Anda di halaman 1dari 21

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................... 1 BAB I - PENDAHULUAN................................................................................ 2 1.1 Latar Belakang................................................................................... 2 1.2 Pokok Permasalahan .........................................................................3 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................... 3 1.4 Manfaat Penelitian............................................................................. 3 1.5 Metode Penelitian.............................................................................. 4 BAB II - PEMBAHASAN.................................................................................. 4 2.1 Efektivitas Pemerintah Indonesia Dalam Menjalankan Perannya Sebagai Administrator Pembangunan Pada Tahun 1969-1999...........4 2.1.1 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Motivator...............................5 2.1.2 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Modernisator.........................7 2.1.3 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Katalisator.............................8 2.1.4 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Dinamisator........................10 2.1.5 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Stabilisator..........................12 2.2. Penyebab Gagalnya Repelita I-V Untuk Mewujudkan Indonesia Sebagai Welfare State.......................................................................13 2.21 Latar Belakang Repelita I-V.........................................................13 2.2.1 Kesalahan Dalam Prioritas Perencanaan Pendidikan.................15 BAB III - PENUTUP...................................................................................... 17 3.1 Kesimpulan...................................................................................... 17 3.2 Saran................................................................................................ 18 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 19

Universitas Indonesia

Page 1

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

BAB I - PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan sejarah Republik Indonesia dari tahun 1969-1999, Republik Indonesia telah melaksanakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap Ke-I yang direalisasikan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita I-V).1 Dimana pada akhir Repelita ke-V (tahun 1999) Indonesia ditargetkan akan mencapai Welfare State atau Negara kesejahteraan.2 Namun pada kenyataannya, hingga saat makalah ini ditulis, indikator kesejahteraan Indonesia masih sangatlah jauh apabila dibandingkan dengan negara maju. Human Development Index (HDI) Indonesia yang mencakup ukuran angka harapan hidup, indeks melek huruf orang dewasa, index pendidikan, dan pendapatan domestic bruto, berdasarkan data dari United Nations Development Program (UNDP) hanya menduduki peringkat ke 124 di dunia3. Pasal 34 ayat (1), Pasal 28H (1) Hidup sejahtera lahir batin mendapatkan tempat tinggal lingkungan hidup yang baik dan sehat, pasal 28H (3) semua orang berhak atas jaminan social yang memungkinakan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. Hal ini tentunya merupakan indikasi bahwa Indonesia telah gagal dalam melaksanakan pembangunan jangka panjang tersebut. Menurut Prof. Safri Nugraha indikasi apakah suatu negara telah melaksanakan Good Governance dengan baik adalah dengan melihat tercapai atau tidaknya tujuan pembangunan negara tersebut.4 Keberhasilan ataupun kegagalan pembangunan suatu negara tentunya tidak terlepas dari aspek-aspek yang menyangkut peran pemerintah sebagai administrator pembangunan serta peran hukum yang telah dibentuk sebagai patokan perencanaan pembangunan.5
1

2 3

Ginandjar Kartasasmita, Administrasi Pembangunan: Perkembangan dan Praktiknya di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1997), hal. 19. Ibid. hal.63 United Nations Development Program, International human Development Indicators, http://hdrstats.undp.org/en/countries/profiles/idn.html, diunduh 11 Maret 2013. Safri Nugraha, Laporan Akhir Tim Kompendium Bidang hukum Pemerintahan yang Baik, (Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen hukum dan Ham RI, 2007), hal. 52. Made Asdhiana, Indonesia Memiliki Lima Ciri Negara Gagal, http://nasional.kompas.com/read/2011/07/16/12040941/Indonesia.Miliki.Lima.Ciri.Negara.Gagal , diunduh 10 Maret 2013.

Universitas Indonesia

Page 2

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Penelitian ini akan menguji efektivitas fungsi pemerintah sebagai administrator pembangunan dari tahun 1969-1999 (Repelita I-V) serta efektivitas hukum yang dibuat berdasarkan rencana pembangunan jangka panjang tersebut dengan menggunakan pendekatan teori-teori terkemuka dalam hukum administrasi pembangunan.

1.2 Pokok Permasalahan Dari pembatasan masalah diatas, maka dapat dirumuskan dua permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah efektivitas pemerintah Republik Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai sebagai pelopor, inovator, modernisator, katalisator, hingga stabilisator pada tahun 1969-1999? 2. Mengapa keefektivan Repelita I-V tidak optimal dalam membawa Indonesia menuju Negara kesejahteraan?

