Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MAKALAH PLANT DESIGN

PRODUKSI ANILIN DENGAN PROSES


HIDROGENASI NITROBENZEN


Nama Kelompok:
1. Sthevanie (03101003001)
2. Rumiyati (03101003009)
3. Susi Susanti (03101003049)
4. Rindy Mutia Fitri (03101003103)
5. Rian Artha Prima (03101003107)




JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam era industrialisasi, pertumbuhan industri di Indonesia khususnya industri
kimia, dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Seiring dengan peningkatan tersebut, maka kebutuhan akan bahan
baku industri, bahan-bahan kimia maupun tenaga kerja juga akan semakin meningkat.
Salah satu bahan baku yang diperlukan itu adalah anilin dan derivativenya.
Anilin merupakan salah satu senyawa intermediate yang digunakan secara meluas
di berbagai industri kimia. Oleh karenanya kebutuhan akan anilin akan meningkat dari
tahun ke tahun sejalan dengan program pemerintah dalam pengembangan industri hilir
dimana kebutuhannya baru dapat dipenuhi dengan import dari negara negara maju
seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, Inggris, Australia, Jerman, dan Belgia.
Kebutuhan anilin di dunia mengalami peningkatan sebesar 4,6% dari 2,117
million ponds di tahun 2004 menjadi 2,210 milion ponds di tahun 2005 dan mengalami
peningkatan 4,2 % sampai tahun 2008. Sedangkan di Indonesia sendiri pada tahun 2008
mengimpor anilin sejumlah 26.822,2 ton dan pada tahun 2015 diperkirakan sejumlah
31.324 ton. Anilin tersebut banyak digunakan di berbagai industri.
Dalam merancang suatu pabrik, kita memerlukan data-data fisik maupun kimia
dari bahan baku yang kita gunakan dan produk yang didapat. Untuk merancang suatu
proses, diperlukan adanya diagram alir proses tersebut beserta keterangan keterangan
pendukung untuk menyelesaikan neraca massa ataupun neraca energi diagram alir
tersebut. Untuk itu dalam makalah ini disertakan contoh soal mengenai proses
pembuatan anilin, lebih spesifik ke neraca massa aliran masuk dan keluar reaktor. Oleh
karena itu, sebagai mahasiswa, kita tidak hanya belajar teori, tapi juga perhitungan
mendasar mengenai plant design
1.2. Tujuan
Makalah tentang pembuatan anilin ini bertujuan:
1) Memenuhi tugas Perancangan Pabrik atau Plant Design tentang pembuatan plant
anilin
2) Mengetahui tahapan-tahapan dalam menyusun suatu plant design
3) Mengetahui hal-hal apa saja yang diperlukan untuk merancang suatu pabrik
4) Mengetahui tata cara menyelesaikan permasalahan dalam diagram alir, baik itu
neraca massa ataupun neraca energi.





























