Anda di halaman 1dari 9

FARMASI FISIK Terdiri dari dua kata Farmasi dan Fisika Maka melibatkan dua bidang ilmu yaitu

tu : keFarmasian (bentuk dan sifat sedian obat) Fisika Farmasi fisik yaitu Kajian atau cabang ilmu hubungan antara fisika (sifat-sifat Fisika) dengan kefarmasian (sediaan Farmasi, farmakokinetik , dsb) Tujuan Pembelajaran Apa Hubungannya dunia farmasi dengan Ilmu fisika??Hubungannya bahwa Ilmu farmasi tidak bisa berdiri sendiri, melainkan ilmu gabungan dari berbagai bidang ilmu, diantaranya: ilmu kimia, ilmubiologi (manusia, hewan, dan tumbuhan), matematika, dsb. Maka dari itu ada yang mengatakan bahwa farmasi adalah seni.Hubungannya dengan fisika yaitu, bahwa senyawa obat memiliki sifat fisika yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.Sebutkan sifat-sifat fisika dari suatu senyawa obat???Sifat-sifat fisika zat atau senyawa obat diantaranya:1. Kelarutan2. Titik leleh3. Titik didih4. Rumus struktur5. Berat molekul Apa Hubungannya sifat sifat fisika tersebut dengan kefarmasian???Penjelasan 1. Suatu zat (obat) sangat kecil kemungkinannya dipakai atau diberikan dalam bentuk murni, maka dari itu perlu dibuat sesuai kebutuhan sepertiobat sirup (parasetamol) untuk anak-anak dan obat dengan sediaan padat (Tablet) untuk dewasa.pertanyaannya.: apakah suatu senyawa obat bisa dibuat sediaan sirup dengan mudah atau tidak dan apakah senyawa obat bisa dibuat sediantablet dengan mudah atau tidak???Maka seorang farmasis harus tau sifat-sifat fisika dan kimia dari suatu bahan atau seny obat.2. Perlu di fikirkan cara pemberian obat yang sesuai: oral, topikal

atau parenteral.3. Perlu difikirkan Pelepasan zat aktif obat4. Perlu difikirkan ukuran molekul, kepolaran molekul, dan sifat molekul sehingga menghasilkan efek/respon biologis http://www.scribd.com/doc/66526527/FARMASI-FISIK LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA PERCOBAAN I KELARUTAN INTRISTIK OBAT DI SUSUN OLEH : NAMA NIM KELOMPOK KELAS : RIMA APRIANTI : F1F111099 : 2 (DUA) : FARMASI B

NAMA ASISTEN: DIAN PERMANA S.Si JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012 KELARUTAN INTRISTIK OBAT A. TUJUAN Memperkenalkan konsep dan proses pendukung system kelarutan obat dan menentukan parameter kelarutan zat. B. LANDASAN TEORI Obat merupakan salah satu kebutuhan yang digunakan dalam upaya menunjang upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan masyarakat. Banyak bentuk sedian farmasi yang beredar di masyarakat diantaranya sediaan padat dan cair, terdapat sediaan yang mengandung bahan aktif yang kelarutannya kecil dalam air. Suatu obat harus mempunyai kelarutan dalam air agar manjur secara terapi sehingga obat masuk ke sistem sirkulasi dan menghasilkan suatu efek

terapeutik. Senyawa-senyawa yang tidak larut seringkali menunjukkan absorbsi yang tidak sempurna atau tidak menentu (Ansel, 1985). Absorpsi sistemik suatu obat dari tempat ekstravaskular dipengaruhi oleh sifat-sifat fisikokimia produk obat. Untuk obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air, laju pelarutan seringkali merupakan tahap yang paling lambat, oleh karena itu mengakibatkan terjadinya efek penentu kecepatan terhadap bioavailabilitas obat (Shargel dan Yu, 2005). Kenyataan tersebut mengakibatkan perlu dilakukan beberapa usaha untuk meningkatkan kecepatan pelarutan bagi obat-obat yang mempunyai sifat kelarutan yang kurang baik di dalam air. Banyak bahan obat yang memiliki kelarutan dalam air yang rendah atau dinyatakan praktis tidak larut, umumnya mudah larut dalam cairan organik. Suatu peningkatan konsentrasi jenuh (perbaikan kelarutan) dapat dilakukan melalui pembentukan garam, pemasukan grup hidrofil atau dengan bahan pembentukan misel (Martin dkk., 1993). Metode tersebut dapat digunakan secara individual maupun secara kombinasi (Martin dkk., 1993). Absorpsi obat sukar larut atau praktis tidak larut dalam air yang digunakan per oral sangat dipengaruhi oleh laju pelarutan. Ada beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap proses absorpsi, antara lain kelarutan obat. Obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air, laju pelarutan sering kali merupakan tahap yang paling lambat, oleh karena itu mengakibatkan terjadinya efek penentu kecepatan terhadap bioavailabilitas obat. Absorpsi obat dapat terjadi dan dapat ditentukan dengan beberapa cara yaitu metode in vitro, metode in situ dan metode in vivo. Absorpsi in situ melalui usus halus didasarkan atas penentuan kecepatan hilangnya obat dari umen usus halus. Metode ini digunakan untuk mempelajari berbagai faktor yang berpengaruh terhadap permeabilitas dinding usus. Pengembangan lebih lanjut dapat digunakan

