Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KONSERVASI LINGKUNGAN BIODIVERSITAS

(STUDI KASUS : BIODIVERSITAS DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON)

OLEH :

KELOMPOK 5 1. DHARMA WANGSA 2. DEDY TRY YULIANDO 4. ANDREAN SYAILENDRA 5. NURUL FITRIA Z (0810941007) (0810942011)

3. REINER OCTAVIANUS IRAWAN (0810942012) (0810942013) (0910942013)

DOSEN : YOMMI DEWILDA, MT

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Di lingkungan sekitar, kita dapat menemui berbagai jenis makhluk hidup. Berbagai jenis hewan misalnya ayam, kucing, serangga, dan sebagainya, serta berbagai jenis tumbuhan misalnya mangga, rerumputan, jambu, pisang, dan masih banyak lagi jenis tumbuhan di sekitar kita. Masing-masing makhluk hidup memiliki ciri tersendiri sehingga terbentuklah keanekaragaman makhluk hidup yang disebut dengan keanekaragaman hayati atau biodiversitas. Di berbagai lingkungan, kita dapat menjumpai keanekaragaman makhluk hidup yang berbeda-beda. Keanekaragaman itu meliputi berbagai variasi bentuk, warna, dan sifat-sifat lain dari makhluk hidup. Sedangkan di dalam spesies yang sama terdapat keseragaman. Setiap lingkungan memiliki keanekaragaman hayati masing-masing. Indonesia adalah negara yang termasuk memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi. Taksiran jumlah utama spesies sebagai berikut. Hewan menyusui sekitar 300 spesies, burung 7.500 spesies, reptil 2.000 spesies, tumbuhan biji 25.000 spesies, tumbuhan paku-pakuan 1.250 spesies, lumut 7.500 spesies, ganggang 7.800, jamur 72.000 spesies, serta bakteri dan ganggang hijau biru 300 spesies. Dari data yang telah disebutkan, itu membuktikan bahwa tingkat biodiversitas di Indonesia sangatlah tinggi. 1.2 Tujuan Dari pembuatan makalah ini ada beberapa hal yang ingin dicapai yaitu : 1. Mengetahui keadaan biodiversitas pada studi kasus yang dibahas; 2. Memenuhi tugas mata kuliah konservasi Lingkungan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Biodiversitas Biodiversitas atau keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah. Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan, baik tingkatan gen, tingkatan spesies, maupun tingkatan ekosistem.

Sederhananya, keanekaragaman hayati adalah semua jenis perbedaan antar mahkluk hidup. 2.2 Pentingnya Biodiversitas Pentingnya biodiversitas khususnya bagi manusia dapat ditinjau dari segi estetika, etika dan alasan praktis. Dari segi estetika, manusia sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap alam dan bentuk kehidupan lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya orang yang mengunjungi kebun binatang, taman nasional, kebun raya, dan akuarium misalnya sea world. Dari segi etika kita harus menganggap bahwa bumi adalah pinjaman dari anak-anak kita dan bukan warisan dari para leluhur. Selain kedua alasan tersebut, dalam melestarikan biodiversitas juga terdapat alasan praktis. Biodiversitas adalah suatu SDA yang sangat penting, dan spesies yang terancam punah dapat menghasilkan makanan, serat dan obat-obatan. Pada tahun 1970-an para ahli menemukan bahwa tapak dara dari madagaskar mengandung alakaloid yang menghambat pertumbuhan sel kanker. Terdapat lima spesies lain tapak dara di madagaskar, dan salah satunya sedang mendekati kepunahan. Kesimpulannya, kehilangan spesies berarti kehilangan gen. 2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Biodiversitas Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi biodiversitas dibagi menjadi 2 macam yaitu faktor biogenik dan faktor antropogenik; 1. Faktor Biogenik Merupakan faktor yang dipengaruhi akibat adanya bencana alam, misalnya gunung berapi, banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan.

2. Faktor Antropogenik Merupakan faktor yang dipengaruhi akibat aktivitas/perbuatan manusia, dimana dapat meningkatkan ataupun menurunkan biodiversitas itu sendiri. Aktivitas manusia dalam meningkatkan biodiversitas misalnya penghijauan dan pembuatan aman kota, sedangkan yang dapat menurunkan biodiversitas contohnya perusakan habitat, penggunaan pestisida secara berlebihan, penebangan dll. 2.4 Krisis Biodiversitas Hal-hal yang menjadi ancaman terhadap biodiversitas, diantaranya kerusakan habitat, eksploitasi berlebihan dan kompetisi oleh spesies eksotik.

