Anda di halaman 1dari 43

RUMAH BETANG

Rumah Adat Betang


Kategori: Tempat berlindung & Perumahan | Ditulis oleh contributor Sejarah Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak. Ciri-ciri Rumah Betang yaitu yaitu bentuk panggung dan memanjang.Panjangnya bisa mencapai30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter.Biasanya Betang dihuni oleh 100-150 jiwa, Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu.Bagian dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang bisa dihuni oleh setiap keluarga. Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah Betang atau rumah panjang haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut diantaranya pada hulunya haruslah searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam.Hal ini dianggap sebagai simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam.Semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah betang/rumah panjang, yang lazim disebut Lou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante.Betang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan dari rumah betang bisa dijelaskan sebagai berikut Rumah betang bentuknya memanjang serta terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam betang.Tangga sebagai alat penghubung pada betang dinamakan hejot.Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang datang melanda.Hampir semua betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan. Bangunan betang biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai Betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin, selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun, kayu ini juga anti rayap. Pada halaman depan betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan betang selain terdapat balai juga dapat dijumpai sapundu. Sapundu merupakan sebuah patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran yang khas. Sapundu memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang-binatang yang akan dikurbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga patahu di halaman betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan. Pada bagian belakang dari betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu.Pada betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung

adalah sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah. Makna dan Nilai Rumah Betang Rumah Panjang/Rumah Betang bagi masyarakat Dayak tidak saja sekedar ungkapan legendaris kehidupan nenek moyang, melainkan juga suatu pernyataan secara utuh dan konkret tentang tata pamong desa, organisasi sosial serta sistem kemasyarakatan, sehingga tak pelak menjadi titik sentral kehidupan warganya. Sistem nilai budaya yang dihasilkan dari proses kehidupan rumah panjang, menyangkut soal makna dari hidup manusia; makna dari pekerjaan; karya dan amal perbuatan; persepsi mengenai waktu; hubungan manusia dengan alam sekitar; soal hubungan dengan sesama.Dapat dikatakan bahwa rumah betang memberikan makna tersendiri bagi masyarakat Dayak. Rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka karena di sanalah seluruh kegiatan dan segala proses kehidupan berjalan dari waktu ke waktu. Rumah betang memang bukan sebuah hunian mewah dengan aneka perabotan canggih seperti yang diidamkan oleh masyarakat modern saat ini.Rumah betang cukuplah dilukiskan sebagai sebuah hunian yang sederhana dengan perabotan seadanya. Namun, dibalik kesederhanaan itu, rumah betang menyimpan sekian banyak makna dan sarat akan nilai-nilai kehidupan yang unggul. Tak dapat dipungkiri bahwa rumah telah menjadi simbol yang kokoh dari kehidupan komunal masyarakat Dayak. Dengan mendiami rumah betang dan menjalani segala proses kehidupan di tempat tersebut, masyarakat Dayak menunjukkan bahwa mereka juga memiliki naluri untuk selalu hidup bersama dan berdampingan dengan warga masyarakat lainnya. Mereka mencintai kedamaian dalam komunitas yang harmonis sehingga mereka berusaha keras untuk mempertahankan tradisi rumah betang ini.Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan setiap kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya. Rumah betang selain sebagai tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih seksama, kegiatan di rumah panjang menyerupai suatu proses pendidikan tradisional yang bersifat non-formal. Rumah betang menjadi tempat dan sekaligus menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat Dayak untuk membina keakraban satu sama lain. Di tempat inilah mereka mulai berbincang-bincang untuk saling bertukar pikiran mengenai berbagai pengalaman, pengetahuan dan keterampilan satu sama lain. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang sukar untuk dilakukan, meskipun pada malam hari atau bahkan pada saat cuaca buruk sekalipun, sebab mereka berada di bawah satu atap.Demikianlah pengalaman, pengetahuan dan keterampilan diwariskan secara lisan kepada generasi penerus.Dalam suasana kehidupan rumah panjang, setiap warga selalu dengan sukarela dan terbuka terhadap warga lainnya dalam memberikan petunjuk dan bimbingan dalam mengerjakan sesuatu.Kesempatan seperti itu juga terbuka bagi kelompok dari luar rumah panjang. Kehidupan Komunal Di Rumah Betang Rumah betang yang tersisa pada masyarakat Dayak merupakan contoh kehidupan budaya tradisional yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Kiranya

perlu diungkapkan lebih jauh faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Dayak dapat mempertahankan rumah betang mereka. Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama secara berdampingan dengan alam dan warga masyarakat lainnya. Mereka gemar hidup damai dalam komunitas yang harmonis sehingga berusaha terus bertahan dengan pola kehidupan rumah betang. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya. Dengan mempertahankan rumah betang, masyarakat Dayak tidak menolak perubahan, baik dari dalam maupun dari luar, terutama perubahan yang menguntungkan dan sesuai dengan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah mereka. Pola pemukiman rumah betang erat hubungannya dengan sumber-sumber makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, seperti lahan untuk berladang, sungai yang banyak ikan, dan hutan-hutan yang dihuni binatang buruan. Namun dewasa ini, ketergantungan pada alam secara bertahap sudah mulai berkurang. Masyarakat Dayak telah mulai mengenal perkebunan dan peternakan. Rumah betang menggambarkan keakraban hubungan dalam keluarga dan pada masyarakat. Seni Tradisional Rumah betang selain tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih seksama, kegiatan di rumah betang menyerupai proses pendidikan tradisional yang bersifat non formal. Dalam masyarakat Dayak terdapat pembagian tugas atau perbedaan dalam mengerjakan seni tradisional. Kaum pria terampil dalam ngamboh ( pandai besi ), menganyam, dan mengukir, sedangkan wanita lebih terampil dalam menenun dan menganyam yang halus. Dalam kelompok yang relatif kecil lebih mudah bagi setiap warga untuk berusaha menambah pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mereka dapat berguna dalam masyarakat, sebab apabila mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai mereka dianggap pemalas. Beberapa Aspek Penting Rumah Betang Meski terbilang sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah, rumah betang tetaplah menjadi hunian yang bernilai tinggi bagi masyarakat Dayak. Oleh karena itu sangat penting kiranya bagi kita untuk mencermati lebih jauh pandangan masyarakat Dayak mengenai rumah betang yang tercermin dalam beberapa aspek berikut ini: Pertama, aspek penghunian.Rumah betang merupakan struktur multi-keluarga permanen dan terutama berfungsi sebagai tempat tinggal utama di samping rumah pondok di ladang. Kedua, aspek hukum dan hak milik.Rumah panjang mempunyai aspek kepemilikan yang jelas.Terutama adalah hak kepemilikan semua keluarga secara bersama menguasai semua tanah diwilayah rumah panjang.Hak wilayah rumah panjang merupakan hak sekunder, sedangkan hak primer dipegang oleh tiap-tiap keluarga atau kelompok keluarga kecil yang memiliki ikatan kekerabatan.Rumah betang juga merupakan unit peradilan yang sangat penting.Acap kali pertikaian antar anggota

rumah betang dapat diselesaikan oleh tetua adat secara internal. Satu hal yang menonjol adalah wewenang seseorang atau satu keluarga tertentu relatif kecil, yang jauh lebih penting adalah wewenang rumah panjang secara keseluruhan. Hal itu disebabkan adanya egalitarisme yang kuat dalam masyarakat Dayak. Ketiga, aspek ekonomi.Rumah panjang memegang peranan penting dalam distribusi arus tenaga kerja dan hasil kerja antarkeluarga. Pemakaian tenaga kerja tambahan dari keluarga lain, merupakan kunci dari sistem perladangan yang mereka jalankan. Bagian-bagian Rumah Betang Berdasarkan kepercayaan suku Dayak ada ketentuan khusus dalampeletakan ruang pada Rumah Betang yaitu: a. Pusat atau poros bangunan dimana tempat orang berkumpul melakukan berbagaimacam kegiatan baik itu kegiatan keagaman,sosial masyarakat dan lain-lain maka ruang los, harus berada ditengah bangunan. b. Ruang tidur, harus disusun berjajar sepanjangbangunan Betang. Peletakan ruang tidur anak danorang tua ada ketentuan tertentu dimana ruangtidur orang tua harus berada paling ujung darialiran sungai dan ruang tidur anak bungsu harusberada pada paling ujung hilir aliran sungai, jadiruang tidur orang tua dan anak bungsu tidak bolehdiapit dan apabila itu dilanggar akan mendapatpetaka bagi seisi rumah. c. Bagian dapur harus menghadap aliran sungai, menurut mitos supaya mendapat rezeki. d. Tangga. Tangga dalam ruangan rumah adat Betang harus begrjumlah ganjil, tetapi umumnya berjumlah 3 yaitu berada di ujung kiri dan kanan, satu lagi di depan sebagai penanda atau ungakapan rasa solidariras menurut mitostergantung ukuran rumah, semakin besar ukuran rumah maka semakin banyak tangga. e. Pante adalahlantaitempatmenjemur padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainya. Posisinya berada didepan bagian luar atap yeng menjorok ke luar. Lantai pante terbuatdari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan. f. Serambiadalah pintu masuk rumah setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diarut halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas. g. Sami berfungsi ruang tamu sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan warga yang memerlukan. h. Jungkar. Tidak seperti raungan yang pada umumnya harus ada. Sementara Jungkar sebagai ruan tambahan dibagian belakang bilik keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau ada kalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang. Jungkar ditempatkan di tangga masuk atau keluar bagi satu keluarga, agar tidak mengganggu tamu yang sedang bertandang. Jungkar yang atapnya menyambung pada atap rumah panjang dibuatkan tingaatn (ventilasi pada atap yang terbuka dengan ditopang/disanggah kayu) yang sewaktu hujan atau malam hari dapat ditutup kembali.

Rumah Sepanjang Betang, Apa Maknanya?


Saya tak habis pikir kenapa Suku Dayak mau membuat Rumah Betang. Konstruksinya tak mainmain. Kayu belian (kayu besi Kalimantan) ditanam dan disusun sedemikian rupa hingga voila! Jadilah rumah sepanjang 180 meter dengan lebar 26 meter. Di bawah tangga paling ujung Rumah Betang, saya diam. Takjub. Tiap Suku Dayak punya Rumah Betang. Lingkupnya tak hanya di Kalimantan tapi juga Borneo, yang adalah bagian dari Malaysia. Membuat rumah kayu ini tak semena-mena tancap-pakutancap-paku kemudian jadi begitu saja. Di dalamnya ada bilik-bilik yang berfungsi sebagai rumah. Rumah Betang yang saya datangi beberapa waktu lalu adalah Rumah Betang Panjang Saham di Kecamatan Sengah Semila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ada 43 Kepala Keluarga yang menempatinya. Begini bentuknya.

