Anda di halaman 1dari 23

Makalah Adaptasi Tumbuhan Terhadap Cekaman

Fisiologis
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti yang telah diuatarakan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh
lingkungannya. Faktor-Faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman.
Respons tanaman sebagai akibat faktor lingkungan akan terlihat pada penampilan tanaman. Hal
ini dapat terlihat langsung pada vegetasi hutan bakau yang tumbuh di pantai berlumpur. Bakau
mempunyai akar napas. Begitu pula tumbuhan yang tumbuh pada ekosistem rawa, mempunyai
akar papan. Ini semua ada maksudnya, dan terkandung makna bahwa tumbuhan itu juga
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh di sekitar
ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok
saja yang dapat hidup berdampingan.[1]
Fluktuasi lingkungan setiap hari menantang kehidupan tumbuhan. Kadang-kadang, faktor
dalam lingkungan berubah cukup drastic sehingga membuat tumbuhan menjadi tercekam. Kita
akan mendefinisikan disini sebagai kondisi lingkungan yang dapat member pengaruh buruk pada
tumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup tumbuhan.[2]
Cekaman merupakan faktor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat mengurangi laju
proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui berbagai mekanisme
yang beroperasi lebih dari skala waktu yang berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan
proses fisiologis yang terpengaruh. Respon ini bersama-sama memungkinkan tanaman untuk
mempertahankan tingkat yang relatif konstan dari proses fisiologis, meskipun terjadinya
cekaman secara berkala dapat mengurangi kinerja tanaman tersebut. Jika tanaman akan mampu
bertahan dalam lingkungan yang tercekam, maka tanaman tersebut memiliki tingkat resistensi
terhadap cekaman. Contoh cekaman adalah kekurangan nitrogen, kelebihan logam berat,
kelebihan garam dan naungan oleh tanaman lain.[3]

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Cekaman tumbuhan terhadap fungsi fisiologis ?
2. Adaptasi tumbuhan terhadap cekaman fisiologis ?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui berbagai macam cekaman terhadap fungsi fisiologis.
2. Untuk mengetahui cara tumbuhan beradaptasi terhadap cekaman fisiologis.

BAB II PEMBAHASAN
Pada prinsipnya, setiap tumbuhan memiliki kisaran tertentu terhadap faktor
lingkungannya. Prinsip tersebut dinyatakan sebagai Hukum Toleransi Shelford, yang berbunyi
Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas
bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi factor
lingkungannya.[4] setiap makhluk hidup memiliki range of optimum atau kisaran optimum
terhadap factor lingkungan untuk pertumbuhannya. Kondisi di atas ataupun di bawah batas
kisaran toleransi itu, makhluk hidup akan mengalami stress fisiologis. Pada kondisi stress
fisiologis ini, populasi akan menurun. Apabila kondisi stress ini terus berlangsung dalam waktu
yang lama dan telah mencapai batas toleransi kelulushidupan, maka organism tersebut akan mati.
Cekaman biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak menguntungkan yang
berpengaruh buruk terhadap tanaman.[5] Campbell mendefinisikan cekaman sebagai kondisi
lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan, reproduksi, dan
kelangsungan hidup tumbuhan.[6]

pada umumnya cekaman lingkungan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
(1) cekaman biotik, terdiri dari: (a) kompetisi intra spesies dan antar spesies, (b) infeksi oleh
hama dan penyakit, dan (2) cekaman abiotik berupa: (a) suhu (tinggi dan rendah), (b) air
(kelebihan dan kekurangan), (c) radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi), (d)
kimiawi (garam, gas, dan pestisida), (e) angin, dan (f) suara.[7]

A. Respon Terhadap Cekaman Air


Faktor air dalam fisiologi tanaman merupakan faktor utama yang sangat penting.
Tanaman tidak akan dapat hidup tanpa air, karena air adalah matrik dari kehidupan, bahkan
makhluk lain akan punah tanpa air. Kramer menjelaskan tentang betapa pentingnya air bagi
tumbuh-tumbuhan; yakni air merupakan bagian dari protoplasma (85-90% dari berat keseluruhan
bahagian hijau tumbuh-tumbuhan (jaringan yang sedang tumbuh) adalah air. Selanjutnya
dikatakan bahwa air merupakan reagen yang penting dalam proses-proses fotosintesa dan dalam
proses-proses hidrolik. Disamping itu juga merupakan pelarut dari garam-garam, gas-gas dan
material-material yang bergerak kedalam tumbuh tumbuhan, melalui dinding sel dan jaringan
esensial untuk menjamin adanya turgiditas, pertumbuhan sel, stabilitas bentuk daun, proses
membuka dan menutupnya stomata, kelangsungan gerak struktur tumbuh-tumbuhan.
Peran air yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau
tidak langsung kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya
sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman.[8] Efek kelebihan air atau banjir yang umum
adalah kekurangan oksigen, sedangkan kekurangan air atau kekeringan akan mengakibatkan
dehidrasi pada tanaman yang berpengaruh terhadap zona sel turgor yang selanjutnya dapat
menghambat pertumbuhan tanaman.[9]Kebutuhan air bagi tanaman dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain jenis tanaman dalam hubungannya dengan tipe dan perkembangannya, kadar
air tanah dan kondisi cuaca.

