Anda di halaman 1dari 16

BAB I.

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Pada tahun 1983 dilaporkan angka mortalitas keracunan pestisida yang tidak disengaja mencapai 7 per 10 juta laki-laki dan 0,5 per 10 juta wanita. Biasanya, sekitar 20.000 kasus intoksikasi organofosfat dilaporkan setiap tahunnya. Pada tahun 1998, AmericanAssociation of Poison Control Centers melaporkan sebanyak 16.392 jiwa terpapar organofosfat dan 11 jiwa diantaranya mengalami kematian. Anak-anak yang terpapar senyawa ini sepertinya lebih besar di negara berkembang karena anak-anak banyak yang bekerja di ladang pertanian atau disewa sebagai buruh pertanian. Penggunaan organofosfat sebagai agen bunuh diri ternyata di negara berkembang lebih besar. Bunuh diri dan keracunan organofosfat menyebabkan 200.000 kematian setiap tahunnya di negara berkembang. Penelitian tentang keracunan pestisida selama satu tahun (1999-2000) di tujuh rumah sakit di Jawa melaporkan 126 kasus, 100 kasus terjadi pada pria dan 26 kasus terjadi pada wanita. Sebanyak 11% dari kasus terjadi pada orang dewasa berusia 22-55 tahun. Penyebab keracunan antara lain karena kesengajaan (43%), pekerjaan (37%) dan kecelakaan (16%). Keracunan tersebut paling banyak disebabkan oleh pestisida golongan organofosfat. Organofosfat adalah nama umum ester dari asam fosfat. Pada tahun 1930an organofosfat digunakan sebagai insektisida, namun pihak militer Jerman mengembangkan senyawa ini sebagai neurotoksin selama perang dunia kedua.

Struktur umum organofosfat Gugus X pada struktur di atas disebut leaving group yang tergantikan saat organofosfat menfosforilasi asetilkholin serta gugus ini paling sensitif terhidrolisis. Sedangkan gugus R1 dan R2 umumnya adalah golongan alkoksi, misalnya OCH3 atau OC2H5. Organofosfat dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, fosfat, fosforothioat, fosforamidat, fosfonat, dan sebagainya.
1

Menurut Taylor racun adalah setiap bahan atau zat yang dalam jumlah relatif kecil bila masuk kedalam tubuh akan menimbulkan reaksi kimiawi yang akan menyebabkan penyakit atau kematian Berdasarkan struktur kimianya insektisida dapat digolongkan menjadi : 1. Insektisida golongan organofosfat ; seperti : Malathoin, Parathion, Paraoxan , diazinon, danTEP 2. 3. Insektisida golongan karbamat ; seperti : carboryl dan baygon Insektisida golongan hidrokarbon yang diklorkan ; seperti ,DDT endrin , chlordane, dieldrindanlindane.

Organophosphat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan lebih dari beberapa mg untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa.

Lebih dari 50.000 komponen organophosphate telah disynthesis dan diuji untuk aktivitas insektisidanya. Tetapi yang telah digunakan tidak lebih dari 500 jenis saja dewasa ini. Semua produk organophosphate tersebut berefek toksik bila tertelan, dimana hal ini sama dengan tujuan penggunaannya untuk membunuh serangga. Keracunan akibat insektisida biasanya terjadi karena kecelakaan dan pecobaan bunuh diri , jarang sekali akibat pembunuhan

BAB. II. PEMBAHASAN KERACUNAN ORGANOFOSFAT

I.

Definisi

Keracunan organofosfat merupakan suatu keadaan intoksikasi yang disebabkan oleh senyawa organofosfat seperti malathion, parathion, tetraetilpirofosfat (TEPP) dan oktamil pirofosforamida (OMPA) yang bisa masuk kedalam tubuh baik dengan cara tertelan, terhirup nafas, atau terabsorbsi lewat kulit dan mata.

II.

Struktur Komponen Organofosfat

Organophosphat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II. Bahan tersebut digunakan untuk gas saraf sesuai dengan tujuannya sebagai insektisida. Pada awal synthesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan komponen yang poten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap orang (mis: malathion), tetapi masih sangat toksik terhadap insekta..