Saya dibuat takjub oleh konstruksi dan pondasi Rumah Betang yang katanya sudah bertahan ratusan tahun. Sedikit bertanya dengan pemilik rumah paling ujung, dia menjawab panjang lebar. Kira-kira begini. Kita punya rumah sepanjang ini bukan sebagai identitas. Ya memang banyak wisatawan luar yang ke sini dan taunya ini rumah Suku Dayak. Tapi kan sebenarnya bukan itu saja, filosofinya jauh lebih dalam Kami ini suku yang erat kekeluargaannya. Gotong-royong, kerjasama, keluarga yang paling penting. Dan orang asli seperti kami ini kan semakin lama semakin tergerus modernisasi. Kami nggak ingin berkeluarga tapi sedikit silaturahmi. Tembok memisahkan kami. Dengan begini kami lebih sering berkumpul, ya Tidak individualis. Kata-kata itu meluncur dari mulut Pak Albertus, begitu dia akrab dipanggil. Cepat dan ngena. Rumah ini bukan pajangan. Kami nggak ingin anak-anak kami nanti gak peduli sama keluarganya. Rumah Betang: Salah Satu Karakteristik Kebudayaan Dayak yang Semakin Terlupakan Pengantar Rumah adalah tempat hunian ideal bagi manusia pada umumnya. Di negara Indonesia yang multi-etnis ini, rumah juga kerapkali dijadikan sebagai simbol representatif dari suku-suku tertentu. Dalam tulisan ini, penulis secara khusus membahas soal rumah betang yang menjadi tempat hunian khas masyarakat Dayak. Bagi masyarakat Dayak, rumah betang tidak hanya sekedar menjadi simbol representatif kebudayaan sukunya. Lebih dari itu, rumah betang juga merupakan salah satu karakteristik kebudayaan Dayak. Dengan memasang terminologi karakteristik sebenarnya dimaksudkan bahwa rumah betang tidak hanya sekedar tempat tinggal

layaknya tempat penampungan yang biasa-biasa saja. Meskipun bentuk, bahan bangunan dan isi yang ada di dalamnya tidak semewah yang kita bayangkan, namun bagi orang Dayak rumah betang itu sarat makna. Persepsi suku Dayak tentang rumah betang tercakup dalam beberapa aspek penting dari rumah betang itu sendiri, yaitu aspek penghunian, aspek hukum dan peradilan, aspek ekonomi dan aspek perlindungan serta keamanan.[1] Telah sekian lama rumah betang menjadi hunian kebanggaan masyarakat Dayak. Di tempat inilah segala proses kehidupan masyarakat Dayak mulai dari awal hingga akhir terjadi. Di sinilah semangat persaudaraan, kerjasama dan dialog terjalin dengan sangat baik. Namun ironisnya, di tengah kebanggaan itu terselib kegelisahan dan kepanikan yang luar biasa mana kala hunian yang menjadi kebanggaan sekaligus cerminan karakter masyarakat Dayak ini ikut tergerus oleh perkembangan zaman yang dahsyat. Karena sentuhan modernisasi semakin dominan, banyak rumah bentang yang hanya tinggal kenangan. Sayangnya, banyak masyarakat kita khususnya orang Dayak belum sungguh-sungguh menyadari kehilangan besar yang sedang dialaminya. Mereka seakan diam seribu bahasa menyaksikan perubahan yang dahsyat itu. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa hal itu terjadi? Dan apa dampaknya bagi perkembangan karakteristik kebudayaan masyarakat Dayak sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini masih jauh dari benak masyarakat Dayak yang belum menyadari akar serta dampak dari kehilangan besar yang sedang dialaminya. Pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus menjadi pergulatan besar penulis dalam menyajikan tulisan ini. Hunian yang Oleh Masyarakat Dayak disebut Rumah Betang Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak. Rumah betang mempunyai ciri-ciri yaitu: bentuk panggung, memanjang. Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah betang atau rumah panjang haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut: bagian hulunya haruslah searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam. Hal ini dianggap sebagai simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam.[2] Semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah betang/rumah panjang, yang lazim disebut Lou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante.[3] Betang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan dari rumah betang bisa dijelaskan sebagai berikut:[4] Rumah betang bentuknya memanjang serta terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam betang. Tangga sebagai alat penghubung pada betang dinamakan hejot. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang datang melanda. Hampir semua betang dapat ditemui di pinggiran sungaisungai besar yang ada di Kalimantan. Bangunan betang biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin, selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun, kayu ini juga anti rayap. Betang biasanya dihuni oleh 100-150 jiwa, sudah dapat dipastikan suasana yang ada di dalamnya. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu

keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Bagian dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang bisa dihuni oleh setiap keluarga. Pada halaman depan betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan betang selain terdapat balai juga dapat dijumpai sapundu. Sapundu merupakan sebuah patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran yang khas. Sapundu memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang-binatang yang akan dikurbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga patahu di halaman betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan. Pada bagian belakang dari betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah tempat penyimpanan tulangtulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah. Makna dan Nilai Rumah Betang Rumah panjang/rumah betang bagi masyarakat Dayak tidak saja sekedar ungkapan legendaris kehidupan nenek moyang, melainkan juga suatu pernyataan secara utuh dan konkret tentang tata pamong desa, organisasi sosial serta sistem kemasyarakatan, sehingga tak pelak menjadi titik sentral kehidupan warganya. Sistem nilai budaya yang dihasilkan dari proses kehidupan rumah panjang, menyangkut soal makna dari hidup manusia; makna dari pekerjaan; karya dan amal perbuatan; persepsi mengenai waktu; hubungan manusia dengan alam sekitar; soal hubungan dengan sesama.[5] Dapat dikatakan bahwa rumah betang memberikan makna tersendiri bagi masyarakat Dayak. Rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka karena di sanalah seluruh kegiatan dan segala proses kehidupan berjalan dari waktu ke waktu. Rumah betang memang bukan sebuah hunian mewah dengan aneka perabotan canggih seperti yang diidamkan oleh masyarakat modern saat ini. Rumah betang cukuplah dilukiskan sebagai sebuah hunian yang sederhana dengan perabotan seadanya. Namun, dibalik kesederhanaan itu, rumah betang menyimpan sekian banyak makna dan sarat akan nilai-nilai kehidupan yang unggul. Tak dapat dipungkiri bahwa rumah telah menjadi simbol yang kokoh dari kehidupan komunal masyarakat Dayak. Dengan mendiami rumah betang dan menjalani segala proses kehidupan di tempat tersebut, masyarakat Dayak menunjukkan bahwa mereka juga memiliki naluri untuk selalu hidup bersama dan berdampingan dengan warga masyarakat lainnya. Mereka mencintai kedamaian dalam komunitas yang harmonis sehingga mereka berusaha keras untuk mempertahankan tradisi rumah betang ini. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan setiap kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya.[6] Rumah betang selain sebagai tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih seksama, kegiatan di rumah panjang menyerupai suatu proses pendidikan tradisional yang bersifat non-formal. Rumah betang menjadi tempat dan sekaligus menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat Dayak untuk membina keakraban satu sama lain. Di tempat inilah mereka mulai berbincang-bincang untuk saling bertukar pikiran mengenai berbagai pengalaman, pengetahuan dan keterampilan satu sama lain. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang sukar untuk dilakukan, meskipun pada malam hari atau bahkan pada saat cuaca buruk sekalipun, sebab mereka berada di bawah satu atap. Demikianlah pengalaman,

pengetahuan dan keterampilan diwariskan secara lisan kepada generasi penerus. Dalam suasana kehidupan rumah panjang, setiap warga selalu dengan sukarela dan terbuka terhadap warga lainnya dalam memberikan petunjuk dan bimbingan dalam mengerjakan sesuatu. Kesempatan seperti itu juga terbuka bagi kelompok dari luar rumah panjang.[7] Beberapa Aspek Penting Rumah Betang Meski terbilang sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah, rumah betang tetaplah menjadi hunian yang bernilai tinggi bagi masyarakat Dayak. Oleh karena itu sangat penting kiranya bagi kita untuk mencermati lebih jauh pandangan masyarakat Dayak mengenai rumah betang yang tercermin dalam beberapa aspek berikut ini:[8] Pertama, aspek penghunian. Rumah betang merupakan struktur multi-keluarga permanen dan terutama berfungsi sebagai tempat tinggal utama di samping rumah pondok di ladang. Kedua, aspek hukum dan hak milik. Rumah panjang mempunyai aspek kepemilikan yang jelas. Terutama adalah hak kepemilikan semua keluarga secara bersama menguasai semua tanah diwilayah rumah panjang. Hak wilayah rumah panjang merupakan hak sekunder, sedangkan hak primer dipegang oleh tiap-tiap keluarga atau kelompok keluarga kecil yang memiliki ikatan kekerabatan. Rumah betang juga merupakan unit peradilan yang sangat penting. Acap kali pertikaian antar anggota rumah betang dapat diselesaikan oleh tetua adat secara internal. Satu hal yang menonjol adalah wewenang seseorang atau satu keluarga tertentu relatif kecil, yang jauh lebih penting adalah wewenang rumah panjang secara keseluruhan. Hal itu disebabkan adanya egalitarisme yang kuat dalam masyarakat Dayak. Ketiga, aspek ekonomi. Rumah panjang memegang peranan penting dalam distribusi arus tenaga kerja dan hasil kerja antarkeluarga. Pemakaian tenaga kerja tambahan dari keluarga lain, merupakan kunci dari sistem perladangan yang mereka jalankan. Rumah Betang yang Semakin Terlupakan Budaya betang merupakan metafor mengenai kebersamaan dalam hidup sehari-hari orang Dayak yang dulu tinggal di rumah betang. Dalam tradisi kehidupan orang Dayak masa lalu, rumah betang bukanlah sekedar tempat bernaung dan berkumpul seluruh anggota keluarga atau melepas keletihan setelah seharian bekerja di ladang. Lebih dari itu, rumah betang adalah jantung dari struktur sosial dalam kehidupan orang Dayak. Di dalam rumah itu setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang dijamin keberlangsungannya. Nilai yang menonjol dalam kehidupan di rumah betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaanperbedaan yang mereka miliki.[9] Saat ini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Nilai-nilai komunitas rumah panjang yang termasuk dalam ketiga aspek penting di atas kini nyaris tinggal endapan kisah legendaris masa purba. Kalau pun masih bisa ditemukan, penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas mereka. Ada beberapa analisis yang menguraikan menghilangnya rumah betang berangsur-angsur dari bumi Kalimantan.[10] Pertama, hal itu terkait dengan perubahan agroekosistem yang terjadi dari sistem perladangan menjadi pertanian menetap serta perkebunan seiring dengan kerusakan hutan oleh pembalakan HPH yang legal maupun ilegal. Perubahan itu telah membuat sistem sosial terkena imbas dengan menguatnya