1. Respon Terhadap Cekaman Kelebihan Air


Dampak genangan air adalah menurunkan pertukaran gas antara tanah dan udara yang
mengakibatkan menurunnya ketersediaan O2 bagi akar, menghambat pasokan O2bagi akar dan
mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori tanah maupun menghambat laju difusi).
Genangan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi,
permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N. Genangan menyebabkan kematian
akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di
dekat permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan. Kematian akar menjadi penyebab
kekahatan N dan cekaman kekeringan fisiologis.

2. Respon Terhadap Cekaman Kekeringan


Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air di
daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi laju
evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman. Serapan air oleh akar
tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran, dan ketersediaan air
tanah.[10]
Kekurangan air akan mengganggu aktifitas fisiologis maupun morfologis,
sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus
menerus akan menyebabkan perubahan irreversibel (tidak dapat balik) dan pada
gilirannya tanaman akan mati.[11] Respon tanaman terhadap stres air sangat
ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat
mengalami cekaman. Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan
mencakup perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada
pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun

menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk, sensitivitas
stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen,
perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi.[12]
Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi
untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan
sel-sel penjaga kehilangan turgornya. Suatu mekanisme control tunggal yang
memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga
merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel
mesofil daun. Hormon ini membantu mempertahankan stomata tetap tertutup
dengan cara bekerja pada membrane sel penjaga. Daun juga berespon terhadap
kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang
tergantung pada turgor, maka kekurangan air akan menghambat pertumbuhan daun
muda. Respon ini meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan cara
memperlambat peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari kebanyakan
rumput dan kebanyakan tumbuhan lain layu akibat kekurangan air, mereka akan
menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi dengan cara
memaparkan sedikit saja permukaan daun ke matahari. Semua respon daun ini
selain membantu tumbuhan untuk menghemat air, juga mengurangi fotosintesis.
Pertumbuhan akar juga memberikan respon terhadap kekurangan air. Selama musim
kemarau, tanah umumya mongering dari permukaan hingga bawahnya. Keadaan ini menghambat
pertumbuhan akar dangkal, karena sel-selnya tidak dapat mempertahankan turgor yang
diperlukan untuk pemanjangan. Akar yang lebih dalam yang dikelilingi oleh tanah yang masih
lembab terus tumbuh. Dengan demikian, sistem akar memperbanyak diri dengan cara yang
memaksimumkan pemaparan terhadap air tanah.[13]

B. Respon Tumbuhan Terhadap Kekurangan Oksigen


Tumbuhan yang disiram terlalu banyak air bisa mengalami kekurangan oksigen karena
tanah kehabisan ruangan udara yang menyediakan oksigen untuk respirasi seluler akar. Beberapa
tumbuhan secara struktural diadaptasikan ke habitat yang sangat basah. Sebagai contoh, akar
pohon bakau yang terendam air, yang hidup di rawa pesisir pantai, adalah sinambung dengan
akar udara yang menyediakan akses oksigen. Akan tetapi bagaimana tumbuhan yang tidak biasa
hidup di lingkunagn akuatik bisa mengatasi kekurangan oksigen pada tanah yang digenangi air ?
Satu perubahan struktural adalah pembentukan saluran udara yang menyediakan oksigen pada
akar yang terendam.[14]

C. Respon Terhadap Cekaman Garam


Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garam-garam terlarut
yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah
salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi garam hingga tingkat
konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan kematian tanaman. Garam-garam yang
menimbulkan stres tanaman antara lain ialah NaCl, NaSO 4, CaCl2, MgSO4, MgCl2yang terlarut
dalam air.[15] Stres akibat kelebihan Na+ dapat mempengaruhi beberapa proses fisiologi dari
mulai perkecambahan sampai pertumbuhan tanaman.[16]
Kemasaman tanah merupakan kendala paling inherence dalam pengembangan pertanian
di lahan sulfat masam. Tanaman tumbuh normal (sehat) umumnya pada ph 5,5 untuk tanah
gambut dan pH 6,5 untuk tanah mineral karena pada pH <> 50 cm dari permukaan tanah. Pada
kebanyakan spesies, pengaruh jenis-jenis garam umumnya tidak khas terhadap tumbuhan
tanaman tetapi lebih tergantung pada konsentrasi total garam.[17] Salinitas tidak ditentukan oleh
garam Na Cl saja tetapi oleh berbagai jenis garam yang berpengaruh dan menimbulkan stres
pada tanaman. Dalam konteks ini tanaman mengalami stres garam bila konsentrasi garam yang