Perusakan habitat oleh manusia secara besar-besaran disebabkan oleh pertanian, pengembangan perkotaan, kehutanan, pertambangan dan polusi lingkungan. Siklus hidrologi dan kimia alami terganggu oleh pembukaan lahan yang menyebabkan milyaran ton tanah subur mengalami erosi dan hanyut ke dalam sungai, danau, dan laut setiap tahun, sehingga sungai, danau, dan perairan pesisir pantai menjadi dangkal, dimana potensi dan kejadian banjir semakin sering terjadi dalam skala yang semakin meningkat. Urutan nomor dua setelah hilangnya habitat sebagai penyebab penting krisis biodiversitas adalah kompetisi spesies eksotik (spesies yang tidak asli) dengan spesies asli. Spesies eksotik dimasukkan dengan berbagai cara. Orang-orang secara tidak sengaja membawa biji atau serangga bersama dengan mereka ketika mereka berkelilling dunia, dan banyak tumbuhan dan hewan asing yang telah dimasukkan secara sengaja untuk tujuan pertanian atau hiasan. Sebagian besar spesies yang dipindahkan tidak berhasil bertahan hidup diluar daerah hidupnya yang normal, tetapi banyak contoh spesies yang dipindahkan dapat bertahan hidup. Banyak spesies eksotik yang dapat bertahan hidup tersebut mempunyai dampak pada ekosistem yang ada saat ini, tetapi beberapa spesies tersebut berperan penting dalam kommunitas barunya. Umumnya melalui pemangsaan terhadap spesies asli atau kompetisi untuk mendapatkan sumber daya. Contohnya perpindahan semut api kearah utara, yang secara tidak sengaja dimasukkan ke wilayah bagian selatan amerika serikat dari brazil pada tahun 1918. penggantian oleh spesies yang diintroduksikan, dianggap bertanggung jawab paling tidak sebagian terhadap 68% dari daftar spesies yang punah, terancam, rentan, dan langka yang diterbitkan oleh IUCN.

Ancaman lain yang berarti terhadap biodiversitas seperti eksploitasi secara berlebihan pada kehidupan liar, merupakan permasalahan gabungan antara penyusutan habitat dan spesies eksotik. Spesies hewan yang jumlahnya telah menurun secara drastis melalui penangkapan komersial atau perburuan yang berlebihan, meliputi paus, bison amerika, kura-kura galapagos dan banyak jenis ikan lainnya. Teknik penangkapan ikan modern telah mengurangi populasi ikan cod, herring, makarel dan banyak spesies penting lainnya sampai ke tingkat yang tidak dapat menopang eksploitasi manusia selanjuutnya. Selain spesies yang diburu, banyak organisme lain terbunuh oleh metode penangkapan yang digunakan. Contohnya lumba-lumba, kura-kura laut tertangkap dalam jaring ikan dan tak terhitung jumlah invertebrata yang terbunuh oleh pukat harimau di laut. Perdagangan yang semakin meluas, seringkali ilegal dari organisme liar (seperti burung, anggrek dan kaktus langka) dan produk satwa liar (yang meliputi kulit mamalia, bulu burung, dan tanduk badak, dan empedu beruang) juga mengancam banyak spesies. 2.5 Upaya Pemerintah dan Masyarakat Dalam Melakukan Konservasi Keanekaragaman Hayati Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (KSDAH) atau pun konservasi biologi pada dasarnya merupakan bagian dari ilmu dasar dan ilmu terapan yang berasaskan pada pelestarian kemampuan dan pemanfaatannya secara serasi dan seimbang. Adapun tujuan dari konservasi biologi adalah untuk terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta kesinambungan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dilakukan strategi dan juga pelaksananya. Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya. Kawasan pelestarian alam ataupun kawasan dilindungi ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan berbagai macam kriteria sesuai dengan

kepentingannya. Hampir di setiap negara mempunyai kriteria/kategori sendiri untuk penetapan kawasan dilindungi, dimana masing-masing negara mempunyai tujuan yang berbeda dan perlakuan yang mungkin berbeda pula.

