Anda di halaman 1dari 35

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN I. PENDAHULUAN

Perubahan iklim global disebabkan antara lain oleh peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat berbagai aktivitas yang mendorong peningkatan suhu bumi. Mengingat iklim adalah unsur utama dalam sistem metabolisme dan fisiologi tanaman, maka perubahan iklim global akan berdampak buruk terhadap keberlanjutan pembangunan pertanian (Las, 2007). Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah katulistiwa termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan, kenaikan muka air laut, dan suhu udara, serta peningkatan kejadian iklim ekstrim berupa banjir dan kekeringan merupakan beberapa dampak serius perubahan iklim yang dihadapi Indonesia (Tim Sintesis Kebijakan, 2007). Perubahan iklim yang telah menimbulkan beberapa bencana yang memiliki

kemungkinan untuk menjadi lebih buruk di masa mendatang. Dengan menggunakan asumsi kenaikan suhu di Indonesia antara 0,40 - 30 C di tahun 2030 dan 0,90 - 40 C di tahun 2070, terbukti bahwa perubahan iklim akibat memanasnya bumi secara negatif akan menurunkan produksi pertanian dan tingkat kesejahteraan antara 2,5 - 18 persen per tahun (Rahayu, 2007).

Beberapa penemuan terakhir mulai memperjelas pengaruh iklim terhadap produksi pertanian. Pengaruh pada produksi pertanian dapat disebabkan paling tidak oleh pengaruhnya terhadap produktivitas tanaman, organisme pengganggu tanaman, dan kondisi tanah. Iklim dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas tanaman pangan. Produktifitas pertanian berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun. Perubahan drastis cuaca, lebih berpengaruh terhadap pertanian dibanding perubahan rata-rata. Tanaman sangat peka terhadap perubahan cuaca yang sifatnya sementara dan drastis. Perbedaan cuaca antar tahun lebih berpengaruh dibanding dengan perubahan iklim yang diproyeksikan (Munawar, 2010). Makalah ini akan membahas mengenai penyebab terjadinya perubahan iklim dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman.

II. PENYABAB TERJADINYA PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim global disebabkan antara lain oleh peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat berbagai aktivitas yang mendorong peningkatan suhu bumi (Las, 2007). IPCC (2007) dalam Noordwijk (2008). telah memberikan banyak bukti kuat secara ilmiah bahwa iklim global telah berubah pada tingkatan yang cukup besar sepanjang sejarah geologi. Perubahan tersebut terjadi karena adanya peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, terutama tersusun dari gas-gas CO2, CH4 dan N2O. Gas rumah kaca utama yang terus meningkat adalah karbon dioksida (CO2). Sebagian dari karbon dioksida ini dapat diserap kembali, antara lain melalui proses fotosintesis yang merupakan bagian dari proses pertumbuhan tanaman atau pohon. Namun, kini kebanyakan negara memproduksi karbon dioksida secara jauh lebih cepat ketimbang kecepatan penyerapannya oleh tanaman atau pohon, sehingga konsentrasinya di atmosfer meningkat secara bertahap. Ada beberapa gas rumah kaca yang lain. Salah satunya adalah metan (CH4), yang dapat dihasilkan dari lahan rawa dan sawah serta dari tumpukan sampah dan kotoran ternak. Gas-gas rumah kaca lainnya, meski jumlahnya lebih sedikit, antara lain adalah nitrogen oksida (N2O) dan sulfur heksaflorida (SF6) (United Nations Development Programme Indonesia, 2007). Beberapa jenis gas di atmosfir, seperti CO2, CH4, dan N2O mempengaruhi iklim permukaan bumi karena kemampuanya dalam membantu proses transmisi radiasi dari matahari ke permukaan bumi, dan juga menghambat keluarnya sebagian radiasi dari permukaan bumi. Kalau konsentrasi dari gas-gas ini di atmosfir meningkat, radiasi yang keluar dari permukaan bumi akan terhambat, sehingga suhu permukaan bumi bertambah besar. Prediksi peningkatan suhu bumi bukanlah suatu hal yang mudah iklim di suatu daerah merupakan hasil interaksi dari proses-proses fisika dan mekanik yang saling berhubungan. Peningkatan suhu, akan menyebabkan peningkatan evapotranspirasi yang berdampak pada meningkatnya konsentrasi. Apabila konsentrasi dari gas-gas ini di atmosfir meningkat, radiasi yang berupa uap air, H2O(gas). Uap air juga merupakan gas penghambat keluarnya radiasi dari permukaan bumi, sementara di lain pihak keberadaan uap air tersebut juga menimbulkan umpan balik negatif karena peningkatan pertumbuhan awan, menyebabkan terhambatnya transmisi radiasi matahari ke permukaan bumi (Syarifuddin, 2011).

Aktifitas-aktifitas yang menghasilkan GRK adalah perindustrian, penyediaan energi listrik, dan transportasi. Sedangkan dari peristiwa secara alam juga menghasilkan/ mengeluarkan GRK seperti dari letusan gunung berapi, rawa-rawa, kebakaran hutan, peternakan hingga kita bernafaspun mengeluarkan GRK. Komposisi dan konsentrasi gas rumah kaca yang berada di lapisan atmosfer akan sangat bergantung dari gas-gas emisi yang dihasilkan berbagai kegiatan manusia dalam merekayasa sistem tatanan ekologi di planet ini (Hamid, 2009). United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) mengklasifikasi enam jenis gas yang dapat menyerap radiasi matahari di lapisan atmosfer yaitu Karbondioksida (CO2), Dinitroksida (NO2), Metana (CH4), Sulfurheksaflorida (SF6), Perfluorokarbon (PFCs) dan hidrofluorokarbon (HFCs). Gas karbondioksida (CO2), dinitrooksida (NO2) dan metana (CH4) terutama dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil di sektor energi, transportasi dan industri. Gas metana (CH4) juga dihasilkan dari kegiatan pertanian dan peternakan. Sementara untuk gas sulfurheksaflorida (SF6), perflorokarbon (PFCs) dan hidroflorokarbon (HFCs) dihasilkan dari industri pendingin dan penggunaan aerosol (partikel kecil/debu) (Hamid, 2009).

III.

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN Perubahan iklim global akan mempengaruhi setidaknya tiga unsur iklim dan komponen

alam yang sangat erat kaitannya dengan pertanian, yaitu: (1) naiknya suhu udara yang juga berdampak terhadap unsur iklim lain, terutama kelembaban dan dinamika atmosfer, (2) berubahnya pola curah hujan, (3) makin meningkatnya intensitas kejadian iklim ekstrim (anomali iklim) seperti El-Nino dan La-Nina, dan (4) naiknya permukaan air laut akibat pencairan gunung es di kutub utara. (Direktorat Pengelolaan Air, 2009). 1. Dampak Peningkatan Konsentrasi CO2 di Atmosfer. Gas CO2 merupakan sumber karbon utama bagi pertumbuhan tanaman. Konsentrasi CO2 di atmosfir saat ini belum optimal, sehingga penambahan CO2 kepada tanaman di dalam industri pertanian di dalam rumah kaca merupakan kegiatan normal untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti tomat, selada, timun dan bunga potong. Pengaruh fisiologis utama dari kenaikan CO2 adalah meningkatnya laju assimilasi (laju pengikatan CO2 untuk membentuk karbohidrat,fotosintesis) di dalam daun. Efisiensi penggunaan

faktor-faktor pertumbuhan lainnya (seperti radiasi matahari, air dan nutrisi) juga akan ikut meningkat. Selain pengaruh positif terhadap proses fotosintesis, kenaikan CO2 juga akan mempunyai pengaruh positif terhadap penggunaan air oleh tanaman. Stomata mempunyai fungsi sebagai pintu gerbang masuknya CO2 dan keluarnya uap air ke/dari daun. Besar kecilnya pembukaan stomata merupakan regulasi terpenting yang dilakukan oleh tanaman, dimana tanaman berusaha memasukkan CO2 sebanyak mungkin tetapi dengan mengeluarkan H2O sesedikit mungkin, untuk mencapai effisiensi pertumbuhan yang tinggi. Jika CO2 di atmosfir meningkat, tanaman tidak membutuhkan pembukaan stomata maksimum untuk mencapai konsentrasi CO2 optimum di dalam daun, sehingga laju pengeluaran H2O dapat dikurangi. Dengan kondisi tersebut maka laju pembentukan biomassa akan meningkat (Syarifuddin, 2011). Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sebagaimana dijelaskan diatas. Akan tetapi dampak pengikutan berupa peningkatan suhu dan perubahan siklus hidrologi menyebabkan pengaruh positif dari kenaikan CO2 menjadi berkurang atau terhambat sama sekali (Munawar, 2010). 2. Naiknya Suhu Udara yang Juga Berdampak Terhadap Unsur Iklim Lain. Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Suhu udara dipengaruhi oleh radiasi yang diterima di permukaan bumi sementara tinggi rendahnya suhu disekitar tanaman ditentukan oleh radiasi matahari, kerapatan tanaman, distribusi cahaya dalam tajuk tanaman, kandungan lengas tanah. Umumnya laju metabolisme makhluk hidup akan bertambah dengan meningkatnya suhu hingga titik optimum tertentu. Beberapa proses metabolisme tersebut antara lain bukaan stomata, laju transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, dan respirasi. Setelah melewati titik optimum, proses tersebut mulai dihambat: baik secara fisik maupun kimia, menurunnya aktifitas enzim (enzim terdegradasi) Pengaruh peningkatan suhu dapat mengurangi atau bahkan mengurangi dampak positif yang diberikan dari meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfir. Peningkatan suhu disekitar iklim mikro tanaman akan menyebabkan cepat hilangnya kandungan lengas tanah (kadar air tanah) akibat evaporasi. Hal tersebut dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang lengas tanahnya terbatas.