berlebih cukup tinggi sehingga menurunkan potensial air sebesar 0,05 0,1 Mpa. Stres garam ini
berbeda dengan stres ion yang tidak begitu menekan potensial air.
Toleransi terhadap salinitas adalah beragam dengan spektrum yang luas diantara spesies
tanaman mulai dari yang peka hingga yang cukup toleran.
Kehilangan air, bukan menyerapnya. Kedua, pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion
tertentu lainnya dapat menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya relative tinggi.
Membran sel akar yang selektif permeabel akan menghambat pengambilan sebagian besar ion
yang berbahaya, akan tetapi hal ini akan memperburuk permasalahan pengambilan air dari tanah
yang kaya akan zat terlarut.[18]
Salinitas menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat
pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan biomass tanaman. Tanaman
yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan
langsung tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan. Gejala pertumbuhan
tanaman pada tanah dengan tingkat salinitas yang cukup tinggi adalah pertumbuhan yang tidak
normal seperti daun mengering di bagian ujung dan gejala khlorosis. Gejala ini timbul karena
konsentrasi garam terlarut yang tinggi menyebabkan menurunnya potensial larutan tanah
sehingga tanaman kekurangan air. Sifat fisik tanah juga terpengaruh antara lain bentuk struktur,
daya pegang air dan permeabilitas tanah.
Pertumbuhan sel tanaman pada tanah salin memperlihatkan struktur yang tidak normal.
Penyimpangan yang terjadi meliputi kehilangan integritas membran, kerusakan lamella,
kekacauan organel sel, dan akumulasi Kalsium Oksalat dalam sitoplasma, vakuola, dinding sel
dan ruang antar sel. Kerusakan struktur ini akan mengganggu transportasi air dan mineral hara
dalam jaringan tanaman.[19]
Banyak tumbuhan dapat berespon terhadap salinitas tanah yang memadai dengan cara
menghasilkan zat terlarut kompatibel, yaitu senyawa organic yang menjaga potensial air larutan

tanah, tanpa menerima garam dalam jumlah yang dapat menjadi racun. Namun demikian,
sebagian besar tanaman tidak dapat bertahan hidup menghadapi cekaman garam dalam jangka
waktu yang lama kecuali pada tanaman halofit, yaitu tumbuhan yang toleran terhadap garam
dengan adaptasi khusus seperti kelenjar garam, yang memompa garam keluar dari tubuh
melewati epidermis daun.[20]

D. Respon Terhadap Cekaman Suhu


Suhu sebagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi produksi tanaman
secara fisik maupun fisiologis. Secara fisik, suhu merupakan bagian yang
dipengaruhi oleh radiasi sinar matahari dan dapat diestimasikan berdasarkan
keseimbangan panas. Secara fisiologis, suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan
tanaman, fotosintesis, pembukaan stomata, dan respirasi. Selain itu, suhu
merupakan salah satu penghambat dalam proses fisiologi untuk sistem produksi
tanaman ketika suhu tanaman berada diluar suhu optimal terendah maupun
tertinggi.

1. Cekaman Panas
Panas berlebihan dapat mengganggu dan akhirnya membunuh suatu
tumbuhan

dengan

cara

mendenaturasi

enzim-enzimnya

dan

merusak

metabolismenya dalam berbagai cara.


Salah satu fungsi transpirasi adalah pendinginan melalui penguapan. Pada
hari yang panas, misalnya temperature daun berkisar 3C sampai 10C di bawah
suhu sekitar. Tentunya, cuaca panas dan kering juga cenderung menyebabkan
kekurangan air pada banyak tumbuhan; penutupan stomata sebagai respon
terhadap cekaman ini akan menghemat air, namun mengorbankan pendinginan

melalui penguapan tersebut. Sebagian besar tumbuhan memiliki respon cadangan


yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dalam cekaman panas Di atas
suatu temperature tertentu- sekitar 40C pada sebagian besar tumbuhan yang
menempati daerah empat musim, sel-sel tumbuhan mulai mensintesis suatu protein
khusus dalam jumlah yang cukup banyak yang disebut protein kejut panas (heatshock protein). Protein kejut panas ini kemungkinan mengapit enzim serta protein
lain dan membantu mencegah denaturasi.

2. Cekaman Dingin
Satu permasalahan yang dihadapi tumbuhan ketika temperature lingkungan
turun adalah perubahan ketidakstabilan membrane selnya. Ketika sel itu didinginkan
di bawah suatu titik kritis, membrane akan kehilangan kecairannya karena lipid
menjadi terkunci dalam struktur Kristal. Keadaan ini mengubah transport zat terlarut
melewati membrane, juga mempengaruhi fungsi protein membrane. Tumbuhan
merespon terhadap cekaman dingin dengan cara mengubah komposisi lipid
membrannya. Contohnya adalah meningkatnya proporsi asam lemak tak jenuh,
yang memiliki struktur yang mampu menjaga membrane tetap cair pada suhu lebih
rendah dengan cara menghambat pembentukan Kristal. Modifikasi molekuler seperti
itu pada membrane membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Pada
suhu di bawah pembekuan, Kristal es mulai terbentuk pada sebagian besar
tumbuhan. Jika es terbatas hanya pada dinding sel dan ruang antar sel, tumbuhan
kemungkinan akan bertahan hidup. Namun demikian, jika es mulai terbentuk di
dalam protoplas, Kristal es yang tajam itu akan merobek membrane dan organel
yang dapat membunuh sel tersebut. Beberapa tumbuhan asli di daerah yang
memiliki musim dingin sangat dingin (seperti maple, mawar, rhodendron) memiliki

adaptasi khusus yang memungkinkan mereka mampu menghadapi cekaman


pembekuan tersebut. Sebagai contoh, perubahan dalam komposisi zat terlarut selsel hidup memungkinkan sitosol mendingin di bawah 0C tanpa pembentukan es,
meskipun Kristal es terbentuk dalam dinding sel.[21]