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menganalisis efektivitas peran pemerintah Republik Indonesia sebagai administrator pembangunan untuk menjalankan fungsinya sebagai pelopor, inovator, modernisator, katalisator, hingga stabilisator pembangunan dalam periode tahun 1969-1999. 2. Menganalisa penyebab kegagalan Repelita I-V untuk membawa Indonesia menjadi negara kesejahteraan (Welfare State).

1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui apakah perencanaan dan peran administrator pembangunan di Indonesia telah sesuai dengan tataran ideal untuk menuju negara kesejahteraan. Selain itu penelitian ini juga akan mengukur sejauh

Universitas Indonesia

Page 3

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

mana Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahap Kedua 2000-2025 telah menjadi lebih baik dibandingkan dengan RPJP tahap pertama.

1.5 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian yuridis normatif dengan mengkaji berbagai sumber data sekunder, yaitu dengan melakukan studi pustaka baik dengan menggunakan bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder yang di peroleh melalui kepustakaan maupun media elektronik seperti internet.

BAB II - PEMBAHASAN 2.1 Efektivitas Pemerintah Indonesia Dalam Menjalankan Perannya Sebagai Administrator Pembangunan Pada Tahun 1969-1999. Pemerintah sebagai birokrat, melaksanakan pembangunan berlandaskan Idiil Pancasila, landasan konstitusional UUD 1945. Oleh karena itu perlu mengetahui sejauh mana peran pemerintah harus dilaksanakan untuk menunjang berhasilnya pembangunan.6

Berikut ini adalah fungsi-fungsi pemerintah sebagai administrator pembangunan: 1. PERAN SELAKU MOTIVATOR Pemerintah harus mampu mendorong seluruh komponen masyarakat untuk turut serta baik secara aktif maupun secara pasif dalam melaksanakan pembangunan. 2. PERAN SELAKU MODERNISATOR Pemerintah mampu menyeleksi norma mana yang masih dapat dipergu nakan dan norma baru mana yang hendak diperkenalkan dan harus mampu menggerakkan masyarakat dalam pola pikir dan gaya
6

Safri Nugraha et. al., Hukum Administrasi Negara (Depok: CLGS Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2007), hal.384

Universitas Indonesia

Page 4

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

hidup yang menunjang proses pembangunan. 3. PERAN PEMERINTAH SELAKU KATALISATOR Pemerintah mampu memberi contoh dan suri tauladan dengan gerak dan kemampuan kerja tanpa mengorbankan mutu. 4. PERAN PEMERINTAH SELAKU DINAMISATOR Pemerintah harus menunjukan suatu dinamika yg action oriented (dinamika Pemerintahan yg tinggi dlm menyelenggarakan pembangunan) 5. PERAN PEMERINTAH SELAKU STABILISATOR Pemerintah harus mampu menciptakan suasana kestabilan administrasi, sebagai Syarat untuk berlangsungnya proses pembangunan.7

Untuk melaksanakan fungsi-fungsi diatas, pemerintah memiliki alat untuk mewujudkan target pembangunan yang dinamakan dengan aparatur pemerintah. Aparatur pemerintah ialah alat pemerintah untukmenjalankan semua gugas-tugas pemerintahan untuk tujuan kesejahteraan masyarakat. Dari kelima bentuk peranan pemerintah tersebut di atas dapat terlihat jelas peran aparatur pemerintah dalam pelaksanaan administrasi pembangunan. Menurut Fritz Morstein Marx, aparatur pemerintah terstuktur dalam sebuah organisasi administrative pemeritahan, yaitu alat-alat birokrasi untuk mencapai tujuan-tujuan nasional dan tujuan-tujuan pemerintahan.8 Dengan demikian, penelitian ini akan menganalisa sejauh mana birokrat di Indonesia telah menjalankan fungsi-fungsi administrator pembangunan diatas dalam periode tahun 1969-1999. 2.1.1 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Motivator Sebagai motivator, pemerintah harus mampu mendorong seluruh komponen masyarakat untuk turut serta baik secara aktif maupun secara pasif dalam melaksanakan pembangunan. Kendala terbesar dalam mengajak masyarakat negara berkembang untuk turut serta dalam pembangunan adalah kualitas sumber
7 8

Ibid. Fritz Morstein Marx, The Administrative State, (Chicago: University of Chicago Press, 1957), hal.32.