Setiap tanaman memiliki suhu dasar yang merupakan suhu minimum bagi tanaman untuk bermetabolisme. Besaran suhu dasar ini akan mempengaruhi besarnya Thermal unit yang diperlukan oleh tanaman untuk melewati setiap fase perkembangannya. Hubungan antara thermal unit dengan suhu lingkungan adalah berbanding lurus sementara berbanding terbalik dengan umur tanaman. Artinya semakin tinggi suhu, maka umur tanaman akan semakin pendek yang akhirnya berdampak pada waktu penumpukan fotosintat dan pembentukan biomassa yang lebih rendah (Syarifuddin, 2011). Dampak peningkatan suhu terhadap tanaman pangan menurut Las (2007) adalah terjadinya peningkatan transpirasi yang menurunkan produktivitas, peningkatan konsumsi air, percepatan pematangan buah/biji yang menurunkan mutu hasil, dan perkembangan beberapa organisme pengganggu tanaman. Bahkan dirjen IRRI (International Rice Researh Institute) menyatakan bahwa dengan peningkatan suhu udara rata-rata 1C dapat menurunkan produktivitas beras dunia sekitar 5-10 %. Peningkatan temperatur dapat menyebabkan penurunan produksi pada berbagai jenis tanaman pangan, Menurut Tang et al., (2006) dan Weerakoon et al., (2008), Pada tanaman padi, fase pembentukan malai sangat sensitif terhadap temperatur tinggi. Selama tahap ini, stress akibat panas sangat memungkinkan untuk terjadinya sterilitas floret, menurunnya kesuburan dan kehilangan hasil. Hal ini terutama disebabkan oleh menurunnya aktifitas serta perkecambahan polen, terbatasnya pertumbuhan tabung polen, rendahnya daya dehiscence polen dan penyerbukan yang tidak sempurna. Di samping itu temperatur juga secara langsung berperan terhadap perkembangan biji seperti pengisian biji dan laju produksi bahan kering pada biji (Kobata dan Uemuki, 2004) Temperatur tinggi dapat menghambat perkembangan biji pada padi (Zakaria et al., 2002) gandum (Hawker dan Jenner, 1993). Peningkatan temperatur selama kemasakan juga dapat menyebabkan penurunan kualitas biji terutama yang diakibatkan oleh terhambatnya akumulasi cadangan makanan pada biji (Zakaria, 2005). Munculnya bagian putih buram yang biasanya di dapatkan pada bagian gabah yang kurang sempurna pada musim panas diperkirakan mempunyai hubungan yang erat dengan sistem transfer dan transportasi cadangan makanan selama pembentukan biji. Bagian putih buram ini adalah bagian dari kerusakan yang disebabkan oleh temperatur tinggi selama kemasakan.

3. Berubahnya Pola Curah Hujan. Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya perubahan jumlah hujan dan pola hujan yang mengakibatkan pergeseran awal musim dan periode masa tanam. Penurunan curah hujan telah menurunkan potensi satu periode masa tanam padi (Runtunuwu dan Syahbuddin, 2007). Dampak perubahan pola hujan diantaranya mempengaruhi waktu dan musim tanam, pola tanam, degradasi lahan, kerusakan tanaman dan produktivitas, luas areal tanam dan areal panen, serta perubahan dan kerusakan keanekaragaman hayati.

4. Makin Meningkatnya Intensitas Kejadian Iklim Ekstrim (Anomali Iklim) Seperti El-Nino dan La-Nina. Perubahan siklus hidrologi terutama ditunjukkan oleh periode La-Nina dan El-Nino yang semakin sering. La-Nina merupakan fenomena alam yang ditandai dengan kondisi suhu muka laut di perairan Samudra Pasifik ekuator berada di bawah nilai normalnya (dingin), sementara kondisi suhu muka laut di perairan Benua Maritim Indonesia berada di atas nilai normalnya (hangat). Kondisi suhu muka laut di samudra pasifik yang dingin menimbulkan tekanan udara tinggi, sementara kondisi hangat perairan Indonesia yang berada di sebelah barat pasifik menimbulkan tekanan udara rendah. Kondisi ini menyebabkan mengalirnya massa udara dari pasifik ke wilayah Indonesia. Aliran tersebut mendorong terjadinya konvergensi massa udara yang kaya uap air. Akibatnya semakin banyak awan yang terkonsentrasi dan menyebabkan turunnya hujan yang lebih banyak di daerah tersebut (lebih dari 40 mm/bulan di atas rata-rata normalnya). Kebalikan dari La-Nina adalah El-Nino ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menghangat dan menyebabkan terjadinya musim kemarau yang kering dan panjang di Indonesia. Penurunan curah hujan pada saat El-Nino dapat mencapai 80 mm/bulan (Boer 2002). Bencana kekeringan sering terjadi di Indonesia. Hasil pengamatan jangka panjang menunjukkan bahwa terjadinya musim kemarau panjang akibat adanya fenomena anomali iklim global El-Nino pada umumnya terjadi secara periodik setiap 5 tahun sekali (Bey et al., 1992). Pada tahun El-Nino 1991, 1994, 1997 dan 2003 luas pertanaman tanaman padi telah mengalami kekeringan berturut-turut seluas 868 ribu ha, 544 ribu ha, 504 ribu ha dan 568 ribu ha dengan luasan gagal panen (puso) masing-masing seluas 192 ribu ha (22%), 161 ribu ha (30%), 88 ribu ha (18%) dan 117 ribu ha (21%). Penurunan luas panen karena kekeringan tersebut

mengakibatkan penurunan produksi atau kehilangan hasil pada tahun 1991 diperkirakan mencapai 1,455 juta ton GKG atau setara dengan 0,873 juta ton beras, sedangkan pada tahun 1994 dan 1997 menyebabkan kehilangan hasil 640 ton GKG (Jasis dan Karama, 1998). Kekeringan merupakan faktor lingkungan utama yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan produksi bergantung pada besarnya tingkat cekaman yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman ketika mendapat cekaman kekeringan. Pada periode cekaman kekeringan yang panjang akan mempengaruhi seluruh proses metabolismeme di dalam sel dan mengakibatkan penurunan produksi tanaman. Pada saat terjadi kekeringan, sebagian stomata daun menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis. Selain menghambat aktivitas fotosintesis, cekaman kekeringan juga menghambat sintesis protein dan dinding sel (Salisbury and Ross, 1995). Pengaruh cekaman kekeringan tidak saja menekan pertumbuhan dan hasil bahkan menjadi penyebab kematian tanaman. Penurunan laju fotosintesis akibat cekaman kekeringan, merupakan kombinasi dari beberapa proses, yaitu : (1) penutupan stomata secara hidroaktif mengurangi suplai CO2 kedalam daun, (2) dehidrasi kutikula, dinding epidermis, dan membran sel mengurangi permeabilitas terhadap CO2, (3) bertambahnya tahanan sel mesofil terhadap pertukaran gas, dan (4) menurunnya efisiensi sistem fotosintesis berkaitan dengan proses biokimia dan aktifitas enzim dalam sitoplasma. Dimana dalam proses fotosintesis terdapat proses hidrolisis yang memerlukan air. Sedangkan La-Nina menyebabkan kerusakan tanaman akibat banjir, dan meningkatkan intensitas serangan hama dan penyakit. La-Nina menyebabkan kelembaban dan curah hujan tinggi yang disukai oleh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Pada daerah rawan banjir, kehadiran La-Nina menyebabkan gagal panen akibat terendamnya tanaman. Pengaruh kelebihan air terhadap tanaman akan lebih sensitif pada tanaman muda dibandingkan tanaman dewasa (Syarifuddin, 2011). Jasis dan Karama (1998) menyatakan, banjir menyebabkan kehilangan hasil tanaman padi sebesar 214 ton GKG per tahun.

5. Naiknya Permukaan Air Laut.

Dampak naiknya muka air laut di sektor pertanian terutama adalah penciutan lahan pertanian di pesisir pantai, kerusakan infrastruktur pertanian, dan peningkatan salinitas yang merusak tanaman (Las, 2007). Selain akan menciutkan luas lahan pertanian akibat terendam air laut, peningkatan permukaan air laut juga akan meningkatkan salinitas (kegaraman) tanah sekitar pantai. Salinitas pada tanah bersifat racun bagi tanaman sehingga mengganggu fisiologis dan fisik pada tanaman, kecuali tumbuhan laut dan pantai atau varietas adaptif. Salinitas pada padi sangat erat kaitannya dengan keracunan logam berat, terutama Fe dan Al. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai garis dan hamparan pantai yang sangat panjang, sehingga penciutan lahan pertanian akibat peningkatan permukaan air laut menjadi sangat luas (Direktorat Pengelolaan Air, 2009). Pengaruh garam terlarut terhadap tanaman adalah melalui osmotik karena konsentrasi garam yang tinggi menyulitkan tanaman menyerab air. Akar tanaman memiliki membran semi permeabel yang melalukan air tapi tidak dapat melewatkan hampir semua garam terlarut. Jadi air secara osmotik semakin sulit diperoleh tanaman dengan semakin meningkatnya kadar garam larutan tanah. Tanaman yang tumbuh pada media salin pada tingkat tertentu dapat meningkatkan kosentrasi osmotik internalnya melalui produksi asam-asam organik atau peningkatan serapan garam. Proses ini disebut sebagai penyesuaian osmotik (osmotic adjusment). Pengaruh salinitas terhadap tanaman nampaknya berupa perubahan energi dari proses pertumbuhan menjadi untuk mempertahankan perbedaan osmotik. Salah satu proses pertama adalah deversi energi pertumbuhan untuk perpanjangan sel. Jadi, untuk dapat mempertahankan perbedaan osmotik, sel jaringan daun membelah tetapi tidak menyebabkan pemanjangan. Gejala terjadinya pertambahan jumlah sel tapi tidak diikuti dengan perpanjangan sel dikarenakan adanya stres osmotik ini adalah terjadinya warna daun yang menjadi hijau gelap (Anwar dan Sudadi, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, S., Sudadi, U. 2007. Kimia Tanah. Departemen Ilmu dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Bey, A., H. Pawitan, I. Las, B. Tjasyono, and F. Winarso. 1992. Evaluation of Indonesian climate and anticipation of dry season. Prosiding Seminar Nasional Antisipasi Iklim 1992 dan Dampaknya terhadap Pertanian Tanaman Pangan. PERHIMPI- Badan Litbang Pertanian.

