Anda di halaman 1dari 3

Ben Ikhsan / 12012028 Moch.

Hilmi Zaenal Putra / 12012070 Muchamad Ramses / 12012076

Hukum Bersedekap
Para ulama bersepakat bahwa bersedekap ketika shalat adalah hal yang disyariatkan, berdasarkan hadits dari Sahl bin Saad radhiallahuanhu: Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kirinya ketika shalat (HR. Al Bukhari 740) Sebagian orang ada yang menukil pendapat Imam Malik bahwa beliau menganggap makruh bersedekap dalam shalat dan beliau menganjurkan irsal, yaitu membiarkan tangan terjulai disamping. Namun yang shahih adalah bahwa beliau juga berpendapat disyariatkannya bersedekap. Buktinya dalam kitab Al Muwatha, beliau membuat judul bab: Bab: Meletakkan kedua tangan, yang satu di atas yang lain, ketika shalat Walaupun dalam hadits Bukhari tadi terdapat ungkapan perintah untuk bersedekap, namun tidak diketahui perkataan dari salaf, baik dari sahabat, tabiin, maupun tabiut tabiin atau pun para imam madzhab yang menyatakan wajibnya bersedekap dalam shalat (lihat Sifat Shalat Nabi Lit Tharifi, 84). Dengan demikian bersedekap dalam shalat hukumnya sunnah tidak sampai wajib.

Bentuk Sedekap
Para ulama bersepakat bahwa tangan kanan berada di atas tangan kiri, namun mereka berbeda pendapat mengenai rincian bentuk sedekap, yang merupakan khilaf tanawwu (perbedaan dalam variasi). Walaupun demikian, cara yang bersedekap yang benar dibagi menjadi dua cara: 1. Cara pertama yaitu al wadhu (meletakkan kanan di atas kirim tanpa melingkari atau menggenggam). Letak tangan kanan ada di tiga tempat: di punggung tangan kiri, di pergelangan tangan kiri dan di lengan bawah dari tangan kiri. Dalilnya, hadits dari Wail bin Hujr tentang sifat shalat Nabi, ..setelah itu beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan tangan atau di atas lengan (HR. Abu Daud 727, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud). Dalam Madzhab Maliki dan Hambali, mereka menganjurkan meletakkan tangan kanan di atas punggung tangan kiri. Sedangkan dalam Madzhab Syafii, tangan kanan diletakkan di punggung tangan kiri, di pergelangan tangan kiri dan di sebagian lengan (Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 27/87). 2. Cara kedua yaitu al qabdhu (jari-jari tangan kanan melingkari atau menggenggam tangan kiri). Dalilnya, hadits dari Wail bin Hujr radhiallahuanhu: Aku Melihat Nabi Shallallahualaihi Wasallam berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya (HR. An Nasa-i 886, Al Baihaqi 2/28, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i). Adapun di luar dua cara ini, seperti meletakkan tangan kanan di siku kiri, atau di lengan atas, adalah kekeliruan dan tidak ada satupun ulama yang membolehkannya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: Kita pernah melihat orang yang bersedekap dengan memegang sikunya, apakah ini ada dasarnya? Jawabnya, ini tidak ada dasarnya sama sekali (Syarhul Mumthi, 3/36).

Sebagian ulama membedakan tata cara bersedekap laki-laki dengan wanita, namun yang tepat tata cara bersedekap laki-laki dengan wanita adalah sama. Karena pada asalnya tata cara ibadah yang dicontohkan oleh Nabi itu berlaku untuk laki-laki dengan wanita kecuali ada dalil yang membedakannya.