Nama

Structure

Tetraethylpyrophosphate (TEPP)

Parathion

Malathion

Sarin

III.

Mekanisme Kerja Organofosfat

Senyawa Organofosfat ini bekerja dengan menghambat dan menginaktivasikan enzim asetilkolinesterase. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetylcholin yang dilepaskan oleh susunan saraf pusat, gangglion autonom, ujung-ujung saraf parasimpatis, dan ujung-ujung saraf motorik menjadi asetat dan kholin.. Hambatan asetilkolinesterase menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin pada tempat-tempat tersebut. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh. ( Lihat gambar.2 )

Gambar.1

Gambar.2 Asetilkholin itu bersifat mengeksitasi dari neuron neuron yang ada di post sinaps, sedangkan asetilkolinesterasenya diinaktifkan, sehingga tidak terjadi adanya katalisis dari asam asetil dan kholin. Kemudian akan terjadi terjadi akumulasi dari asetilkolin di sistem saraf tepi, sistem saraf pusat, neomuscular junction dan sel darah merah. Akibatnya akan menimbulkan hipereksitasi secara terus menerus dari reseptor muskarinik dan nikotinik.

Penghambatan kerja enzim terjadi karena organophosphate melakukan fosforilasi enzim tersebut dalam bentuk komponen yang stabil.

Pada bentuk ini enzim mengalami phosphorylasi.

Tabel 1. Nilai LD50 insektisida organofosfat Komponen Akton Coroxon Diazinon Dichlorovos Ethion Malathion Mecarban Methyl parathion Parathion Sevin Systox TEPP LD50 (mg/Kg) 146 12 100 56 27 1375 36 10 3 274 2,5 1

Kita dapat menduga terjadinya keracunan dengan golongan ini jika : 1. Gejala gejala timbul cepat , bila > 6 jam jelas bukan keracunan dengan insektisida golongan ini. 2. Gejala gejala progresif , makin lama makin hebat , sehingga jika tidak segera mendapatkan pertolongan dapat berakibat fatal , terjadi depresi pernafasan dan blok jantung. 3. Gejala gejala tidak dapat dimasukkan kedalam suatu sindroma penyakit apapun , gejala dapat seperti gastro enteritis , ensephalitis , pneumonia, dll.
6

4. Dengan terapi yang lazim tidak menolong. 5. Anamnesa ada kontak dengan keracunan golongan ini.

IV.

Tanda Tanda Keracunan Organofosfat 1. Efek muskarinik : singkatan DUMBELS berguna untuk mengingat karena gejala dan tanda ini berkembang lebih awal, 12-24 jam setelah ingestion. D : Diare U : Urinasi M : Miosis (absent pada 10% kasus) B : Bronchorrhoe/bronkospasme/bradikardi E : Emesis L : Lacrimasi S : Salivation dan Hipotensi

2. Efek Nikotinik - Diaforesis, hipoventilasi, dan takikardi - Fasikulasi otot, kram dan kelemahan yang menyebabkan flaccid muscle paralysis - Tremor 3. Efek CNS - Ansietas, gelisah, insomnia, neurosis - Depresi respirasi dan gangguan jantung - Kejang - Koma - Sakit kepala - Emosi tidak stabil
7

- Kelemahan umum - Bicara terbata-bata Kematian biasanya terjadi karena kegagalan pernafasan , dan pada penelitian menunjukkan bahwa segala keracunan mempunyai korelasi dengan perubahan dalam aktivitas enzim kholinesterase yang terdapat pada pons dan medulla ( Bajgor , 1971 ). Kegagalan pernafasan dapat pula terjadi karena adanya kelemahan otot pernafasan , spasme bronchus dan edema pulmonum.

V.

PEMERIKSAAN FORENSIK KLINIK TERHADAP KORBAN KERACUNAN

Dalam hal tindak p idana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia, penyidik berdasarkan pasal 133 (1) KUHAP dapat meminta dokter ahli kehakiman (spesialis forensic), dokter atau ahli lainnya.