Boer, R. 2002. Analisis Resiko Iklim Untuk Produksi Pertanian. Jurusan Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB. Bogor. Direktorat Pengelolaan Air. 2009. Pedoman Umum Sekolah Lapang Iklim. Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian. http://pla.deptan.go.id/pdf/11_PEDUM_SL_IKLIM.pdf. [Diakses 15 Januari 2012]. Hamid, H. 2009. Recovery Konservasi dan Rehabilitasi Tumbuhan Sebagai Strategi Mitigasi Global Warming. http://zaifbio.wordpress.com /2009/07/07/recovery-konservasi-dan-rehabilitasitumbuhan-sebagai-strategi-mitigasi-global-warming/. [Diakses 16 Januari 2012]. Hawker, J.S., and Jenner, D.F. 1993. High temperature affects the activity of enzymes in committed pathways of starch synthesis in developing wheat endosperm. Aust. J. Plant Physiol. 20:197209. Jasis dan Karama, A. S. 1998. Kebijakan Departemen Pertanian Dalam Mengantisipasi Penyimpangan Iklim. Prosiding Stategi Antisipatif Menghadapi Gejala Alam La Nina dan El-Nino. Kerjasama PERHIMPI dengan Jurusan GEOMET-IPB Puslittanak dan ICSEA. Kobata, T. and Uemuki N. 2004. High tempetures during the grain-filling period do not reduce the potential grain dry matter increase of rice. Agron. J. 96:406-414. Las, I. 2007. Pembingkaian Diskusi Panel dan Penelitian Konsorsium Perubahan Iklim. Presentasi Round Table Discussion. Tim Pokja Anomali Iklim. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Las, I. 2007. Strategi dan Inovasi Antisipasi Perubahan Iklim (bagian 1). Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian. http://www.litbang.deptan. go.id/artikel/one/186/pdf/Strategi%20dan%20Inovasi%20Antisipasi%20Perubahan%20Iklim%2 0(bagian%201).pdf. [Diakses 15 Januari 2012]. Munawar, M. 2010. Pengaruh Efek Rumah Kaca Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman. http://munawar.8m.net/rmh_kaca.htm. [Diakses 16 Januari 2012]. Noordwijk, M. V. 2008. Agroforestri Sebagai Solusi Mitigasi dan Adaptasi Pemanasan Global: Pengelolaan Sumber Daya Alam Yang Berkelanjutan Dan Fleksibel Terhadap Berbagai Perubahan. World Agrofo restry Centre, ICRAF-Southeast Asia. Bogor. http://worldagroforestrycentre.net/sea/Publications/files/bookchapter/BC0277-08.PDF. [Diakses 16 Januari 2012]. Rahayu, S. 2007. Perubahan Iklim dan Kemiskinan: Bagaimana nasib petani kecil Indonesia kedepan, Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional IX (KIPNAS-IX). Jakarta.

Runtunuwu, E dan Syahbuddin, H. 2007. Perubahan Pola Curah Hujan dan Dampaknya Terhadap Periode Masa Tanam. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian. Bogor. Salisbury, F. B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid I. Penerbit ITB, Bandung. Syarifuddin, M. 2011. Dampak Perubahan Iklim Bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Program Studi Manajemen Pertanian lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Kupang. http://programs tudimplk.blogspot.com/2011/05/dampak-perubahan-iklim-bagi-pertumbuhan.html. [Diakses 16 Januari 2012]. Tang, R. S., Zheng, J. C. and Zhang, D. D. 2006. The effects of high temperatures on pollen vitality and seed setting of different rice varieties. Jiangsu J. Agric. Sci. 22:369-373. Tim Sintesis Kebijakan. 2008. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian, Serta Strategi Antisipasi dan Teknologi Adaptasi. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor. http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/ip012086.pdf [Diakses 16 Januari 2012]. United Nations Development Programme Indonesia. 2007. Sisi Lain Perubahan Iklim, Mengapa Indonesia Harus Beradaptasi Untuk Melindungi Rakyat Miskin. Jakarta. http://www.undp.or.id/pubs/docs/UNDP%20%20Sisi%20Lain%20Perubahan%20Iklim%20ID.pdf [Diakses 15 Januari 2012]. Weerakoon, W. M. W., Maruyama, A. and Ohba, K. 2008. Impact of humidity on temperature induced grain sterility in rice (Oryza sativa L). J. Agron. and Crop Sci. 194:135-140. Zakaria, S., Matsuda, T. and Nitta, Y. 2002. Effect of high temperature at ripening stage on the reserve accumulation in seed in some rice cultivars. Plant Prod. Science. 4:160-168. Zakaria, S. 2005. Effect of temperature in ripening stage on the appearance of nucellar epidermis and reserves accumulation in endosperm of rice (Oryza sativa L.). Jurnal Agrista.

Diposkan oleh Risky Ridha, SP di 20:55

Lingga coffee holiqz Blog's


PENGARUH EFEK RUMAH KACA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIFITAS TANAMAN
Januari 7, 2010 pada 9:17 am (Uncategorized)
Oleh : M. Munawar

http://munawar.8m.net/rmh_kaca.htm Iklim dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas tanaman pangan. Sistem produksi pertanian dunia saat ini mendasarkan pada kebutuhan akan tanaman setahun, kecuali beberapa tanaman seperti pisang, kelapa, buah-buahan, anggur, kacangkacangan, beberapa sayuran seperti asparagus, rhubarb, dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dikembangbiakan dalam kondisi pertanaman tertentu. Produktifitas pertanian berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun. Perubahan drastis cuaca, lebih berpengaruh terhadap pertanian dibanding perubahan rata-rata. Tanaman dan ternak sangat peka terhadap perubahan cuaca yang sifatnya sementara dan drastis. Perbedaan cuaca antar tahun lebih berpengaruh dibanding dengan perubahan iklim yang diproyeksikan. Dan tak terdapat bukti bahwa perubahan iklim akan mempengaruhi perubahan cuaca tahunan. Petani selalu berhadapan dengan perubahan iklim. Besaran perbedaan antar tahun telah melampaui prakiraan perubahan iklim. Fluktuasi iklim tahunan, dalam beberapa urutan besaran lebih tinggi dibanding dengan besar prediksi perubahan pelan-pelan iklim yang diajukan para ahli ekologi. Hal ini digambarkan pada Musim panas daerah pertanian Jagung Amerika serikat, antara tahun 1988 (kering dan panas) dan 1992 (basah dan dingin). Suhu selama Juli dan Agustus berbeda 80F dalam dua tahun dibeberapa negara bagian. Hal paling kritis yang belum diketahui adalah pola frekuensi kemarau. Kemarau terjadi dibeberapa tempat didunia setiap tahun. Kemarau tahunan juga lumrah terjadi di area pertanian India, China, Rusia dan beberapa negara Afrika. Makalah ini akan membahas implikasi dari effek rumah kaca, atau khusunya, perubahan iklim yang diakibatkan meningkatnya kandungan CO2 atmosfir dan gas rumah kaca lainnya terhadap produktifitas tanaman pangan. Juga mempertimbangkan efek langsung maupun biologis dari peningkatan kadar CO2 tersebut. Dan interaksi Biologi dan Iklim terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Pengaruh Iklim terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Variabel menonjol yang diperkirakan akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman pangan akibat terjadinya peningkatan kadar CO2 adalah bumi yang memanas. Berdasarkan pengamatan obyektif di lapangan, diperkirakan akan lebih rendah dibanding permodelan iklim yang lemah dan kasar menggunakan komputer. Berdasarkan permodelan komputer, muka bumi rata-rata akan memanas sebesar 1,5-4,5OC jika kadar CO2

meningkat duakali. Secara keseluruhan iklim akan memanas 3 kali 1,5OC pada akhir abad nanti, dan pemanasaan terbesar terjadi dikutub, dan lebih rendah dikhatulistiwa. Kedua, kenaikan suhu dapat diperkirakan dan akan berpengaruh terhadap pola hujan. Untuk kebanyakan tanaman pangan dan serat dan beberapa spesies lain perubahan dalam ketersediaan air memiliki akibat yang lebih besar dibanding kenaikan suhu. Permodelan iklim secara regional telah dimodelkan dalam tingkat yang lebih kurang meyakinkan dibanding model untuk iklim global. Perubahan yang diperkirakan, jika terjadi dalam pola hujan dan suhu dengan kadar CO2 yang tinggi akan menguntungkan produksi tanaman pangan beririgasi. Pertambahan areal pertanian beririgasi di Amerika terjadi di delta misisipi dan dataran utara. Hal serupa terjadi di India, China dan Rusia bagian selatan. Di USA, area tanam jagung dan gandum musim dingin akan bergeser ke utara dan akan digantikan sorgum dan padi-padian. Ketiga, pemanasan global mempengaruhi variabel yang berpengaruh terhadap produktifitas pertanian. Hal ini akan sangat penting bagi pertanian yang terkait zona suhu, baik bagi pertambahan maupun intensitas masa tanam atau satuan tingkat pertumbuhan. Perhatian petani akan tertuju pada perbedaan musiman dan antar tahun pada curah hujan, salju, lama musim tanam, dan beda suhu dalam hari-hari yang berpengaruh pada tahap pertumbuhan. Stabilitas dan keandalan produksi adalah sama pentingnya dengan besaran jumlah produksi itu sendiri. Keprihatinan akan perubahan iklim dimasa depan dan perubahan yang lebih besar lagi akan diimbangi dengan penelitian mengenai manfaat peningkatan CO2 bagi fotosintesis dan berkurangnya kebutuhan tanaman akan air, dan tetap meningkatnya hasil. Selama 70 tahuan, perubahan cuaca, mencerminkan bahwa hasil tanam di USA, Rusia, India, China, Argentina, Canada dan Australia, memungkinkan negara dengan cuaca baik dapat menjaga keamanan pangan negara dari cuaca yang buruk. Kekeringan secara menyeluruh di dunia hampir tak pernah terjadi saat ini. Walau ada kepastian bahwa pertanian dunia dapat mengantisipasi perubahan iklim, perubahan itu akan menambah masalah yang harus ditangani dalam dasa warsa kedepan. Masalah lain adalah Kelangkaan air dan kualitas air, tanah yang menjadi gersang, pengadaan energi dari bahan bakar fosil serta kelangsungan praktek pertanian yang sekarang ada. Beberapa praktek yang membahayakan kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan harus diubah bersamaan dengan tingkat produksi yang aman dan dapat diandalkan juga harus terus ditingkatkan. Prakiraan terjadinya perubahan iklim membuat penelitian pertanian yang komprehensif menjadi sangat penting dalam menghadapi perubahan itu secara efektif. Penelitian mengenai perubahan iklim, akan melengkapi usaha peningkatan produktivitas tanaman, yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, yang kini tengah dilakukan melalui rekayasa genetik, perlakuan kimiawi dan pola pengolahan. Ini akan memberi dua manfaat sekaligus, baik sebagai pelindung mengahadapi perubahan jangka pendek lingkungan, seperti kemarau dan juga membantu menghadapi perubahan iklim dalam jangka panjang, dan untuk mengkapitalisasi sumberdaya hayati bagi peningkatan produksi.