E. Respon Terhadap Cekaman Cahaya


Cahaya merupakan salah satu kunci penentu dalam proses metabolisme dan
fotosintesis tanaman. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses
perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Respon tanaman terhadap cahaya
berbeda-beda antara jenis satu dengan jenis lainnya. Ada tanaman yang tahan
( mampu tumbuh ) dalam kondisi cahaya yang terbatas atau sering disebut tanaman
toleran dan ada tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam kondisi cahaya terbatas
atau tanaman intoleran.
Kedua kondisi cahaya tersebut memberikan respon yang berbeda-beda
terhadap tanaman, baik secara anatomis maupun secara morfologis. Tanaman yang
tahan dalam kondisi cahaya terbatas secara umum mempunyai ciri morfologis yaitu
daun lebar dan tipis, sedangkan pada tanaman yang intoleran akan mempunyai ciri
morfologis daun kecil dan tebal. Kedua kondisi tersebut akan dapat menjadi faktor
penghambat pertumbuhan tanaman apabila pemilihan jenis tidak sesuai dengan
kondisi lahan, artinya tanaman yang toleran ketika ditanam diareal yang cukup
cahaya justru akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik, begitu juga dengan
tanaman intolean apabila di tanam pada areal yang kondisi cahaya terbatas
pertumbuhan akan mengalami ketidak normalan. Dengan demikian pemilihan jenis
berdasarkan pada sifat dasar tanaman akan menjadi kunci penentu dalam
keberhasilan pembuatan tanaman.

Berikut ini adalah perbedaan Tanaman Toleran ( Shade leaf) Vs Intoleran


( Sun Leaf) menurut Silvika (2009).
1. Tumbuhan cocok ternaung menunjukkan laju fotosintesis yang sangat rendah pada
intensitas cahaya tinggi dibanding tumbuhan cocok terbuka.
2. Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaung mencapai titik jenuh pada intensitas
cahaya yang lebih rendah dibanding tumbuhan cocok terbuka.
3. Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaung lebih tinggi dibanding tumbuhan cocok
terbuka pada intensitas cahaya yang sangat rendah.
4. Titik kompensasi cahaya untuk tumbuhan cocok ternaung lebih rendah dibanding
tumbuhan cocok terbuka.

F. Respon Terhadap Herbivora


Herbivora adalah suatu cekaman yang dihadapi tumbuhan dalam setiap
ekosistem. Tumbuhan menghadapi herbivora yang begitu banyak baik dengan
pertahanan fisik, seperti duri, maupun pertahanan kimia, seperti produksi senyawa
yang tidak enak atau bersifat toksik. Sebagai contoh beberapa tumbuhan
menghasilkan suatu asam amino yang tidak umum yang disebut kanavanin yang
dinamai berdasarkan salah satu sumbernya, jackbean (Cannavalia ensiformis).
Kanavanin mirip arginin. Jika suatu serangga memakan tumbuhan yang
mengandung kanavanin, molekul itu bergabung dengan protein serangga di tempat
yang biasanya ditempati oleh arginin, yang dapat menyebabkan matinya serangga
tersebut.[22]
BAB III PENUTUP
A.

Kesimpulan

Setiap tumbuhan memiliki kisaran tertentu terhadap faktor lingkungannya.


Prinsip tersebut dinyatakan sebagai Hukum Toleransi Shelford, yang berbunyi
Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang
merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu
terhadap kondisi factor lingkungannya.
Cekaman biasanya

didefinisikan

sebagai

faktor

luar

yang

tidak

menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman. pada umumnya


cekaman lingkungan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1)
cekaman biotik, terdiri dari: (a) kompetisi intra spesies dan antar spesies, (b) infeksi
oleh hama dan penyakit, dan (2) cekaman abiotik berupa: (a) suhu (tinggi dan
rendah), (b) air (kelebihan dan kekurangan), (c) radiasi (ultraviolet, infra merah, dan
radiasi mengionisasi), (d) kimiawi (garam, gas, dan pestisida), (e) angin, dan (f)
suara.
Adapun berbagai macam cekaman tumbuhan terhadap fungsi fisiologis
adalah:
1. Cekaman tumbuhan terhadap kelebihan dan kekurangan air
2. Cekaman tumbuhan terhadap kekurangan oksigen
3. Cekaman tumbuhan terhadap garam (salinitas)
4. Cekaman tumbuhan terhadap suhu (panas dan dingin)
5. Cekaman tumbuhan terhadap cahaya
6. Cekaman tumbuhan terhadap herbivore

