Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Drama merupakan ragam sastra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukkan di atas pentas. Drama memilki bahasa yang bersifat dialog. Macam-macam drama dapat ditinjau dari segi kualitas cakapnya, jumlah pelaku, media pementasannya, penonjolan unsur seninya, orisinalitas, kualitas waktu pementasannya, sikap terhadap naskah, tukuan penulisan, dan aliran seni yang dianut. Kegiatan kajian drama merupakan bentuk tanggapan terhadap karya sastra terutama drama. Kajian drama dalah kegiatan mempelajarai unsur-unsur dan hubungan antarunsur dalam drama dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu. Kegiatan mempelajari dalam pemahaman yang bersifat keilmuan adalah menganalisis. Inti dari kegiatan mengkaji adalah menganalisis. Pada kegiatan kajian drama ini sangat berbeda dengan kegiatan apresiasi drama, apalagi dengan kegiatan kritik drama. Kegiatan apresiasi drama lebih menunjukkan kepada kegiatan menggauli karya sastra drama secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra drama. Begitu pula kegiatan kritik drama lebih mengarah terhadap kegiatan penilaian atau pertimbangan baik atau buruk sesuatu hasil kesusastraan drama dengan memberikan alasan-alasan mengenai isi dan bentuk hasil kesusastraan drama. Aspek-aspek dalam kritik drama ada tiga, yaitu analisis, interpretasi, dan penilaian. Tetapi, bagaimana pun juga kajian, apresiasi dan kritik drama memilki hubungan yang sangat erat karena ketiganya merupakan tanggapan terhadap karya sastra terutama drama.

Berpacu pada pengertian-pengertian di atas, ada beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan kajian drama, antara lain: Sikap pengkaji. Sikap pengkaji harus berdasar pada teks drama atau naskah drama yang ada. Dalam arti lain, harus lebih memusatkan perhatian terhadap naskah drama tersebut. Hilangkan asumsi-asumsi lain yang tak ada kaitannya dengan naskah. Tujuan. Pengkaji memiliki tujuan untuk mengetahui unsur-unsur serta hubungan antarunsur yang ada pada drama. Cara dan proses kegiatan. Selama kegiatan kajian drama berlangsung harus berdasarkan pada pendekan, teori dan cara kerja tertentu. Pemahaman dan kesimpulan yang didapatkan adalah bersifat ideal dan objektif.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah mengenai: Naskah apa yang akan dikaji dalam kegiatan kajian drama ini? Kajian teori jenis apa yang akan digunakan? Apa pengertian dari kajian teori yang telah dipilih? Bagaiman langkah-langkah dan pengaplikasian dari kajian teori tesebut terhadap naskah?|

C. Metode Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam penelitian kajian drama ini adalah menggunakan teori Semiotika. Memilih dan menentukan naskah terlebih dahulu. Selanjutnya naskah tersebut dibaca dan dikaji berdasrkan teori Semiotika. Semiotika

akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai sejarah, hakikat dn pengertian dari semiotika tersebut. Lalu langkah-langkah penerapannya pada proses kajian drama.

BAB II KAJIAN TEORI

A. Semiotika

1. Sejarah Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara yang ditandai (signified) dan yang menandai (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. Penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas, kata Saussure. Louis Hjelmslev, seorang penganut Saussurean berpandangan bahwa sebuah tanda tidak hanya mengandung hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Bagi Hjelmslev, sebuah tanda lebih merupakan self-reflective dalam artian bahwa sebuah penanda dan sebuah petanda masing-masing harus secara berturut-turut menjadi

kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Louis Hjelmslev dikenal dengan teori metasemiotik (scientific semiotics). Sama halnya dengan Hjelmslev, Roland Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak

dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktivan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama. Tokoh yang dianggap pendiri semiotik adalah dua orang yang hidup sezaman, yang bekerja dalam bidang yang terpisah dan dalam lapangan yang tidak sama (tidak saling mempengaruhi), yang seorang ahli linguistik yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan seorang ahli filsafat yaiutu Charles Sander Peirce (18391914). Saussure menyebut ilmu semiotik dengan nama semiologi, sedangkan Pierce menyebutnya semiotik (semiotics). Kemudian hal itu sering dipergunakan bergantiganti dengan pengertian yang sama. Di Perancis dipergunakan nama semiologi untuk ilmu itu, sedang di Amerika lebih banyak dipakai nama semiotik Semiotika moderen mempunyai dua orang pelopor, yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure. Pierce mengusulkan kata semiotika untuk bidang penelaahan ini, sedangkan Saussure memakai kata semiologi. Sebenarnya kata semiotika tersebut telah digunakan oleh para ahli filsafat Jerman bernama Lambert pada abad XVIII. 5

Pada akhirnya, pemikiran C.S Peirce dan F. de Saussure menginspirasi tokoh-tokoh lainnya untuk kemudian meneruskan pemikiran mereka. Berikut ini adalah pandangan para ahli tentang semiotik.

C.S PEIRCE Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant.

Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek. Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda. Interpretant atau pengguna tanda adalah gagasan pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. 6

Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi. Menurut Pierce, makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu. Ia menyebutnya sebagai representamen. Apa yang dikemukakan oleh tanda, apa yang diacunya, apa yang ditunjuknya, disebut oleh Pierce dalam bahasa Inggris object. Dalam bahasa Indonesia disebut acuan. Suatu tanda mengacu pada suatu acuan dan representasi seperti itu adalah fungsinya yang utama. Agar tanda dapat berfungsi harus menggunakan sesuatu yang disebut ground. Sering ground suatu tanda berupa kode, tetapi tidak selalu begitu. Kode adalah suatu sistem peraturan yang bersifat transindividual. Banyak tanda yang bertitik tolak dari ground yang bersifat sangat individual. Di samping itu tanda diinterprestasikan. Hal ini menunjukkan setelah dihubungkan dengan acuan, dari tanda yang orisinal berkembang suatu tanda baru yang disebut interpretant. Pengertian interpretant di sini jangan dikacaukan dengan pengertian interpretateur, yang menunjukkan penerima tanda. Jadi, tanda selalu terdapat dalam hubungan trio: dengan ground-nya, dengan acuannya, dan dengan interpretant-nya. (lihat Sudjiman, 1991) Berdasarkan hubungan antara tanda dan acuannya (denotasi), Pierce membedakannya menjadi 3 (tiga) jenis tanda, yaitu : (1) ikon, (2) indeks, dan (3) simbol. Hal ini dinyatakan sebagai berikut : Pada prinsipnya ada tiga hubungan yang mungkin ada. (1) Hubungan antara tanda dan acuannya dapat berupa hubungan kemiripan, tanda itu disebut ikon. (2) Hubungan ini dapat timbul karena ada kedekatan eksistensi; tanda itu disebut indeks. (3) Akhirnya hubungan ini dapat pula berbentuk secara konvensional; tanda itu adalah simbol. Tanda ikon merupakan tanda yang menyerupai benda yang diwakilinya, atau suatu tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya. Misalnya kesamaan sebuah peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya, foto dan lain-lain. Benda-benda tersebut mendapatkan sifat