Letak Sedekap
Para ulama berbeda pendapat mengenai letak sedekap. Madzhab Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa letak sedekap adalah di bawah pusar. Berdasarkan hadits: : Ali radhiallahuanhu berkata: Termasuk sunnah, meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan dalam shalat di bawah pusar (HR. Abu Daud 758, Al Baihaqi, 2/31) Namun hadits ini sangat lemah karena ada perawinya yang bernama Ziad bin Zaid Al Kufi statusnya majhul ain, dan Abdurrahman bin Ishaq yang berstatus dhaiful hadits. Adapun Syafiiyyah dan Malikiyyah berpendapat di bawah dada dan di atas pusar. Dalilnya hadits Wail bin Hujr: Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengencangkan keduanya di atas dadanya ketika beliau shalat (HR,. Abu Daud 759, Al Baihaqi 4/38, Ath Thabrani dalam Mujam Al Kabir 3322) Syafiiyyah dan Malikiyyah memaknai bahwa maksud lafadz adalah bagian akhir dari dada. Namun keshahihan hadits ini diperselisihkan oleh para ulama. Yang tepat insya Allah, hadits ini lemah. Letak kelemahannya pada perawi Muammal bin Ismail, yang dapat dirinci sebagai berikut: Sebagian ulama men-tsiqah-kannya, bahkan termasuk Ishaq bin Rahawaih dan Yahya bin Main. Namun Adz Dzahabi menjelaskan: Abu Hatim berkata: Ia shaduq, tegar dalam sunnah, namun sering salah. Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab-kitabnya dikubur, lalu ia menyampaikan hadits dengan hafalannya sehingga sering salah. Ibnu Hajar juga mengatakan: Shaduq, buruk hafalannya. Sehingga yang tepat ia berstatus shaduq, wallahualam. Dengan statusnya yang shaduq, ia tafarrud dalam meriwayatkan hadits ini. Periwayatan Muammal dari Sufyan Ats Tsauri bermasalah. Periwayatan Muammal menyelisihi para perawi lain yang tsiqah yang meriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri dengan tanpa tambahan lafadz (di atas dadanya). Menunjukkan riwayat ini syadz. Terdapat jalan lain yang diriwayatkan secara mursal dari Thawus bin Kaisan dengan sanad yang shahih. Dengan demikian hadits tentang letak sedekap di atas dada lebih tepat kita katakan hadits mursal. Juga dinukil sebagai salah satu pendapat imam Ahmad bahwasanya letak sedekap adalah persis di atas dada, sesuai zhahir hadits. Ini juga yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan juga Syaikh Al Albani rahimahumallah. Namun karena tidak ada hadits yang shahih dari Nabi Shallallahualaihi Wasallam tentang ini maka yang tepat tidak ada batasan letak sedekap. Dalam hal ini perkaranya luas. Sedekap boleh di atas dada, di bawah dada, di perut, di atas pusar maupun di bawah pusar (lihat Sifat Shalat Nabi Lit Tharifi, 90). Adapun bersedekap di dada kiri atau di rusuk kiri, dan orang yang melakukannya sering beralasan bahwa itu adalah tempatnya jantung, ini adalah alasan yang dibuat-buat yang tidak ada asalnya. Selain itu ada hadits dari Abu Hurairah radhiallahuanhu: Nabi Shallallahualaihi Wasallam melarang seseorang bertolak pinggang ketika sedang shalat (HR. Bukhari 1220, Muslim 545)

dan perbuatan demikian walaupun tidak sama dengan tolak pinggang, namun itu mendekati tolak pinggang. Selain itu juga, perbuatan ini membuat badan tidak seimbang (lihat Syarhul Mumthi, 3/37-38). Dari artikel 'Tata Cara Bersedekap Dalam Shalat Muslim.Or.Id' Jadi, berdasarkan kajian yang kami dapatkan dari sumber di atas dan hadist-hadist yang terlampir, posisi yang diperbolehkan yaitu tangan kanan berada di atas tangan yang kiri dengan letak boleh di atas maupun di bawah dada asalkan posisis letak tangan seimbang. Posisi sedekap yang lain seperti berada di samping pinggang kiri beberapa mendapatkan pengaruh dari masa-masa perang dan hukumnya menurut beberapa ulama menyarankan tidak mengikuti karena kita tidak dalm posisi perang dan tak takut mendekati posisi tolak pinggang yang tidak dianjurkan oleh ajaran Nabi SAW.