Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

SINTESIS SENYAWA HIDRAT GARAM MOHR (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O (AMONIUM FERROSULFAT HEKSAHIDRAT)

NAMA : NUR AQLIA NIM : H311 12 287 KELOMPOK/ REGU : VII (TUJUH) / 3 (TIGA) HARI / TANGGAL PERCOBAAN: RABU / 27 NOVEMBER 2013 ASISTEN : AYU ANDRIANA LESTARI

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Padatan yang mengadung molekul-moleku senyawaan bersama-sama dengan molekul-molekul air disebut hidrat. Sebagian besar terdiri atas molekul-molekul air baik terikat pada kation melalui atom oksigen atau terikat kepada anion atau atom yang kaya elektron melalui hidrogen (Cotton dan Wilkinson, 1976). Apabila hidrat dipanaskan pada suhu diatas 100oC, air dapat dikeluarkan dan meninggalkan senyawaan anhidratnya. Namun, pada beberapa kasus bukanlah air yang dikeluarkan. Misalnya bhidrat klorida mengeluarkan HCL dan meninggalkan klorida basa (Cotton dan Wilkinson, 1976): ScCl3.6H2O ScOCl +2 HCl(g) + 5H2O(g)

Air juga membentuk senyawaan yang disebut hidrat gas yang sebenarnya adalah jenis senyawaan klatrat. Suatu klatrat (dari kata lain Clathratus yang berarti tertutup atau terlindungi oleh kisi-kisi) adalah zat yang satu komponennya mengkristal dalam struktur sangat terbuka yang mengandung lubang-lubang atau saluran-saluran. Saluran ini dapat menyebabkan atom-atom dan molekul-molekul terjebak di dalamnya (Cotton dan Wilkinson, 1976). Sruktur air sangat penting karena merupakan medium yang banyak terdapat struktur kimiawinya, termasuk kimia kehidupan berlangsung. Sifat struktur cairan masih menjadi pertentangan. Struktur tidak acak seperti dalam cairan terdiri atas molekul-molekul nonpolar yang banyak berupa bulatan, melainkan strukur yang rapih disebabkan oleh keteraturan ikatan-ikatan hidrogen, bahkan pada 90oC hanya beberapa persen molekul air yang tidak terikat melalui ikatan hidrogen. Namun masih tetap terdapat ketidakteraturan (Cotton dan Wilkinson, 1976).

Ion besi(III) berukuran relatif kecil dengan rapatan muatan 349 C mm-3 untuk low-spin dan 232 C mm-3 untuk high-spin, sehingga mempunyai daya mempolarisasi yang cukup untuk menghasilkan ikatan berkarakter kovalen. Sebagai contoh, besi(III) klorida berwarna merah-hitam, berupa padatan dengan struktur jaringan kovalen. Pada pemanasan hingga fase gas terbentuk spesies dimerik, Fe2Cl6. Besi(III) klorida dapat dibuat dari pemanasan langsung besi dengan klorin menurut persamaan reaksi (Kristian dan Retno, 2010): 2 Fe(s) + 3 Cl2(g) 3 FeCL3(S)

Besi(III) bromida mirip dengan besi(II) klorida, tetapi besi(III) iodide tidak dapat diisolasi sebab ion iodida mereduksi besi(III) menjadi besi(II) (Kristian dan Retno, 2010). 2 Fe3+(aq) + 2 I-(aq) 2 Fe2+(aq) + I2(aq)

Besi(III) klorida anhidrat bereaksi dengan air menghsilkan gas HCl karena reaksinya bersifat eksotermik, kontras dengan padatan kuning keemasan garam hekashidrat yang larut begitu saja dalam air menghasilkan ion heksahidrat [Fe(H2O)6]3+ (Kristian dan Retno, 2010). FeCl3(s) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(g) + kalor