Pandangan yang berbeda mengenai pemanasan global yang memiliki bobot ilmiah yang baik muncul, mendukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sekarang telah disimpulkan oleh beberapa ilmuwan bahwa model prakiraan iklim yang dibuat merupakan penyederhanaan yang sangat simplistis dari proses atmosfir dan lautan yang sangat kompleks. Dan tak dapat dibuktikan bahwa pengeluaran gas rumah kaca akan berpengaruh signifikan terhadap iklim dunia, sebab-sebab pemanasan global juga lebih tidak dapat lagi dipastikan. Pengaruh Biologis Langsung: Pertumbuhan Tanaman dalam rumah Kaca Penelitian mengenai manfaat pengayaan CO2 dimulai abad lalu. Awal 1888, manfaat pemupukan dengan CO2 telah dilakukan pada tanaman di dalam rumah kaca di Jerman, dan beberapa tahun kemudian di Inggris, serta 80 tahun yang lalu di USA. Hasil yang menguntungkan pertama kali dilaporkan terjadi pada tanaman pangan seperti letuce, tomat, mentimun, dan kemudian bunga dan tanaman hias. Banyak catatan dan pernyataan yang disusun mengenai pertumbuhan tanaman yang berada dalam lingkungan yang dikontrol dan diberi pengayaan CO2. Wittwer dan Robb membuat catatan menyeluruh mengenai data-data sebelumnya dan ditambah hasil penelitiannya sendiri bahwa tanaman tomat mencapai usia dewasa dan hasil produksi yang menguntungkan dalam rumah kaca yang diperkaya CO2. Sementara Strain dan Cure menyusun Bibliographi literature mengenai pengayaan CO2 dan efeknya terhadap lingkungan dan tanaman yang lengkap. Kimball dkk. pada tahun 1983, 1985 dan 1996 mengumpulkan 770 penelitian mengenai hasil tanaman dalam rumah kaca dengan pengayaan CO2, dan terbukti hasil tanaman tersebut meningkat 32%. Pada tahun 1982 diselenggarakan Konferensi Internasional yang bertujuan mengidentifikasi makalah yang terkait dengan pengaruh biologis langsung dari pengaruh peningkatan CO2 pada produktifitas tanaman, sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dengan efisiensi photositensis, efisiensi penggunaan air, Penyerapan Nitrogen biologis terkait dengan sumberdaya iklim seperti cahaya, suhu dan kelembaban. Fokus makalah ini dibuat dengan mengacu kepada tindak konferensi tersebut. Dokumentasi yang lebih lengkap mengenai efek langsung CO2 terhadap produkstifitas tanaman diterbitkan Departemen Energi USA pada Tahun 1985-1987 secara berseri, makalah Wittwer tahun 1985 dan 1992. Itu semua dilengkapi oleh materi yang diedit oleh Enoch dan Kimball pada 1968 mengenai Pengayaan Karbondioksida Pada Tanaman Rumah Kaca meliputi status dan sumber CO2, physiologi, hasil daan ekonomi. Juga telah dilakukan riset selama 35 tahun oleh sebuah grup dalam Komisi Tanaman Terlindung pada International Society for Holticultural Science, yang membuktikan bahwa pengayaan CO2 menambah hasil sebesar 12-13 %, dibanding pada kadar atmosfir biasa sebesar 335 ppm. Pengaruh paling mencolok dari pengayaan tersebut dalah efisiensi fotosintesis dan Penggunaan Air yang lebih efisien. Efisiensi Fotosintesis

Hanya sedikit keraguan bahwa kadar CO2 dalam atmosfir adalah kurang optimal bagi fototosintesis ketika faktor lain yang berpengaruh terhadap tanaman (cahaya, air, suhu dan unsur hara) mencukupi. Fotosintesa Netto adalah jumlah fotosintesa brutto minus fotorespirasi, dan fotorespirasi setidaknya memiliki besaran mengubah 50% karbohidrat hasil fotosintesa kembali menjadi CO2, dengan peningkatan CO2 fotorespirasi diperkirakan akan menurun. Peningkatan Biomassa terbukti terjadi ketika dilakukan pengayaan CO2. Ini tak selalu muncul dari fotosintesa netto. Kadar CO2 yang tinggi memicu penggunaan air yang efisian dalam tanaman C4 seperti jagung. Peningkatan efisiensi air ini merangsang pertumbuhan tanaman. Dampak langsung yang dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah peningkatan tingkat fotosintesa daun dan kanopi. Peningkatan fotosintesis akan meningkat sampai kadar CO2 mendekati 1000 ppm. Hasil paling pasti adalah tanaman tumbuh cepat dan lebih besar. Ada perbedaan antara spesies. Spesies C3 lebih peka terhadap peningkatan kadar CO2 dibanding C4. Terjadi juga pertambahan luas dan tebal daun, berat per luas, tinggi tunas, percabangan, bibit dan jumlah dan berat buah. Ukuran Tubuh meningkat seiring rasio akar-batang. Rasio C:N bertambah. Lebih dari itu semua hasil panen meningkat. Terutama pada Kentang, Ubi Jalar, Kedelai. Dengan meningkatnya kadar CO2 menjadi dua kali sekarang secara global, hasil pertanian diperkirakan akan meningkat sampai 32% dari sekarang. Perkiraan sementara saat ini sekitar 5%-10% dari kenaikan produksi pertanian adalah akibat kenaikan kadar CO2. Manfaat pengayaan CO2 terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman saat ini telah dikenal telah dikenal luas. Banyak pengujian yang dilakukan dalam lingkungan terkontrol secara penuh atau sebagian, terhadap beberapa tanaman komersial (padi, Jagung, gandum, kedelai, kapas, kentang, tomat, ubi jalar, dan beberapa tanaman hutan), yang membuktikannya. Efisiensi Penggunaan Air Kebutuhan utama tanaman yang lainnya adalah air, baik secara kualitas maupun kuantitas. Air kini telah menjadi permasalahan penting bagi lima negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia (China, India, USA, Sovyet, Indonesia). Juga tentu dinegara-negara temur tengah, afrika utara dan sub sahara. Satu faktor penting yang berpengaruh terhadap produksi tanaman namun masih merupakan misteri adalah pola musim kering yang terjadi. Kekeringan adalah hal yang paling ditakuti oleh para petani diberbagai negara produsen pangan. Kebutuhan akan air menjadi semakin penting dan kritis, di USA, 8085 % konsumsi air bersih adalah untuk pertanian. Sepertiga persediaan tanaman pangan sekarang tumbuh padi 18% lahan beririgasi. Aspek penting dari peningkatan kadar CO2 dalam atmosfir adalah kecenderungan tanaman untuk menutup sebagian dari stomata pada daunnya. Dengan tertutupnya stomata ini penguapan air akan menjadi perkurang, dan dengan itu berarti efisiensi penggunaan air meningkat. Kekurangan air adalah faktor pembatas utama dari produktifitas tanaman. Bukti yang selama ini dikumpulkan menunjukan bahwa peningkatan CO2 di atmosfir meningkatkan efisiensi penggunaan air. Hal ini adalah penemuan yang penting bagi bidang pertanian dan juga bagi ekologi. Implikasi dari hal itu bermacam-macam, salah satunya adalah peningkatan daya tahan terhadap kekeringan dan berkurangnya kebutuhan air untuk pertanian. Efek langsung dari kadar CO2 dalam atmosfir terhadap fotosintesis tanaman C4 adalah meningkatkan efisiensi air dalam fotosintesa. Dan pada tanaman C4 dan C3 mengurangi

membukanya stomata, hal ini ditunjukan oleh Roger et al. pada tanaman kedelai. Tanaman dengan cara fotosintesa C3 mendapat keuntungan dengan 3 cara. Pertama meluasnya ukuran daun, kedua peningkatan tingkat fotosintesis perunit luas daun, dan terakhir efisiensi penggunaan air. Produksi Tanaman Pangan Beririgasi Perubahan yang telah diperkirakan mengenai penguapan dan suhu akibat efek rumah kaca dan pemanasan global sepertinya akan menguntungkan lahan pertanian beririgasi. Di USA, luas areal pertanian beririgasi akan meluas sampai dataran utara dan delta Missisipi, hal ini juga berlaku untuk Cina, India dan negara lain. Dimana lingkungan lebih lembab dan diperuntukkan untuk tanaman biji-bijian dan kacang-kacangan. Kecenderungan ini telah terjadi di USA, China, dan India. Jagung dan Gandum kini bergeser mendekati daerah yang dingin dan lebih lembab. Produksi Sorgum dan padi-padian akan menggeser posisi areal gandum dan jagung tersebut. Diharapkan juga, dimasa mendatang model dari atmosfir dan iklim akan lebih berkembang dan melengakapi dari apa yang sekarang telah dikembangkan, sehingga sensitivitas tanaman terhadap perubahan iklim lebih dapat diketahui. Pertumbuhan dan Produkstifitas Tanaman: Kemampuan Adaptasi terhadap Suberdaya Iklim di Bumi Banyak tanaman pangan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di bumi padi, ubikayu, ubijalar dan jagung dapat tumbuh dimana saja kelembaban dan suhu sesuai. Jagung mampu tumbuh di areal yang beraneka ragam kelembaban, suhu, dan ketinggian dibumi ini. Areal produksinya di USA telah meluas ke utara sampai 800 km selam lima puluh tahun ini. Kedelai dan Kacang tanah dapat tumbuh di daerah tropik sampai lintang 450 LU dan 400 LS. Gandum musim dingin yang lebih produktif dari gandum musim semi areal tanamnya telah meluas keutara sejauh 360 km. Ditambah dengan kemampuan rekayasa genetik yang kita miliki perluasan areal tanam akan semakin mungkin dan cepat terealisasi. Diperkirakan penggandaan kadar CO2 akan meningkatkan produktivitas tanaman di Amerika Utara, hal serupa juga terjadi di Sovyet, Eropa dan propinsi bagian utara China. Tanaman hortikultura dapat berkembang bebearapa musim diseluruh negara bagian USA. Tanaman seperti Tebu dan Kapas semakin meluas areal tanamnya dengan dimanfaatkannya mulsa dan pelindung plastik. Pemanasan global akan lebih menguntungkan dibanding dengan kembalinya era es sebagaimana diprediksi beberapa dekade yang lalu. Terlebih dimana produksi tanaman pangan terpusat di Lintang 300 LU sampai 500 LS. Perubahan iklim secara drastis dan ekstrem sebagaimana yang selama ini dipublikasikan adalah hal yang sangat berlebihan. Pemanasan secara perlahan mungkin menguntungkan, karena memungkinkan penanaman tumbuhan tropis seperti mangga, pepaya, nanas dan pisang , dinegara bagian selatan USA. Prakiraan Regional: Pola Iklim dan Respons Tanaman