B. Kritik dan Saran

Tiada kesempurnaan di dunia ini, kami sangat mengharapkan kritik maupun saran dari
makalah ini tujuannya hanyalah demi kesempurnaan. Dan semoga makalah yang telah kami
susun bermanfaat bagi kita semua, Amien.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, at al. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press.
Fallah, Affan Fajar. 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol.
http://io.ppi jepang.org. Diakses pada tanggal 25 April 2013.
Haryati. 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil
Tanamanhttp://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf. Diakses pada
tanggal 25 April 2013.
Hidayat. 2002. Cekaman Pada Tumbuhan. http://www.scribd.com/document_downloads/
13096496?extension=pdf&secret_password=. Diakses pada tanggal 25 April 2013.
Lakitan, Benyamin. 1996. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Petani Wahid. 2006. Cekaman Lingkungan Abiotik pada Lahan-Lahan Marginal.
http://petani wahid.blogspot.com/2008/08/tanah-tantangan-bertani-di-indonesia.html.
Diakses pada tanggal 25 April 2013.
Silvika. 2009. Cekaman Cahaya. http://silvika.atspace.com/acara3.htm. Diakses pada
tanggal 25 April 2013.
Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8Artikel
%20Sinaga.pdf. Diakses pada tanggal 25 April 2013.
Sipayung,
Rosita.
2006. Cekaman
Garam. http://library.usu.ac.id/download/fp/bdprosita2.pdf. Diakses pada tanggal 25 April 2013.

[1]

Zoeraini Djamal Irwan., Prinsip-Prinsip Ekologi (Ekosistem, Lingkungan, dan

Pelestariannya), Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010. Hal 158.


[2]

Campbell, dkk., Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003. Hal 397.

[3]

Lambers, H., F. Stuart Chapin, Thijs L. Pons, Plant Physiological Ecology. New

York: Spiringer, 1998.


[4]

Darmawan, Agus., Ekologi Hewan, Malang: UM Press, 2005.

[5] Fallah, Affan Fajar.,2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol.http://io.ppi
jepang.org. Diakses pada tanggal 25 April 2013.
[6]

Campbell, dkk., Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003. Hal 397.
Hidayat, 2002, Cekaman Pada Tumbuhan.

[7]

http//www.scribd.com/document_download. Diakses tanggal 25 April 2013.


[8]

Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file.

Diakses pada tanggal 25 April 2013.


[9] Fallah, Affan Fajar.,2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol.http://io.ppi
jepang.org. Diakses pada tanggal 25 April 2013.
[10]

Lakitan, Benyamin., Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan, Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada, 2011.


[11]

Haryati. 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan dan Hasil

Tanaman.http://library.usu.ac.id.Diakses pada tanggal 25 April 2013.


[12]

Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file.

Diakses pada tanggal 25 April 2013.


[13]

Campbell, dkk, Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003. Hal 398.

[14]

Campbell, dkk., Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003. Hal 398.

[15]

Sipayung, Rosita. 2006. Cekaman

Garam. http://library.usu.ac.id/dwonload/fp/bdp-rosita2.pdf. Diakses tanggal 25 April 2013.


[16] Fallah, Affan Fajar.,2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol.http://io.ppi
jepang.org. Diakses pada tanggal 25 April 2013.
[17]

Petani Wahid. 2006. Cekaman Lingkungan Abiotik pada Lahan-Lahan

Marginal.http://petaniwahid.blogspot.com/2008/08/tanah-tantangan-bertani-diindonesia.html. Diakses tanggal 25 April 2013


[18]

Campbell, dkk., Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003.

[19]

Sipayung, Rosita. 2006. Cekaman

Garam. http://library.usu.ac.id/dwonload/fp/bdp-rosita2.pdf. Diakses tanggal 25 April 2013.


[20]

Campbell, dkk., Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003.

[21]

Campbell, dkk., Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003. Hal 399.

[22]

Campbell, dkk., Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga, 2003. Hal 399.

MAKALAH RESPONS TUMBUHAN TERHADAP


CEKAMAN LINGKUNGAN DAN PERTAHANAN
MELAWAN PATOGEN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cekaman (stress) merupakan factor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat mengurangi
laju proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui berbagai
mekanisme yang beroperasi lebih dari skala waktu yang berbeda, tergantung pada sifat dari
cekaman. Jika tanaman akan mampu bertahan dalam lingkungan yang tercekam, maka tanaman
tersebut memiliki tingkat resistensi terhadap cekaman. Contoh cekaman adalah kekurangan
nitrogen, kelebihan logam berat, kelebihan garam dan naungan oleh tanaman lain. Kompensasi
yang dilakukan tanaman untuk efek karena adanya cekaman, terjadi berbeda pada tiap tanaman
untuk skala waktunya, karena mekanismenya berbeda-beda tergantung hal itu pada cekaman
alami. Jika tanaman mampu menghadapi stress lingkungan pasti tanaman tersebut mempunyai
ketahanan cekaman (stress resistance). Namun ketahanan terhadap cekaman sangat berbeda pada
tiap-tiap spesies.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana respon tumbuhan terhadap cekaman lingkungan?
2. Bagaimana pertahanan tumbuhan melawan pathogen?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui respon tumbuhan terhadap cekaman lingkungan
2. Mengetahui pertahanan tumbuhan melawan pathogen.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Lingkungan
1. Respon Tumbuhan Terhadap Kekurangan Air
Suatu tumbuhan bisa mengalami cekaman karena kehilangan air akibat transpirasi
terjadi lebih cepat di bandingkan laju pengambilan air dari tanah untuk memulihkan kondisi
tersebut. Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi untuk
penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebakan sel-sel penjaga
kehilangan turgornya, suatu mekanisme kontrol tunggal yang memperlambat transpirasi dengan

