Anda di halaman 1dari 12

PEMBAHASAN Pada kulit kita terdapat beberapa jenis reseptor rasa.

Mekanisme sensoris pada reseptorreseptor tersebut dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan philogenesis, jalur-jalur syara spinal, dan daerah !orte" !erebri. #olongan pertama, yakni paleo-sensibilities, meliputi rasa-rasa primiti atau rasa-rasa $ital, antara lain rasa raba, rasa tekan, nyeri, dingin, dan panas. Syara -syara a eren dari rasarasa ini bersinap dengan interneuron-interneuron yang bersinap lagi dengan motor-motor neuron dari medulla spinalis dan juga dengan thalamus dan !orte" !erebri melalui traktus spinotalami!us. %ndera somatik merupakan mekanisme sara yang mengumpulkan in ormasi sensoris dari tubuh. %ndera somatik dapat digolongkan menjadi tiga jenis isiologis yaitu indera somatik mekanoreseptif yang dirangsang oleh pemindahan mekanis sejumlah jaringan tubuh, indera termoreseptor yang mendeteksi panas dan dingin, dan indera nyeri yang digiatkan oleh aktor apa saja yang merusak jaringan. A. PALEO-SENSIBILITIES A.I. Rasa-Rasa Panas dan Dingin Per!obaan untuk mendeteksi rasa panas dan dingin dilakukan dengan memasukkan telunjuk ke dalam air es, air panas &'o(, dan air pada suhu kamar )air P*AM+. ,ari telunjuk yang dimasukkan ke dalam air es lalu dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar )air P*AM+ terasa lebih hangat, sedangkan jari telunjuk yang dimasukkan ke dalam air panas &'' ( terasa lebih dingin saat dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar )air P*AM+. Hal ini disebabkan karena adanya perbandingan atau perbedaan relati indera rasa kita saat merasakan panas atau dingin, bukan kekuatan mutlak dari suhu suatu benda. -eseptor dingin dan hangat terletak tepat di ba.ah kulit yang dipisahkan oleh spot tertentu. Pada banyak area pada tubuh, terdapat / sampai 0' titik 1titik hangat yang juga merupakan titik dingin, jumlahnya ber$ariasi pada tiap area tubuh, mulai dari 02 sampai 32 !m per kubik titik dingin di bibir, / sampai 2 !m per kubik titik dingin di jari hingga kurang dari 0 !m per kubik titik dingin di area permukaan trunkus. Meskipun letak warmth nerve ending sudah pasti, berdasarkan tes se!ara psikologi, belum bisa dipastikan se!ara histologis. Mereka

diasumsikan sebagai ree ner$e ending, karena sinyal hangat yang ditransmisikan mele.ati serabut sara tipe ( dengan ke!epatan transmisi ',& samapai 3 m4detik. Namun untuk reseptor dingin sudah teridenti ikasi. Sinyal yang ditransmisikandari reseptor melalui serabut sara dengan ke!epatan 3'm4detik )#uyton 5 Hall, 3''6+. #radasi termal yaitu gradasi panas dan dingin, adalah perubahan mula-mula dari dingin menjadi sejuk sampai biasa lalu hangat kemudian biasa. 7rgan indera suhu merupakan ujung sara bebas yang berespon terhadap suhu absolut. A eren hangat dan dingin akan menyiarkan in ormasi ke gyrus post centralis melalui tractus spinothalmicus lateralis dan radiation thalamica. -asa panas dan dingin dapat dirasakan dari daerah tubuh yang mengandung ujung sara bebas )free nerve ending+. Pada saat telunjuk kanan di!elupkan ke air panas, ada rasa seperti tertusuk karena air berada di atas suhu tubuh. Saat telunjuk dipindahkan ke air suhu ruangan, se!ara normal kulit akan mempertahankan keseimbangan suhunya dengan !ara menstabilkan pemasukan dan pengeluaran panas. (ara menyeimbangkannya dengan mengalirkan suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih rendah. 8entu telunjuk yang ter!elup oleh air suhu &'' ( yang lebih !epat kembali ke suhu normal, karena rentang suhunya ke suhu normal tubuh )/9' (+ lebih dekat dibandingkan dengan air es. A.II. Reaksi-Reaksi di Kulit 8elapak tangan merupakan tempat dimana terdapat paling banyak titik rasa. Hal ini disebabkan oleh karena indera rasa di bagian ini paling sering mendapatkan rangsangan. Hal yang sama terjadi pada kuduk, yang tingkat kepekaannya hampir sama dengan telapak tangan. Sementara bagian lengan ba.ah dan pipi kurang peka karena jarang diberikan rangsangan pada tempat tersebut. Pada per!obaan meniup punggung tangan, mahasis.a !oba merasa dingin karena terjadi penguapan pada permukaan punggung tangan dengan mengambil panas dari kulit. Saat punggung tangan dibasahi oleh air kemudian ditiup, air akan menyerap kalor untuk menguap, tetapi proses penguapan air lebih lama dibandingkan dengan proses penguapan alkohol. Maka dari itu, saat mahasis.a !oba mengoleskan alkohol terlebih dahulu, tiupan akan terasa lebih dingin dibanding saat diberi air. Hal ini disebabkan karena titik penguapan alkohol lebih rendah dari air sehingga mengambil kalor lebih banyak dari permukaan kulit dan mahasis.a !oba merasa lebih dingin.