Bentuk bantuan yang diminta TKp, pemeriksaan forensic atau

bias berupa Permintaan pemeriksaan klinik bedah (terhadap jenazah korban hidup), korban

pemeriksaan

jenazah

(terhada p

meninggal) ataupun pemeriksaan laboratorium forensic (terhada p barang bukti biologis yang berasal dari manu sia).

Pemeriksaan korban keracunan pada prinsipnya sama secara medis maupun secara forensik klinis meliputi anamnesis, dan pemeriksaan tambahan. Perbedaan yang pemeriksaan fisik ada adalah pada hasil akhir

pemeriksaan, berupa sertifikasi yang memberi bantuan pembuktian hukum terhadap korban. Sertifkasi yang dimaksud adalah diterbitkannya visum et repertum peracunan.

Dalam

pemeriksaan

forensik

klinis,

anamnesis

dapat

bersifat

autoanamnesis bila korban kooperatif atau alloanamnesis baik terhadap keluarga korban atau penyidik. Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam anamnesis : J e n i s r a c u n Cara masuk racun ( route of administration) : melalui ditelan, terhisap bersama udara pernafasan, melalui penyuntikan, penyerapan melalui kulit yang sehat atau kulit yang sakit, melalui anus atau vagina. Data tentang kebiasaan dan kepribadian korban Keadaan sikiatri korban Keadaan kesehatan fisik korban F a k t o r ya n g m e n i n g k a t k a n e f e k l e t a l z a t ya n g d i g u n a k a n s e p e r t i p e n ya k i t , r i w a ya t alergi atau idiosinkrasi atau penggunaan zat-zat lain (komedikasi)

Kriteria diagnosis pada keracunan organophosphate adalah : 1. Anamnesa kontak antara korban dengan senyawa organophosphate 2. Adanya tanda tanda serta gejala yang sesuai dengan tanda dan gejala dari keracunan organophosphate 3. Dari sisa benda bukti harus dapat dibuktikan bahwa benda bukti tersebut memang racun dari senyawa organophosphate. 4. Dari bedah mayat dapat ditemukan adanya perubahan atau kelainan yang sesuai dengan keracunan senyawa organophosphate; serta dari bedah mayat tidak ditemukan adanya penyebab kematian lain. 5. Analisa kimia atau pemeriksaan toksikologik , harus dapat dibuktikan adanya senyawa organophosphate serta metabolitnya dalam tubuh atau cairan tubuh korban , secara sistemik.
Analisa kimia atau pemeriksaan toksikologik dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium dengan menentukan kadar AChE dalam darah dan plasma ( penentuan aktivitas enzim kholinesterase ) yaitu dengan cara EDSON dan ACHOLEST

1. Cara Edson Prinsipnya berdasarkan perubahan pada pH darah AChE AChE cholin + asam asetat Ambil darah korban , ditambahkan indikator brom thymolblue, didiamkan beberapa saat , maka akan terjadi perubahan warna. Warna tersebut dibandingkan dengan warna standard pada comparator disc, maka dapat ditentukan kadar AChE dalam darah. % aktifitas AChE darah Interpretasi 75 % 100 % dari normal- Keracunan berat

50 % 75 % dari normal- Keracunan sedang

25 % 50 % dari normal- Keracunan ringan

0 % 25 % dari normal Tidak ada keracunan

2. Cara Acholest Diambil serum darah korban diteteskan pada kertas Acholest , bersamaan dengan kontrol serum darah normal. Kertas Acholest sudah terdapat ACh dan indikator dan perubahan warna kertas tersebut dicatat waktunya. Perubahan warna harus sama dengan perubahan warna pembanding ( serum normal ) yaitu warna kuning telur ( yolk ). Interpretasi : - Kurang 8 menit , tidak ada keracunan - 20 35 menit , keracunan ringan - 35 150 menit , keracunan berat

Pengambilan dan analisis sampel dilakukan dengan mengambil sisa muntahan, sekret mulut dan hidung, darah serta urin. Bila racun per oral, analisis isi lambung harus di lakukan secara visual, bau dan secara kimia. Skrening racun diambil dari sampel urin dan darah.