privatisasi tanah dan melemahnya ikatan kebersamaan serta kepatuhan terhadap hukum adat. Kedua, pembongkaran rumah betang yang disebabkan oleh penjelasan dan pemahaman mengenai rumah sehat. Lukas Kibas menyebutkan bahwa sekitar tahun 1962, keluar sebuah peraturan dari pemerintah yang mengharuskan pembongkaran rumah betang. Alasannya, rumah betang dianggap sebagai tempat sarang nyamuk dan bila terjadi kebakaran pada rumah yang satu maka semua rumah ikut terbakar. Ketiga, sempitnya ruang privat di dalam konstruksi rumah itu yang meleburkan kepentingan pribadi menjadi kepentingan bersama dan kontrol sosial yang ketat telah membuat orang merasa tidak nyaman tinggal bersama dalam rumah betang. Benar atau tidak analisis tersebut, yang jelas rumah betang sudah tidak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian besar orang Dayak di Kalimantan. Meski rumah betang tidak lagi menjadi tempat hunian, nostalgia dan romantisme tinggal di rumah betang masih membekas dalam ingatan orang Dayak, terutama dari generasi terdahulu. Ingatan tersebut dituangkan dalam metafor budaya betang yang dikonstruksikan dan direproduksi menjadi identitas mengenai kehidupan bersama orang Dayak. Salah satu pandangan tentang budaya betang ini diutarakan oleh J.J. Kusni manakala membayangkan mengenai tatanan sosial yang semestinya dijalankan di bumi Kalimantan. Beliau mengatakan demikian: Jika akhirnya orang Dayak memperoleh kembali hak mereka menjadi tuan di kampung halamannya sendiri, maka sudah selayaknya mereka menjadi tuan rumah yang bijak, adil dan sopan memperlakukan para tamu yang datang; memberikan kepada mereka kemungkinan memperoleh syarat hidup yang manusiawi; memobilisasi seluruh potensi mereka bersama dengan potensi orang Dayak guna membangun derah demi kepentingan bersama dengan prinsip-prinsip budaya betang dari dan untuk bersama dengan kesetiakawanan, saling menghormati dan tenggang menenggang seperti orang di dalam rumah betang untuk kepentingan bersama demi kemajuan betang yang bernama masyarakat.[11] Fenomena berangsur-angsur menghilangnya rumah betang dari bumi Kalimantan, khususnya dari hidup masyarakat Dayak sendiri adalah sesuatu yang patut disayangkan dan disesali. Bagimana tidak, rumah betang telah menjadi salah satu citra unggul dari kebudayaan Dayak. Di tempat inilah kepekaan nurani masyarakat Dayak untuk membangun hidup bersama yang harmonis diasah dan kecerdasan budi masyarakat Dayak untuk menerima dan menghargai perbedaan dimatangkan. Saat ini, rumah betang tidak lagi mampu memproduksi manusiamanusia yang responsif, tanggap dan bertanggungjawab terhadap kepentingan bersama karena oleh ulah manusia modern rumah betang telah dipromosikan serta dijual sebagai salah satu komoditas industri pariwisata yang hanya akan menghasilkan uang dan kepuasan-kepuasan semu. Kehadiran rumah betang di bumi Kalimantan merupakan salah satu kekayaan budaya yang sangat bernilai dari bangsa Indonesia. Terlepas dari persoalan rumah betang yang saat ini marak dijadikan komoditas industri pariwisata, rumah betang telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi dinamika perkembangan budaya di tanah air kita. Spiritualitas budaya betang yang menekankan komunalisme, harmonisasi, gotong-royong, solidaritas dan dialog demi kepentingan bersama pada akhirnya juga menjadi milik bangsa Indonesia sepenuhnya. Dengan kata lain, spiritualitas budaya betang tidak hanya menjadi milik orang Dayak, tapi juga menjadi milik bangsa Indonesia seutuhnya. Budaya betang secara kreatif telah menghasilkan manusia-manusia yang berbudaya, yang mampu mengembangkan interaksi sosial secara mendalam, yang tekun mengumuli perbedaan dengan kesabaran dan semangat penerimaan yang tinggi. Budaya betang sesungguhnya bisa dijadikan cerminan bagi budaya nasional bangsa Indonesia yang senantiasa bergumul dengan pluralitas. Spiritualitas budaya betang kiranya perlu untuk dikaji lebih dalam

lagi dan diterapkan dalam masyarakat Indonesia yang plural ini, mengingat segala perbedaan perlu dijembatani oleh semangat solidaritas dan dialog yang mendalam. Penutup Dewasa ini, nyaris tak ada negeri yang mampu membendung gelombang modernisasi dan mempertahankan nilai-nilai hakiki kebudayaannya sendiri. Runtuhnya kehidupan komunitas rumah betang merupakan sebagian dari bukti konkret keterombang-ambingan manusia pada gelombang modernisasi. Gelombang modernisasi seakan membius kesadaran manusia dan pada saat yang sama membuat ia tercerabut dari akar kebudayaannya. Bagi orang Dayak, rumah betang adalah simbol representatif kebudayaannya yang sekaligus mencerminkan indentitas serta karakter dari kebudayaan orang Dayak sendiri. Dari penampakan luar, rumah betang tak lebih dari sekedar hunian sederhana yang didiami oleh masyarakat Dayak. Namun, di balik kesederhanaan itu, rumah betang menyimpan sekian banyak nilai budaya yang luhur yang terkadang kurang disadari oleh banyak kalangan termasuk orang Dayak sendiri. Kekurangsadaran inilah yang pelan-pelan menenggelamkan eksistensi rumah betang dari hidup masyarakat Dayak. Rumah betang bak hilang ditelan waktu karena banyak manusia yang kurang menyadari nilai-nilai luhur di balik kehidupan bersama di tempat ini. Rumah betang mungkin telah tiada. Kalau pun masih ada, mungkin itu hanyalah sisa-sisa yang masih tetap dipertahankan dan dilindungi sebagai warisan budaya leluhur. Sesungguhnya kehidupan rumah betang telah berubah total menjadi kehidupan rumah tunggal seperti yang marak di zaman modern ini. Lantas, masihkah budaya betang dipertahankan oleh masyarakat Dayak khususnya, sebagai suatu budaya yang menjadi landasan tatanan hidup bersama? Ataukah budaya tersebut juga ikut menghilang seiring dengan runtuhnya bangunan rumah betang di era modernisasi ini? Jika hal ini benar-benar terjadi, kita dan orang Dayak khususnya, telah mengalami suatu kehilangan besar di mana eksistensi budaya kita di era modernisasi ini benarbenar dipertaruhkan.

SENI ARSITEKTUR DAYAK

A.

SEKILAS TENTANG DAYAK Dayak merupakan nama kolektif untuk demikian banyak suku asli di Kalimantan, yang sebagian besar menghuni daerah pedalaman. Daerah hilir atau daerah pantai yang mengitari mereka dihuni oleh orang Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, dan lain-lain. Suku Dayak, sebagaimana suku lainnya , memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Kebudayaan Dayak terus mengalami perubahan karena pengaruh dari luar dan dalam. Beberapa program pembangunan dan pembaharuan, kurang menghargai nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Dayak. Pada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kurang memahami pola kehidupan dan cara berpikir masyarakat Dayak. Contohnya adalah rumah panjang

atau rumah betang orang Dayak, yang dipandang sebagai salah satu faktor penghambat dalam pembinaan dan pembangunan masyarakat yang modern.[1]

B.

MAKNA RUMAH BETANG Rumah betang yang merupakan rangkaian tempat tinggal yang bersambung telah dikenal hampir oleh seluruh suku Dayak. Orang Iban menyebutnya betai panjae, dan orang Banuaka menyebutnya sao langke. Rumah betang memberikan makna tersendiri bagi penghuninya. Bagi masyarakat Dayak, rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka karena hampir seluruh kegiatan hidup mereka berlangsung disana. Ralp Linton ( dalam The Culture Background of Personality, New York: Appleton-Century-Croft, 1945, yang dimuat oleh editor T.O Ilrohmi dalam buku yang disuntingnya dan diberi judul Pokok-Pokok Antropologi Budaya ) mengatakan :
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Keseluruhan ini mencakup kegiatankegiatan dunia seperti mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari kebudayaan, hal ini sama derajatnya dengan hal-hal yang lebih halus dalam kehidupan. Karena itu, bagi seorang ilmu ahli sosial tidak ada masyarakat atau perorangan yang tidak memiliki kebudayaan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia adalah makhluk berbudaya, dalam arti mengambil bagian dari suatu kebudayaan.[2]

C.

KEHIDUPAN KOMUNAL DI RUMAH BETANG Rumah betang yang tersisa pada masyarakat Dayak merupakan contoh kehidupan budaya tradisional yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Kiranya perlu diungkapkan lebih jauh faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Dayak dapat mempertahankan rumah betang mereka. Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama secara berdampingan dengan alam dan warga masyarakat lainnya. Mereka gemar hidup damai dalam komunitas yang harmonis sehingga berusaha terus bertahan dengan pola kehidupan rumah betang. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya. Dengan mempertahankan rumah betang, masyarakat Dayak tidak menolak perubahan, baik dari dalam maupun dari luar, terutama perubahan yang menguntungkan dan sesuai dengan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah mereka.

Pola pemukiman rumah betang erat hubungannya dengan sumber-sumber makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, seperti lahan untuk berladang, sungai yang banyak ikan, dan hutanhutan yang dihuni binatang buruan. Namun dewasa ini, ketergantungan pada alam secara bertahap sudah mulai berkurang. Masyarakat Dayak telah mulai mengenal perkebunan dan peternakan. Rumah betang menggambarkan keakraban hubungan dalam keluarga dan pada masyarakat.[3] D. SENI TRADISIONAL Rumah betang selain tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih seksama, kegiatan di rumah betang menyerupai proses pendidikan tradisional yang bersifat non formal. Dalam masyarakat Dayak terdapat pembagian tugas atau perbedaan dalam mengerjakan seni tradisional. Kaum pria terampil dalam ngamboh ( pandai besi ), menganyam, dan mengukir, sedangkan wanita lebih terampil dalam menenun dan menganyam yang halus. Dalam kelompok yang relatif kecil lebih mudah bagi setiap warga untuk berusaha menambah pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mereka dapat berguna dalam masyarakat, sebab apabila mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai mereka dianggap pemalas.

E.

BAGIAN BAGIAN PADA RUMAH BETANG SUKU DAYAK

1.

Tangga Tangga untuk naik ke rumah betang berjumlah tiga, yaitu di ujung kiri kanan dan satu di bagian depan yang menandakan untuk pengungkapan rasa komunitas dan solidaritas warga yang berada di dalam rumah tersebut. Anak tangga biasanya mempunyai hitungan mistik yaitu tonggak(ganjil), tunggak dan tidak boleh jatuh pada hitungan tinggal (genap). Hitunggan anak tangga dimulai dari hitunggan dari tonggak dan seterusnya sesuai tinggi rendahnya rumah, kepala tangga dibuat patung kepala manusia yang dalam mistiknya sebagai penunggu, penjaga rumah beserta isi keluarga yang mendiami agar yidak diganggu oleh roh ataupun marabahaya.

Posisi tangga 1. Ada rumah betang yang memiliki tangga di kedua sisi ujung rumah panjang. Biasanya untuk rumah yang ukurannya sangat panjang (300 400 m) biasanya dibuat dengan tujuan memudahkan akses dari kedua sisi masing-masing rumah. 2. Ada juga rumah betang yang memiliki hanya 1 tangga dan terletak di depan dan tengah tengah. Ukuran panjang rumah ini pun hanya mencapai 200 m.