Ion heksaakuobesi(III), Fe(H2O)6]3+, berwarna agak ungu pucat, seperti halnya warna besi(III) nitrat nanohidrat. Warna kekuningan untuk senyawa kloridanya dapat dikaitkan dengan terjadinya transfer muatan dalam ion [Fe(H2O)5Cl]2+ (Kristian dan Retno, 2010). Semua garam besi(III) larut dalam air menghasilkan larutan asam. Rapatan mauatan kation yang relatif tinggi (232 C mm-3) mampu mempolarisasikan molekul air ligan dengan kuat, sehingga molekul air dapat berfungsi sebagai basa dan

memisahkan

proton

dari

air

ligan

tersebut

menurut

persamaan

reaksi

(Kristian dan Retno, 2010): [Fe(H2O)6]3+(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + [Fe(H2O)5(OH)]2+(aq) H3O+(aq) + [Fe(H2O)4(OH)2]2+(aq)

[Fe(H2O)5(OH)]2+(aq) + H2O(l)

Uji terhadap adanya ion Fe(III) dapat dilakukan dengan penambahan larutan ion heksasianoferat(II), [Fe(CN)6]4- yang menyebabkan terjadinya endapan biru. Warna biru pada senyawa ini sering dimanfaatkan untuk pembuatan tinta, cat termasuk pigmen cetak biru. Selain itu, uji paling sensitif adanya ion besi(III) adalah dengan menambahkan larutan ion tiosianat ke dalam larutan Fe(III)

(Kristian dan Retno, 2010). Besi yang murni adalah logam berwarna putih-perak. besi melebur pada 1535oC. Jarang terdapat besi komersial yang murni, biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida, fosfida, dan sulfida dari besi, serta sedikit grafit. Zat-zat pencemaran ini berperan penting dalam kekuatan struktur besi. Asam klorida encer atau pekat dan asamsulfat encer melarutakan besi dihasilkan garam-garam besi(II) dan gas hidrogen (Svehla, 1979). Fe + 2H+ Fe + 2HCl Fe3+ + H2 Fe2+ + 2Cl- +H2

Asam sulfat pekat yang panas, menghasilkan ion-ion besi(II) dan belerang dioksida, persamaan reaksi (Svehla, 1979): 2 Fe + 3 H2SO4 + 6 H+ 2 Fe2+ + 3 SO2 + 6 H2O

Asam nitrat pekat yang dingin membuat besi menjadi pasif, dalam keadaan ini, ia tak bereaksi dengan asam nitrat encer dan tak pula mendesak tembaga dari larutan air dalam suatu tembaga (Svehla, 1979).

Garam-garam besi(II) diturunkan dari besi(II) oksida, FeO. Dalam larutan, garam-garam ini mengandung kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. Ion-ion gabungan dan kompleks-kompleks yang berwarna tua juga umum ditemukan (Svehla, 1979). Penentuan barium sulfat sebagai barium sulfat. Metode ini terdiri atas menambahkan larutan encer barium klorida ke dalam larutan panas dari sulfat dengan sedikit diasamkan menggunakan asam klorida (Jeffery, dkk, 1989). Ba2+ + SO42BaSO4

Endapan disaring, dicuci dengan air, dalam proses ini harus hati-hati karena dapat memicu pada panas dari asam sulfat dan ditimbang sebagai barium sulfat. Reaksi yang terlihat tampak sederhana, namun, dalam proses pengerjaannya banyak kesalahan yang mungkin saja terjadi, hasil yang memuaskan dapat diperoleh jika kondisi eksperimental dikendalikan dengan hati-hati (Jeffery, dkk, 1989). Kompleks tembaga(II) dengan 2-feniletilamin telah disintesis melalui reaksi antara CuCl2.2H2O dan 2-feniletilamin dengan perbandingan mol logam dan mol ligan 1:2 dalam metanol. Senyawa kompleks yang dihasilkan berupa kristal berwarna oranye dengan rumus molekul [Cu(II)-(2-feniletilamin)2(H2O)2]Cl2.2H2O. Rumus ini diperoleh dari hasil penentuan kadar Cu = 14,04%, C = 41,36%, H = 6,60% dan N = 6,06%. Spektra IR menunjukkan serapan khas ikatan logam dengan ligan yaitu vibrasi Cu-N muncul pada serapan 347,19 cm-1 dan vibrasi Cu-O pada serapan 300,90 cm-1. Analisis DTA/TGA menunjukkan bahwa kompleks mengandung dua molekul air hidrat. Senyawa kompleks bersifat paramagnetik dengan nilai eff sebesar 1,97 BM. Suseptibilitas magnetik senyawa kompleks memiliki interaksi

feromagnetik, dengan konstanta Weiss, sebesar +9,72 dan terjadi pada suhu Curie, Tc, 15 K (Lexy dan Fahimah, 2012).