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Macam-Macam Proses Pembuatan Anilin
Anilin dapat diproduksi dengan beberapa macam proses, antara lain:
2.2.1 Proses Hidrogenasi Nitrobenzen Fase Uap
Proses hidrogenasi nitrobenzen fase uap adalah proses pembuatan anilin dari
nitrobenzen uap yang direaksikan dengan gas hidrogen pada suhu 270
o
C.
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
NO
2
+ 3H
2
C
6
H
5
NH
2
+ 2H
2
O
Sebelum masuk reaktor, nitrobenzen terlebih dahulu diumpankan ke vaporizer
untuk diuapkan. Nitrobenzen dalam fase uap meninggalkan vaporizer dan dicampur
dengan gas H
2
200 % berlebih. Campuran kemudian masuk ke reaktor Fluidized bed
yang mengandung katalis silica supported copper. Reaksi terjadi pada suhu 270
o
C dan
tekanan 20 bar dengan waktu kontak yang relatif pendek. Setelah meninggalkan reaktor,
campuran hasil reaksi yang terdiri dari anilin, air dan H
2
berlebih didinginkan dan
dikondensasikan yang selanjutnya menuju tahap pemurnian. Gas H
2
dipisahkan dan
direcycle kembali menuju reaktor. Campuran yang bebas H
2
selanjutnya menuju
dekanter dimana anilin dan air dipisahkan. Crude anilin yang mengandung 0,5%
nitrobenzen yang tidak bereaksi dan 5% air didistilasi di kolom pertama dan selanjutnya
didistilasi lagi dalam kolom kedua.
Proses ini menghasilkan anilin dengan yield 99%. Dengan adanya produk yang
mengandung nitrobenzen menandakan bahwa katalis mengalami deaktivasi dan harus
digenerasi. Hal ini dilakukan dengan menghentikan aliran nitrobenzen dan gas H
2
dan
melewatkan udara ke dalam reaktor pada suhu 250-350
o
C. Dengan adanya regenerasi,
tiap gram katalis dapat menghsailkan minimum 600 gr anilin.
2.1.2. Proses Reduksi dengan Larutan Nitrobenzen
Proses reduksi larutan nitrobenzen adalah proses pembuatan anilin dengan
mereaksikan nitrobenzen cair dengan gas hidrogen dalam larutan asam klorida. Reaksi
berlangsung pada suhu 200
o
C dan tekanan 12.3 atm.
Reaksi:
C
6
H
5
NO
2
+ 9Fe + 4H
2
O 4C
6
H
5
NH
2
+ 3H
2
O
HCl
Pada proses ini nitrobenzen cair direkasikan dengan gas hidrogen dan dengan
adanya asam klorida serta cast-iron borings atau powder yang bebas dari minyak dan
logam non-ferrous. Cast iron, air dan katalis ditambahkan secara bertahap dalam jumlah
relatif sedikit ke dalam nitrobenzen. Biasanya 10 - 20% dari total iron ditambahkan
pada permulaan dan campuran dipanaskan dengan menggunakan steam sampai suhu
200
o
C.
Air dibutuhkan pada reaksi ini pada umumnya dalam bentuk anilin-air dari
recovery separator maupun kolom distilasi dan ditambahkan ke dalam reaktor. Kurang
lebih 30% HCl ditambahkan sebagai katalis. Asam akan bereaksi dengan iron
membentuk garam besi. Selanjutnya hasil reaksi dipisahkan melalui tahap pemisahan
dan pemurnian. Campuran air-anilin dipisahkan dari ironoxide-ironhydroxide sluge
dengan menggunkan metode steam destilation, vacum destilation, filtrasi sentrifugasi
maupun siphoning. Setelah itu, campuran air-anilin dialirkan ke separator dimana anilin
sebagai fraksi berat dipisahkan dari air. Lapisan atas yang masih mengandung 3 5 %
selanjutnya didistilasi sampai kadarnya rendah. Residu anilin-air dikembalikan ke
reaktor anilin di distilat kemudian dipisahkan dengan dekantasi dan lapisan air di
redistilasi. Prosedur alternatif yang lain adalah dengan ekstraksi anilin air dengan