3. Pada rumah betang yang baru (kepentingan pariwisata), biasanya di bangun tiga tangga. Dua tangga di sisi kiri dan kanan dan satu tangga di tengah bagian depan. 2. Pante Merupakan lantai yang berada didepan bagian luar atap yeng menjorok ke luar, berfunggsi sebagai tempat antara lain: menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainya. Lantai pante berasal dari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan. 3. Serambi Merupakan pintu masuk rumah setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diarut halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas ( semacam janur ). 4. Sami Merupakan ruangan terbuka milik bersama, digunakan sebagai tempat menerima tamu, menyelenggarakan kegiatan warga yang memerlukan. Ditempat ini biasanya para tamu yang datang dipersilahkan duduk dan disuguhi hidangan oleh tuan rumah di bilik yang didatangi sedangkan keluarga yang lain biasanya juga ikut memberikan suguhan sebagai tanda kebersamaan antar keluarga dalam komunitas di rumah panjang ini. 5. Dapur Disudut ruangan dalam bilik masing-masing keluarga ada dapur dengan kelengkapannya ( para api ). 6. Jungkar Merupakan ruangan tambahan dibagian belakang bilik keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau ada kalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang. Jungkar ini terkadang ditempatkan di tangga masuk atau keluar bagi satu keluarga, agar tidak mengganggu tamu yang sedang bertandang. Jungkar yang atapnya menyambung pada atap rumah panjang dibuatkan tingaatn ( ventilasi pada atap yang terbuka dengan ditopang/disanggah kayu ) yang sewaktu hujan atau malam hari dapat ditutup kembali.[4] F. 1. BANGUNAN-BANGUNAN TAMBAHAN SELAIN RUMAH BETANG Jurokng (lumbung padi) ; biasa berbentuk bujur sangkar dan berukuran 4x4 atau 5x5 m. Di kalangan Dayak, lumbung merupakan tempat menyimpan padi cadangan sekaligus tempa diadakan upacara panen padi tempat bersyukur kepada Ponompa(Tuhan) atas hasil panen yang ada.

2. 3.

Pelaman ;gubuk tempa peristirahatan yang terdapat di ladang. Sandong ; beberapa sub suku Dayak mempunyai tradisi seperti suku Indian yakni Totem. Dengan tiang penuh ukiran yang dipuncaknya terdapat patung enggang mereka meyakini tempat itu adalah penghubung antara dunia dan dunia di atas dunia. Biasanya juga ada yang menyimpan tulang para leluhurnya di atas sandong.

G.

KONSTRUKSI RUMAH BETANG SECARA UMUM Ada beberapa jenis rumah betang yang tersebar di kalimantan. Sesuai dengan yang telah diungkap di atas, masing-masing sub suku yang beragam (hingga 450 sub suku) membangun rumah panjang sesuai dengan karakteristik budaya dan kondisi alam. Secara umum bentuk rumah betang antar sub suku dibedakan dengan :

1. Tanpa hiasan Rumah betang dengan atap tanpa hiasan merupakan rumah betang yang terbanyak yang masih dapat ditemui sekarang. Biasanya masih dihuni sampai sekarang. Seperti di daerah Kapuas Hulu, Sanggau dan Pontianak Kalimantan Barat.

Arsitektur Tradisional Suku Dayak

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan untuk memenuhi hasrat manusia sebagai makhluk sosial telah menciptakan wadah atau ruang sebagai suatu hasil karya Arsitektur. Kebutuhan dasar setiap manusia pada dasarnya sama, tetapi kebudayaan mengakibatkan pencerminanan kebutuhan tadi ke dalam bentuk arsitektur menjadi berbeda satu sama lain. Contohnya, manusia memerlukan rumah sebagai tempat bernaung terhadap panas, hujan dan lain-lain, tetapi bentuk rumah Dayak berbeda dengan bentuk rumah Bali. Indonesia sebagai salah satu negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan terletak pada posisi geografis yang dilintasi oleh kegiatan dunia, tentu saja tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan, baik melalui proses akulturasi maupun berlangsung secara cepat tanpa mengindahkan nilai-nilai yang ada. Pembentukan budaya telah melatarbelakangi bentuk perkembangan arsitektur sekarang. Manusia merupakan bagian dari lingkungannya, sehingga dalam menciptakan karyanya diperlukan strategi tertentu agar tetap menghargai lingkungan. Sedangkan faktor sosio-kultural yang senantiasa akan selalu

berkembang dalam lingkungan tempat hunian manusia berdiri, mampu meciptakan kualitas arsitektur yang sesungguhnya. Arsitektur tradisional memiliki kemampuan dalam menyiasati kondisi lingkungan dan faktor sosio-kultural masyarakat dalam menciptakan keseimbangan alam dan arsitektur yang berkesinambungan (sustainable architecture). Pada akhirnya, kemampuan dalam mensiasati kondisi lingkungan dan faktor-faktor sosio-kultural tersebut melahirkan bangunan arsitektural yagn berkualitas tinggi. B. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dalam pembuatan makalah ini, antara lain adalah : 1. 2. C. 1. 2. 3. 4. Mengenal Budaya Arsitektur Dayak. Untuk melengkapi nilai Mata Kuliah Perkembangan Arsitektur. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalahnya, antara lain adalah : Bagaimana Pola Perkampungan masyarakat Dayak. Bagaimana Tata Ruang, Bentuk, dan Filosofi Rumah Adat Dayak. Apa Bahan Bangunan dan bagaimana Teknik Konstruksi Rumah Adat Dayak. Apa Ritual atau Upacara Adat sebelum mendirikan Rumah Adat Dayak. BAB I PEMBAHASAN A. Pola Perkampungan Pada masa lalu, kehidupan suku-suku Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan itu hidup secara berkelompok-kelompok. Di mana kehidupan yang mereka jalani pasti dilalui bersama, hal itu terwujud dalam sebuah karya yaitu, Huma Betang (Rumah Betang). Lebih dari bangunan untuk tempat tinggal suku dayak, sebenarnya rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak. Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal

atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Rumah betang dihuni bersama-sama beberapa keluarga inti dalam satu rumah dapat ditinggali hingga lebih dari 200 orang. Hal tersebut dilakukan demi alasan keamanan. Karena pada masa lalu orang Dayak mengenal mengayau atau memotong kepala musuh. Dalam tradisi mengayau wanita dan anak-anak dilarang keras untuk dikayau atau dipotong kepalanya, namun bagi wanita yang ikut berjuang dalam peperangan hanya diperkenankan untuk dijadikan jipen atau budak.Kebiasaan mengayau, Kayau, habunu atau mambalah adalah kebiasaan memenggal kepala yang dilakukan oleh Suku Dayak dalam peperangan. Mereka yang mampu memotong kepala lawannya dalam sebuah peperangan berarti adalah seorang ksatria. Semakin banyak mereka berhasil memenggal kepala lawannya orang tersebut akan semakin dihargai dan disegani baik dari pihak sendiri ataupun dari pihak musuh. Perkampungan masyarakat Dayak pada umumnya dibangun berdekatan dengan sungai , karena sungai merupakan sarana transportasi yang menghubungkan kawasan satu dengan kawasan yang lainnya. Rumah betang dapat pula dikatakan sebagai rumah suku karena didalamnya dihuni oleh satu keluarga besar yang dipimpin oleh seorang Bakas Lewu atau Kepala suku. Setiap keluarga inti memiliki kamar sendiri berbentuk ruangan petak-petak, serta dapur sendirisendiri. Pada halaman depan rumah betang biasanya terdapat Balai atau pasanggrahan yang digunakan sebagai tempat menerima tamu atau sebagai ruang pertemuan. Di bagian sebelah belakang rumah betang biasanya terdapat sebuah balai berukuran kecil yang digunakan untuk menyimpan alat perladangan. Sedangkan di halaman depan rumah biasanya terdapat sapundu yaitu patung berukuran tinggi yang fungsinya untuk tiang pengikat binatang-binatang yang dikorbankan pada saat upacara adat. Sedangkan di halaman depan atau kadang kala di halaman belakang rumah betang biasanya terdapat sandung, yaitu tempat untuk menyimpan kerangka keluarga mereka yang telah meninggal dan telah mengalami

ritual tiwah. Hingga saat ini tradisi tinggal bersama-sama dalam rumah betang masih dibertahan walau sudah sangat jarang sekali ditemukan. Betang memiliki keunikan tersendiri dapat diamati dari bentuknya yang memanjang serta terdapat hanya terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam Betang. Tangga sebagai alat penghubung pada Betang dinamakan hejan atau hejot. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda Betang. Hampir semua Betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan. B. Tata Ruang, Bentuk, dan Filosofi Arsitektur Dayak tidak bisa dilepaskan dari konsep hidup dan kebudayaan sehari-hari mereka. Konsep hidup dan budaya ini dapat dilihat dari bentuk rumah tinggal yang secara arsitektural memiliki ciri fisik berbentuk rumah yang memanjang dengan tiang (kolong) tinggi yang mereka sebut sebagai rumah Betang atau Rumah Panjang atau Lamin atau juga lebih kerennya disebut Long House. Selain dari bentuk fisik, rumah Betang secara arsitektural menggambarkan konsep hidup dan kebudayaan Dayak. Hal ini dapat terlihat pada tata ruang, bentuk bangunan, asesoris seperti patung, ukiran, pernak pernik, dan pola penataannya. Dengan melihat tata ruang rumah, bentuk, dan susunannya dapat diketahui bagaimana pola hidup, pola pikir, filosofi serta kebudayaan yang terjadi dalam masyarakatnya. 1. Tata Ruang Ruang-ruang yang ada dalam Rumah Betang biasanya terdiri dari Sado', Padongk, Bilik, dan Dapur. Sado' (dalam bahasa Dayak Simpangk) adalah pelantaran tingkat bawah yang biasanya merupakan jalur lalu lalang penghuni rumah Betang. Sado' juga biasanya digunakan sebagai tempat untuk melakukan aktivitas umum seperti menganyam, menumbuk padi, berdiskusi adat secara massal, dan lain sebagainya. Padongk dapat diterjemahkan sebagai ruang keluarga, letaknya lebih dalam dan lebih tinggi dari pada sado'. Ruangan ini biasanya tidak luas, mungkin berkisar

antara 4x6m. Padongk lebih umum dimanfaatkan oleh pemilik Rumah Betang sebagai ruang kumpul keluarga, ngobrol, makan minum, menerima tamu dan aktivitas yang lebih personal. Bilik adalah ruang tidur. Bilik tentu saja digunakan untuk tidur. zaman dahulu, satu bilik bisa dipakai oleh 3-5 anggota keluarga. Mereka tidur dalam satu ruangan dan hanya dibatasi oleh kelambu. Kelambu utama untuk ayah dan ibu, kelambu kedua dan ketiga untuk anak-anak. tentu kelambu anak laki-laki dan perempuan akan dipisahkan. Ruang yang terakhir didalam Rumah Betang adalah Dapur. Ruang ini terbuka dan memiliki view yang langsung berhadapan dengan ruang Padongk. Umumnya dapur hanya berukuran 1x2m dan hanya untuk menempatkan tungku perapian untuk memasak. Di atas perapian biasanya ada tempara untuk menyimpan persediaan kayu bakar. Dapur di rumah Betang amat sederhana dan hanya berfungsi untuk kegiatan masak memasak saja. Aktifitas suku Dayak selain di ladang dan dihutan, lebih banyak dilakukan di dalam rumah baik itu aktivitas sosial, kebudayaan, bahkan pusat kekuasaan mengatur tata kehidupan masyarakat. Dengan kata lain Rumah Betang bagi suku Dayak merupakan pusat kebudayaan dan jantung tradisi mereka. 2. Bentuk Dalam pedoman arsitektur tradisional Dayak terdapat faktor-faktor penentu seperti hal-hal yang berhubungan dengan dasar pemilihan lokasi, penataan site plan, perencanaan bangunan, dimensi, proporsi, simbol-simbol, dan detailnya, demikian juga pada pemakaian dan penempatan materialnya. Arsitektur tradisional Dayak menempatkan suasana dan pengarahan dengan bentuk-bentuk ruang yang dapat menjaga keseimbangan manusia dengan alam lingkungannya. Ciri-ciri bentuk rumah suku-suku Dayak secara universal dapat dilihat dari bentuk bangunan. Bentuk bangunan panjang dan hanya beberapa unit saja dalam satu kampung. Biasanya tidak lebih dari 5 unit. Satu unit bisa digunakan oleh 5-10 anggota keluarga. Bahkan ada yang digunakan secara komunal oleh lebih dari 30 anggota keluarga. Bentuk rumah berkolong tinggi, dengan ketinggian sampai dengan 4 meter dari permukaan tanah. Badan rumah (dinding) terkadang berarsitektur jengki dengan atap pelana memanjang.