Penelitian sebelumnya yaitu senyawa kompleks menggunakan ligan pikolinat (2-piridin karboksilat), memiliki rumus molekul [Cu(pic)2].2H2O. Kompleks tersebut bersifat paramagnetik dan terjadi ikatan hidrogen. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan senyawa kompleks dengan menggunakan ligan 2-feniletilamin (C6H5CH2CH2NH2) dan ion logam tembaga(II). Ion tembaga(II) memiliki satu elektron yang tidak berpasangan pada orbital d dan diharapkan dapat membentuk kompleks spin tinggi. Ligan 2-feniletilamin pada Gambar 1, memiliki gugus amina dimana terdapat atom nitrogen dengan pasangan elektron bebas sehingga dapat mengisi orbital kosong ion logam dan terjadi ikatan kovalen koordinasi. Gugus amina dapat berikatan hidrogen dengan molekul air pada senyawa. Ikatan kovalen koordinasi dan ikatan hidrogen pada senyawa kompleks dapat membentuk interaksi antar lapisan. Interaksi antar lapisan yang terjadi yaitu antara senyawa kompleks mononuklir pembentukan meningkatkan dengan senyawa organik 2-feniletilamin. Dengan demikian, dapat

senyawa

kompleks

[Cu(II)-2-feniletilamin] diperoleh

diharapkan

interaksi

sehingga

sifat

feromagnetik

(Lexy dan Fahimah, 2012). Sintesis kompleks ion logam Cu(II) dengan ligan 2-feniletilamin dilakukan pada perbandingan mol logam dan ligan 1:2. Penelitian ini digunakan prekursor CuCl22H2O dan pelarut yang sesuai adalah alkohol. Pada penelitian ini, pelarut yang dipilih adalah metanol karena metanol dapat melarutkan logam dan ligan dengan baik. Masing-masing logam dan ligan dilarutkan dalam metanol, lalu diaduk dan dipanaskan hingga homogen membentuk larutan berwarna hijau. Senyawa yang dihasilkan berbentuk kristal berwarna orange dengan rendemen sebesar 57,76% (Lexy dan Fahimah, 2012).

Berdasarkan

seluruh

analisis

yang

telah

dilakukan

sebelumnya,

[Cu(II)-(2-feniletilamin)2 (H2O)2]Cl2.2H2O. Senyawa kompleks polimer dapat disintesis dengan ligan 2-feniletilamin karena ligan 2-feniletilamin merupakan ligan monodentat yang dapat menyumbangkan satu pasang elektron bebas kepada ion logam sebagai atom pusat. Jika ion Cu2+ dengan konfigurasi elektron valensi 3d94s0 berinteraksi dengan ligan 2-feniletilamin, maka akan menghasilkan hibridisasi d2sp. Oleh karena itu, tembaga(II) sebagai atom pusat akan mengikat dua gugus amino dan dua gugus hidroksil melalui ikatan koordinasi terhadap atom pusat sehingga membentuk struktur senyawa kompleks square planar (Lexy dan Fahimah, 2012).

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Senyawa tertentu dengan wujud kristal mampu mengikat uap air yang terdapat di udara. Ha ini disebabkan senyawa tersebut memiliki sifat higroskopis (menyerap air). Walaupun dapat menyerap air, kristal senyawa tersebut tidak berair karena molekul air dikililingi (dikurung) oleh kristal senyawa. Air yang terdapat dalam kristal suatu senyawa di sebut air kristal. Sedangkan senyawa yang mengandung air kristal disebut senyawa hidrat.