Pada per!obaan dengan alkohol pada kulit, mula-mula timbul rasa dingin lalu disusul rasa panas. -asa dingin ini disebabkan oleh penguapan alkohol, tetapi karena proses penguapan alkohol berlangsung !epat, maka lama-kelamaan alkohol menguap habis dan suhu permukaan kulit kembali normal. Saat permukaan kulit kembali ke suhu normal, mahasis.a !oba merasakan panas karena kulit mengalami kenaikan suhu. *ari hasil per!obaan tersebut dapat disimpulkan, bila suatu rangsang tetap diberikan se!ara terus-menerus pada suatu reseptor, rekuensi potensial aksi di sara sensorik lamakelamaan akan menurun. Hal ini yang dinamakan dengan adaptasi. *engan adanya proses adaptasi pada tubuh seseorang, rasa panas yang dirasakan pada per!obaan meniup punggung tangan dengan mengoleskan alkohol sebelumnya akan hilang dan tidak berlangsung terusmenerus.

B. NEO-SENSIBILITIES #olongan kedua adalah gnosti! atau neo-sensibilities yang meliputi rasa-rasa yang sangat dide erensiasikan, antara lain sensasi raba yang membutuhkan rangsangan dengan derajat lokalisasi tinggi, sensasi getaran, sensasi posisi tubuh, sensasi tekan yang berkaitan dengan derajat penentuan intensitas tekanan. Syara -syara a eren dari rasa-rasa ini menghantarkan impuls-impuls yang terutama dialirkan melalui traktus dorsospinalis ke daerah sensoris di dalam !orte" !erebri setelah diintegrasikan seperlunya. *ari per!obaan yang telah dilakukan, dibuktikan bah.a tubuh memiliki tingkat kepekaan yang berbeda-beda pada tiap bagiannya. Hal ini disebabkan kepadatan titik-titik reseptor di setiap bagian kulit tidaklah sama. Pada semua pemberian rangsangan tersebut juga dirasakan rasa tekan. -eseptor dingin dan reseptor hangat terletak tepat di ba.ah kulit, yakni pada titik-titik yang berbeda dan terpisah-pisah, dengan diameter perangsangan kira-kira 0 mm. Pada sebagian besar daerah tubuh jumlah reseptor dingin kira-kira tiga sampai sepuluh kali reseptor panas dan pada berbagai daerah tubuh jumlah reseptor ber$ariasi, /-2 titik dingin pada jari-jari, dan kurang dari satu titik dingin per sentimeter persegi pada daerah permukaan dada yang luas. Sedangkan