cara menutup stomata. Kekurangn air juga merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan
asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Dengan respon tersebut menyebabkan melambatnya
peningkatan luas permukaan daun. Jika tidak dengan menggugurkan daunnya maka dengan
menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi. Akar merespon
kekurangan air dengan memperbanyak diri dengan cara yang memaksimumkan pemaparan
terhadap air tanah.
2. Respon Tumbuhan Terhadap Kekurangan Oksigen
Tumbuhan yang disiram terlalu banyak air bisa mengalami kekuragan oksigen karena
tanah kehabisan ruangan udara yang menyediakan oksigen untuk respirasi seluler akar.
Kekurangan oksigen merangsang produksi hormon etilen, yang menyebabkan beberapa sel
dalam konteks akar mengalami penuaan dan mati. Perusakan dinding sel secara enzimatik
membentuk saluran udara yang berfungsi sebagai snorkel, yang menyediakan oksigen untuk akar
yang terendam.
3. Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Garam
Kelebihan natrium klorida atau garam-garam lain dalam tanah dapat mengancam
tumbuhan karena dua alasan, yaitu Pertama, dengan cara menurunkan potensial air larutan tanah,
garam dapat menyebabkan kekurangan air pada tumbuhanmeskipun tanah tersebut banyak sekali
mengandung air. Kedua, pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion tertentu lainnya dapat
menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya relatif tinggi. Sebagian besar tumbuhan tidak
dapat bertahan hidup menghadapi cekaman garam dalam jangka waktu yang lama. Pengecualian
pada halofit, yaitu tumbuhan yang toleran terhadap garam, dengan adaptasi khusus seperti
kelenjar garam, yang memompa garam keluar dari tubuh melewati epidermis daun.
4.

Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Panas


Panas berlebihan dapat mengganggu dan akhirnya membunuh suatu tumbuhan dengan
cara mendenaturasi enzim-enzimnya dan merusak metabolismenya dalam berbagai cara. Cuaca
panas dan kering juga cenderung menyebabkan kekurangan air pada banyak
tumbuhan. Tumbuhan meresponcekaman panas dengan menutupnya stomata yang akan
menghemat air, namun mengorbankan pendinginan melalui penguapan tersebut, atau tumbuhan
merespon dengan mensitesis protein kejut-panas dalam jumlah yang cukup banyak. Protein kejut
panas itu identik dengan protein chaperone (pengantar), yang berfungsi pada sel-sel yang tidak
tercekam sebagai penopang sementara yang membantu protein lain melipat, membentuk
konformasi fungsionalnya. Protein kejut-panas kemungkinan mengapit enzim serta protein lain
dan membantu mencegah denaturasi.

5.

Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Dingin


Satu permasalahan yang dihadapi tumbuhan ketika temperature lingkungan turun
adalah perubahan ketidakstabilan membrane selnya. Tumbuhan merespon terhadap cekaman
dingin dengan cara mengubah komposisi lipid membrannya. Contohnya adalah meningkatnya
proporsi asam lemak tak jenuh, yang memilki sturktur yang mampu menjaga membran tetap cair
pada suhu lebih rendah dengan cara menghmbat pembekuan kristal.

6.

Respon Tumbuhan Terhadap Herbivora


Herbivora adalah hewan yang memakan tumbuhan dan juga merupakan cekaman yang
dihadapi tumbuhan dalam suatu ekosistem. Tumbuhan merespon terhadap cekaman herbivora
dengan pertahanan fisik seperti duri, maupun pertahanan kimia seperti produksi senyawa yang
tidak enak atau bersifat tostik. Contohnya beberapa tumbuhan menghasilkan suatu asam amino
yang tidak umum disebut kanavanin. Kanavanin ini mirip dengan arginin(asam amino untuk
menyusun protein) sehingga saat serangga memakan tumbuhan yang mengandung kanavinin
akan mati. Ada juga tumbuhan yang merekrut hewan pemangsa sebagai pertahanannya contoh
tawon parasitoid menyuntikan telurnya kedalam mangsanya yang memakan tumbuhan. Sel telur
tawon tersebut akan menetas didalam tubuh ulat dan memakan senyawa organik ulat tersebut
dari dalam keluar.

B.