Hidrat merupakan istilah yang dipergunakan dalam senyawa organik maupun senyawa anorganik untuk mengindikasikan bahwa zat tersebut mengandung air. Hidrat dalam senyawa anorganik adalah garam yang mengandung molekul air dalam perbandingan tertentu yang terikat baik pada atom pusat atau terkristalisasi dengan senyawa kompleks. Hidrat seperti ini disebut juga sebagai air terkristalisasi atau air hidrasi. Jika hidrat dipanaskan maka dia akan kehilangan molekul airnya, pemanasan yang terus menerus menyebabkan senyawa hidrat kehilangan molekul airnya, jika hal ini terjadi maka senyawa hidrat disebut sebagai anhidrat. Apabila jumlah mol besi(II) sulfat dan ammonium sulfat sama, dan masingmasing garam tesebut dilarutkan sampai jenuh dengan air panas, sedangkan kedalam larutan besi (II) sulfat ditambahkan sedikit asam sulfat akhirnya kedua larutan tersebut dicampurkan satu sama lain maka proses pendinginannya akan terbentuk kristal monoklin yang berwarna hijau kebiru-biruan, garam ini adalah garam besi (II) ammonium sulfat dengan rumus: (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O

Senyawa ini lazim disebut dengan garam mohr. Jika dibandingkan dengan garam besi (II) sulfat atau besi (II) klorida, maka kristal garam Mohr lebih stabil diudara dan larutannya tak mudah dioksidasi oleh oksigen di atmosfer. Garam mohr banyak digunakan dalam bidang kimia analitik, yaitu dalam analisis volumetri, untuk membakukan larutan kalium permanganat atau kalium bikromat. Garam Mohr cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya air dan umumnya dibuat untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetrik dan sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik. Oleh karena itu, maka dilakukanlah sintesis senyawa hidrat sintesis senyawa hidrat garam Mohr (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O.

1.2 Maksud Percobaan Untuk mempelajari dan memahami sintesis senyawa hidrat.

1.3 Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah: 2 3 Mensintesis senyawa hidrat (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O Menghitung persen rendamen senyawa hidrat yang terbentuk.

1.3 Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan ini adalah pembentukan senyawa hidrat Besi(II) Amonium Sulfat (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O dengan melarutkan serbuk Fe dengan H2SO4. Kemudian mencampurkan dengan larutan Amonia kemudian campuran didinginkan hingga terbentuk kristal.

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu serbuk besi , asam sulfat 10 %, amonium hidroksida, aluminium foil, akuades dan kertas saring.

3.2 Alat Percobaan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu hotplate, neraca analitik, gelas kimia 300 mL, gelas kimia 500 mL, gelas kimia 50 mL, gelas ukur 250 mL, erlenmeyer 250 mL, batang pengaduk , pipet tetes, bulb, corong, sendok tanduk, dan, botol semprot.

3.3 Prosedur Percobaan Dalam percobaan ini dibuat dua macam larutan. Larutan A dibuat dengan melarutkan serbuk besi sebanyak 5 gram, lalu dilarutkan ke dalam 75 mL asam sulfat 10 % dan dipanaskan hingga hampir semua serbuk besi larut dalam asam sulfat. Kemudian, larutan yang telah dipanaskan disaring dalam keadaan panas menggunakan sertas saring dan corong. Filtrat yang terbentuk kemudian ditambahkan lagi 3 mL asam sulfat 10 %. Lalu larutan tersebut diuapkan hingga terbentuk kristal. Larutan B dibuat dengan menetralkan 75 mL asam sulfat 10 % menggunakan amonium hidroksida 70 mL. kemudian larutan yang terbentuk diuapkan hingga

terbentuk endapan. Kemudian larutan A dan larutan B dicampur dalam keadaan panas. Lalu larutan yang telah dicampur didinginkan dengan menggunakan es batu. Selanjutnya, disaring kembali. Lalu endapan yang terbentuk dilarutkan dengan

sedikit air panas, hasil saringan yang terbentuk didinginkan kembali, kemudian saring lagi dan timbang berat kristal yang terbentuk.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Berdasarkan percobaan kuat medan ligan yang telah dilakukan maka didapatkan beberapa data percobaan seperti yang tercantum pada tabel di bawah ini:

4.1.1 Tabel Pengamatan Larutan A Langkah Kerja 5 gram Fe + 75 ml H2SO4 10 % dipanaskan didinginkan dan disaring larutan berwarna hijau + H2SO4 10 % Larutan B Langkah Kerja 75 ml H2SO4 100 % + HN3 Larutan A + Larutan B Langkah Kerja larutan A dicampurkan larutan B Didinginkan Disaring Hasil Pengamatan larutan berwarna hijau kebiruan larutan berwarna hijau kebiruan kristal berwarna hijau kebiruan Hasil Pengamatan larutan bening Hasil Pengamatan larutan warna hitam larutan berwarna hijau kebiruan larutan berwarna hijau kebiruan