tanda dengan adanya relasi persamaan di antara tanda dan denotasinya, maka ikon seperti qualisign merupakan suatu firstness. Indeks adalah tanda yang sifat tandanya tergantung dari keberadaannya suatu denotasi, sehingga dalam terminologi Pierce merupakan suatu Secondness. Indeks dengan demikian adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan atau kedekatan dengan apa yang diwakilinya. Misalnya tanda asap dengan api, tiang penunjuk jalan, tanda penunjuk angin dan sebagainya. Simbol adalah suatu tanda, di mana hubungan tanda dan denotasinya ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum atau ditentukan oleh suatu kesepakatan bersama (konvensi). Misalnya tanda-tanda kebahasaan adalah simbol. Ditinjau dari hubungan tanda dengan interpretannya, tanda dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu : (1) Rheme bilamana lambang tersebut interpretannya adalah sebuah first dan makna tanda tersebut masih dapat dikembangkan (2) Decisign (dicentsign) bilamana antara lambang itu dan intepretannya terdapat hubungan yang benar ada (merupakan secondness) (3) Argument bilamana suatu tanda dan interpretannya mempunyai sifat yang berlaku umum (merupakan thirdness).

AART VAN ZOEST Aart van Zoest (1978) dengan mengutip pendapat Pierce yang membagi keberadaan menjadi tiga kategori : Firstness, Secondness dan Thirdness, membagi tanda berdasarkan ground dari tanda-tanda tersebut sebagai berikut : (1) Qualisign,

(2) Sinsign, dan (3) Legisigns. Awalan kata Quali- berasal dari kata quality, Sindari singular, dan Legi- dari lex (wet/hukum). Qualisign adalah tanda yang menjadi tanda berdasarkan sifatnya. Misalnya sifat warna merah adalah qualisign, karena dapat dipakai tanda untuk menunjuk-kan cinta, bahaya, atau larangan. Sinsign (singular sign) adalah tanda-tanda yang menjadi tanda berdasarkan bentuk atau rupanya di dalam kenyataan. Semua ucapan yang bersifat individual bisa merupakan sinsign. Misalnya suatu jeritan, dapat berarti heran, senang, atau kesakitan. Seseorang dapat dikenali dari caranya berjalan, caranya tertawa, nada suara dan caranya berdehem. Kesemuanya itu adalah sinsign. Suatu metafora walaupun hanya sekali dipakai dapat menjadi sinsign. Setiap sinsign mengandung sifat sehingga juga mengandung qualisign. Sinsign dapat berupa tanda tanpa berdasarkan kode. Legisign adalah tanda yang menjadi tanda berdasarkan suatu peraturan yang berlaku umum, suatu konvensi, suatu kode. Semua tanda-tanda bahasa adalah legisign, sebab bahasa adalah kode, setiap legisign mengandung di dalamnya suatu sinsign, suatu second yang menghubungkan dengan third, yakni suatu peraturan yang berlaku umum, maka legisign sendiri adalah suatu thirdness. Menurut Aart Van Zoest, adanya tanda ditentukan oleh 3 (tiga) elemen, yaitu : (1) tanda yang dapat dilihat atau tanda itu sendiri, (2) sesuatu yang ditunjukkan atau diwakili oleh tanda, (3) tanda lain dalam pikiran penerima tanda. Di antara tanda dan yang diwakilinya ada sesuatu hubungan yang menunjukkan representatif yang akan mengarahkan pikiran kepada suatu interpretasi. Hal ini menunjukkan representasi dan interpretasi merupakan karakteristik tanda. Tanda mempunyai arti langsung dari suatu tanda yang telah diketahui bersama atau yang menjadi pengertian bersama yang disebut denotasi. Sedangkan pengertian tak langsung atau arti ke 2 dari denotasi tadi disebut konotasi. Tanda yang diberi arti sepihak oleh penerima disebut symptom, dengan demikian artinya konotatif. 9

Pengertian symptom sendiri adalah jika suatu tanda tidak dimaksudkan tanda oleh pengirim tanda. Selanjutnya menurut Aart van Zoest, studi semiotika dibagi menjadi 3 (tiga) daerah kerja, yaitu : (1) Semiotik Sintaksis, studi tanda yang dipusatkan pada penggolongannya, dan hubungan dengan tanda-tanda yang lain caranya berkerja sama dalam menjalankan fungsinya. Namun semiotik sintaksis tidak hanya dibatasi mempelajari hubungan antara tanda di dalam sistem tanda yang sama, melainkan juga mempelajari tanda dalam sistem lain yang menunjukkan kerjasama. Misalnya dalam film, antara gambar dan kata-kata, pada dasarnya berasal dari sistem tanda yang berbeda, tetapi bekerja sama. (2) Semiotik semantik, penyelidikannya diarahkan untuk mempelajari hubungan di antara tanda dan acuannya (denotasi), serta interprestasi yang dihasilkan. (3) Semiotik Pragmatik, penyelidikannya diarahkan untuk mempelajari hubungan di antara tanda dan pemakai tanda Dengan adanya tiga tataran tersebut, maka akan semakin lengkap usaha untuk mempelajari gramatika sistem semiotika tertentu. Perbedaan yang paling penting dalam taraf pragmatik adalah di antara symptom-symptom dan signal-signal. yang dimaksud dengan symptom adalah bila suatu tanda tidak dimaksudkan oleh pengirim tanda sebagai tanda. Sedangkan signal adalah suatu tanda yang memang dimaksudkan oleh pengirim tanda sebagai tanda. Dalam signal ada aspek repretentatifnya, ada denotasi tertentu, berbeda dengan symptom yang tidak memiliki denotasi tertentu yang sengaja diberikan. Pada situasi komunikasi, perhatian pertama ditujukan kepada signal, namun dalam situasi demikian bisa juga muncul symptom-symptom yang tidak disengaja. Menurut Aart van Zoest, justru terkadang symptom memiliki kekuatan kebenaran yang lebih jika dibanding dengan signal, karena signal dapat berbohong, sedangkan symptom tidak.