Sejak 1850, kadar CO2 dalam atmosfir telah meningkat sebesar 25 % akibat pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan tak ada yang menentangnya. Kadar gas rumah kaca selain CO2 juga telah meningkat melebih prosentase CO2 dan dengan efek pemanas yang setara CO2. Namun terdapat kontrovesi mengenai kapan pemanasan global pertama kali muncul, juga terdapat kontroversi mengenai besaran perubahan suhu yang terjadi, jika terjadi pada masa yang akan datang. Perkiraan yang ada berkisar antara minus 1,50C sampai 60C. Prakiraan iklim dan cuaca regional dengan sebaran variabel seperti awan, kelembaban, dan angin lebih tidak pasti lagi. Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan, sebagaimana dibahas diatas, namun bila terjadi kekeringan sebagaimana ramalan hasil permodelan iklim yang sekarang, hasil pertanian tak dapat dipastikan. Namun secara garis besar dampak yang terjadi masih dapat kita kendalikan. Tindakan dari petani, ilmuwan dan kebijkan pemerintah lebih diperlukan dibandingkan dengan perubahan pola hidup kita. Prakiraan pengaruh CO2 terhadap iklim menimbulkan banyak spekulasi, dan beberapa riset telah dimulai untuk meneliti dampaknya terhadap hubungan hama dan tanaman dan strategi perlindungan tanaman. Gulma, Serangga, nematoda dan wabah berdampak sangat merugikan bagi pertanian. Perubahan Iklim yang mungkin akan berdampak pada hubungan tumbuhan hasil panen hama, dan ekosistem lain. Peningkatan kandungan karbohidrat dan akumulasi nitrogen akan berpengaruh terhadap pola makan serangga, ini telah ditunjukan dalam beberapa eksperimen. Pengendalian hama memasuki era baru, dengan pengintegrasian penanganan hama. Kesimpulan Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan dan produksi tanaman. Pengaruh peningkatan CO2 adalah peningkatan tingkat fotosintesa daun dan kanopi. Peningkatan fotosintesis akan meningkat sampai kadar CO2 mendekati 1000 ppm. Efek langsung dari kadar CO2 dalam atmosfir terhadap fotosintesis tanaman C4 adalah meningkatkan efisiensi air dalam fotosintesa. Pada tanaman C4 dan C3 mengurangi membukanya stomata. Perubahan yang telah diperkirakan mengenai penguapan dan suhu akibat efek rumah kaca dan pemanasan global akan menguntungkan lahan pertanian beririgasi, seperti tanaman biji-bijian dan kacangkacangan.
Suka Be the first to like this.

Tinggalkan Balasan

Cari

Halaman
o

About Mei 2010 April 2010 Februari 2010 Januari 2010 November 2009 Oktober 2009 Uncategorized Daftar Masuk RSS Entri RSS Komentar

Arsip
o o o o o o

Kategori
o

Meta
o o o o

Blog pada WordPress.com. Tema: Thirteen oleh Beccary.


Ikuti

Follow Lingga coffee holiqz Blog's


Get every new post delivered to your Inbox.
Powered by WordPress.com

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Tanaman Pangan Ditulis oleh MasterAdmin

Rabu, 15 Juni 2011 03:06 PENDAHULUAN Global warming mempengaruhi pola presipitasi, evaporasi, water run-off, kelembaban tanah dan variasi iklim yang sangat fluktuatif secara keseluruhan mengancam keberhasilan produksi pangan. Kajian terkait dampak perubahan iklim pada bidang pertanian oleh National Academy of Science/NAS (2007) menunjukkan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Australia-Asia Monsoon and El Nino-Southern. Dampak perubahan iklim pada peningkatan temperatur sebenarnya sudah ditengarai sejak tahun 1990-an. Department for International Development (DFID), badan dari pemerintah Inggeris yang mengurusi bantuan pembangunan untuk negara-negara lain) dan World Bank (2007) melaporkan rata-rata kenaikan suhu per tahun sebesar 0.3 derajat celsius. Pada tahun 1998 terjadi kenaikan suhu yang luar biasa mencapai 1 derajat celsius. Indonesia diprediksi akan mengalami lebih banyak hujan dengan perubahan 2-3 persen per tahun. Intensitas hujan akan meningkat, namun jumlah hari hujan akan semakin pendek. Dampak yang nyata adalah meningkatnya risiko banjir. Secara umum, perubahan cuaca akan memicu kemarau panjang dan penurunan kesuburan tanah. Hal ini akan mempengaruhui kelangsungan produksi pangan secara nasional. Pemanasan global juga mengandung resiko yang besar akan kegagalan panen dan kematian hewan ternak. Keadaan tersebut di atas secara langsung maupun tidak langsung juga akan berdampak terhadap aktivitas pertanian di wilayah Kabupaten Pati. Mengingat kondisi Kabupaten Pati dengan luas wilayah 150.368 Ha terdiri atas 58.749 ha lahan sawah dan 91.629 ha lahan bukan sawah. Dalam data lahan bukan sawah termasuk di dalamnya lahan yang dimanfaatkan untuk perkebunan, perikanan darat, hutan, padang rumput, dan pekarangan. Data tahun 2005 jumlah penduduk Kabupaten Pati sebanyak 1.218.267 jiwa dengan mata pencaharaian penduduk bervariasi, sebagian besar bekerja pada sektor pertanian (secara umum). Kontribusi sektor pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih paling besar dibandingkan dengan sektor yang lainnya yaitu sebesar 45,33% (Pati Dalam Angka, 2005). Berdasar pada uraian di atas, maka perlu dikaji sejauh mana dampak perubahan iklim (Climate Change) terhadap produktivitas tanaman pangan (padi dan palawija), dengan tujuan untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap produksi tanaman pangan (padi dan palawija) di Kabupaten Pati. KAJIAN PUSTAKA 1. Pemanasan Global Pemanasan global (Global Warming) adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi (Wikipedia, 2010). Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18C (1.33 0.32F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang

dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Menurut Soden et al. (2005), Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat (Soden et al., 2005). Beberapa dampak pemanasan global antara lain: Pertama, Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global (global warming), daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut justru akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kedua, Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 25 cm (4 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 88 cm (4 35 inchi) pada abad ke-21.

Ketiga, Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat. Keempat, Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah. Kelima, Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari. 2. Dampak Perubahan Iklim

Perubahan iklim (anomali) akan membawa pengaruh pada intensitas dampak dan sangat tergantung pada tingkat penyimpangannya (ekstern atau tidak ekstern). Secara umum dampak penyimpangan iklim terhadap aspek-aspek penataan ruang, meliputi: (a) Pemanfaatan lahan budidaya, berupa penurunan atau bahkan kegagalan berproduksi usaha pertanian, seperti: kegagalan panen tanaman pangan akibat kekeringan, kegagalan panen tanaman pangan akibat banjir, penurunan produksi holtikultura akibat penyimpangan iklim yang mempengaruhi periode pembuahan, kebakaran hutan yang memengaruhi produksi kayu dan hasil hutan, dan kegagalan produksi kegiatan budidaya perikanan air tawar akibat kelangkaan air atau bahkan kebanjiran; (b) Penyimpangan iklim berupa curah hujan yang cukup tinggi, memicu terjadinya gerakan tanah (longsor) yang berpotensi menimbulkan bencana alam, berupa : banjir dan tanah longsor; (c) Penyimpangan iklim berupa curah hujan yang sangat rendah dibarengi peningkatan suhu udara, menyebabkan terjadinya kekeringan. Kekeringan potensial menjadi penyebab terjadinya: penurunan ketersediaan air, yang akan mengganggu proses budidaya pertanian; kebakaran hutan; tidak maksimalnya operasionalisasi pembangkit tenaga listrik (PLTA). Di Indonesia perubahan iklim adalah datangnya musim kemarau yang berkepanjangan, yang

menyebabkan terjadinya kekeringan. Dampak kekeringan menjadi ancaman kegagalan panen tanaman bahan pangan. Penyebab anomali iklim,yang sering disebut El Nino, adalah naiknya suhu udara di Kawasan Asia Pasifik. Tahun 1997/1998 dan 1992/1993 Indonesia terkena dampak buruk dari bencana El Nino Southern Oscilliation (ENSO) berupa kekeringan yang amat hebat dan penurunan produksi beras lebih dari 30 persen yang menyebabkan import beras mencapai angka tertinggi 5,8 juta pada tahun 1998 (Bustanil Arifin, 2003 cit. Ditjen. Penataan Ruang Dekimpraswil, 2010). Terjadinya penurunan produksi mempengaruhi volume ekspor dan impor komoditas pertanian. Pada tahun 1992 dan 1995, setahun setelah El-Nino terjadi, volume ekspor minyak sawit, teh dan kopi mengalami penurunan. Sebaliknya impor pangan mengalami peningkatan. Besarnya volume impor pangan oleh Indonesia dapat mempengaruhi harga beras dunia. Dampak perubahan iklim: suhu udara meningkat 0,740C dalam kurun waktu 10 tahun (19062005), permukaan laut naik 0,7 mm/tahun, kurang lebih pada tahun 2061 menjadi 70 mm, perubahan species flora dan fauna di hutan, perubahan pola dan musim tanam, perubahan frekuensi dan intensitas serangan hama dan penyakit tanaman. 3. Klasifikasi Iklim Dalam pembagian iklim, Oldeman lebih menitik beratkan pada banyaknya bulan basah-bulan kering secara berturut-turut yang dikaitkan dalam sistem pertanian untuk daerah-daerah tertentu. Bulan basah yang digunakan Oldeman adalah sebagai berikut: (a) Bulan basah apabila curah hujan lebih dari 200 mm.; (b) Bulan lembap apabila curah hujannya 100 mm - 200 mm; (c) Bulan kering apabila curah hujan kurang dari 100 mm.
Berdasarkan kriteria bulan basah, Oldeman menentukan lima klasifikasi iklim utama (Tabel 1.) dan sub tipe (Tabel 2.) Tabel 1. Tipe utama iklim menurut Oldeman

NO.