menggunakan nitrobenzen.
Aliran anilin dari separator dan dekanter selanjutnya menuju distilasi vakum
untuk mendapatkan anilin dengan kemurnian yang lebih tinggi. Yield yang diperoleh
dengan menggunakan proses ini adalah 95% terhadap nitrobenzen.
2.1.3. Proses Aminasi Klorobenzen
Proses aminasi klorobenzen adalah proses pembuatan anilin dengan mereaksikan
klorobenzen dengan amonia cair.
Reaksi:
C
6
H
5
Cl + NH
3
C
6
H
5
NH
2
+ HCl
Klorobenzen cair dialirkan ke rolled steel autoclave yang disusun secara
horizontal. Katalis yang digunakan adalah cuprous oxide. Sekitar 0,1 mol cuprous oxide
dan 4 5 mol dari 28 30% amonia ditambahkan per mol klorobenzen. Reaksi dimulai
pada suhu 180
o
C kemudian dipertahankan pd suhu 210 220
o
C dengan pengadukan
konstan. Tekanan berkisar 750 850 psi.
CuO
Proses pembuatan anilin dengan metode ini juga menghasilkan reaksi samping
dan untuk mengurangi reaksi samping tersebut digunakan larutan amonia berlebih.
Reaksi samping yang terjadi adalah
C
6
H
5
Cl + NH
3
+ H
2
O C
6
H
5
OH + NH
4
Cl
Produk reaksi selanjutnya didinginkan sampai suhu 100
o
C dan dialirkan ke
separator untuk memisahkan amonia dan komponen lain. Larutan yang bebas amonia
dialirkan menuju absorption dan condesing system recovery. Anilin berada di lapisan
bawah dan air berada di lapisan atas. Lapisan bawah mengandung 82% anilin, 5%
phenol, dan 1% diphenilamin. Sedangkan lapisan atas terdiri dari 5% anilin, 9% NH
4
Cl,
3% cuprous oxide dan sekitar 14% amonia. Lapisan air yang berada di atas selanjutnya
dialirkan menuju netralizer dimana akan dinetralkan menggunakan sodium hidroksida
atau lime. Sedangkan lapisan bawah yang mengandung anilin air dipisahkan melalui
dekantasi. Larutan residu yang terdiri dari sodium phenate dan sodium klorida difiltrasi
untuk menghilangkan cooper oxide.
Lapisan anilin dari bagian bawah separator dinetralkan dengan sodium hidroksida
50%. Campuran selanjutnya didistilasi. Hasil bawah distilasi adalah untuk merecovery
phenol menggunakan acidifier. Yield yang diperoleh dari proses ini 85 95% terhadap
klorobenzen.
2.1.4. Proses Amonia dengan Phenol
Pada reaksi amonia dengan phenol merupakan proses pembuatan anilin dengan
mereaksikan amonia dengan phenol cair, sebelum direaksikan di dalam reaktor, amonia
dan phenol cair dipanaskan terlebih dahulu dengan preheater. Reaksi berlangsung pada
460
o
C dan tekanan 16 atm.
Reaksi:
C
6
H
5
OH + NH
3
C
6
H
5
NH
2
+ H
2
O
Campuran uap masuk reaktor katalitik fixed bed, lalu anilin dan air dihasilkan
melalui reaksi ammonolysis. Keluar reaktor keadaan partial condensed. Sedangkan
amonia yang tak terkonversi dikompres lalu direcycle. Air hasil reaksi dihilangkan dari
crude anilin dengan distilasi. Produk anilin dengan kemurnian tinggi direciver melalui
destilasi dari fraksi yang lebih berat. Kunci dari proses ini adalah katalis silica-alumina
hasil pengembangan Halcon yang dapat mempertinggi yield phenol dan amonia secara
kuantitatif sehingga purifikasi berjalan sederhana namun produk dengan kemurnian
tinggi jarang didapat.
Dari proses yang telah diuraikan sebelumnya dapat dibuat tabel perbandingan dari
keempat macam proses tersebut.
Tabel 2.1. Perbandingan Proses Pembuatan Anilin
Parameter Hidrogenasi
Nitrobenzen Uap
Reaksi Larutan
Nitrobenzen
Aminasi
Klorobenzen
Reaksi amonia
dengan phenol
Proses
1. Bahan
baku