Sedikitnya, sebanyak 124 negara di dunia telah menetapkan setidaknya satu kawasan konservasinya sebagai taman nasional (bentuk kawasan dilindungi yang populer dan dikenal luas). Walaupun tentu saja di antara masing-masing negara, tingkat perlindungan yang legal dan tujuan pengelolaannya beragam, demikian juga dasar penetapannya. Apabila suatu negara tidak memiliki kawasan dilindungi yang khusus karena sulit untuk memenuhi standar yang ditetapkan, maka mereka dapat mengelola kawasan alternatif seperti hutan produksi yang dialihkan sebagai kawasan dilindungi sehingga penurunan/pengurangan plasma nutfah dapat ditekan. Kategori klasifikasi kawasan dilindungi, dimana kategori pegelolaan harus dirancang agar pemanfaatan seimbang, tidak lebih mementingkan salah satu fungsi dengan meninggalkan fungsi lainnya. Adapun kategori penetapan kawasan dilindungi yang tepat harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu : a. Karakteristik atau ciri khas kawasan yang didasarkan pada kajian ciri-ciri biologi dan ciri lain serta tujuan pengelolaan; b. Kadar perlakuan pengelolaan yang diperlukan sesuai dengan tujuan pelestarian; c. Kadar toleransi atau kerapuhan ekosistem atau spesies yang terdapat di dalamnya; d. Kadar pemanfaatan kawasan yang sesuai dengan tujuan peruntukan kawasan tersebut. e. Tingkat permintaan berbagai tipe penggunaan dan kepraktisan pengelolaan. Adapun kriteria umum bagi berbagai kawasan yang dilindungi adalah : 1. Taman Nasional, yaitu kawasan luas yang relatif tidak terganggu yang mempunyai nilai alam yang menonjol dengan kepentingan pelestarian yang tinggi, potensi rekreasi besar, mudah dicapai oleh pengunjung dan terdapat manfaat yang jelas bagi wilayah tersebut; 2. Cagar alam, umumnya kecil, dengan habitat rapuh yang tidak terganggu oleh kepentingan pelestarian yang tinggi, memiliki keunikan alam, habitat spesies langka tertentu, dan lain-lain. Kawasan ini memerlukan perlindungan mutlak; 3. Suaka margasatwa, umumnya kawasan berukuran sedang atau luas dengan habitat stabil yang relatif utuh serta memiliki kepentingan pelestarian mulai sedang hingga tinggi;

4. Taman wisata, kawasan alam atau lanskap yang kecil atau tempat yang menarik dan mudah dicapai pengunjung, dimana nilai pelestarian rendah atau tidak akan terganggu oleh kegiatan pengunjung dan pengelolaan yang berorientasi rekreasi; 5. Taman buru, habitat alam atau semi alami berukuran sedang hingga besar, yang memiliki potensi satwa yang boleh diburu yaitu jenis satwa besar (babi hutan, rusa, sapi liar, ikan, dan lain-lain) yang populasinya cukup besar, dimana terdapat minat untuk berburu, tersedianya fasilitas buru yang memadai, dan lokasinya mudah dijangkau oleh pemburu. Cagar semacam ini harus memiliki kepentingan dan nilai pelestarian yang rendah yang tidak akan terancam oleh kegiatan perburuan atau pemancingan; 6. Hutan lindung, kawasan alami atau hutan tanaman berukuran sedang hingga besar, pada lokasi yang curam, tinggi, mudah tererosi, serta tanah yang mudah terbasuh hujan, dimana penutup tanah berupa hutan adalah mutlak perlu untuk melindungi kawasan tangkapan air, mencegah longsor dan erosi. Prioritas pelestarian tidak begitu tinggi untuk dapat diberi status cagar. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi

keanekaragaman hayati antara lain sebagai berikut : a. Perlindungan dan Pengamanan Perlindungan dan pengamanan adalah upaya untuk mencegah dan membatasi kerusakan flora dan fauna beserta ekosistemnya akibat dari adanya gangguan kawasan. Gangguan kawasan yang bersumber dari perbuatan manusia antara lain, perambahan kawasan, pencurian kayu, perburuan ilegal, dan lain-lain. Di samping itu, gangguan kawasan bisa disebabkan karena hama dan penyakit atau akibat bencana alam. Upaya penanggulangan gangguan kawasan dilakukan dengan pendekatan secara preventif dan represif. Preventif, yaitu tindakan pencegahan yang dilakukan melalui kegiatan operasi gabungan, patroli rutin secara intensif, mengembangkan pengamanan swakarsa masyarakat, menjalin kemitraan dengan kader konservasi, dan lain-lain. Sedangkan secara represif, yaitu penindakan sesuai dengan hukum yang berlaku, dan dilakukan melalui upaya penindakan pelanggar secara langsung berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

b. Pengembangan Wisata Alam Dalam rangka mewujudkan optimalisasi pengembangan wisata alam dengan memperhatikan potensi dan kendala yang ada, dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut : 1. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia, melalui berbagai pelatihan di bidang wisata alam, baik di dalam maupun di luar negeri di samping kegiatan on the job training untuk meningkatkan kemampuan SDM dalam