10

FERDINAND DE SAUSSURE Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan gagasan-gagasan dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified.

Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut referent. Hampir serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai objek sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata anjing (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah, menurut Saussure, Signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari sehelai kertas. (Sobur, 2006).

BAUDRILLARD

Baudrillard memperkenalkan teori simulasi. Di mana peristiwa yang tampil tidak mempunyai asal-usul yang jelas, tidak merujuk pada realitas yang sudah ada, tidak mempunyai sumber otoritas yang diketahui. Konsekuensinya, 11

kata Baudrillard, kita hidup dalam apa yang disebutnya hiperrealitas (hyperreality). Segala sesuatu merupakan tiruan, tepatnya tiruan dari tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya (Sobur, 2006). Sebuah iklan menampilkan seorang pria lemah yang kemudian menenggak sebutir pil multivitamin, seketika pria tersebut memiliki energi yang luar biasa, mampu mengerek sebuah truk, tentu hanya mengada-ada. Karena, mana mungkin hanya karena sebutir pil seseorang dapat berubah kuat luar biasa. Padahal iklan tersebut hanya ingin menyampaikan pesan produk sebagai multivitamin yang memberi asupan energi tambahan untuk beraktivitas seharihari agar tidak mudah capek. Namun, cerita iklan dibuat luar biasa agar konsumen percaya. Inilah tipuan realitas atau hiperealitas yang merupakan hasil konstruksi pembuat iklan. Barangkali kita masih teringat dengan pengalaman masa kecil (entah sekarang masih ada atau sudah lenyap) di pasar-pasar tradisional melihat atraksi seorang penjual obat yang memamerkan hiburan sulap kemudian mendemokan khasiat obat di hadapan penonton? Padahal sesungguhnya atraksi tersebut telah direkayasa agar terlihat benar-benar manjur di hadapan penonton dan penonton tertarik untuk beramai-ramai membeli obatnya.

2. Pengertian Secara leksikal, semiotik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem tanda dan lambang dalam kehidupan manusia, sedangkan semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda (bahasa, lalu lintas, kode morse, dsb); atau semiologi adalah ilmu tentang semiotik. Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda atau sign dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. 12

Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tandatanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia. Semiotika merupakan bidang studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja (dikatakan juga semiologi). Dalam memahami studi tentang makna setidaknya terdapat tiga unsur utama yakni; (1) tanda, (2) acuan tanda, dan (3) pengguna tanda. Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita, tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri, dan bergantung pada pengenalan oleh penggunanya sehingga disebut tanda. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate).

Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Semiotika adalah ilmu tanda dan istilah ini berasal dari kata Yunani semion yang berarti tanda. Tanda bisa terdapat dimana-mana, misalnya : lampu lalu lintas, bendera, karya sastra, bangunan dan lain-lain. Hal ini disebabkan manusia adalah Homo Semioticus, yaitu manusia mencari arti pada barang-barang dan gejala-gejala yang mengelilinginya. Semiotika sebagai pendekatan meninjau karya adalah dengan melakukan otokritik terhadap karya-karya yang dibuat. Unsur kritik dalam meninjau karya adalah perian atau deskripsi, yaitu menyebutkan, mencatat dan melaporkan hal yang tersaji secara langsung yang tampak melalui penglihatan mengenai wujud. Unsur kedua adalah orakan atau analisis, yaitu menyatakan bagaimana suatu hal 13

yang disebutkan dalam perian tergambar atau tersusun, dengan menyatakan sifat, kualitas dan elemen-elemen seni rupa (garis, warna, bidang, tekstur) bertalian dengan yang telah diuraikan. Unsur ke tiga adalah tafsir atau interprestasi, yaitu menyatakan atau mengutarakan makna dari hasil seni. Unsur yang ke empat atau terakhir adalah menyatakan nilai atau mutu hasil seni. (lihat Feldman, 1967 dan Garret, 1978) Pendekatan semiotika merupakan salah satu cara untuk mengetahui dan mengontrol karya-karya yang dibuat karena Karya seni merupakan suatu tanda yang diciptakan seniman yang dapat dibaca oleh penonton atau penerima tanda. Komposisi merupakan salah satu aspek pokok pertama yang dilihat penonton dalam karya seni, sebab dapat mengkomunikasikan visi seniman dalam arti karya seninya kepada pengamat. Sebagai sebuah tanda, komposisi yang merupakan penyusunan atau pengorganisasian dari unsur-unsur seperti tekstur, garis, bidang dan sosok gumpal, yang disusun dalam satu kesatuan, akan memberikan kesan yang berbeda-beda, misalnya stabil atau

dinamis. Garis merupakan tanda, secara qualisign (istilah dalam ilmu semiotik) garis yang mendatar memperlihatkan ketenangan, kedamaian, bahkan

kematian. Garis vertikalsecara qualisign menggambarkan kekokohan, kestabilan, kemegahan dan kekuatan. Garis diagonal menandakan tidak dalam keadaan seimbang, sehingga menunjukkan gerakan, hidup dan dinamis. Garis yang bengkok atau melengkung mengesankan sesuatu yang indah, lemas, lincah dan meliuk. Garis yang dibuat zig-zag secara qualisign menyiratkan semangat dan gairah. Garis horisontal juga menunjukkan tanda ikonis, karena mengingatkan benda-benda yang di alam seperti cakrawala, pohon yang tumbang dan lain-lain. Garis vertikal secara ikonis dapat diasosiasikan pokok pohon, dinding gedung dan batu karang. Garis diagonal sebagai tanda ikonis bertautan dalam ingatan pada pucuk-pucuk pohon yang di tiup angin, orang berlari dan kuda yang sedang melonjak. Sedangkan garis bengkok atau melengung, berkaitan dengan gerak ombak yang mengalun menuju pantai.