2. Bahan
pembantu


3. Impuritas
4. By
product
5. Yield

- Nitrobenzen
- Hidrogen

- Cooling
water
- Steam
- Katalis
Sedikit
Tidak ada

99%

- Nitrobenzen
- Hidrogen

- Cooling
water
- Steam
- Katalis
Banyak
Larutan HCl

95%

- Nitrobenzen
- Amonia

- Cooling
water
- Steam
- Katalis
Banyak
Tidak ada

85 90%

- Phenol
- Amonia

- Cooling
water
- Steam
- Katalis
Banyak
Diphenilamine

85 %
Kondisi
1. Tekanan
2. Suhu

20 bar
270
o
C

12,3 atm
200
o
C

57,8 atm
220
o
C

16 atm
450
o
C
Berdasarkan uraian uraian tersebut dapat dilihat proses pembuatan anilin yang
paling menguntungkan adalah proses hidrogenasi nitrobenzen fase uap. Sehingga dalam
makalah ini dipilih proses pembuatan anilin dengan hidrogenasi nitrobenzen fase uap
karena menghasilkan yield yang tinggi dengan impuritas yang sedikit dan tidak ada
hasil sampingnya (dapat diabaikan)
2.2. Kegunaan Anilin
Penggunaan anilin di Indonesia dapat dikatakan sebagai bahan kimia menengah.
Hal ini akan lebih jelas lagi jika ditinjau dari kegunaan anilin sebagai bahan dalam
pembuatan:
1) Rigid polyurethanes dan reaction injection model (RIM)
2) Accelerator meliputi mercapto benzenatole
3) Industri karet sintesis
4) Industri pharmaceutical, khususnya dalam pembuatan sulfachugs dan sweetening
agent sintetik
5) Industri kimia fotografi
6) Resin dari anilin
7) Bahan corrosin inhibitor
Berbagai turunan anilin penting untuk industri tekstil, kertas, industri metalurgi,
penyediaan sirfactum inti catalos serta stabilizer pestisida. Sehingga dilihat dari
keseluruhan kegunaannya, penggunaan anilin cukup mendukung operasional industri
kimia di Indonesia.
2.2. Sifat Fisik dan Kimia
2.2.1. Sifat fisik dan kimia bahan baku
1) Nitrobenzene ( C
6
H
5
NO
2
)
Sifat fisis
- Berat molekul : 123,111 gram/mol
- Temperature kritis : 719 K
- Tekanan kritis : 44 bar
- Volume kritis : 349 cm
3
/mol
- Titik lebur : 278,91 K
- Titik didih : 483,95 K
- IG heat of formation : 67,5 kJ/mol
- IG Gibbs of formation : 158 kJ/mol
- Specific gravity : 1,2007
Sifat Kimia
- Nitrobenzene merupakan pelarut yang baik.
- Nitrobenzene larut pada pelarut organik dengan baik, larut pada air dengan
tingkat kelarutan 0,19% pada 20
o
C.
- Reaksi pada nitrobenzene berupa reaksi substitusi pada cincin aromatik dan
pada rantai nitro.
- Reduksi nitrobenzene dengan pereduksi Sn dan H
2
O menghasilkan n-phenyl-