Universitas Indonesia

Page 5

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

daya manusia (SDM) yang masih sangat rendah, yang menyebabkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan masih sangat rendah.9 Kualitas SDM ditentukan oleh berbagai faktor terutama pendidikan, kesehatan, dan juga nilai-nilai budaya seperti sikap terhadap kerja (work ethics), dan disiplin. Namun, untuk membatasi lingkup pembahasan agar mengarah pada tema seminar ini, kita batasi saja pada masalah pendidikan sebagai sumber mata airnya. Berbagai studi menunjukkan eratnya kaitan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.10 Selama Repelita I-V pada tahun 1969-1999, Pemerintah Indonesia telah menanamkan nilai-nilai yang baik untuk memotivasi masyarakat untuk bersamasama melakukan pembangunan, misalnya saja norma gotong royong yang ditanamkan sejak Sekolah Dasar. Pemerintah juga mendorong petani untuk meningkatkan produktivitas dengan membentuk kelompok pertain di setiap desa untuk mengkuti bimbingan dari para penyuluh pertanian yang disebut intensifikasi massal dan bimbingan massal. Bukan hanya lewat tatap muka, tetapi juga disiarkan melalui radio dan televise, bahkan juga sejumlah media cetak menyediakan halaman khusu untuk Koran masuk desa dengan muatan materi siaran yang khas pedesaan, membimbing petani.11 Keberhasilan ini telah membuat Edouard Saouma, Direktur Jendereal FAO mengundang Presiden Soeharto untuk bicara pada forum dunia, pada tanggal 14 November 1985. Organisasi pangan dan pertanian dari PBB tersebut juga

Tim Dixon dan John O Mahony. Australia in The Global Economy, Ed.2006 (Sydney: Leading Edge, 2005) hal.1 10 Antara lain: Gary S. Becker, Human Capital: A Theoritical Approach and Empirical Analysis with Special Reference to Education. New York: Columbia University Press, 1964; Gregory N. Mankiw, David Romer, dan D. Weil, A Contribution to the Empirics of Economic Growth. Quarterly Journal of Economic. May 1992; Robert J. Barro, Economic Growth in Cross Section Countries. Quarterly Journal of Economics. May 1991; Nancy Birdsall, Social Development is Economic Development, The Policy Research Working Paper Number 1123. Washington: World Bank, 1993; World Bank, The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy. Oxford: The World Bank, 1993. 11 Ken dan Ant, Soeharto dan Swasembada Pangan,http://klipingut.wordpress.com/2008/01/27/soeharto-danswasembada-pangan/, diunduh pada 3 Maret 2013.

Universitas Indonesia

Page 6

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

menganugerahi Presiden Soeharto dengan penghargaan berupa medali emas FAO From Rice Importer to Self Sufficiency.12 Keberhasilan pemerintah untuk menggalang para petani untuk bekerjasama melakukan revolusi pangan sangatlah sulit. Karena memerlukan dana yang besar disamping keterbatasan lahan lumbung padi di Jawa, Bali dan Sumatera.13 Maka peran Pemerintah sebagai motivator sebagai administrator pembangunan dalam sektor pangan dan pertanian telah teruji. 2.1.2 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Modernisator Sebagai modernisator, pemerintah harus menyeleksi norma mana yang masih dapat dipergunakan dan norma baru mana yang hendak diperkenalkan dan harus mampu menggerakkan masyarakat dalam pola pikir dan gaya hidup yang menunjang proses pembangunan. Pada masa Repelita I-V, pemerintah telah menjaga dan menanamkan norma sopan santun, tenggang rasa, dengan Pendidikan P4 lalu PPKN sejak Sekolah Dasar, disamping itu Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu dasar utama untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai upaya peningkatan teknologi terutama di bidang pertanian dan kesehatan telah membuahkan hasil selama PJP I dan dua tahun pertama Repelita VI telah membuahkan hasil. Keberhasilan lain yang dapat dicatat adalah meningkatnya kemampuan rekayasa dan rancang bangun dalam industri manufaktur, mulai dari industri dengan teknologi sederhana sampai industri canggih seperti pesawat terbang.14 Dalam ranah hukum, berbagai perbaikan di bidang hukum telah dilakukan dan diarahkan menurut petunjuk UUD 1945. Dalam kaitan ini, antara lain telah ditetapkan Undang-undang tentang KUHAP, Undang-undang tentang Hak Cipta, Paten, dan Merek, kompilasi hukum Islam, dan lain-lain. Selain itu, agar hukum dapat dijalankan berdasarkan peraturan- peraturan yang berlaku, telah pula