14

Seperti yang telah disebut di muka, warna merupakan qualisign, sifat merah dapat dipakai sebagai tanda bahaya dan larangan. Selain itu, sifat merah yang panas dapat dipakai untuk menunjukkan gairah, semangat dan cinta. Biru secara qualisign memperlihatkan kedalaman dan ketenangan. Kuning menerangkan kehangatan dan keramahan. Putih mengesankan sesuatu yang terang, ringan dan netal. Hitam secara qualisign menandakan suatu kedalaman, kekokohan dan keabadian. Sebagai tanda ikon, warna biru mengingatkan pada langit, warna putih bertautan dengan awan, warna kuning mengingatkan pada bulan, warna mera pada matahari dan bunga mawar, warna hitam pada batu. Tekstur atau barik adalah nilai raba suatu permukaan, secara qualisign tekstur memperlihatkan sifat keras, halus, lunak, kasar atau licin. Sebagai tanda ikon, barik keras mengingatkan pada tekstur batu, barik halus dapat diasosiasikan pada kapas, barik lunak bertautan ingatan pada helai bunga dan daun muda, barik kasar berkaitan dengan ingatan pada kulit kayu dan pasir, barik licin mengingatkan pada lumut. Berdasarkan uraian di atas, karya-karya yang dibuat dengan kertas ini merupakan tanda yang dapat dibaca sebagai berikut : Kertas yang selama ini dikenal sebagai bahan atau alas untuk mengekspresikan seni di atas permukaannya (karya seni grafis cetak dan gambar), fungsinya ingin diubah. Kertas tersebut bukan untuk menumpahkan ekspresi di atas permukaannya melalui pena, kuas, pinsil dan lain-lain, tetapi kertas itu sendiri ingin dihadirkan secara utuh denga hasil akhir dalam dirinya sebagai media yang telah mengandung nilai-nilai seni (paper art). (lihat Bahari, 1993 ; 1995) Secara visual, bentuk-bentuk atau sosok gumpal yang dihadirkan dalam karya adalah bentuk-bentuk yang bertekstur, bergelombang dan timbul seperti relief. Hal ini melawan realitas atau pengalaman sehari-hari di mana kertas dalam bentuk lembaran-lembaran adalah daftar sehingga dapat dipergunakan sebagai

15

alas menulis, menggambar dan mencetak. Dalam ilmu semiotik hal ini dapat dikategorikan sinsign (singular sign). Unsur garis pada karya kertas merupakan qualisign, garis vertikal dan horisontal yang bersilang dalam karya menandakan kekokohan , kestabilan, kekuatan dan ketenangan. Hal ini dimaksudkan sebagai unsur kontras untuk mengimbangi sifat kacau dari tekstur, sehingga akan saling menonjolkan. persilangan garis tidak ditempatkan tepat di tengah-tengah bidang karya (porosnya), untuk menghindari kesan formil atau resmi dapat menghadirkan masalah seperti memberikan perbandingan (proporsi) bidang-bidang sisi atas dan bawahnya, di sisi kiri dan kanannya. pembagian tersebut, menimbulkan gaya berat yang berbeda, mengakibatkan (munculnya) kesan dinamis pada karya (dan sekaligus harmonis). Selain itu, kesan dinamis diperkuat dengan adanya garis diagonal pada daerah pemusatan titik persimpangan hasil dari penempatan bidang kertas yang lain di atas permukaan kertas pertama, masalah memperkuat tersebut dapat digategorikan sebagai redundance. Unsur warna kertas merupakan qualisign, warna-warna yang digunakan diperoleh secara alami untuk membuat kertas, yaitu warna putih memperlihatkan sesuatu yang terang, ringan dan netral, warna kuning gading menunjukkan kelembutan dan kehangatan, nada warna kuning kecoklat-coklatan menandakan kerapuhan, kuno dan usang. Unsur tekstur secara qualisign memperlihatkan ketidak beraturan, kasar, (tetapi juga lunak dan lembut). Elemen-elemen pada karya, seperti serat- serat yang panjang dan pinggiran kertas merupakan unsur garis, garis dapat menjadi aktif seakan-akan merupakan kekuatan yang bergerak dan garis dapat pula tak aktif seperti pada batas semu antara dua sosok gumpal atau ruang, antara warna dengan warna. Garis vertikal dan horisontal pada pinggiran kertas yang dibuat lurus dimaksudkan untuk menghadirkan unsur yang teratur supaya mengimbangi sifat kacau dari tekstur sebagai unsur kontras, sehingga akan saling menonjolkan.

16

Selain itu, kehadiran garis tersebut akan mengintegrasikan bagian yang belum beraturan dalam bidang karya. Warna-warna yang dipergunakan adalah warna-warna yang cenderung diperoleh secara alami dari warna-warna bahan mentah pokok untuk membuat kertas, yakni warna putih, krem, nada warna kuning kecoklat-coklatan dan lainlain, secara qualisign memberikan kesan netral dan lembut, supaya mengimbangi sifat kacau dari tekstur sebagai unsur kontras, sehingga akan saling menonjolkan. Secara etimologis, semiotik berasal dari kata Yunani Semion yang berarti Tanda. Tanda itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain. Contohnya : asap bertanda adanya api Secara Terminologis, semiotik dapat diartikan sebagai ilmu yang memepelajari sederetan peristiwa yang terjadi di seluruh dunia sebagai tanda. Pengertian yang paling singkat yang dikemukakan oleh Preminger (2001:89). Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa kejadian sosial di masyarakat dan kebudayaannya merupakan tanda-tanda. 1. Hubungan penalaran dengan jenis penandanya. a. Qualism : Penanda yang bertalian dengan kualitas

b. Sin Sign : Penanda yang bertalian dengan kenyataan c. Legisign : Penanda yang bertalian dengan kaidah