4.2 Reaksi Fe + H2SO4 NH3 + H2SO4 FeSO4 + H2 (NH4)2SO4 + H2O (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O

FeSO4 + (NH4)2SO4

4.3 Perhitungan Massa besi (Fe) Ar Besi Mr garam Mohr = = = 10 gram 55,85 gram/mol 392 gram/mol = 6,4981 gram

Berat garam Mohr praktek

1. Berat kristal secara teori: Berdasarkan reaksi: 5 gram gram Fe Mol Fe = = = 0,032 mol 151,85 gram/mol Mr FeSO4 Mol Fe ekivalen mol (NH4)2Fe(SO4)2. 6H2O Massa garam mohr (teori) = mol garam mohr x Mr garam mohr = 0,032 mol x 392 gram/mol = 12,544 gram

3. Perhitungan Rendamen Berat praktek Rendamen = x 100 % Berat teori 6,4981 gram = x 100 % 12,544 gram = 51,8 %

4.5 Pembahasan Garam Mohr merupakan garam rangkap yang terbentuk dari reaksi besi dengan asam sulfat dan larutan amoniak. Di dalam garam Mohr terkandung senyawa-senyawa kimia antara lain : logam besi (logam transisi) larutan amoniak (NH3) dan Asam sulfat pekat (H2SO4 pekat). Larutan amoniak berfungsi sebagai ligan yang mempunyai sebuah orbital yang berisi elektron tak berpasangan untuk interaksinya dengan logam, bentuk kompleks koordinasi dengan logam. Mereka bergabung hanya dengan interaksi elektron ligan dengan orbital d,s, atau p yang kosong dari logam. Ligan ini adalah basa lewis, dan logam adalah asam lewis. Ikatan ini dibentuk dari rotasi simetrik di atas sumbu logam dengan ligan dan digambarkan sebagai suatu ikatan. Pada percobaan ini, ada tiga langkah yang dilakukan, yaitu pembuatan larutan A, larutan B dan kemudian larutan A dan larutan B dicampur. Pada percobaan ini Larutan A dibuat dengan melarutkan serbuk besi dalam H2SO 10 %. Serbuk besi berwarna hitam setelah dilarutkan dengan asam sulfat dan serbuk besi akan melarut sedikit demi sedikit. Asam sulfat merupakan pelarut yang mengandung proton yang dapat diionkan dan berupa asam kuat atau lemah. Untuk melarutkan semua besi, larutan tersebut dipanaskan sampai hampir semua besi larut, tapi sulit untuk melarutkan semua besi. Fungsi pemanasan disini yaitu untuk menghilangkan gas H2 dan mempercepat pembentukan ion Fe2+ yang ditandai dengan terbentuknya hablur berwarna kehijauan. Kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas dengan mengunakan kertas saring, ke dalam larutan tersebut ditambahkan sedikit H2SO4 sampai terbentuk kristal di permukaan larutan. Asam sulfat berfungsi untuk mengoksidasi logam Fe menjadi ion logam Fe2+. Tujuan dari penyaringan adalah untuk memisahkan larutan dari filtratnya dan penyaringan dalam keadaan panas berfungsi untuk menghindari terbentuknya kistal

menghindari terbentuknya kristal pada suhu yang rendah dan tujuan dari pemanasan adalah sebagai katalis yaitu untuk mempercepat terjadinya reaksi sehingga hampir semua besi larut. Pemanasan dilakukan secara perlahan dengan suhu sedang agar tidak terjadi oksidasi pada besi (Fe). Larutan yang diuapkan berfungsi untuk mengurangi molekul air yang ada pada larutan. Percobaan ini manghasilkan garam besi(II) sulfat. Garam-garam besi(II) atau fero diturunkan dari besi(II) oksida (FeO). Dalam larutan, garam-garam ini mengandung kation Fe2+ sehingga berwarna hijau dan Pembentukan FeSO4 dari logam Fe merupakan reaksi elektron berdasarkan prinsip termokimia. Pembuatan larutan B dibuat dengan menetralkan H2SO4 10 % dengan amoniak (NH3), sehingga dihasilkan larutan (NH4)2SO4 dengan pH=7 (netral). Kemudian larutan ini diuapkan sampai jenuh (volume menjadi setengahnya) dengan tujuan untuk menguapkan NH3. Pembentukan kristal garam Mohr dapat dilakukan dengan cara