Pertahanan Tumbuhan Melawan Pathogen


1. Resistensi terhadap penyakit bergantung pada pengenalan antaran gen tumbuhan dan
pathogen
Patogen menjadi virulen apabila tumbuhan memiliki sedikit pertahan yang spesifik akibatnya
inang dan patogen mati bersamaan. Agar resistensi spesifik terhadap apatogen maka harus
adanya keseesuaian antara alel tumbuhan dengan alel patogen.
2. Respon hipersensitif (HR) membatasi suatu infeksi
Jika patogen itu bersifat avirulen yang didasarkan pada kesesuaian R-Avr, respon pertahanan
terlokalisir akan lebih hebat dan disebut respon hipersensitif. Adanya peningkatan produksi
fitoaleksin dan protein PR, serta respon penutupan lebih efektif dalam membatasi infeksi
tersebut. Setelah sel-sel pada tempat infeksi mengeluarkan senyawa kimia pertahanannya dan
menutup daerah infeksi, sel-sel tersebut merusak dirinya sendiri. Kita dapat melihat hasil suatu
HR sebagai luka pada daun atau organ lainnya. Organ yang terlihat luka itu akan bertahan hidup
dan respon pertahanannya akan membantu melindungi bagian tumbuhan yang lain.

3. Resistensi-perolehan sistemik (SAR) membantu mencegah infeksi diseluruh tubuh tumbuhan


Respon hipersentif bersifat teralokasir dan spesifik, respon pencegahan didaasarkan pada
pengenalan gen dengan gen (R dan Avr) antara inang dan patogen. Namun respon pertahanan ini
memprodeksi sinyal kimia yang memberikan tanda bahaya keseluruh tumbuhan sehingga
merangsang produksi fitoaleksin dan protein PR yang disebut SAR yang bersifat non spesifik.
Dan salah satu hormon yang bertanggung jawab atas pengaktifan SAR adalah asam salisilat.
BAB III
SIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa tumbuhan mampu menghadapi ketidaktetapan lingkungan atau
keadaan lingkungan yang mencekam serta mampu mempertahankan diri dari melawan patogen
dengan berbagai cara. Cara tersebut dengan suatu kombinasi respons perkembangan fisiologis,
respons itu sendiri bisa dengan mengurangi laju transpirasi, menutup stomata, menggugurkan
daun, mensintesis protein kejut panas, mengubah komposisi lipid membran, memproduksi
senyawa yang bersifat toksik. Dan tumbuhan akan melawan patogen dengan rintangan fisik kulit
tumbuhan, yaitu epidermis tubuh tumbuhan primer dan periderm tubuh tumbuhan sekunder, serta
dengan membunuh patogen dan mencegah penyebarannya dari tempat infeksi. Tapi tumbuhan
juga tidak dapat bertahan lama menghadapi cekaman lingkungan dan patogen tersebut, sehingga
menyebabkan kematian pada tumbuhan tersebut.
LAMPIRAN
TANYA-JAWAB
1. Penanya
: Siti Nurjanah (112070186)
Pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan protein kejut-panas dan apa akibatnya bila ada
protein tersebut terhadap tumbuhan?
Jawaban : protein kejut panas adalah protein yang berfungsi untuk mengganti protein yang
rusak apabila terkena panas, dan juga pada sel-sel yang tidak tercekam sebagai penopang
sementara yang membantu protein lain melipat membentuk konformasi fungsionalnya, dengan
adanya protein kejut-panas ini maka tumbuhan dapat menghadapi cekaman panas dan bertahan
hidup.
2.Penanya : Ibu Dian Permana Putri
Pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan patogen?
Jawaban : Patogen adalah jenis mikroorganisme yang bisa berupa bakteri, jamur atau pun virus
yang memiliki potensi merusak jaringan atau bahkan membunuh tumbuhan.

3.Penanya : Nurul Habibah (112070120)


Pertanyaan : Apa perbedaan tumbuhan yang dihinggapi patogen dengan yang tidak dihinggapi
patogen?
Jawaban : tumbuhan yang dihinggapi patogen bisa saja daun menguning seperti tembakau dan
tebu, dan buah dari tumbuhan yang dihinggapi patogen pun rasanya akan berbeda dari tumbuhan
yang tidak dihinggapi patogen.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Reece. (2012). Biologi Jilid 2 (Edisi 8). Jakarta: Erlangga.

Cekaman
Cekaman

Stres (cekaman) biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak


menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman (Fallah, 2006)
Campbell (2003), mendefinisikan cekaman sebagai kondisi lingkungan yang
dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan
hidup tumbuhan.
Menurut Hidayat (2002), pada umumnya cekaman lingkungan pada tumbuhan
dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) cekaman biotik, terdiri dari: (a) kompetisi
intra spesies dan antar spesies, (b) infeksi oleh hama dan penyakit, dan (2)
cekaman abiotik berupa: (a) suhu (tinggi dan rendah), (b) air (kelebihan dan
kekurangan), (c) radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi), (d)
kimiawi (garam, gas, dan pestisida), (e) angin, dan (f) suara.
Menurut

Sipayung

(2006),

kerusakan

yang

timbul

dikelompokkan dalam 3 jenis kerusakan sebagai berikut..