2. Hubungan kenyataan dengan jenis dasarnya a. Icon : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa

dengan bentuk objeknya

17

b. Index : sesuatu yang melaksanakan funsi sebagai penanda yang mengisyaratkan penandanya c. Symbol : Sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang

oleh kaidah secara konvensi telah lazim di gunakan dalam masayarakat. 3. Hubungan pikiran dengan jenis petandanya a. Rheme or seme : Penanda yang bertalian dengan mungkin

terpahamnya objek petanda bagi penafsir b. Dicent or Drcisign or Pheme : penanda yang menampilkan informasi tentang petandanya. c. kaidah 3. Macam-macam Semiotik Ada 9 macam semiotik yang kita ketahui : Semiotik Analitik Argument : penanda yang petandanaya akhir bukan suatu benda tetapi

Semiotik analitik adalah semiotik yang menganalisis sistem tanda Semiotik Deskriptif

Semiotik deskriptif adalah semiotk yang memeperhatikan sistem tanda yang adapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksiskan sekarang. Semiotik Faunal (Zoo semiotic)

Semiotik Faunal adalah semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan 18

Semiotik Kultural

Semiotik kultural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Semiotik Naratif

Semiotik Naratif adalah semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (Folkkore) Semiotik Natural

Semiotik natural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Semiotik Normatif

Semiotik normatif adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang di buat oleh manusia yang berwujud norma-norma, misalnya rambu-rambu lalu lintas. Semiotik Sosial

Semiotik sosial adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berupa lambang. Semiotik Struktural

Semiotik struktural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yag dimanifestasikan melalui struktur bahasa.

19

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data
Naskah drama yang digunakan berjudul Sayang Ada Orang Lain. Berikut merupakan identitas naskah.

Judul

: Sayang Ada Orang Lain

Pengarang : Utuy Tatang Sontani Tahun : 1954

Naskah ini diperoleh dari hasil pembelajaran mata kuliah Apresiasi Drama Indonesia pada semester ke dua. Naskah ini ditampilkan pula di depan kelas serta diapresiasi pula dari segi pengarang. Naskah drama Sayang Ada Orang Lain ini mengisahkan sebuah konflik keluarga, terutama konflik suami-istri. Tokoh Suami istri tersebut bernama Sumint dan Mini. Konflik ini dipicu karena keadaan ekonomi. Penghasilan Suminta sebagai seorang buruh tidak dapat menutupi keadaan ekonomi keluarganya. Sehingga konflik keluarga pun timbul. Mini telah kepergok tengah berselingkuh dengan lelaki lain di dalam sebuah mobil oleh Haji Salim tetangga Suminta dan Mini sendiri. Dari sanalah konflik pun timbul hingga menimbulkan perpisahan antara Suminta dan Mini.

Tabel Data NO. 1. NAMA DATA HAMID: Lho aneh! Istrinya parlente, suaminya kaya gembel HAMID: Beruntung sungguh beristrikan dia, tapi anehnya kau selalu kelihatan lesu saja, seperti bagimu langit ini akan ambruk 20

2.

HAMID: Engkau sih pesimis terus. Untungnya kau tidak, ya Mini! SUMINTA: Bagaimana takkan lesu kalau gaji tidak cuklup (SUARANYA MENGELUH)Coba pikir! Gaji buruh sekarang sudah tidak seimbang lagi dengan harga-harga kebutuhan. Dengan yang kuterima sekarang sesungguhnya kami Cuma bisa hidup sepuluh hari. Yang dua puluh hari lagi mesti ditutup dengan meminjam, menghutang, menggadaikan, kalau perlu menjual barang yang sudah ada dan keadaan ini sudah berbulan-bulan. Kian lama hutang itu bukan...

3.

SUMINTA: Lantas, mau apa? Gajiku memang tidak cukup! PEREMPUAN TUA: Lho... tuan tak usah marah. Dan saya tidak perlu tahu cukup tidaknya.....

4.

SUMINTA: Ini dia setannya! (ia melepaskan cekikan dan menunjuk-nunjuk) SUMINTA: Kau setam! Kau yang bikin gara-gara!

5.

MINI: .....Aku akan pergi. Bukan karena ada tamu. Setadi juga aku sudah mau pergi. (LALU IA MENDAPAT SUMINTA, DAN SAMBIL MENSIUM DAHIS UMINTA) Aku pergi yaa ka. HAMID: Duilah!...Seperti baru kawin saja kalian ini. MINI: Bagi kami lima tahun kawin itu memang rasanya seperti baru lima hari. (SAMBIL TERUS BERJALAN KELUAR)

6.

SUMINTA: Biarlah dia dingin. Aku tidak mengharapkan kau membawa mie. Aku mengharapkan kau membawa cerita yang terus terang MINI: Cerita yang terus terang? SUMINTA: Ya, cerita yang terus terang, yang tidak berputar-putar ...... SUMINTA: Kau lebih baik terus terang saja. Dengan berterus terang orang bisa mengurangi dosa

7.

MINI: Aku cinta padamu, kak. Aku tidak mau melihat kau terus-terusan susah memikirkan kita berdua.

8.

H. SALIM: Aku hampir-hampir tidak percaya pada kataku sendiri, Minta, 21

demi Alloh, aku hampir tidak percaya. SUMINTA: Ada apa sih? H. SALIM: Istrimu SUMINTA: Mengapa? ... Celaka?... H. SALIM: Bukan celaka. Tadi istrimu bilang mau kemana? 9. H. SALIM: Astagfirulloh! Kau tidak percaya? Buat apa aku sembahyang tiap waktu? Kalau aku bicara dusta, kau Kira aku ini si Hamid, tetangga kita yang sudah kufur itu? Coba kau... ... H. SALIM: Sampai jadi aku yang istigfar, Minta! Kau Kira menghapuskan diri itu apa? Aku sudah lama mendengarkan di luar. .....Seolah-olah dunia ini sudah kiamat saja. Setelah istrimu berdosa, kau pula mau bunuh diri? Kau kira bunuh diri itu kau tidak lebih berdosa, tidak lebih bejat akhlak dari istrimu. 10. TIBA-TIBA MUNCUL DARI PINTU LUAR SEORANG LAKI-LAKI BERBADAN GEMUK SETELAH MELIHAT RUANGAN YANG

KOSONG, IA MELONGO LALU... 11. HAMID: Salahmu juga sih!! Kan aku sudah beberapa kali menganjurkan supaya kau mengubah cara berpikir. Coba kau berpikir reel, berpikir secara dialektis. Kau kira kau pesimis lantaran gaji tidak cukup? Tidak! Itu tidak benar justru lantaran gaji tidak cukup, kau mesti berusaha menggunakan segala kesempatan, supaya kau bisa membangun rumah tangga yang kuat. Supaya setelah mempunyai rumah tangga yang kuat pikiranmu jadi sehat, tidak diganggu oleh kekurangan.