12

13 14

Ginanjar Kartasasmita, Hasil-Hasil Pembangunan Nasional Dan Perspektifnya Pada Repelita VII,(Jakarta: Bappenas,1996), hal. 1 Ken, op. cit., hal.2 Kartasasmita, loc. cit., hal.4

Universitas Indonesia

Page 7

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

dilakukan penyuluhan hukum kepada masyarakat luas maupun kepada aparat pemerintah.15 2.1.3 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Katalisator Sebagai Katalisator, memberi contoh dan suri tauladan dengan gerak dan kemampuan kerja tanpa mengorbankan mutu. Pada Repelita I-V, Pemerintah telah menjadi tauladan di tingkat makro, dengan Repelita yang begitu komprehensif dalam menjalankan GBHN. Namun pada tingkat mikro, para birokrat tidak menjadi tauladan bagi masyarakat dalam menjalankan pembangunan. Pegawai negeri sipil tidak produktif, kondisi pelayanan sarat dengan nuansa kultur kekuasaan, publik menjadi pihak yang paling dirugikan. Kultur kekuasaan dalam birokrasi yang dominan membawa dampak pada terabaikannya fungsi dan kultur pelayanan birokrasi sebagai abdi masyarakat. Pada tataran tersebut sebenarnya berbagai praktik penyelewengan yang dilakukan oleh birokrasi terjadi tanpa dapat dicegah secara efektif. Penyelewengan yang dilakukan birokrasi terhadap masyarakat pengguna jasa menjadikan masyarakat sebagai objek pelayanan yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan pribadi pejabat ataupun aparat birokrasi.16 Karakteristik birokrasi pada Repelita I-V:17 Sistem Politik Tertutup Sistem Kinerja Birokrasi dan Otoriter,

Patron-Client

sangat kentara. Administrasi yang sangat terbelit-belit, proses administrasi yang lama, tunduk dari satu perintah (komando) Sangat buruk,

Transparansi
15 16

karena

17

Ibid. Afan Gaffar, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi,(Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1999), hal. 61. Anonim, Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik, (Jakarta: Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, 2009)

Universitas Indonesia

Page 8

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

badan pengawas tunduk Akuntabilitas kepada Presiden. Sangat buruk, karena

tanggungjawab langsung dengan Presiden, tanpa tanggungjawab Efisiensi Kinerja kepada masyarakat. Inefisien terlihat dengan jelas, dan belum mampu untuk ditekan, karena partisipasi publik sama sekali belum ada, atau bisa dibilang keotoriteran soeharto menutup akses bagi masyarakat untuk Partisipasi Publik berpartisipasi Tidak ada, keharusan dari karena seseorang yang itu untuk terhadap

untuk mengikuti partai presiden selain berkuasa, pemaksaan masyarakat

memilih partai tertentu menyebabkan kebebasan berpartisipasi pudar. Dalam fungsi sebagai katalisator, Pemerintah hanya berhasil menjadi tauladan pada tingkat perencanaan dan program makro, namun birokrat yang bersentuhan dengan pelayanan masyarakat memberikan pelayanan public yang tidak prima, malas-malasan, sering hanya mengisi absen saja lalu meninggalkan menjadi

Universitas Indonesia

Page 9

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

kantor18, sehingga birokrat yang merupakan pelaksana peran pemerintah tidak menjadi tauladan bagi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan. 2.1.4 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Dinamisator Sebagai dinamisator, pemerintah harus menunjukan suatu dinamika yg action oriented (dinamika Pemerintahan yg tinggi dlm menyelenggarakan pembangunan), program Repelita I-V yang dibuat oleh pemerintah telah menunjukkan bahwa pemerintah sangat action oriented pada tingkat makro, namun di tingkat mikro, birokrat yang merupakan pelaksanan tuga pemerintah cenderung tidak produktif, malas dan korup, pulang kerja sebelum waktunya, dan tidak memberikan pelayanan publik yang prima.

Prosedur perijinan di Indonesia kompleks, lama, dan relatif mahal. Untuk memulai usaha di Indonesia dibutuhkan sebanyak 12 prosedur yang harus ditempuh dengan waktu 151 hari (kedua terlama di Asia setelah Laos) dan biaya sekitar 130,6 persen pendapatan per kapita (keempat termahal di Asia setelah Kamboja, Yaman, dan Lebanon) atau sekitar US 1.163 (ketujuh termahal di Asia setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Lebanon, Korea, Kamboja, dan Yaman).19

18 19

Gaffar, loc. cit., hal.62. Tim Investasi Direktorat Perencanaan Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Analisis Iklim Investasi di Indonesia, (Jakarta: Bappenas, 2005), hal. IV-1.

