Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWAN TRAUMA VESIKA URINARIA

A. DEFINISI Trauma buli-buli atau trauma vesika urinaria merupakan keadaan darurat bedah yang memerlukan penatalaksanaan segera, bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan hebat, peritonitis dan sepsis. Secara anatomic buli-buli terletak di dalam rongga pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera. ( R. Sjamsuhidayat, 1998) Cedera kandung kemih disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi. Kemungkinan cedera kandung kemih bervariasi menurut isi kandung kemih sehingga bila kandung kemih penuh akan lebih mungkin untuk menjadi luka daripada saat kosong (Arif muttaqin : 2011)

B. ETIOLOGI Ruptur kandung kemih terutama terjadi sehingga akibat trauma tumpul pada panggul, tetapi bisa juga karena trauma tembus seperti luka tembak dan luka tusuk oleh senjata tajam, dan cedera dari luar, cedera iatrogenik dan patah tulang panggul. Pecahan-pecahan tulang panggul yang berasal dari fraktur dapat menusuk kandung kemih tetapi rupture kandung kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul pada panggul atas kandung terisi penuh. Tenaga mendadak atas massa urinaria yang terbendung di dalam kandung kemih yang menyebabkan rupture. Penyebab iatrogenic termasuk pascaintervensi bedah dari ginekologi, urolodi, dan operasi ortopedi di dekat kandung kemih. Penyebab lain melibatkan trauma obstetric pada saat melahirkan.

C. PATOFISIOLOGI Trauma vesikaurinaria terbanyak karena kecelakaan lalu lintas/kecelakaan kerja yang menyebabkan fragmen patah tulang pelvis mencederai buli-buli. Trauma vesika urinaria tumpul dapat menyebabkan rupture buli-buli terutama bila kandung kemih penuh atau terdapat kelainan patelegik sepetrti tuberculosis, tumor atau obstruksi sehingga menyebabkan rupture. Trauma vesika urinaria tajam akibat luka trusuk atau luka tembak lebih jarang ditemukan. Luka dapat melalui daerah suprapubik ataupun transperineal dan penyebablain adalah instrumentasi urologic.Fraktur tulang panggul dapat menimbulkan kontusio atau rupture kandung kemih, pada kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada dinding buli-buli

dengan hematuria tanpa eksravasasi urin. Ruptur kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal atau ekstraperitoneal. Rupture kandung kemih ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh. Pada kejadian ini terjadi ekstravasasi urin dari rongga perivesikal.

D. TANDA DAN GEJALA a. b. c. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat Abdomen bagian tempat jejas/hemato Tidak bisa buang air kecil kadang keluar darah dari uretra.

d. Nyeri suprapubik e. f. Ketegangan otot dinding perut bawah Trauma tulang panggul

E. KLASIFIKASI. a. Rupture ekstaperitoneal kandung kemih. Ruptur ekstraperitoenal biasanya berhubungan dengan fraktur panggul (89%100%). Sebelumnya , mekanisme cidera diyakini dari perforasi langsung oleh fragmen tulang panggul. Tingkat cidera kandung kemih secara langsung berkaitan dengan tingkat keparahan fraktur. b. Rupture kandung kemih intraperitoneal. Rupture kandung kemih intraperitoneal digambarka sebagai masuknya urine secara horizontal kedalam kompartemen kadung kemih.mekanisme cidera adalah peningkatan tingkat tekanan intravesikel secara tiba-tiba kekandung kemih yang penuh. Kekuatan daya trauma tidak mampu ditahan oleh kemampuan dinding kandung kemih sehingga terjadi perforasi dan urine masuk kedalam peritoneum. c. Kombinasi rupture intraperitoneal dan ekstraperitoneal. Meknaisme cidera penetrasi memungkinkan cidera menembus kandung kemih seperti peluru kecepatan tinggi melintasi kandung kemih atau luka tusuk abdominal bawah. Hal itu akan menyebabkan intraperitoneal, ekstraperitoneal, cidera, atau gabungan kandung kemih.

F. KOMPLIKASI a. Urosepsis. Keracunan septic dari penahanan dan absorbs substansi urin. b. Klien lemah akibat anemia.

G. PEMERIKSAAN LABORATORIUM / DIAGNOSTIK Hematokrit menurun. Cystografi : menunjukkan ekstravasase urine, vesika urinaria dapat pindah atau tertekan.

H. PENATALAKSANAAN 1. Atasi syok dan perdarahan. 2. Istirahat baring sampai hematuri hilang. 3. Bila ditemukan fraktur tulang punggung disertai ruftur vesica urinaria intra peritoneal dilakukan operasi sectio alta yang dilanjutkan dengan laparatomi.