12. HAMID: ....Dengan berpikir demikian kau tidak akan melihat, bahwa sesuatu perbutan untuk mengubah keadaan itu salah atau benar. Tapi kau akan menganggap bahwa perbuatan itu suatu kemestian, kemestian untuk hidup tidak kekurangan, supaya pikiran-pikiran jahat tidak timbul. Mengerti kan?...... 13. H. SALIM: .... Tapi bagiku, orang tidak mengakui adanya Tuhan itu adalah 22

orang murtad, orang yang sudah bejat akhlak, bejat iman, bejat segalagalanya. Dan sekarang kebejatan akhlaknya itu dugunakannya sebagai modal untuk menjual istri orang.

14.

H. SALIM: Itu dia! Dasar manusia kufur! Tidak terpikir olehmu sekarang betapa jahatnya kawanmu itu! Aku memang sudah lama tidak percaya kepadanya, Minta coba kau pikr! Dimana-mana dia selalu mengejek oranya yang percaya kepada Tuhan. Katakanlah dia menganut paham isme ini isme itu. Tapi bagiku, orang tidak mengakui adanya Tuhan itu adalah orang murtad, orang yang sudah bejat akhlak, bejat iman, bejat segala-galanya. Dan sekarang kebejatan akhlaknya itu dugunakannya sebagai modal untuk menjual istri orang

15.

(DENGAN TERGOPOH-GOPOH HAJI SALIM DAN HAMID ITU DATANG LAGI, DAN MEREKA DATANG DENGAN DIIRINGKAN SEORANG LAKI-LAKI MASIH MUDA BERMATA SERIGALA)

16.

LELAKI B. S: Apa ini semua?....ribut-ribut perkara tai kebo! LELAKI B. S: Memang apa perlunya? Di dunia ini tidak apa-apa, tapi orang goblok maunya ribut-ribut

17.

H. SALIM: Nanti dulu! Jangan pergi dulu, persoalan ini belum selesai dan beres. LELAKI B. S: Apa itu soal? (SAMBIL MELANGKAH PERGI KIE LUAR). Kau kira kai ini apa menganggap di dunia ada soal yang mesti dibereskan? Cih, kebo semua!

18.

DI RUMAH SUMINTA DI KOTA JAKARTA/ DI RUANG TENGAH YANG SEMPIT DIALATI OLEH PERABOTAN YANG SERBA REYOD. LAGI-LAGI NAMPAK SUASANA MURAM DAN SEPI SEOLAHOLAH DI SANA TAK PERNAH ADA MAKHLUK BERNYAWA. TIBATIBA MUNCUL DARI PINTU LUAR SEORANG LAKI-LAKI

BERBADAN GEMUK SETELAH MELIHAT RUANGAN YANG 23

KOSONG, IA MELONGO LALU...

19.

HAMID: Terlalu!... sungguh terlalu Mang Haji ini. Soal tek-tek bengek dibesar-besarkan, Minta.. (MINTA MUNCUL DARI KAMAR) brgini, inilah kelakuan Mang Haji. Maunya menghasut, terus menghasut. Sampaisampai ia sekarang orang lain ke sini LELAKI B. S: Istri orang lain? Apa itu istri? Dan apa itu orang lain? Saya hanya tahu ada perempuan makanan saya.

20. TIBA-TIBA MUNCUL DARI PINTU LUAR SEORANG LAKI-LAKI BERBADAN GEMUK SETELAH MELIHAT RUANGAN YANG

KOSONG, IA MELONGO LALU...

24

B. Pembahasan

1. Analisis Aspek Sintaksis 1. Skema Aktan Greimas dari naskah drama Sayang Ada Orang Lain

PENGIRIM

OBJEK

PENERIMA

Status istri
Menjaga keutuhan keluarga

Mini

Suminta
(pergi meninggalkan Mini)

PENOLONG Haji Salim

SUBJEK

PENENTANG/ PENGHAMBAT

Suminta

Keadaan
ekonomi Hamid Lelaki bermata serigala

Penjelasan: Suminta dan Mini adalah sepasang suami istri yang hidup serba berkecukupan, bahkan nyaris serba kekurangan. Suminta hanyalah seorang buruh. Penghasilan Suminta sebagai seorang buruh tidak dapat menutupi keadaan ekonomi keluarganya. Penghasilan Suminta dalam satu bulan hanya mampu untuk membiayai kehidupan selama sepuluh hari, sedangkan untuk sisa dua puluh harinya lagi Suminta dan Mini meminjam sana-sini sehinggahutang mereka menumpuk. Pada suatu hari Minggu pagi, Mini berniat untuk pergi keluar. Ia mengatakan kepada Suminta untuk pergi ke rumah kerabatnya. Tetapi, apa yang terjadi? Haji Salim tetangga Suminta melihat Mini sedang 25

diciumi oleh laki-laki lain di dalam mobil. Di dalam mobil tersebut ada pula Hamid tetangga Suminta dan Mini pula. Hamid bertugas sebagai mucikari yang menghubungkan Mini dengan Lelaki Bermata Serigala. Mini dipekerjakan sebagai wanita panggilan. Mini melakukan itu demi kehidupan ekonomi keluarganya. Suminta sangat marah besar ketika menegtahui Mini telah membohongi dirinya. Ia tidak dapat ,menyangka keadaan ekonomi keluarganya telah membuat Mini berani melakukan perbuatan jinah tersebut. Suminta pun merasa kaget bahwa Hamid lah yang membuat istrinya mau melakukan pekerjaan hina tersebut. Pertengkaran hebat pun terjadi antara Suminta dan Mini, hingga pada akhirnya Mini berniat untuk oeri meninggalkan Suminta dan rumah kecil mereka, tetapi Suminta melarangnya, karena Sminta lah yang akan pergi meninggalkan Mini. Suminta dan Mini pun akhirnya berpisah. Mini sangat sedih ketika Suminta meninggalkan dirinya. Ia sangat terpukul oleh keadaan tersebut.