Universitas Indonesia

Page 10

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Universitas Indonesia

Page 11

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Fakta bahwa pelayanan publik berbelit-belit dan mahal menunjukkan bahwa Pemerintah tidak action oriented dalam mendukung pembangunan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemerintah telah gagal dalam menjalankan peran sebagai dinamisator pembangunan. 2.1.5 Analisa Peran Pemerintah Sebagai Stabilisator Sebagai Stabilisator, Pemerintah harus mampu menjaga suasana kestabilan administrasi, sebagai syarat untuk berlangsungnya proses pembangunan. Stabilitas keamanan di dalam negeri merupakan tulang punggung upaya pembangunan nasional. Dalam hal ini manunggalnya ABRI dengan rakyat dan mantapnya dwi fungsi ABRI merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan selama PJP I sampai pertengahan pelaksanaan Repelita VI. Namun pemerintah telah gagal dalam menjaga stabilitas keamanan di daerah konflik seperti Timor Timur yang berujung pada lepasnya Timor Timur dari Republik Indonesia. Pada ranah ekonomi, pemerintah Indonesia gagal untuk menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang berujung pada krisis moneter tahun 1998. Pada bidang politik, pemerintah berhasil selama 32 tahun untuk menjaga stabilitas politik. Hal ini terutama dengan telah adanya pedoman penghayatan dan

Universitas Indonesia

Page 12

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

pengamalan Pancasila serta telah diterimanya Pancasila sebagai satu-satunya azas berbangsa dan bernegara oleh seluruh organisasi sosial politik dan organisasi kemasyarakatan. Selain itu, perlu dicatat pula perampingan organisasi peserta pemilu dari 10 peserta pada pemilu tahun 1971 menjadi 3 peserta.Dalam hubungannya dengan politik luar negeri, Indonesia telah memainkan peranan yang cukup penting dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.

Di bidang keagamaan, Sejak awal PJP I sampai dengan tahun 1995/96 telah dibangun mesjid, gereja Kristen Protestan, gereja Katolik, Pura, dan Wihara oleh berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat masing- masing sebanyak 600,3 ribu mesjid, 31 ribu gereja Protestan, 14 ribu gereja Katolik, 23,7 ribu Pura dan 4 ribu Wihara. Namun pemerintah gagal dalam menjaga stabilitas politik yang memuncak pada tahun 1998 yang berujung pada kerusuhan besar-besaran pada bulan Mei tahun 1998, yang bersamaan dengan krisis moneter yang tentunya telah menghancurkan proses pembangunan. Dapat disimpulkan bahwa Pemerintah berhasil menjaga stabilitas politik, moneter, dan keamanan selama 3 dekade, namun gagal pada tahun 1998-1999.

2.2. Penyebab Gagalnya Repelita I-V Untuk Mewujudkan Indonesia Sebagai Welfare State.

2.21 Latar Belakang Repelita I-V Pada tahun 1965, perekonomian Indonesia berada pada titik yang paling suram. Persediaan beras sangat tipis dan pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengimpor beras serta memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Harga-harga membubung tinggi, yang tercermin dari laju inflasi yang mencapai puncaknya

Universitas Indonesia

Page 13

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

sebesar 650 persen di tahun 1966. Keadaan politik tidak menentu dan terus menerus bergejolak hingga pecahnya pemberontakan G-30-S/PKI.20 Sejak Oktober 1966 pemerintah Orde Baru melakukan penataan kembali kehidupan bangsa di segala bidang, meletakkan dasar-dasar untuk kehidupan nasional yang konstitusional, demokratis dan berdasarkan hukum. Di bidang ekonomi, upaya perbaikan dimulai dengan program stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Program ini dilaksanakan dengan skala prioritas: (1) pengendalian inflasi, (2) pencukupan kebutuhan pangan, (3) rehabilitasi prasarana ekonomi, (4) peningkatan ekspor, dan (5) pencukupan kebutuhan sandang.21 Setelah itu upaya pembangunan yang sistematis mulai dilaksanakan melalui serangkaian pembangunan lima tahunan dan berjangka dua puluh lima tahun berdasarkan arahan-arahan GBHN. Repelita I dalam PJP I dimulai pada tahun 1969/70. Agar pencapaian sasaran pembangunan dapat terwujud secara optimal dan sesuai dengan yang digariskan, maka sasaran-sasaran pembangunan dipilah dalam berbagai bidang dan sektor pembangunan. Seluruh kebijaksanaan dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka Trilogi Pembangunan.22