Separuh dari rumah betang adalah bagian terbuka. Bagian ini disebut radakng(serambi) yang digunakan untuk berbagai kegiatan keseharian para penghuninya, seperti ritual adat, mengayam kerajinan tangan. Bagian yang tertutup disebut bilik atau lawang. Bilik aatau lawang ini digunakan penghuninya sebagai rumah keluarga. Aktivitas keperluan keluarga seperti memasak, tidur dilakukan di bilik tersebut. Bagian dapur tidak bebeda dengan bangunan rumah biasa, yaitu bisa betuk segi empat atau juga bentuk memanjang. Nilai estetika betang selain pada tampilan luar, juga pada ukiran-ukiran yang ada pada setiap bagunan. Ukiran-ukiran ini diletakkan pada tempat-tempat yang dilihat seperti pada bumbungan rumah, depan rumah, atas jendela, di daun pintu, di ruang tamu dan lain-lain. Selain itu, nilai estetika juga dapat dengan mudah dilihat pada sapundu dan sandung yang biasanya terdapat di halaman depan rumah. 3. Filosofi Rumah Betang bukan sekadar rumah panggung masyarakat Dayak yang berukuran besar saja. Ada banyak filosofi yang terkandung dalam rumah Betang yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga dalam satu atap tersebut, yaitu nilai kebersamaan, kerukunan, persamaan hak, tenggang rasa, serta saling menghormati. Ruang pada rumah Betang suku Dayak Ngaju, dapat dikelompokan dalam 3 bagian, yang pertama ruang utama rumah, yang kedua ruang bunyi gong, dan yamg ketiga adalah ruang ragawi yang tidak kelihatan. Ruang utama adalah ruang yang mehubungkan manusia dengan alam surgawi. Ruang kedua adalah ruang yang menghubungkan manusia dengan penghuni surgawi, dan yang ketiga adalah ruang surgawi yang juga adalah ruang ragawi. Sementara itu kematian adalah hal terpenting dalam kehidupan masayarakat suku Dayak Ngaju, karena melalui kematian maka roh seorang Dayak dapat diberangkatkan ke dalam alam sorgawi, melalui upacara Tiwah. Dimana didalamnya terdapat ritual tabuh yang bermakna penyucian. Sedangkan nilai estetika atau tingkah laku dapat dilihat dari bahan-bahan tertentu yang digunakan dalam membuat bangunan. Untuk membangun tiang, sedapat-dapatnya dicari pohon kayu ulin yang telah berumur tua. Hal ini

melambangkan kekuatan dan kesehatan sehingga diharapkan bagunan dapat bertahan lama dan jika sudah ditempati, penghuninya diharapkan senantiasa mendapat kesehatan baik. Ukiran pada bangunan umumnya melambangkan penguasa bumi, penguasa dunia atas dan dunia bawah, yang dilambang dengan ukiran burung tingang dan kepala naga, yang masing-masing kepala harus horizontal yang dalam bahasa Dayak Nganju disebut tanggar, tidak boleh menegadah sebab saat itu berrti naga atau burung tingang hanya mencari rezekinya untuk dirinya sendiri, tidak mendatangkan rezeki kepada bagi penghuni rumah tersebut. Sebaliknya ukiran kepala tingang dan kepala naga tidak boleh tunduk sebab itu berarti akan membawa sial bagi penghuninya. Dimensi betang yang umumnya tinggi mempunyai makna yang strategis. Umumnya suku Dayak membangun rumah disepanjang sungai dengan arah menghadap ke sungai. Kondisi ini seperti ini tentunya potensial untuk mengalami banjir. Dalam hal ini, maka salah satu tujuan tiang-tiang yang tinggi tersebut yaitu menghindari banjir yang mungkin terjadi. Selain itu, dengan kondisi yang tinggi tersebut juga dapat berfungsi tempat pertahanan dari musuh yang datang menyerang tiba-tiba atau dari serangan binatang buas. Perlu diketahui bahwa dalam tradisi suku Dayak, penyerangan musuh dengan cara membakar rumah pada zaman dahulu tidak ada atau pantang dilakukan sehingga serangan musuh dengan cara membakar rumah tidak akan terjadi. Satu hal yang menarik yaitu bahwa dalam pembuatan daun pintu, dibuat sedemikian rupa sehingga untuk membuka dan menutup digunakan tangan kiri. Hal ini dimaksudkan yaitu apabila ada tamu dengan maksud baik maka tangan kanan digunakan untuk mempersilahkan masuk tetapi apabila ada tamu dengan maksud jahat langsung menyerang maka tangan kanan dapat dengan lincah digunakan untuk menangkis serangan tersebut. C. Bahan Bangunan dan Teknik Konstruksi Betang dibangun biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Dasar yang digunakan dalam penentuan tinggi betang yaitu tinggi orang menumbuk padi dengan mengunakan alo/atan, sehingga pada saat menumbuk padi, alo/atan tidak tersangkut pada lantai betang.

Lantai terbuat dari kayu, berdinding kayu dan atap rumah terbuat dari bahan sirap. Kayu yang dipilih untuk membangun rumah Betang adalah menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B). Selain anti rayap kayu ulin juga berdaya tahan sangat tinggi, bahkan mampu bertahan hingga ratusan tahun. Tiang-tiang utamanya berukuaran 20 x 40 cm. Di dalam rumah betang terdapat puluhan bilik dan satu bilik dihuni satu keluarga. Tiap bilik/ lawang(pintu) membutuhkan kurang lebih 24 tiang utama seperti itu, yang ditunjang dengan puluhan tiang lainnya. Sebatang tiang utama membutuhkan 1015 orang untuk mengangkutnya. Pintu akses ke dalam mesti melalui tangga dari bawah kolong yang terbuat dari kayu bulat dilengkapi anakan tangga demi mempermudahkan pijakan. Dengan ukuran dimensi seperti yang disebutkan diatas, betang dapat menampung sampai 100-200 jiwa sehingga dapat menampung seluruh sanak keluarga. Dengan kondisi seperti ini, dimana seluruh sanak keluarga hidup dalam satu betang, maka betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, yang dipimpin oleh Bakas Lewu atau kepala suku. Di dalam rumah terdapat kamar yang berpetak-petak. Dan diruangan muka ada tempat menerima tamu atau tempat pertemuan. Biasanya tangga dan pintu rumah betang haya satu yang terbuat dari kayu besi bulat panjang. Tangga ini dinamai hejan/hecot. Dibelakang rumah ada balai kecil yang berfungsi sebagai tempat menyimpang lesung untuk menumbuk padi. Betang biasaya terdiri atas beberapa bagian penting, yaitu betang huma, artinya rumah/bangunan utama sebagai tempat tidur, ruang (los) tempat tamu yang menginap, kemudian bagian dapur, yaitu bagian yang seolah-olah terpisah dari bangunan utama. Diantara bangunan utama dengan dapur terdapat suatu bagian yang disebut karayan, yang berfungsi sebagai penghubung antara bangunan utama dengan bagian dapur. Baik bagunan utama, dapur dan karayan, tinggi tiangtiangnya sama yaitu sekitar 2,5 -3m. Bagian dapur tidak bebeda dengan bangunan rumah biasa, yaitu bisa betuk segi empat atau juga bentuk memanjang. Luasnya lebih kecil dari bangunan utama, yaitu disekitar atau sejajar dengan panjang bangunan utama. Sedangkan karayan adalah semacam pelataran. Karayan berfungsi disamping penghubung

antara dapur dengan bangunan utama (bangunan antara dapur dengan bagunan utama tidak berdempetan), juga sebagai tempat istirahat (santai) atau juga sebagai tempat menyimpan sementara hasil hutan. Betang hanya memiliki satu dapur sehinga seluruh sanak keluarga/penghuni betang menggunakan dapur secara bergantian. Dalam huma betang, terdapat ruangan-ruangan antara lain ruang/kamar tidur dan satu buah los. Ruang tempat tidur dibuat berjejer, artinya setiap pintu kamar/ruang tidur semuanya menghadap ke ruang los. Ruang los dibuat sepanjang bangunan utama, dengan lebar kira-kira seperempat lebar bangunan utama sedangkan tiga perempat bangunan utama seluruhnya dipergunakan sebagai ruang/kamar tidur. Luas kamar tidak tergantung kebutuhan, tetapi harus sama luasnya. D. Upacara Pendirian Bangunan Istilah Manyanggar berasal dari kata "Sangga". Artinya adalah batasan atau rambu-rambu. Upacara Manyanggar Suku Dayak kemudian diartikan sebagai ritual yang dilakukan oleh manusia untuk membuat batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan makhluk gaibyang tidak terlihat secara kasat mata. Ritual Dayak bernama Manyanggar ini ditradisikan oleh masyarakat Dayak karena mereka percaya bahwa dalam hidup di dunia, selain manusia juga hidup makhluk halus. Perlunya membuat rambu-rambu atau tapal batas denganroh halus tersebut diharapkan agar keduanya tidak saling mengganggu alam kehidupan masing-masing serta sebagai ungkapan penghormatan terhadap batasan kehidupan makluk lain. Ritual Manyanggar biasanya digelar saat manusia ingin membuka lahan baru untuk pertanian,mendirikan bangunan untuk tempat tinggal atau sebelum dilangsungkannya kegiatan masyarakat dalam skala besar. Melalui Upacara Ritual Manyanggar, apabila lokasi yang akan digunakan oleh manusia dihuni oleh makhluk halus (gaib) supaya bisa berpindah ke tempat lain secara damai sehingga tidak mengganggu manusia nantinya. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

1.

Bagi masyarakat Dayak Rumah Betang merupakan jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. 2. Tata ruang dari Rumah Betang biasanya terdiri dari Sado', Padongk, Bilik, dan Dapur. Bentuk bangunan panjang, berkolong tinggi, dengan atap pelana. Filosofi yang terkandung dalam rumah Betang yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga dalam satu atap tersebut, yaitu nilai kebersamaan, kerukunan, persamaan hak, tenggang rasa, serta saling menghormati. 3. Lantai terbuat dari kayu, berdinding kayu dan atap rumah terbuat dari bahan sirap. Kayu yang dipilih untuk membangun rumah Betang adalah menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B). 4. Ritual Manyanggar biasanya digelar saat manusia ingin membuka lahan baru untuk pertanian,mendirikan bangunan untuk tempat tinggal atau sebelum dilangsungkannya kegiatan masyarakat dalam skala besar. B. Saran Keanekaragaman budaya dan adat istiadat suatu daerah sebaikanya tetap di jaga dan di lestarikan, karena dari perbedaan kebudayaan tersebut dapat dilahirkan Arsitektur Tradisional.