2. Tabel Model Fugsional dari naskah drama Sayang Ada Orang Lain SITUASI AWAL Mini meminta izin kepada Suminta untuk pergi meminjam uang ke rumah kerabatnya. TRANSFORMASI TAHAP TAHAP UTAMA KEBERHASILAN Ketika Mini Suminta dan Mini pulang Suminta bertengkar hebat. pun langsung Sehingga Mini memarahi Mini berniat untuk pergi untuk jujur apa meningalkan yang telah rumah, tetapi dilakukan Mini Suminta sedari tadi pergi. melarangnya, karena Sumint lah yang akn pergi meninggalkan Mini. SITUASI AKHIR Suminta pergi meninggalk an Mini sendirian. Mini sangat sedih atas kepergian Suminta.

TAHAP AWAL Haji Salim melihat Mini diciumi lakilaki lain d dalam mobil. Di dalam mobil tersebut ada pula Hamid. Haji Salim pun memberika informasi tersebut kepada Suminta.

26

2. Analisis Aspek Semantik

1.Analisis Tokoh dan Penokohan

Dalam naskah drama Sayang Ada Orang Lain karya Utuy Tatang Sontani ini terdapat beberapa tokoh dan karakter yang berbeda pula, tokohtokoh tersebut adalah: Suminta, suami Mini Pendeskripsian tokoh Suminta pada naskah ini cukup sederhana, hal ini dilakukan oleh pengarang. Secara fisik tidak ada keterangan bagaimana sosok Suminta, tetapi dari segi penampilan ada keterangan ia memiliki penampilan seperti gembel dan selalu terlihat lesu, seperti yang ada pada percakapan berikut ini Tabel nomor 1 Karakter dari Suminta adalah sosok laki-laki yang pesimis, kurang bersemangat dan selalu mengeluh terhadap keadaan ekonomi keluarganya, seperti yang ada pada percakapan berikut ini Tabel nomor 2 Selain itu, Suminta juga memiliki sikap pemarah, ia sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan uang atau mebayar hutang, hal ini dikarenakan penghasilan Suminta yang kurang memadai, seperti yang terlihat pada naskah berikut Tabel nomor 3 Sikap pemarah Suminta dapat terlihat pada saat ia mengetahui bahwa Hamid lah yang mengajak Mini istrinya untuk bekerja menjadi wanita panggilan. Tabel nomor 4 Tetapi, Suminta sangat baik terhadap istrinya, ia mencoba memaafkan istrinya saat ia mengetahui istrinya berani selingkuh dengan laki-laki lain. Bahkan ia tak rela istrinya yang pergi, sehingga ia yang memutuskan untuk pergi meninggalkan Mini dan rumah mereka.

27

Mini, istri Suminta Mini secara fisik tak digambarkan oleh si pegarang pada naskah ini, ia lebih diceritakan secara perilaku. Mini memiliki sikap seorang istri yang sangat penurut, ia bersikap optimis, ia sangat mencintai suaminya Suminta, sehingga ia rela melakukan apa saja demi membahagiakan kehidupan ia dan suaminya. Seperti pada penggalan naskah berikut Tabel nomor 5 Mini juga memiliki sifat pembohong, ia berselingkuh dengan laki-laki lain demi mendapat uang. Tabel nomor 6 Mini tidak ingin melihat keluarganya terus-terusan susah, sehinga ia rela melakukan apa pun Tabel nomor 7 Haji Salim, tetangga Suminta dan Mini Secara fisik Haji Salim digambarkan sebagai sosol lelalki tua berbadan kurus. Hal ini dideskripsikan pada di awal naskah pada saat perkenalan para pelaku. Haji Salim: seorang lelaki tua berbadan kurus Dari segi karakter Haji Salim memiliki sosok yang sangat peduli terhadap tetangganya. Tabel nomor 8 Haji Salim juga sosok lelaki yang sangat taat pada agama. Ia rajin beribadah dan sangat peduli terhadap urusan agama. No. Tabel nomor 9 Hamid, tetangga Suminta dan Mini Hamid dari segi fisik digambarkan oleh pengarang merupakan sosok lelaki berbadan gemuk. Hal ini di jelaskan pada awal naskah drama pada saat pengenalan para tokoh selain itu dijelaskan pada prolog darama juga. Tabel nomor 10 Karakter atau penokohan yang dideskripsikan terhadap diri Hamid adalah Hamid seorang tetangga yang memberi semangat kepada Suminta, karena Hamid selalu berpikir optimis. 28

Tabel nomor 11 Hamid selalu berpikir ke depan, bagaiman ia mesti mengubah suatu keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik, tetapi ia selalu menggunakan segala kesempatan, tidak ada lagi penilaian salah atau benar. Selain itu, hamid pun berani menjual Mini, istri Suminta. Tabel nomor 12 Tabel nomor 13 Hamid juga dikatakan menganut paham atheisme, atau tidak mengaku adanya Tuhan. Tabel nomor 14 Laki-laki bermata serigala Sesuai dengan namany, dari segi fisik laki-laki ini hanya diceritakan memiliki mata seperti serigala. Ia pun digambarkan sebagai sosok lelaki muda. Seperti yang ada pada keterangan berikut ini: Tabel nomor 15 Karakter yang ia miliki adalah selalu berkata kasar Tabel nomor 16 Bahkan Lelaki Bermata seriagal ini pun tak mau tau mengenai masalah yang ada pada keluarga Suminta, ia sangat acuh. Tabel nomor 17 Dari semua tokoh tersebut ada pula beberapa tokoh yang muncul pada naskah ini. Tokoh-tokoh tersebut adalah: Sum, penjual perhiasan Tukang minyak Perempuan tua pembawa bakul

2.Analisis Latar Latar yang digunakan pada naskah ini adalah rumah Suminta di kota Jakarta tepatnya di ruang tengah pada rumah tersebut. Disertai cuaca pada siang hari dengan suasana yang muram dan sepi. Hal tersebut sesuai dengan prolog yang ada pada naskah Tabel nomor 18 29