Sasaran Pelita I

Pangan, sandang, perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Sasaran Pelita II

Menitikberatkan pada sektor pertanian, dengan meningkatkan industri yang mengelola bahan mentah menjadi bahan baku (misal: karet, minyak, kayu, timah). Sasaran yang hendak di capai pada masa ini adalah pangan, sandang, perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat, dan memperluas lapangan kerja. Sasaran Pelita III

20

21 22

Ginanjar Kartasasmita, Hasil-Hasil Pembangunan Nasional Dan Perspektifnya Pada Repelita VII,(Jakarta: Bappenas,1996), hal.1-3 Ibid. Ibid.

Universitas Indonesia

Page 14

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Arah dan kebijaksanaan ekonominya adalah pembangunan pada segala bidang. Pelita III ini menitikberatkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan, serta menignkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Pedoman pembangunan nasionalnya adalah Trilogi Pembangunan dan Delapan Jalur Pemerataan. Inti dari kedua pedoman tersebut adalah kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dalam suasana politik dan ekonomi yang stabil. Sasaran Pelita IV

Menitikberatkan pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha menuju swasembada pangan, serta meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri berat maupun industri ringan. Sasaran Pelita V

Menitikberatkan sektor pertanian dan industri untuk menetapkan swasembada pangan dan meningkatkan produksi hasil pertanian lainnya; dan sektor industri khususnya industri yang menghasilkan barang ekspor, industri yang banyak menyerap tenaga kerja, industri pengolahan hasil pertanian, serta industri yang dapat menghasilkan mesin mesin industri. 2.2.1 Kesalahan Dalam Prioritas Perencanaan Pendidikan

Dalam teori pembangunan konvensional, masalah kualitas SDM masih belum mendapat perhatian secara proporsional. Pandangan ini meyakini bahwa sumber pertumbuhan ekonomi terletak pada akumulasi modal yang diinvestasikan dalam suatu proses produksi. Namun, dalam berbagai literatur pembangunan akhir-akhir ini keyakinan yang demikian telah bergeser. Yang dipercaya bisa memacu pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan adalah justru faktor kualitas sumber daya manusia. Pergeseran pandangan ini terjadi bersamaan dengan pergeseran paradigma pembangunan, yang semula bertumpu pada kekuatan sumber daya alam (natural-resource based), kemudian bertumpu pada kekuatan

Universitas Indonesia

Page 15

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

sumber daya manusia (human-resource based) atau lazim pula disebut knowledge based economy.23 Sebagai contoh sempurna, Singapura yang mulai membangun negaranya sejak terpisah dari Malaysia pada tahun 1965, melakukan investasi besar-besaran dan penataan komprehensif pada sistem pendidikan di negaranya, akibatnya Singapura menyalip Indonesia dalam segala aspek pembangunan.24 Namun, dewasa ini tampak bahwa Indonesia kehilangan momentum itu, karena dibandingkan dengan negara-negara lain yang setara dengan Indonesia, kualitas SDM kita mulai tertinggal. Ada beberapa ukuran yang menunjukkan hal itu. Pertama, menurut laporan the United Nations Development Program (UNDP) tahun 1996, berdasarkan indikator Human Development Index (HDI), dari 174 negara, Indonesia menempati peringkat ke-102. Sementara negara-negara ASEAN lain menempati peringkat antara 34 sampai 53, kecuali Filipina yang menempati peringkat ke-95. Rentang peringkat itu lebih jauh lagi bila dibandingkan dengan Jepang, Hongkong, atau Korea Selatan, yang masing-masing berada di peringkat ke-3, ke-22, dan ke-29. 25 Dalam laporan UNDP tahun 1997, peringkat HDI Indonesia meningkat menjadi urutan ke-99, sementara Filipina turun menjadi 98.5. Kedua, menurut Asian Productivity Organization (APO, 1995) tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia tahun 1993 (menurut harga konstan tahun 1985) sebesar US$ 4.195, jauh lebih rendah dibandingkan misalnya dengan Korea dan Singapura yang masing-masing telah mencapai US$ 10.883 dan US$ 20.817. Thailand saja pada tahun 1992 telah mencapai US$ 5.830.26