untuk merancang obat dalam upaya mengoptimalkan kecepatan absorpsinya untuk obat-obat yang sangat sulit atau praktis tidak dapat terabsorpsi (Abdul Karim Z, 2008). Salah satu cara yang diterapkan oleh industri farmasi saat ini untuk meningkatkan kelarutan suatu obat yang bersifat lipofilik atau hidrofobik adalah dengan membuat sediaan emulsi (Mahdi Jufri, 2004) http://rymha-aprhyanthy.blogspot.com/2012/04/kelarutan-intristik-obat.html KELARUTANI . T u j u a n 1.Menerapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat2.Menjelaskan pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zatI I . D a s a r T e o r i K e l a r u t a n s u a t u s e n ya w a b e r g a n t u n g p a d a s i f a t f i s i k a d a n k i m i a z a t t e r l a r u t d a n pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan, dan untuk jumlahyang lebih kecil, bergantung pada terbaginya zat terlarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperaturetertentu, sedangkan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen.Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam kesetimbangandengan fase padat (zat terlarut). Larutan tidak jenuh atau larutan hamper jenuh adalah suatul a r u t a n y a n g m e n g a n d u n g z a t t e r l a r u t d a l a m k o n s e n t r a s i d i b a w a h k o n s e n t r a s i ya n g d i b u t u h k a n u n t u k p e n j e n u h a n s e m p u r n a p a d a t e m p e r a t u r t e r t e n t u . L a r u t a n l e w a t j e n u h adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak dari yangseharusnya ada pada temperatur tertentu.Kelarutan dapat digambarkan secara benar dengan menggunakan aturan fase Gibbsyang dinyatakan sebagai berikut.F = C P + 2F adalah jumlah derajat kebebasan, yaitu jumlah variable bebas (biasanya temperature,tekanan, dan konsentrasi) yang harus ditetapkan untuk menentukan system secara sempurna.C adalah jumlah komponen terkecil yang cukup untuk menggambarkan komponen kimia dari setiap fase. P adalah jumlah fase.Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Menurut U.S. Pharmacopeiadan National Formulary, definisi kelarutan obat adalah jumlah mL pelarut dimana akan larut1 gram zat terlarut. Kelarutan secara kuantitatif juga dinyatakan dalam molalitas, molaritas,dan persentase. Untuk zat yang kelarutannya tidak diketahui secara pasti, harga kelarutannyadigambarkan dengan menggunakan istilah umum tertentu seperti table berikut.

Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersinmolekuler homogen.

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fiska dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor teempertur, tekanan, pH larutan, dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada hal terbaginya zat terlarut (Martin,dkk,1990). Larutan terdiri dari beberapa, antara lain larutan jenuh, larutan tidak jenuh atau hampir jenuh, dan larutan lewat jenuh. Larutan jenuh adalah suatu arutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat zat terlarut). Suatu larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung hampir zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu. Sedangkan larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak larut (Martin,dkk, 1990). Menurut Farmakope Indonesia IV, kelarutan terutama dimaksudkan terutama sebagai informasi dalam penggunaan, pengolahan dan peracikan suatu bahan, kecuali apabila disebutkan khusus dalam judul tersendiri dan disertai cara ujinya secara kuantitatif (Anonim,1990). Ahli farmasi mengetahui bahwa air adalah pelarut yang baik untuk garam, gula, dan senyawa sejenis, sedang minyak mineral dan benzena biasanya merupakan pelarut untuk zat yang biasanya hanya sedikit larut dalam air. Penemuan empiris ini disimpulkan dalam pernyatan : like dissolved like. Hal ini berkaitan dengan kepolaran suatu pelarut (Martin,dkk,1990). Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu oleh dipol momennya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lain. Sesuai dengan itu, air bercampur dengan alkohol dalam segala perbandingan dan melarutkan