Kesenian dan Kebudayaan Kalimantan Barat

Kalimantan Barat adalah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan dan beribukotakan Pontianak. Daerah ini berbatasan langsung dengan Sarawak bagian dari negara tetangga yaitu Malaysia. Kalimantan barat disebut sebagai provinsi seribu suangai, karena provinsi ini memiliki banyak sungan kecil dan suangai besar yang digunakan sebagai jalur utama angkutan untuk masuk kepedalaman. Indonesia memang kaya akan berbagai macam suku dan kebudayaan, khususnya provinsi Kalimantan Barat ini. Sama seperti daerah lainnya yang ada di Indonesia, Kalimantan Barat pun memiliki kesenian dan kebudayaan yang dimiliki oleh daerah ini. Dan kali ini saya akan mencoba untuk

membuat artikel mengenai beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di Kalimantan Barat atau Pontianak tersebut.

Kesenian dan Kebudayaan Kalimantan Barat (Pontianak) Kalimantan Barat memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang beraneka ragam, dan berikut beberapa kesenian dan kebudayaan yang berasal dari daerah tersebut : Bahasa Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Selain itu bahasa penghubung yaitu bahasa Melayu Pontianak, Melayu Sambas dan Bahasa Senganan menurut wilayah penyebarannya

Rumah Adat Kalimantan Barat memiliki rumah adat yang bernama rumah Betang. Bentuk dan besar rumah Betang berbeda-beda di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang panjangnya mencapai 150 meter dan lebar hingga 30 meter. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan

Pakaian Adat Pakaian adat untuk Kalimantan Barat bernama King Baba untuk laki-laki dan King Bibige untuk perempuan. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro.

Senjata Tradisional Senjata tradisional asal Kalimantan Barat bernama Mandau. Mandau sejenis Pedang yang memiliki keunikan tersendiri, dengan ukiran dan kekhasannya. Hulunya terbuat dari tanduk rusa yang diukir, sementara besi bahan Ahpang (Mandau) terbuat dari besi yang ditambang sendiri

dan terdiri dari dua jenis, yaitu Bahtuk Nyan yang terkenal keras dan tajam sehingga lalat hinggap pun bisa putus tapi mudah patah dan Umat Motihke yang terkenal lentur, beracun dan tidak berkarat.

Tari Tradisional Kalimantan Barat memiliki beberapa tari tradisional seperti : Tari Monong Tari ini merupakan tari Penyembuhan dan tari ini berfungsi sebagai penolak atau penyembuh atau penangkal penyakit agar si penderita dapat sembuh kembali penari berlaku seperti dukun dengan jampi-jampi. tarian ini hadir disaat sang dukun sedang dalam keadaan trance atau tidak sadar.

Tari Kinyah Uut Danum Kinyah Uut Danum, adalah tarian perangyang memperlihatkan kelincahan dankewaspadaan dalam menghadapi musuh

Alat Musik Tradisional Kalimantan Barat memiliki banyak alat musik khas daerah tersebut, beberapa diantaranya : Sapek Sapek merupakan alat musik petik tradisional dari Kapuas hulu dikalangan masyarakat Dayak Kayaan Mendalam kabupaten Kapuas hulu

Gong Gong atau Agukng, Kollatung (Uut Danum) merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kuningan, merupakan alat musik yang multifungsi baik sebagai mas kawin, sebagai dudukan simbol semangat dalam pernikahan. maupun sebagai bahan pembayaran dalam hukum adat.

Tradisi Robo-robo Tradisi Robo-robo ini di adakan Rabu terakhir bulan Sapar (Hijriah) yang menyimbolkan keberkahan. Menurut cerita, ritus ini merupakan peringatan atau napak tilas kedatangan Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan (Martapura) ke Kerajaan Mempawah (Pontianak). Robo-robo itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu peringatan serangkaian kejadian penting bermula Haulan pada hari Senin malam Selasa terakhir bulan Syafar guna mengenang hari wafatnya Opu Daeng Manambun

Kerajinan Tangan Masyarakat Kalimantan Barat memiliki keahlian dalam menghasilkan sebuah kerajinan yang khas daerah tersebut, dan beberapa masyarakat Kalimantan bermata percaharian sebagai pembuat kerajinan tangan. Dan kerajinan tangan yang biasa di buat yaitu Tikar lampit yang terbuat dari rotan

Lalu kerajinan tangan berupa anyaman yang terbuat dari bambu yang menghasilkan tas dan atau keranjang

Sudah dijelaskan beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di daerah Kalimantan Barat. Masih banyak kesenian dan kebudayaan yang ada di daerah tersebut. Untuk mengetahui kesenian dan kebudayaan yang lain bisa kita cari dengan membrowsing internet. Dengan mengetahui kesenian dan kebudayaan yang ada di Indonesia mampu menimbulkan rasa cinta dan bangga akan negri kita ini, karena keaneka ragaman yang ada di negara ini yang membuat kagum. Dan teringat akan semboyan Negara kita yaitu Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda namun tetap satu jua. Artinya walaupun kesenian dan kebudayaan yang ada di Indonesia berbeda-beda tiap daerahnya semua warga Negara Indeonesia bersatu dan tidak menyebabkan semua itu menjadi konflik. Dan sebagai seorang mahasiswa penerus bangsa yang baik alangkah baiknya kita menjaga dan melestarikan kesenian dan kebudayaan yang sudah ada sejak jaman dahulu agar kesenian dan kebudayaan tersebut tidak punah di makan oleh jaman yang makin lama makin maju.

Budaya Kalimantan Tengah


Minggu, 19 Februari 2012

Ragam Tarian Suku Dayak Kalimantan Tengah


Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan Suku Dayak sebagai penduduk aslinya kaya dengan keanekaragaman seni dan budaya peninggalan masa lalu. Satu dari kearifan khasanah budaya warisan nenek moyang tersebut terkandung dalam ragam seni tarian. Pekan lalu, Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR) menggelar pentas tari garapan dan tradisional. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk promosi kesenian daerah guna mendukung pengembangan potensi wisata lokal. Kegiatan yang dilangsungkan di Gedung Eka Tingang Nganderang (Betang Mandala Wisata) tersebut menampilkan tujuh cindera tari dari tiga sanggar seni budaya yang ada di kota Palangka Raya.

Ketiga sanggar itu antara lain Sanggar Balanga Tingang dengan menampikan tari Mandau, tari Rantak Kipas Gempita, tari Giring-Giring dan tari Bahalai. Dari kegiatan tersebut, DeTAK merangkum sejumlah literatur dari sejarah dan makna tarian yang dipentaskan. Berikut catatannya. 1. Tari Wadian Amun Rahu Tarian ini pada mulanya adalah sebuah tarian tradisional Suku Dayak Kalimantan Tengah yang bersifat sakral, magis dan religius. Tarian yang biasa dimainkan oleh kaum perempuan ini pada masa lampau dimaknai sebagai prosesi adat untuk menghantarkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, setelah selesai panen padi. Selain itu, tarian ini juga sering dilakukan sebagai salah satu prasyarat tata cara penyembuhan seseorang yang menderita penyakit. Ciri khas dari tari Wadian Amun Rahu terlihat pada penggunaan tata busananya yang didominasi warna merah dan putih sebagai perlambang keagungan Sang Maha Pencipta. 2. Tari Jarangkang Bango Tarian ini merupakan tari kreasi baru yang diadaptasi dari tarian Suku Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah dengan nama yang sama. Di daerah tersebut, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak. Jarangkong Bango merupakan perangkat tari berupa benda yang dibuat dari batok kelapa yang dibelah dua, kemudian dilubangi untuk mengaitkan tali pegangan. Perangkat ini kemudian digunakan oleh para penari sebagai properti utama dalam tarian ini. Tarian ini menunjukan sebuah kebersamaan dan kekompakan serta solidaritas anak-anak Suku Dayak Kalimantan Tengah dalam hidup bermasyarakat. 3. Tari Gelang Dadas dan Gelang Bawo (Iruang Wandrung) Tarian ini merupakan rampak selaras dua gerak tari yang disatukan yaitu Wadian Dadas dan Wadian Bawo dan kemudian disebut Tari Iruang Wandrung. Tarian Dadas dilakukan oleh penari wanita, sedangkan Gelang Bawo ditarikan oleh penari pria. Dengan iringan perpaduan musik tradisonal yang energik tarian ini pada jaman dulu berfungsi sebagai tarian untuk menghantar syukuran kepada Yang Maha Kuasa karena keberhasilan dalam seluruh aspek kehidupan Suku Dayak Kalimantan Tengah. 4. Tari Giring-giring Tari giring-giring awalnya adalah tarian yang berasal dari daerah DAS Barito, Kalimantan Tengah. Tari giring-giring biasa dipertunjukkan dengan perangkat musik dari bambu yang berbunji jika digetarkan. Alat musik ini biasa disebut Ganggereng dan dimainkan bersama sebuah tongkat yang di sebut Gantar. Tari ini biasa ditampilkan pada acara-acara adat sebagai perwujudan perasaan suka cita warga terutama pada saat menyambut tamu-tamu kehormatan. Dalam perkembangannya, gerak dan ragam Giring-giring telah mengalami banyak pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan teknik dasar tarinya. 5. Tari Rantak Kipas Gempita Tarian ini menggambarkan semangat generasi muda dalam meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan.

Kemajemukan sosial dan budaya dalam diri para pemuda yang menuntut ilmu di Bumi Tambun Bungai bukanlah suatu hambatan dalam mewujudkan cita-cita bersama untuk memajukan daerah. Dibanding konsep awalnya, sajian tarian ini telah mengalami pengembangan ragam gerak dengan tidak meninggalkan kaidah dan tehnik dasarnya. Tarian ini dimainkan dengan lincah dan gembira, sebagai manifestasi dari semangat yang dimiliki oleh generasi muda dalam upaya ikut serta dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara. 6. Tarian Mandau Tari ini merupakan tarian yang umumnya dilmainkan oleh kaum perempuan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah semangat seluruh warga Dayak dalam pertahanan diri dan kampong halaman dari ancaman pihak-pihak luar. Dalam penyajiannya penari melakuikan gerakan yang lembut, gagah dan energik. Saat ini, penggarapan tari, gerak dan ragamnya telah mengalami pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan tekniknya yang sudah dikenal luas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah sejak masa silam. 7. Tari Bahalai atau Tari Selendang Bawi Tarian ini merupakan cindera tari yang diangkat dari kelengkapan pakaian berupa selendang di kalangan kaum wanita Suku Dayak Kalimantan Tengah. Sama seperti tarian lainnya, tari ini juga telah mengalami pengembangan di beberapa bagian gerak dan atribut petari. Tarian ini dimainkan dengan lemah gemulai oleh penari putrid sebagai gambaran sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan atas terlaksananya suatu hajatan besar di kalangan warga. Diposkan oleh Lodestar di 00.36 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Sabtu, 18 Februari 2012

Rumah Huma Betang, Jantung suku Dayak


Indonesia begitu kental dengan warisan budaya, sebut saja dari rumah, tari-tarian, pakaian adat sampai makanan sangat kaya ragamnya. Sayangnya, kekayaan ini begitu mudahnya terlupa karena sentuhan modernitas dan rutinitas pekerjaan. Tergugah untuk mengenal lebih dalam kekayaan bangsa yang bergelar zamrud khatulistiwa ini? Simaklah salah satu catatan perjalanan Arsitek Lucia Harri Widiastuti tentang rumah Huma Betang, pusat kehidupan Suku Dayak, Kalimantan.