a. Kerusakan stres langsung primer

akibat

stres

dapat

b. Kerusakan stres tak langsung primer


c. Kerusakan stres sekunder (dapat terjadi juga stres tersier)
Air tanah merupakan salah satu bagian penyusun tanah. Air tanah hampir
seluruhnya berasal dari udara atau atmosfera. Terutama di daerah topis air hujan
merupakan sumber yang terbanyak yang jatuh di permukaan bumi. Sebagian dari
air itu dapat merembes ke dalam tanah yang disebut air infiltrasi. Sedangkan
sisanya mengalir di permukaan tanah sebagai aliran air permukaan (run off). Air
infiltrasi tadi, bila dalam jumlah banyak dan terus merembes ke dalam tanah secara
vertikal dan meninggalkan daerah perakaranya disebut air perkolasi, yang akhirnya
sampai di lapisan yang kedap air, kemudian berkumpul disitu menjadi air tanah
(ground water). Mengetahui banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi
tanaman adalah penting sekali terutama dalam hal penentuan pemberian air
(pengairan) pada tanaman agar supaya tidak berlebihan atau kekurangan.
Air pada cekaman tanah dapat menguntungkan yaitu :
a. Adanya imbangan antara pori makro dengan mikro
b. Sebagian besar nutrisi dalam bentuk terlarut
c. Permukaan akar memiliki luasan terbesar untuk menjalankan proses difusi ion dan
aliran masa ion
Air di dalam tanah menurut jumlah dan keadaannya di bagi menjadi empat
keadaan air tanah, yaitu:
a. Air adesi
Merupakan lapisan yang mengelilingi butir tanah, tetapi bukan berupa cairan
karena jumlahnya paling sedikit, jadi paling tidak tersedia bagi tanaman. Nilai pFnya hampir 7.
b. Air higroskopis
Juga bukan berupa cairan, jadi sebagian besar sudah berupa uap air
c. Air kapiler

Dibagi dalam dua keadaan, yaitu keadaan titik layu permanen dan keadaan
kapasitas lapang (Dwidjoseputro,1989: 44).
Pengaruh

cekaman

air

terhadap

pertumbuhan

tanaman

tergantung

pada tingkat cekaman yang dialami dan jenis atau kultivar yang ditanam. Pengaruh
awal dari tanaman yang mendapat cekaman air adalah terjadinya hambatan
terhadap pembukaan stomata daun yang kemudian berpengaruh besar terhadap
proses fisiologis dan metabolisme dalam tanaman (Penny Packer at all, 1990)
Setiap

jenis

tanah

mempunyai

daya

cekam

air

yang

berbeda-beda

tergantung :
a. tekstur tanah
b. adanya kekasaran, kelicinan kelengketan dan kekenyalan serta derajat kekilatan
tanah. Semakin licin, lengket dan kenyal maka daya cekam air semakin sedikit
udara yang terkandung di dalam tanah sehingga daya cekap tanah semakin kecil.
c. Semua pori-pori tanah
Baik makro maupun mikro dalam keadaan terisi oleh air sehingga jenuh air. Hal ini
menunjukan besarnya daya pegang tanah terhadap air.
Tanah terdiri atas partikel besar yang kurang dapat menahan air daripada
tanah yang partikelnya halus, yaitu dengan membedakan adanya
a. air yang tidak terbebas karena terikat secara kimia pada suatu partikel disebut air
kimia
b. air yang mengelilingi suatu partikel disebut air higroskopik
c. air yang mengisi sela-sela di antara partikel disebut air kapiler
d. air yang lewat dan tidak tertahan disebut air gravitasi
e. kandungan bahan organic
tersusun dari bahan-bahan sisa tumbuhan dan hewan, jasad-jasad hidup mikro
maupun

makro

organisme

dan

humus.

Tanah

yang

berupa

pasir

sedikit

mengandung bahan organik dibandingkan tanah pertanian yang biasa mengandung


25% bahan organik (Dwidjoseputro,1989: 44).
Soemarno dan Sastrahidayat (1991) menyatakan bahwa penambahan bahan
organik ke dalam tanah liat berat dapat memperbaiki drainase, dan pada tanah
berpasir dapat memperbaiki daya simpan air. Bahan organik juga dapat berfungsi
sebagai stabilisator dengan jalan merangsang jasad mikro mampu menghasilkan
bahan yang dapat mengikat partikel-partikel tanah.
Von Uexcull dalam Ginting, (1994) menyatakan bahwa bahan organik
memberikan beberapa keuntungan meliputi pengurangan toksisitas Al dan Mn
dengan membentuk kompleks Al- bahan organik yang tidak beracun, menyediakan
dan menambah unsur hara N, P, K dan S melalui mineralisasi, menurunkan fiksasi P,
meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, meningkatkan sifat-sifat fisik tanah
termasuk kapasitas ikat air dan stabilitas agregat, meningkatkan aktivitas
mikroorganisme tanah, mengurangi aliran permukaan dan erosi tanah.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, at al. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Fallah, Affan Fajar. 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol.
http://io.ppi jepang.org. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.
Hidayat.

2002. Cekaman

Tumbuhan. http://www.scribd.com/document_downloads/

Pada
13096496?

extension=pdf&secret_password=. Diakse pada tanggal 5 Juli 2009


Sipayung,

Rosita.

2006. Cekaman

Garam. http://library.usu.ac.id/download/fp/bdp-

rosita2.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009


Soemarno dan Sastrahidayat. 1991. Budidaya Berbagai Jenis Tanaman Tropic. univ
brawijaya malang.