hydroxilamine dan dengan pereduksi Sn dan HCl menghasilkan anilin.
- Kondensasi nitrobenzene dengan n-Phenylhidroxilamine dengan pereduksi Zn
dan NaOH menghasilkan azobenzene dan hidrazobenzene.
2) Hidrogen ( H
2
)
Sifat fisis
- Berat molekul : 2,061 gram/mol
- Temperature kritis : 33,18 K
- Tekanan kritis : 13,13 bar
- Volume kritis : 64,2 cm
3
/mol
- Titik didih : 20,39 K
- Panas penguapan : 903,7633 kJ/mol
- Specific gravity 60 F : 0,07
Sifat Kimia
Hidrogen banyak digunakan dalam proses hidrogenasi, misalnya hidrogenasi
etilen menjadi etana. Reaksinya sebagai berikut :
Ni, 300
o
C
CH
2
= CH
2
+ H
2
CH
2
CH
2
Etilen Hidrogen Etana
2.2.2. Sifat Fisika dan Kimia Produk
1) Anilin ( C
6
H
7
N )
Sifat fisis
- Berat molekul : 93,128 gram/mol
- Temperature kritis : 699 K
- Tekanan kritis : 53,09 bar
- Volume kritis : 270 cm
3
/mol
- Titik lebur : 267,13 K
- Titik didih : 457,6 K
- IG heat of formation : 86,86 kJ/mol
- IG Gibbs of formation : 166,69 kJ/mol
- Panas penguapan : 41,84 kJ/mol
- Specific gravity 60 F : 1,023553
Sifat kimia
- Anilin larut pada pelarut organik dengan baik, larut pada air dengan tingkat
kelarutan 3,5% pada 25
o
C.
- Anilin adalah basa lemah ( Kb = 3,8 x 10
-10
).
- Halogenasi senyawa anilin dengan brom dalam larutan sangat encer
menghasilkan endapan 2,4,6 tribromanilinm sedang halogenasi dengan klorin
menghasilkan trikloroanilin.
- Pemanasan anilin hidroklorid dengan senyawa anilin sedikit berlebihan pada
tekanan 6 atm menghasilkan senyawa diphenilamida.
C
6
H
5
NH
2
+ C
6
H
5
NH
2
HCl C
6
H
5
NHC
5
H
5
+ NH3 + HCl
Anilin Anilin hidroklorid Diphenilamida Amonia Asam
klorida
- Hidrogenasi katalitik pada fase cair pada suhu 140
o
C dan tekanan 250 atm
menghasilkan 80% cyclohexamine ( C
6
H
11
NH
2
). Sedangkan hidrogenasi anilin
pada fase uap dengan menggunakan katalis nikel menghasilkan
diclorohexamine.
- Nitrasi anilin dengan asam nitrat pada suhu -20
o
C menghasilkan
mononitroanilin dan nitrasi anilin dengan nitrogen oksida cair pada suhu 0
o
C
menghasilkan 2,4 dinitrophenol.
- Anilin bereaksi dengan gliserol membentuk quinoline dengan adanya
nitrobenzene dan asam sulfat.
- Anilin bereaksi dengan hidrogen peroksid dan arctonitril dalam larutan
metanol membentuk azoxybenzene.
- Hidrogenasi anilin dengan menggunakan brom menghasilkan 2,4,6
tribromoanilin.

