23

24

25 26

Ginanjar Kartasasmita, Tantangan Pembangunan Memasuki Abad Baru,(makalah disampaikan pada Munas VIII Kagama, Palembang 24 Juli 1997). Hal.4 Han Fook Kwang et. al., Lee Kuan Yew Hard Truths To Keep Singapore Going, (Singapore: Straits Time Press, 2011) Hal.32. Kartasasmita, op. cit. Hal.5 Kartasasmita, op. cit. Hal.6

Universitas Indonesia

Page 16

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Repelita I-V yang tidak menitikberatkan pada pendidikan tinggi menyebabkan kegagalan yang sistemik, karena dengan tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, banyak persoalan yang seharusnya dapat dihindari menjadi besar. Contohnya gaya hidup sehat, masyarakat yang berpendidikan tinggi akan lebih paham akan gaya hidup sehat, daya saing tenaga kerja juga menjadi rendah dengan pendidikan rendah. Hal ini membuat hasil kerja Repelita I-V tidak kuat menghadapi era globalisasi yang semakin membuka Indonesia terhadap persaingan negara-negara dengan pendidikan yang lebih maju.

BAB III - PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa selama Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap ke-I (Tahun 1969-1999), dengan Repelita IV, pemerintah Indonesia telah berhasil menjalankan peran sebagai Motivator dan Modernisator Pembangunan dengan sangat baik. Di sisi lain, Pemerintah hanya berhasil menjalankan peran sebagai dinamisator dan katalisator pembangunan di tingkat perencanaan makro, namun birokrat yang turun ke bawah untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat sehari-hari tidak produktif dan menjadi suri tauladan bagi masyarakat. Pelayanan publik tidak prima, dan birokrat menunjukkan sikap berkuasa, bukan melayani masyarakat. Sebagai stabilisator pembangunan, Pemerintah berhasil menjaga stabilitas moneter, keamanan, politik dan kerukunan antar umat beragama selama 3 dekade, namun pada tahun 1997-1999, pemerintah gagal menjaaga suasanan stabilitas pembangunan di berbagai sector. Yang paling signifikan adalah kerusuhan Mei 1998, krisis moneter yang menyebabkan turunnya nilai tukar rupiah dengan sangat drastis, lepasnya Timor Leste dari NKRI, dan bergolaknya perpolitikan

Universitas Indonesia

Page 17

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

nasional yang langsung membuat hasil pembangunan selama tiga dekade merosot tajam. Dari sisi perencanaan yang dituangkan ke hukum dalam bentuk GBHN, lalu dilaksanakan dengan Repelita I-V, pemerintah berhasil mencapai swasembada pangan dan peningkatan perindustrian, namun sayangnya pemerintah hanya mengupayakan pendidikan hingga wajib belajar 9 tahun. Sedangkan pada decade 1990-an, negara-negara tetangga yang telah berinvestasi dan menata pendidikan tingginya dengan sungguh-sungguh mulai menuai hasil. Produktivitas pekerja Indonesia mulai kalah bersaing dengan produktivitas pekerja dari negara tetangga. Dengan mulai mengingkatnya tren globalisasi yang mengeliminasi batas antar negara, dengan tingkat produktivitas pekerja yang rendah, perindustrian Indonesia mulai terpukul mundur, tuntuntan dunia kerja akan highly skilled worker tidak dapat terpenuhi oleh tenaga kerja Indonesia, dengan begitu fokus pembangunan Indonesia yang melupakan pendidikan tinggi adalah suatu kesalahan besar.

3.2 Saran Berkaca dan belajar dari pengalaman Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap ke -1 (tahun 1969-1999), Indonesia harus fokus untuk meningkatkan taraf pendidikan tinggi guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang berdaya saing internasional. Negara-negara maju di dunia, maju bukan karena memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, sehingga produktivitas per orang dalam negaranegara maju tersebut juga tinggi. Dengan tenaga kerja berpendidikan dan berproduktivitas tinggi, Indonesia dapat menyokong perkembangan perindustrian modern di berbagai bidang, termasuk pertanian dan pertambangan, sehingga dalam mengelola sumber daya alam Indonesia yang berlimpah, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada operator asing. Di samping itu, penduduk berpendidikan tinggi dapat mengisi