jumlah titik hangatnya lebih sedikit. Alat indera untuk nyeri adalah ujung sara telanjang yang terdapat di hampir semua jaringan tubuh. -angsangan raba, tekan, dan getaran dideteksi oleh jenis reseptor yang sama. Satusatunya perbedaan dari ketiga jenis sensasi ini adalah sensasi raba umumnya disebabkan oleh perangsangan reseptor taktil di dalam kulit, sensasi tekanan biasanya disebabkan oleh perubahan bentuk jaringan yang lebih dalam, dan sensasi getaran disebabkan oleh isyarat sensoris yang berulang dengan !epat, tetapi menggunakan beberapa jenis reseptor yang sama seperti yang digunakan untuk raba dan tekanan, terutama jenis reseptor yang !epat beradaptasi. -eseptor taktil terdapat di beberapa ujung sara bebas yang dapat ditemukan di dalam kulit dan di dalam banyak jaringan lain serta dapat mendeteksi raba dan tekanan. -eseptor raba dengan kepekaan khusus adalah korpuskuslus Meissner, suatu ujung sara berkapsul yang merangsang serabut sara sensoris besar bermielin. -eseptor ini terutama banyak di dalam ujung jari, bibir, dan daerah kulit lain, tempat kemampuan seseorang untuk membedakan si at-si at ruang dari sensasi raba sangat berkembang. -eseptor-reseptor ini terutama bertanggung ja.ab bagi kemampuan untuk mengenali dengan tepat letak tubuh bagian mana yang disentuh dan untuk mengenali tekstur benda yang diraba. #uyton menyebut golongan paleo-sensibilities dengan golongan sistem anterolateral. Sedangkan untuk golongan neo-sensibilities, guyton menyebut dengan golongan sistem kolumna dorsalis-lemnikus medialis. Sistem anterolateral atau paleo-sensibilities mempunyai kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh sistem dorsalis, yaitu kemampuan unutk menjalarkan modalitas sensasi yang sangat luas. B.%. :okalisasi -asa 8ekan Lokalisasi Rasa Tekan Pada per!obaan kali ini dilakukan dengan !ara menekan ujung pensil dengan kuat pada ujung jari, telapak tangan, lengan ba.ah, lengan atas, pipi dan kuduk. ;emudian instruksikan kepada orang !oba untuk menunjukan dengan tepat letak bagian tubuh yang dirangsang. Per!obaan ini dilakukan sebanyak tiga kali. Berdasarkan per!obaan yang telah kita lakukan bagian yang paling peka terhadap rasa tekan adalah pada bagian kuduk. Hal ini ditunjukan dengan hasil rata-rata pada daerah kuduk yang paling ke!il yaitu sebesar 0.6 mm.

Diskriminasi Rasa Tekan Diskriminasi Dua Titik stimultan Pada per!obaan ini dilakukan dengan !ara menekan pada ujung jari dengan sebuah jangka. Perbesar setiap kali 3 mm sampai dirasakan dua titik sampai dapat dibedakan dua titik oleh orang !oba. Pada per!obaan ini dapat kita ketahui bah.a daerah yang paling peka dalam membedakan dua titik ujung jangka yaitu pada lengan atas dan lidah. 8erbukti dengan rerata yang ke!il yaitu & mm. Diskriminasi Rasa Tekan dua Titik Berurutan Perlakuan sama seperti diskriminasi tekan dua titik, namun bukan se!ara simultan melainkan se!ara berurutan. Pada per!obaan kali ini orang !oba diinstruksikan untuk menyebutkan saat terasanya kedua ujung jangka. Pada per!obaan ini didapatkan hasil pengamatan, daerah yang paling peka dalam membedakan dua titik ujung jangka yaitu pada bibir. 8erbukti dengan rerata yang ke!il yaitu 2 mm. Diskriminasi Kekuatan Rangsangan- Hukum e!er-"e#$ner

Pada per!obaan kekuatan rangsangan 1 Hukum <eber-=e!hner, orang !oba ditutup matanya kemudian pada telapak tangannya diletakan beban a.al. ;emudian sedikit demi sedikit ditambah bebannya sampai terasa pertambahan beban tersebut. Pertambahan beban yang terasa berkisar 00-/' gram. Hasil per!obaan tersebut sesuai dengan hukum <eber 1 =en!her. Hal ini dibuktikan pada hasil pengamatan, yaitu respon indra rangsang yang didapatkan lebih rendah daripada stimulus yang diberikan. Sehingga, beban akan terasa lebih ringan dari berat asalnya. Kemam%uan Diskriminasi Kemam%uan Diskriminasi Kekasaran Pada per!obaan kali ini dilakukan pengujian terhadap kemampuan menebak orang !oba terhadap kekasaran kertas gosok 0,3, dan / )halus, sedang, kasar+.