KONSEP KEPERAWATAN TRAUMA VESIKA URINARIA

A. PENGKAJIAN. Kaji mekanisme dari riwayat trauma pada kandung kemih. Kaji keluhan nyeri di daerah suprasimfisis, miksibecampur draah atau mungkin pasian tidak dapat miksi.pemeriksaan secara umum sering didapatkan adanya syok hipovolemik yang berhubungan dengan fraktur pelvis dan perdarahan dalam massif. Sering didapatkan adanya tanda dan gejala sepsis peritonesis akibat masuknya urine kedalam peritoneum.tanda-tanda klinis cedera landing kemih relative spesipik, trias gejala (gross hematuria, nyeri suprapubik, kesulitan ketidakmampuan untuk miksi). Inspeksi lokalis terdapat adanya tanda fraktur pubis, hematom perivesika. Pada urine output didapatkan adanya hematuria, penurunan jumlah urine sampai anuria. Klien terlihat nyeri saat berkemih. Pemeriksaan abdominal distensi, guarding, rebound tenderness, hilangnya/ penurunan suara usus dan tanda-tanda iritasi [eritoneal menunjukan kemungkinan pecahnya kandung kemih intraperitoneal. Pemeriksaan dubur harus dilakukan untuk mengevalasi posisi prostat. Posisi prostat yang melayang atau pada posisi anatomis normal mengidinkasikan adanya cedera kandung kemih disertai adanya cedera kandung kemih disertai adanya ruptur pada uretra. Pemeriksaan rigiditas cincin panggul dilakukan untuk menentukan stabilitas panggul apabila didapatkan adanya riwayat trauma paggul.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN. 1) Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) s/d Kerusakan jaringan ( trauma ) pada daerah bladder, ditandai dengan : Klien mengeluh nyeri pada daerah abdomen bawah yang terkena. Adanya nyeri tekan pada daerah bladder yang terkena. Ekspresi wajah meringis / tegang.

Intervensi : 1) Kaji skala nyeri, catat lokasi, lama, intensitas dan karakteristiknya. Rasional : Perubahan dalam lokasi atau intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan adanya komplikasi 2. Atur posisi sesuai indikasi, misalnya semi fowler. Rasional : Mmemudahkan drainase cairan / luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan. 2) Berikan tindakan kenyamanan, misalnya nafas dalam, tekhnik relaksasi / visualisasi. Rasional : Meningkatkan kemampuan koping dengan memfokuskan perhatian pasien. 3) Kolaborasi untuk pemberian analgesik. Rasional : Menurunkan laju metabolisme yang membantu menghilangkan nyeri dan penyembuhan. 2) Gangguan eliminasi urine s/d trauma bladder ditandai dengan hematuria. Intervensi : 1. Kaji pola berkemih seperti frekwensi dan jumlahnya. Rasional : Mengidentifikasi fungsi kandung kemih, fungsi ginjal dan keseimbangan cairan. 2. Observasi adanya darah dalam urine. Rasional : Tanda-tanda infeksi saluran perkemihan / ginjal dapat menyebabkan sepsis. 3. Istirahat baring sekurang-kurangnya seminggu sampai hematuri hilang. Rasional : Menurunkan metabolisme tubuh agar energi yang tersedia difokuskan untuk proses penyembuhan pada ginjal. 4. Lakukan tindakan pembedahan bila perdarahan terus berlangsung. Rasional : Tindakan yang cepat / tepat dapat meminimalkan kecacatan 3) Gangguan pemenuhan aktifitas s/d kelemahan fisik sekunder terhadap trauma, ditandai dengan : Klien tampak lemah. Aktifitas dibantu oleh orang lain / keluarga. Intervensi : 1. Kaji kemampuan fungsional dengan skala 0 4.

Rasional : Untuk menentukan tingkat aktifitas dan bantuan yang diberikan 2. Ubah posisi pasien setiap 2 jam sekali. Rasional : Meningkatkan sirkulasi darah seluruh tubuh dan mencegah penekanan pada daerah tubuh yang menonjol 3. Lakukan rentang gerak aktif dan pasif. Rasional : Menurunkan resiko terjadinya trauma dan mempertahankan fungsi sendi dan mencegah penurunan tonus 4. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan ADL. Rasional : Bantuan yang memberikan sangat bermanfaat untuk menghemat energi yang dapat digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka 4) Potensial syok hipovolemia s/d pemutusan pembuluh darah. Intervensi : 1. Observasi tensi, nadi, suhu, pernafasan dan tingkat kesadaran pasien. Rasional : Terjadinya perubahan tanda vital merupakan manifestasi awal sebagai kompensasi hypovolemia dan penurunan curah jantung. 2. Berikan cairan IV sesuai kebutuhan. Rasional : Perbaikan volume sirkulasi biasanya dapat memperbaiki curah jantung. 3. Berikan O2 sesuai kebutuhan. Rasional : Kadar O2 yang maksimal dapat membantu menurunkan kerja jantung 4. Kolaborasi pemberian obat-obatan anti perdarahan Rasional : Untuk menghentikan atau mengurangi perdarahan yang sedang berlangsung 5. Bila perdarahan tetap berlangsung dan KU memburuk pikirkan tindakan bedah. Rasional : Tindakan yang segera dapat menghindarkan keadaan yang lebih memburuk

DAFTAR PUSTAKA

//http://www.scribd.com.mmpe.sec21.ch314.ch314d.html/. acces online 10 maret 2013 pukul 14.57 wib Muttaqin, Arif, Kumala Sari. 2000. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Doenges E, Marillyn,dkk.2009.Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk

Perencanaan dan Pendokoumentasian Perawatan Pasien.Edisi 3.Jakarta:EGC.