ha Padi gogo -> 200 kg/ha

Kapur

< 4 tetes

Kedelai -> 1000 kg/ha Jagung -> 6500 kg/ha

Tabel 10.2. Data pengamatan PUTK

V.

PEMBAHASAN

PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) adalah alat bantu analisis kadar hara tanah N, P, K dan pH tanah sawah yang dapat digunakan di lapangan dengan cepat, mudah, murah dan akurat. Sedangkan PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) dipakai dan digunakan pada tanah kering. Manfaat PUTS dapat digunakan untuk mengukur status hara N, P, K dan pH tanah sawah secara cepat dan mudah, sebagai dasar penetuan dosis rekomendasi pupuk N, P, K dan ameliorant tanah sawah, berfungsi menghemat penggunaan pupuk, meningkatkan pendapatan petani dan menekan pencemaran lingkungan (Bohn et al, 1979). Prinsip kerja PUTS adalah mengukur kadar hara N, P da K tanah dalam bentuk tersedia, yaitu hara yang larut dan terikat lemahdalam kompleks jerapan koloid tanah. Kadar atau status hara N, P dan K dalam tanah ditentukan dengan cara mengekstrak dan mengukur hara tersedia di dalam tanah. Oleh karena itu, pereaksi atau bahan kimia yang digunakan dalam alat uji tanah ini terdiri atas larutan pengekstrak dan pembangkit warna. Bentuk hara yang diekstrak dengan PUTS untuk nitrogen adalah NO3 dan NH4, untuk fosfat adalah orthophosphate (HPO4, PO43-) dan kalium adalah K+. Pengkuran kadar hara dilakukan secara kuantitatif dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Hasil analisis N, P dan K tanah ini selanjutnya digunakan sebagai kriteria penentuan rekomendasi pemupukan N, P dan K spesifik lokasi untuk tanaman padi sawah dengan produktifitas setara IR-64. 122

Satu unit Perangkat Uji Tanah Sawah terdiri dari; 1) satu paket bahan kimia dan alat untuk ekstraksi kadar N, P, K dan pH, 2) bagan warna untuk penetapan kadar pH N, P dan K, 3) Buku petunjuk Penggunaan serta Rekomendasi Pupuk untuk padi sawah, 4) Bagan Warna Daun (BWD). Rekomendasi pemupukan pada berbagai kelas status hara tanah yang diberikan mengacu pada hasil kalibrasi uji tanah. Sedangkan pada satu perangkat Uji tanah Kering; 1) larutan ekstraksi P, K, bahan organik, pH dan kebutuhan kapur, 2) peralatan pendukung, 3) bagan warna P dan pH tanah, bagan K, kebutuhan kapur dan bahan organic tanah, dan 4) buku petunjuk penggunaan. Pada pengujian PUTS pada tanah Inseptisol diketahui tanah berkandungan unsur N yang rendah, P yang tinggi dan K yang sedang. Mempunyai pH yang agak masam. Secara teori tanah ini memang tidak cocok sebagai persawahan, cocok sebagai perkebunan. Seharusnya kandungan hara yang terkandung tinggi, namun pada sampel kandungan N rendah. Ini dapat disebabkan karena adanya pertanian tanpa olah tanah yang menggunakan tanah terus-menerus sepanjang tahun. Tanah tidak dibiarkan untuk beristirahat memulihkan kandungan unsur hara yang ada, jika memang ingin mempunyai angka produksi yang sama seperti sebelumnya rekomendasi penggunaan pupuk N yang banyak dapat meningkatkan produksi tanaman (Pang et al, 2000). Sedangkan pada tanah vertisol diktahui tanah berkandungan N sangat tinggi, P yang rendah, K yang tinggi dan pH yang netral. Pada umumnya tanah vertisol mempunyai karakteristik unsur hara yang tak berimbang, sering mengalami defisiensi unsur P karena pelapukan batuan yang tak sempurna. pH pada tanah secara teori sangat tinggi, dan perbedaan pada tanah ini bisa saja diakibatkan sering digunakannya untuk pertanaman sawah yang pengairannya

mengakibatkan turunnya pH. Maka dari itu penggunaan PUTS dan PUTK dapat membuat kita mendapatkan dosis yang tepat untuk memberikan unsure hara yang berimbang pada tanah, demi pertumbuhan yang ptimal untuk tanaman. Pupuk anorganik yang pupuk tunggal yaitu pupuk N, P dan K. Pupuk tunggal N yaitu pupuk urea (CO(NH2)2), pupuk ZA atau Ammonium Sulfat, pupuk Amonium Klorida atau NH4Cl, pupuk ASN dan pupuk natrium nitrat. Sedangkan pupuk tunggal P yaitu pupuk superfosfat, pupuk FMP, pupuk Alumunium Fosfat, dan pupuk besi III fosfat. Sedangkan pupuk K tunggal yaitu pupuk kalium klorida dan pupuk ZK. .

123

VI. A. Kesimpulan

PENUTUP

1. Dalam pengujian PUTS pada tanah Inseptisol, rekomendasi N yaitu urea 300 kg/ha, rekomendasi P yaitu SP-36 50 kg/ha dan rekomendasi K adalah KCl 50 kg/ha. 2. Dalam pengujian PUTS pada tanah Vertisol, rekomendasi N yaitu urea 200 kg/ha, rekomendasi P yaitu SP -36 100 kg/ha dan rekomendasi K adalah KCl 50 kg/ha. 3. Dalam pengujian PUTK pada tanah Inseptisol, rekomendasi K adalah 50 kg/ha (jagung, kedelai dan padi gogo) dan C-organik 2t/ha 4. Dalam pengujian PUTK pada tanah Vertisol, rekomendasi K untuk jagung 75 kg/ha, kedelai 100 kg/ha dan padi 75 kg/ha, rekomendasi C-organik 2t/ha, rekomendasi P adalah jagung 250 kg/ha, kedelai 200 kg/ha dan padi 200 kg/ha dan rekomendasi K adalah jagung 6500 kg/ha dan kedelai 1000 kg/ha

B. Saran Penggunaan PUTK dan PUTS adalah salah satu solusi untuk petani yang ingin meningkatkan produksi tanamannya tanpa meracuni tanah.

124

DAFTAR PUSTAKA Bohn, H. L. Brain L. McNeal and George A. OConnor. 1979. Soil Chemistry. A Willey Interscience Publication. John Willey & Sons. Toronto. Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta. Pang, X. P., Letey. 2000. Organic Farming : Challenge of Timing Nitrogen Availability to Crop Nitrogen Requirements. Soil Sci. Soc. Amer. J. 64:247-253. Sirrapa, M. P.,S. Sabiham, D. Sopandie dan Suwarno. 2001. Studi Kalibrasi Tanah Hara N dalam Penentuan Batas Kritis Kelas N Total Tanah, dan Rekomendasi Pemupukan N pada Tanaman Jagung. J. Tanah Tropika. 13: 23-35. Sugeng, Winarso. 2005. Kesuburan Tanah : Dasar Kesehatan Tanah dan Kualitas Tanah. Penerbit Gava Media. Yogyakarta.

125