Per!obaan dilakukan pada beberapa bagian tubuh yaitu jari tangan, telapak tangan, lengan ba.ah dan kuduk. Bagian yang paling peka dalam menebak kekasaran kertas gosok adalah pada bagian jari tangan, sedangkan pada telapak tangan, lengan ba.ah dan kuduk terjadi kesalahan dalam penebakan terutama dalam menebak kekasaran kertas gosok sedang. Kemam%uan Diskriminasi Bentuk Pada per!obaan kemampuan diskriminasi bentuk, orang !oba tidak dapat membedakan dengan tepat bentuk yang diletakkan pada telapak tangannya, ke!uali bentuk persegi. 8etapi, mahasis.a !oba dapat membedakan bentuk saat diletakkan pada lengan ba.ahnya. Hal ini agak bertentangan dengan teori bah.a lebih banyak reseptor yang terdapat pada telapak tangan, sehingga seharusnya telapak tangan dapat mendiskriminasikan benda se!ara lebih baik. Pada per!obaan kemampuan diskriminasi kekasaran, mahasis.a !oba dapat membedakan derajat kekasaran dari bahan yang di!obakan, baik pada telapak tangan maupun pada lengan ba.ah. RASA N&ERI K'LIT DAN OTOT Pada dapat praktikum rasa nyeri ini dilakukan pengujian suatu dengan lubang menggunakan alat Hardy-wolff yaitu terdiri dari lampu proyeksi yang memusatkan sinar-sinarnya untuk menembus diafragma. Kekuatan radiasi sinar ditentukan dengan sebuah rheostat yang disusun seri dengan lampu. Sinar tersebut akan mengenai objek (tangan orang coba) dengan jarak cm. Setelah penyinaran selama ! detik" tegangan listrik dinaikkan dengan cara menaikkan kekuatan sinar radiasi sinar rheostat. Setelah subjek merasa nyeri seperti ditusuk # tusuk dan tidak dapat ditahan" maka alat uji dimatikan dan mencatat angka yang ditunjuk rheostat dimana orang percobaan tidak dapat menahan rasa sakit lagi" hal ini disebut nilai ambang rasa nyeri orang tersebut. Percobaan ini dilakukan dengan $ perlakuan" yaitu perlakuan normal"

perlakuan mengalihkan perhatian" perlakuan pemberian olesan balsam" dan perlakuan anestetika topical. (.) tan%a %erlakuan 7rang !oba diberi tanda hitam dengan spidol di daerah ke!il di kulit lengan ba.ah, kemudian ditempatkan alat Hardy-<o dengan $oltase sebesar 0'' ?olt. (.* +engali$kan Per$atian orang !oba dialihkan perhatiannya, dengan ajakan obrolan hal-hal yang disukainya, sehingga okusnya bukan pada nyerinya. Pada per!obaan mengalihkan perhatian ini didapatkan hasil ambang nyeri 03' $olt pada 00' detik. (., Pengaru$ Hi%eraemia 7rang !oba diberikan olesan balsam pada permukaan kulit yang telah dihitamkan sebagai pembedanya. *an didapatkan hasil ambang batas nyeri pada >' ?olt dan @/ detik. (.- %engaru$ Anastetika To%ikal 7rang !oba diberikan anestetika topi!al berupa salep benAokain yang dioleskan pada kulit yang telah dihitamkan dengan spidol. Setelah itu, didapatkan hasil berupa ambang batas nyeri sebesar 0/' ?olt selama 03> detik. 0 !m dari daerah kulit. Pasien disinari lalu di!atat .aktu dan intensitas radiasinya. 7rang !oba merasakan nyeri pada detik ke >2

Diskusi .a/a!an Pertan0aan


A. PALEO-SENSIBILITIES A.I. Rasa-Rasa Panas dan Dingin 0. Pertan0aan 1 Pada per!obaan dengan alkohol atau eter pada kulit, mula-mula ditimbulkan perasaan dingin dahulu kemudian disusul dengan perasaan panas. 8erangkanB