Ketika pesawat landing dengan cukup baik di bandara Tjilik Riwut, akhirnya saya diberi kesempatan untuk menginjakan kaki di tanah Borneo, tanah khatulistiwa, tanah Dayak. Walau sudah tengah malam, sekitar setengah dua belas malam ditambah tidak adanya penerangan jalan, saya sedikit melihat bahwa disana ada rawa gambut, semak belukar, yang mungkin saja mudah terbakar atau dibakar. Benar-benar khatulistiwa, dan benar-benar nyamuk.

Setelah dua hari berada di Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Katingan, saya baru bisa berbincang dengan penduduk lokal Kalimantan adalah Dayak, Dayak adalah Kalimantan, kata seorang perempuan suku Dayak yang terkenal dengan tatonya. Bahasa yang mereka gunakan susah saya cerna. Untung ada pak Wigo, penerjemah yang selalu mengartikan dalam bahasa Indonesia. Ketika saya berharap akan melihat rumah tradisional suku Dayak, ternyata saya salah karena satupun tak tampak. Entah karena punah atau memang bukan wilayah pemukiman suku Dayak. Yang ada hanyalah rumah-rumah panggung gaya melayu dengan tambahan ornamen tombak silang di atapnya, lambang Kalimantan. Tak ingin kecewa, saya mencoba menuangkan tentang arsitektur tradisional suku Dayak. Arsitektur tradisional adalah arsitektur asli suatu daerah yang sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang, arsitektur yang kuat dengan adat, tradisi, pola hidup, budaya, alam, serta ideologi lokal. Sifatnya, tidak boleh di ganggu gugat oleh apapun. Kadang, manusia saja yang tidak tahu diri dengan mengubahnya. Tengkorak manusia yang dipajang pada Uma Mentawai sama nilanya dengan ukiran Huma Panjang. Masyarakat membangunnya bergotong royong tanpa ada campur tangan tenaga ahli. Rakyat suku itulah yang disebut sang ahli. Dayak, sebagai salah satu suku tertua Indonesia memiliki keistimewaan tersendiri bagi saya. Arsitektur tradisional Dayak dikenal dengan Huma Betang, atau biasa disebut rumah panjang, atau Lamin. Huma Betang bisa dijumpai di seluruh penjuru Kalimantan, terlebih di daerah hulu sungai, tempat suku Dayak bermukim. Sungai-sungai di Kalimantan biasanya lebar dan dalam. Mereka menggunakan sampan yang siap dikayuh untuk berladang dan beraktivitas lainnya. Huma Betang, bisa mencapai panjang 150 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 3 meter. Ruangnya terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, ruang utama rumah; ruang yang menghubungkan manusia dengan alam surgawi. Kedua, ruang bunyi gong; ruang yang menghubungkan manusia dengan penghuni alam surgawi. Ketiga, ruang ragawi yang tidak kelihatan, atau ruang surgawi. Rumah ini merupakan rumah panjang, dengan material kayu sebagai material utama sudah sejak lama diketahui bahwa kayu cocok dengan iklim Indonesia yang tropis. Tanah rawan gempa sudah mereka persiapkan dengan kayu-kayu yang tidak terpaku, hanya terkait, bahkan tidak tertanam. Nenek moyang kita memang pandai. Tinggal di tepian sungai yang kadang kala terlanda banjir, menjadi alasan rumah panjang itu rumah panggung. Selain itu, rumah panggung juga berfungsi untuk menghindari dari ancaman binatang buas. Bahkan ada juga sebagai kandang binatang peliharaan. Dalam satu Huma Betang biasanya dihuni oleh beberapa keluarga, layaknya suku Dayak yang hidup berkelompok. Rumah disekat sebagai pemisah antar keluarga. Jika penghuni hendak melakukan sesuatu, seluruh penghuni akan bermusyawarah dahulu, untuk menemukan sebuah kesepekatan bersama. Maka Huma Betang merupakan jantung dari suku Dayak itu sendiri. Suku Dayak mempercayai dalam pembangunan Huma Betang, bagian hulu rumah mengarah ke tempat sang surya terbit, dan bagian hilir mengarah ke terbenamnya matahari. Ini menjadi filosofi suku Dayak, mereka meyakini bahwa dalam menjalani hidup dimulai dari sang terbit dan pulang ke rumah menuju sang tenggelam. Huma Betang hanya memiliki satu pintu dan tangga utama yang dinamakan hejot. Di halaman depan Huma terdapat sebuah balai yang digunakan untuk menjamu tamu atau untuk pertemuan. Di halaman tersebut juga ada sebuah patung berukir atau totem berbentuk manusia disebut sapundu. Sapandu

digunakan untuk menancapkan binatang yang hendak dikurbankan saat tiwah. Halaman Huma Betang juga memiliki petahu; sebuah rumah terpisah yang dikhususkan sebagai rumah pemujaan. Ada pula sejenis gudang bernama tukau di halaman belakang untuk menyimpan alat-alat pertanian, bawong untuk menyimpan senjata, sandung atau pambak sebagai tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal yang telah di tiwah. Sandung bisa ditempatkan di halaman depan atau di belakang. Selain rumah sebagai jantung kehidupan, Kalimantan identik dengan sungai. Kali ini sungai itu bernama Katingan. Dari hulu ke hilir mencapai 650 km, lebarnya bisa mencapai 65 m, kedalaman 12 m. Tidak seperti halnya masyarakat Jakarta yang mempergunakan sungai sebagai halaman belakang, suku Dayak mengarahkan orientasi tata ruang menuju sungai. Sungai sebagai halaman depan. Maka, yang terlihat adalah sungai bersih berarus deras, dan memiliki fungsi ekonomi, sosial, bahkan budaya. Sungguh, suatu pengalaman tersendiri menginjak tanah Borneo. Karena masih ada sungai yang mungkin kita tidak tahu bagaimana kembali ke hilir ketika mengayuh menuju hulu.

Provinsi KALIMANTAN SELATAN


Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi Ibukota Luas Wilayah Jumlah Penduduk Suku bangsa

: : : : :

Agama

Wilayah Administrasi : Lagu Daerah : Website :

Provinsi Kalimantan Selatan Banjarmasin 38.744,23 Km2 *) 4.087.776 Jiwa *) Suku Banjar, Dayak Bakumpai, Dayak Baraki, Dayak Maanyan, Dayak Lawangan, Dayak Bukit Ngaju, Melayu Jawa, Bugis, Cina dan Arab Keturunan Islam : 96,80%, Protestan : 28,51%, Katolik : 18,12%, Hindu : 9,51%, Budha : 17,59% Kab.: 11, Kota : 2, Kec.: 151, Kel.:142, Desa : 1.842 *) Saputangan Bapucuk Ampat http://www.kalselprov.go.id *) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011

Sejarah
Bagi Kalimantan Selatan, tanggal 1 Januari 1957 benar-benar merupakan momentum penting dalam sejarahnya, mengingat pada tanggal itu Kalimantan Selatan resmi menjadi Provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, bersama-sama dengan Provinsi

Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Barat. Sebelumnya ketiga Provinsi tersebut berada dalam satu Provinsi, yaitu Provinsi Kalimantan.

Sebelum menjadi Provinsi yang berdiri sendiri, sesungguhnya Kalimantan Selatan sudah merupakan daerah yang paling menonjol di Pulau Kalimantan, khususnya Kota Banjarmasin yang merupakan pusat kegiatan politik, ekonomi/perdagangan, dan pemerintahan, baik semasa penjajahan maupun pada awal kemerdekaan. Perkembangan kehidupan pemerintahan dan kenegaraan di daerah Kalimantan Selatan sampai dengan permulaan abad 17 masih sangat kabur karena kurangnya data sejarah. Adanya Hikayat Raja-Raja Banjar dan Hikayat Kotawaringin tidak cukup memberikan gambaran yang pasti mengenai keberadaan Kerajaan-kerajaan tersebut.

Namun demikian berdasarkan kedua hikayat tersebut dapat diketahui bahwa pada abad 17 salah satu tokoh yaitu Pangeran Samudera (cucu Maharaja Sukarama) dengan dibantu para Patih bangkit menentang kekuasaan pedalaman Nagara Daha dan menjadikan Bajarmasin di pinggir Sungai Kwin sebagai pusat pemerintahannya (daerah ini disebut Kampung Kraton). Pemberontakan Pangeran Samudera tersebut merupakan pembuka jaman baru dalam sejarah Kalimantan Selatan sekaligus menjadi titik balik dimulainya periode Islam dan berakhirnya jaman Hindu. Sebab dialah yang menjadi cikal bakal Islam Banjar dan pendiri Kerajaan Banjar.

Dalam perkembangan sejarah berikutnya pada Tahun 1859 seorang Bangsawan Banjar yaitu Pangeran Antasari mengerahkan rakyat Kalimantan Selatan untuk melakukan perlawanan terhadap kaum kolonialisme Belanda meskipun akhirnya pada Tahun 1905 perlawanan-perlawanan berhasil ditumpas oleh Belanda.

Kelancaran hubungan dengan Pulau Jawa turut mempengaruhi perkembangan di Kalimantan Selatan. Bertumbuhnya pergerakan-pergerakan kebangsaan di Pulau Jawa dengan cepat menyebar kedaerah Kalimantan Selatan, hal ini tercermin dengan dibentuknya wadah-wadah perjuangan pada Tahun 1912 di Banjarmasin seperti berdirinya Cabang-cabang Sarikat Islam di seluruh Kalimantan Selatan. Seiring dengan itu para pemuda Kalimantan terdorong membentuk Organisasi Kepemudaan yaitu Pemuda Marabahan, Barabai dan lain-lain, yang kemudian pada Tahun 1929 terbentuk Persatuan Pemuda Borneo. Organisasi-organisasi perjuangan tersebut merupakan wadah untuk menyebarluaskan kesadaran kebangsaan melawan penjajahan Kolonial Belanda.

Pada periode pasca Proklamasi Kemerdekaan merupakan momentum yang paling heroik dalam sejarah Kalimantan Selatan, dimana pada tanggal 16 Oktober 1945 dibentuk Badan Perjuangan yang paling radikal yaitu Badan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) yang dipimpin oleh Hadhariyah M. dan A. Ruslan, namun dalam perjalanan selanjutnya gerakan perjuangan ini mengalami hambatan, terutama dengan disepakatinya perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 Nopember 1945. Berdasarkan perjanjian ini ruang gerak pemerintah Republik Indonesia menjadi terbatas hanya pada kawasan Pulau Jawa, Madura dan Sumatera sehingga organisasi-organisasi perjuangan di Kalimantan Selatan kehilangan kontak dengan Jakarta, kendati akhirnya pada tahun 1950 menyusul pembubaran Negara Indonesia Timur yang dibentuk oleh kaum kolonial Belanda, maka Kalimantan Selatan kembali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia sampai saat ini.