Universitas Indonesia

Page 18

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan dan menjadi pejabat yang lebih pintar dan baik dibandingkan birokrat yang ada saat ini. Dalam kata lain, dengan penduduk yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, berbagai permasalahan pembangunan dapat diatasi dengan lebih mudah dan cepat. Melihat kondisi reformasi birokrasi saat ini yang masih tersendat-sendat, target Indonesia untuk lepas landas pada tahun 2025 nampaknya masih sulit tercapai. Walaupun APBN sudah dianggarkan sebanyak 20% untuk pendidikan, namun kenyataannya di lapangan, iklim dunia edukasi dan penelitian masih tidak kondusif. Pendapatan pengajar dan peneliti masih jauh dibawah eksekutif pada industri atau bisnis. Dengan demikian, orang-orang dengan tingkat kecerdasan prima akan menjadikan dunia pendidikan sebagai alternatif karir yang kesekian, akibatnya adalah dunia pendidikan sulit berkembang jika sumber daya manusia terbaik tidak terarah untuk berkarir di dunia pendidikan. Pemerintah seharusnya segera mengubah hal demikian dan menjadikan dunia pendidikan sama menariknya dengan berkarir di dunia bisnis, agar dunia pendidikan Indonesia akan terisi oleh sumber daya manusia terbaik, yang akan menciptakan multiplier effect untuk mencetak generasi yang berpendidikan tinggi untuk mengisi jabatan pemerintahan maupun membangun industri bangsa dan menjadi motor pembangunan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik , (Jakarta: Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, 2009) Asdhiana, Made. Indonesia Memiliki Lima Ciri Negara Gagal, http://nasional.kompas.com/read/2011/07/16/12040941/Indonesia.Miliki.Li ma.Ciri.Negara.Gagal, diunduh 10 Maret 2013.

Universitas Indonesia

Page 19

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi dan Konstitutisionlisme Indonesia, Konpress, Jakarta, 2005. Ant, Kent. Soeharto dan Swasembada Pangan,http://klipingut.wordpress.com/2008/01/27/soeharto-danswasembada-pangan/, diunduh pada 3 Maret 2013. Barro, Robert J. Economic Growth in Cross Section Countries. Quarterly Journal of Economics. May 1991. Becker, Gary S. Human Capital: A Theoritical Approach and Empirical Analysis with Special Reference to Education. (New York: Columbia University Press, 1964). Birdsall, Nancy Social Development is Economic Development, The Policy Research Working Paper Number 1123. (Washington: World Bank, 1993) Dixon, Tim dan John O Mahony. Australia in The Global Economy, Ed.2006 (Sydney: Leading Edge, 2005). Gaffar, Afan. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. (Yogyakarta : Pustaka pelajar, 1999). Hayati, Tri, Harsanto Nursadi, dan Andhika Danesjvara. Administrasi Pembangunan: Suatu Pendekatan Hukum dan Perencanaannya. Depok: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005. Kartasasmita, Ginandjar. Administrasi Pembangunan: Perkembangan dan Praktiknya di Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1997. ___________, Ginanjar. Hasil-Hasil Pembangunan Nasional Dan Perspektifnya Pada Repelita VII,(Jakarta: Bappenas,1996). _____________, Ginandjar Tantangan Pembangunan Memasuki Abad Baru,(makalah disampaikan pada Munas VIII Kagama, Palembang 24 Juli 1997). Kwang, Han Fook et. al., Lee Kuan Yew Hard Truths To Keep Singapore Going, (Singapore: Straits Time Press, 2011) Hal.32. Mankiw, Gregory N, David Romer, dan D. Weil, A Contribution to the Empirics of Economic Growth. Quarterly Journal of Economic. May 1992.

Universitas Indonesia

Page 20

Marshall Pribadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Marx, Fritz Morstein. The Administrative State, (Chicago: University of Chicago Press, 1957). Mukhyi, M. A. Kebijakan-kebijakan pemerintah. Dipublikasikan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma diunduh pada tanggal 12 Maret 2012. Nugraha, Safri. Laporan Akhir Tim Kompendium Bidang hukum Pemerintahan yang Baik, (Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen hukum dan Ham RI, 2007). ______,Safri et. al., Hukum Administrasi Negara (Depok: CLGS Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2007). Tamburan, Tulus T,H., Perekonomian Indonesia. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996). Tim Investasi Direktorat Perencanaan Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Analisis Iklim Investasi di Indonesia, (Jakarta: Bappenas, 2005). United Nations Development Program, International human Development Indicators, http://hdrstats.undp.org/en/countries/profiles/idn.html, diunduh 11 Maret 2013. World Bank, The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy. (Oxford: The World Bank, 1993.)

Universitas Indonesia

Page 21