Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH KIMIA ORGANIK BAHAN ALAM

Terpenoid
OLEH: ASRAR RAHMAN S

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012 BAB I PENDAHULUAN

Sejak abad ke-17 orang telah dapat memisahkan berbagai jenis senyawa dari berbagai sumber-sumber organik.Baik tumbuhan, hewan maupun mikroorganisme. Senyawa-senyawa itu misalnya asam laktat, morfin, lampu, penisilin dan lain-lain. Tidaklah berlebihan jika dinyatakan ilmu kimia senyawa-senyawa organik yang berasal dari mikroorganisme atau disebut juga kimia organik bahan alam merupakan bagian yang terpenting dari ilmu kimia.

Negara Indonesia yang merupakan Negara tropis memiliki keanekaragaman hayati yang tak terhingga. Hal ini juga merupakan gudang berbagai senyawakimia, baik berupa senyawa kimia metabolit primer maupun metabolit sekunder.Senyawa metabolit primer seperti karbohidrat, protein, lemak digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhannya, sedangkan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, kumarin, flavanoid umumnya memiliki kemampuan bioaktifitas dan berfungsi untuk melindungi tanaman tersebut dari berbagai hama penyakit atau lingkungannya. Senyawa metabolit sekunder banyak digunakan sebagai racun, zat warna dan obatobatan. Senyawa-senyawa ini juga ditemukan dalam jumlah yang beragam dan struktur kimia yang beragam. Namun, untuk lebih memudahkan mempelajarinya, telah diklasifikasikan menjadi beberapa golongan senyawa bahan alam. Salah satunya yang akan kami bahas adalah dari golongan terpenoid, terkhusus tentang diterpen, sesterpen dan triterpen.

BAB II PEMBAHASAN

Terpenoid merupakan komponen tumbuhan yang memiliki bau dan dapat diisolasi dari bahan nabati dengan penyulingan disebut sebagai minyak atsiri. Minyak atsiri yang awalnya berasal dari bunga pada awalnya dikenal dari penentuan struktur secara sederhana yaitu dengan perbandingan atom hidrogen dan atom karbon dari suatu senyawa terpenoid yaitu 8:5 dan dengan perbandingan tersebut dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut adalah golongan terpenoid (Lenny, 2006). Minyak atsiri bukanlah senyawa murni, melainkan campuran senyawa organik yang terkadang mengandung lebih dari 25 senyawa yang berbeda. Beberapa hasil penelitian kimia menunjukkan bahwa sebagian besar komponen minyak atsiri adalah senyawa yang hanya mengandung karbon, hidrogen dan oksigen yang tidak bersifat aromatik. Jika dilakukan fraksionasi (penyulingan) terhadap minyak atsiri maka yang mudah menguap adalah fraksi senyawa terpen yang atom karbonnya sedikit, misalnya terpen dengan 10 atom karbon atau yang lebih kecil. Fraksi yang memiliki titik didih yang lebih tinggi biasanya terdiri dari terpen yangmengandung 15 atom karbon, atau yang lebih besar dari itu misalnya terpen dengan 20, 30, dan 40 atom karbon atau lebih (Usman, 2002). Terpenoid merupakan bentuk senyawa dengan keragaman struktur yang besar dalam produk alami yang diturunkan dari unit isoprena (C5) yang bergandengan dalam model

kepala ke ekor (head-to-tail), sedangkan unit isoprena diturunkan dari metabolisme asam asetat oleh jalur asam mevalonat (mevalonic acid : MVA). Adapun reaksinya adalah sebagai berikut (Anonim, 2006): w
Gambar 1 . Jalur asetat dalam pembentukan IPP yang merupakan batu bata pembentukan terpenoid via asam mevalonat (Dewick, 1997) Biosintesa terpen dimulai dari IPP dan DMAPP

Secara umum biosintesa dari terpenoid dengan terjadinya 3 reaksi dasar yaitu (Lenny, 2006): 1. Pembentukan isopren aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat 2. Penggabungan kepala dan ekor dua unit isopren akan membentuk mono-, seskui-, di-, sesterdan poli-terpenoid 3. Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan triterpenoid dan steroid Mekanisme dari tahap-tahap reaksi biosintesa terpenoid adalah asam asetat setelah diaktifkan oleh koenzim A melakukan kondensasi jenis Claisen menghasilkan asam asetoasetat. Senyawa yang dihasilkan ini dengan asetil koenzim A melakukan kondensasi jenis aldol menghasilkan rantai karbon bercabang sebagaimana ditemukan pada asam mevalinat.reaksi-reaksi berikutnya adalah fosforilasi, eliminasi asam fosfat dan