3. Analisis Aspek Pragmatik Bahasa yang digunakan dalam percakapan ini adalah Bahasa Indonesia sehari-hari hal ini dapat dilihat pada percakapan yang ada pada saat itu, meskipun terkadang ditemukan susunan yang kurang tepat atau tidak enak didengar oleh telinga kita, bahkan sulit untuk dimengerti. Seperti yang ada pada percakapan berikut ini. Naskah ini menggunakan susunan kalimat aktif dan menunjukkan Tabel nomor 19

4. Analisis Aspek Gagasan dan Simbolisasi Karya sastra merupakan sebuah media yang dapat menimbulkan sebuah gagasan yang dituangkan dalam sebuah simbol-simbol yang membutuhkan penafsiran yang berbeda dari sebenarnya. Seperti yang ada pada naskah drama ini, antara lain: Keadaan manusia sekarang yang menghalalkan segala cara Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam persepsi yang timbul pada dewasa ini. Banyak sekali orang yang ingin kaya mendadak dengan cara yang instan, mereka menghalalkan segala cara agar menjadi kaya dan dapat bertahan hidup. Bahkan tak sedikit dari mereka yang siap mempertaruhkan harga diri dan kehormatan mereka. Betapa mirisnya ketika beberapa segelintir kaum wanita memperjualbelikan harga diri dan kehormatan mereka demi mempertahankan kehidupan mereka atu meningkatkan keadaan ekonomi mereka. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Hamid kepada Mini istri Suminta. Hamid mempengaruhi Mini agar mau menghalakan segala cara agar memperbaiki rumah tangganya. Seperti pada Tabel nomor 11, 12, 13 dan 14 Sungguh menyakitkan melihat keadaan wanita sekarang yang sudah tidak lagi menjungnjung tinggi harga diri dan kehormatan mereka. Harga diri dan kehormatan para wanita mulai dijajakan di sekitar kita, 30

seperti halnya makanan yang diperjualbelikan oleh para pedagang. Sungguh miris melihat keadaan wanita-wanita pada saat itu hingga merajalela hingga saat ini. Kebudayaan buruk tersebut terus berkembang. Paham atheisme yang mulai mempengaruhi orang-orang saat ini Paham atheisme mulai mempengaruhi orang-orang pada saat itu. Seperti timbulnya paham komunis hingga muncul sebuat partai menganut paham komunis, yaitu PKI Partai Komunis Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat pada percakapan yang ada di dalam naskah ini. Tabel nomo 13 dan 14. Hal tersebut sungguh merusak keaadan akhlak manusia sekarang. Meskipun pada dasarnya PKI mulai bekembang pada tahun 1965 hingga terjadi sebuah peristiwa yang sungguh mengecawakan kita semua, peristiwa tersebut bernama G30S/PKI. Hal tersebut sungguh menyayat hati. PKI adalah Partai Komunis Indonesia partai politik di Indonesai yang berideologi komunis. Dalam sejarah PKI pernah berusaha melakukan pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda 1926,

mendalangipemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948, serta dituduh telah membunuh enam jenderal TNI AD di Jakartapada 30 September 1965 yang dikenal dengan peristiwa G30S/PKI. Bisa dibayangkan pada saat itu PKI sedang hangat-hangatnya diperbincangkan bahkan dianut meneganai ideologinya, seperti yang dilakukan oleh Hamid pada saat itu. Penulis membuat naskah ini pada tahun 1954, bisa diartikan pada saat itu penulis menggambarkan Hamid sebagai sosok yang menganut atheisme, paham yang tidak mengakui adanya Tuhan. Masa-masa dimana paham PKI sedang menjadi-jadi.

31

Manusia yang istiqomah dan tetap taat pada agama Seseorang yang sangat patuh terhadap agama yang ia anut. Istiqomah suatu keadaan yang tetap berada di jalan Allah Swt. Jalan kebenaran yang selalu dilewatinya. Hal tersebut dapat dicerminkan oleh tokoh Haji Salim yang tetap rajin sholat hingga ia berani menolong tetangganya Suminta dari kebohongan yang dilakuakan oleh istrinya, Mini. Haji Salim merupakan sosok yang berkebalikan dari Hamid yang tidak mengakui adanya Tuhan. Haji Salim merupakan sosok manusi yang sangat taat terhadap agamanya. Hal ini sesuai dengan naskah. Tabel nomor 9 Haji Salim rajin bersembahyang, ia tetap taat terhadap kepercayaan yang ia anut, meskipun lingkungan sekitarnya terdapat Hamid, tetangganya yang ia sebut sebagai manusia murtad. Haji Salim merupakan sosok yang tetap taat dengan agama yang ia anut, meskipun dunia sudah mulah bejat bahkan akhlak orng-orang sekarang sudah bejat pula. Tabel nomor 14 Kehidupan Haji Salim sudah sepatutnya diikuti oleh kita semua. Ia tetap pada pendiriannya, ia tetap memegang keyakinan yang ia yakini. Hal tersebut berbeda dengan Suminta yang kurang istiqomah, ia mudah terpengaruh oleh hasutan Hamid mengenai tak perlu memperdulikan kembali benar atau salah dalam berbuat. Tabel nomor 12

32

BAB IV PENUTUPAN
A. Kesimpulan
Secara leksikal, semiotik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem tanda dan lambang dalam kehidupan manusia, sedangkan semiotika adalah ilmu atau teori tentang lambang dan tanda (bahasa, lalu lintas, kode morse, dsb); atau semiologi adalah ilmu tentang semiotik. Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda atau sign dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbolsimbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia. Analisis mengunakan semiotik, dibagi menjadi analisi sintaksis, analisis semantik, analisis prargmatik, dan analisis gagasan dan simbolisasi. Semitica lebih mengandalkan terhadap tanda-tanda yang muncul pada nazca tersebut. Seperti hal nya nama tokoh HajiSalim, tokoh tersebut mencirikan seseorang yang sudah naik aj dan sangat taat terhadap keyakinan yang ia anut.

33

B. Saran
Analisis terhadap naskah drama ini diharapkan agar membantu kawankawan yang lain agar lebih memahami mengenai kajian drama mengunakan pendekatan semiotik. Diharapkan juga agar lebih menyenagi terhadap dunia seni drama

34