TIPE UTAMA A B C D E

PANJANG BULAN BASAH (BULAN) >9 79 56 34 <3

1. 2. 3. 4. 5.

Tabel 3. Sub tipe iklim menurut Oldeman NO. SUB PANJANG

TIPE 1. 2. 3. 4. 1 2 3 4

BULAN KERING (BULAN) <= 1 23 46 >6

Pembagian zona agroklimat menurut Oldeman dan Hubungannya dengan pertanian tercantum pada Tabel 3. Tabel 3. Tipe iklim dan penjabarannya
TIPE IKLIM A1, A2 B1 B2 C1 C2,C3,C4 PENJABARAN Sesuai untuk Padi terus menerus tetapi produksi kurang karena pada umumnya kerapatan fluks radiasi surya rendah sepanjang tahun. Sesuai untuk Padi terus menerus dengan perencanaan awal musim tanam yang baik.Produksi tinggi bila panen musim kemarau. Dapat tanam padi dua kali setahun dengan varitas umur pendek dan musim kering yang pendek cukup utk tanaman palawija Tanam Padi dapat sekali dan palawija dua kali setahun Tanam Padi dapat sekali dan palawija dua kali setahun. Tetapi penanaman palawija yang kedua harus hati2 jangan jatuh pada bulan kering Tanam padi umur pendek satu kali dan biasanya produksi bisa tinggi karena kerapatan fluks radiasi tinggi. Waktu tanam palawija. Hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija setahun tergantung pada adanya persediaan air irigasi. Daerah ini umumnya terlalu kering, mungkin hanya dapat satu kali palawija, itupun tergantung adanya hujan.

D1 D2,D3,D4 E

Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut. Oldeman mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.

Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004). Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004). 4. Pola Tanam
Pola tanam dapat disusun sesuai kebutuhan petani. Pemilihan jenis tanaman budidaya umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Diketahuinya ketersediaan air disuatu daerah dengan adanya neraca air maka penentuan pola tanam dalam satu tahun dapat diatur sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Penentuan pola tanam sangat dipengaruhi ketersediaan air. Maka dari itu, ketika waktu defisit air penentuan pola tanam akan berbeda jika air dapat ditambahkan ataupun tidak dapat diberikan penambahan air. Berikut akan diberikan lima contoh model pola tanam:

(a) Padi - Padi - Padi Jika air saat terjadi defisit dapat disediakan maka dapat dilakukan penanaman padi sepanjang tahun. Namun jika air sulit tersedia ketika defisit air maka masih memungkinkan dilakukan penanaman padi sepanjang tahun namun dengan beberapa kriteria. Jika dalam satu tahun akan ditanam padi sebanyak tiga kali maka varietas padi yang digunakan adalah varietas genjah agar umurnya lebih pendek sehingga saat surplus air dapat dimanfaatkan penanaman hingga panen. Awal bulan nopember merupakan awal musim hujan namun pada dekade pertama masih terjadi defisit air. Maka penanaman padi kesatu dapat mulai. Jika persiapan hingga panen memerlukan waktu empat bulan maka saat penanaman padi kedua yaitu pada bulan Maret masih terdapat air namun bulan April hingga juni terjadi defisit air. Maka varietas padi yang ditanam mengunakan padi lahan kering. Penanaman padi ketiga pada bulan juli jika tetap tidak dapat diusahakan pengairan maka padi yang ditanam menggunakan varietas lahan kering. (b) Padi - Padi - Palawija Penanaman dengan pola tanam padi-padi-palawija dapat dimulai dengan penanaman padi pertama saat awal musim yaitu awal nopember. Persiapan dimulai bulan oktober sehingga pada awal musim penanaman telah siap. Pada bulan Pebruari penanaman padi kedua dapat dilaksanakan sehingga pada waktu defisit air yaitu pada bulan juni hingga Oktober dapat digunakan untuk penanaman palawija dan pengolahan tanah. (c) Padi - Padi - Bero Untuk memperbaiki keadaan tanah maka disamping dilakukan penanaman dapat juga dilakukan pemberoan. Jika padi ditanam dua kali seperti pola tanam padi-padi-palawija maka waktu penanaman palawija dapat digunakan untuk pemberoan dan pengolahan tanah. Waktu penanaman padi dapat disamakan dengan pola tersebut.

(d) Padi - Palawija - Bero Menurut rekomendasi Oldeman, pola tanam yang sesuai untuk tipe iklim ini yaitu hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija setahun tergantung pada adanya persediaan air irigasi. Pola tanam ini sesuai dengan rekomendasi Oldeman maka penanaman padi dapat dilakukan saat terjadi surplus air yaitu pada bulan Nopember hingga Maret. Dengan waktu lima bulan ini maka pertumbuhan padi dapat dioptimalkan. Sedangkan penanaman palawija ini dapat disesuaikan dengan jenis palawija dengan kebutuhannya terhadapa air. Jika palawija yang ditanam tidak terlalu tahan kekeringan maka penanamannya dapat dilakukan bulan maret disesuaikan saat surplus air sehingga waktu untuk penanaman padi lebih dimajukan dan sisanya untuk palawija. Jika palawija yang ditanam tahan terhadap kekeringan maka penanamannya dapat dilakukan bulan April kemudian dilakukan pemberoan. (e) Padi - Padi Jika penanaman padi akan dilaksanakan dua kali dalam satu tahun tanpa kegiatan lagi. Maka penanaman padi pertama dilakukan saat surplus air yaitu bulan nopember hingga maret. Sedangkan penanaman padi kedua dapat digunakan padi lahan kering yang ditanam setelah padi kedua. Varietas padi dapat menggunakan varietas berumur panjang karena dalam satu tahun hanya dilakukan dua kali penanaman.

METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di wilayah Kabupaten Pati, mulai bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2010. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif (deskriftive analysis) kuantitatif maupun kualitatif yaitu penelitian yang didasarkan pada pemecahan masalah-masalah faktual yang ada pada masa sekarang. Data yang dikumpulkan disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data iklim (curah hujan), luas tanam, luas panen, produksi, dan produktivitas. Data-data tersebut diperoleh dengan cara mengutip data dan laporan dari instansi terkait (Kantor Statistik dan Dispertanak Kabupaten Pati). Dalam penelitian ini data diperoleh dengan cara pencatatan, mengumpulkan data dari instansi terkait serta mengambil dari hasil studi literatur untuk wilayah sentra produksi sesuai dengan komoditasnya. Data yang terkumpul ditabulasi dan dianalisis secara deskriftif maupun kualitaif. Analisis kuantitatif dengan menggunakan korelasi dan regresi berganda dengan fungsi produksi sebagai berikut: Y = f (X1, X2, X3, X4) Dimana Y = Produksi X1 = Produktivitas X2 = Luas tanam X3 = Luas panen X4 = Bulan basah/lembab

HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim selama lima tahun (tahun 2005 2009) di Kabupaten Pati berdampak terhadap produksi tanaman pangan (padi dan palawija). Data iklim (curah hujan) di Kabupaten Pati selama lima tahun terakhir disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4. terlihat bahwa kondisi iklim di Kabupaten Pati menurut klasifikasi Oldeman termasuk zona E3 karena jumlah bulan basah < 3 bulan dan bulan kering berkisar antara lima sampai enam bulan, keculai pada tahun 2008 termasuk zona E4 karena jumlah bulan kering lebih dari enam bulan. Kondisi iklim yang demikinan termasuk katagori ekstrim kering, apabila ditanami padi sawah rawan terhadap keringan. Tabel 4. Data curah hujan tahun 2005 2009 di Kabupaten Pati
Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desesember Jml CH Jml BB Jml Bl Jml BK Klasifikasi iklim (Oldeman) Curah hujan 2005 315 143 216 177 62 95 37 58 36 150 174 340 1.765 1 4 5 E3 2006 211 293 125 125 121 6 3 2 0 28 52 158 1.124 2 4 6 E3 2007 130 189 207 203 51 75 16 18 36 83 162 307 1.476 2 3 6 E3 2008 109 106 115 88 111 6 4 1 0 31 72 162 804 5 7 E4 2009 473 341 166 148 136 38 8 3 9 16 128 117 1.583 2 5 5 E3 Rerata 248 214 166 148 96 44 13 17 16 62 118 217 1.351 2 4 6 E3

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 2009 yang diolah.

1. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Padi Sawah. Dampak perubahan iklim terhadap gagal panen (kekeringan dan banjir), tingkat produksi padi disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5. terlihat bahwa jumlah bulan basah, bulan lembab dan bulan kering mempengaruhi luas gagal panen dan jumlah produksi padi sawah.
Tabel 5. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi padi sawah tahun 2005 2009 di Kabupaten Pati

Bulan

Curah hujan

2005 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jml CH Jml BB Jml Bl Jml BK Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Gagal panen : - Banjir Prosentase (%) - Kekeringan (ha) Posentase (%) Produksi (ton) Laju Produksi (ton) Prosentase (%) 315 143 216 177 62 95 37 58 36 150 174 340 1.765 1 4 5 104.482 91.277 13.205 217 0,21 1.137 1,09 406.540

2006 211 293 125 125 121 6 3 2 0 28 52 158 1.124 2 4 6 80.622 92.911 -12.289 7.237 8,98 207 0,26 459.823 -53.283 -13,11

2007 130 189 207 203 51 75 16 18 36 83 162 307 1.476 2 3 6 104.018 75.131 28.887 2.751 2,64 18.987 18,25 368.025 91.798 19,96

2008 109 106 115 88 111 6 4 1 0 31 72 162 804 5 7 109.937 94.349 15.588 11.398 10,37 341 0,31 543.944 175.919 -47,80

2009 473 341 166 148 136 38 8 3 9 16 128 117 1.583 2 5 5

96.277

8.587

10.803

527.983 15.961 2,93

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 2009 yang diolah Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem). Pada tahun 2005 jumlah curah hujan bulanan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Mei 2006 termasuk katagori bulan lembab dan basah, hal ini mengakibatkan peningkatan luas panen sebesar 12,289%, produksi 13,11%. Pada tahun 2006 pada bulan Oktober dan Nopember termasuk katagori bulan kering dan bulan Desember sampai bulan Februari 2007 masuk dalam katagori bulan lembab ditambah dengan dua bulan basah Maret dan April 2007, hal ini akan meningkatkan luas tanam padi. Pada bulan Mei terjadi berubahan curah hujan yang ekstrim yaitu masuk katagori bulan kering sampai dengan bulan Oktober 2008, hal ini mengakibatkan kekeringan pada tanaman padi. Adapun luas kekeringan tanaman padi mencapai 18.987 ha (18,25%) dari total luas tanam tahun 2008. Kondisi ini akan berdampak terhadap laju produksi padi di Kabupaten Pati tahun 2008.