dekarboksilasi menghasilkan Isopentenil pirofosfat (IPP) yang selanjutnya berisomerisasi menjadi Dimetil alil pirofosfat (DMAPP) oleh enzim Isomerase. IPP sebagai unit isopren aktif bergabung secara kepala ke ekor dengan DMAPP dan penggabungan ini merupakan langkah pertama dari polimerisasi isopren untuk menghasilkan terpenoid (Lenny, 2006).
Penggabungan ini terjadi karena serangan elektron dari ikatan rangkap IPP terhadap atom karbon dari DMAPP yang kekurangan elektron diikuti oleh penghapusan ion pirofosfat yang menghasilkan Geranil pirofosfat (GPP) yaitu senyawa antara untuk semua senyawa monoterpenoid (Lenny, 2006).

Penggabungan selanjutnya antara satu unit IPP dan GPP dengan mekanisme yang sama menghasilkan Farnesil pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawa antara untuk semua senyawa seskuiterpenoid. senyawa diterpenoid diturunkan dari Geranil-Geranil Pirofosffat (GGPP) yang berasal dari kondensasi antara satu unit IPP dan GPP dengan mekanisme yang sama (Lenny, 2006). A. Diterpenoid Senyawa diterpenoid merupakan senyawa yang memiliki 20 atom karbon dan dibangun oleh 4 unit isopren. senyawa ini memiliki bioaktifitas yang cukup luas yaitu sebagai

hormon pertumbuhan tanaman, podolakton inhibitor pertumbuhan tanaman, antifeedant serangga, inhibitor tumor, senyawa pemanis, anti fouling dan anti karsinogen. Senyawa diterpenoid dapat berbentuk asiklik, bisiklik, trisiklik dan tetrasiklik dan tatanama yang digunakan lebih banyak adalah nama trivial, misalnya:
senyawa 1,2-seco-cladiellan

B. Sesterpen Sesterpen adalah kelompok terpen yang lebih besar dari diterpen, memiliki 25 atom karbon atau terbentuk dari 5 isopren. Kelompok sesterpen diturunkan dari geranil-farnesil pirofosfat. Ofiobolin-F adalah salah satu sesterpen yang telah ditemukan dan telah dipelajari mekanisme TRANSFORMASINYA dari geranil-farnesil pirofosfat.

Ofiobulin F
C. triterpenoid Triterpen adalah kelompok senyawa terpen yang lebih besar dan tersebar secara luas dalam organisme. Lebih dari 4000 jenis triterpenoid telah diisolasi dengan lebih dari 40 jenis kerangka dasar yang sudah dikenal dan pada prinsipnya merupakan proses siklisasi dari skualen. Triterpenoid terdiri dari kerangka dengan 3 siklik 6 yang bergabung dengan siklik 5 atau berupaka 4 siklik 6 yang memiliki gugus fungsi pada siklik tertentu lebih disederhanakan dengan memberikan penomoran pada tiap atom karbon, sehingga memudahkan dalam penentuan substituen pada masing-masing atom karbon. Struktur terpenoida yang bermacam ragam itu timbul sebagai akibat dari reaksi-reaksi sekunder berikutnya seperti hidrolisa, isomerisasi, oksidasi, reduksi dan siklisasi atas geranil-, farnesil-dan geranil-geranil pirofosfat.

BAB III KESIMPULAN

Senyawa terpenoid merupakan salah satu metabolit sekunder. Senyawa terpen ini ada dalam jumlah yang besar dan kerangka molekul yang beragam, namun dapat dengan mudah dikenali melalui keteraturan monomernya yang terbentuk dari isopren. Klasifikasi senyawa terpen berdasarkan jumlah monomer isoprene yang

dimilikinya. Salah satu contoh klasifikasinya adalah diterpen yang terdiri dari 4 monomer isoprene, sesterpen yang terdiri dari 5 isopren dan triterpen.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2006, Jalur Asam Mevalonat (online), http://nadjeeb.wordpress.com , diakses tanggal 13 Oktober 2010 pukul 13.30 wita. Gunawan, IW. G., Bawa, G. IA. G., Sutrisnayanti, NL., 2008, Isolasi dan Identifikasi Senyawa terpenoid yang Aktif Antibakteri pada Herba Meniran ( P hyllanthus niruri linn), Jurnal Kimia (2) 1 , hal: 31-39 .

Lenny, S., 2006, terpenoid dan steroid, Departemen Kimia FMIPA Universitas Sumatera Utara, Medan. Usman, H., 2002, Kimia Organik Bahan Alam, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin, Makassar.