perencanaan, pengembangan dan pengelolaan wisata alam; 2. Pembangunan sarana dan prasarana serta fasilitas untuk mendukung kegiatan wisata alam serta pengembangan potensi obyek wisata untuk berbagai jenis kegiatan wisata di berbagai lokasi; 3. Peningkatan sarana, media, dan kegiatan publikasi serta promosi baik dalam skala nasional maupun internasional dengan media elektronik dan cetak; 4. Pembangunan Pusat informasi Pengunjung serta membangun arboretum sebagai miniatur kawasan; 5. Pembinaan dan pengembangan keterampilan dalam wirausaha di bidang wisata alam kepada masyarakat di sekitar kawasan maupun dengan lembaga bisnis profesional dan juga melibatkan LSM serta perguruan tinggi; 6. Pengembangan paket-paket wisata alam bernuansa pendidikan lingkungan dan atau penelitian konservasi dengan melibatkan LSM dan perguruan tinggi serta pihak-pihak terkait lainnya. c. Pembinaan Daerah Penyangga Salah satu kunci keberhasilan pengelolaan adalah dengan melibatkan partisipasi masyarakat melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi desa penyangga. Sejalan dengan upaya tersebut, maka program pembinaan daerah dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Memberikan dan meningkatkan wawasan/pengetahuan masyarakat desa penyangga tentang pentingnya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; 2. Meningkatkan keterampilan masyarakat desa dalam melakukan budidaya sumberdaya alam yang berwawasan konservasi; 3. Meningkatkan keterampilan kewirausahaan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa penyangga;

4. Menjalin kemitraan dengan harapan masyarakat mampu berperan aktif dalam upaya menjaga dan melestarikan keanekaragaman tumbuhan, satwa dan ekosistem. Program-program pembinaan daerah diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan, antara lain : 1. Pelatihan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan konservasi (PRA); 2. Pelatihan kewirausahaan dan koperasi bagi masyarakat desa penyangga; 3. Pengembangan ekonomi masyarakat desa penyangga melalui pemberian bantuan Usaha Pedesaan yang sejalan dengan misi konservasi; 4. Pengembangan model atau pilot project pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasiskan konservasi sumberdaya alam; 5. Pendidikan lingkungan atau pendidikan konservasi untuk tingkat anak-anak (sekolah dasar), generasi muda dan tingkat dewasa (masyarakat). Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain: 1. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah. 2. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). 4. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya: a. b. c. Menanggulangi kasus pencemaran. Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3). Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

5. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

2.6 Studi Kasus Biodiversitas Di Taman Nasional Ujung Kulon Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan. Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820. Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum

diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata) dan berbagai macam jenis anggrek. Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas). Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungaisungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain. Jenis-jenis ikan yang menarik di Taman Nasional Ujung Kulon baik yang hidup di perairan laut maupun sungai antara lain ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok dan sumpit. Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik yaitu ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak

memangsanya (serangga kecil) yang berada di daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air. Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis. Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional yaitu suku Banten yang terkenal dengan kesenian debusnya. Masyarakat tersebut pengikut agama Islam, namun mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan kebudayaan nenek moyang mereka. Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Makhluk hidup di dunia ini sangat beragam. Keanekaragaman makhluk hidup tersebut dikenal dengan sebutan keanekaragaman hayati atau biodiversitas. Setiap sistem lingkungan memiliki keanekaragaman hayati yang berbeda. Keanekaragaman hayati ditunjukkan oleh adanya berbagai variasi bentuk, ukuran, warna, dan sifat-sifat dari makhluk hidup lainnya. Keanekaragaman hayati disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Terdapat interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan dalam mempengaruhi sifat makhluk hidup. Kegiatan manusia dapat menurunkan keanekaragaman hayati, baik

keanekaragaman gen, jenis maupun keanekaragaman lingkungan. Namun di samping itu, kegiatan manusia juga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati misalnya penghijauan, pembuatan taman kota, dan pemuliaan. 3.2 Saran Dari pembuatan makalah ini, Pemakalah dapat memberi saran untuk pembuatan makalah selanjutnya, yaitu : 1. Agar lebih diperbanyak referensi dari suatu topik yang diambil; 2. Makalah sebaiknya dibuat sistematis dan mudah dimengerti; 3. Kalimat pada makalah harus jelas dan tidak rancu.

DAFTAR PUSTAKA
Safitri, Rahma Indah. 2012. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk pelestarian lingkungan. (http://environment19.blogspot.com/2012/03/lanjutan_09.html)

diakses tanggal 20 Februari 2013. Anonymous A, 2013. Keanekaragaman hayati biodiversitas

(http://biologimediacentre.com/keanekaragaman-hayati-biodiversitas/) diakses tanggal 18 Februari 2013. Anonymous B, 2013. Biodiversitas dan konservasi biologi.html.

(http://biologi2008fkipunila.blogspot.com/2010/02/biodiversitas-dankonservasi-biologi.html) diakses tanggal 18 Februari 2013. Anonymous C, 2013. Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas)

(http://Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas).Fauzans Blog.html) diakses tanggal 18 Februari 2013. Anonymous D, 2013. Taman Nasional Ujung Kulon (http://

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_ujungkulon. htm) diakses tanggal 18 Februari 2013.