Berdasarkan uraian data di atas produksi padi tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 368.025 ton (19,96%). Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan produksi padi sawah menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab akan menurunkan produksi sebesar 0,076 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,224 satuan. Selain itu, perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap peningkatan luas tanam sebesar 0,01 dan luas panen sebesar 0,043 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 1. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 7.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,913 artinya 91,3% produksi padi dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 8,7% oleh faktor lain. Nilai F sebesar 182,802; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -2,040 + 1,036X1 + 0,39X2 + 0,932X3 0,86X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,00 untuk produktivitas, 0,649 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,00, dan bulan basah/lembab 0,313. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh negatif terhadap peningkatan produksi padi. 2. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Jagung. Sentra tanaman jagung di Kabupaten Pati berada di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jeken, Batangan, Margorejo, Gembong, dan Gunungwungkal. Wilayah Kecamatan tersebut sebagian besar merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Luas tanam, luas panen, gagal panen, dan produksi jagung mengalami berfluktuatif bergantung kondisi curah hujan tahunan. Jika pada bulan Oktober/Nopember sampai dengan bulan Maret/April mempunyai curah hujan katagori basah atau lembab akan meningkatkan luas panen dan produksi jagung mengalami peningkatan. Namun demikian akan terjadi yang sebaliknya jika bulan Oktober/Nopember curah hujan bulanan tidak masuk katagori bulan basah/lembab akan menurunkan luas panen dan produksi jagung pada tahun berikutnya (Tabel 6.). Pada tahun 2005 jumlah curah hujan bulanan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Mei 2006 termasuk katagori bulan lembab dan basah, hal ini mengakibatkan peningkatan produksi jagung sebesar 13,11%. Pada musim kemarau (Mei Oktober) tahun 2007 hampir setiap bulan masih turun hujan dan curah hujan pada bulan Nopember masuk katagori bulan lembab, hal ini akan meningkatkan luas tanam jagung, tetapi produksinya mengalami penurunan sebesar 91.798 ton (19,96%) dibanding tahun sebelumnya. Curah hujan sepanjang tahun 2008 termasuk katagori bulan lembab dan kering maka curah hujan termasuk katagori ekstrim (bulan lembab 5 bulan dan bulan kering 7 bulan). Kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan luas tanaman jagung dan produksi jagung mengalami peningkatan sebesar 175.944 ton (47,80%) dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2009 dengan curah hujan merata sepanjang tahun (bulan basah 2, bulan lembab 5, dan bulan kering 5) mengakibatkan penurunan produksi sebesar 15,961 ton (2,93%) dibanding

tahun sebelumnya. Angka tahun 2009 tersebut merupakan angka sementara.


Tabel 6. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi jagung tahun 2005 2009 di Kabupaten Pati Curah hujan 2005 315 143 216 177 62 95 37 58 36 150 174 340 1.765 1 4 5 14.666 14.314 352 2,40 406.540 2006 211 293 125 125 121 6 3 2 0 28 52 158 1.124 2 4 6 12.368 12.513 -145 -1,17 459.823 -13,11 2007 130 189 207 203 51 75 16 18 36 83 162 307 1.476 2 3 6 15.701 15.576 125 0,80 368.025 19,96 2008 109 106 115 88 111 6 4 1 0 31 72 162 804 5 7 17.537 20.182 -2.645 -15,08 543.944 -47,80 527.983 2,93 18798 2009 473 341 166 148 136 38 8 3 9 16 128 117 1.583 2 5 5

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sept. Oktober Nop. Des. Jml Curah Hujan Jml Bulan Basah Jml Bulan Lembab Jml Bulan Kering Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Gagal panen (ha) Prosentase (%) Produksi (ton) Prosentase (%)

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 2009 yang diolah Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem). Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan produksi jagung menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan peningkatan produksi jagung sebesar 0,053 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,161 satuan. Selain itu, perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap peningkatan luas tanam sebesar 0,41 dan luas panen sebesar 0,065 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 3. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 9.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,960 artinya 96,0% produksi jagung dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 4,0% oleh faktor lain. Nilai F sebesar 372,243; p 0,00 artinya secara bersama-sama

jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = 0,118 + 0,085X1 + 0,030X2 + 0,951X3 0,023X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,381 untuk produktivitas, 0,743 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,00, dan bulan basah/lembab 0,805. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh negatif terhadap peningkatan produksi jagung. 3. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Kedelai. Sentra tanaman kedelai di Kabupaten Pati tersebar di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen, Winong, Jeken, Jakenan, dan Margorejo. Wilayah Kecamatan tersebut merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Di Wilayah tersebut kedelai umumnya di tanam menjelang musim kemarau (musim mareng), jika pada awal musim kemarau kondisi rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 70 ml per bulan akan meningkatkan luas gagal panen tanaman kedelai. Pada tahun 2006 dan tahun 2008 curah hujan bulanan yang kurang dari 70 ml per bulan berturut-turut selama 4 bulan (Juni September) mengakibatkan penurunan luas panen tanaman kedelai. Jika rata-rata curah hujan bulanan pada bulan Juni di atas 70 ml per bulan mengakibatkan tingkat kegagalan panen tanaman kedelai berkisar 1,62% - 2,16%. Pada tahun 2006 terjadi gagal panen sebesar 206 hektar (5,74) dan pada tahun 2008 mencapai 234 hektar (7,82%) dari luas tanaman yang ada pada tahun itu. Data curah hujan tahun 2005 2009, luas tanam, luas panen, gagal panen dan produksi disajikan pada Tabel 7. Pada tahun 2008 kondisi rata-rata curah hujan bulan yang kurang ( masuk katagori bulan kering dan bulan lembab), bahkan dalam satu tahun tidak ada rata-rata curah hujan bulanan yang masuk katagori bulan basah. Hal ini mengakibatkan produksi kedelai mengalami peningkatan produk sebesar 892 kuwintal (57,62%) dibandingkan tahun sebelumnya.
Tabel 7. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi kedelai tahun 2005 2009 di Kabupaten Pati Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sept. Oktober Nop. Des. Jml Curah Hujan Jml BB Jml Bl Jml BK Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Curah hujan 2005 315 143 216 177 62 95 37 58 36 150 174 340 1.765 1 4 5 2.654 2.611 2006 211 293 125 125 121 6 3 2 0 28 52 158 1.124 2 4 6 3.590 3.384 2007 130 189 207 203 51 75 16 18 36 83 162 307 1.476 2 3 6 1.111 1.087 2008 109 106 115 88 111 6 4 1 0 31 72 162 804 5 7 2.991 2.757 3.213 2009 473 341 166 148 136 38 8 3 9 16 128 117 1.583 2 5 5

Gagal panen : Prosentase (%) Produksi (kw) Prosentase (%)

43 1,62 5.324

206 5,74 4.491 15,65

24 2,16 1.548 65,53

234 7,82 2.440 57,62 5.015 105,53

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 2009 yang diolah Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem). Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan produksi kedelai menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan penurunan produksi kedelai sebesar 0,030 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penuruna sebesar 0,386 satuan. Selain itu, perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap penurunan luas tanam sebesar 0,094 dan luas panen sebesar 0,109 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 4. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 10.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,957 artinya 95,7% produksi kedelai dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 4,3% oleh faktor lain. Nilai F sebesar 204,777; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -1,483 - 0,094X1 + 1,047X2 + 0,645X3 + 0,210X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,625 untuk produktivitas, 0,000 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,041, dan bulan basah/lembab 0,205. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi kedelai. 4. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Kacang Tanah. Sentra tanaman kacang tanah di Kabupaten Pati tersebar di wilayah Kecamatan Tambakromo, Winong, Jeken, Margorejo, Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal, Cluwak, Tayu, dan dukuhseti. Wilayah Kecamatan tersebut merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Di Wilayah tersebut kacang tanah umumnya di tanam menjelang awal musim dan akhir musim penghujan, jika pada awal dan akhir musim penghujan kondisi rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 70 ml per bulan akan meningkatkan luas gagal panen tanaman kacang tanah. Pada tahun 2006 di bulan Maret sampai dengan Mei rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 140 ml per bulan (katagori lembab) mengakibatkan peningkatan luas panen sebesar 10,49% dan produksi 2,91%. Jika rata-rata curah hujan bulanan pada bulan Mei, Oktober dan Nopember di bawah 100 ml per bulan (bulan kering) mengakibatkan kegagalan panen tanaman kacang tanah sebesar 5,58% - 4,82%. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya kondisi tersebut mengakibatkan penurunan produksi berkisar 0,97% 20,03%. Data curah hujan tahun 2005 2009, luas tanam, luas panen, gagal panen dan produksi kacang tanah disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi kacang tanah Tahun 2005 2009 di Kabupaten Pati
Bulan Januari Curah hujan 2005 315 2006 211 2007 130 2008 109 2009 473

Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sept. Oktober Nop. Des. Jml Curah hujan Jml Bulan basah Jml Bulan lembab Jml Bulan kering Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Gagal panen (ha) Prosentase (%) Produksi (kw)

143 216 177 62 95 37 58 36 150 174 340 1.765 1 4 5 4.027 3921 106 2,63 3.919

293 125 125 121 6 3 2 0 28 52 158 1.124 2 4 6 3.041 3360 -319 -10,49 4.033 -2,91

189 207 203 51 75 16 18 36 83 162 307 1.476 2 3 6 2.830 2672 158 5,58 3.994 0,97

106 115 88 111 6 4 1 0 31 72 162 804 5 7 3.008 2863 145 4,82 3.194 20,03

341 166 148 136 38 8 3 9 16 128 117 1.583 2 5 5

2433

3.384 -5,95

Prosentase (%)

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 2009 yang diolah Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem). Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan produksi kacang tanah menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan peningkatan produksi kacang tanah sebesar 0,101 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,041. Selain itu, perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap peningkatan luas tanam sebesar 0,942 dan luas panen sebesar 0,98. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 5. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 11.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,961 artinya 96,1% produksi kacang tanah dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 3,9% oleh faktor lain. Nilai F sebesar 390,331; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -0,111 + 0,032X1 + 0,951X2 + 0,139X3 0,034X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,722 untuk produktivitas, 0,000 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,140, dan bulan basah/lembab 0,719. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi kacang tanah. 5. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi Kacang Hijau.