gula dan senyawa polihidroksi yang lain. Kelarutan zat juga bergantung pada gambaran struktur seperti perbandingan gugus polar terhadap gugus nonpolar dari molekul. Apabila panjang rantai nonpolar dari alkohol alifatik bertambah, kelarutan seyawa tersebut dalam air akan berkurang. Rantai lurus alkohol monohidroksi, aldehida, keton, dan asam yang mengandung lebih dari 4 atau 5 karbon, tidak dapat memasuki struktur ikatan hidrogen dari air dan oleh karena itu hanya larut sedikit. Apabila ada gugus polar tambahan dalam molekul, seperti pada propilena glikol, gliserin, dan asam tartrat, kelarutan dalam air naik banyak (Martin,dkk,1990). Sebaliknya, aksi pelarut dari cairan nonpolar, seperti hidrokarbon berbeda dengan zat polar. Pelarut nonpolar tidak dapat mengurangi gaya tarik-menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah, karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah. Pelarut juga tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut nonopolar termasuk dalam golongan pelarut aprotik, yakni pelarut yang tidak menerima juga tidak memberi proton, dan dalam keadaan ini dapat menjadi netral (Martin,dkk,1990). Dikenal pula pelarut semipolar. Pelarut semipolar seperti keton dan alkohol dapat mengiduksi suatu derajat polaritas tertentu dalam molekul pelarut nonpolar, sehingga menjadi dapat larut dalam alkohol, contohnya benzena yang mudah dapat dipolarisasikan. Kenyataannya, senyawa semipolar dapat bertindak sebagai pelarut perantara yang dapat menyebabkan bercampurnya cairan polar dan nonpolar (Matin,dkk,1990). Berbagai macam obat analgetik, antireumatik dan antiinflamasi dewasa ini banyak sekali digunakan oleh masyarakat. Untuk obat-obat golongan ini dikehendaki adanya efek terapi yang cepat. Efek ini dapat dipenuhi apabila obat tersebut dapat diabsorbsi dengan

cepat dan disertai dengan dosis yang cukup. Banyak bahan obat yang mempunyai kelarutan dalam air yang rendah atau dinyatakan praktis tidak larut, umumnya mudah larut dalam cairan organik. Senyawa-senyawa yang tidak larut seringkali menunjukkan absorbsi yang tidak sempurna atau tidak menentu. Propilen glikol atau propana-1,2-diol adalah salah satu jenis pelarut atau kosolven yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan suatu obat dalam formulasi sediaan cair, semi padat dan sediaan transdermal (Widyaningsih, 2009). Bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi sediaan farmasi seringkali mempengaruhi sifat kimia fisika bahan aktif. Propilenglikol adalah bahan yang banyak digunakan dalam formulasi sediaan semipadat, sediaan cair dan transdermal sebagai ksolven, penambahnviskositas dan plastizier. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberadaan propilenglikol dalam medium meningkatkan kelarutan semu beberapa zat, misalnya teofilin dan kofein (Nugroho,dkk,2000).

Dalam praktikum ini digunakan metode tritrasi. Dalam titrasi dikenal istilah asidimetri dan alkalimetri. Asidmetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi, yakni reaksi antra ion hidrogen yang merasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yag bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa). Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya, alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa

(Gandjar,dkk, 2007).

Pada awal titrasi, perubahan nilai pH berlangsung lambat sampai menjelang titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalen, nilai pH meningkat secara drastis. Untuk mengamati titik akhir titrasi dapat digunakan indikator atau menggunakan metode elektrokimia. Suatu indikator merupakan asam atau basa lemah yang berubah warna di antara bentuk terionisasinya dan bentuk tidak terionisasinya. Kisaran penggunaan indikator adalah 1 unit pH disekitar nilai pKa-nya. Sebagai contoh fenolftalein (PP), mempunyai pKa 9,4 (perubahan warna antara 8,4-10,4) (Gandjar,dkk,2007).