10

H a s i l a k h i r p e m e r i k s a a n f o r e n s i k k l i n i k a d a l a h d i t e r b i t k a n n ya V i s u m e t Repertum Peracunan yang merupakan salah satu alat bukti sah di pengadilan. Prosedur p e n e r b i t a n V i s u m e t R e p e r t u m P e r a c u n a n s e s u a i d e n g a n p r o s e d u r m e d i k o l e g a l penerbitan visum dimana harus dibuat berdasarkn S u r a t P e r m i n t a a n V i s u m r e s m i p e n yi d i k ( P a s a l 1 3 3 K U H A P ) . D a l a m V i s u m e t R e p e r t u m p e r a c u n a n d i t e n t u k a n kualifikasi luka akibat peracunan, dimana penentuannya berdasarkan penilaian efek racun terhadap

metabolisme dan gangguan fungsi organ yang diakibatkan oleh racun.

VI.

PEMERIKSAAN FORENSIK KASUS KERACUNAN ORGANOFOSFAT TERHADAP KORBAN YANG MENINGGAL

SUDAH

Pemeriksaan Post Mortem A. Pemeriksaan Luar 1. Pakaian. Perhatikan apakah ada bercak bercak racun, distribusi dari bercak dan bau bercak tersebut. Dari distribusi bercak racun kita dapat memperkirakan cara kematian, apakah bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus bunuh diri, distribusi bercak biasanya teratur pada bagian depan, tengah dari pakaian. Sedangkan pada kasus pembunuhan, distribusi bercak biasanya tidak teratur. 2. Lebam mayat ( livor mortis ). Lebam mayat pada kasus Keracunan organofosfat menunjukkan warna yang sama dengan keadaan kematian normal, yaitu warna lebam mayat adalah livide. Hal ini berbeda dengan keracunan CO dimana lebam akan berwarna cherry red ( = warna COHb ). Pada keracunan sianida, lebam akan berwarna merah terang ( = warna HbO2 ), karena kadar HbO2 dalam darah vena tinggi.

11

3. Bau yang keluar dari mulut dan hidung. Dilakukan dengan jalan menekan dada dan kemudian mencium bau yang keluar dari mulut dan hidung, kita dapat mengenali bau khas dari bahan pelarut yang dipakai untuk melarutkan insektisida ( transflutrin ).

B. Pemeriksaan Dalam Pada pemeriksaan dalam kasus keracunan ( secara umum ), umumnya tidak akan dijumpai kelainan kelainan yang khas atau yang spesifik yang dapat dijadikan pegangan untuk menegakan diagnosis/menentukan sebab kematian karena keracunan sesuatu zat. Hanya sedikit dari racun racun yang dapat dikendalikan berdasarkan kelainan kelainan yang ditemukan pada saat pemeriksaan mayat. Pada kasus Keracunan Baygon tidak dijumpai adanya kelainan yang khas. Beberapa kelainan yang didapat menunjukkan tanda tanda yang berhubungan dengan edema serebri, edema pulmonum dan konvulsi. Bau dari zat pelarut mungkin dapat dideteksi. Diagnosis dapat ditegakan dari riwayat penyakit, gejala keracunan yang kompleks dan tidak khas serta dari pemeriksaan laboratorium, yaitu dengan kromatografi lapisan tipis (thin layer chromotography ). Spektrofotometrik dan gas kromatografi. Jadi jelaslah bahwa pemeriksaan analisa kimia ( pemeriksaan toksikologi ) untuk menentukan adanya racun dan menentukan sebab kematian korban mutlak dilakukan pada setiap kasus keracunan atau yang diduga mati akibat racun. Pembedahan mayat berguna untuk menyingkirkan kemungkinan kemungkinan lain sebagai penyebab kematian dan bermanfaat untuk memberikan pengarahan pemeriksaan toksikologi.