G
a
m
b
a
r

2
.
1
.

D
i
a
g
r
a
m

A
l
i
r

P
e
m
b
u
a
t
a
n

A
n
i
l
i
n










G
a
m
b
a
r

2
.
2
.

F
l
o
w
s
h
e
e
t

P
e
m
b
u
a
t
a
n

A
n
i
l
i
n

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Proses
Secara umum reaksi pembuatan anilin dari nitrobenzen dan gas hidrogen dapat
dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
1) Tahap penyiapan bahan baku
Nitrobenzen cair dengan kemurnian 99,8% dari tanki T-01 pada suhu 30
o
C dan
tekanan 1 atm dialirkan dengan menggunakan pompa (P-01) menuju HE-01. Pada HE-
01, nitrobenzen berfungsi sebagai fluida pendingin bagi gas produk keluaran reaktor.
Suhu nitobenzen keluaran HE-01 adalah 212,14
o
C. Selanjutnya nitrobenzen keluaran
HE-01 dan hasil bawah MD-02 dialirkan menggunakan pompa (P-02) dan bertemu
dengan arus recycle dari separator (S-01) untuk masuk ke vaporizer (V-01) untuk
diuapkan.
Hasil yang terbentuk dialirkan menuju separator (S-01) untuk ditampung dan
dipisahkan antara uap yang terbentuk dan yang masih berwujud cairan. Cairan
diumpankan kembali menuju vaporizer sebagai arus recycle dan uap yang telah
dipisahkan selanjutnya dialirkan menuju HE-02.
Gas hidrogen dari tangki penyimpan T-02 pada kondisi operasi 14 atm dan suhu
30
o
C diekspansi menjadi 2,35 atm menggunakan Gas Expander (GE-01) dan kemudian
dialirkan menuju HE-04 bersama dengan arus gas hidrogen dari flash drum (S-02). Arus
gas keluaran HE-02 dan HE-04 bercampur menuju reaktor (R-01) sebagai umpan masuk
2) Tahap pengolahan
Bahan baku nitrobenzen dan gas hidogen masuk reaktor fluidized bed dalam fase
gas dan dengan gas hidrogen berlebih. Reaktor beroperasi isotermal 270
o
C dan tekanan
2,3 atm. Yield yang diperoleh adalah 99% terhadap nitrobenzene. Reaksi yang terjadi
adalah reaksi eksotemis, sehingga untuk mempertahankan kondisi isotermal, perlu
dilakukan pengambilan panas. Panas yang dihasilkan dari reaksi diserap oleh media
pendingin berupa dowtherm A yang melewati internal coil.
3) Tahap pemurnian produk
Tahap ini bertujuan untuk memisahkan produk dengan sisa reaktan maupun
impuritas lain sehingga diperoleh spesifikasi produk yang diinginkan. Pada tahap ini
juga dilakukan penyesuaian kualitas produk yang dihasilkan dengan produk serupa yang
ada dipasaran.
Gas produk keluaran reaktor pada kondisi 270
o
C dan pada tekanan 2,23 atm.
Selanjutnya gas tersebut didinginkan di HE-01 dengan fluida pendingin nitrobenzen
fresh bed sampai suhu 167
o
C. Dari HE-01, gas selanjutnya dialirkan menuju flash drum
(SP-02) untuk dikondensasikan sekaligus didinginkan. Gas hidrogen adalah gas non
condensable, sehingga yang terkondensasi hanya komponen selain gas hidrogen. Keluar
dari SP-02, gas hidrogen selanjutnya dialirkan menuju HE-04.
Hasil bawah dari SP-02 selanjutnya dialirkan dengan pompa (P-05) menuju HE-
05 untuk dipanaskan sampai suhu 119,7
o
C. Pemanas yang digunakan adalah saturated
steam pada tekanan 7.446,1 psi. Tahap pemurnian selanjutnya adalah proses destilasi.
Keluar HE-06, aliran menuju MD-01 untuk memisahkan anilin dan air. Produk atas
yang sebagian besar air dibuang dan produk bawah yang sebagian besar anilin
selanjutnya didistilasi lagi untuk memperoleh spesifikasi produk yang sesuai pasar.
Produk bawah MD-02 yang berupa cairan anilin, nitrobenzen, dan benzen dialirkan
dengan pompa (P-12) kembali ke Tee-01 sebagai arus recycle. Produk atas yang berupa
anilin yang komposisinya sudah memenuhi kriteria, selanjutnya didinginkan di HE-06
sampai suhu 35
o
C. Anilin yang sudah memenuhi spesifikasi produk tersebut, kemudian
disimpan dalam tangki T-03 dan siap untuk dipasarkan.
3.2. Peralatan dan fungsinya
a. Tangki nitrobenzene (T-01) berfungsi menyimpan bahan baku nitrobenzen selaam 30
hari
b. Tangki Hidrogen (T-02) berfungsi menyimpan bahan baku hidrogen selama 2 hari
c. Tangki anilin (T-04) berfungsi menyimpan produk selama 7 hari
d. Tangki dowterm (T-03) berfungsi menampung dowtherm A sebelum dialirkan ke
dalam koil pendingin reaktor.
e. Separator (S-01) berfungsi memisahkan fase liquid produk vaporizer dengan fase
gasnya
f. Separator (S-02) berfungsi memisahkan gas hidrogen untuk di recycle kembali ke
reaktor.
g. Reaktor (R-01) berfungsi sebagai tempat terjadinya reaksi gas-gas katalis padat.
h. Menara distilasi (MD-01) berfungsi untuk memisahkan air dengan anilin.
i. Menara distilasi (MD-02) berfungsi untuk memisahkan produk (anilin) dengan
nitrobenzen
j. Vaporizer berfungsi untuk menguapkan umpan reaktor.
k. Heat exchanger (HE-01) berfungsi untuk mendinginkan produk reaktor sekaligus
memanaskan nitrobenzen fresh feed.
l. Heat exchanger (HE-02) berfungsi untuk memanaskan gas dari separator menuju
reaktor
m. Heat exchanger (HE-03) berfungsi untuk mendinginkan dowtherm A
n. Gas expander berfungsi untuk menurunkan tekanan hidrogen dari 14 atm menjadi
2,35 atm.

















