Anda di halaman 1dari 8

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Material beton prategang : a.

Beton Beton yang digunakan untuk membuat elemen struktur beton prategang harus mempunyai kuat tekan yang tinggi. Kekuatan dan tahan lama yang dicapai melalui kontrol kualitas pada tahap produksi adalah dua faktor penting dalam mendesain struktur beton prategang. 1) Mutu tinggi Mutu beton yang biasa digunakan dalam perhitungan beton bertulang adalah mutu beton normal sampai mutu tinggi. Beton mutu tinggi sebagaimana disebutkan dalam RSNI T-12-2004 adalah beton yang mempunyai kuat tekan silinder, fc melebihi 60 MPa, sedangkan beton normal adalah beton dengan berat isi 2400 kg/m3 , fc antara 20 MPa s.d 60 MPa. Adapun kekuatan beton untuk struktur prategang SNI mensyaratkan tidak boleh kurang dari 30 MPa (RSNI T-12-2004, 4.4.1.1.1). 2) Modulus elastisitas Modulus elastisitas beton, Ec. Nilainya tergantung pada mutu beton, besarnya modulus elastisitas beton dipengaruhi oleh material dan proporsi campuran beton. Nilai Ec, untuk beton normal sebagai berikut : Ec = wc1.5 (0.043 Ec = 4700 ), dinyatakan dalam MPa; atau

(SNI 03-2847-2002), dinyatakan dalam MPa; atau

ditentukan dari hasil pengujian

Gambar 1 Kurva Stress-Strain Beton

3)

Jenis Penampang Girder Prategang Terdapat beberapa jenis penampang beton yang biasa digunakan untuk

jembatan. Pemilihan jenis penampang tergantung dari kebutuhan panjang bentang, kerumitan alinyemen dan metoda pelaksaaan. Adapun jenis penampang dapat diuraikan sebagai berikut : Penampang I-girder dan T-bulb AASHTO Penampang I-girder dan T-bulb AASHTO dapat digunakan untuk bentang jembatan antara 9,1 m sampai dengan 42 m. Penampang Box-girder Box-girder sangat baik menajan pengaruh momen torsi dan secara tipikal tidak memerlukan elemen bracing. Penampang box girder juga dapat dugunakan untuk bentang yang lebih panjang. Sebagai contoh sebuah jembatan di dekat Tokyo, Jepang menggunakan box girder untuk bentang 240 m. b. Tulangan Prategang Kehilangan tegangan akibat rangkak (creep) dan susut (shrinkage) pada beton cukup besar, sehingga pemberian tegangan tekan pada beton akan lebih efektif bila menggunakan baja mutu tinggi dengan kisaran lebih dari 1862 MPa. 1) Tendon untuk tulangan prategang harus memenuhi salah satu dari spesifikasi berikut : a) Kawat yang memenuhi Spesifikasi untuk baja stress-relieved tanpa lapisan untuk beton prategang (ASTM 421).

b)

Kawat dengan relaksasi rendah, yang memenuhi Spesifikasi untuk kawat baja stress-relieved tanpa lapisan untuk beton prategang termasuk suplemen Kawat dengan relaksasi rendah (ASTM 421) Strand yang sesuai dengan Spesifikasi untuk strand baja, tujuh kawat tanpa lapisan untuk beton prategang (ASTM A 416M). Tulangan, yang sesuai Spesifikasi untuk baja tulangn mutu tinggi tanpa lapisan untuk beton prategang (ASTM A 722)

c)

d)

2)

Kawat, strand, dan batang tulangan yang tidak secara khusus tercakup dalam ASTM A 421, ASTM A 416 M, atau ASTM A 722, diperkenankan untuk digunakan bila tulangan tersebut memenuhi persyaratan minimum dari spesifikasi tersebut di atas dan tidak mempunyai sifat yang membuatnya kurang baik dibandingkan dengan sifat-sifat seperti pada ASTM A 421, ASTM A 416 M, atau ASTM A 722.