.a/a! 1 Alkohol atau (H/(77H merupakan nama dari asam asetat yaitu larutan senya.a yang bersi at asam. Alkohol atau asam asetat dalam suhu ruangan ber.ujud !air dan memiliki titik didih yang !ukup tinggi dibandingkan eter. ;etika alkohol atau asam asetat bersentuhan dengan kulit dan kemudian diberikan tiupan akan timbul sensasi dingin akibat reaksi oksidasi alkohol yaitu reaksi pengikatan oksigen. Pada saat alkohol atau eter pertama bersentuhan dengan kulit, mula-mula timbul rasa dingin dahulu, kemudian disusul dengan perasaan panas. Hal inii dikarenakan oleh reaksi endoterm yang memerlukan panas untuk dapat menguap, dimana panas diambil dari tubuh kita saat alkohol dioleskan di tangan. 7leh karena itu, kita merasakan dingin saat alkohol menguap. Setelah al!ohol telah menguap seluruhnya, tubuh akan kembali melakukan keseimbangan suhu dengan mengalirkan panas dari lingkungan menuju kulit, dalam hal ini adalah punggung tangan sehingga terasa panas dan kembali normal. 3. Pertan0aan 1 Apakah rasa panas atau dingin itu dirasakan terus menerusC 8erangkanB .a/a! 1 -asa panas atau dingin tidak dirasakan terus menerus karena pada per!obaan yang menggunakan al!ohol, al!ohol terus menguap sehingga rasa dingin lama kelamaan akan hilang. Setelah alkohol menguap, tubuh akan menyesuaikan dengan suhu tubuh normal )homeostasis+. -asa dingin dari air es lebih !epat terasa daripada rasa panas, karena tubuh melepaskan kalor dan merasakan perubahan suhu yang !ukup drastis, yaitu dari /9 *erajat (el!ius )suhu normal tubuh+ ke ' derajat (el!ius. Sedangkan rasa panas lebih !epat hilang karena tubuh melakukan kesetimbangan panas dengan menyerap panas dan air bersuhu lingkungan kurang lebih /9 derajat (el!ius, dengan kata lain, perubahan suhu tidak terlalu besar. A.II. Reaksi-Reaksi di Kulit 0. Pertan0aan 1 *i bagian manakah dari masing-masing rasa itu yang terpadatC .a/a! 1 *ari per!obaan diatas, untuk reaksi kulit yang menggunakan air panas, rasa yang terpadat adalah di bagian punggung tangan dan lengan ba.ah. Dntuk reaksi kulit yang menggunakan air dingin, rasa yang terpadat ada pada bagian pipi, dan untuk reaksi kulit yang menggunakan pensil )sentuhan+, rasa yang terpadat terdapat pada bagian kuduk. ,umlah ujung dingin atau hangat dalam setiap daerah permukaan tubuh sangat ke!il, sehingga sulit untuk menilai degradasi suhu bila daerah ke!il dirangsang. 8etapi, apabila daerah tubuh yang luas dirangsang, isyarat suhu dari seluruh daerah tersebut dijumlahkan. Sejatinya seseorang dapat men!apai kemampuan maksimum untuk membedakan $arian suhu yang ke!il bila seluruh tubuh

mengalami perubahan suhu se!ara serentak. 8etapi untuk per!obaan ini, tentunya akan didapatkan hasil yang ber$ariasi, karena tergantung juga dengan ketebalan kulit, dan aktoraktor lainnya. Dntuk mahasis.a !oba ini, bagian pipi merupakan bagian yang paling peka, sementara punggung tangan merupakan bagian yang kurang peka.

B. NEO-SENSIBILITIES B.I. Lokalisasi Rasa Tekan 2Tidak ada Pertan0aan3 B.II. Diskriminasi Rasa Tekan 2Two Points Discrimination3 0. Pertan0aan E Adakah perbedaan diskriminasi bila ujung-uung jangka ditekankan se!ara simultant dan succesifC .a/a! E Ada. Perbedaan yang terjadi saat per!obaan di tempat tersebut menunjukkan bah.a di setiap bagian tubuh memiliki nilai ambang diskriminasi rasa tekan yang berbeda, tergantung pada kepadatan dari sara reseptor raba. *ua rangsangan pada ujung jangka dapat dirasakan sebagai satu rangsangan bila kedua ujung jangka mengenai dua reseptor yang berbeda namun hanya dilayani oleh satu unit sensorik )simultant+, dan akan terasa sebagai dua rangsangan bila dilayani oleh unit sensorik yang berbeda. ,arak minimum antara dua rangsangan yang masih bisa dirasakan terpisah disebut nilai ambang dua titik. B.III. Diskriminasi Kekuatan Rangsangan 2Hukum dengan per!obaan tersebut diatasC .a/a! E Hukum <eber =re!hner berbunyi F;emampuan untuk membedakan kekuatan rangsangan rasa-rasa pada umumnya tidak tergantung pada kekuatan mutlak dari rangsangan tersebut, tetapi pada perbedaan relati nya.G Hukum ini dapat diperlihatkan pada per!obaan ini karena menurut hukum tersebut didapatkan bah.a sebuah rangsang yang didapatkan akan lebih rendah daripada stimulus yang diberikan sehingga beban akan terasa lebih ringan dari beban e!er "re#$ner3

0. Pertan0aan E Bagaimanakah hukum <eber-=e!hnerC *apatkah hukum ini diperlihatkan

asalnya. Hasil yang didapat adalah bah.a pada beban mula-mula yang lebih ke!il, penambahan bebannya lebih segera terasa daripada beban mula-mula yang lebih besar. B.I4. Kemam%uan Diskriminasi B.I4.A. Kemam%uan Diskriminasi Kekasaran Apabila yang digosokkan tipe kertas gosok yang halus maka tidak akan terasa sakit, apabila yang digosokkan tipe kertas yang sedang maka akan terasa sedikit sakit, apabila yang digosokkan tipe kertas yang kasar maka akan terasa sakit karena permukaannya yang kasar yang apabila digosokkan di ujung jari maupun lengan ba.ah akan terasa sakit.