mencampurkan larutan A dan B ketika masih panas, kondisi ini digunakan agar tidak terjadi pengkristalan larutan pada suhu yang rendah, maka akan dihasilkan larutan dan endapan berwarna hijau muda. Untuk memperoleh kristal, dilakukan pendinginan sehingga terbentuk kristal yang lebih halus. Untuk memperoleh garam Mohr yang murni dilakukan dengan melarutkan kembali garam Mohr yang diperoleh ke dalam air panas. Lalu didinginkan kembali, sehingga diperoleh garam Mohr yang murni. Kristal garam Mohr ditimbang dengan neraca analitik dan didapatkan 6,4981 gram garam Mohr murni. Dari data yang diperoleh, maka didapatkan rendamen garam Mohr sebanyak 9,2643 %, artinya kemurnian garam Mohr hanya 9,2643 %, sangat berbedea jika dibandingkan dengan berat teori dari garam Mohr. Ini disebabkan dari berbagai faktor diantaranya karena adanya zat-zat penganggu

dari luar. Bentuk kristal garam Mohr adalah monoklin dengan warna hijau muda. Dalam senyawa kompleks Fe2+ berperan sebagai atom pusat dengan H2O sebagai ligannya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Pada pecobaan ini telah berhasil disintesi senyawa hidrat berupa garam Mohr (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O yang merupakan senyawa kompleks besi dengan ligan amonium dan sulfat. 2. Persen rendamen dari kristal yang terbentuk adalah 51,8 %.

5.2 Saran 5.2.1 Saran Untuk Laboratorium Banyak keterbatasan alat dan bahan yang kami dapati ketika praktikum. Kami berharap kekurangan alat dan bahan saat praktikum dapat diatasi oleh bagian laboratorium.

5.2.2 Saran Untuk Percobaan Pada percobaan ini waktu yang digunakan terlalu lama, sehingga dalam pengenjaannya banyak kesalahan yang mungkin saja terjadi akibat lamanya waktu praktikum yang dibutuhkan untuk melakukan percobaan ini.

Bagan Kerja

Serbuk Fe 10 gram - Dilarutkan di dalam 150 mL amoniak 70 mL H2SO4 10 % amonium sulfat yang - Dipanaskan hingga hampir semua serbuk besi melarut

150 ml H2SO4 10 % - Menetralkan dengan - Menetralkan dengan amoniak 70 mL - Dinetralkan larutan - Diuapkan larutan amonium sulfat hingga terbentuk terbentuk sampai jenuh endapan

- Disaring larutan ketika sedang panas menggunakan kertas saring - Ditambahkan sedikit asam sulfat pada filtrat sampai terbentuk kristal di permukaan larutan - Diuapkan larutan Larutan A Larutan B

- Dicampurkan larutan A dan larutan B masingmasing dalam keadaan panas. - Didinginkan dalam es batu. - Dilarutkan kembali dalam sedikit mugkin air panas - Dibiarkan mengkristal dalam es batu. - Menimbang garam Mohr yang diperoleh Hasil

DAFTAR PUSTAKA

Svehla, G., 1985, Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimikro, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta. Cotton dan Wilkinson, 1976, Kimia Anorganik Dasar, UI Press, Depok. Kristian dan Retno, 2010, Kimia Anorganik Logam, Graha Ilmu, Yogyakarta. Jeffery, G., Bassett, J., Mendham, J., dan Denney, R.,1989, Textbook Of Quantitative Chemical Analysis, Bath Press, London Lexy dan Fahimah, 2012, Sintesis dan Sifat Magnetik Kompleks Ion Logam Cu(II) dengan Ligan 2-Feniletilamin,(1), hal 1-5

Foto Percobaan

(Larutan campuran dari larutan A dan larutan B)

(larutan campuran A dan B yang membentuk kristal)

(kristal senyawa hidrat (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O)

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 4 Desember 2013 Asisten Praktikan

Ayu Andriana

Nur Aqlia