Permasalahan
Aniline is produced by the hydrogenation of nitrobenzene. The reaction takes place in a
fluidised bed reactor operating at 270
o
C and 20 bar. The excess heat of reaction is
removed by a heat transfer fluid passing through tubes in the fluidised bed.
Nitrobenzene vapour and hydrogen enter the reactor at a temperature of 260
o
C. A
typical reactor off-gas composition, mol per cent, is: aniline 10.73, cyclo-hexylamine
0.11, water 21.68, nitrobenzene 0.45, hydrogen 63.67, inerts (take as nitrogen) 3.66.
Estimate the heat removed by the heat transfer fluid, for a feed-rate of nitrobenzene to
the reactor of 2500 kg/h.
The specific heat capacity of nitrobenzene can be estimate using the methods given in
Chapter 8. Take the other data required from Appendix D.
Analisa:
Anilin di produksi dengan proses hidrogenasi nitrobenzene dan hidrogen menggunakan
reaktor tipe fluidized bed reactor dengan kondisi operasi 270
o
C dan 20 bar. Uap
nitrobenzene dan gas hidrogen masuk ke reaktor dengan suhu 260
o
C. Panas berlebih
dari reaksi tersebut dihilangkan dengan menggunakan aliran fluida yang melalui tube
pada fluidised bed reactor. Pada permasalahan ini akan ditentukan jumlah panas yang
hilang dengan adanya transfer panas dari fluida. Diketahui laju alir nitrobenzen 2500
kg/h. Dengan data dari appendix D (buku Coulson Richardson Volume 6 edisi ketiga)
berupa data entalpi standar masing masing komponen, kita dapat menyelesaikan
permasalahan ini.
Komposisi gas keluaran reaktor sebagai berikut:
Senyawa Persen mol
Anilin 10.73
Sikloheksilamin 0.11
Water 21.68
Nitrobenzene 0.45
Hidrogen 63.67
Nitrogen (inert) 3.66
Reaksi yang terjadi pada proses ini adalah:
C
6
H
5
NO
2
+ 3H
2
C
6
H
5
NH
2
+ 2H
2
O (Reaksi utama)
C
6
H
5
NH
2
+ 3H
2
C
6
H
11
NH
2
(Reaksi samping )
Skema prosesnya sebagai berikut:







Nitrogen Balance:
Laju alir molar nitrobenzene =

()()
= 5.646 x 10
-3
kmol s
-1

Dengan demikian, konsentrasi (N) nitrobenzene = 5.646 x 10
-3
s
-1

Total massa keluar misalkan x, sehingga:
5.646 x 10
-3
=
(

+ +
100
11 . 0 73 . 10 45 . 0
x
x = 0.050 kmol s
-1

H
2
yang bereaksi
Anilin yang terbentuk = (0.05) |
.
|

\
|
100
73 . 10
= 0.005365 0.0161
Sikloheksamine terbentuk = (0.05) |
.
|

\
|
100
11 . 0
= 0.000055 0.000165
0.0163 kmol s
-1

H
2
yang tidak bereaksi = (0.05) |
.
|

\
|
100
67 . 63
0.0318
Jadi, total H
2
yang masuk = 0.0481 kmol s
-1

AH
reaksi
= 552,000 kJ kmol
-1
(Appendix G8) (buku Coulson Richardson Volume 6
edisi ketiga)
Data AH
f
(Appendix D) NB -67.49 kJ mol
-1

AN 86.92
H
2
O -242.00

mol %
NB 0.45
AN 10.73
H
2
O 21.68
Cycl. 0.11
Inerts 3.66
H
2
63.67
2500 kg h
-1

NB
H
2

Inerts

AH
reaction
= E products E reactants
= [86.92 + 2(-242.00)] (-67.49)
= -329.59 kJ mol
-1

= 329,590 kJ kmol
-1

Reaksi sampingan dapat diabaikan karena fraksi molnya sangat kecil.



























DAFTAR PUSTAKA

Coulson, J.M., and Richardson, J.F. 2005. Chemical Engineering Design Volume 6 third
Edition. Amsterdam: Elsevier Science BV
Perry, R.H., Green, D., 1997, Perrys Chemical Engineers Handbook, 8
th
ed., McGraw
Hill Companies Inc., USA
Setiawan, Dwi Panggih dan Rahmad Ariyanto. 2011. Prarancangan Pabrik Anilin dari
Hidrogenasi Nitrobenzen Fase Uap Kapasitas 40.000 Ton/Tahun. Universitas
Sebelas Maret. Surakarta