RASA N&ERI OTOT DAN K'LIT Pertan0aan 1 terangkan $asil-$asil 0ang saudara da%atkan dari ketiga %er#o!aan terse!ut diatas5 Perlakuan (anpa perlakuan %engalihkan perhatian Hiperaemia /nestetika topical %ulai terasa nyeri pada &oltase !! )olt ,! )olt *! )olt .! )olt 'aktu *+ detik ! detik -. detik ,* detik

*ari hasil per!obaan rasa nyeri kulit dan otot didapatkan hasil seperti tabel diatas. Perlakuan dibedakan menjadi & bagian. Haitu tanpa perlakuan, yaitu orang !oba dibiarkan okus tanpa gangguan, orang !oba dalam kondisi dialihkan perhatiannya, orang !oba diolesi balsam, dan orang !oba diolesi anestesi topi!al. 0ari hasil praktikum" didapatkan bahwa nilai ambang rasa nyeri orang coba dengan perlakuan normal yaitu !! )oltase dalam waktu *+ detik. 1ntuk perlakuan mengalihkan perhatian ,! )olt dalam waktu ! detik. 1ntuk perlakuan pemberian balsam (hiperaemia) *! )olt dalam waktu -. detik. Sedangkan perlakuan anestetika topical yaitu .! )olt dalam waktu ,* detik.

0ari praktikum ini dapat di buktikan bahwa mengalihkan perhatian dapat mengubah persepsi nyeri pada orang coba" bisa dilihat dari nilai ambang rasa nyeri pada perlakuan normal dan perlakuan mengalihkan perhatian. Penghambatan rasa nyeri bisa dilakukan dengan cara mengalihkan fokus perhatian orang coba" sehingga dia tidak terfokus untuk merasakan nyeri. Kemampuan mengalihkan perhatian untuk meredakan nyeri didasarkarkan pada teori bahwa apabila ada dua rangsangan yang tepisah" fokus pada salah satunya akan menghilangkan fokus pada yang lain (price 2 'ilson" ,!!3). Pada perlakuan pemberian balsam dan perlakuan anestetika topikal" didapatkan hasil yang berbeda dari teori. Harusnya" keadaan hiperaemia menyebabkan naiknya hasil ambang nilai nyeri" namun yang terjadi disini sebaliknya. Kesalahan bisa terjadi pada operator" pada pemakaian alat atau pengolesan balsam yang terlalu banyak pada orang coba. Hal ini bisa juga karena hipersensiti)itas orang coba pada balsam" dimana orang coba bisa saja tidak tahan dengan pemakaian balsam sehingga ia merasa sedari awal merasakan nyeri dan semakin balsam bekerja" ia semakin merasa nyeri yang susah ditahan. Harusnya" hasil nilai ambang rasa nyeri pada perlakuan pemberian balsam dan perlakuan anestetika topical pada hasil praktikum lebih tinggi" karena balsem dan ben4okain meresap kedalam dengan cara panas balsem dan ben4okain membuat pori-pori kulit mengembang sehingga dapat menyerap balsam dan ben4okain bercampur dengan toksin didalam tubuh di lokasi yang terasa nyeri sehingga dapat menghambat rasa nyeri.

Pri!e, A. S., <ilson M. :., 3''6. Pato isiologi ;onsep ;linis Proses-Proses Penyakit. Alih BahasaE dr. Brahm D. Penerbit. ,akartaE E#( #anong <=. 3''6. Review of medical physiology. 33nd Ed. DSAE 8he M!#ra.-Hill !ompanies 5uyton" /rthur 6. dan 7ohn 8. Hall. 9uku /jar :isiologi Kedokteran 8disi 7akarta; 856. ,!!-. p. 3.+"3.3"3.<. 5uyton 2 Hall. Textbook of Medical Physiology.
th

ed. 8lse)ier"

Philadelpia. ,!!3; p +<,-+<." 3!<. 5uyton /6" Hall 78. ,!!3 . Textbook of medical physiology . Philadelphia; 8lse)ier th ed.