2.

Kuat Tarik Kuat tarik baja prategang, fpu harus ditentukan dari hasil pengujian,atau diambil sebesar mutu baja yang disebutkan oleh fabrikator berdasarkan sertifikat fabrikasi yang resmi. Tabel 1. Jenis Tulangan Prategang

2.2. Tegangan-tegangan Izin Maksimum di Beton dan Tendon Menurut ACI Berikut ini adalah definisi notasi penting yang di gunakan: fpy fy : Kuat leleh tendon prategang yang ditetapkan, psi : Kuat leleh tulangan non prategang yang ditetapkan, psi

fpu fc fci

: Kuat tarik tendon prategang yang ditetapkan, psi ; Kuat tekan beton yang ditetapkan, psi : Kuat tekan Beton pada saat prategang awal, psi

1.

Seleksi Penampang Desain Lentur a. Penampang dengan variasi eksentrisitas tendon Pe = Pi, maka kehilangan prategang = Pi-Pe = (1-) Pi Untuk sementara, asumsikan kehilangan prategang diperhitungkan sebelum beban mati diluar berat sendiri dan beban hidup bekerja, maka tegangan beton di tengah bentang pada serat atas dan bawah setelah kehilangan prategang adalah: Serat Atas :
P e.c M f t Aec (1 r 2t ) S tD f t

Serat Bawah :
P e.c M f b Aec (1 r 2b ) SbD f c

Selanjutnya, bila tegangan maximum pada serat-serat beton adalah sama dengan tegangan ijin, maka perubahan tegangan di serat atas dan bawah akibat kehilangan prategang adalah: Serat Atas Setelah kehilangan prategang :

P MT e t ft A (1 er.c 2 ) St c

Serat atas Sebelum kehilangan prategang :


e.ct MT f ti Pi Ac (1 r 2 ) S t

Serat Bawah Setelah kehilangan prategang :


P MD e b f c A (1 er.c 2 ) Sb c

ci

Serat Bawah Sebelum kehilangan prategang :


e.cb MD f Pi Ac (1 r 2 ) Sb

Persamaan tersebut dapat diatur suku-sukunya sehingga menghasilkan syarat untuk pemilihan (seleksi) penampang yang memiliki tendon dengan eksentrisitas yang bervariasi sebagai berikut:
St (1 ) M D M S D M L f ti f c

Sb

(1 ) M D M SD M L ft f ci

b.

Penampang eksentrisitas tendon konstan Pe = Pi, maka kehilangan prategang = Pi-Pe = (1-) Pi Untuk sementara, asumsikan kehilangan prategang diperhitungkan sebelum beban mati, beban mati diluar berat sendiri dan beban hidup bekerja, maka tegangan beton di tumpuan pada serat atas dan bawah setelah kehilangan prategang adalah: Serat Atas
Pe e . ct ft A ( 1 ) ft c r2

Serat Bawah

fb

Pe Ac

b (1 er.c 2 ) fc

Selanjutnya, bila tegangan maximum pada serat-serat beton adalah sama dengan tegangan ijin, maka perubahan tegangan di serat atas dan bawah akibat kehilangan prategang adalah : Serat Atas Setelah kehilangan prategang :
P e.ct e ft A ( 1 ) r2 c

Serat Atas Sebelum kehilangan prategang :


e.ct f ti Pi Ac (1 r 2 )

Serat Bawah Setelah kehilangan prategang :


P e.cb e fc A ( 1 ) r2 c

Serat Bawah Sebelum kehilangan prategang :


e.cb f ci Pi Ac (1 r 2 )

Netto tegangan saat akhir/layan setelah kehilangan prategang ditengah bentang yaitu : Untuk serat atas ftn = fti-ft-fc or ftn = fti-fc Untuk serat bawah fbn = ft-fb-fci or fbn = ft-fci Netto tegangan diatas sama dengan netto tegangan yang qSDdan qL ditengah bentang yaitu : Untuk serat atas ftn = (MD + MSD + ML)/St Untuk serat bawah fbn = (MD + MSD + ML)/Sb . ditimbulkan oleh qD,

Bila kedua persamaan ftn dan fbn diatas disubstitusikan akan menghasilkan syarat pemilihan penampang untuk tendon dengan eksentrisitas konstan sebagai berikut:

St

M D M SD M L f ti f c

Sb

M D M SD M L ft f ci

2.