Arti Logo

Lambang daerah Provinsi Kalimantan Selatan adalah "PARISAI" dengan warna dasar merah dan hijau, bergaris sisi dengan warna kuning.

Parisai (Perisai), adalah alat penangkis dan bertahan yang melambangkan kewaspadaan mempertahankan diri dari konsekwen.

Warna merah, adalah lambang keberanian dan kepahlawanan yang gagah perkasa, menegakkan kebenaran perjuangan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam menuju "masyarakat adil dan makmur' yang diridhoi Allah".

Warna Kuning, adalah lambang kesuburan dan harapan bagi Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dihari yang akan datang.

Didalam Perisai terdapat lukisan-Iukisan :

Bintang berwarna Kuning Emas, adalah lambang Ketuhan Yang Maha Esa dan perlambang keyakinan bahwa Tuhan mengetahui segala-galanya tanpa ada yang tersembunyi bagi-Nya.

Rumah berbentuk bangunan spesifik Kalimantan Selatan asli, adalah lambang Suatu unsur kebudayaan yang depat dlbanggakan.

Warna Hitam, adalah lambang bahwa penduduk Kalimantan Selatan mempunyai kebulatan tekad dan keunggulan kearah pelaksanaan Pembangun Nasional.

Intan, adalah lambang penghasilan Daerah Kalimantan Selatan yang sudah terkenal karena mempunyai mutu dan nilai yang sangat tinggi, yang merupakan pula sumber mata pencaharian penduduk Kalimantan Selatan.

Warna Putih berkilap memancar, adalah lambang bahwa penduduk Kalimantan Selatan kalau dipimpin dengan sungguh-sungguh akan sanggup mencapai kecerdasan dan kemajuan serta sanggup pula melaksanakan segala pembangunan menuju pada kemuliaan dan keagungan Bangsa Indonesia.

Buah Padi dan Batang Karet, adalah lambang penghasilan dan sumber kehidupan bagi terbesar penduduk Kalimantan Selatan.

Buah Padi sebanyak 17 buah, Intan dengan 8 (delapan) pancaran dan Batang Karet sebanyak 1 pohon dengan bergaris 9 yang tersusun 4 disebelah kiri, 5 disebelah kanan. Merupakan susunan angka 17 8 1945 yaitu hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tulisan berupa "WAJA SAMPAI KAPUTING ? adalah lambang bahwa penduduk Kalimantan Selatan telah tekun dalam bekerja melaksanakan segala Sesuatu dengan penuh rasa kesanggupan dan konsekwen tanpa berhenti ditengah Jalan.

Nilai Budaya
Kain sasirangan merupakan hasil kerajinan tangan berupa tenun ikat yang menjadi ciri khas Kalimantan Selatan. Kepercayaan

Dalam system religi orang Banjar, pengaruh kepercayaan yang telah hidup sejak jaman prasejarah, yaitu kepercayaan kaharingan, yang dianut salah satu suku bangsa Bukit Hulu Banyu yang menganggap bahwa kekuasaan atas alam semesta dan segala isinya berada ditangan penguasa tertinggi kehidupan manusia yaitu Nining Baharata.

Upacara-upacara Adat

Aruh Ganal merupakan upacara adat dimana terhimpun masyarakat Banjar diperantauan
untuk merumuskan langkah dan kebijaksanaan membangun Banua Banjar.

Bagandut, Bamulut, Madihin, Musih Kintung adalah merupakan kesenian daerah yang
menceritakan tentang kehidupan raja-raja Banjar.

Batimung merupakan upacara adat pengantin Banjar untuk membersihkan badan


(semacam sauna). Mandi-mandi adalah acara adat suku Banjar bagi perempuan yang hamil pertama usia 7 bulan.

Badudus merupakan upacara adat berupa mandi bagi keturunan raja Banjar yang akan
melangsungkan perkawinan.

Mapan retasi adalah upacara adat suku Bugis sebagai tanda syukur agar hasil panen ikan tahun
berikut lebih baik.

Balian merupakan upacara adat yang dilakukan suku Dayak bila mengalami musibah besar seperti
kematian dan penyembuhan sakit.

Filsafat hidup masyarakat setempat :

Badingsanak artinya etika kehidupan sehari-hari yang rnenunjukkan kesatuan hubungan


kekeluargaan.

Pewarangan artinya antara orang tua pihak suami atau istri. Ipar artinya Saudara suami atau istri. Maruwai artinya keluarga pihak suami dan istri.
Masyarakat Banjar maupun Kalimantan Selatan menghendaki adanya musyawarah untuk mufakat dalam merumuskan kebijakan dengan motto :

Lamun Tanah Banyu Kahada dilincai Urang, Jangan Bacakut Papadaan , artinya jika tanah air tidak ingin dijajah orang, jangan bertengkar diantara kita.

Untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan masyarakat mengenal motto : Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing, artinya perjuangan yang tidak mengenal menyerah, dengan tekad baja hingga akhir. Badalas Pagat Urat Gulu, Amun Manyarah Kahada, artinya biar putus urat leher, tidak akan pernah menyerah.

BUDAYA KALIMANTAN TIMUR


Kalimantan Timur memiliki beberapa macam suku bangsa. selama ini yang dikenal oleh masyarakat luas, padahal selain dayak atau suku beradat dayak ada 1 suku yang juga memegang peranan penting di Kaltim yaitu suku Kutai. Suku Kutai merupakan suku dayak beradat melayu asli Kalimantan Timur, yang termelayukan akibat sistem politik masa lampau ( Budaya Melayu yang masuk dari arah selatan ( Pasca takluknya sriwijaya dari Kerajaan Cola ) , Kekuasaan Jawa Kartanegara dan UU Braja Niti ) awalnya mendiami wilayah pesisir Kalimantan Timur. Lalu dalam perkembangannya berdiri dua kerajaan Kutai, kerajaan Kutai Martadipura yang berdiri lebih dulu dengan rajanya Mulawarman, lalu berdiri pula belakangan kerajaan Kutai Kartanegara yang kemudian menaklukan Kerajaan Kutai Martadipura, dan lalu berubah nama menjadi kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Di Kalimantan Timur terdapat juga banyak suku suku pendatang dari luar, seperti Banjar, Bugis, Jawa dan Makassar. Bahasa Banjar,Jawa dan Bahasa Bugis adalah dua dari banyak bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Kalimantan Timur. Suku Banjar dan Bugis banyak mendiami Kalimantan, Samarinda, Sangatta dan Bontang. Sedangkan suku Jawa banyak mendiami Samarinda dan Balikpapan.

Bahasa Daerah Bahasa-bahasa daerah di Kalimantan Timur merupakan bahasa Austronesia dari rumpun MalayoPolynesia, diantaranya adalah Bahasa Tidung,Bahasa Banjar, Bahasa Berau dan Bahasa Kutai. Bahasa lainnya adalah Bahasa Lundayeh.

Lagu Daerah

Burung Enggang (bahasa Kutai) Meharit (Bahasa Kutai) Sabar'ai-sabar'ai (Bahasa Banjar) Anjat Manik (Bahasa Berau Benua) Bebilin (Bahasa Tidung) Andang Sigurandang (Bahasa Tidung) Bedone (Bahasa Dayak Benuaq) Ayen Sae (Bahasa Dayak) Sorangan (Bahasa Banjar) Lamin Talunsur (Bahasa Kutai) Buah Bolok (Bahasa Kutai) Aku Menyanyi (Bahasa Kutai) Sungai Kandilo (Bahasa Pasir) Rambai Manguning (Bahasa Banjar) Ading Manis (Bahasa Banjar) Indung-Indung (Bahasa Melayu Berau) Basar Niat (Bahasa Melayu Berau) Berampukan (Bahasa Kutai) Undur Hudang (Bahasa Kutai) Kada Guna Marista (Bahasa Banjar) Tajong Samarinda (Bahasa Kutai) Citra Niaga (Bahasa Kutai) Taman Anggrek Kersik Luwai Ne Poq Batangph Banuangku Kekayaan Alam Etam (Bahasa Kutai) Mambari Maras (Bahasa Banjar) Kambang Goyang (Bahasa Banjar) Apandang Jakku Keledung Ketuyak Jalung Antu Mena Wang Langit Tung Tit To Kejaa Ting Ting Nging Endut-Endut Enjung-Enjung Julun Lajun Sungai Mahakam Samarinda Kota Tepian (Bahasa Kutai) Jagung Tepian Kandania Sarang Kupu Adui Indung

Nasi Bekepor (Bahasa Kutai) Nasib Awak Tenau Luwai Balarut di Sungai Mahakam (Bahasa Banjar) Leleng (Bahasa Kenyah) Merutuh(Bahasa Tonyooi-Benuaq)

Seni Suara

Bedeguuq (Dayak Benuaq) Berijooq (Dayak Benuaq) Ninga (Dayak Benuaq) Enluei (Dayak Wehea)

Seni Berpantun

Perentangin (Dayak Benuaq) Ngelengot (Dayak Benuaq) Ngakey (Dayak Benuaq) Ngeloak (Dayak Benuaq)

Agama
Masyarakat di Kalimantan Timur menganut berbagai agama yang diakui di Indonesia, yaitu:

Buddha Hindu Islam Katolik Kristen

Seni dan Budaya Musik


Tingkilan (suku Kutai) Musik Sempek/Kejien (suku Dayak Wehea)

Tarian

Tarian Bedewa dari suku Tidung (Kabupaten Nunukan) Tarian Iluk Bebalon dari suku Tidung (Kota Tarakan) Tarian Besyitan dari suku Tidung (Kabupaten Malinau)

Tarian Kedandiu dari suku Tidung (Kabupaten Bulungan) Tarian Gantar dari Suku Dayak Benuaq Tarian Ngeleway dari Suku Dayak Benuaq Tarian Ngerangkaw dari Suku Dayak Benuaq Tarian Kencet dari Suku Dayak Kenyah Tarian Datun dari Suku Dayak Kenyah Tarian Hudoq dari Suku Dayak Wehea Tarian Kejien dari Suku Dayak Wehea Belian Tarian Jepin Ujang Bentawol Suku Tidung (Kota Tarakan)

Penyembuhan Penyakit

Beliatn Bawo (suku Dayak Benuaq) Beliatn Sentiyu (suku Dayak Benuaq) Beliatn Kenyong (Suku Dayak Benuaq) Beliatn Luangan (suku Dayak Benuaq) Beliatn Bejamu (suku Dayak Benuaq)

Tolak Bala/Hajatan/Selamatan

Nuak (dari Suku Dayak Benuaq) Bekelew (suku Dayak Benuaq) Nalitn Tautn (suku Dayak Benuaq) Paper Maper (suku Dayak Benuaq) Besamat (suku Dayak Benuaq) Pakatn Nyahuq (suku Dayak Benuaq)

Perkawinan

Ngompokng (suku Dayak Benuaq) Tari Kanjar (suku Kutai)

Senjata Tradisional

Mandau

Mandau - Manaau

Gayang Keris Buritkang Sumpit - Potaatn Perisai - Keleubet Tombak - Belokokng

Upacara Adat Kematian


Kwangkey/Kuangkay (suku Dayak Benuaq) Kenyeuw (suku Dayak Benuaq) Parepm Api/Tooq (suku Dayak Benuaq)