12

VII.

KUNCI PEMBUKTIAN KASUS KERACUNAN

Dalam pembuktian kasus keracunan sebagai tindak pidana, banyak hal yangharus dibuktikan dan dalam pembuktiannya banyak melibatkan dokter forensik klinis. Hal yang dibuktikan antara lain :

1 . B u k t i Bukti

h u k u m hukum

( legally proving ) dapat diterima di pengadilan ( adminissible )

ya n g

sangat tergantung dari keaslian bukti tersebut sehinga penatalaksanaan terhadap bukti-bukti pada korban sangat diperlukan. Terlebih lagi pada kasus tindak pidana yang memerlukan standar pembuktian dengan tingkat

kepercayaan yang lebih tinggi yaitu sampai tidak ada keraguan yang beralasan.

2.Pembuktian motif keracunan

3 . K o n d i s i ya n g m e m u n g k i n k a n

dapat

d i p e r o l e h n ya r a c u n s e p e r t i

a d a n ya r e s e p , t o o k obat atau toko yang menyediakan substansi yang digunakan.

4.Bukti-bukti pada korban s e p e r t i k e b i a s a a n k o r b a n , g a n g g u a n k e p r i b a d i a n , k o n d i s i kesehatan, dan penyakit serta kesempatan dilibatkannya racun.

5.Bukti kesengajaan (intentional)

6.Bila korban meninggal harus ditentukan sebab kematian korban a d a l a h r a c u n dengan menyingkirkan sebab kematian yang lainnya.

7.Bukti peracunan adalah homicide.

13

Dari 7 bukti pembuktian kasus keracunan tersebut, tampak bantuan dokter sangat diperlukan dalam beberapa langkah terutama : Pengumpulan, pencatatan dan interpretasi bukti keracunan medis dalam u p a ya memberikan pembuktian hukum. Menemukan bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan, kondisi fisik dan keadaan psikiatri korban. P e n e n t u a n s e b a b k e m a t i a n b i l a k o r b a n d e n g a n m e n g e k l u s i p e n ye b a b k e m a t i a n lainnya.

Kepentingan Dari Segi Medikolegal 1. Keracunan paling sering terjadi karena upaya bunuh diri 2. Keracunan karena ketidaksengajaan adalah pada penyemprotan 3. Pembunuhan dengan racun jenis ini jarang terjadi

14

BAB. III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Keracunan organofosfat merupakan suatu keadaan intoksikasi yang disebabkan oleh senyawa organofosfat seperti malathion, parathion, tetraetilpirofosfat (TEPP) dan oktamil pirofosforamida (OMPA) yang bisa masuk kedalam tubuh baik dengan cara tertelan, terhirup nafas, atau terabsorbsi lewat kulit dan mata.

Senyawa Organofosfat ini bekerja dengan menghambat dan menginaktivasikan enzim asetilkolinesterase. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetylcholin. menjadi asetat dan kholin.. Hambatan asetilkolinesterase menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

Kepentingan Dari Segi Medikolegal 1. Keracunan paling sering terjadi karena upaya bunuh diri 2. Keracunan karena ketidaksengajaan adalah pada penyemprotan 3. Pembunuhan dengan racun jenis ini jarang terjadi

15

DAFTAR PUSTAKA

R. Kamanyire and L. Karalliedde.Organophosphate toxicity and occupational Exposure. Occupational Medicine 2004;54:6975.DOI: 10.1093/occmed/kqh018

http://moslempharmacy.wordpress.com/2010/06/07/penanganan-keracunan-organofosfat/ http://elfriadi.blogspot.com/2011/04/penanganan-keracunan-organofosfat.html http://www.scribd.com/doc/39466537/71-KERACUNAN-ORGANOFOSFAT http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=keracunan%2Borganofosfat&source=web&cd=17&ved=0CD 0QFjAGOAo&url=http%3A%2F%2Fimages.iqbalzein.multiply.multiplycontent.com%2Fattac

16