Batas Gaya Prategang Untuk penampang tertentu dengan eksentrisitas tendon tertentu, maka gaya prategang saat akhir Pe dapat diganti menjadi Pi sehingga rumus tegangan dapat diubah menjadi: a. Tengah Bentang Saat Awal ( f M / St )A
Pi
ti D c

( 1 e.c t / r 2 )

P ( f ci M D / Sb ) Ac i 2
(1 e.cb / r )

b.

Tengah Bentang Saat Akhir ( f M T / S t ) Ac Pi c (1 e.ct / r 2 )


Pi ( fts M T / Sb ) Ac (1 e.cb / r 2 )

fti = ft ijin saat awal, fci = fc ijin saat awal, fts = ft ijin saat akhir, fc = fc ijin saat akhir c. Di tumpuan Saat Awal ( f ti ) Ac Pi (1 e.c t / r 2 ) Pi ( f ci ) Ac (1 e.cb / r 2 )

d.

Di Tumpuan Saat Akhir ( fts ) Ac Pi (1 e.ct / r 2 )

Pi

( f c ) Ac (1 e.cb / r 2 )

2.3. Tegangan Geser Geser lentur dibalok beton prategang meliputi efek gaya prategang eksternal yang harus dimiliki oleh balok beton bertulang. Komponen vertikal gaya tendon prategang mengurangi gaya geser vertikal yang diakibatkan oleh gaya transversal eksternal dan beban transversal netto yang dialami suatu balok jauh lebih kecil pada balok prategang dibandingkan dengan balok beton bertulang. Kekuatan geser terdiri dari geser lentur dan geser badan. Vs = Vu/ - Vc 1. Kekuatan Geser Lentur ( Vci ) Untuk mendesain geser terlebih dahulu menentukan geser lentur ataupun geser badan. Retak miring yang stabil pada jarak d/2 dari jarak lentur yang terjadi pada taraf retak pertama secara geser lentur seperti pada gambar 2.1. Jika tinggi efektif adalah dp, maka tinggi dari serat tekan ke pusat berat baja prategang longitudinal, maka perubahan momen antara 2 dan 3. Vci = 0,05.bw.d.(f'c).0,5

Gambar 2.1. Pertumbuhan retak geser lentur.

2.

Kuat Geser Badan ( Vcw ) Retak geser badan pada balok prategang disebabkan oleh tegangan tak tertentu yang dapat dengan baik dievaluasi dengan menghitung tegangan tarik utama dibidang kritis dari gambar 2.1. Tegangan geser Vc dapat definisikan sebagai tegangan geser badan Vcw dan mencapai maksimum didekat pusat berat penampang cgc dimana retak diagonal aktual terbentuk, sebagaimana ditentukan pada sejumlah besar pengujian hingga gagal. Vcw = (0,29. (f 'c)0,5 + 0,3.fpc).bw.d + Vp Untuk momen yang menyababkan retak lentur akibat beban eksternal dinyatakan dengan: Mcr = (Ic' / Yt).((0,5.f'c0,5) + fpc) fpc = Pe / Ac

3.

Syarat Menentukan Tulangan Geser Jika Vu / > V / 2 diperlukan tulangan geser Av / s = Vs / (fy x d) s s s = Av / (Av / s) = 0,75.h = 24 inch

Ambil Nilai Minimum

Jika Vu / < V / 2 gunakan tulangan geser minimum Av / s s = Vs / (fy x d) = Av / (Av / s)