Sentra tanaman kacang hijau di Kabupaten Pati tersebar di wilayah Kecamatan Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jeken, Batangan, Jakenan, gabus, Pati, dan Margorejo. Sebagian besar wilayah tersebut merupakan daerah kering (lahan tadah hujan). Di Wilayah tersebut kacang hijau umumnya di tanam menjelang awal musim dan akhir musim penghujan, jika pada awal dan akhir musim penghujan kondisi rata-rata curah hujan bulanan kurang dari 70 ml per bulan untuk bulan Mei dan lebih dari 100 ml per bulan untuk bulan Oktober dan Nopember akan meningkatkan luas gagal panen tanaman kacang hijau Pada tahun 2006 di bulan Oktober dan Nopember besarnya curah hujan bulanan lebih dari 100 ml per bulan mengakibatkan gagal panen sebesar 2,18%. Pada tahun 2006 bulan Oktober dan Nopember dengan curah hujan kurang dari 100 ml per bulan dan Bulan Desember masaih dalam katagori lembab mengakibatkan produksi kacang hijau mengalami peningkatan sebesar 47,54%. Pada tahun 2007 besarnya curah hujan bulan Mei 51 ml per bulan dan bulan Nopember 162 ml per bulan mengakibatkan gagal panen sebesar 13,77% dan produksi turun 48,53% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2008, dimana cuhan hujan bulan Mei di atas 70 ml per bulan dan pada bulan oktober dan Nopember di bawah 100 ml per bulan serta bulan Desember masih dalam katagori bulan lembab mengakibatkan gagal panen sebesar 16,03%, tetapi produksi mengalami peningkatan sebesar 44,43%. Data curah hujan tahun 2005 2009, luas tanam, luas panen, gagal panen dan produksi kacang hijau disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Dampak perubahan iklim terhadap tingkat kegagalan panen dan produksi kacang hijau Tahun 2005 2009 di Kabupaten Pati
Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sept. Oktober Nop. Des. Jml CH Jml BB Jml Bl Jml BK Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Gagal panen (ha) Curah hujan 2005 315 143 216 177 62 95 37 58 36 150 174 340 1.765 1 4 5 11.733 11.477 256 2006 211 293 125 125 121 6 3 2 0 28 52 158 1.124 2 4 6 15.475 15.695 -220 2007 130 189 207 203 51 75 16 18 36 83 162 307 1.476 2 3 6 9.983 8.608 1.375 2008 109 106 115 88 111 6 4 1 0 31 72 162 804 5 7 14.419 12.107 2.312 2009 473 341 166 148 136 38 8 3 9 16 128 117 1.583 2 5 5

Prosentase (%) Produksi (ton) Prosentase (%)

2,18 12.005

-1,42 17.712 -47,54

13,77 9.117 48,53

16,03 13.168 -44,43

Sumber data: Kabupaten Pati dalam Angka Tahun 2005 2009 yang diolah Keterangan: (-): menunjukkan peningkatan, Data Tahun 2009 (Asem). Korelasi antara perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) dengan produksi kacang hijau menunjukkan bahwa kenaikan satu satuan bulan basah/lembab mengakibatkan penurunan produksi kacang hijau sebesar 0,347 satuan. Sedangkan terhadap produktivitas menyebabkan penurunan sebesar 0,200 satuan. Selain itu, perubahan jumlah bulan basah juga berpengaruh terhadap penurunan luas tanam sebesar 0,360 dan luas panen sebesar 0,345 satuan. Hasil analisis korelasi antara produksi, produktivitas, luas tanam, luas panen dan jumlah bulan basah disajikan pada Lampiran 6. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (Lampiran 12.) perngaruh perubahan jumlah bulan basah menunjukkan bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,987 artinya 98,7% produksi kacang hijau dipengaruhi oleh luas tanam, luas panen, dan perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab), sisanya 1,3,% oleh faktor lain. Nilai F sebesar 803,222; p 0,00 artinya secara bersama-sama jumlah bulan basah/lembab, produktivitas, luas tanam, dan luas panen berpengaruh terhadap produksi padi. Dengan hasil analisis regresi Y = -0,702 + 0,946X1 + 0,067X2 + 0,207X3 0,318X4, dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 untuk produktivitas, 0,237 untuk luas tanam, untuk luas panen 0,144, dan bulan basah/lembab 0,318. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bulan basah/lembab berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi kacang tanah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, 1. Kondisi iklim lima tahun terakhir (2005 2009) sebagian besar wilayah Kabupaten Pati berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman termasuk daerah beriklim kering (E). 2. Perubahan iklim (jumlah bulan basah/lembab) sangat berpengaruh terhadap produksi pangan (padi dan palawija) di Kabupaten Pati. 3. Besarnya rata-rata curah hujan bulanan Oktober Nopember dan April - Mei kurang dari 100 ml per bulan mengakibatkan penurunan produksi padi mencapai 19,6%. 4. Untuk tanaman palawija apabila pada bulan Oktober - Nopember di atas 70 ml per bulan dan di bawah 140 ml per bulan akan meningkatkan produksi palawija, tetapi apabila pada bulan Mei dan Juni jumlah curah hujan bulanan di atas 140 ml per bulan akan menurunkan produksi palawija. SARAN Untuk menekan tingkat penurunan produksi (gagal panen) tanaman padi dan palawija akibat perubahan (anomali) iklim terutama yang berkaitan denganm curah hujan di wilayah Kabupaten Pati, petani sangat membutuhkan,

1. 2.

Data curah hujan untuk mendukung kegiatan usahataninya. Bantuan sarana produksi (benih) untuk wilayah yang mengalami kekeringan pada MT 1 yang sesuai dengan agroklimat wilayah setempat.

DAFTAR PUSTAKA Ammann, Caspar, et al. (06-04-2007). "Solar influence on climate during the past millennium: Results from ransient simulations with the NCAR Climate Simulation Model". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 104 (10): 3713-3718. Buesseler, K.O., C.H. Lamborg, P.W. Boyd, P.J. Lam, T.W. Trull, R.R. Bidigare, J.K.B. Bishop, K.L. Casciotti, F. Dehairs, M. Elskens, M. Honda, D.M. Karl, D.A. Siegel, M.W. Silver, D.K. Steinberg, J. Valdes, B. Van Mooy, S. Wilson. (2007) "Revisiting carbon flux through the ocean's twilight zone." Science 316: 567-570. Climate Change 2001:Working Group I: The Scientific Basis (Fig. 2.12). Diakses pada 8 Mei 2007 Ditjen. Penataan Ruang Dekimpraswil, Review Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, 2002. Kebijakan Nasional Untuk Pengembangan Kawasan Budidaya, Bahan Sosialisasi RTRWN dalam rangka Roadshow dengan Departemen Pertanian, Jakarta, 17 Oktober 2002. Effendy, Sobri., 2001. Urgensi Prediksi Cuaca dan Iklim di Bursa Komoditas Unggulan Pertanian, Program Pasca Sarjana / S-3, Institut Pertanian Bogor. Foukal, Peter, et al. (14-09-2006). "Variations in solar luminosity and their effect on the Earth's climate.". Nature Diakses pada 16 April 2007. Hegerl, Gabriele C.; et al. Understanding and Attributing Climate Change. (PDF) Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. Diakses pada 20 Mei 2007 Kutipan: Recent estimates (Figure 9.9) indicate a relatively small combined effect of natural forcings on the global mean temperature evolution of the seconds half of the 20th century, with a small net cooling from the combined effects of solar and volcanic forcings Hidayati, Rini., 2001. Masalah Perubahan Iklim di Indonesia Beberapa Contoh Kasus, Program Pasca Sarjana / S-3, Institut Pertanian Bogor. NASA: Global Warming to Cause More Severe Tornadoes, Storms, Fox News, August 31, 2007. Marsh, Nigel, Henrik, Svensmark (November 2000). "Cosmic Rays, Clouds, and Climate" (PDF). Space Science Reviews 94: 215-230. DOI:10.1023/A:1026723423896 Diakses pada 17 April 2007. Sarjiman dan Mulyadi. 2005. Analisis Neraca Air Lahan Kering Pada Iklim Kering Untuk Mendukung Pola Tanam. Yogyakarta: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Summary for Policymakers. (PDF) Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. Diakses pada 2 Februari 2007 Soden, Brian J., Held, Isacc M. (01-11-2005). "An Assessment of Climate Feedbacks in Coupled Ocean-Atmosphere Models" (PDF). Journal of Climate 19 (14) Diakses pada 21 April 2007.

Stocker, Thomas F.; et al. 7.5.2 Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. Diakses pada 11 Februari 2007 Scafetta, Nicola, West, Bruce J. (09-03-2006). "Phenomenological solar contribution to the 1900-2000 global surface warming" (PDF). Geophysical Research Letters 33 (5). DOI:10.1029/2005GL025539. L05708 Diakses pada 8 Mei 2007. Stott, Peter A., et al. (03-12-2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): 4079-4093. DOI:10.1175/15200442(2003)016%3C4079:DMUTSC%3E2.0.CO;2 Diakses pada 16 April 2007. Winarso, P Agus., 2001. Peluang Munculnya Cuaca Ekstrem Akhir 2002 dan Awal 2003, Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta. Winarso, P Agus., 2002. Perkembangan Alam Indonesia, Butir-Butir Bahan Masukan pada Acara Hari Air dan Meteorologi, Jakarta. Tjasyono, B. 2004.Klimatologi. ITB: Bandung.

Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Pati. Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 15 Juni 2011 03:13 )